Juli 16, 2009

Abu Nasr Mansur, Sang Penemu Hukum Sinus

sinusSaat masih sekolah di bangku sekolah menengah, tentu Anda pernah mempelajari istilah sinus dalam mata pelajara matematika. Sinus adalah perbandingan sisi segitiga yang ada di depan sudut dengan sisi miring.

Hukum sinus itu ternyata dicetuskan seorang matematikus Muslim pada awal abad ke-11 M. Ahli matematika itu bernama Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab disapa Abu Nasr Mansur (960 M – 1036 M). Bill Scheppler dalam karyanya bertajuk al-Biruni: Master Astronomer and Muslim Scholar of the Eleventh Century, mengungkapkan, bahwa Abu Nasr Mansur merupakan seorang ahli matematika Muslim dari Persia. “Dia dikenal sebagai penemuan hukum sinus,” ungkap Scheppler.

Ahli sejarah Matematika John Joseph O’Connor dan Edmund Frederick Robertson menjelaskan bahwa Abu Nasr Mansur terlahir di kawasan Gilan, Persia pada tahun 960 M. Hal itu tercatat dalam The Regions of the World, sebuah buku geografi Persia bertarikh 982 M. Keluarganya “Banu Iraq” menguasai wilayah Khawarizm (sekarang, Kara-Kalpakskaya, Uzbekistan).

Khawarizm merupakan wilayah yang berdampingan dengan Laut Aral. “Dia menjadi seorang pangeran dalam bidang politik,” tutur O’Cornor dan Robertson. Di Khawarizm itu pula, Abu Nasr Mansur menuntut ilmu dan berguru pada seorang astronom dan ahli matematika Muslim terkenal Abu’l-Wafa (940 M – 998 M). Otaknya yang encer membuat Abu Nasr dengan mudah menguasai matematika dan astronomi.

Kehebatannya itu pun menurun pada muridnya, yakni Al-Biruni (973 M – 1048 M). Kala itu, Al-Biruni tak hanya menjadi muridnya saja, tapi juga menjadi koleganya yang sangat penting dalam bidang matematika. Mereka bekerja sama menemukan rumus-rumus serta hukum-hukum yang sangat luar biasa dalam matematika.

Kolaborasi kedua ilmuwan itu telah melahirkan sederet penemuan yang sangat hebat dan bermanfaat bagi peradaban manusia. Perjalanan kehidupan Abu Nasr dipengaruhi oleh situasi politik yang kurang stabil. Akhir abad ke-10 M hingga awal abad ke-11 M merupakan periode kerusuhan hebat di dunia Islam. Saat itu, terjadi perang saudara di kota sang ilmuwan menetap.

Pada era itu, Khawarizm menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Samaniyah. Perebutan kekuasaan di antara dinasti-dinasti kecil di wilayah Asia Tengah itu membuat situasi politik menjadi kurang menentu. Pada 995 M, kekuasaan Banu Iraq digulingkan. Saat itu, Abu Nasr Mansur menjadi pangeran. Tidak jelas apa yang terjadi pada Abu Nasr Mansur di negara itu, namun yang pasti muridnya al-Biruni berhasil melarikan diri dari ancaman perang saudara itu.

Setelah peristiwa itu, Abu Nasr Mansur bekerja di istana Ali ibnu Ma’mun dan menjadi penasihat Abu’l Abbas Ma’mun. Kehadiran Abu Nasr membuat kedua penguasa itu menjadi sukses. Ali ibnu Ma’mun dan Abu’l Abbas Ma’mun merupakan pendukung ilmu pengetahuan. Keduanya mendorong dan mendukung Abu Nasr mengembangkan ilmu pengetahuan. Tak heran jika ia menjadi ilmuwan paling top di istana itu. Karya-karyanya sangat dihormati dan dikagumi.

Abu Nasr Mansur menghabiskan sisa hidupnya di istana Mahmud di Ghazna. Ia wafat pada 1036 M di Ghazni, sekarang Afghanistan. Meski begitu, karya dan kontribusianya bagi pengembangan sains tetap dikenang sepanjang masa. Dunia Islam modern tak boleh melupakan sosok ilmuwan Muslim yang satu ini.

Kontribusi Sang Ilmuwan

Abu Nasr Mansur telah memberikan kontribusi yang penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Sebagian Karya Abu Nasr fokus pada bidang matematika, tapi beberapa tulisannya juga membahas masalah astronomi.

bidang matematika, dia memiliki begitu banyak karya yang sangat penting dalam trigonometri. Abu Nasr berhasil mengembangkan karya-karya ahli matematika, astronomi, geografi dan astrologi Romawi bernama Claudius Ptolemaeus (90 SM – 168 SM).

Dia juga mempelajari karya ahli matematika dan astronom Yunani, Menelaus of Alexandria (70 SM – 140 SM). Abu Nasr mengkritisi dan mengembangkan teori-teori serta hukum-hukum yang telah dikembangkan ilmuwan Yunani itu. Kolaborasi Abu Nasr dengan al-Biruni begitu terkenal.

Abu Nasr berhasil menyelesaikan sekitar 25 karya besar bersama al-Biruni. ” Sekitar 17 karyanya hingga kini masih bertahan. Ini menunjukkan bahwa Abu Nasr Mansur adalah seorang astronom dan ahli matematika yang luar biasa,” papar ahli sejarah Matematika John Joseph O’Connor dan Edmund Frederick Robertson Dalam bidang Matematika, Abu Nasr memiliki tujuh karya, sedangkan sisanya dalam bidang astronomi.

Semua karya yang masih bertahan telah dipublikaskan, telah dialihbahasakan kedalam bahasa Eropa, dan ini memberikan beberapa indikasi betapa sangat pentingnya karya sang ilmuwan Muslim itu. Secara khusus Abu Nasr mempersembahkan sebanyak 20 karya kepada muridnya al-Biruni.

Salah satu adikarya sang saintis Muslim ini adalah komentarnya dalam The Spherics of Menelaus. Perannya sungguh besar dalam pengembangan trigonometri dari perhitungan Ptolemy dengan penghubung dua titik fungsi trigonometri yang hingga kini masih tetap digunakan.

Selain itu, dia juga berjasa dalam mengembangkan dan mengumpulkan tabel yang mampu memberi solusi angka yang mudah untuk masalah khas spherical astronomy (bentuk astronomi). Abu Nasr juga mengembangkan The Spherics of Menelaus yang merupakan bagian penting, sejak karya asli Menelaus Yunani punah.

Karya Menelaus berasal dari dasar solusi angka Ptolemy dalam masalah bentuk astronomi yang tercantum dalam risalah Ptolemy bertajuk Almagest. “Karyanya di dalam tiga buku: buku pertama mempelajari kandungan/kekayaan bentuk segitiga, buku kedua meneliti kandungan sistem paralel lingkaran dalam sebuah bola/bentuk mereka memotong lingkaran besar, buku ketiga memberikan bukti dalil Menelaus,” jelas O’Cornor dan Robertson.

Pada karya trigonometrinya, Abu Nasr Mansur menemukan hukum sinus sebagai berikut:

a/sin A = b/sin B = c/sin C.

“Abu’l-Wafa mungkin menemukan hukum ini pertama dan Abu Nasr Mansur mungkin belajar dari dia. Pastinya keduanya memiliki prioritas kuat untuk menentukan dan akan hampir pasti tidak pernah diketahui dengan kepastian,” ungkap O’Cornor dan Robertson.

O’Cornor dan Robertson juga menyebutkan satu nama lain, yang disebut sebagai orang ketiga yang kadang-kadang disebut sebagai penemu hukum yang sama, seorang astronom dan ahli matematika Muslim dari Persia, al-Khujandi (940 M – 1000 M).

Namun, kurang beralasan jika al-Khujandi dsebut sebagai penemu hukum sinus, seperti yang ditulis Samso dalam bukunya Biography in Dictionary of Scientific Biography (New York 1970-1990). “Dia adalah seorang ahli astronomi praktis yang paling utama, yang tidak peduli dengan masalah teoritis,” katanya.

Risalah Abu Nasr membahas lima fungsi trigonometri yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam bentuk astronomi. Artikel menunjukkan perbaikan yang diperoleh Abu Nasr Mansur dalam penggunan pertama sebagai nilai radius. Karya lain Abu Nasr Mansur dalam bidang astronomi meliputi empat karya dalam menyusun dan mengaplikasi astrolab.

Al-Biruni, Saksi Kehebatan Abu Nasr

Sejatinya, dia adalah murid sekaligus kawan bagi Abu Nasr Mansur. Namun, dia lebih terkenal dibandingkan sang guru. Meski begitu, al-Biruni tak pernah melupakan jasa Abu Nasr dalam mendidiknya. Kolaborasi kedua ilmuwan dari abad ke-11 M itu sangat dihormati dan dikagumi. Abu Nasr telah ‘melahirkan’ seorang ilmuwan yang sangat hebat.

Sejarawan Sains Barat, George Sarton begitu mengagumi kiprah dan pencapaian al-Biruni dalam beragam disiplin ilmu. ”Semua pasti sepakat bahwa Al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman,” cetus Sarton. Bukan tanpa alasan bila Sarton dan Sabra mendapuknya sebagai seorang ilmuwan yang agung. Sejatinya, al-Biruni memang seorang saintis yang sangat fenomenal.

 Sejarah mencatat, al-Biruni sebagai sarjana Muslim pertama yang mengkaji dan mempelajari tentang seluk beluk India dan tradisi Brahminical. Dia sangat intens mempelajari bahasa, teks, sejarah, dan kebudayaan India. Kerja keras dan keseriusannya dalam mengkaji dan mengeksplorasi beragam aspek tentang India, al-Biruni pun dinobatkan sebagai ‘Bapak Indologi’ — studi tentang India. Tak cuma itu, ilmuwan dari Khawarizm, Persia itu juga dinobatkan sebagai ‘Bapak Geodesi’.

Di era keemasan Islam, al-Biruni ternyata telah meletakkan dasar-dasar satu cabang keilmuan tertua yang berhubungan dengan lingkungan fisik bumi. Selain itu, al-Biruni juga dinobatkan sebagai ‘antropolog pertama’ di seantero jagad. Sebagai ilmuwan yang menguasai beragam ilmu, al-Biruni juga menjadi pelopor dalam berbagai metode pengembangan sains.

Sejarah sains mencatat, ilmuwan yang hidup di era kekuasaan Dinasti Samaniyah itu merupakan salah satu pencetus metode saintifik eksperimental. Al-Biruni pun tak hanya menguasai beragam ilmu seperti; fisika, antropologi, psikologi, kimia, astrologi, sejarah, geografi, geodesi, matematika, farmasi, kedokteran, serta filsafat. Dia juga turun memberikan kontrbusi yang begitu besar bagi setiap ilmu yang dikuasainya itu.

Juli 16, 2009

Berpikir yang cerdik

“Meskipun anda bukanlah seorang jenius, anda dapat mengunakan strategi yang sama seperti yang digunakan Aristotle dan Einstein untuk memanfaatkan kreatifitas berpikir anda dan mengatur masa depan anda lebih baik.”

Kedelapan statregi berikut ini dapat mendorong cara berpikir anda lebih produktif daripada reproduktif untuk memecahkan masalah-masalah. “Strategi-strategi ini pada umumnya ditemui pada gaya berpikir bagi orang-orang yang jenius dan kreatif di ilmu pengetahuan, kesenian, dan industri-industri sepajang sejarah.”

1. Lihatlah persoalan anda dengan berbagai cara yang berbeda dan cari perspektif baru yang belum pernah dipakai oleh orang lain (atau belum diterbitkan!) Leonardo da Vinci percaya bahwa untuk menambah pengetahuan tentang suatu masalah dimulai dengan mempelajari cara menyusun ulang masalah tersebut dengan berbagai cara yang berbeda. Ia merasa bahwa pertama kali melihat masalah itu terlalu prubasangka. Seringkali, masalah itu dapat disusun ulang dan menjadi suatu masalah yang baru.

2. Bayangkan! Ketika Einstein memikirkan suatu masalah, ia selalu menemukan bahwa perlu untuk merumuskan persoalannya dalam berbagai cara yang berbeda-beda yang masuk akal, termasuk menggunakan diagram-diagram. Ia membayangkan solusi-solusinya dan yakin bahwa kata-kata dan angka-angka tidak memegang peran penting dalam proses berpikirnya.

3. Hasilkan! Karakteristik anak jenius yang membedakan adalah produktivitas. Thomas Edison memegang 1.093 paten. Dia memberikan jaminan produktivitas dengan memberikan ide-ide pada diri sendiri dan asistennya. Dalam studi dari 2.036 ilmuwan sepanjang sejarah, Dekan Keith Simonton, dari University of California di Davis, menemukan bahwa ilmuwan-ilmuwan yang dihormati tidak hanya menciptakan banyak karya-karya terkenal, tapi banyak yang buruk. Mereka tidak takut gagal, atau membuat kesalahan besar untuk meraih hasil yang hebat.

4. Buat kombinasi-kombinasi baru. Kombinasikan, and kombinasikan ulang, ide-ide, bayangan-bayangan, and pikiran-pikiran ke dalam kombinasi yang berbeda, tidak peduli akan keanehan atau ketidakwajaran. Keturunan hukum-hukum yang menjadi dasar ilmu genetika modern berasal dari pendeta Austria, Grego Mendel, yang mengkombinasikan matematika dan biologi untuk menciptakan ilmu pengetahuan baru.

5. Bentuklah hubungan-hubungan; buatlah hubungan antara peroalan-persoalan yang berbeda Da Vinci menemukan hubungan antara suara bel dan sebuah batu yang jatuh ke dalam air. Hal ini memungkinkan Da Vinci untuk membuat hubungan bahwa suara mengalir melalui gelombang-gelombang. Samuel Morse menciptakan stasiun-stasiun penghubung untuk tanda-tanda telegraf ketika memperhatikan stasiun-stasiun penghubung untuk kuda-kuda.

6. Berpikir secara berlawanan. Ahli ilmu fisika Niels Bohr percaya bahwa jika andamemegang pertentangan secara bersamaan, kemudian anda menyingkirkan pikiran anda dan akal anda bergerak menuju tingkatan yang baru. Kemampuannya untuk membayangkan secara bersamaan mengenai suatu partikel dan suatu gelombang mengarah pada konsepsinya tentang prinsip saling melengkapi. Dengan menyingkirkan pikiran (logis) dapat memungkinkan akal anda untuk menciptakan sesuatu yang baru.

7. Berpikir secara metafor. Aristotle menganggap metafora sebagai tanda yang jenius, dan percaya bahwa individual yang memiliki kapasitas untuk menerima persamaan antara dua keberadaan yang berbeda dan menghubungkannya adalah individual yang punya bakat kusus.

8. Persiapkan diri anda untuk menghadapi kesempatan. Bilamana kita mencoba sesuatu dan gagal, kita akhirnya mengerjakan sesuatu yang lain. Hal ini adalah prinsip pertama dari kekreatifan. Kegagalan dapat menjadi produktif hanya jika kita tidak terfokus pada satu hal sebagai suatu hasil yang tidak produktif. Sebaliknya, menganalisa proses, komponen-kompnen dan bagaimana anda dapat mengubahnya untuk memperoleh hasil yang lain. Jangan bertanya, ?Mengapa saya gagal?? melainkan ?Apa yang telah saya lakukan??

Diadaptasi dengan seijin: Michalko, Michael, Thinking Like a Genius: Eight strategies used by the super creative, from Aristotle and Leonardo to Einstein and Edison (New Horizons for Learning) seperti yang dilihat dari http://www.newhorizons.org/wwart_michalko1.html, (June 15, 1999) Artikel ini pertama kali diterbitkan di THE FUTURIST, May 1998 Michael

Michalko adalah pengarang buku Thinkertoys (A Handbook of Business Creativity), ThinkPak (A Brainstorming Card Set), dan Cracking Creativity: The Secrets of Creative Geniuses (Ten Speed Press, 1998).

Juli 6, 2009

Sumber bahan pencemar udara

Sumber bahan pencemar udara ada lima macam yang merupakan penyebab utama (sekitar 90%) terjadinya pencemaran udara global di seluruh dunia yaitu:

  1. Gas karbon monoksida, CO
  2. Gas-gas nitrogen oksida, NOx
  3. Gas hidrokarbon, CH
  4. Gas belerang oksida, SOx
  5. Partikulat-partikulat (padat dan cair)

Gas karbon monoksida merupakan bahan pencemar yang paling banyak terdapat di udara, sedangkan bahan pencemar berupa partikulat (padat maupun cair) merupakan bahan pencemar yang sangat berbahaya (sifat racunnya sekitar 107 kali dari sifat racunnya gas karbon monoksida).

a. Gas karbon monoksida, CO

Karbon monoksida adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa, titik didih -192º C, tidak larut dalam air dan beratnya 96,5% dari berat udara. Reaksi-reaksi yang menghasilkan gas karbon monoksida antara lain:

  • Pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar atau senyawa­ senyawa karbon lainnya:

2 C + O 2 ? 2 CO

  • Reaksi antara gas karbon dioksida dengan karbon dalam proses industri yang terjadi dalam tanur:

CO2 + C ? 2 CO

  • Penguraian gas karbon dioksida pada suhu tinggi:

2 CO2 ? 2 CO + O 2

  • Gas karbon monoksida yang dihasilkan secara alami yang masuk ke atmosfer lebih sedikit bila dibandingkan dengan yang dihasilkan dari kegiatan manusia.

CO adalah gas buang yang sangat berbahaya bagi paru-paru. Bila terhirup akan  mengikat hemoglobin darah, sehingga pasokan O2 dalam darah akan berkurang. Kemampuan CO mengikat Hb 240 kali lipat dibanding O2. CO dalam darah menimbulkan beragam gangguan, tergantung kadarnya. Gas ini bisa menaikkan aliran darah hingga emosi mudah terpicu. Kadar COHb 10-20% atau sekitar 200 ppm menimbulkan sakit kepala, gangguan napas, bahkan kematian janin. Pada kadar yang lebih tinggi, misalnya 400 ppm, CO membuat pelipis berdenyut dan muntah – muntah, bahkan bisa menyebabkan pingsan, kolaps, koma, depresi jantung hingga kematian bila kadarnya diatas 2000 ppm.

b. Gas-gas Nitrogen oksida, NOx

Gas-gas Nitrogen oksida yang ada di udara adalah Nitrogen monoksida NO, dan Nitrogen dioksida NO2 termasuk bahan pencemar udara. Gas Nitrogen monoksida tidak berwarna, tidak berbau, tetapi gas nitrogen dioksida berwarna coklat kemerahan dan berbau tajam dan menyebabkan orang menjadi lemas. Reaksi-reaksi yang menghasilkan gas NO dan NO2 antara lain:

(1210 – 1765)ºC

2 N + O2  ? 2 NO

2 NO + O2 ? 2 NO

Merupakan buangan kendaraan bermotor. Unsur ini menyebabkan iritasi yang pada akhirnya mengubah fungsi paru, meningkatkan sensitivitas terhadap alergi,
Meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan, terutama pada penderita asma.

 c. Hidrokarbon CH

Sumber terbesar senyawa hidrokarbon adalah tumbuh­tumbuhan. Gas metana CH4 adalah senyawa hidrokarbon yang banyak dihasilkan dari penguraian senyawa organik oleh bakteri anaerob yang terjadi dalam air, dalam tanah dan dalam sedimen yang masuk ke dalam lapisan atmosfer:

2 (CH2O)n ? CO2 + CH4

Adalah senyawa organik yang mudah menguap dan reaktif. Hidrokarbon merupakan uap bensin yang tidak terbakar dan produk samping dari pembakaran tak sempurna. Beberapa hal yang bisa kita lakukan terutama bagi pengendara motor: Gunakan masker dengan kualitas baik yang mampu menutup hidung, mulut sampai ke leher. Bersihkan minimal setiap 2 hari sekali Gunakan helm yang benar-benar menutupi kepala, terutama hidung. Jangan lupa rajin mengonsumsi sayur dan buah, yang mengandung antioksidan tinggi sebagai  penangkal radikal bebas yang terdapat dalam cemaran udara

d. Gas-gas belerang oksida SOx

Gas belerang dioksida SO2 tidak berwarna, dan berbau sangat tajam. Gas belerang dioksida dihasilkan dari pembakaran senyawa­senyawa yang mengandung unsur belerang. Gas belerang dioksida SO2 terdapat di udara biasanya bercampur dengan gas belerang trioksida SO3 dan campuran ini diberi simbol sebagai SOx.

S + O2 ? SO2

2 SO2 + O 2 ? 2 SO3

e. Partikulat

Yang dimaksud dengan partikulat adalah berupa butiran-butiran kecil zat padat dan tetes-tetes air. Partikulat-partikulat ini banyak terdapat dalam lapisan atmosfer dan merupakan bahan pencemar udara yang sangat berbahaya.

Kalau lubang ozon sudah terpulihkan, apakah kemudian pemanasan global bisa teratasi? Ternyata studi terkini menunjukkan pulihnya lubang ozon di atas Antartika malah menyebabkan lebih banyak es mencair pada dekade mendatang. Ketika lubang ozon pulih, pola angin yang melindungi interior wilayah kutub dari udara yang hangat menjadi terbuka, mengakibatkan Antartika menghangat, demikian juga kondisi yang lebih hangat dan kering di Australia.

Kendati suhu global meningkat, interior Antartika mempunyai situasi yang unik karena cenderung mendingin pada musim panas dan gugur selama beberapa dasawarasa belakangan. Ilmuwan mengaitkan pendinginan tersebut dengan adanya lubang pada lapisan ozon yang mempengaruhi pola sirkulasi atmsofer dan memperkuat angin yang mengarah ke barat dan berputar-putar di dalam benua Antartika. Angin tersebut mengisolasi interior Antartika dari pola pemanasan, sebagaimana yang teramati pada semenanjuang Antartika serta bagian lain dunia.

Ozon amat mengkakis dan dipercayai sebagai bahan beracun dan bahan cemar biasa. Ozon mempunyai bau yang tajam, menusuk hidung. Ozon juga terbentuk pada kadar rendah dalam udara akibat arus listrik seperti kilat, dan oleh tenaga tinggi seperti radiasi eletromagnetik.

UV dikaitkan dengan pembentukan kanker kulit dan kerusakan genetik. Peningkatan tingkat uv juga mempunyai dampak kurang baik terhadap sistem imunisasi hewan, organisme akuatik dalam rantai makanan, tumbuhan dan tanaman. Penyerapan sinar UV berbahaya oleh ozon stratosfer amat penting untuk semua kehidupan di bumi.

Ozon di muka bumi

Ozon di muka bumi terbentuk oleh sinar ultraviolet yang menguraikan molekul O3 membentuk unsur oksigen. Unsur oksigen ini bergabung dengan molekul yang tidak terurai dan membentuk O3. Kadangkala unsur oksigen akan bergabung dengan N2 untuk membentuk nitrogen oksida; yang apabila bercampur dengan cahaya mampu membentuk ozon.

Lapisan ozon

Ozon adalah salah satu gas yang membentuk atmosfer. Molekul oksigen (O2) yang dengannya kita bernafas membentuk hampir 20% atmosfer. Pembentukan ozon (O3), molekul triatom oksigen kurang banyak dalam atmosfer di mana kandungannya hanya 1/3.000.000 gas atmosfer.

Kepentingan ozon

Ozon tertumpu di bawah stratosfer di antara 15 dan 30 km di atas permukaan bumi yang dikenal sebagai ‘lapisan ozon’. Ozon terhasil dengan pelbagai percampuran kimiawi, tetapi mekanisme utama penghasilan dan perpindahan dalam atmosfer adalah penyerapan tenaga sinar ultraviolet (UV) dari matahari.

Ozon (O3) dihasilkan apabila O2 menyerap sinar UV pada jarak gelombang 242 nanometer dan disingkirkan dengan fotosintesis dari sinar bagi jarak gelombang yang besar dari 290 nm. O3 juga merupakan penyerap utama sinar UV antara 200 dan 330 nm. Penggabungan proses-proses ini efektif dalam meneruskan ketetapan bilangan ozon dalam lapisan dan penyerapan 90% sinar UV.

Juni 25, 2009

Perubahan untuk SMK

Niat pemerintah melakukan pengembangan SMK tidak begitu saja bisa langsung terlaksana, khususnya terkait masih kurangnya tenaga pendidik.

Hal tersebut diutarakan oleh Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dr Baedhowi di Jakarta, Rabu (24/6). Baedhowi mengatakan, karena itulah, pihak pengelola SMK perlu membentuk kerja sama yang erat dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan instansi swasta terkait.

“Soal tenaga guru memang menjadi kendala, tetapi perlu diketahui bahwa niat pengembangan SMK ke depan tidak bisa begitu saja langsung terlaksana, perlu upaya kerja sama yang erat dengan pemerintah daerah dan instansi lain,” ujar Baedhowi.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan, SMK merupakan pilihan yang rasional di tengah kondisi perekonomian saat ini. ”Daripada dipaksakan ke SMA tetapi lulus tidak bisa ke mana-mana, menganggur, lebih baik ke SMK,” ucapnya.

Ia percaya bahwa pembangunan akan berjalan lebih baik jika negara ini lebih banyak memiliki SDM-SDM terampil sebagai operator pembangunan. ”Yang terjadi sekarang, jumlahnya kan belum proporsional (rasio SMK dan SMA). Maka, perlu terus ada perubahan mindset masyarakat. Kampanye SMK perlu terus dilakukan,” ucapnya.

Secara terpisah, Direktur Pembinaan SMK Depdiknas Joko Sutrisno mengatakan, pemerintah berupaya memperkuat tata kelola SMK melalui penerapan sistem manajemen mutu berbasis ISO 9001:2000 dan sekarang ISO 9001:2008.

Kualitas SMK menjadi sangat penting karena SMK mendidik para peserta didik yang nantinya terjun ke dunia kerja. Pada masa sekarang, pencari tenaga kerja menginginkan tenaga yang sangat kompeten dan kompetitif.

Joko mengatakan, pasar kerja yang terus berubah disikapi pula dengan berbagai penyesuaian kompetensi keahlian (dulu istilahnya, program keahlian). Terdapat banyak kompetensi keahlian yang dapat dipilih para lulusan SMP. Saat ini terdapat 121 kompetensi keahlian.

Selain itu, pemerintah menciptakan lulusan SMK yang lentur terhadap berbagai perubahan teknologi dan lingkungan bisnis nasional ataupun internasional. Kompetensi keahlian juga dirumuskan sedapat mungkin agar murid tidak sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.

Juni 25, 2009

Pelajar Indonesia Juara Dunia

JAKARTA, KOMPAS.com – Pelajar Indonesia kembali meraih prestasi gemilang di kancah internasional dengan menjuarai Global Enterprise Challenge (GEC) 2009. Tim Indonesia berhasil mengalahkan juara dunia tahun lalu, Selandia Baru, juara tahun 2007, Amerika Serikat, dan negara peserta dari lima benua, antara lain: Jerman, Australia, Selandia Baru, Skotlandia, Jepang, Afrika Selatan, Korea, dan Singapura.

Yohanes Surya, Ketua Surya Institute, di Jakarta, Rabu (25/6), mengatakan berita kemenangan tim Indonesia itu diumumkan oleh astronaut NASA Sandra Magnus, dalam suatu live web stream pada jam 14.30 GMT atau jam 21.30 WIB pada tanggal 23 Juni 2009.

Tim Indonesia yang menamakan diri Kelompok Spoon Corporated diwakili oleh Wismaya Adi Purnama (SMA Taruna Nusantara Magelang), Lita Gunawan (SMAK Yahya Bandung), Rizki Satrio Nugroho (SMA Madania Bogor), Evelyn Antoinette (Bina Bangsa School Jakarta), Asyraf Firas Abdurrasyid (SMAN 1 Bandung), dan Christa Yona Twedrian (SMA Regina Pacis Bogor).

Dengan menjuarai GEC di tahun 2009 ini, Indonesia menjadi negara Asia pertama yang memenangkan GEC sejak diluncurkan di Skotlandia pada tahun 2002. Saat ikut serta untuk pertama kalinya dalam GEC tahun 2008, Indonesia bau berada di peringkat keenam setelah berhasil mengalahkan Singapura. Sementara itu, Korea kembali memenangkan penghargaan kreatifitas dalam GEC 2009, mengulangi prestasi mereka tahun lalu dalam GEC 2008.

Anggota Tim Indonesia di GEC 2009 datang dari berbagai latar belakang dan sekolah, bekerja sama dalam satu tim untuk memecahkan challenge berupa simulasi masalah yang dirancang oleh NASA, yang disiarkan melalui internet secara bersamaan ke semua peserta di berbagai tempat penyelenggaraan lomba di dunia.

GEC adalah lomba inovasi dan entrepreneurial di antara kelompok para remaja usia 16-19 tahun, menggunakan teknologi internet dan menjangkau skala regional dan global. Tim-tim peserta dari seluruh dunia harus menjawab challenge atau persoalan yang diberikan oleh NASA dan disiarkan melalui internet dari Glasgow, Skotlandia.

Challenge yang diberikan menuntut tim peserta merancang suatu prototipe dan rencana bisnis/marketing untuk suatu produk yang bisa dipasarkan secara komersial, demi mencapai suatu tujuan. Semua konsep, rancangan prototipe, rencana bisnis, serta rekaman presentasi (yang durasinya maksimum hanya 3 menit) harus diselesaikan dalam waktu yang sangat terbatas, yaitu dalam 24 jam sejak challenge diterima. Umumnya, tujuan ini berhubungan dengan suatu obyektif sosial atau yang terkait dengan masalah lingkungan.

Saat ini sekitar 5000 siswa dari 200 sekolah/perguruan tinggi dari berbagai negara di lima benua berpartisipasi dalam GEC setiap tahunnya GEC didukung oleh NASA dan World Intellectual Property Organisation (WIPO), yang mana WIPO memberikan medali emas pada tim pemenang serta sertifikat pada masing2 anggota tim.

Tim Indonesia berkumpul bersama untuk mengikuti GEC sejak Senin 22 -24 Juni 2009 di Jakarta. Tahun ini latar belakang Challenge yang diberikan oleh NASA adalah bahwa setiap hari, satu milyar orang di dunia akan kelaparan, sementara rumah tangga di negara-negara G-20 membuang jutaan ton makanan sisa senilai milyaran dolar.

Challenge GEC tahun 2009 adalah bagaimana merancang suatu model dari suatu produk atau jasa yang inovatif, yang bisa mengurangi makanan terbuang (reduce food waste) di negara peserta serta sekaligus menolong mengatasi kelaparan di salahsatu negara termiskin di dunia.

Solusi harus dipresentasikan oleh setiap tim dalam bahasa Inggris kepada tim juri dalam bentuk rekaman maksimum 3 menit, disertai business plan, yang dikirim via internet ke para juri di Skotlandia, 24 jam setelah Challenge diberikan.

Pemenang ditentukan berdasarkan kombinasi pendekatan inovatif dan kreatif, pertimbangan cost-benefit dari produknya, efektifitas strategi pemasarannya terhadap target audience-nya, serta efektifitas penyampaian idenya dalam presentasinya selama maksimum 3 menit.

Juni 18, 2009

Penetapan Kurikulum Perlu Libatkan “Stakeholder”?

Ilustrasi: keterlibatan para pemangku kebijakan (stakeholder) sangat berguna untuk mendapatkan banyak masukan berharga mengenai hal-hal yang seharusnya menjadi fokus perkuliahan. Hal tersebut agar penguasaan ilmu dan teknik yang dipelajari sesuai kebutuhan di lapangan kerja.

JAYAPURA, KOMPAS.com — Penetapan kurikulum pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya dirumuskan pihak akademisi, melainkan melibatkan banyak pemangku kebijakan yang memahami bidang ilmu bersangkutan.

Pendapat tersebut diutarakan oleh Tim Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi, Dr Subagyo Pramumijoyo, di Jayapura, Rabu (17/6).

“Hal ini penting agar kurikulum yang menjadi panduan dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi dapat berjalan optimal dan hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan perkuliahan yang diharapkan,” kata Subagyo.

Selain itu, tambahnya, keterlibatan para pemangku kebijakan (stakeholder) sangat berguna untuk mendapatkan banyak masukan berharga mengenai hal-hal yang seharusnya menjadi fokus perkuliahan. Hal tersebut agar penguasaan ilmu dan teknik yang dipelajari sesuai kebutuhan di lapangan kerja.

Menurutnya, para pemangku kebijakan yang bisa dilibatkan dalam penyusunan kurikulum perkuliahan di suatu jurusan atau program studi itu antara lain para dosen, mahasiswa, alumni yang telah bekerja, pemerintah daerah, dan pihak-pihak yang menggunakan tenaga ahli atau lulusan. Masyarakat atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berkompeten di bidang pendidikan juga dapat diikutsertakan agar masukan dan rekomendasi yang didapatkan lebih beragam.

Lebih lanjut, Subagyo mencontohkan, penetapan kurikulum untuk Jurusan Teknik Pertambangan sebaiknya melibatkan para praktisi atau pihak perusahaan pertambangan yang beroperasi di Papua. Dari pihak praktisi pertambangan itu, institusi pendidikan tinggi dapat memperoleh informasi mengenai pentingnya aplikasi program komputer yang membantu dalam menyelesaikan pekerjaan di lapangan atau laboratorium.

Dengan demikian, aplikasi teknologi program komputer bisa menjadi bagian dari kurikulum pendidikan tinggi di jurusan Teknik Pertambangan. Keahlian mahasiswa pun bisa ditingkatkan.

“Sehingga jika nanti mahasiswa lulus, mereka sudah siap bekerja sesuai kebutuhan perusahaan dan kondisi lapangan yang membutuhkan keahlian tertentu,” ujar Subagyo.

Selain itu, dengan melibatkan pemangku kebijakan akan terjalin hubungan kerja sama yang harmonis. Sebab, hal itu akan memudahkan para alumni untuk mencari lahan pekerjaan sesuai bidang keahlian yang dikuasainya.

Di Papua, Universitas Cenderawasih (Uncen) merupakan perguruan tinggi tertua dan terbesar yang menjadi barometer pendidikan tinggi di wilayah paling timur Indonesia ini. Selain Uncen, banyak berdiri perguruan tinggi swasta lain yang membuka beragam jurusan dan program studi sehingga memudahkan masyarakat untuk memilih bidang ilmu sesuai minat dan bakat yang dimiliki untuk memenuhi pasar kerja di Papua.

Juni 18, 2009

Penyelesaian Soal Pengumuman UN

Ilustrasi: Para siswa melakukan konvoi sambil mencorat-coret baju seragamnya. Secara bergantian, mereka juga membubuhi seragam itu dengan tanda tangan. Tak sedikit pula bahkan mengecat rambutnya dengan berbagai warna.

JAKARTA, KOMPAS.com — Berbagai ketidakberesan dalam pengumuman kelulusan ssiwa SMA/SMK/MA tahun ajaran 2008/2009 akan diselesaikan secepatnya dalam minggu ini. Persoalan ini dijamin tidak merugikan siswa.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional Burhanuddin Tolla, di Jakarta, Rabu (17/6) malam, mengatakan, secara singkat semua masalah yang dijumpai dalam pengumuman UN sedang diselesaikan. “Tidak ada yang dirugikan bagi siswa, kecuali memang tidak lulus karena kemampuannya,” kata Burhanuddin.

Menurut Burhanuddin, jika ada masalah pendataan dari daerah, Puspendik memverifikasi. Kesalahan itu bisa terjadi karena kesalahan kode tes dan biodata, data siswa yang tidak lulus tahun lalu belum masuk untuk tahun 2009.

“Semua kesalahan tersebut bisa diperbaiki secara cepat dan tepat setelah berhubungan dengan daerah. Dalam minggu ini juga persoalan sudah diselesaikan,” jelas Burhanuddin.

Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSN) Mungin Eddy Wibowo enggan mengomentari berbagai persoalan dalam pengumuman kelulusan UN SMA/MA/SMK yang meresahkan siswa dan sekolah.

Juni 18, 2009

Guru Tidak Jujur Saat Pelaksanaan UN?

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas, Dr Badhowi menyatakan rasa prihatinnya terhadap sejumlah kepala sekolah dan guru di Tanah Air yang tidak jujur dalam pelaksanaan ujian nasional (UN) lalu.

“Ketidakjujuran Kepala Sekolah merupakan suatu keprihatinan. Sebenarnya ketidakjujuran itu ada dimana-mana dan bukan saja terjadi pada guru. Namun karena sosok guru merupakan cermin keteladanan maka kemudian menjadi sorotan,” katanya di sela konferensi internasional Best Practise bagi para kepala sekolah se-Asia Tenggara, di Jakarta, Rabu (17/6).

Kecurangan dan ketidakjujuran yang dilakukan kepala sekolah dan guru seperti yang terungkap setiap kali dalam pelaksanaan ujian nasional merupakan tindakan terkait administrasi dan edukatif.

“Kita bedakan masalah administratif dan edukatif. Masalah adminstrasi, sanksi dan sebagainya, itu kewenangannya pada siapa yang mengangkat mereka,” katanya.

Depdiknas mengambil porsi edukatif dengan memberikan pendekatan untuk menerapkan perilaku jujur di kalangan tenaga pendidikan karena implikasinya langsung kepada peserta didik.

“Sementara, kewenangan administrasi dalam bentuk sanksi hukum ada pada aparat dan kepala daerah dimana tindakan kecurangan tersebut terjadi,” katanya.

Terhadap guru yang tidak jujur tersebut Baedhowi menghimbau agar selalu bersikap jujur dalam melakukan proses pembelajaran.

“Guru jangan sampai menghilangkan waktu belajar, dalam ulangan sehari-hari, juga harus jujur dalam menilai peserta didik. Jangan anak pintar dikasih nilai kurang, anak yang kurang dikasih nilai baik. Itu juga suatu ketidakjujuran,” katanya.

Juni 11, 2009

Sampah menjadi Sumber Energi

Jepang-Tokyo terkenal dengan wilayah sempit, namun kini memiliki teknologi hijau dengan mengubah sampah menjadi listrik. Penduduk Tokyo yang berjumlah 12 juta-an jiwa menghasilkan satu kg lebih sampah perhari, dan menjadi masalah baru petugas dinas kebersihan sampah.

Setiap tahun selama beberapa dekade terakhir, kawasan Teluk Tokyo menimbun lebih dari 500.000 ton sampah an-organik yang kebanyakan plastik.

Para ahli mengkhawatirkan kapasitasnya akan penuh dalam 20 tahun, namun otoritas Tokyo kini memiliki rencana untuk mulai membakar tumpukan sampah plastik tanpa menghasilkan asap atau bau.
 
Dengan menerapkan teknologi ekologi terkini di Jepang, pabrik Pembakaran Sampah Toshima adalah satu diantara belasan perusahaan yang memonitor ketat level gas nitrogen oxida atau zat polusi yang menimbulkan masalah kesehatan dan lingkungan.

 “Kami mengoperasikan 21 pabrik pembakaran sampah dan fasilitas-fasilitasnya di kota yang padat penduduk seperti di Tokyo. Saya percaya hal ini masih tergolong langka dan belum pernah terjadi sebelumnya jika diukur dengan standar internasional, dimana pabrik-pabrik pembakaran sampah Tokyo juga mempunyai teknologi yang hebat dalam menjaga kebersihan lingkungan.” Ujar Yasuo Shina, Manager Pabrik Pembakaran Sampah.
 
Para petugas pabrik mengatakan bahwa tingkat kecanggihan dari sistem filter udara dengan temperatur tinggi dari pembakaran sampah, membuat substansi yang keluar dari cerobong asap setinggi 210 meter itu berupa uap air dan rendah karbondioksida.

Tampak terlihat pabrik sampah yang tidak berasap dan tidak berbau hidup harmonis berdampingan dengan komunitas lokal.

Sejumlah penduduk local pun menyambut gembira program ini.

“Saya belum pernah melihat asap keluar dari cerobong tinggi itu.” Ujar Koji Shimizu, salah seorang penduduk local.

“Menurut saya karena pembakaran sampah yang berstandar tinggi sehingga mereka menghasilkan dioxin yang sangat sedikit.” Ujar Akiko Mihara, penduduk local lainnya.

Penduduk sekitar pun berenang di kolam renang “air hangat indoor” yang dipanasi dengan pembakaran sampah. Sementara listrik yang dihasilkan juga membuat kota mendapatkan keuntungan ekstra sebesar 500.000 dollar dari surplus listrik yang dijual kepada perusahaan-perusahaan lokal.(NTD-News)

———————————————————————————————–

Brasil, negeri samba dan surga sepak bola, berhasil mengembangkan biofuel karena ada konsistensi. Pemakaian biofuel di Brasil dimulai pada 1973, saat terjadi krisis bahan bakar. Saat itu, 80 persen kebutuhan BBM diimpor. Pemerintah Brasil pun menetapkan Program Nasional Alkohol dan memberlakukan pemakaian bahan bakar alternatif. Pemerintah memberikan potongan pajak kepada produsen dan pengguna mobil etanol.

Brasil memilih biofuel dari singkong, jarak pagar, dan tebu. Dari ketiganya, yang paling maju adalah alkohol yang disuling dari tebu. Industri alkohol, selain pengolahan gula, bermunculan. Saat ini, jumlah kedua industri ini 307 unit. Lapangan kerja baru tumbuh di daerah perkebunan tebu. Menurut catatan Uniao de Agroindustria Canavieira de Sao Paulo (Asosiasi Agroindustri Tebu Sao Paulo), agrobisnis tebu menyerap satu juta tenaga kerja. Dengan luas 5,44 juta hektare (2004), lahan tebu Brasil terluas di dunia. Separuh dari produksi lahan itu (344 juta metrik ton) disulap jadi etanol. Setiap tahun luas lahan tebu tumbuh 6 persen, didorong oleh peningkatan permintaan dari industri pengolahan gula dan alkohol.

Seperti di Indonesia, agrobisnis tebu di Brasil berciri labour-intensive. Bagi warga Brasil, industri tebu menjadi sumber kesejahteraan, bahkan bagi pekerja berkualifikasi terendah sekalipun. Ini tidak ditemukan di industri lain. Industri berbasis tebu hanya membutuhkan biaya US$ 10 untuk menciptakan satu kesempatan kerja, lebih rendah ketimbang industri petrokimia (US$ 200), industri baja (US$ 145), industri otomotif (US$ 91), industri pengolahan bahan baku (US$ 70), dan industri produk konsumsi (US$ 44). Ini yang membuat Brasil jadi produsen etanol paling efisien dan termurah di dunia: biaya produksinya (sebelum pajak) US$ 17,5 per barel atau sekitar Rp 1.080 per liter. Sedangkan produsen etanol dari bahan baku jagung Amerika Utara menghabiskan biaya produksi US$ 44,1 per barel atau sekitar Rp 2.718 per liter.

Keberhasilan ini ditunjang kenyataan bahwa Brasil merupakan produsen tebu dan eksportir gula terbesar dunia. Pada 2003/2004, Brasil menghasilkan gula 20,4 juta ton dan etanol 14 miliar liter. Dari jumlah itu, 9,5 juta ton gula dan 12,7 miliar liter etanol dipakai untuk konsumsi domestik, sementara sisanya diekspor. Pada 2005, konsumsi biofuel Brasil mencapai 13 miliar liter. Jumlah itu berarti mengurangi 40 persen dari total kebutuhan bensin. Produksi etanol tumbuh 8,9 persen per tahun. Permintaan etanol terus meningkat karena harganya dipatok lebih rendah ketimbang harga bahan bakar fosil yang masih diimpor.

Biodiesel (dari singkong dan jarak pagar) juga berkembang pesat di Brasil. Jarak pagar ditanam di jutaan hektare lahan. Ini tak lepas dari langkah Liuz Inacio Lula da Silva. Begitu berkuasa, Presiden Brasil itu menjadikan biodiesel sebagai prioritas utama, dengan meluncurkan A Biodiesel Programme. Pada 2003, Brasil mengkonsumsi solar 38 miliar liter–6 miliar liternya berasal dari pasar impor. Dengan beragamnya bahan baku biodiesel, Brasil diperkirakan berpotensi menjadi pemain terkemuka biodiesel dunia.

Tidak seperti di Indonesia yang jadi sampah, ampas tebu di Brasil adalah berkah. Ampas ini dibakar untuk menghasilkan panas guna menjalankan penyaring dan mesin lain di pabrik. Untuk produksi, pabrik hanya membutuhkan setrum 60 megawatt dari 160 MW yang diproduksi. Akhirnya, pabrik etanol mendapat pemasukan ekstra dari penjualan listrik. Karena harganya cukup bersaing (US$ 30-40 per MWh), sumber listrik baru itu akan menjadi idola masa depan. Jika ampas diolah dengan teknologi canggih, bisa menghasilkan setrum 9.000 MW, 15 kali produksi PLTN di sana. Kekurangan setrum menjadi cerita usang. Akhirnya, industriwan di Brasil berbondong-bondong menginvestasikan duitnya untuk memajukan teknologi itu. Ongkos produksi etanol (US$ 0,63 per galon) pun jadi lebih murah dibanding bensin (US$ 1,05).

Permintaan terus tumbuh karena makin banyak mobil berbahan bakar etanol berseliweran di Brasil, dari mobil keluaran Fiat, General Motors, Ford, sampai Volkswagen. Hanya lima tahun setelah Program Nasional Alkohol dimulai, 90 persen mobil di sana telah menjadi mobil alkohol. Hebatnya lagi, industri alkohol mampu “memaksa” industri lain, terutama otomotif, menyesuaikan diri. Belakangan, pesawat terbang ringan ikut “minum” bensin tanam. Ipanema, pesawat berkursi tunggal EMB 202, telah mendapat lampu hijau untuk mengudara. Pesawat ini bakal dipakai untuk menyemprot lahan pertanian. Bakal menyusul 70 pesawat serupa.

Keberhasilan Brasil dalam mengembangkan energi terbarukan setidaknya disebabkan oleh empat hal. Pertama, soal kelembagaan. Perumusan kebijakan umum industri berbasis tebu berada di bawah wewenang Badan Pengembangan Gula dan Alkohol, sebuah badan di bawah Kementerian Pertanian. Badan ini bertugas memformulasi kebijakan sektor gula dan alkohol (dengan mengembangkan teknologi sosial dan perdagangan) untuk menciptakan produk yang berkualitas dan kompetitif. Kedua, mengoptimalkan pasar domestik. Tiap tahun dikeluarkan keputusan presiden untuk menetapkan range kadar alkohol yang dicampur dalam bensin yang dijual. Dengan cara ini, konsumsi alkohol domestik bisa digenjot. Produksi gula versus alkohol ini menjadi strategi Brasil untuk keluar dari jerat pasar gula dunia yang distortif.

Ketiga, dukungan finansial. Pemerintah menyediakan kredit berbunga rendah (11-12 persen, sementara bunga pasar 26 persen) kepada pengusaha dan petani yang mengembangkan energi terbarukan. Keempat, dukungan lembaga riset dan pengembangan. Di bawah The Brazilian Agriculture Research Corporation, sebuah badan di bawah Departemen Pertanian, dilakukan berbagai penelitian dan pengembangan bidang bioteknologi dengan orientasi pada terciptanya proses produksi agrobisnis yang modern, efisien, dan kompetitif. Dari empat faktor itu, di Indonesia baru ada dua: pasar domestik yang besar dan lembaga riset (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, perguruan tinggi, dan lain-lain). Sementara terhadap kelembagaan dan dukungan finansial, perlu dilakukan rekayasa. Kedua faktor ini termasuk paling krusial di Indonesia.

Bukan rahasia lagi, di Indonesia, koordinasi tidak jalan. Meskipun sudah ada otoritas tertinggi, implementasi di lapangan bisa mandek. Mindset perbankan selama bertahun-tahun juga mendiskriminasi sektor agro dengan cap unbankable. Tak ada yang meragukan bahwa Indonesia punya potensi energi terbarukan yang luar biasa: panas bumi, energi laut, matahari, biomassa, dan lain-lain. Namun, tanpa menyelesaikan dua faktor kritikal di atas, mustahil pengembangan energi terbarukan akan berhasil.

Juni 10, 2009

Bahan Bakar dari Limbah

Oleh trubusid

Di atas wastafel di sebuah rumah di Bojonggede, Kabupaten Bogor, Siti Aisyah membersihkan ikan mujair dan lele. Ia mengeluarkan isi perut kedua ikan itu dan membungkusnya dalam kantong plastik ganda, lalu membuangnya jauh. ‘Kalau dibuang di tempat sampah depan rumah malah berceceran dimakan kucing,’ kata perempuan 20 tahun itu. Padahal, jika diolah perut ikan itu menghasilkan minyak sebagai bahan bakar kompor.

Selain perut ikan atau sohor sebagai jeroan, bagian tubuh satwa perairan itu seperti kepala, ekor, dan tulang, juga potensial sebagai bahan bakar. Bahkan ikan busuk sekalipun. Potensi limbah ikan itu amat besar. Sebagai gambaran, volume limbah pengalengan ikan di Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, saja mencapai 50-60 ton per bulan. Perusahaan farmasi dan makanan memang menyuling limbah itu menjadi senyawa aktif omega 3. ‘Namun, jumlahnya masih tetap melimpah,’ kata Ir Kristio Budiasmoro MSi, peneliti Universitas Sanata Darma (USD), Yogyakarta.

Ia membuktikan limbah ikan potensial sebagai bahan bakar. Menurut kepala Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Darma itu limbah ikan kaya minyak. Untuk mengolahnya pun sederhana. Mula-mula ia memotong-motong limbah itu dan memanaskan hingga terbentuk minyak. Alumnus Universitas Gadjah Mada itu memanaskan kembali minyak ikan pada suhu 60oC. Lantas, ia menambahkan pelarut semipolar dan campuran asam kuat asam sulfat serta air aki hingga diperoleh bilangan asam 3 mg KOH/g minyak.

‘Rendemen limbah ikan mencapai 68%,’ kata Kristio. Itu artinya untuk 1 liter minyak bakar hanya perlu 1,6 kg limbah ikan. Agus Unggul ST dari Fakultas Sains dan Teknologi di USD menguji daya bakar minyak limbah ikan. Hasilnya, nilai panas minyak ikan lebih tinggi dibandingkan minyak bakar fosil, tetapi di bawah minyak tanah. Nilai panas minyak ikan 9.270 kal/g; minyak bakar fosil 8.760 kal/g; dan minyak tanah 11.000 kal/g. Kandungan air minyak limbah ikan lebih tinggi dibanding minyak tanah, 10,4% : 2,5%.

Biaya untuk menghasilkan 1 liter minyak limbah ikan Rp2.167-Rp3. 500. Kristio memang baru membuatnya dalam skala laboratorium. Namun, dengan cara yang sama, Saint Peter’s, pabrik pengolah ikan di Amerika Serikat mampu memanfaatkan limbahnya untuk menggerakkan 10 truk dan 8 bus angkutan bagi 1.500 karyawannya setiap hari. Pabrik itu menghasilkan 1.135.000 liter biodiesel per tahun dari kepala, kulit, dan organ 25-juta kg ikan.

Limbah tapioka

Penghematan energi listrik maupun fosil dengan memanfaatkan limbah secara besar-besaran dilakukan Budi Acid Jaya Tbk di Way Abung, Lampung. Produsen tepung tapioka terbesar di Indonesia itu melakukan penghematan biaya produksi sebesar Rp18,2-miliar/ tahun. Pabrik yang memproses 800 ton singkong/hari itu mengolah 2.800 m3 limbah/hari untuk menghasilkan energi listrik sebesar 2,2 megawatt.

Sebelumnya, limbah hasil proses produksi tepung tapioka itu hanya diolah dengan mengendapkannya di kolam-kolam agar kandungan chemical oxygen demand COD berkurang. ‘Butuh banyak kolam yang besar-besar untuk menampung limbah itu,’ kata Ir Sudarmo Tasmin, wakil presiden PT Budi Acid Jaya Tbk. Oleh sebab itu, pengolahan limbah menyita lahan lebih luas dibandingkan pabriknya sendiri. Selain itu kolam-kolam itu mengeluarkan gas metan cukup tinggi lantaran tidak tertutup.

Seiring peningkatan harga solar dan tarif dasar listrik, Budi Acid Jaya melakukan inovasi berupa pendirian instalasi biogas berbahan limbah tapioka. ‘Itu juga sejalan dengan komitmen perusahaan terhadap Protokol Kyoto untuk mereduksi limbah methan,’ kata Sudarmo. Awal 2007 silam, instalasi pengolahan limbah mulai beroperasi dengan investasi pendirian mencapai US$1-juta.

Ternyata, pengolahan limbah itu tak cuma menghasilkan listrik untuk menjalani seluruh produksi. Budi Acid Jaya juga memperoleh tambahan pendapatan melalui penjualan CER certified emission reduction ke salah satu perusahaan di Jepang. CER merupakan sertifikat yang dikeluarkan oleh PBB untuk perusahaan yang berhasil menurunkan jumlah emisi dan limbah. Sertifikat itu kemudian diperjualbelikan ke perusahaan-perusaha an yang memiliki kewajiban menurunkan emisi limbahnya sesuai perjanjian Kyoto. Jumlah emisi yang berhasil diturunkan Budi Acid Jaya mencapai 230.000 CERs. Sebanyak 140.000 CERs terjual dengan harga US$1,7-juta. Itu sebagai pemasukan tambahan karena mengolah limbah.

Briket sampah

Energi yang paling mudah diciptakan adalah briket sampah. Bahan bakunya hanya sampah organik seperti kayu-kayu sisa, daun-daun kering, makanan sisa, dan kertas. Cara pembuatannya mirip pembuatan arang. Bahan-bahan itu dibakar sampai berbentuk arang berwarna hitam pekat. Saat bara api merata ke seluruh bagian bahan, segera disiram air. Hasil berupa arang itu ditumbuk menggunakan alat penumbuk atau martil. Kemudian tambahkan daun-daun tanaman segar yang lunak dan tinggi kandungan air.

Daun-daunan itu dapat diambil dari sisa-sisa sampah pasar atau sayuran seperti bayam, kangkung, atau sawi yang sudah terbuang. Persentase komposisi bahan pembuatan briket organik adalah 80% arang sampah organik kering dan 20% campuran daun segar. Jadi, bila dicampurkan 800 g sampah organik butuh 200 g daun segar. Setelah tercampur rata, adonan dicetak dengan ukuran dan bentuk sebagai briket. Briket itu dijemur di bawah sinar matahari sampai kering. Tanda-tanda briket sudah kering dengan cara meletakkan dan mengangkatnya di telapak tangan. Briket kering terasa ringan dan jelaga di permukaan tidak terlalu mengotori telapak tangan.

Langkah-langkah itu dilakukan oleh warga Kampung Panoram, Purwakarta, Jawa Barat, guna membuat bahan bakar kompor untuk memasak. Dengan begitu, mereka tak perlu waswas menunggu kedatangan mobil pengangkut minyak tanah dan berdiri dalam antrean yang mengular panjang. (Vina Fitriani/Peliput: Andretha Helmina)

Adopted by @_pararaja from Pusat Produksi Bersih Nasional.

Juni 10, 2009

Biofuel Pacu Pemanasan Global, Bukan Menghambat

CHICAGO (AFP) – Sebuah hasil studi yang dirilis pada Sabtu lalu kembali mengingatkan bahwa penggunaan bahan bakar hayati bisa mempercepat ketimbang menghambat pemanasan global. Caranya, proses pemanenan bahan bakar itulah yang justru mengipasi kehancuran hutan hujan tropis.

Pernah disanjung-sanjung sebagai solusi atas krisis bahan bakar minyak, bahan bakar hayati berkembang semakin kontroversial karena dampaknya terhadap kenaikan bahan pangan dan ongkos energi yang dibutuhkan untuk proses produksinya. Bahan bakar hayati juga bertanggung jawab memompa karbon dioksida lebih banyak ke atmosfer daripada yang bisa mereka hemat sebagai substitusi yang ramah lingkungan dari bahan bakar fosil.

“Jika kita membuat mobil-mobil kita berjalan dengan biofuel yang diproduksi di (negara) tropis, itu sama saja kita membakar hutan hujan itu dalam tangki gas mobil kita,” kata Holly Gibbs dari Woods Institute for the Environment, Stanford University, dalam forum American Association for the Advancement of Science.

Gibbs mempelajari foto-foto satelit dari hutan tropis sejak 1980 sampai 2000. Dari sana ia mendapati bahwa setengah dari lahan perkebunan baru berasal dari penggundulan hutan yang masih perawan. “Ketika pohon-pohon itu ditebangi demi membuka lahan pertanian baru, pohon-pohon itu biasanya dibakar, membuat karbon simpanannya terlepas begitu saja ke atmosfer sebagai karbon dioksida,” dia menjelaskan.

Untuk tanaman perkebunan seperti tebu, butuh 40-120 tahun untuk bisa menghimpun jumlah karbon itu kembali ke dalam Bumi. Adapun tanaman yang lebih pendek seperti kedelai butuh lebih lama lagi, 300 sampai 1.500 tahun.

“Biofuel telah membunyikan alarm karena cepatnya tingkat produksi dan pertumbuhannya: produksi etanol global telah meningkat empat kali dan biodiesel 10 kali sepanjang 2000-2007,” ujar Gibbs, “Lebih-lebih, subsidi pertanian di negara-negara seperti Indonesia dan Amerika Serikat menyediakan insentif tambahan untuk peningkatan produksi jenis tanaman ini.”

Sumber : koran tempo 17 Februari 2009

Adopted by @_pararaja from Pusat Produksi Bersih Nasional.

Juni 10, 2009

TEKNIK – TEKNIK DALAM PERCOBAAN BERBAHAYA

Percobaan-percobaan dalam laboratorium dapat meliputi berbagai jenis pekerjaan diantaranya mereaksikan bahan-bahan kimia, destilasi, ekstraksi, memasang peralatan, dan sebagainya. Masing-masing teknik dapat mengandung bahaya yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Tentu saja bahan tersebut sangat berkaitan dengan penggunaan bahan dalam percobaan, sehingga susah untuk memisahkan bahaya antara teknik dan bahan. Walaupun demikian, dapat kiranya diuraikan secara tersendiri dan bersifat umum dari bahaya berbagai macam teknik dan bahan, sehingga memungkinkan untuk memperkecil dan memperkirakan bahaya yang dapat timbul dalam kaitanyya dengan teknik dan bahan yang digunakan.

A. Reaksi Kimia
Semua reaksi kimia menyangkut perubahan energi yang diwujudkan dalam bentuk panas. Kebanyakan reaksi kimia disertai dengan pelepasan panas (reaksi eksotermis), meskipun adapula beberapa reaksi kimi yang menyerap panas (reaksi endotermis). Bahaya dari suatu reaksi kimia terutama adalah karena proses pelepasan energi (panas) yang demikian banyak dan dalam kecepatan yang sangat tinggi, sehingga tidak terkendalikan dan bersifat destruktif (merusak) terhadap lingkungan, termasuk operator/orang yang melakukannya.

Banyak kejadian dan kecelakaan di dalam laboratorium sebagai akibat reaksi kimia yang hebat atau eksplosif (bersifat ledakan). Namun kecelakaan tersebut pada hakikatnya disebabkan oleh kurangnya pengertian atau apresiasi terhadap faktor-faktor kimia-fisika yang mempengaruhi kecepatan reaksi kimia. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan suatu reaksi kimia adalah konsentrasi pereaksi, kenaikan suhu reaksi, dan adanya katalis.

Sesuai denga hukum aksi masa, kecepatan reaksi bergantung pada konsentrasi zat pereaksi. Oleh karena itu, untuk percobaan-percobaan yang belum dikenal bahayanya, tidak dilakukan dengan konsetrasi pekat, melainkan konsentrasi pereaksi kira-kira 10% saja. Kalau reaksi telah dikenal bahayanya, maka konsetrasi pereaksi cukup 2 – 5 % saja sudah memadahi. Suatu contoh, apabila amonia pekat direaksikan dengan dimetil sulfat, maka reaksi akan bersifat eksplosif, akan tetapi tidak demikian apabila digunakan amonia encer.

Pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi kimia dapat diperkirakan dengan persamaan Arhenius, dimana kecepatan reaksi bertambah secara kesponensial dengan bertambahnya suhu. Secara kasar apabila suhu naik sebesar 10 oC, maka kecepatan reaksi akan naik menjadi dua kali. Atau apabila suhu reaksi mendadak naik 100 oC, ini berarti bahwa kecepatan reaksi mendadak naik berlipat 210 = 1024 kali. Di sinilah pentingnya untuk mengadakan kendali terhadap suhu reaksi, misalnya dengan pendinginan apabila reaksi bersifat eksotermis. Suatu contoh asam meta nitrobenzensulfonat pada suhu sekitar 150 oC akan meledak akibat reaksi penguraian eksotermis. Campuran kalium klorat, karbon, dan belerang menjadi eksplosif pada suhu tinggi atau jika kena tumbukan, pengadukan, atau gesekan (pemanasan pelarut). Dengan mengetahui pengarauh kedua faktor di atas maka secara umum dapatlah dilakukan pencegahan dan pengendalian terhadap reaksi-reaksi kimia yang mungkin bersifat eksplosif.

B. Pemanasan.
Pemanasan dapat dilakukan dengan listrik, gas, dan uap. Untuk laboratorium yang jauh dari sarana tersebut, kadang kala dipakai pula pemanas kompor biasa. Pemanasan tersebut biasanya digunakan untuk mempercepat reaksi, pelarutan, destilasi, maupun ekstraksi.

Untuk pemanasan pelarut-pelarut organik (titik didih di bawah 100 oC), seperti eter, metanol, alkohol, benzena, heksana, dan sebagainya, maka penggunaan penangas air adalah cara termurah dan aman. Pemanasan dengan api terbuka, meskipun dengan bagaimana api sekecil apapun, akan sangat berbahaya karena api tersebut dapat menyambar (meloncat) ke arah uap pelarut organik. Demikian juga pemanasan dengan hot plate juga berbahaya, karena suhu permukaan dapat jauh melebihi titik nyala pelarut organik.

Pemanasan pelarut yang bertitik didih lebih dari 100 oC, dapat dilakukan dengan aman apabila memakai labu gelas borosilikat dan pemanas listrik (heating matle). Pemanas tersebut ukurannya harus sesuai besarnya labu gelas. Penangas minyak dapat pula dipakai meskipun agak kurang praktis. Walaupun demikian penangas pasir yang dipanaskan dengan terbuka, tetap berbahaya untuk bahan-bahan yang mudah teerbakar. Untuk keperluan pendidikan, pemanas bunsen dengan dilengkapi anyaman kawat (wire gause) cukup murah dan memadahi untuk bahan-bahan yang tidak mudah terbakar.

C. Destruksi.
Dalam analisis kimia terutama untuk mineral, tanah, atau makanan, diperlukan destruksi contoh agar komponen-komponen yang akan dianalisis terlepas dari matriks (senyawa-senyawa lain). Biasnya reaksi destruksi dilekukan dengan asam seperti asam sulfat pekat, asam nitrat, asam klorida tanpa atau ditambah atau ditambah peroksida seperti persulfat, perklorat, hidrogen peroksida, dan sebagainya. Selain itu, biasanya reaksi juga harus dipanaskan untuk mempermudah proses destruksi. Jelas dalam pekerjaan destruksi terkumpul beberapa faktor bahaya sekaligus, yaitu bahan berbahaya (eksplosif) dan kondisi suhu tinggi yang menambah tingkat bahaya.

Oleh karena itu, destruksi harus dilakukan amat berhati-hati, diantaranya adalah dengan:
1. Pelajari dan ikuti prosedur kerja secara seksama, termasuk pengukuran jumlah reagen secara tepat dan cara pemanasannya.
2. Percobaan dilakukan dalam almari asam. Hati-hati dalam membuka dan menutup pintu almari asam pada saat proses destruksi berlangsung.
3. Lindungi diri dengan kacamata/pelindugn muka dan sarung tangan pada setiap kali bekerja.
4. Terutama bagi para pekerja baru atau yang belum berpengalaman, diperlukan supervisi atau konsultasi dengan yang lebih berpengalaman.
Dengan cara di atas akan dapat dicegah terjadinya ledakan yang dapat mengakibatkan luka oleh pecahan kaca atau percikan bahan-bahan kimia yang panas dan korosif.

D. Destilasi.
Destilasi merupakan proses gabungan antara pemanasan dan pendinginan uap yang terbentuk sehingga diperoleh cairan kembali yang murni. Bahaya pemanasan cairan dapat dihindari dengan memperhatikan sub-bab pemanasan. Dalam pemanasan cairan biasanya ditambahkan batu didih (boililng chips), untuk mencegah pendidihan yang mendadak (bumping). Batu didih yang berpori perlu diganti setiap kali akan melakukan destilasi kembali. Untuk destilasi hampa udara (vacum destilation), aliran udara melalui kapiler ke dalam bagian bawah labu dapat merupakan pengganti batu didih.

Bahaya yang sering timbul dalam pendingin Leibig adalah kurang kuatnya selang air baik dari keran maupun yang menuju pipa pendingin. Lepasnya selang air dapat menyebabkan banjir dan proses pendinginan tidak berjalan dan uap cairan berhamburan ke dalam ruangan laboratorium. Oleh karena itu, terutama untuk destilasi yang terus-menerus atau sering ditinggalkan, hubungan selang dengan keran dan pipa pendingin perlu diikat dengan kawat.
Labu didih yang terbuat dari gelas perlu dipilih yang kuat. Labu didih bekas atau yang telah lama dipakai, diperiksa terlebih dahulu terhadap kemungkinan adanya keretakan atau scratch. Hal ini penting, terlebih-lebih untuk destilasi vakum. Apabila pemanasan yang dipakai adalah penangas air, maka perlu diingat bahwa suhu permukaan bak penangas yang terbuat dari logam, dapat melebihi titik nyala dari pelarut yang dalam labu. Dengan demikian, harus dapat dihindarkan kontak antara cairan dengan permukaan penangas, baik pada saat mengisi labu destilasi dengan cairan maupun pemasangan atau pembongkaran peralatan destilasi.

E. Refluks.
Refluks juga merupakan gabungan anrara pemanasan cairan dan pendinginan uap, tetapi kondensat yang terbentuk dikembalikan ke dalam labu didih. Karena prosesnya mirip dengan destilasi, maka bahaya teknik tersebut serrta cara pencegahannya adalah sama dengan teknik destilasi.

F. Pengukuran Volume Cairan
Memipet cairan atau larutan dalam volume tertentu dengan pipet, secara umum tidak diperkenankan memakai mulut untuk menghindari bahaya tertelan dan kontaminasi. Uap dan gas beracun dapat larut dalam air ludah (saliva). Memakai pompa karet (rubber bulb) untuk mengisi pipet merupaian cara yang paling aman dan praktis, meskipun memerlukan sedikit latihan. Sedangkan untuk cairan yang korosif dapat dilakukan dengan pipet isap (hypodermic syringe).

Apabila menuangkan cairan korosif dari sebuah botol, lindungi label botol terhadap kerusakan oleh tetesan cairan. Untuk menuangkan cairan ke dalam gelas ukur bermulut kecil, perlu dipakai corong gelas agar tidak tumpah.

G. Pendinginan.
Karbon dioksida padat (dry ice) dan nitrogen cair adalah pendingin yang sering dipakai. Keduanya dapat membakar atau “menggigit” kulit, sehingga dalam penanganannya harus memakai sarung tangan dan pelindung mata. Karbon dioksida dapat dipakai bersama-sama dengan pelarut organik untuk menambah pendinginan. Karena banyak terbentuk gas (penguapan) maka pelarut yang digunakan harus nontoksik dan tidak mudah terbakar. Propana-2-ol lebih baik daripada pelarut organik terklonisasi atau aseton yang mudah terbakar.

Notrogen cair biasa dipakai sebagai “trap” uap air dalam destilasi vakum, agar air tidak merusak pompa. Dalam pendinginan tersebut udara dapat pula tersublimasi menjadi padat, termasuk oksigen dan hal ini berbahaya bila bercampur dengan bahan organik. Labu Dewar tempat nitrogen cair perlu pula dilindungi dengan logam agar tidak berbahaya bila pecah.

Baik karbon dioksida mapun nitrogen mempunyai berat jenis yang lebih berat daripada udara, sehingga dapat mendesak udara untuk pernafasan. Oleh karena itu, bekerja dengan kedua pendingin tersebut perlu dalam ruang yang berventilasi baik atau di ruang terbuka. Dalam transportasi di gedung bertingkat, keduanya sama sekali tidak boleh diangkut melewati lift penumpang. Kemacetan lift yang dapat terjadi sewakti-waktu, dapat berakibat fatal karena gas tersebut akan mendesak oksigen dan kematian tidak dapat dihindarkan.

H. Perlakuan Terhadap Silika.
Silika dalam bentuk partikel-partikel kecil yang terserap ke dalam paru-paru dapat menimbulkan penyakit silikosis. Percobaan-percobaan dalam kromatorgrafi lapis tipis, banyak memakai bubuk halus silika gel. Hindarkanlah bubuk halus tersebut, karena dapat terjadi hamburan di dalam ruang udara pernafasan kita.

Asbes juga merupakan sumber partikel silika dan dengan panjang serat sebesar 5 mikron sangat berbahaya. Asbes sebagai bahan isolasi panas dalam laboratorium perlu dilapisi lagi dengan bahan yang dapat mencegah partikel halus beterbangan di udara tempat kita bernafas.

Glass wool apabila tidak hancur tidaklah berbahaya bagi paru-paru. Akan tetapi serat-serat glass wool tersebut sangat halus dan tajam serta dapat masuk ke dalam kulit apabila dipegang langsung oleh tangan kita. Ini akan menimbulkan gatal-gatal atau sakit dan oleh karena itu memegang glass wool harus dengan penjepit dari logam atau plastik.

I. Perlakuan Terhadap Air Raksa.
Percobaan-percobaan dengan manometer atau polarografi selalu memakai air raksa yang cukup berbahaya karena sifat racunnya (NAB = 0,05 mg/m3). Tetesan-tetesan air raksa dapat melenting atau meloncat tanpa dapat dilihat oleh mata kita, dan pecah berhamburan di atas meja kerja. Partikel-partikel kecil ini juga sukar kita lihat apalagi kalau sampai masuk ke celah-celah atau retakan-retakan meja. Apabila tidak hati-hati, maka ruang di mana kita bekerja dapat jenuh dengan uap air raksa. Udara ruangan yang jenuh dengan uap air raksa berarti telah jauh melebihi nilai ambang batas (NAB) uap air raksa tersebut.

Untuk menghindari bahaya tesebut di atas, daerah kerja dengan air raksa perlu dipasang dulang (tray) yang diisi air, agar percikan air raksa dapat dikumpulkan. Ventilasi yang baik sangat diperlukan, dan apabila tidak ada, maka bekerja dalam ruangan yang terbuka jauh lebih aman daripada dalam ruangan tertutup.

J. Bekerja Dengan Peralatan Sinar Ultraviolet dan Sinar X.
Banyak pekerjaan yang dilakukan dengan peralatan yang memancarkan cahaya ultraviolet (UV) seperti spektrofotometer atau kromatografi lapis tipis (TLC). Cahaya ultraviolet dapat merusak, dan terutama kerusakan pada korena mata. Oleh karena itu, harus dapat dihindarkan keterpaan cahaya ultraviolet pada mata, baik pada saat membuka peralatan spektrofotometer maupun pada saat menyinari noda-noda kromatografi lapis tipis (TLC) dengan cahaya ultraviolet.

Peralatan yang memakai sinar-X, seperti fluoresensi atau difraksi sinar-X, lebih berbahaya lagi bila tidak dilakukan dengan hati-hati. Sinar-X mempunyai daya tembus yang kuat dan dapat merusak sel-sel tubuh. Usaha untuk menghindari serta melindungi diri terhadap kemungkinan keterpaan radiasi sinar-X (yang tak dapat dilihat oleh mata) merupakan suatu keharusan dalam bekerja dengan peralatan tersebut.

Dengan sendirinya, hal yang sama pula dilakukan bila kita bekerja dengan peralatan yang memancarkan sinar gamma yang lebih kuat daripada snar-X.

Adopted by @_pararaja from : www.chemcareasia.wordpress.com

Juni 10, 2009

Bahan Beracun di Pekarangan Indonesia

Siapa mau kondom bekas, tak tanggung-tanggung, 25 ton sekaligus? Atau 6.000 ton kedelai yang terkontaminasi virus dari luar negeri? ”Masak sih ada yang impor? Jijay (jijik) deh. Apa komentar Pak Menteri?” kata Dewi Motik Pramono, pengusaha dan tokoh wanita dalam suatu forum yang diadakan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), awal Juni lalu.

Ketika itu, KLH mengundang sejumlah tokoh masyarakat, artis, dan wartawan untuk berbincang-bincang santai tentang berbagai masalah lingkungan. Nah, soal impor ilegal limbah B3 alias ”limbah bahan beracun dan berbahaya” pun sempat disinggung, termasuk perihal kondom bekas tadi. Petugas Bea dan Cukai Pelabuhan Tanjung Priok menyita puluhan ton kondom dalam kontainer, tahun lalu.

Barang-barang karet itu ditahan karena masuk kategori limbah klinis berbahaya. Karena itu, sang kondom harus diekspor ulang ke negara asal, yakni Jerman dan Vietnam. Tapi, hingga Mei lalu, kondom-kondom itu masih juga tertahan. Apa lacur, rupanya Jerman dan Vietnam menolak kehadiran barang bekas untuk keperluan pribadi itu.

Urusan limbah B3 ini terhitung dilematis. Di satu sisi, demikian kata Masnellyarti Hilman, Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan KLH, kehadiran limbah B3, baik resmi maupun tidak, merupakan peluang bisnis yang tergolong menggiurkan. ”Jadi, ada saja pengusaha Indonesia yang coba-coba dan tertarik untuk mengolahnya,” ujar Nelly –sapaan Masnellyarti Hilman.

Namun, di sisi lain, impor limbah B3 bisa membahayakan lingkungan. Meski ada pengawasan, penyelundupan limbah B3 berulang kali terjadi. Hampir tiap tahun, ada saja laporan yang beredar tentang impor haram B3. ”Sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia rentan terhadap perpindahan limbah B3,” kata Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar.

Karena itu, ketika menjadi tuan rumah Konvensi Basel, 23-28 Juni di Bali, yang membahas lalu lintas limbah B3, Indonesia mengambil peran besar. Lewat konvensi itu, Indonesia berpeluang banyak melindungi kawasannya. ”Konvensi ini akan melindungi kesehatan dan lingkungan hidup kita dari kontaminasi limbah B3,” tutur Rachmat.

Sebenarnya Indonesia sudah punya perangkat hukum menyangkut limbah B3. Salah satunya adalah Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999. Pasal 1 beleid itu menyebutkan, yang dimaksud dengan limbah B3 adalah ‘’setiap limbah yang mengandung bahan berbahaya, beracun yang karena sifat, konsentrasinya, atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat merusak, mencemarkan lingkungan hidup, dan dapat membahayakan kesehatan manusia”.

Melihat definisi yang luas itu, tentu jenis limbah berkategori B3 jadi sangat banyak. Dari survei yang dilakukan KLH saja, setidaknya pada saat ini ada sekitar 5.500 bahan kimia berbahaya dan beracun yang keluar-masuk Indonesia. ”Untuk mencegah pencemaran lingkungan B3, jumlah bahan kimia yang beredar dan masuk ke wilayah Indonesia harus diawasi, termasuk perpindahan lintas batas, terutama untuk bahan kimia yang dilarang dan terbatas penggunaannya,” kata Rachmat.

Menurut laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI) 2006, yang diterbitkan KLH, pintu masuk utama impor B3 itu tak lain Pelabuhan Tanjung Priok sebesar 67,76%. Jumlah ini meningkat 6,38% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Angka itu merupakan realisasi impor B3 yang tercatat pada 12 kantor pelayanan bea dan cukai utama.

Umumnya, unsur B3 ini banyak dipakai untuk aktivitas industri nasional, baik dalam skala besar maupun unit rumah tangga (lihat: Limbah B3 dari Berbagai Kegiatan). Namun B3 tak melulu ditemukan di sana, melainkan juga merembes pada sejumlah lokasi perkebunan dan pertanian. Misalnya, laporan SLHI menyebutkan, terdapat setidaknya delapan senyawa kimia yang masuk dalam kelompok persistent organic pollutants (POPs) di lingkungan perkebunan atau pertanian yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

POPs adalah bahan kimia beracun yang biasa digunakan sebagai bahan aktif pestisida atau insektisida. Ia awet, tidak gampang berubah, dan yang gawat: dapat terakumulasi di dalam tubuh makhluk hidup (bersifat bioakumulasi). Apalagi, ia bisa berpindah tempat melalui udara, air, dan makhluk hidup yang jauh dari sumbernya; bertumpuk dalam lingkungan teresterial atau lingkungan berair. Karena itu, bisa dibayangkan jika B3 menyelinap masuk ke pekarangan dan meracuni penghuni rumah. Ia dapat menyebabkan gangguan kesehatan hingga kematian (lihat: Jika Terpapar Limbah B3).

POPs sudah dilarang penggunaannya, tapi masih banyak beredar akibat penggunaan di masa lalu. ”Tidak mudah melacaknya karena informasi tentang sisa senyawa atau residu POPs ini sangat sedikit,” kata Rasio Ridho Sani, Deputi Bidang Pengelolaan B3 dan Limbah B3 KLH, kepada Cavin R. Manuputty dari Gatra.

Walau begitu, Roy –begitu Rasio Ridho Sani biasa disapa– juga melihat masih ada yang menggunakan POPs secara ilegal. Misalnya, KLH telah melacak POPs pada sejumlah air sungai di kawasan pertanian atau perkebunan di enam kabupaten di Sumatera dan Jawa. POPs hanya ditemukan di Lampung, Brebes, dan Malang dalam wujud DDT (dichlorodiphenyl-trichloroethane) atau turunannya, yang sering digunakan untuk insektisida.

Namun jumlahnya masih relatif rendah dengan kisaran 0,0009-0,0086 ppb. Walaupun POPs yang terdeteksi di air sungai itu rendah, keberadaan senyawa ini tetap perlu dipantau. ”Ini untuk melihat kecenderungan sisa penggunaan POPs di masa lalu atau untuk melihat kemungkinan adanya penggunaan baru senyawa POPs secara ilegal di lokasi itu,” tutur Roy.

Hasil pantauan KLH terhadap jejak POPs pada sedimen dan tanah pertanian agak lebih besar. Mayoritas senyawa POPs yang terdeteksi adalah DDT atau turunannya, dengan kisaran 0,82-336 ppb. Konsentrasi senyawa turunan DDT paling tinggi berada di Lampung, tapi khusus senyawa induk DDT terdeteksi paling tinggi berada di Karawang (26,1 ppb). Kondisi ini, menurut Roy, perlu mendapat perhatian khusus, karena bisa jadi DDT telah digunakan lagi di kawasan tersebut.

Selain memantau jejak B3, limbah beracun ini juga harus ”dicuci” melalui proses 3R, yakni reduce (mengurangi), recycle (daur ulang), dan reuse (menggunakan kembali). Menurut laporan SLHI, setidaknya ada 1.681.536,268 ton limbah B3 yang telah dimanfaatkan lewat 3R pada 2006. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terjadi peningkatan volume sebesar 65,6%.

Sepanjang 2007, Indonesia tercatat memproduksi 10 juta ton limbah B3 yang berasal dari berbagai kegiatan dan aktivitas industri nasional. Sebanyak 1.872 ton di antaranya diekspor ke negara lain. Belum ada data tentang berapa yang dimanfaatkan dan diolah lagi. Manfaat mengolah kembali B3 ini tentu sangat banyak. Selain mengurangi dampak lingkungan dan konservasi sumber daya, juga menambah nilai ekonomi.

Di samping menjalankan proses 3R, KLH juga melakukan upaya lain, misalnya mengadakan upaya registrasi unsur-unsur beracun itu dan menerapkan sistem perizinan pengelolaan limbah. Jumlah izin pengelolaan limbah B3 yang diterbitkan selama periode Januari-September 2006 mencapai 491 izin. Memang terjadi peningkatan pemberian izin untuk mengolah limbah, tapi di sisi lain ini juga menunjukkan bahwa prinsip 3R telah berjalan dan menjadi prioritas.

Agar lebih afdol, KLH telah lama menerapkan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan atau Proper. Ini merupakan program alternatif yang diharapkan dapat mendorong industri secara sukarela memenuhi ketentuan pengelolaan lingkungan yang baik, berdasarkan peraturan yang berlaku. Kini puluhan industri besar dan kecil ikut serta dalam Proper.

Walau begitu, tak ada gading yang tak retak. Sisa-sisa B3 memang masih banyak yang harus diolah (lihat: Sisa B3 dari Pertambangan, Energi, dan Migas). Padahal, pabrik pengolah limbah B3 yang ada pada saat ini cuma satu, yakni PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) di kawasan Bogor, Jawa Barat. Jika dibiarkan, dampaknya bisa terasa sampai ke anak-cucu.

Sumber : Digilib – AMPL

Adopted by @_pararaja from Pusat Produksi Bersih Nasional.

Juni 10, 2009

PENGENALAN BAHAN KIMIA BERACUN DAN BERBAHAYA SERTA TEKNIK PREPARASI BAHAN

A. PENGENALAN BAHAN B3

1. Petunjuk umum untuk menangani buangan sampah.
Semua bahan buangan atau sampah seharusnya dikumpulkan menurut jenis bahan tersebut. Bahan-bahan tersebut ada yang dapat didaur ulang dan ada pula yang tidak dapat didaur ulang. Bahan yang termasuk kelompok bahan buangan/sampah yang dapat di daur ulang antara lain gelas, kaleng, botol baterai, sisa-sisa konstruksi bangunan, sampah biologi seperti tanaman, buah-buahan, kantong the dan beberapa jenis bahan-bahan kimia. Sedangkan bahan-bahan buangan yang tidak dapat didaur ulang atau yang sukar didaur ulang seperti plastik hendaknya dihancurkan. Karena belum ada aturan yang jelas dalam cara pembuangan jenis sampah di Indonesia, maka sebelum sampah dibuang harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan pengurus atau pengelola laboratorium yang bersangkutan.

2. Bahan-bahan buangan yang umum terdapat di laboratorium.
1. Fine chemicals.
Fine chemicals hanya dapat dibuang ke saluran pembuangan atau tempat sampah jika :
a. Tidak bereaksi dengan air.
b. Tidak eksplosif (mudah meledak).
c. Tidak bersifat radioaktif.
d. Tidak beracun.
e. Komposisinya diketahui jelas.
2. Larutan basa.
Hanya larutan basa dari alkali hidroksida yang bebas sianida, ammoniak, senyawa organik, minyak dan lemak dapat dibuang kesaluran pembuangan. Sebelum dibuang larutan basa itu harus dinetralkan terlebih dahulu. Proses penetralan dilakukan pada tempat yang disediakan dan dilakukan menurut prosedur mutu laboratorium.
3. Larutan asam.
Seperti juga larutan basa, larutan asam tidak boleh mengandung senyawa-senyawa beracun dan berbahaya dan selain itu sebelum dibuang juga harus dinetralkan pada tempat dan prosedur sesuai ketentuan laboratorium.
4. Pelarut.
Pelarut yang tidak dapat digunakan lagi dapat dibuang ke saluran pembuangan jika tidak mengandung halogen (bebas Fluor, Clorida, Bromida, dan Iodida). Jika diperlukan dapat dinetralkan terlebih dahulu sebelum dibuang ke saluran air keluar. Untuk pelarut yang mengandung halogen seperti kloroform (CHCl3) sebelum dibuang harus dilakukan konsultasi terlebih dahulu dengan pengurus atau pengelola laboratorium tempat dimana bahan tersebut akan dibuang.
5. Bahan mengandung merkuri.
Untuk bahan yang mengandung merkuri (seperti pecahan termometer merkuri, manometer, pompa merkuri, dan sebagainya) pembuangan harus ekstra hati-hati. Perlu dilakukan konsultasi terlebih dahulu dengan pengurus atau pengelola laboratorium sebelum bahan tersebut dibuang.
6. Bahan radiokatif.
Sampah radioaktif memerlukan penanganan yang khusus. Otoritas yang berwenang dalam pengelolaan sampah radioaktif di Indonesia adalah Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN).
7. Air pembilas.
Air pembilas harus bebas merkuri, sianida, ammoniak, minyak, lemak, dan bahan beracun serta bahan berbahaya lainnya sebelum dibuang ke saluran pembuangan keluar.

3. Penanganan Kebakaran dan Simbol-simbol Bahaya.
Beberapa bahan kimia seperti eter, metanol, kloroform, dan lain-lain bersifat mudah terbakar dan mudah meledak. Apabila karena sesuatu kelalaian terjadi kecelakaan sehingga mengakibatkan kebakaran laboratorium atau bahan-bahan kimia, maka kita harus melakukan usaha-usaha sebagai berikut:
a. Jika apinya kecil, maka lakukan pemadaman dengan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
b. Matikan sumber linstrik/ gardu utama agar listrik tidak mengganggu upaya pemadaman kebakaran.
c. Lokalisasi api supaya tidak merember ke arah bahaan mudah terbakar lainnya.
d. Jika api mulai membesar, jangan mencoba-coba untuk memadamkan api dengan APAR. Segera panggil mobil unit Pertolongan Bahaya Kebakaran (PBK) yang terdekat.
e. Bersikaplah tenang dalam menangani kebakaran, dan jangan mengambil tidakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

4. Bahan-bahan Berbahaya serta Karsinogenik.
Tabel di bawah memuat daftar beberapa bahan-bahan kimia beerbahaya dan karsinogenik yang sering dijumpai di laboratorium-laboratorium kimia baik di Indonesia maupun di luar negeri.

B. TEKNIK PREPARASI
Preparasi merupakan teknik laboratorium yang sangat penting dikuasai oleh setiap kimiawan. Tanpa pengetahuan dan ketrampilan yang memadahi dalam teknik preparasi ini, maka akan sangat sulit untuk menjalankan eksperimen/percobaan kimia secara baik dan benar di laboratorium. Menjalankan eksperimen dengan baik dan benar juga menyangkut efisiensi dan tidak membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain baik yang ada disekitarnya maupun yang berada di tempat lain. Bagai mahasiswa pemula agar mereka kelak dapat melakukan eksperimen kimia secara baik dan benar maka perlu dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan teknik preparasi.

Tulisan ini akan memaparkan beberapa penegetahuan penting yang harus dikuasai oleh para pemula dalam disiplin ilmu kimia.

1. Konsentrasi Larutan.
Beberapa jenis konsentrasi yang perlu diketahui dan yang sering digunakan di laboratorium antara lain:
1. Molaritas (M).
Molaritas menyatakan banyaknya mol zat terlarut yang terdapat di dalam satu liter larutan.
Misal akan di buat larutan NaOH 0,1 M sebanyak 1000 mL.
Diketahui bahwa Mr NaOH = 40
Maka ini berarti bahwa 1 mol NaOH massanya adalah 40 g.
Sehingga untuk 0,1 mol NaOH massanya adalah 4 g. Untuk membuat larutan NaOH 0,1 M sebanyak 1000 mL, maka sebanyak 4 gram kristal NaOH dilarutkan ke dalam akuades sedemikian rupa sehingga volume larutannya adalam 1000 mL atau 1 L.
2. Normalitas (N).
Normalitas menyatakan banyaknya gram ekuivaleen (grek) zat terlarut yang terdapat dalam satu liter larutan.
3. Molalitas (m).
Molalitas adalah menyatakan banyaknya mol zat terlarut yang terdapat dalam satu kilogram pelarut.
4. Fraksi mol (X).
Fraksi mol adalah perbandingan antara jumlah mol zat terlarut dalam larutan terhadap jumlah mol total zat-zat yang ada dalam larutan (pelarut dan zat terlarut)..
5. Persen (%).
Ada beberapa macam penyataan persentase yang sering digunakan di laboratorium, antara lain:
a. persen volume/volume (v/v), menyatakan banyaknya spesies kimia yang ada di dalam larutan yang dinyatakan dalam satuan mL per 100 mL larutan.
b. Persen berat/volume (b/v), menyatakan banyaknya spesien kimia yang ada di dalam larutan yang dinyatakan dalam satuan berat (gram) per 100 gram larutan.
c. Persen berat/berat, menyatakan banyaknya spesies kimia yang ada di dalam larutan atau campuran/padatan yang dinyatakan dalam satuan gram per 100 gram larutan atau campuran atau padatan.

2. Penyiapan Alat.
Alat yang akan digunakan dalam eksperimen atau percobaan kimia harus disesuaikan dengan jenis dari bahan yang akan ditangani. Bahan-bahan tersebut dapat berupa cairan, padatan, atau gas.
a. Bahan-bahan berupa cairan.
Untuk menangani bahan berupa cairan diperlukan alat-alat gelas seperti Gelas Ukur, Pipet Gondok, Labu Takar, Erlenmeyer, Corong, dan lain-lainnya.
b. Bahan-bahan berupa padatan.
Untuk menangani bahan berupa padatan, terutama padatan dalam bentuk serbuk dibutuhkan alat-alat sebagai berikut: Alat Timbang, Gelas Arloji, Spatula/Sendok Sungu, Corong, dan Erlenmeyer.
c. Bahan-bahan berupa gas.
Untuk menangani bahan-bahan berupa gas diperlukan alat-alat dengan spesifikasi standar yang telah ditentukan untuk setiap jenis gas. Hal ini dikarenakan setiap jenis gas mempuynyai karakteristik dan resiko yang dihadapi oleh pengguna lebih tinggi daripada bila menangani bahan-bahan cair maupun padatan.


3. Hasil Reaksi atau Isolasi.
Kebanyakan penelitian kimia eksperimental bertujuan untuk mengisolasi suatu senyawa dari suatu bahan atau memproduksi/ sintesis seuatu senyawa. Produk isolasi atau sintesis tersebut umumnya belum dalam keadaan murni, sehingga perlu dilakukan pemurnian terhadap zat hasil. Beberapa teknik pemurnian yang banyak dipakai dalam kimia eksperimental akan dibahas dalam pokok bahasan berikut.

4. Teknik Pemurnian.
a. Kristalisasi dan Rekristalisasi.
Kristalisasi adalah suatu teknik untuk mendapatkan bahan murni suatu senyawa. Dalam sintesis kimia banyak senyawa-senyawa kimia yang dapat dikristalkan. Untuk mengkristalkan senyawa-senyawa tersebut, biasanya dilakukan terlebih dahulu penjenuhan larutan kemudian diikuti dengan penguapan pelarut serta perlahan-lahan sampai terbentuk kristal. Pengkristalan dapat pula dilakukan dengan mendinginkan larutan jenuh pada temperatur yang sangat rendah di dlam lemari es atau freezer.

Rekristalisasi adalah suatu teknik pemurnian bahan kristalin. Seringkali senyawa yang diperoleh dari hasil suatu sintesis kiia memiliki kemurnian yang tidak terlalu tinggi. Untuk memurnikan senyawa tersebut perlu dilakukan rekristalisasi. Untuk merekristalisasi suatu senyawa kita harus memilih pelarut yang cocok dengan senyawa tersebut. Setelah senyawa tersebut dilarutkan ke dalam pelarut yang sesuai kemudian dipanaskan (direfluks) sampai semua senyawa tersebut larut sempurna. Apabila pada temperatur kamar, senyawa tersebut sudah larut secara sempurna di dalam pelarut, maka tidak perlu lagi dilakukan pemanasan. Pemanasan hanya dilakukan apabila senyawa tersebut belum atau tidak larut sempurna pada keadaan suhu kamar. Setelah senyawa/solut tersebut larut sempurna di dalam pelarut baik dengan pemanasan maupun tanpa pemanasan, maka kemudian larutan tersebut disaring dalam keadaan panas. Kemudian larutan hasil penyaringan terssebut didinginkan perlahan-lahan sampai terbentuk kristal.

Salah satu faktor penentu keberhasilan proses kristalisasi dan rekristalisasi adalah pemilihan zat pelarut. Pelarut yang digunakan dalam proses kristalisasi dan rekristalisasi sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1) Memiliki gradient temperatur yang besar dalam sifat kelarutannya.
2) Titik didih pelarut harus di bawah titik lebur senyawa yang akan di kristalkan.
3) Titik didih pelarut yang rendah sangat menguntungkan pada saat pengeringan.
4) Bersifat inert (tidak bereaksi) terhadap senyawa yang akan dikristalkan atau direkristalisasi.

Apabila zat atau senyawa yang akan kita kritalisasi atau rekristalisasi tidak dikenal secara pasti, maka kita setidak-tidaknya kita harus mengenal komponen penting dari senyawa tersebut. Jika senyawa tersebut adalah senyawa organik, maka yang kita ketahui sebaiknya adalah gugus-gugus fungsional senyawa tersebut. Apakah gugus-gugus tersebut bersifat hidrofobik atau hidrofilik. Dengan kata lain kita minimal harus mengetahui polaritas senyawa yang akan kita kristalkan atau rekristalisasi. Setelah polaritas senyawa tersebut kita ketahui kemudian dipilihlah pelarut yang sesuai dengan polaritas senywa tersebut.

b. Sublimasi.
Sublimasi adalah peristiwa penguapan secara langsung padatan kristalin ke dalam fasa uap. Contoh klasik sublimasi adalah penguapan kamfer (kapus barus). Sublimasi dapat digunakan sebagai metode pemurnian padatan kristalin. Beberapa senyawa kimia dapat menyublim pada temperatur dan tekanan kamar, namun banyak yang beru dapat menyublim apabila tekanan diturunkan. Untuk mendapatkan bahan murni, fasa uap bahan tersublim didinginkan secara perlahan-lahan sehingga terbentuk kristal.


c. Destilasi.

Destilasi juga merupakan salah satu teknik memurnikan senyawa kimia. Senyawa yang akan dimurnikan harus berupa cairan. Destilasi bekerja berdasarkan perbedaan titik didih senyawa-senyawa di dalam larutan. Senyawa-senyawa yang dimurnikan akan terpisah berdasarkan perbedaan titik didihnya. Senyawa-senyawa dengan titik didih rendah akan terpisah terlebih dahulu diikuti dengan senyawa-senyawa yang memiliki titik didih yang lebih tinggi.

5. Uji Kkemurnian.
Untuk mengetahui kemurnian suatu senyawa hasil pemurnian seperti yang telah dijelaskan di atas, maka digunakan beberapa teknik uji kemurnian bahan yang relatif sederhana seperti uji titik leleh, uji indeks bias, uji berat jenis, uji titik didih, dan uji kekentalan (viskositas).

1. Uji titik leleh.
Uji titik leleh merupakan salah satu teknik uji kemurnian bahan padat yang cukup akurat terutama jika titik leleh bahan telah diketahui sebelumnya. Titik leleh bahan murni dapat dilihat pada table spesifikasi bahan yang tersedia di perpustakaan laboratorium. Akan tetapi untuk bahan-bahan yang sama sekali baru, teknik ini juga dapat digunakan. Bahan-bahan murni umumnya memiliki interval titik leleh yang sempit.

2. Uji indeks bias.
Indeks bias suatu cairan dapat digunakan sebagai faktor penentu kemurnian bahan. Namun demikian seperti juga metode titik leleh, metode uji indeks bias ini lebih tepat untuk digunakan sebagai tes uji kemurnian bahan yang indeks bias bahan murninya telah diketahui dengan pasti terelbih dahulu. Untuk bahan-bahan yang sama sekali baru, maka metode uji indeks bias ini juga dapat diterapkan dengan hati-hati.

3. Uji berat jenis.
Uji berat jenis merupakan salah satu teknik uji kemurnian yang cukup akurat. Archimedes menguji kemurnian emas mahkota raja berdasarkan prinsip uji berat jenis ini. Setiap zat murni mempunyai berat jenis yang spesifik yang dapat digunakan sebagai dasar pengujian bahan.

4. Uji titik didih.
Uji titik didih juga dapat digunakan untuk mengetahui kemurnian suatu bahan. Uji ini dapat diterapkan pada senyawa berujud cairan yang bahan cair murninya telah diketahui titik didihnya secara pasti. Uji titik didih senyawa murni dapat dilihat pada tabel di buku katalog di perpustakaan laboratorium. Untuk bahan-bahan lain yang titik didik murninya belum diketahui secara pasti, uji titik didih ini dapat dilakukan dengan hati-hati.

5. Uji kekentalan.
Uji kekentalan dapat dilakukan untuk mengetahui kemurnia suatu bahan. Bahan-bahan cair yang dalam keadaan murni memiliki kekentalan yang khas dan berbeda dari senyawa yang lain. Uji ini dapat dilakukan untuk senyawa/ bahan cair yang kekentalannya telah diketahui secara pasti. Data kekentalan berbagai bahan murni dapat dilihat pada buku katalog bahan di perpustakaan laboratorium. Untuk bahan-bahan lain yang kekentalannya belum diketahui secara pasti maka uji ini dapat dilakukan secara hati-hati.

Adopted by @_pararaja from : http://chemcareasia.wordpress.com

Juni 3, 2009

Kloning Embrio melalui Rekayasa dan Pembuatan Kembar Identik serta Pembekuan dengan Metode Vitrifikasi

Arief Boediono, Kusdiantoro M, Yohan Rusyiantono, Ita Djuwita, dan Yuhara Sukra
Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor

Limbah rumah potong hewan berupa ovarium sebagai sumber sel gamet betina (oosit) melalui bioteknologi dapat dimanfaatkan menjadi produk berharga berupa embrio melalui teknik fertilisasi in vitro. Keberhasilan fertilisasi in vitro ini akan menunjang produksi embrio identik yang merupakan salah satu teknik kloning, transfer genetik, dan teknik lain yang terkait. Sebagai upaya penyediaan embrio massal dan pengoptimuman potensi embrio, penelitian ini bertujuan (1) mengembangkan produksi embrio kambing dengan metode fertlisasi in vitro, (2) mengembangkan teknik bedah mikro untuk mendapatkan embrio paruh guna mendapatkan embrio kembar monozigotik, (3) menghitung jumlah sel embrio utuh dan embrio paruh sebagai parameter keberhasilan teknik bedah mikro, dan (4) membekukan embrio dengan metode vitrifikasi.


Penelitian dilakukan secara paralel terhadap produksi embrio kambing melalui teknik fertilisasi in vitro, evaluasi abnormalitas komposisi kromosom, produksi embrio kembar identik dan pembekuan embrio dengan metode vitrifikasi. Oosit dikoleksi melalui aspirasi ovarium yang memiliki atau tidak memiliki corpus luteum (CL). Keberadaan CL diamati pengaruhnya terhadap jumlah folikel yang diaspirasi (diameter 2-5 mm), jumlah folikel dominan (diameter > 5mm), bobot serta ukuran ovarium.


Sperma (ejakulat dan beku) diamati viabilitasnya dalam media fertilisasi (Brackett and Oliphant medium, BO, dan TCM-199) dengan menghitung konsentrasi spermatozoa hidup dan konsentrasi spermatozoa yang memiliki motilitas progresif pada 0, 3, 6, dan 24 jam inkubasi. Produksi embrio secara in vitro dilakukan dengan melakukan fertilisasi oosit matang dengan spermatozoa yang diseleksi dengan metode swim up. Kultur in vitro untuk mencapai tahap blastosis dilakukan dalam media CR1aa sampai hari ke-9 atau Gl.2 sampai hari ke-3 dan selanjutnya pada G2.2 sampai hari ke-9 pada suhu 38.5oC dalam kondisi kadar oksigen yang rendah (O2 5%, C02 5%, dan N2 90%).


Rata-rata jumlah sel embrio kambing pada tahap blastosis yang diproduksi melalui teknik fertilisasi in vitro ialah 88 sel per embrio dengan rata-rata indeks mitotik sebesar 17.3. Abnormalitas komposisi kromosom pada embrio kambing sebanyak 35.5% dengan komposisi 1N/2N, 2N/3N/4N, dan 2N/4N. Embrio kambing pada tahap perkembangan morula dan blastosis dikloning dengan metode bedah mikro. Pemotongan embrio utuh dilakukan tanpa pipet holding, tetapi dengan modifikasi pisau silet. Tingkat keberhasilan pemotongan embrio pada tahap morula dan blastosis tidak berbeda.


Teknik pembekuan dengan metode vitrifikasi dilakukan dengan menggunakan pembekuan secara terbuka dalam bentuk tetes maupun secara tertutup dalam straw 0.25 ml. Media vitrifikasi yang digunakan terdiri atas etilena glikol 40%, trehalosa 0.4M, dan polivinil-pirolidon (PVP) 10%. Viabilitas embrio kambing setelah vitrifikasi dengan metode terbuka dalam drop lebih baik (P<0.5) daripada dengan metode tertutup dalam straw. Penambahan PVP dan trehalosa mmberikan pengaruh positif terhadap viabilitas embrio setelah vitrifikasi. Pengaruh ini terlihat jelas pada pembekuan embrio-paruh.

Adopted by @_pararaja from Hibah Bersaing VII

Juni 3, 2009

Campuran Batu Bara Air Lokal sebagai Bahan Bakar Alternatif Pengganti Minyak : Ciri Pembakaran dan Pengembangan Prototipe Nosel Burner

Toto Hardianto, TA Fauzi Soelaiman, Aryadi Suwono
Laboratorium Termodinamika, PPAU-IR, Institut Teknologi Bandung

Berdasarkan perkiraan teoretis, Indonesia memiliki cadangan batu bara sekitar 36 miliar ton yang setara dengan kebutuhan energi kalor pembakaran Indonesia selama 350 tahun. Akan tetapi 70% di antaranya ialah batu bara peringkat rendah (lignit), yang kandungan airnya sangat tinggi sehingga nilai kalor pembakarannya rendah dan tidak dapat memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan untuk pemakaian dalam negeri (PLN, industri, produksi briket) maupun untuk komoditas ekspor. Oleh karena itu perlu diusahakan agar batu bara tersebut dapat dipakai sebagai sumber energi termal (bahan bakar) yang layak. Proses yang dapat dilakukan ialah menaikkan mutu batu bara dan kemudian memfungsikannya sebagai pengganti bahan bakar minyak dengan modifikasi sedikit-dikitnya peralatan yang semula memakai bahan bakar minyak. Hal ini memungkinkan pada sektor industri dan sektor pembangkit tenaga yang banyak memakai burner bahan bakar minyak, yang sangat dominan bila dilihat dari sisi kuantitas pemakaian bahan bakar.


Penelitian ini dipumpunkan pada pemakaian batu bara yang sudah ditingkatkan mutunya untuk pengganti bahan bakar minyak, yaitu sebagai bahan bakar pada burner industri. Batu bara terlebih dahulu dicampur dengan air yang selanjutnya disebut sebagai campuran batu bara air (CBA) dengan komposisi tertentu sehingga kekentalannya mirip dengan bahan bakar minyak berat. CBA digunakan langsung pada burner untuk dibakar. Pemahaman tentang ciri pembakaran yang meliputi segi pengkabutan CBA, konsentrasi batu bara pada CBA, nisbah CBA dan udara pada pengkabutannya, tekanan semprotan, dan bentuk nosel terlebih dahulu diperdalam. Selanjutnya dirancang dan dibuat prototipe nosel burner yang memenuhi harapan pembakaran CBA, lalu diuji di laboratorium.


Hasil pengujian menunjukkan bahwa modifikasi sistem nosel burner yang semula memakai minyak berat memungkinkannya untuk dipakai oleh CBA, dengan perhitungan daya kalor yang harus disesuaikan lagi. Bentuk batu bara menjadi CBA juga memudahkan cara pengangkutannya, yaitu dengan sistem jaringan pipa yang sebelumnya dipakai untuk sistem jaringan bahan bakar minyak. Hasil penelitian ini masih perlu dielaborasi untuk mendapatkan kondisi pembakaran yang stabil.


Penelitian ini merupakan bagian dari rangkaian penelitian jangka panjang terpadu mengenai usaha pemberdayaan hasil tambang batu bara Indonesia yang menjadi topik unggulan Laboratorium Termodinamika PPAU-IR-ITB pada 10 tahun terakhir, yang meliputi penelitian perbaikan dengan menggunakan steam drying dan coating, bricketing, transportasi CBA menggunakan pipa, dan perluasan materi penelitian pada gambut sebagai cikal bakal batu bara yang juga banyak ditemui di Indonesia.

Adopted by @_pararaja from Hibah Bersaing

Juni 3, 2009

Mencari Bentuk Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian bagi Sistem Pertanian Berbudaya Industri

Sumardjo
Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi, Institut Pertanian Bogor

Persaingan bebas di era globalisasi ekonomi dan peningkatan kesadaran konsumen atas mutu produk pertanian menuntut kemandirian petani. Kemandirian petani dicirikan antara lain oleh perilakunya yang modern, efisien, dan daya saing yang tinggi. Petani yang mandiri ialah mereka yang mempunyai kapabilitas mengelola usaha tani yang adaptif terhadap perubahan lingkungan sosial dan fisik. Petani mandiri juga dicirikan oleh kemampuan bekerja sama dengan pihak lain dalam usahanya secara saling menguntungkan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kesiapan petani, berupa tingkat kemandirian mereka dalam menghadapi tantangan, tuntutan yang berkembang menjelang dan di era globalisasi ekonomi tersebut. Selanjutnya, dirumuskan konsep model penyuluhan pertanian yang efektif untuk pengembangan kemandirian petani.


Penelitian dilakukan di empat kabupaten yang mewakili empat zona wilayah pertanian Jawa Barat, yaitu Indramayu (zona utara), Bandung (zona tengah), Cianjur (zona selatan), dan Bogor (Botabek). Responden terdiri atas 1.185 petani. Lokasi penelitian mewakili lahan sawah dan lahan kering; responden petani ditentukan dengan teknik stratified random sampling menurut konsep Rogers dan Schoemakers.


Secara umum, petani di Jawa barat masih memiliki tingkat kemandirian yang rendah, dengan skor nilai rata-rata secara kumulatif 65 dari skala maksimum 100. Skor rendah terutama dari segi perilaku daya saing, yaitu di bawah 50. Masih terdapat kesenjangan tingkat kemandirian di antara lapisan petani, terutama di zona selatan dan tengah Jawa Barat. Petani lapisan atas terutama telah mempunyai wawasan kemodernan dan keefisienan yang cukup baik, namun belum ditunjang dengan sikap dan keterampilan yang sejalan, sehingga perilaku daya saingnya pun menjadi sangat lemah. Kelemahan tersebut, khususnya segi daya saing dan keefisienan berkaitan erat dengan lemahnya aksesibilitas petani terhadap sarana produksi dan pemasaran hasil usaha tani. Pada saat ini, keterpaduan berbagai kelembagaan penunjang sistem agribisnis terhadap komitmen pengembangan usaha tani masih sangat lemah dan ini telah menjadi titik lemah penting dalam pengembangan penyuluhan pertanian yang dimaksudkan untuk pengembangan kemandirian petani.


Model penyuluhan dengan pendekatan model penyuluhan dialogis, hadap-masalah (humanis), dan dengan model komunikasi konvergen secara nyata lebih efektif untuk meningkatkan kemandirian petani dibandingkan model penyuluhan yang sentralistik, top-down (transfer of technology), dan dengan model komunikasi yang linear. Pada saat ini ada gejala transformasi implementasi penyuluhan dalam masyarakat pertanian di Jawa Barat dari pola penyuluhan yang berciri top-down, sentralistis dengan model komunikasi yang linear (dehumanis) menuju ke pola penyuluhan konvergen yang berciri partisipatif, desentralisitis dengan model komunikasi konvergen (humanis), dan karena itu penyuluhan makin berdampak pada meningkatnya kemandirian petani. Hal itu sejalan dengan makin menonjolnya peranan swasta dan LSM dalam praktik penyuluhan tersebut.

Adopted by @_pararaja from Hibah Bersaing

Mei 28, 2009

Polimerisasi

Polimerisasi adalah reaksi pembentukan rantai polimer organik yang panjang dan berulang. Polimerisasi digolongkan ke beberapa sistem: sistem adisi-kondensasi dan sistem pertumbuhan rantai bertahap. Bentuk lain dari polimerisasi adalah polimerisasi membuka cincin yang serupa dengan polimerisasi rantai.

Dua jenis utama dari reaksi polimerisasi adalah polimerisasi adisi dan polimerisasi kondensasi. Jenis reaksi yang monomernya mengalami perubahan reaksi tergantung pada strukturnya. Suatu polimer adisi memiliki atom yang sama seperti monomer dalam unit ulangnya, sedangkan polimer kondensasi mengandung atom-atom yang lebih sedikit karena terbentuknya produk sampingan selama berlangsungnya proses polimerisasi.

Meskipun istilah polimer lebih populer menunjuk kepada plastik, tetapi polimer sebenarnya terdiri dari banyak kelas material alami dan sintetik dengan sifat dan kegunaan yang beragam. Bahan polimer alami seperti shellac dan amber telah digunakan selama beberapa abad. Kertas diproduksi dari selulosa, sebuah polisakarida yang terjadi secara alami yang ditemukan dalam tumbuhan. Biopolimer seperti protein dan asam nukleat memainkan peranan penting dalam proses biologi.

Klasifikasi polimer

Berdasarkan sumbernya

  1. Polimer alami : kayu, kulit binatang, kapas, karet alam, rambut
  2. Polimer sintetis
    1. Tidak terdapat secara alami: nylon, poliester, polipropilen, polistiren
    2. Terdapat di alam tetapi dibuat oleh proses buatan: karet sintetis
    3. Polimer alami yang dimodifikasi: seluloid, cellophane (bahan dasarnya dari selulosa tetapi telah mengalami modifikasi secara radikal sehingga kehilangan sifat-sifat kimia dan fisika asalnya)

Berdasarkan jumlah rantai karbonnya

  1. 1 ~ 4 Gas (LPG, LNG)
  2. 5 ~ 11 Cair (bensin)
  3. 9 ~ 16 Cairan dengan viskositas rendah
  4. 16 ~ 25 Cairan dengan viskositas tinggi (oli, gemuk)
  5. 25 ~ 30 Padat (parafin, lilin)
  6. 1000 ~ 3000 Plastik (polistiren, polietilen, dll)

Polimerisasi adalah proses penggabungan molekul-molekul kecil menjadi molekul besar. Reaksi umumnya adalah sebagai berikut :

M CnH2n panah Cm+nH2(m+n)

Contoh polimerisasi yaitu penggabungan senyawa isobutena dengan senyawa isobutana menghasilkan bensin berkualitas tinggi, yaitu isooktana.

polimerisasi

Dua jenis utama dari reaksi polimerisasi adalah polimerisasi adisi dan polimerisasi kondensasi.

Polimer Adisi

Reaksi pembentukan teflon dari monomer-monomernya tetrafluoroetilen, disebut reaksi adisi. Perhatikan Gambar 7 yang menunjukkan bahwa monomer etilena mengandung ikatan rangkap dua, sedangkan di dalam polietilena tidak terdapat ikatan rangkap dua.

gbr110

Gambar 7. Monomer etilena mengalami reaksi adisi membentuk polietilena yang digunakan sebagai tas plastik, pembungkus makanan, dan botol. Pasangan elektron ekstra dari ikatan rangkap dua pada tiap monomer etilena digunakan untuk membentuk suatu ikatan baru menjadi monomer yang lain

Menurut jenis reaksi adisi ini, monomer-monomer yang mengandung ikatan rangkap dua saling bergabung, satu monomer masuk ke monomer yang lain, membentuk rantai panjang. Produk yang dihasilkan dari reaksi polimerisasi adisi mengandung semua atom dari monomer awal. Berdasarkan Gambar 7, yang dimaksud polimerisasi adisi adalah polimer yang terbentuk dari reaksi polimerisasi disertai dengan pemutusan ikatan rangkap diikuti oleh adisi dari monomer­monomernya yang membentuk ikatan tunggal. Dalam reaksi ini tidak disertai terbentuknya molekul-molekul kecil seperti H2O atau NH3.

Contoh lain dari polimer adisi diilustrasikan pada Gambar 8. Suatu film plastik yang tipis terbuat dari monomer etilen dan permen karet dapat dibentuk dari monomer vinil asetat.

gbr24

Gambar 8. Polietilen dan polivinil asetat adalah contoh polimer yang dibuat melalui polimerisasi adisi.

Dalam reaksi polimerisasi adisi, umumnya melibatkan reaksi rantai. Mekanisme polimerisasi adisi dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu:

gbr32

Sebagai contoh mekanisme polimerisasi adisi dari pembentukan polietilena

a)  Inisiasi, untuk tahap pertama ini dimulai dari penguraian inisiator dan adisi molekul monomer pada salah satu radikal bebas yang terbentuk. Bila kita nyatakan radikal bebas yang terbentuk dari inisiator sebagai R’, dan molekul monomer dinyatakan dengan  CH2 = CH2, maka tahap inisiasi dapat digambarkan sebagai berikut:

gbr4

b)   Propagasi, dalam tahap ini terjadi reaksi adisi molekul monomer pada radikal monomer yang terbentuk dalam tahap inisiasi

gbr5

Bila proses dilanjutkan, akan terbentuk molekul polimer yang besar, dimana ikatan rangkap C= C dalam monomer etilena akan berubah menjadi ikatan tunggal C – C pada polimer polietilena

gbr6

c)   Terminasi, dapat terjadi melalui reaksi antara radikal polimer yang sedang tumbuh dengan radikal mula-mula yang terbentuk dari inisiator (R’) CH2 – CH2 + R � CH2 – CH2- R atau antara radikal polimer yang sedang tumbuh dengan radikal polimer lainnya, sehingga akan membentuk polimer dengan berat molekul tinggi R-(CH2)n-CH2° + °CH2-(CH2)n-R’ � R-(CH2)n-CH2CH2-(CH2)n-R’ Beberapa contoh polimer yang terbentuk dari polimerisasi adisi dan reaksinya antara lain.

 

  • Polivinil klorida

n CH2 = CHCl   →   [ - CH2 - CHCl - CH2 - CHCl - ]n Vinil klorida polivinil klorida

  • Poliakrilonitril

n CH2 = CHCN →  [ - CH2 - CHCN - ]n

  • Polistirena

 

gbr7 

Polimer Kondensasi

Polimer kondensasi terjadi dari reaksi antara gugus fungsi pada monomer yang sama atau monomer yang berbeda. Dalam polimerisasi kondensasi kadang-kadang disertai dengan terbentuknya molekul kecil seperti H2O, NH3, atau HCl.

Di dalam jenis reaksi polimerisasi yang kedua ini, monomer-monomer bereaksi secara adisi untuk membentuk rantai. Namun demikian, setiap ikatan baru yang dibentuk akan bersamaan dengan dihasilkannya suatu molekul kecil – biasanya air – dari atom-atom monomer. Pada reaksi semacam ini, tiap monomer harus mempunyai dua gugus fungsional sehingga dapat menambahkan pada tiap ujung ke unit lainnya dari rantai tersebut. Jenis reaksi polimerisasi ini disebut reaksi kondensasi.

Dalam polimerisasi kondensasi, suatu atom hidrogen dari satu ujung monomer bergabung dengan gugus-OH dari ujung monomer yang lainnya untuk membentuk air. Reaksi kondensasi yang digunakan untuk membuat satu jenis nilon ditunjukkan pada Gambar 9 dan Gambar 10.

gbr81

 

Gambar 9. Kondensasi terhadap dua monomer yang berbeda yaitu 1,6 – diaminoheksana dan asam adipat yang umum digunakan untuk membuat jenis nylon. Nylon diberi nama menurut jumlah atom karbon pada setiap unit monomer. Dalam gambar ini, ada enam atom karbon di setiap monomer, maka jenis nylon ini disebut nylon 66.

gbr91

 

 

Gambar 10. Pembuatan Nylon 66 yang sangat mudah di laboratorium.

Contoh lain dari reaksi polimerisasi kondensasi adalah bakelit yang bersifat keras, dan dracon, yang digunakan sebagai serat pakaian dan karpet, pendukung pada tape – audio dan tape – video, dan kantong plastik.

Monomer yang dapat mengalami reaksi polimerisasi secara kondensasi adalah monomer-monomer yang mempunyai gugus fungsi, seperti gugus -OH; -COOH; dan NH3

Mei 28, 2009

Destilasi Minyak Bumi

Mei 28, 2009

PRODUK PENGOLAHAN MINYAK BUMI

Keberadaan minyak bumi dan berbagai macam produk olahannya memiliki manfaat yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari, sebagai contoh penggunaan minyak tanah, gas, dan bensin. Tanpa ketiga produk hasil olahan minyak bumi tersebut mungkin kegiatan pendidikan, perekonomian, pertanian, dan aspek-aspek lainnya tidak akan dapat berjalan lancar. Dibawah ini adalah beberapa produk hasil olahan minyak bumi beserta pemanfaatannya:

kolom

1. Bahan bakar gas

Bahan bakar gas terdiri dari :

LNG (Liquified Natural Gas) dan LPG (Liquified Petroleum Gas)

Bahan baker gas biasa digunakan untuk keperluan rumah tangga dan indusri.

Elpiji, LPG (liquified petroleum gas,harfiah: “gas minyak bumi yang dicairkan”), adalah campuran dari berbagai unsur hidrokarbon yang berasal darigas alam. Dengan menambah tekanan dan menurunkan suhunya, gas berubah menjadi cair. Komponennya didominasi propana c3h8 dan butana c4h10. Elpiji juga mengandung hidrokarbon ringan lain dalam jumlah kecil, misalnya etana c2h6 dan pentana c5h12.

Dalam kondisi atmosfer, elpiji akan berbentuk gas. Volume elpiji dalam bentuk cair lebih kecil dibandingkan dalam bentuk gas untuk berat yang sama. Karena itu elpiji dipasarkan dalam bentuk cair dalam tabung-tabung logam bertekanan. Untuk memungkinkan terjadinya ekspansi panas (thermal expansion) dari cairan yang dikandungnya, tabung elpiji tidak diisi secara penuh, hanya sekitar 80-85% dari kapasitasnya. Rasio antara volume gas bila menguap dengan gas dalam keadaan cair bervariasi tergantung komposisi, tekanan dan temperatur, tetapi biasaya sekitar 250:1.
Tekanan di mana elpiji berbentuk cair, dinamakan tekanan uap-nya, juga bervariasi tergantung komposisi dan temperatur; sebagai contoh, dibutuhkan tekanan sekitar 220 kPa (2.2 bar) bagi butana murni pada 20 °C (68 °F) agar mencair, dan sekitar 2.2 MPa (22 bar) bagi propana murni pada 55°C (131 °F).
Menurut spesifikasinya, elpiji dibagi menjadi tiga jenis yaitu elpiji campuran, elpiji propana dan elpiji butana. Spesifikasi masing-masing elpiji tercantum dalam keputusan Direktur Jendral Minyak dan Gas Bumi Nomor: 25K/36/DDJM/1990. Elpiji yang dipasarkan Pertamina adalah elpiji campuran.
Sifat elpiji
Sifat elpiji terutama adalah sebagai berikut:

  • Cairan dan gasnya sangat mudah terbakar
  • Gas tidak beracun, tidak berwarna dan biasanya berbau menyengat
  • Gas dikirimkan sebagai cairan yang bertekanan di dalam tangki atau silinder.
  • Cairan dapat menguap jika dilepas dan menyebar dengan cepat.
  • Gas ini lebih berat dibanding udara sehingga akan banyak menempati daerah yang rendah.

Penggunaan elpiji
Penggunaan Elpiji di Indonesia terutama adalah sebagai bahan bakar alat dapur (terutama kompor gas). Selain sebagai bahan bakar alat dapur, Elpiji juga cukup banyak digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor (walaupun mesin kendaraannya harus dimodifikasi terlebih dahulu).
Bahaya elpiji
Salah satu resiko penggunaan elpiji adalah terjadinya kebocoran pada tabung atau instalasi gas sehingga bila terkena api dapat menyebabkan kebakaran. Pada awalnya, gas elpiji tidak berbau, tapi bila demikian akan sulit dideteksi apabila terjadi kebocoran pada tabung gas. Menyadari itu Pertamina menambahkan gas mercaptan, yang baunya khas dan menusuk hidung. Langkah itu sangat berguna untuk mendeteksi bila terjadi kebocoran tabung gas. Tekanan elpiji cukup besar (tekanan uap sekitar 120 psig), sehingga kebocoran elpiji akan membentuk gas secara cepat dan merubah volumenya menjadi lebih besar.
Sumber:
 ”http://id.wikipedia.org/wiki/Elpiji

2. Naptha atau Petroleum eter, biasa digunakan sebagai pelarut dalam industri.

3. Gasolin (bensin), biasa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.

4. Kerosin (minyak tanah), biasa digunakan sebagai bahan bakar untuk keperluan rumah tangga. Selain itu kerosin juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan bensin melalui proses cracking.

Minyak tanah (bahasa Inggris: kerosene atau paraffin) adalah cairan hidrokarbon yang tak berwarna dan mudah terbakar. Dia diperoleh dengan cara distilasi fraksional dari petroleum pada 150°C and 275°C (rantai karbon dari C12 sampai C15). Pada suatu waktu dia banyak digunakan dalam lampu minyak tanah tetapi sekarang utamanya digunakan sebagai bahan bakar mesin jet (lebih teknikal Avtur, Jet-A, Jet-B, JP-4 atau JP-8). Sebuah bentuk dari kerosene dikenal sebagai RP-1dibakar dengan oksigen cair sebagai bahan bakar roket. Nama kerosene diturunkan dari bahasa Yunani keros (κερωσ, wax ).
Biasanya, kerosene didistilasi langsung dari minyak mentah membutuhkan perawatan khusus, dalam sebuah unit Merox atau, hidrotreater untuk mengurangi kadar belerangnya dan pengaratannya. Kerosene dapat juga diproduksi oleh hidrocracker, yang digunakan untuk mengupgrade bagian dari minyak mentah yang akan bagus untuk bahan bakar minyak.
Penggunaanya sebagai bahan bakar untuk memasak terbatas di negara berkembang, di mana dia kurang disuling dan mengandung ketidakmurnian dan bahkan “debris”.
Bahan bakar mesin jet adalah kerosene yang mencapai spesifikasi yang diperketat, terutama titik asap dan titik beku.
Kegunaan lain
Kerosene biasa di gunakan untuk membasmi serangga seperti semut dan mengusir kecoa. Kadang di gunakan juga sebagai campuran dalam cairan pembasmi serangga seperti pada merk/ brand baygone.

5. Minyak solar atau minyak diesel, biasa digunakan sebagai bahan bakar untuk mesin diesel pada kendaraan bermotor seperti bus, truk, kereta api dan traktor. Selain itu, minyak solar juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan bensin melalui proses cracking.

6. Minyak pelumas, biasa digunakan untuk lubrikasi mesin-mesin.

7. Residu minyak bumiyang terdiri dari :

  • Parafin , digunakan dalam proses pembuatan obat-obatan, kosmetika, tutup botol, industri tenun menenun, korek api, lilin batik, dan masih banyak lagi.
  • Aspal , digunakan sebagai pengeras jalan raya

Mei 28, 2009

PENYESUAIAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Teknik-teknik penyesuaian pemecahan masalah merupakan gabungan antara logika dan daya pikir, dan jika tidak tepat, akan menciptakan jalan keluar yang memuaskan.

Jika Anda tidak mengikuti proses pemecahan masalah secara lengkap, gunakan teknik-teknik apabila Anda

  • Mempunyai sedikit waktu meneliti
  • Tidak membutuhkan analisis yang canggih
  • Dapat menerima resiko
  • Dapat membuat keputusan yang sebaliknya

Pertimbangan di dalam penyesuaian pengambilan keputusan :

Keputusan yang mengejutkan
Buatlah keputusan tambahan untuk mencapai suatu keputusan objektif dan menolak secara penuh (total) keputusan yang Anda tidak dapat ubah.

Contoh: Sebelum mengatur pendingin udara, mencoba layar, bayangan, dan fentilator. Kegiatan ini dapat memungkinkan tugas dilaksanakan. Kalau tidak, langkah ini akan masih harus dibantu dengan pendinginan gedung dan peningkatan daya guna pendingin (air-condition) kalau kemudian di-install.

Penyelidikan
Gunakan informasi yang tepat untuk menguji suatu hasil..
Penyelidikan adalah suatu pengubahan dengan strategi uji-coba kesalahan untuk mengendalikan resiko. Perbedaan melempar dadu, membutuhkan suatu pemikiran yang padat menyangkut tujuan dan arah. Gunakan teknik ini untuk bergerak hati-hati di dalam langkah kecil ke arah suatu penyelesaian.

Contoh: Dokter-dokter menolak kesepakatn tunggal, sebagai diagnosa yang tidak lengkap terhadap suatu penyakit. Melalui kehati-hatian tetapi dengan penelitian yang tepat, mereka dapat menentukan penyebab suatu penyakit dan penyembuhannya.

Pengaturan(pengendalian) dengan pengecualian
Bekerja berdasarkan hal-hal tersebut cara kritis untuk Anda, dan meninggalkan hal-hal lain yang tidak kritis. Membuat strategi dan (membuat) pengutamaan.

Contoh: Anda pembimbing matematika untuk anak. Anda mengetahui bahwa keluarga berada di dalam situasi yang sulit, tetapi Anda tidak memiliki keahlian untuk membantu. Anda informasikan ahli dalam hal ini sebagai tindak lanjut mereka, tetapi lanjutkan dengan memusatkan perhatian mendorong anak dengan pekerjaan rumah.

Membatasi
Meluasnya resiko penolakan keputusan yang mengekang Anda ke arah satu pilihan kalau Anda tidak siap menyepakatinya.

Contoh: Kecerdikan investor tidak meletakkan telur-telur di dalam satu keranjang. Mereka menyebarkan resiko secara seimbang ke beberapa wadah, ikatan, dan secara tunai.

Perasaan
Beberapa pilihan berdasarkan pengalaman Anda, nilai-nilai, dan emosi-emosi (perasaan hati Anda yang baik)! Sementara sering kemungkinan untuk sampai ke kebenaran melalui intuisi, tidak membangunnya secara istimewa.Hal itu dapat menghasilkan penilaian yang cepat dan keputusan yang gegabah. Pertama gunakanlah logika, kemudian perasaan Anda untuk membuat keputusan terasa benar.

Penundaan
Kalau suatu keputusan segera tidak perlu dan ada waktu untuk membangun pilihan, lakukan secara perlahan dan biarkan menunggu. Kadang-kadang tidak berbuat apa-apa adalah keputusan yang terbaik, masalah berlalu , atau dapat diatasi.

Pelimpahan kepada yang lain
Kalau masalah dapat diselesaikan lebih baik oleh seseorang, kalau Anda benar-benar bukan berada pada posisi pertama di dalam masalah itu (identifikasi penanggung jawab), atau sumber Anda (waktu, uang, dsb) tidak akan memenuhi syarat.

Pandangan, kesempatan, dan pilihan
Konsentrasi terhadap masa depan untuk menemukan kesempatan dan pilihan yang tersembunyi.Dengan pilihan, kita memutuskan yang terbaik. Tanpa itu, keputusan menjadi pilihan terpaksa. Dengan menemukan kesempatan besok (masa depan) dan membangun pilihan, Anda akan membuat hasil, pilihan yang berkualitas.

Rintangan terhadap pengambilan keputusan yang efektif

Tidak memutuskan
Menghindari keputusan terperangkap aspek-aspek resiko, ketakutan, dan kekhawatiran yang tidak diinginkan.

Pegang teguh
Menolak menghadapi isu, pada akhirnya akan menemukan gangguan.

Reaksi berlebihan
Membiarkan suatu situasi di luar kontrol, membiarkan emosi yang mengontrol.

“Vacillating”
Menghilangkan keputusan; adalah kesepakatan setengah hati arah suatu kegiatan.

Setengah takaran
Melalui kekacauan. Kepastian keputusan ditemukan, bukan dengan menghindari kontroversi, tetapi melalui penanganan masalah.

Mei 28, 2009

STRATEGI BERFIKIR KRITIS DI DALAM BELAJAR

Studi berpikir kritis suatu subyek atau masalah dengan pengertian yang luas (terbuka).

Proses dimulai dengan sutau pernyataan apa yang akan dipelajari,
menampilkan temuan tidak terbatas dan pertimbangan kemungkinan-kemungkinan,
dan kesimpulan pola-pola pengertian yang didasarkan pada kejadian.
Alasan-alasan, penyimpangan, dan prasangka baik para pengajar maupun para ahli membandingkan dan membentuk lembaga penilaian.

Masuk dengan pikiran terbuka:

  • Jelaskan tujuan Anda, apa yang Anda ingin pelajari
    Bereskan dan yakinkan subyek Anda dengan guru Anda atau ahli.

Topik dapat dengan frase yang sederhana:
“Peran Gender di dalam permainan video game”
“Sejarah Politik Perancis di antara Perang Besar pada paruh abad ke-20“
“Penanaman Pohon Mahogoni di Amerika Tengah”
“Peraturan Perpipaan Domestik di Daerah Pinggiran Kota”
“Kosa kata dan Struktur Kerangka Manusia”

  • Pikirkan apa yang Anda ketahui tentang subyek
    Apa yang Anda sudah ketahui akan membantu Anda di dalam studi ini?
    Apa prasangka Anda?
  • Sumber apa yang penting untuk Anda, dan penentuan garis waktu Anda?
  • Memperoleh informasi
    Menutup pikiran tidak akan membuka pilihan Anda dan
    peluang kesempatan.
  • Bertanyalah
    Apa prasangka para pengarang terhadap informasi?
  • Aturlah apa yang Anda kumpulkan ke dalam pola-pola pemahaman
    Carilah kaitannya
  • Ajukan pertanyaan (lagi)
  • Pikirkan bagaimana Anda akan mendemonstrasikan pelajaran Andaesuai
    sesuai dengan topik Anda. Ya! Bagaimana Anda mencipatakan ujian
    Tentang apa yang Anda pelajari?
    Dari yang sederhana ke yang lebih sulit (1-6) terapan:
1. Daftar, label, identitas Demonstrasi Pengetahuan
2. Defininisikan, jelaskan,
ringkaskan dengan kata-kata
Anda sendiri
Pengertian/Pemahaman
3. Pecahkan, terapkan ke situasi baru Gunakan pelajaran Anda, dan terapkan
4. Bandingkan dan tentangkan, perbedaan antara item Analisis
5. Ciptakan, gabungkan, invent Sintesis
6. Alihkan, rekomendasikan, nilai Evaluasi dan jelaskan mengapa

Pikirkan di dalam aturan bagaimana membuat pelajaran Anda sebagai petualangan di dalam penjelajahan!

Ringkasan Berpikir Kritis:

  • Tentukan fakta-fakta di dalam situasi baru atau subyek tanpa prasangka
  • Tempatkan fakta-fakta dan informasi ini sedemikian rupa di dalam pola Sehingga Anda memahaminya
  • Menerima atau menolak sumber nila dan kesimpulan yang didasarkan pada  pengalaman, penilaian, dan keyakinan Anda.

Mei 28, 2009

mengatur jadwal belajar secara efektif

Pengaturan Waktu adalah membuat dan melakukan jadwal belajar agar dapat mengatur dan memprioritaskan belajarmu dalam konteks membagi waktu dengan aktivitas, keluarga, dan lain-lain.

Pedoman:

  • Perhatikan waktumu.
  • Refleksikan bagaimana kamu menghabiskan waktumu.
  • Sadarilah kapan kamu menghabiskan waktumu dengan sia-sia.
  • Ketahuilah kapan kamu produktif.

Dengan mengetahui bagaimana kamu menghabiskan waktu dapat membantu untuk:

Membuat daftar “Kerjaan”.  Tulislah hal-hal yang harus kamu kerjakan, kemudian putuskan apa yang dikerjakan sekarang, apa yang dikerjakan nanti, apa yang dikerjakan orang lain, dan apa yang bisa ditunda dulu pengerjaannya.

Membuat jadwal harian/mingguan.  Catat janji temu, kelas dan pertemuan pada buku/tabel kronologis.  Selalu mengetahui jadwal selama sehari, dan selalu pergi tidur dengan mengetahui kamu sudah siap untuk menyambut besok.

Merencanakan jadwal yang lebih panjang.  Gunakan jadwal bulanan sehingga kamu selalu bisa merencanakan kegiatanmu lebih dulu.  Jadwal ini juga bisa mengingatkanmu untuk membuat waktu luangmu dengan lebih nyaman.

Rencana Jadwal Belajar Efektif:

  • Beri waktu yang cukup untuk tidur, makan dan kegiatan hiburan.
  • Prioritaskan tugas-tugas.
  • Luangkan waktu untuk diskusi atau mengulang bahan sebelum kelas.
  • Atur waktu untuk mengulang langsung bahan pelajaran setelah kelas.  Ingatlah bahwa kemungkinan terbesar untuk lupa terjadi dalam waktu 24 jam tanpa review.
  • Jadwalkan waktu 50 menit untuk setiap sesi belajar.
  • Pilih tempat yang nyaman (tidak mengganggu konsentrasi) untuk belajar.
  • Rencanakan juga “deadline”.
  • Jadwalkan waktu belajarmu sebanyak mungkin pada pagi/siang/sore hari.
  • Jadwalkan review bahan pelajaran mingguan.
  • Hati-hati, jangan sampai diperbudak oleh jadwalmu sendiri!

Mei 28, 2009

CARA BELAJAR EFEKTIF

Langkah-langkah belajar efektif adalah mengetahui

  • diri sendiri
  • kemampuan belajar anda
  • proces yang berhasil anda gunakan, dan dibutuhkan
  • minat, dan pengetahuan atas mata pelajaran anda inginkan

Anda mungkin belajar fisika dengan mudah tetapi tidak bisa belajar tenis, atau sebaliknya. Belajar apapun, adalah proces untuk mencapai tahap-tahap tertentu.

Empat langkah untuk belajar.
Mulai dengan cetak halaman ini dan jawab pertanyan-pertanyaannya. Lalu rencanakan strategi anda dari jawaban-jawabanmu, dan dengan “Pedoman Belajar” yang lain.

Mulai dengan masa lalu Apakah pengalaman anda tentang cara belajar? Apakah anda

What was your experience about how you learn? Did you

  • senang membaca? memecahkan masalah? menghafalkan? bercerita? menterjemah? berpidato?
  • mengetahui cara menringkas?
  • tanya dirimu sendiri tentang apa yang kamu pelajari?
  • meninjau kembali?
  • punya akses ke informasi dari banyak sumber?
  • menyukai ketenangan atau kelompok belajar?
  • memerlukan beberapa waktu belajar singkat atau satu yang panjang?

Apa kebiasaan belajar anda? Bagaimana tersusunnya? Yang mana terbaik? terburuk?

Bagaimana anda berkomunikasi dengan apa yang anda ketahui belajar paling baik? Melalui ujian tertulis, naskah, atau wawancara?

Teruskanke masa sekarang Berminatkah anda?
Berapa banyak waktu saya ingin gunakan untuk belajar?
Apa yang bersaing dengan perhatian saya?

Apakah keadaannya benar untuk meraih sukses?
Apa yang bisa saya kontrol, dan apa yang di luar kontrol saya?
Bisakah saya merubah kondisi ini menjadi sukses?

Apa yang mempengaruhi pembaktian anda terhadap pelajaran ini?

Apakah saya punya rencana? Apakah rencanaku mempertimbangkan pengalaman dan gaya belajar anda?

Pertimbangkan
proses,

persoalan utama

Apa judulnya?
Apa kunci kata yang menyolok?
Apakah saya mengerti?

Apakah yang telah saya ketahui?
Apakah saya mengetahui pelajaran sejenis lainnya?

Sumber-sumber dan informasi yang mana bisa membantu saya?
Apakah saya mengandalkan satu sumber saja (contoh, buku)?
Apakah saya perlu mencari sumber-sumber yang lain?

Sewaktu saya belajar, apakah saya tanya diri sendiri jika saya mengerti?
Sebaiknya saya mempercepat atau memperlambat?
Jika saya tidak mengerti, apakah saya tanya kenapa?

Apakah saya berhenti dan meringkas?
Apakah saya berhenti dan bertanya jika ini logis?
Apakah saya berhenti dan mengevaluasi (setuju/tidak setuju)?

Apakah saya membutuhkan waktu untuk berpikir dan kembali lagi?
Apakah saya perlu mendiskusi dengan “pelajar-pelajar” lain untuk proces informasin lebih lanjut?
Apakah saya perlu mencari “para ahli”, guruku atau pustakawan atau ahliawan?

Buat
review
Apakah kerjaan saya benar?
Apakah bisa saya kerjakan lebih baik?
Apakah rencana saya serupa dengan “diri sendiri”?

Apakah saya memilih kondisi yang benar?
Apakah saya meneruskannya; apakah saya disipline pada diri sendiri?

Apakah anda sukses?
Apakah anda merayakan kesuksesan anda?

Mei 28, 2009

BEBERAPA LANGKAH-LANGKAH DALAM BERFIKIR BIJAK

“Meskipun anda bukanlah seorang jenius, anda dapat mengunakan strategi yang sama seperti yang digunakan Aristotle dan Einstein untuk memanfaatkan kreatifitas berpikir anda dan mengatur masa depan anda lebih baik.”

Kedelapan statregi berikut ini dapat mendorong cara berpikir anda lebih produktif daripada reproduktif untuk memecahkan masalah-masalah. “Strategi-strategi ini pada umumnya ditemui pada gaya berpikir bagi orang-orang yang jenius dan kreatif di ilmu pengetahuan, kesenian, dan industri-industri sepajang sejarah.”

1. Lihatlah persoalan anda dengan berbagai cara yang berbeda dan cari perspektif baru yang belum pernah dipakai oleh orang lain (atau belum diterbitkan!)

Leonardo da Vinci percaya bahwa untuk menambah pengetahuan tentang suatu masalah dimulai dengan mempelajari cara menyusun ulang masalah tersebut dengan berbagai cara yang berbeda. Ia merasa bahwa pertama kali melihat masalah itu terlalu prubasangka. Seringkali, masalah itu dapat disusun ulang dan menjadi suatu masalah yang baru.

2. Bayangkan!

Ketika Einstein memikirkan suatu masalah, ia selalu menemukan bahwa perlu untuk merumuskan persoalannya dalam berbagai cara yang berbeda-beda yang masuk akal, termasuk menggunakan diagram-diagram. Ia membayangkan solusi-solusinya dan yakin bahwa kata-kata dan angka-angka tidak memegang peran penting dalam proses berpikirnya.

3. Hasilkan! Karakteristik anak jenius yang membedakan adalah produktivitas.

Thomas Edison memegang 1.093 paten. Dia memberikan jaminan produktivitas dengan memberikan ide-ide pada diri sendiri dan asistennya. Dalam studi dari 2.036 ilmuwan sepanjang sejarah, Dekan Keith Simonton, dari University of California di Davis, menemukan bahwa ilmuwan-ilmuwan yang dihormati tidak hanya menciptakan banyak karya-karya terkenal, tapi banyak yang buruk. Mereka tidak takut gagal, atau membuat kesalahan besar untuk meraih hasil yang hebat.

4. Buat kombinasi-kombinasi baru. Kombinasikan, and kombinasikan ulang, ide-ide, bayangan-bayangan, and pikiran-pikiran ke dalam kombinasi yang berbeda, tidak peduli akan keanehan atau ketidakwajaran.

Keturunan hukum-hukum yang menjadi dasar ilmu genetika modern berasal dari pendeta Austria, Grego Mendel, yang mengkombinasikan matematika dan biologi untuk menciptakan ilmu pengetahuan baru.

5. Bentuklah hubungan-hubungan; buatlah hubungan antara peroalan-persoalan yang berbeda

Da Vinci menemukan hubungan antara suara bel dan sebuah batu yang jatuh ke dalam air. Hal ini memungkinkan Da Vinci untuk membuat hubungan bahwa suara mengalir melalui gelombang-gelombang. Samuel Morse menciptakan stasiun-stasiun penghubung untuk tanda-tanda telegraf ketika memperhatikan stasiun-stasiun penghubung untuk kuda-kuda.

6. Berpikir secara berlawanan.

Ahli ilmu fisika Niels Bohr percaya bahwa jika andamemegang pertentangan secara bersamaan, kemudian anda menyingkirkan pikiran anda dan akal anda bergerak menuju tingkatan yang baru. Kemampuannya untuk membayangkan secara bersamaan mengenai suatu partikel dan suatu gelombang mengarah pada konsepsinya tentang prinsip saling melengkapi. Dengan menyingkirkan pikiran (logis) dapat memungkinkan akal anda untuk menciptakan sesuatu yang baru.

7. Berpikir secara metafor.

Aristotle menganggap metafora sebagai tanda yang jenius, dan percaya bahwa individual yang memiliki kapasitas untuk menerima persamaan antara dua keberadaan yang berbeda dan menghubungkannya adalah individual yang punya bakat kusus.

8. Persiapkan diri anda untuk menghadapi kesempatan.

Bilamana kita mencoba sesuatu dan gagal, kita akhirnya mengerjakan sesuatu yang lain. Hal ini adalah prinsip pertama dari kekreatifan. Kegagalan dapat menjadi produktif hanya jika kita tidak terfokus pada satu hal sebagai suatu hasil yang tidak produktif. Sebaliknya, menganalisa proses, komponen-kompnen dan bagaimana anda dapat mengubahnya untuk memperoleh hasil yang lain. Jangan bertanya, ?Mengapa saya gagal?? melainkan ?Apa yang telah saya lakukan??

Mei 25, 2009

MENGAWETKAN TAHU TANPA FORMALIN

Oleh :
Ir. Sutrisno Koswara, MSi
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor

Seperti kita ketahui, tahu bersifat mudah rusak (busuk). Disimpan pada kondisi biasa (suhu ruang) daya tahannya rata-rata 1 – 2 hari saja. Setelah lebih dari batas tersebut rasanya menjadi asam lalu berangsur-angsur busuk, sehingga tidak layak dikonsumsi lagi. Akibatnya banyak usaha yang dilakukan produsen tahu untuk mengawetkannya, termasuk menggunakan bahan pengawet yang dilarang, misalnya formalin.

Penyebab mengapa tahu mudah rusak adalah kadar air dan protein tahu tinggi, masing-masing 86 persen dan 8 – 12 persen. Disampang kandungan lemak 4.8 persen dan karbohidrat 1.6 persen. Kondisi ini mudah mengundang tumbuhnya jasad renik pembusuk, terutama bakteri.

Dengan maraknya penggunaan formalin sebagai pengawet tahu, maka dirasakan perlu untuk mencari alternatif lain yang aman untuk mengawetkan tahu. Cara mengawetkan tahu dengan cara yang aman, mudah dan murah perlu diketahui oleh masyarakat luas. Disamping itu diperlukan juga pengetahuan tentang cara memilih dan menyimpan tahu yang baik.

Tahu dan Formalin

Sejak tahun akhir tahun 70-an sampai akhirnya sekarang ramai lagi, beberapa produsen dan pedagang tahu di kota-kota besar diduga mengawetkan tahunya dengan formalin. Pengawetan tahu atau bahan pangan lain dengan formalin dilarang di negara kita dan banyak negara-negara lain. Jika formalin termakan dalam jumlah banyak, mulut dan kerongkongan akan terasa sakit, sukar menelan, ,ual dan muntah, sakit perut dan mencret berdarah.

Formalin adalah nama dagang untuk larutan formaldehida 36 – 40%. Zat ini merupakan desinfektan yang sangat kuat, dapat membasmi berbagai macam bakteri pembusuk dan jamur, juga dapat mengeraskan jaringan tubuh. Benda yang diawetkan dengan formalin dapat tahan lama disimpan. Di bidang kedokteran dan biologi, larutan formalin 5 – 10 % digunakan sebagai pembunuh kuman dan bahan pengawet tubuh atau bagian-bagian tubuh, sehingga sekarang terkenal dengan sebutan bahan pengawet mayat. Pada kadar 0,5 % formalin digunakan untuk mencuci luka.

Seperti halnya bahan pangan yang lain, tahu akan menjadi awet sampai seminggu atau lebih jika direndam dalam larutan formalin, tanpa perlu disimpan di lemari es. Tahu akan menyerap formalin, dan formalin itu tidak hilang setelah tahu digoreng atau direbus. Tahu yang telah direndam dengan formalin teksturnya menjadi kompak dan keras. Kadar airnya lebih sedikit. Adanya formalin dalam tahu, selain dapat dilihat dari teksturnya yang menjadi keras, juga dapat diketahui dari baunya.

Meskipun dilarang, kemungkinan penggunaan formalin sebagai pengawet tahu oleh orang yang tak bertanggung jawab selalu ada. Untuk mengetahui apakah tahu diawetkan dengan formalin atau tidak, caranya mudah saja. Jika membeli tahu, periksalah apakah ada bau aneh yang berbeda dengan aroma tahu biasa (yaitu bau khas atau langu dari kedelai). Periksa juga apakah tahu lebih kompak atau keras dari tahu yang biasa kita kenal. Tahu yang pernah direndam dengan formalin, kurang berair disbanding tahu biasa. Di laboratorium, pemeriksaaan adanya formalin dalam tahu secara kimiawi, dapat dilakukan dengan mudah.

Memilih dan Menyimpan Tahu

Hal-hal yang penting diperhatikan pada waktu membeli tahu antara lain adalah : Pertama usahakan membeli tahu yang sebaru mungkin setelah dibuat, karena tahu yang masih segar mempunyai bau dan cita rasa terbaik. Kemungkinan besar hal ini dapat diperoleh jika kita membeli tahu sepagi mungkin. Di Jepang, hampir semua tahu dijual dalam waktu satu hari setelah dibuat. Juga, di negara-negara Barat juga sebagian besar dijual dalam keadaan segar menggunakan wadah yang mempunyai cap batas pemakaian. Kebanyakan toko-toko tahu di Jepang dan Amerika membuat tahu pada jam 2 dini hari, sehingga tahu segar dapat diperoleh pada pagi harinya.

Langkah pertama adalah melihat warnanya. Hindari tahu yang kemungkinan memakai pewarna buatan yang terlihat mengkilap atau warnanya mencorong tajam. Tahu yang diberi pewarna alami seperti kunyit berwarna kuning buram, tidak mencorong atau mengkilap. Juga perhatikan kekerasan tahu. Jika tahunya mempunyai kekerasan normal tandanya masih baik, sedangkan jika terlalu keras kemungkinan sudah dijual lebih dari satu hari (direbus lagi) atau diberi pengawet yang dilarang, misalnya formalin.

Sebaiknya tahu disimpan dalam lemari es dengan suhu tetap, tetapi dijaga jangan sampai membeku. Sebelum ditaruh dalam lemari es, jangan direndam dulu dengan air panas. Tahu yang dibeli dalam kantong plastik biasanya diberi air perendam yang jumlahnya masih kurang (tidak terendam semua). Jika akan disimpan, buang air tersebut lalu taruh tahu dalam wadah atau mangkok dan diberi air baru sampai terendam semua dan simpan dalam lemari es dalam keadaan tertutup.

Mengawetkan Tahu tanpa Formalin

Sebenarnya, tahu dapat diawetkan dengan cara yang sederhana, mudah dilakukan dan dengan bahan pengawet yang mudah diperoleh, aman atau diizinkan penggunannya serta harganya yang cukup murah. Berikut ini diuraikan beberapa cara pengawetan tersebut :

Perendaman dalam larutan kalium sorbat.

Mula-mula rebus air sampai mendidih dan buat larutan kalium sorbat 0.3 persen dengan air tersebut. Tahu dicuci dengan air matang dan dimasukkan ke dalam kantong plastik. Lalu masukkan larutan kalium sorbat di atas sampai semua tahu terendam dan ditutup rapat menggunakan siller. Dengan cara ini tahu dapat disimpan pada suhu kamar dengan daya awet 7 – 8 hari.

Perendaman dalam larutan garam.

Buat larutan garam 5 persen dengan menggunakan air matang. Tahu dicuci dan direbus selama 3 menit. Dalam kedaan panas masukkan tahu dalam larutan garam. Cara ini dapat mengawet tahu selama 5 hari.

Perendaman dalam campuran larutan kunyit dan jeruk nipis.

Kunyit dicuci dan ditumbuk sampai halus, lalu buat larutan kunyit 3 persen menggunakan air matang, kemudian disaring. Tambahkan air jeruk nipis sehingga pH larutan menjadi 3.5 – 4. Tahu dicuci lalu direbus selama 3 menit dan direndam ke dalam larutan di atas sampai seluruh permukaannya terendam. Metode ini dapat mengawetkan tahu selama 3 hari.

Perendaman dalam larutan air matang.

Mula-mula tahu dicui dan ditiriskan. Kemudian direndam dalam air mendidih sampai betul-betul terendam. Lakukan penggantian air panas baru setiap 24 jam, dengan cara ini tahu tahan disimpan selama 5 hari.
Perendaman dalam campuran sari jeruk lemon dan garam dapur.
Buat larutan sari jeruk lemon 10 persen dan tambahkan larutan garam dapur sebanyak 4 persen. Rendam tahu ke dalam larutan di atas dalam wadah plastik. Metode ini dapat mengawetkan tahu selama 10 hari.

Adopted by @_pararaja

Mei 25, 2009

MENGENAL OBAT TRADISIONAL; BUAH MERAH

Buah merah pada akhir-akhir ini menjadi sangat populer karena terbukti mempunyai kemampuan menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Sebelumnya buah merah hampir tidak pernah terdengar. Banyak orang yang tidak tahu mengenai buah merah menanyakan tentang buah tersebut. Di sini kami memberikan sedikit informasi mengenai buah merah.
Buah merah pada umumnya tumbuh di tanah Papua. Di Papua, populasi buah merah terbanyak berada di pegunungan Jayawijaya. Di dataran rendah juga dapat ditemukan buah merah, tapi populasinya hanya sedikit. Masyarakat Papua sudah mengenal baik buah merah. Mereka sering mengkonsumsi buah merah untuk menambah stamina dan tenaga. Selain itu buah merah dikonsumsi pada upacara-upacara adat.
Buah merah masih satu keluarga dengan pandan. Tanaman ini, yang di Wamena umumnya disebut sauk eken, mempunyai nama ilmiah Pandanus conoideus. Terdapat sekitar 14 jenis buah merah di Papua. Keempat belas jenis buah merah ini mempunyai perbedaan pada bentuk, berat dan warna buahnya.
Di habitat aslinya, buah merah tumbuh baik di dataran rendah (40 m dpl) sampai dataran tinggi (2.000 m dpl). Namun populasi terbanyak terdapat di dataran dengan ketinggian 1.200 hingga 2.000 m dpl. Buah merah biasa tumbuh bergerombol dalam satu area, jarang tumuh menyendiri. Buah merah tumbuh di daerah dengan suhu di bawah 17 derajat Celcius dengan curah hujan rata-rata 186 mm per bulan dan jumlah penyinaran matahari 57% dan tekanan udara rata-rata 896 mb.
Buah merah sudah secara turun-temurun dikonsumsi oleh masyarakat Papua sebagai penambah energi dan daya tahan tubuh. Walaupun demikian, secara ilmiah khasiat buah merah baru diteliti oleh Drs. I Made Budi, MSi dari Universitas Cendrawasih. Menurutnya, buah ini mengandung zat-zat alami yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Diantaranya adalah karotenoid, betakaroten, alfa tokoferol, asam oleat, asam linoleat, asam linolenat dan dekanoat. Selain itu, buah merah mengandung banyak kalori untuk menambah energi, kalsium, serat, protein, vitamin B1, vitamin C dan nialin.
Kandungan gizi buah merah tergantung lokasi penanamannya. Buah merah yang tumbuh di daerah yang tinggi umumnya mempunyai kandungan gizi yang lebih kaya dibandingkan dengan buah merah yang tumbuh di daerah yang lebih rendah.

Khasiat Buah Merah

1. AIDS
Walaupun para ahli telah bertahun-tahun mencoba membuat obat untuk menyembuhkan AIDS tetap saja obatnya masih belum ditemukan. Mungkin Anda sendiri merasa tidak percaya mengenai khasiat buah merah yang satu ini. Namun khasiat buah merah untuk menyembuhkan AIDS sudah terbukti. Salah satu seorang yang terbebas dari cengkeraman kematian akibat AIDS adalah Agustina Sawery. Agustina Sawery sempat menurun berat tubuhnya dari 50 kg menjadi 27 kg. Ia mengalami infeksi anus, gangguan fungsi hati, mulut bercendawan dan infeksi paru-paru.
Nampaknya Agustina tinggal menunggu jam kematiannya. Maka dia datang kepada Drs I Made Budi MS.Saat itu Made sudah dikenal luas di Papua lantaran kerap mengobati penyakit seperti kanker dengan ekstrak buah merah. Kemudian Agustina diberikan ekstrak buah merah yang dikonsumsi tiga kali sehari.
Sejak mengkonsumsi buah merah keadaannya mulai membaik. Berat badannya yang sempat turun sampai menjadi 27 kg mulai meningkat menjadi 46 kg. Kulitnya yang semua busik menjadi mulus kembali. Rambutnya yang sempat rontok mulai tumbuh lagi. Agustina menjadi jauh lebih bugar.
Dikabarkan bahwa kemampuan buah merah menyembuhkan AIDS adalah karena buah merah mengandung tokoferol dan betakaroten yang sangat tinggi. Kedua kandungan ini berfungsi sebagai antioksidan dan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Tokoferol dan betakaroten akhirnya berkombinasi untuk memecah asam amino yang dibutuhkan oleh virus penyebab AIDS, HIV, sehingga virus tersebut tak dapat melangsungkan hidupnya.

2. Kanker dan Tumor
Khasiat lain buah merah adalah mengobati kanker dan tumor. Kanker dan tumor tak diragukan lagi merupakan salah satu penyebab kematian terbesar. Disebabkan oleh apa kanker dan tumor itu? Penyakit ini disebabkan oleh ketidakteraturan hormon dalam tubuh yang menyebabkan tumbuhnya daging di jaringan tubuh normal.
Buah merah dapat mengobati kanker karena kandungan tokoferolnya sangat tinggi, yaitu mencapai 11.000 ppm dan betakarotennya mencapai 7.000 ppm. Kedua senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta mencegah pembiakan sel-sel kanker.

3. Stroke dan Darah Tinggi
Stroke disebabkan oleh darah yang membeku dan penyempitan pembuluh darah. Salah satu penyebab penyakit ini adalah darah tinggi. Tekanan darah tinggi menyebabkan penggumpalan darah sehingga pembuluh darah menyempit, akibatnya supplai darah berkurang. Lebih dari itu, pembuluh darah bisa pecah. Penyakit ini, bila tidak menyebabkan kematian, dapat menyebabkan kelumpuhan anggota badan. Darah tinggi sendiri disebabkan oleh kerja jantung yang memompa darah terlalu cepat.
Hal ini salah satunya disebabkan oleh karena darah kekurangan oksigen atau oksigen yang terlalu kental. Buah merah mengandung tokoferol yang dapat mengencerkan darah dan memperlancar sirkulasi darah sehingga kandungan oksigen dalam darah menjadi normal.

4. Asam Urat
Asam urat dsebabkan karena terganggunya fungsi lever sehingga lever memproduksi asam urat secara berlebihan. Asam urat akhirnya tertampung di dalam ginjal menjadi batu dan dibawa ke ujung-ujung jari tangan dan kaki serta mengumpul di sana. Tokoferol dalam buah merah mengencerkan darah dan memperbaiki sistem kerja lever. Sistem kerja lever, setelah diperbaiki, memproduksi kadar asam urat yang normal.

5. Diabetes Mellitus (Kencing Manis)
Penyakit ini disebabkan karena kelenjar pankreas tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang memadai. Akibatnya, kandungan gula dalam darah meningkat. Kandungan tokoferol dalam buah merah memperbaiki kerja pankreas sehingga fungsi pankreas menjadi normal kembali.

6. Osteoporosis
Disebabkan pengeroposan tulang, osteoporosis disebabkan oleh kekurangan kalsium. Penyakit ini umumnya menyerang mereka yang sudah berusia senja. Buah merah kaya akan kalsium sehingga dapat mencegah dan mengobati osteoporosis. Dalam 100 gram buah merah segar terkandung 54.000 miligram kalsium.

7. Gangguan Mata
Kandungan betakaroten yang tinggi dalam buah merah dapat mengatasi banyak jenis penyakit mata yang disebabkan kekurangan vitamin A. Betakaroten diserap oleh tubuh dan diolah menjadi vitamin A.

8. Meningkatkan Kecerdasan
Kandungan omega 3 dan omega 6 dalam buah merah dapat merangsang daya kerja otak dan meningkatkan kecerdasan. Oleh karena itu buah merah cocok untuk dikonsumsi oleh anak-anak.

9. Meningkatkan Gairah dan Kesuburan
Buah merah, menurut mereka yang mengkonsumsinya, dapat membantu meningkatkan gairah seksual kaum pria. Efek pengobatan bervariasi, ada yang bereaksi setelah 15 menit meminumnya, ada juga yang setelah satu atau dua jam meminumnya. Vitamin E dalam buah merah membantu meningkatkan produksi sperma. Selain itu, buah merah mengandung energi tinggi, yaitu 360 kalori. Selain khasiat-khasiat yang telah disebutkan di atas, buah merah dikabarkan dapat juga mengobati penyakit lambung, wasir, gangguan pada paru-paru dan sebagainya.

Adopted by @_pararaja from www.selera-kita.nl

Mei 25, 2009

Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong?

By : achmad faisol

e. Ibadah

Setan memang musuh kita yang nyata. Kalau kita ahli ibadah sekalipun, takkan luput dari godaannya. Apabila kita sebagai ‘âbid (ahli ibadah) sampai terjangkit penyakit sombong, maka dalam urusan dunia, kita menganggap bahwa orang-orang yang bersilaturrahim kepada kita lebih baik daripada kepada yang lain. Kita berharap orang-orang memenuhi segala kebutuhan kita, menghormati dan memberikan tempat khusus kepada kita dalam setiap pertemuan. Kalau kita membeli sesuatu, kita juga ingin dilayani terlebih dahulu tanpa harus antri, karena kita merasa kita adalah orang terhormat yang harus diutamakan. Kita merasa berhak mendapatkan diskon yang lebih besar dibandingkan semua orang. Kita juga menginginkan untuk lebih diutamakan dalam bermacam-macam pembagian, termasuk sedekah. Hal ini karena kita menganggap bahwa ibadah kita telah diterima oleh-Nya dan memberikan rahmat bagi semua orang.

Bahkan, yang lebih memalukan lagi adalah kita menyebutkan dalam setiap pertemuan bahwa kita ahli ibadah. Kita akan berkata, “Tidak tahukah Anda bahwa saya seorang Ustadz? Seorang Kyai? Asy-Syaikh, al-Hâjj, al-‘Âlim, al-‘Allâmah, al-Hâfizh, al-Faqîh, al-Fâdhil, al-‘Âbid, al-‘Ârif dan gelar-gelar yang lain?”

Sedangkan dalam urusan akhirat, kita akan menganggap orang-orang akan mendapat siksa Allah kecuali diri kita dan orang-orang yang patuh serta tunduk pada kita—para jamaah kita. Wal ‘iyâdzu billâh. Marilah kita tanamkan benar-benar pada diri kita sabda Rasulullah :

إِذَا سَمِعْـتُمُ الرَّجُلَ يَقُوْلُ هَلَكَ النَّاسُ هُوَ أَهْلَـكُهُمْ

Apabila kalian mendengar seseorang berkata, “Orang-orang akan binasa,” maka sesungguhnya dialah yang paling binasa daripada mereka. (HR Muslim)

كَفَى بِالْمَرْءِ شَرًّا أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْـلِمُ

Cukuplah dikatakan buruk akhlaknya ketika ia menghina (merendahkan) saudara sesama muslim. (HR Muslim)

Apakah kita belum mengerti juga bahwa kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok, lusa apalagi masa depan? Ataukah kita merasa diri kita mukâsyafah? Mengetahui apa yang belum terjadi? Ngerti sak durunge winarah? Siapa yang bisa menjamin kita akan husnul khâtimah? Apakah kita berani mengatakan bahwa kita pasti masuk surga? Memangnya siapa yang menjamin hal itu?

Dalam kitab “Al-Mawâ‘izh al-‘Ushfûriyyah” dikisahkan bahwa pada suatu malam di bulan Rajab, Rasulullah saw. pergi ke masjid dan mendengar Abu Bakar ra. menangis dengan tangisan sedih ketika membaca ayat,

إِنَّ اللهَ ٱشْـتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالهَـُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَـنَّةَ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (QS at-Taubah [9] : 111)

Keesokan paginya Rasulullah bertanya kepada Abu Bakar,

“Yâ Abâ Bakrin, lima bakayta fî hâdzihil âyah? (Wahai Abu Bakar, mengapa engkau menangis ketika membaca ayat ini?)” Kemudian beliau membaca ayat yang dimaksud.

“Bagaimana saya tidak menangis. Allah benar-benar membeli jiwa-jiwa para hamba-Nya. Bagaimana jika Allah menemukan pada diri saya terdapat aib? Sebagaimana layaknya jual-beli, apakah Allah tidak akan mengembalikan saya ke neraka? Karena itulah saya menangis,” jawab Abu Bakar.

Umar bin Khaththab ra., seorang sahabat Nabi yang hidup zuhud dan benar, pernah bertanya kepada Hudzaifah—seorang sahabat yang ahli dalam ilmu kemunafikan. Umar berkata,

“Demi Allah, aku bertanya kepadamu wahai, Hudzaifah! Apakah Rasulullah menyebutku munafik?”

“Subhânallâh! Andaikata Umar disebut munafik, lalu siapa orang yang beriman. Tidak, demi Allah. Rasul tidak menyebutmu munafik,” jawab Hudzaifah.

Tidakkah kita malu pada diri sendiri mendengar kisah-kisah tersebut? Sahabat Nabi, Abu Bakar ra. saja masih merasa bahwa di dalam dirinya terdapat aib, kuatir ibadah beliau tidak sempurna. Beliau takut kalau Allah tidak menempatkannya di surga, tapi di neraka, padahal Rasulullah telah bersabda :

لَوْ وُزِنَ إِيْمَانُ أَبىِ بَكْرٍ بِإِيْماَنِ الْعَالَمِ لَرَجَحَ

Kalau iman Abu Bakar ditimbang dengan keimanan penghuni dunia, niscaya iman Abu Bakar lebih berat. (HR Baihaqi)

Begitu juga dengan diri Umar bin Khaththab ra. Memangnya diri kita siapa, kok berani-beraninya sombong karena ibadah kita? Kita ini bukan sahabat Nabi, bukan pula tâbi‘în (murid-murid para sahabat Nabi), juga bukan tâbi‘ut tâbi‘în. Kita bukanlah salafush shâlih. Bahkan kita pun tidak layak disebut ulama. Pantaskah kita menyombongkan ibadah kita yang tidak seberapa itu? Pernahkan kita menangis dan menguatirkan diri atas keimanan dan keislaman kita? Kitalah yang sebenarnya lebih pantas menangis dibandingkan Abu Bakar ra. Kita jugalah yang seharusnya kuatir, bukannya Umar bin Khaththab ra. Beliau berdua adalah sahabat-sahabat Nabi pilihan, termasuk Khulafâ’ ar-Râsyidîn al-Mahdiyyîn.

Suatu ketika seseorang datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal dan memujinya, maka beliau pun berkata pada orang itu,

“Demi Allah, aku membencimu karena perkataan itu. Demi Allah, kalau saja kau mengetahui dosa-dosaku, pasti kau akan menaburkan tanah di atas kepalaku!”

Lihatlah Imam Ahmad, lihatlah hamba Allah ini!

Hatim al-Asham—seorang ulama yang telah tertanam dalam dirinya sifat rendah hati—menasihatkan,

“Jangan sombong karena memperoleh tempat yang baik. Tidak ada tempat yang lebih baik melebihi surga. Oleh karena itu, wajar bagi Nabi Adam as. ingin berjumpa dengan sesuatu yang pernah dijumpai.

Jangan sombong karena banyaknya ibadah, sebab Iblis setelah lama beribadah ternyata tersingkir dari surga.

Jangan sombong karena banyaknya ilmu, sebab Bal‘am yang selalu mengagungkan nama Allah Yang Maha Agung ternyata mati kafir.

Jangan sombong karena bisa bergaul dengan orang-orang baik dan hebat, sebab tak seorang pun lebih hebat daripada Nabi Muhammad saw.”

Siapakah Hatim? Mengapa ia dijuluki al-Asham (orang tuli)?

Nama lengkapnya Abu Abdurrahman Hatim bin Alwan (wafat pada tahun 237 H/751 M). Dia termasuk tokoh guru besar (syaikh) Khurasan, murid Syaikh Saqiq, guru Ahmad bin Khadrawaih. Hatim dijuluki al-Asham bukan karena ia tuli, tetapi pernah sekali ia berpura-pura tuli karena menjaga kehormatan seseorang sehingga ia dijuluki demikian.

Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq bercerita tentangnya, “Seorang wanita datang kepada Hatim. Ia bermaksud menanyakan sesuatu kepadanya. Namun, di tengah mengutarakan pertanyaannya, wanita itu tiba-tiba buang angin sehingga membuatnya merasa malu. Hatim tahu apa yang berada di balik perasaan tamunya. Dia tidak ingin tamunya bertambah malu karena suara buang angin yang didengarnya. Karena itu, dia mencoba menutupinya dengan berkata,

‘Keraskan suaramu!’

Dia berkata demikian karena berpura-pura tuli. Akibatnya, wanita itu senang dan tidak salah tingkah. Ia mengira Hatim tidak mendengar suara buang anginnya. Sejak saat itulah ia dijuluki al-Asham, Hatim yang tuli.”

Abu Hamid al-Ghazali memberi saran agar kita senantiasa rendah hati dalam hal amal kebaikan. Jika kita bertemu dengan orang yang lebih tua, katakanlah di dalam hati, “Orang ini lebih tua dari saya, pastilah amal ibadahnya lebih banyak dari saya. Allah jelas lebih memuliakan orang tua ini dibandingkan saya.”

Bila kita menjumpai orang yang lebih muda, maka kita dinasihati untuk berkata dalam hati, “Usia orang ini lebih muda dari saya, tentunya kemaksiatan dan dosa yang diperbuat lebih sedikit dari saya. Sungguh, dia lebih terhormat di sisi Allah daripada saya.”

Yang terakhir, tatkala kita melihat anak kecil yang belum baligh, maka berucaplah, “Anak ini belum punya dosa. Dia mendapat jaminan surga. Sedangkan saya, siapa yang akan menjamin saya masuk surga?”

Allah mengingatkan kita dengan firman-Nya :

فَلاَ تُزَكُّوْۤا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتـَّقىٰ

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (QS an-Najm [53] : 32)

Janganlah kita memuji diri sendiri karena seorang pengkritik harus dapat melihat apa yang dikritiknya. Betapa aneh jika kita menilai diri sendiri suci, memberikan kesaksian atas kelebihan-kelebihan kita dan mengaku bersih dari segala macam aib. Alangkah naif apabila kita menceritakan kebaikan dan pujian terhadap diri kita di hadapan manusia dan Tuhan.

Orang yang mengatakan diri sendiri suci sesungguhnya justru berada pada posisi terdakwa dan disangsikan. Hal ini karena manusia menurut tabiatnya zhalim dan bodoh, mencintai diri sendiri dan mengagumi sifat-sifatnya. Jika tabiat ini diperlihatkan di depan umum, maka itu pertanda lemahnya takwa dan dangkalnya pengetahuan. Apa alasan yang menjadikan kita mengakui diri sendiri suci, padahal kita berada di antara karunia yang belum disyukuri dan dosa yang belum diampuni, juga di antara kesalahan yang disembunyikan dan aib yang ditutupi oleh Tuhan kita?

Ibnu Athaillah berpesan,

اِدْفِنْ وُجُوْدَكَ فِيْ أَرْضِ الْخُمُوْلِ فَمَا نَبَتَ مِمَّا لمَ ْ يُدْفَنْ لاَ يَتِمُّ نَتَاجُهُ

“Tanamlah wujud dirimu pada tanah yang dalam, karena suatu tanaman tidak akan tumbuh apabila ia tidak ditanam.”

“Tidak ada amal perbuatan yang lebih berbahaya dari keinginan beramal agar termasyhur. Keinginan agar terkenal sebagai ahli ibadah, apalagi diikuti dengan kehendak lain yang bukan ibadah, akan membawa si hamba menjadi angkuh dan lupa diri. Di saat tertentu musuh manusia yang bernama Iblis akan dengan mudah merasuk ke dalam hati anak Adam yang kelak dapat menghancurkan diri dan imannya. Beramal ibadah untuk mencari kemasyhuran ibarat menanam benih tidak di tanah yang dalam, tidak akan menumbuhkan hasil yang baik karena akan mudah goyah dan roboh,” lanjut Ibnu Athaillah.

Agar tidak menyombongkan ibadah kita, para ulama berpesan sebaiknya kita melihat kekurangan diri sendiri, sebagaimana pesan al-Ghazali di atas. Namun, hal ini memang membutuhkan perjuangan lebih keras. Sebagaimana kata pepatah, “Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak jelas.”

Sa‘id Hawwa dalam bukunya “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, berpesan agar kita senantiasa melihat dan mencari aib diri sendiri. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan para “musuh” kita (orang yang tidak senang pada kita), karena kebencian mengungkapkan segala keburukan. Mungkin kita dapat lebih mengambil manfaat dari mereka yang memberitahukan aib kita, daripada manfaat yang dapat diambil dari seorang teman yang terkadang suka berbasa-basi, menyanjung, memuji dan menyembunyikan kekurangan kita. Namun, jika teman kita benar-benar seorang teman sejati, biasanya dia pun akan melakukan kritik terhadap tingkah laku kita yang kurang baik.

Hanya saja, tabiat manusia cenderung tidak mempercayai musuh dan menilai pernyataannya sebagai kedengkian. Akan tetapi, jika kita memang berusaha menjaga diri, kita bisa mengambil manfaat dari perkataan orang yang membenci kita, karena keburukan-keburukan kita pasti tersebar melalui omongan mereka. Seorang penyair berkata :

عَيْنُ الرِّضَى عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ لـٰكِنْ عَيْنُ السُّخْطِ تَبْدِي الْمَعَايِبَا

Mata keridhaan tak dapat menyaksikan berbagai aib
Tetapi mata kebencian menampakkan segala keburukan

Seorang konsultan bisnis dan motivator, Drs. Mario Teguh, MBA— dikenal juga dengan inisial MT—menasihatkan bahwa ada orang yang seharusnya lebih dekat daripada sahabat kita. Siapakah dia? Dialah “musuh” atau orang yang membenci kita. Dengan menempelkan telinga kita lebih dekat kepada mereka, kita akan mengetahui lebih dulu kekurangan-kekurangan kita sebelum mereka menyebarkannya kepada orang lain. Dengan demikian, ketika berita tentang kekurangan kita disebarkan ke banyak orang, kita sudah memperbaiki diri. Semua orang tidak akan menemukan kebenaran pada cerita yang mereka dengar. (Bersambung).

Mei 25, 2009

Mengapa Harus Syariah ?

Ada pertanyaan menarik setiap kali konsep-konsep syariah (baca: Islam) dilontarkan dalam berbagai kesempatan. Bahkan pertanyaan ini (jika tidak salah ingat) pernah juga menjadi dialog yang berkepanjangan di salah satu milist para peminat ekonomi syariah di Indonesia. Pertanyaan itu adalah, “Mengapa harus syariah ?”.

Ya, mengapa harus syariah ? Sebagian orang mungkin akan berkomentar. Toh tanpa syariah, ekonomi kita dan bangsa ini bisa berjalan dengan baik. Lihatlah data yang dilansir oleh berbagai media yang bersumber dari pemerintah. Angka pertumbuhan positif mencapai 6,3%, laju inflasi mampu ditekan sampai pada 6,25%, suku bunga rata-rata 8,0%, nilai tukar rupiah rata-rata Rp.9.135,- per USD, cadangan devisa sebesar 52,8 miliar USD, IHSG berhasil menembus level psikologis 2.000. Pertumbuhan itu juga diikuti dengan turunnya tingkat pengangguran terbuka sebesar 384 ribu dibanding tahun 2006, serta turunnya angka kemiskinan sebesar 2,13 juta dibandingkan tahun 2006. Semuanya menunjukkan, tanpa perlu syariah, ekonomi dan bisnis di negeri ini bahkan dunia bisa ‘menghidupi’ semua umat manusia.

Tidak jarang, ada pula orang yang menganggap bahwa sistem ekonomi termasuk di dalamnya bisnis yang sekarang (baca: kapitalis-liberal) dan banyak diadopsi orang, perusahaan dan berbagai negara ini adalah konsep terbaik. Final ! Khususnya mereka yang banyak mendapatkan kenyamanan (comfort) dalam sistem ini. Barangkali tidak salah, apa yang dikatakan Rhenald Kasali dalam bukunya “Change!”.Intinya dikatakan, “Awalnya seseorang membuat sistem (mekanisme tertentu). Namun berikutnya ia sendiri terjebak dalam sistem itu, hingga ia tidak mampu untuk berubah meski ke arah yang lebih baik”. Sindiran ini bisa jadi, sadar atau tidak kita lakukan juga. Termasuk saat ini, saat didera oleh berbagai krisis kehidupan.

Baiklah, saya akan coba ajukan beberapa pandangan, mengapa harus syariah. Dan benarkan ini sebuah alternatif yang lebih baik ?

Pertama. Kenyataan saat ini, menunjukkan bahwa praktek ekonomi (juga bisnis) kapitalis-liberal telah membuat kesenjangan yang begitu besar antar si kaya dan si miskin. Kesempatan berbisnis hanya dimiliki oleh mereka yang punya modal kapital besar dan tega melakukan apapun. Dengan asas kebebasannya (liberal), apapun bisa dibisniskan yang penting untung dan untung ! Salah satunya contohnya adalah praktek riba. Praktek inilah yang membuat banyak investor lebih senang bisnis di sektor non riil dibanding sektor riil. Akibatnya perputaran modal yang seharusnya akan menghasilkan produksi barang/jasa dan akhirnya mendorong terjadinya pembukaan lapangan kerja yang luas menjadi mandul. Belum lagi di praktek pasar saham, pasar uang dan sejenisnya.

Kenyataan data diatas (data dari pemerintah), ternyata tidak sama dengan kenyataan di lapangan. Tidak bisa dipungkiri, masyarakat saat ini merasakan betapa mahalnya harga-harga kebutuhan pokok, minyak dan gas (BBM). Begitu pula dengan biaya kesehatan dan pendidikan yang semakin tidak terjangkau. Kesempatan pengembangan bisnis yang hanya bisa dirasakan oleh sekelompok elit pengusaha, sementara sebagian besar cukup dimasukkan dalam unit usaha yang kecil-kecil. Pemberlakuan pajak yang tidak pandang bulu. Padahal (kalau mau jujur) apa peran pemerintah terhadap pengembangan usaha mereka?

Kedua. Secara empiris, dan dibandingkan secara fair antara sistem ekonomi saat ini (yang sedang berjaya) dan saat sistem Islam juga pernah berjaya dan diterapkan (sejarah mengatakannya dengan istilah Khilafah Islamiyah), maka akan nampak bahwa syariah terbukti telah mampu menyejahterakan umat manusia. Diterapkannya mata uang emas dan perak (dinar dan dirham) terbukti tidak memunculkan masalah moneter (krisis moneter) seperti yang pernah dialami belahan dunia Selatan termasuk Indonesia pada tahun 1997/1998 lalu. Dan masalah moneter muncul manakala sistem sistem ini diganti– setelah PD II, dengan mata uang kertas yang berfungsi sebagai alat tukar sekaligus komoditas (diperjual belikan).

Ketiga. Secara historis tercatat, diterapkannya syariah dikehidupan masyarakat membuat mereka menjadi makmur. Salah satu contohnya yang mashur adalah saat Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah. Tidak ada satupun penduduknya di jazirah Arab yang mau menerima zakat lantaran semua menolaknya, karena mereka sudah hidup berkecukupan dan makmur. Padahal sebelumnya mereka hidup dalam kekurangan.

Keempat, keimanan (keyakinan spiritual). Keyakinan bahwa manusia adalah ciptaan Allah swt dan akan kembali kepada-Nya dengan sebuah pertanggungjawaban (yaumul hisab), secara pasti akan membuat manusia taat atas segala yang dilarang dan diperintahkan oleh-Nya. Keimanan pula yang membuat seseorang yakin akan janji-janji Allah sekaligus dampak buruk yang akan menimpanya akibat meninggalkan perintahnya atau melakukan apa yang dilarang-Nya.

Pendekatan keimanan meyakinkan kita pada beberapa hal :

a. Menerapkan syariah scr kaffah adalah wajib. [Lihat : Qs. 4: 65; Qs. 5: 44,45,47; Qs. 2: 108]
b. Dengan syariah muncul kebaikan. [Lihat Qs. 20: 123-126]
c. Mengabaikan syariah muncul keburukan. [Lihat Qs. 24: 63; Qs. 30: 41]
d. Mendapatkan Keberkahan Hidup. [Qs. 41: 10]

Kelima. Gunakan pikiran jernih dan terbuka terhadap kebenaran, maka akan nampak bahwa realitas mengharuskan adanya perubahan, dan syariah (jika dikaji dengan benar) insyaAllah merupakan alternatif satu-satunya. Seringkali seseorang menolak kebenaran yang didapatnya hanya karena faktor-faktor yang tidak esensial, meski dalam akal jernihnya hal itu benar. Hanya karena orang yang menyampaikan tidak memiliki latar belakang keilmuan dan pengalaman yang lebih baik dirinya–misalnya, kebenaran yang diketahuinya pun ditolak.

Sebagai penutup, mari kita renungkan firman Allah swt berikut ini :

“Maka demi Tuhan mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [TQS. An-Nisa’: 65]

Bagaimana ? Semoga bermanfaat.

Adopted by @_pararaja from http://beyblog.syafaatadvertising.net

Mei 25, 2009

Rancang Bangun Mesin Pengemas dan Rekayasa Teknologi Industri Tahu Kemas

Sudarminto S Yuwono, Harijono, Aji Sutrisno, Bambang Dwi Argo, dan Adam Wiryawan
Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Brawijaya

Permasalahan yang dihadapi dari industri tahu ialah tingginya limbah cair yang dihasilkan, rendahnya mutu limbah cair tersebut, dan rendahnya daya simpan tahu yang diperoleh. Pada penelitian ini permasalahan ini dipecahkan dengan menciptakan alat pengemas dan merekayasa teknologi industri tahu kemas (packet tofu). Banyak mesin pengemas yang telah beredar di pasaran yang menggunakan sistem ffs (forming, filling, sealing), tetapi harganya tidak terjangkau oleh sebagian besar industri tahu yang ada yang pada umumnya berupa industri rumah tangga. Selain itu teknologi tahu kemas sendiri yang berbeda dengan teknologi tahu reguler belum banyak dipublikasikan. Penelitian ini bertujuan menciptakan mesin kemas untuk industri tahu kemas dan paket teknologi industri tersebut yang berdaya simpan tinggi serta menghasilkan analisis finansialnya. Tujuan jangka panjangnya ialah berkembangnya industri tahu yang berwawasan lingkungan yang berupa industri tahu kemas, dan meluasnya jangkauan pemasaran tahu.

Penelitian dilakukan dalam 2 tahap: tahap pertama untuk rekayasa teknologi ekstraksi, penentuan jenis penggumpal, dan rancang bangun mesin pengemas sedangkan tahap kedua untuk proses penggumpalan, uji performansi mesin pengemas, dan analisis kelayakan usaha.

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa proses ekstraksi dengan nisbah kedelai:air 1:5 dapat digunakan untuk proses produksi tahu kemas. Tingkat kehalusan kain saring secara nyata menentukan persentase padatan terekstraksi dan penerimaan panelis. Pada tekanan 100 psi kain saring berukuran 60 dan 80 mesh kurang dapat diterima panelis, sedangkan kain saring 100 dan 110 mesh menghasilkan tahu yang dapat diterima konsumen. Tingkat pengepresan secara langsung juga menentukan persentase padatan terekstraksi. Penggunaan tingkat pengepresan dari 100, 150, 200, 250, dan 300 psi menunjukkan adanya peningkatan padatan terekstraksi. Pada tekanan 250 psi peningkatan padatan terekstraksi mulai menurun sehingga tekanan ini dapat dianggap sebagai tekanan optimum pengepresan. Selain itu pada tekanan 300 psi kain saring tidak tahan lagi menerima tekanan sehingga sobek.

Peningkatan kehalusan partikel bubur kedelai dengan cara penggilingan ulang bubur kedelai dan proses pembilasan ampas justru secara umum menurunkan persentase padatan dan protein terekstraksi. Dengan menggunakan proses tanpa penggilingan ulang dan tanpa pembilasan diperoleh hasil persentase padatan dan protein terekstraksi yang dapat diterima, yaitu 48.8-49.5% untuk padatan terekstraksi dan 74.6% untuk protein terekstraksi.

Kombinasi bahan penggumpal (batu tahu dengan GDL) menghasilkan sifat-sifat tahu yang lebih baik dibanding dengan satu jenis koagulan saja. Untuk parameter proses seperti pemulihan (recovery) padatan, pemulihan protein, dan bobot tahu, penggunaan satu jenis koagulan justru akan memberikan hasil terbaik. Parameter organoleptik (daya terima konsumen) merupakan parameter terpenting dalam menentukan produk terbaik. Perlakuan terbaik dari penentuan bahan penggumpal untuk semua parameter yang diamati ialah bahan penggumpal dengan kombinasi 60% GDL dan 40% batu tahu.

Kapasitas kerja mesin pengemas yang diciptakan ialah 180 tahu kemasan per jam dengan tingkat kerekatan kemasan yang tinggi yang ditunjukkan tanpa adanya kebocoran pada berbagai suhu dan lama pemanasan selama penyimpanan. Kombinasi terbaik pada lama dan kecepatan pengadukan ialah pengadukan 60 detik dan kecepatan 260 rpm. Suhu pemanasan yang dapat digunakan untuk proses penggumpalan dan memberikan hasil yang baik ialah 80-100oC. Perlakuan lama dan suhu pengemasan mempengaruhi sifat fisik, kimia, dan kandungan mikrob. Hasil uji organoleptik dan daya simpan menunjukkan rata-rata panelis menyukai tahu kemas yang dihasilkan. Warna, aroma, rasa, dan kenampakan tekstur disukai oleh panelis serta daya simpan dapat mencapai 28 hari. Hasil analisis BEP menunjukkan bahwa suku bunga bank sangat sensitif terhadap nilai BEP dan dengan demikian juga sangat menentukan harga jual yang layak bagi produk. Dengan harga minimum Rp4500/kg, atau Rp2250 per bungkus, pabrik bisa berjalan dengan layak sampai dengan tingkat suku bunga bank 50%. Kapasitas kerja pabrik normal ialah 96000 kg/tahun dan jam kerja 8 jam per hari, serta hari kerja efektif dalam satu tahun sebanyak 300 hari.

Adopted by @_pararaja from Hibah Bersaing VI

Mei 16, 2009

Hukum dan Perhitungan dalam Kimia

1. Hukum Bernoulli:
P1 + ? gh1+ 1/2 ? v1 = P2 + ? gh2+ 1/2 ? v2
P1 + ? gh1+ 1/2 ? v1 + (-Ws) + Fr = P2 + ? gh2+ 1/2 ? v2
Aplikasi untuk perancangan Pompa.

2. Larutan Ideal dan Gas Ideal
2.1 Larutan Ideal ( Hukum Roult) :
P1 = Puap . X1 (Suhu>> mk Puap >>)
2.2 Gas Ideal (Hukum Dalton):
P1 = PTotal . Y1
Keseimbangan Uap dan cair ditentukan oleh harga K = y1/x1 = Puap/Ptotal
Pada suhu dan tekanan yang tetap nilai K tetap. Ingat suhu akan mempengaruhi nilai Puap dan tekanan tentunya mempengaruhi Ptotal.
Aplikasi untuk Perancangan Destilasi

3. Mendidih dan Menguap
Suhu mempengaruhi Puap. Suatu (larutan) campuran A dan B memiliki tekanan uap PuapA dan PuapB :
Jika PuapA + PauapB = PLingkungan (Mendidih.)
Jika PuapA + PauapB > PLingkungan (Menguap)

4. Enthalpi (Panas tiap Satuan Mol Zat):
H298 = HP298 – HR298
Hreaksi = H298 + HR + HP
Hreaksi = H298 + ? CP ( Produk) dT+ ? CP ( Reaktan) dT
Q= n.HReaksi

5. Konversi , Selektifitas dan Yield :
5.1 Konversi = (Zat yg bereaksi)/(Zat yg diumpan ke Reaktor) x 100%
Menunjukkan Performa Reaktor
5.2 Selektifitas = (Produk akhir)/(Reaktan tg bereaksi) x Faktor Soikiometri
Menunjukkan Performa Unit Pemisah
5.3 Yield = (Produk Akhir)/(Reaktan yg diumpankan ke reaktor) x 100%
Menunjukkan Performa Seluruh Unit proses

6. Arhennius :
k = A . e -(E/(RT))
k= konstanta kecep. Reaksi
E = Energi aktifasi
A= Faktor Frekuensi

7. Kecepatan reaksi , r
7.1.Non Catalyitic
Jika A dan B adalah reaktan, maka
-r = k CAa . CBb, dimana satuan r tetap = mol/(dt . lt) sedangkan satuan k berubah-ubah sesuai dengan banyaknya variabel Consentrasi (mol/lt).Untuk 1 variabel C,mis CA saja,maka nilai k = 1/dt.
• Pada reaksi A + B ? > C, limiting A , (orde 1–sesuai ratio stoikiometri)
Untuk reaksi diatas : -rA = -dCA/ dt = -dCB / dt = k.CA.CB
–rA = CAo dXA/dt = k.CAo(1-XA) . (CBO-CAO.XA)
• Pada reaksi 2A ? product , (orde 2–sesuai ratio stoikiometri)
-rA = – dCA/dt = k.CA2 = k.CAo2.(1-XA)2
• Pada reaksi : A + 2B ? product, (jk orde 1–dianggap ? ratio stoikiometri)
-ra = -dCA/dt = k.CA.CB = k. CAO2.(1-XA).(M-2A) ..(Levenspiel,p.49)
catt : Kecepatan reaksi ,r = dCA/dt , dimana CA =konsentrasi A dan t = waktu
r= dCA/dt = [1/Vol] [dNA/dt] = [1/Vol] . {dNao[1-x] / dt} = Nao/Vol . (-dx/dt) = Cao.(-dx/dt)
Penjelasan mengenai menentukan orde reaksi dapat dilihat di Buku Chemical Reaction Engineering,2nd edition, p.50-54,by Levenspiel.O
7.2 Catalytic
pada intinya dalam melibatkan katalis, ukuran volume (dalam non Catalytic process) diganti dengan ukuran berat Katalis.
• Untuk Reaksi : A ? 4B (Levenspiel,p.500)
-rA = -[1/W]. dNA/dt = k.CA = (liter/(hr.kgCat)). (mol/lt) = mol/(hr.kgCat)
-rA = (NAO/W). dXA/dt……..dimana, NAO/dt =FAO persamaan ini dapat ditulis :
W/FAO = ? dXA/-rA = ? dXA/(k.CA) =[1/(k.CAO)]. ? [(1+? .XA)/(1-XA) . dXA..persamaan ini jika diintegralkan :
W = FAO/(k.CAO) . [{(1+ ? A).ln[1/(1-XA)} - {? A.XA}] .. berat katalis
Dimana ? adalah nilai dari (? koefisien produk) – (? koefisien reaktan)

8. Macam-Macam Tekanan
PGauge(pd alat) = Pabsolut(dr dlm alat) – PBarometer (1 atm)
Dimana, Pabsolut = Pinternal = rho.(tinggi-1)/144…untuk tangki atau vessel.

9. Hk Thermodinamika
Energi System = E (dalam) + Energi Kinetik + Energi Potensial
Energi Lingkungan = (+-)q (+-) W,
• Jika sistem diberi kerja dan menerima panas :
E+Ek+Ep=q-W, dimana E + W =H
• Fungsi Entalphy dan Perubahan Enthalpy
Jika proses berlangsung pada tekanan tetap Psistem=Pud.luar (sist. terbuka) mk:
dE=dq-P.dV——-kerja=W=d(PV).
E,P dan V adl fungsi keadaan, maka E+PV juga fungsi keadaan yang disebut Enthalphy.shg:
E + PV = H atau dE+d(PV)=dH dan,
H2-H1=dH=q—-q dan H sama-sama merupakan panas/mol (Cp dT) sedangkan Q adalah panas saja (=m Cp dT)

10.Hubungan Thermodinamika dan Kinetika
termodinamika dapat untuk mengetahui reaksi tersebut dapat berjalan atau tidak, dengan:
dG=-RT lnKp, jika nilai dg “-” maka reaksi tersebut dapat berjalan.

11.Neraca Massa
* Flux Massa= NAZ= -DAB . (dCa/dZ)
Input-Output+hasil reaksi=0
S.NAZ(pd z)- S. NAZI(pd Z+dZ) + (-rA).S.dZ=0, dimana
S=luas penampang reaktor ,
-rA = mol/(lt.jam)–tetap–
Penghitungan “Hasil Reaksi” jika menggunakan katalis dapat dihitung dengan rumus ? katalis. Z . A, dengan catatan (-rA) = Kgmol/(Kg.Catalyst x jam)
dan Z tinggi reaktor.
Biasanya pers.tersebut dibagi dengan S.dZ dan dilimitkan terhadap dZ,menjadi :
((NAZI(pd Z+dZ) + NAZI(pd Z) )/dZ) + (-rA)=0
-rA = k.Ca………jk order 1
(d NAZ / dZ) + k.Ca = 0……….dan NAZ= -DAB . (dCa/dZ)
Persamaan tersebut akan menjadi: d2CA/dZ2 – k.CA/DAB =0 (yang merupakan persamaan diff.orde 2)

12.Neraca Panas
* Flux Panas = q =-k. dT/dx, dimana Q/A=q
R.input-R.output+R.generation+R.Transfer=R.Acc
(? (Ni.Cpi)reaktan.dT) – (? (Ni.Cpi)produk.dT) +(-rA).Vol.HReaksi + U.A.(Ts-T)=d/dt (? .Vol.Cp.T) , dimana:
(-rA).Vol = NAo.XA
(? .Vol.Cp.T) = H,dalam perancangan biasanya= 0 (Steady state)
Jangan bingung dengan posisi (Ts-T) pada panas yang “Ditransfer”,jika reaksinya Eksoterm,maka perlu pendingin yang berarti “Panas yang ditransfer” harus mengurangi nilai “Panas Masuk”, untuk itu nilai “Panas yang ditransfer harus “-”,yang berarti delta suhunya “-”,itu berarti pula dapat ditulis (Ts-T)–ingat Ts adalah suhu bahan penukar panas dan T adalah suhu sistem/bahan yang direaksikan.Sehingga baik Eksoterm maupun Endoterm posisinya tetap (Ts-T) tapi Ekso bernilai “-” dan Endo bernilai “+”.
* Jika Isotermal Rin=Rout=Racc = 0
Flux panas , q=- k.dt/dx

Perhitungan Panas sangat penting,terutama jika menghadapi beberapa karakteristik kondisi , berikut kami berikan rumus singkat mengenai keberagaman kondisi tersebut

Untuk Reaktor Kontinu :
Ket Rin – R.Out + R.Gen + R.Supply = R.Acc
Rumus n.Cp.dT – n.Cp.dT + -rA.Vol.Hr + U.A.(Ts-T) = m.Cp.dT/dt
Adiabatis s.d.a s.d.a s.d.a 0 0
Non Adiabatis &non Isothermal s.d.a s.d.a s.d.a U.A.(Ts-T) 0
Isothermal s.d.a s.d.a s.d.a s.d.a 0
Ket: s.d.a = sama dengan atasnya
Untuk reaktor Batch semua nilai dari R.In dan R.Out =0

13.Neraca Momentum
* Flux Momentum = ? yx = -? dVx/dy

14.Tipe-Tipe Reaktor Kimia
Reaktor = tempat terjadinya suatu reaksi
14.1 Reaktor Homogen (Batch, Semi batch, dan Alir)
14.1.1.Reaktor Semibatch jika reaksinya sangat lama dan eksoterm. Misal jika A dan B dicampurkan langsung akan mudah meledak, maka pencampurannya harus perlahan-lahan (semi batch).
14.1.2.Reaktor Alir dibagi dua yaitu :
1.Reaktor alir Tangki Berpengaduk (RATB) atau Continous Stired Tank Reactor (CSTR).
2.Reaktor Alir Pipa (RAP) atau PFR (Plug Flow Reactor)
Keduanya dapat dipasang tunggal/single atau multiple (Seri dan paralel).

14.2 Reaktor Heterogen (dibagi berdasar sistem/fase feednya)
• Sistem Padat-Gas dan Padat Cair = Fixed Bed, Fluidized Bed Reaktor
• Sistem Cair-Gas = Reaktor Gelembung (serupa dengan Fluidised bed) dan Packed Tower (ada bahan isiannya)
• Sistem Cair-Gas-Padat= Trickel Bed dan Reaktor Slurry

15.Katalis
Fungsi mempercepat laju reaksi.
• Pada Reaksi Reversibel dapat menggeser keseimbangan
• Pada Reaksi Multiple memberikan tingkat Laju reaksi yang berlainan,antara reaksi Primer dan sekundernya
• Pada Fase Homogen,katalis hanya berpengaruh pada mekanissmenya saja.Pada fase ini yang penting adalah pemisahan katalis dengan produk/sisa produk harus baik.
• Pada Fase Heterogen,pemisahan lebih mudah.
15.1.Katalis dan Macamnya :
• Supported Catalyst, bahan aktif yang dioperasikan ke dalam bahan lain yang porus agar luas muka kontak besar.
• Bulk Catalist Material, biasa disebut juga Platinum Wire Mess atau katalis yang berbentuk jaringan kawat (semacam jaring) yang dilalui feed.

15.2.Pengaruh Katalis dan hubungannya dengan Laju Reaksi
• Luas muka aktif Katalist>> maka Volume reaktor <<
• Konsentrasi Peraeaksi juga berpengaruh pada laju reaksi
• Suhu dan Tekanan Operasi
• Difusi dan Kinetika reaksi yang menunjang, untuk T >> yang mengendalikan adalah difusi karena dengan T>>,maka, r(kec.reaksi) >>,ingat rumus arhennius.Selain suhu, konsentrasi juga menentukan.Sedangkan jika T<< yang mengendalikan adalah reaksi kimia,karena r<<,sedangkan difusi hampir tidak dipengaruhi oleh perubahan suhu tapi dipengaruhi oleh perlakuan fisik,seperti pengadukan.

15.3.Degradasi Katalis
Degradasi Katalis =penurunan kemampuan katalis dalam mempercepat laju suatu reaksi,hal ini disebabkan oleh:
• Penurunan kinerja katalis,ini dilihat dari penurunan laju reaksi (Konversi reaksi semakin rendah),Dapat ditanggulangi (untuk sementara) dengan menaikkan suhu sehingga kecepatan reaksinya membesar yang otomatis konversinya baik lagi.Penurunan kinerja ini dapat terjadi karena :
1. Physical Loss (Katalis hilang),misalnya pemrosesan reaksi dengan katalis yang homogen sehingga akibat pemisahan yang berkelanjutan,sedikit demi sedikit katalis akan hilang.Sedang pada pemrosesan dengan katalis Heterogen khususnya di Fluidized bed reactor, biasanya hilangnya katalis karena gesekan yang terjadi antar katalis (penggerusan).
2. Surface Deposit, artinya tertutupnya permukaan katalis oleh deposit/kerak.Dapat ditanggulangi dengan meregenerasi katalis.
3. Sintering,peristiwa pelengketan hasil dan katalis karena suhu proses berada sedikit dibawah titik lelehnya.Biasanya terjadi jika ditempuh proses menaikkan suhu untuk mengatasi kinerja katalis yang berkurang (spt.diatas) yang berakibat terjadinya pelengketan hasil dan katalis.Umunya terjadi pada:Katalis padat dan reaksi dengan feed gas,dan terjadi pada muka aktif. Sintering mudah terjadi akibat perpindahan panas yang buruk (terjadi hot spot–ketidak seragaman panas tiap titik–) sedang hot spot dapat terjadi karena pencampuran reaktan yang kurang baik.Sintering terjadi ketika suhu=1/2 titik leleh katalis.
4. Poissoning ,peracunan pada permukaan katalis,terjadi karena:Umpan tidak murni/banyak pengotor (Feed impuritis),contoh gas alam tercemar oleh H2S,yang itu harus dihilangkan dulu dengan Fe2O3.
5. Perubahan Kimiawi.
Untuk melihat tentang kinerja katalis (dengan observasi) lihat dihalaman 476 Levenspiel.

16.Komposisi Minyak Bumi
Minyak bumi terdiri dari campuran Hidrokarbon ( mengandung unsur C dan H) dan Non Hidrokarbon (unsur S,O,N dan Logam-logam)
16.1.Senyawa Hidrokarbon digolongkan menjadi:
1. Parafin, CnH2n+2
2. Naftalen, CnH2n
3. Aromatis, CnH2n-6
4. Olefin, CnH2n
5. DiOlefin, CnH2n-2
Nomor 1,2 dan 3 terdapat dalam minyak mentah.Sedang nomor 4 dan 5 terjadi pada saat pemrosesan minyak mentah.
Pada umumnya suatu Industri Pengolahan Minyak bumi memakai Crude oil (Minyak Mentah) berciri Parafinik dan Naftenik. Bagaimana cara mengetahui kandungan suatu Crude itu Parafinik atau Naftenik?
Ada faktor Karakterisktik (K);
K = (Titik Didih rerata molar)1/3 : (SpGr pd T=600F)
Jika nilai K:
12,15-12,9 Dasar Parafinik
11,5-12,1 Dasar Tengahan
10,5-11,45 Dasar Naftenik
Adapun sifat-sifat umum dari Parafinik Base dan Naftenik Base adalah:
Sifat-Sifat Dasar Parafin Dasar Naften
API gravity • B -
Kandungan Nafta • B -
Angka Oktan – • B
Smoke Point • B -
Angka Cetan • B -
Ttk Tuang Pelumas -B
Indeks Viskositas • B -

Keterangan :
• = Tinggi
….B = Baik
Minyak berciri Parafinik dipilih oleh suatu industri Pengolahan Minyak jika pabrik tersebut membutuhkan unsur Wax yang merupakan hasil dari pemrosesan Crude Parafinik.
Sedang minyak berciri Naftenik diambil jika pabrik tersebut berkonsentrasi pada pembuatan Gasoline (Bensin ) mengingat bentuk naftenik berbentuk Cincin (mendekati benzen/aromat) daripada Parafinik. Naftenik mempunyai angka Oktan tinggi.
Yang lebih baik lagi jika suatu Crude Oil mengandung Aromat tinggi. Mengingat proses pembutan bensin adalah proses Aromatisasi (Pembentukan cincin), sehingga tidak memperberat proses di pengilangan.

Mei 16, 2009

SMK 3 Kimia Madiun

ya…

SMK N 3 Madiun,

dah lama nih kita kenal..

apa yach yg sekarang ada..?

gimana ya lulusannya

 

 

Mei 13, 2009

Falsafah Pendidikan untuk Pengadapan Manusia

Oleh : P. Moses Elias Situmorang OFMCap

Pendidikan itu berbeda dengan persekolahan.

Memang tidak selalu dua yang bertentangan. Namun dua benda ini memang harus dibedakan, karena banyak orang dibingungkan oleh keduanya.

Banyak orang beranggapan dia sedang menerangkan topik pendidikan, ternyata yang dimaksud adalah sekolah atau persekolahan.

Pendidikan adalah substani dan isi sementara persekolahan adalah sistem, sarana dan gedung. Cukup sering sarana memberikan bantuan. Tetapi dalam beberapa dekade ini, dalam banyak kasus, sekolah dengan segala sepatu, buku, administrasi, uang gedung, ijazah dan masih banyak aksesori lain lebih banyak mengganggu pendidikan daripada membantu.

Sekarang ini kita banyak diskusi mengenai Standar Nasional Pendidikan, UU tentang Guru dan Dosen (ada lagi Undang-undang Badan Hukum Pendidikan) yang dikeluarkan pada tahun 2005). Anehnya semua undang-undang pendidikan ini bukanlah persoalan pendidikan. Ia hanyalah setitik kecil persoalan teramat panjang dari persekolahan. Langsung tidak langsung adanya sekolah telah menambah biaya (uang, mental, energi, fisik) yang harus dipikul masyarakat untuk mengenyam pendidikan.

Lalu pertanyaan berikut, mengapa kita hanya bisa mengeluh dan meratapi suasana itu? Beranikah kita melawan dan tampil beda dari mereka? “kita” di sini yang disebutkan disini selalu mengandalkan gerakan bersama. Protes harus dikerjakan bersama-sama agar berubah menjadi proyek kesadaran.

Masihkan kita punya keberanian untuk kembali pada ‘pendidikan’ yang menjadi substansi, bukan persekolahan yang terus-menerus menjadi sumber carut-marutnya pendidikan. Kita mesti sadar bahwa yang mutlak untuk kita adalah kembali pada filsafat pendidikan yang solid: mendidik orang menjadi berilmu dan memiliki etos dan punya displin tanpa menjadikan anak didik seperti robot dan patung emas.

Pendidikan dan Filosofi Sang Guru

Dalam novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata menulis tentang filosofi sang guru, “Guru yang pertama kali membuka mata kita akan huruf dan angka-angka sehingga kita pandai membaca dan menghitung.” Pengalaman Hirata yang dituliskan dalam bentuk novel ini membuka hati kita akan peran dan filosofi seorang guru sebagai pendidik dan pengajar untuk membebaskan para peserta didik dari kegelapan menuju pencerahan.

Harapan bagi para guru untuk membebaskan anak-anak bangsa dari kegelapan belum tercapai. Kemerosotan mutu pendidikan nasional di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari rendahnya mutu guru karena mempunyai peran sangat penting dan strategis dalam penyelenggaraan pendidikan.

Dalam kerangka peningkatan mutu, satu permasalahan fundamental dalam sistem pendidikan nasional adalah dehumanisasi pendidikan. Seharusnya pendidikan menghormati dan menghargai martabat manusia beserta segala hak asasinya. Peserta didik seharusnya tumbuh dalam kemanusiaannya sebagai subyek melalui proses pendidikan. Tapi yang sedang terjadi adalah justru sebaliknya. Ada terlalu banyak pratik-pratik sekolah yang menunjukkan betapa peserta didik sudah diperlakukan sebagai objek demi kepentingan ideologi, politik, industri,dan bisnis.

Guru sebagai pendidik tidak mampu mengembangkan kesadaran untuk menghentikan gejala dehumanisasi ini dan membebaskan peserta didik dari kegelapan karena para guru merasa terjebak sebagai objek dalam sistem pendidikan nasional. Berikut kami tampilkan sebagian kecil realitas belenggu kemiskinan yang dihadapi guru yakni:

1. Dengan gaji dan tunjangan yang kurang memadai, guru terlalu sibuk mencari penghasilan tambahan.
2. Dengan jam mengajar yang panjang dan tugas administratif yang membebani, guru sudah tidak punya waktu untuk membaca dan mengembangkan diri akibatnya pengetahuan, wawasan dan kreatifitas guru sulit berkembang.
3. Guru yang seharusnya berperan sebagai aktor dalam proses pembudayaan transformasi nilai-nilai malah sebagai guru malah melakukan pelanggaran etika sebagai pendidik dengan memberikan les privat bagi peserta didik dan bahkan membocoran soal ujian sendiri atau terlibat sebai saksi yang menutup mulut atas beberapa tindakan manipulasi dan korupsi oleh birokrasi pendidikan atau pengelola sekolah.
4. Akhirnya belenggu kemiskinan finansial, intelektual, emosional dan kultural sering membuat guru kehilangan indentitas dan integritas. Pekerjaan sebagai guru tidak lagi dilandasi oleh spiritualitas profesi dan tidak menjadi bagian perjalanan kemanusiaan.

Pendidikan tidak pernah lepas dari wibawa dan peranan guru. Maka dalam cahaya pradigma baru kita perlu berupaya mengangkat derajat guru. Di tengah keprihatinan terhadap kemerosotan mutu dan status guru, peraturan pemerintah No.19, tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan dan undang-undang no.14, tahun 2005 tentang guru dan dosen yang diluncurkan dengan itikad baik diantaranya mengatur profesionalisme guru dan memberikan jaminan terhadap perlindungan dan kesejahteraan guru.

Sementara yang menjadi janggal adalah persoalan konseptual pendidikan profesional guru masih belum terselesaikan, program porfotfolio sudah langsung dijalankan untuk menilai kompetensi seorang guru. Akibatnya berbagai akses (misalnya keikutsertaan dalam program pendidikan dan pelatihan hanya demi sertifikat, ada manipulasi berkas, dan kolusi antara pemilik fortofolio dan penilai) sangat menodai profesi guru dan bahkan melemparkan guru pada titik nadir dalam perjalanan profesinya.ini problema guru yang dihadapi di Indonesia.

Terlepas dari segala tetek bengek peraturan yang dibuat oleh pemerintah satu hal penting dalam mendidik adalah bahwa guru harus bepegang pada filosofi pengajaran yakni semangat sebagai guru secara terus-menerus harus mengaitkan tiga hal yakni dirinya sendiri, anak didik, dan bidang pengetahuan/keterampilan yang diampunya. Berbagai kemampuan yang diharapkan dimiliki dan dikembangkan seorang guru seyogianya menjadi bagian tak terpisahkan dari sosok utuh kompetensi profesional seorang pendidik.

Perwujudan Falsafah Pendidikan

Peter C.Hodgson, seorang ahli pendidikan melihat sosok Allah sebagai Pendidik utama dalam transformasi hidup sejarah manusia dan menawarkan sejarah Pendidikan Allah. Peter C.Hodgson menjungkirbalikkan berhala-berhala pendidikan modern yang banyak merusak manusia antara lain memaksa anak untuk berprestasi sedemikian hebat dengan sistem pemaksaan jadwal yang sangat ketat. Peter menawarkan inti falsafah Pendidikan yang di dalamnya ada roh kasih, kebenaran, dan keadilan.

Menurut Hodgson pendidikan harus menyingkapkan kebenaran dan menyelematkan umat manusia dari kesesatan (the darkness of error) dan berhala (idolatry). Karena itu dalam konteks pendidikan mesti disadari bahwa akal budi di satu sisi adalah tanda kemuliaan Ilahi, tetapi sekaligus menjadi potensial menjadi sumber penderitaan manusia yang tak terperikan.

Kita perlu menebus budi namun tidak menggusurnya. Kita perlu memerangi kejahatan yang disebabkan oleh akal budi. Pendidkan bertujuan membeirkan tanggapan terhadap panggilan akan kebenaran. Inilah rangkuman seluruh roh pendidikan. Lepas dari sini maka pendidikan akan tidak berdaya guna.

Semuanya bisa berjalan dengan baik karena ada kerja sama. Kerja sama, iman, kasih, dan solidaritas menjadi inti falsafah pendidikan. Karena itu dalam konteks menerapkan falsafah pendidikan perlu diperhatikan tiga C yakni

Competensi==> dapat diandalkan dan berdaya guna.

Compassion==> berempati kepada orang lain.

Conscience==> memiliki kesadaran moral (beriman).

Dengan tiga C yang ditanamkan dalam pendidikan hasil yang diharapkan adalah manusia terdidik yang memiliki kharakter. Kita mengharapkan setiap anak didik yang dididik tumbuh menjadi manusia berkarakter (memiliki kepribadian yang tangguh). Menurut Ernest Hull, seorang Jesuit pendidik dari abad lalu, pembentukan karakter dimulai dengan “tujuan yang hendak dicapai.” Kita perlu berfantasi, membayangkan karakter yang hendak dibangun pada siswa. Agar berkarakter maka setiap anak didik perlu didorong untuk disiplin, dikondisikan untuk tidak mencontek, bermental juara dan bahkan jiwa seni mereka pun perlu dikembangkan.

Pendidikan karakter adalah bagian integral upaya mendampingi peserta didik untuk mengembangkan potensi manusiawi mereka. Maka tanggungjawab sekolah adalah membantu peserta didik untuk mengubah potensi manusiawi menjadi tindakan konkret. Pendidikan karakter ini juga untuk memberikan visi etis kepada peserta didik.

Visi etis diharapkan menempatkan diri mereka pada horizon yang lebih luas. Pendidikan yang mengabaikan pembentukan visi etis dikawatirkan hanya akan menjadi proses pemindahan pengetahuan yang tidak berakar berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan karakter dengan demikian diharapkan dapat membantu peserta didik untuk menjadi pribadi yang semakin manusiawi dan beriman.

Pintar saja tidak cukup tetapi perlu mendidik anak-anak di sekolah Katolik agar bisa berempati, beriman dan lebih manusiasi. Manusia berkarakter (manusia beradab) merupakan salah satu tujuan filsafat pendidikan.

Penutup

Kita mau maju. Air mata murid dan guru telah banyak menggenangi pendidikan Indonesia. Kecurangan ujian nasional, kekerasan antarsiswa, dan pelecehan terhadap etika profesi guru menjadi potret-potret buram pendidikan yang membuat kita tak kuasa menitikkan air mata duka. Kita mendengar tangisan murid di awal tahun ajaran baru.

Komunitas guru berbondong-bondong ke istana negara membawa air mata pendidikan di tangan mereka. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang berhasil menciptakan manusia-manusia beradab. Maju terus untuk meraih gemilang di masa mendatang. Terimakasih. Dirgahayu Hardiknas 2009.***

Penulis seorang pastor Kapusin, tugas sebagai dosen Etika Unika St.Thomas Medan dan editor Bina Media.

Adopted from http://www.analisadaily.com

Mei 13, 2009

BAHAN GALIAN (1 dari 3).

Bahan galian merupakan mineral asli dalam bentuk aslinya, yang dapat ditambang untuk keperluan manusia. Mineral-mineral dapat terbentuk menurut berbagai macam proses, seperti kristalisasi magma, pengendapan dari gas dan uap, pengendapan kimiawi dan organik dari larutan pelapukan, metamorfisme, presipitasi dan evaporasi, dan sebagainya (Katili, R.J. 1966).
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 27 tahun 1980, bahan galian dibagi menjadi tiga golongan. Penggolongan bahan-bahan galian didasari pada :
1. Nilai strategis/ekonomis bahan galian terhadap Negara.
2. Terdapatnya sesuatu bahan galian dalam alam.
3. Penggunaan bahan galian bagi industri.
4. Pengaruhnya terhadap kehidupan rakyat banyak.
5. Pemberian kesempatan pengembangan pengusaha.
6. Penyebaran pembangunan di Daerah.
Bahan-bahan galian tersebut digolongkan sebagai berikut :

A.GOLONGAN BAHAN GALIAN YANG STRATEGIS
Bahan galian Strategis berarti strategis untuk Pertahanan dan Keamanan serta Perekonomian Negara. Golongan ini terdiri dari :
• Minyak bumi, bitumen cair, lilin bumi, gas alam.
• Bitumen padat, aspal.
• Antrasit, batubara, batubara muda.
• Uranium, radium, thorium dan bahan-bahan galian radioaktip lainnya.
• Nikel, kobalt.
• Timah.
1.Minyak Bumi
Minyak bumi merupakan suatu material organik dan secara kimia dikenal dua macam yaitu deretan parafin dan deretan naphtene. Pada umumnya terdapat pada sedimen-sedimen yang tebal dan tidak pernah atau jarang sekali ditemukan pada batuan metamorf atau batuan beku. Di Indonesia, endapan-endapan geosinklin pada zaman tersier banyak mengandung minyak bumi karena kondisinya yang baik. Lapisan yang mengandung minyak bumi biasanya batuan berpori seperti batupasir ataupun batugamping.
Hasil olahan dari minyak bumi sangat diperlukan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan kebanyakan sebagai bahan bakar. Hasil olahannya tersebut seperti bensin, solar dan lain-lain.
2.Batubara
Batubara adalah termasuk salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.
Batubara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk. Analisa unsur memberikan rumus formula empiris seperti : C137H97O9NS untuk bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit.
Hampir seluruh pembentuk batubara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis tumbuhan pembentuk batubara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut:
Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat sedikit endapan batubara dari perioda ini.
Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga. Sedikit endapan batubara dari perioda ini. Pteridofita, umur Devon Atas hingga KArbon Atas. Materi utama pembentuk batubara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tetumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat. Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah. Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama batubara Permian seperti di Australia, India dan Afrika.
Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.
Potensi sumberdaya batubara di Indonesia sangat melimpah, terutama di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera, sedangkan di daerah lainnya dapat dijumpai batubara walaupun dalam jumlah kecil dan belum dapat ditentukan keekonomisannya, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua, dan Sulawesi. Di Indonesia, batubara merupakan bahan bakar utama selain solar (diesel fuel) yang telah umum digunakan pada banyak industri, dari segi ekonomis batubara jauh lebih hemat dibandingkan solar, dengan perbandingan sebagai berikut: Solar Rp 0,74/kilokalori sedangkan batubara hanya Rp 0,09/kilokalori, (berdasarkan harga solar industri Rp. 6.200/liter).
Dari segi kuantitas batubara termasuk cadangan energi fosil terpenting bagi Indonesia. Jumlahnya sangat berlimpah, mencapai puluhan milyar ton. Jumlah ini sebenarnya cukup untuk memasok kebutuhan energi listrik hingga ratusan tahun ke depan. Sayangnya, Indonesia tidak mungkin membakar habis batubara dan mengubahnya menjadi energis listrik melalui PLTU. Selain mengotori lingkungan melalui polutan CO2, SO2, NOx dan CxHy cara ini dinilai kurang efisien dan kurang memberi nilai tambah tinggi.
Batubara sebaiknya tidak langsung dibakar, akan lebih bermakna dan efisien jika dikonversi menjadi migas sintetis, atau bahan petrokimia lain yang bernilai ekonomi tinggi. Dua cara yang dipertimbangkan dalam hal ini adalah likuifikasi (pencairan) dan gasifikasi (penyubliman) batubara. Membakar batubara secara langsung (direct burning) telah dikembangkan teknologinya secara continue, yang bertujuan untuk mencapai efisiensi pembakaran yang maksimum, cara-cara pembakaran langsung seperti: fixed grate, chain grate, fluidized bed, pulverized, dan lain-lain, masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahannya.
Penambangan bahan galian strategis ini cukup banyak dijumpai di Indonesia. Metode penambangan yang digunakan adalah open pit mining atau penambangan terbuka dengan alas an keberadaan endapan batubara yang tidak membutuhkan penambangan hingga bawah permukaan yang dalam, selain faktor efisiensi biaya produksi.
Adapun perusahaan yang mengeksploitasi batu bara di Indonesia antara lain yaitu PT Arutmin Indonesia penambangan di Kalimantan Selatan, PT Berau Coal penambangan di Kalimantan Timur, PT Kaltim Primacoal penambangan di Sangatta Kabupaten Kutai Timur, dan beberapa perusahaan lainnya.
3.Uranium dan Thorium
Endapan-endapan mineral radioaktif seperti uranium dan thorium terdapat dalam bentuk primer seperti pegmatit dan bijih, serta bentuk sekunder seperti endapan sedimen. Batuan pegmatit adalah batuan berbutir kasar yang terbentuk pada fase terakhir dari pendinginan batuan plutonik. Batuan pegmatit biasanya mengandung kuarsa dan feldspar. Mineral radioaktif biasanya dalam bentuk lensa atau kantung.
Di Indonesia, belum ditemukan endapan-endapan uranium yang berharga karena kurangnya penyelidikan geologi yang dilakukan ke arah tersebut. Mineral radioaktif yang telah ditemukan yaitu monazit dan xenotim yang biasanya mengandung unsur thorium. Mineral tersebut ditemukan dalam endapan alluvial, bersama dengan bijih timah di Bangka, Belitung, pulau Berhala dan pulau-pulau timah lainnya.
Deskripsi dari logam thorium yaitu sebagai sumber energi nuklir. Sebagian besar panas di bagian internal bumi merupakan hasil dari thorium dan uranium. Thorium murni berwarna putih keperakan yang stabil dari udara dan retains its luster untuk beberapa bulan. Jika terkontaminasi dengan oksida, perlahan menyublim di udaraberubah warna menjadi abu-abu hingga akhirnya hitam, memiliki titik leleh 3300oC yang juga merupakan suhu tertinggi dibandingkan oksida lainnya.
Perlahan juga terubah oleh air tetapi tidak langsung larut pada kondisi asam, kecuali hidroklorik. Bubuk logam thorium umumnya pyrophoric dan disimpan dengan sangat hati-hati.ketika dipanaskan dalam air berubah menjadi ignite dan terbakar menghasilkan warna putih menyala.
4.Nikel
Unsur nikel berhubungan dengan batuan basa yang disebut norit. Nikel ditemukan dalam mineral pentlandit, dalam bentuk lempeng-lempeng halus dan butiran kecil bersama pyrhotin dan kalkopirit. Nikel biasanya terdapat dalam tanah yang terletak di atas batuan basa.
Di indonesia, tempat ditemukan nikel adalah Sulawesi tengah dan Sulawesi Tenggara. Nikel yang dijumpai berhubungan erat dengan batuan peridotit. Logam yang tidak ditemukan dalam peridotit itu sendiri, melainkan sebagai hasil lapukan dari batuan tersebut. Mineral nikelnya adalah garnerit.
5.Kobalt
Deskripsi fisik yang ditunjukkan kobalt adalah bersifat brittle, keras, dan merupakan transisi logam dengan magnet. Kobalt juga terdapat dalam meteorit. Endapan mineralnya dijumpai di Zaire, Morocco dan Canada. Cobalt-60 (60Co) dapat membentuk isotop buatan dengan tembakan sinar gamma (energy radiasi tinggi). Garam kobalt salts berwarna biru gelap dan seperti gelas atau bening. Banyak digunakan dalam industri. Digunakan juga untuk bahan dasar perasa makanan yang mengandung vitamin B12 dalam kadar yang tinggi.
6.Timah
Bijih timah biasanya terdapat dalam bentuk kassiterit atau oksida timah. Sumber timah di Bangka terdapat pada batuan granit yang berumur yura. Bijih primer terdiri dari urat kassiterit dan kuarsa kassiterit. Dikarenakan pelapukan dan konsentrasi alluvial maka kassiterit dalam endapan primer menjadi memekat sebagai lapisan berbentuk dendrit. Dua per tiga hasil timah dunia berasal dari endapan alluvial. Salah satu kegunaan timah yaitu sebagai alloy dalam pembuatan baja.
Deskripsi dari mineral logam ini yaitu putih keperakan, malleable, beberapa ductile dan berstruktur sangat kristalin. Memiliki dua bentuk allotropic. Pada suhu hangat menjadi abu-abu atau timah- α dengan struktur kubikal dan pada suhu 13,2°C atau timah-β yaitu bentuk umum logam timah. Perubahannya juga dipengaruhi oleh pengotor aluminium dan seng, dapat dicegah dengan memberikan tambahan antimony atau bismuth.
Timah tahan terhadap distilasi, air laut, dan air minum. Akan tetapi dapat terpengaruh asam kuat, mineral alkali, dan garam dari mineral asam, oksigen terlarut juga mempercepat perusakan. Ketika dipanaskan membentuk SnO2. Digunakan untuk campuran lembaran baja sebagai kaleng timah. Di Indonesia, penambangan timah yang terkenal dijalankan oleh PT Timah yang berlokasi di Bangka Belitung. Dilakukan dengan open mining pit atau penambangan terbuka.
(Bersambung ke bagian 2 dan 3)

Adopted from www.nooradinugroho.wordpress.com

Mei 13, 2009

Potensi zeolit Bayah Kab. Lebak sebagai media adsorpsi limbah zat warna tekstil*.

Oleh : Arifin

Industri tekstil dan produk tekstil merupakan salah satu bidang yang sangat berkembang di Indonesia. Dengan semakin meningkatnya jumlah ekspor tekstil dan produk tekstil ini maka barang – barang pembantu juga mengalami kenaikan sedemikian rupa.
Kira – kira 800.000 ton pewarna diproduksi untuk kebutuhan dunia. Lebih dari separuhnya merupakan zat pewarna tekstil, dari jumlah ini 15 % untuk zat pewarna kulit dan kertas, 25 % dari jumlah produksi adalah pigmen organik, sedangkan zat optik kira – kira 6 %. dan sekitar 30 ribu ton zat warna telah mengganggu masalah pencemaran lingkungan.
Terlepas dari peranannya sebagai komoditi ekspor yang diandalkan, ternyata industri tekstil ini menimbulkan masalah yang serius bagi lingkungan terutama masalah yang diakibatkan oleh limbah cair yan dihasilkan. Industri tekstil mengeluarkan air limbah dengan parameter BOD, COD, padatan tersuspensi dan warna yang relatif tinggi. Disamping itu limbah cair ini dapat pula mengandung logam berat yang bergantung pada zat warna yang digunakan.
Jumlah yang sangat kecil saja dari zat warna dalam air (10 – 50 mg/L) dapat dengan mudah dilihat dan mempengaruhi pada kenampakan, kejernihan air, dan gas yang terlarut pada badan air. Penghilangan zat warna dalam air limbah sering lebih penting daripada penghilangan zat – zat organik terlarut tak berwarna karena warna merupakan pencemar pertama yang dapat diketahui dan harus dihilangkan sebelum dibuang ke badan air atau tanah. Dan hampir sebagian besar zat warna tekstil bersifat karsinogenik atau dapat menyebabkan penyakit kanker.
Salah satu upaya dalam mengolah air limbah zat warna tekstil adalah dengan menggunakan metode adsorpsi dengan media zeolit. Zeolit dapat berasal dari alam maupun sintesis. Metode pengolahan secara adsorpsi merupakan gabungan metode fisika kimia yang murah dan memberikan alternatif yang paling baik dengan analisis yang tepat dan kontrol lingkungan.
Penggunaan zeolit sebagai media adsorpsi menjadi hal yang menarik karena jumlahnya yang besar di Indonesia terutama zeolit dari Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Zeolit merupakan batuan mineral atau mineral alam, yaitu senyawa silika dan dinyatakan sebagai Alumino silikat terhidrasi, berbentuk halus dan merupakan produk sekunder yang stabil pada kondisi permukaan, baik berasal dari proses pelapukan, sedimentasi, maupun aktivitas hydrothermal.
Berdasarkan hasil survei terdapat sekitar 40 lokasi yang mengandung endapan zeolit alam dan sebagian besar berada di Pulau Jawa, termasuk yang terluas di daerah Banten, Kabupaten Lebak. Kandungan Zeolit di Kecamatan Bayah atau sekitar 135 km dari kota Rangkasbitung, terhampar pada areal seluas 400 hektar lebih dengan deposit lebih dari 123 juta ton. Potensi ini merupakan salah satu sumber bagi Kabupaten Lebak, untuk diberdayakan sejalan dengan otonomi daerah. Namun, sehubungan keterbatasan SDM dan sumber pengelolaan, maka potensi itu masih terhampar diatas bebukitan Bayah.
Bahan tambang zeolit ini termasuk ke dalam golongan galian C dan menurut PTBIN-BATAN dinyatakan bahwa zeolit alam Bayah mempunyai struktur sangkar kristal mineral zeolit alam campuran fasa klipnotilolit bentuk poli kation K-Mg dan mordenit bentuk poli kation Ca-Na, serta mempunyai rumus kimia oksida yaitu Na0,15 K1,44 Ca2,04 Mg0,70 Mn0,02 Fe0,44 {(AlO2)6,76 (SiO2)}29,32 6,57 H2O.
Untuk peningkatan zeolit sebagai penyerap perlu terlebih dahulu dilakukan proses aktivasi dan modifikasi. Aktivasi dilakukan untuk meningkatkan sifat-sifat khusus zeolit dengan cara menghilangkan unsur-unsur pengotor dan menguapkan air yang terperangkap dalam pori kristal zeolit.
Ada dua cara yang umum digunakan dalam proses aktivasi zeolit, yaitu dengan pemanasan atau kalsinasi dan menggunakan pereaksi kimia. Pada proses modifikasi, agar supaya zeolit dapat menyerap logam berat yang berupa anion, mikroorganisme, serta zat organik lain maka zeolit perlu dimodifikasi yaitu memakai polimer organik alam atau pelapisan dengan Mangaan.
Operasi dari proses adsorpsi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu, dilakukan dalam suatu bak dengan sistem pengadukan, dimana penyerap yang biasanya berbentuk serbuk dibubuhkan, dicampur dan diaduk dengan air dalam suatu bangunan sehingga terjadi penolakan anatara partikel penyerap dengan fluida.
Sedangkan operasi dan proses adsorpsi selanjutnya yaitu dilakukan dalam suatu bejana dengan sistem filtrasi, dimana bejana yang berisi media penyerap di alirkan air dengan model pengaliran gravitasi. Jenis media penyerap sering digunakan dalam bentuk bongkahan atau butiran/granular dan proses adsorpsi biasanya terjadi selama air berada di dalam media penyerap.
Beberapa faktor penting yang dapat mempengaruhi tingkatan terjadinya adsorpsi tersebut adalah agitasi, karakteristik adsorben, daya larut, ukuran molekul zat terlarut, pH larutan, waktu kontak, distribusi dan ukuran pori, serta temperatur larutan.

*Ringkasan dari karya tulis yang disampaikan dalam Lomba Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (MAWAPRES) Tingkat Kopertis IV Jawa Barat – Banten 2009 di Bandung tanggal 12 Mei 2009.

Mei 13, 2009

Pemanfaatan Lignin dari Limbah Industri Kertas dan Serbuk Gergaji untuk Pembuatan Turunan Antibiotik C-9154

Jumina, Dwi Siswanta, dan AK Zulkarnain
Jurusan Kimia, Universitas Gadjah Mada

Industri pulp kertas dan kayu lapis merupakan 2 jenis industri yang berkembang pesat di Indonesia. Industri pulp menghasilkan limbah berupa lindi hitam dan industri kayu lapis menghasilkan serbuk gergaji yang banyak mengan-dung lignin (15-35%). Mengingat tingginya volume limbah yang mengandung lignin di dalam negeri, maka akan sangat menguntungkan sekiranya limbah tersebut dapat diubah menjadi produk yang lebih berdaya guna. Lignin telah lama dimanfaatkan di negara-negara Barat untuk pembuatan vanilin. Metode baku untuk mengubah lignin menjadi vanilin pun mudah ditemukan dalam pustaka. Berdasarkan struktur kimianya, vanilin mungkin dapat diubah menjadi turunan antibiotik C-9154. Antibiotik C-9154 sendiri merupakan antibiotik berspektrum luas (MIC 10-100 mcg/ml) yang dihasilkan lewat proses fermentasi. Namun, antibiotik ini kurang berkembang dan belum diproduksi secara komersial akibat efisiensi produksinya yang rendah (0.02%).


Penelitian ini bertujuan menemukan metode yang efisien untuk pengubahan lignin menjadi turunan antibiotik C-9154. Di samping itu, juga diupayakan penganekaragaman struktur antibiotik C-9154. Pembuatan turunan antibiotik C-9154 dari lignin secara umum dibagi dalam 2 tahap. Pertama, pengubahan lignin menjadi vanilin sesuai dengan prosedur Hartley, dan kedua, transformasi vanilin menjadi turunan antibiotik C-9154.


Lignin berbentuk padatan amorf dan berwama coklat dengan rendemen 17.5% (b/v) dapat diperoleh melalui pengasaman menggunakan HCl pekat terhadap cairan limbah pekat PN Kertas Leces Probolinggo. Di sisi lain, lignin berwarna coklat tua juga berbentuk padatan amorf dapat diperoleh dari serbuk gergaji yang berasal dari kayu Kalimantan dengan rendemen 36% berdasar prosedur Klason, dan 8% berdasar cara Pepper. Degradasi oksidatif lignin menjadi vanilin dikerjakan menggunakan campuran NaOH 0.2N dan nitrobenzena dengan nisbah volume 16:1 dalam reaktor tertutup pada suhu 160°C selama 2 jam. Dari 1.0 g lignin diperoleh 0.68 g produk kotor yang berdasar data kromatografi gas-spektrometer massa (GC-MS) mengandung 3 komponen utama, yaitu p-hidroksibenzaldehida (tR 12.92 menit, 22%, m/z 122), vanilin (tR 13.13 menit, 19%, m/z 152) dan 3,5-dimetoksi-4-hidroksibenzaldehida (tR 16.66 menit, 5%, m/s 182). Vanilin dari campuran produk tersebut selanjutnya dipisahkan dengan kromatografi kolom menggunakan fase diam silika gel dan eluen diklorometana.
Pengubahan vanilin menjadi turunan antibiotik C-9154 telah dicoba dengan beberapa metode. Dari berbagai metode yang telah dicoba, hasil terbaik dicapai dengan rangkaian reaksi berikut: (1) alkilasi vanilin dengan dietil sulfat, (2) konversi etil vanilin yang diperoleh dengan HO-NH2 menjadi oksim terkait, (3) reduksi derivat benzaldoksim hasil tahap 2 dengan Na/etanol, (4) kondensasi 4-etoksi-3-metoksibenzilamina hasil dengan maleat anhidrida, dan (5) esterifikasi asam karboksilat hasil tahap 4 dengan etanol. Efektivitas metode ini terlihat bukan hanya dari tingginya rendemen hasil pada setiap langkahnya (>70%) tetapi juga dari kemudahan dan keandalan proses reaksinya yang hampir selalu dapat diulang sekalipun dalam skala relatif besar (~30 g). Walaupun kerangka karbon samping dari produk akhir kekurangan satu gugus C=O jika dibandingkan dengan struktur C-9154, data uji khasiat hayati menunjukkan bahwa keberadaan gugus C=O tersebut tidak mutlak.


Prinsip reaksi tersebut telah digunakan pula untuk pembuatan turunan antibiotik C-9154 dalam bentuk senyawa diester. Dalam hal ini, rangkaian reaksi terdiri atas (1) alkilasi vanilin dengan dietilsulfat, (2) reduksi etil vanilin hasil dengan LiBH4, (3) kondensasi 4-etoksi-3-metoksibenzil alkohol yang diperoleh dengan maleat anhidrida, dan (4) esterifikasi bentuk asam turunan C-9154 hasil tahap 3 dengan etanol. Percobaan ini memuaskan dengan rendemen di atas 70% untuk setiap langkahnya.


Khasiat antimikrob dari turunan antibiotik C-9154 yang diperoleh diuji menggunakan Staphyllococcus aureus dan Escherichia coli. Hasil pengukuran konsentrasi hambat minimum (MIC) dengan pembanding metanol dalam air dan keempat turunan C-9154 hasil sintesis menunjukkan khasiat dengan kekuatan berbeda. Dua senyawa yang merupakan bentuk asam turunan C-9154 hanya memperlihatkan efek hambatan lemah (MIC 1500-3000 mcg/ml), sedangkan senyawa yang merupakan bentuk etil ester menunjukkan efek hambatan yang cukup nyata (MIC 400-1000 mcg/ml) walaupun belum sekuat efek hambatan dari antibiotik C-9154 standar (MIC 10-100 mcg/ml). Terjadi peningkatan khasiat antimikrob sekitar 3-4 kali dari senyawa bergugus asam menjadi senyawa bentuk etil ester.


Mengingat tingginya tingkat efektivitas jalur sintesis yang telah ditemukan dan cukup mudahnya menganekaragamkan struktur produk, upaya mendapatkan turunan yang memiliki khasiat antimikrob cukup tinggi di masa depan sangat terbuka. Penelitian selanjutnya perlu diarahkan pada penggunaan senyawa yang diperoleh sebagai bahan antiseptik.

Adopted by @_pararaja from Hibah Bersaing VII

Mei 9, 2009

MELEPASKAN KESOMBONGAN UNTUK KESUKSESAN

Tentu saja, tidak ada orang yang suka kepada orang sombong (kecuali dirinya). Jika kita bersikap sombong, maka interaksi kita akan terganggu dan akan menyulitkan kita dalam meraih sukses, sebab orang lain bisa membantu kita untuk sukses. Tapi, bukan masalah ini yang akan dibahas dalam artikel ini.
Kesombongan yang dimaksud ialah kesombongan diri sendiri yang merasa tidak memerlukan bantuan Allah dalam meraih apa yang kita inginkan. Banyak program pengembangan diri atau sukses yang mengajarkan kita cara menetapkan tujuan, membuat rencana, dan mengeksekusi rencana, namun mereka lupa melibatkan Allah.
Saat kita lupa melibatkan Allah, ini adalah bentuk kesombongan kita. Kita merasa tidak memerlukan Allah, padahal tidak ada yang bisa terjadi jika Allah tidak menginginkannya. Semua yang terjadi di alam ini, termasuk jatuhnya selembar daun dari sebuah pohon adalah kehendak Allah.
Anehnya, banyak orang lupa. Mereka hanya ingat Allah saat mereka gagal atau merasa “mentok” saat berusaha meraih cita-citanya. Mengapa tidak dari awal meminta pertolongan Allah? Kita lupa, karena kita merasa tidak membutuhkan Allah. Kita merasa bahwa hanya dengan rencana matang dan tindakan, kita akan meraih cita-cita kita. Anggapan ini, sama sekali salah, namun seringkali kita tidak menyadari anggapan keliru ini.
Mulailah dengan memohon ampun, atas semua kesombongan kita dimasa lalu. Mungkin kita banyak melakukan berbagai aktivitas tanpa meminta pertolongan, bantuan, dan petunjuk dari Allah. Marilah kita memohon ampun kepada Allah. Beristigfarlah… Tentu saja, nasihat ini termasuk untuk diri saya juga.
Setelah ini, usahakanlah setiap langkah kita selalu diiringi dengan do’a dan tawakal. Do’a dan tawakal bukan hanya terletak di akhir (saat gagal atau mengalami kesulitan), tetapi juga diletakkan di awal agar Allah memberi petunjuk dan diletakkan dalam perjalanan agar perjalanan kita dibimbing oleh Allah. Tinggalkanlah kesombongan kita, maka kita akan sukses. Insya Allah.

(http://merits.wordpress.com)

Mei 7, 2009

Berani meninggalkan zona nyaman.

Setiap orang selalu merindukan zona nyaman. Mereka setengah mati berusaha meraihnya. Dan setibanya di zona tersebut mereka istirahat dan menikmati kenyamanan. Sayangnya, sebagian besar tertidur di zona itu, tak mau bergerak, sehingga tanpa sadar zona itu lama-lama tidak nyaman dan bahkan cenderung berbahaya. Dan ketika sadar, ia tak mampu lagi keluar dari zona nyaman dan ” apa boleh buat ” ia terjabak di sana selamanya.

Salah satu zona nyaman yang berbahaya bagi karyawan adalah gaji atau pendapatan yang tetap. Sedangkan bagi pengusaha adalah penguasaan pasar atau kestabilan perusahaan.

Nah, mereka yang berbakat jadi pengusaha adalah mereka yang tidak terjebak dalam zona nyaman. Bahkan mereka cenderung mencari tantangan untuk menciptakan zona nyaman baru. Mereka berani bertarung di pasar. Mereka berani menjual harta yang dimilikinya untuk memulai usaha. Susi Pujiastuti, sang ekportir hasil laut terbesar di negeri ini misalnya, memodali sendiri bisnisnya dengan menjual anting-anting dan gelangnya seharga Rp 750 ribu.
Sementara Ollie dan Angel berani meninggalkan zona aman sebagai karyawan dengan gaji tetap demi membesarkan toko buku onlinenya (Kutukutubuku. com), butik onlinenya (Heartyboutique. com) serta solusi toko onlinenya (TukuSolution. com). Contoh lain, Iim Fahima dan Adhitia Sofyan berani meninggalkan gaji mewahnya sebagai karyawan biro iklan tradisional dan masa depannya yang cerah di sana, untuk membangun konsultan komunikasi pemasaran online Virus Communications.

Ketika sudah jadi pun, mereka yang berjiwa pengusaha tidak berhenti. Mereka biasanya resah dan segera berusaha meninggalkan zona aman “bisnis sudah jadi”. Mereka terus berpacu untuk membesarkan usahanya. Uang mereka tidak dibiarkan menganggur di bank, reksanada dan sejenisnya. Mereka tumpahkan harta mereka untuk menciptakan peluang baru. Berjuta juta manusia terjebak dan lena dalam zona nyaman tapi sebenarnya tidak aman

Dan hanya orang yang minoritas berani keluar dari zona nyaman yang akhirnya jadi pemenang

Kalo anda tidak puas dengan kondisi sekarang , rubahlah cara kerja dan mental anda !!!!

Ingat “Tidak pernah ada cerita dan sejarah orang terkaya dari seorang pekerja……Ingat Mike Tyson, Michael Jackson dll….mereka dulu bergelimang harta dan kemewahan tapi sekarang dalam proses kebangkrutan”.

“ Kita Memang tidak bisa mengubah arah Angin tapi bisa merubah Arah Layar”

Salam Sukses semua

By : Abi Fathina

Mei 6, 2009

ngapain ya..sesudah Ujian ??

Wach…dah bebas nich.
Ujian udah selesai, so, is time for happy cuy….
Dah jenuh makan buku tiap hari, sarapan ujian, makan malam tugas…pengap rasa otak..serasa kepala mendidih.
Waktunya refress..kunjungi rumah temen2 n bolo2..nginep2…saling silaturahmi.

Weit, jangan keblabasan loh,
Yang namanya enak kalau keenakan juga bosen juga. Jangan lengah or lalai.
jangan lupa minta doa orang tua, warga, keluarga atau REG sepasi…buat doain semoga lulus.
jangan lupa pesennya minta doain semua siswa SMK 3 lulus semua…amin.
Waktunya beresin buku dirumah, rapi2 buku..barangkali berguna besoknya,
simpen tuh arsip hidup kita..itung-itung kenangan dari SMK 3.

Sudah beres, rapi, kamar bersih…
Belajar buat lamaran kerja, belajar baca-baca lowongan,
Rajin ke BKK…ngapelin tuh pak Marwan.
Sering kunjungi perpus…kangen tuh buku2 lama tak di baca…
Serius dalam test kerja

Trus yg mo ikutan UMPTN ya..rajin buka soal, rajin sholat malam juga.
Ambil jurusan dan wilayah yg sepi penggemar
Yach buat peluangnya lebih gede
Dan jangan lupa wejangan-wejangan dari bapak/ibu guru

Yg mau ngembangin usaha bokap
Yach..yg rajin, jangan nyesel sekolah kimia
Ilmu itu di pakai tidak dalam 1 bidang saja, tetapi akan muncul suatu masalah yg akan membutuhkan ilmu yg kita punyai.

Ingat yach
Kita diciptakan bukan untuk menunggu waktu
Kita harus berjalan menghadapi semuanya
Kita sudah dibekali orang tua
Sudah diasah guru tiap hari di sekolah
Trus kurang apa,
Beranikan??? Kejar cita-citamu
Semangat semangat…

Jadilah generasi yg bermanfaat

Mei 1, 2009

Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong (2)

By. Achmad Faisol

c. Kekuasaan dan Keturunan
Kekuasaan atau jabatan sering membuat kita lupa diri. Fasilitas, hak yang besar serta penghormatan dari orang lain membuat kita terlena, bahkan meskipun penghormatan itu dilakukan karena terpaksa, bukan karena benar-benar hormat atas kepemimpinan kita. Kita lebih layak disebut pimpinan karena surat keputusan, bukan pemimpin karena kemampuan. Sebaliknya, kewajiban besar yang diembankan pada kita malah kita abaikan. Lebih parah lagi, setelah tidak menjabat pun, kebanyakan kita tetap merasa bahwa kita adalah orang penting. Padahal, waktu telah berganti, status telah berubah.
Memiliki banyak murid, pendukung dan pengikut juga bisa membuat diri kita sombong. Walaupun kita tidak punya jabatan formal, namun secara informal kita mempunyai jabatan, yang pengaruhnya bahkan mengalahkan pemegang jabatan formal. Bila tidak hati-hati, kita bisa tergelincir untuk merasa diri lebih hebat dari orang lain.
Abu Darda’ menasihatkan, “Seseorang akan terus jauh dari Allah selama ia meminta orang lain untuk berjalan di belakangnya.”
Abdurrahman bin Auf ketika berjalan bersama budaknya tidak dapat dibedakan mana tuan dan mana budak, karena pakaian yang mereka pakai dan posisi berjalannya sama. Suatu hari murid-murid Hasan al-Bashri berjalan di belakangnya, lalu Abdurrahman bin Auf marah dan berkata, “Apa yang membuat hati seorang manusia menginginkan seperti ini (berjalan di depan)?”
Sebuah nasihat sarat makna termaktub dalam peribahasa, “Melonjak bagai abu penumbuk” yang artinya suatu kesombongan akan terlihat dari cara berjalan seseorang.

Ibnu Wahab bercerita bahwa suatu hari ia duduk di sebelah Abdul Aziz bin Abi Rawad, dan pahanya menyentuh paha Abdul Aziz. Lalu Ibnu Wahab merasa tidak enak (karena menyentuh seorang penguasa), maka ia pun menggeser duduknya. Ketika Abdul Aziz melihat apa yang dilakukan Ibnu Wahab, ia menarik Ibnu Wahab sambil berkata,
“Apa yang kamu lakukan kepadaku? Apakah kamu ingin memperlakukan aku seperti orang-orang memperlakukan penguasa tiran?”
Begitulah, Abdul Aziz tidak ingin diperlakukan istimewa. Ia ingin semua orang bersikap biasa terhadapnya, walaupun ia seorang penguasa.
Abdullah bin Umar ketika menjamu orang berpenyakit kusta, belang dan penyakit-penyakit menjijikkan lainnya, ia meminta mereka untuk makan bersama di meja makannya.
Dikisahkan suatu ketika seseorang datang kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Saat itu lampunya mati. Tamu itu berkata,
“Aku saja yang membetulkan lampunya.”
“Bukanlah seorang yang mulia apabila ia menjadikan tamunya seperti pembantu,” jawab Umar.
“Kalau begitu, aku akan panggilkan pembantu untuk membetulkannya.”
“Jangan, dia baru saja tidur.”
Kemudian Umar bin Abdul Aziz mengambil minyak dan menuangkannya ke lampu itu. Ia memperbaikinya sendiri.
“Engkau seorang khalifah, apakah pekerjaan seperti ini kau lakukan sendiri?” tanya orang itu.

Umar bin Abdul Aziz pun menjawab,
“Ketika kamu datang, aku adalah Umar. Saat kamu pergi nanti, aku juga tetap Umar. Tidak ada yang kurang dariku (dengan mengerjakan pekerjaan ini). Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang tawadhu‘.”
Abu Ubaidah bin Jarrah ketika menjadi gubernur membawa sendiri ember berisi air ke kamar mandi.
Ali bin Abi Thalib menuturkan, “Orang mulia tidak akan berkurang kemuliaannya ketika membawa sendiri barang miliknya ke rumah.”
Tsabit bin Abi Malik bercerita, “Aku bertemu Abu Hurairah ketika pulang dari pasar. Ia menggendong seikat kayu bakar, sedangkan pada saat itu ia adalah gubernur di Madinah pada masa pemerintahan Marwan bin al-Hakam.”
Ashbaq bin Natabah berkata, “Aku pernah melihat Amirul Mukminin Umar bin Khattab membawa daging di tangan kirinya dan susu di tangan kanannya, masuk ke pasar dan kembali ke rumahnya.”
Urwah bin Zubair mengatakan, “Saya pernah melihat Khalifah Umar bin Khaththab ra. sedang memanggul air. Di atas pundaknya terdapat sebuah ghirbah (tempat air dari kulit). Saya berkata,
“Wahai Amirul Mukminin, tidak seharusnya Anda melakukan ini.”
“Ketika para utusan (delegasi) datang kepadaku, mereka mendengarkan dan tunduk kepadaku, sehingga kesombongan terkadang muncul dalam diriku. Oleh karena itu, aku harus menghilangkannya,” jawab Umar.
Kemudian dia melanjutkan pekerjaannya dan membawa ghirbah itu ke ruang dapur seorang wanita dari golongan Anshar, dan menuangkannya ke dalam wadahnya sampai penuh.”
Umar bin Khaththab adalah sosok peronda nomor satu. Sementara orang-orang di ibu kota kekhalifahan terlelap dalam tidur sedang dirinya tidak, orang-orang kenyang sedang dirinya tidak, orang-orang santai sedang dirinya tidak.
Pada suatu malam, ketika menyusuri lorong-lorong kota Madinah, tiba-tiba ia melihat seorang ibu berada di dalam rumahnya bersama beberapa anak kecil yang terus menangis mengelilingi sang ibu. Di sudut lain, tampak sebuah panci berisi air diletakkan di atas perapian.Umar kemudian mendekati pintu dan berkata,

“Wahai hamba Allah, kenapa anak-anak ini menangis?”
“Mereka menangis karena lapar,” sahut wanita itu.
“Lalu, untuk apa panci di atas api itu?”
“Aku mengisinya dengan air. Ini dia. Aku mengalihkan perhatian mereka dengan air itu sampai mereka tertidur. Aku mengelabui mereka supaya mengira di dalam panci itu ada sesuatu yang dimasak.”
Mendengar itu Umar menangis. Ia bergegas mendatangi tempat penyimpanan sedekah (baytul mâl). Ia mengambil sebuah karung, kemudian mengisinya dengan terigu, minyak, mentega, kurma kering, baju dan uang. Ia mengisi karung itu sampai penuh. Ia berkata pada sahayanya,
“Wahai ‘Aslam, angkat karung ini ke atas pundakku!”
“Wahai Amirul Mukminin, aku saja yang mengangkatnya,” kata ‘Aslam.
“Tidak, ini bukan kewajibanmu, wahai ‘Aslam. Sebab, aku yang akan bertanggung jawab di akhirat nanti.”
Umar membawa karung itu dan pergi menuju rumah wanita tersebut. Ia kemudian mengambil panci, mengisinya dengan terigu, sedikit minyak dan kurma kering. Ia mengaduknya, dan meniup api yang ada di bawah panci. ‘Aslam berkata,
“Aku melihat asap keluar dari sela-sela janggut Umar, dan ia memasak makanan itu sampai selesai. Ia lalu menciduknya, dan memberi makan anak-anak itu sampai mereka kenyang.”
Sikap tawadhu‘ juga dicontohkan oleh Sahabat Nabi yang lain. Suatu ketika orang-orang melihat Khalifah Ali bin Abi Thalib kw. membeli daging seharga satu dirham dan membawanya sendiri. Seseorang berkata,

“Biarkan aku yang membawakannya, wahai Amirul Mukminin.”

“Jangan, kepala rumah tanggalah yang lebih pantas membawa ini,” ucap Ali bin Abi Thalib.

Dalam sebuah cerita disebutkan bahwa Ibnu Salam membawa sepikul kayu bakar, lalu dikatakan kepadanya,

“Wahai Abu Yusuf, anak-anak dan pembantumu sanggup menggantikan pekerjaanmu itu.”

“Aku ingin menempa jiwaku, apakah ia menolak?” jawabnya.

Semua hal di atas adalah teladan nyata—bukan cerita rekaan atau legenda—agar kita senantiasa rendah hati. Berikut ini dua contoh keangkuhan yang kita berlindung kepada Allah darinya.

Seorang penguasa yang dicopot dari jabatannya pergi ke desa asalnya. Para penduduk menyambutnya dengan menggelar permadani di jalan yang akan dilalui penguasa itu, karena ia terkenal dermawan ketika masih menjadi pejabat. Dia menengok kepada orang-orang di sekelilingnya dan berkata, “Sudah semestinya mereka berbuat seperti ini!”

Contoh lain yaitu ada seorang menteri dari dinasti Abasiyah hendak menyeberangi jembatan Baghdad. Ia berdiri termangu di pinggir jembatan dan berkata, “Demi Allah, aku benar-benar kuatir kalau jembatan ini tidak kuat menahan kemuliaanku dan ambruk bersama diriku ke dalam sungai!”

Diceritakan oleh Hajjaj bin Artha‘ah—seorang ulama hadits—bahwa suatu ketika menteri itu memasuki sebuah ruang majelis dan duduk di belakang hadirin. Orang-orang di majelis itu berkata,

“Duduklah di muka!”

“Di mana pun aku duduk, aku selalu di depan. Di mana pun aku duduk, aku yang terkemuka,” jawab menteri itu.

Inilah ungkapan sikap sombong.

Sejarah telah mengajarkan kepada kita betapa Namrud dan Fir‘aun hancur derajatnya dan mati karena kepongahannya. Apakah itu semua tidak membuat kita menyadari kehambaan kita?

Mungkin kita akan mengeluh, “Ah, sejarah lagi, sejarah lagi. Apa sih istimewanya mempelajari sejarah? Apakah mempelajari sejarah tidak hanya membuang-buang waktu, sebab membuat orang terpaku pada masa lalu—masa yang memang sudah hilang dan tak perlu dibicarakan. Bukankah membicarakan orang lain apalagi yang sudah meninggal tidak diperbolehkan? Bahkan perbuatan seperti itu termasuk dalam kategori menggunjing (ghibah), yang berarti kita memakan bangkai saudara sendiri. Apakah tidak lebih baik membicarakan hal-hal aktual serta memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan?”

Janganlah kita meremehkan mempelajari sejarah, apalagi mengabaikan hikmah yang bisa dipetik. Sejarahlah yang memberi tahu kita siapa sebenarnya orang tua dan kakek-buyut kita. Sejarah jugalah yang mengatakan kepada kita tempat dan tanggal lahir kita. Sejarah yang akan memberi informasi kepada generasi mendatang bahwa mereka ada sebab kita lebih dulu ada. Jika mereka maju, maka sejarah yang akan mengingatkan mereka bahwa kemajuan yang mereka capai tidak lepas dari keringat kita dan orang-orang yang terlebih dahulu ada. Orang yang tidak memperhatikan sejarah masa lalu sangat memungkinkan jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali, bahkan berkali-kali. Dan sungguh, itu suatu kecelakaan yang pasti sangat menggelikan.

Mempelajari sejarah juga bukan termasuk menggunjing (ghibah) yang dilarang, karena untuk diambil hikmahnya. Batasan menggunjing adalah kita menyebutkan sesuatu yang tidak disenangi oleh saudara kita jika ia sampai mendengarnya, baik yang kita sebutkan itu kekurangan pada fisik, keturunan, akhlak, perbuatan, perkataan, masalah agama, pakaian, rumah, kendaraannya atah hal-hal duniawi lainnya. Semua itu dilakukan semata-mata untuk merendahkan derajat saudara kita. Namun jika untuk diambil hikmah, mengadukan kezhaliman kepada polisi atau jaksa, meminta fatwa, mencegah orang agar terhindar dari kejahatan orang lain, maka itu diperbolehkan dan tidak termasuk menggunjing yang tidak disenangi Allah.

Selain kekuasaan, memiliki nasab (garis keturunan) yang bagus juga bisa membuat kita menganggap rendah orang lain yang memiliki nasab yang kurang bagus, walaupun orang lain itu lebih tinggi ilmunya dan lebih baik amal perbuatannya. Dari segi pembicaraan, kita bisa tergoda untuk selalu membanggakan diri dan menyebut-nyebut kemuliaan nenek moyang kita.

Nasab yang baik akan mendorong untuk berkata, “Saya ini anak pejabat ternama, lho. Siapa yang tidak mengenal ayah saya?”, atau “Orang tua saya tokoh terpandang di masyarakat. Tidak mungkin kalau orang-orang akan berburuk sangka terhadap apa pun yang saya lakukan.”

Bila kita anak seorang kyai, bisa jadi kita akan berucap, “Saya ini keturunan kyai. Kakek saya kyai khos, bahkan ayah saya termasuk kyai khawwâshu al-khawwâsh (sangat khos). Kalau saya nanti mendirikan pesantren, akan saya beri nama Ma‘had Ya‘lû wa lâ Yu‘lâ ‘Alayh (Pesantren yang tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya).” Na‘ûdzubillâh min dzâlik

Berdasarkan riwayat Abdullah bin Ahmad dalam “Zawaid al-Musnid” dengan sanad shahih, suatu hari Rasulullah saw. bercerita,

“Pernah terjadi perselisihan antara dua orang di hadapan Nabi Musa as. Salah satu dari mereka berkata,

‘Aku Fulan bin Fulan bin Fulan bin Fulan… (sampai menyebutkan sembilan kakeknya).’

Kemudian Allah memberi wahyu kepada Nabi Musa,

‘Katakan kepada orang yang menyebut-nyebut nenek moyangnya. Sesungguhnya kesembilan orang itu masuk neraka dan kamu termasuk dari keluarga mereka’.”

Pemimpin besar dunia, Nabi Muhammad saw. pernah mengingatkan putri beliau—Fatimah,

إِعْمَلِيْ فَإِنِّيْ لاَ أَغْنَى عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْـئاً

“Beramallah, karena sesungguhnya aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu di hadapan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Umar bin Khaththab menulis kepada Sa‘ad bin Abi Waqqash, “Wahai Sa‘ad, jangan engkau bangga oleh perkataan orang bahwa engkau adalah paman Rasulullan saw. Allah tidak ada pertalian nasab antara diri-Nya dan seorang pun dari makhluk-Nya. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.”

Tidak ada jaminan bahwa anak orang terhormat akan menjadi orang mulia dan anak seorang kyai akan menjadi ulama. Oleh sebab itu seorang penyair berkata :
Musa yang dipelihara oleh Fir‘aun adalah orang beriman
Sedangkan Musa yang diasuh Jibril adalah kafir
Yang dimaksud Musa yang diasuh Jibril adalah Samiri. Samiri memang bernama asli Musa. Ali bin Abi Thalib kw. (karramallâhu wajhah) juga mengingatkan :

لَيْسَ الْفَتىَ مَنْ يَقُوْلُ كَانَ أَِبى، وَلـٰكِنَّ الْفَتىَ مَنْ يَقُوْلُ هٰـأَنَاذَا
Bukanlah pemuda yang mengatakan inilah (prestasi) bapakku
Akan tetapi, pemuda adalah orang yang mengatakan inilah (pretasi) aku
Sebuah syair yang indah, mengandung nasihat mulia termaktub dalam kitab “Ta‘lîm al-Muta‘allim” :

فَكَمْ عَبْـدٍ يَقُوْمُ مَقَـامَ حُرٍّ * وَكَمْ حُرٍّ يَقُوْمُ مَقَـامَ عَبْـدٍ
Betapa banyak anak orang biasa menjadi mulia (karena ketekunannya)
Namun, banyak juga anak orang mulia menjadi hina (karena kemalasannya)
Dikisahkan, suatu hari Sahabat Zaid bin Tsabit mengendarai hewan tunggangan. Tiba-tiba Ibnu Abbas datang mendekatinya untuk memperoleh pengajaran seraya memegang kendali hewan tunggangannya dengan sikap menunduk. Zaid merasa tak enak kemudian melarangnya,

“Lepaskanlah, wahai putera paman Rasulullah!”
Namun, Ibnu Abbas tidak memedulikannya. Dia tetap memegangnya seraya berkata,
“Seperti inilah kami diperintah untuk berbuat baik (sopan dan rendah hati) kepada ulama kami.”
Zaid memang sangat cerdik. Dia segera merebut tangan Ibnu Abbas, menarik, kemudian menciumnya sambil mengatakan,
“Seperti inilah kami diperintah untuk berbuat baik kepada keluarga Rasulullah saw.”
Kisah di atas sungguh menggambarkan betapa masing-masing pihak begitu rendah hati, tak ada yang merasa lebih, padahal keduanya adalah orang-orang pilihan.
Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. bertemu anak-anak kecil di perjalanan. Di samping mereka terdapat roti yang sudah terpecah-pecah (tidak utuh lagi) dan mereka suguhkan kepadanya. Hasan lantas turun dari tunggangannya lalu makan bersama mreka. Setelah itu dia membawa mereka mampir ke rumahnya. Dia memberikan makanan dan pakaian. Dia berkata kepada keluarganya, “Keutamaan ini adalah milik mereka. Mereka belum pernah mendapatkan makanan selain apa yang telah mereka suguhkan kepadaku, sedangkan kita mendapatkan makanan lebih banyak dari ini.”
Ketika Bilal mengumandangkan adzan di atas Ka‘bah pada saat fathu al-Makkah (terbukanya kota Mekah); Harits bin Hisyam, Suhail bin Amr dan Khalid bin Usaid berkata, “Mengapa budak hitam ini yang mengumandangkan adzan di atas Ka‘bah?”
Lalu, turunlah ayat yang terjemahnya,
“…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu…” (QS al-Hujurât [49] : 13)
Kemudian Rasulullah saw. bersabda,
إِنَّ اللهَ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبَـيَّةَ الْجَاهِلِـيَّةِ-أَيْ كِبْرِهَا-كُلُّـكُمْ بَنُوْ آدَمَ وَآدَمَ مِنْ تُرَابٍ
“Sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesombongan Jahiliyah di antara kalian, karena seluruh kalian adalah keturunan Nabi Adam yang berasal dari tanah.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)
Rasulullah asw. (‘alayhish shalâtu was salâm) melarang kita menghina nasab orang lain.

إِثْنَتَانِ فِى النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ : أَلطَّعْنُ فِى النَّسَـبِ، وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ
Dua kelakuan manusia yang dapat menyebabkan kekufuran, yaitu menghina nasab (keturunan) dan berlebihan menangisi orang mati. (HR Muslim)
Kekasih Allah, Nabi saw. adalah seorang yang sangat tawadhu‘ walaupun beliau seorang imam, panglima perang, pemimpin tertinggi dan memiliki nasab luhur.
Ibnu Amr berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah melempar jumrah di atas unta, tanpa bersama pasukan, tanpa membawa senjata dan tanpa ada yang mengawal. Beliau juga pernah mengendarai keledai yang memakai kain beludru. Beliau sering menjenguk orang sakit, mengikuti jenazah, menghadiri undangan dari seorang budak, memperbaiki sandal, menjahit pakaian dan mengerjakan pekerjaan rumah bersama istrinya. Para sahabat tidak pernah berdiri ketika beliau datang ke majelis karena mereka mengetahui bahwa beliau tidak suka diperlakukan seperti itu.”
Suatu hari beliau lewat di depan anak-anak, beliau mengucapkan salam kepada mereka (coba kita perhatikan, bukan anak-anak yang terlebih dahulu mengucapkan salam kepada beliau). Pada kesempatan lain, beliau pernah bertemu seorang laki-laki dan orang itu gemetar karena melihat kewibawaan beliau, lalu beliau berkata,
هَوِّنْ عَلَيْكَ فَإِنِّيْ لَسْتُ بِمُلْكٍ إِنَّمَا اَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ كَانَتْ تَأْكُلُ الْقَدِيْد
“Tenanglah, aku bukanlah seorang raja, tetapi aku hanyalah anak dari wanita Quraisy yang makan dendeng (daging kering).” (HR Thabrani dan Baihaqi)
Beliau sering duduk bersama para sahabat dan beliau tidak menonjolkan diri. Suatu ketika ada seorang tamu datang dan ia tidak dapat membedakan mana Rasulullah di antara mereka. Akhirnya orang itu pun bertanya kepada para sahabat, mana Rasulullah? Betapa agung akhlak beliau.
Diriwayatkan oleh Abu Sa‘id al-Khudri bahwa Rasulullah saw. pernah memberi makanan kepada unta, menyapu rumah, menjahit sandal, menambal pakaian, menggembala kambing, makan bersama pelayan, dan menggoreng ikan. Nabi saw. tidak pernah merasa malu membawa barang belanjaannya dari pasar menuju ke tempat keluarganya. Beliau juga pernah bersalaman dengan orang kaya dan orang fakir, mengawali salam, tidak meremehkan pemberian (hadiah) apabila beliau diundang, meskipun hanya beberapa potong roti.
Beliau suka memberi makanan, berbudi pekerti baik, berkarakter baik, pandai bergaul, muka berseri-seri, tersenyum, berduka cita tanpa masam, rendah hati tanpa merasa hina, dermawan tanpa berlebih-lebihan, lemah lembut dan kasihan terhadap orang Islam, tidak pernah merasakan kenyang dan tidak pernah mengulurkan tangan terhadap makanan meskipun sangat ingin. Semoga Allah membimbing kita untuk dapat meneladani beliau, amin.
Bersambung…!.

Adopted by @_pararaja from www.achmadfaisol.blogspot.com

Mei 1, 2009

Upaya Peningkatan Mutu dan Daya Guna Limbah Dedak Padi

Gatot Siswo Hutomo, Mappiratu, dan Asriani Hasanuddin
Jurusan Budi Daya Pertanian, Universitas Tadulako

Dedak padi termasuk salah satu limbah pertanian yang berpotensi sebagai bahan baku industri pakan dan pangan. Ketersediaan dedak di Indonesia cukup tinggi, yaitu berkisar 4.8 juta ton per tahun. Selain sebagai pakan ternak, dedak berpotensi sebagai bahan pangan karena mengandung pati dan minyak, serta sebagai bioproses karena mengandung lipase. Oleh karena itu, perlu kajian yang dapat meningkatkan mutu dan daya guna dedak melalui penerapan teknologi sederhana dan tepat guna. Tujuan penelitian ini ialah melakukan fraksinasi dan analisis proksimat hasil fraksinasi limbah dedak padi, mengkaji faktor yang berpengaruh terhadap produksi β-karoten, menentukan kondisi optimum untuk memproduksi pengemulsi monoasil gliserol (MAG) dan diasil gliserol (DAG) minyak dedak padi, dan mengkaji faktor yang mempengaruhi rendemen dan mutu tepung hasil pengolahan dedak dan aplikasinya pada pembuatan biskuit dan roti.
Dari penelitian ini ditemukan komposisi ransum ayam potong yang mengandung provitamin A hasil fermentasi dedak (fraksi I) yang cenderung mengurangi pembentukan lemak abdominal. Penggunaan dedak sebagai pakan unggas dapat diaplikasikan melalui fraksinasi (pengurangan serat kasar) dan fermentasi dengan cendawan oncom merah (peningkatan provitamin A). Hasil penelitian ini juga memberikan informasi tentang kondisi reaksi pembentukan MAG dan DAG serta waktu reaksi yang optimum. MAG dan DAG ialah senyawa turunan lemak atau minyak yang mempunyai fungsi sebagai bahan pengemulsi, aman digunakan untuk pangan, kosmetik, dan obat-obatan sehingga mempunyai prospek yang cerah. MAG dan DAG pada penelitian ini disintesis secara enzimatis, yaitu lipase sebagai biokatalis yang terdapat pada sekam (dedak fraksi III). Kondisi reaksi yang optimum untuk memperoleh kandungan MAG dan DAG yang tinggi ialah pada nisbah dedak fraksi III:gliserol:minyak:heksana ialah 10:1:2:50 dengan kondisi suhu 37°C dan pH 7.0 serta lama waktu reaksi 103 jam. Rendemen campuran MAG dan DAG yang diperoleh sekitar 90% kotor dengan menggunakan reaktor berkapasitas 10 liter.
Dari penelitian ini juga diperoleh tepung rendah lemak dan tinggi protein hasil pengolahan dedak fraksi II. Rendemen tepung rendah lemak dan tinggi protein terdiri atas tepung endapan 34% dan tepung dekantasi 60% yang diperoleh dari dedak fraksi II (tepung). Tepung rendah lemak dan tinggi protein digunakan pada pembuatan biskuit dan roti. Pada pembuatan biskuit dan roti tepung rendah lemak dan tinggi protein dapat mensubstitusi tepung terigu sampai 20%.

Adopted by @_pararaja from Hibah Bersaing VIII

Mei 1, 2009

Zinc (Zn)

Zinc is naturally present in water. The average zinc concentration in seawater is 0.6-5 ppb. Rivers generally contain between 5 and 10 ppb zinc. Algae contain 20-700 ppm, sea fish and shells contain 3-25 ppm, oysters contain 100-900 ppm and lobsters contain 7-50 ppm. The World Health Organization stated a legal limit of 5 mg Zn2+/L. Elementary zinc does not react with water molecules. The ion does form a protective, water insoluble zinc hydroxide (Zn(OH)2) layer with dissolved hydroxide ions. Zinc salts cause a milky turbidity in water in higher concentrations. Additionally, zinc may add an unwanted flavour to water. This occurs at concentrations of about 2 mg Zn2+/ L.
The solubility of zinc depends on temperature and pH of the water in question. When the pH is fairly neutral, zinc in water insoluble. Solubility increases with increasing acidity. Above pH 11, solubility also increases. Zinc dissolves in water as ZnOH+ (aq) or Zn2+ (aq). The most significant zinc ores include sphalerite (ZnS) and smithsonite (ZnCO3). These compounds end up in water on locations where zinc ores are found. About three-quarters of the total zinc supply is used in metal form.
The remainder is applied as various zinc compounds in various industries. Industrial wastewaters containing zinc stem from galvanic industries, battery production, etc. Zinc compounds are applied for many different purposes. Zinc chloride is applied for parchment production, zinc oxide is a constituent of salves, paints and catalysers, zinc vitriol is applied as a fertilizer, and zinc bacitracine is applied as a growth stimulant in animal husbandry. The larger part of zinc in wastewater does not stem from point sources. It stems from larger surface waters containing the element. Zinc leaks from zinc pipes and rain pipes, consequential to circulation of carbon rich water. Car tires containing zinc and motor oil from zinc tanks release zinc compounds on roads. Zinc compounds are present in fungicides and insecticides, and consequently end up in water. When inadequate safety measures are taken, zinc may be emitted from chemical waste dumps and landfills, or from dredge mortar.
Zinc was not attributed a water hazard class, because it is not considered a hazard. This however only concerns elementary zinc. Some zinc compounds, such as zinc arsenate and zinc cyanide, may be extremely hazardous. Zinc is a dietary mineral for humans and animals. Still, overdoses may negatively influence human and animal health and over a certain boundary concentration, zinc may even be toxic. Toxicity is low for humans and animals, but phytotoxicity may not be underestimated.
Sludge from wastewater treatment is applied in agriculture, horticulture and forestry, and zinc concentrations may therefore not exceed the 3 g/ kg boundary. Ecotoxicological tests attributed a 50 μg/L PNEC value to dissolved zinc. This means a total concentrations of 150-200 μg/L of zinc in water. This PNEC value represents the maximum concentration where no environmental effect occurs (Predicted No Effect Concentration). Industrial zinc emissions decreased strongly in the past decades. Current zinc values are not a very extensive environmental risk. Zinc concentrations in the River Rhine have reached optimal values. Unfortunately, locations of historical contamination still exist. A total of five stable zinc isotopes occur naturally, among which are 64Zn, 66Zn en 68Zn. We now know of about fifteen instable zinc isotopes. 65Zn is present in nuclear reactor cooling water, and is applied in medicine.
Zinc appears to accumulates in some organisms.
The human body contains approximately 2.3 g zinc, and zinc has a dietary value as a trace element. Its functions involve mainly enzymatic processes and DNA replication. The human hormone insulin contains zinc, and it plays an important role in sexual development. Symptoms of zinc deficiencies are tastelessness and loss of appetite. Children’s immune systems and enzyme systems may be affected.
Higher zinc application appears to protect people from cadmium poisoning. Zinc may also decrease lead absorption. The relation copper : zinc in the human body is an important characteristic.
One may also absorb zinc overdoses. This does not occur very regularly. Symptoms include nausea, vomiting, dizziness, colics, fevers and diarrhoea and mostly occur after intake of 4-8 g of zinc. Intake of 2 g of zinc sulphate at once cause acute toxicity leading to stomach aches and vomiting. Strikingly, zinc belongs to the same elemental group in the periodic chart as cadmium and mercury, which are both toxic. Examples of zinc-related health effects also include mucous membrane infection from zinc chloride (lethal dose 3-5 g), and zinc vitriol poisoning (lethal dose 5 g).
Zinc may be removed from water by different methods. To achieve a level that meets legal standards, one may apply such techniques as coagulation, ion exchange and active carbon. Sand filtration is perceived and excellent solution.

(sumber ada pada redaksi).

Mei 1, 2009

Orang “Pintar” dan “ Bodoh” ala Bob Sadino.

Setiap orang punya perjalanan hidup yang berbeda-beda dan menerjemahkan perjalanan hidupnya pun tak akan sama kedalam petuah-petuah kata yang bermakna. Demikian pula dengan sosok Bob Sadino yang ber-azzam untuk tidak membawa ilmu yang dimilikinya keliang kubur sebelum di ajarkan kepada anak bangsa ini.

Berikut tulisan-tulisan Beliau, semoga bermanfaat.

1. Terlalu Banyak Ide – Orang “pintar” biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide, sehingga tidak satupun yang menjadi kenyataan. Sedangkan orang “bodoh” mungkin hanya punya satu ide dan satu itulah yang menjadi pilihan usahanya
2. Miskin Keberanian untuk memulai – Orang “bodoh” biasanya lebih berani dibanding orang “pintar”, kenapa ? Karena orang “bodoh” sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose. Sebaliknya, orang “pintar” telalu banyak pertimbangan.
3. Telalu Pandai Menganalisis – Sebagian besar orang “pintar” sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat lengkap, mulai dari modal, untung rugi sampai break event point. Orang “bodoh” tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usaha.
4. Ingin Cepat Sukses – Orang “Pintar” merasa mampu melakukan berbagai hal dengan kepintarannya termasuk mendapatkahn hasil dengan cepat. Sebaliknya, orang “bodoh” merasa dia harus melalui jalan panjang dan berliku sebelum mendapatkan hasil.
5. Tidak Berani Mimpi Besar – Orang “Pintar” berlogika sehingga bermimpi sesuatu yang secara logika bisa di capai. Orang “bodoh” tidak perduli dengan logika, yang penting dia bermimpi sesuatu, sangat besar, bahkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai menurut orang lain.
6. Bisnis Butuh Pendidikan Tinggi – Orang “Pintar” menganggap, untuk berbisnis perlu tingkat pendidikan tertentu. Orang “Bodoh” berpikir, dia pun bisa berbisnis.
7. Berpikir Negatif Sebelum Memulai – Orang “Pintar” yang hebat dalam analisis, sangat mungkin berpikir negatif tentang sebuah bisnis, karena informasi yang berhasil dikumpulkannya sangat banyak. Sedangkan orang “bodoh” tidak sempat berpikir negatif karena harus segera berbisnis.
8. Maunya Dikerjakan Sendiri – Orang “Pintar” berpikir “aku pasti bisa mengerjakan semuanya”, sedangkan orang “bodoh” menganggap dirinya punya banyak keterbatasan, sehingga harus dibantu orang lain.
9. Miskin Pengetahuan Pemasaran dan Penjualan – Orang “Pintar” menganggap sudah mengetahui banyak hal, tapi seringkali melupakan penjualan. Orang “bodoh” berpikir simple, “yang penting produknya terjual”.
10. Tidak Fokus – Orang “Pintar” sering menganggap remeh kata Fokus. Buat dia, melakukan banyak hal lebih mengasyikkan. Sementara orang “bodoh” tidak punya kegiatan lain kecuali fokus pada bisnisnya.
11. Tidak Peduli Konsumen – Orang “Pintar” sering terlalu pede dengan kehebatannya. Dia merasa semuanya sudah Oke berkat kepintarannya sehingga mengabaikan suara konsumen. Orang “bodoh” ?. Dia tahu konsumen seringkali lebih pintar darinya.
12. Abaikan Kualitas -Orang “bodoh” kadang-kadang saja mengabaikan kualitas karena memang tidak tahu, maka tinggal diberi tahu bahwa mengabaikan kualitas keliru. Sednagnkan orang “pintar” sering mengabaikan kualitas, karena sok tahu.
13. Tidak Tuntas – Orang “Pintar” dengan mudah beralih dari satu bisnis ke bisnis yang lain karena punya banyak kemampuan dan peluang. Orang “bodoh” mau tidak mau harus menuntaskan satu bisnisnya saja.
14. Tidak Tahu Pioritas – Orang “Pintar” sering sok tahu dengan mengerjakan dan memutuskan banyak hal dalam waktu sekaligus, sehingga prioritas terabaikan. Orang “Bodoh” ? Yang paling mengancam bisnisnyalah yang akan dijadikan pioritas
15. Kurang Kerja Keras dan Kerja Cerdas – Banyak orang “Bodoh” yang hanya mengandalkan semangat dan kerja keras plus sedikit kerja cerdas, menjadikannya sukses dalam berbisnis. Dilain sisi kebanyakan orang “Pintar” malas untuk berkerja keras dan sok cerdas,
16. Menacampuradukan Keuangan – Seorang “pintar” sekalipun tetap berperilaku bodoh dengan mencampuradukan keuangan pribadi dan perusahaan.
17. Mudah Menyerah – Orang “Pintar” merasa gengsi ketika gagal di satu bidang sehingga langsung beralih ke bidang lain, ketika menghadapi hambatan. Orang “Bodoh” seringkali tidak punya pilihan kecuali mengalahkan hambatan tersebut.
18. Melupakan Tuhan – Kebanyakan orang merasa sukses itu adalah hasil jarih payah diri sendiri, tanpa campur tangan “TUHAN”. Mengingat TUHAN adalah sebagai ibadah vertikal dan menolong sesama sebagai ibadah horizontal.
19. Melupakan Keluarga – Jadikanlah keluarga sebagai motivator dan supporter pada saat baru memulai menjalankan bisnis maupun ketika bisnis semakin meguras waktu dan tenaga
20. Berperilaku Buruk – Setelah menjadi pengusaha sukses, maka seseorang akan menganggap dirinya sebagai seorang yang mandiri. Dia tidak lagi membutuhkan orang lain, karena sudah mampu berdiri diats kakinya sendiri.

Sumber ; Bob Sadino

April 28, 2009

Teror Flu Babi ( H1N1)

WHO mengatakan dunia hampir mendekati situasi pandemi flu dibandingkan tahun-tahun sejak 1968 – tingkat ancamannya adalah tiga dari skala enam. Tidak ada yang tahu dampak pandemi penyakit ini sepenuhnya, namun para pakar memperingatkan korban tewas bisa mencapai jutaan orang di seluruh dunia. Pandemi flu Spanyol, misalnya, yang dimulai tahun 1819 dan juga disebabkan oleh virus H1N1, menewaskan jutaan orang.

Sejauh ini, pihaknya tengah mengumpulkan data dan kajian ilmiah mengenai penyakit itu dari berbagai sumber dan terus berkoordinasi dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk memantau perkembangan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat keganasan flu babi dan apa bentuk penanganan paling tepat menghadapi ancaman flu babi di Indonesia.

Para pakar pengendali penyakit masih berupaya mencari jalan dalam mengatasi wabah flu babi di Meksiko dan Amerika Serikat, serta dugaan kasus ini di negara lain.

Apakah flu babi?

Flu babi adalah penyakit pernapasan yang menjangkiti babi. Disebabkan oleh influenza tipe A, wabah penyakit ini pada babi rutin terjadi dengan tingkat kasus tinggi namun jarang menjadi fatal. Penyakit ini cenderung mewabah di musim semi dan musim dingin tetapi siklusnya adalah sepanjang tahun. Ada banyak jenis flu babi dan seperti flu pada manusia penyakit ini secara konstan berubah.

Apakah manusia bisa terjangkit flu babi?

Flu babi biasanya tidak menjalar pada manusia, meski kasus sporadis juga terjadi dan biasanya pada orang yang berhubungan dengan babi. Catatan mengenai kasus penularan dari manusia ke manusia juga sangat jarang. Penularan manusia pada manusia flu babi diperkirakan menyebar seperti flu musiman – melalui batuk dan bersin. Dalam wabah yang kini terjadi belum jelas apakah penyakit itu ditularkan dari manusia ke manusia.

Gejala flu babi pada manusia tampaknya serupa dengan gejala-gejala flu musiman manusia.

Apakah ini jenis baru flu babi?

Badan Kesehatan Dunia, WHO, membenarkan bahwa setidaknya sejumlah kasus adalah versi H1N1 influenza tipe A yang tidak pernah ada sebelumnya. H1N1 adalah virus yang menyebabkan flu musiman pada manusia secara rutin. Namun versi paling baru H1N1 ini berbeda: virus ini memuat materi genetik yang khas ditemukan dalam virus yang menulari manusia, unggas dan babi. Virus flu memiliki kemampuan bertukar komponen genetik satu sama lain, dan besar kemungkinan versi baru H1N1 merupakan hasil perpaduan dari berbagai versi virus yang berbeda yang terjadi di satu binatang sumber.

Apakah warga harus khawatir?

Saat muncul jenis baru flu yang memiliki kemampuan menyebar dari manusia ke manusia pihak berwenang mengawai dengan seksama untuk melihat apakah memiliki potensi menyebabkan pandemi. WHO memperingatkan kasus-kasus di Meksiko dan Amerika Serikat berpotensi menyebabkan pandemi global dan menegaskan situasi ini serius. Akan tetapi, WHO mengatakan masih terlalu dini untuk menilai situasi ini secara akurat. Saat ini, WHO mengatakan dunia hampir mendekati situasi pandemi flu dibandingkan tahun-tahun sejak 1968 – tingkat ancamannya adalah tiga dari skala enam.

Tidak ada yang tahu dampak pandemi penyakit ini sepenuhnya, namun para pakar memperingatkan korban tewas bisa mencapai jutaan orang di seluruh dunia. Pandemi flu Spanyol, yang dimulai tahun 1819 dan juga disebabkan oleh virus H1N1, menewaskan jutaan orang. Fakta bahwa kasus-kasus di Amerika Serikat sejauh ini memperlihatkan gejala-gejala ringan merupakan berita baik.Sementara parahnya wabah di Meksiko kemungkinan disebabkan oleh faktor wilayah yang tidak biasa yang kecil kemungkinan terjadi wilayah lain di dunia. Akan tetapi, fakta bahwa sebagian besar korban berusia muda menunjukkan satu hal yang tidak baisa. Biasanya flu musiman cenderung melanda kaum berusia tua.

Bagaimana dengan pengobatan dan vaksin?

Mengenai pengobatan pada kasus flu babi, bisa menggunakan dua jenis obat yang biasa digunakan untuk mengobati flu, yaitu Tamiflu dan Relenza. Kedua jenis obat ini cukup efektif dalam mengatasi kasus-kasus flu yang terjadi sejauh ini dan tersedia cukup termasuk di Indonesia. Ilmuwan Amerika telah mengembangkan satu vaksin baru, namun diperlukan waktu untuk menyempurnakannya dan juga memproduksi dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi permintaan.

Bagaimana dengan flu burung?

Jenis flu burung yang menyebabkan kematian di Asia Tenggara dalam beberapa tahun ini berbeda dengan jenis flu babi yang kini mewabah. Bentuk baru flu babi ini adalah H1N1 jenis baru, sementara flu burung adalah H5N1. Para pakar khawatir H5N1 berpotensi menyebabkan pendemi karena kemampuannya bermutasi secara cepat. Akan tetapi hingga sekarang penyakit itu masih merupakan penyakit unggas. Mereka yang terjangkit adalah mereka yang berhubungan dengan unggas dan kasus penularan dari manusia ke manusia sangat jarang – tidak ada tanda-tanda bahwa H5N1 sudah bisa menular dari manusia ke manusia dengan mudah.

Proses dan Gejala Virus Flu Babi

Virus flu babi mematikan yang berjangkit di Meksiko menimbulkan ketakutan akan terjadi pandemi, WHO mengonfirmasi adanya sejumlah kasus flu yang disebabkan virus influenza tipe A subtipe H1N1 yang belum pernah diketahui. Sampai saat ini para ahli terus meneliti virus tsb.
Virus baru itu mengandung tipe DNA yang mirip virus flu burung, flu babi dan flu Manuasia, termasuk elemen virus flu babi dari Eropa dan Asia.

Rangkaian Proses virus H1N1 dalam tubuh :
1. Hemaglutinin pada virus mengikat asam sialik pada membran sel
2. Membran virus melebur dengan membran sel dan virus diserap kedalam sel
3. Virus membebaskan material genetik (RNA) yang masuk ke Inti Sel.
4. Virus RNA gen direplikasi dena melahirkan RNA pembawa pesan (mRNA)
5. mRNA digunakan oleh sel untuk membuat protein virus yang baru
6. Protein virus dan RNA bergabung untuk membuat partikel viral
7. Partikel virus baru menginfeksi sel-sel lain

Bagaimana gejala penderita yang terkena penyakit flu babi ini?

Pada umumnya, gejala infeksi flu babi pada manusia mirip dengan flu biasa pada manusia. Yakni, demam yang muncul tiba-tiba, batuk, nyeri otot, sakit tenggorokan dan kelelahan yang berlebihan. Namun selain itu, virus flu babi bisa membuat penderita muntah-muntah dan diare.

Kemungkinan flu babi mewabah di Indonesia?

Penyakit flu babi yang disebabkan oleh swine influenza virus sejauh ini sudah menewaskan puluhan nyawa di Meksiko. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan lingkungan (P2PL) Tjandra Yoga Aditama mengatakan, virus flu babi berpotensi mewabah di negara lain, termasuk Indonesia.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit flu babi, seperti dilansir Badan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Beberapa langkah tersebut antara lain:

  • Tutupi hidung dan mulut Anda dengan tisu jika Anda batuk atau bersin. Kemudian buang tisu itu ke kotak sampah.
  • Sering-seringlah mencuci tangan Anda dengan air bersih dan sabun, terutama setelah Anda batuk atau bersin. Pembersih tangan berbasis alkohol juga efektif digunakan.
  • Jangan menyentuh mulut, hidung atau mulut Anda dengan tangan.
  • Hindari kontak atau berdekatan dengan orang yang sakit flu. Sebab influenza umumnya menyebar lewat orang ke orang melalui batuk atau bersin penderita.
  • Jika Anda sakit flu, CDC menyarankan Anda untuk tidak masuk kerja atau sekolah dan beristirahat di rumah.

Departemen Perhubungan telah memasang alat Termografic Scanner di berbagai pintu masuk ke Indonesia untuk mengantisipasi masuknya Flu Babi yang berasal dari para wisatawan asing yang masuk ke Indonesia. Termografic Center telah dipasang, antara lain di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, Bandara Ngurah Rai Bali, Bandara Hang Nadim Batam, Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, dan Pelabuhan Batam Center di Batam.

Ketua Komisi Teknis Kesehatan Dewan Riset Nasional Prof Amin Soebandrio, menjelaskan, flu babi adalah penyakit pernapasan babi yang disebabkan virus influenza tipe A yang sering menyebabkan wabah influenza di babi, dengan angka kematian rendah. Sebagian besar wabah terjadi pada akhir musim dingin dan bulan-bulan di mana juga terjadi wabah flu pada manusia.

1. Virus H1N1

April 28, 2009

MENGGUGAT SISTEM KONTRAK KERJA BURUH

Perusahaan di Indonesia pada umumnya tidak mau mengangkat karyawan kontrak menjadi tetap, dengan dukungan kedudukan buruh yang sangat lemah dan mudah ‘dibuang’ oleh perusahaan jika tenaga buruh sudah lemah. Akibatnya selama bertahun-tahun bekerja, status mereka tetap buruh kontrak.

Tinjauan penulis terhadap Undang-undang No.13/2003 memiliki berbagai kelemahan diantaranya pasal 59 tentang ketenagakerjaan. Pasal tersebut menjelaskan bahwa kontrak kerja atau perjanjian kerja untuk waktu tertentu hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai pada waktu tertentu. Pada penjelasan jenis kerja menurut pasal tersebut terdapat point yang menimbulkan multitafsir, yang digunakan oleh pengusaha untuk melakukan sistem kontrak kerja di perusahaannya. Apalagi UU Hukum Dagang mendukungnya dengan menyatakan bahwa buruh boleh dikontrak selama pekerjaannya sementara.

Adapun sistem kontrak kerja tersebut menurut Mustoha Iskandar, menunjukkan bahwa pengusaha di Indonesia masih menggunakan teori bisnis klasik yang sudah tidak dipakai lagi di Negara maju, bahwa buruh hanya sekedar sarana produksi, sama nilainya dengan mesin pabrik dan alat penunjang pabrik yang lain. Dengan perspektif ketenagakerjaan yang semakin modern, sistem kerja kontrak yang tidak manusiawi tidak dapat dipertahankan lagi jika perusahaan ingin maju dan berkembang. Dari perspektif itulah, sistem kontrak kerja di perusahaan Indonesia perlu dikaji ulang.

Dewasa ini telah berkembang trend perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam melaksanakan manajemen kekaryawanan/perburuhan dengan menerapkan sistem kontrak dalam hubungan kerja dengan pekerja/buruh. Karena posisi buruh yang serba terjepit, di satu sisi kebutuhan perut buruh dan keluarga begitu mendesak di lain sisi kesempatan kerja sangat langka sementara antrian orang yang menginginkan pekerjaan begitu panjang, maka tidak ada pilihan bagi mereka selain menerima sistem kerja kontrak. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan, karena kebanyakan jenis pekerjaan di mana sistem itu di terapkan sebenarnya tidak termasuk yang dapat dijadikan obyek sistem kontrak atau kalau dalam istilah hukumnya “perjanjian kerja untuk waktu tertentu”. Sistem kontrak sebetulnya hanya dapat diberlakukan pada buruh berketrampilan tinggi (high skilled workers). Sistem kontrak ini telah melanggar regulasi yang berlaku yang menegaskan bahwa buruh hanya mempunyai 2 tahapan : training/masa percobaan dan tetap. selepas masa 3 bulan, apabila seorang buruh terus dipekerjakan oleh pengusaha, maka secara hukum dengan sendirinya buruh tersebut telah menjadi buruh tetap dari perusahaan tersebut. Paradigma tersebut merupakan salah satu pola kontrol yang dikembangkan oleh pengusaha agar bisa mengamankan kepentingan-kepentingannya. Pola ini makin mengancam posisi pekerja yang sudah terpuruk karena secara sistematis hubungan kerja digiring pada pola yang mengebiri pada hak-hak buruh dan mengeliminir peluang bagi buruh untuk melawan. Pola ini diterapkan untuk mengontrol (embryo) militansi dan keradikalan segelintir buruh yang punya kesadaran akan hak sekaligus keberanian untuk memperjuangkan. Dalam tataran ideal, sistem kontrak kerja sebenarnya diciptakan sebagai penghargaan terhadap tingginya tingkat profesionalitas dan produktifitas tenaga kerja yang dalam jenis dan sifat pekerjaan tertentu mampu memberikan kontribusi besar pada perusahaan sehingga perlu penyeimbangan dalam bargaining process dengan pemilik modal atau manajemen perusahaan. Dalam situasi demikian, tenaga kerja diberi keleluasaan untuk menentukan posisi dan keadaan mana yang paling produktif bagi dirinya. Kenyataannya bargaining process semacam ini hanya dimiliki oleh sebagian kecil saja dari anggota kelas buruh kita, dan celakanya terhadap buruh ditingkatan operatorlah sistem ini diterapkan.

Realitas yang ada dilapangan menunjukkan semakin meluasnya pola kontrak ini hingga masuk kesegala sektor. Untuk tetap terus dipakai oleh pemberi kerja, maka buruh harus menunjukkan perilaku yang “manis” dan produktif. Kalau tidak, maka ia harus rela angkat kaki dari tempat kerjanya dengan pesangon sebesar setahun terakhir mereka dikontrak. Gejala demikian kalau tidak dicermati, dikritisi dan disikapi maka yang terjadi adalah bahwa seolah tidak ada yang salah dengan sistem ini dan semua menganggap penerapannya adalah baik-baik saja dan wajar. Ini adalah situasi yang berbahaya dan harus ada upaya aktif perlawanan dari segenap elemen buruh untuk mengeliminir trend perangkap sistem kontrak kerja yang membelenggu, melemahkan bahkan membunuh buruh. Dan karena lemahnya posisi buruh, tentu saja intervensi Negara mutlak diperlukan untuk mengatasi situasi tersebut.

Banyak kasus buruh kontrak tang tidak mendapat perlindungan hukum dikarenakan DISNAKER tidak melakukan tugas pengawasan ketenagakerjaan secara maximal dikarenakan DISNAKER bersifat pasif dalam setiap menemukan penyimpangan di perusahaan.Walaupun setiap menemukan penyimpangan di perusahaan DISNAKER hanya memberikan catatan, tanpa adanya pengawasan lebih lanjut apakah penyimpangan sudah dihentikan dan selanjutnya DISNAKER akan memnunngu pengaduan dari pekerja. Padahal atas nama UU Disnaker dapat melakukan penyidikan bersama polisi terhadap peusahaan yang melanggar UU ketenagakerjaan,sehingga kasus-kasus ketenagakerjaa tidak selalu terulang kembali dan membuat pengusaha jera. (Ninin Damayanti : Tempo Interaktif, Jakarta)

Menurut Mennakertrans, Erman Suparno (Suara Karya 30/4 2008: Mayday,Jakarta)
penghapusan sistem kontrak dan outsourcing akan dilakukan jika proses revisi UU Ketenagakerjaan dan UU Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jamsostek dilanjutkan. Namun untuk saat ini, pemerintah meminta perusahaan mengacu pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dalam menerapkan sistem kerja kontrak dan outsourcing. Hal ini dikarenakan, banyak perusahaan menerapkan sistem kerja kontrak dan outsourcing jauh melenceng dari yang diatur UU. Dalam hal ini, sistem kontrak kerja tidak dimanipulasi, di mana kontrak kerja maksimal 2 tahun dan diperpanjang selama 1 tahun. Setelah itu, perusahaan harus mengangkat pekerja tersebut jika memang bekerja sesuai aturan dan displin. Dalam hal ini, perusahaan diharapkan tidak menekan pekerja/buruh dan mensiasati kontrak kerja seperti kontrak baru. Sedangkan untuk outsourcing, perusahaan hanya bisa melakukan jika bukan pada kegiatan inti perusahaan. Jadi untuk kegiatan produksi tidak dibenarkan jika dilakukan oleh pekerja dengan status dari outsourcing. Namun demikian, saat ini banyak perusahaan yang mempekerjakan pekerja dari outsourcing untuk kegiatan produksi atau kegiatan inti perusahaan lainnya.

Penyusunan perjanjian/kontrak kerja masih tetap menjadi topik kontroversial. Meskipun biasanya baik pengusaha maupun pekerja terlibat dalam penyusunan perjanjian/kontrak kerja, masih ada sejumlah kasus dimana perjanjian/kontrak kerja ditetapkan oleh pihak pengusaha, sedangkan pengurus SP-TP hanya membaca dan menyetujui isinya. Untuk meningkatkan hubungan industrial di masa yang akan datang, baik pengusaha maupun pekerja harus diberi kesempatan untuk ikut menyusun perjanjian kontrak kerja. Dalam menjalankan peranannya sebagai fasilitator, sangat penting bahwa pemerintah memberikan program pendidikan yang mengetengahkan manfaat yang diperoleh bila pengusaha dan pekerja bersama-sama menciptakan dan melaksanakan peraturan tempat kerja, juga bila perselisihan yang ada diselesaikan melalui perundingan. (Lembaga Penelitian SMERU,”Hubungan Industrial in Jabotabek, Bandung, dan Surabaya di Era Kebebasan Berorganisasi”, Mei 2002).

Pada intinya untuk mengatasi permasalahan sistem kerja kontrak perlu pembenahan regulasi yang mementingkan kedua pihak dan terutama perubahan paradigma bisnis modern, dengan sistem pengawas yang indipenden tanpa melanggar standar perburuhan internasional ILO melalui Konvensi ILO no. 01 tahun 1919 dan Konvensi no. 47 tahun 1935 yaitu delapan jam/hari atau 40 jam/minggu (lima hari kerja).

April 19, 2009

Pemanfaatan Limbah Minyak Atsiri Daun Sirih untuk Produk Emulsi Antioksidan sebagai Bahan Aditif Industri

Ketengikan merupakan masalah yang sangat menentukan mutu produk pangan. Salah satu cara untuk mengatasinya ialah dengan menambahkan antioksidan. Dewasa ini penggunaan antioksidan untuk keperluan industri pangan semakin meningkat dan telah diketahui bahwa antioksidan sintetik sangat efektif dalam menghambat reaksi oksidasi lemak sehingga dapat mencegah terjadinya ketengikan produk. Akan tetapi, penggunaan antioksidan sintetik dikhawatiran menimbulkan efek patologi. Hal ini mendorong konsumen untuk memilih produk alami yang harus segera diantisipasi oleh para pakar teknologi pangan. Tujuan penelitian ini ialah menghasilkan produk bahan tambahan makanan antioksidan alami untuk memasok kebutuhan industri pangan dan juga industri kosmetik, dengan memanfaatkan bahan limbah daun sirih Penelitian tahap pertama bertujuan menemukan jenis daun sirih dan metode ekstraksi antioksidan yang optimum serta mengetahui sifat ketahanan panas ekstrak antioksidan agar dapat ditentukan kemungkinan aplikasinya. Ekstrak etanol antioksidan daun sirih hijau kering beku yang didistilasi dengan uap menghasilkan aktivitas antioksidan tertinggi, dengan nilai total fenol terendah (9.97 mg/ml) dan rendemen tertinggi (7.75%), dengan aroma lemah tertutupi aroma hijau daun (hijau) dan warna hijau kuning sampai cokelat. Ekstrak ini stabil pada pemanasan dengan suhu di bawah 125oC yang dapat dilihat dari aktivitas antioksidannya yang tidak menurun nyata bila dibandingkan dengan pemanasan pada suhu di atas 125 sampai 175oC.

Penelitian tahap kedua bertujuan memformulasi ekstrak antioksidan dalam bentuk emulsi agar dapat diaplikasikan dalam sistem berlemak. Hasil yang diperoleh ialah jenis formula emulsi antioksidan berpengaruh nyata terhadap aktivitas ekstrak antioksidan daun sirih. Penambahan karboksimetil selulosa (CMC) untuk membuat emulsi menurunkan faktor protektif emulsi antioksidan, tetapi jika penambahan CMC dilakukan bersamaan dengan gum arab maka faktor protektif emulsi antioksidan meningkat lagi. Aktivitas ekstrak antioksidan daun sirih makin tinggi jika menggunakan bahan Tween 20 sebagai bahan emulsi. Formula emulsi dengan faktor protektif yang tertinggi ialah formula dengan komposisi sebagai berikut: ekstrak antioksidan 3.23%; air 3.48%; dan Tween 20 45.16%.

Penelitian tahap ketiga bertujuan mengaplikasikan produk emulsi antioksidan untuk mencegah ketengikan produk pangan olahan berlemak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa formula emulsi ialah yang paling baik digunakan untuk mencegah ketengikan dua produk olahan, yaitu cookies dan selai kacang (peanut butter). Umur simpan cookies tanpa penambahan emulsi antioksidan selama 628.08 hari, sedangkan cookies yang ditambah emulsi antioksidan dengan konsentrasi ekstrak antioksidan 25, 50, 100, 150, dan 200 ppm berturut-turut mempunyai daya simpan sampai 668.15, 727.14, 1132.68, 1456.19, dan 1742.19 hari. Pada selai kacang, penambahan emulsi antioksidan pada konsentrasi ekstrak di atas 100 ppm menambah umur simpan selai kacang. Daya simpan selai kacang naik dari 74.06 hari (tanpa penambahan emulsi) menjadi 12 485 hari dan 18 085 hari bila ditambahkan 100 atau 200 ppm emulsi ekstrak antioksidan.

Pada studi keamanan menggunakan tikus percobaan, ekstrak antioksidan dicampur dalam air minum dan dikonsumsikan langsung pada tikus setiap hari selama 110. Konsentrasi antioksidan yang diberikan sebesar 0, 200, 500, 1000, 1500, dan 2000 ppm. Pemberian ekstrak antioksidan dengan dosis di atas 200 ppm tampak menurunkan bobot badan tikus, tetapi tidak mempengaruhi bobot organ hati, ginjal, dan pankreas. Untuk melihat efek pemberian antioksidan pada sistem imun tingkat seluler, limfosit dari limfa tikus percobaan dikultur dengan berbagai konsentrasi ekstrak antioksidan. Hasilnya menunjukkan bahwa dibandingkan dengan kelompok tikus kontrol yang tidak diberi ekstrak, terjadi sedikit penurunan dalam pertumbuhan limfosit secara in vitro. Sebaliknya, kenaikan konsentrasi antioksidan dalam kultur tampak mengurangi jumlah sel mati. Hal ini menunjukkan bahwa secara in vivo, ekstrak antioksidan bersifat prooksidan, tetapi secara in vitro bersifat melindungi sel.

Secara singkat, keefektifan kerja produk emulsi ekstrak antioksidan daun sirih tidak kalah dibandingkan dengan antioksidan sintetik. Ekstrak antioksidan ini tidak tahan panas (> 125oC) dan bila diaplikasikan pada produk pangan olahan seperti cookies dan selai kacang pada konsentrasi 100 ppm dapat meningkatkan umur simpan dua kali untuk cookies dan lima kali untuk selai kacang dibandingkan kontrol. Oleh karena itu aplikasinya sebaiknya ditujukan pada produk yang proses pengolahannya tidak memerlukan panas tinggi seperti selai kacang, cookies, cake, dan saus. Pada uji keamanan, ekstrak antioksidan menunjukkan bahwa pada dosis yang diteliti (>200 ppm) antioksidan ini bersifat prooksidan secara in vivo, tetapi secara in vitro tampak bersifat melindungi sel dari kematian. Studi keamanan pada dosis rendah (<200 ppm) masih diperlukan demikian juga studi mengenai mekanisme perlindungan sel dari kematian secara in vitro. Data ilmiah yang menunjang dapat membuka kemungkinan penggunaan ekstrak antioksidan sirih sebagai substitusi media kultur sel hewan seperti kultur sel hibridoma penghasil antibodi atau sebagai krim untuk tujuan kosmetik sebagai pencegah penuaan sel epidermis.

Adopted by @_pararaja from Hibah Bersaing

Nuri Andarwulan, Dedi Fardiaz, Hanny Wijaya, RR Zakaria, dan A Apriyantono

Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor

April 19, 2009

Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong?

Lawan rendah hati adalah sifat sombong. Tentang kesombongan, ditegaskan oleh Allah SWT dalam sebuah hadits qudsi :


أَلْكِبْرِيَاءُ رِدَائِ، وَالْعَظَمَةُ ِإزَاِريْ، فَمَنْ نَازَعَنِيْ ِفيْهِمَا قَََصَمْـتُهُ وَلاَ أُبَالِيْ

Kesombongan adalah selendang-Ku, keagungan adalah sarung-Ku. Siapa melepaskan kedua pakaian itu dari-Ku, maka Aku akan membinasakannya dan tidak akan Aku berikan rahmat kepadanya. (HR Muslim)

Syaikh az-Zarnuji memberi nasihat kepada kita agar menjauhi sifat sombong dalam sebuah syair yang tercantum dalam kitab karya beliau, yaitu “Ta‘lîm al-Muta‘allim” :


وَالْكِبْرِيَاءُ لِرَبِّـنَا صِـفَةٌ بِهِ * مَخْصُوْصَةٌ فَتَجَـنَّبْـنَهَا وَاتَّقِى

Kesombongan adalah satu sifat yang dimiliki Tuhan kita
Maka jauhilah sifat itu dan takutlah ( jagalah) dirimu

Mengapa terkadang bahkan seringkali kita sombong? Kenapa setan berhasil menanamkan sifat itu pada diri kita? Biasanya kita akan menyombongkan diri karena kelebihan yang kita miliki. Namun, adakalanya kita bersikap sombong justru untuk menutupi kekurangan kita. Banyak orang berkata,

“Sudah miskin, sombong pula.”
“Tak punya ilmu tapi lagaknya seperti ahli hadits.”
“Air beriak tanda tak dalam.”
“Tong kosong memang berbunyi nyaring.”

Banyak lagi ungkapan yang menunjukkan kesombongan. Kesombongan sebenarnya tak mempunyai kelebihan sedikit pun. Satu-satunya kelebihan yang dimiliki hanyalah sifat sombong itu sendiri. Dan, sungguh, itu sebuah kerugian.

Berikut ini penulis uraikan hal-hal yang bisa membuat diri kita menjadi sombong. Dengan mengetahuinya, maka kita bisa memohon kepada Allah agar terhindar dari sifat ini. Semoga Allah menjauhkan diri kita dari sifat sombong dan memelihara kita dengan sifat tawadhu‘, amin.

a. Harta

Harta bisa menjadikan diri kita merasa bangga yang berlebihan terhadap diri sendiri. Harta juga yang membuat kita pamer kepada orang lain, khususnya kepada orang yang tidak sekaya kita, apalagi terhadap orang-orang miskin.

Mungkin kita akan berkata, “Saya berhak sombong karena harta saya melimpah-ruah. Kekayaan saya dimakan 7 (tujuh) turunan juga tidak akan habis. Mulai dari anak, putu (bahasa Jawa, artinya cucu), buyut (cicit), canggah (ciut), wareng (piut), udeg-udeg (miut) dan gantung siwur (keturunan ketujuh).”

Dalam Al-Qur’an al-Karim, Allah membuat perumpamaan orang sombong karena kekayaan kebun yang dimiliki.

Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.

Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikit pun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,

dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.”
(QS al-Kahfi [18] : 32-34)


Pertanyaannya adalah, “Apakah kita memang berhak sombong karena harta segunung?”

Ada sebuah kisah yang akan mengingatkan kita bahwa harta kekayaan yang kita miliki nilainya sangat sedikit. Pada suatu malam Khalifah Harun ar-Rasyid sedang gelisah, kemudian beliau meminta pengawalnya untuk mengundang seorang ulama ahli hikmah. Sesampai di istana, ulama tersebut disuguhi hidangan dan minuman air putih. Singkat cerita, terjadilah percakapan antara khalifah dengan sang ulama. Harun berkata,

“Kyai, saat ini saya sedang gelisah. Mohon nasihat dari Kyai agar pikiran saya tenang, hati pun tidak resah. Saya ingin mengaji.”

“Baginda, sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas jamuan ini. Kalau boleh, saya ingin bertanya,” kata sang ulama.

“Silakan, Kyai.”

“Begini, Baginda. Harga segelas air putih ini berapa ya?”

“Saya kira mau bertanya apa, Kyai. Harga segelas air putih itu murah sekali, hanya beberapa dirham. Kalau Kyai mau, nanti saya kirim berbotol-botol ke rumah Kyai. Bila perlu, sebanyak air di kolam istana.”

Sang ulama tersenyum tulus mendengar tawaran Harun ar-Rasyid. Baginya, senyum adalah ibadah, sebagaimana dicontohkan sang teladan mulia, Nabi Muhammad saw. Selanjutnya, ulama itu pun menjawab,

“Terima kasih atas kemurahan hati, Baginda. Kalau diperkenankan saya ingin bertanya lagi. Apakah Baginda percaya bahwa Allah Maha Kuasa?”

“Tentu, Kyai, Tentu… Saya umat Rasulullah saw. Termasuk kufur seandainya saya tidak percaya bahwa Allah Maha Kuasa,” sahut Harun segera. Ia kaget sekali ditanya seperti itu. Dalam pikirannya, ia bertanya-tanya apakah sang ulama meragukan keimanan dan keislamannya?

“Begini, Baginda. Sebagaimana keyakinan kita bersama, Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa. Misalnya saja Allah menjadikan musim ini musim kemarau yang sangat panjang, sehingga kerajaan ini dan kerajaan-kerajaan yang lain kekeringan—hanya tersisa satu gelas air ini saja yang bisa diminum. Kira-kira, Baginda mau membeli segelas air ini dengan harga berapa?” lanjut sang ulama.

Suasana hening sejenak. Harun ar-Rasyid mengerutkan keningnya untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan sang ulama—pertanyaan yang baginya sungguh aneh. Namun, dia percaya tidak mungkin sang ulama akan sembarangan bertanya, pasti ada hikmah di balik itu semua. Lalu sang Khalifah pun menjawab dengan mantap,

“Kyai, kalau memang itu yang dikehendaki Allah, dan Allah Maha Kuasa untuk melakukan itu semua; maka berdasarkan fiqh bahwa mempertahankan hidup hukumnya wajib, saya akan membeli segelas air putih itu dengan seluruh kerajaan saya beserta isinya. Harta bisa dicari Kyai, asalkan kita masih hidup.”

Sang ulama mengangguk pelan tanpa suara, menunjukkan dia benar-benar mengerti bahwa Harun bersungguh-sungguh dengan jawabannya. Dengan suara yang begitu tenang dan lembut, sang ulama melanjutkan nasihatnya,

“Begitu ya, Baginda. Kalau memang itu yang akan Baginda lakukan; maka ingatlah, ternyata seluruh harta kekayaan Baginda—kerajaaan beserta isinya—hanya seharga segelas air putih ini. Betapa Allah Maha Kaya, sedangkan kita makhluk yang fakir.”

Suasana kembali hening, kali ini lebih lama dari sebelumnya. Tiba-tiba, air mata menetes membasahi pipi Khalifah Harun ar-Rasyid. Sambil menangis, sang Khalifah berkata ,

“Kyai… Terima kasih atas nasihat bijaknya.”

Kisah di atas juga tercantum di buku tulisan Dr. ‘Aidh al-Qarni yang berjudul “Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an (‘Alâ Mâidati Al-Qur’an)”, dengan versi yang berbeda namun intinya sama. Wallâhu a‘lam bish-shawâb. Seorang ulama bertanya kepada Khalifah Harun ar-Rasyid,

“Jika engkau tidak diizinkan Allah untuk meminum seteguk air-Nya, dapatkah kiranya engkau menebusnya dengan kekayaan dari kerajaanmu?”

“Demi Allah, tidak!” jawab Harun.

“Wahai Harun, dapatkah engkau menebus air yang telah engkau keluarkan dengan setengah perbendaharan kerajaanmu?”

Maksud air yang telah dikeluarkan adalah keringat, air seni dan sejenisnya. Bila Harun ar-Rasyid tidak bisa berkeringat, buang air kecil dan meneteskan air mata, apakah bisa ditukar dengan setengah perbendarahaan kerajaannya? Mendengar pertanyaan itu, Harun sadar bahwa apa yang dia miliki hanya sedikit saja. Dengan keyakinan mantap, Harun menjawab,

“Tidak, demi Allah. Kerajaan yang nilainya tidak lebih banyak dari seteguk air, bukanlah kerajaan yang sesungguhnya.”

Dari cerita tersebut, tidakkah kita sadar bahwa kita ini fakir? Apakah layak kalau kita sombong karena harta yang kita miliki?

Barangkali kita akan berkilah, “Ah, itu kan misalnya, hanya sebuah cerita; kalau musim kemarau berkepanjangan sehingga semua negara kekeringan. Itu dogma, tidak akan terjadi, apalagi di Indonesia. Di negara kita, air melimpah, banyak perusahaan AMDK (Air Minum Dalam Kemasan), bahkan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) pun masih aman-aman saja.”

Kalau memang itu argumentasi kita, apakah kita tidak tahu bahwa Allah Maha Kuasa (Al-Qâdir) untuk mengembalikan kita seperti bayi lagi yang tidak punya harta sesen pun, dan itu bisa terjadi dalam hitungan detik sebagaimana Qarun dan seluruh hartanya? Tidak ingatkah kita bagaimana tsunami di Aceh telah meluluh-lantakkan semua bangunan? Apa kita lupa bagaimana gempa yang terjadi di nusantara serta belahan lain bumi ini telah meratakan semua rumah dan gedung? Harta yang kita kumpulkan bertahun-tahun, langsung lenyap dalam sekejap.

Mungkin kita masih menampik fakta tersebut dengan berkata, “Itu kan memang daerah rawan. Rumah saya di daerah aman, tidak akan ada tsunami atau gempa. Jadi tidak perlu kuatir.”

Kalau memang itu dalil kita, lupakah kita bahwa setiap musim liburan/lebaran, ada saja rumah, kompleks pertokoan atau pasar yang terbakar; dengan penyebab klasik, yaitu listrik korslet (hubungan arus singkat)? Padahal sudah ada pengaman listrik seperti sekering dan MCB (Mini Circuit Breaker)? Bukankah sudah kita lihat bersama-sama bagaimana banjir melanda berbagai wilayah negeri ini termasuk kota besar seperti Jakarta? Dalih apa lagi yang akan kita ajukan?

Bermegah-megahan dalam harta dan segala yang bersifat kebendaan bisa melalaikan kita akan pertemuan yang pasti di hari yang dijanjikan. Terlalu sibuk dalam sarana dan melupakan tujuan utama adalah suatu kebangkrutan. Bermegah-megahan dalam harta berarti usaha memperkaya diri dengan mengumpulkan dan menimbun kekayaan materi untuk dinikmati, tetapi tidak dinafkahkan sesuai hak dan kewajiban. Dengan demikian, itu justru berarti kemelaratan yang menyibukkan. Umur habis untuk mencari tetapi hakikatnya tanpa hasil.

Siapa yang mendahulukan bentuk daripada isi, mendahulukan kulit luar daripada niat dan tujuan utama, mendahulukan dunia daripada akhirat, dan mendahulukan makhluk daripada Khaliq adalah seorang hamba yang sesat jalan dan buruk nasibnya di akhirat kelak.

Sudah lupakah kita bahwa seluruh nikmat yang kita terima adalah anugerah Allah? Apakah kita mengira bahwa nikmat itu akan kekal selamanya? Apakah kita tidak memperhatikan firman Allah bahwa yang berhak sombong hanyalah Beliau Yang Maha Memiliki Kebesaran (Al-Mutakabbir)? Kalau kita mengenakan pakaian kesombongan, bukankah itu berarti kita menantang Allah? Tidakkah itu mengandung maksud bahwa kita memproklamirkan diri sebagai tuhan? Kalau sudah begitu, siapakah yang sanggup melawan Allah, Penguasa Alam Semesta (Mâlik Al-Mulk), Raja Diraja (Al-Malik) dengan semua ke-Mahagagahan dan ke-Mahaperkasaan-Nya? Wal ‘iyâdzu billâh.

Rasulullah Muhammad saw. bersabda :

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْـقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Tidaklah masuk surga seseorang yang di hatinya terdapat kesombongan sebesar dzarrah (atom). (HR Bukhari)

Menyadari kefakiran kita, marilah kita bersama-sama bermunajat kepada Allah :

أَللَّهُمَّ لاَمَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ رَاۤدَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Ya Allah, tiada yang dapat mencegah apa yang Engkau anugerahkan, tiada juga yang memberi apa yang Engkau cegah, tiada pula yang dapat menolak apa yang Engkau tetapkan. Tidak berguna dan tidak pula dapat menyelamatkan seseorang dari kekayaan, kedudukan, anak, pengikut dan kekuasaannya. Yang menyelamatkan dan berguna baginya hanyalah anugerah dan rahmat-Mu.

b. Ilmu

Ilmu yang kita miliki bisa menjadi fitnah, membuat diri kita menyombongkan diri di hadapan manusia, meremehkan mereka, seolah tidak ada orang berilmu seperti kita.

Kita akan berkata, “Sudah sewajarnya kalau saya memandang diri lebih tinggi dari orang lain. Saya sudah lulus pendidikan S1, S2, S3 bahkan Profesor. Saya seorang pakar, juga memperoleh banyak gelar profesional—CCIE, MCT, SCNA, SCJP, RHCE dan masih banyak lagi. Siapa yang lebih tinggi ilmunya dibandingkan saya?”

Bagi kita yang pernah menjadi santri di pesantren, bisa jadi kalimatnya seperti ini, “Saya sudah mondok di pesantren hampir 25 tahun. Saya pantas menyandang gelar al-‘Âlim, al-Fahmu (orang yang paham akan banyak hal), bahkan al-‘Allâmah (orang yang sangat tinggi ilmunya). Bagi mereka yang baru mondok 6 tahun masih dikategorikan anak TK. Mereka belajar agama baru pada tahap kulit, belum sampai kepada isi.”

Jika kita mengenyam pendidikan di luar negeri, mungkin dengan angkuhnya kita akan berucap, “Tidak ada orang secerdas saya. Saya ini paling rasional. Apa itu ulama-ulama zaman dulu, mereka orang-orang kuno, primitif dan tak layak lagi pemikirannya dipakai. Kitabnya saja kitab kuning, itu kan artinya kitab bulukan, lebih pantas dimakan rayap. Kita harus menggunakan metode baru yang lebih sistematis, ilmiah, aktual, intelek dan modern.”

Apakah sah kalau kita melakukan hal seperti itu? Tidakkah kita sadari bahwa di atas langit ada langit? Tidak mengertikah kita bahwa ilmu yang kita kuasai kita tidak sampai 1% dari keseluruhan disiplin ilmu yang saat ini sudah diketahui? Apalagi jikalau kita juga menghitung ilmu-ilmu yang masih dalam penelitian atau belum ditemukan, bisakah mencapai 0,1%-nya?

Bukankah tidak ada seorang dokter pun yang menguasai seluruh ilmu kedokteran? Setiap dokter punya spesialisasi sendiri-sendiri, misalnya spesialis tulang, penyakit dalam, anak, mata, kulit dan kelamin, neuro immunolog serta masih banyak lagi. Di bidang Teknologi Informasi juga masih dipilah-pilah, ada system administrator, network administrator, database administrator, programmer (2-Tier dan 3-Tier), desain grafis dan teknisi. Santri-santri di pondok pesantren pun terbagi-bagi, ada yang menekuni fiqh, bahasa dan sastra, tafsir, hadits dan sebagainya. Disiplin ilmu yang lain juga punya spesialisasi seperti itu.

Bila kita mengaku modern dan anti orang-orang lama, di manakah kita ketika para guru sekolah mengajarkan tentang Albert Einstein, Alessandro Volta, Alexander Fleming, Archimedes, Aristoteles, Daniel Bernoulli, James Clerk Maxwell, James Prescott Joule, James Watt, Michael Faraday, Michelangelo, Nicolaus Copernicus, Plato, Sir Isaac Newton, Socrates dan masih banyak lagi orang-orang seperti mereka yang notabene kuno menurut kita? Mengapa saat ini teori-teori kuno tersebut masih dipelajari bahkan digunakan? Lalu mengapa kita menolak mentah-mentah kitab-kitab yang disusun ulama-ulama zaman dulu? Masihkah kita merasa ilmu kita begitu tinggi dan hebat sehingga berhak merendahkan yang lain? Seorang penyair pernah berkata :


Katakan pada orang yang mengaku memiliki ilmu melimpah
Kau tahu satu hal namun banyak hal yang tidak kau ketahui


Barangkali kita akan berargumen, “Tapi kan, saya membandingkan diri saya dengan sesama manusia, bukan dengan Allah. Tidak ada orang yang berilmu seperti saya.”


Memang betul kita membandingkannya orang lain, tapi sekali lagi, sifat sombong hanya berhak disandang oleh Allah Yang Maha Mengetahui (Al-‘Alîm) serta Maha Luas Rahmat dan Ilmunya (Al-Wâsi‘).


Iblis (la‘natullâh ‘alayh) saja terusir dari sorga karena kesombongannya. Siapa sebenarnya Iblis? Ibnu Abbas ra. mengatakan, “Iblis adalah makhluk paling berilmu, tetapi ilmunya tidak bermanfaat, bahkan membuatnya pongah, sombong dan berbangga diri.”


Dalam beberapa riwayat, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dan ahli tafsir lainnya, konon Iblis adalah raja di langit dunia. Dia diberi wewenang di sana. Oleh sebab kekuasaannya, Iblis enggan bersujud ketika Allah berfirman kepada para malaikat untuk bersujud. Penolakan Iblis untuk bersujud merupakan bentuk keangkuhan. Kalimat-kalimat yang diucapkannya adalah awal dari nestapa, laknat dan penderitaan.


Bagaimana jika Allah mengingatkan kita karena kecongkakan kita, kemudian kita dicoba-Nya dengan penyakit, misalnya amnesia? Atau kita mengalami kecelakaan sehingga gegar otak? Bisa juga Allah menyadarkan kita tentang kelemahan kita dengan menaikkan tekanan darah kita sehingga terserang stroke. Na‘ûdzubillâh.


Umar bin Khaththab ra. memberi nasihat, “Jangan pelajari suatu ilmu karena tiga tujuan dan jangan pula meninggalkan ilmu karena tiga tujuan. Yakni, jangan pelajari ilmu dengan tujuan untuk berdebat, membanggakan diri dan pamer. Jangan tinggalkan ilmu (tidak mau belajar) karena malu mempelajarinya, merasa cukup berilmu dan pasrah karena kebodohan.”


Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Athaillah berpesan, “Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang memancarkan cahaya di dalam dada dan menyingkap katup hati.” Ilmu harus dapat membentuk diri orang yang berilmu dengan akhlak dan jiwa mulia, serta dapat membentuk anggota masyarakat sesuai dengan tuntunan Ilahi.


Hakikat ilmu adalah yang membawa seseorang mengenal Tuhannya dan timbulnya rasa takut (khasy-yah) kepada Allah. Yang dimaksud rasa takut adalah mengamalkan ilmu yang dianugerahkan Allah untuk menghambakan diri kepada-Nya sebagai ciri-ciri orang berilmu. Ilmu menjadi pendorong dan penguat jiwa untuk makin dekat kepada Allah, melebihi orang yang tidak berilmu.


Kalbu adalah wadah ilmu pengetahuan. Membersihkan kalbu merupakan hal yang sangat dianjurkan guna memperoleh pengetahuan yang jernih. Al-Ghazali menjelaskan, “Kalau kita membayangkan suatu kolam yang digali di tanah, maka untuk mengisinya dapat dilakukan dengan mengalirkan air sungai dari atas ke dalam kolam itu. Bisa juga dengan menggali tanah sehingga muncul mata air. Air akan mengalir dari bawah ke atas untuk memenuhi kolam, dan air itu jauh lebih jernih daripada air sungai yang mengalir dari atas. Kolam seumpama kalbu, air ibarat pengetahuan, sedangkan sungai laksana panca indera dan eksperimen.”


Ulama-ulama salaf, walaupun sangat dalam ilmunya, tetaplah rendah hati. Seseorang bertanya kepada Imam Malik tentang 40 (empat puluh) macam persoalan, tapi beliau hanya menjawab 8 (delapan) buah di antaranya dan diam dalam 32 (tiga puluh dua) masalah yang tersisa. Semua itu demi kehati-hatian, agar tidak salah dalam berfatwa.


Si penanya sampai berkata, “Engkau sungguh mengherankan, wahai Malik. Sedemikian inikah ilmu yang kau miliki? Kami bersusah payah datang mengendarai unta dari Irak dan kamu mengatakan tidak tahu!”


Imam Malik menjawab, “Pergilah kepada orang-orang dan katakan pada mereka, ‘Malik bin Anas tidak tahu apa-apa!’ ”


Imam Malik mengingatkan, “Ilmu itu bukan sekadar kepandaian atau banyak meriwayatkan hadits Nabi saw, akan tetapi ia merupakan nur yang bercahaya dalam hati. Manfaat ilmu akan mendekatkan manusia kepada Allah serta menjauhkannya dari kesombongan.”


Itulah Imam Malik, padahal Imam Syafi‘i pernah menyatakan, “Jika disebut ulama, maka Imam Malik-lah bintangnya.” Khalifah Abu Ja‘far al-Manshur berkata, “Di antara keajaiban dunia adalah otak Imam Malik.” Imam Malik memiliki keistimewaan dibandingkan ulama lain dari segi pengetahuan tentang sunnah Nabi saw. dan kecerdasan akal.

Salah satu murid Imam Malik, yaitu Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i, juga demikian rendah hati. Imam Syafi‘i berkata, “Jika engkau menjawab pertanyaan dengan jawaban ‘aku tidak tahu’, maka jawabanmu benar adanya.”


Beberapa huffâzh (orang yang hapal ribuan hadits) bercerita,
“Kami melihat Imam Ahmad bin Hanbal (di Indonesia masyhur dengan sebutan Imam Hambali, salah satu imam madzhab) turun ke pasar Baghdad dan membeli tali pengikat kayu bakar lalu memikulnya di punggungnya. Tatkala orang tahu, para penjual meninggalkan jualannya, para pedagang meninggalkan dagangannya dan orang yang berlalu berhenti untuk memberi salam kepadanya. Mereka berkata,


‘Kami bawakan kayu bakarmu.’


Tangannya pun bergetar, mukanya memerah dan matanya menangis. Dia berkata,


‘Kita adalah kaum miskin, kalaulah bukan karena Allah niscaya terungkap aib kita’.”


Abdullah, putra Imam Ahmad bercerita, “Terompah ayahku dipakainya selama delapan belas tahun. Setiap kali berlubang, dia sendiri yang menambalnya, sedangkan dia adalah imam dunia.”

Betapa rendah hati beliau, padahal beliau hapal Al-Qur’an dan ribuan hadits. Imam Ahmad juga menulis al-Musnad dari hapalannya—empat ribu hadits—termasuk salah satu musnad terbesar. Imam Syafi‘i, guru beliau pun pernah berkata, “Aku keluar dari Baghdad dan penduduknya waktu itu dua juta jiwa. Demi Allah, aku tidak menemui orang paling tahu tentang Allah, paling zuhud, paling alim dan paling mencintaiku selain Ahmad bin Hanbal.”

Ibnu Athaillah berpesan, “Orang yang menghormatimu, sebenarnya ia hanya menghormati keindahan tutup yang diberikan Allah untuk (menutupi aib)-mu. Maka, yang wajib dipuji adalah Dzat yang menutupi (aib)-mu.” Manusia itu tempat salah dan aib. Apabila ada orang memuji kita, itu bukanlah karena kehormatan yang ada pada diri kita, akan tetapi karena Allah menutupi aib kita dengan menampakkan kebaikan kita. Itu semua berkat penutup yang sangat indah dari Allah Jalla Jalâluh. Karunia Allah dan penutup indah ini hendaklah disyukuri, bukan untuk disombongkan.

Untuk menjaga agar tetap rendah hati, mari kita renungkan bersama terjemah firman-firman Allah berikut ini :

Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur (menggunakannya sesuai petunjuk Ilahi untuk memperoleh pengetahuan) (QS an-Nahl [16] : 78)


وَمَاۤ أُوْتِيْتـُمْ مِنَ ٱلْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيْلاً


Kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit
(QS al-Isrâ’ [17] : 85)


Katakanlah, “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”
(QS al-Kahfi [18] : 109)


Al-Qur’an menggarisbawahi bahwa rahasia ilmu Allah hanya tercurah kepada mereka yang tidak menyombongkan diri.


Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.
(QS al-A‘râf [7] : 146)


Rasulullah Muhammad saw. juga mengingatkan kita :


مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوْهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ


Siapa menuntut ilmu untuk mendebat ulama (karena riya’ dan harga diri), atau untuk mempecundangi orang-orang bodoh, atau untuk memalingkan muka orang-orang ke arah dirinya (sehingga namanya terkenal sebagai orang alim), maka niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.
(HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)


Imam Syafi‘i pernah menggubah kata-kata bersayap, “Aku mengeluh pada guruku tentang kelemahan hapalanku, maka dituntunnya aku agar meninggalkan kemaksiatan. Diajarkannya kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya, sedang cahaya Allah tidak dianugerahkan kepada si durhaka.”


Ja‘far ash-Shadiq menuturkan, “Pengetahuan bukanlah apa yang diperoleh melalui proses belajar-mengajar, tetapi cahaya yang ditampakkan Tuhan ke dalam hati orang-orang yang dikehendaki-Nya.”


Dalam kitab “Ta‘lîm al-Muta‘allim”, Syaikh Hammad bin Ibrahim al-Anshari membacakan sebuah syair kepada Syaikh az-Zarnuji tentang bagaimana harus menuntut ilmu.


مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِلْمَعَادِ * فَازَ بِفَضْلٍ مِنَ الرَّشَادِ
فَيَا لِخُسْرَانِ طاَلِبِـيْهِ * لِنَيْلِ فَضْلٍ مِنَ الْعِـبَادِ


Siapa mencari ilmu karena akhirat
Maka ia mendapat keutamaan dari Yang Maha Pemberi Petunjuk


Maka lihatlah kerugian orang yang mencari ilmu
Karena mencari keutamaan dari sesama hamba


Marilah kita sadari bersama bahwa kita adalah makhluk bodoh, tiada berilmu jika tidak dikaruniai-Nya. Cobalah kita renungkan dan hayati lagi penyesalan para malaikat atas perasaan mereka bahwa mereka memiliki banyak ilmu sehingga awalnya mereka berkeberatan jika Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, padahal Allah Maha Mengetahui segalanya.


قاَلُوْا سُبْحٰـنَكَ لاَعِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَاعَلَّمْتَنَاۤ إِنَّكَ أَنْتَ ٱلْعَلِيْمُ ٱلْحَكِيْمُ


Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(QS al-Baqarah [2] : 32)


Alangkah baiknya bila kita juga melantunkan syair sekaligus doa yang begitu menyentuh relung-relung hati, buah karya ‘Aidh al-Qarni.

Wahai Yang Mengetahui saat nyamuk melebarkan sayapnya
dalam gelap malam yang hitam dan pekat
Dan Yang Maha Mengetahui jaringan keringat dalam tubuhnya
dan otak dalam tulang kecilnya
Ampunilah hamba yang bertaubat dari kekhilafannya
atas segala dosa yang ada


Agar selalu berada di jalan keilmuan dan ketakwaan, marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah :


أَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فَهْمَ النَّبِيِّـيْنَ وَحِفْظَ الْمُرْسَلِيْنَ. أَللَّهُمَّ اغْـنِنَا بِالْعِلْمِ وَزَيِّنَا بِالْحِلْمِ وَاكْرِمْناَ بِالتَّقْوَى وَجَمِّلْناَ بِالْعَافِيَةِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ


Ya Allah, kami bermohon kepada-Mu pemahaman yang Engkau anugerahkan kepada para nabi dan daya hapal yang Engkau berikan kepada para rasul. Ya Allah, perkayalah kami dengan ilmu, hiasilah kami dengan kelapangan dada, muliakanlah kami dengan takwa, serta perindahlah kami dengan afiat, demi rahmat-Mu wahai Allah Yang Maha Pengasih di atas segala pengasih, amin

April 19, 2009

Mengenal sistem manajemen perusahaan : Chapter. : 14 . Evaluasi Manajemen (1)

Evaluasi sama pentingnya dengan fungsi-fungsi manajemen lainnya, yaitu perencanaan, pengorganisasian atau pelaksanaan, pemantauan (monitoring) dan pengendalian. Terkadang fungsi monitoring dan fungsi evaluasi, sulit untuk dipisahkan. Penyusunan sistem dalam organisasi dan pembagian tugas, fungsi serta pembagian peran pihak-pihak dalam organisasi, adakalanya tidak perlu dipisah-pisah secara nyata. Fungsi manajemen puncak misalnya, meliputi semua fungsi dari perencanaan sampai pengendalian. Oleh karena itu, evaluasi sering dilakukan oleh pimpinan organisasi dalam suatu rapat kerja, rapat pimpinan, atau temu muka, baik secara reguler maupun dalam menghadapi kejadian-kejadian khusus lainnya.

Sebagai bagian dari fungsi manajemen, fungsi evaluasi tidaklah berdiri sendiri. Fungsi-fungsi seperti fungsi pemantauan dan pelaporan sangat erat hubungannya dengan fungsi evaluasi. Di samping untuk melengkapi berbagai fungsi di dalam fungsi-fungsi manajemen, evaluasi sangat bermanfaat agar organisasi tidak mengulangi kesalahan yang sama setiap kali.

Organisasi yang gagal mengidentifikasi kesalahan yang sama yang dilakukan secara terus menerus, tidak akan tumbuh dan berkembang sebagai organisasi yang unggul. Jadi secara umum, jika tidak dihadapkan pada suatu pertanyaan mengapa perlu dilakukan evaluasi? Terdapat beberapa jawaban seperti berikut:

  1. Karena evaluasi merupakan fungsi manajemen
  2. Karena evaluasi merupakan mekanisme umpan balik bagi perbaikan
  3. Karena evaluasi akan dapat menghindarkan organisasi dari mengulangi kesalahan yang sama
  4. Karena evaluasi akan dapat menemukan dan mengenali berbagai masalah yang ada di dalam organisasi dan mencoba mencari solusinya.

Evaluasi adalah proses pengumpulan dan analisis data secara sistematis yang diperlukan dalam rangka pengambilan keputusan, GAO (1992:4). Evaluasi akan menghasilkan umpan balik dalam kerangka efektivitas pelaksanaan kegiatan organisasi. Menurut Department of Health & Human Services, evaluasi adalah proses untuk mengumpulkan informasi. Sebagaimana dengan proses pada umumnya, evaluasi harus dapat mendefinisikan komponen-komponen fase dan teknik yang akan dilakukan.

Pengertian lain dikemukakan oleh Peter H. Rossi (1993:5) menyebutkan bahwa evaluasi merupakan suatu aplikasi penilaian yang sistematis terhadap konsep, desain, implementasi, dan manfaat aktivitas dan program dari suatu organisasi. Dengan kata lain, evaluasi dilakukan untuk menilai dan meningkatkan cara-cara dan kemampuan berinteraksi organisasi yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerjanya.

Evaluasi adalah proses penilaian yang sistematis, pemberian nilai, atribut, apresiasi dan pengenalan permasalahan serta pemberian solusi atas permasalahan yang ditemukan. Dalam berbagai hal, evaluasi dilakukan melalui monitoring terhadap sistem yang ada. Namun demikian, evaluasi kadang-kadang tidak dapat dilakukan dengan hanya menggunakan informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi pada organisasi saja.

Data dari luar organisasi akan menjadi sangat penting untuk digunakan dalam melakukan analisis dan evaluasi. Evaluasi mungkin saja dilakukan dengan tidak terlalu mementingkan keakuratan data yang ada, namun dengan lebih bijaksana dalam memperoleh data, sehingga data yang hanya berkriteria cukup dapat saja digunakan dalam pelaksanaan evaluasi. Penggunaan data dan informasi guna melakukan evaluasi lebih diprioritaskan pada kecepatan untuk memperoleh data dan kegunaannya. Dengan demikian, hasil evaluasi akan lebih cepat diperoleh dan tindakan yang diperlukan untuk perbaikan dapat segera dilakukan.

Klasifikasi evaluasi dapat dilakukan berdasarkan pada:

  1. Apa yang dievaluasi.
  2. Tujuan evaluasi.
  3. Fokus evaluasi.
  4. Metode evaluasi.
  5. Pendekatan evaluasi.
  6. Lingkup atau tataran yang dievaluasi.
  7. Orientasinya.

Berdasarkan apa yang dievaluasi, evaluasi dapat dibagi ke dalam beberapa

kelompok:

  • Evaluasi kegiatan.
  • Evaluasi program.
  • Evaluasi kebijakan.
  • Evaluasi pengelolaan keuangan.
  • Evaluasi pengelolaan sumber daya manusia.
  • Evaluasi terhadap sistem dan governance.
  • Evaluasi terhadap struktur, mekanisme dan prosedur.
  • Evaluasi efisiensi, efektivitas, kehematan, kelayakan.

Penggolongan evaluasi berdasarkan tujuan evaluasi dapat meliputi :

  • Evaluasi untuk tujuan tertentu, misalnya: untuk mempelajari fakta dan kemungkinan perbaikannya, untuk meningkatkan akuntabilitas, untuk meningkatkan kinerja.
  • Goal free evaluation atau evaluasi untuk mencari peluang perbaikan yang tidak ditetapkan terlebih dahulu.

Berdasarkan fokus evaluasinya pekerjaan evaluasi dapat dibagi ke dalam

lima kelompok:

  • Input evaluation
  • Process evaluation
  • Output evaluation
  • Outcomes evaluation
  • Impact evaluation.

Berdasarkan pendekatannya, evaluasi dapat dibagi ke dalam:

· Evaluasi semu

· Evaluasi formal

· Evaluasi keputusan teoretis

Berdasarkan orientasinya, evaluasi dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori sebagai berikut:

  • Evaluasi yang proaktif (Proactive evaluation)
  • Evaluasi yang klarifikatif (Clarificative evaluation)
  • Evaluasi interaktif (Interactive evaluation)
  • Evaluasi monitoring (Monitoring evaluation)
  • Evaluasi dampak (Impact evaluation)

Berikut ini penjelasan masing-masing kategori :

  • Evaluasi yang proaktif (Proactive evaluation)

Evaluasi proaktif ini dapat dilakukan sebelum suatu kebijakan/program ditetapkan. Pendekatan-pendekatan kunci :

1. Perkiraan kebutuhan.

2. Review riset.

3. Review : praktik-praktik terbaik (best practices)

Dalam pencarian bukti-bukti dapat digunakan teknik-teknik: DELPHI, Customer Satisfaction Survey, Nominal Group Forum, Konsep Mapping, Focus Group.

· Evaluasi yang klarifikatif (Clarificative evaluation).

Evaluasi klarifikatif ini berfokus pada klarifikasi struktur internal dan fungsi dari suatu program dan kebijakan. Pendekatan-pendekatan kunci :

1. Evaluability assessment.

2. Logic development.

3. Acreditation.

Pendekatan ini cocok untuk program yang mulai dilaksanakan.

· Evaluasi interaktif (Interactive evaluation).

Evaluasi interaktif ini dapat digunakan untuk memperoleh informasi atas

implementasi program. Pendekatan penting yang bisa dipakai :

  1. Evaluasi responsive
  2. Riset tindakan
  3. Evaluasi pengembangan
  4. Evaluasi pemberdayaan

· Evaluasi monitoring (Monitoring evaluation).

Evaluasi monitoring ini sangat tepat digunakan ketika program sudah dalam pelaksanaan. Evaluasi ini sudah melibatkan pengembangan sistem untuk pemantauan kemajuan program. Indikator kinerja kuantitatif sudah harus digunakan sebagai alat untuk

mengorganisasikan data dalam evaluasi monitoring. Pendekatan-pendekatan utama yang dapat dipakai :

  1. Component analysis.
  2. Pengukuran kinerja (Performance assessment).
  3. System analysis.

· Evaluasi dampak (Impact evaluation).

Evaluasi ini digunakan untuk menilai hasil dan dampak program yang sudah mapan. Evaluasi ini dapat digunakan untuk membuat keputusan tentang penghargaan, atau kemanfaatan program. Evaluasi ini disebut juga evaluasi sumatif (Sumative evaluation). Pendekatan yang dapat dipakai :

  1. Evaluasi yang berdasarkan sasaran
  2. Studi proses-outcome
  3. Evaluasi berdasarkan kebutuhan (Needs-based evaluation)
  4. Goal-free evaluation (termasuk mengevaluasi dampak yang bersifat positif dan negatif (unintended impact) dan tidak hanya outcome semata).
  5. Performance audit.

Suatu evaluasi dilaksanakan dengan berbagai alasan, yaitu :

  1. Untuk memberikan penilaian terhadap pelaksanaan aktivitas dan program organisasi
  2. Mengestimasi manfaat usaha-usaha yang dilakukan untuk meningkatkan pelaksanaan aktivitas.
  3. Untuk mengembangkan program-program dan teknik baru bagi peningkatan kinerja.
  4. Untuk meningkatkan efektivitas manajemen pelaksanaan kegiatan.
  5. Untuk meyakinkan bahwa akuntabilitas kinerja organisasi cukup memadai.

Alasan perlunya evaluasi dalam suatu proses implementasi akuntabilitas adalah :

  1. Untuk meningkatkan mutu pelaksanaan pengelolaan aktivitas organisasi yang lebih baik.
  2. Untuk meningkatkan akuntabilitas kinerja organisasi.
  3. Untuk memberikan informasi yang lebih memadai dalam menunjang proses pengambilan keputusan.
  4. Meningkatkan pemanfaatan alokasi sumber daya yang tersedia,
  5. Sebagai dasar peningkatan mutu informasi mengenai pelaksanaan kegiatan organisasi.
  6. Mengarahkan pada sasaran dan memberikan informasi kinerja.

Evaluasi terhadap kebijakan/program ataupun kegiatan organisai tidaklah selalu mudah dan murah. Kemudahan dan harga yang dibayar inilah yang menjadi pertimbangan utama dalam menentukan ruang lingkup evaluasi terhadap suatu permasalahan. Pendekatan ini lebih cenderung pada teknis ekonomis belaka, meskipun manajemen yang pragmatis tentu tidak bisa mengabaikannya. Bagaimana jika pertimbangan lain, misalnya, sosial ekonomis ? Sudah tentu ruang lingkupnya menjadi berubah dan semakin meluas.

Ukuran-ukuran yang dipakai dalam pendekatan teknis ekonomis lebih kepada biaya dan manfaat, sehingga analisis biaya dan manfaat menjadi sangat penting. Lain halnya jika pendekatan yang dipakai sudah ke arah sosio ekonomis, maka pertimbangan dan ukuran lebih mengarah tidak hanya ke 3 E (ekonomis, efisien dan efektif), tetapi juga sudah kepada ke 2 E lainnya, yaitu ekuitas (kesamaan, kecukupan dan keadilan) serta excellent services (pelayanan prima).

Sebagai simpulan tujuan evaluasi sangat tergantung dari kebijakan pimpinan organisasi yang diberi wewenang untuk melakukan evaluasi dengan mempertimbangkan berbagai kendala yang ada. Evaluasi yang dilakukan oleh pihak luar harus secara eksplisit menyatakan tujuan evaluasi tersebut secara jelas, sehingga dapat didesain suatu evaluasi yang secara pragmatis dapat mencapai tujuan-tujuan itu. (bersambung)

April 19, 2009

STUDI AWAL PENGGUNAAN SEL ELEKTROKIMIA DENGAN CaZrO3-BASE SEBAGAI SENSOR HIDROGEN DALAM LEBURAN ALUMUNIUM

Oleh : Dr. Achmad Hanafi, MSC

Abstraksi

Hidrogen terlarut di dalam leburan alumunium dapat menyebabkan porositas pada produk kasting, dengan demikian pengukuran kadar hydrogen di dalam alumunium secara on-line dapat digunakan dalam perbaikan kontrol proses. Meskipun sensor kimia untuk penggunaan di dalam leburan aluminum secara komersial telah tersedia, akan tetapi biaya nya sangat mahal. Dengan demikian pengembangan sensor yang lebih ekonomis akan memperluas aplikasi dari sensor hydrogen untuk proses leburan alumunium. Salah satu pendekatan dalam mengembangkan sensor jenis ini adalah penggunaan sensor elektrokimia dengan elektrolt padat penghantar proton. Pada tulisan ini, dikembangkan suatu prototype sensor hidrogen dalam leburan Alumunium menggunakan material CaZrO3 yang didoping dengan In sebagai elektroda kerja dan Al/Al23 dan Mg/MgO murni sebagai elektroda pembanding. Pada pengujian awal sensor pada temperatur 7000C memperlihatkan bahwa, beda potensial yang dihasilkan dengan kedua elektroda pembanding tersebut menunjukan respon yang sesuai dengan perhitungan beda potensial secara teoritis.

Kata kunci : Calcium Zirkonat, sensor hydrogen, alumunium

Pendahuluan

Hidrogen adalah satu-satunya gas yang larut secara signifikan dalam leburan alumunium. Sumber utama hydrogen dalam aloi alumunium adalah uap air dalam udara. Sebagian besar aloi alumunium komersial dilebur di udara yang mengandung kelembaban, dan uap air yang terkandung dalam udara di sekeliling sistim peleburan akan bereaksi dengan leburan membentuk senyawaan alumunium oksida dan membebaskan gas hydrogen [1,2]. Atom hydrogen kemudian berdifusi melalui lapisan oksida dari alumunium tersebut ke dalam leburan. Kelarutan hydrogen dalam leburan alumunium adalah lebih besar disbanding dengan kelarutannya dalam padatan alumunium, maka selama solidifikasi konsentrasi hydrogen telah mencapai nilai kritis, porositas dapat bernukleasi dan tumbuh selama proses solidifikasi. Dengan demikian, jumlah hydrogen terlarut menjadi kritikal, sehingga gas hydrogen harus diminimumkan sebelum proses kasting dilakukan.

Proses pengurangan gas hydrogen dalam leburan logam termasuk ke dalam proses degassing. Untuk mendapatkan kondisi proses yang optimal diperlukan informasi konsentrasi gas hydrogen dalam leburan secara real time dan dengan demikian diperlukan pengembangan metoda pengukuran jumlah hydrogen yang cocok, di antaranya dengan penggunaan sensor hydrogen [3]. Masih cukup banyak industri yang mengalami kesulitan dalam penanganan masalah ini, sehingga sering mendapatkan produk kastingnya tidak mencapai spesifikasi dan waktu pakai yang diharapkan.

Tinjauan Pustaka

Teknik pengukuran kandungan hydrogen yang sering dipakai pada industri peleburan alumunim saat ini [4] dapat digolongkan kepada metoda semi kuantitatif in-situ, yaitu pengukuran secara on-line. Pemilihan metoda yang dipakai biasanya di dasarkan pada biaya penyediaan alat dan biaya operasi dari metoda tersebut. Secara umum pengukuran secara on-line mempunyai kelebihan dalam kepraktisan, ketepatwaktuan, ketelitian dan kedapatulangan meskipun biayanya relatif lebih tinggi.

Beberapa cara untuk pengukuran langsung kadar hydrogen dalam leburan alumunium adalah analisa hydrogen kontnyu dengan evaluasi tekanan dalam leburan (CHAPPEL) atau pengukuran langsung tekanan (DPM), secara komersial tersedia dengan nama TELEGAS® dan ALSCAN®. Pada metoda ini suatu gas pembawa (N2, He, Ar) dialirkan ke dalam leburan alumunium dengan suatu probe yang berongga. Kadar hydrogen dalam gas pembawa kemudian ditetapkan dengan mengukur konduktivitas terma dari gas.

Sensor hydrogen yang merupakan elektrolit padat dalam suatu system elektrokimia dirancang untuk menggantikan peranan sensor termal konduktivitas dalam system Telegas ® atau Alscan®, yaitu dengan menghilangkan kebutuhan untuk membawa gas hydrogen dalam leburan ke sensor. Sensor in mempunyai keuntungan dapat dstabil beroperasi pada temperatur tinggi dan mampu untuk dicelupkan langsung ke dalam leburan alumunium, selain itu konduktivitas dari elektrolit padat akan bertambah dengan kenaikan temperatur, sehingga tingginya temperatur oerasi yang dibutuhkan selama proses peleburan logam sangat cocok unuk operasi sensor. Di samping hal tersebut, mengingat output dari sensor ditentukan oeh sifat termodinamik dari leburan logam dan elektroda pembanding, maka pada prinsipnya sensor tidak memerlukan kalibrasi. Perangkat elektronik yang dibutuhkan oleh sensor ini pun sangatlah sederhana, karena output dari sensor eektrokimia adalah suatu tegangan DC.

Material sensor hydrogen yang merupakan elektroda kerja dalam system sel elektrokimia merupakan elektrolit penghantar proton. Konduksi protonik dari suatu elektrolit padat secara umum akan terbentuk melalui transport daei defek titik atau ionic tertentu. Tegangan yang terbentuk melalui elektrolit akan proporsional dengan logaritma dari konsentrasi spesies bergerak mengikuti persamaan Nernst. Contoh sensor elektrokimia yang telah digunakan dalam industri adalah untuk mengukur jumlah oksigen dalam leburan baja [5,6] yang telah mendorong pengembangan sensor elektrokimia untuk penerapan dalam proses peleburan logam lainnya[7,8].

Elektrolit padat yang pernah dicoba adalah asam antimonik dan hydrogen uranil fosfat [9]; zirconium fosfat (NASICON) dan (Zirpsio); zeolit sintetis (NH4Y dan H4Y), ß/ ß”-alumina [10-15]; Sr- dan Ba- cerat; LaZZrZ07 dan La2Ce2O7 [16-20]. Umtrmnya sensor yang dihasilkan kurang stabil, kecuali pada penggunaan material keramik CaZr03 yang didoping dengan kation In, Ga dan Se yang telah diteliti secara intensif oleh Yajima dkk. [21-24] Material ini menghasilkan proton konduksi pada temperatur tinggi (sekitar 700°C) di dalam atmosfer yaiig mengandung hidrogen dan COZ dan menLnjukkan stabilitas yang cukup tinggi.

BAHAN DAN METODE

Perakitan Sensor Hidrogen

Sesuai dengan desain elektroda kerja seperti Gambar 1 [25], ke dalamnya dimasukkan padatan kecil elektroda pembanding. Digunakan dua set elektroda pembanding yaitu serbuk AUA1203 (sensor-1) sebagai blanko dan serbuk Mg/MgO (sensor-2) untuk mengevaluasi respon dari sensor. Kemudian disisipkan ujung kawat Mo dengan diameter 0.5 mm dan mulut tabung elektrolit yang terbuka disemen dengan Ceramabond 571. Elektroda padat maupun kawat Mo dilindungi oleh tabung alurr.ina/sleeve alumina seperti terlihat dalam gar_ibar dan kenmdian disambungkan dengan pipa stainless­steel sepanjang 1 meter untuk memudahkan sensor menjangkau leburan aluminum. Seluruh sarnbungan dibubuhi semen Ceramabond, kemudian dibiarkan diudara terbuka selama 1-4 jam dan dipanaskan pada 93°C selama 1-4 jam.

Selain dua elektroda tersebut di atas juga disisipkan sebuah elektroda lain yaag berisi kawat Mo yang berfungsi sebagai electronic ground dalam pengukuran beda potensial sensor dan juga sebagai sarana pengukuran temperatur leburan. Ketiga bagian tersebut diikat agar memudahkan dalam operasi pengukuran dan dihubungkan dengan perekam data seperti terlihat pada Gambar 2.

Pengetesan Sensor Hidrogen Pada Leburan Alumunium

Operasi pengetesan sensor dilakukan dalam tungl:u lisrik dengan ukuran diameter crucible 26 cm, tinggi 40 cm dan umpan 15 kg aluminum. Pelcburan aluminum dilakukan, pada temperatur- sekitar 700°C tanpa pengaliran gas inert. Set hidrogen sensor seperti diterangkan pada Gambar 2, dihubungkan dengan perangkat perekam data, Data Shuttle/Laptop-komputer, dengan software Quicklog for Windows seperti Gambar 3. Pemanasan mula sensor dilakukan untuk mengevaluasi ketahanan kejut terma: dari sensor yaitu dengan menempatkan sensor sejajar dengan bibir crucibel selama wak;u tertentu dan kemudian sensors dibenamkan dibawah permukaan leburan aluminum secara sempurna. Data beda potensial (EMF) kedua elektroda sel yang berubah dengan waktu dicatat sampai dengan stabil.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengamatan keretakan dilakukan secara kualitatif setelah percobaan selesai. Hasil pengamatan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel ini menerangkan bahwa dengan pemanasan mula pada temperatur di lokasi kira-kira 20 cm di atas leburan aluminium (asumsi 500°C) selama 0 sampai 30 menit, sensor masih menu njukkan keretakan yang teramati baik pada k(instruksi tabutrg maupun pada sambungannya, sehingga pada pengukuran EMF menyebabkan “short”. Hal ini dimungkinkarn karena adanya leburan aluminium yang masuk ke dalam bagian diartara kedua elektroda yang menyusun sel elektrokimia. Sementara itu, pemanasan mula pada temperatur yang sama dalam waktu 40 menit dapat membentuk struktur sensor yang tahan keretakan akibat perbedaan temperatur sensor dengan temperatur leburan aluminium. Untuk percobaan seterusnya, digunakan kondisi pemanasan mula selama 40 menit pada posisi 20 cm di atas leburan aluminium sebelum sensor hidrogern ini digunakan untuk mengukur EMF dari contoh.


Gambar 1. Desain kontruksi elektroda kerja sensor hidrogen

Gambar 2. Sistem pengukuran beda potensial sensor hydrogen

Tabel 1. Pengamatan keretakan sensor setelah penggunaan terhadap waktu pemanasan mula:

Waktu

Pemanasan

(menit)

Pengamatan

0

+++

10

+++

20

++

30

+

40

-

Keterangan:

+ : adalah derajat keretakan.

Tabel 2. Hasil pengukuran EMF pada sensor­1 (elektroda pembanding Al/A1203) dan sensor-2 (elektroda pembanding Mg/Mg0)

Waktu

(menit)

Sensor-1

(mV)

Sensor-2

(mV)

0

0

-571

1

86

-426

2

66

-386

3

77

-232

4

69

-160

5

73

-144

6

64

n.d.

Hasil pengukuran EMF secara simultan dari sensor elektrokimia CaZr03 dengan dua buah elektroda pembanding yaitu Al/Al2O3 (sensor-1) dan Mg/MgO (sensor-2) versus waktu pengukuran dapat dilihat pada Tabel 2 dan hubungannya dinyatakan dalam Gambar 3.

Dari Gambar 3, dapat dilihat bahwa setelah waktu pengukuran 2 menit, output dari sensor-1 menunjukkan EMF yang stabil pada kira-kira 70 mV. Hal ini dimungkinkan karena leburan aloi dan elektroda pembanding mengandung logam yang sama, sehingga mempunyai harga AG sama dengan nol dan menyebabkan EMF teoritis untuk sensor ini llarus nol mV mcngikulti persamaan:

E = Δ G / (6) (96.487)

Besarnya EMF hasil pengukuran yang lebih dari nol diperkirakan sebagai perbedaan kandungan hidrogen dalam leburan aloi dan dalam elektroda pembanding.

Pada pengamatan dari sensor-2 menunjukkan EMF yang semakin naik dengan naiknya waktu operasi dan harga EMF ini menjadi stabil pada – 140 mV setelah sensor dicelupkan pada leburan aluminium selama 4-5 menit.

Reaksi yang terjadi pada elektroda, yang dapat menunjukkan hubungan antara kesetimbangan logam/logam oksida dan tekanan bagian hidrogen belum diketahui, dengan demikian output sensor tidak dapat dihitung sebagai konsentrasi hidrogen yang terlarut dalam leburan. Meskipun demikian, dengan asumsi bahwa reaksi terjadi pada kedua elektroda, perbedaan di antara tegangan sel untuk kedua elektroda pembanding dapat dihitung.

Reaksi kesetimbangan yang berlangsung:

2 A13+ + 3 MgO === 3 MgZ+ + A1,03

Δ G = nFE

Dengan menggunakan rumus Δ G = nFE, di mana, nilai F = 96,487 C/mol e- , dari reaksi di atas harga n adalah 6 , maka dengan menggunakan data Δ G untuk A12O3 dan MgO dari literatur 26 maka nilai EMF teoritis dapat dihitung dan kemudian diplot dengan temperatur seperti terlihat pada Gambar 4.

Dari Gambar 4 terlihat ada dua daerah temperatur yang merupakan suatu garis lurus yang dihubungkan dengan besamya perbedaan EMF teoritis pada temperatur 427, 527 dan 627°C dengan persamaan garis-I :Y = 0,0269 X – 222,66; dan temperatur 727, 827 dan 927°C dengan persamaan garis-II; Y = 0,0154 X – 215,18. Kedua persamaan tersebut berpotongan pada suatu titik yang menunjukkan kondisi temperatur 650°C dan perbedaan EMF teoritis – 205,16 mV. Berdasarkan literatur [27], diketahui bahwa titik lebur Al murni adalah 660°C dan Mg murni adalah 649°C, dengan demikian maka gars I bertepatan dengan daerah temperatur material padatan logam murni dan garis L pada daerah temperatur material leburan logam murni.


Perbedaan dari perhitungan beda potensial dalam percobaan menunjukkan adanya ketergantungan pada temperatur yang relatif kecil pada rentang temperatur operasi yaitu sekitar 190 mV, di mana tidak jauh berbeda dengan beda potensial setelah waktu operasi 4 – 5 menit. Hasil ini mengindikasikan bahwa sel sensor dengan material ini dapat memberikan respon yang baik untuk pengukuran EMF dari sensor hydrogen.

Gambar 3. output dari dua sensor yang ditest secara simultan


Gambar 4. Perbedaan EMF secara teoritis antara material murni Al2O3 dan MgO pada temperatur 450 sampai 950 oC

Kesimpulan

Studi awal penggunaan sel elektrokimia dengan CaZrO3-base sebagai sensor hidrogen pada temperatur peleburan aluminium (700°C) menerangkan bahwa besarnya signal sensor yang ditunjukan oleh beda tegangan output cnd;,kati hasil perhitungan teoritis perbedaan tegangan dari elektroda pembanding Mg dan Al, sehingga aplikasi dari sensor hidrogen in i dapat dil:embangkan lcbih ia:.jut. Masih diperlukan informasi penggunaan elektroda pembanding padat seperti Ca/CaHZ atau Mg/MgH2 agar

kandungan hidrogen sebenarnya dapat dikalkulasi serta dapat dievaluasi ketepatan dan kedapatulangan pengukuran dari sensor irti.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr.Ir.D.N.Adnyana, APU yang telah memberikan wawasan awal teoritis dan industrial tentang peleburan aluminium, dan juga kepada Prof.Dr.J.W.Fergus dalam desain dan pembuatan sensor.

DAFTAR PUSTAKA

1. S. Shivkumar, L. Wang, and D. Apelian, JOM, 43 [1] (1991) 26-32.

2. M.M. Makhlouf L. Wang, and D. Apelian, American Foundrymen’s Society (1998)1-6.

3. X.G. Chen, F.J. Klinkenberg, S. Engler, L. Heusler, and W. Scluieider, JOM., 46 [8] (1994) 34-38.

4. S. Seetharaman and D. Sichen, Emerging Separation Technologies for Metals II. ed.: R.G. Bautista, The Minerals, Metals and Materials Society (1996) 3 17-340.

5. E.T. Turkdogan and R.J. Fr•.rehan, Can. Metall. Quart., 11 [2] (1972) 371-384.

6. M. Iwase and 1′. Waseda, High.Temp. Mater. Proc., 7 [2-3] (1986) 123 131.

7. D.J. Fray, Mater. Sci. Tech., 16 (2000) 237­242.

8. J.W. Fergus, AFS Transactions, 98-22 (1998) 125-130.

9. R.V. Kumar and D.J. Frzry, sensors and Actuators 15 [2] (1988) 185-191.

10. L.B. Kriksunov and D.D. Macdonald, Sensors and Actuators B 32 (19116) 157-160.

11. L.D. Angelis, A. Maimone, L. Modica, G. Alberti and R. Palombari, Sensors and Actuators B 1 (1990) 121-124.

12. S.F. Chehab, J.D. Canaday, A.K. Kuriakose, T.A. Wheat and A. Ahn)ad, Solid State Ionics, 45 [3-4] (1991) 299-3 10.

13. J. Gulens, T.H. Longhurst, A.K. Kuriakose and J.D. Canaday, Solid State Ionics 28-30 (1988) 622-626.

14. J.D. Canaday, A.K. Kuriakose, A. Ahmad and T.A. Wheat, J. Can. Cerurr. Soc. 55 (1986) 34-37.

15. M. Dekker, L’t Zand, J. Schrzm and J. Schoonman; Solid State Ionics, 35 [1-2] (1989) 157-164.

16. N. Ilara -and D.D. MacDonald, J. Electrochem. Soc. 144 [12] (1997) 4152­4157.

17. Y. Tan and 1′.C. Tan, J. Electrochem. Soc.

141 [2] (1994) 461-467.

18. S. Zhuiykov, Ceram. Eng. Sci. Proc., 17 [3]

(1996) 179-186.

19. T. Norby, Solid State Ionics, 40-41 (1990) 857-862.

20. H. Iwahara, H. Uchida, K. Ogaki, and H. Nagato, J. Electrccrem. Soc. 138 [1] (1991) 295-299.

21. T. Yajima, H. Iwahara, K. Koide, K. Yamamoto, Sensors and Actuators B 5 (1991) 145-147.

22. T. Yajima, K. Koide, H. Takai, N. Fukatsu, T. Ohashi and I. Iwahara, Solid State Ionics 79 (1995) 333-357.

23. T. Yajima, K. Koide, H. Takai, N. Fukatsu, T. Ohashi and I. Iwahara, Sensors and Actuators B 13-14 (1993) 697-699.

24. T. Yajima, H. Iwahara, N. Fukatsu, T. Ohashi and K. Koide, Keikinzoku 42 [5] (1992) 263-267.

25. A.H.Setiawan and J.W.Fergus, Ceramics Transactions 130 (2002) 47-56.

26. M.W. Chase, NIST-JANAF Thermochemical Tables, 4d‘ ed., J. Phys. Chem. Ref. Data, Monograph 9(1998).

27. R.T. De: eff, Them-.cdy-nan:ics in Materials Science, (Mc.Graw-Hill Inter. Ed., New York, 1993) 496_

TANYA JAWAB

Patttan L.P.S.

- Apakah selama perioda adaptasi waktu 40 menit suhu leburan tetap di maintain sekitar 700°C ?

Achmad Hanafi

- Ya, tetap 700°C karena elektronik furnace mempunyai thermostat.

Adopted from : UNISTEK. No. 1 Volume Januari 2007

April 19, 2009

MENGENAL ZAT WARNA TEKSTIL (ZAT WARNA REAKTIF PROCION)

By. : arifin

Industri tekstil dan produk tekstil merupakan salah satu bidang yang sangat berkembang di Indonesia. Perkembangan industri ini dapat dilihat dari nilai ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) yang terus meningkat. Tercatat pada tahun 1989 nilai ekspor TPT mencapai US$ 2,02 miliar, kemudian meningkat menjadi US$ 8,40 miliar pada tahun 1997. Dengan semakin meningkatnya nilai ekspor TPT dari tahun ke tahun seperti ditunjukkan pada tabel 1, menjadikan industri ini sebagai sumber devisa negara yang penting.

Tabel. 1 Jumlah Ekspor Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia. [27]

Tahun

1989

1990

1991

1992

1993

1994

1995

1997

Nilai Ekspor (Milyar US $)

2.02

2.88

4.0

5.59

6.05

5.64

6.04

8.40

Sumber : Harian Kompas, 17 Desember 1997.

Semakin meningkatnya jumlah ekspor tekstil dan produk tekstil ini maka barang – barang pembantu juga akan mengalami sedemikian rupa. Kenaikan hal yang sama juga terjadi pada produksi zat warna. Kira – kira 800.000 ton pewarna diproduksi untuk kebutuhan dunia. Lebih dari separuhnya merupakan zat pewarna tekstil, dari jumlah ini 15 % untuk zat pewarna kulit dan kertas, 25 % dari jumlah produksi adalah pigmen organik, sedangkan zat optik kira – kira 6 %.[26]

Tabel. 2. Produksi Zat Warna Tekstil. [26]

Zat Warna

% Tahun 90-an

% Tahun 2004 (survey)

Asam

13 %

3,8 %

Kation

8 %

2,7 %

Direk

12 %

2,2 %

Dispersi

21 %

27, 2 %

Indigo

3 %

5,7 %

Nitro

1 %

Pre-metalized dan mordant

5 %

4,3 %

Reaktif

19 %

30,8 %

Belerang

12 %

12,8 %

Bejana Tanpa Indigo

6 %

2,3 %

Total ton

800.000

670.000

Pada tahun 1876 Witt menyatakan bahwa molekul zat warna merupakan gabungan dari zat organik yang tidak jenuh, kromofor sebagai pembawa warna dan auksokrom sebagai pengikat antara warna dengan serat.[22]

Molekul zat warna merupakan gabungan dari zat organik tidak jenuh dengan kromofor sebagai pembawa warna dan auksokrom sebagai pengikat warna dengan serat. [27]

Zat organik tak jenuh umumnya berasal dari senyawa aromatik dan derivatifnya (benzene, toluene, xilena, naftalena, antrasena, dsb.), Fenol dan derivatifnya (fenol, orto/meta/para kresol, dsb.), senyawa mengandung nitrogen (piridina, kinolina, korbazolum, dsb). [5]

Gugus kromofor adalah gugus yang menyebabkan molekul menjadi berwarna. Pada tabel 3. dapat dilihat beberapa nama gugus kromofor dan memberi daya ikat terhadap serat yang diwarnainya.

Tabel 3. Nama dan Struktur Kimia Kromofor.[27]

Nama Gugus

Struktur Kimia

Nitroso

Nitro

Grup Azo

Grup Etilen

Grup Karbonil

Grup Karbon – Nitrogen

Grup Karbon Sulfur

NO atau (-N-OH)

NO2 ata (NN-OOH)

-NN-

-C=C-

-C O-

-C=NH ; CH=N-

-C=S ; -C-S-SC-

Auksokrom merupakan gugus yang dapat meningkatkan daya kerja khromofor sehingga optimal dalam pengikatan. Auksokrom terdiri dari golongan kation yaitu –NH2, -NH Me, – N Me2 seperti -+NMe2Cl-, golongan anion yaitu SO3H-, -OH, -COOH. Auksokrom juga merupakan radikal yang memudahkan terjadinya pelarutan: -COOH atau –SO3H, dapat juga berupa kelompok pembentuk garam: – NH2 atau –OH. [6]

Zat warna dapat digolongkan menurut sumber diperolehnya yaitu zat warna alam dan zat warna sintetik. Van Croft menggolongkan zat warna berdasarkan pemakaiannya, misalnya zat warna yang langsung dapat mewarnai serat disebutnya sebagai zat warna substantif dan zat warna yang memerlukan zat-zat pembantu supaya dapat mewarnai serat disebut zat reaktif. Kemudian Henneck membagi zat warna menjadi dua bagian menurut warna yang ditimbulkannya, yakni zat warna monogenetik apabila memberikan hanya satu warna dan zat warna poligenatik apabila dapat memberikan beberapa warna. Penggolongan zat warna yang lebih umum dikenal adalah berdasarkan konstitusi (struktur molekul) dan berdasarkan aplikasi (cara pewarnaannya) pada bahan, misalnya didalam pencelupan dan pencapan bahan tekstil, kulit, kertas dan bahan-bahan lain. [27]

Penggolongan zat warna menurut “Colours Index” volume 3, yang terutama menggolongkan atas dasar sistem kromofor yang berbeda misalnya zat warna Azo, Antrakuinon, Ftalosia, Nitroso, Indigo, Benzodifuran, Okazin, Polimetil, Di- dan Tri-Aril Karbonium, Poliksilik, Aromatik Karbonil, Quionftalen, Sulfer, Nitro, Nitrosol dan lain-lain. [15]

Griffiths dan Daehne membagi pewarna berdasarkan tipe elektron – terangsang (exited) yang terjadi pada saat penyerapan cahaya. Luettke membaginya menjadi pewarna penyerap (absorption colorant), pewarna berfluorosensi (fluorescence colorant), dan pewarna pemindah daya (energy transfer colorant). [26]

Dalam daftar “Color Index” golongan zat warna yang terbesar jumlahnya adalah zat warna azo, dan dari zat warna yang berkromofor azo ini yang paling banyak adalah zat warna reaktif zat warna reaktif ini banyak digunakan dalam proses pencelupan bahan tekstil. [27]

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

Cl

SO3Na

SO3Na

NN

NH

N

C

C

C

N

N

Cl

S

K

P

R

X

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>

Keterangan :

S : Gugus Pelarut, misalnya asam sulfon, karboksilat

K : Kromofor, misalnya sistim yang mengandung gugus azo, antrakuinon, dan ftalosianin.

P : Gugus penghubung antara kromofor dan sistim reaktif, misalnya gugus amina, sulfo amina, dan amida.

R : Sistim Reaktif, misalnya triazin, pirimidin, vinil, dan kuinoksalin.

X : Gugus reaktif, yang mudah terlepas dari sistim reaktif, misalnya gugus khlor dan sulfat.

Gambar. 1. Struktur zat warna reaktif [8]

Disamping terjadinya reaksi antara zat warna dengan serat membentuk ikatan primer kovalen yang merupakan ikatan pseudo ester atau eter, molekul air pun dapat juga mengadakan reaksi hidrolisa dengan molekul zat warna, dengan memberikan komponen zat warna yang tidak reaktif lagi. Reaksi hidrolisa tersebut akan bertambah cepat dengan kenaikan temperatur. [27]

Selulosa mempunyai gugus alkohol primer dan sekunder yang keduanya mampu mengadakan reaksi dengan zat warna reaktif. Tetapi kecepatan reaktif alkohol primer jauh lebih tinggi daripada alkohol sekunder. Mekanisme reaksi pada umumnya dapat digambarkan sebagai penyerapan unsur positif pada zat warna reaktif terhadap gugus hidroksil pada selulosa yang terionisasi. Agar dapat bereaksi zat warna memerlukan penambahan alkali yang berguna untuk mengatur suasana yang cocok untuk bereaksi, mendorong pembentukan ion selulosa dan menetralkan asam-asam hasil reaksi. [27]

Dalam daftar “Color Index” golongan zat warna yang terbesar jumlahnya adalah zat warna azo, dan dari zat warna yang berkromofor azo ini yang paling banyak adalah zat warna reaktif. Zat warna reaktif ini banyak digunakan dalam proses pencelupan bahan tekstil. Zat warna reaktif adalah zat warna yang paling mudah dalam pencelupan untuk serat selulosa seperti kapas. Zat warna reaktif terikat pada serat dengan ikatan kovalen yang sifatnya lebih kuat daripada ikatan – ikatan lainnya sehingga sukar dilunturkan. Adanya reaksi langsung antara serat dengan zat warna mengakibatkan asam khlorida akan menghalangi terjadinya reaksi antara selulosa dengan zat warna reaktif sehingga harus ditambahkan soda atau alkali untuk mempercepat reaksi dan menghilangkan asam khlorida yang terjadi.

  1. Zat warna reaktif Procion merupakan zat warna dari I.C.I yang mempunyai kereaktifan rendah dan termauk zat warna reaktif panas. Zat warna Procion merupakan suatu zat warna golongan diklorotriazina yang dapat mencelup serat selulosa. Zat warna Procion dibuat dari senyawa zat warna yang mengandung gugusan amina dalam suatu proses kondensasi dengan kloridasianurat. Reaksinya dengan air mengakibatkan gugus khlorida aktif dari kloridasianurat telah terhidrolisa sebelum dapat bereaksi dengan serat sehingga hasil celupan kurang sempurna.
  2. Kromofor zat warna reaktif biasanya merupakan sistem azo dan antrakuinon dengan berat molekul relatif kecil. Daya serap terhadap serat tidak besar. Sehingga zat warna yang tidak bereaksi dengan serat mudah dihilangkan. Gugus-gugus penghubung dapat mempengaruhi daya serap dan ketahanan zat warna terhadap asam atau basa. Gugus-gugus reaktif merupakan bagian-bagian dari zat warna yang mudah lepas. Dengan lepasnya gugus reaktif ini, zat warna menjadi mudah bereaksi dengan serat kain.
  3. Selulosa mempunyai gugus alkohol primer dan sekunder yang keduanya mampu mengadakan reaksi dengan zat warna reaktif. Tetapi kecepatan reaktif alkohol primer jauh lebih tinggi daripada alkohol sekunder. Mekanisme reaksi pada umumnya dapat digambarkan sebagai penyerapan unsur positif pada zat warna reaktif terhadap gugus hidroksil pada selulosa yang terionisasi. Agar dapat bereaksi zat warna memerlukan penambahan alkali yang berguna untuk mengatur suasana yang cocok untuk bereaksi, mendorong pembentukan ion selulosa dan menetralkan asam-asam hasil reaksi.
  4. Reaksi yang terjadi antara serat dengan zat warna yaitu :

Dye…Cl + Sell OH ―――> Dye – O Sell + HCl

Sisa HCl yang terbentuk ini akan menyebabkan kerusakan pada serat dimana selain kekuatan serat menurun akan menyebabkan zat warna tidak sempurna dalam mengadakan fiksasi sehingga daya cucinya akan menurun. Penambahan garam alkali yaitu Na2CO3 (Sodex) dan Na2SO4 (Glauber salt) akan mempercepat laju reaksi dan menetralisir kelebihan HCl sesuai reaksi berikut :

HCl + NaOH ―――> NaCl + H2O

  1. Disamping terjadinya reaksi antara zat warna dengan serat membentuk ikatan primer kovalen yang merupakan ikatan pseudo ester atau eter, molekul air pun dapat juga mengadakan reaksi hidrolisa dengan molekul zat warna, dengan memberikan komponen zat warna yang tidak reaktif lagi. Reaksi hidrolisa tersebut akan bertambah cepat dengan kenaikan temperatur.

Referensi :

1. Anonim. Color Measurement, in the Textile Industry. Jerman : Bayer.

2. Ahmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta: Andi offset

3. Al. Slamet Ryadi. 1981. Ecologi. Ilmu Lingkungan, dasar – dasar dan pengertiannya 1. Surabaya : Apeka Press.

4. Alaerts, G. Santika Sumestri, Sri. 1987. Metode Penelitian Air. Surabaya: Usaha Nasional

5. Arifin. 2007. Tinjauan dan Evaluasi Proses Kimia (Koagulasi, Netralisasi, Desinfeksi) di Instalasi Pengolahan Air Minum Cikokol, Tangerang. Tangerang : PT. Tirta Kencana Cahaya Mandiri

6. Arifin. 2008. Metode Pengolahan Warna Air; Tinjauan Literatur. Tangerang : PT. Tirta Kencana Cahaya Mandiri.

7. Cooper, Randall L, 1986. Color Removal Using Alum and Cationic Polymers. USA : Pennsylvania state university park dept of civil engineering.

8. Darmojo S, Hardjito. 2003. Teknologi Pencelupan II Terapan, Metode Teori dan Praktisi. Tangerang : FT – Teknik Kimia Tekstil Unis Tangerang

9. Droste, Ronald L. 1997. Theory and Practice of Water and Wastewater Treatment,. New York : John Wiley & Sons, Inc.

10. Darmasetiawan, Martin. 2001. Teori dan Perencanaan Instalasi Pengolahan Air. Bandung : Yayasan Suryono.

11. Eaton, Andrew. et al. 2005. Standard Methods for Examination of Water and Wastewater. 21st Edition. Marryland USA : American Public Health Association.

12. Eckenfelder, W.W. 1986. Industrial Water Pollution. New York : Mc Graw Hill.

13. Fessenden, Ralp J; Fessenden, Joan, S.1994. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga

14. Hach. 2002. Water Analysis Handbook. 4th Edition. USA : Hach Company.

15. Heaton, Alan. 1994. The Chemical Industry, Second edition. London : Blackie Academic and Profesional, Chapman & Hal.

16. Jr. Day Clyde. dkk. 1987. Kimia Anorganik Teori. Jogjakarta : Gadjah Mada University press.

17. Kawamura, Susumu. 1991. Integrated Design of Water Treatment Facilities. New York : John Wiley & Sons, Inc.

18. Maria Christina P. dkk. Studi Pendahuluan Mengenai Degradasi Zat Warna Azo (Metil Orange) dalam Pelarut Air Menggunakan Mesin Berkas Elektron 350 keV/10 mA. Dalam Jurnal. JFN, Vol.1 No.1, Mei 2007. Jogjakarta; STTN – BATAN.

19. Mulyatna, Lili. dkk. 2003. Pemilihan Persamaan Isoterm pada Penentuan Kapasitas Adsorpsi Kulit Kacang Tanah Terhadap Zat Warna Remazol Golden Yellow. Bandung : FT-TL Universitas Pasundan. Dalam Infomatek, volume 5 nomor 3 September 2003.

20. Mary Saral. Dkk. 2006. Biodegradation of Textile Waste Water by an Advanced Activated Sludge Process. Tamil Nadu, India : Vellore Institute of Technology.

21. Mikebahorsky. 1998. Emerging Technologies for Color Removal. Charlotte, North Carolina : Environmental Resources Management

22. Nn. Isminingsih. dkk. 1978/1979. Pengantar Kimia Zat Warna. Bandung : Institut Teknologi Tekstil

23. N. Rajamohan; C. Karthikeyan. 2006. Kinetic Studies of Dye Effluent Degradation by Pseudomonas Stutzeri. Tamil – Nadu, India : Annamalai University

24. Peavy. Howard S. 1985. Environmental Engineering. Singapura McGraw Hill-Book Company.

25. PERPAMSI, FORKAMI. 2002. Peraturan Teknis Instalasi Pengolahan Air Minum. Jakarta : Tirta Dharma

26. Pratikto, Eko. Kimia Zat Warna. Tangerang : FT – Teknik Kimia Tekstil Unis Tangerang.

27. Renita Manurung; Rosdanelli Hasibuan; Irvan. 2004. Perombakan Zat Warna Azo Reaktif Secara Anaerob – Aerob. Medan : Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Kimia, Universitas Sumatera Utara

28. Reynolds, Tom D. 1982. Unit Operations and Processes in Environmental Engineering. California : Wadsworth, Inc.

29. Saepudin Suwarsa, 1998. Penyerapan Zat Warna Tekstil BR Red HE 7B Oleh Jerami Padi. Bandung : Institut Teknologi Bandung pada JMS Vol. 3 No. 1, hal. 32 – 40, April 1998 32

30. Sugiharto.1987. Dasar – dasar Pengelolaan Air Limbah. Jakarta: UI

31. Sukardjo. 1990. Kimia Anorganik. Jakarta : Rineka Cipta

32. Soedarsono; Benny Syahputra. Pengolahan Air Limbah Batik Dengan Proses Kombinasi Elektrokimia, Filtrasi, dan Adsorbsi. Semarang : FT-TL Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA)

33. Sastrawijaya, A. Tresna. 1991. Pencemaran Lingkungan. Jakarta : Rineka Cipta.

34. Wahyuni, Sri. dkk. 2003. Pengukuran Gas Pada Pengolahan Limbah Warna CIRB 5 Dengan Konsentrasi 60 mg/L Dalam Tahapan Reaksi Sequencing Batch Biofilm Reactor (SBBR). Bandung : FT-TLUniversitas Pasundan. Dalam Infomatek, volume 5 nomor 4 Desember 2003.

35. Wood, Kleinfelter. Keenan. dkk. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga

36. Watanabe, S. Dkk. 1986. Teknologi Tekstil. Jakarta: Pradnya Paramita.

37. Yunasfi. 2002. Pemanfaatan Limbah Cair Industri untuk Sektor Kehutanan. Medan : F. Pertanian, Universitas Sumatera Utara

38. http://www.gewater.com/handbook/wastewater_gas_cleaning_systems/ch_37_treatment.jsp

39. http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/tugas-kuliah-lainnya/ipal-limbah-tekstil

40.