Pengukuran Residu Klorin
WHO Regional Office for South-East Asia
Manfaat klorin pada air
Kebanyakan penyakit yang sering ditemukan pada masyarakat pasca bencana atau dalam kedaruratan terkait dengan air minum yang terkontaminasi. Kontaminasi dapat berasal dari mikro organisme atau dari zat kimia, baik yang berasal dari alam atau buatan (tabel 2). Lembar informasi ini terutama membahas masalah yang berkaitan dengan kontaminasi air minum oleh mikro organisma karena hal ini sangat sering terjadi dan dapat dikurangi denga klorinasi. Kontaminasi bahan kimia sulit untuk disingkirkan dan memerlukan pengetahuan dan peralatan yang lebih canggih.
Penyakit yang berkaitan dengan air minum yang terkontaminasi dengan mikro organisme
Diare
Tifoid
Hepatitis
Kolera
Catatan: Air yang terkontaminasi tidak hanya menyebabkan penyakit-penyakit di atas; jumlah air, sanitasi yang buruk dan perilaku kebersihan yang buruk juga berperan.
Beberapa kontaminan kimia pada air yang dapat berbahaya bagi kesehatan
Arsen Florida
Kadmium Timbal
Kromium Merkuri
Sianida
Masyarakat yang tinggal di tempat yang sama selama hidupnya dan selalu minum air yang terkontaminasi dapat mengembangkan kekebalan terhadap kontaminan tersebut sehingga tidak atau sedikit mengalami masalah kesehatan. Namun tidak demikian halnya dengan masyarakat yang terkena bencana. Situasi darurat memiliki tiga efek pada populasi yang saling berkaitan, karena:
Memaksa masyarakat berpindah ke tempat yang baru dimana kualitas air berbeda dari yang biasa mereka minum, sehingga mereka tidak memiliki kekebalan; Memaksa masyarakat hidup di situasi yang buruk, seperti dalam tenda atau penampungan sementara dimana sulit untuk tetap mempertahankan perilaku kebersihan, dan Mempengaruhi pola makan, bahkan seringkali menurunkan kualitas gizinya dan membuat mereka makin rentan terhadap penyakit.
Karena itu bagi masyarakat yang berada pada kondisi darurat, penyediaan air yang berkualitas baik penting.
Terdapat beberapa cara meningkatkan kualitas air minum. Yang tersering adalah pengendapan dan penyaringan yang diikuti oleh disinfeksi (dibahas pada tulisan yang lain). Disinfeksi (pembunuhan mikroorganisme yang berbahaya) dapat dicapai dengan berbagai cara namun yang tersering adalah melalui penambahan klorin. Nmun klorin hanya akan bekerja dengan baik jika air jernih (kotak 1).
Kotak 1.
Cara kerja klorin dalam membunuh kuman
Penambahan klorin dalam air akan memurnikannya dengan cara merusak struktur sel organisme, sehingga kuman akan mati. Namun demikian proses tersebut hanyak akan berlangsung bila klorin mengalami kontak langsung dengan organisme tersebut. Jika air mengandung lumpur, bakteri dapat bersembunyi di dalamnya dan tidak dapat dicapai oleh klorin.
Klorin membutuhkan waktu untuk membunuh semua organisme. Pada air yang bersuhu lebih tinggi atau sekitar 18oC, klorin harus berada dalam air paling tidak selama 30 menit. Jika air lebih dingin, waktu kontak harus ditingkatkan. Karena itu biasanya klorin ditambahkan ke air segera setelah air dimasukkan ke dalam tangki penyimpanan atau pipa penyalur agar zat kimia tersebut mempunyai cukup waktu untuk bereaksi dengan air sebelum mencapai konsumen.
Efektivitas klorin juga dipengaruhi oleh pH (keasaman) air. Klorinasi tidak akan efektif jika pH air lebih dari 7.2 atau kurang dari 6.8.
Residu klorin
Klorin merupakan zat kimia yang relatif murah dan siap digunakan; begitu dilarutkan dalam air dengan jumlah yang cukup akan merusak sebagian besar kuman penyebab penyakit tanpa membahayakan manusia. Namun demikian saat organisme telah rusak, klorin juga akan habis. Jika klorin yang ditambahkan cukup, setelah semua organisme rusak akan terdapat sisa klorin dalam air yang disebut sebagai klorin bebas Klorin bebas akan tetap berada dalam air sampai hilang di dunia luar atau terpakai untuk membunuh kontaminasi baru.
Karena itu jika kita memeriksa air dan menemukan masih terdapat klorin bebas yang tersisa, hal itu merupakan bukti bahwa sebagai besar organisme dalam air yang berbahaya telah disingkirkan dan air aman diminum. Pengukuran tersebut dinamakan residu klorin.
Pengukuran residu klorin dalam air merupakan metode yang sederhana namun penting untuk memeriksa apakah air yang dikirimkan telah aman untuk diminum.
Kapan dan dimana memeriksa air
Penggunaan klorin yang tersering untuk disinfeksi adalah pada pipa penyediaan air. Klorinasi suplai air secara berkala sulit dilakukan dan biasanya disinfeksi dilakukan setelah perbaikan dan pemeliharaan
Residu klorin biasanya diperiksa pada saat berikut:
• Segera setelah klorin ditambahkan dalam air, untuk menilai apakan proses klorinasi bekerja;
• Pada saluran keluar air ke konsumen yang paling dekat dengan titik klorinasi, untuk memeriksa apakah tingkat residu klorin berada dalam batas yang dapat diterima (0.2-0.5 mg/l); dan
• Pada titik terjauh dari jaringan dimana kemungkinan tingkat residu klorin paling rendah. Jika ditemukan kadar klorin kurang dari 0.2 mg/l mungkin perlu dilakukan penambahan klorin pada daerah pertengahan jaringan.
Perhatian
Semua bentuk klorin berbahaya bagi kesehatan. Hindari kontak dengan kulit dan jangan menghirup uapnya. Klorin harus selalu disimpan pada wadah yang dingin, gelap, kering dan tertutup serta jauh dari jangkauan anak-anak.
Jumlah residu klorin berubah sepanjang siang dan malam. Jika dianggap pipa jaringan selalu berada di bawah tekanan sepanjang hari (kotak 2), pada siang hari akan cenderung lebih banyak residu klorin daripada malam hari. Hal ini karena air akan berada dalam sistem lebih lama pada malam hari (kebutuhan menurun) sehingga terdapat banyak kesempatan bagi air untuk terkontaminasi yang akan menghabiskan residu klorin.
Residu klorin harus diperiksa secara berkala. Jika sistem masih baru atau sedang dalam perbaikan, periksa setiap hari hingga anda yakin bahwa proses klorinasi telah berlangsung secara tepat. Setelah itu periksa seminggu sekali.
Pemeriksaan residu klorin
Pemeriksaan yang tersering adalah uji indikator dpd (dietil parafenilen diamin) dengan menggunakan komparator. Pemeriksaan ini merupakan metoda yang paling cepat dan sederhana untuk memeriksa residu klorin.
Dengan pemeriksaan ini, reagen dalam bentuk tablet ditambahkan pada sampel air hingga air berwarna merah. Kepekatan warna kemudian dibandingkan terhadap warna standar pada grafik untuk menentukan konsentrasi klorin. Semakin pekat warna, semakin tinggi konsentrasi klorin dalam air.
Beberapa alat untuk memeriksa residu klorin dalam air, seperti yang diperlihatkan pada gambar 2, dapat dibeli dengan mudah. Alat tersebut kecil dan mudah dibawa.
Kepustakaan
WHO (2004) “Guidelines for drinking water quality – 3rd edition”. Geneva
Kotak 2.
Klorinasi dan suplai yang tidak tetap
Klorinasi pipa jaringan tidak bermanfaat bila suplai air tidak tetap. Kebocoran pada seluruh sistem pipa dan jika suplai air mati, tekanan akan turun dan air yang terkontaminasi akan memasuki pipa melalui celah di dinding pipa. Tingkat residu klorin yang dapat diterima konsumen tidak akan mampu menghadapi kontaminasi tingkat tinggi seperti ini. Semua suplai air yang tidak tetap harus dianggap sebagai terkontaminasi dan lakukan upaya disinfeksi pada tingkat pengguna.
Pengukuran residu klorin
Langkah 1. Letakkan satu tablet dalam kamar periksa (a) dan tambahkan beberapa tetas air yang akan diuji
Langkah 2. Gerus tablet, lalu penuhi kamar (a) dengan air yang akan diuji.
Langkah 3. Masukkan air yang sama yang sedang diuji (tanpa tablet) pada kamar ke dua (b). Ini akan menjadi kontrol pada perbandingan warna.
Langkah 4. Tingkat residu klorin (R) dalam mg klorin per liter air (mg/l) ditentukan dengan membandingkan warna air yang sedang diuji dan telah ditambahkan tablet yang berada di kamar (a) dengan warna standar pada wadah (kamar
UN perlu atau tidak ? penting ngak penting ?
Jakarta – Mahkamah Agung (MA) mengabulkan gugatan Tim Advokasi Korban UN (Tekun) dan Eduvation Forum agar ujian nasional (UN) ditiadakan. Putusan tersebut menegaskan bahwa UN memang banyak masalah.
“Putusan MA pada intinya melarang pelaksanaan UN oleh pemerintah merupakan bentuk penegasan legal bahwa UN kita banyak masalah dan karenanya
harus dilakukan evaluasi total terhadap UN itu,” kata Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa M Hanif Dhakiri dalam rilis kepada detikcom
Nah masih banyak sederetan kasus yang menginginkan ditiadakannya UN sekolah.
Gimana tidak , 3 tahun belajar, bekerja keras tetapi tidak bisa lulus gara-gara 1 mata pelajaran nilainya jelek.
Setiap semester mendapart peringkat kelas, tapi waktu ujian karena tertekan rasa takut dan pelajaran yang butek, gara-gara 1 nilai nggak masuk akhirnya nggak lulu,
Banyak pelajar yang stress, banyak sekolah melakukan kecurangan untuk meloloskan anak didiknya, menjaga nama baik citra sekolah apapun akan dilakukan
Dan masih banyak lagi hal-hal curang dan kok bisa ya.. Guru ato sekolah yang berpendidikan berbuat gitu ?????
Standard UN yang dirasakan sangat memberatkan…
3 tahun belajar, 3 tahun berprestasi.. semuanya tak ada manfaat jika pelajaran UN tidak standard. Lantas standard sekolah internasiaonal, sekolah swasta favorit, sekolah maju dibandingkan sekolah yang diujung kampung, dipelosok desa.. apakah sama..?
Pelajaran yang diterima oleh siswa di masing2 sekolah saja beda…
Tapi apa kita juga harus setuju jika UN di tiadakan???
Kok rasanya aneh, lantas sekolah ambil standard dari mana jika tak ada ujian. Siswa apakah dijamin mutunya jika tidak diuji. Mungkin siswa akan menyeleweng tidak karuan. Sekolah bermutu atau tidak tidak bisa terjaring.
Sebenarnya UN di adakan ya bukanlah masalah….tapi bukan jadi standard kelulusan siswa. Yang menjadi masalah kan standard yang ada. Semoga saja DEPDIKNAS mau menengok kebawah. Banyak yang stress, banyak yang putus asa, banyak kecurangan dll.
Ini semua buat pelajaran pendidikan di negeri tercinta ini
HALAL BIL HALAL KELUARGA BESAR ALUMNI SMK NEGERI 3 KIMIA MADIUN
|
|

Dalam rangka memperkuat rasa persaudaraan dan mempererat tali silaturahmi di antara keluarga besar SMK 3 Madiun yang tinggal di wilayah Jabodetabek sekitarnya, dan berlanjut hasil kumpul-kumpul 26 Juli 2009 di TMII yang banyak mendapat respon dari rekan-rekan alumni, maka Skima wilayah Jabodetabek & sekitarnya berencana mengadakan acara Halal Bil Halal dan Temu Kangen.
Temu kangen dengan teman – teman sekolah dulu waktu belajar bersama, bertemu kangen dengan kawan lama, sahabat-sahabat, tim guru yang telah berjasa, serta bersosialisasi antar angkatan, tentu menjadi suatu kebahagiaan tersendiri bila itu terlaksana. Apalagi bila sudah sekian lama tidak bersua, tidak pernah bertukar kabar dan tidak pernah bersilaturrohim. Rasanya kebahagian saat belajar bersama dulu baru kemarin ditinggalkan, tak terasa sudah sekian tahun tidak berjumpa. Rasa ingin mengenang kembali saat berada dalam kebersamaan yang penuh dengan kekeluargaan, keceriaan dan kesetiakawanan tentu sangat kuat sekali untuk dapat terlaksana atau mungkin hanya sekedar mengenang kembali.
Reuni yang nanti akan dihadiri oleh seluruh angkatan Skima dan dari pihak Sekolah diharapkan memperkuat rasa persaudaraan dan mempererat tali silaturahmi. Dengan awal kegiatan yang baik ini, diharapkan tali persaudaraan para alumni Skima di Jabodetabek sekitarnya semakin kuat dan dapat berjalan dengan baik.
Jika halal bil halal diselenggarakan sebagai kegiatan silaturahim, tentu banyak manfaat dan pahala yang akan diperoleh.
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung hubungan kekeluargaan (silaturahmi).
Hadis riwayat Jubair bin Muth’im ra : Dari Nabi saw. Bahwa beliau bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan.
MAKSUD DAN TUJUAN
Halal bil halal keluarga besar SKIMA Jabodetabek sekitarnya dilaksanakan bertujuan untuk membentuk dan membangkitkan tali silaturahmi di tubuh SKIMA wilayah Jabodetabek dan sekitar yang selama ini mati suri. Dapat saling bersosialisasi, saling mengenal antar alumni dan selanjutnya mempermudah pengkoordinasian wilayah.
WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Halal bil halal SKIMA Jabodetabek sekitarnya insya Allah akan dilaksanakan pada Minggu, 11 Oktober 2009. Bertempat di rumah kediaman Bapak Cipto alumni 1979 yang beralamatkan di jl Melur 4 no 9 Sunter, Jakarta Utara.
PERENCANAAN DAN SUMBER BIAYA
Total biaya yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 15.000.000,- (perincian terlampir). Adapun sumber biaya adalah :
- Sumbangan anggota SKIMA (min Rp 70.000/orang, target 300 orang)
- Sponsorship
- Sumber lain yang halal yang tidal mengikat
Pengumpulan dana dapat dilakukan melalui koordinasi masing-masing wilayah atau ditransfer melalui rekening :
BCA : 168 168 2525 an Muh Jaenal Aripi
DANAMON : 8976 7586 an Mardiyanto
PANITIA WILAYAH
Susunan panitia terlampir
PENUTUP
Demikian proposal ini dibuat, semoga dapat dipertimbangkan. Atas partisipasi semua warga SKIMA dan perhatiannya kami ucapkan terimakasih.
Jakarta, 28 Agustus 2009
Koordinator SKIMA
Wilayah Jabodetabek dan sekitarnya
Ketua Bendahara
Mahmudi BM Hendra
Lampiran 1 : Anggaran biaya pelaksanaan halal bil halal SKIMA se Jabodetabek 2009
| Target 300 Orang | ||||
|
1 |
Gedung Pertemuan | |||
| A | Dekorasi | Rp 300,000.00 | ||
| B | Dokumentasi | Rp 1,000,000.00 | ||
|
2 |
Perlengkapan | |||
| A | Undangan (2500) | Rp 750,000.00 | ||
| B | Plakat | Rp 650,000.00 | ||
| C | Souvenir | Rp 900,000.00 | ||
| D | Proposal 20×5000 | Rp 100,000.00 | ||
| E | Buku Tamu | Rp 100,000.00 | ||
| F | Transport | Rp 500,000.00 | ||
|
3 |
Konsumsi | |||
| A | Snack (5000) | Rp 1,500,000.00 | ||
| B | Makan (20000) | Rp 8,000,000.00 | ||
| C | Aqua | Rp 200,000.00 | ||
|
4 |
Tak Terduga | Rp 1,000,000.00 | ||
| TOTAL BIAYA | Rp 15,000,000.00 | |||
Lampiran 2 : Susunan panitia pelaksanaan halal bil halal SKIMA se Jabodetabek 2009
|
Panitia |
Nama |
Lulus |
No Hp |
|
| Ketua 1 | Mahmudi BM |
2002 |
085218091447 | |
| Ketua 2 | Mardianto |
1999 |
08121962313 | |
| Sekretaris | Riyanto |
2000 |
0817408822 | |
| Titik |
2004 |
081317926839 | ||
| Bendahara | Hendra |
1999 |
081218034606 | |
| Alrahman |
2007 |
081574640529 | ||
| Rekan2 Korwil |
|
|||
| Humas | Jaenal |
2000 |
081382488745 | |
| Arifin Pararaja |
2003 |
081316154158 | ||
| Sie Kegiatan | Samirin |
1992 |
08129506372 | |
| Prayetno |
1995 |
02168610763 | ||
| Sie Pencarian Dana |
|
|||
| Bpk. Cipto |
1979 |
|||
| Bpk. Nardi |
1979 |
|||
| Samirin |
1992 |
08129506372 | ||
| Prayetno |
1995 |
02168610763 | ||
| Agung |
1997 |
081315319996 | ||
| Anang Relawan |
1999 |
081310410476 | ||
| Bayu Tri W |
2004 |
08567557613 | ||
| Rekan2 Korwil |
|
|||
| - Tangerang | Fikri F |
2004 |
081389141340 | |
| - Serang | Wahyudi W |
2003 |
081317032885 | |
| - Bogor | Hendra |
1999 |
081218034606 | |
| - Cikarang | Prayetno |
1995 |
02168610763 | |
| - Jakarta | Riyanto |
2000 |
0817408822 | |
| - Karawang | Yusak S |
2003 |
081519206641 | |
mengundang segenap alumni SMK N 3 Kimia Madiun / STM N 2 Kimia Madiun seluruh angkatan
serta mengundang dari pihak Guru tim pengajar…bintang tamu Budhe Tuti
dimohon semuanya bisa berpartisipasi dan menyempatkan waktunya
mohon disebar luaskan dengan semua media agar acara ini bisa berjalan lancar.
terimakasih
Wah…Anggaran Depdiknas Terbesar di RAPBN 2010 !

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) pada RAPBN 2010 memperoleh alokasi anggaran terbesar yang mencapai Rp 51,8 triliun.
“Anggaran besar untuk Departemen Pendidikan Nasional tersebut untuk menuntaskan pelaksanaan program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun, pemerataan, dan perluasan akses pendidikan, serta peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Pidato Pengantar RAPBN 2010 dan Nota Keuangan di depan Rapat Paripurna Luar Biasa DPR-RI, di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Senin (3/8).
Pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2010, pemerintah mengalokasikan anggaran belanja untuk seluruh kementerian/lembaga mencapai Rp 327,6 triliun, meningkat Rp 10,6 triliun dibanding RAPBN tahun 2009 lalu.
Menurut Kepala Negara, dengan anggaran pendidikan yang mencapai 20 persen dari APBN itu diharapkan dapat menaikkan kesejahteraan guru, meningkatkan mutu pendidikan guna membangun keunggulan dan daya saing bangsa di abad 21.
Diungkapkan oleh Presiden, lembaga lainnya yang juga memperoleh anggaran yang cukup besar yaitu Departemen Pertahanan sebesar Rp 40,7 triliun dan Departemen Pekerjaan Umum Rp 34,3 triliun. Sementara itu, Departemen Agama memperoleh Rp 26,0 triliun, Kepolisian Negara Republik Indonesia sebesar Rp 25,8 triliun, Departemen Kesehatan sebesar Rp 20,8 triliun, dan Departemen Perhubungan sebesar Rp 16,0 triliun.
semoga dana sebesar itu benar dalam pemanfaatannya, tidak trercampuri oleh manusia yang kurang bermoral. tetapi dana tersebut meratakah? sampai pelosokkah? lantas sekolah yang SBI dan lebih bonavit masih dapatkah? ketidak sesuaian pemanfaatan dari masyarakat harusnya ada pelaporan agar cepat terusut dan bisa di cegah lebihnya.
Bijak dalam menggunakan kemasan pangan
Faktor yang mempengaruhi migrasi senyawa toksik adalah jenis serta konsentrasi kimia terkandung, sifat komposisi pangan beserta suhu dan lama kontak. Kemajuan teknologi memberikan efektifitas dalam pengemasan pangan minuman. Berbagai jenis dan bentuk kemasan memudahkan pangan untuk didistribusikan. Pangan ataupun minuman menjadi lebih awet dan higienis jika dikemasan dengan baik.
Konsumen pun merasa nyaman dengan tersediannya produk pangan terkemas, serta tersedianya berbagai pilihan kemasan produk pangan rumah tangga. Seperti gayung bersambut, fenomena ini dimanfaatkan oleh berbagai produsen kemasan pangan. Berbagai jenis, bentuk, dan ukuran, kemasan tersedia. Bermacam-macam bahan dari yang paling sederhana mulai dari kertas sampai paling modern yakni polivnil dan logam digunakan dalam kemasan ini.
Dewasa ini secara garis besar terdapat lima macam bahan pengemas yakni kertas dan bahan sejenisnya, gelas, plastik, dan logam. Masing – masing jenis bahan pengemas ini memiliki keunggulan tertentu. Jenis kemasan tersebut cocok untuk jenis pangan tertentu. Pangan padat, setengah padat (pasta) dan cair (minuman) memiliki bahan kemas tersendiri.
Di satu sisi kemasan memberikan keuntungan, disisi lain kemasan juga perlu diwaspadai. Tidak semua bahan pengemas aman terhadap pangan minuman. Oleh karena itu kemasan tersebut harus memenuhi syarat keamanan. Pengaruh Negatif Kemasan PlastikPlastik adalah campuran yang mengandung polimer, filler, plasticizer, retar dan nyala, antioksidan, lubrikan, stabilizer panas dan pigmen warna. Jenis polimer yang banyak digunakan adalah polietilen, polipropilen, polivinilklorida dan polisterina. Resiko yang ditimbulkan senyawa-senyawa tersebut(lihat tabel jenis Polimer) senyawa kimia toksik dari plastik dapat bermigrasi terhadap pangan antara lain karena pengaruh suhu dan waktu kontak. Suhu tinggi (lebih dari 60oC) dan lama kontak selama 30 menit, senyawa toksik seperti halnya formalin sudah termigrasi ke dalam bahan pangan. Semakin besar suhu dan semakin lama kontak, migrasi senyawa toksik akan semakin besar. Oleh karena itu perlu diperhatikan aplikasi kemasan jenis ini dalam makanan minuman.Pengaruh Negatif Kemasan LogamBerbagai kaleng terbuat dari jenis-jenis logam seng, aluminium, besi, alumunium dan seng tidak meracun dalam kadar rendah bagi tubuh manusia.
Logam akan bereaksi dengan asam, dan logam tersebut larut, oleh karena itu akan menurunkan kualitas bahan pangan atau minuman yang bersifat asam.Bahan tambahan kaleng, misal cat, serta bahan pelapis kaleng organik epoksi fenol dan organosol perlu diperhatikan penggunaannya.
Kaleng ataupun kemasan logam lainnya tidak boleh mengandung logam timbal, kromium, merkuri, dan cadmium. Logam-logam ini mengakibatkan efek negatif terhadap kesehatan manusia. (lihat tabel pengaruh negatif penggunaan logam). Banyak makanan dan minuman yang bersifat asam. Kontak antara asam dengan logam akan melarutkan kemasan logam yang bersangkutan. Waktu kontak berkorelasi positif dengan jumlah logam yang terlarut. Artinya semakin lama terjadinya kontak, maka semakin banyak logam yang larut. Oleh karena itu perlu dipilah jenis pangan-minuman yang layak dikemas dengan kaleng atau kemasan logam.
Pengaruh Kemasan Asal Bahan Kertas dan SejenisnyaBahan kemas asal kertas sudah lama dikenal. Kemasan kertas banyak digunakan, terutama dipasar tradisional. Penggunaan koran bekas ataupun kertas sisa banyak dijumpai di warung, dan dipasar. Secara modern pun kemasan kertas digunakan, baik ditambah pelapis maupun secara langsung.Struktur dasar kertas adalah bubur kertas (selulosa) dan felted mat. Komponen lain adalah hemiselulosa, fenil propan terpolimerisasi sebagai lem untuk melengketkan serat, minyak esensial, alkaloid, pigmen, mineral. Terkadang digunakan klor sebagai pemutih, digunakan pula adhesive aluminium, pewarna dan pelapis.Bahan berbahaya termigrasi yang ada dalam kertas adalah tinta, terutama untuk kertas bekas (mengandung logam berat), serta komponen bahan kimia tersebut di atas kecuali selulosa dan lignin. Mengingat kertas pun memberikan ancaman bagi kesehatan, maka pemilihan bahan yang dikemas, dan penggunaan kertas sebagai pengemas harus diperhatikan. Kertas bertinta seharusnya tidak digunakan untuk membungkus bahan pangan secara langsung.
Migrasi Bahan Kimia Berbahaya Dari KemasanTerjadinya keracunan ataupun akumulasi bahan toksik, sebenarnya karena proses migrasi senyawa tersebut dari kemasan ke pangan. Migrasi merupakan perpindahan bahan kimia baik itu polimer, monomer, ataupun katalisator kemasan (contoh formalin dari kemasan/wadah melamin) kedalam pangan. Migrasi memberikan dampak terhadap penurunan kualitas pangan dan keselamatan pangan. Jumlah senyawa termigrasi kebanyakan tidak disadari, tetapi berpengaruh fatal terutama pada jangka panjang.
Faktor yang mempengaruhi migrasi senyawa toksik adalah jenis serta konsentrasi kimia terkandung, sifat komposisi pangan beserta suhu dan lama kontak. Kualitas bahan kemasan juga berpengaruh terhadap migrasi. Jika bahan inert (tidak mudah bereaksi) maka migrasinya kecil dan sebaliknya.Potensi migrasi bahan toksik meningkat karena lamanya kontak, meningkatnya suhu, tingginya konsentrasi senyawa termigrasi dan bahan makanan yang terlalu reaktif. Migrasi bahan toksik merupakan masalah serius jangka panjang bagi kesehatan konsumen, oleh karena itu perlu perhatian khusus. Peraturan dan perundang-undangan harus ditegakkan sebagai payung hukum. Pengawasan oleh BPOM RI secara independent akan mengurangi resiko kontaminasi bahan berbahaya, sehingga dapat mengaktulisasikan tujuan pokok organisasi dalam melindungi masyarakat dari pangan berbahaya.
Pemilihan Kemasan PanganMenyikapi keberadaan jenis bahan kemas yang heterogen, perlu kebijakan khusus dalam pemilihan kemasan efektif dan mencapai sasaran. Sejumlah kriteria perlu dipertimbangkan dalam pemilihan kemasan pangan:
1. Sifat bahan kimia pangan beserta stabilitasnya dalam hal komposisi kimia, biokimia, mikrobiologi kemungkinan reaksi dan kecepatan reaksi terhadap bahan kemasan pengaruhnya dengan suhu dan waktu.
2. Sifat bahan kimia pengemas, kompatibilitasnya harus dinilai secara seksama.Apakah bahan kimia tersebut mudah termigrasi, serta evalusi terhadap pengaruh suhu dan waktu kontak terhadap komposisi yang dikandung pengemas.
3. Evaluasi terhadap faktor lingkungan. Mengingat migrasi bahan toksik sangat dipengaruhi suhu, lama kontak dan jenis senyawa toksik dalam kemasan, maka faktor lingkungan harus diperhatikan.
Kategori Pangan TerkemasKategori pangan penting diketahui untuk pemilihan bahan pengemas. Secara garis besar pangan dapat dikategorikan sbb:
1. Sesuai derajat asam basanya (pH) Pangan maupun minuman beragam kadar asam basanya. Ada yang bersifat sangat asam, ada yang netral dan ada pula yang basa. Pangan yang bersifat asam berbahaya jika kemasannya terbuat dari logam. Pangan yang bersifat netral lebih banyak memiliki kecocokan dengan banyak jenis bahan kemas.
2. Suhu saat pengemasan dan penyimpanan saat pengemasan ada yang dilakukan saat pangan pada suhu tinggi (diatas 60oC), suhu kamar, ataupun suhu rendah. Pengemasan pangan pada suhu tinggi, ataupun penyimpanan pangan terkemas pada suhu tinggi akan meningkatkan migrasi bahan kia toksik, Formaldehid dari kemasan melamin termigrasi pada suhu tersebut.
3. Kandungan kimia dominan Bahan kimia dominan dalam pangan dapat berupa protein, lemak/minyak, garam dsb. Pemilihan kemasan disesuaikan dengan kandungan kimia; seyogyanya dipilih kemasan yang tidak bereaksi antara kemasan dan kimia bahan pangan. Sebagai contoh : Pangan berkadar garam tinggi, akan mendegradasi kemasan logam.
SYARAT KEAMANAN KEMASAN PANGAN
1. Kemasan tidak bersifat toksikdan beresidu terhadap pangan-minuman.
2. Kemasan harus mampu menjaga bentuk, rasa, kehigienisan, dan gizi bahan pangan.
3. Senyawa bahan toksik kemasan tidak boleh bermigrasi ke dalam bahan pangan terkemas.
4. Bentuk, ukuran dan jenis kemasan memberikan efektifitas.
5. Bahan kemasan tidak mencemari lingkungan hidup. Secara ringkas syarat kemasan harus mampu melindungi pangan secara fisik, kimia dan biologis. Beberapa bahan kemasan karena pengaruh suhu, dan waktu kontak terhadap jenis bahan pangan tertentu, menimbulkan efek toksik bagi tubuh manusia.
DASAR HUKUMDasar HukumDalam perihal peraturan tentang kemasan pangan, telah dituangkan dalam Undang-undang tentang pangan yang kemudian diimplementasikan dalam permenkes tentang produksi dan peredaran pangan. Peraturan tersebut lengkapnya sbb:
1. Undang-undang No.7 Th 1996 tentang Pangan (UU 7/1999)Pasal 1 butir 10:Kemasan pangan adalah bahan yang digunakan untuk mewadahi atau membungkus pangan, baik yang bersentuhan langsung dengan pangan maupun tidak.Pasal 16 :
1. Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan dilarang menggunakan bahan apapun sebagai kemasan pangan yang dinyatakan terlarang dan atau yang dapat melepaskan cemaran yang merugikan atau membahayakan kesehatan manusia.
2. Pengemasan pangan yang diedarkan dilakukan melalui tata cara yang dapat menghindarkan terjadinya kerusakan dan atau pencemaran.
3. Pemerintah menetapkan bahan yang dilarang digunakan sebagai kemasan pangan dan tata cara pengemasan pangan tertentu yang diperdagangkan.
Pasal 17 :Bahan yang akan digunkan sebagai kemasan pangan, tetapi belum diketahui dampaknya bagi kesehatan manusia, wajib terlebih dahulu diperiksa keamanannya, dan penggunaannya bagi pangan yang diedarkan dilakukan setelah memperoleh persetujuan Pemerintah.
2. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 329/Menkes/Per/XII/76 tentang Produksi dan Peredaran Pangan
asal 1 butir 1 :Wadah adalah barang yang dipakai untuk mewadahi atau membungkus makanan yang berhubungan langsung dengan isi.Pasal 1 butir 2
embungkus adalah barang yang digunakan untuk membungkus makanan yang tidak berhubungan langsung dengan isi.Pasal 13 :
1. Wadah makaanan harus dapat melindungi dan mempertahankan mutu isinya.
2. Wadah harus dibuat dari bahan yang tidak melepaskan zat yang dapat mengganggu kesehatan.
Jenis Polimer
No
Polimer Plastik
Jenis Bahan Toksik
Pengaruh Terhadap Kesehatan
1.
Polivnil Klorida
Polivinil Klorida Hidrogen Klorida (HCL), plastizicer (ester asamftalat : dioktif ftalat, dibutil ftalat)
Kanker, mutasi gen, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, disfungsi hati, bronchitis dan tukak
2.
Polietilen
Aldehid alifatik (LDPE), Hidrokarbon alifatik tidak jenuh (HDPE)
Kanker
3.
Ftalat
Ester asam ftalat
Gangguan pertumbuhan dan reproduksi, asma
4.
Polyester
Ester
Menyebabkan iritasi mata, saluran pernapasan dan kulit kemerahan
5.
Polioksimetilen
Fomaldehid (Formalin)
Iritasi bronchhial, mencret, muntah, depresi susunan syaraf, gangguan peredaran darah, konvulsi Pengaruh Negatif penggunaan Logam No Nama Logam Penggunaan Bahaya Bagi Kesehatan
Pengaruh Megatif penggunaan Logam
No
Nama Logam
Penggunaan
Bahaya Bagi Kesehatan
1.
Timbal (Pb)
Stabilizer, pewarna
Kerusakan system syaraf pusat, menghambat pembentukan haemoglobin, anemia, menimbulkan osteoporosis, karsinogenik
2.
Kromium (Cr)
Pewarna
Kromium heksavalen menyebabkan kanker dan alergi kulit
3.
Nikel (Ni)
Stabilizer
Karsinogenik
4.
Kadmium (Cd)
Stabilizer
Osteoporosis, kerusakan ginjal, kerusakan paru-paru.
5.
Merkuri (Hg)
Kerusakan system syaraf pusat, kerusakan ginjal, karsinogenik.
Diposkan oleh bbpomptk
Sebaiknya Formalin Dicampur Bitrex
Jakarta, Kompas – Untuk melindungi masyarakat dari bahaya formalin di sejumlah bahan pangan, seperti tahu atau ikan asin, sebaiknya formalin dicampur bahan kimia bitrex (denatonium benzoate) agar pahit.
”Saya berulang kali mengusulkan pada pemerintah, tapi tidak ada tanggapan. Padahal, bitrex harganya murah,” kata Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia dr Marius Widjajarta di Jakarta, pekan lalu.
Hal yang sama diusulkan Forum Peduli Kesehatan Masyarakat (FPKM), pekan lalu. Pihak forum tersebut mendesak penertiban penggunaan formalin dan boraks di kalangan produsen makanan di wilayah Jabodetabek. Langkah tegas pemerintah diperlukan untuk mencegah penggunaan bahan berbahaya itu guna menangkal berbagai penyakit yang disebabkan bahan berbahaya itu. ”Pemerintah harus memberlakukan sanksi tegas terhadap produsen yang melanggar. Perlu menyeret pelakunya ke meja hijau,” kata Ketua Umum FPKM Basuni Suryanata Negara. Selain itu, impor juga harus dihentikan.
”Pemerintah harus menutup keran impor, baru mengevaluasi penggunaan formalin. Jangan melakukan sebaliknya,” ujarnya. Basuni mengungkapkan, pihaknya memiliki bukti tentang tingginya penggunaan formalin pada tahu, mi, kwetiau, ayam potong, saus cabai, kecap, ikan basah, dan ikan asin. Sementara itu, penggunaan boraks sebagai pengawet dan pengenyal makanan banyak ditemukan pada produk pangan, seperti bakso, otak-otak ikan, nugget ayam, dan lontong. ”Seharusnya, pemerintah memberantas industri makanan menggunakan formalin dan boraks sebagai pengawet. Pelakunya harus ditangkap,” katanya. Data yang dimilikinya menyebutkan, 97 persen dari total 455 unit produsen tahu di wilayah Jabodetabek masih menggunakan formalin sebagai pengawet.
Dari analisis, saat ini terjadi penurunan tingkat kesehatan masyarakat sebesar 15 persen karena kontaminasi bahan kimia berbahaya pada produk makanan.
sebenarnya hal ini sangat berbahaya bagi komsumen…ntah itu generasi sekarang atau berimbas ke generasi mendatang. diracunin dengan formalin akan membuat SDM Indonesia malah tambah bobrok. sikap tegas pemerintah, BPPOM dan MUI mungkin harus ikut andil, demi kesejahteraan umat.
Abu Nasr Mansur, Sang Penemu Hukum Sinus
Saat masih sekolah di bangku sekolah menengah, tentu Anda pernah mempelajari istilah sinus dalam mata pelajara matematika. Sinus adalah perbandingan sisi segitiga yang ada di depan sudut dengan sisi miring.
Hukum sinus itu ternyata dicetuskan seorang matematikus Muslim pada awal abad ke-11 M. Ahli matematika itu bernama Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab disapa Abu Nasr Mansur (960 M – 1036 M). Bill Scheppler dalam karyanya bertajuk al-Biruni: Master Astronomer and Muslim Scholar of the Eleventh Century, mengungkapkan, bahwa Abu Nasr Mansur merupakan seorang ahli matematika Muslim dari Persia. “Dia dikenal sebagai penemuan hukum sinus,” ungkap Scheppler.
Ahli sejarah Matematika John Joseph O’Connor dan Edmund Frederick Robertson menjelaskan bahwa Abu Nasr Mansur terlahir di kawasan Gilan, Persia pada tahun 960 M. Hal itu tercatat dalam The Regions of the World, sebuah buku geografi Persia bertarikh 982 M. Keluarganya “Banu Iraq” menguasai wilayah Khawarizm (sekarang, Kara-Kalpakskaya, Uzbekistan).
Khawarizm merupakan wilayah yang berdampingan dengan Laut Aral. “Dia menjadi seorang pangeran dalam bidang politik,” tutur O’Cornor dan Robertson. Di Khawarizm itu pula, Abu Nasr Mansur menuntut ilmu dan berguru pada seorang astronom dan ahli matematika Muslim terkenal Abu’l-Wafa (940 M – 998 M). Otaknya yang encer membuat Abu Nasr dengan mudah menguasai matematika dan astronomi.
Kehebatannya itu pun menurun pada muridnya, yakni Al-Biruni (973 M – 1048 M). Kala itu, Al-Biruni tak hanya menjadi muridnya saja, tapi juga menjadi koleganya yang sangat penting dalam bidang matematika. Mereka bekerja sama menemukan rumus-rumus serta hukum-hukum yang sangat luar biasa dalam matematika.
Kolaborasi kedua ilmuwan itu telah melahirkan sederet penemuan yang sangat hebat dan bermanfaat bagi peradaban manusia. Perjalanan kehidupan Abu Nasr dipengaruhi oleh situasi politik yang kurang stabil. Akhir abad ke-10 M hingga awal abad ke-11 M merupakan periode kerusuhan hebat di dunia Islam. Saat itu, terjadi perang saudara di kota sang ilmuwan menetap.
Pada era itu, Khawarizm menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Samaniyah. Perebutan kekuasaan di antara dinasti-dinasti kecil di wilayah Asia Tengah itu membuat situasi politik menjadi kurang menentu. Pada 995 M, kekuasaan Banu Iraq digulingkan. Saat itu, Abu Nasr Mansur menjadi pangeran. Tidak jelas apa yang terjadi pada Abu Nasr Mansur di negara itu, namun yang pasti muridnya al-Biruni berhasil melarikan diri dari ancaman perang saudara itu.
Setelah peristiwa itu, Abu Nasr Mansur bekerja di istana Ali ibnu Ma’mun dan menjadi penasihat Abu’l Abbas Ma’mun. Kehadiran Abu Nasr membuat kedua penguasa itu menjadi sukses. Ali ibnu Ma’mun dan Abu’l Abbas Ma’mun merupakan pendukung ilmu pengetahuan. Keduanya mendorong dan mendukung Abu Nasr mengembangkan ilmu pengetahuan. Tak heran jika ia menjadi ilmuwan paling top di istana itu. Karya-karyanya sangat dihormati dan dikagumi.
Abu Nasr Mansur menghabiskan sisa hidupnya di istana Mahmud di Ghazna. Ia wafat pada 1036 M di Ghazni, sekarang Afghanistan. Meski begitu, karya dan kontribusianya bagi pengembangan sains tetap dikenang sepanjang masa. Dunia Islam modern tak boleh melupakan sosok ilmuwan Muslim yang satu ini.
Kontribusi Sang Ilmuwan
Abu Nasr Mansur telah memberikan kontribusi yang penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Sebagian Karya Abu Nasr fokus pada bidang matematika, tapi beberapa tulisannya juga membahas masalah astronomi.
bidang matematika, dia memiliki begitu banyak karya yang sangat penting dalam trigonometri. Abu Nasr berhasil mengembangkan karya-karya ahli matematika, astronomi, geografi dan astrologi Romawi bernama Claudius Ptolemaeus (90 SM – 168 SM).
Dia juga mempelajari karya ahli matematika dan astronom Yunani, Menelaus of Alexandria (70 SM – 140 SM). Abu Nasr mengkritisi dan mengembangkan teori-teori serta hukum-hukum yang telah dikembangkan ilmuwan Yunani itu. Kolaborasi Abu Nasr dengan al-Biruni begitu terkenal.
Abu Nasr berhasil menyelesaikan sekitar 25 karya besar bersama al-Biruni. ” Sekitar 17 karyanya hingga kini masih bertahan. Ini menunjukkan bahwa Abu Nasr Mansur adalah seorang astronom dan ahli matematika yang luar biasa,” papar ahli sejarah Matematika John Joseph O’Connor dan Edmund Frederick Robertson Dalam bidang Matematika, Abu Nasr memiliki tujuh karya, sedangkan sisanya dalam bidang astronomi.
Semua karya yang masih bertahan telah dipublikaskan, telah dialihbahasakan kedalam bahasa Eropa, dan ini memberikan beberapa indikasi betapa sangat pentingnya karya sang ilmuwan Muslim itu. Secara khusus Abu Nasr mempersembahkan sebanyak 20 karya kepada muridnya al-Biruni.
Salah satu adikarya sang saintis Muslim ini adalah komentarnya dalam The Spherics of Menelaus. Perannya sungguh besar dalam pengembangan trigonometri dari perhitungan Ptolemy dengan penghubung dua titik fungsi trigonometri yang hingga kini masih tetap digunakan.
Selain itu, dia juga berjasa dalam mengembangkan dan mengumpulkan tabel yang mampu memberi solusi angka yang mudah untuk masalah khas spherical astronomy (bentuk astronomi). Abu Nasr juga mengembangkan The Spherics of Menelaus yang merupakan bagian penting, sejak karya asli Menelaus Yunani punah.
Karya Menelaus berasal dari dasar solusi angka Ptolemy dalam masalah bentuk astronomi yang tercantum dalam risalah Ptolemy bertajuk Almagest. “Karyanya di dalam tiga buku: buku pertama mempelajari kandungan/kekayaan bentuk segitiga, buku kedua meneliti kandungan sistem paralel lingkaran dalam sebuah bola/bentuk mereka memotong lingkaran besar, buku ketiga memberikan bukti dalil Menelaus,” jelas O’Cornor dan Robertson.
Pada karya trigonometrinya, Abu Nasr Mansur menemukan hukum sinus sebagai berikut:
a/sin A = b/sin B = c/sin C.
“Abu’l-Wafa mungkin menemukan hukum ini pertama dan Abu Nasr Mansur mungkin belajar dari dia. Pastinya keduanya memiliki prioritas kuat untuk menentukan dan akan hampir pasti tidak pernah diketahui dengan kepastian,” ungkap O’Cornor dan Robertson.
O’Cornor dan Robertson juga menyebutkan satu nama lain, yang disebut sebagai orang ketiga yang kadang-kadang disebut sebagai penemu hukum yang sama, seorang astronom dan ahli matematika Muslim dari Persia, al-Khujandi (940 M – 1000 M).
Namun, kurang beralasan jika al-Khujandi dsebut sebagai penemu hukum sinus, seperti yang ditulis Samso dalam bukunya Biography in Dictionary of Scientific Biography (New York 1970-1990). “Dia adalah seorang ahli astronomi praktis yang paling utama, yang tidak peduli dengan masalah teoritis,” katanya.
Risalah Abu Nasr membahas lima fungsi trigonometri yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam bentuk astronomi. Artikel menunjukkan perbaikan yang diperoleh Abu Nasr Mansur dalam penggunan pertama sebagai nilai radius. Karya lain Abu Nasr Mansur dalam bidang astronomi meliputi empat karya dalam menyusun dan mengaplikasi astrolab.
Al-Biruni, Saksi Kehebatan Abu Nasr
Sejatinya, dia adalah murid sekaligus kawan bagi Abu Nasr Mansur. Namun, dia lebih terkenal dibandingkan sang guru. Meski begitu, al-Biruni tak pernah melupakan jasa Abu Nasr dalam mendidiknya. Kolaborasi kedua ilmuwan dari abad ke-11 M itu sangat dihormati dan dikagumi. Abu Nasr telah ‘melahirkan’ seorang ilmuwan yang sangat hebat.
Sejarawan Sains Barat, George Sarton begitu mengagumi kiprah dan pencapaian al-Biruni dalam beragam disiplin ilmu. ”Semua pasti sepakat bahwa Al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman,” cetus Sarton. Bukan tanpa alasan bila Sarton dan Sabra mendapuknya sebagai seorang ilmuwan yang agung. Sejatinya, al-Biruni memang seorang saintis yang sangat fenomenal.
Sejarah mencatat, al-Biruni sebagai sarjana Muslim pertama yang mengkaji dan mempelajari tentang seluk beluk India dan tradisi Brahminical. Dia sangat intens mempelajari bahasa, teks, sejarah, dan kebudayaan India. Kerja keras dan keseriusannya dalam mengkaji dan mengeksplorasi beragam aspek tentang India, al-Biruni pun dinobatkan sebagai ‘Bapak Indologi’ — studi tentang India. Tak cuma itu, ilmuwan dari Khawarizm, Persia itu juga dinobatkan sebagai ‘Bapak Geodesi’.
Di era keemasan Islam, al-Biruni ternyata telah meletakkan dasar-dasar satu cabang keilmuan tertua yang berhubungan dengan lingkungan fisik bumi. Selain itu, al-Biruni juga dinobatkan sebagai ‘antropolog pertama’ di seantero jagad. Sebagai ilmuwan yang menguasai beragam ilmu, al-Biruni juga menjadi pelopor dalam berbagai metode pengembangan sains.
Sejarah sains mencatat, ilmuwan yang hidup di era kekuasaan Dinasti Samaniyah itu merupakan salah satu pencetus metode saintifik eksperimental. Al-Biruni pun tak hanya menguasai beragam ilmu seperti; fisika, antropologi, psikologi, kimia, astrologi, sejarah, geografi, geodesi, matematika, farmasi, kedokteran, serta filsafat. Dia juga turun memberikan kontrbusi yang begitu besar bagi setiap ilmu yang dikuasainya itu.
Berpikir yang cerdik
“Meskipun anda bukanlah seorang jenius, anda dapat mengunakan strategi yang sama seperti yang digunakan Aristotle dan Einstein untuk memanfaatkan kreatifitas berpikir anda dan mengatur masa depan anda lebih baik.”
Kedelapan statregi berikut ini dapat mendorong cara berpikir anda lebih produktif daripada reproduktif untuk memecahkan masalah-masalah. “Strategi-strategi ini pada umumnya ditemui pada gaya berpikir bagi orang-orang yang jenius dan kreatif di ilmu pengetahuan, kesenian, dan industri-industri sepajang sejarah.”
1. Lihatlah persoalan anda dengan berbagai cara yang berbeda dan cari perspektif baru yang belum pernah dipakai oleh orang lain (atau belum diterbitkan!) Leonardo da Vinci percaya bahwa untuk menambah pengetahuan tentang suatu masalah dimulai dengan mempelajari cara menyusun ulang masalah tersebut dengan berbagai cara yang berbeda. Ia merasa bahwa pertama kali melihat masalah itu terlalu prubasangka. Seringkali, masalah itu dapat disusun ulang dan menjadi suatu masalah yang baru.
2. Bayangkan! Ketika Einstein memikirkan suatu masalah, ia selalu menemukan bahwa perlu untuk merumuskan persoalannya dalam berbagai cara yang berbeda-beda yang masuk akal, termasuk menggunakan diagram-diagram. Ia membayangkan solusi-solusinya dan yakin bahwa kata-kata dan angka-angka tidak memegang peran penting dalam proses berpikirnya.
3. Hasilkan! Karakteristik anak jenius yang membedakan adalah produktivitas. Thomas Edison memegang 1.093 paten. Dia memberikan jaminan produktivitas dengan memberikan ide-ide pada diri sendiri dan asistennya. Dalam studi dari 2.036 ilmuwan sepanjang sejarah, Dekan Keith Simonton, dari University of California di Davis, menemukan bahwa ilmuwan-ilmuwan yang dihormati tidak hanya menciptakan banyak karya-karya terkenal, tapi banyak yang buruk. Mereka tidak takut gagal, atau membuat kesalahan besar untuk meraih hasil yang hebat.
4. Buat kombinasi-kombinasi baru. Kombinasikan, and kombinasikan ulang, ide-ide, bayangan-bayangan, and pikiran-pikiran ke dalam kombinasi yang berbeda, tidak peduli akan keanehan atau ketidakwajaran. Keturunan hukum-hukum yang menjadi dasar ilmu genetika modern berasal dari pendeta Austria, Grego Mendel, yang mengkombinasikan matematika dan biologi untuk menciptakan ilmu pengetahuan baru.
5. Bentuklah hubungan-hubungan; buatlah hubungan antara peroalan-persoalan yang berbeda Da Vinci menemukan hubungan antara suara bel dan sebuah batu yang jatuh ke dalam air. Hal ini memungkinkan Da Vinci untuk membuat hubungan bahwa suara mengalir melalui gelombang-gelombang. Samuel Morse menciptakan stasiun-stasiun penghubung untuk tanda-tanda telegraf ketika memperhatikan stasiun-stasiun penghubung untuk kuda-kuda.
6. Berpikir secara berlawanan. Ahli ilmu fisika Niels Bohr percaya bahwa jika andamemegang pertentangan secara bersamaan, kemudian anda menyingkirkan pikiran anda dan akal anda bergerak menuju tingkatan yang baru. Kemampuannya untuk membayangkan secara bersamaan mengenai suatu partikel dan suatu gelombang mengarah pada konsepsinya tentang prinsip saling melengkapi. Dengan menyingkirkan pikiran (logis) dapat memungkinkan akal anda untuk menciptakan sesuatu yang baru.
7. Berpikir secara metafor. Aristotle menganggap metafora sebagai tanda yang jenius, dan percaya bahwa individual yang memiliki kapasitas untuk menerima persamaan antara dua keberadaan yang berbeda dan menghubungkannya adalah individual yang punya bakat kusus.
8. Persiapkan diri anda untuk menghadapi kesempatan. Bilamana kita mencoba sesuatu dan gagal, kita akhirnya mengerjakan sesuatu yang lain. Hal ini adalah prinsip pertama dari kekreatifan. Kegagalan dapat menjadi produktif hanya jika kita tidak terfokus pada satu hal sebagai suatu hasil yang tidak produktif. Sebaliknya, menganalisa proses, komponen-kompnen dan bagaimana anda dapat mengubahnya untuk memperoleh hasil yang lain. Jangan bertanya, ?Mengapa saya gagal?? melainkan ?Apa yang telah saya lakukan??
Diadaptasi dengan seijin: Michalko, Michael, Thinking Like a Genius: Eight strategies used by the super creative, from Aristotle and Leonardo to Einstein and Edison (New Horizons for Learning) seperti yang dilihat dari http://www.newhorizons.org/wwart_michalko1.html, (June 15, 1999) Artikel ini pertama kali diterbitkan di THE FUTURIST, May 1998 Michael
Michalko adalah pengarang buku Thinkertoys (A Handbook of Business Creativity), ThinkPak (A Brainstorming Card Set), dan Cracking Creativity: The Secrets of Creative Geniuses (Ten Speed Press, 1998).
Sumber bahan pencemar udara
Sumber bahan pencemar udara ada lima macam yang merupakan penyebab utama (sekitar 90%) terjadinya pencemaran udara global di seluruh dunia yaitu:
- Gas karbon monoksida, CO
- Gas-gas nitrogen oksida, NOx
- Gas hidrokarbon, CH
- Gas belerang oksida, SOx
- Partikulat-partikulat (padat dan cair)
Gas karbon monoksida merupakan bahan pencemar yang paling banyak terdapat di udara, sedangkan bahan pencemar berupa partikulat (padat maupun cair) merupakan bahan pencemar yang sangat berbahaya (sifat racunnya sekitar 107 kali dari sifat racunnya gas karbon monoksida).
a. Gas karbon monoksida, CO
Karbon monoksida adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa, titik didih -192º C, tidak larut dalam air dan beratnya 96,5% dari berat udara. Reaksi-reaksi yang menghasilkan gas karbon monoksida antara lain:
- Pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar atau senyawa senyawa karbon lainnya:
2 C + O 2 ? 2 CO
- Reaksi antara gas karbon dioksida dengan karbon dalam proses industri yang terjadi dalam tanur:
CO2 + C ? 2 CO
- Penguraian gas karbon dioksida pada suhu tinggi:
2 CO2 ? 2 CO + O 2
- Gas karbon monoksida yang dihasilkan secara alami yang masuk ke atmosfer lebih sedikit bila dibandingkan dengan yang dihasilkan dari kegiatan manusia.
CO adalah gas buang yang sangat berbahaya bagi paru-paru. Bila terhirup akan mengikat hemoglobin darah, sehingga pasokan O2 dalam darah akan berkurang. Kemampuan CO mengikat Hb 240 kali lipat dibanding O2. CO dalam darah menimbulkan beragam gangguan, tergantung kadarnya. Gas ini bisa menaikkan aliran darah hingga emosi mudah terpicu. Kadar COHb 10-20% atau sekitar 200 ppm menimbulkan sakit kepala, gangguan napas, bahkan kematian janin. Pada kadar yang lebih tinggi, misalnya 400 ppm, CO membuat pelipis berdenyut dan muntah – muntah, bahkan bisa menyebabkan pingsan, kolaps, koma, depresi jantung hingga kematian bila kadarnya diatas 2000 ppm.
b. Gas-gas Nitrogen oksida, NOx
Gas-gas Nitrogen oksida yang ada di udara adalah Nitrogen monoksida NO, dan Nitrogen dioksida NO2 termasuk bahan pencemar udara. Gas Nitrogen monoksida tidak berwarna, tidak berbau, tetapi gas nitrogen dioksida berwarna coklat kemerahan dan berbau tajam dan menyebabkan orang menjadi lemas. Reaksi-reaksi yang menghasilkan gas NO dan NO2 antara lain:
(1210 – 1765)ºC
2 N + O2 ? 2 NO
2 NO + O2 ? 2 NO
Merupakan buangan kendaraan bermotor. Unsur ini menyebabkan iritasi yang pada akhirnya mengubah fungsi paru, meningkatkan sensitivitas terhadap alergi,
Meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan, terutama pada penderita asma.
c. Hidrokarbon CH
Sumber terbesar senyawa hidrokarbon adalah tumbuhtumbuhan. Gas metana CH4 adalah senyawa hidrokarbon yang banyak dihasilkan dari penguraian senyawa organik oleh bakteri anaerob yang terjadi dalam air, dalam tanah dan dalam sedimen yang masuk ke dalam lapisan atmosfer:
2 (CH2O)n ? CO2 + CH4
Adalah senyawa organik yang mudah menguap dan reaktif. Hidrokarbon merupakan uap bensin yang tidak terbakar dan produk samping dari pembakaran tak sempurna. Beberapa hal yang bisa kita lakukan terutama bagi pengendara motor: Gunakan masker dengan kualitas baik yang mampu menutup hidung, mulut sampai ke leher. Bersihkan minimal setiap 2 hari sekali Gunakan helm yang benar-benar menutupi kepala, terutama hidung. Jangan lupa rajin mengonsumsi sayur dan buah, yang mengandung antioksidan tinggi sebagai penangkal radikal bebas yang terdapat dalam cemaran udara
d. Gas-gas belerang oksida SOx
Gas belerang dioksida SO2 tidak berwarna, dan berbau sangat tajam. Gas belerang dioksida dihasilkan dari pembakaran senyawasenyawa yang mengandung unsur belerang. Gas belerang dioksida SO2 terdapat di udara biasanya bercampur dengan gas belerang trioksida SO3 dan campuran ini diberi simbol sebagai SOx.
S + O2 ? SO2
2 SO2 + O 2 ? 2 SO3
e. Partikulat
Yang dimaksud dengan partikulat adalah berupa butiran-butiran kecil zat padat dan tetes-tetes air. Partikulat-partikulat ini banyak terdapat dalam lapisan atmosfer dan merupakan bahan pencemar udara yang sangat berbahaya.
Kalau lubang ozon sudah terpulihkan, apakah kemudian pemanasan global bisa teratasi? Ternyata studi terkini menunjukkan pulihnya lubang ozon di atas Antartika malah menyebabkan lebih banyak es mencair pada dekade mendatang. Ketika lubang ozon pulih, pola angin yang melindungi interior wilayah kutub dari udara yang hangat menjadi terbuka, mengakibatkan Antartika menghangat, demikian juga kondisi yang lebih hangat dan kering di Australia.
Kendati suhu global meningkat, interior Antartika mempunyai situasi yang unik karena cenderung mendingin pada musim panas dan gugur selama beberapa dasawarasa belakangan. Ilmuwan mengaitkan pendinginan tersebut dengan adanya lubang pada lapisan ozon yang mempengaruhi pola sirkulasi atmsofer dan memperkuat angin yang mengarah ke barat dan berputar-putar di dalam benua Antartika. Angin tersebut mengisolasi interior Antartika dari pola pemanasan, sebagaimana yang teramati pada semenanjuang Antartika serta bagian lain dunia.
Ozon amat mengkakis dan dipercayai sebagai bahan beracun dan bahan cemar biasa. Ozon mempunyai bau yang tajam, menusuk hidung. Ozon juga terbentuk pada kadar rendah dalam udara akibat arus listrik seperti kilat, dan oleh tenaga tinggi seperti radiasi eletromagnetik.
UV dikaitkan dengan pembentukan kanker kulit dan kerusakan genetik. Peningkatan tingkat uv juga mempunyai dampak kurang baik terhadap sistem imunisasi hewan, organisme akuatik dalam rantai makanan, tumbuhan dan tanaman. Penyerapan sinar UV berbahaya oleh ozon stratosfer amat penting untuk semua kehidupan di bumi.
Ozon di muka bumi
Ozon di muka bumi terbentuk oleh sinar ultraviolet yang menguraikan molekul O3 membentuk unsur oksigen. Unsur oksigen ini bergabung dengan molekul yang tidak terurai dan membentuk O3. Kadangkala unsur oksigen akan bergabung dengan N2 untuk membentuk nitrogen oksida; yang apabila bercampur dengan cahaya mampu membentuk ozon.
Lapisan ozon
Ozon adalah salah satu gas yang membentuk atmosfer. Molekul oksigen (O2) yang dengannya kita bernafas membentuk hampir 20% atmosfer. Pembentukan ozon (O3), molekul triatom oksigen kurang banyak dalam atmosfer di mana kandungannya hanya 1/3.000.000 gas atmosfer.
Kepentingan ozon
Ozon tertumpu di bawah stratosfer di antara 15 dan 30 km di atas permukaan bumi yang dikenal sebagai ‘lapisan ozon’. Ozon terhasil dengan pelbagai percampuran kimiawi, tetapi mekanisme utama penghasilan dan perpindahan dalam atmosfer adalah penyerapan tenaga sinar ultraviolet (UV) dari matahari.
Ozon (O3) dihasilkan apabila O2 menyerap sinar UV pada jarak gelombang 242 nanometer dan disingkirkan dengan fotosintesis dari sinar bagi jarak gelombang yang besar dari 290 nm. O3 juga merupakan penyerap utama sinar UV antara 200 dan 330 nm. Penggabungan proses-proses ini efektif dalam meneruskan ketetapan bilangan ozon dalam lapisan dan penyerapan 90% sinar UV.
Perubahan untuk SMK
Niat pemerintah melakukan pengembangan SMK tidak begitu saja bisa langsung terlaksana, khususnya terkait masih kurangnya tenaga pendidik.
Hal tersebut diutarakan oleh Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dr Baedhowi di Jakarta, Rabu (24/6). Baedhowi mengatakan, karena itulah, pihak pengelola SMK perlu membentuk kerja sama yang erat dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan instansi swasta terkait.
“Soal tenaga guru memang menjadi kendala, tetapi perlu diketahui bahwa niat pengembangan SMK ke depan tidak bisa begitu saja langsung terlaksana, perlu upaya kerja sama yang erat dengan pemerintah daerah dan instansi lain,” ujar Baedhowi.
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan, SMK merupakan pilihan yang rasional di tengah kondisi perekonomian saat ini. ”Daripada dipaksakan ke SMA tetapi lulus tidak bisa ke mana-mana, menganggur, lebih baik ke SMK,” ucapnya.
Ia percaya bahwa pembangunan akan berjalan lebih baik jika negara ini lebih banyak memiliki SDM-SDM terampil sebagai operator pembangunan. ”Yang terjadi sekarang, jumlahnya kan belum proporsional (rasio SMK dan SMA). Maka, perlu terus ada perubahan mindset masyarakat. Kampanye SMK perlu terus dilakukan,” ucapnya.
Secara terpisah, Direktur Pembinaan SMK Depdiknas Joko Sutrisno mengatakan, pemerintah berupaya memperkuat tata kelola SMK melalui penerapan sistem manajemen mutu berbasis ISO 9001:2000 dan sekarang ISO 9001:2008.
Kualitas SMK menjadi sangat penting karena SMK mendidik para peserta didik yang nantinya terjun ke dunia kerja. Pada masa sekarang, pencari tenaga kerja menginginkan tenaga yang sangat kompeten dan kompetitif.
Joko mengatakan, pasar kerja yang terus berubah disikapi pula dengan berbagai penyesuaian kompetensi keahlian (dulu istilahnya, program keahlian). Terdapat banyak kompetensi keahlian yang dapat dipilih para lulusan SMP. Saat ini terdapat 121 kompetensi keahlian.
Selain itu, pemerintah menciptakan lulusan SMK yang lentur terhadap berbagai perubahan teknologi dan lingkungan bisnis nasional ataupun internasional. Kompetensi keahlian juga dirumuskan sedapat mungkin agar murid tidak sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.
Pelajar Indonesia Juara Dunia
JAKARTA, KOMPAS.com – Pelajar Indonesia kembali meraih prestasi gemilang di kancah internasional dengan menjuarai Global Enterprise Challenge (GEC) 2009. Tim Indonesia berhasil mengalahkan juara dunia tahun lalu, Selandia Baru, juara tahun 2007, Amerika Serikat, dan negara peserta dari lima benua, antara lain: Jerman, Australia, Selandia Baru, Skotlandia, Jepang, Afrika Selatan, Korea, dan Singapura.
Yohanes Surya, Ketua Surya Institute, di Jakarta, Rabu (25/6), mengatakan berita kemenangan tim Indonesia itu diumumkan oleh astronaut NASA Sandra Magnus, dalam suatu live web stream pada jam 14.30 GMT atau jam 21.30 WIB pada tanggal 23 Juni 2009.
Tim Indonesia yang menamakan diri Kelompok Spoon Corporated diwakili oleh Wismaya Adi Purnama (SMA Taruna Nusantara Magelang), Lita Gunawan (SMAK Yahya Bandung), Rizki Satrio Nugroho (SMA Madania Bogor), Evelyn Antoinette (Bina Bangsa School Jakarta), Asyraf Firas Abdurrasyid (SMAN 1 Bandung), dan Christa Yona Twedrian (SMA Regina Pacis Bogor).
Dengan menjuarai GEC di tahun 2009 ini, Indonesia menjadi negara Asia pertama yang memenangkan GEC sejak diluncurkan di Skotlandia pada tahun 2002. Saat ikut serta untuk pertama kalinya dalam GEC tahun 2008, Indonesia bau berada di peringkat keenam setelah berhasil mengalahkan Singapura. Sementara itu, Korea kembali memenangkan penghargaan kreatifitas dalam GEC 2009, mengulangi prestasi mereka tahun lalu dalam GEC 2008.
Anggota Tim Indonesia di GEC 2009 datang dari berbagai latar belakang dan sekolah, bekerja sama dalam satu tim untuk memecahkan challenge berupa simulasi masalah yang dirancang oleh NASA, yang disiarkan melalui internet secara bersamaan ke semua peserta di berbagai tempat penyelenggaraan lomba di dunia.
GEC adalah lomba inovasi dan entrepreneurial di antara kelompok para remaja usia 16-19 tahun, menggunakan teknologi internet dan menjangkau skala regional dan global. Tim-tim peserta dari seluruh dunia harus menjawab challenge atau persoalan yang diberikan oleh NASA dan disiarkan melalui internet dari Glasgow, Skotlandia.
Challenge yang diberikan menuntut tim peserta merancang suatu prototipe dan rencana bisnis/marketing untuk suatu produk yang bisa dipasarkan secara komersial, demi mencapai suatu tujuan. Semua konsep, rancangan prototipe, rencana bisnis, serta rekaman presentasi (yang durasinya maksimum hanya 3 menit) harus diselesaikan dalam waktu yang sangat terbatas, yaitu dalam 24 jam sejak challenge diterima. Umumnya, tujuan ini berhubungan dengan suatu obyektif sosial atau yang terkait dengan masalah lingkungan.
Saat ini sekitar 5000 siswa dari 200 sekolah/perguruan tinggi dari berbagai negara di lima benua berpartisipasi dalam GEC setiap tahunnya GEC didukung oleh NASA dan World Intellectual Property Organisation (WIPO), yang mana WIPO memberikan medali emas pada tim pemenang serta sertifikat pada masing2 anggota tim.
Tim Indonesia berkumpul bersama untuk mengikuti GEC sejak Senin 22 -24 Juni 2009 di Jakarta. Tahun ini latar belakang Challenge yang diberikan oleh NASA adalah bahwa setiap hari, satu milyar orang di dunia akan kelaparan, sementara rumah tangga di negara-negara G-20 membuang jutaan ton makanan sisa senilai milyaran dolar.
Challenge GEC tahun 2009 adalah bagaimana merancang suatu model dari suatu produk atau jasa yang inovatif, yang bisa mengurangi makanan terbuang (reduce food waste) di negara peserta serta sekaligus menolong mengatasi kelaparan di salahsatu negara termiskin di dunia.
Solusi harus dipresentasikan oleh setiap tim dalam bahasa Inggris kepada tim juri dalam bentuk rekaman maksimum 3 menit, disertai business plan, yang dikirim via internet ke para juri di Skotlandia, 24 jam setelah Challenge diberikan.
Pemenang ditentukan berdasarkan kombinasi pendekatan inovatif dan kreatif, pertimbangan cost-benefit dari produknya, efektifitas strategi pemasarannya terhadap target audience-nya, serta efektifitas penyampaian idenya dalam presentasinya selama maksimum 3 menit.
Penetapan Kurikulum Perlu Libatkan “Stakeholder”?

Pendapat tersebut diutarakan oleh Tim Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi, Dr Subagyo Pramumijoyo, di Jayapura, Rabu (17/6).
“Hal ini penting agar kurikulum yang menjadi panduan dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi dapat berjalan optimal dan hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan perkuliahan yang diharapkan,” kata Subagyo.
Selain itu, tambahnya, keterlibatan para pemangku kebijakan (stakeholder) sangat berguna untuk mendapatkan banyak masukan berharga mengenai hal-hal yang seharusnya menjadi fokus perkuliahan. Hal tersebut agar penguasaan ilmu dan teknik yang dipelajari sesuai kebutuhan di lapangan kerja.
Menurutnya, para pemangku kebijakan yang bisa dilibatkan dalam penyusunan kurikulum perkuliahan di suatu jurusan atau program studi itu antara lain para dosen, mahasiswa, alumni yang telah bekerja, pemerintah daerah, dan pihak-pihak yang menggunakan tenaga ahli atau lulusan. Masyarakat atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berkompeten di bidang pendidikan juga dapat diikutsertakan agar masukan dan rekomendasi yang didapatkan lebih beragam.
Lebih lanjut, Subagyo mencontohkan, penetapan kurikulum untuk Jurusan Teknik Pertambangan sebaiknya melibatkan para praktisi atau pihak perusahaan pertambangan yang beroperasi di Papua. Dari pihak praktisi pertambangan itu, institusi pendidikan tinggi dapat memperoleh informasi mengenai pentingnya aplikasi program komputer yang membantu dalam menyelesaikan pekerjaan di lapangan atau laboratorium.
Dengan demikian, aplikasi teknologi program komputer bisa menjadi bagian dari kurikulum pendidikan tinggi di jurusan Teknik Pertambangan. Keahlian mahasiswa pun bisa ditingkatkan.
“Sehingga jika nanti mahasiswa lulus, mereka sudah siap bekerja sesuai kebutuhan perusahaan dan kondisi lapangan yang membutuhkan keahlian tertentu,” ujar Subagyo.
Selain itu, dengan melibatkan pemangku kebijakan akan terjalin hubungan kerja sama yang harmonis. Sebab, hal itu akan memudahkan para alumni untuk mencari lahan pekerjaan sesuai bidang keahlian yang dikuasainya.
Di Papua, Universitas Cenderawasih (Uncen) merupakan perguruan tinggi tertua dan terbesar yang menjadi barometer pendidikan tinggi di wilayah paling timur Indonesia ini. Selain Uncen, banyak berdiri perguruan tinggi swasta lain yang membuka beragam jurusan dan program studi sehingga memudahkan masyarakat untuk memilih bidang ilmu sesuai minat dan bakat yang dimiliki untuk memenuhi pasar kerja di Papua.
Penyelesaian Soal Pengumuman UN
Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional Burhanuddin Tolla, di Jakarta, Rabu (17/6) malam, mengatakan, secara singkat semua masalah yang dijumpai dalam pengumuman UN sedang diselesaikan. “Tidak ada yang dirugikan bagi siswa, kecuali memang tidak lulus karena kemampuannya,” kata Burhanuddin.
Menurut Burhanuddin, jika ada masalah pendataan dari daerah, Puspendik memverifikasi. Kesalahan itu bisa terjadi karena kesalahan kode tes dan biodata, data siswa yang tidak lulus tahun lalu belum masuk untuk tahun 2009.
“Semua kesalahan tersebut bisa diperbaiki secara cepat dan tepat setelah berhubungan dengan daerah. Dalam minggu ini juga persoalan sudah diselesaikan,” jelas Burhanuddin.
Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSN) Mungin Eddy Wibowo enggan mengomentari berbagai persoalan dalam pengumuman kelulusan UN SMA/MA/SMK yang meresahkan siswa dan sekolah.
Guru Tidak Jujur Saat Pelaksanaan UN?
“Ketidakjujuran Kepala Sekolah merupakan suatu keprihatinan. Sebenarnya ketidakjujuran itu ada dimana-mana dan bukan saja terjadi pada guru. Namun karena sosok guru merupakan cermin keteladanan maka kemudian menjadi sorotan,” katanya di sela konferensi internasional Best Practise bagi para kepala sekolah se-Asia Tenggara, di Jakarta, Rabu (17/6).
Kecurangan dan ketidakjujuran yang dilakukan kepala sekolah dan guru seperti yang terungkap setiap kali dalam pelaksanaan ujian nasional merupakan tindakan terkait administrasi dan edukatif.
“Kita bedakan masalah administratif dan edukatif. Masalah adminstrasi, sanksi dan sebagainya, itu kewenangannya pada siapa yang mengangkat mereka,” katanya.
Depdiknas mengambil porsi edukatif dengan memberikan pendekatan untuk menerapkan perilaku jujur di kalangan tenaga pendidikan karena implikasinya langsung kepada peserta didik.
“Sementara, kewenangan administrasi dalam bentuk sanksi hukum ada pada aparat dan kepala daerah dimana tindakan kecurangan tersebut terjadi,” katanya.
Terhadap guru yang tidak jujur tersebut Baedhowi menghimbau agar selalu bersikap jujur dalam melakukan proses pembelajaran.
“Guru jangan sampai menghilangkan waktu belajar, dalam ulangan sehari-hari, juga harus jujur dalam menilai peserta didik. Jangan anak pintar dikasih nilai kurang, anak yang kurang dikasih nilai baik. Itu juga suatu ketidakjujuran,” katanya.
Bahan Bakar dari Limbah
Oleh trubusid
Di atas wastafel di sebuah rumah di Bojonggede, Kabupaten Bogor, Siti Aisyah membersihkan ikan mujair dan lele. Ia mengeluarkan isi perut kedua ikan itu dan membungkusnya dalam kantong plastik ganda, lalu membuangnya jauh. ‘Kalau dibuang di tempat sampah depan rumah malah berceceran dimakan kucing,’ kata perempuan 20 tahun itu. Padahal, jika diolah perut ikan itu menghasilkan minyak sebagai bahan bakar kompor.
Selain perut ikan atau sohor sebagai jeroan, bagian tubuh satwa perairan itu seperti kepala, ekor, dan tulang, juga potensial sebagai bahan bakar. Bahkan ikan busuk sekalipun. Potensi limbah ikan itu amat besar. Sebagai gambaran, volume limbah pengalengan ikan di Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, saja mencapai 50-60 ton per bulan. Perusahaan farmasi dan makanan memang menyuling limbah itu menjadi senyawa aktif omega 3. ‘Namun, jumlahnya masih tetap melimpah,’ kata Ir Kristio Budiasmoro MSi, peneliti Universitas Sanata Darma (USD), Yogyakarta.
Ia membuktikan limbah ikan potensial sebagai bahan bakar. Menurut kepala Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Darma itu limbah ikan kaya minyak. Untuk mengolahnya pun sederhana. Mula-mula ia memotong-motong limbah itu dan memanaskan hingga terbentuk minyak. Alumnus Universitas Gadjah Mada itu memanaskan kembali minyak ikan pada suhu 60oC. Lantas, ia menambahkan pelarut semipolar dan campuran asam kuat asam sulfat serta air aki hingga diperoleh bilangan asam 3 mg KOH/g minyak.
‘Rendemen limbah ikan mencapai 68%,’ kata Kristio. Itu artinya untuk 1 liter minyak bakar hanya perlu 1,6 kg limbah ikan. Agus Unggul ST dari Fakultas Sains dan Teknologi di USD menguji daya bakar minyak limbah ikan. Hasilnya, nilai panas minyak ikan lebih tinggi dibandingkan minyak bakar fosil, tetapi di bawah minyak tanah. Nilai panas minyak ikan 9.270 kal/g; minyak bakar fosil 8.760 kal/g; dan minyak tanah 11.000 kal/g. Kandungan air minyak limbah ikan lebih tinggi dibanding minyak tanah, 10,4% : 2,5%.
Biaya untuk menghasilkan 1 liter minyak limbah ikan Rp2.167-Rp3. 500. Kristio memang baru membuatnya dalam skala laboratorium. Namun, dengan cara yang sama, Saint Peter’s, pabrik pengolah ikan di Amerika Serikat mampu memanfaatkan limbahnya untuk menggerakkan 10 truk dan 8 bus angkutan bagi 1.500 karyawannya setiap hari. Pabrik itu menghasilkan 1.135.000 liter biodiesel per tahun dari kepala, kulit, dan organ 25-juta kg ikan.
Limbah tapioka
Penghematan energi listrik maupun fosil dengan memanfaatkan limbah secara besar-besaran dilakukan Budi Acid Jaya Tbk di Way Abung, Lampung. Produsen tepung tapioka terbesar di Indonesia itu melakukan penghematan biaya produksi sebesar Rp18,2-miliar/ tahun. Pabrik yang memproses 800 ton singkong/hari itu mengolah 2.800 m3 limbah/hari untuk menghasilkan energi listrik sebesar 2,2 megawatt.
Sebelumnya, limbah hasil proses produksi tepung tapioka itu hanya diolah dengan mengendapkannya di kolam-kolam agar kandungan chemical oxygen demand COD berkurang. ‘Butuh banyak kolam yang besar-besar untuk menampung limbah itu,’ kata Ir Sudarmo Tasmin, wakil presiden PT Budi Acid Jaya Tbk. Oleh sebab itu, pengolahan limbah menyita lahan lebih luas dibandingkan pabriknya sendiri. Selain itu kolam-kolam itu mengeluarkan gas metan cukup tinggi lantaran tidak tertutup.
Seiring peningkatan harga solar dan tarif dasar listrik, Budi Acid Jaya melakukan inovasi berupa pendirian instalasi biogas berbahan limbah tapioka. ‘Itu juga sejalan dengan komitmen perusahaan terhadap Protokol Kyoto untuk mereduksi limbah methan,’ kata Sudarmo. Awal 2007 silam, instalasi pengolahan limbah mulai beroperasi dengan investasi pendirian mencapai US$1-juta.
Ternyata, pengolahan limbah itu tak cuma menghasilkan listrik untuk menjalani seluruh produksi. Budi Acid Jaya juga memperoleh tambahan pendapatan melalui penjualan CER certified emission reduction ke salah satu perusahaan di Jepang. CER merupakan sertifikat yang dikeluarkan oleh PBB untuk perusahaan yang berhasil menurunkan jumlah emisi dan limbah. Sertifikat itu kemudian diperjualbelikan ke perusahaan-perusaha an yang memiliki kewajiban menurunkan emisi limbahnya sesuai perjanjian Kyoto. Jumlah emisi yang berhasil diturunkan Budi Acid Jaya mencapai 230.000 CERs. Sebanyak 140.000 CERs terjual dengan harga US$1,7-juta. Itu sebagai pemasukan tambahan karena mengolah limbah.
Briket sampah
Energi yang paling mudah diciptakan adalah briket sampah. Bahan bakunya hanya sampah organik seperti kayu-kayu sisa, daun-daun kering, makanan sisa, dan kertas. Cara pembuatannya mirip pembuatan arang. Bahan-bahan itu dibakar sampai berbentuk arang berwarna hitam pekat. Saat bara api merata ke seluruh bagian bahan, segera disiram air. Hasil berupa arang itu ditumbuk menggunakan alat penumbuk atau martil. Kemudian tambahkan daun-daun tanaman segar yang lunak dan tinggi kandungan air.
Daun-daunan itu dapat diambil dari sisa-sisa sampah pasar atau sayuran seperti bayam, kangkung, atau sawi yang sudah terbuang. Persentase komposisi bahan pembuatan briket organik adalah 80% arang sampah organik kering dan 20% campuran daun segar. Jadi, bila dicampurkan 800 g sampah organik butuh 200 g daun segar. Setelah tercampur rata, adonan dicetak dengan ukuran dan bentuk sebagai briket. Briket itu dijemur di bawah sinar matahari sampai kering. Tanda-tanda briket sudah kering dengan cara meletakkan dan mengangkatnya di telapak tangan. Briket kering terasa ringan dan jelaga di permukaan tidak terlalu mengotori telapak tangan.
Langkah-langkah itu dilakukan oleh warga Kampung Panoram, Purwakarta, Jawa Barat, guna membuat bahan bakar kompor untuk memasak. Dengan begitu, mereka tak perlu waswas menunggu kedatangan mobil pengangkut minyak tanah dan berdiri dalam antrean yang mengular panjang. (Vina Fitriani/Peliput: Andretha Helmina)
Adopted by @_pararaja from Pusat Produksi Bersih Nasional.
Biofuel Pacu Pemanasan Global, Bukan Menghambat
CHICAGO (AFP) – Sebuah hasil studi yang dirilis pada Sabtu lalu kembali mengingatkan bahwa penggunaan bahan bakar hayati bisa mempercepat ketimbang menghambat pemanasan global. Caranya, proses pemanenan bahan bakar itulah yang justru mengipasi kehancuran hutan hujan tropis.
Pernah disanjung-sanjung sebagai solusi atas krisis bahan bakar minyak, bahan bakar hayati berkembang semakin kontroversial karena dampaknya terhadap kenaikan bahan pangan dan ongkos energi yang dibutuhkan untuk proses produksinya. Bahan bakar hayati juga bertanggung jawab memompa karbon dioksida lebih banyak ke atmosfer daripada yang bisa mereka hemat sebagai substitusi yang ramah lingkungan dari bahan bakar fosil.
“Jika kita membuat mobil-mobil kita berjalan dengan biofuel yang diproduksi di (negara) tropis, itu sama saja kita membakar hutan hujan itu dalam tangki gas mobil kita,” kata Holly Gibbs dari Woods Institute for the Environment, Stanford University, dalam forum American Association for the Advancement of Science.
Gibbs mempelajari foto-foto satelit dari hutan tropis sejak 1980 sampai 2000. Dari sana ia mendapati bahwa setengah dari lahan perkebunan baru berasal dari penggundulan hutan yang masih perawan. “Ketika pohon-pohon itu ditebangi demi membuka lahan pertanian baru, pohon-pohon itu biasanya dibakar, membuat karbon simpanannya terlepas begitu saja ke atmosfer sebagai karbon dioksida,” dia menjelaskan.
Untuk tanaman perkebunan seperti tebu, butuh 40-120 tahun untuk bisa menghimpun jumlah karbon itu kembali ke dalam Bumi. Adapun tanaman yang lebih pendek seperti kedelai butuh lebih lama lagi, 300 sampai 1.500 tahun.
“Biofuel telah membunyikan alarm karena cepatnya tingkat produksi dan pertumbuhannya: produksi etanol global telah meningkat empat kali dan biodiesel 10 kali sepanjang 2000-2007,” ujar Gibbs, “Lebih-lebih, subsidi pertanian di negara-negara seperti Indonesia dan Amerika Serikat menyediakan insentif tambahan untuk peningkatan produksi jenis tanaman ini.”
Sumber : koran tempo 17 Februari 2009
Adopted by @_pararaja from Pusat Produksi Bersih Nasional.
TEKNIK – TEKNIK DALAM PERCOBAAN BERBAHAYA
Percobaan-percobaan dalam laboratorium dapat meliputi berbagai jenis pekerjaan diantaranya mereaksikan bahan-bahan kimia, destilasi, ekstraksi, memasang peralatan, dan sebagainya. Masing-masing teknik dapat mengandung bahaya yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Tentu saja bahan tersebut sangat berkaitan dengan penggunaan bahan dalam percobaan, sehingga susah untuk memisahkan bahaya antara teknik dan bahan. Walaupun demikian, dapat kiranya diuraikan secara tersendiri dan bersifat umum dari bahaya berbagai macam teknik dan bahan, sehingga memungkinkan untuk memperkecil dan memperkirakan bahaya yang dapat timbul dalam kaitanyya dengan teknik dan bahan yang digunakan.
A. Reaksi Kimia
Semua reaksi kimia menyangkut perubahan energi yang diwujudkan dalam bentuk panas. Kebanyakan reaksi kimia disertai dengan pelepasan panas (reaksi eksotermis), meskipun adapula beberapa reaksi kimi yang menyerap panas (reaksi endotermis). Bahaya dari suatu reaksi kimia terutama adalah karena proses pelepasan energi (panas) yang demikian banyak dan dalam kecepatan yang sangat tinggi, sehingga tidak terkendalikan dan bersifat destruktif (merusak) terhadap lingkungan, termasuk operator/orang yang melakukannya.
Banyak kejadian dan kecelakaan di dalam laboratorium sebagai akibat reaksi kimia yang hebat atau eksplosif (bersifat ledakan). Namun kecelakaan tersebut pada hakikatnya disebabkan oleh kurangnya pengertian atau apresiasi terhadap faktor-faktor kimia-fisika yang mempengaruhi kecepatan reaksi kimia. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan suatu reaksi kimia adalah konsentrasi pereaksi, kenaikan suhu reaksi, dan adanya katalis.
Sesuai denga hukum aksi masa, kecepatan reaksi bergantung pada konsentrasi zat pereaksi. Oleh karena itu, untuk percobaan-percobaan yang belum dikenal bahayanya, tidak dilakukan dengan konsetrasi pekat, melainkan konsentrasi pereaksi kira-kira 10% saja. Kalau reaksi telah dikenal bahayanya, maka konsetrasi pereaksi cukup 2 – 5 % saja sudah memadahi. Suatu contoh, apabila amonia pekat direaksikan dengan dimetil sulfat, maka reaksi akan bersifat eksplosif, akan tetapi tidak demikian apabila digunakan amonia encer.
Pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi kimia dapat diperkirakan dengan persamaan Arhenius, dimana kecepatan reaksi bertambah secara kesponensial dengan bertambahnya suhu. Secara kasar apabila suhu naik sebesar 10 oC, maka kecepatan reaksi akan naik menjadi dua kali. Atau apabila suhu reaksi mendadak naik 100 oC, ini berarti bahwa kecepatan reaksi mendadak naik berlipat 210 = 1024 kali. Di sinilah pentingnya untuk mengadakan kendali terhadap suhu reaksi, misalnya dengan pendinginan apabila reaksi bersifat eksotermis. Suatu contoh asam meta nitrobenzensulfonat pada suhu sekitar 150 oC akan meledak akibat reaksi penguraian eksotermis. Campuran kalium klorat, karbon, dan belerang menjadi eksplosif pada suhu tinggi atau jika kena tumbukan, pengadukan, atau gesekan (pemanasan pelarut). Dengan mengetahui pengarauh kedua faktor di atas maka secara umum dapatlah dilakukan pencegahan dan pengendalian terhadap reaksi-reaksi kimia yang mungkin bersifat eksplosif.
B. Pemanasan.
Pemanasan dapat dilakukan dengan listrik, gas, dan uap. Untuk laboratorium yang jauh dari sarana tersebut, kadang kala dipakai pula pemanas kompor biasa. Pemanasan tersebut biasanya digunakan untuk mempercepat reaksi, pelarutan, destilasi, maupun ekstraksi.
Untuk pemanasan pelarut-pelarut organik (titik didih di bawah 100 oC), seperti eter, metanol, alkohol, benzena, heksana, dan sebagainya, maka penggunaan penangas air adalah cara termurah dan aman. Pemanasan dengan api terbuka, meskipun dengan bagaimana api sekecil apapun, akan sangat berbahaya karena api tersebut dapat menyambar (meloncat) ke arah uap pelarut organik. Demikian juga pemanasan dengan hot plate juga berbahaya, karena suhu permukaan dapat jauh melebihi titik nyala pelarut organik.
Pemanasan pelarut yang bertitik didih lebih dari 100 oC, dapat dilakukan dengan aman apabila memakai labu gelas borosilikat dan pemanas listrik (heating matle). Pemanas tersebut ukurannya harus sesuai besarnya labu gelas. Penangas minyak dapat pula dipakai meskipun agak kurang praktis. Walaupun demikian penangas pasir yang dipanaskan dengan terbuka, tetap berbahaya untuk bahan-bahan yang mudah teerbakar. Untuk keperluan pendidikan, pemanas bunsen dengan dilengkapi anyaman kawat (wire gause) cukup murah dan memadahi untuk bahan-bahan yang tidak mudah terbakar.
C. Destruksi.
Dalam analisis kimia terutama untuk mineral, tanah, atau makanan, diperlukan destruksi contoh agar komponen-komponen yang akan dianalisis terlepas dari matriks (senyawa-senyawa lain). Biasnya reaksi destruksi dilekukan dengan asam seperti asam sulfat pekat, asam nitrat, asam klorida tanpa atau ditambah atau ditambah peroksida seperti persulfat, perklorat, hidrogen peroksida, dan sebagainya. Selain itu, biasanya reaksi juga harus dipanaskan untuk mempermudah proses destruksi. Jelas dalam pekerjaan destruksi terkumpul beberapa faktor bahaya sekaligus, yaitu bahan berbahaya (eksplosif) dan kondisi suhu tinggi yang menambah tingkat bahaya.
Oleh karena itu, destruksi harus dilakukan amat berhati-hati, diantaranya adalah dengan:
1. Pelajari dan ikuti prosedur kerja secara seksama, termasuk pengukuran jumlah reagen secara tepat dan cara pemanasannya.
2. Percobaan dilakukan dalam almari asam. Hati-hati dalam membuka dan menutup pintu almari asam pada saat proses destruksi berlangsung.
3. Lindungi diri dengan kacamata/pelindugn muka dan sarung tangan pada setiap kali bekerja.
4. Terutama bagi para pekerja baru atau yang belum berpengalaman, diperlukan supervisi atau konsultasi dengan yang lebih berpengalaman.
Dengan cara di atas akan dapat dicegah terjadinya ledakan yang dapat mengakibatkan luka oleh pecahan kaca atau percikan bahan-bahan kimia yang panas dan korosif.
D. Destilasi.
Destilasi merupakan proses gabungan antara pemanasan dan pendinginan uap yang terbentuk sehingga diperoleh cairan kembali yang murni. Bahaya pemanasan cairan dapat dihindari dengan memperhatikan sub-bab pemanasan. Dalam pemanasan cairan biasanya ditambahkan batu didih (boililng chips), untuk mencegah pendidihan yang mendadak (bumping). Batu didih yang berpori perlu diganti setiap kali akan melakukan destilasi kembali. Untuk destilasi hampa udara (vacum destilation), aliran udara melalui kapiler ke dalam bagian bawah labu dapat merupakan pengganti batu didih.
Bahaya yang sering timbul dalam pendingin Leibig adalah kurang kuatnya selang air baik dari keran maupun yang menuju pipa pendingin. Lepasnya selang air dapat menyebabkan banjir dan proses pendinginan tidak berjalan dan uap cairan berhamburan ke dalam ruangan laboratorium. Oleh karena itu, terutama untuk destilasi yang terus-menerus atau sering ditinggalkan, hubungan selang dengan keran dan pipa pendingin perlu diikat dengan kawat.
Labu didih yang terbuat dari gelas perlu dipilih yang kuat. Labu didih bekas atau yang telah lama dipakai, diperiksa terlebih dahulu terhadap kemungkinan adanya keretakan atau scratch. Hal ini penting, terlebih-lebih untuk destilasi vakum. Apabila pemanasan yang dipakai adalah penangas air, maka perlu diingat bahwa suhu permukaan bak penangas yang terbuat dari logam, dapat melebihi titik nyala dari pelarut yang dalam labu. Dengan demikian, harus dapat dihindarkan kontak antara cairan dengan permukaan penangas, baik pada saat mengisi labu destilasi dengan cairan maupun pemasangan atau pembongkaran peralatan destilasi.
E. Refluks.
Refluks juga merupakan gabungan anrara pemanasan cairan dan pendinginan uap, tetapi kondensat yang terbentuk dikembalikan ke dalam labu didih. Karena prosesnya mirip dengan destilasi, maka bahaya teknik tersebut serrta cara pencegahannya adalah sama dengan teknik destilasi.
F. Pengukuran Volume Cairan
Memipet cairan atau larutan dalam volume tertentu dengan pipet, secara umum tidak diperkenankan memakai mulut untuk menghindari bahaya tertelan dan kontaminasi. Uap dan gas beracun dapat larut dalam air ludah (saliva). Memakai pompa karet (rubber bulb) untuk mengisi pipet merupaian cara yang paling aman dan praktis, meskipun memerlukan sedikit latihan. Sedangkan untuk cairan yang korosif dapat dilakukan dengan pipet isap (hypodermic syringe).
Apabila menuangkan cairan korosif dari sebuah botol, lindungi label botol terhadap kerusakan oleh tetesan cairan. Untuk menuangkan cairan ke dalam gelas ukur bermulut kecil, perlu dipakai corong gelas agar tidak tumpah.
G. Pendinginan.
Karbon dioksida padat (dry ice) dan nitrogen cair adalah pendingin yang sering dipakai. Keduanya dapat membakar atau “menggigit” kulit, sehingga dalam penanganannya harus memakai sarung tangan dan pelindung mata. Karbon dioksida dapat dipakai bersama-sama dengan pelarut organik untuk menambah pendinginan. Karena banyak terbentuk gas (penguapan) maka pelarut yang digunakan harus nontoksik dan tidak mudah terbakar. Propana-2-ol lebih baik daripada pelarut organik terklonisasi atau aseton yang mudah terbakar.
Notrogen cair biasa dipakai sebagai “trap” uap air dalam destilasi vakum, agar air tidak merusak pompa. Dalam pendinginan tersebut udara dapat pula tersublimasi menjadi padat, termasuk oksigen dan hal ini berbahaya bila bercampur dengan bahan organik. Labu Dewar tempat nitrogen cair perlu pula dilindungi dengan logam agar tidak berbahaya bila pecah.
Baik karbon dioksida mapun nitrogen mempunyai berat jenis yang lebih berat daripada udara, sehingga dapat mendesak udara untuk pernafasan. Oleh karena itu, bekerja dengan kedua pendingin tersebut perlu dalam ruang yang berventilasi baik atau di ruang terbuka. Dalam transportasi di gedung bertingkat, keduanya sama sekali tidak boleh diangkut melewati lift penumpang. Kemacetan lift yang dapat terjadi sewakti-waktu, dapat berakibat fatal karena gas tersebut akan mendesak oksigen dan kematian tidak dapat dihindarkan.
H. Perlakuan Terhadap Silika.
Silika dalam bentuk partikel-partikel kecil yang terserap ke dalam paru-paru dapat menimbulkan penyakit silikosis. Percobaan-percobaan dalam kromatorgrafi lapis tipis, banyak memakai bubuk halus silika gel. Hindarkanlah bubuk halus tersebut, karena dapat terjadi hamburan di dalam ruang udara pernafasan kita.
Asbes juga merupakan sumber partikel silika dan dengan panjang serat sebesar 5 mikron sangat berbahaya. Asbes sebagai bahan isolasi panas dalam laboratorium perlu dilapisi lagi dengan bahan yang dapat mencegah partikel halus beterbangan di udara tempat kita bernafas.
Glass wool apabila tidak hancur tidaklah berbahaya bagi paru-paru. Akan tetapi serat-serat glass wool tersebut sangat halus dan tajam serta dapat masuk ke dalam kulit apabila dipegang langsung oleh tangan kita. Ini akan menimbulkan gatal-gatal atau sakit dan oleh karena itu memegang glass wool harus dengan penjepit dari logam atau plastik.
I. Perlakuan Terhadap Air Raksa.
Percobaan-percobaan dengan manometer atau polarografi selalu memakai air raksa yang cukup berbahaya karena sifat racunnya (NAB = 0,05 mg/m3). Tetesan-tetesan air raksa dapat melenting atau meloncat tanpa dapat dilihat oleh mata kita, dan pecah berhamburan di atas meja kerja. Partikel-partikel kecil ini juga sukar kita lihat apalagi kalau sampai masuk ke celah-celah atau retakan-retakan meja. Apabila tidak hati-hati, maka ruang di mana kita bekerja dapat jenuh dengan uap air raksa. Udara ruangan yang jenuh dengan uap air raksa berarti telah jauh melebihi nilai ambang batas (NAB) uap air raksa tersebut.
Untuk menghindari bahaya tesebut di atas, daerah kerja dengan air raksa perlu dipasang dulang (tray) yang diisi air, agar percikan air raksa dapat dikumpulkan. Ventilasi yang baik sangat diperlukan, dan apabila tidak ada, maka bekerja dalam ruangan yang terbuka jauh lebih aman daripada dalam ruangan tertutup.
J. Bekerja Dengan Peralatan Sinar Ultraviolet dan Sinar X.
Banyak pekerjaan yang dilakukan dengan peralatan yang memancarkan cahaya ultraviolet (UV) seperti spektrofotometer atau kromatografi lapis tipis (TLC). Cahaya ultraviolet dapat merusak, dan terutama kerusakan pada korena mata. Oleh karena itu, harus dapat dihindarkan keterpaan cahaya ultraviolet pada mata, baik pada saat membuka peralatan spektrofotometer maupun pada saat menyinari noda-noda kromatografi lapis tipis (TLC) dengan cahaya ultraviolet.
Peralatan yang memakai sinar-X, seperti fluoresensi atau difraksi sinar-X, lebih berbahaya lagi bila tidak dilakukan dengan hati-hati. Sinar-X mempunyai daya tembus yang kuat dan dapat merusak sel-sel tubuh. Usaha untuk menghindari serta melindungi diri terhadap kemungkinan keterpaan radiasi sinar-X (yang tak dapat dilihat oleh mata) merupakan suatu keharusan dalam bekerja dengan peralatan tersebut.
Dengan sendirinya, hal yang sama pula dilakukan bila kita bekerja dengan peralatan yang memancarkan sinar gamma yang lebih kuat daripada snar-X.
Adopted by @_pararaja from : www.chemcareasia.wordpress.com
Bahan Beracun di Pekarangan Indonesia
Siapa mau kondom bekas, tak tanggung-tanggung, 25 ton sekaligus? Atau 6.000 ton kedelai yang terkontaminasi virus dari luar negeri? ”Masak sih ada yang impor? Jijay (jijik) deh. Apa komentar Pak Menteri?” kata Dewi Motik Pramono, pengusaha dan tokoh wanita dalam suatu forum yang diadakan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), awal Juni lalu.
Ketika itu, KLH mengundang sejumlah tokoh masyarakat, artis, dan wartawan untuk berbincang-bincang santai tentang berbagai masalah lingkungan. Nah, soal impor ilegal limbah B3 alias ”limbah bahan beracun dan berbahaya” pun sempat disinggung, termasuk perihal kondom bekas tadi. Petugas Bea dan Cukai Pelabuhan Tanjung Priok menyita puluhan ton kondom dalam kontainer, tahun lalu.
Barang-barang karet itu ditahan karena masuk kategori limbah klinis berbahaya. Karena itu, sang kondom harus diekspor ulang ke negara asal, yakni Jerman dan Vietnam. Tapi, hingga Mei lalu, kondom-kondom itu masih juga tertahan. Apa lacur, rupanya Jerman dan Vietnam menolak kehadiran barang bekas untuk keperluan pribadi itu.
Urusan limbah B3 ini terhitung dilematis. Di satu sisi, demikian kata Masnellyarti Hilman, Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan KLH, kehadiran limbah B3, baik resmi maupun tidak, merupakan peluang bisnis yang tergolong menggiurkan. ”Jadi, ada saja pengusaha Indonesia yang coba-coba dan tertarik untuk mengolahnya,” ujar Nelly –sapaan Masnellyarti Hilman.
Namun, di sisi lain, impor limbah B3 bisa membahayakan lingkungan. Meski ada pengawasan, penyelundupan limbah B3 berulang kali terjadi. Hampir tiap tahun, ada saja laporan yang beredar tentang impor haram B3. ”Sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia rentan terhadap perpindahan limbah B3,” kata Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar.
Karena itu, ketika menjadi tuan rumah Konvensi Basel, 23-28 Juni di Bali, yang membahas lalu lintas limbah B3, Indonesia mengambil peran besar. Lewat konvensi itu, Indonesia berpeluang banyak melindungi kawasannya. ”Konvensi ini akan melindungi kesehatan dan lingkungan hidup kita dari kontaminasi limbah B3,” tutur Rachmat.
Sebenarnya Indonesia sudah punya perangkat hukum menyangkut limbah B3. Salah satunya adalah Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999. Pasal 1 beleid itu menyebutkan, yang dimaksud dengan limbah B3 adalah ‘’setiap limbah yang mengandung bahan berbahaya, beracun yang karena sifat, konsentrasinya, atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat merusak, mencemarkan lingkungan hidup, dan dapat membahayakan kesehatan manusia”.
Melihat definisi yang luas itu, tentu jenis limbah berkategori B3 jadi sangat banyak. Dari survei yang dilakukan KLH saja, setidaknya pada saat ini ada sekitar 5.500 bahan kimia berbahaya dan beracun yang keluar-masuk Indonesia. ”Untuk mencegah pencemaran lingkungan B3, jumlah bahan kimia yang beredar dan masuk ke wilayah Indonesia harus diawasi, termasuk perpindahan lintas batas, terutama untuk bahan kimia yang dilarang dan terbatas penggunaannya,” kata Rachmat.
Menurut laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI) 2006, yang diterbitkan KLH, pintu masuk utama impor B3 itu tak lain Pelabuhan Tanjung Priok sebesar 67,76%. Jumlah ini meningkat 6,38% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Angka itu merupakan realisasi impor B3 yang tercatat pada 12 kantor pelayanan bea dan cukai utama.
Umumnya, unsur B3 ini banyak dipakai untuk aktivitas industri nasional, baik dalam skala besar maupun unit rumah tangga (lihat: Limbah B3 dari Berbagai Kegiatan). Namun B3 tak melulu ditemukan di sana, melainkan juga merembes pada sejumlah lokasi perkebunan dan pertanian. Misalnya, laporan SLHI menyebutkan, terdapat setidaknya delapan senyawa kimia yang masuk dalam kelompok persistent organic pollutants (POPs) di lingkungan perkebunan atau pertanian yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.
POPs adalah bahan kimia beracun yang biasa digunakan sebagai bahan aktif pestisida atau insektisida. Ia awet, tidak gampang berubah, dan yang gawat: dapat terakumulasi di dalam tubuh makhluk hidup (bersifat bioakumulasi). Apalagi, ia bisa berpindah tempat melalui udara, air, dan makhluk hidup yang jauh dari sumbernya; bertumpuk dalam lingkungan teresterial atau lingkungan berair. Karena itu, bisa dibayangkan jika B3 menyelinap masuk ke pekarangan dan meracuni penghuni rumah. Ia dapat menyebabkan gangguan kesehatan hingga kematian (lihat: Jika Terpapar Limbah B3).
POPs sudah dilarang penggunaannya, tapi masih banyak beredar akibat penggunaan di masa lalu. ”Tidak mudah melacaknya karena informasi tentang sisa senyawa atau residu POPs ini sangat sedikit,” kata Rasio Ridho Sani, Deputi Bidang Pengelolaan B3 dan Limbah B3 KLH, kepada Cavin R. Manuputty dari Gatra.
Walau begitu, Roy –begitu Rasio Ridho Sani biasa disapa– juga melihat masih ada yang menggunakan POPs secara ilegal. Misalnya, KLH telah melacak POPs pada sejumlah air sungai di kawasan pertanian atau perkebunan di enam kabupaten di Sumatera dan Jawa. POPs hanya ditemukan di Lampung, Brebes, dan Malang dalam wujud DDT (dichlorodiphenyl-trichloroethane) atau turunannya, yang sering digunakan untuk insektisida.
Namun jumlahnya masih relatif rendah dengan kisaran 0,0009-0,0086 ppb. Walaupun POPs yang terdeteksi di air sungai itu rendah, keberadaan senyawa ini tetap perlu dipantau. ”Ini untuk melihat kecenderungan sisa penggunaan POPs di masa lalu atau untuk melihat kemungkinan adanya penggunaan baru senyawa POPs secara ilegal di lokasi itu,” tutur Roy.
Hasil pantauan KLH terhadap jejak POPs pada sedimen dan tanah pertanian agak lebih besar. Mayoritas senyawa POPs yang terdeteksi adalah DDT atau turunannya, dengan kisaran 0,82-336 ppb. Konsentrasi senyawa turunan DDT paling tinggi berada di Lampung, tapi khusus senyawa induk DDT terdeteksi paling tinggi berada di Karawang (26,1 ppb). Kondisi ini, menurut Roy, perlu mendapat perhatian khusus, karena bisa jadi DDT telah digunakan lagi di kawasan tersebut.
Selain memantau jejak B3, limbah beracun ini juga harus ”dicuci” melalui proses 3R, yakni reduce (mengurangi), recycle (daur ulang), dan reuse (menggunakan kembali). Menurut laporan SLHI, setidaknya ada 1.681.536,268 ton limbah B3 yang telah dimanfaatkan lewat 3R pada 2006. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terjadi peningkatan volume sebesar 65,6%.
Sepanjang 2007, Indonesia tercatat memproduksi 10 juta ton limbah B3 yang berasal dari berbagai kegiatan dan aktivitas industri nasional. Sebanyak 1.872 ton di antaranya diekspor ke negara lain. Belum ada data tentang berapa yang dimanfaatkan dan diolah lagi. Manfaat mengolah kembali B3 ini tentu sangat banyak. Selain mengurangi dampak lingkungan dan konservasi sumber daya, juga menambah nilai ekonomi.
Di samping menjalankan proses 3R, KLH juga melakukan upaya lain, misalnya mengadakan upaya registrasi unsur-unsur beracun itu dan menerapkan sistem perizinan pengelolaan limbah. Jumlah izin pengelolaan limbah B3 yang diterbitkan selama periode Januari-September 2006 mencapai 491 izin. Memang terjadi peningkatan pemberian izin untuk mengolah limbah, tapi di sisi lain ini juga menunjukkan bahwa prinsip 3R telah berjalan dan menjadi prioritas.
Agar lebih afdol, KLH telah lama menerapkan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan atau Proper. Ini merupakan program alternatif yang diharapkan dapat mendorong industri secara sukarela memenuhi ketentuan pengelolaan lingkungan yang baik, berdasarkan peraturan yang berlaku. Kini puluhan industri besar dan kecil ikut serta dalam Proper.
Walau begitu, tak ada gading yang tak retak. Sisa-sisa B3 memang masih banyak yang harus diolah (lihat: Sisa B3 dari Pertambangan, Energi, dan Migas). Padahal, pabrik pengolah limbah B3 yang ada pada saat ini cuma satu, yakni PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) di kawasan Bogor, Jawa Barat. Jika dibiarkan, dampaknya bisa terasa sampai ke anak-cucu.
Sumber : Digilib – AMPL
Adopted by @_pararaja from Pusat Produksi Bersih Nasional.
PENGENALAN BAHAN KIMIA BERACUN DAN BERBAHAYA SERTA TEKNIK PREPARASI BAHAN
A. PENGENALAN BAHAN B3
1. Petunjuk umum untuk menangani buangan sampah.
Semua bahan buangan atau sampah seharusnya dikumpulkan menurut jenis bahan tersebut. Bahan-bahan tersebut ada yang dapat didaur ulang dan ada pula yang tidak dapat didaur ulang. Bahan yang termasuk kelompok bahan buangan/sampah yang dapat di daur ulang antara lain gelas, kaleng, botol baterai, sisa-sisa konstruksi bangunan, sampah biologi seperti tanaman, buah-buahan, kantong the dan beberapa jenis bahan-bahan kimia. Sedangkan bahan-bahan buangan yang tidak dapat didaur ulang atau yang sukar didaur ulang seperti plastik hendaknya dihancurkan. Karena belum ada aturan yang jelas dalam cara pembuangan jenis sampah di Indonesia, maka sebelum sampah dibuang harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan pengurus atau pengelola laboratorium yang bersangkutan.
2. Bahan-bahan buangan yang umum terdapat di laboratorium.
1. Fine chemicals.
Fine chemicals hanya dapat dibuang ke saluran pembuangan atau tempat sampah jika :
a. Tidak bereaksi dengan air.
b. Tidak eksplosif (mudah meledak).
c. Tidak bersifat radioaktif.
d. Tidak beracun.
e. Komposisinya diketahui jelas.
2. Larutan basa.
Hanya larutan basa dari alkali hidroksida yang bebas sianida, ammoniak, senyawa organik, minyak dan lemak dapat dibuang kesaluran pembuangan. Sebelum dibuang larutan basa itu harus dinetralkan terlebih dahulu. Proses penetralan dilakukan pada tempat yang disediakan dan dilakukan menurut prosedur mutu laboratorium.
3. Larutan asam.
Seperti juga larutan basa, larutan asam tidak boleh mengandung senyawa-senyawa beracun dan berbahaya dan selain itu sebelum dibuang juga harus dinetralkan pada tempat dan prosedur sesuai ketentuan laboratorium.
4. Pelarut.
Pelarut yang tidak dapat digunakan lagi dapat dibuang ke saluran pembuangan jika tidak mengandung halogen (bebas Fluor, Clorida, Bromida, dan Iodida). Jika diperlukan dapat dinetralkan terlebih dahulu sebelum dibuang ke saluran air keluar. Untuk pelarut yang mengandung halogen seperti kloroform (CHCl3) sebelum dibuang harus dilakukan konsultasi terlebih dahulu dengan pengurus atau pengelola laboratorium tempat dimana bahan tersebut akan dibuang.
5. Bahan mengandung merkuri.
Untuk bahan yang mengandung merkuri (seperti pecahan termometer merkuri, manometer, pompa merkuri, dan sebagainya) pembuangan harus ekstra hati-hati. Perlu dilakukan konsultasi terlebih dahulu dengan pengurus atau pengelola laboratorium sebelum bahan tersebut dibuang.
6. Bahan radiokatif.
Sampah radioaktif memerlukan penanganan yang khusus. Otoritas yang berwenang dalam pengelolaan sampah radioaktif di Indonesia adalah Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN).
7. Air pembilas.
Air pembilas harus bebas merkuri, sianida, ammoniak, minyak, lemak, dan bahan beracun serta bahan berbahaya lainnya sebelum dibuang ke saluran pembuangan keluar.
3. Penanganan Kebakaran dan Simbol-simbol Bahaya.
Beberapa bahan kimia seperti eter, metanol, kloroform, dan lain-lain bersifat mudah terbakar dan mudah meledak. Apabila karena sesuatu kelalaian terjadi kecelakaan sehingga mengakibatkan kebakaran laboratorium atau bahan-bahan kimia, maka kita harus melakukan usaha-usaha sebagai berikut:
a. Jika apinya kecil, maka lakukan pemadaman dengan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
b. Matikan sumber linstrik/ gardu utama agar listrik tidak mengganggu upaya pemadaman kebakaran.
c. Lokalisasi api supaya tidak merember ke arah bahaan mudah terbakar lainnya.
d. Jika api mulai membesar, jangan mencoba-coba untuk memadamkan api dengan APAR. Segera panggil mobil unit Pertolongan Bahaya Kebakaran (PBK) yang terdekat.
e. Bersikaplah tenang dalam menangani kebakaran, dan jangan mengambil tidakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
4. Bahan-bahan Berbahaya serta Karsinogenik.
Tabel di bawah memuat daftar beberapa bahan-bahan kimia beerbahaya dan karsinogenik yang sering dijumpai di laboratorium-laboratorium kimia baik di Indonesia maupun di luar negeri.
B. TEKNIK PREPARASI
Preparasi merupakan teknik laboratorium yang sangat penting dikuasai oleh setiap kimiawan. Tanpa pengetahuan dan ketrampilan yang memadahi dalam teknik preparasi ini, maka akan sangat sulit untuk menjalankan eksperimen/percobaan kimia secara baik dan benar di laboratorium. Menjalankan eksperimen dengan baik dan benar juga menyangkut efisiensi dan tidak membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain baik yang ada disekitarnya maupun yang berada di tempat lain. Bagai mahasiswa pemula agar mereka kelak dapat melakukan eksperimen kimia secara baik dan benar maka perlu dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan teknik preparasi.
Tulisan ini akan memaparkan beberapa penegetahuan penting yang harus dikuasai oleh para pemula dalam disiplin ilmu kimia.
1. Konsentrasi Larutan.
Beberapa jenis konsentrasi yang perlu diketahui dan yang sering digunakan di laboratorium antara lain:
1. Molaritas (M).
Molaritas menyatakan banyaknya mol zat terlarut yang terdapat di dalam satu liter larutan.
Misal akan di buat larutan NaOH 0,1 M sebanyak 1000 mL.
Diketahui bahwa Mr NaOH = 40
Maka ini berarti bahwa 1 mol NaOH massanya adalah 40 g.
Sehingga untuk 0,1 mol NaOH massanya adalah 4 g. Untuk membuat larutan NaOH 0,1 M sebanyak 1000 mL, maka sebanyak 4 gram kristal NaOH dilarutkan ke dalam akuades sedemikian rupa sehingga volume larutannya adalam 1000 mL atau 1 L.
2. Normalitas (N).
Normalitas menyatakan banyaknya gram ekuivaleen (grek) zat terlarut yang terdapat dalam satu liter larutan.
3. Molalitas (m).
Molalitas adalah menyatakan banyaknya mol zat terlarut yang terdapat dalam satu kilogram pelarut.
4. Fraksi mol (X).
Fraksi mol adalah perbandingan antara jumlah mol zat terlarut dalam larutan terhadap jumlah mol total zat-zat yang ada dalam larutan (pelarut dan zat terlarut)..
5. Persen (%).
Ada beberapa macam penyataan persentase yang sering digunakan di laboratorium, antara lain:
a. persen volume/volume (v/v), menyatakan banyaknya spesies kimia yang ada di dalam larutan yang dinyatakan dalam satuan mL per 100 mL larutan.
b. Persen berat/volume (b/v), menyatakan banyaknya spesien kimia yang ada di dalam larutan yang dinyatakan dalam satuan berat (gram) per 100 gram larutan.
c. Persen berat/berat, menyatakan banyaknya spesies kimia yang ada di dalam larutan atau campuran/padatan yang dinyatakan dalam satuan gram per 100 gram larutan atau campuran atau padatan.
2. Penyiapan Alat.
Alat yang akan digunakan dalam eksperimen atau percobaan kimia harus disesuaikan dengan jenis dari bahan yang akan ditangani. Bahan-bahan tersebut dapat berupa cairan, padatan, atau gas.
a. Bahan-bahan berupa cairan.
Untuk menangani bahan berupa cairan diperlukan alat-alat gelas seperti Gelas Ukur, Pipet Gondok, Labu Takar, Erlenmeyer, Corong, dan lain-lainnya.
b. Bahan-bahan berupa padatan.
Untuk menangani bahan berupa padatan, terutama padatan dalam bentuk serbuk dibutuhkan alat-alat sebagai berikut: Alat Timbang, Gelas Arloji, Spatula/Sendok Sungu, Corong, dan Erlenmeyer.
c. Bahan-bahan berupa gas.
Untuk menangani bahan-bahan berupa gas diperlukan alat-alat dengan spesifikasi standar yang telah ditentukan untuk setiap jenis gas. Hal ini dikarenakan setiap jenis gas mempuynyai karakteristik dan resiko yang dihadapi oleh pengguna lebih tinggi daripada bila menangani bahan-bahan cair maupun padatan.
3. Hasil Reaksi atau Isolasi.
Kebanyakan penelitian kimia eksperimental bertujuan untuk mengisolasi suatu senyawa dari suatu bahan atau memproduksi/ sintesis seuatu senyawa. Produk isolasi atau sintesis tersebut umumnya belum dalam keadaan murni, sehingga perlu dilakukan pemurnian terhadap zat hasil. Beberapa teknik pemurnian yang banyak dipakai dalam kimia eksperimental akan dibahas dalam pokok bahasan berikut.
4. Teknik Pemurnian.
a. Kristalisasi dan Rekristalisasi.
Kristalisasi adalah suatu teknik untuk mendapatkan bahan murni suatu senyawa. Dalam sintesis kimia banyak senyawa-senyawa kimia yang dapat dikristalkan. Untuk mengkristalkan senyawa-senyawa tersebut, biasanya dilakukan terlebih dahulu penjenuhan larutan kemudian diikuti dengan penguapan pelarut serta perlahan-lahan sampai terbentuk kristal. Pengkristalan dapat pula dilakukan dengan mendinginkan larutan jenuh pada temperatur yang sangat rendah di dlam lemari es atau freezer.
Rekristalisasi adalah suatu teknik pemurnian bahan kristalin. Seringkali senyawa yang diperoleh dari hasil suatu sintesis kiia memiliki kemurnian yang tidak terlalu tinggi. Untuk memurnikan senyawa tersebut perlu dilakukan rekristalisasi. Untuk merekristalisasi suatu senyawa kita harus memilih pelarut yang cocok dengan senyawa tersebut. Setelah senyawa tersebut dilarutkan ke dalam pelarut yang sesuai kemudian dipanaskan (direfluks) sampai semua senyawa tersebut larut sempurna. Apabila pada temperatur kamar, senyawa tersebut sudah larut secara sempurna di dalam pelarut, maka tidak perlu lagi dilakukan pemanasan. Pemanasan hanya dilakukan apabila senyawa tersebut belum atau tidak larut sempurna pada keadaan suhu kamar. Setelah senyawa/solut tersebut larut sempurna di dalam pelarut baik dengan pemanasan maupun tanpa pemanasan, maka kemudian larutan tersebut disaring dalam keadaan panas. Kemudian larutan hasil penyaringan terssebut didinginkan perlahan-lahan sampai terbentuk kristal.
Salah satu faktor penentu keberhasilan proses kristalisasi dan rekristalisasi adalah pemilihan zat pelarut. Pelarut yang digunakan dalam proses kristalisasi dan rekristalisasi sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1) Memiliki gradient temperatur yang besar dalam sifat kelarutannya.
2) Titik didih pelarut harus di bawah titik lebur senyawa yang akan di kristalkan.
3) Titik didih pelarut yang rendah sangat menguntungkan pada saat pengeringan.
4) Bersifat inert (tidak bereaksi) terhadap senyawa yang akan dikristalkan atau direkristalisasi.
Apabila zat atau senyawa yang akan kita kritalisasi atau rekristalisasi tidak dikenal secara pasti, maka kita setidak-tidaknya kita harus mengenal komponen penting dari senyawa tersebut. Jika senyawa tersebut adalah senyawa organik, maka yang kita ketahui sebaiknya adalah gugus-gugus fungsional senyawa tersebut. Apakah gugus-gugus tersebut bersifat hidrofobik atau hidrofilik. Dengan kata lain kita minimal harus mengetahui polaritas senyawa yang akan kita kristalkan atau rekristalisasi. Setelah polaritas senyawa tersebut kita ketahui kemudian dipilihlah pelarut yang sesuai dengan polaritas senywa tersebut.
b. Sublimasi.
Sublimasi adalah peristiwa penguapan secara langsung padatan kristalin ke dalam fasa uap. Contoh klasik sublimasi adalah penguapan kamfer (kapus barus). Sublimasi dapat digunakan sebagai metode pemurnian padatan kristalin. Beberapa senyawa kimia dapat menyublim pada temperatur dan tekanan kamar, namun banyak yang beru dapat menyublim apabila tekanan diturunkan. Untuk mendapatkan bahan murni, fasa uap bahan tersublim didinginkan secara perlahan-lahan sehingga terbentuk kristal.
c. Destilasi.
Destilasi juga merupakan salah satu teknik memurnikan senyawa kimia. Senyawa yang akan dimurnikan harus berupa cairan. Destilasi bekerja berdasarkan perbedaan titik didih senyawa-senyawa di dalam larutan. Senyawa-senyawa yang dimurnikan akan terpisah berdasarkan perbedaan titik didihnya. Senyawa-senyawa dengan titik didih rendah akan terpisah terlebih dahulu diikuti dengan senyawa-senyawa yang memiliki titik didih yang lebih tinggi.
5. Uji Kkemurnian.
Untuk mengetahui kemurnian suatu senyawa hasil pemurnian seperti yang telah dijelaskan di atas, maka digunakan beberapa teknik uji kemurnian bahan yang relatif sederhana seperti uji titik leleh, uji indeks bias, uji berat jenis, uji titik didih, dan uji kekentalan (viskositas).
1. Uji titik leleh.
Uji titik leleh merupakan salah satu teknik uji kemurnian bahan padat yang cukup akurat terutama jika titik leleh bahan telah diketahui sebelumnya. Titik leleh bahan murni dapat dilihat pada table spesifikasi bahan yang tersedia di perpustakaan laboratorium. Akan tetapi untuk bahan-bahan yang sama sekali baru, teknik ini juga dapat digunakan. Bahan-bahan murni umumnya memiliki interval titik leleh yang sempit.
2. Uji indeks bias.
Indeks bias suatu cairan dapat digunakan sebagai faktor penentu kemurnian bahan. Namun demikian seperti juga metode titik leleh, metode uji indeks bias ini lebih tepat untuk digunakan sebagai tes uji kemurnian bahan yang indeks bias bahan murninya telah diketahui dengan pasti terelbih dahulu. Untuk bahan-bahan yang sama sekali baru, maka metode uji indeks bias ini juga dapat diterapkan dengan hati-hati.
3. Uji berat jenis.
Uji berat jenis merupakan salah satu teknik uji kemurnian yang cukup akurat. Archimedes menguji kemurnian emas mahkota raja berdasarkan prinsip uji berat jenis ini. Setiap zat murni mempunyai berat jenis yang spesifik yang dapat digunakan sebagai dasar pengujian bahan.
4. Uji titik didih.
Uji titik didih juga dapat digunakan untuk mengetahui kemurnian suatu bahan. Uji ini dapat diterapkan pada senyawa berujud cairan yang bahan cair murninya telah diketahui titik didihnya secara pasti. Uji titik didih senyawa murni dapat dilihat pada tabel di buku katalog di perpustakaan laboratorium. Untuk bahan-bahan lain yang titik didik murninya belum diketahui secara pasti, uji titik didih ini dapat dilakukan dengan hati-hati.
5. Uji kekentalan.
Uji kekentalan dapat dilakukan untuk mengetahui kemurnia suatu bahan. Bahan-bahan cair yang dalam keadaan murni memiliki kekentalan yang khas dan berbeda dari senyawa yang lain. Uji ini dapat dilakukan untuk senyawa/ bahan cair yang kekentalannya telah diketahui secara pasti. Data kekentalan berbagai bahan murni dapat dilihat pada buku katalog bahan di perpustakaan laboratorium. Untuk bahan-bahan lain yang kekentalannya belum diketahui secara pasti maka uji ini dapat dilakukan secara hati-hati.
Adopted by @_pararaja from : http://chemcareasia.wordpress.com
Kloning Embrio melalui Rekayasa dan Pembuatan Kembar Identik serta Pembekuan dengan Metode Vitrifikasi
Arief Boediono, Kusdiantoro M, Yohan Rusyiantono, Ita Djuwita, dan Yuhara Sukra
Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor
Limbah rumah potong hewan berupa ovarium sebagai sumber sel gamet betina (oosit) melalui bioteknologi dapat dimanfaatkan menjadi produk berharga berupa embrio melalui teknik fertilisasi in vitro. Keberhasilan fertilisasi in vitro ini akan menunjang produksi embrio identik yang merupakan salah satu teknik kloning, transfer genetik, dan teknik lain yang terkait. Sebagai upaya penyediaan embrio massal dan pengoptimuman potensi embrio, penelitian ini bertujuan (1) mengembangkan produksi embrio kambing dengan metode fertlisasi in vitro, (2) mengembangkan teknik bedah mikro untuk mendapatkan embrio paruh guna mendapatkan embrio kembar monozigotik, (3) menghitung jumlah sel embrio utuh dan embrio paruh sebagai parameter keberhasilan teknik bedah mikro, dan (4) membekukan embrio dengan metode vitrifikasi.
Penelitian dilakukan secara paralel terhadap produksi embrio kambing melalui teknik fertilisasi in vitro, evaluasi abnormalitas komposisi kromosom, produksi embrio kembar identik dan pembekuan embrio dengan metode vitrifikasi. Oosit dikoleksi melalui aspirasi ovarium yang memiliki atau tidak memiliki corpus luteum (CL). Keberadaan CL diamati pengaruhnya terhadap jumlah folikel yang diaspirasi (diameter 2-5 mm), jumlah folikel dominan (diameter > 5mm), bobot serta ukuran ovarium.
Sperma (ejakulat dan beku) diamati viabilitasnya dalam media fertilisasi (Brackett and Oliphant medium, BO, dan TCM-199) dengan menghitung konsentrasi spermatozoa hidup dan konsentrasi spermatozoa yang memiliki motilitas progresif pada 0, 3, 6, dan 24 jam inkubasi. Produksi embrio secara in vitro dilakukan dengan melakukan fertilisasi oosit matang dengan spermatozoa yang diseleksi dengan metode swim up. Kultur in vitro untuk mencapai tahap blastosis dilakukan dalam media CR1aa sampai hari ke-9 atau Gl.2 sampai hari ke-3 dan selanjutnya pada G2.2 sampai hari ke-9 pada suhu 38.5oC dalam kondisi kadar oksigen yang rendah (O2 5%, C02 5%, dan N2 90%).
Rata-rata jumlah sel embrio kambing pada tahap blastosis yang diproduksi melalui teknik fertilisasi in vitro ialah 88 sel per embrio dengan rata-rata indeks mitotik sebesar 17.3. Abnormalitas komposisi kromosom pada embrio kambing sebanyak 35.5% dengan komposisi 1N/2N, 2N/3N/4N, dan 2N/4N. Embrio kambing pada tahap perkembangan morula dan blastosis dikloning dengan metode bedah mikro. Pemotongan embrio utuh dilakukan tanpa pipet holding, tetapi dengan modifikasi pisau silet. Tingkat keberhasilan pemotongan embrio pada tahap morula dan blastosis tidak berbeda.
Teknik pembekuan dengan metode vitrifikasi dilakukan dengan menggunakan pembekuan secara terbuka dalam bentuk tetes maupun secara tertutup dalam straw 0.25 ml. Media vitrifikasi yang digunakan terdiri atas etilena glikol 40%, trehalosa 0.4M, dan polivinil-pirolidon (PVP) 10%. Viabilitas embrio kambing setelah vitrifikasi dengan metode terbuka dalam drop lebih baik (P<0.5) daripada dengan metode tertutup dalam straw. Penambahan PVP dan trehalosa mmberikan pengaruh positif terhadap viabilitas embrio setelah vitrifikasi. Pengaruh ini terlihat jelas pada pembekuan embrio-paruh.
Adopted by @_pararaja from Hibah Bersaing VII
Campuran Batu Bara Air Lokal sebagai Bahan Bakar Alternatif Pengganti Minyak : Ciri Pembakaran dan Pengembangan Prototipe Nosel Burner
Toto Hardianto, TA Fauzi Soelaiman, Aryadi Suwono
Laboratorium Termodinamika, PPAU-IR, Institut Teknologi Bandung
Berdasarkan perkiraan teoretis, Indonesia memiliki cadangan batu bara sekitar 36 miliar ton yang setara dengan kebutuhan energi kalor pembakaran Indonesia selama 350 tahun. Akan tetapi 70% di antaranya ialah batu bara peringkat rendah (lignit), yang kandungan airnya sangat tinggi sehingga nilai kalor pembakarannya rendah dan tidak dapat memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan untuk pemakaian dalam negeri (PLN, industri, produksi briket) maupun untuk komoditas ekspor. Oleh karena itu perlu diusahakan agar batu bara tersebut dapat dipakai sebagai sumber energi termal (bahan bakar) yang layak. Proses yang dapat dilakukan ialah menaikkan mutu batu bara dan kemudian memfungsikannya sebagai pengganti bahan bakar minyak dengan modifikasi sedikit-dikitnya peralatan yang semula memakai bahan bakar minyak. Hal ini memungkinkan pada sektor industri dan sektor pembangkit tenaga yang banyak memakai burner bahan bakar minyak, yang sangat dominan bila dilihat dari sisi kuantitas pemakaian bahan bakar.
Penelitian ini dipumpunkan pada pemakaian batu bara yang sudah ditingkatkan mutunya untuk pengganti bahan bakar minyak, yaitu sebagai bahan bakar pada burner industri. Batu bara terlebih dahulu dicampur dengan air yang selanjutnya disebut sebagai campuran batu bara air (CBA) dengan komposisi tertentu sehingga kekentalannya mirip dengan bahan bakar minyak berat. CBA digunakan langsung pada burner untuk dibakar. Pemahaman tentang ciri pembakaran yang meliputi segi pengkabutan CBA, konsentrasi batu bara pada CBA, nisbah CBA dan udara pada pengkabutannya, tekanan semprotan, dan bentuk nosel terlebih dahulu diperdalam. Selanjutnya dirancang dan dibuat prototipe nosel burner yang memenuhi harapan pembakaran CBA, lalu diuji di laboratorium.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa modifikasi sistem nosel burner yang semula memakai minyak berat memungkinkannya untuk dipakai oleh CBA, dengan perhitungan daya kalor yang harus disesuaikan lagi. Bentuk batu bara menjadi CBA juga memudahkan cara pengangkutannya, yaitu dengan sistem jaringan pipa yang sebelumnya dipakai untuk sistem jaringan bahan bakar minyak. Hasil penelitian ini masih perlu dielaborasi untuk mendapatkan kondisi pembakaran yang stabil.
Penelitian ini merupakan bagian dari rangkaian penelitian jangka panjang terpadu mengenai usaha pemberdayaan hasil tambang batu bara Indonesia yang menjadi topik unggulan Laboratorium Termodinamika PPAU-IR-ITB pada 10 tahun terakhir, yang meliputi penelitian perbaikan dengan menggunakan steam drying dan coating, bricketing, transportasi CBA menggunakan pipa, dan perluasan materi penelitian pada gambut sebagai cikal bakal batu bara yang juga banyak ditemui di Indonesia.
Adopted by @_pararaja from Hibah Bersaing
Mencari Bentuk Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian bagi Sistem Pertanian Berbudaya Industri
Sumardjo
Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi, Institut Pertanian Bogor
Persaingan bebas di era globalisasi ekonomi dan peningkatan kesadaran konsumen atas mutu produk pertanian menuntut kemandirian petani. Kemandirian petani dicirikan antara lain oleh perilakunya yang modern, efisien, dan daya saing yang tinggi. Petani yang mandiri ialah mereka yang mempunyai kapabilitas mengelola usaha tani yang adaptif terhadap perubahan lingkungan sosial dan fisik. Petani mandiri juga dicirikan oleh kemampuan bekerja sama dengan pihak lain dalam usahanya secara saling menguntungkan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kesiapan petani, berupa tingkat kemandirian mereka dalam menghadapi tantangan, tuntutan yang berkembang menjelang dan di era globalisasi ekonomi tersebut. Selanjutnya, dirumuskan konsep model penyuluhan pertanian yang efektif untuk pengembangan kemandirian petani.
Penelitian dilakukan di empat kabupaten yang mewakili empat zona wilayah pertanian Jawa Barat, yaitu Indramayu (zona utara), Bandung (zona tengah), Cianjur (zona selatan), dan Bogor (Botabek). Responden terdiri atas 1.185 petani. Lokasi penelitian mewakili lahan sawah dan lahan kering; responden petani ditentukan dengan teknik stratified random sampling menurut konsep Rogers dan Schoemakers.
Secara umum, petani di Jawa barat masih memiliki tingkat kemandirian yang rendah, dengan skor nilai rata-rata secara kumulatif 65 dari skala maksimum 100. Skor rendah terutama dari segi perilaku daya saing, yaitu di bawah 50. Masih terdapat kesenjangan tingkat kemandirian di antara lapisan petani, terutama di zona selatan dan tengah Jawa Barat. Petani lapisan atas terutama telah mempunyai wawasan kemodernan dan keefisienan yang cukup baik, namun belum ditunjang dengan sikap dan keterampilan yang sejalan, sehingga perilaku daya saingnya pun menjadi sangat lemah. Kelemahan tersebut, khususnya segi daya saing dan keefisienan berkaitan erat dengan lemahnya aksesibilitas petani terhadap sarana produksi dan pemasaran hasil usaha tani. Pada saat ini, keterpaduan berbagai kelembagaan penunjang sistem agribisnis terhadap komitmen pengembangan usaha tani masih sangat lemah dan ini telah menjadi titik lemah penting dalam pengembangan penyuluhan pertanian yang dimaksudkan untuk pengembangan kemandirian petani.
Model penyuluhan dengan pendekatan model penyuluhan dialogis, hadap-masalah (humanis), dan dengan model komunikasi konvergen secara nyata lebih efektif untuk meningkatkan kemandirian petani dibandingkan model penyuluhan yang sentralistik, top-down (transfer of technology), dan dengan model komunikasi yang linear. Pada saat ini ada gejala transformasi implementasi penyuluhan dalam masyarakat pertanian di Jawa Barat dari pola penyuluhan yang berciri top-down, sentralistis dengan model komunikasi yang linear (dehumanis) menuju ke pola penyuluhan konvergen yang berciri partisipatif, desentralisitis dengan model komunikasi konvergen (humanis), dan karena itu penyuluhan makin berdampak pada meningkatnya kemandirian petani. Hal itu sejalan dengan makin menonjolnya peranan swasta dan LSM dalam praktik penyuluhan tersebut.
Adopted by @_pararaja from Hibah Bersaing
Polimerisasi
Polimerisasi adalah reaksi pembentukan rantai polimer organik yang panjang dan berulang. Polimerisasi digolongkan ke beberapa sistem: sistem adisi-kondensasi dan sistem pertumbuhan rantai bertahap. Bentuk lain dari polimerisasi adalah polimerisasi membuka cincin yang serupa dengan polimerisasi rantai.
Dua jenis utama dari reaksi polimerisasi adalah polimerisasi adisi dan polimerisasi kondensasi. Jenis reaksi yang monomernya mengalami perubahan reaksi tergantung pada strukturnya. Suatu polimer adisi memiliki atom yang sama seperti monomer dalam unit ulangnya, sedangkan polimer kondensasi mengandung atom-atom yang lebih sedikit karena terbentuknya produk sampingan selama berlangsungnya proses polimerisasi.
Meskipun istilah polimer lebih populer menunjuk kepada plastik, tetapi polimer sebenarnya terdiri dari banyak kelas material alami dan sintetik dengan sifat dan kegunaan yang beragam. Bahan polimer alami seperti shellac dan amber telah digunakan selama beberapa abad. Kertas diproduksi dari selulosa, sebuah polisakarida yang terjadi secara alami yang ditemukan dalam tumbuhan. Biopolimer seperti protein dan asam nukleat memainkan peranan penting dalam proses biologi.
Klasifikasi polimer
Berdasarkan sumbernya
- Polimer alami : kayu, kulit binatang, kapas, karet alam, rambut
- Polimer sintetis
- Tidak terdapat secara alami: nylon, poliester, polipropilen, polistiren
- Terdapat di alam tetapi dibuat oleh proses buatan: karet sintetis
- Polimer alami yang dimodifikasi: seluloid, cellophane (bahan dasarnya dari selulosa tetapi telah mengalami modifikasi secara radikal sehingga kehilangan sifat-sifat kimia dan fisika asalnya)
Berdasarkan jumlah rantai karbonnya
- 1 ~ 4 Gas (LPG, LNG)
- 5 ~ 11 Cair (bensin)
- 9 ~ 16 Cairan dengan viskositas rendah
- 16 ~ 25 Cairan dengan viskositas tinggi (oli, gemuk)
- 25 ~ 30 Padat (parafin, lilin)
- 1000 ~ 3000 Plastik (polistiren, polietilen, dll)
Polimerisasi adalah proses penggabungan molekul-molekul kecil menjadi molekul besar. Reaksi umumnya adalah sebagai berikut :
M CnH2n
Cm+nH2(m+n)
Contoh polimerisasi yaitu penggabungan senyawa isobutena dengan senyawa isobutana menghasilkan bensin berkualitas tinggi, yaitu isooktana.

Dua jenis utama dari reaksi polimerisasi adalah polimerisasi adisi dan polimerisasi kondensasi.
Polimer Adisi
Reaksi pembentukan teflon dari monomer-monomernya tetrafluoroetilen, disebut reaksi adisi. Perhatikan Gambar 7 yang menunjukkan bahwa monomer etilena mengandung ikatan rangkap dua, sedangkan di dalam polietilena tidak terdapat ikatan rangkap dua.

Gambar 7. Monomer etilena mengalami reaksi adisi membentuk polietilena yang digunakan sebagai tas plastik, pembungkus makanan, dan botol. Pasangan elektron ekstra dari ikatan rangkap dua pada tiap monomer etilena digunakan untuk membentuk suatu ikatan baru menjadi monomer yang lain
Menurut jenis reaksi adisi ini, monomer-monomer yang mengandung ikatan rangkap dua saling bergabung, satu monomer masuk ke monomer yang lain, membentuk rantai panjang. Produk yang dihasilkan dari reaksi polimerisasi adisi mengandung semua atom dari monomer awal. Berdasarkan Gambar 7, yang dimaksud polimerisasi adisi adalah polimer yang terbentuk dari reaksi polimerisasi disertai dengan pemutusan ikatan rangkap diikuti oleh adisi dari monomermonomernya yang membentuk ikatan tunggal. Dalam reaksi ini tidak disertai terbentuknya molekul-molekul kecil seperti H2O atau NH3.
Contoh lain dari polimer adisi diilustrasikan pada Gambar 8. Suatu film plastik yang tipis terbuat dari monomer etilen dan permen karet dapat dibentuk dari monomer vinil asetat.

Gambar 8. Polietilen dan polivinil asetat adalah contoh polimer yang dibuat melalui polimerisasi adisi.
Dalam reaksi polimerisasi adisi, umumnya melibatkan reaksi rantai. Mekanisme polimerisasi adisi dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu:

Sebagai contoh mekanisme polimerisasi adisi dari pembentukan polietilena
a) Inisiasi, untuk tahap pertama ini dimulai dari penguraian inisiator dan adisi molekul monomer pada salah satu radikal bebas yang terbentuk. Bila kita nyatakan radikal bebas yang terbentuk dari inisiator sebagai R’, dan molekul monomer dinyatakan dengan CH2 = CH2, maka tahap inisiasi dapat digambarkan sebagai berikut:

b) Propagasi, dalam tahap ini terjadi reaksi adisi molekul monomer pada radikal monomer yang terbentuk dalam tahap inisiasi

Bila proses dilanjutkan, akan terbentuk molekul polimer yang besar, dimana ikatan rangkap C= C dalam monomer etilena akan berubah menjadi ikatan tunggal C – C pada polimer polietilena

c) Terminasi, dapat terjadi melalui reaksi antara radikal polimer yang sedang tumbuh dengan radikal mula-mula yang terbentuk dari inisiator (R’) CH2 – CH2 + R � CH2 – CH2- R atau antara radikal polimer yang sedang tumbuh dengan radikal polimer lainnya, sehingga akan membentuk polimer dengan berat molekul tinggi R-(CH2)n-CH2° + °CH2-(CH2)n-R’ � R-(CH2)n-CH2CH2-(CH2)n-R’ Beberapa contoh polimer yang terbentuk dari polimerisasi adisi dan reaksinya antara lain.
- Polivinil klorida
n CH2 = CHCl → [ - CH2 - CHCl - CH2 - CHCl - ]n Vinil klorida polivinil klorida
- Poliakrilonitril
n CH2 = CHCN → [ - CH2 - CHCN - ]n
- Polistirena
Polimer Kondensasi
Polimer kondensasi terjadi dari reaksi antara gugus fungsi pada monomer yang sama atau monomer yang berbeda. Dalam polimerisasi kondensasi kadang-kadang disertai dengan terbentuknya molekul kecil seperti H2O, NH3, atau HCl.
Di dalam jenis reaksi polimerisasi yang kedua ini, monomer-monomer bereaksi secara adisi untuk membentuk rantai. Namun demikian, setiap ikatan baru yang dibentuk akan bersamaan dengan dihasilkannya suatu molekul kecil – biasanya air – dari atom-atom monomer. Pada reaksi semacam ini, tiap monomer harus mempunyai dua gugus fungsional sehingga dapat menambahkan pada tiap ujung ke unit lainnya dari rantai tersebut. Jenis reaksi polimerisasi ini disebut reaksi kondensasi.
Dalam polimerisasi kondensasi, suatu atom hidrogen dari satu ujung monomer bergabung dengan gugus-OH dari ujung monomer yang lainnya untuk membentuk air. Reaksi kondensasi yang digunakan untuk membuat satu jenis nilon ditunjukkan pada Gambar 9 dan Gambar 10.

Gambar 9. Kondensasi terhadap dua monomer yang berbeda yaitu 1,6 – diaminoheksana dan asam adipat yang umum digunakan untuk membuat jenis nylon. Nylon diberi nama menurut jumlah atom karbon pada setiap unit monomer. Dalam gambar ini, ada enam atom karbon di setiap monomer, maka jenis nylon ini disebut nylon 66.

Gambar 10. Pembuatan Nylon 66 yang sangat mudah di laboratorium.
Contoh lain dari reaksi polimerisasi kondensasi adalah bakelit yang bersifat keras, dan dracon, yang digunakan sebagai serat pakaian dan karpet, pendukung pada tape – audio dan tape – video, dan kantong plastik.
Monomer yang dapat mengalami reaksi polimerisasi secara kondensasi adalah monomer-monomer yang mempunyai gugus fungsi, seperti gugus -OH; -COOH; dan NH3
PRODUK PENGOLAHAN MINYAK BUMI

1. Bahan bakar gas
Bahan bakar gas terdiri dari :
LNG (Liquified Natural Gas) dan LPG (Liquified Petroleum Gas)
Bahan baker gas biasa digunakan untuk keperluan rumah tangga dan indusri.
Elpiji, LPG (liquified petroleum gas,harfiah: “gas minyak bumi yang dicairkan”), adalah campuran dari berbagai unsur hidrokarbon yang berasal darigas alam. Dengan menambah tekanan dan menurunkan suhunya, gas berubah menjadi cair. Komponennya didominasi propana
dan butana
. Elpiji juga mengandung hidrokarbon ringan lain dalam jumlah kecil, misalnya etana
dan pentana
.
Dalam kondisi atmosfer, elpiji akan berbentuk gas. Volume elpiji dalam bentuk cair lebih kecil dibandingkan dalam bentuk gas untuk berat yang sama. Karena itu elpiji dipasarkan dalam bentuk cair dalam tabung-tabung logam bertekanan. Untuk memungkinkan terjadinya ekspansi panas (thermal expansion) dari cairan yang dikandungnya, tabung elpiji tidak diisi secara penuh, hanya sekitar 80-85% dari kapasitasnya. Rasio antara volume gas bila menguap dengan gas dalam keadaan cair bervariasi tergantung komposisi, tekanan dan temperatur, tetapi biasaya sekitar 250:1.
Tekanan di mana elpiji berbentuk cair, dinamakan tekanan uap-nya, juga bervariasi tergantung komposisi dan temperatur; sebagai contoh, dibutuhkan tekanan sekitar 220 kPa (2.2 bar) bagi butana murni pada 20 °C (68 °F) agar mencair, dan sekitar 2.2 MPa (22 bar) bagi propana murni pada 55°C (131 °F).
Menurut spesifikasinya, elpiji dibagi menjadi tiga jenis yaitu elpiji campuran, elpiji propana dan elpiji butana. Spesifikasi masing-masing elpiji tercantum dalam keputusan Direktur Jendral Minyak dan Gas Bumi Nomor: 25K/36/DDJM/1990. Elpiji yang dipasarkan Pertamina adalah elpiji campuran.
Sifat elpiji
Sifat elpiji terutama adalah sebagai berikut:
- Cairan dan gasnya sangat mudah terbakar
- Gas tidak beracun, tidak berwarna dan biasanya berbau menyengat
- Gas dikirimkan sebagai cairan yang bertekanan di dalam tangki atau silinder.
- Cairan dapat menguap jika dilepas dan menyebar dengan cepat.
- Gas ini lebih berat dibanding udara sehingga akan banyak menempati daerah yang rendah.
Penggunaan elpiji
Penggunaan Elpiji di Indonesia terutama adalah sebagai bahan bakar alat dapur (terutama kompor gas). Selain sebagai bahan bakar alat dapur, Elpiji juga cukup banyak digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor (walaupun mesin kendaraannya harus dimodifikasi terlebih dahulu).
Bahaya elpiji
Salah satu resiko penggunaan elpiji adalah terjadinya kebocoran pada tabung atau instalasi gas sehingga bila terkena api dapat menyebabkan kebakaran. Pada awalnya, gas elpiji tidak berbau, tapi bila demikian akan sulit dideteksi apabila terjadi kebocoran pada tabung gas. Menyadari itu Pertamina menambahkan gas mercaptan, yang baunya khas dan menusuk hidung. Langkah itu sangat berguna untuk mendeteksi bila terjadi kebocoran tabung gas. Tekanan elpiji cukup besar (tekanan uap sekitar 120 psig), sehingga kebocoran elpiji akan membentuk gas secara cepat dan merubah volumenya menjadi lebih besar.
Sumber: ”http://id.wikipedia.org/wiki/Elpiji”
2. Naptha atau Petroleum eter, biasa digunakan sebagai pelarut dalam industri.
3. Gasolin (bensin), biasa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.
4. Kerosin (minyak tanah), biasa digunakan sebagai bahan bakar untuk keperluan rumah tangga. Selain itu kerosin juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan bensin melalui proses cracking.
Minyak tanah (bahasa Inggris: kerosene atau paraffin) adalah cairan hidrokarbon yang tak berwarna dan mudah terbakar. Dia diperoleh dengan cara distilasi fraksional dari petroleum pada 150°C and 275°C (rantai karbon dari C12 sampai C15). Pada suatu waktu dia banyak digunakan dalam lampu minyak tanah tetapi sekarang utamanya digunakan sebagai bahan bakar mesin jet (lebih teknikal Avtur, Jet-A, Jet-B, JP-4 atau JP-8). Sebuah bentuk dari kerosene dikenal sebagai RP-1dibakar dengan oksigen cair sebagai bahan bakar roket. Nama kerosene diturunkan dari bahasa Yunani keros (κερωσ, wax ).
Biasanya, kerosene didistilasi langsung dari minyak mentah membutuhkan perawatan khusus, dalam sebuah unit Merox atau, hidrotreater untuk mengurangi kadar belerangnya dan pengaratannya. Kerosene dapat juga diproduksi oleh hidrocracker, yang digunakan untuk mengupgrade bagian dari minyak mentah yang akan bagus untuk bahan bakar minyak.
Penggunaanya sebagai bahan bakar untuk memasak terbatas di negara berkembang, di mana dia kurang disuling dan mengandung ketidakmurnian dan bahkan “debris”.
Bahan bakar mesin jet adalah kerosene yang mencapai spesifikasi yang diperketat, terutama titik asap dan titik beku.
Kegunaan lain
Kerosene biasa di gunakan untuk membasmi serangga seperti semut dan mengusir kecoa. Kadang di gunakan juga sebagai campuran dalam cairan pembasmi serangga seperti pada merk/ brand baygone.
5. Minyak solar atau minyak diesel, biasa digunakan sebagai bahan bakar untuk mesin diesel pada kendaraan bermotor seperti bus, truk, kereta api dan traktor. Selain itu, minyak solar juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan bensin melalui proses cracking.
6. Minyak pelumas, biasa digunakan untuk lubrikasi mesin-mesin.
7. Residu minyak bumiyang terdiri dari :
- Parafin , digunakan dalam proses pembuatan obat-obatan, kosmetika, tutup botol, industri tenun menenun, korek api, lilin batik, dan masih banyak lagi.
- Aspal , digunakan sebagai pengeras jalan raya
PENYESUAIAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Teknik-teknik penyesuaian pemecahan masalah merupakan gabungan antara logika dan daya pikir, dan jika tidak tepat, akan menciptakan jalan keluar yang memuaskan.
Jika Anda tidak mengikuti proses pemecahan masalah secara lengkap, gunakan teknik-teknik apabila Anda
- Mempunyai sedikit waktu meneliti
- Tidak membutuhkan analisis yang canggih
- Dapat menerima resiko
- Dapat membuat keputusan yang sebaliknya
Pertimbangan di dalam penyesuaian pengambilan keputusan :
Keputusan yang mengejutkan
Buatlah keputusan tambahan untuk mencapai suatu keputusan objektif dan menolak secara penuh (total) keputusan yang Anda tidak dapat ubah.
Contoh: Sebelum mengatur pendingin udara, mencoba layar, bayangan, dan fentilator. Kegiatan ini dapat memungkinkan tugas dilaksanakan. Kalau tidak, langkah ini akan masih harus dibantu dengan pendinginan gedung dan peningkatan daya guna pendingin (air-condition) kalau kemudian di-install.
Penyelidikan
Gunakan informasi yang tepat untuk menguji suatu hasil..
Penyelidikan adalah suatu pengubahan dengan strategi uji-coba kesalahan untuk mengendalikan resiko. Perbedaan melempar dadu, membutuhkan suatu pemikiran yang padat menyangkut tujuan dan arah. Gunakan teknik ini untuk bergerak hati-hati di dalam langkah kecil ke arah suatu penyelesaian.
Contoh: Dokter-dokter menolak kesepakatn tunggal, sebagai diagnosa yang tidak lengkap terhadap suatu penyakit. Melalui kehati-hatian tetapi dengan penelitian yang tepat, mereka dapat menentukan penyebab suatu penyakit dan penyembuhannya.
Pengaturan(pengendalian) dengan pengecualian
Bekerja berdasarkan hal-hal tersebut cara kritis untuk Anda, dan meninggalkan hal-hal lain yang tidak kritis. Membuat strategi dan (membuat) pengutamaan.
Contoh: Anda pembimbing matematika untuk anak. Anda mengetahui bahwa keluarga berada di dalam situasi yang sulit, tetapi Anda tidak memiliki keahlian untuk membantu. Anda informasikan ahli dalam hal ini sebagai tindak lanjut mereka, tetapi lanjutkan dengan memusatkan perhatian mendorong anak dengan pekerjaan rumah.
Membatasi
Meluasnya resiko penolakan keputusan yang mengekang Anda ke arah satu pilihan kalau Anda tidak siap menyepakatinya.
Contoh: Kecerdikan investor tidak meletakkan telur-telur di dalam satu keranjang. Mereka menyebarkan resiko secara seimbang ke beberapa wadah, ikatan, dan secara tunai.
Perasaan
Beberapa pilihan berdasarkan pengalaman Anda, nilai-nilai, dan emosi-emosi (perasaan hati Anda yang baik)! Sementara sering kemungkinan untuk sampai ke kebenaran melalui intuisi, tidak membangunnya secara istimewa.Hal itu dapat menghasilkan penilaian yang cepat dan keputusan yang gegabah. Pertama gunakanlah logika, kemudian perasaan Anda untuk membuat keputusan terasa benar.
Penundaan
Kalau suatu keputusan segera tidak perlu dan ada waktu untuk membangun pilihan, lakukan secara perlahan dan biarkan menunggu. Kadang-kadang tidak berbuat apa-apa adalah keputusan yang terbaik, masalah berlalu , atau dapat diatasi.
Pelimpahan kepada yang lain
Kalau masalah dapat diselesaikan lebih baik oleh seseorang, kalau Anda benar-benar bukan berada pada posisi pertama di dalam masalah itu (identifikasi penanggung jawab), atau sumber Anda (waktu, uang, dsb) tidak akan memenuhi syarat.
Pandangan, kesempatan, dan pilihan
Konsentrasi terhadap masa depan untuk menemukan kesempatan dan pilihan yang tersembunyi.Dengan pilihan, kita memutuskan yang terbaik. Tanpa itu, keputusan menjadi pilihan terpaksa. Dengan menemukan kesempatan besok (masa depan) dan membangun pilihan, Anda akan membuat hasil, pilihan yang berkualitas.
Rintangan terhadap pengambilan keputusan yang efektif
Tidak memutuskan
Menghindari keputusan terperangkap aspek-aspek resiko, ketakutan, dan kekhawatiran yang tidak diinginkan.
Pegang teguh
Menolak menghadapi isu, pada akhirnya akan menemukan gangguan.
Reaksi berlebihan
Membiarkan suatu situasi di luar kontrol, membiarkan emosi yang mengontrol.
“Vacillating”
Menghilangkan keputusan; adalah kesepakatan setengah hati arah suatu kegiatan.
Setengah takaran
Melalui kekacauan. Kepastian keputusan ditemukan, bukan dengan menghindari kontroversi, tetapi melalui penanganan masalah.
STRATEGI BERFIKIR KRITIS DI DALAM BELAJAR
Studi berpikir kritis suatu subyek atau masalah dengan pengertian yang luas (terbuka).
Proses dimulai dengan sutau pernyataan apa yang akan dipelajari,
menampilkan temuan tidak terbatas dan pertimbangan kemungkinan-kemungkinan,
dan kesimpulan pola-pola pengertian yang didasarkan pada kejadian.
Alasan-alasan, penyimpangan, dan prasangka baik para pengajar maupun para ahli membandingkan dan membentuk lembaga penilaian.
Masuk dengan pikiran terbuka:
- Jelaskan tujuan Anda, apa yang Anda ingin pelajari
Bereskan dan yakinkan subyek Anda dengan guru Anda atau ahli.
Topik dapat dengan frase yang sederhana:
“Peran Gender di dalam permainan video game”
“Sejarah Politik Perancis di antara Perang Besar pada paruh abad ke-20“
“Penanaman Pohon Mahogoni di Amerika Tengah”
“Peraturan Perpipaan Domestik di Daerah Pinggiran Kota”
“Kosa kata dan Struktur Kerangka Manusia”
- Pikirkan apa yang Anda ketahui tentang subyek
Apa yang Anda sudah ketahui akan membantu Anda di dalam studi ini?
Apa prasangka Anda? - Sumber apa yang penting untuk Anda, dan penentuan garis waktu Anda?
- Memperoleh informasi
Menutup pikiran tidak akan membuka pilihan Anda dan
peluang kesempatan. - Bertanyalah
Apa prasangka para pengarang terhadap informasi? - Aturlah apa yang Anda kumpulkan ke dalam pola-pola pemahaman
Carilah kaitannya - Ajukan pertanyaan (lagi)
- Pikirkan bagaimana Anda akan mendemonstrasikan pelajaran Andaesuai
sesuai dengan topik Anda. Ya! Bagaimana Anda mencipatakan ujian
Tentang apa yang Anda pelajari?
Dari yang sederhana ke yang lebih sulit (1-6) terapan:
| 1. | Daftar, label, identitas | Demonstrasi Pengetahuan |
| 2. | Defininisikan, jelaskan, ringkaskan dengan kata-kata Anda sendiri |
Pengertian/Pemahaman |
| 3. | Pecahkan, terapkan ke situasi baru | Gunakan pelajaran Anda, dan terapkan |
| 4. | Bandingkan dan tentangkan, perbedaan antara item | Analisis |
| 5. | Ciptakan, gabungkan, invent | Sintesis |
| 6. | Alihkan, rekomendasikan, nilai | Evaluasi dan jelaskan mengapa |
Pikirkan di dalam aturan bagaimana membuat pelajaran Anda sebagai petualangan di dalam penjelajahan!
Ringkasan Berpikir Kritis:
- Tentukan fakta-fakta di dalam situasi baru atau subyek tanpa prasangka
- Tempatkan fakta-fakta dan informasi ini sedemikian rupa di dalam pola Sehingga Anda memahaminya
- Menerima atau menolak sumber nila dan kesimpulan yang didasarkan pada pengalaman, penilaian, dan keyakinan Anda.
mengatur jadwal belajar secara efektif
Pengaturan Waktu adalah membuat dan melakukan jadwal belajar agar dapat mengatur dan memprioritaskan belajarmu dalam konteks membagi waktu dengan aktivitas, keluarga, dan lain-lain.
Pedoman:
- Perhatikan waktumu.
- Refleksikan bagaimana kamu menghabiskan waktumu.
- Sadarilah kapan kamu menghabiskan waktumu dengan sia-sia.
- Ketahuilah kapan kamu produktif.
Dengan mengetahui bagaimana kamu menghabiskan waktu dapat membantu untuk:
Membuat daftar “Kerjaan”. Tulislah hal-hal yang harus kamu kerjakan, kemudian putuskan apa yang dikerjakan sekarang, apa yang dikerjakan nanti, apa yang dikerjakan orang lain, dan apa yang bisa ditunda dulu pengerjaannya.
Membuat jadwal harian/mingguan. Catat janji temu, kelas dan pertemuan pada buku/tabel kronologis. Selalu mengetahui jadwal selama sehari, dan selalu pergi tidur dengan mengetahui kamu sudah siap untuk menyambut besok.
Merencanakan jadwal yang lebih panjang. Gunakan jadwal bulanan sehingga kamu selalu bisa merencanakan kegiatanmu lebih dulu. Jadwal ini juga bisa mengingatkanmu untuk membuat waktu luangmu dengan lebih nyaman.
Rencana Jadwal Belajar Efektif:
- Beri waktu yang cukup untuk tidur, makan dan kegiatan hiburan.
- Prioritaskan tugas-tugas.
- Luangkan waktu untuk diskusi atau mengulang bahan sebelum kelas.
- Atur waktu untuk mengulang langsung bahan pelajaran setelah kelas. Ingatlah bahwa kemungkinan terbesar untuk lupa terjadi dalam waktu 24 jam tanpa review.
- Jadwalkan waktu 50 menit untuk setiap sesi belajar.
- Pilih tempat yang nyaman (tidak mengganggu konsentrasi) untuk belajar.
- Rencanakan juga “deadline”.
- Jadwalkan waktu belajarmu sebanyak mungkin pada pagi/siang/sore hari.
- Jadwalkan review bahan pelajaran mingguan.
- Hati-hati, jangan sampai diperbudak oleh jadwalmu sendiri!
CARA BELAJAR EFEKTIF
Langkah-langkah belajar efektif adalah mengetahui
- diri sendiri
- kemampuan belajar anda
- proces yang berhasil anda gunakan, dan dibutuhkan
- minat, dan pengetahuan atas mata pelajaran anda inginkan
Anda mungkin belajar fisika dengan mudah tetapi tidak bisa belajar tenis, atau sebaliknya. Belajar apapun, adalah proces untuk mencapai tahap-tahap tertentu.
Empat langkah untuk belajar.
Mulai dengan cetak halaman ini dan jawab pertanyan-pertanyaannya. Lalu rencanakan strategi anda dari jawaban-jawabanmu, dan dengan “Pedoman Belajar” yang lain.
| Mulai dengan masa lalu | Apakah pengalaman anda tentang cara belajar? Apakah anda
What was your experience about how you learn? Did you
Apa kebiasaan belajar anda? Bagaimana tersusunnya? Yang mana terbaik? terburuk? Bagaimana anda berkomunikasi dengan apa yang anda ketahui belajar paling baik? Melalui ujian tertulis, naskah, atau wawancara? |
| Teruskanke masa sekarang | Berminatkah anda? Berapa banyak waktu saya ingin gunakan untuk belajar? Apa yang bersaing dengan perhatian saya? Apakah keadaannya benar untuk meraih sukses? Apa yang mempengaruhi pembaktian anda terhadap pelajaran ini? Apakah saya punya rencana? Apakah rencanaku mempertimbangkan pengalaman dan gaya belajar anda? |
| Pertimbangkan proses, persoalan utama |
Apa judulnya? Apa kunci kata yang menyolok? Apakah saya mengerti? Apakah yang telah saya ketahui? Sumber-sumber dan informasi yang mana bisa membantu saya? Sewaktu saya belajar, apakah saya tanya diri sendiri jika saya mengerti? Apakah saya berhenti dan meringkas? Apakah saya membutuhkan waktu untuk berpikir dan kembali lagi? |
| Buat review |
Apakah kerjaan saya benar? Apakah bisa saya kerjakan lebih baik? Apakah rencana saya serupa dengan “diri sendiri”? Apakah saya memilih kondisi yang benar? Apakah anda sukses? |
BEBERAPA LANGKAH-LANGKAH DALAM BERFIKIR BIJAK
“Meskipun anda bukanlah seorang jenius, anda dapat mengunakan strategi yang sama seperti yang digunakan Aristotle dan Einstein untuk memanfaatkan kreatifitas berpikir anda dan mengatur masa depan anda lebih baik.”
Kedelapan statregi berikut ini dapat mendorong cara berpikir anda lebih produktif daripada reproduktif untuk memecahkan masalah-masalah. “Strategi-strategi ini pada umumnya ditemui pada gaya berpikir bagi orang-orang yang jenius dan kreatif di ilmu pengetahuan, kesenian, dan industri-industri sepajang sejarah.”
1. Lihatlah persoalan anda dengan berbagai cara yang berbeda dan cari perspektif baru yang belum pernah dipakai oleh orang lain (atau belum diterbitkan!)
Leonardo da Vinci percaya bahwa untuk menambah pengetahuan tentang suatu masalah dimulai dengan mempelajari cara menyusun ulang masalah tersebut dengan berbagai cara yang berbeda. Ia merasa bahwa pertama kali melihat masalah itu terlalu prubasangka. Seringkali, masalah itu dapat disusun ulang dan menjadi suatu masalah yang baru.
2. Bayangkan!
Ketika Einstein memikirkan suatu masalah, ia selalu menemukan bahwa perlu untuk merumuskan persoalannya dalam berbagai cara yang berbeda-beda yang masuk akal, termasuk menggunakan diagram-diagram. Ia membayangkan solusi-solusinya dan yakin bahwa kata-kata dan angka-angka tidak memegang peran penting dalam proses berpikirnya.
3. Hasilkan! Karakteristik anak jenius yang membedakan adalah produktivitas.
Thomas Edison memegang 1.093 paten. Dia memberikan jaminan produktivitas dengan memberikan ide-ide pada diri sendiri dan asistennya. Dalam studi dari 2.036 ilmuwan sepanjang sejarah, Dekan Keith Simonton, dari University of California di Davis, menemukan bahwa ilmuwan-ilmuwan yang dihormati tidak hanya menciptakan banyak karya-karya terkenal, tapi banyak yang buruk. Mereka tidak takut gagal, atau membuat kesalahan besar untuk meraih hasil yang hebat.
4. Buat kombinasi-kombinasi baru. Kombinasikan, and kombinasikan ulang, ide-ide, bayangan-bayangan, and pikiran-pikiran ke dalam kombinasi yang berbeda, tidak peduli akan keanehan atau ketidakwajaran.
Keturunan hukum-hukum yang menjadi dasar ilmu genetika modern berasal dari pendeta Austria, Grego Mendel, yang mengkombinasikan matematika dan biologi untuk menciptakan ilmu pengetahuan baru.
5. Bentuklah hubungan-hubungan; buatlah hubungan antara peroalan-persoalan yang berbeda
Da Vinci menemukan hubungan antara suara bel dan sebuah batu yang jatuh ke dalam air. Hal ini memungkinkan Da Vinci untuk membuat hubungan bahwa suara mengalir melalui gelombang-gelombang. Samuel Morse menciptakan stasiun-stasiun penghubung untuk tanda-tanda telegraf ketika memperhatikan stasiun-stasiun penghubung untuk kuda-kuda.
6. Berpikir secara berlawanan.
Ahli ilmu fisika Niels Bohr percaya bahwa jika andamemegang pertentangan secara bersamaan, kemudian anda menyingkirkan pikiran anda dan akal anda bergerak menuju tingkatan yang baru. Kemampuannya untuk membayangkan secara bersamaan mengenai suatu partikel dan suatu gelombang mengarah pada konsepsinya tentang prinsip saling melengkapi. Dengan menyingkirkan pikiran (logis) dapat memungkinkan akal anda untuk menciptakan sesuatu yang baru.
7. Berpikir secara metafor.
Aristotle menganggap metafora sebagai tanda yang jenius, dan percaya bahwa individual yang memiliki kapasitas untuk menerima persamaan antara dua keberadaan yang berbeda dan menghubungkannya adalah individual yang punya bakat kusus.
8. Persiapkan diri anda untuk menghadapi kesempatan.
Bilamana kita mencoba sesuatu dan gagal, kita akhirnya mengerjakan sesuatu yang lain. Hal ini adalah prinsip pertama dari kekreatifan. Kegagalan dapat menjadi produktif hanya jika kita tidak terfokus pada satu hal sebagai suatu hasil yang tidak produktif. Sebaliknya, menganalisa proses, komponen-kompnen dan bagaimana anda dapat mengubahnya untuk memperoleh hasil yang lain. Jangan bertanya, ?Mengapa saya gagal?? melainkan ?Apa yang telah saya lakukan??
MENGAWETKAN TAHU TANPA FORMALIN
Oleh :
Ir. Sutrisno Koswara, MSi
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor
Seperti kita ketahui, tahu bersifat mudah rusak (busuk). Disimpan pada kondisi biasa (suhu ruang) daya tahannya rata-rata 1 – 2 hari saja. Setelah lebih dari batas tersebut rasanya menjadi asam lalu berangsur-angsur busuk, sehingga tidak layak dikonsumsi lagi. Akibatnya banyak usaha yang dilakukan produsen tahu untuk mengawetkannya, termasuk menggunakan bahan pengawet yang dilarang, misalnya formalin.
Penyebab mengapa tahu mudah rusak adalah kadar air dan protein tahu tinggi, masing-masing 86 persen dan 8 – 12 persen. Disampang kandungan lemak 4.8 persen dan karbohidrat 1.6 persen. Kondisi ini mudah mengundang tumbuhnya jasad renik pembusuk, terutama bakteri.
Dengan maraknya penggunaan formalin sebagai pengawet tahu, maka dirasakan perlu untuk mencari alternatif lain yang aman untuk mengawetkan tahu. Cara mengawetkan tahu dengan cara yang aman, mudah dan murah perlu diketahui oleh masyarakat luas. Disamping itu diperlukan juga pengetahuan tentang cara memilih dan menyimpan tahu yang baik.
Tahu dan Formalin
Sejak tahun akhir tahun 70-an sampai akhirnya sekarang ramai lagi, beberapa produsen dan pedagang tahu di kota-kota besar diduga mengawetkan tahunya dengan formalin. Pengawetan tahu atau bahan pangan lain dengan formalin dilarang di negara kita dan banyak negara-negara lain. Jika formalin termakan dalam jumlah banyak, mulut dan kerongkongan akan terasa sakit, sukar menelan, ,ual dan muntah, sakit perut dan mencret berdarah.
Formalin adalah nama dagang untuk larutan formaldehida 36 – 40%. Zat ini merupakan desinfektan yang sangat kuat, dapat membasmi berbagai macam bakteri pembusuk dan jamur, juga dapat mengeraskan jaringan tubuh. Benda yang diawetkan dengan formalin dapat tahan lama disimpan. Di bidang kedokteran dan biologi, larutan formalin 5 – 10 % digunakan sebagai pembunuh kuman dan bahan pengawet tubuh atau bagian-bagian tubuh, sehingga sekarang terkenal dengan sebutan bahan pengawet mayat. Pada kadar 0,5 % formalin digunakan untuk mencuci luka.
Seperti halnya bahan pangan yang lain, tahu akan menjadi awet sampai seminggu atau lebih jika direndam dalam larutan formalin, tanpa perlu disimpan di lemari es. Tahu akan menyerap formalin, dan formalin itu tidak hilang setelah tahu digoreng atau direbus. Tahu yang telah direndam dengan formalin teksturnya menjadi kompak dan keras. Kadar airnya lebih sedikit. Adanya formalin dalam tahu, selain dapat dilihat dari teksturnya yang menjadi keras, juga dapat diketahui dari baunya.
Meskipun dilarang, kemungkinan penggunaan formalin sebagai pengawet tahu oleh orang yang tak bertanggung jawab selalu ada. Untuk mengetahui apakah tahu diawetkan dengan formalin atau tidak, caranya mudah saja. Jika membeli tahu, periksalah apakah ada bau aneh yang berbeda dengan aroma tahu biasa (yaitu bau khas atau langu dari kedelai). Periksa juga apakah tahu lebih kompak atau keras dari tahu yang biasa kita kenal. Tahu yang pernah direndam dengan formalin, kurang berair disbanding tahu biasa. Di laboratorium, pemeriksaaan adanya formalin dalam tahu secara kimiawi, dapat dilakukan dengan mudah.
Memilih dan Menyimpan Tahu
Hal-hal yang penting diperhatikan pada waktu membeli tahu antara lain adalah : Pertama usahakan membeli tahu yang sebaru mungkin setelah dibuat, karena tahu yang masih segar mempunyai bau dan cita rasa terbaik. Kemungkinan besar hal ini dapat diperoleh jika kita membeli tahu sepagi mungkin. Di Jepang, hampir semua tahu dijual dalam waktu satu hari setelah dibuat. Juga, di negara-negara Barat juga sebagian besar dijual dalam keadaan segar menggunakan wadah yang mempunyai cap batas pemakaian. Kebanyakan toko-toko tahu di Jepang dan Amerika membuat tahu pada jam 2 dini hari, sehingga tahu segar dapat diperoleh pada pagi harinya.
Langkah pertama adalah melihat warnanya. Hindari tahu yang kemungkinan memakai pewarna buatan yang terlihat mengkilap atau warnanya mencorong tajam. Tahu yang diberi pewarna alami seperti kunyit berwarna kuning buram, tidak mencorong atau mengkilap. Juga perhatikan kekerasan tahu. Jika tahunya mempunyai kekerasan normal tandanya masih baik, sedangkan jika terlalu keras kemungkinan sudah dijual lebih dari satu hari (direbus lagi) atau diberi pengawet yang dilarang, misalnya formalin.
Sebaiknya tahu disimpan dalam lemari es dengan suhu tetap, tetapi dijaga jangan sampai membeku. Sebelum ditaruh dalam lemari es, jangan direndam dulu dengan air panas. Tahu yang dibeli dalam kantong plastik biasanya diberi air perendam yang jumlahnya masih kurang (tidak terendam semua). Jika akan disimpan, buang air tersebut lalu taruh tahu dalam wadah atau mangkok dan diberi air baru sampai terendam semua dan simpan dalam lemari es dalam keadaan tertutup.
Mengawetkan Tahu tanpa Formalin
Sebenarnya, tahu dapat diawetkan dengan cara yang sederhana, mudah dilakukan dan dengan bahan pengawet yang mudah diperoleh, aman atau diizinkan penggunannya serta harganya yang cukup murah. Berikut ini diuraikan beberapa cara pengawetan tersebut :
Perendaman dalam larutan kalium sorbat.
Mula-mula rebus air sampai mendidih dan buat larutan kalium sorbat 0.3 persen dengan air tersebut. Tahu dicuci dengan air matang dan dimasukkan ke dalam kantong plastik. Lalu masukkan larutan kalium sorbat di atas sampai semua tahu terendam dan ditutup rapat menggunakan siller. Dengan cara ini tahu dapat disimpan pada suhu kamar dengan daya awet 7 – 8 hari.
Perendaman dalam larutan garam.
Buat larutan garam 5 persen dengan menggunakan air matang. Tahu dicuci dan direbus selama 3 menit. Dalam kedaan panas masukkan tahu dalam larutan garam. Cara ini dapat mengawet tahu selama 5 hari.
Perendaman dalam campuran larutan kunyit dan jeruk nipis.
Kunyit dicuci dan ditumbuk sampai halus, lalu buat larutan kunyit 3 persen menggunakan air matang, kemudian disaring. Tambahkan air jeruk nipis sehingga pH larutan menjadi 3.5 – 4. Tahu dicuci lalu direbus selama 3 menit dan direndam ke dalam larutan di atas sampai seluruh permukaannya terendam. Metode ini dapat mengawetkan tahu selama 3 hari.
Perendaman dalam larutan air matang.
Mula-mula tahu dicui dan ditiriskan. Kemudian direndam dalam air mendidih sampai betul-betul terendam. Lakukan penggantian air panas baru setiap 24 jam, dengan cara ini tahu tahan disimpan selama 5 hari.
Perendaman dalam campuran sari jeruk lemon dan garam dapur.
Buat larutan sari jeruk lemon 10 persen dan tambahkan larutan garam dapur sebanyak 4 persen. Rendam tahu ke dalam larutan di atas dalam wadah plastik. Metode ini dapat mengawetkan tahu selama 10 hari.
Adopted by @_pararaja
MENGENAL OBAT TRADISIONAL; BUAH MERAH
Buah merah pada akhir-akhir ini menjadi sangat populer karena terbukti mempunyai kemampuan menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Sebelumnya buah merah hampir tidak pernah terdengar. Banyak orang yang tidak tahu mengenai buah merah menanyakan tentang buah tersebut. Di sini kami memberikan sedikit informasi mengenai buah merah.
Buah merah pada umumnya tumbuh di tanah Papua. Di Papua, populasi buah merah terbanyak berada di pegunungan Jayawijaya. Di dataran rendah juga dapat ditemukan buah merah, tapi populasinya hanya sedikit. Masyarakat Papua sudah mengenal baik buah merah. Mereka sering mengkonsumsi buah merah untuk menambah stamina dan tenaga. Selain itu buah merah dikonsumsi pada upacara-upacara adat.
Buah merah masih satu keluarga dengan pandan. Tanaman ini, yang di Wamena umumnya disebut sauk eken, mempunyai nama ilmiah Pandanus conoideus. Terdapat sekitar 14 jenis buah merah di Papua. Keempat belas jenis buah merah ini mempunyai perbedaan pada bentuk, berat dan warna buahnya.
Di habitat aslinya, buah merah tumbuh baik di dataran rendah (40 m dpl) sampai dataran tinggi (2.000 m dpl). Namun populasi terbanyak terdapat di dataran dengan ketinggian 1.200 hingga 2.000 m dpl. Buah merah biasa tumbuh bergerombol dalam satu area, jarang tumuh menyendiri. Buah merah tumbuh di daerah dengan suhu di bawah 17 derajat Celcius dengan curah hujan rata-rata 186 mm per bulan dan jumlah penyinaran matahari 57% dan tekanan udara rata-rata 896 mb.
Buah merah sudah secara turun-temurun dikonsumsi oleh masyarakat Papua sebagai penambah energi dan daya tahan tubuh. Walaupun demikian, secara ilmiah khasiat buah merah baru diteliti oleh Drs. I Made Budi, MSi dari Universitas Cendrawasih. Menurutnya, buah ini mengandung zat-zat alami yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Diantaranya adalah karotenoid, betakaroten, alfa tokoferol, asam oleat, asam linoleat, asam linolenat dan dekanoat. Selain itu, buah merah mengandung banyak kalori untuk menambah energi, kalsium, serat, protein, vitamin B1, vitamin C dan nialin.
Kandungan gizi buah merah tergantung lokasi penanamannya. Buah merah yang tumbuh di daerah yang tinggi umumnya mempunyai kandungan gizi yang lebih kaya dibandingkan dengan buah merah yang tumbuh di daerah yang lebih rendah.
Khasiat Buah Merah
1. AIDS
Walaupun para ahli telah bertahun-tahun mencoba membuat obat untuk menyembuhkan AIDS tetap saja obatnya masih belum ditemukan. Mungkin Anda sendiri merasa tidak percaya mengenai khasiat buah merah yang satu ini. Namun khasiat buah merah untuk menyembuhkan AIDS sudah terbukti. Salah satu seorang yang terbebas dari cengkeraman kematian akibat AIDS adalah Agustina Sawery. Agustina Sawery sempat menurun berat tubuhnya dari 50 kg menjadi 27 kg. Ia mengalami infeksi anus, gangguan fungsi hati, mulut bercendawan dan infeksi paru-paru.
Nampaknya Agustina tinggal menunggu jam kematiannya. Maka dia datang kepada Drs I Made Budi MS.Saat itu Made sudah dikenal luas di Papua lantaran kerap mengobati penyakit seperti kanker dengan ekstrak buah merah. Kemudian Agustina diberikan ekstrak buah merah yang dikonsumsi tiga kali sehari.
Sejak mengkonsumsi buah merah keadaannya mulai membaik. Berat badannya yang sempat turun sampai menjadi 27 kg mulai meningkat menjadi 46 kg. Kulitnya yang semua busik menjadi mulus kembali. Rambutnya yang sempat rontok mulai tumbuh lagi. Agustina menjadi jauh lebih bugar.
Dikabarkan bahwa kemampuan buah merah menyembuhkan AIDS adalah karena buah merah mengandung tokoferol dan betakaroten yang sangat tinggi. Kedua kandungan ini berfungsi sebagai antioksidan dan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Tokoferol dan betakaroten akhirnya berkombinasi untuk memecah asam amino yang dibutuhkan oleh virus penyebab AIDS, HIV, sehingga virus tersebut tak dapat melangsungkan hidupnya.
2. Kanker dan Tumor
Khasiat lain buah merah adalah mengobati kanker dan tumor. Kanker dan tumor tak diragukan lagi merupakan salah satu penyebab kematian terbesar. Disebabkan oleh apa kanker dan tumor itu? Penyakit ini disebabkan oleh ketidakteraturan hormon dalam tubuh yang menyebabkan tumbuhnya daging di jaringan tubuh normal.
Buah merah dapat mengobati kanker karena kandungan tokoferolnya sangat tinggi, yaitu mencapai 11.000 ppm dan betakarotennya mencapai 7.000 ppm. Kedua senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta mencegah pembiakan sel-sel kanker.
3. Stroke dan Darah Tinggi
Stroke disebabkan oleh darah yang membeku dan penyempitan pembuluh darah. Salah satu penyebab penyakit ini adalah darah tinggi. Tekanan darah tinggi menyebabkan penggumpalan darah sehingga pembuluh darah menyempit, akibatnya supplai darah berkurang. Lebih dari itu, pembuluh darah bisa pecah. Penyakit ini, bila tidak menyebabkan kematian, dapat menyebabkan kelumpuhan anggota badan. Darah tinggi sendiri disebabkan oleh kerja jantung yang memompa darah terlalu cepat.
Hal ini salah satunya disebabkan oleh karena darah kekurangan oksigen atau oksigen yang terlalu kental. Buah merah mengandung tokoferol yang dapat mengencerkan darah dan memperlancar sirkulasi darah sehingga kandungan oksigen dalam darah menjadi normal.
4. Asam Urat
Asam urat dsebabkan karena terganggunya fungsi lever sehingga lever memproduksi asam urat secara berlebihan. Asam urat akhirnya tertampung di dalam ginjal menjadi batu dan dibawa ke ujung-ujung jari tangan dan kaki serta mengumpul di sana. Tokoferol dalam buah merah mengencerkan darah dan memperbaiki sistem kerja lever. Sistem kerja lever, setelah diperbaiki, memproduksi kadar asam urat yang normal.
5. Diabetes Mellitus (Kencing Manis)
Penyakit ini disebabkan karena kelenjar pankreas tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang memadai. Akibatnya, kandungan gula dalam darah meningkat. Kandungan tokoferol dalam buah merah memperbaiki kerja pankreas sehingga fungsi pankreas menjadi normal kembali.
6. Osteoporosis
Disebabkan pengeroposan tulang, osteoporosis disebabkan oleh kekurangan kalsium. Penyakit ini umumnya menyerang mereka yang sudah berusia senja. Buah merah kaya akan kalsium sehingga dapat mencegah dan mengobati osteoporosis. Dalam 100 gram buah merah segar terkandung 54.000 miligram kalsium.
7. Gangguan Mata
Kandungan betakaroten yang tinggi dalam buah merah dapat mengatasi banyak jenis penyakit mata yang disebabkan kekurangan vitamin A. Betakaroten diserap oleh tubuh dan diolah menjadi vitamin A.
8. Meningkatkan Kecerdasan
Kandungan omega 3 dan omega 6 dalam buah merah dapat merangsang daya kerja otak dan meningkatkan kecerdasan. Oleh karena itu buah merah cocok untuk dikonsumsi oleh anak-anak.
9. Meningkatkan Gairah dan Kesuburan
Buah merah, menurut mereka yang mengkonsumsinya, dapat membantu meningkatkan gairah seksual kaum pria. Efek pengobatan bervariasi, ada yang bereaksi setelah 15 menit meminumnya, ada juga yang setelah satu atau dua jam meminumnya. Vitamin E dalam buah merah membantu meningkatkan produksi sperma. Selain itu, buah merah mengandung energi tinggi, yaitu 360 kalori. Selain khasiat-khasiat yang telah disebutkan di atas, buah merah dikabarkan dapat juga mengobati penyakit lambung, wasir, gangguan pada paru-paru dan sebagainya.
Adopted by @_pararaja from www.selera-kita.nl
Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong?
By : achmad faisol
e. Ibadah
Setan memang musuh kita yang nyata. Kalau kita ahli ibadah sekalipun, takkan luput dari godaannya. Apabila kita sebagai ‘âbid (ahli ibadah) sampai terjangkit penyakit sombong, maka dalam urusan dunia, kita menganggap bahwa orang-orang yang bersilaturrahim kepada kita lebih baik daripada kepada yang lain. Kita berharap orang-orang memenuhi segala kebutuhan kita, menghormati dan memberikan tempat khusus kepada kita dalam setiap pertemuan. Kalau kita membeli sesuatu, kita juga ingin dilayani terlebih dahulu tanpa harus antri, karena kita merasa kita adalah orang terhormat yang harus diutamakan. Kita merasa berhak mendapatkan diskon yang lebih besar dibandingkan semua orang. Kita juga menginginkan untuk lebih diutamakan dalam bermacam-macam pembagian, termasuk sedekah. Hal ini karena kita menganggap bahwa ibadah kita telah diterima oleh-Nya dan memberikan rahmat bagi semua orang.
Bahkan, yang lebih memalukan lagi adalah kita menyebutkan dalam setiap pertemuan bahwa kita ahli ibadah. Kita akan berkata, “Tidak tahukah Anda bahwa saya seorang Ustadz? Seorang Kyai? Asy-Syaikh, al-Hâjj, al-‘Âlim, al-‘Allâmah, al-Hâfizh, al-Faqîh, al-Fâdhil, al-‘Âbid, al-‘Ârif dan gelar-gelar yang lain?”
Sedangkan dalam urusan akhirat, kita akan menganggap orang-orang akan mendapat siksa Allah kecuali diri kita dan orang-orang yang patuh serta tunduk pada kita—para jamaah kita. Wal ‘iyâdzu billâh. Marilah kita tanamkan benar-benar pada diri kita sabda Rasulullah :
إِذَا سَمِعْـتُمُ الرَّجُلَ يَقُوْلُ هَلَكَ النَّاسُ هُوَ أَهْلَـكُهُمْ
Apabila kalian mendengar seseorang berkata, “Orang-orang akan binasa,” maka sesungguhnya dialah yang paling binasa daripada mereka. (HR Muslim)
كَفَى بِالْمَرْءِ شَرًّا أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْـلِمُ
Cukuplah dikatakan buruk akhlaknya ketika ia menghina (merendahkan) saudara sesama muslim. (HR Muslim)
Apakah kita belum mengerti juga bahwa kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok, lusa apalagi masa depan? Ataukah kita merasa diri kita mukâsyafah? Mengetahui apa yang belum terjadi? Ngerti sak durunge winarah? Siapa yang bisa menjamin kita akan husnul khâtimah? Apakah kita berani mengatakan bahwa kita pasti masuk surga? Memangnya siapa yang menjamin hal itu?
Dalam kitab “Al-Mawâ‘izh al-‘Ushfûriyyah” dikisahkan bahwa pada suatu malam di bulan Rajab, Rasulullah saw. pergi ke masjid dan mendengar Abu Bakar ra. menangis dengan tangisan sedih ketika membaca ayat,
إِنَّ اللهَ ٱشْـتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالهَـُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَـنَّةَ
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (QS at-Taubah [9] : 111)
Keesokan paginya Rasulullah bertanya kepada Abu Bakar,
“Yâ Abâ Bakrin, lima bakayta fî hâdzihil âyah? (Wahai Abu Bakar, mengapa engkau menangis ketika membaca ayat ini?)” Kemudian beliau membaca ayat yang dimaksud.
“Bagaimana saya tidak menangis. Allah benar-benar membeli jiwa-jiwa para hamba-Nya. Bagaimana jika Allah menemukan pada diri saya terdapat aib? Sebagaimana layaknya jual-beli, apakah Allah tidak akan mengembalikan saya ke neraka? Karena itulah saya menangis,” jawab Abu Bakar.
Umar bin Khaththab ra., seorang sahabat Nabi yang hidup zuhud dan benar, pernah bertanya kepada Hudzaifah—seorang sahabat yang ahli dalam ilmu kemunafikan. Umar berkata,
“Demi Allah, aku bertanya kepadamu wahai, Hudzaifah! Apakah Rasulullah menyebutku munafik?”
“Subhânallâh! Andaikata Umar disebut munafik, lalu siapa orang yang beriman. Tidak, demi Allah. Rasul tidak menyebutmu munafik,” jawab Hudzaifah.
Tidakkah kita malu pada diri sendiri mendengar kisah-kisah tersebut? Sahabat Nabi, Abu Bakar ra. saja masih merasa bahwa di dalam dirinya terdapat aib, kuatir ibadah beliau tidak sempurna. Beliau takut kalau Allah tidak menempatkannya di surga, tapi di neraka, padahal Rasulullah telah bersabda :
لَوْ وُزِنَ إِيْمَانُ أَبىِ بَكْرٍ بِإِيْماَنِ الْعَالَمِ لَرَجَحَ
Kalau iman Abu Bakar ditimbang dengan keimanan penghuni dunia, niscaya iman Abu Bakar lebih berat. (HR Baihaqi)
Begitu juga dengan diri Umar bin Khaththab ra. Memangnya diri kita siapa, kok berani-beraninya sombong karena ibadah kita? Kita ini bukan sahabat Nabi, bukan pula tâbi‘în (murid-murid para sahabat Nabi), juga bukan tâbi‘ut tâbi‘în. Kita bukanlah salafush shâlih. Bahkan kita pun tidak layak disebut ulama. Pantaskah kita menyombongkan ibadah kita yang tidak seberapa itu? Pernahkan kita menangis dan menguatirkan diri atas keimanan dan keislaman kita? Kitalah yang sebenarnya lebih pantas menangis dibandingkan Abu Bakar ra. Kita jugalah yang seharusnya kuatir, bukannya Umar bin Khaththab ra. Beliau berdua adalah sahabat-sahabat Nabi pilihan, termasuk Khulafâ’ ar-Râsyidîn al-Mahdiyyîn.
Suatu ketika seseorang datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal dan memujinya, maka beliau pun berkata pada orang itu,
“Demi Allah, aku membencimu karena perkataan itu. Demi Allah, kalau saja kau mengetahui dosa-dosaku, pasti kau akan menaburkan tanah di atas kepalaku!”
Lihatlah Imam Ahmad, lihatlah hamba Allah ini!
Hatim al-Asham—seorang ulama yang telah tertanam dalam dirinya sifat rendah hati—menasihatkan,
“Jangan sombong karena memperoleh tempat yang baik. Tidak ada tempat yang lebih baik melebihi surga. Oleh karena itu, wajar bagi Nabi Adam as. ingin berjumpa dengan sesuatu yang pernah dijumpai.
Jangan sombong karena banyaknya ibadah, sebab Iblis setelah lama beribadah ternyata tersingkir dari surga.
Jangan sombong karena banyaknya ilmu, sebab Bal‘am yang selalu mengagungkan nama Allah Yang Maha Agung ternyata mati kafir.
Jangan sombong karena bisa bergaul dengan orang-orang baik dan hebat, sebab tak seorang pun lebih hebat daripada Nabi Muhammad saw.”
Siapakah Hatim? Mengapa ia dijuluki al-Asham (orang tuli)?
Nama lengkapnya Abu Abdurrahman Hatim bin Alwan (wafat pada tahun 237 H/751 M). Dia termasuk tokoh guru besar (syaikh) Khurasan, murid Syaikh Saqiq, guru Ahmad bin Khadrawaih. Hatim dijuluki al-Asham bukan karena ia tuli, tetapi pernah sekali ia berpura-pura tuli karena menjaga kehormatan seseorang sehingga ia dijuluki demikian.
Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq bercerita tentangnya, “Seorang wanita datang kepada Hatim. Ia bermaksud menanyakan sesuatu kepadanya. Namun, di tengah mengutarakan pertanyaannya, wanita itu tiba-tiba buang angin sehingga membuatnya merasa malu. Hatim tahu apa yang berada di balik perasaan tamunya. Dia tidak ingin tamunya bertambah malu karena suara buang angin yang didengarnya. Karena itu, dia mencoba menutupinya dengan berkata,
‘Keraskan suaramu!’
Dia berkata demikian karena berpura-pura tuli. Akibatnya, wanita itu senang dan tidak salah tingkah. Ia mengira Hatim tidak mendengar suara buang anginnya. Sejak saat itulah ia dijuluki al-Asham, Hatim yang tuli.”
Abu Hamid al-Ghazali memberi saran agar kita senantiasa rendah hati dalam hal amal kebaikan. Jika kita bertemu dengan orang yang lebih tua, katakanlah di dalam hati, “Orang ini lebih tua dari saya, pastilah amal ibadahnya lebih banyak dari saya. Allah jelas lebih memuliakan orang tua ini dibandingkan saya.”
Bila kita menjumpai orang yang lebih muda, maka kita dinasihati untuk berkata dalam hati, “Usia orang ini lebih muda dari saya, tentunya kemaksiatan dan dosa yang diperbuat lebih sedikit dari saya. Sungguh, dia lebih terhormat di sisi Allah daripada saya.”
Yang terakhir, tatkala kita melihat anak kecil yang belum baligh, maka berucaplah, “Anak ini belum punya dosa. Dia mendapat jaminan surga. Sedangkan saya, siapa yang akan menjamin saya masuk surga?”
Allah mengingatkan kita dengan firman-Nya :
فَلاَ تُزَكُّوْۤا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتـَّقىٰ
Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (QS an-Najm [53] : 32)
Janganlah kita memuji diri sendiri karena seorang pengkritik harus dapat melihat apa yang dikritiknya. Betapa aneh jika kita menilai diri sendiri suci, memberikan kesaksian atas kelebihan-kelebihan kita dan mengaku bersih dari segala macam aib. Alangkah naif apabila kita menceritakan kebaikan dan pujian terhadap diri kita di hadapan manusia dan Tuhan.
Orang yang mengatakan diri sendiri suci sesungguhnya justru berada pada posisi terdakwa dan disangsikan. Hal ini karena manusia menurut tabiatnya zhalim dan bodoh, mencintai diri sendiri dan mengagumi sifat-sifatnya. Jika tabiat ini diperlihatkan di depan umum, maka itu pertanda lemahnya takwa dan dangkalnya pengetahuan. Apa alasan yang menjadikan kita mengakui diri sendiri suci, padahal kita berada di antara karunia yang belum disyukuri dan dosa yang belum diampuni, juga di antara kesalahan yang disembunyikan dan aib yang ditutupi oleh Tuhan kita?
Ibnu Athaillah berpesan,
اِدْفِنْ وُجُوْدَكَ فِيْ أَرْضِ الْخُمُوْلِ فَمَا نَبَتَ مِمَّا لمَ ْ يُدْفَنْ لاَ يَتِمُّ نَتَاجُهُ
“Tanamlah wujud dirimu pada tanah yang dalam, karena suatu tanaman tidak akan tumbuh apabila ia tidak ditanam.”
“Tidak ada amal perbuatan yang lebih berbahaya dari keinginan beramal agar termasyhur. Keinginan agar terkenal sebagai ahli ibadah, apalagi diikuti dengan kehendak lain yang bukan ibadah, akan membawa si hamba menjadi angkuh dan lupa diri. Di saat tertentu musuh manusia yang bernama Iblis akan dengan mudah merasuk ke dalam hati anak Adam yang kelak dapat menghancurkan diri dan imannya. Beramal ibadah untuk mencari kemasyhuran ibarat menanam benih tidak di tanah yang dalam, tidak akan menumbuhkan hasil yang baik karena akan mudah goyah dan roboh,” lanjut Ibnu Athaillah.
Agar tidak menyombongkan ibadah kita, para ulama berpesan sebaiknya kita melihat kekurangan diri sendiri, sebagaimana pesan al-Ghazali di atas. Namun, hal ini memang membutuhkan perjuangan lebih keras. Sebagaimana kata pepatah, “Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak jelas.”
Sa‘id Hawwa dalam bukunya “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, berpesan agar kita senantiasa melihat dan mencari aib diri sendiri. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan para “musuh” kita (orang yang tidak senang pada kita), karena kebencian mengungkapkan segala keburukan. Mungkin kita dapat lebih mengambil manfaat dari mereka yang memberitahukan aib kita, daripada manfaat yang dapat diambil dari seorang teman yang terkadang suka berbasa-basi, menyanjung, memuji dan menyembunyikan kekurangan kita. Namun, jika teman kita benar-benar seorang teman sejati, biasanya dia pun akan melakukan kritik terhadap tingkah laku kita yang kurang baik.
Hanya saja, tabiat manusia cenderung tidak mempercayai musuh dan menilai pernyataannya sebagai kedengkian. Akan tetapi, jika kita memang berusaha menjaga diri, kita bisa mengambil manfaat dari perkataan orang yang membenci kita, karena keburukan-keburukan kita pasti tersebar melalui omongan mereka. Seorang penyair berkata :
عَيْنُ الرِّضَى عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ لـٰكِنْ عَيْنُ السُّخْطِ تَبْدِي الْمَعَايِبَا
Mata keridhaan tak dapat menyaksikan berbagai aib
Tetapi mata kebencian menampakkan segala keburukan
Seorang konsultan bisnis dan motivator, Drs. Mario Teguh, MBA— dikenal juga dengan inisial MT—menasihatkan bahwa ada orang yang seharusnya lebih dekat daripada sahabat kita. Siapakah dia? Dialah “musuh” atau orang yang membenci kita. Dengan menempelkan telinga kita lebih dekat kepada mereka, kita akan mengetahui lebih dulu kekurangan-kekurangan kita sebelum mereka menyebarkannya kepada orang lain. Dengan demikian, ketika berita tentang kekurangan kita disebarkan ke banyak orang, kita sudah memperbaiki diri. Semua orang tidak akan menemukan kebenaran pada cerita yang mereka dengar. (Bersambung).
Mengapa Harus Syariah ?
Ada pertanyaan menarik setiap kali konsep-konsep syariah (baca: Islam) dilontarkan dalam berbagai kesempatan. Bahkan pertanyaan ini (jika tidak salah ingat) pernah juga menjadi dialog yang berkepanjangan di salah satu milist para peminat ekonomi syariah di Indonesia. Pertanyaan itu adalah, “Mengapa harus syariah ?”.
Ya, mengapa harus syariah ? Sebagian orang mungkin akan berkomentar. Toh tanpa syariah, ekonomi kita dan bangsa ini bisa berjalan dengan baik. Lihatlah data yang dilansir oleh berbagai media yang bersumber dari pemerintah. Angka pertumbuhan positif mencapai 6,3%, laju inflasi mampu ditekan sampai pada 6,25%, suku bunga rata-rata 8,0%, nilai tukar rupiah rata-rata Rp.9.135,- per USD, cadangan devisa sebesar 52,8 miliar USD, IHSG berhasil menembus level psikologis 2.000. Pertumbuhan itu juga diikuti dengan turunnya tingkat pengangguran terbuka sebesar 384 ribu dibanding tahun 2006, serta turunnya angka kemiskinan sebesar 2,13 juta dibandingkan tahun 2006. Semuanya menunjukkan, tanpa perlu syariah, ekonomi dan bisnis di negeri ini bahkan dunia bisa ‘menghidupi’ semua umat manusia.
Tidak jarang, ada pula orang yang menganggap bahwa sistem ekonomi termasuk di dalamnya bisnis yang sekarang (baca: kapitalis-liberal) dan banyak diadopsi orang, perusahaan dan berbagai negara ini adalah konsep terbaik. Final ! Khususnya mereka yang banyak mendapatkan kenyamanan (comfort) dalam sistem ini. Barangkali tidak salah, apa yang dikatakan Rhenald Kasali dalam bukunya “Change!”.Intinya dikatakan, “Awalnya seseorang membuat sistem (mekanisme tertentu). Namun berikutnya ia sendiri terjebak dalam sistem itu, hingga ia tidak mampu untuk berubah meski ke arah yang lebih baik”. Sindiran ini bisa jadi, sadar atau tidak kita lakukan juga. Termasuk saat ini, saat didera oleh berbagai krisis kehidupan.
Baiklah, saya akan coba ajukan beberapa pandangan, mengapa harus syariah. Dan benarkan ini sebuah alternatif yang lebih baik ?
Pertama. Kenyataan saat ini, menunjukkan bahwa praktek ekonomi (juga bisnis) kapitalis-liberal telah membuat kesenjangan yang begitu besar antar si kaya dan si miskin. Kesempatan berbisnis hanya dimiliki oleh mereka yang punya modal kapital besar dan tega melakukan apapun. Dengan asas kebebasannya (liberal), apapun bisa dibisniskan yang penting untung dan untung ! Salah satunya contohnya adalah praktek riba. Praktek inilah yang membuat banyak investor lebih senang bisnis di sektor non riil dibanding sektor riil. Akibatnya perputaran modal yang seharusnya akan menghasilkan produksi barang/jasa dan akhirnya mendorong terjadinya pembukaan lapangan kerja yang luas menjadi mandul. Belum lagi di praktek pasar saham, pasar uang dan sejenisnya.
Kenyataan data diatas (data dari pemerintah), ternyata tidak sama dengan kenyataan di lapangan. Tidak bisa dipungkiri, masyarakat saat ini merasakan betapa mahalnya harga-harga kebutuhan pokok, minyak dan gas (BBM). Begitu pula dengan biaya kesehatan dan pendidikan yang semakin tidak terjangkau. Kesempatan pengembangan bisnis yang hanya bisa dirasakan oleh sekelompok elit pengusaha, sementara sebagian besar cukup dimasukkan dalam unit usaha yang kecil-kecil. Pemberlakuan pajak yang tidak pandang bulu. Padahal (kalau mau jujur) apa peran pemerintah terhadap pengembangan usaha mereka?
Kedua. Secara empiris, dan dibandingkan secara fair antara sistem ekonomi saat ini (yang sedang berjaya) dan saat sistem Islam juga pernah berjaya dan diterapkan (sejarah mengatakannya dengan istilah Khilafah Islamiyah), maka akan nampak bahwa syariah terbukti telah mampu menyejahterakan umat manusia. Diterapkannya mata uang emas dan perak (dinar dan dirham) terbukti tidak memunculkan masalah moneter (krisis moneter) seperti yang pernah dialami belahan dunia Selatan termasuk Indonesia pada tahun 1997/1998 lalu. Dan masalah moneter muncul manakala sistem sistem ini diganti– setelah PD II, dengan mata uang kertas yang berfungsi sebagai alat tukar sekaligus komoditas (diperjual belikan).
Ketiga. Secara historis tercatat, diterapkannya syariah dikehidupan masyarakat membuat mereka menjadi makmur. Salah satu contohnya yang mashur adalah saat Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah. Tidak ada satupun penduduknya di jazirah Arab yang mau menerima zakat lantaran semua menolaknya, karena mereka sudah hidup berkecukupan dan makmur. Padahal sebelumnya mereka hidup dalam kekurangan.
Keempat, keimanan (keyakinan spiritual). Keyakinan bahwa manusia adalah ciptaan Allah swt dan akan kembali kepada-Nya dengan sebuah pertanggungjawaban (yaumul hisab), secara pasti akan membuat manusia taat atas segala yang dilarang dan diperintahkan oleh-Nya. Keimanan pula yang membuat seseorang yakin akan janji-janji Allah sekaligus dampak buruk yang akan menimpanya akibat meninggalkan perintahnya atau melakukan apa yang dilarang-Nya.
Pendekatan keimanan meyakinkan kita pada beberapa hal :
a. Menerapkan syariah scr kaffah adalah wajib. [Lihat : Qs. 4: 65; Qs. 5: 44,45,47; Qs. 2: 108]
b. Dengan syariah muncul kebaikan. [Lihat Qs. 20: 123-126]
c. Mengabaikan syariah muncul keburukan. [Lihat Qs. 24: 63; Qs. 30: 41]
d. Mendapatkan Keberkahan Hidup. [Qs. 41: 10]
Kelima. Gunakan pikiran jernih dan terbuka terhadap kebenaran, maka akan nampak bahwa realitas mengharuskan adanya perubahan, dan syariah (jika dikaji dengan benar) insyaAllah merupakan alternatif satu-satunya. Seringkali seseorang menolak kebenaran yang didapatnya hanya karena faktor-faktor yang tidak esensial, meski dalam akal jernihnya hal itu benar. Hanya karena orang yang menyampaikan tidak memiliki latar belakang keilmuan dan pengalaman yang lebih baik dirinya–misalnya, kebenaran yang diketahuinya pun ditolak.
Sebagai penutup, mari kita renungkan firman Allah swt berikut ini :
“Maka demi Tuhan mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [TQS. An-Nisa’: 65]
Bagaimana ? Semoga bermanfaat.
Adopted by @_pararaja from http://beyblog.syafaatadvertising.net
Rancang Bangun Mesin Pengemas dan Rekayasa Teknologi Industri Tahu Kemas
Sudarminto S Yuwono, Harijono, Aji Sutrisno, Bambang Dwi Argo, dan Adam Wiryawan
Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Brawijaya
Permasalahan yang dihadapi dari industri tahu ialah tingginya limbah cair yang dihasilkan, rendahnya mutu limbah cair tersebut, dan rendahnya daya simpan tahu yang diperoleh. Pada penelitian ini permasalahan ini dipecahkan dengan menciptakan alat pengemas dan merekayasa teknologi industri tahu kemas (packet tofu). Banyak mesin pengemas yang telah beredar di pasaran yang menggunakan sistem ffs (forming, filling, sealing), tetapi harganya tidak terjangkau oleh sebagian besar industri tahu yang ada yang pada umumnya berupa industri rumah tangga. Selain itu teknologi tahu kemas sendiri yang berbeda dengan teknologi tahu reguler belum banyak dipublikasikan. Penelitian ini bertujuan menciptakan mesin kemas untuk industri tahu kemas dan paket teknologi industri tersebut yang berdaya simpan tinggi serta menghasilkan analisis finansialnya. Tujuan jangka panjangnya ialah berkembangnya industri tahu yang berwawasan lingkungan yang berupa industri tahu kemas, dan meluasnya jangkauan pemasaran tahu.
Penelitian dilakukan dalam 2 tahap: tahap pertama untuk rekayasa teknologi ekstraksi, penentuan jenis penggumpal, dan rancang bangun mesin pengemas sedangkan tahap kedua untuk proses penggumpalan, uji performansi mesin pengemas, dan analisis kelayakan usaha.
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa proses ekstraksi dengan nisbah kedelai:air 1:5 dapat digunakan untuk proses produksi tahu kemas. Tingkat kehalusan kain saring secara nyata menentukan persentase padatan terekstraksi dan penerimaan panelis. Pada tekanan 100 psi kain saring berukuran 60 dan 80 mesh kurang dapat diterima panelis, sedangkan kain saring 100 dan 110 mesh menghasilkan tahu yang dapat diterima konsumen. Tingkat pengepresan secara langsung juga menentukan persentase padatan terekstraksi. Penggunaan tingkat pengepresan dari 100, 150, 200, 250, dan 300 psi menunjukkan adanya peningkatan padatan terekstraksi. Pada tekanan 250 psi peningkatan padatan terekstraksi mulai menurun sehingga tekanan ini dapat dianggap sebagai tekanan optimum pengepresan. Selain itu pada tekanan 300 psi kain saring tidak tahan lagi menerima tekanan sehingga sobek.
Peningkatan kehalusan partikel bubur kedelai dengan cara penggilingan ulang bubur kedelai dan proses pembilasan ampas justru secara umum menurunkan persentase padatan dan protein terekstraksi. Dengan menggunakan proses tanpa penggilingan ulang dan tanpa pembilasan diperoleh hasil persentase padatan dan protein terekstraksi yang dapat diterima, yaitu 48.8-49.5% untuk padatan terekstraksi dan 74.6% untuk protein terekstraksi.
Kombinasi bahan penggumpal (batu tahu dengan GDL) menghasilkan sifat-sifat tahu yang lebih baik dibanding dengan satu jenis koagulan saja. Untuk parameter proses seperti pemulihan (recovery) padatan, pemulihan protein, dan bobot tahu, penggunaan satu jenis koagulan justru akan memberikan hasil terbaik. Parameter organoleptik (daya terima konsumen) merupakan parameter terpenting dalam menentukan produk terbaik. Perlakuan terbaik dari penentuan bahan penggumpal untuk semua parameter yang diamati ialah bahan penggumpal dengan kombinasi 60% GDL dan 40% batu tahu.
Kapasitas kerja mesin pengemas yang diciptakan ialah 180 tahu kemasan per jam dengan tingkat kerekatan kemasan yang tinggi yang ditunjukkan tanpa adanya kebocoran pada berbagai suhu dan lama pemanasan selama penyimpanan. Kombinasi terbaik pada lama dan kecepatan pengadukan ialah pengadukan 60 detik dan kecepatan 260 rpm. Suhu pemanasan yang dapat digunakan untuk proses penggumpalan dan memberikan hasil yang baik ialah 80-100oC. Perlakuan lama dan suhu pengemasan mempengaruhi sifat fisik, kimia, dan kandungan mikrob. Hasil uji organoleptik dan daya simpan menunjukkan rata-rata panelis menyukai tahu kemas yang dihasilkan. Warna, aroma, rasa, dan kenampakan tekstur disukai oleh panelis serta daya simpan dapat mencapai 28 hari. Hasil analisis BEP menunjukkan bahwa suku bunga bank sangat sensitif terhadap nilai BEP dan dengan demikian juga sangat menentukan harga jual yang layak bagi produk. Dengan harga minimum Rp4500/kg, atau Rp2250 per bungkus, pabrik bisa berjalan dengan layak sampai dengan tingkat suku bunga bank 50%. Kapasitas kerja pabrik normal ialah 96000 kg/tahun dan jam kerja 8 jam per hari, serta hari kerja efektif dalam satu tahun sebanyak 300 hari.
Adopted by @_pararaja from Hibah Bersaing VI
Hukum dan Perhitungan dalam Kimia
1. Hukum Bernoulli:
P1 + ? gh1+ 1/2 ? v1 = P2 + ? gh2+ 1/2 ? v2
P1 + ? gh1+ 1/2 ? v1 + (-Ws) + Fr = P2 + ? gh2+ 1/2 ? v2
Aplikasi untuk perancangan Pompa.
2. Larutan Ideal dan Gas Ideal
2.1 Larutan Ideal ( Hukum Roult) :
P1 = Puap . X1 (Suhu>> mk Puap >>)
2.2 Gas Ideal (Hukum Dalton):
P1 = PTotal . Y1
Keseimbangan Uap dan cair ditentukan oleh harga K = y1/x1 = Puap/Ptotal
Pada suhu dan tekanan yang tetap nilai K tetap. Ingat suhu akan mempengaruhi nilai Puap dan tekanan tentunya mempengaruhi Ptotal.
Aplikasi untuk Perancangan Destilasi
3. Mendidih dan Menguap
Suhu mempengaruhi Puap. Suatu (larutan) campuran A dan B memiliki tekanan uap PuapA dan PuapB :
Jika PuapA + PauapB = PLingkungan (Mendidih.)
Jika PuapA + PauapB > PLingkungan (Menguap)
4. Enthalpi (Panas tiap Satuan Mol Zat):
H298 = HP298 – HR298
Hreaksi = H298 + HR + HP
Hreaksi = H298 + ? CP ( Produk) dT+ ? CP ( Reaktan) dT
Q= n.HReaksi
5. Konversi , Selektifitas dan Yield :
5.1 Konversi = (Zat yg bereaksi)/(Zat yg diumpan ke Reaktor) x 100%
Menunjukkan Performa Reaktor
5.2 Selektifitas = (Produk akhir)/(Reaktan tg bereaksi) x Faktor Soikiometri
Menunjukkan Performa Unit Pemisah
5.3 Yield = (Produk Akhir)/(Reaktan yg diumpankan ke reaktor) x 100%
Menunjukkan Performa Seluruh Unit proses
6. Arhennius :
k = A . e -(E/(RT))
k= konstanta kecep. Reaksi
E = Energi aktifasi
A= Faktor Frekuensi
7. Kecepatan reaksi , r
7.1.Non Catalyitic
Jika A dan B adalah reaktan, maka
-r = k CAa . CBb, dimana satuan r tetap = mol/(dt . lt) sedangkan satuan k berubah-ubah sesuai dengan banyaknya variabel Consentrasi (mol/lt).Untuk 1 variabel C,mis CA saja,maka nilai k = 1/dt.
• Pada reaksi A + B ? > C, limiting A , (orde 1–sesuai ratio stoikiometri)
Untuk reaksi diatas : -rA = -dCA/ dt = -dCB / dt = k.CA.CB
–rA = CAo dXA/dt = k.CAo(1-XA) . (CBO-CAO.XA)
• Pada reaksi 2A ? product , (orde 2–sesuai ratio stoikiometri)
-rA = – dCA/dt = k.CA2 = k.CAo2.(1-XA)2
• Pada reaksi : A + 2B ? product, (jk orde 1–dianggap ? ratio stoikiometri)
-ra = -dCA/dt = k.CA.CB = k. CAO2.(1-XA).(M-2A) ..(Levenspiel,p.49)
catt : Kecepatan reaksi ,r = dCA/dt , dimana CA =konsentrasi A dan t = waktu
r= dCA/dt = [1/Vol] [dNA/dt] = [1/Vol] . {dNao[1-x] / dt} = Nao/Vol . (-dx/dt) = Cao.(-dx/dt)
Penjelasan mengenai menentukan orde reaksi dapat dilihat di Buku Chemical Reaction Engineering,2nd edition, p.50-54,by Levenspiel.O
7.2 Catalytic
pada intinya dalam melibatkan katalis, ukuran volume (dalam non Catalytic process) diganti dengan ukuran berat Katalis.
• Untuk Reaksi : A ? 4B (Levenspiel,p.500)
-rA = -[1/W]. dNA/dt = k.CA = (liter/(hr.kgCat)). (mol/lt) = mol/(hr.kgCat)
-rA = (NAO/W). dXA/dt……..dimana, NAO/dt =FAO persamaan ini dapat ditulis :
W/FAO = ? dXA/-rA = ? dXA/(k.CA) =[1/(k.CAO)]. ? [(1+? .XA)/(1-XA) . dXA..persamaan ini jika diintegralkan :
W = FAO/(k.CAO) . [{(1+ ? A).ln[1/(1-XA)} - {? A.XA}] .. berat katalis
Dimana ? adalah nilai dari (? koefisien produk) – (? koefisien reaktan)
8. Macam-Macam Tekanan
PGauge(pd alat) = Pabsolut(dr dlm alat) – PBarometer (1 atm)
Dimana, Pabsolut = Pinternal = rho.(tinggi-1)/144…untuk tangki atau vessel.
9. Hk Thermodinamika
Energi System = E (dalam) + Energi Kinetik + Energi Potensial
Energi Lingkungan = (+-)q (+-) W,
• Jika sistem diberi kerja dan menerima panas :
E+Ek+Ep=q-W, dimana E + W =H
• Fungsi Entalphy dan Perubahan Enthalpy
Jika proses berlangsung pada tekanan tetap Psistem=Pud.luar (sist. terbuka) mk:
dE=dq-P.dV——-kerja=W=d(PV).
E,P dan V adl fungsi keadaan, maka E+PV juga fungsi keadaan yang disebut Enthalphy.shg:
E + PV = H atau dE+d(PV)=dH dan,
H2-H1=dH=q—-q dan H sama-sama merupakan panas/mol (Cp dT) sedangkan Q adalah panas saja (=m Cp dT)
10.Hubungan Thermodinamika dan Kinetika
termodinamika dapat untuk mengetahui reaksi tersebut dapat berjalan atau tidak, dengan:
dG=-RT lnKp, jika nilai dg “-” maka reaksi tersebut dapat berjalan.
11.Neraca Massa
* Flux Massa= NAZ= -DAB . (dCa/dZ)
Input-Output+hasil reaksi=0
S.NAZ(pd z)- S. NAZI(pd Z+dZ) + (-rA).S.dZ=0, dimana
S=luas penampang reaktor ,
-rA = mol/(lt.jam)–tetap–
Penghitungan “Hasil Reaksi” jika menggunakan katalis dapat dihitung dengan rumus ? katalis. Z . A, dengan catatan (-rA) = Kgmol/(Kg.Catalyst x jam)
dan Z tinggi reaktor.
Biasanya pers.tersebut dibagi dengan S.dZ dan dilimitkan terhadap dZ,menjadi :
((NAZI(pd Z+dZ) + NAZI(pd Z) )/dZ) + (-rA)=0
-rA = k.Ca………jk order 1
(d NAZ / dZ) + k.Ca = 0……….dan NAZ= -DAB . (dCa/dZ)
Persamaan tersebut akan menjadi: d2CA/dZ2 – k.CA/DAB =0 (yang merupakan persamaan diff.orde 2)
12.Neraca Panas
* Flux Panas = q =-k. dT/dx, dimana Q/A=q
R.input-R.output+R.generation+R.Transfer=R.Acc
(? (Ni.Cpi)reaktan.dT) – (? (Ni.Cpi)produk.dT) +(-rA).Vol.HReaksi + U.A.(Ts-T)=d/dt (? .Vol.Cp.T) , dimana:
(-rA).Vol = NAo.XA
(? .Vol.Cp.T) = H,dalam perancangan biasanya= 0 (Steady state)
Jangan bingung dengan posisi (Ts-T) pada panas yang “Ditransfer”,jika reaksinya Eksoterm,maka perlu pendingin yang berarti “Panas yang ditransfer” harus mengurangi nilai “Panas Masuk”, untuk itu nilai “Panas yang ditransfer harus “-”,yang berarti delta suhunya “-”,itu berarti pula dapat ditulis (Ts-T)–ingat Ts adalah suhu bahan penukar panas dan T adalah suhu sistem/bahan yang direaksikan.Sehingga baik Eksoterm maupun Endoterm posisinya tetap (Ts-T) tapi Ekso bernilai “-” dan Endo bernilai “+”.
* Jika Isotermal Rin=Rout=Racc = 0
Flux panas , q=- k.dt/dx
Perhitungan Panas sangat penting,terutama jika menghadapi beberapa karakteristik kondisi , berikut kami berikan rumus singkat mengenai keberagaman kondisi tersebut
Untuk Reaktor Kontinu :
Ket Rin – R.Out + R.Gen + R.Supply = R.Acc
Rumus n.Cp.dT – n.Cp.dT + -rA.Vol.Hr + U.A.(Ts-T) = m.Cp.dT/dt
Adiabatis s.d.a s.d.a s.d.a 0 0
Non Adiabatis &non Isothermal s.d.a s.d.a s.d.a U.A.(Ts-T) 0
Isothermal s.d.a s.d.a s.d.a s.d.a 0
Ket: s.d.a = sama dengan atasnya
Untuk reaktor Batch semua nilai dari R.In dan R.Out =0
13.Neraca Momentum
* Flux Momentum = ? yx = -? dVx/dy
14.Tipe-Tipe Reaktor Kimia
Reaktor = tempat terjadinya suatu reaksi
14.1 Reaktor Homogen (Batch, Semi batch, dan Alir)
14.1.1.Reaktor Semibatch jika reaksinya sangat lama dan eksoterm. Misal jika A dan B dicampurkan langsung akan mudah meledak, maka pencampurannya harus perlahan-lahan (semi batch).
14.1.2.Reaktor Alir dibagi dua yaitu :
1.Reaktor alir Tangki Berpengaduk (RATB) atau Continous Stired Tank Reactor (CSTR).
2.Reaktor Alir Pipa (RAP) atau PFR (Plug Flow Reactor)
Keduanya dapat dipasang tunggal/single atau multiple (Seri dan paralel).
14.2 Reaktor Heterogen (dibagi berdasar sistem/fase feednya)
• Sistem Padat-Gas dan Padat Cair = Fixed Bed, Fluidized Bed Reaktor
• Sistem Cair-Gas = Reaktor Gelembung (serupa dengan Fluidised bed) dan Packed Tower (ada bahan isiannya)
• Sistem Cair-Gas-Padat= Trickel Bed dan Reaktor Slurry
15.Katalis
Fungsi mempercepat laju reaksi.
• Pada Reaksi Reversibel dapat menggeser keseimbangan
• Pada Reaksi Multiple memberikan tingkat Laju reaksi yang berlainan,antara reaksi Primer dan sekundernya
• Pada Fase Homogen,katalis hanya berpengaruh pada mekanissmenya saja.Pada fase ini yang penting adalah pemisahan katalis dengan produk/sisa produk harus baik.
• Pada Fase Heterogen,pemisahan lebih mudah.
15.1.Katalis dan Macamnya :
• Supported Catalyst, bahan aktif yang dioperasikan ke dalam bahan lain yang porus agar luas muka kontak besar.
• Bulk Catalist Material, biasa disebut juga Platinum Wire Mess atau katalis yang berbentuk jaringan kawat (semacam jaring) yang dilalui feed.
15.2.Pengaruh Katalis dan hubungannya dengan Laju Reaksi
• Luas muka aktif Katalist>> maka Volume reaktor <<
• Konsentrasi Peraeaksi juga berpengaruh pada laju reaksi
• Suhu dan Tekanan Operasi
• Difusi dan Kinetika reaksi yang menunjang, untuk T >> yang mengendalikan adalah difusi karena dengan T>>,maka, r(kec.reaksi) >>,ingat rumus arhennius.Selain suhu, konsentrasi juga menentukan.Sedangkan jika T<< yang mengendalikan adalah reaksi kimia,karena r<<,sedangkan difusi hampir tidak dipengaruhi oleh perubahan suhu tapi dipengaruhi oleh perlakuan fisik,seperti pengadukan.
15.3.Degradasi Katalis
Degradasi Katalis =penurunan kemampuan katalis dalam mempercepat laju suatu reaksi,hal ini disebabkan oleh:
• Penurunan kinerja katalis,ini dilihat dari penurunan laju reaksi (Konversi reaksi semakin rendah),Dapat ditanggulangi (untuk sementara) dengan menaikkan suhu sehingga kecepatan reaksinya membesar yang otomatis konversinya baik lagi.Penurunan kinerja ini dapat terjadi karena :
1. Physical Loss (Katalis hilang),misalnya pemrosesan reaksi dengan katalis yang homogen sehingga akibat pemisahan yang berkelanjutan,sedikit demi sedikit katalis akan hilang.Sedang pada pemrosesan dengan katalis Heterogen khususnya di Fluidized bed reactor, biasanya hilangnya katalis karena gesekan yang terjadi antar katalis (penggerusan).
2. Surface Deposit, artinya tertutupnya permukaan katalis oleh deposit/kerak.Dapat ditanggulangi dengan meregenerasi katalis.
3. Sintering,peristiwa pelengketan hasil dan katalis karena suhu proses berada sedikit dibawah titik lelehnya.Biasanya terjadi jika ditempuh proses menaikkan suhu untuk mengatasi kinerja katalis yang berkurang (spt.diatas) yang berakibat terjadinya pelengketan hasil dan katalis.Umunya terjadi pada:Katalis padat dan reaksi dengan feed gas,dan terjadi pada muka aktif. Sintering mudah terjadi akibat perpindahan panas yang buruk (terjadi hot spot–ketidak seragaman panas tiap titik–) sedang hot spot dapat terjadi karena pencampuran reaktan yang kurang baik.Sintering terjadi ketika suhu=1/2 titik leleh katalis.
4. Poissoning ,peracunan pada permukaan katalis,terjadi karena:Umpan tidak murni/banyak pengotor (Feed impuritis),contoh gas alam tercemar oleh H2S,yang itu harus dihilangkan dulu dengan Fe2O3.
5. Perubahan Kimiawi.
Untuk melihat tentang kinerja katalis (dengan observasi) lihat dihalaman 476 Levenspiel.
16.Komposisi Minyak Bumi
Minyak bumi terdiri dari campuran Hidrokarbon ( mengandung unsur C dan H) dan Non Hidrokarbon (unsur S,O,N dan Logam-logam)
16.1.Senyawa Hidrokarbon digolongkan menjadi:
1. Parafin, CnH2n+2
2. Naftalen, CnH2n
3. Aromatis, CnH2n-6
4. Olefin, CnH2n
5. DiOlefin, CnH2n-2
Nomor 1,2 dan 3 terdapat dalam minyak mentah.Sedang nomor 4 dan 5 terjadi pada saat pemrosesan minyak mentah.
Pada umumnya suatu Industri Pengolahan Minyak bumi memakai Crude oil (Minyak Mentah) berciri Parafinik dan Naftenik. Bagaimana cara mengetahui kandungan suatu Crude itu Parafinik atau Naftenik?
Ada faktor Karakterisktik (K);
K = (Titik Didih rerata molar)1/3 : (SpGr pd T=600F)
Jika nilai K:
12,15-12,9 Dasar Parafinik
11,5-12,1 Dasar Tengahan
10,5-11,45 Dasar Naftenik
Adapun sifat-sifat umum dari Parafinik Base dan Naftenik Base adalah:
Sifat-Sifat Dasar Parafin Dasar Naften
API gravity • B -
Kandungan Nafta • B -
Angka Oktan – • B
Smoke Point • B -
Angka Cetan • B -
Ttk Tuang Pelumas -B
Indeks Viskositas • B -
Keterangan :
• = Tinggi
….B = Baik
Minyak berciri Parafinik dipilih oleh suatu industri Pengolahan Minyak jika pabrik tersebut membutuhkan unsur Wax yang merupakan hasil dari pemrosesan Crude Parafinik.
Sedang minyak berciri Naftenik diambil jika pabrik tersebut berkonsentrasi pada pembuatan Gasoline (Bensin ) mengingat bentuk naftenik berbentuk Cincin (mendekati benzen/aromat) daripada Parafinik. Naftenik mempunyai angka Oktan tinggi.
Yang lebih baik lagi jika suatu Crude Oil mengandung Aromat tinggi. Mengingat proses pembutan bensin adalah proses Aromatisasi (Pembentukan cincin), sehingga tidak memperberat proses di pengilangan.
Falsafah Pendidikan untuk Pengadapan Manusia
Oleh : P. Moses Elias Situmorang OFMCap
Pendidikan itu berbeda dengan persekolahan.
Memang tidak selalu dua yang bertentangan. Namun dua benda ini memang harus dibedakan, karena banyak orang dibingungkan oleh keduanya.
Banyak orang beranggapan dia sedang menerangkan topik pendidikan, ternyata yang dimaksud adalah sekolah atau persekolahan.
Pendidikan adalah substani dan isi sementara persekolahan adalah sistem, sarana dan gedung. Cukup sering sarana memberikan bantuan. Tetapi dalam beberapa dekade ini, dalam banyak kasus, sekolah dengan segala sepatu, buku, administrasi, uang gedung, ijazah dan masih banyak aksesori lain lebih banyak mengganggu pendidikan daripada membantu.
Sekarang ini kita banyak diskusi mengenai Standar Nasional Pendidikan, UU tentang Guru dan Dosen (ada lagi Undang-undang Badan Hukum Pendidikan) yang dikeluarkan pada tahun 2005). Anehnya semua undang-undang pendidikan ini bukanlah persoalan pendidikan. Ia hanyalah setitik kecil persoalan teramat panjang dari persekolahan. Langsung tidak langsung adanya sekolah telah menambah biaya (uang, mental, energi, fisik) yang harus dipikul masyarakat untuk mengenyam pendidikan.
Lalu pertanyaan berikut, mengapa kita hanya bisa mengeluh dan meratapi suasana itu? Beranikah kita melawan dan tampil beda dari mereka? “kita” di sini yang disebutkan disini selalu mengandalkan gerakan bersama. Protes harus dikerjakan bersama-sama agar berubah menjadi proyek kesadaran.
Masihkan kita punya keberanian untuk kembali pada ‘pendidikan’ yang menjadi substansi, bukan persekolahan yang terus-menerus menjadi sumber carut-marutnya pendidikan. Kita mesti sadar bahwa yang mutlak untuk kita adalah kembali pada filsafat pendidikan yang solid: mendidik orang menjadi berilmu dan memiliki etos dan punya displin tanpa menjadikan anak didik seperti robot dan patung emas.
Pendidikan dan Filosofi Sang Guru
Dalam novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata menulis tentang filosofi sang guru, “Guru yang pertama kali membuka mata kita akan huruf dan angka-angka sehingga kita pandai membaca dan menghitung.” Pengalaman Hirata yang dituliskan dalam bentuk novel ini membuka hati kita akan peran dan filosofi seorang guru sebagai pendidik dan pengajar untuk membebaskan para peserta didik dari kegelapan menuju pencerahan.
Harapan bagi para guru untuk membebaskan anak-anak bangsa dari kegelapan belum tercapai. Kemerosotan mutu pendidikan nasional di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari rendahnya mutu guru karena mempunyai peran sangat penting dan strategis dalam penyelenggaraan pendidikan.
Dalam kerangka peningkatan mutu, satu permasalahan fundamental dalam sistem pendidikan nasional adalah dehumanisasi pendidikan. Seharusnya pendidikan menghormati dan menghargai martabat manusia beserta segala hak asasinya. Peserta didik seharusnya tumbuh dalam kemanusiaannya sebagai subyek melalui proses pendidikan. Tapi yang sedang terjadi adalah justru sebaliknya. Ada terlalu banyak pratik-pratik sekolah yang menunjukkan betapa peserta didik sudah diperlakukan sebagai objek demi kepentingan ideologi, politik, industri,dan bisnis.
Guru sebagai pendidik tidak mampu mengembangkan kesadaran untuk menghentikan gejala dehumanisasi ini dan membebaskan peserta didik dari kegelapan karena para guru merasa terjebak sebagai objek dalam sistem pendidikan nasional. Berikut kami tampilkan sebagian kecil realitas belenggu kemiskinan yang dihadapi guru yakni:
1. Dengan gaji dan tunjangan yang kurang memadai, guru terlalu sibuk mencari penghasilan tambahan.
2. Dengan jam mengajar yang panjang dan tugas administratif yang membebani, guru sudah tidak punya waktu untuk membaca dan mengembangkan diri akibatnya pengetahuan, wawasan dan kreatifitas guru sulit berkembang.
3. Guru yang seharusnya berperan sebagai aktor dalam proses pembudayaan transformasi nilai-nilai malah sebagai guru malah melakukan pelanggaran etika sebagai pendidik dengan memberikan les privat bagi peserta didik dan bahkan membocoran soal ujian sendiri atau terlibat sebai saksi yang menutup mulut atas beberapa tindakan manipulasi dan korupsi oleh birokrasi pendidikan atau pengelola sekolah.
4. Akhirnya belenggu kemiskinan finansial, intelektual, emosional dan kultural sering membuat guru kehilangan indentitas dan integritas. Pekerjaan sebagai guru tidak lagi dilandasi oleh spiritualitas profesi dan tidak menjadi bagian perjalanan kemanusiaan.
Pendidikan tidak pernah lepas dari wibawa dan peranan guru. Maka dalam cahaya pradigma baru kita perlu berupaya mengangkat derajat guru. Di tengah keprihatinan terhadap kemerosotan mutu dan status guru, peraturan pemerintah No.19, tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan dan undang-undang no.14, tahun 2005 tentang guru dan dosen yang diluncurkan dengan itikad baik diantaranya mengatur profesionalisme guru dan memberikan jaminan terhadap perlindungan dan kesejahteraan guru.
Sementara yang menjadi janggal adalah persoalan konseptual pendidikan profesional guru masih belum terselesaikan, program porfotfolio sudah langsung dijalankan untuk menilai kompetensi seorang guru. Akibatnya berbagai akses (misalnya keikutsertaan dalam program pendidikan dan pelatihan hanya demi sertifikat, ada manipulasi berkas, dan kolusi antara pemilik fortofolio dan penilai) sangat menodai profesi guru dan bahkan melemparkan guru pada titik nadir dalam perjalanan profesinya.ini problema guru yang dihadapi di Indonesia.
Terlepas dari segala tetek bengek peraturan yang dibuat oleh pemerintah satu hal penting dalam mendidik adalah bahwa guru harus bepegang pada filosofi pengajaran yakni semangat sebagai guru secara terus-menerus harus mengaitkan tiga hal yakni dirinya sendiri, anak didik, dan bidang pengetahuan/keterampilan yang diampunya. Berbagai kemampuan yang diharapkan dimiliki dan dikembangkan seorang guru seyogianya menjadi bagian tak terpisahkan dari sosok utuh kompetensi profesional seorang pendidik.
Perwujudan Falsafah Pendidikan
Peter C.Hodgson, seorang ahli pendidikan melihat sosok Allah sebagai Pendidik utama dalam transformasi hidup sejarah manusia dan menawarkan sejarah Pendidikan Allah. Peter C.Hodgson menjungkirbalikkan berhala-berhala pendidikan modern yang banyak merusak manusia antara lain memaksa anak untuk berprestasi sedemikian hebat dengan sistem pemaksaan jadwal yang sangat ketat. Peter menawarkan inti falsafah Pendidikan yang di dalamnya ada roh kasih, kebenaran, dan keadilan.
Menurut Hodgson pendidikan harus menyingkapkan kebenaran dan menyelematkan umat manusia dari kesesatan (the darkness of error) dan berhala (idolatry). Karena itu dalam konteks pendidikan mesti disadari bahwa akal budi di satu sisi adalah tanda kemuliaan Ilahi, tetapi sekaligus menjadi potensial menjadi sumber penderitaan manusia yang tak terperikan.
Kita perlu menebus budi namun tidak menggusurnya. Kita perlu memerangi kejahatan yang disebabkan oleh akal budi. Pendidkan bertujuan membeirkan tanggapan terhadap panggilan akan kebenaran. Inilah rangkuman seluruh roh pendidikan. Lepas dari sini maka pendidikan akan tidak berdaya guna.
Semuanya bisa berjalan dengan baik karena ada kerja sama. Kerja sama, iman, kasih, dan solidaritas menjadi inti falsafah pendidikan. Karena itu dalam konteks menerapkan falsafah pendidikan perlu diperhatikan tiga C yakni
Competensi==> dapat diandalkan dan berdaya guna.
Compassion==> berempati kepada orang lain.
Conscience==> memiliki kesadaran moral (beriman).
Dengan tiga C yang ditanamkan dalam pendidikan hasil yang diharapkan adalah manusia terdidik yang memiliki kharakter. Kita mengharapkan setiap anak didik yang dididik tumbuh menjadi manusia berkarakter (memiliki kepribadian yang tangguh). Menurut Ernest Hull, seorang Jesuit pendidik dari abad lalu, pembentukan karakter dimulai dengan “tujuan yang hendak dicapai.” Kita perlu berfantasi, membayangkan karakter yang hendak dibangun pada siswa. Agar berkarakter maka setiap anak didik perlu didorong untuk disiplin, dikondisikan untuk tidak mencontek, bermental juara dan bahkan jiwa seni mereka pun perlu dikembangkan.
Pendidikan karakter adalah bagian integral upaya mendampingi peserta didik untuk mengembangkan potensi manusiawi mereka. Maka tanggungjawab sekolah adalah membantu peserta didik untuk mengubah potensi manusiawi menjadi tindakan konkret. Pendidikan karakter ini juga untuk memberikan visi etis kepada peserta didik.
Visi etis diharapkan menempatkan diri mereka pada horizon yang lebih luas. Pendidikan yang mengabaikan pembentukan visi etis dikawatirkan hanya akan menjadi proses pemindahan pengetahuan yang tidak berakar berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan karakter dengan demikian diharapkan dapat membantu peserta didik untuk menjadi pribadi yang semakin manusiawi dan beriman.
Pintar saja tidak cukup tetapi perlu mendidik anak-anak di sekolah Katolik agar bisa berempati, beriman dan lebih manusiasi. Manusia berkarakter (manusia beradab) merupakan salah satu tujuan filsafat pendidikan.
Penutup
Kita mau maju. Air mata murid dan guru telah banyak menggenangi pendidikan Indonesia. Kecurangan ujian nasional, kekerasan antarsiswa, dan pelecehan terhadap etika profesi guru menjadi potret-potret buram pendidikan yang membuat kita tak kuasa menitikkan air mata duka. Kita mendengar tangisan murid di awal tahun ajaran baru.
Komunitas guru berbondong-bondong ke istana negara membawa air mata pendidikan di tangan mereka. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang berhasil menciptakan manusia-manusia beradab. Maju terus untuk meraih gemilang di masa mendatang. Terimakasih. Dirgahayu Hardiknas 2009.***
Penulis seorang pastor Kapusin, tugas sebagai dosen Etika Unika St.Thomas Medan dan editor Bina Media.
Adopted from http://www.analisadaily.com
BAHAN GALIAN (1 dari 3).
Bahan galian merupakan mineral asli dalam bentuk aslinya, yang dapat ditambang untuk keperluan manusia. Mineral-mineral dapat terbentuk menurut berbagai macam proses, seperti kristalisasi magma, pengendapan dari gas dan uap, pengendapan kimiawi dan organik dari larutan pelapukan, metamorfisme, presipitasi dan evaporasi, dan sebagainya (Katili, R.J. 1966).
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 27 tahun 1980, bahan galian dibagi menjadi tiga golongan. Penggolongan bahan-bahan galian didasari pada :
1. Nilai strategis/ekonomis bahan galian terhadap Negara.
2. Terdapatnya sesuatu bahan galian dalam alam.
3. Penggunaan bahan galian bagi industri.
4. Pengaruhnya terhadap kehidupan rakyat banyak.
5. Pemberian kesempatan pengembangan pengusaha.
6. Penyebaran pembangunan di Daerah.
Bahan-bahan galian tersebut digolongkan sebagai berikut :
A.GOLONGAN BAHAN GALIAN YANG STRATEGIS
Bahan galian Strategis berarti strategis untuk Pertahanan dan Keamanan serta Perekonomian Negara. Golongan ini terdiri dari :
• Minyak bumi, bitumen cair, lilin bumi, gas alam.
• Bitumen padat, aspal.
• Antrasit, batubara, batubara muda.
• Uranium, radium, thorium dan bahan-bahan galian radioaktip lainnya.
• Nikel, kobalt.
• Timah.
1.Minyak Bumi
Minyak bumi merupakan suatu material organik dan secara kimia dikenal dua macam yaitu deretan parafin dan deretan naphtene. Pada umumnya terdapat pada sedimen-sedimen yang tebal dan tidak pernah atau jarang sekali ditemukan pada batuan metamorf atau batuan beku. Di Indonesia, endapan-endapan geosinklin pada zaman tersier banyak mengandung minyak bumi karena kondisinya yang baik. Lapisan yang mengandung minyak bumi biasanya batuan berpori seperti batupasir ataupun batugamping.
Hasil olahan dari minyak bumi sangat diperlukan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan kebanyakan sebagai bahan bakar. Hasil olahannya tersebut seperti bensin, solar dan lain-lain.
2.Batubara
Batubara adalah termasuk salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.
Batubara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk. Analisa unsur memberikan rumus formula empiris seperti : C137H97O9NS untuk bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit.
Hampir seluruh pembentuk batubara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis tumbuhan pembentuk batubara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut:
Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat sedikit endapan batubara dari perioda ini.
Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga. Sedikit endapan batubara dari perioda ini. Pteridofita, umur Devon Atas hingga KArbon Atas. Materi utama pembentuk batubara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tetumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat. Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah. Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama batubara Permian seperti di Australia, India dan Afrika.
Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.
Potensi sumberdaya batubara di Indonesia sangat melimpah, terutama di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera, sedangkan di daerah lainnya dapat dijumpai batubara walaupun dalam jumlah kecil dan belum dapat ditentukan keekonomisannya, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua, dan Sulawesi. Di Indonesia, batubara merupakan bahan bakar utama selain solar (diesel fuel) yang telah umum digunakan pada banyak industri, dari segi ekonomis batubara jauh lebih hemat dibandingkan solar, dengan perbandingan sebagai berikut: Solar Rp 0,74/kilokalori sedangkan batubara hanya Rp 0,09/kilokalori, (berdasarkan harga solar industri Rp. 6.200/liter).
Dari segi kuantitas batubara termasuk cadangan energi fosil terpenting bagi Indonesia. Jumlahnya sangat berlimpah, mencapai puluhan milyar ton. Jumlah ini sebenarnya cukup untuk memasok kebutuhan energi listrik hingga ratusan tahun ke depan. Sayangnya, Indonesia tidak mungkin membakar habis batubara dan mengubahnya menjadi energis listrik melalui PLTU. Selain mengotori lingkungan melalui polutan CO2, SO2, NOx dan CxHy cara ini dinilai kurang efisien dan kurang memberi nilai tambah tinggi.
Batubara sebaiknya tidak langsung dibakar, akan lebih bermakna dan efisien jika dikonversi menjadi migas sintetis, atau bahan petrokimia lain yang bernilai ekonomi tinggi. Dua cara yang dipertimbangkan dalam hal ini adalah likuifikasi (pencairan) dan gasifikasi (penyubliman) batubara. Membakar batubara secara langsung (direct burning) telah dikembangkan teknologinya secara continue, yang bertujuan untuk mencapai efisiensi pembakaran yang maksimum, cara-cara pembakaran langsung seperti: fixed grate, chain grate, fluidized bed, pulverized, dan lain-lain, masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahannya.
Penambangan bahan galian strategis ini cukup banyak dijumpai di Indonesia. Metode penambangan yang digunakan adalah open pit mining atau penambangan terbuka dengan alas an keberadaan endapan batubara yang tidak membutuhkan penambangan hingga bawah permukaan yang dalam, selain faktor efisiensi biaya produksi.
Adapun perusahaan yang mengeksploitasi batu bara di Indonesia antara lain yaitu PT Arutmin Indonesia penambangan di Kalimantan Selatan, PT Berau Coal penambangan di Kalimantan Timur, PT Kaltim Primacoal penambangan di Sangatta Kabupaten Kutai Timur, dan beberapa perusahaan lainnya.
3.Uranium dan Thorium
Endapan-endapan mineral radioaktif seperti uranium dan thorium terdapat dalam bentuk primer seperti pegmatit dan bijih, serta bentuk sekunder seperti endapan sedimen. Batuan pegmatit adalah batuan berbutir kasar yang terbentuk pada fase terakhir dari pendinginan batuan plutonik. Batuan pegmatit biasanya mengandung kuarsa dan feldspar. Mineral radioaktif biasanya dalam bentuk lensa atau kantung.
Di Indonesia, belum ditemukan endapan-endapan uranium yang berharga karena kurangnya penyelidikan geologi yang dilakukan ke arah tersebut. Mineral radioaktif yang telah ditemukan yaitu monazit dan xenotim yang biasanya mengandung unsur thorium. Mineral tersebut ditemukan dalam endapan alluvial, bersama dengan bijih timah di Bangka, Belitung, pulau Berhala dan pulau-pulau timah lainnya.
Deskripsi dari logam thorium yaitu sebagai sumber energi nuklir. Sebagian besar panas di bagian internal bumi merupakan hasil dari thorium dan uranium. Thorium murni berwarna putih keperakan yang stabil dari udara dan retains its luster untuk beberapa bulan. Jika terkontaminasi dengan oksida, perlahan menyublim di udaraberubah warna menjadi abu-abu hingga akhirnya hitam, memiliki titik leleh 3300oC yang juga merupakan suhu tertinggi dibandingkan oksida lainnya.
Perlahan juga terubah oleh air tetapi tidak langsung larut pada kondisi asam, kecuali hidroklorik. Bubuk logam thorium umumnya pyrophoric dan disimpan dengan sangat hati-hati.ketika dipanaskan dalam air berubah menjadi ignite dan terbakar menghasilkan warna putih menyala.
4.Nikel
Unsur nikel berhubungan dengan batuan basa yang disebut norit. Nikel ditemukan dalam mineral pentlandit, dalam bentuk lempeng-lempeng halus dan butiran kecil bersama pyrhotin dan kalkopirit. Nikel biasanya terdapat dalam tanah yang terletak di atas batuan basa.
Di indonesia, tempat ditemukan nikel adalah Sulawesi tengah dan Sulawesi Tenggara. Nikel yang dijumpai berhubungan erat dengan batuan peridotit. Logam yang tidak ditemukan dalam peridotit itu sendiri, melainkan sebagai hasil lapukan dari batuan tersebut. Mineral nikelnya adalah garnerit.
5.Kobalt
Deskripsi fisik yang ditunjukkan kobalt adalah bersifat brittle, keras, dan merupakan transisi logam dengan magnet. Kobalt juga terdapat dalam meteorit. Endapan mineralnya dijumpai di Zaire, Morocco dan Canada. Cobalt-60 (60Co) dapat membentuk isotop buatan dengan tembakan sinar gamma (energy radiasi tinggi). Garam kobalt salts berwarna biru gelap dan seperti gelas atau bening. Banyak digunakan dalam industri. Digunakan juga untuk bahan dasar perasa makanan yang mengandung vitamin B12 dalam kadar yang tinggi.
6.Timah
Bijih timah biasanya terdapat dalam bentuk kassiterit atau oksida timah. Sumber timah di Bangka terdapat pada batuan granit yang berumur yura. Bijih primer terdiri dari urat kassiterit dan kuarsa kassiterit. Dikarenakan pelapukan dan konsentrasi alluvial maka kassiterit dalam endapan primer menjadi memekat sebagai lapisan berbentuk dendrit. Dua per tiga hasil timah dunia berasal dari endapan alluvial. Salah satu kegunaan timah yaitu sebagai alloy dalam pembuatan baja.
Deskripsi dari mineral logam ini yaitu putih keperakan, malleable, beberapa ductile dan berstruktur sangat kristalin. Memiliki dua bentuk allotropic. Pada suhu hangat menjadi abu-abu atau timah- α dengan struktur kubikal dan pada suhu 13,2°C atau timah-β yaitu bentuk umum logam timah. Perubahannya juga dipengaruhi oleh pengotor aluminium dan seng, dapat dicegah dengan memberikan tambahan antimony atau bismuth.
Timah tahan terhadap distilasi, air laut, dan air minum. Akan tetapi dapat terpengaruh asam kuat, mineral alkali, dan garam dari mineral asam, oksigen terlarut juga mempercepat perusakan. Ketika dipanaskan membentuk SnO2. Digunakan untuk campuran lembaran baja sebagai kaleng timah. Di Indonesia, penambangan timah yang terkenal dijalankan oleh PT Timah yang berlokasi di Bangka Belitung. Dilakukan dengan open mining pit atau penambangan terbuka.
(Bersambung ke bagian 2 dan 3)
Adopted from www.nooradinugroho.wordpress.com
Potensi zeolit Bayah Kab. Lebak sebagai media adsorpsi limbah zat warna tekstil*.
Oleh : Arifin
Industri tekstil dan produk tekstil merupakan salah satu bidang yang sangat berkembang di Indonesia. Dengan semakin meningkatnya jumlah ekspor tekstil dan produk tekstil ini maka barang – barang pembantu juga mengalami kenaikan sedemikian rupa.
Kira – kira 800.000 ton pewarna diproduksi untuk kebutuhan dunia. Lebih dari separuhnya merupakan zat pewarna tekstil, dari jumlah ini 15 % untuk zat pewarna kulit dan kertas, 25 % dari jumlah produksi adalah pigmen organik, sedangkan zat optik kira – kira 6 %. dan sekitar 30 ribu ton zat warna telah mengganggu masalah pencemaran lingkungan.
Terlepas dari peranannya sebagai komoditi ekspor yang diandalkan, ternyata industri tekstil ini menimbulkan masalah yang serius bagi lingkungan terutama masalah yang diakibatkan oleh limbah cair yan dihasilkan. Industri tekstil mengeluarkan air limbah dengan parameter BOD, COD, padatan tersuspensi dan warna yang relatif tinggi. Disamping itu limbah cair ini dapat pula mengandung logam berat yang bergantung pada zat warna yang digunakan.
Jumlah yang sangat kecil saja dari zat warna dalam air (10 – 50 mg/L) dapat dengan mudah dilihat dan mempengaruhi pada kenampakan, kejernihan air, dan gas yang terlarut pada badan air. Penghilangan zat warna dalam air limbah sering lebih penting daripada penghilangan zat – zat organik terlarut tak berwarna karena warna merupakan pencemar pertama yang dapat diketahui dan harus dihilangkan sebelum dibuang ke badan air atau tanah. Dan hampir sebagian besar zat warna tekstil bersifat karsinogenik atau dapat menyebabkan penyakit kanker.
Salah satu upaya dalam mengolah air limbah zat warna tekstil adalah dengan menggunakan metode adsorpsi dengan media zeolit. Zeolit dapat berasal dari alam maupun sintesis. Metode pengolahan secara adsorpsi merupakan gabungan metode fisika kimia yang murah dan memberikan alternatif yang paling baik dengan analisis yang tepat dan kontrol lingkungan.
Penggunaan zeolit sebagai media adsorpsi menjadi hal yang menarik karena jumlahnya yang besar di Indonesia terutama zeolit dari Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Zeolit merupakan batuan mineral atau mineral alam, yaitu senyawa silika dan dinyatakan sebagai Alumino silikat terhidrasi, berbentuk halus dan merupakan produk sekunder yang stabil pada kondisi permukaan, baik berasal dari proses pelapukan, sedimentasi, maupun aktivitas hydrothermal.
Berdasarkan hasil survei terdapat sekitar 40 lokasi yang mengandung endapan zeolit alam dan sebagian besar berada di Pulau Jawa, termasuk yang terluas di daerah Banten, Kabupaten Lebak. Kandungan Zeolit di Kecamatan Bayah atau sekitar 135 km dari kota Rangkasbitung, terhampar pada areal seluas 400 hektar lebih dengan deposit lebih dari 123 juta ton. Potensi ini merupakan salah satu sumber bagi Kabupaten Lebak, untuk diberdayakan sejalan dengan otonomi daerah. Namun, sehubungan keterbatasan SDM dan sumber pengelolaan, maka potensi itu masih terhampar diatas bebukitan Bayah.
Bahan tambang zeolit ini termasuk ke dalam golongan galian C dan menurut PTBIN-BATAN dinyatakan bahwa zeolit alam Bayah mempunyai struktur sangkar kristal mineral zeolit alam campuran fasa klipnotilolit bentuk poli kation K-Mg dan mordenit bentuk poli kation Ca-Na, serta mempunyai rumus kimia oksida yaitu Na0,15 K1,44 Ca2,04 Mg0,70 Mn0,02 Fe0,44 {(AlO2)6,76 (SiO2)}29,32 6,57 H2O.
Untuk peningkatan zeolit sebagai penyerap perlu terlebih dahulu dilakukan proses aktivasi dan modifikasi. Aktivasi dilakukan untuk meningkatkan sifat-sifat khusus zeolit dengan cara menghilangkan unsur-unsur pengotor dan menguapkan air yang terperangkap dalam pori kristal zeolit.
Ada dua cara yang umum digunakan dalam proses aktivasi zeolit, yaitu dengan pemanasan atau kalsinasi dan menggunakan pereaksi kimia. Pada proses modifikasi, agar supaya zeolit dapat menyerap logam berat yang berupa anion, mikroorganisme, serta zat organik lain maka zeolit perlu dimodifikasi yaitu memakai polimer organik alam atau pelapisan dengan Mangaan.
Operasi dari proses adsorpsi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu, dilakukan dalam suatu bak dengan sistem pengadukan, dimana penyerap yang biasanya berbentuk serbuk dibubuhkan, dicampur dan diaduk dengan air dalam suatu bangunan sehingga terjadi penolakan anatara partikel penyerap dengan fluida.
Sedangkan operasi dan proses adsorpsi selanjutnya yaitu dilakukan dalam suatu bejana dengan sistem filtrasi, dimana bejana yang berisi media penyerap di alirkan air dengan model pengaliran gravitasi. Jenis media penyerap sering digunakan dalam bentuk bongkahan atau butiran/granular dan proses adsorpsi biasanya terjadi selama air berada di dalam media penyerap.
Beberapa faktor penting yang dapat mempengaruhi tingkatan terjadinya adsorpsi tersebut adalah agitasi, karakteristik adsorben, daya larut, ukuran molekul zat terlarut, pH larutan, waktu kontak, distribusi dan ukuran pori, serta temperatur larutan.
*Ringkasan dari karya tulis yang disampaikan dalam Lomba Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (MAWAPRES) Tingkat Kopertis IV Jawa Barat – Banten 2009 di Bandung tanggal 12 Mei 2009.
Pemanfaatan Lignin dari Limbah Industri Kertas dan Serbuk Gergaji untuk Pembuatan Turunan Antibiotik C-9154
Jumina, Dwi Siswanta, dan AK Zulkarnain
Jurusan Kimia, Universitas Gadjah Mada
Industri pulp kertas dan kayu lapis merupakan 2 jenis industri yang berkembang pesat di Indonesia. Industri pulp menghasilkan limbah berupa lindi hitam dan industri kayu lapis menghasilkan serbuk gergaji yang banyak mengan-dung lignin (15-35%). Mengingat tingginya volume limbah yang mengandung lignin di dalam negeri, maka akan sangat menguntungkan sekiranya limbah tersebut dapat diubah menjadi produk yang lebih berdaya guna. Lignin telah lama dimanfaatkan di negara-negara Barat untuk pembuatan vanilin. Metode baku untuk mengubah lignin menjadi vanilin pun mudah ditemukan dalam pustaka. Berdasarkan struktur kimianya, vanilin mungkin dapat diubah menjadi turunan antibiotik C-9154. Antibiotik C-9154 sendiri merupakan antibiotik berspektrum luas (MIC 10-100 mcg/ml) yang dihasilkan lewat proses fermentasi. Namun, antibiotik ini kurang berkembang dan belum diproduksi secara komersial akibat efisiensi produksinya yang rendah (0.02%).
Penelitian ini bertujuan menemukan metode yang efisien untuk pengubahan lignin menjadi turunan antibiotik C-9154. Di samping itu, juga diupayakan penganekaragaman struktur antibiotik C-9154. Pembuatan turunan antibiotik C-9154 dari lignin secara umum dibagi dalam 2 tahap. Pertama, pengubahan lignin menjadi vanilin sesuai dengan prosedur Hartley, dan kedua, transformasi vanilin menjadi turunan antibiotik C-9154.
Lignin berbentuk padatan amorf dan berwama coklat dengan rendemen 17.5% (b/v) dapat diperoleh melalui pengasaman menggunakan HCl pekat terhadap cairan limbah pekat PN Kertas Leces Probolinggo. Di sisi lain, lignin berwarna coklat tua juga berbentuk padatan amorf dapat diperoleh dari serbuk gergaji yang berasal dari kayu Kalimantan dengan rendemen 36% berdasar prosedur Klason, dan 8% berdasar cara Pepper. Degradasi oksidatif lignin menjadi vanilin dikerjakan menggunakan campuran NaOH 0.2N dan nitrobenzena dengan nisbah volume 16:1 dalam reaktor tertutup pada suhu 160°C selama 2 jam. Dari 1.0 g lignin diperoleh 0.68 g produk kotor yang berdasar data kromatografi gas-spektrometer massa (GC-MS) mengandung 3 komponen utama, yaitu p-hidroksibenzaldehida (tR 12.92 menit, 22%, m/z 122), vanilin (tR 13.13 menit, 19%, m/z 152) dan 3,5-dimetoksi-4-hidroksibenzaldehida (tR 16.66 menit, 5%, m/s 182). Vanilin dari campuran produk tersebut selanjutnya dipisahkan dengan kromatografi kolom menggunakan fase diam silika gel dan eluen diklorometana.
Pengubahan vanilin menjadi turunan antibiotik C-9154 telah dicoba dengan beberapa metode. Dari berbagai metode yang telah dicoba, hasil terbaik dicapai dengan rangkaian reaksi berikut: (1) alkilasi vanilin dengan dietil sulfat, (2) konversi etil vanilin yang diperoleh dengan HO-NH2 menjadi oksim terkait, (3) reduksi derivat benzaldoksim hasil tahap 2 dengan Na/etanol, (4) kondensasi 4-etoksi-3-metoksibenzilamina hasil dengan maleat anhidrida, dan (5) esterifikasi asam karboksilat hasil tahap 4 dengan etanol. Efektivitas metode ini terlihat bukan hanya dari tingginya rendemen hasil pada setiap langkahnya (>70%) tetapi juga dari kemudahan dan keandalan proses reaksinya yang hampir selalu dapat diulang sekalipun dalam skala relatif besar (~30 g). Walaupun kerangka karbon samping dari produk akhir kekurangan satu gugus C=O jika dibandingkan dengan struktur C-9154, data uji khasiat hayati menunjukkan bahwa keberadaan gugus C=O tersebut tidak mutlak.
Prinsip reaksi tersebut telah digunakan pula untuk pembuatan turunan antibiotik C-9154 dalam bentuk senyawa diester. Dalam hal ini, rangkaian reaksi terdiri atas (1) alkilasi vanilin dengan dietilsulfat, (2) reduksi etil vanilin hasil dengan LiBH4, (3) kondensasi 4-etoksi-3-metoksibenzil alkohol yang diperoleh dengan maleat anhidrida, dan (4) esterifikasi bentuk asam turunan C-9154 hasil tahap 3 dengan etanol. Percobaan ini memuaskan dengan rendemen di atas 70% untuk setiap langkahnya.
Khasiat antimikrob dari turunan antibiotik C-9154 yang diperoleh diuji menggunakan Staphyllococcus aureus dan Escherichia coli. Hasil pengukuran konsentrasi hambat minimum (MIC) dengan pembanding metanol dalam air dan keempat turunan C-9154 hasil sintesis menunjukkan khasiat dengan kekuatan berbeda. Dua senyawa yang merupakan bentuk asam turunan C-9154 hanya memperlihatkan efek hambatan lemah (MIC 1500-3000 mcg/ml), sedangkan senyawa yang merupakan bentuk etil ester menunjukkan efek hambatan yang cukup nyata (MIC 400-1000 mcg/ml) walaupun belum sekuat efek hambatan dari antibiotik C-9154 standar (MIC 10-100 mcg/ml). Terjadi peningkatan khasiat antimikrob sekitar 3-4 kali dari senyawa bergugus asam menjadi senyawa bentuk etil ester.
Mengingat tingginya tingkat efektivitas jalur sintesis yang telah ditemukan dan cukup mudahnya menganekaragamkan struktur produk, upaya mendapatkan turunan yang memiliki khasiat antimikrob cukup tinggi di masa depan sangat terbuka. Penelitian selanjutnya perlu diarahkan pada penggunaan senyawa yang diperoleh sebagai bahan antiseptik.
Adopted by @_pararaja from Hibah Bersaing VII
MELEPASKAN KESOMBONGAN UNTUK KESUKSESAN
Tentu saja, tidak ada orang yang suka kepada orang sombong (kecuali dirinya). Jika kita bersikap sombong, maka interaksi kita akan terganggu dan akan menyulitkan kita dalam meraih sukses, sebab orang lain bisa membantu kita untuk sukses. Tapi, bukan masalah ini yang akan dibahas dalam artikel ini.
Kesombongan yang dimaksud ialah kesombongan diri sendiri yang merasa tidak memerlukan bantuan Allah dalam meraih apa yang kita inginkan. Banyak program pengembangan diri atau sukses yang mengajarkan kita cara menetapkan tujuan, membuat rencana, dan mengeksekusi rencana, namun mereka lupa melibatkan Allah.
Saat kita lupa melibatkan Allah, ini adalah bentuk kesombongan kita. Kita merasa tidak memerlukan Allah, padahal tidak ada yang bisa terjadi jika Allah tidak menginginkannya. Semua yang terjadi di alam ini, termasuk jatuhnya selembar daun dari sebuah pohon adalah kehendak Allah.
Anehnya, banyak orang lupa. Mereka hanya ingat Allah saat mereka gagal atau merasa “mentok” saat berusaha meraih cita-citanya. Mengapa tidak dari awal meminta pertolongan Allah? Kita lupa, karena kita merasa tidak membutuhkan Allah. Kita merasa bahwa hanya dengan rencana matang dan tindakan, kita akan meraih cita-cita kita. Anggapan ini, sama sekali salah, namun seringkali kita tidak menyadari anggapan keliru ini.
Mulailah dengan memohon ampun, atas semua kesombongan kita dimasa lalu. Mungkin kita banyak melakukan berbagai aktivitas tanpa meminta pertolongan, bantuan, dan petunjuk dari Allah. Marilah kita memohon ampun kepada Allah. Beristigfarlah… Tentu saja, nasihat ini termasuk untuk diri saya juga.
Setelah ini, usahakanlah setiap langkah kita selalu diiringi dengan do’a dan tawakal. Do’a dan tawakal bukan hanya terletak di akhir (saat gagal atau mengalami kesulitan), tetapi juga diletakkan di awal agar Allah memberi petunjuk dan diletakkan dalam perjalanan agar perjalanan kita dibimbing oleh Allah. Tinggalkanlah kesombongan kita, maka kita akan sukses. Insya Allah.
(http://merits.wordpress.com)
Berani meninggalkan zona nyaman.
Setiap orang selalu merindukan zona nyaman. Mereka setengah mati berusaha meraihnya. Dan setibanya di zona tersebut mereka istirahat dan menikmati kenyamanan. Sayangnya, sebagian besar tertidur di zona itu, tak mau bergerak, sehingga tanpa sadar zona itu lama-lama tidak nyaman dan bahkan cenderung berbahaya. Dan ketika sadar, ia tak mampu lagi keluar dari zona nyaman dan ” apa boleh buat ” ia terjabak di sana selamanya.
Salah satu zona nyaman yang berbahaya bagi karyawan adalah gaji atau pendapatan yang tetap. Sedangkan bagi pengusaha adalah penguasaan pasar atau kestabilan perusahaan.
Nah, mereka yang berbakat jadi pengusaha adalah mereka yang tidak terjebak dalam zona nyaman. Bahkan mereka cenderung mencari tantangan untuk menciptakan zona nyaman baru. Mereka berani bertarung di pasar. Mereka berani menjual harta yang dimilikinya untuk memulai usaha. Susi Pujiastuti, sang ekportir hasil laut terbesar di negeri ini misalnya, memodali sendiri bisnisnya dengan menjual anting-anting dan gelangnya seharga Rp 750 ribu.
Sementara Ollie dan Angel berani meninggalkan zona aman sebagai karyawan dengan gaji tetap demi membesarkan toko buku onlinenya (Kutukutubuku. com), butik onlinenya (Heartyboutique. com) serta solusi toko onlinenya (TukuSolution. com). Contoh lain, Iim Fahima dan Adhitia Sofyan berani meninggalkan gaji mewahnya sebagai karyawan biro iklan tradisional dan masa depannya yang cerah di sana, untuk membangun konsultan komunikasi pemasaran online Virus Communications.
Ketika sudah jadi pun, mereka yang berjiwa pengusaha tidak berhenti. Mereka biasanya resah dan segera berusaha meninggalkan zona aman “bisnis sudah jadi”. Mereka terus berpacu untuk membesarkan usahanya. Uang mereka tidak dibiarkan menganggur di bank, reksanada dan sejenisnya. Mereka tumpahkan harta mereka untuk menciptakan peluang baru. Berjuta juta manusia terjebak dan lena dalam zona nyaman tapi sebenarnya tidak aman
Dan hanya orang yang minoritas berani keluar dari zona nyaman yang akhirnya jadi pemenang
Kalo anda tidak puas dengan kondisi sekarang , rubahlah cara kerja dan mental anda !!!!
Ingat “Tidak pernah ada cerita dan sejarah orang terkaya dari seorang pekerja……Ingat Mike Tyson, Michael Jackson dll….mereka dulu bergelimang harta dan kemewahan tapi sekarang dalam proses kebangkrutan”.
“ Kita Memang tidak bisa mengubah arah Angin tapi bisa merubah Arah Layar”
Salam Sukses semua
By : Abi Fathina
ngapain ya..sesudah Ujian ??
Wach…dah bebas nich.
Ujian udah selesai, so, is time for happy cuy….
Dah jenuh makan buku tiap hari, sarapan ujian, makan malam tugas…pengap rasa otak..serasa kepala mendidih.
Waktunya refress..kunjungi rumah temen2 n bolo2..nginep2…saling silaturahmi.
Weit, jangan keblabasan loh,
Yang namanya enak kalau keenakan juga bosen juga. Jangan lengah or lalai.
jangan lupa minta doa orang tua, warga, keluarga atau REG sepasi…buat doain semoga lulus.
jangan lupa pesennya minta doain semua siswa SMK 3 lulus semua…amin.
Waktunya beresin buku dirumah, rapi2 buku..barangkali berguna besoknya,
simpen tuh arsip hidup kita..itung-itung kenangan dari SMK 3.
Sudah beres, rapi, kamar bersih…
Belajar buat lamaran kerja, belajar baca-baca lowongan,
Rajin ke BKK…ngapelin tuh pak Marwan.
Sering kunjungi perpus…kangen tuh buku2 lama tak di baca…
Serius dalam test kerja
Trus yg mo ikutan UMPTN ya..rajin buka soal, rajin sholat malam juga.
Ambil jurusan dan wilayah yg sepi penggemar
Yach buat peluangnya lebih gede
Dan jangan lupa wejangan-wejangan dari bapak/ibu guru
Yg mau ngembangin usaha bokap
Yach..yg rajin, jangan nyesel sekolah kimia
Ilmu itu di pakai tidak dalam 1 bidang saja, tetapi akan muncul suatu masalah yg akan membutuhkan ilmu yg kita punyai.
Ingat yach
Kita diciptakan bukan untuk menunggu waktu
Kita harus berjalan menghadapi semuanya
Kita sudah dibekali orang tua
Sudah diasah guru tiap hari di sekolah
Trus kurang apa,
Beranikan??? Kejar cita-citamu
Semangat semangat…
Jadilah generasi yg bermanfaat
Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong (2)
By. Achmad Faisol
c. Kekuasaan dan Keturunan
Kekuasaan atau jabatan sering membuat kita lupa diri. Fasilitas, hak yang besar serta penghormatan dari orang lain membuat kita terlena, bahkan meskipun penghormatan itu dilakukan karena terpaksa, bukan karena benar-benar hormat atas kepemimpinan kita. Kita lebih layak disebut pimpinan karena surat keputusan, bukan pemimpin karena kemampuan. Sebaliknya, kewajiban besar yang diembankan pada kita malah kita abaikan. Lebih parah lagi, setelah tidak menjabat pun, kebanyakan kita tetap merasa bahwa kita adalah orang penting. Padahal, waktu telah berganti, status telah berubah.
Memiliki banyak murid, pendukung dan pengikut juga bisa membuat diri kita sombong. Walaupun kita tidak punya jabatan formal, namun secara informal kita mempunyai jabatan, yang pengaruhnya bahkan mengalahkan pemegang jabatan formal. Bila tidak hati-hati, kita bisa tergelincir untuk merasa diri lebih hebat dari orang lain.
Abu Darda’ menasihatkan, “Seseorang akan terus jauh dari Allah selama ia meminta orang lain untuk berjalan di belakangnya.”
Abdurrahman bin Auf ketika berjalan bersama budaknya tidak dapat dibedakan mana tuan dan mana budak, karena pakaian yang mereka pakai dan posisi berjalannya sama. Suatu hari murid-murid Hasan al-Bashri berjalan di belakangnya, lalu Abdurrahman bin Auf marah dan berkata, “Apa yang membuat hati seorang manusia menginginkan seperti ini (berjalan di depan)?”
Sebuah nasihat sarat makna termaktub dalam peribahasa, “Melonjak bagai abu penumbuk” yang artinya suatu kesombongan akan terlihat dari cara berjalan seseorang.
Ibnu Wahab bercerita bahwa suatu hari ia duduk di sebelah Abdul Aziz bin Abi Rawad, dan pahanya menyentuh paha Abdul Aziz. Lalu Ibnu Wahab merasa tidak enak (karena menyentuh seorang penguasa), maka ia pun menggeser duduknya. Ketika Abdul Aziz melihat apa yang dilakukan Ibnu Wahab, ia menarik Ibnu Wahab sambil berkata,
“Apa yang kamu lakukan kepadaku? Apakah kamu ingin memperlakukan aku seperti orang-orang memperlakukan penguasa tiran?”
Begitulah, Abdul Aziz tidak ingin diperlakukan istimewa. Ia ingin semua orang bersikap biasa terhadapnya, walaupun ia seorang penguasa.
Abdullah bin Umar ketika menjamu orang berpenyakit kusta, belang dan penyakit-penyakit menjijikkan lainnya, ia meminta mereka untuk makan bersama di meja makannya.
Dikisahkan suatu ketika seseorang datang kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Saat itu lampunya mati. Tamu itu berkata,
“Aku saja yang membetulkan lampunya.”
“Bukanlah seorang yang mulia apabila ia menjadikan tamunya seperti pembantu,” jawab Umar.
“Kalau begitu, aku akan panggilkan pembantu untuk membetulkannya.”
“Jangan, dia baru saja tidur.”
Kemudian Umar bin Abdul Aziz mengambil minyak dan menuangkannya ke lampu itu. Ia memperbaikinya sendiri.
“Engkau seorang khalifah, apakah pekerjaan seperti ini kau lakukan sendiri?” tanya orang itu.
Umar bin Abdul Aziz pun menjawab,
“Ketika kamu datang, aku adalah Umar. Saat kamu pergi nanti, aku juga tetap Umar. Tidak ada yang kurang dariku (dengan mengerjakan pekerjaan ini). Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang tawadhu‘.”
Abu Ubaidah bin Jarrah ketika menjadi gubernur membawa sendiri ember berisi air ke kamar mandi.
Ali bin Abi Thalib menuturkan, “Orang mulia tidak akan berkurang kemuliaannya ketika membawa sendiri barang miliknya ke rumah.”
Tsabit bin Abi Malik bercerita, “Aku bertemu Abu Hurairah ketika pulang dari pasar. Ia menggendong seikat kayu bakar, sedangkan pada saat itu ia adalah gubernur di Madinah pada masa pemerintahan Marwan bin al-Hakam.”
Ashbaq bin Natabah berkata, “Aku pernah melihat Amirul Mukminin Umar bin Khattab membawa daging di tangan kirinya dan susu di tangan kanannya, masuk ke pasar dan kembali ke rumahnya.”
Urwah bin Zubair mengatakan, “Saya pernah melihat Khalifah Umar bin Khaththab ra. sedang memanggul air. Di atas pundaknya terdapat sebuah ghirbah (tempat air dari kulit). Saya berkata,
“Wahai Amirul Mukminin, tidak seharusnya Anda melakukan ini.”
“Ketika para utusan (delegasi) datang kepadaku, mereka mendengarkan dan tunduk kepadaku, sehingga kesombongan terkadang muncul dalam diriku. Oleh karena itu, aku harus menghilangkannya,” jawab Umar.
Kemudian dia melanjutkan pekerjaannya dan membawa ghirbah itu ke ruang dapur seorang wanita dari golongan Anshar, dan menuangkannya ke dalam wadahnya sampai penuh.”
Umar bin Khaththab adalah sosok peronda nomor satu. Sementara orang-orang di ibu kota kekhalifahan terlelap dalam tidur sedang dirinya tidak, orang-orang kenyang sedang dirinya tidak, orang-orang santai sedang dirinya tidak.
Pada suatu malam, ketika menyusuri lorong-lorong kota Madinah, tiba-tiba ia melihat seorang ibu berada di dalam rumahnya bersama beberapa anak kecil yang terus menangis mengelilingi sang ibu. Di sudut lain, tampak sebuah panci berisi air diletakkan di atas perapian.Umar kemudian mendekati pintu dan berkata,
“Wahai hamba Allah, kenapa anak-anak ini menangis?”
“Mereka menangis karena lapar,” sahut wanita itu.
“Lalu, untuk apa panci di atas api itu?”
“Aku mengisinya dengan air. Ini dia. Aku mengalihkan perhatian mereka dengan air itu sampai mereka tertidur. Aku mengelabui mereka supaya mengira di dalam panci itu ada sesuatu yang dimasak.”
Mendengar itu Umar menangis. Ia bergegas mendatangi tempat penyimpanan sedekah (baytul mâl). Ia mengambil sebuah karung, kemudian mengisinya dengan terigu, minyak, mentega, kurma kering, baju dan uang. Ia mengisi karung itu sampai penuh. Ia berkata pada sahayanya,
“Wahai ‘Aslam, angkat karung ini ke atas pundakku!”
“Wahai Amirul Mukminin, aku saja yang mengangkatnya,” kata ‘Aslam.
“Tidak, ini bukan kewajibanmu, wahai ‘Aslam. Sebab, aku yang akan bertanggung jawab di akhirat nanti.”
Umar membawa karung itu dan pergi menuju rumah wanita tersebut. Ia kemudian mengambil panci, mengisinya dengan terigu, sedikit minyak dan kurma kering. Ia mengaduknya, dan meniup api yang ada di bawah panci. ‘Aslam berkata,
“Aku melihat asap keluar dari sela-sela janggut Umar, dan ia memasak makanan itu sampai selesai. Ia lalu menciduknya, dan memberi makan anak-anak itu sampai mereka kenyang.”
Sikap tawadhu‘ juga dicontohkan oleh Sahabat Nabi yang lain. Suatu ketika orang-orang melihat Khalifah Ali bin Abi Thalib kw. membeli daging seharga satu dirham dan membawanya sendiri. Seseorang berkata,
“Biarkan aku yang membawakannya, wahai Amirul Mukminin.”
“Jangan, kepala rumah tanggalah yang lebih pantas membawa ini,” ucap Ali bin Abi Thalib.
Dalam sebuah cerita disebutkan bahwa Ibnu Salam membawa sepikul kayu bakar, lalu dikatakan kepadanya,
“Wahai Abu Yusuf, anak-anak dan pembantumu sanggup menggantikan pekerjaanmu itu.”
“Aku ingin menempa jiwaku, apakah ia menolak?” jawabnya.
Semua hal di atas adalah teladan nyata—bukan cerita rekaan atau legenda—agar kita senantiasa rendah hati. Berikut ini dua contoh keangkuhan yang kita berlindung kepada Allah darinya.
Seorang penguasa yang dicopot dari jabatannya pergi ke desa asalnya. Para penduduk menyambutnya dengan menggelar permadani di jalan yang akan dilalui penguasa itu, karena ia terkenal dermawan ketika masih menjadi pejabat. Dia menengok kepada orang-orang di sekelilingnya dan berkata, “Sudah semestinya mereka berbuat seperti ini!”
Contoh lain yaitu ada seorang menteri dari dinasti Abasiyah hendak menyeberangi jembatan Baghdad. Ia berdiri termangu di pinggir jembatan dan berkata, “Demi Allah, aku benar-benar kuatir kalau jembatan ini tidak kuat menahan kemuliaanku dan ambruk bersama diriku ke dalam sungai!”
Diceritakan oleh Hajjaj bin Artha‘ah—seorang ulama hadits—bahwa suatu ketika menteri itu memasuki sebuah ruang majelis dan duduk di belakang hadirin. Orang-orang di majelis itu berkata,
“Duduklah di muka!”
“Di mana pun aku duduk, aku selalu di depan. Di mana pun aku duduk, aku yang terkemuka,” jawab menteri itu.
Inilah ungkapan sikap sombong.
Sejarah telah mengajarkan kepada kita betapa Namrud dan Fir‘aun hancur derajatnya dan mati karena kepongahannya. Apakah itu semua tidak membuat kita menyadari kehambaan kita?
Mungkin kita akan mengeluh, “Ah, sejarah lagi, sejarah lagi. Apa sih istimewanya mempelajari sejarah? Apakah mempelajari sejarah tidak hanya membuang-buang waktu, sebab membuat orang terpaku pada masa lalu—masa yang memang sudah hilang dan tak perlu dibicarakan. Bukankah membicarakan orang lain apalagi yang sudah meninggal tidak diperbolehkan? Bahkan perbuatan seperti itu termasuk dalam kategori menggunjing (ghibah), yang berarti kita memakan bangkai saudara sendiri. Apakah tidak lebih baik membicarakan hal-hal aktual serta memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan?”
Janganlah kita meremehkan mempelajari sejarah, apalagi mengabaikan hikmah yang bisa dipetik. Sejarahlah yang memberi tahu kita siapa sebenarnya orang tua dan kakek-buyut kita. Sejarah jugalah yang mengatakan kepada kita tempat dan tanggal lahir kita. Sejarah yang akan memberi informasi kepada generasi mendatang bahwa mereka ada sebab kita lebih dulu ada. Jika mereka maju, maka sejarah yang akan mengingatkan mereka bahwa kemajuan yang mereka capai tidak lepas dari keringat kita dan orang-orang yang terlebih dahulu ada. Orang yang tidak memperhatikan sejarah masa lalu sangat memungkinkan jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali, bahkan berkali-kali. Dan sungguh, itu suatu kecelakaan yang pasti sangat menggelikan.
Mempelajari sejarah juga bukan termasuk menggunjing (ghibah) yang dilarang, karena untuk diambil hikmahnya. Batasan menggunjing adalah kita menyebutkan sesuatu yang tidak disenangi oleh saudara kita jika ia sampai mendengarnya, baik yang kita sebutkan itu kekurangan pada fisik, keturunan, akhlak, perbuatan, perkataan, masalah agama, pakaian, rumah, kendaraannya atah hal-hal duniawi lainnya. Semua itu dilakukan semata-mata untuk merendahkan derajat saudara kita. Namun jika untuk diambil hikmah, mengadukan kezhaliman kepada polisi atau jaksa, meminta fatwa, mencegah orang agar terhindar dari kejahatan orang lain, maka itu diperbolehkan dan tidak termasuk menggunjing yang tidak disenangi Allah.
Selain kekuasaan, memiliki nasab (garis keturunan) yang bagus juga bisa membuat kita menganggap rendah orang lain yang memiliki nasab yang kurang bagus, walaupun orang lain itu lebih tinggi ilmunya dan lebih baik amal perbuatannya. Dari segi pembicaraan, kita bisa tergoda untuk selalu membanggakan diri dan menyebut-nyebut kemuliaan nenek moyang kita.
Nasab yang baik akan mendorong untuk berkata, “Saya ini anak pejabat ternama, lho. Siapa yang tidak mengenal ayah saya?”, atau “Orang tua saya tokoh terpandang di masyarakat. Tidak mungkin kalau orang-orang akan berburuk sangka terhadap apa pun yang saya lakukan.”
Bila kita anak seorang kyai, bisa jadi kita akan berucap, “Saya ini keturunan kyai. Kakek saya kyai khos, bahkan ayah saya termasuk kyai khawwâshu al-khawwâsh (sangat khos). Kalau saya nanti mendirikan pesantren, akan saya beri nama Ma‘had Ya‘lû wa lâ Yu‘lâ ‘Alayh (Pesantren yang tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya).” Na‘ûdzubillâh min dzâlik
Berdasarkan riwayat Abdullah bin Ahmad dalam “Zawaid al-Musnid” dengan sanad shahih, suatu hari Rasulullah saw. bercerita,
“Pernah terjadi perselisihan antara dua orang di hadapan Nabi Musa as. Salah satu dari mereka berkata,
‘Aku Fulan bin Fulan bin Fulan bin Fulan… (sampai menyebutkan sembilan kakeknya).’
Kemudian Allah memberi wahyu kepada Nabi Musa,
‘Katakan kepada orang yang menyebut-nyebut nenek moyangnya. Sesungguhnya kesembilan orang itu masuk neraka dan kamu termasuk dari keluarga mereka’.”
Pemimpin besar dunia, Nabi Muhammad saw. pernah mengingatkan putri beliau—Fatimah,
إِعْمَلِيْ فَإِنِّيْ لاَ أَغْنَى عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْـئاً
“Beramallah, karena sesungguhnya aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu di hadapan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Umar bin Khaththab menulis kepada Sa‘ad bin Abi Waqqash, “Wahai Sa‘ad, jangan engkau bangga oleh perkataan orang bahwa engkau adalah paman Rasulullan saw. Allah tidak ada pertalian nasab antara diri-Nya dan seorang pun dari makhluk-Nya. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.”
Tidak ada jaminan bahwa anak orang terhormat akan menjadi orang mulia dan anak seorang kyai akan menjadi ulama. Oleh sebab itu seorang penyair berkata :
Musa yang dipelihara oleh Fir‘aun adalah orang beriman
Sedangkan Musa yang diasuh Jibril adalah kafir
Yang dimaksud Musa yang diasuh Jibril adalah Samiri. Samiri memang bernama asli Musa. Ali bin Abi Thalib kw. (karramallâhu wajhah) juga mengingatkan :
لَيْسَ الْفَتىَ مَنْ يَقُوْلُ كَانَ أَِبى، وَلـٰكِنَّ الْفَتىَ مَنْ يَقُوْلُ هٰـأَنَاذَا
Bukanlah pemuda yang mengatakan inilah (prestasi) bapakku
Akan tetapi, pemuda adalah orang yang mengatakan inilah (pretasi) aku
Sebuah syair yang indah, mengandung nasihat mulia termaktub dalam kitab “Ta‘lîm al-Muta‘allim” :
فَكَمْ عَبْـدٍ يَقُوْمُ مَقَـامَ حُرٍّ * وَكَمْ حُرٍّ يَقُوْمُ مَقَـامَ عَبْـدٍ
Betapa banyak anak orang biasa menjadi mulia (karena ketekunannya)
Namun, banyak juga anak orang mulia menjadi hina (karena kemalasannya)
Dikisahkan, suatu hari Sahabat Zaid bin Tsabit mengendarai hewan tunggangan. Tiba-tiba Ibnu Abbas datang mendekatinya untuk memperoleh pengajaran seraya memegang kendali hewan tunggangannya dengan sikap menunduk. Zaid merasa tak enak kemudian melarangnya,
“Lepaskanlah, wahai putera paman Rasulullah!”
Namun, Ibnu Abbas tidak memedulikannya. Dia tetap memegangnya seraya berkata,
“Seperti inilah kami diperintah untuk berbuat baik (sopan dan rendah hati) kepada ulama kami.”
Zaid memang sangat cerdik. Dia segera merebut tangan Ibnu Abbas, menarik, kemudian menciumnya sambil mengatakan,
“Seperti inilah kami diperintah untuk berbuat baik kepada keluarga Rasulullah saw.”
Kisah di atas sungguh menggambarkan betapa masing-masing pihak begitu rendah hati, tak ada yang merasa lebih, padahal keduanya adalah orang-orang pilihan.
Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. bertemu anak-anak kecil di perjalanan. Di samping mereka terdapat roti yang sudah terpecah-pecah (tidak utuh lagi) dan mereka suguhkan kepadanya. Hasan lantas turun dari tunggangannya lalu makan bersama mreka. Setelah itu dia membawa mereka mampir ke rumahnya. Dia memberikan makanan dan pakaian. Dia berkata kepada keluarganya, “Keutamaan ini adalah milik mereka. Mereka belum pernah mendapatkan makanan selain apa yang telah mereka suguhkan kepadaku, sedangkan kita mendapatkan makanan lebih banyak dari ini.”
Ketika Bilal mengumandangkan adzan di atas Ka‘bah pada saat fathu al-Makkah (terbukanya kota Mekah); Harits bin Hisyam, Suhail bin Amr dan Khalid bin Usaid berkata, “Mengapa budak hitam ini yang mengumandangkan adzan di atas Ka‘bah?”
Lalu, turunlah ayat yang terjemahnya,
“…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu…” (QS al-Hujurât [49] : 13)
Kemudian Rasulullah saw. bersabda,
إِنَّ اللهَ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبَـيَّةَ الْجَاهِلِـيَّةِ-أَيْ كِبْرِهَا-كُلُّـكُمْ بَنُوْ آدَمَ وَآدَمَ مِنْ تُرَابٍ
“Sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesombongan Jahiliyah di antara kalian, karena seluruh kalian adalah keturunan Nabi Adam yang berasal dari tanah.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)
Rasulullah asw. (‘alayhish shalâtu was salâm) melarang kita menghina nasab orang lain.
إِثْنَتَانِ فِى النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ : أَلطَّعْنُ فِى النَّسَـبِ، وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ
Dua kelakuan manusia yang dapat menyebabkan kekufuran, yaitu menghina nasab (keturunan) dan berlebihan menangisi orang mati. (HR Muslim)
Kekasih Allah, Nabi saw. adalah seorang yang sangat tawadhu‘ walaupun beliau seorang imam, panglima perang, pemimpin tertinggi dan memiliki nasab luhur.
Ibnu Amr berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah melempar jumrah di atas unta, tanpa bersama pasukan, tanpa membawa senjata dan tanpa ada yang mengawal. Beliau juga pernah mengendarai keledai yang memakai kain beludru. Beliau sering menjenguk orang sakit, mengikuti jenazah, menghadiri undangan dari seorang budak, memperbaiki sandal, menjahit pakaian dan mengerjakan pekerjaan rumah bersama istrinya. Para sahabat tidak pernah berdiri ketika beliau datang ke majelis karena mereka mengetahui bahwa beliau tidak suka diperlakukan seperti itu.”
Suatu hari beliau lewat di depan anak-anak, beliau mengucapkan salam kepada mereka (coba kita perhatikan, bukan anak-anak yang terlebih dahulu mengucapkan salam kepada beliau). Pada kesempatan lain, beliau pernah bertemu seorang laki-laki dan orang itu gemetar karena melihat kewibawaan beliau, lalu beliau berkata,
هَوِّنْ عَلَيْكَ فَإِنِّيْ لَسْتُ بِمُلْكٍ إِنَّمَا اَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ كَانَتْ تَأْكُلُ الْقَدِيْد
“Tenanglah, aku bukanlah seorang raja, tetapi aku hanyalah anak dari wanita Quraisy yang makan dendeng (daging kering).” (HR Thabrani dan Baihaqi)
Beliau sering duduk bersama para sahabat dan beliau tidak menonjolkan diri. Suatu ketika ada seorang tamu datang dan ia tidak dapat membedakan mana Rasulullah di antara mereka. Akhirnya orang itu pun bertanya kepada para sahabat, mana Rasulullah? Betapa agung akhlak beliau.
Diriwayatkan oleh Abu Sa‘id al-Khudri bahwa Rasulullah saw. pernah memberi makanan kepada unta, menyapu rumah, menjahit sandal, menambal pakaian, menggembala kambing, makan bersama pelayan, dan menggoreng ikan. Nabi saw. tidak pernah merasa malu membawa barang belanjaannya dari pasar menuju ke tempat keluarganya. Beliau juga pernah bersalaman dengan orang kaya dan orang fakir, mengawali salam, tidak meremehkan pemberian (hadiah) apabila beliau diundang, meskipun hanya beberapa potong roti.
Beliau suka memberi makanan, berbudi pekerti baik, berkarakter baik, pandai bergaul, muka berseri-seri, tersenyum, berduka cita tanpa masam, rendah hati tanpa merasa hina, dermawan tanpa berlebih-lebihan, lemah lembut dan kasihan terhadap orang Islam, tidak pernah merasakan kenyang dan tidak pernah mengulurkan tangan terhadap makanan meskipun sangat ingin. Semoga Allah membimbing kita untuk dapat meneladani beliau, amin.
Bersambung…!.
Adopted by @_pararaja from www.achmadfaisol.blogspot.com
Upaya Peningkatan Mutu dan Daya Guna Limbah Dedak Padi
Gatot Siswo Hutomo, Mappiratu, dan Asriani Hasanuddin
Jurusan Budi Daya Pertanian, Universitas Tadulako
Dedak padi termasuk salah satu limbah pertanian yang berpotensi sebagai bahan baku industri pakan dan pangan. Ketersediaan dedak di Indonesia cukup tinggi, yaitu berkisar 4.8 juta ton per tahun. Selain sebagai pakan ternak, dedak berpotensi sebagai bahan pangan karena mengandung pati dan minyak, serta sebagai bioproses karena mengandung lipase. Oleh karena itu, perlu kajian yang dapat meningkatkan mutu dan daya guna dedak melalui penerapan teknologi sederhana dan tepat guna. Tujuan penelitian ini ialah melakukan fraksinasi dan analisis proksimat hasil fraksinasi limbah dedak padi, mengkaji faktor yang berpengaruh terhadap produksi β-karoten, menentukan kondisi optimum untuk memproduksi pengemulsi monoasil gliserol (MAG) dan diasil gliserol (DAG) minyak dedak padi, dan mengkaji faktor yang mempengaruhi rendemen dan mutu tepung hasil pengolahan dedak dan aplikasinya pada pembuatan biskuit dan roti.
Dari penelitian ini ditemukan komposisi ransum ayam potong yang mengandung provitamin A hasil fermentasi dedak (fraksi I) yang cenderung mengurangi pembentukan lemak abdominal. Penggunaan dedak sebagai pakan unggas dapat diaplikasikan melalui fraksinasi (pengurangan serat kasar) dan fermentasi dengan cendawan oncom merah (peningkatan provitamin A). Hasil penelitian ini juga memberikan informasi tentang kondisi reaksi pembentukan MAG dan DAG serta waktu reaksi yang optimum. MAG dan DAG ialah senyawa turunan lemak atau minyak yang mempunyai fungsi sebagai bahan pengemulsi, aman digunakan untuk pangan, kosmetik, dan obat-obatan sehingga mempunyai prospek yang cerah. MAG dan DAG pada penelitian ini disintesis secara enzimatis, yaitu lipase sebagai biokatalis yang terdapat pada sekam (dedak fraksi III). Kondisi reaksi yang optimum untuk memperoleh kandungan MAG dan DAG yang tinggi ialah pada nisbah dedak fraksi III:gliserol:minyak:heksana ialah 10:1:2:50 dengan kondisi suhu 37°C dan pH 7.0 serta lama waktu reaksi 103 jam. Rendemen campuran MAG dan DAG yang diperoleh sekitar 90% kotor dengan menggunakan reaktor berkapasitas 10 liter.
Dari penelitian ini juga diperoleh tepung rendah lemak dan tinggi protein hasil pengolahan dedak fraksi II. Rendemen tepung rendah lemak dan tinggi protein terdiri atas tepung endapan 34% dan tepung dekantasi 60% yang diperoleh dari dedak fraksi II (tepung). Tepung rendah lemak dan tinggi protein digunakan pada pembuatan biskuit dan roti. Pada pembuatan biskuit dan roti tepung rendah lemak dan tinggi protein dapat mensubstitusi tepung terigu sampai 20%.
Adopted by @_pararaja from Hibah Bersaing VIII
Zinc (Zn)
Zinc is naturally present in water. The average zinc concentration in seawater is 0.6-5 ppb. Rivers generally contain between 5 and 10 ppb zinc. Algae contain 20-700 ppm, sea fish and shells contain 3-25 ppm, oysters contain 100-900 ppm and lobsters contain 7-50 ppm. The World Health Organization stated a legal limit of 5 mg Zn2+/L. Elementary zinc does not react with water molecules. The ion does form a protective, water insoluble zinc hydroxide (Zn(OH)2) layer with dissolved hydroxide ions. Zinc salts cause a milky turbidity in water in higher concentrations. Additionally, zinc may add an unwanted flavour to water. This occurs at concentrations of about 2 mg Zn2+/ L.
The solubility of zinc depends on temperature and pH of the water in question. When the pH is fairly neutral, zinc in water insoluble. Solubility increases with increasing acidity. Above pH 11, solubility also increases. Zinc dissolves in water as ZnOH+ (aq) or Zn2+ (aq). The most significant zinc ores include sphalerite (ZnS) and smithsonite (ZnCO3). These compounds end up in water on locations where zinc ores are found. About three-quarters of the total zinc supply is used in metal form.
The remainder is applied as various zinc compounds in various industries. Industrial wastewaters containing zinc stem from galvanic industries, battery production, etc. Zinc compounds are applied for many different purposes. Zinc chloride is applied for parchment production, zinc oxide is a constituent of salves, paints and catalysers, zinc vitriol is applied as a fertilizer, and zinc bacitracine is applied as a growth stimulant in animal husbandry. The larger part of zinc in wastewater does not stem from point sources. It stems from larger surface waters containing the element. Zinc leaks from zinc pipes and rain pipes, consequential to circulation of carbon rich water. Car tires containing zinc and motor oil from zinc tanks release zinc compounds on roads. Zinc compounds are present in fungicides and insecticides, and consequently end up in water. When inadequate safety measures are taken, zinc may be emitted from chemical waste dumps and landfills, or from dredge mortar.
Zinc was not attributed a water hazard class, because it is not considered a hazard. This however only concerns elementary zinc. Some zinc compounds, such as zinc arsenate and zinc cyanide, may be extremely hazardous. Zinc is a dietary mineral for humans and animals. Still, overdoses may negatively influence human and animal health and over a certain boundary concentration, zinc may even be toxic. Toxicity is low for humans and animals, but phytotoxicity may not be underestimated.
Sludge from wastewater treatment is applied in agriculture, horticulture and forestry, and zinc concentrations may therefore not exceed the 3 g/ kg boundary. Ecotoxicological tests attributed a 50 μg/L PNEC value to dissolved zinc. This means a total concentrations of 150-200 μg/L of zinc in water. This PNEC value represents the maximum concentration where no environmental effect occurs (Predicted No Effect Concentration). Industrial zinc emissions decreased strongly in the past decades. Current zinc values are not a very extensive environmental risk. Zinc concentrations in the River Rhine have reached optimal values. Unfortunately, locations of historical contamination still exist. A total of five stable zinc isotopes occur naturally, among which are 64Zn, 66Zn en 68Zn. We now know of about fifteen instable zinc isotopes. 65Zn is present in nuclear reactor cooling water, and is applied in medicine.
Zinc appears to accumulates in some organisms.
The human body contains approximately 2.3 g zinc, and zinc has a dietary value as a trace element. Its functions involve mainly enzymatic processes and DNA replication. The human hormone insulin contains zinc, and it plays an important role in sexual development. Symptoms of zinc deficiencies are tastelessness and loss of appetite. Children’s immune systems and enzyme systems may be affected.
Higher zinc application appears to protect people from cadmium poisoning. Zinc may also decrease lead absorption. The relation copper : zinc in the human body is an important characteristic.
One may also absorb zinc overdoses. This does not occur very regularly. Symptoms include nausea, vomiting, dizziness, colics, fevers and diarrhoea and mostly occur after intake of 4-8 g of zinc. Intake of 2 g of zinc sulphate at once cause acute toxicity leading to stomach aches and vomiting. Strikingly, zinc belongs to the same elemental group in the periodic chart as cadmium and mercury, which are both toxic. Examples of zinc-related health effects also include mucous membrane infection from zinc chloride (lethal dose 3-5 g), and zinc vitriol poisoning (lethal dose 5 g).
Zinc may be removed from water by different methods. To achieve a level that meets legal standards, one may apply such techniques as coagulation, ion exchange and active carbon. Sand filtration is perceived and excellent solution.
(sumber ada pada redaksi).
Orang “Pintar” dan “ Bodoh” ala Bob Sadino.
Setiap orang punya perjalanan hidup yang berbeda-beda dan menerjemahkan perjalanan hidupnya pun tak akan sama kedalam petuah-petuah kata yang bermakna. Demikian pula dengan sosok Bob Sadino yang ber-azzam untuk tidak membawa ilmu yang dimilikinya keliang kubur sebelum di ajarkan kepada anak bangsa ini.
Berikut tulisan-tulisan Beliau, semoga bermanfaat.
1. Terlalu Banyak Ide – Orang “pintar” biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide, sehingga tidak satupun yang menjadi kenyataan. Sedangkan orang “bodoh” mungkin hanya punya satu ide dan satu itulah yang menjadi pilihan usahanya
2. Miskin Keberanian untuk memulai – Orang “bodoh” biasanya lebih berani dibanding orang “pintar”, kenapa ? Karena orang “bodoh” sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose. Sebaliknya, orang “pintar” telalu banyak pertimbangan.
3. Telalu Pandai Menganalisis – Sebagian besar orang “pintar” sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat lengkap, mulai dari modal, untung rugi sampai break event point. Orang “bodoh” tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usaha.
4. Ingin Cepat Sukses – Orang “Pintar” merasa mampu melakukan berbagai hal dengan kepintarannya termasuk mendapatkahn hasil dengan cepat. Sebaliknya, orang “bodoh” merasa dia harus melalui jalan panjang dan berliku sebelum mendapatkan hasil.
5. Tidak Berani Mimpi Besar – Orang “Pintar” berlogika sehingga bermimpi sesuatu yang secara logika bisa di capai. Orang “bodoh” tidak perduli dengan logika, yang penting dia bermimpi sesuatu, sangat besar, bahkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai menurut orang lain.
6. Bisnis Butuh Pendidikan Tinggi – Orang “Pintar” menganggap, untuk berbisnis perlu tingkat pendidikan tertentu. Orang “Bodoh” berpikir, dia pun bisa berbisnis.
7. Berpikir Negatif Sebelum Memulai – Orang “Pintar” yang hebat dalam analisis, sangat mungkin berpikir negatif tentang sebuah bisnis, karena informasi yang berhasil dikumpulkannya sangat banyak. Sedangkan orang “bodoh” tidak sempat berpikir negatif karena harus segera berbisnis.
8. Maunya Dikerjakan Sendiri – Orang “Pintar” berpikir “aku pasti bisa mengerjakan semuanya”, sedangkan orang “bodoh” menganggap dirinya punya banyak keterbatasan, sehingga harus dibantu orang lain.
9. Miskin Pengetahuan Pemasaran dan Penjualan – Orang “Pintar” menganggap sudah mengetahui banyak hal, tapi seringkali melupakan penjualan. Orang “bodoh” berpikir simple, “yang penting produknya terjual”.
10. Tidak Fokus – Orang “Pintar” sering menganggap remeh kata Fokus. Buat dia, melakukan banyak hal lebih mengasyikkan. Sementara orang “bodoh” tidak punya kegiatan lain kecuali fokus pada bisnisnya.
11. Tidak Peduli Konsumen – Orang “Pintar” sering terlalu pede dengan kehebatannya. Dia merasa semuanya sudah Oke berkat kepintarannya sehingga mengabaikan suara konsumen. Orang “bodoh” ?. Dia tahu konsumen seringkali lebih pintar darinya.
12. Abaikan Kualitas -Orang “bodoh” kadang-kadang saja mengabaikan kualitas karena memang tidak tahu, maka tinggal diberi tahu bahwa mengabaikan kualitas keliru. Sednagnkan orang “pintar” sering mengabaikan kualitas, karena sok tahu.
13. Tidak Tuntas – Orang “Pintar” dengan mudah beralih dari satu bisnis ke bisnis yang lain karena punya banyak kemampuan dan peluang. Orang “bodoh” mau tidak mau harus menuntaskan satu bisnisnya saja.
14. Tidak Tahu Pioritas – Orang “Pintar” sering sok tahu dengan mengerjakan dan memutuskan banyak hal dalam waktu sekaligus, sehingga prioritas terabaikan. Orang “Bodoh” ? Yang paling mengancam bisnisnyalah yang akan dijadikan pioritas
15. Kurang Kerja Keras dan Kerja Cerdas – Banyak orang “Bodoh” yang hanya mengandalkan semangat dan kerja keras plus sedikit kerja cerdas, menjadikannya sukses dalam berbisnis. Dilain sisi kebanyakan orang “Pintar” malas untuk berkerja keras dan sok cerdas,
16. Menacampuradukan Keuangan – Seorang “pintar” sekalipun tetap berperilaku bodoh dengan mencampuradukan keuangan pribadi dan perusahaan.
17. Mudah Menyerah – Orang “Pintar” merasa gengsi ketika gagal di satu bidang sehingga langsung beralih ke bidang lain, ketika menghadapi hambatan. Orang “Bodoh” seringkali tidak punya pilihan kecuali mengalahkan hambatan tersebut.
18. Melupakan Tuhan – Kebanyakan orang merasa sukses itu adalah hasil jarih payah diri sendiri, tanpa campur tangan “TUHAN”. Mengingat TUHAN adalah sebagai ibadah vertikal dan menolong sesama sebagai ibadah horizontal.
19. Melupakan Keluarga – Jadikanlah keluarga sebagai motivator dan supporter pada saat baru memulai menjalankan bisnis maupun ketika bisnis semakin meguras waktu dan tenaga
20. Berperilaku Buruk – Setelah menjadi pengusaha sukses, maka seseorang akan menganggap dirinya sebagai seorang yang mandiri. Dia tidak lagi membutuhkan orang lain, karena sudah mampu berdiri diats kakinya sendiri.
Sumber ; Bob Sadino
Teror Flu Babi ( H1N1)
WHO mengatakan dunia hampir mendekati situasi pandemi flu dibandingkan tahun-tahun sejak 1968 – tingkat ancamannya adalah tiga dari skala enam. Tidak ada yang tahu dampak pandemi penyakit ini sepenuhnya, namun para pakar memperingatkan korban tewas bisa mencapai jutaan orang di seluruh dunia. Pandemi flu Spanyol, misalnya, yang dimulai tahun 1819 dan juga disebabkan oleh virus H1N1, menewaskan jutaan orang.
Sejauh ini, pihaknya tengah mengumpulkan data dan kajian ilmiah mengenai penyakit itu dari berbagai sumber dan terus berkoordinasi dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk memantau perkembangan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat keganasan flu babi dan apa bentuk penanganan paling tepat menghadapi ancaman flu babi di Indonesia.
Para pakar pengendali penyakit masih berupaya mencari jalan dalam mengatasi wabah flu babi di Meksiko dan Amerika Serikat, serta dugaan kasus ini di negara lain.
Apakah flu babi?
Flu babi adalah penyakit pernapasan yang menjangkiti babi. Disebabkan oleh influenza tipe A, wabah penyakit ini pada babi rutin terjadi dengan tingkat kasus tinggi namun jarang menjadi fatal. Penyakit ini cenderung mewabah di musim semi dan musim dingin tetapi siklusnya adalah sepanjang tahun. Ada banyak jenis flu babi dan seperti flu pada manusia penyakit ini secara konstan berubah.
Apakah manusia bisa terjangkit flu babi?
Flu babi biasanya tidak menjalar pada manusia, meski kasus sporadis juga terjadi dan biasanya pada orang yang berhubungan dengan babi. Catatan mengenai kasus penularan dari manusia ke manusia juga sangat jarang. Penularan manusia pada manusia flu babi diperkirakan menyebar seperti flu musiman – melalui batuk dan bersin. Dalam wabah yang kini terjadi belum jelas apakah penyakit itu ditularkan dari manusia ke manusia.
Gejala flu babi pada manusia tampaknya serupa dengan gejala-gejala flu musiman manusia.
Apakah ini jenis baru flu babi?
Badan Kesehatan Dunia, WHO, membenarkan bahwa setidaknya sejumlah kasus adalah versi H1N1 influenza tipe A yang tidak pernah ada sebelumnya. H1N1 adalah virus yang menyebabkan flu musiman pada manusia secara rutin. Namun versi paling baru H1N1 ini berbeda: virus ini memuat materi genetik yang khas ditemukan dalam virus yang menulari manusia, unggas dan babi. Virus flu memiliki kemampuan bertukar komponen genetik satu sama lain, dan besar kemungkinan versi baru H1N1 merupakan hasil perpaduan dari berbagai versi virus yang berbeda yang terjadi di satu binatang sumber.
Apakah warga harus khawatir?
Saat muncul jenis baru flu yang memiliki kemampuan menyebar dari manusia ke manusia pihak berwenang mengawai dengan seksama untuk melihat apakah memiliki potensi menyebabkan pandemi. WHO memperingatkan kasus-kasus di Meksiko dan Amerika Serikat berpotensi menyebabkan pandemi global dan menegaskan situasi ini serius. Akan tetapi, WHO mengatakan masih terlalu dini untuk menilai situasi ini secara akurat. Saat ini, WHO mengatakan dunia hampir mendekati situasi pandemi flu dibandingkan tahun-tahun sejak 1968 – tingkat ancamannya adalah tiga dari skala enam.
Tidak ada yang tahu dampak pandemi penyakit ini sepenuhnya, namun para pakar memperingatkan korban tewas bisa mencapai jutaan orang di seluruh dunia. Pandemi flu Spanyol, yang dimulai tahun 1819 dan juga disebabkan oleh virus H1N1, menewaskan jutaan orang. Fakta bahwa kasus-kasus di Amerika Serikat sejauh ini memperlihatkan gejala-gejala ringan merupakan berita baik.Sementara parahnya wabah di Meksiko kemungkinan disebabkan oleh faktor wilayah yang tidak biasa yang kecil kemungkinan terjadi wilayah lain di dunia. Akan tetapi, fakta bahwa sebagian besar korban berusia muda menunjukkan satu hal yang tidak baisa. Biasanya flu musiman cenderung melanda kaum berusia tua.
Bagaimana dengan pengobatan dan vaksin?
Mengenai pengobatan pada kasus flu babi, bisa menggunakan dua jenis obat yang biasa digunakan untuk mengobati flu, yaitu Tamiflu dan Relenza. Kedua jenis obat ini cukup efektif dalam mengatasi kasus-kasus flu yang terjadi sejauh ini dan tersedia cukup termasuk di Indonesia. Ilmuwan Amerika telah mengembangkan satu vaksin baru, namun diperlukan waktu untuk menyempurnakannya dan juga memproduksi dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi permintaan.
Bagaimana dengan flu burung?
Jenis flu burung yang menyebabkan kematian di Asia Tenggara dalam beberapa tahun ini berbeda dengan jenis flu babi yang kini mewabah. Bentuk baru flu babi ini adalah H1N1 jenis baru, sementara flu burung adalah H5N1. Para pakar khawatir H5N1 berpotensi menyebabkan pendemi karena kemampuannya bermutasi secara cepat. Akan tetapi hingga sekarang penyakit itu masih merupakan penyakit unggas. Mereka yang terjangkit adalah mereka yang berhubungan dengan unggas dan kasus penularan dari manusia ke manusia sangat jarang – tidak ada tanda-tanda bahwa H5N1 sudah bisa menular dari manusia ke manusia dengan mudah.
Proses dan Gejala Virus Flu Babi
Virus flu babi mematikan yang berjangkit di Meksiko menimbulkan ketakutan akan terjadi pandemi, WHO mengonfirmasi adanya sejumlah kasus flu yang disebabkan virus influenza tipe A subtipe H1N1 yang belum pernah diketahui. Sampai saat ini para ahli terus meneliti virus tsb.
Virus baru itu mengandung tipe DNA yang mirip virus flu burung, flu babi dan flu Manuasia, termasuk elemen virus flu babi dari Eropa dan Asia.
Rangkaian Proses virus H1N1 dalam tubuh :
1. Hemaglutinin pada virus mengikat asam sialik pada membran sel
2. Membran virus melebur dengan membran sel dan virus diserap kedalam sel
3. Virus membebaskan material genetik (RNA) yang masuk ke Inti Sel.
4. Virus RNA gen direplikasi dena melahirkan RNA pembawa pesan (mRNA)
5. mRNA digunakan oleh sel untuk membuat protein virus yang baru
6. Protein virus dan RNA bergabung untuk membuat partikel viral
7. Partikel virus baru menginfeksi sel-sel lain
Bagaimana gejala penderita yang terkena penyakit flu babi ini?
Pada umumnya, gejala infeksi flu babi pada manusia mirip dengan flu biasa pada manusia. Yakni, demam yang muncul tiba-tiba, batuk, nyeri otot, sakit tenggorokan dan kelelahan yang berlebihan. Namun selain itu, virus flu babi bisa membuat penderita muntah-muntah dan diare.
Kemungkinan flu babi mewabah di Indonesia?
Penyakit flu babi yang disebabkan oleh swine influenza virus sejauh ini sudah menewaskan puluhan nyawa di Meksiko. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan lingkungan (P2PL) Tjandra Yoga Aditama mengatakan, virus flu babi berpotensi mewabah di negara lain, termasuk Indonesia.
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit flu babi, seperti dilansir Badan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Beberapa langkah tersebut antara lain:
- Tutupi hidung dan mulut Anda dengan tisu jika Anda batuk atau bersin. Kemudian buang tisu itu ke kotak sampah.
- Sering-seringlah mencuci tangan Anda dengan air bersih dan sabun, terutama setelah Anda batuk atau bersin. Pembersih tangan berbasis alkohol juga efektif digunakan.
- Jangan menyentuh mulut, hidung atau mulut Anda dengan tangan.
- Hindari kontak atau berdekatan dengan orang yang sakit flu. Sebab influenza umumnya menyebar lewat orang ke orang melalui batuk atau bersin penderita.
- Jika Anda sakit flu, CDC menyarankan Anda untuk tidak masuk kerja atau sekolah dan beristirahat di rumah.
Departemen Perhubungan telah memasang alat Termografic Scanner di berbagai pintu masuk ke Indonesia untuk mengantisipasi masuknya Flu Babi yang berasal dari para wisatawan asing yang masuk ke Indonesia. Termografic Center telah dipasang, antara lain di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, Bandara Ngurah Rai Bali, Bandara Hang Nadim Batam, Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, dan Pelabuhan Batam Center di Batam.
Ketua Komisi Teknis Kesehatan Dewan Riset Nasional Prof Amin Soebandrio, menjelaskan, flu babi adalah penyakit pernapasan babi yang disebabkan virus influenza tipe A yang sering menyebabkan wabah influenza di babi, dengan angka kematian rendah. Sebagian besar wabah terjadi pada akhir musim dingin dan bulan-bulan di mana juga terjadi wabah flu pada manusia.
1. Virus H1N1
MENGGUGAT SISTEM KONTRAK KERJA BURUH
Perusahaan di Indonesia pada umumnya tidak mau mengangkat karyawan kontrak menjadi tetap, dengan dukungan kedudukan buruh yang sangat lemah dan mudah ‘dibuang’ oleh perusahaan jika tenaga buruh sudah lemah. Akibatnya selama bertahun-tahun bekerja, status mereka tetap buruh kontrak.
Tinjauan penulis terhadap Undang-undang No.13/2003 memiliki berbagai kelemahan diantaranya pasal 59 tentang ketenagakerjaan. Pasal tersebut menjelaskan bahwa kontrak kerja atau perjanjian kerja untuk waktu tertentu hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai pada waktu tertentu. Pada penjelasan jenis kerja menurut pasal tersebut terdapat point yang menimbulkan multitafsir, yang digunakan oleh pengusaha untuk melakukan sistem kontrak kerja di perusahaannya. Apalagi UU Hukum Dagang mendukungnya dengan menyatakan bahwa buruh boleh dikontrak selama pekerjaannya sementara.
Adapun sistem kontrak kerja tersebut menurut Mustoha Iskandar, menunjukkan bahwa pengusaha di Indonesia masih menggunakan teori bisnis klasik yang sudah tidak dipakai lagi di Negara maju, bahwa buruh hanya sekedar sarana produksi, sama nilainya dengan mesin pabrik dan alat penunjang pabrik yang lain. Dengan perspektif ketenagakerjaan yang semakin modern, sistem kerja kontrak yang tidak manusiawi tidak dapat dipertahankan lagi jika perusahaan ingin maju dan berkembang. Dari perspektif itulah, sistem kontrak kerja di perusahaan Indonesia perlu dikaji ulang.
Dewasa ini telah berkembang trend perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam melaksanakan manajemen kekaryawanan/perburuhan dengan menerapkan sistem kontrak dalam hubungan kerja dengan pekerja/buruh. Karena posisi buruh yang serba terjepit, di satu sisi kebutuhan perut buruh dan keluarga begitu mendesak di lain sisi kesempatan kerja sangat langka sementara antrian orang yang menginginkan pekerjaan begitu panjang, maka tidak ada pilihan bagi mereka selain menerima sistem kerja kontrak. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan, karena kebanyakan jenis pekerjaan di mana sistem itu di terapkan sebenarnya tidak termasuk yang dapat dijadikan obyek sistem kontrak atau kalau dalam istilah hukumnya “perjanjian kerja untuk waktu tertentu”. Sistem kontrak sebetulnya hanya dapat diberlakukan pada buruh berketrampilan tinggi (high skilled workers). Sistem kontrak ini telah melanggar regulasi yang berlaku yang menegaskan bahwa buruh hanya mempunyai 2 tahapan : training/masa percobaan dan tetap. selepas masa 3 bulan, apabila seorang buruh terus dipekerjakan oleh pengusaha, maka secara hukum dengan sendirinya buruh tersebut telah menjadi buruh tetap dari perusahaan tersebut. Paradigma tersebut merupakan salah satu pola kontrol yang dikembangkan oleh pengusaha agar bisa mengamankan kepentingan-kepentingannya. Pola ini makin mengancam posisi pekerja yang sudah terpuruk karena secara sistematis hubungan kerja digiring pada pola yang mengebiri pada hak-hak buruh dan mengeliminir peluang bagi buruh untuk melawan. Pola ini diterapkan untuk mengontrol (embryo) militansi dan keradikalan segelintir buruh yang punya kesadaran akan hak sekaligus keberanian untuk memperjuangkan. Dalam tataran ideal, sistem kontrak kerja sebenarnya diciptakan sebagai penghargaan terhadap tingginya tingkat profesionalitas dan produktifitas tenaga kerja yang dalam jenis dan sifat pekerjaan tertentu mampu memberikan kontribusi besar pada perusahaan sehingga perlu penyeimbangan dalam bargaining process dengan pemilik modal atau manajemen perusahaan. Dalam situasi demikian, tenaga kerja diberi keleluasaan untuk menentukan posisi dan keadaan mana yang paling produktif bagi dirinya. Kenyataannya bargaining process semacam ini hanya dimiliki oleh sebagian kecil saja dari anggota kelas buruh kita, dan celakanya terhadap buruh ditingkatan operatorlah sistem ini diterapkan.
Realitas yang ada dilapangan menunjukkan semakin meluasnya pola kontrak ini hingga masuk kesegala sektor. Untuk tetap terus dipakai oleh pemberi kerja, maka buruh harus menunjukkan perilaku yang “manis” dan produktif. Kalau tidak, maka ia harus rela angkat kaki dari tempat kerjanya dengan pesangon sebesar setahun terakhir mereka dikontrak. Gejala demikian kalau tidak dicermati, dikritisi dan disikapi maka yang terjadi adalah bahwa seolah tidak ada yang salah dengan sistem ini dan semua menganggap penerapannya adalah baik-baik saja dan wajar. Ini adalah situasi yang berbahaya dan harus ada upaya aktif perlawanan dari segenap elemen buruh untuk mengeliminir trend perangkap sistem kontrak kerja yang membelenggu, melemahkan bahkan membunuh buruh. Dan karena lemahnya posisi buruh, tentu saja intervensi Negara mutlak diperlukan untuk mengatasi situasi tersebut.
Banyak kasus buruh kontrak tang tidak mendapat perlindungan hukum dikarenakan DISNAKER tidak melakukan tugas pengawasan ketenagakerjaan secara maximal dikarenakan DISNAKER bersifat pasif dalam setiap menemukan penyimpangan di perusahaan.Walaupun setiap menemukan penyimpangan di perusahaan DISNAKER hanya memberikan catatan, tanpa adanya pengawasan lebih lanjut apakah penyimpangan sudah dihentikan dan selanjutnya DISNAKER akan memnunngu pengaduan dari pekerja. Padahal atas nama UU Disnaker dapat melakukan penyidikan bersama polisi terhadap peusahaan yang melanggar UU ketenagakerjaan,sehingga kasus-kasus ketenagakerjaa tidak selalu terulang kembali dan membuat pengusaha jera. (Ninin Damayanti : Tempo Interaktif, Jakarta)
Menurut Mennakertrans, Erman Suparno (Suara Karya 30/4 2008: Mayday,Jakarta)
penghapusan sistem kontrak dan outsourcing akan dilakukan jika proses revisi UU Ketenagakerjaan dan UU Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jamsostek dilanjutkan. Namun untuk saat ini, pemerintah meminta perusahaan mengacu pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dalam menerapkan sistem kerja kontrak dan outsourcing. Hal ini dikarenakan, banyak perusahaan menerapkan sistem kerja kontrak dan outsourcing jauh melenceng dari yang diatur UU. Dalam hal ini, sistem kontrak kerja tidak dimanipulasi, di mana kontrak kerja maksimal 2 tahun dan diperpanjang selama 1 tahun. Setelah itu, perusahaan harus mengangkat pekerja tersebut jika memang bekerja sesuai aturan dan displin. Dalam hal ini, perusahaan diharapkan tidak menekan pekerja/buruh dan mensiasati kontrak kerja seperti kontrak baru. Sedangkan untuk outsourcing, perusahaan hanya bisa melakukan jika bukan pada kegiatan inti perusahaan. Jadi untuk kegiatan produksi tidak dibenarkan jika dilakukan oleh pekerja dengan status dari outsourcing. Namun demikian, saat ini banyak perusahaan yang mempekerjakan pekerja dari outsourcing untuk kegiatan produksi atau kegiatan inti perusahaan lainnya.
Penyusunan perjanjian/kontrak kerja masih tetap menjadi topik kontroversial. Meskipun biasanya baik pengusaha maupun pekerja terlibat dalam penyusunan perjanjian/kontrak kerja, masih ada sejumlah kasus dimana perjanjian/kontrak kerja ditetapkan oleh pihak pengusaha, sedangkan pengurus SP-TP hanya membaca dan menyetujui isinya. Untuk meningkatkan hubungan industrial di masa yang akan datang, baik pengusaha maupun pekerja harus diberi kesempatan untuk ikut menyusun perjanjian kontrak kerja. Dalam menjalankan peranannya sebagai fasilitator, sangat penting bahwa pemerintah memberikan program pendidikan yang mengetengahkan manfaat yang diperoleh bila pengusaha dan pekerja bersama-sama menciptakan dan melaksanakan peraturan tempat kerja, juga bila perselisihan yang ada diselesaikan melalui perundingan. (Lembaga Penelitian SMERU,”Hubungan Industrial in Jabotabek, Bandung, dan Surabaya di Era Kebebasan Berorganisasi”, Mei 2002).
Pada intinya untuk mengatasi permasalahan sistem kerja kontrak perlu pembenahan regulasi yang mementingkan kedua pihak dan terutama perubahan paradigma bisnis modern, dengan sistem pengawas yang indipenden tanpa melanggar standar perburuhan internasional ILO melalui Konvensi ILO no. 01 tahun 1919 dan Konvensi no. 47 tahun 1935 yaitu delapan jam/hari atau 40 jam/minggu (lima hari kerja).
Pemanfaatan Limbah Minyak Atsiri Daun Sirih untuk Produk Emulsi Antioksidan sebagai Bahan Aditif Industri
Ketengikan merupakan masalah yang sangat menentukan mutu produk pangan. Salah satu cara untuk mengatasinya ialah dengan menambahkan antioksidan. Dewasa ini penggunaan antioksidan untuk keperluan industri pangan semakin meningkat dan telah diketahui bahwa antioksidan sintetik sangat efektif dalam menghambat reaksi oksidasi lemak sehingga dapat mencegah terjadinya ketengikan produk. Akan tetapi, penggunaan antioksidan sintetik dikhawatiran menimbulkan efek patologi. Hal ini mendorong konsumen untuk memilih produk alami yang harus segera diantisipasi oleh para pakar teknologi pangan. Tujuan penelitian ini ialah menghasilkan produk bahan tambahan makanan antioksidan alami untuk memasok kebutuhan industri pangan dan juga industri kosmetik, dengan memanfaatkan bahan limbah daun sirih Penelitian tahap pertama bertujuan menemukan jenis daun sirih dan metode ekstraksi antioksidan yang optimum serta mengetahui sifat ketahanan panas ekstrak antioksidan agar dapat ditentukan kemungkinan aplikasinya. Ekstrak etanol antioksidan daun sirih hijau kering beku yang didistilasi dengan uap menghasilkan aktivitas antioksidan tertinggi, dengan nilai total fenol terendah (9.97 mg/ml) dan rendemen tertinggi (7.75%), dengan aroma lemah tertutupi aroma hijau daun (hijau) dan warna hijau kuning sampai cokelat. Ekstrak ini stabil pada pemanasan dengan suhu di bawah 125oC yang dapat dilihat dari aktivitas antioksidannya yang tidak menurun nyata bila dibandingkan dengan pemanasan pada suhu di atas 125 sampai 175oC.
Penelitian tahap kedua bertujuan memformulasi ekstrak antioksidan dalam bentuk emulsi agar dapat diaplikasikan dalam sistem berlemak. Hasil yang diperoleh ialah jenis formula emulsi antioksidan berpengaruh nyata terhadap aktivitas ekstrak antioksidan daun sirih. Penambahan karboksimetil selulosa (CMC) untuk membuat emulsi menurunkan faktor protektif emulsi antioksidan, tetapi jika penambahan CMC dilakukan bersamaan dengan gum arab maka faktor protektif emulsi antioksidan meningkat lagi. Aktivitas ekstrak antioksidan daun sirih makin tinggi jika menggunakan bahan Tween 20 sebagai bahan emulsi. Formula emulsi dengan faktor protektif yang tertinggi ialah formula dengan komposisi sebagai berikut: ekstrak antioksidan 3.23%; air 3.48%; dan Tween 20 45.16%.
Penelitian tahap ketiga bertujuan mengaplikasikan produk emulsi antioksidan untuk mencegah ketengikan produk pangan olahan berlemak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa formula emulsi ialah yang paling baik digunakan untuk mencegah ketengikan dua produk olahan, yaitu cookies dan selai kacang (peanut butter). Umur simpan cookies tanpa penambahan emulsi antioksidan selama 628.08 hari, sedangkan cookies yang ditambah emulsi antioksidan dengan konsentrasi ekstrak antioksidan 25, 50, 100, 150, dan 200 ppm berturut-turut mempunyai daya simpan sampai 668.15, 727.14, 1132.68, 1456.19, dan 1742.19 hari. Pada selai kacang, penambahan emulsi antioksidan pada konsentrasi ekstrak di atas 100 ppm menambah umur simpan selai kacang. Daya simpan selai kacang naik dari 74.06 hari (tanpa penambahan emulsi) menjadi 12 485 hari dan 18 085 hari bila ditambahkan 100 atau 200 ppm emulsi ekstrak antioksidan.
Pada studi keamanan menggunakan tikus percobaan, ekstrak antioksidan dicampur dalam air minum dan dikonsumsikan langsung pada tikus setiap hari selama 110. Konsentrasi antioksidan yang diberikan sebesar 0, 200, 500, 1000, 1500, dan 2000 ppm. Pemberian ekstrak antioksidan dengan dosis di atas 200 ppm tampak menurunkan bobot badan tikus, tetapi tidak mempengaruhi bobot organ hati, ginjal, dan pankreas. Untuk melihat efek pemberian antioksidan pada sistem imun tingkat seluler, limfosit dari limfa tikus percobaan dikultur dengan berbagai konsentrasi ekstrak antioksidan. Hasilnya menunjukkan bahwa dibandingkan dengan kelompok tikus kontrol yang tidak diberi ekstrak, terjadi sedikit penurunan dalam pertumbuhan limfosit secara in vitro. Sebaliknya, kenaikan konsentrasi antioksidan dalam kultur tampak mengurangi jumlah sel mati. Hal ini menunjukkan bahwa secara in vivo, ekstrak antioksidan bersifat prooksidan, tetapi secara in vitro bersifat melindungi sel.
Secara singkat, keefektifan kerja produk emulsi ekstrak antioksidan daun sirih tidak kalah dibandingkan dengan antioksidan sintetik. Ekstrak antioksidan ini tidak tahan panas (> 125oC) dan bila diaplikasikan pada produk pangan olahan seperti cookies dan selai kacang pada konsentrasi 100 ppm dapat meningkatkan umur simpan dua kali untuk cookies dan lima kali untuk selai kacang dibandingkan kontrol. Oleh karena itu aplikasinya sebaiknya ditujukan pada produk yang proses pengolahannya tidak memerlukan panas tinggi seperti selai kacang, cookies, cake, dan saus. Pada uji keamanan, ekstrak antioksidan menunjukkan bahwa pada dosis yang diteliti (>200 ppm) antioksidan ini bersifat prooksidan secara in vivo, tetapi secara in vitro tampak bersifat melindungi sel dari kematian. Studi keamanan pada dosis rendah (<200 ppm) masih diperlukan demikian juga studi mengenai mekanisme perlindungan sel dari kematian secara in vitro. Data ilmiah yang menunjang dapat membuka kemungkinan penggunaan ekstrak antioksidan sirih sebagai substitusi media kultur sel hewan seperti kultur sel hibridoma penghasil antibodi atau sebagai krim untuk tujuan kosmetik sebagai pencegah penuaan sel epidermis.
Adopted by @_pararaja from Hibah Bersaing
Nuri Andarwulan, Dedi Fardiaz, Hanny Wijaya, RR Zakaria, dan A Apriyantono
Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor
Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong?
Lawan rendah hati adalah sifat sombong. Tentang kesombongan, ditegaskan oleh Allah SWT dalam sebuah hadits qudsi :
أَلْكِبْرِيَاءُ رِدَائِ، وَالْعَظَمَةُ ِإزَاِريْ، فَمَنْ نَازَعَنِيْ ِفيْهِمَا قَََصَمْـتُهُ وَلاَ أُبَالِيْ
Kesombongan adalah selendang-Ku, keagungan adalah sarung-Ku. Siapa melepaskan kedua pakaian itu dari-Ku, maka Aku akan membinasakannya dan tidak akan Aku berikan rahmat kepadanya. (HR Muslim)
Syaikh az-Zarnuji memberi nasihat kepada kita agar menjauhi sifat sombong dalam sebuah syair yang tercantum dalam kitab karya beliau, yaitu “Ta‘lîm al-Muta‘allim” :
وَالْكِبْرِيَاءُ لِرَبِّـنَا صِـفَةٌ بِهِ * مَخْصُوْصَةٌ فَتَجَـنَّبْـنَهَا وَاتَّقِى
Kesombongan adalah satu sifat yang dimiliki Tuhan kita
Maka jauhilah sifat itu dan takutlah ( jagalah) dirimu
Mengapa terkadang bahkan seringkali kita sombong? Kenapa setan berhasil menanamkan sifat itu pada diri kita? Biasanya kita akan menyombongkan diri karena kelebihan yang kita miliki. Namun, adakalanya kita bersikap sombong justru untuk menutupi kekurangan kita. Banyak orang berkata,
“Sudah miskin, sombong pula.”
“Tak punya ilmu tapi lagaknya seperti ahli hadits.”
“Air beriak tanda tak dalam.”
“Tong kosong memang berbunyi nyaring.”
Banyak lagi ungkapan yang menunjukkan kesombongan. Kesombongan sebenarnya tak mempunyai kelebihan sedikit pun. Satu-satunya kelebihan yang dimiliki hanyalah sifat sombong itu sendiri. Dan, sungguh, itu sebuah kerugian.
Berikut ini penulis uraikan hal-hal yang bisa membuat diri kita menjadi sombong. Dengan mengetahuinya, maka kita bisa memohon kepada Allah agar terhindar dari sifat ini. Semoga Allah menjauhkan diri kita dari sifat sombong dan memelihara kita dengan sifat tawadhu‘, amin.
a. Harta
Harta bisa menjadikan diri kita merasa bangga yang berlebihan terhadap diri sendiri. Harta juga yang membuat kita pamer kepada orang lain, khususnya kepada orang yang tidak sekaya kita, apalagi terhadap orang-orang miskin.
Mungkin kita akan berkata, “Saya berhak sombong karena harta saya melimpah-ruah. Kekayaan saya dimakan 7 (tujuh) turunan juga tidak akan habis. Mulai dari anak, putu (bahasa Jawa, artinya cucu), buyut (cicit), canggah (ciut), wareng (piut), udeg-udeg (miut) dan gantung siwur (keturunan ketujuh).”
Dalam Al-Qur’an al-Karim, Allah membuat perumpamaan orang sombong karena kekayaan kebun yang dimiliki.
Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.
Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikit pun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,
dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.”
(QS al-Kahfi [18] : 32-34)
Pertanyaannya adalah, “Apakah kita memang berhak sombong karena harta segunung?”
Ada sebuah kisah yang akan mengingatkan kita bahwa harta kekayaan yang kita miliki nilainya sangat sedikit. Pada suatu malam Khalifah Harun ar-Rasyid sedang gelisah, kemudian beliau meminta pengawalnya untuk mengundang seorang ulama ahli hikmah. Sesampai di istana, ulama tersebut disuguhi hidangan dan minuman air putih. Singkat cerita, terjadilah percakapan antara khalifah dengan sang ulama. Harun berkata,
“Kyai, saat ini saya sedang gelisah. Mohon nasihat dari Kyai agar pikiran saya tenang, hati pun tidak resah. Saya ingin mengaji.”
“Baginda, sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas jamuan ini. Kalau boleh, saya ingin bertanya,” kata sang ulama.
“Silakan, Kyai.”
“Begini, Baginda. Harga segelas air putih ini berapa ya?”
“Saya kira mau bertanya apa, Kyai. Harga segelas air putih itu murah sekali, hanya beberapa dirham. Kalau Kyai mau, nanti saya kirim berbotol-botol ke rumah Kyai. Bila perlu, sebanyak air di kolam istana.”
Sang ulama tersenyum tulus mendengar tawaran Harun ar-Rasyid. Baginya, senyum adalah ibadah, sebagaimana dicontohkan sang teladan mulia, Nabi Muhammad saw. Selanjutnya, ulama itu pun menjawab,
“Terima kasih atas kemurahan hati, Baginda. Kalau diperkenankan saya ingin bertanya lagi. Apakah Baginda percaya bahwa Allah Maha Kuasa?”
“Tentu, Kyai, Tentu… Saya umat Rasulullah saw. Termasuk kufur seandainya saya tidak percaya bahwa Allah Maha Kuasa,” sahut Harun segera. Ia kaget sekali ditanya seperti itu. Dalam pikirannya, ia bertanya-tanya apakah sang ulama meragukan keimanan dan keislamannya?
“Begini, Baginda. Sebagaimana keyakinan kita bersama, Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa. Misalnya saja Allah menjadikan musim ini musim kemarau yang sangat panjang, sehingga kerajaan ini dan kerajaan-kerajaan yang lain kekeringan—hanya tersisa satu gelas air ini saja yang bisa diminum. Kira-kira, Baginda mau membeli segelas air ini dengan harga berapa?” lanjut sang ulama.
Suasana hening sejenak. Harun ar-Rasyid mengerutkan keningnya untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan sang ulama—pertanyaan yang baginya sungguh aneh. Namun, dia percaya tidak mungkin sang ulama akan sembarangan bertanya, pasti ada hikmah di balik itu semua. Lalu sang Khalifah pun menjawab dengan mantap,
“Kyai, kalau memang itu yang dikehendaki Allah, dan Allah Maha Kuasa untuk melakukan itu semua; maka berdasarkan fiqh bahwa mempertahankan hidup hukumnya wajib, saya akan membeli segelas air putih itu dengan seluruh kerajaan saya beserta isinya. Harta bisa dicari Kyai, asalkan kita masih hidup.”
Sang ulama mengangguk pelan tanpa suara, menunjukkan dia benar-benar mengerti bahwa Harun bersungguh-sungguh dengan jawabannya. Dengan suara yang begitu tenang dan lembut, sang ulama melanjutkan nasihatnya,
“Begitu ya, Baginda. Kalau memang itu yang akan Baginda lakukan; maka ingatlah, ternyata seluruh harta kekayaan Baginda—kerajaaan beserta isinya—hanya seharga segelas air putih ini. Betapa Allah Maha Kaya, sedangkan kita makhluk yang fakir.”
Suasana kembali hening, kali ini lebih lama dari sebelumnya. Tiba-tiba, air mata menetes membasahi pipi Khalifah Harun ar-Rasyid. Sambil menangis, sang Khalifah berkata ,
“Kyai… Terima kasih atas nasihat bijaknya.”
Kisah di atas juga tercantum di buku tulisan Dr. ‘Aidh al-Qarni yang berjudul “Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an (‘Alâ Mâidati Al-Qur’an)”, dengan versi yang berbeda namun intinya sama. Wallâhu a‘lam bish-shawâb. Seorang ulama bertanya kepada Khalifah Harun ar-Rasyid,
“Jika engkau tidak diizinkan Allah untuk meminum seteguk air-Nya, dapatkah kiranya engkau menebusnya dengan kekayaan dari kerajaanmu?”
“Demi Allah, tidak!” jawab Harun.
“Wahai Harun, dapatkah engkau menebus air yang telah engkau keluarkan dengan setengah perbendaharan kerajaanmu?”
Maksud air yang telah dikeluarkan adalah keringat, air seni dan sejenisnya. Bila Harun ar-Rasyid tidak bisa berkeringat, buang air kecil dan meneteskan air mata, apakah bisa ditukar dengan setengah perbendarahaan kerajaannya? Mendengar pertanyaan itu, Harun sadar bahwa apa yang dia miliki hanya sedikit saja. Dengan keyakinan mantap, Harun menjawab,
“Tidak, demi Allah. Kerajaan yang nilainya tidak lebih banyak dari seteguk air, bukanlah kerajaan yang sesungguhnya.”
Dari cerita tersebut, tidakkah kita sadar bahwa kita ini fakir? Apakah layak kalau kita sombong karena harta yang kita miliki?
Barangkali kita akan berkilah, “Ah, itu kan misalnya, hanya sebuah cerita; kalau musim kemarau berkepanjangan sehingga semua negara kekeringan. Itu dogma, tidak akan terjadi, apalagi di Indonesia. Di negara kita, air melimpah, banyak perusahaan AMDK (Air Minum Dalam Kemasan), bahkan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) pun masih aman-aman saja.”
Kalau memang itu argumentasi kita, apakah kita tidak tahu bahwa Allah Maha Kuasa (Al-Qâdir) untuk mengembalikan kita seperti bayi lagi yang tidak punya harta sesen pun, dan itu bisa terjadi dalam hitungan detik sebagaimana Qarun dan seluruh hartanya? Tidak ingatkah kita bagaimana tsunami di Aceh telah meluluh-lantakkan semua bangunan? Apa kita lupa bagaimana gempa yang terjadi di nusantara serta belahan lain bumi ini telah meratakan semua rumah dan gedung? Harta yang kita kumpulkan bertahun-tahun, langsung lenyap dalam sekejap.
Mungkin kita masih menampik fakta tersebut dengan berkata, “Itu kan memang daerah rawan. Rumah saya di daerah aman, tidak akan ada tsunami atau gempa. Jadi tidak perlu kuatir.”
Kalau memang itu dalil kita, lupakah kita bahwa setiap musim liburan/lebaran, ada saja rumah, kompleks pertokoan atau pasar yang terbakar; dengan penyebab klasik, yaitu listrik korslet (hubungan arus singkat)? Padahal sudah ada pengaman listrik seperti sekering dan MCB (Mini Circuit Breaker)? Bukankah sudah kita lihat bersama-sama bagaimana banjir melanda berbagai wilayah negeri ini termasuk kota besar seperti Jakarta? Dalih apa lagi yang akan kita ajukan?
Bermegah-megahan dalam harta dan segala yang bersifat kebendaan bisa melalaikan kita akan pertemuan yang pasti di hari yang dijanjikan. Terlalu sibuk dalam sarana dan melupakan tujuan utama adalah suatu kebangkrutan. Bermegah-megahan dalam harta berarti usaha memperkaya diri dengan mengumpulkan dan menimbun kekayaan materi untuk dinikmati, tetapi tidak dinafkahkan sesuai hak dan kewajiban. Dengan demikian, itu justru berarti kemelaratan yang menyibukkan. Umur habis untuk mencari tetapi hakikatnya tanpa hasil.
Siapa yang mendahulukan bentuk daripada isi, mendahulukan kulit luar daripada niat dan tujuan utama, mendahulukan dunia daripada akhirat, dan mendahulukan makhluk daripada Khaliq adalah seorang hamba yang sesat jalan dan buruk nasibnya di akhirat kelak.
Sudah lupakah kita bahwa seluruh nikmat yang kita terima adalah anugerah Allah? Apakah kita mengira bahwa nikmat itu akan kekal selamanya? Apakah kita tidak memperhatikan firman Allah bahwa yang berhak sombong hanyalah Beliau Yang Maha Memiliki Kebesaran (Al-Mutakabbir)? Kalau kita mengenakan pakaian kesombongan, bukankah itu berarti kita menantang Allah? Tidakkah itu mengandung maksud bahwa kita memproklamirkan diri sebagai tuhan? Kalau sudah begitu, siapakah yang sanggup melawan Allah, Penguasa Alam Semesta (Mâlik Al-Mulk), Raja Diraja (Al-Malik) dengan semua ke-Mahagagahan dan ke-Mahaperkasaan-Nya? Wal ‘iyâdzu billâh.
Rasulullah Muhammad saw. bersabda :
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْـقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Tidaklah masuk surga seseorang yang di hatinya terdapat kesombongan sebesar dzarrah (atom). (HR Bukhari)
Menyadari kefakiran kita, marilah kita bersama-sama bermunajat kepada Allah :
أَللَّهُمَّ لاَمَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ رَاۤدَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
Ya Allah, tiada yang dapat mencegah apa yang Engkau anugerahkan, tiada juga yang memberi apa yang Engkau cegah, tiada pula yang dapat menolak apa yang Engkau tetapkan. Tidak berguna dan tidak pula dapat menyelamatkan seseorang dari kekayaan, kedudukan, anak, pengikut dan kekuasaannya. Yang menyelamatkan dan berguna baginya hanyalah anugerah dan rahmat-Mu.
b. Ilmu
Ilmu yang kita miliki bisa menjadi fitnah, membuat diri kita menyombongkan diri di hadapan manusia, meremehkan mereka, seolah tidak ada orang berilmu seperti kita.
Kita akan berkata, “Sudah sewajarnya kalau saya memandang diri lebih tinggi dari orang lain. Saya sudah lulus pendidikan S1, S2, S3 bahkan Profesor. Saya seorang pakar, juga memperoleh banyak gelar profesional—CCIE, MCT, SCNA, SCJP, RHCE dan masih banyak lagi. Siapa yang lebih tinggi ilmunya dibandingkan saya?”
Bagi kita yang pernah menjadi santri di pesantren, bisa jadi kalimatnya seperti ini, “Saya sudah mondok di pesantren hampir 25 tahun. Saya pantas menyandang gelar al-‘Âlim, al-Fahmu (orang yang paham akan banyak hal), bahkan al-‘Allâmah (orang yang sangat tinggi ilmunya). Bagi mereka yang baru mondok 6 tahun masih dikategorikan anak TK. Mereka belajar agama baru pada tahap kulit, belum sampai kepada isi.”
Jika kita mengenyam pendidikan di luar negeri, mungkin dengan angkuhnya kita akan berucap, “Tidak ada orang secerdas saya. Saya ini paling rasional. Apa itu ulama-ulama zaman dulu, mereka orang-orang kuno, primitif dan tak layak lagi pemikirannya dipakai. Kitabnya saja kitab kuning, itu kan artinya kitab bulukan, lebih pantas dimakan rayap. Kita harus menggunakan metode baru yang lebih sistematis, ilmiah, aktual, intelek dan modern.”
Apakah sah kalau kita melakukan hal seperti itu? Tidakkah kita sadari bahwa di atas langit ada langit? Tidak mengertikah kita bahwa ilmu yang kita kuasai kita tidak sampai 1% dari keseluruhan disiplin ilmu yang saat ini sudah diketahui? Apalagi jikalau kita juga menghitung ilmu-ilmu yang masih dalam penelitian atau belum ditemukan, bisakah mencapai 0,1%-nya?
Bukankah tidak ada seorang dokter pun yang menguasai seluruh ilmu kedokteran? Setiap dokter punya spesialisasi sendiri-sendiri, misalnya spesialis tulang, penyakit dalam, anak, mata, kulit dan kelamin, neuro immunolog serta masih banyak lagi. Di bidang Teknologi Informasi juga masih dipilah-pilah, ada system administrator, network administrator, database administrator, programmer (2-Tier dan 3-Tier), desain grafis dan teknisi. Santri-santri di pondok pesantren pun terbagi-bagi, ada yang menekuni fiqh, bahasa dan sastra, tafsir, hadits dan sebagainya. Disiplin ilmu yang lain juga punya spesialisasi seperti itu.
Bila kita mengaku modern dan anti orang-orang lama, di manakah kita ketika para guru sekolah mengajarkan tentang Albert Einstein, Alessandro Volta, Alexander Fleming, Archimedes, Aristoteles, Daniel Bernoulli, James Clerk Maxwell, James Prescott Joule, James Watt, Michael Faraday, Michelangelo, Nicolaus Copernicus, Plato, Sir Isaac Newton, Socrates dan masih banyak lagi orang-orang seperti mereka yang notabene kuno menurut kita? Mengapa saat ini teori-teori kuno tersebut masih dipelajari bahkan digunakan? Lalu mengapa kita menolak mentah-mentah kitab-kitab yang disusun ulama-ulama zaman dulu? Masihkah kita merasa ilmu kita begitu tinggi dan hebat sehingga berhak merendahkan yang lain? Seorang penyair pernah berkata :
Katakan pada orang yang mengaku memiliki ilmu melimpah
Kau tahu satu hal namun banyak hal yang tidak kau ketahui
Barangkali kita akan berargumen, “Tapi kan, saya membandingkan diri saya dengan sesama manusia, bukan dengan Allah. Tidak ada orang yang berilmu seperti saya.”
Memang betul kita membandingkannya orang lain, tapi sekali lagi, sifat sombong hanya berhak disandang oleh Allah Yang Maha Mengetahui (Al-‘Alîm) serta Maha Luas Rahmat dan Ilmunya (Al-Wâsi‘).
Iblis (la‘natullâh ‘alayh) saja terusir dari sorga karena kesombongannya. Siapa sebenarnya Iblis? Ibnu Abbas ra. mengatakan, “Iblis adalah makhluk paling berilmu, tetapi ilmunya tidak bermanfaat, bahkan membuatnya pongah, sombong dan berbangga diri.”
Dalam beberapa riwayat, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dan ahli tafsir lainnya, konon Iblis adalah raja di langit dunia. Dia diberi wewenang di sana. Oleh sebab kekuasaannya, Iblis enggan bersujud ketika Allah berfirman kepada para malaikat untuk bersujud. Penolakan Iblis untuk bersujud merupakan bentuk keangkuhan. Kalimat-kalimat yang diucapkannya adalah awal dari nestapa, laknat dan penderitaan.
Bagaimana jika Allah mengingatkan kita karena kecongkakan kita, kemudian kita dicoba-Nya dengan penyakit, misalnya amnesia? Atau kita mengalami kecelakaan sehingga gegar otak? Bisa juga Allah menyadarkan kita tentang kelemahan kita dengan menaikkan tekanan darah kita sehingga terserang stroke. Na‘ûdzubillâh.
Umar bin Khaththab ra. memberi nasihat, “Jangan pelajari suatu ilmu karena tiga tujuan dan jangan pula meninggalkan ilmu karena tiga tujuan. Yakni, jangan pelajari ilmu dengan tujuan untuk berdebat, membanggakan diri dan pamer. Jangan tinggalkan ilmu (tidak mau belajar) karena malu mempelajarinya, merasa cukup berilmu dan pasrah karena kebodohan.”
Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Athaillah berpesan, “Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang memancarkan cahaya di dalam dada dan menyingkap katup hati.” Ilmu harus dapat membentuk diri orang yang berilmu dengan akhlak dan jiwa mulia, serta dapat membentuk anggota masyarakat sesuai dengan tuntunan Ilahi.
Hakikat ilmu adalah yang membawa seseorang mengenal Tuhannya dan timbulnya rasa takut (khasy-yah) kepada Allah. Yang dimaksud rasa takut adalah mengamalkan ilmu yang dianugerahkan Allah untuk menghambakan diri kepada-Nya sebagai ciri-ciri orang berilmu. Ilmu menjadi pendorong dan penguat jiwa untuk makin dekat kepada Allah, melebihi orang yang tidak berilmu.
Kalbu adalah wadah ilmu pengetahuan. Membersihkan kalbu merupakan hal yang sangat dianjurkan guna memperoleh pengetahuan yang jernih. Al-Ghazali menjelaskan, “Kalau kita membayangkan suatu kolam yang digali di tanah, maka untuk mengisinya dapat dilakukan dengan mengalirkan air sungai dari atas ke dalam kolam itu. Bisa juga dengan menggali tanah sehingga muncul mata air. Air akan mengalir dari bawah ke atas untuk memenuhi kolam, dan air itu jauh lebih jernih daripada air sungai yang mengalir dari atas. Kolam seumpama kalbu, air ibarat pengetahuan, sedangkan sungai laksana panca indera dan eksperimen.”
Ulama-ulama salaf, walaupun sangat dalam ilmunya, tetaplah rendah hati. Seseorang bertanya kepada Imam Malik tentang 40 (empat puluh) macam persoalan, tapi beliau hanya menjawab 8 (delapan) buah di antaranya dan diam dalam 32 (tiga puluh dua) masalah yang tersisa. Semua itu demi kehati-hatian, agar tidak salah dalam berfatwa.
Si penanya sampai berkata, “Engkau sungguh mengherankan, wahai Malik. Sedemikian inikah ilmu yang kau miliki? Kami bersusah payah datang mengendarai unta dari Irak dan kamu mengatakan tidak tahu!”
Imam Malik menjawab, “Pergilah kepada orang-orang dan katakan pada mereka, ‘Malik bin Anas tidak tahu apa-apa!’ ”
Imam Malik mengingatkan, “Ilmu itu bukan sekadar kepandaian atau banyak meriwayatkan hadits Nabi saw, akan tetapi ia merupakan nur yang bercahaya dalam hati. Manfaat ilmu akan mendekatkan manusia kepada Allah serta menjauhkannya dari kesombongan.”
Itulah Imam Malik, padahal Imam Syafi‘i pernah menyatakan, “Jika disebut ulama, maka Imam Malik-lah bintangnya.” Khalifah Abu Ja‘far al-Manshur berkata, “Di antara keajaiban dunia adalah otak Imam Malik.” Imam Malik memiliki keistimewaan dibandingkan ulama lain dari segi pengetahuan tentang sunnah Nabi saw. dan kecerdasan akal.
Salah satu murid Imam Malik, yaitu Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i, juga demikian rendah hati. Imam Syafi‘i berkata, “Jika engkau menjawab pertanyaan dengan jawaban ‘aku tidak tahu’, maka jawabanmu benar adanya.”
Beberapa huffâzh (orang yang hapal ribuan hadits) bercerita,
“Kami melihat Imam Ahmad bin Hanbal (di Indonesia masyhur dengan sebutan Imam Hambali, salah satu imam madzhab) turun ke pasar Baghdad dan membeli tali pengikat kayu bakar lalu memikulnya di punggungnya. Tatkala orang tahu, para penjual meninggalkan jualannya, para pedagang meninggalkan dagangannya dan orang yang berlalu berhenti untuk memberi salam kepadanya. Mereka berkata,
‘Kami bawakan kayu bakarmu.’
Tangannya pun bergetar, mukanya memerah dan matanya menangis. Dia berkata,
‘Kita adalah kaum miskin, kalaulah bukan karena Allah niscaya terungkap aib kita’.”
Abdullah, putra Imam Ahmad bercerita, “Terompah ayahku dipakainya selama delapan belas tahun. Setiap kali berlubang, dia sendiri yang menambalnya, sedangkan dia adalah imam dunia.”
Betapa rendah hati beliau, padahal beliau hapal Al-Qur’an dan ribuan hadits. Imam Ahmad juga menulis al-Musnad dari hapalannya—empat ribu hadits—termasuk salah satu musnad terbesar. Imam Syafi‘i, guru beliau pun pernah berkata, “Aku keluar dari Baghdad dan penduduknya waktu itu dua juta jiwa. Demi Allah, aku tidak menemui orang paling tahu tentang Allah, paling zuhud, paling alim dan paling mencintaiku selain Ahmad bin Hanbal.”
Ibnu Athaillah berpesan, “Orang yang menghormatimu, sebenarnya ia hanya menghormati keindahan tutup yang diberikan Allah untuk (menutupi aib)-mu. Maka, yang wajib dipuji adalah Dzat yang menutupi (aib)-mu.” Manusia itu tempat salah dan aib. Apabila ada orang memuji kita, itu bukanlah karena kehormatan yang ada pada diri kita, akan tetapi karena Allah menutupi aib kita dengan menampakkan kebaikan kita. Itu semua berkat penutup yang sangat indah dari Allah Jalla Jalâluh. Karunia Allah dan penutup indah ini hendaklah disyukuri, bukan untuk disombongkan.
Untuk menjaga agar tetap rendah hati, mari kita renungkan bersama terjemah firman-firman Allah berikut ini :
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur (menggunakannya sesuai petunjuk Ilahi untuk memperoleh pengetahuan) (QS an-Nahl [16] : 78)
وَمَاۤ أُوْتِيْتـُمْ مِنَ ٱلْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيْلاً
Kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit (QS al-Isrâ’ [17] : 85)
Katakanlah, “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS al-Kahfi [18] : 109)
Al-Qur’an menggarisbawahi bahwa rahasia ilmu Allah hanya tercurah kepada mereka yang tidak menyombongkan diri.
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.
(QS al-A‘râf [7] : 146)
Rasulullah Muhammad saw. juga mengingatkan kita :
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوْهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ
Siapa menuntut ilmu untuk mendebat ulama (karena riya’ dan harga diri), atau untuk mempecundangi orang-orang bodoh, atau untuk memalingkan muka orang-orang ke arah dirinya (sehingga namanya terkenal sebagai orang alim), maka niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.
(HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Imam Syafi‘i pernah menggubah kata-kata bersayap, “Aku mengeluh pada guruku tentang kelemahan hapalanku, maka dituntunnya aku agar meninggalkan kemaksiatan. Diajarkannya kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya, sedang cahaya Allah tidak dianugerahkan kepada si durhaka.”
Ja‘far ash-Shadiq menuturkan, “Pengetahuan bukanlah apa yang diperoleh melalui proses belajar-mengajar, tetapi cahaya yang ditampakkan Tuhan ke dalam hati orang-orang yang dikehendaki-Nya.”
Dalam kitab “Ta‘lîm al-Muta‘allim”, Syaikh Hammad bin Ibrahim al-Anshari membacakan sebuah syair kepada Syaikh az-Zarnuji tentang bagaimana harus menuntut ilmu.
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِلْمَعَادِ * فَازَ بِفَضْلٍ مِنَ الرَّشَادِ
فَيَا لِخُسْرَانِ طاَلِبِـيْهِ * لِنَيْلِ فَضْلٍ مِنَ الْعِـبَادِ
Siapa mencari ilmu karena akhirat
Maka ia mendapat keutamaan dari Yang Maha Pemberi Petunjuk
Maka lihatlah kerugian orang yang mencari ilmu
Karena mencari keutamaan dari sesama hamba
Marilah kita sadari bersama bahwa kita adalah makhluk bodoh, tiada berilmu jika tidak dikaruniai-Nya. Cobalah kita renungkan dan hayati lagi penyesalan para malaikat atas perasaan mereka bahwa mereka memiliki banyak ilmu sehingga awalnya mereka berkeberatan jika Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, padahal Allah Maha Mengetahui segalanya.
قاَلُوْا سُبْحٰـنَكَ لاَعِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَاعَلَّمْتَنَاۤ إِنَّكَ أَنْتَ ٱلْعَلِيْمُ ٱلْحَكِيْمُ
Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS al-Baqarah [2] : 32)
Alangkah baiknya bila kita juga melantunkan syair sekaligus doa yang begitu menyentuh relung-relung hati, buah karya ‘Aidh al-Qarni.
Wahai Yang Mengetahui saat nyamuk melebarkan sayapnya
dalam gelap malam yang hitam dan pekat
Dan Yang Maha Mengetahui jaringan keringat dalam tubuhnya
dan otak dalam tulang kecilnya
Ampunilah hamba yang bertaubat dari kekhilafannya
atas segala dosa yang ada
Agar selalu berada di jalan keilmuan dan ketakwaan, marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah :
أَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فَهْمَ النَّبِيِّـيْنَ وَحِفْظَ الْمُرْسَلِيْنَ. أَللَّهُمَّ اغْـنِنَا بِالْعِلْمِ وَزَيِّنَا بِالْحِلْمِ وَاكْرِمْناَ بِالتَّقْوَى وَجَمِّلْناَ بِالْعَافِيَةِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Ya Allah, kami bermohon kepada-Mu pemahaman yang Engkau anugerahkan kepada para nabi dan daya hapal yang Engkau berikan kepada para rasul. Ya Allah, perkayalah kami dengan ilmu, hiasilah kami dengan kelapangan dada, muliakanlah kami dengan takwa, serta perindahlah kami dengan afiat, demi rahmat-Mu wahai Allah Yang Maha Pengasih di atas segala pengasih, amin
Mengenal sistem manajemen perusahaan : Chapter. : 14 . Evaluasi Manajemen (1)
Evaluasi sama pentingnya dengan fungsi-fungsi manajemen lainnya, yaitu perencanaan, pengorganisasian atau pelaksanaan, pemantauan (monitoring) dan pengendalian. Terkadang fungsi monitoring dan fungsi evaluasi, sulit untuk dipisahkan. Penyusunan sistem dalam organisasi dan pembagian tugas, fungsi serta pembagian peran pihak-pihak dalam organisasi, adakalanya tidak perlu dipisah-pisah secara nyata. Fungsi manajemen puncak misalnya, meliputi semua fungsi dari perencanaan sampai pengendalian. Oleh karena itu, evaluasi sering dilakukan oleh pimpinan organisasi dalam suatu rapat kerja, rapat pimpinan, atau temu muka, baik secara reguler maupun dalam menghadapi kejadian-kejadian khusus lainnya.
Sebagai bagian dari fungsi manajemen, fungsi evaluasi tidaklah berdiri sendiri. Fungsi-fungsi seperti fungsi pemantauan dan pelaporan sangat erat hubungannya dengan fungsi evaluasi. Di samping untuk melengkapi berbagai fungsi di dalam fungsi-fungsi manajemen, evaluasi sangat bermanfaat agar organisasi tidak mengulangi kesalahan yang sama setiap kali.
Organisasi yang gagal mengidentifikasi kesalahan yang sama yang dilakukan secara terus menerus, tidak akan tumbuh dan berkembang sebagai organisasi yang unggul. Jadi secara umum, jika tidak dihadapkan pada suatu pertanyaan mengapa perlu dilakukan evaluasi? Terdapat beberapa jawaban seperti berikut:
- Karena evaluasi merupakan fungsi manajemen
- Karena evaluasi merupakan mekanisme umpan balik bagi perbaikan
- Karena evaluasi akan dapat menghindarkan organisasi dari mengulangi kesalahan yang sama
- Karena evaluasi akan dapat menemukan dan mengenali berbagai masalah yang ada di dalam organisasi dan mencoba mencari solusinya.
Evaluasi adalah proses pengumpulan dan analisis data secara sistematis yang diperlukan dalam rangka pengambilan keputusan, GAO (1992:4). Evaluasi akan menghasilkan umpan balik dalam kerangka efektivitas pelaksanaan kegiatan organisasi. Menurut Department of Health & Human Services, evaluasi adalah proses untuk mengumpulkan informasi. Sebagaimana dengan proses pada umumnya, evaluasi harus dapat mendefinisikan komponen-komponen fase dan teknik yang akan dilakukan.
Pengertian lain dikemukakan oleh Peter H. Rossi (1993:5) menyebutkan bahwa evaluasi merupakan suatu aplikasi penilaian yang sistematis terhadap konsep, desain, implementasi, dan manfaat aktivitas dan program dari suatu organisasi. Dengan kata lain, evaluasi dilakukan untuk menilai dan meningkatkan cara-cara dan kemampuan berinteraksi organisasi yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerjanya.
Evaluasi adalah proses penilaian yang sistematis, pemberian nilai, atribut, apresiasi dan pengenalan permasalahan serta pemberian solusi atas permasalahan yang ditemukan. Dalam berbagai hal, evaluasi dilakukan melalui monitoring terhadap sistem yang ada. Namun demikian, evaluasi kadang-kadang tidak dapat dilakukan dengan hanya menggunakan informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi pada organisasi saja.
Data dari luar organisasi akan menjadi sangat penting untuk digunakan dalam melakukan analisis dan evaluasi. Evaluasi mungkin saja dilakukan dengan tidak terlalu mementingkan keakuratan data yang ada, namun dengan lebih bijaksana dalam memperoleh data, sehingga data yang hanya berkriteria cukup dapat saja digunakan dalam pelaksanaan evaluasi. Penggunaan data dan informasi guna melakukan evaluasi lebih diprioritaskan pada kecepatan untuk memperoleh data dan kegunaannya. Dengan demikian, hasil evaluasi akan lebih cepat diperoleh dan tindakan yang diperlukan untuk perbaikan dapat segera dilakukan.
Klasifikasi evaluasi dapat dilakukan berdasarkan pada:
- Apa yang dievaluasi.
- Tujuan evaluasi.
- Fokus evaluasi.
- Metode evaluasi.
- Pendekatan evaluasi.
- Lingkup atau tataran yang dievaluasi.
- Orientasinya.
Berdasarkan apa yang dievaluasi, evaluasi dapat dibagi ke dalam beberapa
kelompok:
- Evaluasi kegiatan.
- Evaluasi program.
- Evaluasi kebijakan.
- Evaluasi pengelolaan keuangan.
- Evaluasi pengelolaan sumber daya manusia.
- Evaluasi terhadap sistem dan governance.
- Evaluasi terhadap struktur, mekanisme dan prosedur.
- Evaluasi efisiensi, efektivitas, kehematan, kelayakan.
Penggolongan evaluasi berdasarkan tujuan evaluasi dapat meliputi :
- Evaluasi untuk tujuan tertentu, misalnya: untuk mempelajari fakta dan kemungkinan perbaikannya, untuk meningkatkan akuntabilitas, untuk meningkatkan kinerja.
- Goal free evaluation atau evaluasi untuk mencari peluang perbaikan yang tidak ditetapkan terlebih dahulu.
Berdasarkan fokus evaluasinya pekerjaan evaluasi dapat dibagi ke dalam
lima kelompok:
- Input evaluation
- Process evaluation
- Output evaluation
- Outcomes evaluation
- Impact evaluation.
Berdasarkan pendekatannya, evaluasi dapat dibagi ke dalam:
· Evaluasi semu
· Evaluasi formal
· Evaluasi keputusan teoretis
Berdasarkan orientasinya, evaluasi dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori sebagai berikut:
- Evaluasi yang proaktif (Proactive evaluation)
- Evaluasi yang klarifikatif (Clarificative evaluation)
- Evaluasi interaktif (Interactive evaluation)
- Evaluasi monitoring (Monitoring evaluation)
- Evaluasi dampak (Impact evaluation)
Berikut ini penjelasan masing-masing kategori :
- Evaluasi yang proaktif (Proactive evaluation)
Evaluasi proaktif ini dapat dilakukan sebelum suatu kebijakan/program ditetapkan. Pendekatan-pendekatan kunci :
1. Perkiraan kebutuhan.
2. Review riset.
3. Review : praktik-praktik terbaik (best practices)
Dalam pencarian bukti-bukti dapat digunakan teknik-teknik: DELPHI, Customer Satisfaction Survey, Nominal Group Forum, Konsep Mapping, Focus Group.
· Evaluasi yang klarifikatif (Clarificative evaluation).
Evaluasi klarifikatif ini berfokus pada klarifikasi struktur internal dan fungsi dari suatu program dan kebijakan. Pendekatan-pendekatan kunci :
1. Evaluability assessment.
2. Logic development.
3. Acreditation.
Pendekatan ini cocok untuk program yang mulai dilaksanakan.
· Evaluasi interaktif (Interactive evaluation).
Evaluasi interaktif ini dapat digunakan untuk memperoleh informasi atas
implementasi program. Pendekatan penting yang bisa dipakai :
- Evaluasi responsive
- Riset tindakan
- Evaluasi pengembangan
- Evaluasi pemberdayaan
· Evaluasi monitoring (Monitoring evaluation).
Evaluasi monitoring ini sangat tepat digunakan ketika program sudah dalam pelaksanaan. Evaluasi ini sudah melibatkan pengembangan sistem untuk pemantauan kemajuan program. Indikator kinerja kuantitatif sudah harus digunakan sebagai alat untuk
mengorganisasikan data dalam evaluasi monitoring. Pendekatan-pendekatan utama yang dapat dipakai :
- Component analysis.
- Pengukuran kinerja (Performance assessment).
- System analysis.
· Evaluasi dampak (Impact evaluation).
Evaluasi ini digunakan untuk menilai hasil dan dampak program yang sudah mapan. Evaluasi ini dapat digunakan untuk membuat keputusan tentang penghargaan, atau kemanfaatan program. Evaluasi ini disebut juga evaluasi sumatif (Sumative evaluation). Pendekatan yang dapat dipakai :
- Evaluasi yang berdasarkan sasaran
- Studi proses-outcome
- Evaluasi berdasarkan kebutuhan (Needs-based evaluation)
- Goal-free evaluation (termasuk mengevaluasi dampak yang bersifat positif dan negatif (unintended impact) dan tidak hanya outcome semata).
- Performance audit.
Suatu evaluasi dilaksanakan dengan berbagai alasan, yaitu :
- Untuk memberikan penilaian terhadap pelaksanaan aktivitas dan program organisasi
- Mengestimasi manfaat usaha-usaha yang dilakukan untuk meningkatkan pelaksanaan aktivitas.
- Untuk mengembangkan program-program dan teknik baru bagi peningkatan kinerja.
- Untuk meningkatkan efektivitas manajemen pelaksanaan kegiatan.
- Untuk meyakinkan bahwa akuntabilitas kinerja organisasi cukup memadai.
Alasan perlunya evaluasi dalam suatu proses implementasi akuntabilitas adalah :
- Untuk meningkatkan mutu pelaksanaan pengelolaan aktivitas organisasi yang lebih baik.
- Untuk meningkatkan akuntabilitas kinerja organisasi.
- Untuk memberikan informasi yang lebih memadai dalam menunjang proses pengambilan keputusan.
- Meningkatkan pemanfaatan alokasi sumber daya yang tersedia,
- Sebagai dasar peningkatan mutu informasi mengenai pelaksanaan kegiatan organisasi.
- Mengarahkan pada sasaran dan memberikan informasi kinerja.
Evaluasi terhadap kebijakan/program ataupun kegiatan organisai tidaklah selalu mudah dan murah. Kemudahan dan harga yang dibayar inilah yang menjadi pertimbangan utama dalam menentukan ruang lingkup evaluasi terhadap suatu permasalahan. Pendekatan ini lebih cenderung pada teknis ekonomis belaka, meskipun manajemen yang pragmatis tentu tidak bisa mengabaikannya. Bagaimana jika pertimbangan lain, misalnya, sosial ekonomis ? Sudah tentu ruang lingkupnya menjadi berubah dan semakin meluas.
Ukuran-ukuran yang dipakai dalam pendekatan teknis ekonomis lebih kepada biaya dan manfaat, sehingga analisis biaya dan manfaat menjadi sangat penting. Lain halnya jika pendekatan yang dipakai sudah ke arah sosio ekonomis, maka pertimbangan dan ukuran lebih mengarah tidak hanya ke 3 E (ekonomis, efisien dan efektif), tetapi juga sudah kepada ke 2 E lainnya, yaitu ekuitas (kesamaan, kecukupan dan keadilan) serta excellent services (pelayanan prima).
Sebagai simpulan tujuan evaluasi sangat tergantung dari kebijakan pimpinan organisasi yang diberi wewenang untuk melakukan evaluasi dengan mempertimbangkan berbagai kendala yang ada. Evaluasi yang dilakukan oleh pihak luar harus secara eksplisit menyatakan tujuan evaluasi tersebut secara jelas, sehingga dapat didesain suatu evaluasi yang secara pragmatis dapat mencapai tujuan-tujuan itu. (bersambung)
STUDI AWAL PENGGUNAAN SEL ELEKTROKIMIA DENGAN CaZrO3-BASE SEBAGAI SENSOR HIDROGEN DALAM LEBURAN ALUMUNIUM
Oleh : Dr. Achmad Hanafi, MSC
Abstraksi
Hidrogen terlarut di dalam leburan alumunium dapat menyebabkan porositas pada produk kasting, dengan demikian pengukuran kadar hydrogen di dalam alumunium secara on-line dapat digunakan dalam perbaikan kontrol proses. Meskipun sensor kimia untuk penggunaan di dalam leburan aluminum secara komersial telah tersedia, akan tetapi biaya nya sangat mahal. Dengan demikian pengembangan sensor yang lebih ekonomis akan memperluas aplikasi dari sensor hydrogen untuk proses leburan alumunium. Salah satu pendekatan dalam mengembangkan sensor jenis ini adalah penggunaan sensor elektrokimia dengan elektrolt padat penghantar proton. Pada tulisan ini, dikembangkan suatu prototype sensor hidrogen dalam leburan Alumunium menggunakan material CaZrO3 yang didoping dengan In sebagai elektroda kerja dan Al/Al2O3 dan Mg/MgO murni sebagai elektroda pembanding. Pada pengujian awal sensor pada temperatur 7000C memperlihatkan bahwa, beda potensial yang dihasilkan dengan kedua elektroda pembanding tersebut menunjukan respon yang sesuai dengan perhitungan beda potensial secara teoritis.
Kata kunci : Calcium Zirkonat, sensor hydrogen, alumunium
Pendahuluan
Hidrogen adalah satu-satunya gas yang larut secara signifikan dalam leburan alumunium. Sumber utama hydrogen dalam aloi alumunium adalah uap air dalam udara. Sebagian besar aloi alumunium komersial dilebur di udara yang mengandung kelembaban, dan uap air yang terkandung dalam udara di sekeliling sistim peleburan akan bereaksi dengan leburan membentuk senyawaan alumunium oksida dan membebaskan gas hydrogen [1,2]. Atom hydrogen kemudian berdifusi melalui lapisan oksida dari alumunium tersebut ke dalam leburan. Kelarutan hydrogen dalam leburan alumunium adalah lebih besar disbanding dengan kelarutannya dalam padatan alumunium, maka selama solidifikasi konsentrasi hydrogen telah mencapai nilai kritis, porositas dapat bernukleasi dan tumbuh selama proses solidifikasi. Dengan demikian, jumlah hydrogen terlarut menjadi kritikal, sehingga gas hydrogen harus diminimumkan sebelum proses kasting dilakukan.
Proses pengurangan gas hydrogen dalam leburan logam termasuk ke dalam proses degassing. Untuk mendapatkan kondisi proses yang optimal diperlukan informasi konsentrasi gas hydrogen dalam leburan secara real time dan dengan demikian diperlukan pengembangan metoda pengukuran jumlah hydrogen yang cocok, di antaranya dengan penggunaan sensor hydrogen [3]. Masih cukup banyak industri yang mengalami kesulitan dalam penanganan masalah ini, sehingga sering mendapatkan produk kastingnya tidak mencapai spesifikasi dan waktu pakai yang diharapkan.
Tinjauan Pustaka
Teknik pengukuran kandungan hydrogen yang sering dipakai pada industri peleburan alumunim saat ini [4] dapat digolongkan kepada metoda semi kuantitatif in-situ, yaitu pengukuran secara on-line. Pemilihan metoda yang dipakai biasanya di dasarkan pada biaya penyediaan alat dan biaya operasi dari metoda tersebut. Secara umum pengukuran secara on-line mempunyai kelebihan dalam kepraktisan, ketepatwaktuan, ketelitian dan kedapatulangan meskipun biayanya relatif lebih tinggi.
Beberapa cara untuk pengukuran langsung kadar hydrogen dalam leburan alumunium adalah analisa hydrogen kontnyu dengan evaluasi tekanan dalam leburan (CHAPPEL) atau pengukuran langsung tekanan (DPM), secara komersial tersedia dengan nama TELEGAS® dan ALSCAN®. Pada metoda ini suatu gas pembawa (N2, He, Ar) dialirkan ke dalam leburan alumunium dengan suatu probe yang berongga. Kadar hydrogen dalam gas pembawa kemudian ditetapkan dengan mengukur konduktivitas terma dari gas.
Sensor hydrogen yang merupakan elektrolit padat dalam suatu system elektrokimia dirancang untuk menggantikan peranan sensor termal konduktivitas dalam system Telegas ® atau Alscan®, yaitu dengan menghilangkan kebutuhan untuk membawa gas hydrogen dalam leburan ke sensor. Sensor in mempunyai keuntungan dapat dstabil beroperasi pada temperatur tinggi dan mampu untuk dicelupkan langsung ke dalam leburan alumunium, selain itu konduktivitas dari elektrolit padat akan bertambah dengan kenaikan temperatur, sehingga tingginya temperatur oerasi yang dibutuhkan selama proses peleburan logam sangat cocok unuk operasi sensor. Di samping hal tersebut, mengingat output dari sensor ditentukan oeh sifat termodinamik dari leburan logam dan elektroda pembanding, maka pada prinsipnya sensor tidak memerlukan kalibrasi. Perangkat elektronik yang dibutuhkan oleh sensor ini pun sangatlah sederhana, karena output dari sensor eektrokimia adalah suatu tegangan DC.
Material sensor hydrogen yang merupakan elektroda kerja dalam system sel elektrokimia merupakan elektrolit penghantar proton. Konduksi protonik dari suatu elektrolit padat secara umum akan terbentuk melalui transport daei defek titik atau ionic tertentu. Tegangan yang terbentuk melalui elektrolit akan proporsional dengan logaritma dari konsentrasi spesies bergerak mengikuti persamaan Nernst. Contoh sensor elektrokimia yang telah digunakan dalam industri adalah untuk mengukur jumlah oksigen dalam leburan baja [5,6] yang telah mendorong pengembangan sensor elektrokimia untuk penerapan dalam proses peleburan logam lainnya[7,8].
Elektrolit padat yang pernah dicoba adalah asam antimonik dan hydrogen uranil fosfat [9]; zirconium fosfat (NASICON) dan (Zirpsio); zeolit sintetis (NH4Y dan H4Y), ß/ ß”-alumina [10-15]; Sr- dan Ba- cerat; LaZZrZ07 dan La2Ce2O7 [16-20]. Umtrmnya sensor yang dihasilkan kurang stabil, kecuali pada penggunaan material keramik CaZr03 yang didoping dengan kation In, Ga dan Se yang telah diteliti secara intensif oleh Yajima dkk. [21-24] Material ini menghasilkan proton konduksi pada temperatur tinggi (sekitar 700°C) di dalam atmosfer yaiig mengandung hidrogen dan COZ dan menLnjukkan stabilitas yang cukup tinggi.
BAHAN DAN METODE
Perakitan Sensor Hidrogen
Sesuai dengan desain elektroda kerja seperti Gambar 1 [25], ke dalamnya dimasukkan padatan kecil elektroda pembanding. Digunakan dua set elektroda pembanding yaitu serbuk AUA1203 (sensor-1) sebagai blanko dan serbuk Mg/MgO (sensor-2) untuk mengevaluasi respon dari sensor. Kemudian disisipkan ujung kawat Mo dengan diameter 0.5 mm dan mulut tabung elektrolit yang terbuka disemen dengan Ceramabond 571. Elektroda padat maupun kawat Mo dilindungi oleh tabung alurr.ina/sleeve alumina seperti terlihat dalam gar_ibar dan kenmdian disambungkan dengan pipa stainlesssteel sepanjang 1 meter untuk memudahkan sensor menjangkau leburan aluminum. Seluruh sarnbungan dibubuhi semen Ceramabond, kemudian dibiarkan diudara terbuka selama 1-4 jam dan dipanaskan pada 93°C selama 1-4 jam.
Selain dua elektroda tersebut di atas juga disisipkan sebuah elektroda lain yaag berisi kawat Mo yang berfungsi sebagai electronic ground dalam pengukuran beda potensial sensor dan juga sebagai sarana pengukuran temperatur leburan. Ketiga bagian tersebut diikat agar memudahkan dalam operasi pengukuran dan dihubungkan dengan perekam data seperti terlihat pada Gambar 2.
Pengetesan Sensor Hidrogen Pada Leburan Alumunium
Operasi pengetesan sensor dilakukan dalam tungl:u lisrik dengan ukuran diameter crucible 26 cm, tinggi 40 cm dan umpan 15 kg aluminum. Pelcburan aluminum dilakukan, pada temperatur- sekitar 700°C tanpa pengaliran gas inert. Set hidrogen sensor seperti diterangkan pada Gambar 2, dihubungkan dengan perangkat perekam data, Data Shuttle/Laptop-komputer, dengan software Quicklog for Windows seperti Gambar 3. Pemanasan mula sensor dilakukan untuk mengevaluasi ketahanan kejut terma: dari sensor yaitu dengan menempatkan sensor sejajar dengan bibir crucibel selama wak;u tertentu dan kemudian sensors dibenamkan dibawah permukaan leburan aluminum secara sempurna. Data beda potensial (EMF) kedua elektroda sel yang berubah dengan waktu dicatat sampai dengan stabil.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengamatan keretakan dilakukan secara kualitatif setelah percobaan selesai. Hasil pengamatan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel ini menerangkan bahwa dengan pemanasan mula pada temperatur di lokasi kira-kira 20 cm di atas leburan aluminium (asumsi 500°C) selama 0 sampai 30 menit, sensor masih menu njukkan keretakan yang teramati baik pada k(instruksi tabutrg maupun pada sambungannya, sehingga pada pengukuran EMF menyebabkan “short”. Hal ini dimungkinkarn karena adanya leburan aluminium yang masuk ke dalam bagian diartara kedua elektroda yang menyusun sel elektrokimia. Sementara itu, pemanasan mula pada temperatur yang sama dalam waktu 40 menit dapat membentuk struktur sensor yang tahan keretakan akibat perbedaan temperatur sensor dengan temperatur leburan aluminium. Untuk percobaan seterusnya, digunakan kondisi pemanasan mula selama 40 menit pada posisi 20 cm di atas leburan aluminium sebelum sensor hidrogern ini digunakan untuk mengukur EMF dari contoh.

![]() |
Gambar 1. Desain kontruksi elektroda kerja sensor hidrogen
Gambar 2. Sistem pengukuran beda potensial sensor hydrogen
Tabel 1. Pengamatan keretakan sensor setelah penggunaan terhadap waktu pemanasan mula:
|
Waktu Pemanasan (menit) |
Pengamatan |
|
0 |
+++ |
|
10 |
+++ |
|
20 |
++ |
|
30 |
+ |
|
40 |
- |
Keterangan:
+ : adalah derajat keretakan.
Tabel 2. Hasil pengukuran EMF pada sensor1 (elektroda pembanding Al/A1203) dan sensor-2 (elektroda pembanding Mg/Mg0)
|
Waktu (menit) |
Sensor-1 (mV) |
Sensor-2 (mV) |
|
0 |
0 |
-571 |
|
1 |
86 |
-426 |
|
2 |
66 |
-386 |
|
3 |
77 |
-232 |
|
4 |
69 |
-160 |
|
5 |
73 |
-144 |
|
6 |
64 |
n.d. |
Hasil pengukuran EMF secara simultan dari sensor elektrokimia CaZr03 dengan dua buah elektroda pembanding yaitu Al/Al2O3 (sensor-1) dan Mg/MgO (sensor-2) versus waktu pengukuran dapat dilihat pada Tabel 2 dan hubungannya dinyatakan dalam Gambar 3.
Dari Gambar 3, dapat dilihat bahwa setelah waktu pengukuran 2 menit, output dari sensor-1 menunjukkan EMF yang stabil pada kira-kira 70 mV. Hal ini dimungkinkan karena leburan aloi dan elektroda pembanding mengandung logam yang sama, sehingga mempunyai harga AG sama dengan nol dan menyebabkan EMF teoritis untuk sensor ini llarus nol mV mcngikulti persamaan:
E = Δ G / (6) (96.487)
Besarnya EMF hasil pengukuran yang lebih dari nol diperkirakan sebagai perbedaan kandungan hidrogen dalam leburan aloi dan dalam elektroda pembanding.
Pada pengamatan dari sensor-2 menunjukkan EMF yang semakin naik dengan naiknya waktu operasi dan harga EMF ini menjadi stabil pada – 140 mV setelah sensor dicelupkan pada leburan aluminium selama 4-5 menit.
Reaksi yang terjadi pada elektroda, yang dapat menunjukkan hubungan antara kesetimbangan logam/logam oksida dan tekanan bagian hidrogen belum diketahui, dengan demikian output sensor tidak dapat dihitung sebagai konsentrasi hidrogen yang terlarut dalam leburan. Meskipun demikian, dengan asumsi bahwa reaksi terjadi pada kedua elektroda, perbedaan di antara tegangan sel untuk kedua elektroda pembanding dapat dihitung.
Reaksi kesetimbangan yang berlangsung:
2 A13+ + 3 MgO === 3 MgZ+ + A1,03
Δ G = nFE
Dengan menggunakan rumus Δ G = nFE, di mana, nilai F = 96,487 C/mol e- , dari reaksi di atas harga n adalah 6 , maka dengan menggunakan data Δ G untuk A12O3 dan MgO dari literatur 26 maka nilai EMF teoritis dapat dihitung dan kemudian diplot dengan temperatur seperti terlihat pada Gambar 4.
Dari Gambar 4 terlihat ada dua daerah temperatur yang merupakan suatu garis lurus yang dihubungkan dengan besamya perbedaan EMF teoritis pada temperatur 427, 527 dan 627°C dengan persamaan garis-I :Y = 0,0269 X – 222,66; dan temperatur 727, 827 dan 927°C dengan persamaan garis-II; Y = 0,0154 X – 215,18. Kedua persamaan tersebut berpotongan pada suatu titik yang menunjukkan kondisi temperatur 650°C dan perbedaan EMF teoritis – 205,16 mV. Berdasarkan literatur [27], diketahui bahwa titik lebur Al murni adalah 660°C dan Mg murni adalah 649°C, dengan demikian maka gars I bertepatan dengan daerah temperatur material padatan logam murni dan garis L pada daerah temperatur material leburan logam murni.
![]() |
Perbedaan dari perhitungan beda potensial dalam percobaan menunjukkan adanya ketergantungan pada temperatur yang relatif kecil pada rentang temperatur operasi yaitu sekitar 190 mV, di mana tidak jauh berbeda dengan beda potensial setelah waktu operasi 4 – 5 menit. Hasil ini mengindikasikan bahwa sel sensor dengan material ini dapat memberikan respon yang baik untuk pengukuran EMF dari sensor hydrogen.
Gambar 3. output dari dua sensor yang ditest secara simultan
![]() |
Gambar 4. Perbedaan EMF secara teoritis antara material murni Al2O3 dan MgO pada temperatur 450 sampai 950 oC
Kesimpulan
Studi awal penggunaan sel elektrokimia dengan CaZrO3-base sebagai sensor hidrogen pada temperatur peleburan aluminium (700°C) menerangkan bahwa besarnya signal sensor yang ditunjukan oleh beda tegangan output cnd;,kati hasil perhitungan teoritis perbedaan tegangan dari elektroda pembanding Mg dan Al, sehingga aplikasi dari sensor hidrogen in i dapat dil:embangkan lcbih ia:.jut. Masih diperlukan informasi penggunaan elektroda pembanding padat seperti Ca/CaHZ atau Mg/MgH2 agar
kandungan hidrogen sebenarnya dapat dikalkulasi serta dapat dievaluasi ketepatan dan kedapatulangan pengukuran dari sensor irti.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr.Ir.D.N.Adnyana, APU yang telah memberikan wawasan awal teoritis dan industrial tentang peleburan aluminium, dan juga kepada Prof.Dr.J.W.Fergus dalam desain dan pembuatan sensor.
DAFTAR PUSTAKA
1. S. Shivkumar, L. Wang, and D. Apelian, JOM, 43 [1] (1991) 26-32.
2. M.M. Makhlouf L. Wang, and D. Apelian, American Foundrymen’s Society (1998)1-6.
3. X.G. Chen, F.J. Klinkenberg, S. Engler, L. Heusler, and W. Scluieider, JOM., 46 [8] (1994) 34-38.
4. S. Seetharaman and D. Sichen, Emerging Separation Technologies for Metals II. ed.: R.G. Bautista, The Minerals, Metals and Materials Society (1996) 3 17-340.
5. E.T. Turkdogan and R.J. Fr•.rehan, Can. Metall. Quart., 11 [2] (1972) 371-384.
6. M. Iwase and 1′. Waseda, High.Temp. Mater. Proc., 7 [2-3] (1986) 123 131.
7. D.J. Fray, Mater. Sci. Tech., 16 (2000) 237242.
8. J.W. Fergus, AFS Transactions, 98-22 (1998) 125-130.
9. R.V. Kumar and D.J. Frzry, sensors and Actuators 15 [2] (1988) 185-191.
10. L.B. Kriksunov and D.D. Macdonald, Sensors and Actuators B 32 (19116) 157-160.
11. L.D. Angelis, A. Maimone, L. Modica, G. Alberti and R. Palombari, Sensors and Actuators B 1 (1990) 121-124.
12. S.F. Chehab, J.D. Canaday, A.K. Kuriakose, T.A. Wheat and A. Ahn)ad, Solid State Ionics, 45 [3-4] (1991) 299-3 10.
13. J. Gulens, T.H. Longhurst, A.K. Kuriakose and J.D. Canaday, Solid State Ionics 28-30 (1988) 622-626.
14. J.D. Canaday, A.K. Kuriakose, A. Ahmad and T.A. Wheat, J. Can. Cerurr. Soc. 55 (1986) 34-37.
15. M. Dekker, L’t Zand, J. Schrzm and J. Schoonman; Solid State Ionics, 35 [1-2] (1989) 157-164.
16. N. Ilara -and D.D. MacDonald, J. Electrochem. Soc. 144 [12] (1997) 41524157.
17. Y. Tan and 1′.C. Tan, J. Electrochem. Soc.
141 [2] (1994) 461-467.
18. S. Zhuiykov, Ceram. Eng. Sci. Proc., 17 [3]
(1996) 179-186.
19. T. Norby, Solid State Ionics, 40-41 (1990) 857-862.
20. H. Iwahara, H. Uchida, K. Ogaki, and H. Nagato, J. Electrccrem. Soc. 138 [1] (1991) 295-299.
21. T. Yajima, H. Iwahara, K. Koide, K. Yamamoto, Sensors and Actuators B 5 (1991) 145-147.
22. T. Yajima, K. Koide, H. Takai, N. Fukatsu, T. Ohashi and I. Iwahara, Solid State Ionics 79 (1995) 333-357.
23. T. Yajima, K. Koide, H. Takai, N. Fukatsu, T. Ohashi and I. Iwahara, Sensors and Actuators B 13-14 (1993) 697-699.
24. T. Yajima, H. Iwahara, N. Fukatsu, T. Ohashi and K. Koide, Keikinzoku 42 [5] (1992) 263-267.
25. A.H.Setiawan and J.W.Fergus, Ceramics Transactions 130 (2002) 47-56.
26. M.W. Chase, NIST-JANAF Thermochemical Tables, 4d‘ ed., J. Phys. Chem. Ref. Data, Monograph 9(1998).
27. R.T. De: eff, Them-.cdy-nan:ics in Materials Science, (Mc.Graw-Hill Inter. Ed., New York, 1993) 496_
TANYA JAWAB
Patttan L.P.S.
- Apakah selama perioda adaptasi waktu 40 menit suhu leburan tetap di maintain sekitar 700°C ?
Achmad Hanafi
- Ya, tetap 700°C karena elektronik furnace mempunyai thermostat.
Adopted from : UNISTEK. No. 1 Volume Januari 2007
MENGENAL ZAT WARNA TEKSTIL (ZAT WARNA REAKTIF PROCION)
By. : arifin
Industri tekstil dan produk tekstil merupakan salah satu bidang yang sangat berkembang di Indonesia. Perkembangan industri ini dapat dilihat dari nilai ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) yang terus meningkat. Tercatat pada tahun 1989 nilai ekspor TPT mencapai US$ 2,02 miliar, kemudian meningkat menjadi US$ 8,40 miliar pada tahun 1997. Dengan semakin meningkatnya nilai ekspor TPT dari tahun ke tahun seperti ditunjukkan pada tabel 1, menjadikan industri ini sebagai sumber devisa negara yang penting.
Tabel. 1 Jumlah Ekspor Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia. [27]
|
Tahun |
1989 |
1990 |
1991 |
1992 |
1993 |
1994 |
1995 |
1997 |
|
Nilai Ekspor (Milyar US $) |
2.02 |
2.88 |
4.0 |
5.59 |
6.05 |
5.64 |
6.04 |
8.40 |
Sumber : Harian Kompas, 17 Desember 1997.
Semakin meningkatnya jumlah ekspor tekstil dan produk tekstil ini maka barang – barang pembantu juga akan mengalami sedemikian rupa. Kenaikan hal yang sama juga terjadi pada produksi zat warna. Kira – kira 800.000 ton pewarna diproduksi untuk kebutuhan dunia. Lebih dari separuhnya merupakan zat pewarna tekstil, dari jumlah ini 15 % untuk zat pewarna kulit dan kertas, 25 % dari jumlah produksi adalah pigmen organik, sedangkan zat optik kira – kira 6 %.[26]
Tabel. 2. Produksi Zat Warna Tekstil. [26]
|
Zat Warna |
% Tahun 90-an |
% Tahun 2004 (survey) |
|
Asam |
13 % |
3,8 % |
|
Kation |
8 % |
2,7 % |
|
Direk |
12 % |
2,2 % |
|
Dispersi |
21 % |
27, 2 % |
|
Indigo |
3 % |
5,7 % |
|
Nitro |
1 % |
|
|
Pre-metalized dan mordant |
5 % |
4,3 % |
|
Reaktif |
19 % |
30,8 % |
|
Belerang |
12 % |
12,8 % |
|
Bejana Tanpa Indigo |
6 % |
2,3 % |
|
Total ton |
800.000 |
670.000 |
Pada tahun 1876 Witt menyatakan bahwa molekul zat warna merupakan gabungan dari zat organik yang tidak jenuh, kromofor sebagai pembawa warna dan auksokrom sebagai pengikat antara warna dengan serat.[22]
Molekul zat warna merupakan gabungan dari zat organik tidak jenuh dengan kromofor sebagai pembawa warna dan auksokrom sebagai pengikat warna dengan serat. [27]
Zat organik tak jenuh umumnya berasal dari senyawa aromatik dan derivatifnya (benzene, toluene, xilena, naftalena, antrasena, dsb.), Fenol dan derivatifnya (fenol, orto/meta/para kresol, dsb.), senyawa mengandung nitrogen (piridina, kinolina, korbazolum, dsb). [5]
Gugus kromofor adalah gugus yang menyebabkan molekul menjadi berwarna. Pada tabel 3. dapat dilihat beberapa nama gugus kromofor dan memberi daya ikat terhadap serat yang diwarnainya.
Tabel 3. Nama dan Struktur Kimia Kromofor.[27]
|
Nama Gugus |
Struktur Kimia |
|
Nitroso Nitro Grup Azo Grup Etilen Grup Karbonil Grup Karbon – Nitrogen Grup Karbon Sulfur |
NO atau (-N-OH) NO2 ata (NN-OOH) -NN- -C=C- -C O- -C=NH ; CH=N- -C=S ; -C-S-SC- |
Auksokrom merupakan gugus yang dapat meningkatkan daya kerja khromofor sehingga optimal dalam pengikatan. Auksokrom terdiri dari golongan kation yaitu –NH2, -NH Me, – N Me2 seperti -+NMe2Cl-, golongan anion yaitu SO3H-, -OH, -COOH. Auksokrom juga merupakan radikal yang memudahkan terjadinya pelarutan: -COOH atau –SO3H, dapat juga berupa kelompok pembentuk garam: – NH2 atau –OH. [6]
Zat warna dapat digolongkan menurut sumber diperolehnya yaitu zat warna alam dan zat warna sintetik. Van Croft menggolongkan zat warna berdasarkan pemakaiannya, misalnya zat warna yang langsung dapat mewarnai serat disebutnya sebagai zat warna substantif dan zat warna yang memerlukan zat-zat pembantu supaya dapat mewarnai serat disebut zat reaktif. Kemudian Henneck membagi zat warna menjadi dua bagian menurut warna yang ditimbulkannya, yakni zat warna monogenetik apabila memberikan hanya satu warna dan zat warna poligenatik apabila dapat memberikan beberapa warna. Penggolongan zat warna yang lebih umum dikenal adalah berdasarkan konstitusi (struktur molekul) dan berdasarkan aplikasi (cara pewarnaannya) pada bahan, misalnya didalam pencelupan dan pencapan bahan tekstil, kulit, kertas dan bahan-bahan lain. [27]
Penggolongan zat warna menurut “Colours Index” volume 3, yang terutama menggolongkan atas dasar sistem kromofor yang berbeda misalnya zat warna Azo, Antrakuinon, Ftalosia, Nitroso, Indigo, Benzodifuran, Okazin, Polimetil, Di- dan Tri-Aril Karbonium, Poliksilik, Aromatik Karbonil, Quionftalen, Sulfer, Nitro, Nitrosol dan lain-lain. [15]
Griffiths dan Daehne membagi pewarna berdasarkan tipe elektron – terangsang (exited) yang terjadi pada saat penyerapan cahaya. Luettke membaginya menjadi pewarna penyerap (absorption colorant), pewarna berfluorosensi (fluorescence colorant), dan pewarna pemindah daya (energy transfer colorant). [26]
Dalam daftar “Color Index” golongan zat warna yang terbesar jumlahnya adalah zat warna azo, dan dari zat warna yang berkromofor azo ini yang paling banyak adalah zat warna reaktif zat warna reaktif ini banyak digunakan dalam proses pencelupan bahan tekstil. [27]
<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>
|
Cl |
|
SO3Na |
|
SO3Na |
|
N═N |
|
NH |
|
N |
|
C |
|
C |
|
C |
|
N |
|
N |
|
Cl |
|
S |
|
K |
|
P |
|
R |
|
X |
<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>
Keterangan :
– S : Gugus Pelarut, misalnya asam sulfon, karboksilat
– K : Kromofor, misalnya sistim yang mengandung gugus azo, antrakuinon, dan ftalosianin.
– P : Gugus penghubung antara kromofor dan sistim reaktif, misalnya gugus amina, sulfo amina, dan amida.
– R : Sistim Reaktif, misalnya triazin, pirimidin, vinil, dan kuinoksalin.
– X : Gugus reaktif, yang mudah terlepas dari sistim reaktif, misalnya gugus khlor dan sulfat.
Gambar. 1. Struktur zat warna reaktif [8]
Disamping terjadinya reaksi antara zat warna dengan serat membentuk ikatan primer kovalen yang merupakan ikatan pseudo ester atau eter, molekul air pun dapat juga mengadakan reaksi hidrolisa dengan molekul zat warna, dengan memberikan komponen zat warna yang tidak reaktif lagi. Reaksi hidrolisa tersebut akan bertambah cepat dengan kenaikan temperatur. [27]
Selulosa mempunyai gugus alkohol primer dan sekunder yang keduanya mampu mengadakan reaksi dengan zat warna reaktif. Tetapi kecepatan reaktif alkohol primer jauh lebih tinggi daripada alkohol sekunder. Mekanisme reaksi pada umumnya dapat digambarkan sebagai penyerapan unsur positif pada zat warna reaktif terhadap gugus hidroksil pada selulosa yang terionisasi. Agar dapat bereaksi zat warna memerlukan penambahan alkali yang berguna untuk mengatur suasana yang cocok untuk bereaksi, mendorong pembentukan ion selulosa dan menetralkan asam-asam hasil reaksi. [27]
Dalam daftar “Color Index” golongan zat warna yang terbesar jumlahnya adalah zat warna azo, dan dari zat warna yang berkromofor azo ini yang paling banyak adalah zat warna reaktif. Zat warna reaktif ini banyak digunakan dalam proses pencelupan bahan tekstil. Zat warna reaktif adalah zat warna yang paling mudah dalam pencelupan untuk serat selulosa seperti kapas. Zat warna reaktif terikat pada serat dengan ikatan kovalen yang sifatnya lebih kuat daripada ikatan – ikatan lainnya sehingga sukar dilunturkan. Adanya reaksi langsung antara serat dengan zat warna mengakibatkan asam khlorida akan menghalangi terjadinya reaksi antara selulosa dengan zat warna reaktif sehingga harus ditambahkan soda atau alkali untuk mempercepat reaksi dan menghilangkan asam khlorida yang terjadi.
- Zat warna reaktif Procion merupakan zat warna dari I.C.I yang mempunyai kereaktifan rendah dan termauk zat warna reaktif panas. Zat warna Procion merupakan suatu zat warna golongan diklorotriazina yang dapat mencelup serat selulosa. Zat warna Procion dibuat dari senyawa zat warna yang mengandung gugusan amina dalam suatu proses kondensasi dengan kloridasianurat. Reaksinya dengan air mengakibatkan gugus khlorida aktif dari kloridasianurat telah terhidrolisa sebelum dapat bereaksi dengan serat sehingga hasil celupan kurang sempurna.
- Kromofor zat warna reaktif biasanya merupakan sistem azo dan antrakuinon dengan berat molekul relatif kecil. Daya serap terhadap serat tidak besar. Sehingga zat warna yang tidak bereaksi dengan serat mudah dihilangkan. Gugus-gugus penghubung dapat mempengaruhi daya serap dan ketahanan zat warna terhadap asam atau basa. Gugus-gugus reaktif merupakan bagian-bagian dari zat warna yang mudah lepas. Dengan lepasnya gugus reaktif ini, zat warna menjadi mudah bereaksi dengan serat kain.
- Selulosa mempunyai gugus alkohol primer dan sekunder yang keduanya mampu mengadakan reaksi dengan zat warna reaktif. Tetapi kecepatan reaktif alkohol primer jauh lebih tinggi daripada alkohol sekunder. Mekanisme reaksi pada umumnya dapat digambarkan sebagai penyerapan unsur positif pada zat warna reaktif terhadap gugus hidroksil pada selulosa yang terionisasi. Agar dapat bereaksi zat warna memerlukan penambahan alkali yang berguna untuk mengatur suasana yang cocok untuk bereaksi, mendorong pembentukan ion selulosa dan menetralkan asam-asam hasil reaksi.
- Reaksi yang terjadi antara serat dengan zat warna yaitu :
Dye…Cl + Sell OH ―――> Dye – O Sell + HCl
Sisa HCl yang terbentuk ini akan menyebabkan kerusakan pada serat dimana selain kekuatan serat menurun akan menyebabkan zat warna tidak sempurna dalam mengadakan fiksasi sehingga daya cucinya akan menurun. Penambahan garam alkali yaitu Na2CO3 (Sodex) dan Na2SO4 (Glauber salt) akan mempercepat laju reaksi dan menetralisir kelebihan HCl sesuai reaksi berikut :
HCl + NaOH ―――> NaCl + H2O
- Disamping terjadinya reaksi antara zat warna dengan serat membentuk ikatan primer kovalen yang merupakan ikatan pseudo ester atau eter, molekul air pun dapat juga mengadakan reaksi hidrolisa dengan molekul zat warna, dengan memberikan komponen zat warna yang tidak reaktif lagi. Reaksi hidrolisa tersebut akan bertambah cepat dengan kenaikan temperatur.
Referensi :
1. Anonim. Color Measurement, in the Textile Industry. Jerman : Bayer.
2. Ahmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta: Andi offset
3. Al. Slamet Ryadi. 1981. Ecologi. Ilmu Lingkungan, dasar – dasar dan pengertiannya 1. Surabaya : Apeka Press.
4. Alaerts, G. Santika Sumestri, Sri. 1987. Metode Penelitian Air. Surabaya: Usaha Nasional
5. Arifin. 2007. Tinjauan dan Evaluasi Proses Kimia (Koagulasi, Netralisasi, Desinfeksi) di Instalasi Pengolahan Air Minum Cikokol, Tangerang. Tangerang : PT. Tirta Kencana Cahaya Mandiri
6. Arifin. 2008. Metode Pengolahan Warna Air; Tinjauan Literatur. Tangerang : PT. Tirta Kencana Cahaya Mandiri.
7. Cooper, Randall L, 1986. Color Removal Using Alum and Cationic Polymers. USA : Pennsylvania state university park dept of civil engineering.
8. Darmojo S, Hardjito. 2003. Teknologi Pencelupan II Terapan, Metode Teori dan Praktisi. Tangerang : FT – Teknik Kimia Tekstil Unis Tangerang
9. Droste, Ronald L. 1997. Theory and Practice of Water and Wastewater Treatment,. New York : John Wiley & Sons, Inc.
10. Darmasetiawan, Martin. 2001. Teori dan Perencanaan Instalasi Pengolahan Air. Bandung : Yayasan Suryono.
11. Eaton, Andrew. et al. 2005. Standard Methods for Examination of Water and Wastewater. 21st Edition. Marryland USA : American Public Health Association.
12. Eckenfelder, W.W. 1986. Industrial Water Pollution. New York : Mc Graw Hill.
13. Fessenden, Ralp J; Fessenden, Joan, S.1994. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga
14. Hach. 2002. Water Analysis Handbook. 4th Edition. USA : Hach Company.
15. Heaton, Alan. 1994. The Chemical Industry, Second edition. London : Blackie Academic and Profesional, Chapman & Hal.
16. Jr. Day Clyde. dkk. 1987. Kimia Anorganik Teori. Jogjakarta : Gadjah Mada University press.
17. Kawamura, Susumu. 1991. Integrated Design of Water Treatment Facilities. New York : John Wiley & Sons, Inc.
18. Maria Christina P. dkk. Studi Pendahuluan Mengenai Degradasi Zat Warna Azo (Metil Orange) dalam Pelarut Air Menggunakan Mesin Berkas Elektron 350 keV/10 mA. Dalam Jurnal. JFN, Vol.1 No.1, Mei 2007. Jogjakarta; STTN – BATAN.
19. Mulyatna, Lili. dkk. 2003. Pemilihan Persamaan Isoterm pada Penentuan Kapasitas Adsorpsi Kulit Kacang Tanah Terhadap Zat Warna Remazol Golden Yellow. Bandung : FT-TL Universitas Pasundan. Dalam Infomatek, volume 5 nomor 3 September 2003.
20. Mary Saral. Dkk. 2006. Biodegradation of Textile Waste Water by an Advanced Activated Sludge Process. Tamil Nadu, India : Vellore Institute of Technology.
21. Mikebahorsky. 1998. Emerging Technologies for Color Removal. Charlotte, North Carolina : Environmental Resources Management
22. Nn. Isminingsih. dkk. 1978/1979. Pengantar Kimia Zat Warna. Bandung : Institut Teknologi Tekstil
23. N. Rajamohan; C. Karthikeyan. 2006. Kinetic Studies of Dye Effluent Degradation by Pseudomonas Stutzeri. Tamil – Nadu, India : Annamalai University
24. Peavy. Howard S. 1985. Environmental Engineering. Singapura McGraw Hill-Book Company.
25. PERPAMSI, FORKAMI. 2002. Peraturan Teknis Instalasi Pengolahan Air Minum. Jakarta : Tirta Dharma
26. Pratikto, Eko. Kimia Zat Warna. Tangerang : FT – Teknik Kimia Tekstil Unis Tangerang.
27. Renita Manurung; Rosdanelli Hasibuan; Irvan. 2004. Perombakan Zat Warna Azo Reaktif Secara Anaerob – Aerob. Medan : Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Kimia, Universitas Sumatera Utara
28. Reynolds, Tom D. 1982. Unit Operations and Processes in Environmental Engineering. California : Wadsworth, Inc.
29. Saepudin Suwarsa, 1998. Penyerapan Zat Warna Tekstil BR Red HE 7B Oleh Jerami Padi. Bandung : Institut Teknologi Bandung pada JMS Vol. 3 No. 1, hal. 32 – 40, April 1998 32
30. Sugiharto.1987. Dasar – dasar Pengelolaan Air Limbah. Jakarta: UI
31. Sukardjo. 1990. Kimia Anorganik. Jakarta : Rineka Cipta
32. Soedarsono; Benny Syahputra. Pengolahan Air Limbah Batik Dengan Proses Kombinasi Elektrokimia, Filtrasi, dan Adsorbsi. Semarang : FT-TL Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA)
33. Sastrawijaya, A. Tresna. 1991. Pencemaran Lingkungan. Jakarta : Rineka Cipta.
34. Wahyuni, Sri. dkk. 2003. Pengukuran Gas Pada Pengolahan Limbah Warna CIRB 5 Dengan Konsentrasi 60 mg/L Dalam Tahapan Reaksi Sequencing Batch Biofilm Reactor (SBBR). Bandung : FT-TLUniversitas Pasundan. Dalam Infomatek, volume 5 nomor 4 Desember 2003.
35. Wood, Kleinfelter. Keenan. dkk. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga
36. Watanabe, S. Dkk. 1986. Teknologi Tekstil. Jakarta: Pradnya Paramita.
37. Yunasfi. 2002. Pemanfaatan Limbah Cair Industri untuk Sektor Kehutanan. Medan : F. Pertanian, Universitas Sumatera Utara
38. http://www.gewater.com/handbook/wastewater_gas_cleaning_systems/ch_37_treatment.jsp
39. http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/tugas-kuliah-lainnya/ipal-limbah-tekstil
41. http://forlink.dml.or.id/pterapb/textile/123.htm
42. http://aquat1.ifas.ufl.edu/guide/color.html
Pengendalian Gas Buang Kendaraan Bermotor Dengan Uji Emisi.
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Emisi gas yang dihasilkan oleh pembakaran kendaraan bermotor pada umumnya berdampak negatif terhadap lingkungan. Sehingga perlu diambil beberapa langkah untuk dapat mengendalikan gas buang yang dihasilkan tersebut. Ada beberapa cara yang dapat diambil untuk mengatasi masalah tersebut antara lain: Uji emisi, pemilihan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan penggunaan katalitik konverter.
Beberapa tahun lalu Swiss Contact bekerja sama dengan 200 bengkel di Jakarta melakukan uji emisi kendaraan. Hasilnya, dari 16 ribu mobil yang diuji, hanya 54 persen yang memenuhi baku mutu emisi. Padahal hanya dengan perawatan sederhana seperti tune up dan mengganti saringan bensin atau oli sudah dapat menurunkan kadar emisi 30-40 persen. Seharusnya uji emisi dapat diterapkan secara ketat.
Pemberian sertifikat uji emisi sebaiknya jangan diberikan secara sembarangan. Karena adanya keharusan memiliki sertifikat inilah yang akan mendorong pemilik kendaraan betul-betul merawat kendaraannya. Untuk lulus dalam uji emisi kendaraan sebetulnya tidak terlalu sulit. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah, memastikan perangkat emisi ada pada kendaraan, karena bagian pertama dari uji emisi adalah dengan memastikan peralatan emisi berada di tempatnya. Dan sebaiknya kendaraan yang dipergunakan mempunyai peralatan original. Beberapa hal yang sering hilang ataupun tidak berada di tempatnya adalah EGR (exhaust gas recirculation valve), pompa udara, atau pipa intake pemanas udara. Mesin yang kondisinya baik biasanya bersuara halus. Busi yang tidak berfungsi, kebocoran ruang vakum, atau bensin campur akan menyebabkan tinggi emisi gas buang. Di samping itu oli mesin yang sangat kotor akan mengganggu proses penguapan oli, kemudian terhambat masuk ke ruang mesin dan akhirnya keluar melalui knalpot.
Mesin sebaiknya dipastikan bekerja pada suhu yang tepat. Karena suhu yang tidak tepat, misalnya terlalu dingin akan mengakibatkan injeksi bahan bakar berlebihan. Hal ini juga bisa berakibat Anda gagal dalam uji emisi gas buang. Untuk mengetahui apakah kendaraan teresebut layak atau tidak mendapat sertifikat uji emisi, maka dapat dilakukan suatu cara yang sederhana yaitu dengan memacu kendaraan kendaraan tersebut pada kecepatan tinggi. Ini akan membantu untuk mengetahui apakah busi kendaraan tersebut berfungsi dengan baik atau tidak, gas buang bebas karbon atau tidak, dan apakah residu tertinggal pada catalytic converter atau tidak. Sebelum mengikuti uji emisi terlebih dahulu kendaraan harus dikondisikan. Pengkondisian bisa dilakukan dengan memanaskan mesin selama 15 menit sehingga memastikan mesin berada pada suhu yang cukup, sensor oksigen panas dan mengirimkan sinyal, serta catalytic converter berfungsi. Agar bisa berfungsi catalityc converter harus dalam kondisi panas. Jika converter berada di bagian bawah-belakang kendaraan dan mesin tidak dijalankan atau berjalan lambat dan sebentar, converter akan dingin dan berhenti berfungsi.
Selama uji emisi, teknisi akan mengukur kadar hidrokarbon (HC), karbon monoksida (CO), dan nitrogen oksida (NOx). HC biasanya berasal dari pembakaran yang tidak sempurna. Silinder yang macet akan mengakibatkan kadar HC tinggi. Sedangkan CO dihasilkan oleh proses pembakaran normal akan tetapi kadar CO tinggi dapat dicegah melalui penggunaan bahan bakar secara hati-hati dan penggunaan catalytic converter. Selain itu bensin campur dalam jumlah banyak akan mengakibatkan tingginya kadar CO. Sementara itu NOx terjadi saat suhu pembakaran sangat tinggi, yang diakibatkan oleh desain mesin atau penggunaan Exhaust Gas Recirculation (EGR) pada suhu silinder tinggi. Waktu pembakaran yang tidak tepat dapat meningkatkan suhu silinder sehingga mendongkrak emisi NOx. Jadi sebaiknya jangan pernah menggunakan bensin campur.
Tidak lulusnya uji emisi kendaraan biasanya disebabkan oleh hal-hal yang sederhana seperti: busi atau kawat busi yang jelek, filter udara kotor, waktu pembakaran yang tidak tepat, atau pemakaian bensin campur dalam jumlah banyak. Perawatan rutin dan pemanasan mesin sebelum uji emisi akan membantu kelulusan uji emisi kendaraan Anda. Akibatnya memang sangat positif, industri otomotif berlomba membuat kendaraan dengan motor bakar yang tidak banyak menghasilkan emisi di bawah standar yang diizinkan.
Untuk memperoleh emisi yang rendah antara lain dengan pemasangan katub PVC sistem karburasi, sistem pemantikan yang lebih sempurna, sirkulasi uap BBM. Selain itu dikembangkan kendaraan berbahan bakar alternatif, seperti bahan bakar gas, mobil listrik, dan juga mobil fuel-cell yang paling ramah lingkungan. Sebelum mereka bisa memanfaatkan energi alternatif secara maksimal, mereka juga mengembangkan teknologi seperti HCCI (homogeneous-charge compressionignition) yang memberikan basis untuk kelas baru emisi rendah. Pemakaian gas alam cair, misalnya, bukan hanya lebih ramah lingkungan, tapi juga menguntungkan untuk kondisi Indonesia yang sangat kaya gas alam. Namun, itu perlu didukung kebijakan yang mempermudah pembangunan SPBU untuk gas alam.
Edited by : @_pararaja from Peserta Mata Kuliah Teknik Pembakaran Semester Genap 2001/2002. 2001. Portfolio Bahan Bakar Cair. Depok : Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.
Karakterisasi dan Fungsi Protein-Protein Spesifik dari Lateks Karet serta Peranannya dalam Produksi Karet
R Ukun MS Soedjanaatmadja, P Soedigdo, Toto Subroto, O Suprijana, Muljadji Agma, dan Dian Siti Kamara
Jurusan Kimia, Universitas Padjadjaran
Karet (Hevea brasiliensis) alam merupakan komoditas ekspor nonmigas yang cukup potensial dan dapat diandalkan sampai saat ini. Sebelum Perang Dunia II sampai tahun 1959-1960 Indonesia merupakan negara produsen karet nomor satu di dunia, tetapi kini Indonesia merupakan negara produsen karet setelah Malaysia. Malaysia berhasil dalam pembibitan klon-klon unggulan yang menghasilkan lateks lebih banyak karena dukungan sektor penelitian, Rubber Research Institute, yang sangat intensif.
Protein spesifik, seperti hevein, hevamin, dan pseudohevein yang terdapat di dalam lateks diduga memiliki peranan penting baik dalam proses aliran lateks maupun pertahanan pohon karet terhadap pengaruh luar, mikroorganisme, serangga, atau penyadapan. Penelitian ini bertujuan mengkaji aspek biokimia dan menginventarisasi sumber daya alam baik untuk meningkatkan produksi lateks maupun memanfaatkan proteinnya sebagai anticendawan.
Dari hasil penelitian ini diperoleh cara untuk proses isolasi dan pemurnian hevein, hevamin, dan pseudohevein dengan tingkat kemurnian yang baik. Jenis sampel B-serum hasil liofilisasi yang diproses melalui tahapan beku-cair merupakan materi yang paling baik untuk mengisolasi hevein.
Kandungan hevein pada lateks karet klon GT-I dan PR-261 lebih tinggi daripada klon LCB-1320. Nisbah hevein dan protein dasar pada klon GT-I dan PR-261 lebih besar dari satu, sedangkan pada klon LCB-1320 lebih kecil dari satu. Nisbah hevein dan hevamin pada klon GT-1, PR-261, dan LCB-1320, masing-masing ialah 12.9, 11.7, dan 3.05. Ada korelasi antara nisbah hevein dan hevamin (lebih tepatnya nisbah hevein dan protein dasar) dengan jumlah lateks yang dihasilkan oleh setiap klon karet. Makin besar nilai nisbah tersebut, maka akan semakin tinggi kuantitas lateks yang dihasilkan.
Hevein dan pseudohevein merupakan protein yang memiliki bobot molekul dan muatan yang hampir sama, namun dengan tehnik HPLC fase terbalik, keduanya dapat dipisahkan dan dimurnikan dengan baik. Hevein dan pseudohevein merupakan protein-protein yang memiliki afinitas pengikatan kitin, jadi keduanya merupakan protein pengikat kitin.
Hevein dan pseudohevein merupakan agens anticendawan yang cukup kuat untuk menghambat cendawan Aspergillus niger. Keduanya merupakan agens penstabil suspensi karet . Hevein dan pseudohevein juga merupakan protein yang pada bagian C-terminalnya tercabik-cabik. Pada struktur hevein, di samping ada komponen utama yang mengandung C-terminal asam aspartat (BM 4718), ada juga yang mengandung tambahan asam amino serina serta serina-glisina dengan nisbah 8:1:1. Pada struktur pseudohevein terdapat komponen yang mengandung bagian C-terminal 3-glisina, 1-glisina, dan tanpa glisina dengan nisbah 2:4:3:1.
Kemampuan psudohevein mengikat (GlcNAc)4 tidak begitu banyak berbeda dibandingkan dengan hevein, meskipun asam amino pada posisi nomor 21 untuk kedua protein tersebut memiliki perbedaan, yaitu tirosina pada pseudohevein dan triptofan pada hevein. Hevein dan pseudohevein dapat diisolasssi dari limbah cair pabrik karet dan massih dapat dimanfaatkan sebagai agens anticendawan karena keduanya masih utuh, tidak terdenaturasi. Hasil analisis simulasi molecular dynamic untuk hevein dan pseudohevein menunjukkan dua bentuk struktur protein yang hampir identik dengan adanya beberapa perbedaan asam amino pada posisi tertentu.
Adopted from : Hibah Bersaing
MEDIA PETAKONSEP DALAM PENGAJARAN LAJU REAKSI PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA FMIPA UNIMED
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Sortha S Silalahi 1
1Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Medan, Jl Pancing Pasar V Medan, Sumatera Utara
ABSTRACT
The affectivity of Concept map on the teaching of chemistry ‘Rate reaction’ on is explained in the paper. The research was conducted onto the first year University students in Faculty of Mathematics and Natural Science (FMIPA) State University of Medan (UNIMED) Medan. The research was carried out through teaching the students with a Concept map media and a conventional media as a control. The affectivities of educational medias to improve student’s achievements on the chemistry subject were evaluated by comparing their ability to solve chemistry problems before and after the teaching and learning process. The study concluded that teaching the student by using a Concept map media improved the student’s achievements on chemistry because the existing teaching method motivated the students to study systematically on solving chemistry problems.
Key word: Media pendidikan, petakonsep, Laju Reaksi, prestasi belajar, mahasiswa.
PENDAHULUAN
Pengalaman pendidikan yang sering dihadapi oleh Dosen Kimia Dasar di sekolah menengah adalah bahwa kebanyakan mahasiswa menganggap mata pelajaran kimia sebagai mata pelajaran yang sulit, sehingga tidak jarang seorang mahasiswa yang bukan dari Jurusan Kimia sudah terlebih dahulu merasa kurang mampu untuk mempelajari kimia (Sakkashiri, 1991). Hal ini mungkin disebebkan oleh penyajian materi kimia pada Tahun Pertama Perkuliahan (TPB) Kimia Dasar yang kurang menarik dan membosankan, sehingga terkesan sulit dan menakutkan bagi mahasiswa, dan akhirnya banyak mahasiswa yang bukan Jurusan Kimia seperti dari Jurusan Fisika dan Biologi, kurang menguasai konsep dasar kimia. Keadaan ini akan merugikan terhadap keberhasilan mahasiswa bila tidak segera dibenahi. Ada beberapa hal yang diduga menjadi penyebab kurangnya penguasaan materi kimia diantaranya (1) mahasiswa sering belajar dengan cara menghafal tanpa membentuk pengertian terhadap materi yang dipelajari, (2) materi yang diajarkan mengambang sehingga mahasiswa tidak dapat menemukan ‘kunci’ untuk mengeri materi yang dipelajari, dan (3) guru kurang berhasil menyampaikan ‘konsep’ untuk menguasai materi yang diajarkan (Lynch dan Waters, 1980).
Idealnya seorang dosen harus selalu waspada terhadap materi pelajaran yang sedang dan akan diajarkan kepada mahasiswa, sehingga selain menyampaikan materi pelajaran, kepadanya juga diberi beban untuk mengembangkan topik pelajaran agar memberikan hasil belajar yang optimum (Boyce, dkk. 1997). Salah satu sasaran peneliti melakukan penelitian ini adalah untuk meningkatkan minat mahasiswa kepada mata pelajaran kimia. Hal ini bisa tercapai bila materi pelajaran kimia dapat dikemas menjadi pelajaran yang menarik dan mudah dimengerti, yaitu melalui penyampaian materi kimia dengan menggunakan media pengajaran. Media pendidikan dapat digunakan untuk membangun pemahaman dan penguasaan objek pendidikan. Beberapa media pendidikan yang sering dipergunakan dalam proses belajar-mengajar diantaranya media cetak, elektronik, model, sketsa, peta dan diagram (Kreyenhbuhl, 1991). Dalam pengajaran materi kimia Laju Reaksi, salah satu media yang dipergunakan adalah media petakonsep. Media petakonsep bertujuan untuk membangun pengetahuan mahasiswa dalam belajar secara sistematis, yaitu sebagai teknik untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa dalam penguasaan konsep belajar dan pemecahan masalah (Pandley, dkk. 1994).
A. Media Petakonsep Dalam Pendidikan
Media petakonsep merupakan media pendidikan yang dapat menunjukkan konsep ilmu yang sistematis, yaitu dimulai dari inti permasalahan sampai pada bagian pendukung yang mempunyai hubungan satu dengan lainnya, sehingga dapat membentuk pengetahuan dan mempermudah pemahaman suatu topik pelajaran (Pandley, dkk 1994). Langkah yang dilakukan dalam membuat media petakonsep adalah memikirkan apa yang menjadi ‘pusat’ topik yang akan diajarkan, yaitu sesuatu yang dianggap sebagai konsep ‘inti’ dimana konsep-konsep pendukung lain dapat diorganisasikan terhadap konsep inti, kemudian menuliskan kata, peristilahan dan rumus yang memiliki arti, yaitu yang mempunyai hubungan dengan konsep inti, sehingga akhirnya membentuk satu peta hubungan integral dan saling terkait antara konsep atas-bawah-samping (Nakhleh, 1994). Penggunaan media petakonsep di dalam pendidikan sudah dilakukan sejak tahun 1977, yaitu dalam pengajaran Sistematika dalam pelajaran Biologi (Novak, 1977), dan sejak itu media petakonsep berkembang dan telah dipergunakan dalam berbagai bidang pendidikan seperti untuk pengajaran kimia (Pandley, dkk. 1994; Nakhleh, 1994), pendidikan kedokteran (Eitel, dkk. 2000; Weiss dan Levison, 2000; West, dkk. 2000), pendidikan keperawatan, (Irvine, 1995; Van Neste-Kenny, dkk. 1998; Daley, dkk. 1999) dan fisiologi (McGaghie, dkk. 2000).
Penggunaan media petakonsep dalam mata pelajaran Kimia telah dilakukan untuk pengajaran Kromatografi seperti yang dijelaskan oleh Pandley, dkk. (1994). Media petakonsep dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam penguasaan konsep pemisahan analitik. Media petakonsep dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap sistematika pemisahan dengan menggunakan teknik kromatografi. Penggunaan media petakonsep dalam pengajaran Asam-Basa juga telah dilaporkan oleh Nakhleh (1994). Media petakonsep diketahui sangat efektif untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa belajar mandiri di laboratorium. Penelitian lain dalam melihat efektifitas media petakonsep dalam meningkatkan penguasaan materi kimia SMU juga telah dijelaskan (Purba, dkk 1997).
METODE PENELITIAN
Yang menjadi populasi penelitian adalah mahasiswa FMIPA Unimed yang mengikuti Kimia Dasar pada tahun Akademi 2005/2006. Sampel dipilih dari Dua Jurusan (Matematika, Fisika dan Biologi) dengan dua kelas paralel. Sampel adalah mahasiswa kelas 1 yang dipilih secara purposif, kemudian dikelompokkan sesuai dengan tujuan penelitian. Instrumen penelitian adalah media petakonsep dan media konvensional ceramah sebagai kontrol. Alat pengumpul data adalah evaluasi belajar (soal kimia) terdiri atas evaluasi pendahuluan, evaluasi akhir-1 dan evaluasi akhir-2. Evaluasi disusun oleh peneliti berdasarkan GBPP Kimia Dasar dengan sebaran tingkat kesulitan yang sudah terstandarisasi.
Prosedur penelitian meliputi penyusunan instrumen, pengajaran dan evaluasi. Penyusunan instrumen dilakukan mengikuti kisi dalam GBPP mata Kuliah Kimia Dasar, dan selanjutnya dilakukan konsultasi dengan Tim Pengajar Kimia Dasar untuk diminta pendapat tentang media petakonsep yang didisain. Sebelum perlakuan pengajaran, terhadap kelompok perlakuan dan kelompok kontrol terlebih dahulu dilakukan evaluasi pendahuluan untuk mengukur kemampuan mahasiswa terhadap pokok bahasan yang akan diajarkan, kemudian dilanjutkan dengan pengajaran menggunakan media petakonsep dan metode ceramah (kontrol) dan dilanjutkan dengan evaluasi akhir-1, yaitu pada akhir pengajaran. Setelah waktu satu bulan dari perlakuan pengajaran, dilakukan evaluasi akhir-2. Data berupa prestasi belajar mahasiswa (skor mahasiswa yang benar dari 20 soal) diolah secara statistik menggunakan EXCEL soft ware untuk penarikan kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Pengelompokan sampel
Sampel penelitian ada sebanyak 15 Kelas paralel untuk 3 Jurusan, meliputi Program Kependidikan dan Program Non Kependidikan. Pada masing-masing Jurusan dipilih sebanyak 2 kelas paralel sebagai objek penelitian. Alasan pembatasan pemilihan kelas adalah karena keterbatasan tim peneliti. Jumlah sampel di setiap sekolah hanya dipilih sebanyak 20 orang per-kelas. Pemilihan sampel adalah berdasarkan nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) mahasiswa di SLTA, yaitu 10 orang yang memiliki UAN relatif tinggi dan 10 orang lagi yang memiliki UAN relatif rendah untuk masing-masing kelas. Sampel yang terpilih dikelompokkan menjadi kelompok kemampuan tinggi (dengan UAN relatif tinggi), selanjutnya disebut kelompok tinggi (KT) dan kelompok kemampuan rendah (dengan UAN relatif rendah), selanjutnya disebut kelompok rendah (KR). Pengelompokan KT dan KR dalam penelitian ini hanya sebagai asumsi dasar pengelompokan saja, karena UAN mahasiswa objek penelitian pada umumnya tidak terlalu jauh berbeda. Walaupun sampel hanya dipilih sebanyak 20 orang, perlakuan pengajaran dan evaluasi dilakukan bersama-sama terhadap seluruh sampel di dalam kelas, akan tetapi mahasiswa lain tidak akan diikutkan sebagai sumber data penelitian.
C. Evaluasi pendahuluan
Untuk mengukur kemampuan pengetahuan mahasiswa terhadap materi yang akan diajarkan, terlebih dahulu dilakukan evaluasi pendahuluan untuk mengukur penguasaan mahasiswa terhadap materi Laju Reaksi. Evaluasi pendahuluan dilakukan terhadap seluruh sampel (kelompok media petakonsep dan kelompok kontrol), dan penguasaan materi mahasiswa berdasarkan hasil evaluasi pendahuluan dirangkum pada Tabel 1. Dari hasil diketahui bahwa mahasiswa FMIPA pada umumnya belum mengetahui materi kimia Laju Reaksi, hal ini dapat diyakini berdasarkan angka pencapaian mahasiswa (skor) yang rendah, yaitu jumlah soal yang dapat dikerjakan oleh mahasiswa dengan benar adalah 2 – 5 soal dari 20 soal yang diujikan. Rata-rata pencapaian mahasiswa untuk pengajaran dengan menggunakan media petakonsep (M = 3,280,69) dan metode ceramah (M = 3,290,64) tergolong rendah. Dapat dinyatakan bahwa mahasiswa belum mampu menyelesaikan soal kimia yang berhubungan dengan Laju Reaksi, sehingga mahasiswa sangat baik untuk sampel penelitian dan dianggap homogen. Walaupun mahasiswa belum mengetahui materi kimia Laju Reaksi, akan tetapi dalam evaluasi pendahuluan mahasiswa kebanyakan masih dapat menjawab benar, diduga dari hasil ‘tebakan’ karena evaluasi dibuat dalam pilihan berganda. Dari uji beda diketahui tidak ada perbedaan yang signifikan antara pencapaian mahasiswa kelompok tinggi (tstat -0,186 < tcrit 2,063) dan kelompok rendah (tstat -0,039 < tcrit 2,063), maupun untuk dua kelopok perlakuan, petakonsep dan ceramah (tstat -0,164 < tcrit 2,009).
Tabel 1. Penguasaan mahasiswa terhadap materi kimia berdasarkan hasil evaluasi belajar sebelum dan sesudah pengajaran. Angka dalam tabel adalah rata-rata dan standar deviasi dari 3 Jurusan dengan 2 kelas paralel.
|
Sampel |
Evaluasi pendahuluan |
Evaluasi akhir-1 |
Evaluasi akhir-2 |
||||
|
Jurusan |
Kelompok |
Petakonsep |
Ceramah |
Petakonsep |
Ceramah |
Petakonsep |
Ceramah |
|
A |
KT |
4,60(0,20) |
4,50(0,25) |
18,30(0,54)) |
14,50(0,38) |
17,80(0,46) |
12,20(0,31) |
|
|
KR |
3,20(0,23) |
3,60(0,34) |
17,80(0,65) |
13,00(0,51) |
16,20(0,27) |
11,40(0,39) |
|
B |
KT |
4,20(0,31) |
3,86(0,43) |
17,80(1,00) |
14,80(0,48) |
17,60(0,75) |
10,00(0,76) |
|
|
KR |
3,20(0,25) |
2,90(0,22) |
16,30(0,60) |
12,30(0,85) |
15,80(0,20) |
10,00(0,35) |
|
C |
KT |
3,20(0,35) |
3,32(0,52) |
17,80(1,30) |
14,70(0,43) |
16,84(0,26) |
12,40(0,73) |
|
|
KR |
3,40(0,32) |
3,42(0,50) |
16,10(0,66) |
12,50(0,93) |
15,00(0,39) |
10,00(0,62) |
|
Rata-rata |
KT |
3,48(0,87) |
3,50(0,72) |
17,58(1,11) |
14,18(0,75) |
16,81(1,04) |
11,68(1,09) |
|
(M) |
KR |
3,08(0,37) |
3,08(0,48) |
16,30(1,17) |
12,08(0,93) |
15,40(0,72) |
10,28(0,78) |
|
|
|
3,28(0,69) |
3,29(0,64) |
16,94(1,30) |
13,13(1,35) |
16,10(1,14) |
10,98(1,18) |
A = Jurusan Matematika B = Jurusan Fisika
C = Jurusan Biologi D = Sampel pada kabupaten D
KT = kelompok mhs UAN relatif tinggi KR = kelompok mhs NEM relatif rendah
D. Pengaruh media petakonsep
Untuk mengurangi bias yang disebabkan oleh Dosen Kimia Dasar, perlakuan pengajaran terhadap kelompok perlakuan dan kontrol dilakukan oleh satu orang Dosen yang sudah mengetahui penggunaan media pengajaran. Berdasarkan urutan GBPP mata Kuliah Kimia Dasar, perlakuan pengajaran dilakukan serentak sehingga akan lebih efektif bila dilakukan oleh Dosen Mata Kuliah Kimia Dasar. Setelah perlakuan pengajaran dengan menggunakan media petakonsep dan tanpa media, diperoleh pencapaian mahasiswa berdasarkan jumlah jawaban mahasiswa yang benar untuk evaluasi akhir-1 seperti dirangkum pada Tabel 1. Hasil belajar mahasiswa sebelum dan sesudah pengajaran dengan menggunakan media petakonsep dan tanpa media pengajaran (ceramah) menunjukkan perbedaan nyata, yaitu pengajaran meningkatkan penguasaan mahasiswa terhadap materi Laju Reaksi. Prestasi belajar mahasiswa pada pengajaran dengan menggunakan media petakonsep sebelum pengajaran (M = 3,280,47) lebih rendah dibanding dengan prestasi belajar mahasiswa sesudah pengajaran (M = 16,941,69), yaitu berbeda secara signifikan dimana (tstat –78,79 < tcrit 2,009). Hal yang sama terlihat untuk pengajaran tanpa menggunakan media, yaitu diperoleh rata-rata prestasi belajar mahasiswa sebelum perlakuan pengajaran (M = 3,290,64) lebih rendah dibanding sesudah perlakuan pengajaran (M = 13,131,35), dimana kedua kelompok ini berbeda secara signifikan (tstat –58,47 < tcrit 2,009). Pengaruh media petakonsep terhadap pencapaian hasil belajar mahasiswa dari evaluasi akhir-1 diperlihatkan pada Tabel 1. Secara umum, prestasi belajar mahasiswa dengan menggunakan media petakonsep (M = 16,944,30) lebih tinggi dibanding dengan pencapaian mahasiswa dengan media ceramah (M = 13,131,35).
Analisis statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan antara media petakonsep dengan media ceramah (tstat 24,480 > tcrit 2,009). Lebih lanjut dilakukan analisis untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar mahasiswa kelompok tinggi dan mahasiswa kelompok rendah untuk masing-masing kelompok perlakuan. Prestasi belajar mahasiswa yang diberi pengajaran dengan menggunakan media petakonsep mahasiswa kelompok tinggi (M = 17,581,22) lebih baik dibanding mahasiswa kelompok rendah (M = 14,180,55). Analisis statistik diketahui perbedaan yang signifikan (tstat 16,784 > tcrit 2,063) antara dua kelompok mahasiswa. Dengan cara yang sama penyampaian materi pelajaran dengan menggunakan metode ceramah diperoleh prestasi belajar mahasiswa kelompok tinggi (M = 16,301,37) lebih baik dibanding prestasi belajar mahasiswa kelompok rendah (M = 12,080,86), dimana tstat 20,148 > tcrit 2,063.
Untuk mengetahui apakah ada perbedaan prestasi belajar mahasiswa yang disebabkan oleh kesan pengajaran menggunakan media pengajaran dapat dilihat dari hasil evaluasi akhir-2 , yaitu setelah selang waktu satu bulan dari perlakuan pengajaran. Prestasi belajar mahasiswa berdasarkan hasil evaluasi akhir-2 dirangkum pada Tabel 1. Pengaruh media petakonsep dalam meningkatkan prestasi belajar terlihat sangat nyata, yaitu prestasi belajar mahasiswa dengan pengajaran menggunakan media petakonsep (M = 16,101,14) lebih tinggi dibanding prestasi belajar mahasiswa yang diajar dengan metode ceramah (M = 10,981,18). Dua kelompok perlakuan ini berbeda secara signifikan dimana tstat 26,985 > tcrit 2,009. Dari perbedaan mean diketahui bahwa tingkat penguasaan mahasiswa terhadap materi kimia Laju Reaksi yang diberi perlakuan dengan menggunakan media petakonsep lebih tinggi dibandingkan terhadap perlakuan pengajaran dengan menggunakan media konvensional ceramah. Pengajaran dengan menggunakan media petakonsep dapat meningkatkan cara belajar sistematis bagi mahasiswa karena media petakonsep yang disusun terdiri atas petunjuk praktis yang mudah dipelajari, yaitu berupa prosedur dan urutan yang sistematis yang dapat dipergunakan sebagai pedoman di dalam menyelesaikan soal kimia untuk pokok bahasan Laju Reaksi. Proses belajar ini dapat meningkatkan motivasi mahasiswa untuk belajar mandiri, karena contoh soal yang disajikan di dalam media petakonsep sangat sistematis dan mudah dimengerti.
KESIMPULAN
Penyampaian materi pelajaran kimia Laju Reaksi dengan menggunakan media petakonsep dapat meningkatkan prestasi belajar mahasiswa karena mempermudah pemahaman topik pelajaran. Pengajaran kimia dengan menggunakan media petakonsep memberikan kesan pengajaran lebih lama dibandingkan terhadap pengajaran dengan metode ceramah karena media petakonsep mempunyai alur sistematis yang dapat menuntun cara belajar mahasiswa untuk menyelesaikan soal-soal Kimia Dasar. Dengan melihat keberhasilan pengajaran menggunakan media petakonsep dalam pengajaran Laju Reaksi, maka perlu dipikirkan untuk aplikasi media petakonsep ini dalam pengajaran materi kimia lain dalam lingkup Kimia Dasar atau Mata kuliah Lainnya. Perlu juga dipertimbangkan untuk menggunakan media petakonsep untuk pengajaran materi pelajaran bidang studi lain di luar mata kuliah Kimia Dasar.
DAFTAR PUSTAKA
Boyce, L.N.; VanTasselBaska, J.; Burruss, J.D.; Sher, B.T. dan Johnson, D.T., (1997), A problem-based curriculum: Parallel learning opportunities for students and teachers, Journal of the Education of the Gifted 20: 363-379.
Daley, B.J.; Shaw, C.R.; Balistrieri, T.; Glasenapp, K. dan Piacentine, L., (1999), Concept maps: a strategy to teach and evaluate critical thinking., Journal of Nursing Education 38: 42-47.
Depdikbud, (1995), Kurikulum Sekolah Menengah Umum, GBPP Mata Pelajaran Kimia, Keputusan Mendikbud Nomor 061/U/1995, tgl 25 Februari 1995, Depdikbud Jakarta.
Eitel, F.; Kanz, K.G.; Hortig, E. Dan Tesche, A., (2000), Do we face a fourth paradigm shift in medicine–algorithms in education?., Journal of Evaluation in Clinical Practice 6: 321-333.
Irvine, L.M,.(1995), Can concept mapping be used to promote meaningful learning in nurse education?. Journal of Advanced Nursing 21: 1175-1179.
Kreyenbuhl, J.A. dan Atwood, C.H., (1991), Are we teaching the right things in general chemistry?, Journal of Chemical Education 68: 914-918.
Lynch, P.P. dan Waters, M., (1980), Expectation of new chemistry students concerning chemistry courses, Chemistry in Australia 47: 238-242.
McGaghie, W.C.; McCrimmon, D.R.; Mitchell, G.; Thompson, J.A. dan Ravitch, M.M., (2000), Quantitative concept mapping in pulmonary physiology: comparison of student and faculty knowledge structures., Advances in Physiology Education.23: 72-81.
Nakhleh, M.B., (1994), Chemical education research in the laboratory environment. How can research discover what student are learning, Journal of Chemical Education 71: 201-205.
Novak, J.D., (1977), New trends in Biology teaching, Science Education 61: 453-477.
Pandley, B.D.; Bretz, R.L. dan Novak, J.D., (1994), Concept maps as a tools to assess learning in chemistry, Journal of Chemical Education 71: 9-15.
Purba, J.; Situmorang, M.; dan Tambunan, M.M., (1997), Efektifitas media petakonsep dan Diagram-V untuk meningkatkan penguasaan materi kimia sekolah menengah Umum di Sumatera Utara, Laporan Penelitian FPMIPA IKIP Medan.
Shakkashiri, B.Z., (1991), Chemical Demonstration. A hand book for teacher of chemistry, The University of Winconsin Press
Van Neste-Kenny, J.; Cragg, C.E. dan Foulds, B., (1998), Using concept maps and visual representations for collaborative curriculum development, Nurse Educator 23: 21-25
Weiss, L.B. dan Levison, S.P., (2000), Tools for integrating women’s health into medical education: clinical cases and concept mapping., Academic Medicine 75: 1081-1086.
West, D.C.; Pomeroy, J.R.; Park, J.K.; Gerstenberger, E.A. dan Sandoval, J., (2000), Critical thinking in graduate medical education: A role for concept mapping assessment?, JAMA 284: 1105-1110.
BAHAN BAKAR DIESEL
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
A. Pendahuluan
Bahan bakar mesin diesel sebagian besar terdiri dari senyawa hidrokarbon dan senyawa nonhidrokarbon. Senyawa hidrokarbon yang dapat ditemukan dalam bahan bakar diesel antara lain parafinik, naftenik, olefin dan aromatik. Sedangkan untuk senyawa nonhidrokarbon terdiri dari senyawa yang mengandung unsur non logam, yaitu S, N, O dan unsur loga m seperti vanadium, nikel dan besi. ASTM mengklasifikasikan bahan bakar diesel menjadi tiga tingkatan, yaitu :
-
Tingkat 1-D
Merupakan bahan bakar yang volatile untuk mesin dengan perubahan kecepatan dan loading yang berfrekuensi, misalnya untuk kendaraan bermotor.
-
Tingkat 2-D
Merupakan bahan bakar dengan volatilitas lebih rendah untuk mesin industri, mesin kapal laut dan lokomotif.
-
Tingkat 4-D
Bahan bakar dengan volatilitas lebih rendah untuk mesin berkecepatan rendah dan sedang.
Pada Tabel 7 diberikan karakteristik bahan bakar untuk masing-masing tingkatan yang ditetapkan oleh ASTM. Untuk tingkat 1-D dan 2-D dicantumkan pula karakteristik bahan bakar untuk kandungan sulfur rendah. Standar bahan bakar pada Tabel 7 merupakan batas minimum yang dibutuhkan untuk menjamin kinerja yang memuaskan dari mesin diesel. Dapat dilihat pula bahwa semakin tinggi tingkatannya, temperatur distilasi akan semakin tinggi artinya volatilitas semakin rendah.
Penggolongan bahan bakar mesin diesel berdasarkan jenis putaran mesinnya, dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu:
-
Automotive Diesel Oil ( ADO ), yaitu bahan bakar yang digunakan untuk mesin dengan kecepatan putaran mesin di atas 1000 rpm (rotation per minute). Bahan bakar jenis ini yang biasa disebut sebagai bahan bakar diesel. Biasanya digunakan untuk kendaraan bermotor.
-
Industrial Diesel Oil, yaitu bahan bakar yang digunakan untuk mesin-mesin yang mempunyai putaran mesin kurang atau sama dengan 1000 rpm, biasanya digunakan untuk mesin-mesin industri. Bahan bakar jenis ini disebut minyak diesel.
Tabel 7. Standar ASTM untuk minyak diesel
Mesin-mesin dengan putaran mesin yang cepat (>1000 rpm) membutuhkan bahan dengan karakteristik tertentu yang berbeda dengan minyak diesel. Karakteristik yang diperlukan berhubungan dengan auto ignition (kemampuan menyala sendiri), kemudaham mengalir dalam saluran bahan bakar, kemampuan untuk teratomisasi, kemampuan lubrikasi, nilai kalor dan karakteristik lain.
B. Karateristik Umum Minyak Diesel
Karakteristik yang umum perlu diketahui untuk menilai kinerja bahan bakar diesel antara lain viskositas, angka setana, berat jenis, titik tuang, nilai kalor pembakaran, volatilitas, kadar residu karbon, kadar air dan sedimen, indeks diesel, titik embun, kadar sulfur, dan titik nyala.
B.1. Viskositas
Viskositas adalah tahanan yang dimiliki fluida yang dialirkan dalam pipa kapiler terhadap gaya gravitasi, biasanya dinyatakan dalam waktu yang diperlukan untuk mengalir pada jarak tertentu. Jika viskositas semakin tinggi, maka tahanan untuk mengalir akan semakin tinggi. Karakteristik ini sangat penting karena mempengaruhi kinerja injektor pada mesin diesel. Atomisasi bahan bakar sangat bergantung pada viskositas, tekanan injeksi serta ukuran lubang injektor. Viskositas yang lebih tingi akan membuat bahan bakar teratomisasi menjadi tetesan yang lebih besar dengan momentum tinggi dan memiliki kecenderungan untuk bertumbukan dengan dinding silinder yang relatif lebih dingin. Hal ini menyebabkan pemadaman flame dan peningkatan deposit dan emisi mesin.
Bahan bakar dengan viskositas lebih rendah memproduksi spray yang terlalu halus dan tidak dapat masuk lebih jauh ke dalam silinder pembakaran, sehingga terbentuk daerah fuel rich zone yang menyebabkan pembentukan jelaga. Viskositas juga menunjukkan sifat pelumasan atau lubrikasi dari bahan bakar. Viskositas yang relatif tinggi mempunyai sifat pelumasan yang lebih baik. Pada umumnya, bahan bakar harus mempunyai viskositas yang relatif rendah agar dapat mudah mengalir dan teratomisasi Hal ini dikarenakan putaran mesin yang cepat membutuhkan injeksi bahan bakar yang cepat pula. Namun tetap ada batas minimal karena diperlukan sifat pelumasan yang cukup baik untuk mencegah terjadinya keausan akibat gerakan piston yang cepat.
B.2. Angka Setana
Angka setana menunjukkan kemampuan bahan bakar untuk menyala sendiri (auto ignition). Skala untuk angka setana biasanya menggunakan referensi berupa campuran antara normal setana (C16H34) dengan alpha methyl naphtalene (C10H7CH3) atau dengan heptamethylnonane (C16H34). Normal setana memiliki angka setana 100, alpha methyl naphtalene memiliki angka setana 0, dan heptamethylnonane memiliki angka setana 15. Angka setana suatu bahan bakar biasanya didefinisikan sebagai persentase volume dari normal setana dengan
campurannya tersebut.
Angka setana yang tinggi menunjukkan bahwa bahan bakar dapat menyala pada temperatur yang relatif rendah, dan sebaliknya angka setana rendah menunjukkan bahan bakar baru dapat menyala pada temperatur yang relatif tinggi. Penggunaan bahan bakar mesin diesel yang mempunyai angka setana yang tinggi dapat mencegah terjadinya knocking karena begitu bahan bakar diinjeksikan ke dalam silinder pembakaran maka bahan bakar akan langsung terbakar dan tidak terakumulasi.
B.3. Berat Jenis
Berat jenis menunjukkan perbandingan berat per satuan volume, karakteristik ini berkaitan dengan nilai kalor dan daya yang dihasilkan oleh mesin diesel per satuan volume bahan bakar. Berat jenis bahan bakar diesel diukur dengan menggunakan metode ASTM D287 atau ASTM D1298 dan mempunyai satuan kilogram per meter kubik (kg/m3).
B.4. Titik Tuang
Titik tuang adalah titik temperatur terendah dimana mulai terbentuk kristalkristal parafin yang dapat menyumbat saluran bahan bakar. Titik tuang ini dipengaruhi oleh derajat ketidakjenuhan (angka iodium),semakin tinggi ketidakjenuhan maka titik tuang semakin rendah. Titik tuang juga dipengaruhi oleh panjang rantai karbon, semakin panjang rantai karbon maka semakin tinggi titik tuang. Karakteristik ini ditentukan dengan menggunakan metoda ASTM D97.
B.5. Nilai Kalor Pembakaran
Nilai kalor pembakaran menunjukkan energi kalor yang dikandung dalam tiap satuan massa bahan bakar. Nilai kalor dapat diukur dengan bomb kalorimeter kemudian dimasukkan dalam rumus :
Nilai Kalor (kcal/kg) = {8100 C + 3400 ( H – O/8)} : 100
Nilai kalor H, C, dan O dinyatakan dalam persentase berat setiap unsur yang terkandung dalam satu kilogram bahan bakar.
B.6. Volatilitas
Volatilitas adalah sifat kecenderungan bahan bakar untuk berubah fasa menjadi fasa uap. Tekanan uap yang tinggi dan titik didih yang rendah menandakan tingginya volatilitas.
B.7. Kadar Residu Karbon
Kadar residu karbon menunjukkan kadar fraksi hidrokarbon yang mempunyai titik didih lebih tinggi dari range bahan bakar. Adanya fraksi hidrokarbon ini menyebabkan menumpuknya residu karbon dalam ruang pembakaran yang dapat mengurangi kinerja mesin. Pada temperatur tinggi deposit karbon ini dapat membara, sehingga menaikkan temperatur silinder pembakaran.
B.8. Kadar Air dan Sedimen
Pada negara yang mepunyai musim dingin kandungan air yang terkandung dalam bahan bakar dapat membentuk kristal yang dapat menyumbat aliran bahan bakar. Selain itu, keberadaan air dapat menyebabkan korosi dan pertumbuhan mikro organisme yang juga dapat menyumbat aliran bahan bakar. Sedimen dapat menyebabkan penyumbatan juga dan kerusakan mesin.
B.9. Indeks Diesel
Indeks diesel adalah suatu parameter mutu penyalaan pada bahan bakar mesin diesel selain angka setana. Mutu penyalaan dari bahan bakar diesel dapat diartikan sebagai waktu yang diperlukan untuk bahan bakar agar dapat menyala di ruang pembakaran dan diukur setelah penyalaan terjadi. cara menentukkan indeks diesel dari suatu bahan bakar mesin diesel dapat dihitung dengan menggunakan rumus di bawah ini :
Indeks Diesel = {Titik Anilin (oF) x API Gravity} : 100
Dari rumus di atas dapat diketahui bahwa nilai indeks diesel dipengaruhi oleh titik anilin dan berat jenisnya.
B.10. Titik Embun
Titik embun adalah suhu dimana mulai terlihatnya cahaya yang berwarna suram relatif terhadap cahaya sekitarnya pada permukaan minyak diesel dalam proses pendinginan. Karakteristik ini ditentukan dengan menggunakan metoda ASTM D97.
B.11. Kadar Sulfur
Kadar sulfur dalam bahan bakar diesel dari hasil penyulingan pertama (straight-run) sangat bergantung pada asal minyak mentah yang akan diolah. Pada umumnya, kadar sulfur dalam bahan bakar diesel adalah 50-60% dari kandungankandungan dalam minyak mentahnya. Kandungan sulfur yang berlebihan dalam bahan bakar diesel dapat menyebabkan terjadinya keausan pada bagian-bagian mesin. Hal ini terjadi karena adanya partikel-partikel padat yang terbentuk ketika terjadi pembakaran dan dapat juga disebabkan karena keberadaan oksida belerang seperti SO2 dan SO3. Karakteristik ini ditentukan dengan menggunakan metode ASTM D1551.
B.12. Titik nyala ( flash point)
Titik nyala adalah titik temperatur terendah dimana bahan bakar dapat menyala. Hal ini berkaitan dengan keamanan dalam penyimpanan dan penanganan bahan bakar.
Edited by : @_pararaja from Peserta Mata Kuliah Teknik Pembakaran Semester Genap 2001/2002. 2001. Portfolio Bahan Bakar Cair. Depok : Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.
Bahan Bakar Alternatif Kendaraan Bermotor
-
Biodiesel Sawit.
Ketersediaan bahan bakar minyak bumi semakin hari semakin terbatas. Sebagaimana gambaran, diperkirakan cadangan minyak bumi di Laut Utara akan habis pada th. 2010. Indonesia yang saat ini dikenal sebagai salah satu negara pengekspor minyak bumi juga diperkirakan akan mengimpor bahan bakar minyak pada 10 tahun mendatang. Karena produksi dalam negeri tidak dapat lagi memenuhi permintaan pasar yang meningkat dengan cepat akibat pertumbuhan penduduk dan industri.
Banyak upaya yang telah dilakukan untuk menghadapi krisis energi ini, diantaranya adalah dengan memanfaatkan sumber energi dari Matahari, batubara, dan nuklir, serta mengembangkan bahan bakar dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable). Brasil telah menggunakan campuran bensin dengan alkohol yang disintesis dari tebu untuk bahan bakar kendaraan bermotor.
Beberapa jenis minyak tumbuhan seperti minyak kelapa, minyak kedelai, dan minyak sawit juga telah diteliti untuk digunakan langsung sebagai bahan bakar kendaraan bermotor, seperti halnya nenek moyang kita dahulu menggunakan minyak tumbuhan lokal sebagai bahan bakar alat penerangan. Beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat telah mengembangkan dan menggunakan bahan bakar dari minyak tumbuhan yang telah dikonversi menjadi bentuk metil ester asam lemak, yang disebut dengan biodiesel.
Negara-negara Eropa umumnya menggunakan biodiesel yang terbuat dari minyak rapeseed, sedangkan Amerika Serikat menggunakan biodiesel yang berbahan baku minyak kedelai. Sebagai negara penghasil minyak sawit terbesar dunia, Malaysia dan Indonesia juga telah mengembangkan produk biodiesel dari minya sawit (palm biodiesel) meskipun belum dilakukan secara komersial.
Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) telah berhasil mengembangkan palm biodiesel dari minyak sawit mentah (CPO), refined bleached deodorised palm oil (RBDPO) dan fraksi- fraksi seperti stearin dan olein serta minyak inti sawit. Palm fatty acid destillate (PFAD) yang merupakan hasil samping dari pabrik minyak goreng maupun minyak goreng bekas dari industri rumahan (home industry) juga telah dikembangkan oleh PPKS sebagai bahan baku pembuatan palm biodiesel.
Pengembangan produk biodiesel ternyata lebih mengembirakan dibandingkan dengan penggunaan minyak tumbuhan langsung sebagai bahan bakar Proses termal (panas) di dalam mesin akan menyebabkan minyak terurai menjadi gliserin dan asam lemak. Asam lemak dapat teroksidasi atau terbakar secara relatif sempurna, tetapi dari gliserin akan terbentuk senyawa akrolein dan terpolimerisasi menjadi senyawa plastis yang agak padat. Senyawa ini menyebabkan kerusakan pada mesin, karena membentuk deposit pada pompa injektor. Karena itu perlu dilakukan modifikasi pada mesin-mesin kendaraan bermotor komersial apabila menggunakan minyak tumbuhan langsung sebagai pengganti bahan bakar minyak bumi.
Selain karena alasan ketersediaan minyak bumi yang terbatas, pengembangan produk biodiesel dari minyak tumbuhan seperti minyak sawit, juga diarahkan pada sifat bahan bakunya yang dapat diperbaharui. Disamping itu, produksi gas hasil pembakarannya, yakni karbon dioksida CO2 di atmosfer yang berlebihan bersifat merusak lingkungan dengan efek rumah kaca yang ditimbulkannya. Dengan memanfaatkan minyak tumbuhan sebagai bahan bakar, maka pembentukan CO2 baru di atmosfer diperkirakan hampir tidak ada. Hal ini disebabkan CO2 hasil pembakaran dari biodiesel akan dikomsumsikan kembali oleh tanaman baru untuk kebutuhan proses fotosintesisnya (siklus karbon).
Selain mereduksi efek rumah kaca, penggunaan biodiesel juga akan meningkatkan kualitas udara lokal dengan mereduksi emisi gas berbahaya, seperti karbon monooksida (CO), ozon (O3), nitrogen oksida (Nox), sulfur dioksida (SO2), dan hidrokarbon reaktif lainnya, serta asap dan partikel yang dapat terhirup. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kadar emisi gas buang seperti CO, CO2, NOx, SO2, dan hidrokarbon dari bahan bakar camp uran palm biodiesel dan solar lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar solar murni. Penggunaan biodiesel juga dapat mereduksi polusi tanah, serta melindungi kelestarian perairan dan sumber air minum. Hal ini berhubungan dengan penggunaan mesin-mesin diesel di sektor perairan.
Kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh biodiesel ini ditunjang oleh sifatnya yang dapat teroksigenasi relatif sempurna atau terbakar habis, non-toksik, dan dapat terurai secara alami (biodegradable). Hasil pengujian biologis menunj ukkan bahwa tingkat toksisitas akut biodiesel pada tikus percobaan relatif rendah, yakni dengan nilai LD50 (nilai dosis yang menyebabkan kematian hewan percobaan sebanyak 50 persen dari populasi percobaan) sebesar 17,4 gram per kilogram berat badan (BB).
-
Etanol.
Ethanol merupakan alkohol cair dengan bilangan oktana yang tinggi dan mampu menggantikan bensin.Ethanol diproduksi dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable recources) seperti jagung di Amerika serikat dan tebu di Brazil. Menurut studi yang ada, ethanol lebih menguntungkan terhadap lingkungan yang bersih dibandingkan dengan bensin premium.
Bahan bakar ethanol menurut laporan mengurangi carbon monoksida (CO), hidrokarbon serta emisi beracun lainnya. Tapi bisa terjadi kemungkinan ethanol ini menghasilkan emisi acetaldehyde sebagai polutan beracun. Pada umumnya harga ethanol lebih mahal jika dibandingkan dengan harga bensin. Ethanol sementara ini belum dikembangkan di Indonesia. Brasil merupakan negara yang paling maju dibidang kendaraan bermotor dengan bahan bakar ethanol.
-
BBG.
Gas bumi akan menjawab salah satu solusi pencemaran udara Ibukota. Populasi kendaraan bermotor untuk umum berjumlah sekitar 2600 kendaraan. Sedangkan jumlah kendaraan di Jakarta sekitar 2,6 juta. Kendaraan ini terdiri atas armada taxi, bus umum, mikrolet dan mikro mini. Bebepa mikron gram setiap harinya emisi pegas buang dikeluarkan oleh kendaraan ini jika tidak teratasi. Maka Jakarta akan menjadi limbah polusi udara. Salah satu cara mengurangi pencemaran adalah pemakaian gas bumi.
Cadangan gas kita cukup tersedia dalam jumlah relatip yang cukup besar. Oleh karena itu, hal ini merupakan suatu tantangan dan juga merupakan suatu kesempatan. Sebetulnya BBG merupakan energi alternatif pengganti BBM yang paling prospektif untuk dikembangkan segera, karena:
-
BBG memiliki beberapa keunggulan terhadap BBM, antara lain karena cadangan gas bumi relatif masih cukup besar dan biaya pengadaannya lebih murah dari BBM.
-
Kendaraan yang menggunakan BBG akan memperpanjang usia pemakaian minyak pelumas, mesin dan busi, ramah lingkungan dan aman bagi pemakai.
-
Konsumsi BBM untuk sektor transportasi adalah yang paling dominan (mencapai 52%) dibandingkan untuk industri (19%), listrik (7%) dan rumah tangga (22%).
Jadi substitusi BBM dengan BBG akan mengurangi konsumsi BBM secara signifikan. Untuk itulah pemerintah melalui pertamina mengadakan uji coba pemakaian bahan bakar alternatif untuk kendaraan bermotor. Pada tahun 1987 introduksi pemakaian gas sebagai bahan bakar alternatif telah disampaikan kepada masyarakat umum. Dikala itu 500 taxi Blue Bird proyek percontohan dan relatif berhasil. Gas disperser waktu itu baru lima buah yang tersebar dilima wilayah ibukota. Oleh karena jumlah stasiun pengisian bahan bakar (SPBG) sangat terbatas, maka minat masyarakat terhadap BBG kurang mendukung suksesnya pemakaian BBG. Apalagi disamping jumlahnya terbatas, penyebaran juga kurang merata. Inilah alasan yang cukup kuat mengapa BBG kurang populer dimata masyarakat umum. Namun kini jumlah gas dispenser terus bertambah menjadi 13 buah. Sementara itu 9 SPBG sedang dalam persiapan pembangunan.
Dengan beroperasinya SPBG – SPBG ini maka diharapkan konstribusi sumber daya gas bumi akan semakin berperan. Oleh karena itu pengembangan BBG diharapkan akan memacu masyarakat untuk berperan untuk menciptakan lingkungan yang bersih. Caranya adalah mengkonversikan kendaraan dengan bahan bakar gas. Negara – negara yang cukup maju dibidang pembangunan BBG selain New Zealand adalah Italia dan Argentina. Amerika kini juga tidak mau ketinggalan dalam hal ini. Sudah sekitar 11 tahun Bahan Bakar Gas (BBG) dipasarkan secara komersial sebagai bahan bakar kendaraan bermotor di Indonesia, namun perkembangan penjualannya berjalan sangat lambat. Konsumsi BBG hanya 0,33% dari total konsumsi bahan bakar kendaraan di wilyah Pantai Utara (Pantura) Jawa.
-
Elpiji.
Selain BBG, kini telah dikembangkan pula Elpiji untuk bahan bakar kendaraan bermotor. Ini menunjukan bahwa trend bahan bakar transportasi dimasa mendatang mengarah semakin jelas , yakni bahan bakar yang tidak mencemari lingkungan. Di beberapa negara maju seperti Belanda, Italia,Australia dan bahkan Singapura telah lama memanfaatkan Elpiji untuk kendaraan bermotor. Kini Elpiji untuk kendaraan bermotor juga semakin marak, jika kita naik taxi Citra maka kita akan naik tasi dengan bahan bakar Elpiji.Selain taksi, kendaraan angkot di kota – kota tertentu juga telah dan akan menggunakan Elpiji sebagai bahan bakarnya.
Negara yang paling mencolok dibidang pengembangan Elpiji untuk kendaraan bermotor di dunia selain negeri Kincir Angin adalah Selandia Baru, Italia, Jepang, Belgia, Kanada, Australia dan Spanyol. Negara negara ini telah cukup lama berkecimpung dibidang pengembangan Elpiji untuk kendaraan bermotor. Jika ketiga bahan bakar substitusi ini telah banyak digunakan,maka sangat diyakini bahwa pencemaran udara ibu kota semakin kecil, namun demikian pemerintah sebagai katalitas pembangunan sangat menentukan keberhasilan pen gembangan sumber-sumber energi alternatif untuk kendaraan bermotor. Kanada dan New Zealand adalah contoh negara yang memberikan kemudahan atau bahkan pinjaman dalam bentuk grant untuk industri bahan bakar alternatif.
Sekali lagi bahwa komitmen pemerintah sangat menentukan untuk keberhasilannya. Hal ini dikarenakan pengalihan mental (mental swtch) masyarakat terhadap bahan bakar alternatif membutuhkan perubahan sikap, keuangan, teknologi serta peraturan. Selain keterlibatan pemerintah yang tak kalah pentingya adalah partisipasi industri otomotif. Keterlibatan disini maksudnya, mereka memproduksi kendaraan yang dapat menggunakan bahan bakar alternatif dan juga membantu didalam mengatasi beragam kesulitan untuk kendaraan bermotor dengan bahan bakar alternatif. Yang paling penting adalah bahwa masyarakat pemilik kendaraan bermotor mau menerima bahan bakar alternatif. Mereka harus yakin bahwa bahan bakar alternatif ini selain harganya lebih murah, juga efisien serta memperbaiki kualitas lingkungan. Jika trend bahan bakar ini benar, maka dalam beberapa tahun yang akan datang era bahan bakar alternatif seperti Ethanol, BBG dan Elpiji akan semakin marak.
-
Biogas
Kotoran ternak dapat dipergunakan sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Lewat proses fermentasi, limbah yang baunya amat merangsang itu dapat diubah menjadi biogas. Energi biogas punya kelebihan dibanding energi nuklir atau batu bara, yakni tak berisiko tinggi bagi lingkungan. Selain itu, biogas tak memiliki polusi yang tinggi sehingga sanitasi lingkungan pun makin terjaga. Sejak terjadi krisis energi pada tahun 1973, masalah energi menjadi topik utama dunia.
Negara-negara maju mulai berlomba mencari terobosan baru dalam menghasilkan energi alternatif yang jauh lebih murah ketimbang minyak dan gas. Mereka pun menerapkan kebijakan diversifikasi energi. Tentunya ketergantungan pada energi tak terbarukan tadi makin berkurang. Ini wajar, sebab setiap krisis yang terjadi selalu memberikan efek pada kenaikan harga BBM serta ketersediaan yang kurang memadai.
Salah satu contoh energi alternatif tadi adalah biogas. Energi ini memiliki masa depan yang cerah karena bahan baku tersebut sangat banyak. Namun sayangnya pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas ini masih kalah populer jika dibandingkan pupuk tanaman dari kotoran tersebut. Padahal dengan teknologi biogas, kandungan zat- zat alami yang terdapat pada kotoran ternak dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan energi yang kian meningkat. Jadi ribut-ribut soal pasokan energi yang kurang tidak akan ada lagi. Hal ini dikarenakan biogas bisa dipakai untuk apa saja. Mulai dari memasak, lampu penerangan, transportasi hingga keperluan lain yang perlu energi. Apabila biogas telah diaplikasikan secara luasmasalah mengenai kekurangan pasokan energi bisa dihindari. Dan urusan sanitasi lingkungan pun bisa teratasi.
Menurut catatan ALGAS (1997), sektor peternakan merupakan kontributor kedua dalam angka emisi gas metan. Nomor satunya dipegang sektor pertanian. Bersama CO, N2O, NOx, gas metan adalah gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas di bidang pertanian dan peternakan. Fermentasi dari pencernaan ternak (enteric fermentation) menyumbang sebagian besar emisi gas metan yang dihasilkan peternakan.
Namun kekhawatiran ini dapat ditanggulangi, emisi gas metan yang muncul bisa dikurangi. Caranya adalah dengan memperbaiki kualitas makanan ternak. Bila tidak, manfaatkanlah kotoran ternak tadi sebagai biogas. Di beberapa daerah, seperti Solo, implementasi sisa produksi menjadi biogas telah dilakukan dengan memanfaatkan kotoran ternak menjadi sumber energi panas untuk kebutuhan dapur. Bahkan daerah tersebut telah berhasil merancang kompor khusus seperti layaknya kompor gas elpiji. Hal ini merupakan bukti bahwa biogas bisa diterapkan sebagai bahan bakar alternatif. Hanya saja bahan bakar ini membutuhkan sosialisasi dan transfer teknologi dari berbagai pihak.
-
Gas Rawa
Biogas biasanya dikenal sebagai gas rawa atau lumpur. Gas campuran ini didapat dari proses perombakan kotoran ternak menjadi bahan organik oleh mikroba dalam kondisi tanpa oksigen. Proses ini dikenal dengan nama anaerob. Selama proses fermentasi, biogas pun terbentuk. Dari fermentasi ini, akan dihasilkan campuran biogas yang terdiri atas metana (CH4), karbon dioksida, hidrogen, nitrogen dan gas lain seperti H2S. Metana yang dikandung biogas berjumlah 54 – 70 persen, sedang karbon dioksida antara 27 – 43 persen.
Gas-gas yang lain hanya memiliki persentase yang lebih sedikit. Selama proses tersebut, mikroba yang bekerja butuh makanan. Makanan tersebut mengandung karbohidrat, lemak, protein, fosfor dan unsur-unsur mikro. Lewat siklus biokimia, nutrisi tadi akan diuraikan. Dengan begitu, akan dihasilkan energi untuk tumbuh. Dari proses pencernaan anaerobik ini akan dihasilkan gas metan. Bila unsur-unsur dalam makanan tadi tidak berada dalam takaran yang seimbang alias kurang, bisa dipastikan produksi enzim untuk menguraikan molekul karbon komplek oleh mikroba akan terhambat. Untuk menjamin semuanya berjalan dengan lancar, unsur-unsur nutrisi yang dibutuhkan mikroba harus tersedia secara seimbang.
Dalam pertumbuhan mikroba yang optimum biasanya dibutuhkan perbandingan unsur C : N : P sebesar 100 : 2,5 : 0,5. Selain masalah nutrisi, terdapat faktor lain yang perlu dicermati karena dapat berpotensi mengganggu jalannya proses fermentasi. Hal ini dikarenakan ada beberapa senyawa yang bisa menghambat proses penguraian dalam suatu unit biogas. Untuk itu, saat menyiapkan bahan baku untuk produksi biogas, bahan-bahan pengganggu seperti antibiotik, desinfektan dan logam berat harus diperhatikan saksama. Gas metan hasil fermentasi ini akan menyumbang nilai kalor yang dikandung biogas, besarnya antara 590 – 700 K.cal per kubik.
Sumber utama nilai kalor biogas berasal dari gas metan itu, plus sedikit dari H2 serta CO. Sedang karbon dioksida dan gas nitrogen tidak memiliki konstribusi dalam soal nilai panas tadi. Sementara dalam hal tingkat nilai kalor yang dimiliki, biogas punya keunggulan yang signifikan ketimbang sumber energi lainnya, seperti coalgas (586 K.cal/m3) ataupun watergas (302 K.cal/m3). Nilai kalor biogas itu kalah oleh gas alam (967 K.cal/m3). Bahkan, setiap kubik biogas setara dengan setengah kilogram gas alam cair (liquid petroleum gases), setengah liter bensin dan setengah liter minyak diesel. Biogas pun sanggup membangkitkan tenaga listrik sebesar 1,25 – 1,50 kilo watt hour (kwh). Dari nilai kalor yang dikandung, biogas mampu dijadikan sumber energi dalam beberapa kegiatan sehari-hari. Mulai dari memasak, pengeringan, penerangan hingga pekerjaan yang membutuhkan pemanasan (pengelasan).
Selain itu, biogas juga bisa dipakai sebagai bahan bakar untuk menggerakkan motor. Namun untuk keperluan ini, biogas sebelumnya harus dibersihkan dari kemungkinan adanya gas H2S karena gas tersebut bisa menyebabkan korosi. Agar tidak menimbulkan gas ya ng berbau tersebut, maka biogas tersebut harus dilewatkan pada ferri oksida. Ferri oksida inilah yang akan mengikat (gas) H2S sehingga korosi dapat dicegah. Apabila biogas digunakan sebagai bahan bakar motor maka diperlukan sedikit modifikasi pada sistem karburator. Hasil kerja motor dengan bahan bakar biogas ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti pembangkit tenaga listrik, pompa air dan lainnya. Selain itu, biogas juga bisa dipadukan dengan sistem produksi lain.
Edited by : @_pararaja from Peserta Mata Kuliah Teknik Pembakaran Semester Genap 2001/2002. 2001. Portfolio Bahan Bakar Cair. Depok : Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.
Perbandingan Analisis menggunakan Spektrofotometer dan Atomic Absorbtion Spectrofotometer (AAS). (2)
-
-
Menggunakan Spektrofotometer
-
Spektrofotometer bekerja berdasarkan penyerapan sinar yang dihasilkan oleh sampel yang bewarna pada panjang gelombang tertentu. Spektrofotometer dapat mengidentifikasi logam yang ada dalam sampel bila sampel itu bewarna, namum sulit diidentifikasi pada sampel yang tidak menghasilkan perubahan warna atau kadar logam dalam sampel sangat kecil sekali.
-
-
Menggunakan AAS
-
Cara kerja AAS adalah suatu teknik analisis unsur yang didasarkan pada absorbsi sinar oleh atom bebas. Atom menyerap sinar pada panjang gelombang tertentu yang mempunyai energi untuk mengubah tingkat elektron suatu atom. Dengan absorbsi berarti atom memperoleh lebih banyak energi, suatu atom pada keadaan dasar dinaikkan tingkat energinya ke tingkat eksitasi. Walaupun sampel yang mengandung logam yang akan dianalisis tidak menghasilkan warna atau kadarnya sangat kecil sekalipun, masih dapat terbaca oleh AAS. Jadi tingkat ketelitian AAS lebih tinggi dibandingkan spektrofotometer.
Tabel : Perbandingan Antara Spektrofotometer Dengan AAS
|
No. |
Parameter |
AAS |
Spektrofotometer |
|
1. |
Pereaksi / Reagent yang digunakan |
Lebih sedikit, pereaksi digunakan hanya pada preparasi awal saja, yaitu K2Cr2O7 dan asam kuat konsentrasi rendah |
Lebih banyak, karena masing-masing parameter menggunakan peraksi yang berbeda |
|
2. |
Mekanisme Analisis |
Lebih cepat dan mudah dalam pengerjaan |
Jauh lebih lama dan rumit dalam pengerjaan |
|
3. |
Harga / cost Analisis |
Lebih murah karena sedikitnya pereaksi yang digunakan walaupun banyak parameter yang akan dianalisis |
Lebih mahal karena banyaknya pereaksi yang digunakan untuk semua paramater |
|
4. |
Preparasi awal |
Lebih mudah dan hanya melakukan sekali preparasi untuk semua parameter analisis |
Lebih rumit dan preparasi untuk masing-masing parameter berbeda |
|
5. |
Mekanisme alat / panjang gelombang |
Tidak mengatur panjang gelombang, hanya mengganti lampu katoda sesuai dengan parameter analisa |
Masing-masing parameter harus dilakukan pengesetan panjang gelombang terlebih dahulu |
|
6. |
Volume sampel |
Lebih sedikit karena sekali preparasi hanya berjumlah + 50 mL |
Lebih banyak karena masing-masing parameter volume sampelnya berbeda |
Adopted by @_pararaja
Pengendalian Emisi Gas Buang Dengan Katalitik Konverter
Secara umum emisi gas buang terdiri dari partikulat, hidrokarbon, sulfur oksida dan nitrogen oksida. Partikulat merupakan hasil pembakaran kendaraan bermotor yang tidak sempurna yang berupa fasa padat terdisperi di udara. Partikulat ini dapat mengakibatkan berkurangnya jarak pandang dan dapat menganggu ksesehatan mahluk hidup. Hidrokarbon juga meripakan hasil pembakaran tak sempurna pada kendaraan yang menghasilkan gas buang yang mengandung hidrokarbon, termasuk di dalamnya senyawa alifatik dan aromatik yang terdapat dalam bahan bakar.
Senyawa aromatik dapat mengakibatkan pencemaran udara karena sifatnya yang aktif secara biologis dan dapat menyebabkan kanker (carcinogenic). Karbon monoksida berasal dari pembakaran tak sempurna bahan bakar yang merupakan gas yang tak berwarna, tak berasa dan tak berbau.gas ini dapat menganggu pernafasan pada konsentrasi yang tinggi. Sulfur dioksida juga berdampak negatif terhadap lingkungan, material maupun manusia.
Pada manusia, asam sulfat (H2SO4), sulfur dioksida (SO2) dan garam sulfat dapat menimbulkan iritasi pada membran lendir saluran pernapasan dan memperparah penyakit pernapasan. Karena dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh emisi gas buang ini maka perlu diambil suatu tindakan pengendaliannya. Tindakan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai macam cara seperti: Uji emisi sehingga membatasi kendaraan yang berpotensi untuk menghasilkan emisi gas buang yang berbahaya, pemilihan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, dan penggunaan katalitik konverter untuk mengkonversikan gas buang yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
Dengan adanya tuntutan lingkungan akan mengakibatkan adanya perubahan pada industri automotive. Kendaraan bermotor (mobil) yang diproduksi dituntut agar gas buangannya lebih dapat dilendalikan, yaitu dengan perubahan pada mesin – mesin mobil serta pemasangan Catalytic Converter pada sistem gas buang sehingga kadar gas buang yang tidak dikehendaki seperti gas CO, NOx, SOx, dan Volatile Hidrocarbon dapat ditekan / dikurangi. Catalytic Converter tersebut membutuhkan bahan bakar yang tidak mengandung timah hitam / lead ( unleaded gosaline), karena timah hitam akan merusak /meracuni katalis pada catalytic converter tersebut.
Pada masa mendatang kendaraan bermotor (mobil) yang dilengkapi dengan Catalytic Converter akan menggeser mobil-mobil tua yang tidak dilengkapi dengan Catalytic Converter. Kendaraan ini dengan sendirinya akan merubah distribusi konsumsi bahan bakar kendaraan bermotor (gasoline) yaitu dari leaded gasoline menjadi Unleaded gasoline. Khusus di Indonesia, penerapan program rephasing TEL/Lead secara bertahap telah dilaksanakan dan akan terus dilanjutkan sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang ada.
Pada tahun 1990 Pertamina telah melakukan usaha mengurangi kandungan TEL/Lead dalam gasoline dari 2.5 cc/USG menjadi 1.5 cc/USG atau 0.45 gr /Liter. Usaha tersebut akan terus dilanjutkan dengan rencana program Lead Free secara bertahap sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan kemampuan yang ada, dan sejalan dengan program Lead Free maka akan diarahkan kepada program Reformulated Gasoline dimasa mendatang.
Edited by : @_pararaja from Peserta Mata Kuliah Teknik Pembakaran Semester Genap 2001/2002. 2001. Portfolio Bahan Bakar Cair. Depok : Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.
TEORI BELAJAR HUMANISTIK
By: concueror
Belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah : Proses pemerolehan informasi baru, Personalia informasi ini pada individu.SELANJUTNYA
Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik antara lain adalah: Arthur W. Combs, Abraham Maslow dan Carl Rogers.
Arthur Combs (1912-1999)
Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dati ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.
Untuk itu guru harus memahami perlaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.
Combs memberikan lukisan persepsi dir dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.
Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal :
(1) suatu usaha yang positif untuk berkembang
(2) kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis.
Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri(self).
Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.
Carl Rogers
Carl Rogers lahir 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinois Chicago, sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Semula Rogers menekuni bidang agama tetapi akhirnya pindah ke bidang psikologi. Ia mempelajari psikologi klinis di Universitas Columbia dan mendapat gelar Ph.D pada tahun 1931, sebelumnya ia telah merintis kerja klinis di Rochester Society untuk mencegah kekerasan pada anak.
Gelar profesor diterima di Ohio State tahun 1960. Tahun 1942, ia menulis buku pertamanya, Counseling and Psychotherapy dan secara bertahap mengembangkan konsep Client-Centerd Therapy.
Rogers membedakan dua tipe belajar, yaitu: Kognitif (kebermaknaan)
experiential (pengalaman atau signifikansi) Guru menghubungan pengetahuan akademik ke dalam pengetahuan terpakai seperti memperlajari mesin dengan tujuan untuk memperbaikai mobil. Experiential Learning menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan siswa. Kualitas belajar experiential learning mencakup : keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya efek yang membekas pada siswa.
Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:
1. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
2. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa
3. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
4. Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.
Dari bukunya Freedom To Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya ialah :
a. Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
b. Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
c. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
d. Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
e. Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
f. Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
g. Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
h. Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
i. Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
j. Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.
Salah satu model pendidikan terbuka mencakuo konsep mengajar guru yang fasilitatif yang dikembangkan Rogers diteliti oleh Aspy dan Roebuck pada tahun 1975 mengenai kemampuan para guru untuk menciptakan kondidi yang mendukung yaitu empati, penghargaan dan umpan balik positif.
Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah :
-
Merespon perasaan siswa
-
Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang
-
Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
-
Menghargai siswa
-
Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
-
Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera dari siswa)
-
Tersenyum pada siswa
Dari penelitian itu diketahui guru yang fasilitatif mengurangi angka bolos siswa, meningkatkan angka konsep diri siswa, meningkatkan upaya untuk meraih prestasi akademik termasuk pelajaran bahasa dan matematika yang kurang disukai, mengurangi tingkat problem yang berkaitan dengan disiplin dan mengurangi perusakan pada peralatan sekolah, serta siswa menjadi lebih spontan dan menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi.
Implikasi Teori Belajar Humanistik
Guru Sebagai Fasilitator
Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas sifasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa guidenes(petunjuk):
-
-
-
-
Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
-
Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
-
Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
-
Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
-
Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
-
Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
-
Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
-
Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa
-
Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar
-
Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.
-
-
-
Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
-
Merumuskan tujuan belajar yang jelas
-
Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas, jujur dan positif.
-
Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
-
Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
-
Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
-
Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
-
Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.
Referensi :
Psikologi Belajar: Dr. Mulyati, M.Pd
Psikologi Belajar: Drs. H. Abu Ahmadi dan Drs. Widodo Supriyono
Psikologi Pendidikan: Sugihartono,dkk
Psikologi Pendidikan: Rochman Natawidjaya dan Moein Moesa
Landasan Kependidikan: Prof. Dr. Made Pidarta
TOYOTA ECO YAUTH KE-4
PT Toyota Astra Motor dan PT Toyota Motor Manufacturing kembali menjalankan Program Toyota Eco Youth untuk keempat kalinya sejak tahun 2005. TEY 4 memperlombakan dua tema yaitu Kontes Pengolahan Limbah dan Kontes Berkelanjutan serta perlombaan draw kids “aku dan lingkungan”. Kontes Pengolahan Limbah akan diikuti oleh 30 SMA dan SMK dari 13 kota besar di Indonesia. Sementara itu
, Kontes Berkelanjutan akan diikuti oleh 12 sekolah pemenang Program Toyota Eco Youth pertma hingga ketiga. Secara total, program Toyota Eco Youht 4 akan diikuti oleh 42 sekolah dari 14 kota besar di Indonesia.
Di tingkat global, kepedulian Toyota akan lingkungan hidup dikejawantahkan dalam pengembangan teknologi kendaraan bermotor yang ramah lingkungan seperti hybrid dan fuell cell hybrid system.
Dan SMK Kimia Madiun, sebagai salah satu wakit kontes sustainbility juga ikut menghadiri. diwakilkan oleh Bpk. S Tavip dan Bpk Hartoyo sibuk bolak balik Madiun Jakarta, dengan segenap semangat dan rasa capek yang tertutup oleh senyum kebanggaan.



TEY 4 yang berlangsung selama 13 sampai 16 Maret 2009, kemarin 15 Maret 09 mengadakan pameran dan pengumuman pemenang di Mall Kelapa Gading. Dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup, Bapak Rahmat Witoelar; Presiden Direktur PT. Toyota Astra Motor, Bapak Johnny Darmawan; dan Presiden Direktur PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Mr. Hidematsu Ibaragi.
Dan para pemenang
Berikut daftar pemenang kontes pengolahan limbah :
1. SMU Neg. 9 dari Bandar Lampung
2. SMU Semesta dari Semarang
3. SMU Neg. 21 dari Makassar
4. SMK Neg. 1 dari Banjarmasin
5. SMU Neg. 10 Malang
Pemenang kontes sustainability :
1. SMU Semen Gresik dari Gresik
2. SMU Neg. 6 dari Yogyakarta
3. SMK Neg. 2 dari Palembang
selamat bagi para pemenang…
sebuah gebrakan untuk menyelamatkan bumi dan Indonesia khususnya dari global warming. Untuk menanamkan jiwa kepedulian lingkungan bagi masyarakat dan generasi muda…
Go Green, Go recyle….
Kurangi sampah, selamatkan sampah, dan jangan nyampah…..

Produksi Cairan Kulit Biji Jambu Mete sebagai Bahan Baku Industri Cat dan Komponen Pelunak Gesekan Sepatu Rem Kendaraan
A Zainal Abidin, Tatang Hernas, Sri Yuliani, dan Illah Sailah
Departemen Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung
Produk utama dari tanaman jambu mete ialah biji gelondong kacang mete dengan hasil samping berupa kulit biji mete yang mengandung CNSL (cashew nut shell liquid). CNSL merupakan sumber fenolat alami yang sangat berpotensi sebagai pengganti sumber fenol berbasis fosil. Pemanfaatan CNSL di Indonesia belum dilakukan secara maksimum karena kurangnya penerapan teknologi, baik pada teknik pengolahan kulit biji menjadi CNSL maupun pada teknik pengolahan CNSL menjadi bahan baku seperti untuk cat, vernis, dan sepatu rem. Sementara itu, kebutuhan cat dan impor rem di Indonesia semakin meningkat. Tujuan penelitian ini ialah menghasilkan CNSL untuk bahan baku industri cat dan sepatu rem kendaraan.
Tahap pertama penelitian diarahkan pada pemilihan teknik ekstraksi CNSL, meliputi metode penggorengan, pengempaan, dan ekstraksi dengan pelarut. CNSL dari ketiga metode ini dianalisis rendemen, sifat fisiko-kimia, dan mutunya. Hasil ekstraksi terbaik didapat dengan metode pengempaan yang dilakukan pada suhu 125°C dan tekanan 200 kg/cm2 selama 15 menit. Metode ini menghasilkan rendemen 19.6% dengan viskositas 540 cP, bobot jenis 1.0099, kadar bahan atsiri 0.311%, bilangan asam 84.24, bilangan penyabunan 121.38, dan bilangan iodin 109.30.
Selanjutnya, CNSL dibuat vernis dengan menambahkan formaldehida dan bahan pengering. Hal ini dimungkinkan karena CNSL mengalami polimerisasi ketika kontak dengan oksigen bebas membentuk lapisan yang tipis, keras, dan kering. Produk terbaik diperoleh dari perlakuan pemberian bahan pengering MnO2 5% dan nisbah formaldehida terhadap CNSL 0.6:1 yang ditunjukkan dengan waktu kering selama 3 jam dan bobot jenis 0.8300 g/mL.
Tahap ketiga penelitian ialah pembuatan komponen pelunak gesekan sepatu rem dengan cara mempolimerisasi CNSL dengan formaldehida pada kondisi asam dan basa. Polimer yang dihasilkan memenuhi standar ASTM D 494-46 untuk komponen pelunak gesekan sepatu rem dan dihasilkan dari reaksi antara formaldehida dan CNSL pada kondisi basa dengan nisbah mol 0.9:1 pada berbagai komposisi penambahan heksametilena tetraamina (7.5, 10.0, 12.5, dan 15%).
Adopted by @_pararaja from Hibah Bersaing VIII
Lebih Baik Memberi Dari Pada Menerima
Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri. Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah.
Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.
Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.
Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.
Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.
Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”
”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”
”Mau ambil berapa?” tanya saya.
”Enam ratus ribu, Pak.”
”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”
Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.
”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”
”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”
”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”
Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.
Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya.
Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.
Adopted from : Ahmad Tohari. 2006. “Kisah Yu Timah” . Republika – Resonansi.
GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR
Jenis Gas Buang
Transportasi telah menjadi sumber utama dari pencemaran udara khususnya di daerah perkotaan. Terlebih lagi dengan penambahan unit kendaraan bermotor yang melaju di jalan raya dan buruknya sistem angkutan umum yang jelas memperparah pencemaran udara yang terjadi. Bahan pencemar (polutan) yang berasal dari kendaraan bermotor dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori sebagai berikut:
• Sumber
Polutan dibedakan menjadi polutan primer atau sekunder. Polutan primer seperti sulfur oksida (SOx), nitrogen oksida (NOx) dan hidrokarbon (HC) langsung dibuangkan ke udara bebas dan mempertahankan bentuknya seperti pada saat pembuangan. Polutan sekunder seperti ozon (O3) dan peroksiasetil nitrat (PAN) adalah polutan yang terbentuk di atmosfer melalui reaksi fotokimia, hidrolisis atau oksidasi.
• Komposisi kimia
Polutan dibedakan menjadi organik dan inorganik. Polutan organik mengandung karbon dan hidrogen, juga beberapa elemen seperti oksigen, nitrogen, sulfur atau fosfor; contohnya hidrokarbon, keton, alkohol, ester dan lain- lain. Polutan inorganik seperti karbonmonoksida (CO), karbonat, nitrogen oksida, ozon dan lainnya.
• Bahan penyusun
Polutan dibedakan menjadi partikulat atau gas. Partikulat dibagi menjadi padatan dan cairan seperti debu, asap, abu, kabut dan spray; partikulat dapat bertahan di atmosfer. Sedangkan polutan berupa gas tidak bertahan di atmosfer dan bercampur dengan udara bebas.
1. Partikulat
Polutan partikulat yang berasal dari kendaraan bermotor umumnya merupakan fasa padat yang terdispersi dalam udara dan membentuk asap. Fasa padatan tersebut berasal dari pembakaran tak sempurna bahan bakar minyak yang berkomposisikan senyawa organik hidrokarbon. Selain itu partikulat juga mengandung timbal yang merupakan bahan aditif untuk meningkatkan kinerja pembakaran bahan bakar pada mesin kendaraan. Partikel asap mempunyai diameter berkisar 0.5 – 1 m. Asap dapat mengurangi jarak pandang karena partikel padatan di dalamnya memencarkan atau menyerap sinar. Intensitas pengurangan jarak pandang ini tergantung kepada ukuran dan bentuk dari partikulat. Menurunnya jarak pandang berdampak negatif terhadap sistem transportasi khususnya pesawat terbang dengan memperlambat operasi bandara udara karena kebutuhan untuk menambah jarak antar pesawat guna menghindari kecelakaan. Asap juga menyebabkan kotornya pakaian dan bahan tekstil, korosi pada bahan bangunan dari logam (khususnya pada kelembaban 75%) serta merusak cat bangunan.
Partikulat memencarkan dan memantulkan sinar matahari sehingga mengurangi intensitas sinar yang jatuh ke permukaan bumi. Hal ini dapat memperlama periode hujan dan salju. Selain itu asap juga dapat merusak kesehatan mahluk hidup. Partikulat yang menempel pada permukaan daun dapat merusak jaringan daun jika terserap ke dalamnya. Selain itu partikulat akan menutup stomata sehingga mengurangi kemampuan tumbuhan untuk berfotosintesis dan mengganggu pertumbuhannya. Hewan yang memakan tumbuhan yang terlapisi oleh partikukat dapat mengalami gangguan pencernaan bahkan kematian karena keracunan zat-zat berbahaya yang terdapat pada partikulat tersebut.
Efek partikulat pada kesehatan manusia menjadi berbahaya dikarenakan ukuran partikulat yang sangat kecil dapat menembus system pernapasan sampai ke bagian paru-paru bagian dalam. Terlebih lagi partikulat dapat mengikat polutan lain yang terdapat di dalam udara (SOx, NOx, dll) sehingga tertinggal dalam tubuh untuk waktu yang lebih lama. Penelitian intensif telah dilakukan terhadap efek timbal pada manusia karena kerusakan jaringan tubuh yang ditimbulkan lebih hebat, terutama pada sis tem pembentukan darah, sistem saraf dan sistem ekskresi. Termasuk juga sistem reproduksi, fungsi hati, jantung serta enzim dalam tubuh.
2. Hidrokarbon (HC)
Pembakaran tak sempurna pada kendaraan juga menghasilkan gas buang yang mengandung hidrokarbon, termasuk di dalamnya senyawa alifatik dan aromatik yang terdapat dalam bahan bakar. Senyawa alifatik terdapat dalam beberapa macam gugus yaitu alkana, alkena, alkuna. Alkana merupakan senyawa inert dan tidak reaktif pada atmosfer terhadap reaksi fotokimia. Alkena atau olefin merupakan senyawa tak jenuh dan sangat aktif di atmosfer terhadap reaksi fotokimia. Oleh karena itu penelitian terhadap polutan alkena menjadi sangat penting, terlebih lagi dengan munculnya polutan sekunder yang berasal dari reaksi fotokimia alkena, seperti peroksiasetil nitrat (PAN) dan ozon (O3).
Salah satu senyawa alkena yang cukup banyak terdapat pada gas buang kendaraan adalah etilen. Penelitian menunjukkan bahwa etilen dapat mengganggu pertumbuhan tomat dan lada, juga merusak struktur dari anggrek. Alkuna, meskipun lebih reaktif dari alkena namun jarang ditemukan di udara bebas dan tidak menjadi masalah utama dalam pencemaran udara akibat gas buang kendaraan. Senyawa aromatik juga menjadi pusat perhatian dalam studi pencemaran udara karena sifatnya yang aktif secara biologis dan dapat menyebabkan kanker (carcinogenic).
3. Karbon Monoksida (CO)
Karbon monoksida yang juga berasal dari pembakaran tak sempurna bahan bakar merupakan gas yang tak berwarna, tak berasa dan tak berbau. Karbon monoksida di atmosfer bersifat inert pada kondisi normal dan mempunyai waktu tinggal sekitar 2 ½ bulan. Pada konsentrasi normal, karbon monoksida di udara bebas tidak berpengaruh besar terhadap property maupun mahluk hidup. Pada konsentrasi yang lebih tinggi, karbon monoksida dapat secara serius mempengaruhi metabolisme pernapasan manusia.
Karbon monoksida mempunyai afinitas terhadap hemoglobin dalam darah (COHb) yang lebih tinggi daripada oksigen; dengan demikian mengurangi kemampuan darah untuk membawa oksigen. Kekurangan oksigen dalam aliran darah dan jaringan tubuh akan menurunkan kinerja tubuh dan pada akhirnya dapat menimbulkan kerusakan pada organ-organ tubuh. Gejala yang umumnya timbul akibat pemaparan terhadap karbon monoksida dalam konsentrasi tinggi untuk waktu yang lama adalah gangguan sistem saraf, lambatnya refleks dan penurunan kemampuan penglihatan.
4. Sulfur Oksida (SOx)
Sulfur oksida mungkin merupakan polutan yang paling banyak dipelajari karena senyawa turunannya yang bervariasi. Pada umumnya 2 senyawa sulfur oksida yang dipelajari adalah sulfur dioksida (SO2) dan sulfur trioksida (SO3). Sulfur dioksida merupakan gas yang tak berwarna, tak mudah terbakar dan tak mudah meledak tetapi mempunyai bau yang menyengat. Sulfur dioksida mempunyai kelarutan yang tinggi dalam air dengan waktu tinggal sebagai gas dalam atmosfer selama 2 – 4 hari serta daya transportasi yang tinggi. Oleh karena itu masalah polusi SO2 dapat menjadi masalah internasional. SO2 relatif stabil di atmosfer dan dapat bertindak sebagai reduktor maupun oksidator. Namun SO2 dapat bereaksi secara fotokimia atau katalisis dengan komponen lain dan membentuk SO3, tetesan H2SO4 dan garam asam sulfat. Reaksireaksi yang mungkin terjadi:
SO2 + H2O —- H2SO3 (asam sulfit)
SO3 + H2O —- H2SO4 (asam sulfat)
Seperti halnya polutan yang lain, sulfur dioksida juga berdampak negative terhadap lingkungan, material maupun manusia. Pada manusia, asam sulfat (H2SO4), sulfur dioksida (SO2) dan garam sulfat dapat menimbulkan iritasi pada membrane lendir saluran pernapasan dan memperparah penyakit pernapasan seperti bronkitis dan pneumonia. Kondisi ini makin parah di daerah yang berdebu dimana terdapat partikulat dalam konsentrasi tinggi. Sulfur dioksida dan molekul asam sulfat cenderung menghentikan kemampuan bulu getar sepanjang saluran pernapasan yang bertugas menyaring partikel pengotor. Dengan demikian partikulat dapat dengan mudah masuk ke dalam saluran pernapasan dalam (paru-paru) tanpa adanya penyaringan terlebih dahulu. Sebagian sulfur dioksida juga terikat dengan partikulat dan menyebabkan iritasi pada paru-paru. Dalam jangka waktu yang lama, partikulat dan sulfur dioksida dapat merusak paru-paru dan menyebabkan kematian karena kerusakan sistem pernapasan. Tumbuhan sangat sensitif terhadap sulfur dioksida.
Ada 2 macam kerusakan akibat sulfur dioksida. Pertama, tumbuhan yang terpapar oleh sulfur dioksida pada konsentrasi tinggi untuk waktu singkat mengalami kerusakan jaringan daun karena terjadi klorolisis, ya itu hilangnya klorofil dan plasmolisis, yaitu runtuhnya struktur daun. Kedua, kerusakan akibat terpapar oleh sulfur dioksida pada konsentrasi rendah untuk waktu yang lama yaitu warna daun menjadi merah kecoklatan atau muncul bercak putih. Kondisi kerusakan semakin parah pada daerah yang panas dan lembab. Sulfur oksida juga mempunyai daya rusak yang tinggi terhadap bahan bangunan terutama yang mengandung karbonat dengan reaksi:
CaCO3 + H2SO4 —- CaSO4 + CO2 + H2O
Kalsium sulfat atau gipsum yang terbentuk dengan mudah terbawa oleh air dan menimbulkan lubang-lubang pada permukaan bahan, misalnya pada monumen, ukiran dan gedung. Kabut asam sulfat juga merusak bahan tekstil seperti katun, linen, rayon dan nilon bahkan kulit. Kertas pun menjadi kekuningan dan menjadi getas. Sulfur oksida juga mempercepat laju korosi pada logam.
5. Nitrogen Oksida (NOx)
Senyawa nitrogen oksida yang sering menjadi pokok pembahasan dalam masalah polusi udara adalah NO dan NO2. Kedua senyawa ini terbuang langsung ke udara bebas dari hasil pembakaran bahan bakar. NO2 yang mudah larut dalam air dapat membentuk asam nitrit atau asam nitrat menurut reaksi:
2 NO2 + H2O —- HNO3 + HNO2 (asam nitrat dan asam nitrit)
3 NO3 + HO —- 2 HNO3 + NO (asam nitrat dan nitrogen oksida)
Asam nitrat dan asam nitrit akan jatuh bersama dengan hujan dan bergabung dengan ammonia (NH3) di atmosfer dan membentuk ammonium nitrat (NH4NO3) yang merupakan sari makanan bagi tumbuhan. Dengan kemampuan yang tinggi untuk menyerap sinar ultraviolet, NO2 memainkan peranan penting dalam pembentukan kontaminan ozon (O3). Tidak seperti gas polutan lainnya yang mempunyai daya destruktif tinggi terhadap kesehatan manusia, NO merupakan gas inert dan ‘hanya’ bersifat racun. Sama halnya dengan CO, NO mempunyai afinitas yang tinggi terhadap oksigen dibandingkan dengan hemoglobin dalam darah. Dengan demikian pemaparan terhadap NO dapat mengurangi kemampuan darah membawa oksigen sehingga tubuh kekurangan oksigen dan mengganggu fungsi metabolisme. Namun NO2 dapat menimbulkan iritasi terhadap paru-paru.
Pada tumbuhan, NO tidak bersifat merusak namun NO2 menimbulkan sedikit kerusakan pada tumbuhan. Polutan sekunder dari NOx seperti PAN dan O3 justru mempunyai daya perusak yang lebih tinggi pada tumbuhan. Konsentrasi NO2 yang tinggi pada udara bebas dapat memudarkan warna tekstil, memberi warna kuning pada tekstil berwarna putih, dan mengoksidasi logam.
Edited by : @_pararaja from Peserta Mata Kuliah Teknik Pembakaran Semester Genap 2001/2002. 2001. Portfolio Bahan Bakar Cair. Depok : Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.
BAHAN BAKAR GAS (BBG)
A. Pendahuluan
Bahan Bakar Gas (BBG) adalah gas bumi yang telah dimurnikan dan aman, bersih andal, murah, dipakai sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Komposisi BBG sebagian besar terdiri dari gas metana ( CH4) dan etana (C2H6) lebih kurang 90% dan selebihnya adalah gas propana (C3H8), butana (C4H10), pentana (C5H10), nitrogen dan karbon dioksida. BBG lebih ringan daripada udara dengan berat jenis sekitar 0,6036 dan mempunyai nilai oktan 120. Agar setiap kendaraan BBG dapat membawa gas sebanyak mungkin, BBG dimasukkan ke dalam tangki dengan dimampatkan sekitar 200 bar dan masih berbentuk gas.
Sudah sekitar 11 tahun Bahan Bakar Gas (BBG) dipasarkan secara komersial sebagai bahan bakar kendaraan bermotor di Indonesia, namun perkembangan penjualannya berjalan sangat lambat. Konsumsi BBG hanya 0,33 % dari total konsumsi bahan bakar kendaraan di wilyah Pantai Utara (Pantura) Jawa. Beberapa penyebab kelambanan pengembangan dan pemasyarakatan BBG antara lain:
• Dari sisi produsen. Harga jual BBG lebih rendah dari biaya pengadaannya sehingga produsen enggan mengembangkan usaha ini. Apabila harga jual BBG dinaikan akan makin sulit bersaing dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang harganya disubsidi.
• Dari sisi konsumen. Conversion kit dari BBM ke BBG dirasakan terlalu mahal, SPBG sulit diperoleh dan masyarakat sudah terbiasa menggunakan bahan bakar cair.
Disisi lain, upaya penghematan konsumsi BBM melalui program diversifikasi energi sudah merupakan agenda nasional yang mendesak mengingat:
• Indonesia akan menjadi net oil importer dalam waktu yang tidak lama lagi. Ketika stasus net importer tiba, kita tidak bisa menghindar dari keharusan mengkonsumsi BBM dengan harga sesuai pasar yakni sekitar 3 kali lipat dari harga BBM saat ini.
• Anggaran subsidi BBM terus meningkat. Pada APBN 1998/2000, jumlahnya mencapai Rp 39,89 trilyun dan tahun 2000 diperkirakan lebih dari Rp. 45 trilyun.
• Anggaran subsidi tersebut sebagian digunakan untuk mengimpor BBM yang pada tahun 2000 (s/d bulan September) nilainya sudah mencapai US$ 2,34 milyar.
B. Pemakaian BBG
Teknologi BBG untuk kendaraan bermotor telah lama diterapkan di Italia sejak tahun 1934 dan menyusul negara negara lainnya seperti : Amerika, Selandia Baru, Kanada, Argentina, Malaysia, Brazilia, Muangthai dan Rusia. Di Indonesia, BBG telah diuji coba oleh suatu tim Evaluasi Teknis Proyek Percontohan Bahan Bakar Gas dengan hasil baik dan layak untuk dipakai pada kendaraan bermotor. Segala macam tipe/merk kendaraan dapat menggunakan BBG, untuk itu perlu dipasang peralatan tambahan yang disebut “Conversion Kit “. Bila diperlukan, kendaraan BBG dapat kembali menggunakan Bahan Bakar Minyak hanya dengan memutar tombol penyeleksi bahan bakar (2 sistem).
C. Kebijakan Harga BBG
Harga jual BBG lebih murah bila dibandingkan dengan harga jual minyak premium dan minyak solar. Kunci utama untuk mengurangi konsumsi BBM dan meningkatkan pemanfaatan BBG terletak pada kebijakan harga. Sebab, seandainya harga BBM disesuaikan sampai ke tingkat yang wajar (sesuai harga keekonomian), maka anggaran subsidi dapat diminimalisir, efisiensi konsumsi BBM oleh masyarakat akan meningkat dan sumber-sumber energi lain yang biaya pengadaannya (harga keekonomiannya) lebih murah dari BBM dapat berkembang menyesuaikan harga pasar. Daya beli masyarakat yang rendah, kebiasaan mengkonsumsi BBM dengan harga murah dan kelangkaan energi alternatif telah menimbulkan resistensi yang luar biasa terhadap upaya pengurangan/pencabutan subsidi BBM.
Dari hasil kajian, biaya pengadaan BBG jauh lebih murah dari BBM khususnya solar dan premium, apabila harga jual BBG dan BBM ditentukan oleh mekanisme pasar, maka BBG yang harganyan sekitar Rp. 850/lsp, akan mampu bersaing dengan BBM yang harganya sekitar Rp. 2000/liter. Namun pencabutan subsidi BBM (menaikkan harga BBM 3 kali lipat) sangat tidak realistis. Karena itu perlu “solusi jalan tengah” dengan melakukan pengalihan subsidi BBM kepada BBG sampai harga kedua jenis energi tersebut dapat ditentukan oleh mekanisme pasar. Usulan subsidi BBG tersebut, sama sekali tidak akan membebani Pemerintah. Sebaliknya Pemerintah justru diuntungkan karena yang terjadi bukanlah penambahan anggaran subsidi melainkan hanya mengalihkan alokasi subsidi dari BBM ke BBG dengan jumlah lebih kecil untuk setiap volume BBM yang di substitusi BBG.
D. Konsep Pengembangan BBG
Beberapa konsep dasar dalam rangka pengembangan BBG adalah:
1. Mengkondisikan agar BBG dan BBM dapat bersaing secara fair yakni membiarkan harga kedua jenis energi tersebut ditentukan oleh mekanisme pasar atau untuk sementara waktu kedua-duanya disubsidi.
2. Pemberian insentif bagi pemilik kendaraan yang berminat memakai BBG.
3. Pengembangan BBG sebaiknya berdasarkan “per wilayah” bukan “per kota” dan berskala luas (investasi besar-besaran).
4. Pemasaran BBG sebaiknya menggunakan pendekatan product driven (resources base approach) bukan market driven.
5. Pengembangan dan pemasaran BBG sebaiknya dilakukan secara terencana, terpadu dan komprehensif (tidak parsial).
Tanpa konsep-konsep dasar tersebut, BBG akan sulit dikembangkan di Indonesia secara meluas sebagai energi substitusi BBM untuk kendaraan bermotor.
E. Keuntungan BBG
Bahan Bakar Gas menawarkan beberapa keuntungan :
1. Lebih ekonomis
2. Mengurangi biaya pemeliharaan mesin
3. Aman didalam penggunaanya
4. Memberikan pembakaran yang bersih
5. Mengurangi polusi udara
6. Sudah dapat diproduksi di dalam negeri
7. BBG memiliki beberapa keunggulan terhadap BBM, antara lain karena cadangan gas bumi relatif masih cukup besar dan biaya pengadaannya lebih murah dari BBM.
8. Kendaraan yang menggunakan BBG akan memperpanjang usia pemakaian minyak pelumas, mesin dan busi, ramah lingkungan dan aman bagi pemakai.
9. Konsumsi BBM untuk sektor transportasi adalah yang paling dominan (mencapai 52%) dibandingkan untuk industri (19%), listrik (7%) dan rumah tangga (22%). Jadi substitusi BBM dengan BBG akan mengurangi konsumsi BBM secara signifikan.
Tabel. Spesifikasi Bahan Bakar Gas
Edited by : @_pararaja from Peserta Mata Kuliah Teknik Pembakaran Semester Genap 2001/2002. 2001. Portfolio Bahan Bakar Cair. Depok : Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.
ANALISIS PELAKSANAAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI UNTUK MATA PELAJARAN KIMIA DI SMA KOTA TANJUNG BALAI
Jenny Carolyn Barus1 dan Pasar Maulim Silitonga 1
1Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Medan, Jl Pancing Pasar V Medan, Sumatera Utara
ABSTRACT
This research is intended to know whether the implementation of curriculum based competence for chemistry subject in Senior High School in Tanjung Balai city has been appropriate with the ideal condition of the real implementation of curriculum based competence. It is also to know the percentage of successful achievement of senior high school students in Tanjung Balai city in the implementation of curriculum based competence. The analysis of the implementation of curriculum based competence for the chemistry subject in senior high school in Tanjung Balai can be seen from 4 (four) elements of curriculum based competence. They are (1)Curriculum component and Learning Achievement. (2)Learning Activity Component, (3)Assessment Component Based Class, (4)Curriculum Management Component Based School.Through the interview to the headmaster and students, the observation to the document of learning plan, Annual Program, Semester Program, the questions made by the teachers of chemistry subject. The result of research shows that the rate of successful implementation of curriculum based competence in Tanjung Balai city seen from curriculum component and learning achievement result, it is ideally (96,7%), component of learning result of chemistry subject is ideally (38,1%) and assesment component based on class is ideally (49,2%), Component Based on School is ideally (57,8%).
Key word: Analisis, pelaksanaan KBK, pelajaran kimia, SMA, Tanjung Balai
Pendahuluan
Pendidikan mempunyai per- anan penting di seluruh aspek kehidupan manusia. Hal itu disebabkan pendidikan berpengaruh langsung terhadap perkem-bangan kepribadian manusia. Kalau bidang-bidang lain seperti ekonomi, pertanian, arsitektur, dan sebagainya berperan menciptakan sarana dan prasarana bagi kepentingan manusia, pendidikan berkaitan langsung dengan pembentukan manusia. Pendidikan “menentukan” model manusia yang akan dihasilkannya. (Syaodih, 2002).
Perwujudan masyarakat ber- kualitas menjadi tanggung jawab pendidikan, terutama dalam me- persiapkan peserta didik menjadi subjek yang makin berperan menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri dan professional pada bidangnya masing-masing. Hal tersebut diperlukan, terutama untuk mengantisipasi era globalisasi, khususnya globalisasi pasar bebas di lingkungan negara-negara ASEAN, seperti AFTA, dan AFLA, maupun di kawasan negara- negara Asia Pasifik (APEC). (Mulyasa, 2002).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan PERC, Political and Economical Risk Consultancy 2001 (www.warta unair.ac.id) : Sistem Pen didikan di Indonesia menduduki urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Banjar (Analisa, 25 November, 2005) juga melaporkan bahwa : Du- nia Pendidikan Indonesia kini berada di peringkat 111 dari 175 negara yang diteliti Human Development Indonesia (HDI) pada Tahun 2004, jauh di bawah negara anggota ASEAN, seperti Singapura (25), Brunei Darussalam (33), Malaysia (58), Thailand (70), Vietnam (109).
Salah satu upaya peningkatan mutu Pendidikan adalah Pe- nyempurnaan Kurikulum (Sianturi dan Simatupang, 2004). Menurut Zu- baedi (www.suara merdeka.com, 2005) mengharapkan bahwa: Dengan menyempurnakan kurikulum, secara tidak langsung akan meningkatkan mutu Pendidikan Nasional, meskipun diakui Kurikulum bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi mutu Pendidikan. Abdullah juga mengemukakan bahwa : Muatan Kurikulum Pendidikan di Indonesia perlu dibuat standar berbasis pada kebutuhan masa depan sehingga tercipta manusia Indonesia yang cerdas, unggul, dan siap bersaing di era globalisasi, kurikulum juga harus dibuat menarik, interaktif, dan menyenangkan bagi siswa sehingga mereka tidak jenuh ketika di dalam kelas. (Sib, 1 November 2004).
Pembaharuan pendekatan dalam pengembangan kurikulum di Indonesia mengacu pada Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1999-2004, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menetapkan kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum 1994 menjadi kurikulum 2004, yang diberlakukan mulai awal Tahun pelajaran 2004/2005. Me- ngingat Undang-undang (UU) Nomor 2 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah (Otonomi), dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 Tahun 2000 telah mengatur pem- bagian kewenangan Pusat dan daerah. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000, Khususnya tentang bidang pendidikan dan kebudayaan, dinyatakan bahwa ke- wenangan Pusat adalah dalam hal penetapan standar kompetensi peserta didik dan warga belajar serta pengaturan kurikulum nasional dan penilaian hasil belajar secara na- sional serta pedoman pelaksanaanya dan penetapan standar materi pelajaran pokok, yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, dan indikator pencapaian, serta penetapan kalender pendidikan dan jumlah belajar efektif setiap tahun bagi pendidikan dasar, menengah, dan luar sekolah. Pemerintah Daerah memiliki ke- wenangan mengembangkan silabus dan sistem penilaian sesuai dengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisi daerah, oleh karena itu Pemerintah Daerah diberikan kewenangan penambahan kompetensi dasar dan indikator pencapaian. (Depdiknas, 2003).
Pelaksanaan Kurikulum Ber- basis Kompetensi membutuhkan berbagai persyaratan ideal yang mencakup Dokumen kurikulum dan hasil belajar, kemampuan Guru dalam melaksanakan pembelajaran Kimia, Penilaian Berbasis Kelas, dan Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah yang meliputi pengembang- an silabus yang dilakukan oleh pihak sekolah dan tersedianya fasilitas dan sumber belajar yang ada di sekolah tersebut. (Nurhadi 2004).
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh peneliti, sejak Tahun ajaran 2004/ 2005 di SMA Kota Tanjung Balai telah dilaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Hal ini berarti bahwa pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi di daerah Tanjung Balai sudah dua tahun berlangsung.
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pelaksana- an kurikulum berbasis kompetensi untuk mata pelajaran Kimia SMA Di Kota Tanjung Balai telah sesuai dengan kondisi ideal kurikulum ber- basis kompetensi yang sesungguhnya dan untuk mengetahui berapa persen tingkat keberhasilan SMA Di Kota Tanjung Balai dalam melaksanakan kurikulum berbasis kompetensi. Sehingga Penelitian ini bermanfaat Sebagai bahan masukan bagi pihak sekolah, Departemen Pendidikan Nasional untuk membuat kebijakan penambahan fasilitas dan sumber be- lajar demi mendukung pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi yang ideal, serta Sebagai kontribusi ilmiah terhadap persoalan kurikulum berbasis kompetensi yang berguna bagi pengetahuan dan penelitian selanjutnya.
Kurikulum Berbasis Kompetensi
Kompetensi merupakan per- paduan pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksi- kan dalam kebiasaan berfikir dan ber tindak. Achsan juga mengemukakan bahwa kompetensi : “… is a knowledge, skills, and abilities or capabilities that a person achieves, which become part of his or he being to the exent he or she can satisfactorily perform particular cognitive, affective, and psychomotor behaviors. “ Dalam hal ini, kompetensi diartikan sebagai pe- ngetahuan, ketrampilan dan ke- mampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat me- lakukan perilaku-perilaku kognitif, affektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya. (Mulyasa, 2002).
Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah seperangkat rencana dan pe- ngaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian kegiatan belajar m ngajar, dan pemberdayaan sumber da ya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah (Nugraha, 2004).
Tujuan utama kurikulum ber- basis kompetensi adalah me- mandirikan atau memberdayakan sekolah dalam mengembangkan kompetensi yang akan disampaikan kepada peserta didik, sesuai dengan kondisi lingkungan (Mulyasa, 2004).
Kurikulum berbasis kom- petensi memiliki karakteristik sebagai berikut : (1) Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal (2) Beriorentasi pada hasil belajar dan keberagaman (3) Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi (4) Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif (5) Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi (Depdiknas, 2002).
Karakteristik KBK Untuk Kimia
Karakteristik KBK untuk mata pelajaran Kimia merupakan kondisi ideal pelaksanaan KBK di SMA, yang diperoleh dari empat komponen-komponen dalam kurikulum berbasis kompetensi. Empat komponen dalam kurikulum berbasis kompetensi yaitu : (1) Kurikulum dan hasil belajar (2) Kegiatan belajar mengajar kimia (3) Penilaian Berbasis Kelas (4) Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah (PKBS) (Nurhadi, 2004). Di dalam komponen kurikulum dan hasil belajar ada 12 hal yang menjadi aspek pendukung yaitu : (1) Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran ( dua semester ) adalah 34 Minggu (2) Jam sekolah efektif permingu minimal 30 jam (1800) menit (3) Alokasi waktu yang disediakan adalah 36 pelajaran per minggu (4) Satu jam pelajaran tatap muka dilaksanakan selama 45 menit (5) Alokasi waktu untuk mata pelajaran kimia untuk kelas X semester I dan 2 adalah 3 jam pelajaran, Kelas XI semester 1 adalah 4 jam pelajaran dan semester 2 adalah 5 jam pelajaran, Kelas XII semester 1 adalah 4 jam pelajaran dan semester 2 adalah 5 jam pelajaran. (6) Ada waktu yang disediakan untuk me- laksanakan kegiatan sekolah seperti kunjungan perpustakaan, olah raga, bakti sosial, dan sejenisnya. (7) Kelas X merupakan program ber- sama yang diikuti semua peserta didik (8) Terdapat program studi ilmu alam yang lebih difokuskan pada mata pelajaran matematika, fisika, kimia, dan biologi (9) Ada mata pelajaran teknologi Informasi dan komunikasi/ ketrampilan, dimana alokasi waktu- nya diatur oleh sekolah (10) Ada penambahan mata pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan daerah maksimal sebanyak 4 jam pelajaran (11) Ada target pencapaian prestasi siswa untuk menentukan jurusan di SMU dan MA (12) Ada target pencapaian prestasi siswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.
Kemudian komponen kegiatan belajar mengajar kimia ada 19 hal yang menjadi aspek pendukung yaitu : (1) Ada identifikasi dan pengelompokan kompetensi yang ingin dicapai oleh siswa (2) Ada pengembangan materi standar kimia yang dilakukan oleh guru (3) Ada pemilihan metode yang tepat sesuai dengan materi kimia (4) Ada perencanaan penilaian yang berbasis kelas (5) Ada pembinaan keakraban antara guru dengan siswa, dan antara siswa dengan siswa (6) Ada pe- laksanaan pretest (7) Ada penjelasan guru tentang kompetensi mata pelajaran kimia yang harus dicapai siswa (8) Penjelasan materi standar kimia secara logis dan sistematis (9) Ada upaya guru untuk melibatkan siswa secara aktif dalam menafsirkan dan memahami materi standar kimia (10) Ada pengembangan dan mo- difikasi kegiatan pembelajaran kimia (11) Ada pemilihan media pem- belajaran yang sesuai dengan materi standar kimia (12) Ada pembagian lembar kegiatan siswa untuk setiap siswa (13) Ada pemantauan dan pemeriksaan yang dilakukan oleh guru kepada siswa dalam me- ngerjakan lembar kegiatan siswa (14) Ada upaya guru dalam memotivasi siswa untuk menerapkan konsep, pengertian, dan kompetensi kimia yang dipelajarinya di dalam kehidupan sehari-hari (15) Ada pem- berian tugas / posttest (16) Guru mengenal siswa secara perorangan (17) Guru memanfaatkan perilaku siswa dalam pengorganisasian belajar siswa (18) Guru me- ngembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan kemampuan memecahkan masalah kimia (19) Guru mengembangkan ruangan kelas sebagai lingkungan belajar kimia yang menarik. Dilanjutkan dengan Komponen penilaian berbasis kelas ada 17 hal yang menjadi aspek pendukung yaitu : (1) Ada upaya guru memberikan peng- hargaan pencapaian belajar kimia siswa (2) Ada upaya guru untuk memperbaiki program dan kegiatan pembelajaran kimia (3) Penilaian yang dilakukan harus valid (4) Penilaian yang dilakukan harus mendidik (5) Penilaian yang dilakukan harus berorientasi pada kompetensi (6) Penilaian yang d lakukan harus adil dan objektif (7) Penilaian yang dilakukan harus terbuka (8) Penilaian yang dilakukan harus berkesinambungan (9) Penilaian yang dilakukan harus menyeluruh (10) Penilaian yang di- lakukan harus bermakna (11) Guru harus membuat kisi-kisi penilaian / rancangan penilaian secara me- nyeluruh untuk satu semester (12) Adanya penagihan semua indikator (13) Adanya penggunaan berbagai teknik penilaian dan ujian yang disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran kimia (14) Guru harus menganalisis hasil penilaian untuk menentukan tindakan perbaikan, berupa program remedi (15) Guru harus memberikan proses pem- belajaran jika peserta didik belum menguasai suatu kompetensi dasar (16) Guru harus memberikan tugas jika siswa telah menguasai suatu kompetensi dasar (17) Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari kompetensi dasar berikutnya jika siswa telah me- nguasai semua atau sebagaian kompetensi dasar.
Dan terakhir komponen Pengelolaan kurikulum berbasis sekolah (PKBS) ada 18 hal yang menjadi aspek pendukung yaitu : (1) Pihak sekolah membentuk tim pengembang silabus KBK tingkat sekolah bagi yang mampu melakukannya (2) Pihak sekolah diberikan kebebasan untuk mengembangkan silabus sendiri bagi yang mampu dan memenuhi kriteria untuk melakukannya (3) Adanya identifikasi kompetensi sesuai dengan perkembangan siswa dan kebutuhan daerah dalam penyusunan silabus yang dilakukan oleh pihak sekolah (4) Adanya permohonan pihak sekolah kepada dinas kabupaten dan kota dalam proses penyusunan silabus (5) Pihak sekolah harus mengimplementasikan silabus sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan sekolah (6) Adanya uji kelayakan silabus KBK yang di- implementasikan disekolah tersebut yang dilakukan pihak sekolah (7) Pihak sekolah memberikan masukan kepada dinas pendidikan kabupaten dan kota, dinas pendidikan provinsi, dan pusat kurikulum departemen pen didikan nasional tentang efektifitas dan efisiensi silabus KBK, ber- dasarkan kondisi aktual di lapangan (8) Materi harus memiliki tingkat kesesuaian, teruji, dan dapat di- pertanggung jawabkan secara ilmiah (9) Materi memiliki tingkat ke- pentingan, kebermaknaan dan sumbangan terhadap pencapaian suatu kompetensi (10) Materi yang dikembangkan bermanfaat bagi siswa (11) Materi yang di- kembangkan layak untuk dipelajari siswa (12) Materi yang dikembangkan menarik bagi siswa sehingga dapat mendorong siswa untuk belajar lebih lanjut (13) Pihak sekolah mengadakan sosialisasi perubahan kurikulum (14) Pihak sekolah mengembangkan fasilitas dan sumber belajar (15) Adanya usaha dari pihak sekolah untuk mendisiplinkan siswa (16) Adanya pengembangan kemandirian kepala sekolah (17) Pihak sekolah mem- berdayakan tenaga kependidikan (18) Pengawas memantau pelaksanaan dan pengelolaan pendidikan dan Pengawas memberikan gagasan baru untuk melaksanakan pembelajaran yang bermutu
METODE PENELITIAN.
Populasi Dan Sampel.
Penelitian ini dilakukan di SMA yang ada di Kota Tanjung Balai, pada bulan April- Mei 2006. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh SMA di Kota Tanjung Balai Tahun ajaran 2005/ 2006. Jumlah SMA yang ada di Kota Tanjung Balai ada 9, yaitu SMA Negeri ada 5 dan 4 SMA Swasta. Sampel diambil secara purposif sebanyak 5 (lima sekolah), yaitu 3 (tiga) SMA Negeri dan 2 (dua) SMA Swasta yang telah melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi yaitu : (1) SMA Negeri 1 Tanjung Balai (2) SMA Negeri 2 Tanjung Balai (3) SMA Negeri 3 Tanjung Balai (4) SMA Swasta Sisingamangaraja (5) SMA Swasta Sisingamangaraja. Sampel individu dalam penelitian ini adalah siswa, guru bidang studi kimia dan kepala sekolah. Sampel siswa diambil secara acak dengan menggunakan tabel Krejcie pada taraf Signifikansi 5% (Silitonga 2005). Sampel guru bidang studi kimia dan kepala sekolah diambil dengan tehnik sampling total.
Variabel dan Instrumen Penelitian
Variabel penelitian ini adalah pelaksanaan kurikulum berbasis konpetensi. Untuk memperoleh data digunakan alat pengumpul data yaitu (1) Angket yang bersifat tertutup (2) Wawancara yang bersifat terpimpin (3) Observasi yang bersifat sistematik.
Pengumpulan dan pengolahan data
Langkah- langkah yang harus dilakukan dalam pengumpulan data adalah Tahap Persiapan, tahap pelaksanaan, dan Pengolahan Data. Tahap persiapan digunakan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan surat ijin penelitian, menguji validitas angket yang telah disusun pada sampel per- cobaan, untuk mendapatkan angket yang valid. Tahap pelaksanaan di lakukan dengan mengedarkan angket kepada setiap responden, melaksana- kan wawancara kepada kepala sekolah dan siswa, serta melakukan observasi terhadap dokumen Rencana Pengajaran (RP), Program tahunan (Prota) dan soal-soal yang dibuat oleh guru kimia dan observasi terhadap kelengkapan Laboratorium kimia. Data penelitian yang di kumpulkan, ditabulasi, dan dianalisis dengan mencari Tingkat Keberhasil an KBK dengan menggunakan Rumus P = F/N x 100%. Dan kemudian dilakukan Penarikan Kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Sampel
Adapun Jumlah Responden yang menjawab Angket yang ditujukan kepada siswa kelas X dan XI IA di SMA Kota Tanjung Balai berjumlah 751 orang, dengan perincian SMA Negeri 1 sebanyak 175 siswa, SMA Negeri 2 sebanyak 175 siswa, SMA Negeri 3 sebanyak 113 siswa, SMA Swasta Tritunggal sebanyak 92 siswa, dan SMA Swasta Sisingamangaraja sebanyak 196 siswa. Begitu juga dengan Jumlah Responden yang menjawab Angket yang ditujukan kepada Guru kimia di SMA Kota Tanjung Balai berjumlah 9 orang, dengan perincian SMA Negeri 1 sebanyak 3 guru, SMA Negeri 2 sebanyak 2 guru, SMA Negeri 3 sebanyak 1 guru, SMA Swasta Tritunggal sebanyak 1 guru, dan SMA Swasta Sisingamangaraja sebanyak 2 guru.
Pelaksanaan KBK Untuk Mata Pelajaran Kimia Di SMA Kota Tanjung Balai Dilihat Dari 22 Indikator
Pelaksanaan KBK Untuk Mata Pelajaran Kimia Di SMA Kota Tanjung Balai Dilihat Dari 22 Indikator secara jelas terdapat pada Tabel 1.
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa pelaksanaan struktur kuri- kulum program studi ilmu alam SMA di Kota Tanjung Balai idealnya sebesar (93,4%), persentase program pencapaian hasil belajar idealnya sebesar (100%), tingkat keberhasilan guru kimia dalam keterampilan me- laksanakan proses belajar mengajar kimia idaalnya sebesar (38%), tingkat keberhasilan guru kimia dalam keterampilan melaksanakan evaluasi proses belajar mengajar kimia idealnya sebesar (37,6%), Keterampilan menggunakan media sumber idealnya sebesar (17,6%), Keterampilan mengelola kelas ideal nya sebesar (35,2%), Keterampilan mengelola interaksi belajar mengajar kimia idealnya sebesar (40,8%), Keterampilan mempersiapkan bahan ajar idealnya sebesar (60%), Ke- terampilan melaksanakan penilaian dari segi prinsip dan tujuan idealnya sebesar (59,9%), Keterampilan me laksanakan penilaian berkelanjutan idealnya sebesar (35%), Keterampil- an melaksanakan penilaian kognitif idealnya sebesar (100%), Keterampil an melaksanakan penilaian afektif idealnya sebesar (0%), Keterampilan melaksanakan penilaian psiko motorik idealnya sebesar (51,4%), Kemandirian kepala sekolah dalam melaksanakan KBK idealnya sebesar (42,7%), Tingkat keberhasilan pihak sekolah dalam pengadaan sosialisasi kurikulum idealnya sebesar (26,7%), Usaha mendisiplinkan siswa idealnya sebesar (20%), Pengembangan si- labus kimia idealnya sebesar (80%), Tingkat keberhasilan pengawas dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tanjung Balai dalam pe- ngembangan sistem pemantauan idealnya sebesar (100%), Kelengkap an fasilitas laboratorium kimia ideal nya sebesar (26,7%), Kelengkapan fasilitas perpustakaan idealnya sebesar (35%), Pemberian Honorium idealnya sebesar (100%), Pe ngembangan Materi kimia yang dilakukan oleh guru idealnya sebesar (89,3%).
Pelaksanaan KBK Untuk Mata Pelajaran Kimia Di SMA Kota Tanjung Balai Dilihat Dari 4 Komponen KBK
Berdasarkan Komponen Kurikulum dan Hasil Belajar, Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Tingkat Ke sesuaian Pelaksanaan Komponen Kurikulum dan Hasil Belajar di SMA Kota Tanjung Balai Pada Tahun Ajaran 2005/2006 idealnya sebesar (96,7%) (Gambar 1). Hal ini diduga karena sebagian besar Struktur Kurikulum Program Studi Ilmu Alam dan Program Pencapaian Hasil Belajar di SMA Kota Tanjung Balai sangat sesuai dengan kondisi ideal KBK.
Gambar 1 Tingkat Kesesuaian Pelaksanaan Komponen Kurikulum Dan Hasil Belajar di SMA Kota Tanjung Balai (%).
Jika dilihat dari Komponen Kegiatan Belajar Mengajar Kimia, Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian pelaksanaan komponen kegiatan belajar mengajar Kimia SMA di Kota Tanjung Balai Pada Tahun Ajaran 2005/2006 idealnya sebesar (38,1%) (Gambar 4.2). Fenomena ini diduga karena kurangnya Sosialisasi KBK tentang pelaksanaan kegiatan belajar me ngajar kepada guru kimia, sehingga mengakibatkan guru kimia kurang memahami pelaksanaan kegiatan belajar mengajar kimia yang sesuai dengan kondisi ideal KBK. Hal ini dapat dilihat melalui Angket yang di jawab oleh Responden yang me ngatakan bahwa kurangnya ke terampilan guru kimia dalam me laksanakan evaluasi proses belajar mengajar kimia, keterampilan dalam menggunakan media sumber, keterampilan dalam melaksanakan proses belajar mengajar kimia, keterampilan mengelola kelas serta keterampilan mengelola interaksi belajar mengajar kimia.
Gambar 2 Tingkat Kesesuaian Pelaksanaan Komponen Kegiatan Belajar Mengajar Kimia di SMA Kota Tanjung Balai (%)
Tingkat Kesesuaian Pe- laksanaan Komponen Penilaian Berbasis Kelas di SMA Kota Tanjung Balai Pada Tahun Ajaran 2005/2006 idealnya sebesar (49,2%) (Gambar 4.3). Fenomena ini diduga karena Rencana Pengajaran (RP) guru kimia SMA di Kota Tanjung Balai masih belum sesuai dengan kondisi ideal KBK. Khususnya pada bagian Penilaian. Guru kimia tidak membuat perencanaan penilaian berbasis kelas. Penilaian yang dilakukan tidak merinci bagaimana guru memperoleh data kemajuan siswa dalam belajar, melainkan penilaian yang dilakukan oleh guru kimia hanya berupa soal-soal kimia yang umumnya mengukur ke mampuan kognitif siswa. Sedangkan soal-soal yang mengukur ke mampuan afektif siswa hanya dilihat dari sikap dan tingkah laku siswa yang tertib, menghargai guru, disiplin dalam kelas. Akan tetapi soal afektif tersebut tidak dikaitkan dengan materi standar kimia. Hal ini diakibatkan karena Sosialisasi KBK tentang penilaian berbasis kelas kepada guru kimia masih kurang. Begitu juga dengan penilaian ber kelanjutan yang dilakukan oleh guru kimia masih belum sesuai dengan kondisi ideal KBK, yang dibuktikan melalui remedial yang dilakukan oleh guru kimia kepada siswa hanya sebatas satu kali saja, padahal tuntutan ideal KBK, siswa perlu diberikan remedial sampai siswa tersebut tuntas belajar dalam satu kompetensi dasar. Hal ini di akibatkan karena waktu yang tidak cukup, sementara materi kimia masih banyak.
Jika dilihat dari Pelaksanaan Komponen Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah (PKBS), Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Tingkat kesesuaian Pelaksanaan Komponen Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah di SMA Kota Tanjung Balai Pada Tahun Ajaran 2005/2006 idealnya sebesar (57,8%) (Gambar 4.4). Hal ini diduga karena pengadaan sosialisasi KBK yang masih kurang dilihat dari segi pe laksanaan kegiatan belajar mengajar kimia maupun penilaian berbasis kelas, Pihak sekolah (Guru-guru SMA di kota Tanjung Balai) belum sejalan dalam usaha mendisiplinkan siswa, Pengembangan silabus yang dilakukan oleh pihak sekolah belum sesuai dengan visi dan misi sekolah, Pengawasan silabus dari Dinas Pendidikan Kota Tanjung Balai meskipun sudah melaksanakan pemantauan 100%, akan tetapi pelaksanaannya masih kurang teliti, kemudian keadaan fasilitas laboratorium kimia yang kurang memadai demi mendukung pe- laksanaan KBK dimana alat dan bahan kimia yang ada di 3 SMA jarang digunakan, sedangkan di 2 SMA kota Tanjung Balai alat dan bahan kimia masih kurang memadai, begitu juga dengan honorium yang diberikan kepada guru kimia yang melakukan praktikum umumnya berjumlah sedikit, sehingga hal ini mengakibatkan praktikum kimia sangat jarang dilakukan. Dan hal inilah yang mengakibatkan keadaan PKBS belum sesuai dengan kondisi ideal KBK.
Gambar 3 Tingkat Kesesuaian Pelaksanaan Komponen Penilaian Berbasis Kelas di SMA Kota Tanjung Balai (%)
Gambar 4 Tingkat Kesesuaian Pelaksanaan Komponen Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah (PKBS) di SMA Kota Tanjung Balai (%)
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk mata pelajaran kimia SMA di kota Tanjung Balai dilihat dari segi komponen kurikulum dan hasil belajar idealnya sebesar ( 96,7%), Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk mata pelajaran kimia SMA di kota Tanjung Balai dilihat dari segi komponen Kegiatan Belajar Mengajar kimia idealnya sebesar ( 38,1%), Pelaksanaan Ku rikulum Berbasis Kompetensi untuk mata pelajaran kimia SMA di kota Tanjung Balai dilihat dari segi komponen Penilaian Berbasis Kelas idealnya sebesar (49,2%), Pe- laksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk mata pelajaran kimia SMA di kota Tanjung Balai di lihat dari segi komponen pengelolaan kurikulum berbasis sekolah (PKBS) idealnya sebesar ( 57,8%), Tingkat Keberhasilan Pelaksanaan Ku rikulum Berbasis Kompetensi di SMA Kota Tanjung Balai idealnya hanya sebesar (37,1%- 57,8%)
SARAN
Perlu dilaksanakan Sosiali sasi KBK secara menyeluruh, guna membenahi Guru kimia dalam meningkatkan kreativitas untuk me laksanakan kegiatan belajar mengajar kimia dan Penilaian Berbasis Kelas yang sesuai dengan tuntutan KBK yang ideal, Perlu dipersiapkan Fasilitas yang memadai seperti Laboratorium dan Perpustakaan oleh pihak Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan kelengkap an-kelengkapan belajar yang me madai di sekolah oleh sekolah sebagai penyelenggara pendidikan dan guru sebagai pelaksana pendidikan agar tuntutan dari KBK dapat terpenuhi secara maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Ant, (2004), Sekolah Berstandar Internasional Perlu Di perbanyak, Harian SIB, Senin, 1 November 2004.
Arikunto, S, 2001, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.
, 2003, Prosedur Penelitian, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Banjar, H, (2005), Semangat Berprestasi Yang Perlu Terus Menerus Di tumbuhkembangkan, Harian Analisa, Jumat, 25 November 2005.
Departemen Pendidikan Nasional, (2003), Standar Kompetensi Mata Pelajaran Kimia, Jakarta.
Direktorat Pendidikan Menengah Umum Dirjen Dikdasmen Depdiknas, (2003), Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Kimia, Jakarta.
Ibrahim, dan, Sudjana, N, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Penerbit Sinar Baru, Bandung.
Mardapi, Dj, dan Ghofur, A, (2003), Pedoman Umum Pe ngembangan Penilaian, Proyek Pelita, Depdiknas, Jakarta
Mulyasa, E, (2002), Kurikulum Berbasis Kompetensi, Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung.
, (2004), Menjadi Kepala Sekolah Profesional Dalam Menyukseskan MBS dan KBK, Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung
, (2004), Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pem belajaran KBK, Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung.
Nadapdap, A, P, (2005), Beberapa Kendala Mengimplementas ikan KBK, Harian SIB, Selasa 29 Maret 2005.
Nugraha, A, W, (2005), Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi di SMA, Pembekalan Mahasiswa PPL Jurusan Kimia Unimed, Medan.
Nurhadi, (2004), Kurikulum 2004 Pertanyaan dan Jawaban, Penerbit Grasindo, Jakarta.
Simatupang, Z, dan Sianturi, P,(2004), Telaah Kurikulum Berbasis Kompetensi, Buku Pegangan Kuliah Mahasis wa, FMIPA, Unimed, Medan.
Silitonga, P, M, (2005), Metodologi Penelitian, FMIPA, Unimed, Medan.
Sukmadinata, S, N, (2002), Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung.
Unair, (2005), Tahun Ajaran Baru, Kurikulum Baru, http:// www.suara merdeka.com/harian, Senin, 19 Juli 2004
Zubaedi, (2005), Membenahi Pendidikan Nasional, http:// www.warta unair.ac.id/artikel/index/php, November 2004
Anak Vs Game
Bermain di luar rumah saat ini sangat tidak aman. Sebab jarang sekali ditemukan tanah lapang yang luas akhir-akhir ini. Jika memaksa bermain dalam suasana kota semacam itu, bisa-bisa angka kecelakaan akan meningkat dengan korban sebagian besar anak-anak. Boleh jadi pernyataan itu benar adanya. Lihat saja ketika musim layangan tiba, anak-anak kita justru bermain layang di pinggir jalan raya. Tanpa peduli resiko yang bakal terjadi jika jalan sedang ramai.
Akhirnya pilihan orang tua jatuh pada arena bermain baru, video game, computer game, board game dan playstation untuk memenuhi kebutuhan anak akan permainan. Bahkan, orangtua menganggap permainan tersebut sebagai penguji ketangkasan yang dapat melatih potensi rohani anak untuk menyelesaikan masalah yang rumit. “Daripada main layangan atau kejar-kejaran di jalan,” demikian mungkin pernyataan mereka terhadap kegemaran anak-anak akan video game, computer game dan playstation yang kini sedang marak.
Padahal di balik permainan di atas, ada sisi negatif yang sedang mengancam tumbuh kembang anak-anak. Menurut Remy Silado, beberapa piringan video yang biasa dimainkan anak-anak di playstation malah memicu imitasi dan khayal anak untuk menjadi semacam jagoan dengan kekuatan ajaib dan super yang dapat menghancurkan lawan-lawan dalam rangka menyelesaikan tugas-tugas yang disebut misi kemanusiaan. Jika kita memperhatikan dengan seksama, sebagian besar isi permainan itu semata-mata kekerasan belaka.
Jika kita melihat ke toko-toko yang menjual game, tentu bermacam-macam jenis game yang dapat kita temukan. Namun tidak semua game yang ada dapat menunjang apa yang diberikan di sekolah formal mereka.
Game yang berbau pendidikanlah yang sebaiknya kita berikan kepada anak-anak pada usia sekolah tersebut, karena disamping mereka bermain, meraka juga dapat belajar komputer dan belajar pelajaran yang mereka dapat disekolah.
Nah, siapa yang bertanggung jawab terhadap dampak tersebut?
Revolusi Kimia dalam Peradaban Islam
Ilmu kimia merupakan sumbangan penting yang telah diwariskan para kimiawan Muslim di abad keemasan bagi peradaban modern. Para ilmuwan dan sejarah Barat pun mengakui bahwa dasar-dasar ilmu kimia modern diletakkan para kimiawan Muslim. Tak heran, bila dunia menabalkan kimiawan Muslim bernama Jabir Ibnu Hayyan sebagai ‘Bapak Kimia Modern’.”Para kimiawan Muslim adalah pendiri ilmu kimia,” cetus Ilmuwan berkebangsaan Jerman di abad ke-18 M. Tanpa tedeng aling-aling, Will Durant dalam he Story of Civilization IV: The Age of Faith, juga mengakui bahwa para kimiawan Muslim di zaman kekhalifahanlah yang meletakkan fondasi ilmu kimia modern. Read more…
download e-book
jika ada yg suka baca.. kumpul-kumpulin e-book
dijaman sekarang, sesuatu yg simpel, sachet dan nyaman…apalagi tiap kamar sudah ada komputer.. klo dahulu siswa bawa, jinjing buku2 tebel. sekarang setebel apa buku juga tidak susah bawan harus punya…
tinggal dowload disini, klik aja…
http://www.pdf-search-engine.com/termokimia-pdf.html
http://www.pdf-search-engine.com/mekatronika-pdf.html
http://www.njouba.com/mekatronika-ebook.html
moga bisa manfaat
Plastic Injection Prosess
Benda plastik hampir kita temukan di semua tempat, mulai dari bungkus makanan, peralatan elektronik, mobil, motor, peralatan rumah tangga dan sebagainya. Untuk membentuk plastik tersebut setiap jenis bentuk dan material plastik mempengaruhi proses dan teknologi pembuatannya. Misal untuk membentuk sol sepatu digunakan press rubber, untuk membentuk part- part elektronik seperti casing handphone, gear pada printer, tombol, gelas plastik, dan benda sejenisnya di gunakan mesin injection, sedangkan untuk membuat botol digunakan blow mold type injection, dalam artikel ini akan membahas pembuatan benda plastik dengan teknology injection.
lebih jelas kunjungi http://www.oke.or.id/tutorial/plastik.pdf
Oleh :
Ahmad Hasnan
Mengenal Istilah Standardisasi
Seiring dengan perkembangan globalisasi yang menimbulkan persaingan global yang kian ketat dan keras. Maka yang terjadi selanjutnya adalah persaingan dalam memberikan produk yang terbaik. Namun semua produk yang dianggap terbaik tentunya mempunyai parameter tersendiri sesuai dengan aturan yang telah ada. Aturan inilah yang kemudian disebut sebagai standarnya atau standardisasi. Berikut ini sekelumit kamus tentang istilah Standardisasi:
1. Mutu
Gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa, yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentukan atau yang tersirat.
2. Kebijakan Mutu
Keseluruhan maksud dan tujuan organisasi yang berkaitan dengan mutu yang dinyatakan secara formal oleh pimpinan puncak.
3. Jaminan Mutu
Seluruh perencanaan dan kegiatan sistematik yang diperlukan untuk memberikan suatu keyakinan yang memadai bahwa suatu barang atau jasa akan memenuhi persyaratan mutu.
4. Manajemen Mutu
Aspek dari seluruh fungsi manajemen yang menetapkan dan melaksanakan kebijakan mutu.
5. Sistem Mutu
Merupakan struktur organisasi, tanggung jawab, prosedur, proses dan sumberdaya untuk menerapkan manajemen mutu.
6. Pengendalian Mutu
Teknik dan kegiatan operasional yang digunakan untuk memenuhi persyaratan mutu.
7. Audit Mutu
Pengujian yang sistematik dan mandiri untuk menetapkan apakah kegiatan mutu dan hasil yang berkaitan sesuai dengan pengaturan yang direncanakan dan apakah pengaturan-pengaturan yang disebut ini diterapkan secara efektif dan sesuai untuk pencapaian tujuan.
8. HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point)
Suatu sistem mutu, manajemen mutu dan pengendalian mutu melalui pendekatan sistematik mengenai identifikasi bahaya (hazard), pengamatan dan pengawasan untuk menjamin keamanan makanan.
9. Titik Kontrol (Control Poit)
Setiap tahapan dalam proses yang diawasi secara fisika, kimia maupun biologis (microbiologis).
10. Tindakan Perbaikan (Corrective Action)
Prosedur yang dilakukan apabila kesalahan atau penyimpangan terjadi atau batas kritis tidak tercapai atau terlewati.
11. Titik-titik kritis (Critical Control Point = CCP)
Tiap tahapan dalam proses yang apabila tidak diawasi dengan baik dapat mengganggu keamanan (safety), mutu (quality), keselamatan (wholesomeness) atau menimbulkan penipuan/penyimpangan secara ekonomi (economic fraud).
12. Penyimpangan/Kekurangan (Critical Defisiensi)
Penyimpangan terhadap ketentuan yang telah ditetapkan untuk mempertahankan keamanan (safety), kesehatan dan kebersihan (Wholesomeness) serta untuk mencegah terjadinya kerugian ekonomi.
13. Batas Kritis (Critical Limit)
Tetapan ambang/batas yang tidak boleh dilewati yang mana harus diawasi setiap ccp.
14. Rancangan HACCP (HACCP Plan)
Dokumen yang menjelaskan sistem pengawasan mutu berdasarkan HACCP dari suatu perusahaan.
15. Bahaya/potensi bahaya
Resiko atau peluang adanya sifat-sifat pada makanan yang tidak dapat diterima secara biologis (microbiologis), fisika dan kimia yang mana dapat menyebabkan terganggunya kesehatan konsumen ataupun menyebabkan terjadinya penyimpangan produk dari kriteria yang telah ditentukan.
16. Analisa Bahaya (Hazard)
Proses untuk mengidentifikasi peluang atau resiko terjadinya bahaya (hazard) baik yang bersifat biologis, fisika, kimia maupun ekonomi (economic fraud).
17. HACCP-Based System
Cara pendekatan non tradisional dalam pemeriksaan produk untuk mengontrol bahaya (hazard) dalam makanan. Sistem ini adalah hasil dari penerapan rencana HACCP.
18. Produk Beresiko Kecil (Low Risk Product)
Produk (seafood) yang beresiko kecil bagi kesehatan konsumen apabila disiapkan diolah/disiapkan dengan cara tradisional/konvensional.
19. Kekurangan Secara Mayor (Major Deffisiensi)
Penyimpangan besar dari rencana yang telah ditetapkan yang dapat menghambat tujuan mempertahankan keamanan produk, kesehatan dan kebersihan, serta mencegah terjadi penipuan ekonomi (economic fraud).
20. Kekurangan Minor (Minor Deffisiensi)
Kegagalan suatu bagian sistem HACCP yang tidak memberi pengaruh-pengaruh besar terhadap kemampuan fasilitas yang ada untuk memenuhi persyaratan sanitasi yang dapat dipertanggung jawabkan.
21. Prosedur Monitoring (Monitoring Prosedure)
Jadwal pengujian/pengamatan yang dicatat oleh petugas perusahaan untuk laporan dari temuan ditiap ccp.
22. Tindakan Pencegahan (Preventive Measures)
Tiap tindakan yang akan menghambat/mencegah timbulnya bahaya (hazard) pada produk.
23. Proses
Suatu kegiatan atau operasi untuk memanen, memproduksi, menyimpan, menangani, mendistribusikan atau menjual produk.
24. Kekurangan/Kesalahan Serius (Serius Diffesiensi)
Penyimpangan yang serius dari rencana yang telah dibuat untuk mempertahankan terpeliharanya keamanan, kesehatan dan kebersihan, serta mencegah terjadinya economic fraud. Dan apabila penyimpangan itu terus berlanjut akan menyebabkan produk tidak aman, tidak sehat dan higiene serta tidak sesuai dengan spesifikasi produk (misbranded).
25. Produk Beresiko Tinggi (Substantial Risk Product)
Produk (seafood) yang dapat mengakibatkan bahaya terhadap kesehatan konsumen apabila disiapkan/diolah dengan cara tradisional/konvensional. Sebagai contoh adalah produk-produk siap dimakan dan siap dihidangkan, yang mana apabila mengandung bakteri pathogen biotoxin atau terkontaminasi zat kimi ata fisika dapat membahayakan kesehatan konsumen.
26. Pemeriksaan Terhadap Sistem (System Audit)
Pemeriksaan mendadak (tanpa pemberitahuan) terhadap keefektifan perusahaan melaksanakan rancangan HACCP yang telah disetujui (sesuai dengan validasi).
27. Validasi (Validation)
Evaluasi terhadap kesempurnaan, keberfungsian dan keefektifan dari perusahaan dalam melaksanakan rancangan/program HACCP.
28. Verifikasi (Verification)
Peninjauan secara periodik oleh perusahaan untuk menentukan keefektifan secara keseluruhan dalam rancangan HACCP.
29. Verifikasi Audit (Audit Verification)
Peninjauan mendadak oleh petugas pemerintah (Competent Authority) sesuai prosedur yang telah ada.
30. Verifikasi
Suatu proses persetujuan dan pengesahan penerapan sistem HACCP dan/atau SNI Seri 9000 melalui proses audit dan review.
31. Review
Pemantauan kembali pelaksanaan sistem HACCP dan/atau SNI Seri 19-9000 melalui auditing.
32. Inspeksi
Kegiatan-kegiatan seperti : pengukuran pemeriksaan, pengujian, pengukuran dengan perbandingan satu atau lebih karakteristik barang atau jasa, dan dibandingkan dengan persyaratan tertentu untuk menetapkan kesesuaian.
33. Lembaga Sertifikasi
Lembaga yang mempunyai tugas melakukan kegiatan penilaian kesesuaian terhadap persyaratan tertentu, dimana hasil penilaian dinyatakan dengan sertifikat (sistem manajemen mutu, sistem manajemen lingkungan, produk, personel, sistem keamanan pangan (Hazard Analysis and Critical Control Point – HACCP)
34. Inspeksi Teknis
Kegiatan pemeriksaan dan/atau pengujian terhadap suatu pekerjaan, produk dan atau jasa, proses, sarana dan prasarana yang spesifik, yang mengacu kepada spesifikasi teknis dengan memperhatikan segi keamanan, keselamatan dan lingkungan yang ditentukan.
35. Sertifikasi
Proses yang berkaitan dengan pemberian sertifikat oleh suatu lembaga sertifikasi.
36. Sertifikasi Sistem Mutu
Kegiatan pemberian sertifikat sistem mutu kepada perusahaan yang telah mampu menerapkan sistem mutu menurut SNI seri 19-9000 dan/atau HACCP yang diacu dan akui di dalam kegiatan organisasinya untuk menghasilkan produk dan/atau jasa tertentu.
37. Sertifikasi Produk
Kegiatan pemberian sertifikat produk dan/atau jasa kepada perusahaan yang telah mampu menghasilkan suatu produk dan/atau jasa sesuai dengan SNI dan telah mendapat sertifikat mutu.
38. Sertifikasi Hasil Uji
Kegiatan pemberian sertifikat yang menyatakan bahwa pengujian atas contoh produk yang telah diuji sesuai dengan standar/spesifikasi teknis tertentu.
39. Sertifikasi Inspeksi Teknis
Kegiatan pemberian sertifikat yang menyatakan hasil inspeksi teknis terhadap kelaikan kerja suatu produk/sistem/instalasi yang telah sesuai dengan spesifikasi/standar tertentu.
40. Sertifikasi Personil
Kegiatan pemberian sertifikat yang menyatakan bahwa personil yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan teknis tertentu yang dipersyaratkan dalam pelaksanaan kegiatan yang berkaitan dengan standardisasi.
41. Sertifikat
Adalah jaminan tertulis yang diberikan oleh Lembaga/laboratorium yang telah diakreditasi untuk menyatakan bahwa barang, jasa, proses, sistem atau personel telah memenuhi standar yang dipersyaratkan.
42. Tanda Sertifikasi Sistem Mutu
Tanda sertifikasi yang dipergunakan oleh perusahaan yang telah memperoleh sertifikat sistem mutu.
43. Pemeriksaan (Audit)
Kegiatan pemeriksaan yang dilakukan oleh lembaga sertifikasi terhadap perusahaan yang telah mendapat sertifikat.
44. Asesmen Mutu
Pengujian sistematik dan mandiri untuk mengetahui apakah kegiatan yang berkaitan dengan mutu telah dilakukan sesuai dengan rencana, konsisten dan efektif mencapai tujuan.
45. Sistem
Prosedur yang orientasinya meliputi pencegahan dan perbaikan terhadap hal-hal yang menyimpang dari standar spesifikasi pada setiap proses produksi sedini mungkin.
45. Asesor (Pengawas Mutu)
Petugas yang telah disertifikasi dan dikualifikasi untuk melaksanakan asesmen dalam rangka akreditasi.
47. Penilik Mutu (Inspektor)
Petugas yang telah disertifikasi dan dikualifikasi untuk melaksanakan pengawasan mutu di lingkungan Departemen Pertanian.
48. Spesifikasi
Dokumen yang menguraikan persyaratan barang atau jasa yang harus dipenuhi.
49. Laboratorium
Laboratorium yang melakukan kegiatan pengujian dan atau kalibrasi, dimana hasil pengujian dan atau kalibrasi dinyatakan dengan sertifikar/laporan hasil uji atau sertifikat kalibrasi.
50. Badan Akreditasi
Institusi yang melaksanakan dan mengelola suatu kegiatan akreditasi dan memberikan akreditasi.
51. Penerapan Standar
Kegiatan menggunakan standar oleh pelaku usaha
52. Lembaga Inspeksi
Lembaga yang melakukan pemeriksaan kesesuaian barang dan atau jasa terhadap persyaratan tertentu, dimana hasil pemeriksaan dinyatakan dengan sertifikat hasil inspeksi.
53. Mutual Recognation Arrangement – MRA
Kesepakatan diantara dua pihak atau lebih untuk saling mengakui atau menerima beberapa atau keseluruhan aspek satu dengan yang lain dalam hal hasil-hasil penilaian kesesuaian (misal laporan pengujian)
Adopted by @_pararaja from : InfoLAB.
Lebih Baik Memberi Dari Pada Menerima
Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri. Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah.
Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.
Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.
Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.
Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.
Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”
”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”
”Mau ambil berapa?” tanya saya.
”Enam ratus ribu, Pak.”
”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”
Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.
”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”
”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”
”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”
Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.
Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya.
Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.
Adopted from : Ahmad Tohari. 2006. “Kisah Yu Timah” . Republika – Resonansi.
Osmosis-Puffing sebagai Alternatif Proses Pengeringan Sayuran dan Buah-Buahan
Daniel Saputra, Basuni Hamzah, dan Rindit Pambayun
Jurusan Teknologi Pertanian, Universitas Sriwijaya
Pengeringan hasil pertanian yang umum dilakukan tidak memberikan mutu prima bagi produk yang dihasilkan. Produk pengeringan prima hanya dapat dihasilkan oleh teknologi pengeringan beku yang padat energi dan mahal. Teknologi alternatif yang dapat ditawarkan ialah puffing dengan gas CO2 yang menghasilkan mutu kompetitif terhadap pengeringan beku, tetapi teknologi ini masih menggunakan energi panas pada awal dan akhir pengeringan. Untuk mengatasi kelemahan ini diusulkan untuk mengombinasikan metode dehidrasi osmosis dengan puffing menggunakan gas CO2.
Penelitian ini bertujuan meminimumkan penggunaan panas dalam pengeringan dengan mengombinasikan teknologi osmosis dan puffing dengan gas CO2. Pada proses pengeringan osmosis, buah-buahan atau sayuran dimasukkan ke dalam suatu media osmotik yang mempunyai tekanan osmotik lebih besar daripada tekanan osmosis bahan yang akan dikeringkan sehingga air keluar dari bahan ke arah media untuk menyeimbangkan tekanan osmosis. Akibat pemindah-an massa (air) tanpa perubahan fase ialah mutu produk, dalam hal ini warna dan nilai gizi, tetap tinggi. Perlakuan dilanjutkan dengan mempuffing produk dengan gas CO2 dan diteruskan dengan pengeringan menggunakan fluidized dryer yang berakibat volume dan bentuk produk kering akan menyerupai volume dan bentuk buah segar.
Penelitian dilaksanakan dengan beberapa tahapan. Tahap pertama ialah menentukan peubah yang mempengaruhi osmosis dan tahap kedua ialah melihat pengaruh peubah ini pada mutu puffing bahan. Peubah yang mempengaruhi osmosis yang diteliti ialah jenis bahan, media osmosis, konsentrasi, suhu, lama perendaman, dan penggunaan campuran sari buah.
Pada tahap pertama telah dipilih buah nenas kultivar Queen yang relatif banyak tersedia di Palembang dan sekitarnya, mempunyai potensi pasar, dan tersedia sepanjang tahun. Jenis media osmotik yang digunakan dipertimbangkan berdasarkan bahan tambahan pada makanan. Pada penelitian ini digunakan gula pasir dan glukosa. Jenis, konsentrasi media osmotik, dan lama perendaman dalam larutan berpengaruh nyata pada pengurangan air dan peningkatan padatan. Konsentrasi gula terbaik ialah 50% dan media yang terbaik ialah sukrosa komersial (gula pasir). Suhu media dan laju aliran osmotik juga menunjukkan pengaruh nyata pada pengurangan air dan peningkatan padatan. Suhu terbaik 50oC dan laju aliran 4 l/menit. Penggoyangan tidak mempengaruhi pengurangan air dan peningkatan padatan. Nisbah sampel:larutan nyata mempengaruh peningkatan padatan tetapi hanya berpengaruh pada nisbah antara 1:5 dan 1:15, tetapi tidak berpengaruh nyata pada nisbah antara 1:5 dan 1:10. Nisbah sampel terhadap larutan yang akan digunakan ialah 1:5.
Penggunaan sirup sari buah dapat membantu mengeluarkan air dari bahan, mempertahankan warna buah dan aroma, serta meningkatkan rasa buah kering. Penggunaan bahan elektrolit seperti KCl dan NaCl dapat meningkatkan laju pengeluaran air secara nyata. Pengaruh negatif KCl dan NaCl dapat ditutupi dengan rasa buah yang digunakan atau mengombinasikan dengan larutan gula. Penggunaan KCl dan NaCl memberikan pengaruh negatif terhadap volume spesifik hasil puffing dengan menurunkan volume spesifik lebih rendah daripada tanpa KCl dan NaCl.
Adopted by @_pararaja from : Hibah Bersaing VI
Manajemen Perusahaan : Chapter. 17 : Six Sigma
Six Sigma adalah usaha yang terus menerus untuk mengurangi waste, menurunkan variance dan mencegah defect. Six sigma merupakan sebuah konsep bisnis yang berusaha untuk menjawab permintaan customer terhadap kualitas yang terbaik dan proses bisnis yang tanpa cacat. Kepuasan pelanggan dan peningkatannya menjadi prioritas tertinggi, dan Six sigma berusaha menghilangkan ketidakpastian pencapaian tujuan bisnis.
Untuk lebih mudahnya, Six sigma bisa dipahami sebagai sebuah alat untuk meningkatkan kualitas, benchmarking dan metode peningkatan keuntungan yang terpadu. Six sigma mendasarkan dirinya pada pemahaman bahwa mencapai zero-defect dalam pembuatan sebuah produk atau proses bukanlah tidak mungkin. Dengan Six sigma, angka defect 3,4 kejadian per 1.000.000 kesempatan bisa dicapai jika produk dan proses didisain dengan baik.
Sejarah
Adalah Carl Frederick Gauss (1777-1885) yang pertama kali memperkenalkan konsep kurva normal dalam bidang statistik. Konsep ini kemudian dikembangkan oleh Walter Shewhart di tahun 1920 yang menjelaskan bahwa 3 sigma dari nilai rata-rata (mean) mengindikasikan perlunya perbaikan dalam sebuah proses.
Pada akhir tahun 1970, Dr. Mikel Harry, seorang insinyur senior pada Motorola’s Government Electronics Group (GEG) memulai percobaan untuk melakukan problem solving dengan menggunakan analisa statistik. Dengan menggunakan cara tsb, GEG mulai menunjukkan peningkatan yang dramatis: produk didisain dan diproduksi lebih cepat dgn biaya yg lebih murah. Metoda tsb kemudian ia tuliskan dalam sebuah makalah berjudul ”The Strategic Vision for Accelerating Six Sigma Within Motorola”. Dr. Mikel Harry kemudian dibantu oleh Richard Schroeder, seorang mantan executive Motorola, menyusun suatu konsep change management yang didasarkan pada data. Hasil dari kerja sama tersebut adalah sebuah alat pengukuran kualitas yg sederhana yg kemudian menjadi filosofi kemajuan bisnis, yg dikenal dengan nama Six Sigma.
Perbedaan Six Sigma dan Total Quality Management (TQM)
Thomas Pyzdek, seorang konsultan implementasi Six Sigma dan penyusun buku “The Six Sigma Handbook”, pada bulan Februari 2001, menjelaskan adanya perbedaan penting antara Six Sigma dan TQM yaitu, TQM hanya memberikan petunjuk secara umum (sesuai dengan istilah manajemen yg digunakan dalam TQM). Petunjuk untuk TQM begitu umumnya sehingga hanya seorang pemimpin bisnis yg berbakat yg mampu menterjemahkan TQM dalam operasional sehari-hari. Secara singkat, TQM hanya memberikan petunjuk filosofis tentang menjaga dan meningkatkan kualitas, tetapi sukar untuk membuktikan keberhasilan pencapaian peningkatan kualitas.
Kemudian konsep Total Quality Control, di tahun 1950, menunjukkan bahwa kualitas produk bisa ditingkatkan dengan cara memperpanjang jangkauan standar kualitas ke arah hulu, yaitu di area engineering dan purchasing. Akan tetapi ada beberapa kelemahan yang muncul pada pelaksanaan Total Quality Control yaitu:
1. Terlalu fokus pada kualitas dan tidak memperhatikan isu bisnis yg kritikal lainnya
2. Implementasi Total Quality Control menciptakan pemahaman bahwa masalah kualitas adalah masalahnya departemen Quality Control, padahal masalah kualitas biasanya berasal dari ketidakmampuan departemen lain dalam perusahaan yg sama
3. Penekanan umumnya pada standar minimum kualitas produk, bukan pada bagaimana meningkatkan kinerja produk
Six Sigma dalam pelaksanaannya menunjukkan hal-hal menjadi solusi permasalahan di atas:
1. Menggunakan isu biaya, cycle time dan isu bisnis lainnya sebagai bagian yg harus diperbaiki
2. Six sigma tidak menggunakan ISO 9000 dan Malcolm Baldrige Criteria tetapi fokus pada penggunaan alat untuk mencapai hasil yg terukur
3. Six sigma memadukan semua tujuan organisasi dalam satu kesatuan. Kualitas hanyalah salah satu tujuan, dan tidak berdiri sendiri atau lepas dari tujuan bisnis lainnya
4. Six sigma menciptakan change agent yg bukan bekerja di Quality Department. Green Belt adalah para operator yg bekerja pada proyek Six Sigma sambil mengerjakan tugasnya
Faktor Penting dalam Implementasi Six Sigma
1. Dukungan dari Top level. Six sigma menawarkan pencapaian yg terukur yg tidak akan mampu ditolak oleh pemimpin perusahaan, yang dikerjakan oleh seorang super star yg sangat tahu apa yg harus dilakukan di bidangnya (Black Belt, Project Champion, Executive Champion).
2. Tim yang hebat. Para Executive Champion, Deployment Champions, Project Champions, Master Black Belts, Black Belts, dan Green Belts adalah orang-orang yg terlatih dengan baik untuk mengerjakan proyek Six Sigma.
3. Training yg berbeda dgn yg pernah ada. Anggota proyek Six Sigma adalah mereka yg pernah ditraining secara khusus dengan biaya antara $15,000-$25,000 per Black Belt, yg akan dibayar melalui saving yg didapat dari setiap proyek Six Sigma
4. Alat ukur yg baru, dengan menggunakan DPMO (Defects Per Million Opportunities) yang berhubungan erat dgn Critical to Quality (CTC) yg diukur berdasarkan persepsi customer, yg bisa dibandingkan antar departemen atau divisi dalam satu perusahaan
5. Tradisi perusahaan yg baru, yaitu mempromosikan usaha untuk melakukan peningkatan kualitas secara terus menerus.
Mengukir nama SMK 3 Madiun
Kalau tahun 2008 SMK 3 Madiun menang di Sekolah lingkungan hidup dan TOYOTA sampai tingkat Internasional,
sekarang sekolah di percaya kembali, bersaing dengan 12 sekolah di Madiun masih tahap provinsi,
memang pantes untuk diacungi jempol SMK 3 sekarang…
melangkah lebih maju, lebih pesat pastinya
semua dukungan, doa dan usaha semua warga SKIMA kami harapkan..
semoga sukses mengukir nama baik SMK 3 Madiun
semangat….semangat…
Toyota Eco Youth ke-4 (TEY) yang nantinya akan terdiri dari 2 kontes yaitu : Kontes Pengolahan Limbah dan Kontes Berkelanjutan/Sustainability.
Tidak jauh berbeda dengan TEY 3, pada Kontes Pengolahan Limbah, peserta TEY 4 masih berjumlah 30 sekolah (SMA dan SMK) dari 13 kota besar di Indonesia. Namun kali ini, para peserta akan mengikuti Kontes Pengolahan Limbah nantinya akan dipilih 1 dari tiap kota untuk mengikuti penjurian di Jakarta. Dari sini, akan terpilih 5 pemenang yang berhak atas hadiah dan berhak mengikuti Kontes Berkelanjutan – TEY 5 tahun depan.
Sementara untuk Kontes Berkelanjutan pada TEY 4, dimaksudkan untuk merintis pembentukan Sekolah Lingkungan Binaan Toyota, seperti yang telah disinggung diatas. Kontes ini dikuti oleh 12 sekolah pemenang Program TEY 1 hingga TEY 3.
Memecahkan Rekor
oleh Andrias Harefa.
Setiap orang yang berhasrat besar untuk menjadi manusia yang lebih baik perlu merenungkan kata-kata Stuart B. Johnson berikut ini: “Urusan kita dalam kehidupan ini bukanlah untuk mendahului orang lain, tetapi untuk melampaui diri kita sendiri, untuk memecahkan rekor kita sendiri, dan untuk melampaui hari kemarin dengan hari ini.”
Dalam era hiper kompetisi dewasa ini, bagaimana kita memahami kalimat yang demikian itu? Bukankah kita harus bersaing dengan orang lain, dengan siapa saja yang berusaha mengalahkan kita? Jika demikian cara berpikir kita, maka cerita yang dikirim seorang kawan berikut ini mungkin menarik untuk menjadi bahan renungan.
LOMPATAN SI BELALANG…. .
Di suatu hutan, hiduplah seekor belalang muda yang cerdik. Belalang muda ini adalah belalang yang lompatannya paling tinggi di antara sesama belalang yang lainnya. Belalang muda ini sangat membanggakan kemampuan lompatannya ini. Sehari-harinya belalang tersebut melompat dari atas tanah ke dahan-dahan pohon yang tinggi, dan kemudian makan daun-daunan yang ada di atas pohon tersebut. Dari atas pohon tersebut belalang dapat melihat satu desa di kejauhan yang kelihatannya indah dan sejuk. Timbul satu keinginan di dalam hatinya untuk suatu saat dapat pergi ke sana.
Suatu hari, saat yang dinantikan itu tibalah. Teman setianya, seekor burung merpati, mengajaknya untuk terbang dan pergi ke desa tersebut. Dengan semangat yang meluap-luap, kedua binatang itu pergi bersama ke desa tersebut. Setelah mendarat mereka mulai berjalan-jalan melihat keindahan desa itu. Akhirnya mereka sampai di suatu taman yang indah berpagar tinggi, yang dijaga oleh seekor anjing besar. Belalang itu bertanya kepada anjing, “Siapakah kamu, dan apa yang kamu lakukan di sini?”
“Aku adalah anjing penjaga taman ini. Aku dipilih oleh majikanku karena aku adalah anjing terbaik di desa ini,” jawab anjing dengan sombongnya.
Mendengar perkataan si anjing, panaslah hati belalang muda. Dia lalu berkata lagi, “Hmm, tidak semua binatang bisa kau kalahkan. Aku menantangmu untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu. Aku menantangmu untuk bertanding melompat, siapakah yang paling tinggi diantara kita.”
“Baik,” jawab si anjing. “Di depan sana ada pagar yang tinggi. Mari kita bertanding, siapakah yang bisa melompati pagar tersebut.”
Keduanya lalu berbarengan menuju ke pagar tersebut. Kesempatan pertama adalah si anjing. Setelah mengambil ancang-ancang, anjing itu lalu berlari dengan kencang, melompat, dan berhasil melompati pagar yang setinggi orang dewasa tersebut tersebut. Kesempatan berikutnya adalah si belalang muda. Dengan sekuat tenaga belalang tersebut melompat. Namun, ternyata kekuatan lompatannya hanya mencapai tiga perempat tinggi pagar tersebut, dan kemudian belalang itu jatuh kembali ke tempatnya semula. Dia lalu mencoba melompat lagi dan melompat lagi, namun ternyata gagal pula.
Si anjing lalu menghampiri belalang dan sambil tertawa berkata, “Nah, belalang, apa lagi yang mau kamu katakan sekarang? Kamu sudah kalah.”
“Belum,” jawab si belalang. “Tantangan pertama tadi kamu yang menentukan. Beranikah kamu sekarang jika saya yang menentukan tantangan kedua?” “Apa pun tantangan itu, aku siap,” tukas si anjing.
Belalang lalu berkata lagi, “Tantangan kedua ini sederhana saja. Kita berlomba melompat di tempat. Pemenangnya akan diukur bukan dari seberapa tinggi dia melompat, tapi diukur dari lompatan yang dilakukan tersebut berapa kali tinggi tubuhnya.”
Anjing kembali yang mencoba pertama kali. Dari hasil lompatannya, ternyata anjing berhasil melompat setinggi empat kali tinggi tubuhnya. Berikutnya adalah giliran si belalang. Lompatan belalang hanya setinggi setengah dari lompatan anjing, namun ketinggian lompatan tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi tubuhnya. Dan belalang pun menjadi pemenang untuk lomba yang kedua ini. Kali ini anjing menghampiri belalang dengan rasa kagum.
“Hebat. Kamu menjadi pemenang untuk perlombaan kedua ini. Tapi pemenangnya belum ada. Kita masih harus mengadakan lomba ketiga,” kata si anjing.
“Tidak perlu,” jawab si belalang. “Karena, pada dasarnya pemenang dari setiap perlombaan yang kita adakan adalah mereka yang menentukan standar perlombaannya. Pada saat lomba pertama kamu yang menentukan standar perlombaannya dan kamu yang menang. Demikian pula lomba kedua saya yang menentukan, saya pula yang menang.” “Intinya adalah, kamu dan saya mempunyai potensi dan standar yang berbeda tentang kemenangan. Adalah tidak bijaksana membandingkan potensi kita dengan yang lain. Kemenangan sejati adalah ketika dengan potensi yang kamu miliki, kamu bisa melampaui standar dirimu sendiri. Iya nggak sih?”
Cerita sederhana di atas pernah membuat saya malu pada diri sendiri. Ketika masih berumur awal 30-an tahun, betapa sering saya membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain. Membandingkan antara profesi saya dengan profesi si Anu, antara pendapatan saya dan pendapatan si Banu, antara mobil saya dengan mobil si Canu, antara kesuksesan saya dengan kesuksesan si Danu, dan seterusnya. Hasilnya? Ada kalanya muncul perasaan-perasaan negatif, seperti iri hati atau kecewa pada diri sendiri, yang menganiaya rasa syukur atas kehidupan. Namun kala yang lain muncul juga semacam motivasi untuk bisa lebih maju dan berusaha lebih tekun agar bisa melampaui orang lain (pesaing?).
Belakangan, saya menemukan cara bersaing yang lebih cocok untuk diri sendiri. Saya mulai mengukur kemajuan saya tahun ini berdasarkan prestasi saya tahun kemarin. Saya tetapkan bahwa tahun ini saya harus lebih sehat dari tahun kemarin; pendapatan dan sumbangan tahun ini diupayakan lebih tinggi dari tahun lalu; pengetahuan yang disebarkan tahun ini ditingkatkan dari tahun silam; relasi dan tali silahturahmi juga direntangkan lebih lebar; kualitas ibadah diperdalam; perbuatan baik dipersering; dan seterusnya. Dengan cara ini, saya ternyata lebih mampu mengatasi penyakit-penyakit seperti iri hati, dengki, dan rasa kecewa pada diri. Berlomba untuk memecahkan rekor pribadi yang baru, melampaui rekor yang tercapai di masa lalu, ternyata menimbulkan keasyikan dan rasa syukur yang membahagiakan.
Mungkin benar kata orang bijak dulu: kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas hawa nafsu diri sendiri.
Setujukah?
4 Tipe Manusia Hadapi Tekanan Hidup
Oleh : Anthony Dio Martin
“Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh” (John Gray)
Pembaca, hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih,hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Sampai seorang sosiolog Ulrich Beck menamai jaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan.
Nah, tekanan itu sesungguhnya membentuk watak, karakter, dan sekaligus menentukan bagaimana orang bereaksi di kemudian hari. Pembaca, pada kesempatan ini, saya akan memaparkan empat tipe orang dalam menghadapi berbagai tekanan tersebut. Mari kita bahas satu demi satu tipe manusia dalam menghadapi tekanan hidup ini.
Tipe pertama, tipe kayu rapuh.
Sedikit tekanan saja membuat manusia ini patah arang. Orang macam ini kesehariannya kelihatan bagus. Tapi, rapuh sekali di dalam hatinya. Orang ini gampang sekali mengeluh pada saat kesulitan terjadi.
Sedikit kesulitan menjumpainya, orang ini langsung mengeluh, merasa tak berdaya, menangis, minta dikasihani atau minta bantuan. Orang ini perlu berlatih berpikiran positif dan berani menghadapi kenyataan hidup.
Majalah Time pernah menyajikan topik generasi kepompong (cacoon generation). Time mengambil contoh di Jepang, di mana banyak orang menjadi sangat lembek karena tidak terbiasa menghadapi kesulitan. Menghadapi orang macam ini, kadang kita harus lebih berani tega. Sesekali mereka perlu belajar dilatih menghadapi kesulitan. Posisikan kita sebagai pendamping mereka.
Tipe kedua, tipe lempeng besi.
Orang tipe ini biasanya mampu bertahan dalam tekanan pada awalnya. Namun seperti layaknya besi, ketika situasi menekan itu semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan tidak stabil. Demikian juga orang-orang tipe ini. Mereka mampu menghadapi tekanan, tetapi tidak dalam kondisi berlarut-larut.
Tambahan tekanan sedikit saja, membuat mereka menyerah dan putus asa. Untungnya, orang tipe ini masih mau mencoba bertahan sebelum akhirnya menyerah. Tipe lempeng besi memang masih belum terlatih. Tapi, kalau mau berusaha, orang ini akan mampu membangun kesuksesan dalam hidupnya.
Tipe ketiga, tipe kapas.
Tipe ini cukup lentur dalam menghadapi tekanan. Saat tekanan tiba, orang mampu bersikap fleksibel. Cobalah Anda menekan sebongkah kapas. Ia akan mengikuti tekanan yang terjadi. Ia mampu menyesuaikan saat terjadi tekanan. Tapi, setelah berlalu, dengan cepat ia bisa kembali ke keadaan semula. Ia bisa segera melupakan masa lalu dan mulai kembali ke titik awal untuk memulai lagi.
Tipe keempat, tipe manusia bola pingpong.
Inilah tipe yang ideal dan terhebat. Jangan sekali-kali menyuguhkan tekanan pada orang-orang ini karena tekanan justru akan membuat mereka bekerja lebih giat, lebih termotivasi, dan lebih kreatif. Coba perhatikan bola pingpong. Saat ditekan, justru ia memantuk ke atas dengan lebih dahsyat. Saya teringat kisah hidup motivator dunia Anthony Robbins dalam salah satu biografinya.
Untuk memotivasi dirinya, ia sengaja membeli suatu bangunan mewah, sementara uangnya tidak memadai. Tapi, justru tekanan keuangan inilah yang membuat dirinya semakin kreatif dan tertantang mencapai tingkat finansial yang diharapkannya. Hal ini pernah terjadi dengan seorang kepala regional sales yang performance- nya bagus sekali.
Bangun network
Tetapi, hasilnya ini membuat atasannya tidak suka. Akibatnya, justru dengan sengaja atasannya yang kurang suka kepadanya memindahkannya ke daerah yang lebih parah kondisinya. Tetapi, bukannya mengeluh seperti rekan sebelumnya di daerah tersebut. Malahan, ia berusaha membangun netwok, mengubah cara kerja, dan membereskan organisasi. Di tahun kedua di daerah tersebut, justru tempatnya berhasil masuk dalam daerah tiga top sales.
Contoh lain adalah novelis dunia Fyodor Mikhailovich Dostoevsky. Pada musim dingin, ia meringkuk di dalam penjara dengan deraan angin dingin, lantai penuh kotoran seinci tebalnya, dan kerja paksa tiap hari. Ia mirip ikan herring dalam kaleng. Namun, Siberia yang beku tidak berhasil membungkam kreativitasnya.
Dari sanalah ia melahirkan karya-karya tulis besar, seperti The Double dan Notes of The Dead. Ia menjadi sastrawan dunia. Hal ini juga dialami Ho Chi Minh. Orang Vietnam yang biasa dipanggil Paman Ho ini harus meringkuk dalam penjara. Tapi, penjara tidaklah membuat dirinya patah arang. Ia berjuang dengan puisi-puisi yang ia tulis. A Comrade Paper Blanket menjadi buah karya kondangnya.
Nah, pembaca, itu hanya contoh kecil. Yang penting sekarang adalah Anda. Ketika Anda menghadapi kesulitan, seperti apakah diri Anda? Bagaimana reaksi Anda? Tidak menjadi persoalan di mana Anda saat ini. Tetapi, yang penting bergeraklah dari level tipe kayu rapuh ke tipe selanjutnya. Hingga akhirnya, bangun mental Anda hingga ke level bola pingpong. Saat itulah, kesulitan dan tantangan tidak lagi menjadi suatu yang mencemaskan untuk Anda.
Sekuat itukah mental Anda?
Metode Pengolahan Seng (Zn); Suatu Tinjauan Pada Instalasi Pengolahan Air.
(……………detail *)
BAB. II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Logam Berat
II.2 Logam Seng (Zn).
II.2.1 Keberadaan Logam Seng (Zn).
Keberadaan logam Seng (Zn) dapat berasal dari proses alamiah maupun adisi dari limbah industri dan pertanian. Pada lahan pertanian, seng sangat diperlukan untuk kesuburan tanah. Seng (Zn) adalah unsur hara mikro esensial bagi manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan tingkat tinggi. Kandungan Zn total rataan pada litosfir sekitar 80 mg/kg (Goldschmith, 1954). Mineral-mineral sebagai sumber utama yang kaya Zn dalam tanah adalah sphalerite dan wurtzite (ZnS), dan sumber yang sangat kecil dari mineral-mineral smithsonites (ZnCO3), willemite (Zn2SiO4), zincite (ZnO), zinkosite (ZnSO4), franklinite (ZnFe2O4), dan hopeite (Zn3(PO4)2.4H2O (Lindsay, 1972).
Pada batuan magmatik Zn terdistribusi merata, dan kandungannya berbeda pada batuan asam dan basik yaitu dari 40 mg/kg dalam batuan granit dan 100 mg/kg dalam batuan basaltik. Pelarutan mineral-mineral tersebut di atas dapat terjadi secara alami sehingga unsur-unsur yang terkandung di dalamnya terbebas dalam bentuk ion. Ion Zn++ yang terbebas mengalami proses lebih lanjut, terikat dengan matriks tanah atau bereaksi dengan unsur-unsur lain. Sehingga Zn dalam tanah dikelompokkan dalam bentuk-bentuk kelompok mudah tersedia sampai tidak tersedia bagi tanaman, yaitu bentuk terlarut dalam air, dapat dipertukarkan (terikat pada koloid-koloid bermuatan listrik), teradsorpsi dalam bentuk khelat atau bentuk senyawa kompleks (ikatan logam pada ligand organik), liat mineral sekunder dan oksida metalik tidak larut, serta dalam bentuk mineral primer (Alloway 1995).
Endapan Zn dapat terbentuk dengan senyawa-senyawa hidroksida, karbonat, fosfat, sulfida, molibdat, dan asam-asam organik yang terdiri dari humat, fulvat, dan ligand organik. Asam-asam organik berasal dari dekomposisi senyawa-senyawa organik yang terdapat dalam bahan organik (Bohn et al., 1979). Adsorpsi Zn++ yang kuat dalam tanah dapat terjadi dengan adanya bagan organik dan mineral liat, dan hal ini berhubungan dengan kapasitas kation tanah dan keasaman tanah (Warneke dan Barber, 1973).
Kelarutan atau kestabilan setiap bahan dalam tanah dapat diramalkan dengan menggunakan reaksi keseimbangan kimia dengan nilai K sebagai parameternya, dan disebut juga hasil kali kelarutan (solubility product, Ko) (Lahuddin dan Mukhlis, 2007). Reaksi kimia unsur Zn sangat bervariasi, seperti juga dengan unsur-unsur lain, tergantung dari bentuk ikatannya, sebagai contoh:
- Zn-tanah + 2H+ Zn++ + 2H-tanah,
Ko = 10 +5,8
= reaksi bolak balik, reaksi keseimbangan
Ko = Konstanta keseimbangan reaksi
[ ] = konsentrasi aktivitas ion, M
Pada reaksi di atas kelihatan bahwa Zn-tanah akan bebas bila ada ion pengganti yaitu H+, bila H+ meningkat dalam lingkungan reaksi, reaksi cenderung bergerak ke kanan sehingga Zn++ meningkat. Selanjutnya:
Ko = [Zn++]/[H+]2 = 10+5,8 , log Ko = log [Zn++] – log [H+]2 = log 10+5,8
Log [Zn++] = 5,8 + 2log [H+], log [Zn++] = 5,8 – 2 pH,
Bila pH = 4,5 maka log [Zn++] = 5,8 – 9 = – 3,2, sehingga
log [Zn++] = log 10-3,2 , [Zn++] = 10-3,2 M.
pada pH = 9,0; maka log [Zn++] = 5,9 – 18 = – 12,1, dan log [Zn++] = log 10 – 12,1 ,
maka [Zn++] = 10 – 12,1 M
Kelihatan bahwa pada pH rendah (pH = 4,5) kadar Zn++ lebih tinggi (10-3,2 M) dibanding dengan kadar Zn++ pada pH = 9,0 (10-12,1 M). Dengan kata lain keasaman makin tinggi kelarutan Zn tinggi dan sebaliknya pada keasaman rendah kelarutan Zn rendah. Beberapa reaksi lain sebagai contoh dikemukakan sebagai berikut:
- Reaksi redoks, Zn++ + 2e- Zn (c), Ko = 10-25,80
Pada reaksi redoks ini dibutuhkan sumber donor elektron dari unsur – unsur lain atau unsur-unsur yang lebih kuat untuk mereduksi Zn++. Kondisi reduktif dapat terjadi dengan dilakukan penggenangan.
- Mineral willemite, Zn2SiO4 + 4H+ 2Zn++ + H4SiO4,
Ko = [Zn++]2[H4SiO4]/[H+]4 =10 +13,15.
- Hidroksida, Zn(OH)2 + 2H+ Zn++ + 2H2O, Ko = 10 + 12,48
- Hidrolisis, Zn++ + 2H2O Zn(OH)2 + 2H+, Ko = 10 -16,80
- Kompleks Fosfat, Zn++ + H2PO4- ZnHPO4 + H+, Ko = 10-3,90
Formula-formula di atas menunjukkan bahwa kelarutan Zn tanah atau mineral-mineral Zn dalam tanah meningkat dengan meningkatnya aktivitas ion H+ dalam larutan tanah atau sebaliknya. Dengan kata lain kestabilan atau kelarutan senyawa Zn sangat dipengaruhi oleh keasaman tanah, makin tinggi keasaman tanah makin tinggi kelarutan Zn, sebaliknya makin rendah keasaman tanah makin rendah kelarutan Zn. Sebaliknya reaksi hidrolisis dan kompleks dengan ion-ion lain bereaksi lamban untuk membentuk senyawa kompleks. Nilai konstanta Ko yang besar menunjukkan hasil reaksi lebih besar dibanding bahan pereaksi, sehingga reaksi lebih kuat ke arah kanan, sebaliknya apabila nilai Ko sangat kecil reaksi ke kanan agak lamban.
Penambahan unsur logam pada tanah dapat terjadi dengan berbagai cara yaitu melalui polusi, penggunaan sarana produksi seperti pupuk, pestisida dan fungisida, sehingga terjadi kontaminasi logam-logam pada tanah dan tumbuh-tumbuhan. Penambahan logam Zn ke tanah melalui polusi umumnya terjadi di daerah – daerah industri peleburan bahan tambang seng.
Penelitian-penelitian berdasarkan analisis contoh tanah berasal dari daerah industri logam menemukan kadar Zn sekitar 250–37200 mg/kg (di Inggris), 1665–4245 mg/kg (di Polandia), 400–4245 mg (di Rusia), 1310–1780 mg/kg tanah khususnya pada tanah tergenang di Jepang (Alloway, 1995).
Sedangkan kandungan total Zn tanah rataan hanya sekitar 50 mg/kg tanah. Penambahan Zn dari sewage sludge (limbah tinja) tidak kalah pentingnya. Limbah ini setelah diolah diaplikasikan ke lahan pertanian.
Hasil penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa aplikasi limbah ini pada lahan meningkatkan kadar Zn sampai mencapai maksimum 290–4937 kg Zn/ha, di Eropa aplikasi terus menerus mencapai 745–4882 kg Zn/ha lahan. Penelitian di Perancis melaporan bahwa kandungan total Zn meningkat dari 8,1 mg/kg pada petak tanpa perlakuan menjadi 1074 mg/kg tanah pada petak dengan perlakuan limbah secara kumulatif (Juste dan Mench, 1992).
Masuknya logam seng ke sungai sebagai akibat dari limpasan air permukaan tanah yang umumnya disebabkan oleh hujan. Untuk logam seng (Zn) yang berasal dari adisi limbah industri, umumnya terdapat dalam bentuk Sphalerite (ZnS) dan Smithsonite (ZnCO3). Sekitar ¾ dari total Zn diperoleh dari pembentukan logam dan masing – masing komponen Zn tergantung jenis industrinya. Hutagalung (1984) menyatakan bahwa sumber logam Zn di perairan berasal dari material geokimia yang terbawa atau ada pada sungai, bahan baku minyak, besi, cat dan sisa-sisa kaleng bekas.
Pada industri tekstil, logam seng dapat berfungsi sebagai bahan kimia tambahan pada proses penyempurnaan akhir juga untuk pengawetan serat khususnya anti jamur (fungisida) dan insektisida. Logam seng juga merupakan bagian dari penyusun zat warna tekstil terutama zat warna dari komplek logam dan pigmen.
Logam seng digunakan untuk melapisi besi atau galvanis (electroplating) untuk melindungi dari korosi. Seng yang bereaksi dengan uap air dan CO2, membentuk lapisan tipis Zn(OH)2, ZnCO3, yang tahan korosi. Zn juga banyak digunakan dalam industri baterai. ZnS digunakan sebagai bahan penyusun jenis pupuk, ZnCl2 pada industri kertas, ZnO digunakan pada obat salep, cat, dan katalis, serta Zn bacitracine digunakan sebagai perangsang pada peternakan hewan.
Isotop 65Zn berasal dari reaktor nuklir khususnya pada sistem air pendingin dan dapat digunakan untuk obat. Zn sebagai limbah radionuklida dari unsur valensi II banyak berasal dari hasil fisi dalam bahan bakar nuklir maupun hasil aktivasi neutron dalam reaktor. Limbah yang mengandung radionuklida tersebut dapat dimasukkan kedalam kategori aktivitas tinggi atau aktivitas rendah dan sedang (Pratomo, 2007).
Pada proses industri barang jadi lateks digunakan logam berat dalam bentuk ZnO sebagai akselerator proses vulkanisasi karet. Pada proses vulkanisasi barang jadi lateks digunakan ZnO sebagai akselerator untuk mengontrol proses awal dan laju vulkanisasi, serta reaksi lanjut antara belerang dengan elastomer. Senyawa ZnO yang digunakan akan larut pada proses pencucian untuk menghilangkan sisa asam asetat (koagulan) pada barang jadinya, dan pada akhir proses, ion Zn2+ terbawa dalam limbah industri barang jadi karet dalam konsentrasi mencapai 300 ppm (Suryabhuana, 2006).
Zn sebagan ZnPto (Zinc pyrithione) juga digunakan dalam produk sampo sebagai bahan nutrisi bagi rambut untuk mencegah anti ketombe.
II.2.2 Sifat Logam Seng (Zn).
Seng (Zn) adalah unsur pertama dalam golongan IIB pada tabel periodik. Zn mempunyai nomor atom 30 dan berat atom 65.38 dengan valensi 2. Rata – rata keberadaannya di kulit bumi sekitar 76 ppm, dalam tanah 25 – 68 ppm, dalam perairan sungai sekitar 20 g/L dan atau 5 – 10 ppb, air laut sekitar 0.6 – 5 ppb, pada tubuh ganggang sekitar 20 – 700 ppm, ikan dan kerang laut sekitar 3 – 25 ppm, tiram sekitar 100 – 900 ppm, udang/lobster sekitar 7 – 50 ppm dan didalam air tanah tidak lebih dari 0.1 mg/L.
Logam Zn umumnya tidak bereaksi dengan molekul ar. Ion pelindung tidak akan melarutkan lapisan Seng Hidroksida (Zn(OH)2) dengan ion OH terlarut. Reaksi ini dapat dituliskan :
Zn2+ + 2OH Zn(OH)2(s)
Seng akan bereaksi dengan ion H+, sesuai reaksi :
Zn(s) + 2H+ Zn2+ (aq) + H2(g)
Reaksi ini melepaskan hydrogen, dimana terjadi letupan oksigen
Garam Zn dapat menyebabkan tingginya kekeruhan bila konsentrasinya terlalu tinggi. Akumulasi Zn dapat membuat air menjadi berasa tidak enak umumnya sekitar 2 mg Zn2+/L.
Kelarutan logam seng dalam air dipengaruhi oleh suhu dan pH. Pada pH yang cenderung netral, logam seng tidak larut. Kelarutan semakin besar dengan kenaikan keasaman. Diatas pH 11, kelarutan juga akan mengalami kenaikan. Logam seng terlarut sebagai ZnOH+(aq) atau Zn2+ (aq). ZnCO3 anionik melarut pada konsentrasi 0.21 g/L, ZnCl2 pada 4320 g/L, ZnO atau Seng Vitriol (ZnSO4.7H2O) pada konsentrsi 580 g/L.
Menurut Hutagalung (1984), logam yang masuk ke perairan akan mengalami pengenceran, pengendapan dan dispersi. Rendahnya kandungan logam Zn di perairan kemungkinan disebabkan oleh sifat logam Zn dalam lingkungan perairan dan sangat dipengaruhi oleh bentuk senyawanya. Effendi (2003) menyatakan bahwa logam Zn di perairan umumnya berbentuk persenyawaan sphalerite (ZnS), calamine (ZnCO3), oksida seng (ZnO) dan milemite (Zn2SiO4).
Kelarutan logam Zn dalam air relatif rendah, logam Zn dengan gugusan klorida dan sulfat mudah terlarut ke dalam sedimen, sehingga logam Zn di perairan banyak mengendap di dasar. Menurut Bryan dalam Efendi (2000) bahwa pengendapan logam di perairan terjadi karena adanya anion karbonat, hydroksil dan khlorida.
II.2.3 Toksikologi Logam Seng (Zn).
Pada dasarnya logam seng terutama pada Zn murni tidak berbahaya akan tetapi jika tersusun membentuk senyawa seperti Zn arsenat, Zn sianida, dsb, kemungkinan akan sangat berbahaya. Lumpur dari pengolahan limbah dapat diterapkan pada budidaya tanaman, holtikultura dan kehutanan dengan konsentrasi tidak lebih dari 3g/kg.
Uji ekotoksikologi didasarkan pada 50 µg/L nilai PNEC dalam Zn terlarut yang berarti total konsentrasi berkisar antara 150 – 200 µg/L Zn dalam air. PNEC (Predicted No Effect Concentration) merupakan representasi dari konsentrasi maksimum yang tidak mempengaruhi lingkungan. Ada total lima jenis isotop Zn yang stabil dan merupakan alamiah diantaranya 64Zn, 66Zn, hingga 68Zn sedangkan 50 isotop Zn lainnya merupakan tidak stabil.
Kelarutan Zn dalam air alam tergantung pada adsorpsi mineral permukaan, kesetimbangan karbonat, dan komplek organik. Jumlahnya yang terlalu berlebih akan bersifat racun pada beberapa spesies kehidupan air. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB merekomendasikan kandungan Zn pada air irigasi sekitar 2 mg/L. USEPA menstandarkan untuk air minum sekitar 5 mg/L MCL. Konsentrasi Zn yang melebihi 5 mg/L dapat menyebabkan rasa pahit dan tidak enak pada air serta menyebabkan opalescence pada air alkali.
Tubuh manusia terdapat Zn kira – kira 2.3 g, Zn adalah unsur yang sedikit jumlahnya (trace element) dan nilai ini berhubungan dengan makanan yang konsumsi. Keberadaannya berfungsi dalam proses enzimatik dan pengulangan DNA. Hormon insulin manusia mengandung Zn, dan sangat penting dalam perkembangan seksual. Minimal asupan harian Zn berkisar antara 4 – 8 g. Tubuh manusia hanya menyerap 20 – 40% Zn dari makanan sehingga dapat dicukupi dengan minuman yang diperkaya dengan Zn. Gejala kekurangan Zn menyebabkan rasa tidak enak dan hilangnya nafsu makan. Pengaruh terbesar dapat terjadi pada sistem kekebalan dan enzim pada tubuh anak – anak.
Keberadaan Zn dalam tubuh dapan mencegah keracunan kadmium juga mengurangi penyerapan Pb. Zn yang hubungannya dengan tembaga merupakan unsur yang sangat penting dalam tubuh. Kelebihan penyerapan Zn dapat menyebabkan gejala mual, muntah, pusing, mulas/ sakit perut, demam, diare dan kebanyakan terjadi pada setelah terjadi asupan antara 4 – 8 g Zn. Asupan 2 g ZnS dapat menyebabkan keracunan akut yang berdampak sakit perut dan muntah – muntah. Yang lebih penting adalah Zn merupakan unsur satu golongan dengan kadmium (Cd) dan raksa (Hg) yang keduanya merupakan racun. Zn hubungannya dengan kesehatan dapat menyebabkan infeksi pada selaput lendir dengan letal dosis (LD) 3 – 5 g ZnCl2 dan ZnS beracun pada letal dosis (LD) 5 g. Jumlah ini sangat berbahaya karena dosis oral dalam jangka panjang menyebabkan masalah pencernaan, menurunkan HDL dan menyebabkan kerusakan sistem imunitas (Mawardi, 2007).
III.2.4 Analisis Logam Seng (Zn).
III.2.5 Metode Pengolahan Logam Seng (Zn).
*Arifin. 2009. Metode Pengolahan Seng (Zn); Suatu Tinjauan Pada Instalasi Pengolahan Air. Tangerang : Bag. Laboratorium – PT. Tirta Kencana Cahaya Mandiri.
Komersialisasi Pendidikan Tinggi
By : speedy1mbps.
Perguruan tinggi merupakan suatu wadah yang digunakan untuk Research & Development (R&D) serta arena penyemaian manusia baru untuk menghasilkan generasi yang memiliki kepribadian serta kompetensi keilmuan sesuai bidangnya. Secara umum dunia pendidikan memang belum pernah benar-benar menjadi wacana publik di Indonesia, dalam arti dibicarakan secara luas oleh berbagai kalangan, baik yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan urusan pendidikan. Namun demikian, bukan berarti bahwa permasalahan ini tidak pernah menjadi perhatian.
Munculnya berbagai cara yang mengarah pada pelanggaran etika akademik yang dilakukan perguruan tinggi kita untuk memenangkan persaingan, menunjukkan bahwa pendidikan kini cenderung dipakai sebagai ajang bisnis. Pola promosi yang memberikan kemudahan dan iming-iming hadiah merupakan suatu gambaran bahwa perguruan tinggi tersebut tidak ada inovasi dalam hal kualitas pendidikan. Kecenderungan tersebut akan menghancurkan dunia pendidikan, karena akhirnya masyarakat bukan kuliah untuk meningkatkan kualitas diri, melainkan hanya mengejar hadiah & gelar untuk prestise. Kondisi pendidikan tinggi saat ini cukup memprihatinkan. Ada PTS yang mengabaikan proses pendidikan. Bahkan ada PTS yang hanya menjadi mesin pencetak uang, bukan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hal Ini yang membuat persaingan menjadi semakin tidak sehat.
Produk lulusan perguruan tinggi yang proses pendidikannya asal-asalan dan bahkan akal-akalan, juga cenderung menghalalkan segala cara untuk merekrut calon mahasiswa sebanyak-banyaknya, dengan promosi yang terkadang menjebak dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan. Apakah ini gambaran pendidikan berkualitas ?. Semoga masyarakat dan orang tua yang akan menyekolahkan putra putrinya tidak terjebak pada kondisi tersebut dan lebih bijak dalam memilih perguruan tinggi, sehingga putra-putrinya tidak terkesan asal kuliah.
Ditengah besarnya angka pengangguran di Indonesia yang telah mencapai lebih dari 45 juta orang, langkah yang harus ditempuh adalah mencari pendidikan yang baik dan bermutu yang dibutuhkan pasar. Bukan hanya murah saja dan asal. Tidak dipungkiri lagi bahwa selama ini, dunia industri kesulitan mencari tenaga kerja dengan keahlian tertentu untuk mengisi kebutuhan pekerjaan. Bila membuka lowongan, yang melamar biasanya banyak, namun hanya beberapa yang lulus seleksi.
Pasalnya jarang ada calon pegawai lulusan perguruan tinggi atau sekolah, yang memiliki keahlian yang dibutuhkan, karena kebanyakan berkemampuan rata-rata untuk semua bidang. Jarang ada yang menguasai bidang-bidang yang spesifik. Hal ini tentunya menyulitkan pihak pencari kerja, karena harus mendidik calon karyawan dulu sebelum mulai bekerja.
Sebagian besar perguruan tinggi atau sekolah mendidik tenaga ahli madya (tamatan D.III) tetapi keahliannya tidak spesifik.
Lebih parah lagi, bahkan ada PTS di Jakarta yang memainkan range nilai untuk meluluskan mahasiswanya, karena mereka takut, ketika selesai ujian akhir (UTS/UAS) banyak mahasiswanya yang tidak lulus alias IP/IPK nasakom. Sehingga mereka lulus dengan angka pas-pasan yang sebenarnya mahasiswa tersebut tidak lulus. Ini adalah cermin dari proses PEMBODOHAN BANGSA bukan mencerdaskan BANGSA. Dalam hal ini semua pihak harus melakukan introspeksi untuk bisa memberi pelayanan pendidikan yang baik & berkualitas. Kopertis, harus bersikap tegas menindak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang melanggar dan mensosialisasikan aturan yang tak boleh dilanggar oleh PTS. Pengelola perguruan tinggi juga harus menghentikan semua langkah yang melanggar aturan. Kunci pengawasan itu ada secara bertahap di tangan Ketua Program Studi, Direktur, Dekan, Rektor dan Ketua Yayasan.
Selain itu pula, apa yang menjadi barometer yang menunjukkan eksistensi sebuah perguruan tinggi? Untuk saat ini opini publik dan beberapa kalangan masyarakat bahwa eksistensi sebuah Perguruan Tinggi dilihat dari kuantitas mahasiswanya bukan kualitasnnya. Nah ini jelas sudah terlihat faktanya bahwa pendidikan di Indonesia hanya menjadi komoditi bisnis semata.
Menatap masa depan berarti mempersiapkan generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap pembelajaran dan merupakan terapi kesehatan jiwa bagi anak bangsa, harapan kami semoga komersialisasi pendidikan tinggi tidak menjadi sebuah komoditi bisnis semata, akan tetapi menjadi arena untuk meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga kita bisa mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global. mulailah dari diri sendiri untuk berbuat sesuatu guna menciptakan pendidikan kita bisa lebih baik dan berkualitas, karena ini akan menyangkut masa depan anak-anak kita dan Juga Bangsa Indonesia.
(recorded)
Bakteri bacillus sebagai mikroba pengikat logam Lumpur Lapindo
Oleh : ASTARI YANUARTI, AJENG RITZKI PITAKASARI, DAN RACH ALIDA BAHAWERES (SURABAYA)
Genangan lumpur di Sidoarjo membuat Umi Marwati gelisah. Peneliti mikrobiologi dari Jurusan Biologi Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, itu khawatir pada dampak buruk lumpur yang telah menggenangi ribuan hektare lahan dan ratusan rumah. Pangkalnya, lumpur luapan sumur Banjarpanji itu mengandung banyak unsur logam, seperti merkuri, plumbum, dan copper. “Pohon-pohon pun mulai menguning. Ada apa ini?” kata Umi. Dengan modal seadanya, perempuan kelahiran Ponorogo, Jawa Timur, 14 Mei 1966, itu lalu mengajak dua mahasiswa mencari solusi hemat penghilang kadar logam dalam lumpur. Menurut dia, lumpur yang sudah minim kandungan logam juga lebih aman digunakan untuk produk olahan lumpur menjadi batu bata, genteng, atau keramik. Masalahnya, master lulusan Program Studi Mikrobiologi Institut Pertanian Bogor itu menilai model penggunaan tawas untuk menetralkan lumpur kurang efektif. Selain biayanya mahal, metode ini tak menjamin kontaminasi dengan zat-zat lain saat pemindahan lumpur. “Maka, saya ingin menggunakan mikroorganisme untuk menyerap zat-zat toksik dalam lumpur,.” kata ibu dua anak itu.
Penggunaan mikroba yang juga dikenal dengan nama bioremediasi ini lebih ramah lingkungan, murah, dan tanpa efek samping. Umi menjelaskan, jenis mikroba yang paling cocok adalah bakteri bacillus. Bakteri ini tergolong “aneh” karena bisa hidup di lumpur yang mengandung logam. Bahkan bisa mengikat logam sehingga mengurangi kandungan logamnya. Semuanya berkat dua potensi yang dimiliki bakteri bacillus, yaitu phenol degrader (termasuk senyawa hidrokarbon yang menghasilkan minyak bumi) dan heavy metal accumulation (logam rendah). Umi sudah membuktikan keampuhan bakteri bacillus itu saat meneliti kandungan logam pada tanaman padi di Bekasi, Jawa Barat, dua tahun lalu.
Kandungan logam lahan yang diberi bakteri bacillus lebih sedikit dibandingkan dengan lahan yang tak diberi bakteri. Apabila logam tersebut telah terikat, proses fisiknya bisa lebih baik. Tapi, dari 10 bakteri genus bacillus yang bisa berkembang, hanya delapan yang cocok digunakan pada media lumpur, yaitu jenis BC-01, BC-02, BC-03, BC-04, BC-05, BC-06, BC-07, dan BC- 08. Sedangkan dua isolat, yakni B. Coagulans dan B. circulans, tak bisa hidup di lumpur. Penelitian mereka dimulai dengan mengambil 5 liter sampel lumpur di Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Sampel lumpur ini diekstrak (dikocok dan diberi larutan buffer atau larutan untuk penyeimbang) di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Brawijaya. Lalu bakteri bacillus dicampurkan pada 10% lumpur yang telah diekstrak. Setelah beberapa jam, bakteri itu hidup dan berkembang biak. Secara bertahap, Umi menambahkan 50% lumpur yang diekstrak. Hasilnya sama. Akhirnya seluruh lumpur yang telah diekstrak dicampur dengan bakteri bacillus. “Bakterinya tetap hidup dan beranakpinak,” katanya senang. Beberapa jam kemudian, ia mengukur kandungan logam di lumpur. Hasilnya, bakteri bacillus bisa menyerap hingga 60% kandungan logam yang terdapat di lumpur Lapindo. Toh, Umi menyatakan, hasil ini bisa bervariasi saat diuji coba di lapangan. Sebab lebih banyak gangguan ketika diuji di lapangan. “Di laboratorium cenderung steril. Jadi, tingkat keberhasilannya di lapangan bisa kurang dari 100%,”ujar Umi. Berbeda dengan temuan Umi, Koordinator Supervisi Tim Penanggulangan Genangan Air dan Lumpur Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Rasio Ridho Sani, menyebutkan bahwa lumpur Lapindo tak berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup.
Kesimpulan ini diperoleh setelah KLH melakukan tiga model tes. Pertama, toxicity characteristic leaching procedure (TCLP). Tes ini untuk mengetahui kandungan zat berbahaya lewat proses pengaliran air ke lumpur. Kedua, lethal dose 50 (LD50), tes untuk mengetahui apakah dosis zat di dalamnya membunuh hingga 50% organisme yang diuji saat itu. Dan lethal consentration 50 (LC50), untuk mengetahui konsentrasi yang dianggap membahayakan, yaitu: jika sanggup membunuh 50% organisme yang saat itu diuji dalam waktu yang ditentukan. “Dari dua tes terbukti, lumpur itu mencapai lebih di angka 50 dan tidak membahayakan,” kata pria yang biasa dipanggil Roy itu. Jadi, Roy melanjutkan, lumpur Lapindo aman digunakan untuk bahan bangunan ataupun keramik. Ia menganologikan lumpur Lapindo dengan bahan asbes putih yang terbukti tak memaparkan zat berbahaya. Harapannya, kajian ini bisa menyakinkan masyarakat dan perajin bahwa barang-barang olahan dari lumpur Lapindo tak membahayakan kesehatan manusia.
With original title : “Mikroba Pengikat Logam”
III.3 Jenis Koagulan/Flokulan pembantu ( Coagulant/Flocculant aids )
Polimer biasanya merupakan jenis koagulan/flokulan pembantu yang banyak digunakan.
Flokulan polimer adalah zat yang bisa terlarut dalam air dengan berat molekul relatif (Mr) antara 1000 – 5.000.000 gr/mol dalam proses komersil sering kali sampai 1.000.000 gr/mol yang berbentuk pola kecil dinamik dengan ukuran beberapa ratus nanometer.
Jika mekanisme flokulasi didominasi oleh jembatan polimer, efisiensi flokulasi biasa akan bertambah dengan penambahan berat molekul. Pemanfaatan senyawa molekular yang sangat besar akan menaikkan berat molekul dan akan menurunkan sifat pelarutan.
Bahan kimia polimer sering dipakai sebagai koagulan/flokulan pembantu dalam proses flokulasi di IPA, polimer berfungsi membantu membentuk makroflok yang akan menahan abrasi setelah terjadi destabilisasi dan pembentukan mikroflok disebabkan oleh koagulan.
Adsorpsi koagulan pembantu pada mikroflok penting, supaya makroflok dapat terbentuk. Hal ini sangat dipengaruhi oleh karakteristik batas permukaan antara molekul dan hal ini sangat tergantung pada komposisi air. Sesuai dengan muatan elektrostatik dalam larutan air, koagulan/flokulan pembantu dikelompokkan menjadi “non ionogen, anion aktif dan kation aktif “ .
Selain itu juga bisa dikelompokkan dari komposisi kimiawi terutama dari densitas muatan elektrostatik permukaan atas (status modifikasi ko-polimer, lihat struktur formula a) dan berat molekul (molekular medium, tinggi dan sangat tinggi).
Pada masa yang lalu, koagulan pembantu berasal dari proses alami misalnya lumpur dan gel, sekarang ini hanya ada beberapa struktur dasar monomer untuk koagulan/flokulan pembantu, kelompok/grup yang paling penting berasal dari polimerisasi akrilamida.
III.3.1 Poli Akrilamida
Poliakril amida adalah polimer dari akril amida. Definisi ini juga mencakup ko-polimer dari akrilamida atau asam akrilat (acryl acid), sejauh perbandingan akril amida lebih besar dari asam akrilat. Poliakril amida adalah koagulan/ flokulan pembantu sintetik.
Ada perbedaan diantara beberapa macam poli akril amida yaitu dalam ukuran molekul (berat molekul relatif) maupun sifat/karakter daya elektrik di permukaan atau kerapatan muatan elektrik diatas permukaan.
Poliakril amida merupakan ion ionogen, ada kelompok amida (lihat struktur formula) yang mempunyai fungsi hidrofil. Dengan derifatisasi misalnya kopolimerisasi bisa didapat senyawa anion aktif maupun kation aktif dengan batas muatan elektrostatik yang berbeda. Aktifitas kationik didapat dari penguraian Nitrogen sebagai gugus amino basa (gugus primer, sekunder, tersier, lihat struktur formula) atau gugus amino transier.
Aktifitas anionik seringkali berdasarkan gugus karboksilat (lihat struktur formula). Untuk proses air minum kelompok koagulan/flokulan pembantu harus diperhatikan dengan khusus, yaitu yang mempunyai konsentrasi monomer yang sangat kecil supaya dengan dosis yang seringkali digunakan pada sistem pengolahan air, tidak ada konsentrasi monomer yang berbahaya terhadap kesehatan.
Tabel III.3.1. Koagulan/Flokulan Pembantu Koagulan/Flokulan Pembantua. Kopolimer dari akrilamida dan N,N−dimetil amino propilen akrilat Sifat muatan elektrostatik : Ionik Sifat : Kopolimer yang linier dan kationik kepadatan muatan elektrostatik tergantung dari status kopolomerisasi (n/m + n) dan pH, membentuk jarak yang sensitif terhadap hidrolisa Koagulan/Flokulan Pembantu b. Poli (Natriumakrilat) Sifat muatan elektrostatik : Anionik Sifat : Polimer yang paling penting anionik dan segmen linier dalam kopolimer dengan akril amida dan anionik Koagulan/Flokulan Pembantu c. Poli akrilamida Sifat muatan elektrostatik : Non ionogen Sifat : Molekul yang sangat panjang dan linier yang dikenal sebagai flokulan pembantu yang ionogen.
Zat polimer itu sangat cocok berdasarkan struktur kimia untuk membantu dalam proses flokulasi dan untuk mempengaruhi sifat flok.
Pembubuhan Koagulan/flokulan pembantu dilakukan setelah pembubuhan koagulan.
III.3.2 Produk dari Lumpur
Produk dari lumpur yang dimaksud adalah semua produk yang diproduksi dari lumpur alami, dan bersifat sebagai ion.
III.4 Zat Kimia Pendukung
Bahan kimia pendukung lainnya yang dimaksud adalah zat kimia yang digunakan untuk membantu berlangsungnya proses koagulasi-flokulasi. Zat ini biasanya ditambahkan sebelum proses koagulasi dilakukan. Zat ini ditambahkan dan berfungsi :
- Untuk penetapan pH
- Sebagai zat pemberat
- Sebagai Oksidator
- Sebagai adsorben
- Elektrolit
III.4.1 Untuk penetapan pH
Penetapan pH yang dimaksud adalah penetapan pH optimum untuk koagulasi, ditetapkan untuk memenuhi persyaratan pH berada pada jangkauan yang disyaratkan untuk setiap jenis koagulan yang digunakan.
Zat kimia yang digunakan untuk penetapan pH pada pengolahan air adalah :
- Untuk menaikan pH Kapur : CaO, Ca(OH)2
- Soda abu (Sodium bikarbonat) : Na2CO3
- Soda api (Sodium hidroksida) : NaOH
- Untuk menurunkan pH Asam sulfat : H2SO4 , CO2
III.4.2 Sebagai zat Pemberat ( Weighing agent)
Biasa digunakan pada pengolahan air dimana kekeruhan air relatip rendah juga pada pengolahan air berwarna. Zat ini ditambahkan untuk meningkatkan efisiensi proses koagulasi – flokulasi. Dengan adanya partikel-partikel suspensi yang ditambahkan, akan terjadi tumbukan antar partikel, sehingga terjadi aglomerasi antar partikel. Disamping tumbukan antar partikel zat ini juga dapat meningkatkan daya adsorpsi partikel/flok terdestabilisasi.
Zat pemberat (weighing agent) digunakan untuk menambah partikel – partikel untuk tumbukan pada pembentukan/pertumbuhan flok (membantu proses flokulasi). Zat ini biasanya digunakan untuk mengolah air berwarna alami, karena sifat air yang relatif jernih, jadi dengan kata lain zat ini ditambahkan untuk menaikkan kekeruhan air. Flok yang diproduksi dari air berwarna tinggi dengan menggunakan koagulan garam besi atau alumunium, ternyata terlalu ringan untuk siap diendapkan. Penambahan zat pemberat, yang mempunyai specific gravity (berat jenis) relatif besar, menghasilkan aksi pemberatan, dan flok mengendap dengan cepat.
Bahan/zat pemberat yang biasa digunakan adalah :
- Tanah liat (clay) pada prakteknya, diketahui bahwa banyaknya tanah liat antara 10 – 50 mg/l dapat menghasilkan flok yang baik dan cepat mengendap, berpegnaruh pada perbaikan penghilangan warna, dan memperbesar jangkauan pH yang diinginkan untuk koagulasi. Dosis yang tepat yang diberikan pada air harus ditentukan dengan ujicoba yang tepat (jar test).
- Lumpur/tanah biasanya digunakan lumpur sungai, atau tanah dari pinggir sungai dimana air baku diambil ( sungai sebagai sumber air baku ).
- Bentonit sering digunakan dalam pengolahan air yang mengandung warna tinggi dan kekeruhan rendah.
- Karbon aktif selain sebagai adsoeben juga bertindak sebagai zat pemberat, jadi pemakaian karbon aktif bubuk mempunyai dua fungsi, yaitu penyerap warna dan sebagai pemberat. Karbon aktif disamping sebagai adsorben juga dapat dianggap sebagai zat pemberat. Zat ini digunakan pada pengolahan air berwarna disamping untuk mengadsorpsi warna juga dapat menambah partikel-partikel suspensi untuk tumbukan antar partikel.
III.4.3 Sebagai Oksidan
Dalam hal ini oksidan diperlukan pada air baku sebelum diolah dengan tujuan mengoksidasi senyawa-senyawa yang mengganggu kelangsungan proses koagulasi – flokulasi, seperti zat organik (senyawa pembentuk warna alami/zat humus), besi dan mangan terlarut dan lain-lain. Senyawa-senyawa tersebut harus dikonversikan menjadi bentuk yang tidak mengganggu terhadap koagulasi/flokulasi.
Zat sebagai Oksidator yang biasa digunakan pada pengolahan air adalah :
- Klor / Senyawa klor untuk mengoksidasi besi, mangan, zat organik, tetapi dalam kasus zat organik alami pemakaian klor/senyawa klor harus dibatasi dengan pertimbangan pada pembentukan THMs (Tri halo metan) yang bersifat karsinogenik.
- Ozon (O3) digunakan untuk kasus yang sama dengan penggunaan klor/senyawa klor, hanya pemakaian O3 relatif aman bila dibandingkan dengan pemakaian klor/senyawa klor.
III.4.4 Sebagai Adsorben (Penyerap)
Karbon aktif zat yang paling banyak digunakan sebagai adsorben, terutama dalam kasus penghilangan zat organik yang terkandung dalam air baku, dimana zat organik ini akan mengganggu proses koagulasi, karena dapat mengurangi efisiensi kerja koagulan. Zat ini biasa ditambahkan pada air baku sebelum proses koagulasi dengan waktu kontak yang cukup antara air dengan karbon aktip.
Disamping sebagai penghilang zat organik, karbon aktif juga dapat menghilangkan warna dengan cara adsorpsi.
Disamping karbon aktif, zat lain sebagai adsorben seperti yang tergolong sebagai zat pemberat.
III.4.5 Elektrolit
Jika ada koloid dengan muatan permukaan yang sama dan zat suspensi ditambah dengan elektrolit (anion atau kation) dari garam yang terdisosiasi/terurai (larutan koagulan), kemungkinan akan terjadi akselerasi masing-masing partikel.
Efek itu disebut “indeferen” (tidak spesifik), karena elektrolit hanya menyediakan ion dengan muatan yang berlawanan atau ion dengan muatan yang sama. Jika ada ion dengan muatan yang berlawanan, akan mengakibatkan terjadi gaya tolak menolak antar partikel (double layer compression).
Elektrolit dengan muatan berlawanan ditambahkan ke dalam suspensi, dapat berpengaruh langsung terhadap muatan dibatas kelompok partikel, jika terjadi adsorpsi partikel langsung di permukaan, akan terjadi penurunan muatan listrik atau netralisasi muatan listrik. Jika hal ini terjadi, disebut sebagai ion bermuatan berlawanan yang ditentukan oleh potensial muatannya dan koagulasi dengan mekanisme tersebut, disebut “koagulasi adsorpsi”.
@_pararaja
*Arifin. 2007 ; “Tinjauan dan Evaluasi Proses Kimia (Koagulasi, Netralisasi, Desinfeksi) di Instalasi Pengolahan Air Minum Cikokol, Tangerang”, Tangerang : PT. Tirta Kencana Cahaya Mandiri.
SEKILAS TENTANG GANGGANG DAN PENANGGULANGANNYA (bagian 4): Teknologi Ultrasonik
Istilah Ulrasonik, umunya dipakai untuk menyatakan bunyi yang memiliki frekuensi di atas frekuensi bunyi yang dapat didengar, biasanya di ata 20000 Hertz.
Bunyi pada frekuensi 20 – 100 kHz, biasanya digunakan untuk ilmu pengetahuan dan komunikasi pada kelelawar, lumba – lumba dan beberapa hewan tertentu.. Frekwensi yang jauh lebih tinggi, antara 1-20 MHZ, digunakan untuk ultrasound medis. Bunyi seperti itu diproduksi oleh ultrasonik transducers.
Bunyi ultrasonik dapat diproduksi oleh transducers yang beroperasi baik oleh efek piezoelektrik maupun magnetostrictive. Magnetostrictive transducers dapat digunakan untuk menghasilkan bunyi Ultrasonik yang tinggi antara 20-40 kHz mencakup untuk pembersihan ultrasonik dan aplikasi mekanis lainnya
LG Sound mula- mula disebut sebagai Aquasonic, suatu pengeras suara yang berfungsi atas air dengan radius hanya 15 meter. Yang berfungsi sebagai alat komunikasi beberapa abad yang lalu. ,Model terbaru, Aquasonic tranducer dapat memancarkan gelombang ultrasonic di bawah air, alat ini digunakan untuk berbagai tujuan.
Sistem kerjanya dengan menghasilkan gelombang ultrasonik (berfrekuensi > 20000 Hertz), di dalam air. Gelombang atau getaran tersebut dapat merobek Sel vakuola dari ganggang, dimana tempat makanan diproses, dengan demikian membunuh ganggang. Selain itu alat ini juga membunuh spora ganggang yang terapung di air, sehingga mencegah pertumbuhan ganggang lebih lanjut. Transducer ini dirancang dengan suatu unsur tahan air, yang (mana) mengkonversi daya listrik ke dalam getaran bunyi; yang frekwensinya fatal untuk berbagai macam dari ganggang, tetapi btidak bahaya dan tidak dapat didengar untuk manusia dan (kebanyakan) binatang.
Ada sekurang – kurangnya 20.000 jenis Algae dalam variasi dan turunan. Lebih umum disebut “Algae Pengembara” yang terbawa oleh hujan dan angina, akan terbunuh paling cepat 3 – 2 minggu. Sekalipun Algae mati lebih cepat, tetapi biasanya pengaruhnya baru terlihat jelas sampai 6 minggu.
Badan air, jenis LG Sound yang digunakan mempengaruhi efektifitas pembasmian Algae. Pada kolam renang, Algae hutan yang tumbuh pada sambungan ubin adalah yang paling tamgguh. Jenis lainnya adalah tipe Filamentos, Algae jenis ini memiliki semacam gorden yang menghalangi getaran ultrasonic.
Alat ini sebaiknya dioperasikan secara terus – menerus, disamping pemakaian daya yang relative kecil,, vibrasi Ultrasonik yang permanent pada volume air dapat mrncegah Algae baru berkembang.
LG sound XL telah digunakan hampir di penjuru dunia, untuk segala bidang dan keperluan dengan pemakaian teratur. LG sound dapat membunuh algae/ ganggang dalam radius 100 m pada Danau, telaga, kolam renang (ukuran besar), Reservoar air minum, Menara pendingin, sistem pemurnian air, Reservoar air untuk industri hortikultura, Saluran Irigasi, penampungan air limbah, dan pada pengolahan Air Limbah.
Data teknis LG sound XL
Range Radius 100 m (horizontal&vertikal)
Daya 45 watt
input 220 atau 120 V
Panjang kabel 17 m
Instalasi : Kotak elektronik ini harus ditempatkan pada tempat yang kering dan tertutup. Setelah meletakkan busi dari transducer ke dalam kontak penghubung dari kotak elektronik, tranducers berpelampung dapat ditempatkan sedemikian mungkin dalam air (dilewatii sebanyak mugkin air). Gelombang memancar dari tranducers dengan sudut 180o.Mungkin kira – kira 20 cm dari permukaan dan tidak boleh kurang 20 cm dari dasar.
Jika semua instruksi dilaksanakan maka hasil yang optimal akan didapatkan dalam 1 atau 2 hari, dapat diamati dibawah mikroskop.
Ada satu tipe LG sound yang lebih kecil, biasa digunakan pada kolam ikan di rumah – rumah. Biasanya digunakan untuk memperindah kolam agar bebas dari gangguan lumut / ganggang dan agar ikan – ikan dapat hidup tanpa masalah. Alat ini dapat membuat pekerjaan membersihkan kolam menjadi lebih mudah.
Dari empat produk yang dimiliki LG, alat ini paling kecil dan paling murah. LG Sound SSS biasa dipakai oleh pemilik kebun, atau orng yang hobi memelihara hewan air agar kolam terlihat lebih indah dan bebas dari lumut / ganggang.
Data teknis = LG sound SSS
Range = 10 x 10 meter
Daya = 20 watt
input = 220 atau 120 V
Panjang kabel = 10 m
Tipe lain dari lat LG Sound yaitu LG Sonic Pool, alat ini dapat digunakan pada kolam renang, suatu cara pemusnah lumut / ganggang yang ramah lingkungan. Selama ini metode yang dipakai pada kolam yaitu dengan membubuhkan senyawa klor pada kolam , cara dapat mengganggu dan menyebabkan perih di mata dan bau yang kurang enak. Dri segi effisiensi biaya, pemilik kolam renang dapt menghemat biya pemeliharaan kolam dan pembelian bahan kimia 30 – 70 %.
Tranducer alat ini dapat disimpan pada tempat terlindung dan tak terlihat mata (missal : dibawah tangga), Kotak elektriknya harus disimpan di tempat yang terlihat dan aman dari gangguan. Alat ini juga dapat digunakan untuk bak lain yang berukuran hampir sama, missal penampungan air hujan dan lain-lain.
Data teknis = LG Sound POOL
Range = 50 x 50 meter
Daya = 30 watt
input = 220 atau 120 V
Panjang kabel = 10 m
Tipe terakhir dari alat LG Sound yaitu LG Sound XXL, Ini adalah alt penghancur algae yang sangat kuat di pasaran dunia. Menurut data yang ada, LG Sound XXL sangat efektif untuk membunuh lumut / ganggang dengan getaran ultrasoniknya. Jarak dan jenis ganggang yang akan dibunuh menentukan kecepatan pembasmi ganggang tersebut. LG Sound XXL ini memiliki kemampuan membunuh ganggang pada jarak 400 meter untuk ganggang hijau – biru, dan sampai 150 meter untuk ganggang penjelajah yang lain pada areadanau, telaga kolam renang ukuran besar, menara pendingin, sistem pemurnian air, dan pada pengolahan air buangan.
Data teknis = LG sound XXL
Range = Radius 150 m (vertikal & horizontal)
Daya = 25 watt
input = 220 atau 120 V
Panjang kabel = 17 m
Instalasi : Kotak elektronik ini harus ditempatkan pada tempat yang kering dan tertutup. Setelah meletakkan busi dari transducer ke dalam kontak penghubung dari kotak elektronik, tranducers berpelampung dapat ditempatkan sedemikian mungkinat dalam air (dilaewati sebanyak mugkin air). Gelombang memancar dari tranducers dengan sudut 180o.
Jika semua instruksi dilaksanakan maka hasil yang optimal akan didapatkan dalam 1 atau 2 hari,
Dari semua tipe LG Sound diatas, dalam pengoperasian nya memiliki sistem yang tidak bebrbeda. Perbedaannya terletak pada kapasitas vibrasi bawah air dan range aksinya. Tiap alat dibuat khusus untuk aplikasi tertentu.
@_pararaja
Bahan – bahan Media Filtrasi. (3)
-…
3. Material Penukar Ion (Ion exchange)
Resin penukar ion merupakan polimer yang mempunyai berat molekul tinggi dan mempunyai gugus fungsional yang merupakan bagian dari struktur polimer. Sintetis resin penukar ion pertama kali dikerjakan oleh 2 orang berkebangsaan Inggris yaitu Adam BA dan Holmes EL pada tahun 1935.
Resin penukar ion sintetis merupakan suatu polimer yang terdiri dari dua bagian yaitu struktur fungsional dan matrik resin yang sukar larut. Resin penukar ion ini dibuat melalui kondensasi phenol dengan formaldehid yang kemudian diikuti dengan reaksi sulfonasi untuk memperoleh resin penukar ion asm kuat.
Sedangkan untuk resin penukar ion basa kuat diperoleh dengan mengkondensasikan phenilendiamine dengan formaldehid dan telah ditunjukkan bahwa baik resin penukar kation dan resin penukar anion hasil sintesis ini dapat digunakan untuk memisahkan atau mengambil garam – garam.
Pada umumnya senyawa yang digunakan untuk kerangka dasar resin penukar ion asam kuat dan basa kuat adalah senyawa polimer stiren divinilbenzena. Ikatan kimia pada polimer ini amat kuat sehingga tidak mudah larut dalam keasaman dan sifat basa yang tinggi dan tetap stabil pada suhu diatas 150oC.
Polimer ini dibuat dengan mereaksikan stiren dengan divinilbenzena, setelah terbentuk kerangka resin penukar ion maka akan digunakan untuk menempelnya gugus ion yang akan dipertukarkan.
Resin penukar kation dibuat dengan cara mereaksikan senyawa dasar tersebut dengan gugus ion yang dapat menghasilkan ( melepaskan ) ion positif. Gugus ion yang biasa dipakai pada resin penukar kation asam kuat adalah gugus sulfonat dan cara pembuatannya dengan sulfonasi polimer polistyren divinilbenzena ( matrik resin ).
Resin penukar on yang direaksikan dengan gugus ion yang dapat melepaskan ion negative diperoleh resin penukar anion. Resin penular anion dibuat dengan matrik yang sama dengan resin penukar kation tetapi gugus ion yang dimasukkan harus bisa melepas ion inegatif, misalnya –N (CH3)3+ atau gugus lain atau dengan kata lain setelah terbentuk kopolimer styren divinilbenzena (DVB), maka diaminasi kemudian diklorometilasikan untuk memperoleh resin penukar anion.
Gugus ion dalam penukar ion merupakan gugus yang hidrofilik (larut dalam air). Ion yang terlarut dalam air adalah ion – ion yang dipertukarkan karena gugus ini melekat pada polimer, maka ia dapat menarik seluruh molekul polimer dalam air, maka polimer resin ini diikata dengan ikatan silang (cross linked) dengan molekul polimer lainnya, akibatnya akan mengembang dalam air.
Mekanisme pertukaran ion dalam resin meskipun non kristalisasi adalah sangat mirip dengna pertukaran ion- ion kisi kristal. Pertukaran ion dengan resin ini terjadi pada keseluruhan struktur gel dari resin dan tidak hanya terbataspada efek permukaan. Pada resin penukar anion, pertukaran terjadi akibat absorbsi kovalen yang asam. Jika penukar anion tersebut adalah poliamin, kandungan amina resin tersebut adalah ukuran kapasitas total pertukaran.
Dalam proses pertukaran ion apabila elektrolit terjadi kontak langsung dengan resin penukar ion akan terjadi pertukaran secara stokiometri yaitu sejumlah ion – ion yang dipertukarkan dengan ion – ion yang muatannya sama akan dipertukarkan dengan ion – ion yang muatannya sama pula dengan jumlah yang sebanding.
Material penukar ion yang utama berbentuk butiran atau granular dengan struktur dari molekul yang panjang (hasil co-polimerisasi), dengan memasukkan grup fungsional dari asam sulfonat, ion karboksil. Senyawa ini akan bergabung dengan ion pasangan seperti Na+, OH− atau H+. Senyawa ini merupakan struktur yang porous. Senyawa ini merupakan penukar ion positif (kationik) untuk menukar ion dengan muatan elektrolit yang sama (positif) demikian sebaliknya penukar ion negatif (anionik) untuk menukar anion yang terdapat di dalam air yang diproses di dalam unit “Ion Exchanger”.
Proses pergantian ion bisa “reversible” (dapat balik), artinya material penukar ion dapat diregenerasi. Sebagai contoh untuk proses regenerasi material penukar kationik bentuk Na+ dapat diregenerasi dengan larutan NaCl pekat, bentuk H+ diregenerasi dengan larutan HCl sedangkan material penukar anionik bentuk OH− dapat diregenerasi dengan larutan NaOH (lihat buku panduan dari pabrik yang menjual material ini).
Regenerasi adalah suatu peremajaan, penginfeksian dengan kekuatan baru terhadap resin penukar ion yang telah habis saatkerjanya atau telah terbebani, telah jenuh. Regenerasi penukaran ion dapat dilakukan dengan mudah karena pertukaran ion merupakan suatu proses yang reversibel yang perlu diusahakan hanyalah agar pada regenerasi berlangsung reaksi dalam arah yang berkebalikan dari pertukaran ion.
Dalam proses pengolahan air minum “ion exchanger” sering dipakai untuk menurunkan kandungan ion-ion yang tidak dikehendaki atau membuat air bebas mineral yang disebut proses “demineralisasi ”.
4. Kapur padam
Kapur padam adalah kapur yang alami yang berbentuk kristalin kecil sebagai kalsium karbonat. Kapur itu dipakai dalam bentuk granula sebagai media filter untuk menurunkan keasaman.
5. Batu gamping
Batu gamping adalah kalsium karbonat alami yang dengan fluktual struktur kristalin yang sangat kecil. Utamanya dipakai untuk penyaring tunggal untuk menurunkan keasaman tetapi juga untuk menghilangkan besi dan mangan.
6. Media buatan
Media Buatan dalam bentuk kompak atau sebagai bentuk busa bisa dimanfaatkan dalam media filter ganda dan terutama sabagai media tunggal dalam filter yang mempunyai arah aliran air dari bawah ke atas.
7. Lava
Larva adalah silikat alami dari gunung api yang dimanfaatkan dalam bentuk granula sebagai media filter.
8. Marmer
Marmer adalah kristalin kalsium karbonat yang bentuknya kasar dan alami biasanya dipakai dalam bentuk granula sebagai media filter untuk menurunkan keasaman.
9. Kerikil silika
Butiran pasir yang berdiameter lebih besar dari pada 2 mm (diameter bervariasi dari ukuran kecil sampai besar 1 s/d 5 cm). Kerikil silika berasal dari batuan yang sama dengan Pasir Silika. Kerikil ini biasanya digunakan sebagai lapisan penyangga pada filter, jika sistem bagian bawah filter tidak menggunakan nozzle. Lapisan penyangga ini menggunakan kerikil silika dengan ukuran yang berbeda (dari besar sampai kecil dengan urutan dari bawah ke atas).
@_pararaja
Quo Vadis Pendidikan Modern
Oleh: Yanto*
Semenjak manusia berinteraksi dengan aktifitas pendidikan ini semenjak itulah manusia telah berhasil merealisasikan berbagai perkembangan dan kemajuan dalam segala lini kehidupan mereka. Bahkan pendidikan adalah suatu yang alami dalam perkembangan peradaban manusia (1).
Dan secara paralel proses pendidikan pun mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik dalam bentuk metode, sarana maupun target yang akan dicapai. Karena hal ini merupakan salah satu sifat dan keistimewaan dari pendidikan, yaitu selalu bersifat maju (taqaddumiyyah). Sehingga apabila sebuah pendidikan tidak mengalami serta tidak menyebabkan suatu kemajuan atau malah menimbulkan kemunduran maka tidaklah dinamakan pendidikan. Karena pendidikan adalah sebuah aktifitas yang integral yang mencakup target, metode dan sarana dalam membentuk manusia-manusia yang mampu berinteraksi dan beradabtasi dengan lingkungannya, baik internal maupun eksternal demi terwujudnya kemajuan yang lebih baik (2). Sebagai contoh nyata dari argumen di atas dapat kita lihat dari dua kenyataan berikut:
ketika Uni Sovyet meluncurkan pesawat luar angkasanya yamg pertama spotnic pada 4 oktober 1957, Amerika Serikat tergoncang dengan dahsyatnya. Demam spotnic melanda seantero Amerika. Betapa tidak, karena Amerika adalah negara besar pemenang perang dunia II telah kedahuluan oleh Uni Sovyet. Sampai-sampai presiden AS ketika itu membentuk tim khusus untuk merespon kejadian besar ini. Tim tersebut bukan bertugas menyelidiki kenapa Uni Sovyet berhasil mendahului mereka dalam meluncurkan pesawat luar angkasa, melainkan mereka mendapat intruksi lansung dari presiden untuk melakukan suatu tugas yang tidak disangka-sangka oleh para pengamat politik waktu itu. Tugas mereka adalah meninjau kembali kurikulum pendidikan AS mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai tingkat perguruan tinggi. Dengan bekerja keras dan dalam waktu yang singkat tim tersebut berhasil mengeluarkan statement yang menyatakan bahwa kurikulum pendidikan AS dari semua jenjang pendidikan sudah tidak layak lagi dan harus direvisi. Sebuah keputusan yang teramat berani waktu itu. Tapi itulah sebuah konsekuensi kalau hendak berkompetisi dalam kemajuan peradaban.
Amerika pun mulai melakukan pembaharuan pendidikan dalam segala segi dan dimensinya. Mulai dari kurikulum, mata pelajaran, tenaga pengajar, sarana pendidikan sampai kepada sistem evaluasi pendidikan. Usaha mereka dengan sangat cepat membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Pada tanggal 14 juli 1969 mereka berhasil meletakkan manusia pertama di permukaan bulan. Hanya dalam kurun waktu 12 tahun mereka berhasil mengungguli teknologi Uni Sovyet. Waktu yang relatif singkat, kurang dari masa pendidikan seorang anak dari tingkat dasar sampai jenjang perkuliahan (3)
Hasil lain dari itu tentunya dapat disaksikan oleh dunia semuanya dimana AS sekarang telah menjadi kekuatan tunggal setelah runtuhnya US.
Kejadian yang hampir serupa sebenarnya pernah terjadi di Jepang seusai kekalahan mereka dalam perang dunia II dengan dibom atomnya kota Hiroshima dan Nagasaki. Jepang praktis lumpuh dalam segala segi kehidupan. Bahkan kaisar Jepang waktu itu menyatakan bahwa mereka sudah tidak punya apa-apa lagi kecuali tanah dan air. Belum lagi hukuman sebagai orang yang kalah perang yang melarang Jepang untuk membangun angkatan bersenjata. Semua itu merupakan hambatan yang sangat besar untuk dapat bangkit dan membangun sebuah peradaban baru. Tapi perkiraan akal manusia tidak selamanya benar. Jepang bangkit perlahan-lahan dengan memperbarui sistem pendidikan mereka dalam semua jenjang pendidikan. Dalam masa yang relatif singkat Jepang berhasil membangun negara mereka menjadi negara yang kuat dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Bahkan merupakan negara ekonomi terkuat yang menjadi ancaman bagi AS sendiri. Coba kita bandingkan dengan Indonesia yang mulai membangun diri pada waktu yang sama dengan Jepang (kita merdeka 1945 dan Jepang di bom atom 1945). Jepang telah berlari jauh di depan, kita malah masih tertatih-tatih bahkan jalan di tempat dan kadang kala juga mundur ke balakang. Contoh nyata dari kemajuan pendidikan di Jepang adalah berobahnya pengertian buta huruf dikalangan rakyat Jepang. Buta huruf yang sudah tidak ada lagi di Jepang mempunyai pengetian “tidak bisa menggunakan komputer”. Betapa jauhnya pengertian ini dengan pengertian aslinya di kalangan dunia ketiga, yang berarti tidak bisa tulis dan baca.
Dua fenomena di atas merupakan gambaran nyata dari urgensi pendidikan yang telah dipahami dan diaplikasikan dengan baik oleh AS dan Jepang. Langkah yang mereka ambil telah membuktikan kepada dunia bahwa kemajuan pendidikan berarti kemajuan sebuah bangsa. Dan bangsa manapun di dunia ini yang mengabaikan pendidikan maka tunggulah kehancurannya.
Kalau kita mengamati pendidikan di Indonesia maka kita akan mendapatkan beberapa fenomena dan indikasi yang sangat tidak kondusif untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara maju dalam bidang pendidikan apalagi dalam bidang ekonomi. Fenomena dan indikasi tersebut antara lain:
Fenomena ini dapat ditangkap dengan mudah oleh siapa saja yang memiliki sedikit wawasan mengenai kependidikan. Walaupun tentunya penelitian ilmiah mengenai masalah ini sangat perlu dilakukan agar kesimpulan yang diambil lebih bernilai objektif. Namun secara sederhana dapat kita ketengahkan beberapa indikasi umum yang diketahui oleh banyak orang. Berdasarkan jenjang pendidikan yang telah diselesaikan oleh para pendidik, dapat kita temukan kondisi berikut ini: para guru di tingkat pendidikan dasar di Indonesia sangat jarang diantara mereka yang memiliki ijazah strata satu (S1). Rata-rata adalah tamatan sekolah menengah atau sarjana muda. Untuk tingkat pendidikan menengah pertama dan atas, maka akan kita temukan juga kondisi yang hampir sama. Tenaga pengajar ditingkat ini kebanyakan sarjana muda dan sedikit sekali yang merupakan sarjana penuh. Dan bisa dikatakan tidak ada diantara mereka yang tamatan S2. Selanjutnya untuk tingkat perguruan tinggi secara umum, dan jenjang S1 secara khusus, masih banyak sekali dosen yang hanya tamatan S1. Dalam waktu yang sama sangat jarang dosen yang bergelar Doktor mengajar di tingkat ini. Bahkan diantara dosen-dosen yang hanya memiliki ijazah S1 tersebut kadang kala tidak mengisi mata kuliahnya, tetapi digantikan oleh asistennya yang biasanya adalah mahasiswa/ mahasiswi tahun terakhir yang berprestasi atau sarjana baru.
Sementara itu kalau ditinjau dari segi kesiapan mereka secara ilmiah dalam aktifitas belajar mengajar, maka mayoritas dari sarjana atau tenaga pengajar yang terjun kebidang pendidikan ini tidak memiliki spesialisasi dalam bidang pendidikan. Artinya bukan lulusan dari fakultas pendidikan dan sejenisnya. Terutama untuk tingkat pendidikan menengah ke bawah. Padahal ilmu-ilmu pendidikan sangat perlu dimiliki oleh siapa saja yang menggeluti aktifitas mendidik. Karena mendidik bukanlah sekedar transfer ilmu pengetahuan dari guru kepada murid atau siswa, tetapi ia merupakan aktifitas yang komplek dan integral yang mempunyai metode dan seni tersendiri.
Kalau kita adakan studi komparatif secara kasar dengan sebagian negara-negara arab yang nota bene negara ketiga seperti negara kita, maka kita akan sedikit tertinggal dari mereka. Padahal sering ejekan dari mulut kita bahwa orang-orang arab tidak lebih maju dari kita. Di Mesir saja tidak ada sarjana S1 yang mengajar di tingkat S1. Minimal tenaga pengajarnya adalah S2, tapi kebanyakan adalah Doktor (S3). Untuk tingkat sekolah menengah tidak ada tenaga pengajar yang lulusan sekolah menengah juga, kebanyakan lulusan S1, bahkan tidak jarang yang sudah magister ataupun lulusan Diploma Khusus (tingkatan setelah S1). Dan tidak jarang pula guru-guru pada tingkat pendidikan dasar pemilik ijazah diploma khusus tadi. Sementara itu di negara teluk terutama Kuwait dan Emirat Arab, mewajibkan tenaga pengajar untuk pendidikan tingkat menengah pertama ke bawah adalah lulusan dari fakultas-fakultas pendidikan. Ini baru perbandingan kasar dengan sebagian negara Arab, apalagi kalau kita bandingkan dengan negara maju seperti Amerika dan Inggris, maka kita akan sangat jauh tertinggal.
Indikasi lain dari gejala di atas adalah minimnya karya ilmiyah yang dihasilkan oleh para sarjana Indonesia. Contoh sederhana adalah masih jarangnya karya tulis dari penulis-penulis Indonesia. Yang ramai memenuhi pasar adalah buku-buku terjemahan, baik dari bahasa Arab, Inggris maupun bahasa lainnya. Kalaupun ada karya tulis dari penulis-penulis terkenal Indonesia, namun belum mampu menjadi rujukan di kawasan Asia tenggara apalagi untuk level Internasional. Coba kita bandingkan dengan karya Buya Hamka, tafsir Al Azhar yang menjadi rujukan bagi kebanyakan negara asia tenggara. Begitu juga karya Pak Natsir, fiqh dakwah yang juga tersebar di daratan melayu.
*Mahasiswa FE Universitas Muhammadiyah Malang
SEKILAS TENTANG GANGGANG DAN PENANGGULANGANNYA (bagian 2): PENGOLAHAN KONVENSIONAL (IPA).
Kehadiran kelompok bakteri dan mikroalge tersebut di dalam air, dapat menyebabkan terjadinya penurunan turbiditas dan hambatan aliran, karena kelompok bakteri besi dan bele¬rang dapat membentuk serat atau lendir. Akibat lainnya adalah terjadinya proses korosi (pengkaratan) terhadap benda-benda logam yang berada di dalamnya, men¬jadi bau, berubah warna, dan sebagainya. Akibat dari adanya pertumbuhan algae pada unit pengolahan air minum, adalah sebagai berikut :
a. Koagulasi
Tumbuhnya algae pada permukaan terjunan (cascade) dari bak koagulasi yang pengadukannya dengan mengandalkan terjunan dengan kecepatan jatuh dan pengadukan tertentu, dan dapat mengakibatkan penebalan pada permukaan terjunan sehingga memperkecil ketajaman terjunan dan kecepatan pengadukan yang direncanakan tidak tercapai.
Bila kecepatan pengadukan tidak memenuhi kriteria perencanaan, maka proses pencampuran antara zat koagulan dengan air olahan tidak akan sempurna dan hal ini dapat berpengaruh terhadap pembentukan flok-flok (flokulasi), sebagai operasi tahap pengolahan berikutnya. Hal ini dapat menurunkan efektivitas koagulasi dan flokulasi, sehingga pengolahan tidak optimum.
Terhadap proses, algae dapat menyebabkan pemborosan koagulan. Algae yang terkandung dalam air olahan menyebabkan naiknya kandungan partikel halus yang harus diendapkan sehingga jumlah koagulan yang dibutuhkan juga lebih banyak.
Seperti telah diuraikan diatas bahwa beberapa jenis ganggang/algae dalam air dapat menurunkan pH air, sedangkan untuk proses koagulasi dan flokulasi dibutuhkan kondisi pH tinggi, maka diperlukan pembubuhan kapur yang tinggi untuk mendapatkan kondisi pH yang memenuhi syarat untuk pengkondisian Koagulasi dan Flokulasi. Hal ini berarti pemborosan dalam penggunaan larutan kapur.
b. Sedimentasi
Algae dapat tumbuh pada dasar dan dinding dari unit sedimentasi, sehingga dapat menyebabkan :
- Bak terlihat kotor sehingga keadaan bak kurang estetis
- Dapat tumbuh di permukaan pada zone sedimentasi yang masih mendapatkan penetrasi sinar matahari sehingga memperkecil luas permukaan pengendapan. Sedangkan pada proses, pada operasi pengendapan semakin luas permukaan sedimentasi semakin tinggi jumlah flok-flok yang dapat terendapkan. Misalnya pengendapan dengan plate settler, yang mana plate dibuat miring dan berlapis-lapis di bak sedimentasi untuk memperluas permukaan pengendapan, sehingga flok yang menempel pasda plate dapat sebanyak mungkin dan bila ada algae yang tumbuh pada permukaan plate settler, sebagian permukaaan plate akan tertutup dan pengendapan flok tidak efektif lagi.
c. Filtrasi
Baik filter pasir cepat (rapid sand filter) maupun filter pasir lambat (slow sand filter) menggunakan satu media pasir dan kerikil untuk membentuk rongga filter. Pada saat rongga ini telah tertutup oleh partikel-partikel yang tersaring, maka harus dilakukan pencucian filter. Untuk filter pasir cepat biasanya pencucian dilakukan dengan Back Wash dan untuk filter pasir lambat dilakukan dengan pengerukan secara manual.
Algae dapat tumbuh menempel pada media maupun pada dinding filter, hal ini dapat menyebabkan :
- Dari segi estetika terlihat kurang baik karena bak filtrasi terlihat kotor. apalagi bila sampai terjadi water bloom.
- Terhadap operasi filter, algae tumbuh dan menempel media pasir dan kerikil dapat mempercepat terbentuknya penyumbatan (clogging) pori-pori saringan, sehingga pencucian filter akan lebih sering dilakukan maka operasi penyaringan tidak efektif lagi.
d. Desinfeksi
Algae yang terbawa sampai pada proses desinfeksi dapat menyebabkan pemborosan dalam pembubuhan zat desinfektan, karena kandungan mikroorganisma yang harus dibunuh lebih tinggi, yaitu selain untuk membunuh bakteri, desinfektan juga dibutuhkan untuk membunuh kandungan algae.
Bersambung…!
Kemana yaa..udach LULUS…?
Ujian didepan mata, mumet, puyeng..Stress..bergadang..deg-deg gan, ketar-ketir, was-was…weleh-weleh gado-gado aja kalah rasa pokoknya.
Tapi selagi gila jangan lupa mikirin masa depan, biar kita tambah semangat kalo belajar.
Yang pengen kerja, yang pengen kuliah so pasti harus kerja keras biar nilai tinggi dan yach.. modal awal biar dilirik perusahaan-perusahaan bonafit dan juga bisa-bisa PTN lewat aja tuch tanpa tes…siapa yang nggak mau.
So… mo kemana nich setelah SMK Lulus..?
Yang mau kerja..
Modal utama dari sekolah, ketrampilan dan kerajinan harus diperlihatkan. Dan jangan takut jika ada tes kerja..”pasti bisa”.
Dengan niat kerja dan etos kerja sukses dech berkarir..
Caranya selain rajin apelin pak Marwan (BK SMK kita) soalnya kakak alumni pada info n kontak lowongan lewat beliau…dan juga banyak relasi dilingkungan… rajin-rajin baca koran (kompas) sabtu apa minggu, banyak tuh lowongan, lihat-lihat di internet, kunjungi bursa kerja. Dll… jika niat Insya Allah dimudahkan jalannya…
Trus yang pengen kuliah, Di era pendidikan global ini banyak sekali tawaran bidang ilmu yang sangat kompetitif baik di dalam negeri maupun di luar negeri…..Tawaran tersebut akan menjadi mudah bagi seseorang yang sudah mantap dengan pendiriannya untuk memilih dan menentukan disiplin ilmu apa yang akan dia geluti nantinya di Perguruan Tinggi…………Tetapi sebaliknya akan menjadi masalah jika seseorang yang lain masih bingung dengan bidang ilmu mana yang akan dia ambil dan tekuni di Perguruan Tinggi………..Hal ini adalah masalah klasik yang terus menerus terjadi di kalangan siswa SMK yang akan melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi Negeri atau Perguruan Tinggi Swasta………….
Proses pengambilan keputusan perlu dimengerti oleh lulusan SMU sewaktu akan memasuki perguruan tinggi, karena melalui tahap-tahap tersebut keputusan yang akan diambilnya akan lebih efektif. Read more…
IBU PUTIH ABU-ABU
Free Sex ‘Putih Abu-abu’ Meluas?

” Gals… Sherly bentar lagi dah mo lahiran…… “ , pembicaraan sekelompok anak berseragam di halte dekat sebuah SMU. Sebenarnya nggak ada yang istimewa dari kalimat tersebut, tetapi akan menjadi lain karena Sherly adalah teman sekelas mereka.
Begitu banyak mungkin Sherly yang ada di sekolah-sekolah lain bahkan yang di pelosok desa sekalipun. Mungkin mereka tidak pernah memahami akibat yang akan diperoleh menyangkut masa depan diri mereka sendiri.
Seorang siswi yang ”tek-dung”, hampir dapat dipastikan akan dikeluarkan dari sekolahnya demi menjaga citra sekolah, peraturan yang berlaku ataupun memang tidak ada toleransi yang dikhawatirkan akan memicu kejadian serupa pada siswi yang lain. Masa depan pun menjadi satu babak hitam yang harus diretas kembali dari nol. Berapa banyak anak usia sekolah yang harus menjalani hari-harinya dengan menggendong bayi yang seharusnya belum menjadi masanya, yach… beruntung jika pasangan pelaku mau bertanggung jawab. Bagi yang kemudian ditinggalkan begitu saja, akan lebih sulit rasanya menjalani hidup. Ini belun termasuk respon dari saudara atau anggota keluarga, pandangan negatif dari tetangga, bahkan bisa menjadi topik hangat pembicaraan ibu-ibu kompleks ketika arisan yang ujung ujungnya akan menyebar begitu cepat. Dan makin menumpuk rasa malu itu, juga pada orang terdekat yang ikut merasa terkucil.
Lebih-lebih sekarang ini, bukan hanya pergaulan yang grombal-grombol, tetapi malah kemarin 18 siswi SMP di Tambora Jakarta telah menjajakan diri..
Masya Allah… mo gimana lagi? Yang salah anaknya? Guru atau orang tua?. Hanya kepengen punya Hp baru, baju baru, dandan modis, pengen bergaya harus berkorban segitunya. Kok tidak berpikir jernih. Kurangnya pendidikan moralkah?
Bahkan dari sekian banyak kasus yang ada, free sex kebanyakan dilakukan oleh kalangan remaja, mungkin juga sudah membudaya di kalangan putih abu-abu. Hal ini merupakan bukti nyata dampak dari tingginya keinginan seks di kalangan remaja.
Aborsi di kalangan remaja kebanyakan dilakukan di usia 18 hingga 19 tahun sekitar 14 persen. Sedangkan bentuk aborsi itu terdapat tiga macam yakni aborsi alamiah yang terjadi karena keguguran, kedua aborsi buatan atau sengaja yang dilakukan sebelum usia kandungan 28 minggu, sedangkan ketiga adalah aborsi terapeutik atau medis yang dilakukan di dalam kandungan melalui bantuan dokter.
Alasan para remaja melakukan aborsi di antaranya karena kebanyakan mereka belum siap menjadi ibu dan merawat anak, lalu terdapat tekanan dari pihak luar seperti pacar, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Tentang resiko dari aborsi seperti risiko kesehatan dan keselamatan fisik yang terdiri dari kematian, rahim yang sobek, kerusakan leher rahim, kanker payudara, dan kanker indung telur, sedangkan resiko gangguan psikologis terdiri dari kehilangan harga diri, berteriak histeris, mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi.
“Bahkan si pelaku bisa melakukan bunuh diri, mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang, tidak bisa menikmati hubungan seksual, dan dipenuhi perasaan bersalah,”
Ibu hamil yang termasuk golongan kehamilan dengan resiko tinggi adalah ibu dengan:
• Riwayat kehamilan dan persalinan yang sebelumnya kurang baik . (contoh: riwayat keguguran, perdarahan pasca kelahiran, lahir mati)
• Tinggi badan ibu hamil kurang dari 145 cm.
• Ibu hamil yang kurus/berat badan kurang.
• Usia ibu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
• Sudah memiliki 4 anak atau lebih.
• Jarak antara dua kehamilan kurang dari 2 tahun.
• Ibu menderita anemia atau kurang darah.
• Perdarahan pada kehamilan ini.
• Tekanan darah yang meninggi dan sakit kepala hebat dan adanya bengkak pada tungkai.
• Kelainan letak janin atau bentuk panggul ibu tidak normal.
• Riwayat penyakit kronik seperti diabetes, darah tinggi,asma dll.
Itu baru sebagian resiko yang harus dimengerti oleh para remaja agar tidak mengalami hal serupa. Kita sebagai pihak yang bertanggung jawab. Jadi kalau misalnya belum siap berkeluarga mending ndak usah neko-neko deh,”
kenakalan, remaja dan sehat…….
REMAJA
Untuk memepermudah mengenali adanya kenakalan remaja dan korelasi dengan kesehatan alangkah baiknya apabila terlebih dahulu kita tahu bagaimana pengklasifikasian remaja. Mappiare mengatakan dalam bukunya psikologi remaja mengutip penuh Elizabeth B. Hurlock, menulis tentanga adanya sebelas masa rentang kehidupan :
1. Prenatal : Saat konsepsi sampai lahir
2. Neonatal : Lahir sampai minggu kedua setelah lahir
3. Masa bayi : Akhir minggu kedua sampai Akhir tahun kedua
4. Kanak-kanak Awal : Dua tahun sampai enam tahun
5. Kanak-kanak Akhir : Enam tahun sampai sepuluh atau sebelas tahun
6. Pubertas pra-adolesen : 10 atau 12 tahun sampai 12 atau 14 tahun
7. Remaja Awal : 13 atau 14 tahun sampai dengan 17 tahun
8. Remaja Akhir : 17 tahun sampai dengan 21 tahun
9. Dewasa Awal : 21 tahun sampai dengan 40 tahun
10. Setengah Baya : 40 tahun sampai dengan 60 tahun
11. Masa Tua : 60 tahun sampai dengan meninggal dunia
Dari pembagian rentang kehidupan diatas kita bisa mengelompokkan remaja dalam tahap 7 dan 8 sedangkan pubertas sebenarnya merupakan salah satu tanda akan masuknya seorang anak kedalam fase remaja.
Berdasarkan pengertian diatas maka kita mengelompokkan remaja sebagai anak yang berusia di bawah 21 tahun tetapi selain pemgertian diatas kita juga diwajibkan untuk menelaah pengertian remaja berdasar hukum karena berdasarkan pengertian sebelumnya yang mengelompokkan kenakalan remaja sebagai suatu perbuatan yang sebenarnya melanggar hukum, dalam hukum seseorang akan tidak lagi disebut remaja apabila mereka sudah menikah sebelum umur 21. apabila kita melihat dari sudut pandang hukum maka akan terlihat apabila kita menikah di bawah 21 tahun kita tidak lagi remaja tetapi dalam kesehatan kita masih tetap dianggap remaja dan pernikahan dibawah 21 tahun sangat rentan sekali terjadi gangguan kesehatan
Apabila kita mau lebih dalam menggali remaja maka kita akan menemukan bahwa sebenarnya mereka merupakan penggerak utama Negara ini maka apabila kita mampu untuk memberikan jalan bagi mereka yang terlanjur melakukan “Kenakalan” untuk kembali menjadi remaja yang berguna maka kita akan memperoleh banyak sekali bantuan untuk membangun Negara ini lebih baik
KENAKALAN REMAJA
Sudarsono, 1991 dalam bukunya Kenakalan remaja mengatakan Juvenille Delinquency secara estimologis dapat diartikan sebagai kejahatan anak, akan tetapi pengertian tersebut memberikan konotasi yang cenderung negative atau negative sama sekali. Atas pertimbangan yang lebih moderat dan mengingat kepentingan subyek, maka beberapa ilmuwan memberanikan diri untuk mengartikan Juvenille Delinquency sebagai kenakalan remaja
Psikolog Drs. Bimo Walgito merumuskan arti selengkapnya dari kenakalan remaja sebagai berikut : tiap perbuatan, jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang dewasa maka perbuatan tersebut merupakan kejahatan, jadi merupakan perbuatan yang melawan hukum, yang dilakaukan anak, khususnya anaka remaja
Dr Fuad hasan dalam B. simanjuntak juga memberikan definisi kenakalan remaja sebagai perbuatan anti social yang dilakukan anak remaja yang bilamana dilakukan orang dewasa dikualifikasikan sebagai kejahatan. Dari kedua pengertian diatas Sudarsana menarik benang merah diantara keduanya yaitu, kenakalan remaja adalah perbuatan atau kejahatan atau pelanggaran yang dilakukan oleh anak remaja yang bersifat melawan hukum anti social, anti susila dan menyalahi norma-norma agama.
Ada banyak sekali jenis kenakalan yang telah dilakukan remaja pada saat ini, oleh karena itu ada pengelompokkan kenakalan remaja di dalam seperti yang diungkapkan Sudarsono : Read more…
Upaya Peningkatan Mutu dan Daya Guna Limbah Dedak Padi
Gatot Siswo Hutomo, Mappiratu, dan Asriani Hasanuddin
Jurusan Budi Daya Pertanian, Universitas Tadulako
Dedak padi termasuk salah satu limbah pertanian yang berpotensi sebagai bahan baku industri pakan dan pangan. Ketersediaan dedak di Indonesia cukup tinggi, yaitu berkisar 4.8 juta ton per tahun. Selain sebagai pakan ternak, dedak berpotensi sebagai bahan pangan karena mengandung pati dan minyak, serta sebagai bioproses karena mengandung lipase. Oleh karena itu, perlu kajian yang dapat meningkatkan mutu dan daya guna dedak melalui penerapan teknologi sederhana dan tepat guna. Tujuan penelitian ini ialah melakukan fraksinasi dan analisis proksimat hasil fraksinasi limbah dedak padi, mengkaji faktor yang berpengaruh terhadap produksi β-karoten, menentukan kondisi optimum untuk memproduksi pengemulsi monoasil gliserol (MAG) dan diasil gliserol (DAG) minyak dedak padi, dan mengkaji faktor yang mempengaruhi rendemen dan mutu tepung hasil pengolahan dedak dan aplikasinya pada pembuatan biskuit dan roti.
Dari penelitian ini ditemukan komposisi ransum ayam potong yang mengandung provitamin A hasil fermentasi dedak (fraksi I) yang cenderung mengurangi pembentukan lemak abdominal. Penggunaan dedak sebagai pakan unggas dapat diaplikasikan melalui fraksinasi (pengurangan serat kasar) dan fermentasi dengan cendawan oncom merah (peningkatan provitamin A). Hasil penelitian ini juga memberikan informasi tentang kondisi reaksi pembentukan MAG dan DAG serta waktu reaksi yang optimum. MAG dan DAG ialah senyawa turunan lemak atau minyak yang mempunyai fungsi sebagai bahan pengemulsi, aman digunakan untuk pangan, kosmetik, dan obat-obatan sehingga mempunyai prospek yang cerah. MAG dan DAG pada penelitian ini disintesis secara enzimatis, yaitu lipase sebagai biokatalis yang terdapat pada sekam (dedak fraksi III). Kondisi reaksi yang optimum untuk memperoleh kandungan MAG dan DAG yang tinggi ialah pada nisbah dedak fraksi III:gliserol:minyak:heksana ialah 10:1:2:50 dengan kondisi suhu 37°C dan pH 7.0 serta lama waktu reaksi 103 jam. Rendemen campuran MAG dan DAG yang diperoleh sekitar 90% kotor dengan menggunakan reaktor berkapasitas 10 liter.
Dari penelitian ini juga diperoleh tepung rendah lemak dan tinggi protein hasil pengolahan dedak fraksi II. Rendemen tepung rendah lemak dan tinggi protein terdiri atas tepung endapan 34% dan tepung dekantasi 60% yang diperoleh dari dedak fraksi II (tepung). Tepung rendah lemak dan tinggi protein digunakan pada pembuatan biskuit dan roti. Pada pembuatan biskuit dan roti tepung rendah lemak dan tinggi protein dapat mensubstitusi tepung terigu sampai 20%.
Adopted from Hibah Bersaing VIII
MENGENAL LOGAM BERAT (Heavy Metal)
Sedikitnya terdapat 80 jenis dari 109 unsur kimia di muka bumi ini yang telah teridentifikasi sebagai jenis logam berat. Berdasarkan sudut pandang toksikologi, logam berat ini dapat dibagi dalam dua jenis. Jenis pertama adalah logam berat esensial, di mana keberadaannya dalam jumlah tertentu sangat dibutuhkan oleh organisme hidup, namun dalam jumlah yang berlebihan dapat menimbulkan efek racun. Contoh logam berat ini adalah Zn, Cu, Fe, Co, Mn dan lain sebagainya. Sedangkan jenis kedua adalah logam berat tidak esensial atau beracun, di mana keberadaannya dalam tubuh masih belum diketahui manfaatnya atau bahkan dapat bersifat racun, seperti Hg, Cd, Pb, Cr dan lain-lain.
USEPA (U.S. Environmental Agency) mendata ada 13 elemen logam berat yang merupakan elemen utama polusi yang berbahaya. Seperti halnya sumber-sumber polusi lingkungan lainnya, logam berat tersebut dapat ditransfer dalam jangkauan yang sangat jauh di lingkungan, selanjutnya berpotensi mengganggu kehidupan biota lingkungan dan akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan manusia walaupun dalam jangka waktu yang lama dan jauh dari sumber polusi utamanya.
Logam adalah unsur alam yang dapat diperoleh dari laut, erosi batuan tambang, vulkanisme dan sebagainya (Clark, 1986). Umumnya logam-logam di alam ditemukan dalam bentuk persenyawaan dengan unsur lain, sangat jarang yang ditemukan dalam elemen tunggal. Unsur ini dalam kondisi suhu kamar tidak selalu berbentuk padat melainkan ada yang berbentuk cair, misalnya merkuri (Hg). Dalam badan perairan, logam pada umumnya berada dalam bentuk ion-ion, baik sebagai pasangan ion ataupun dalam bentuk ion-ion tunggal. Sedangkan pada lapisan atmosfir, logam ditemukan dalam bentuk partikulat, dimana unsurunsur logam tersebut ikut berterbangan dengan debu-debu yang ada di atmosfir (Palar, 2004). Menurut Palar (2004) melihat bentuk dan kemampuannya setiap logam haruslah memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
a. Memiliki kemampuan yang baik sebagai penghantar daya listrik (konduktor).
b. Memiliki kemampuan sebagai penghantar panas yang baik.
c. Memiliki rapatan yang tinggi.
d. Dapat membentuk alloy dengan logam lainnya.
e. Untuk logam yang padat, dapat ditempa dan dibentuk.
Berbeda dengan logam biasa, logam berat adalah istilah yang digunakan secara umum untuk kelompok logam berat dan metaloid yang densitasnya lebih besar dari 5 g/cm3 (Hutagalung et al., 1997). Dalam perairan, logam berat dapat ditemukan dalam bentuk terlarut dan tidak terlarut. Logam berat terlarut adalah logam yang membentuk komplek dengan senyawa organik dan anorganik, sedangkan logam berat yang tidak terlarut merupakan partikel-partikel yang berbentuk koloid dan senyawa kelompok metal yang teradsorbsi pada partikelpartikel yang tersuspensi (Razak, 1980).
Menurut Darmono (1995) sifat logam berat sangat unik, tidak dapat dihancurkan secara alami dan cenderung terakumulasi dalam rantai makanan melalui proses biomagnifikasi. Pencemaran logam berat ini menimbulkan berbagai permasalahan diantaranya: 1. berhubungan dengan estetika (perubahan bau, warna dan rasa air), 2. berbahaya bagi kehidupan tanaman dan binatang, 3. berbahaya bagi kesehatan manusia, 4. menyebabkan kerusakan pada ekosistem. Sebagian dari logam berat bersifat essensial bagi organisme air untuk pertumbuhan dan perkembangan hidupnya, antara lain dalam pembentukan haemosianin dalam sistem darah dan enzimatik pada biota (Darmono, 1995). Akan tetapi bila jumlah dari logam berat masuk ke dalam tubuh dengan jumlah berlebih, maka akan berubah fungsi menjadi racun bagi tubuh (Palar, 2004).
Logam berat adalah unsur-unsur kimia dengan bobot jenis lebih besar dari 5 gr/cm3, terletak di sudut kanan bawah sistem periodik, mempunyai afinitas yang tinggi terhadap unsur S dan biasanya bernomor atom 22 sampai 92 dari perioda 4 sampai 7 (Miettinen, 1977). Sebagian logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg) merupakan zat pencemar yang berbahaya. Afinitas yang tinggi terhadap unsur S menyebabkan logam ini menyerang ikatan belerang dalam enzim, sehinggaenzim bersangkutan menjadi tak aktif. Gugus karboksilat (-COOH) dan amina (-NH2) juga bereaksi dengan logam berat. Kadmium, timbal, dan tembaga terikat pada sel-sel membran yang menghambat proses transpormasi melalui dinding sel. Logam berat juga mengendapkan senyawa fosfat biologis atau mengkatalis penguraiannya (Manahan, 1977).
Berdasarkan sifat kimia dan fisikanya, maka tingkat atau daya racun logam berat terhadap hewan air dapat diurutkan (dari tinggi ke rendah) sebagai berikut merkuri (Hg), kadmium (Cd), seng (Zn), timah hitam (Pb), krom (Cr), nikel (Ni), dan kobalt (Co) (Sutamihardja dkk, 1982). Menurut Darmono (1995) daftar urutan toksisitas logam paling tinggi ke paling rendah terhadap manusia yang mengkomsumsi ikan adalah sebagai berikut Hg2+ > Cd2+ >Ag2+ > Ni2+ > Pb2+ > As2+ > Cr2+ Sn2+ > Zn2+. Sedangkan menurut Kementrian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (1990) sifat toksisitas logam berat dapat dikelompokan ke dalam 3 kelompok, yaitu
a. Bersifat toksik tinggi yang terdiri dari atas unsur-unsur Hg, Cd, Pb, Cu, dan Zn.
b. Bersifat toksik sedang terdiri dari unsur-unsur Cr, Ni, dan Co,
c. Bersifat tosik rendah terdiri atas unsur Mn dan Fe.
Adanya logam berat di perairan, berbahaya baik secara langsung terhadap kehidupan organisme, maupun efeknya secara tidak langsung terhadap kesehatan manusia. Hal ini berkaitan dengan sifat-sifat logam berat ( PPLH-IPB, 1997; Sutamihardja dkk, 1982) yaitu :
1. Sulit didegradasi, sehingga mudah terakumulasi dalam lingkungan perairan dan keberadaannya secara alami sulit terurai (dihilangkan).
2. Dapat terakumulasi dalam organisme termasuk kerang dan ikan, dan akan membahayakan kesehatan manusia yang mengkomsumsi organisme tersebut
3. Mudah terakumulasi di sedimen, sehingga konsentrasinya selalu lebih tinggi dari konsentrasi logam dalam air. Disamping itu sedimen mudah tersuspensi karena pergerakan masa air yang akan melarutkan kembali logam yang dikandungnya ke dalam air, sehingga sedimen menjadi sumber pencemar potensial dalam skala waktu tertentu.
Unsur-unsur logam berat tersebut biasanya erat kaitannya dengan masalah pencemaran dan toksisitas. Pencemaran yang dapat menghancurkan tatanan lingkungan hidup, biasanya berasal dari limbah-limbah yang sangat berbahaya dalam arti memiliki daya racun (toksisitas) yang tinggi. Limbah industri merupakan salah satu sumber pencemaran logam berat yang potensial bagi perairan. Pembuangan limbah industri secara terus menerus tidak hanya mencemari lingkungan perairan tetapi menyebabkan terkumpulnya logam berat dalam sedimen dan biota perairan. Dalam lingkungan perairan ada tiga media yang dapat dipakai sebagai indikator pencemaran logam berat, yaitu air, sedimen dan organisme hidup.
Logam berat biasanya sangat sedikit dalam air secara ilmiah kurang dari 1 g/l. Menurut Palar (2004) kelarutan dari unsur-unsur logam dan logam berat dalam badan air dikontrol oleh : (1) pH badan air, (2) jenis dan konsentrasi logam dan khelat (3) keadaan komponen mineral teroksida dan sistem berlingkungan redoks. Logam berat yang dilimpahkan ke perairan, baik di sungai ataupun laut akan dipindahkan dari badan airnya melalui beberapa proses yaitu : pengendapan, adsorbsi dan absorbsi oleh organisme perairan. Logam berat mempunyai sifat yang mudah mengikat bahan organik dan mengendap di dasar perairan dan bersatu dengan sedimen sehingga kadar logam berat dalam sedimen lebih tinggi dibandingkan dalam air (Harahap, 1991).
Rochyatun (1997) menyatakan walaupun terjadi peningkatan sumber logam berat, namun konsentrasinya dalam air dapat berubah setiap saat. Hal ini terkait dengan berbagai macam proses yang dialami oleh senyawa tersebut selama dalam kolom air. Parameter yang mempengaruhi konsentrasi logam berat di perairan adalah suhu, salinitas, arus, pH dan padatan tersuspensi total atau seston (Nanty, 1999). Dengan sendirinya interaksi dari faktor-faktor tersebut akan berpengaruh terhadap fluktuasi konsentrasi logam berat dalam air, karena sebagian logam berat tersebut akan masuk ke dalam sedimen.
Logam berat yang masuk ke sistem perairan, baik di sungai maupun lautan akan dipindahkan dari badan airnya melalui tiga proses yaitu pengendapan, adsorbsi, dan absorbsi oleh organisme-organisme perairan (Bryan, 1976). Pada saat buangan limbah industri masuk ke dalam suatu perairan maka akan terjadi proses pengendapan dalam sedimen. Hal ini menyebabkan konsentrasi bahan pencemar dalam sedimen meningkat. Logam berat yang masuk ke dalam lingkungan perairan akan mengalami pengendapan, pengenceran dan dispersi, kemudian diserap oleh organisme yang hidup di perairan tersebut. Pengendapan logam berat di suatu perairan terjadi karena adanya anion karbonat hidroksil dan klorida (Hutagalung, 1984). Logam berat mempunyai sifat yang mudah mengikat bahan organik dan mengendap di dasar perairan dan bersatu dengan sedimen sehingga kadar logam berat dalam sedimen lebih tinggi dibanding dalam air (Hutagalung, 1991).
Logam berat mempunyai sifat yang mudah mengikat dan mengendap di dasar perairan dan bersatu dengan sedimen, oleh karena itu kadar logam berat dalam sedimen lebih tinggi dibandingkan dalam air (Harahap, 1991). Konsentrasi logam berat pada sedimen tergantung pada beberapa faktor yang berinteraksi. Faktor-faktor tersebut adalah :
1. Sumber dari mineral sedimen antara sumber alami atau hasil aktifitas manusia.
2. Melalui partikel pada lapisan permukaan atau lapisan dasar sedimen.
3. Melalui partikel yang terbawa sampai ke lapisan dasar.
4. Melalui penyerapan dari logam berat terlarut dari air yang bersentuhan.
Beberapa material yang terkonsentrasi di udara dan permukaan air mengalami oksidasi, radiasi ultraviolet, evaporasi dan polymerisasi. Jika tidak mengalami proses pelarutan, material ini akan saling berikatan dan bertambah berat sehingga tenggelam dan menyatu dalam sedimen. Logam berat yang diadsorpsi oleh partikel tersuspensi akan menuju dasar perairan, menyebabkan kandungan logam di air menjadi lebih rendah. Dalam lingkungan perairan, bentuk logam antara lain berupa ion-ion bebas, pasangan ion organik, dan ion kompleks. Kelarutan logam dalam air dikontrol oleh pH air. Kenaikan pH menurunkan kelarutan logam dalam air, karena kenaikan pH mengubah kestabilan dari bentuk karbonat menjadi hidroksida yang membentuk ikatan dengan partikel pada badan air, sehingga akan mengendap membentuk lumpur (Palar, 2004).
Selain itu, kenaikan suhu air dan penurunan pH akan mengurangi adsorpsi senyawa logam berat pada partikulat. Suhu air yang lebih dingin akan meningkatkan adsorpsi logam berat ke partikulat untuk mengendap di dasar . Sementara saat suhu air naik, senyawa logam berat akan melarut di air karena penurunan laju adsorpsi ke dalam partikulat. Logam yang memiliki kelarutan yang kecil akan ditemukan di permukaan air selanjutnya dengan perpindahan dan waktu tertentu akan mengendap hingga ke dasar, artinya logam tersebut hanya akan berada di dekat permukaan air dalam waktu yang sesaat saja untuk kemudian mengendap lagi. Hal ini ditentukan antara lain oleh massa jenis air, viskositas (kekentalan) air, temperatur air, arus serta faktor-faktor lainnya.
Daya larut logam berat dapat menjadi lebih tinggi atau lebih rendah tergantung pada kondisi lingkungan perairan. Pada daerah yang kekurangan oksigen, misalnya akibat kontaminasi bahan-bahan organik, daya larut logam berat akan menjadi lebih rendah dan mudah mengendap. Logam berat seperti Zn,Cu, Cd, Pb, Hg dan Ag akan sulit terlarut dalam kondisi perairan yang anoksik (Ramlal, 1987). Logam berat yang terlarut dalam air akan berpindah ke dalam sedimen jika berikatan dengan materi organik bebas atau materi organik yang melapisi permukaan sedimen, dan penyerapan langsung oleh permukaan partikel sedimen (Wilson, 1988).
Kandungan logam berat pada sedimen umumnya rendah pada musim kemarau dan tinggi pada musim penghujan. Penyebab tingginya kadar logam berat dalam sedimen pada musim penghujan kemungkinan disebabkan oleh tingginya laju erosi pada permukaan tanah yang terbawa ke dalam badan sungai, sehingga sedimen dalam sungai yang diduga mengandung logam berat akan terbawa oleh arus sungai menuju muara dan pada akhirnya terjadi proses sedimentasi (Bryan, 1976). Mengendapnya logam berat bersama-sama dengan padatan tersuspensi akan mempengaruhi kualitas sedimen di dasar perairan dan juga perairan sekitarnya Jika kapasitas angkut sedimen cukup besar, maka sedimen di dasar perairan akan terangkat dan terpindahkan. Sesuai teori gravitasi, apabila partikulat memiliki massa jenis lebih besar dari massa jenis air maka partikulat akan mengendap di dasar atau terjadi proses sedimentasi.
Menurut Bernhard (1981) konsentrasi logam berat tertinggi terdapat dalam sedimen yang berupa lumpur, tanah liat, pasir berlumpur dan campuran dari ketiganya dibandingkan dengan yang berupa pasir murni. Hal ini sebagai akibat dari adanya gaya tarik elektro kimia partikel sedimen dengan partikel mineral, pengikatan oleh partikel organik dan pengikatan oleh sekresi lendir organisme. Darmono (2001) logam berat masuk ke dalam jaringan tubuh makhluk hidup melalui beberapa jalan, yaitu: saluran pernafasan, pencernaan dan penetrasi melalui kulit. Di dalam tubuh hewan logam diabsorpsi darah, berikatan dengan protein darah yang kemudian didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh. Akumulasi logam yang tertinggi biasanya dalam detoksikasi (hati) dan ekskresi (ginjal). Akumulasi logam berat dalam tubuh organisme tergantung pada konsentrasi logam berat dalam air/lingkungan, suhu, keadaan spesies dan aktifitas fisiologis (Connel dan Miller 1995).
Oleh : arifin_pararaja@yahoo.co.id (undercontruction)
Tentang Kurikulum Antikorupsi
Oleh : Faisal Djabbar *
Memerangi korupsi bukan cuma menangkapi koruptor. Sejarah mencatat, dari sejumlah kejadian terdahulu, sudah banyak usaha menangkapi dan menjebloskan koruptor ke penjara. Era orde baru, yang berlalu, kerap membentuk lembaga pemberangus korupsi. Mulai Tim Pemberantasan Korupsi di tahun 1967, Komisi Empat pada tahun 1970, Komisi Anti Korupsi pada 1970, Opstib di tahun 1977, hingga Tim Pemberantas Korupsi. Nyatanya, penangkapan para koruptor tidak membuat jera yang lain. Koruptor junior terus bermunculan. Mati satu tumbuh seribu, kata pepatah.
Salah satu kekeliruan upaya pemberantasan korupsi selama ini adalah terlalu fokus pada upaya menindak para koruptor. Sedikit sekali perhatian pada upaya pencegahan korupsi. Salah satunya lewat upaya pendidikan antikorupsi. Terakhir, era reformasi melahirkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang selain diserahi tugas penindakan, juga tugas pencegahan tindak pidana korupsi, seperti pendidikan antikorupsi kepada masyarakat.
Menyadari hal ini, tersembul gagasan memasukkan materi antikorupsi dalam kurikulum pendidikan tingkat SD hingga SMU, sebagai bentuk nyata pendidikan antikorupsi. Tujuan pendidikan antikorupsi adalah menanamkan pemahaman dan perilaku antikorupsi.
Ide memasukkan materi antikorupsi dalam kurikulum mendapat respons positif masyarakat. Hasil jajak pendapat harian Seputar Indonesia terhadap 400 responden (27/5), sebanyak 87% menyatakan perlunya memasukkan pendidikan antikorupsi dalam kurikulum. Keyakinan masyarakat juga relatif besar. Hampir 200 responden menyatakan keyakinannya bahwa pendidikan antikorupsi bisa berjalan efektif membendung perilaku korupsi di Indonesia.
Jajak pendapat itu menjaring pula pendapat masyarakat seputar pentingnya pendidikan antikorupsi. Masyarakat berharap pendidikan antikorupsi memberikan pengetahuan seputar korupsi dan bahayanya, mencetak daya manusia yang berkesadaran tinggi terhadap hukum, serta memutus mata rantai korupsi.
Lebih dari itu, masyarakat berkeinginan agar upaya pendidikan antikorupsi berjalan paralel dengan upaya lainnya, yakni maksimalisasi penegakan hukum, fungsi pengawasan yang ketat, sosialiasi dan kampanye gerakan antikorupsi secara berkala dan berkesinambungan, dan menghilangkan praktik korupsi dalam birokrasi.
Pokok Bahasan dalam Mata Ajaran
Pertanyaan muncul, haruskah pendidikan antikorupsi menjadi satu mata pelajaran tersendiri? Mestinya tidak, sebab hal ini malah akan menyusahkan anak didik. Saat ini peserta didik sudah demikian sesak dengan melimpahnya mata pelajaran yang harus dipelajari dan diujikan. Dikhawatirkan anak didik akan terjebak dalam kewajiban mempelajari materi kurikulum antikorupsi. Bisa jadi yang akan muncul adalah kebencian dan antipati pada mata pelajaran antikorupsi. Bukannya pemahaman dan kesadaran antikorupsi.
Pakar pendidikan Arief Rachman menyatakan tidak tepat bila pendidikan antikorupsi menjadi satu mata pelajaran khusus. Alasannya, karena siswa sekolah mulai SD, SMP, hingga SMU sudah terbebani sekian banyak mata pelajaran. Dari segi pemerintah, menurut Arief Rachman, akan berbuntut pada kesulitan-kesulitan, seperti pengadaan buku-buku antikorupsi dan repotnya mencari guru antikorupsi.
Menyikapi kesulitan tadi, pendidikan antikorupsi, menurut Arief Rachman, lebih tepat dijadikan pokok bahasan dalam mata pelajaran tertentu. Sebuah usulan yang mesti dicermati. Materi pendidikan antikorupsi nantinya bisa saja diselipkan dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN), Matematika, Bimbingan Karir, Bahasa. Pokok bahasan mencakup kejujuran, kedisiplinan, kesederhanaan, dan daya juang. Selain itu, juga nilai-nilai yang mengajarkan kebersamaan, menjunjung tinggi norma yang ada, dan kesadaran hukum yang tinggi.
Pendidikan Nilai,
Pendidikan antikorupsi bagi siswa SD, SMP, dan SMU akhirnya memang mengarah pada pendidikan nilai. Pendidikan antikorupsi yang mendukung nilai-nilai kebaikan. Pendidikan yang mendukung orientasi nilai, mengutip Franz Magnis Suseno, adalah pendidikan yang membuat orang merasa malu apabila tergoda untuk melakukan korupsi, dan marah bila ia menyaksikannya.
Menurut Franz Magnis Suseno, ada tiga sikap moral fundamental yang akan membikin orang menjadi kebal terhadap godaan korupsi: kejujuran, rasa keadilan, dan rasa tanggung jawab.
Jujur berarti berani menyatakan keyakinan pribadi. Menunjukkan siapa dirinya. Kejujuran adalah modal dasar dalam kehidupan bersama. Ketidakjujuran jelas akan menghancurkan komunitas bersama. Siswa perlu belajar bahwa berlaku tidak jujur adalah sesuatu yang amat buruk.
Adil berarti memenuhi hak orang lain dan mematuhi segala kewajiban yang mengikat diri sendiri. Magnis mengatakan, bersikap baik tetapi melanggar keadilan, tidak pernah baik. Keadilan adalah tiket menuju kebaikan.
Tanggung jawab berarti teguh hingga terlaksananya tugas. Tekun melaksanakan kewajiban sampai tuntas. Misalnya, siswa diberi tanggung jawab mengelola dana kegiatan olahraga di sekolahnya. Rasa tanggung jawab siswa terlihat ketika dana dipakai seoptimal mungkin menyukseskan kegiatan olahraga. Menurut Magnis, pengembangan rasa tanggung jawab adalah bagian terpenting dalam pendidikan anak menuju kedewasaan. Menjadi orang yang bermutu sebagai manusia.
Warung Kejujuran
Materi antikorupsi memang bisa kita selipkan sebagai pokok bahasan dalam mata pelajaran tertentu. Tetapi, pertanyaan lain muncul: apakah pendidikan antikorupsi hanya sekadar pemberian wawasan di ranah kognitif? Pendidikan antikorupsi jelas bukan cuma berkutat pada pemberian wawasan dan pemahaman. Tidak sekadar menghapal. Pendidikan antikorupsi tidak berhenti pada penanaman nilai-nilai. Lebih dari itu, pendidikan antikorupsi menyentuh pula ranah afektif dan psikomotorik. Membentuk sikap dan perilaku antikorupsi pada siswa. Menuju penghayatan dan pengamalan nilai-nilai antikorupsi.
Mencermati hal tersebut, KPK gencar mempromosikan dibentuknya warung kejujuran di setiap sekolah. Warung kejujuran adalah warung yang menjual makanan kecil dan minuman. Warung kejujuran tidak memiliki penjual. Warung yang tidak dijaga. Makanan atau minuman dipajang dalam warung. Dalam warung tersedia kotak uang, yang berguna menampung pembayaran dari siswa yang membeli makanan atau minuman. Bila ada kembalian, siswa mengambil dan menghitung sendiri uang kembalian dari dalam kotak tersebut.
Melalui warung kejujuran siswa belajar berperilaku jujur. Siswa belajar bersikap taat dan patuh, ketika tidak ada orang yang mengawasi. Belajar jujur pada diri sendiri. Intinya, inilah sebuah pendidikan antikorupsi yang langsung menyentuh domain afektif dan psikomotorik.
Kemudian, dalam konteks pendidikan antikorupsi, tatacara pengajaran tradisional mestinya dihilangkan. Siswa bukan obyek. Siswa bukan kertas putih yang bisa ditulis apa saja. Siswa bukan botol kosong, di mana siswa diisi dengan segala macam informasi dan nasihat, dan setelah itu dituntut mengeluarkannya kembali.
Bukan pendekatan seperti itu yang dibutuhkan. Pendekatannya berwujud penghargaan atas pendapat siswa guna merangsang kemampuan intelektual anak: keingintahuan, sikap kritis, berani berpendapat. Karena itu, pola pendidikan antikorupsi seyogianya bersifat terbuka, dialogis, dan diskursif.
sumber: www.pendidikan.net
*Fungsional Direktorat Pendidikan & Pelayanan Masyarakat
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
No Telp.: (021) 3522546 ext. 165
10 Kesalahan Memahami Sukses
Kesalahan 1
Beberapa orang tidak bisa sukses karena latar belakang, pendidikan, dan lain-lain. Padahal, setiap orang dapat meraih keberhasilan. Ini hanya bagaimana mereka menginginkannya, kemudian melakukan sesuatu untuk mencapainya.
Kesalahan 2
Orang-orang yang sukses tidak melakukan kesalahan. Padahal, orang-orang sukses itu justru melakukan kesalahan sebagaimana kita semua pernah lakukan. Namun, mereka tidak melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya.
Kesalahan 3
Agar sukses, kita harus bekerja lebih dari 60 jam (70, 80, 90…) seminggu. Padahal, persoalannya bukan terletak pada lamanya anda bekerja. Tetapi bagaimana anda dapat melakukan sesuatu yang benar.
Kesalahan 4
Anda hanya bisa sukses bila bermain sesuatu dengan aturan. Padahal, siapakah yang membuat aturan itu? Setiap situasi membutuhkan cara yang berbeda. Kadang-kadang kita memang harus mengikuti aturan, tetapi di saat lain andalah yang membuat aturan itu.
Kesalahan 5
Jika anda selalu meminta bantuan, anda tidak sukses. Padahal, sukses jarang sekali terjadi di saat-saat vakum. Justru, dengan mengakui dan menghargai bantuan orang lain dapat membantu keberhasilan anda. Dan, sesungguhnya ada banyak sekali orang semacam itu.
Kesalahan 6
Diperlukan banyak keberuntungan untuk sukses. Padahal, hanya dibutuhkan sedikit keberuntungan. Namun, diperlukan banyak kerja keras, kecerdasan, pengetahuan, dan penerapan.
Kesalahan 7
Sukses adalah bila anda mendapatkan banyak uang. Padahal, uang hanya satu saja dari begitu banyak keuntungan yang diberikan oleh kesuksesan. Uang pun bukan jaminan kesuksesan anda.
Kesalahan 8
Sukses adalah bila semua orang mengakuinya. Padahal, anda mungkin dapat meraih lebih banyak orang dan pengakuan dari orang lain atas apa yang anda lakukan. Tetapi, meskipun hanya anda sendiri yang mengetahuinya, anda tetaplah sukses.
Kesalahan 9
Sukses adalah tujuan. Padahal, sukses lebih dari sekedar anda bisa meraih tujuan dan goal anda. Katakan bahwa anda menginginkan keberhasilan, maka ajukan pertanyaan “atas hal apa?”
Kesalahan 10
Saya sukses bila kesulitan saya berakhir. Padahal, anda mungkin sukses, tapi anda bukan Tuhan. Anda tetap harus melalui jalan yang naik turun sebagaimana anda alami di masa-masa lalu. Nikmati saja apa yang telah anda raih dan hidup setiap hari sebagaimana adanya.
[The Top 10 Misconceptions About Success, Jim M. Allen]
SEMANGAT BERKARYA SANG PENEMU DARI INDONESIA
Bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Itulah kata-kata mutiara yang selalu ditulis sebagai penghargaan terhadap perjuangan para pendiri bangsa ini. Tentu kita sekarang dapat menikmati kemerdekaan ini adalah berkat perjuangan para pahlawan bangsa kita.
Namun rasanya belum sempurna menjadi bangsa yang baik, kalau kita sendiri tidak pernah merasa bangga menjadi bangsa Indonesia. Sudah seharusnya dengan segala daya upaya kita harus menunjukkan pada dunia, bahwa kita tidak kalah dengan bangsa manapun di dunia ini. Kita wujudkan mahkota tertinggi yang mampu kita raih-tentu sesuai dengan bidang kita masing-masing.
Sebagai bahan inspirasi mungkin kita perlu menghargai para pahlawan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh bangsa sendiri. Mereka telah dengan sukses menemukan berbagai teknologi yang sudah dimanfaatkan oleh banyak orang di dunia ini. Namun sayang nama mereka tidak begitu dikenal oleh dunia, bahkan oleh bangsa sendiri. Berikut saya cuplikkan dari Ragam Pustaka tentang daftar para penemu dari indonesia:
1. Abdul Jamil Ridho & Niti Soedigdo – Penemu Varietas Unggul Singkong Raksasa
2. Adi Rahman Adiwoso – Penemu Teknologi Baru dalam Telepon Bergerak Berbasis Satelit
3. Alexander Kawilarang – Penemu Kapal Ikan Bersirip
4. Andrias Wiji Setio Pamuji – Penemu Reaktor Biogas
5. Arief Indrasumunar – Penemu Kloning Gen-gen dalam Pembentukan “Root Nodule” pada Kedelai
6. Arief Mulyana Djumra – Penemu Pemacu Produktifitas dan Kualitas Udang dan Ikan
7. Aryadi Suwono & Tim Peneliti ITB – Penemu Bahan Pendingin Baru yang Lebih Hemat Energi
8. Ayub S. Parnata – Penemu Bakteri Kompos Organik
9. Bacharuddin Jusuf Habibie – Penemu Teori, Faktor dan Metode Habibie (Teknologi Pesawat Terbang)
10. Budi Noviantoro – Penemu Klip Penambat Bantalan Kereta Api dengan Dua Gigi
11. Dani Hilman Natawijaya – Penemu Indikator Alam (Terumbu Karang) ter



