Falsafah Pendidikan untuk Pengadapan Manusia

Oleh : P. Moses Elias Situmorang OFMCap

Pendidikan itu berbeda dengan persekolahan.

Memang tidak selalu dua yang bertentangan. Namun dua benda ini memang harus dibedakan, karena banyak orang dibingungkan oleh keduanya.

Banyak orang beranggapan dia sedang menerangkan topik pendidikan, ternyata yang dimaksud adalah sekolah atau persekolahan.

Pendidikan adalah substani dan isi sementara persekolahan adalah sistem, sarana dan gedung. Cukup sering sarana memberikan bantuan. Tetapi dalam beberapa dekade ini, dalam banyak kasus, sekolah dengan segala sepatu, buku, administrasi, uang gedung, ijazah dan masih banyak aksesori lain lebih banyak mengganggu pendidikan daripada membantu.

Sekarang ini kita banyak diskusi mengenai Standar Nasional Pendidikan, UU tentang Guru dan Dosen (ada lagi Undang-undang Badan Hukum Pendidikan) yang dikeluarkan pada tahun 2005). Anehnya semua undang-undang pendidikan ini bukanlah persoalan pendidikan. Ia hanyalah setitik kecil persoalan teramat panjang dari persekolahan. Langsung tidak langsung adanya sekolah telah menambah biaya (uang, mental, energi, fisik) yang harus dipikul masyarakat untuk mengenyam pendidikan.

Lalu pertanyaan berikut, mengapa kita hanya bisa mengeluh dan meratapi suasana itu? Beranikah kita melawan dan tampil beda dari mereka? “kita” di sini yang disebutkan disini selalu mengandalkan gerakan bersama. Protes harus dikerjakan bersama-sama agar berubah menjadi proyek kesadaran.

Masihkan kita punya keberanian untuk kembali pada ‘pendidikan’ yang menjadi substansi, bukan persekolahan yang terus-menerus menjadi sumber carut-marutnya pendidikan. Kita mesti sadar bahwa yang mutlak untuk kita adalah kembali pada filsafat pendidikan yang solid: mendidik orang menjadi berilmu dan memiliki etos dan punya displin tanpa menjadikan anak didik seperti robot dan patung emas.

Pendidikan dan Filosofi Sang Guru

Dalam novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata menulis tentang filosofi sang guru, “Guru yang pertama kali membuka mata kita akan huruf dan angka-angka sehingga kita pandai membaca dan menghitung.” Pengalaman Hirata yang dituliskan dalam bentuk novel ini membuka hati kita akan peran dan filosofi seorang guru sebagai pendidik dan pengajar untuk membebaskan para peserta didik dari kegelapan menuju pencerahan.

Harapan bagi para guru untuk membebaskan anak-anak bangsa dari kegelapan belum tercapai. Kemerosotan mutu pendidikan nasional di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari rendahnya mutu guru karena mempunyai peran sangat penting dan strategis dalam penyelenggaraan pendidikan.

Dalam kerangka peningkatan mutu, satu permasalahan fundamental dalam sistem pendidikan nasional adalah dehumanisasi pendidikan. Seharusnya pendidikan menghormati dan menghargai martabat manusia beserta segala hak asasinya. Peserta didik seharusnya tumbuh dalam kemanusiaannya sebagai subyek melalui proses pendidikan. Tapi yang sedang terjadi adalah justru sebaliknya. Ada terlalu banyak pratik-pratik sekolah yang menunjukkan betapa peserta didik sudah diperlakukan sebagai objek demi kepentingan ideologi, politik, industri,dan bisnis.

Guru sebagai pendidik tidak mampu mengembangkan kesadaran untuk menghentikan gejala dehumanisasi ini dan membebaskan peserta didik dari kegelapan karena para guru merasa terjebak sebagai objek dalam sistem pendidikan nasional. Berikut kami tampilkan sebagian kecil realitas belenggu kemiskinan yang dihadapi guru yakni:

1. Dengan gaji dan tunjangan yang kurang memadai, guru terlalu sibuk mencari penghasilan tambahan.
2. Dengan jam mengajar yang panjang dan tugas administratif yang membebani, guru sudah tidak punya waktu untuk membaca dan mengembangkan diri akibatnya pengetahuan, wawasan dan kreatifitas guru sulit berkembang.
3. Guru yang seharusnya berperan sebagai aktor dalam proses pembudayaan transformasi nilai-nilai malah sebagai guru malah melakukan pelanggaran etika sebagai pendidik dengan memberikan les privat bagi peserta didik dan bahkan membocoran soal ujian sendiri atau terlibat sebai saksi yang menutup mulut atas beberapa tindakan manipulasi dan korupsi oleh birokrasi pendidikan atau pengelola sekolah.
4. Akhirnya belenggu kemiskinan finansial, intelektual, emosional dan kultural sering membuat guru kehilangan indentitas dan integritas. Pekerjaan sebagai guru tidak lagi dilandasi oleh spiritualitas profesi dan tidak menjadi bagian perjalanan kemanusiaan.

Pendidikan tidak pernah lepas dari wibawa dan peranan guru. Maka dalam cahaya pradigma baru kita perlu berupaya mengangkat derajat guru. Di tengah keprihatinan terhadap kemerosotan mutu dan status guru, peraturan pemerintah No.19, tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan dan undang-undang no.14, tahun 2005 tentang guru dan dosen yang diluncurkan dengan itikad baik diantaranya mengatur profesionalisme guru dan memberikan jaminan terhadap perlindungan dan kesejahteraan guru.

Sementara yang menjadi janggal adalah persoalan konseptual pendidikan profesional guru masih belum terselesaikan, program porfotfolio sudah langsung dijalankan untuk menilai kompetensi seorang guru. Akibatnya berbagai akses (misalnya keikutsertaan dalam program pendidikan dan pelatihan hanya demi sertifikat, ada manipulasi berkas, dan kolusi antara pemilik fortofolio dan penilai) sangat menodai profesi guru dan bahkan melemparkan guru pada titik nadir dalam perjalanan profesinya.ini problema guru yang dihadapi di Indonesia.

Terlepas dari segala tetek bengek peraturan yang dibuat oleh pemerintah satu hal penting dalam mendidik adalah bahwa guru harus bepegang pada filosofi pengajaran yakni semangat sebagai guru secara terus-menerus harus mengaitkan tiga hal yakni dirinya sendiri, anak didik, dan bidang pengetahuan/keterampilan yang diampunya. Berbagai kemampuan yang diharapkan dimiliki dan dikembangkan seorang guru seyogianya menjadi bagian tak terpisahkan dari sosok utuh kompetensi profesional seorang pendidik.

Perwujudan Falsafah Pendidikan

Peter C.Hodgson, seorang ahli pendidikan melihat sosok Allah sebagai Pendidik utama dalam transformasi hidup sejarah manusia dan menawarkan sejarah Pendidikan Allah. Peter C.Hodgson menjungkirbalikkan berhala-berhala pendidikan modern yang banyak merusak manusia antara lain memaksa anak untuk berprestasi sedemikian hebat dengan sistem pemaksaan jadwal yang sangat ketat. Peter menawarkan inti falsafah Pendidikan yang di dalamnya ada roh kasih, kebenaran, dan keadilan.

Menurut Hodgson pendidikan harus menyingkapkan kebenaran dan menyelematkan umat manusia dari kesesatan (the darkness of error) dan berhala (idolatry). Karena itu dalam konteks pendidikan mesti disadari bahwa akal budi di satu sisi adalah tanda kemuliaan Ilahi, tetapi sekaligus menjadi potensial menjadi sumber penderitaan manusia yang tak terperikan.

Kita perlu menebus budi namun tidak menggusurnya. Kita perlu memerangi kejahatan yang disebabkan oleh akal budi. Pendidkan bertujuan membeirkan tanggapan terhadap panggilan akan kebenaran. Inilah rangkuman seluruh roh pendidikan. Lepas dari sini maka pendidikan akan tidak berdaya guna.

Semuanya bisa berjalan dengan baik karena ada kerja sama. Kerja sama, iman, kasih, dan solidaritas menjadi inti falsafah pendidikan. Karena itu dalam konteks menerapkan falsafah pendidikan perlu diperhatikan tiga C yakni

Competensi==> dapat diandalkan dan berdaya guna.

Compassion==> berempati kepada orang lain.

Conscience==> memiliki kesadaran moral (beriman).

Dengan tiga C yang ditanamkan dalam pendidikan hasil yang diharapkan adalah manusia terdidik yang memiliki kharakter. Kita mengharapkan setiap anak didik yang dididik tumbuh menjadi manusia berkarakter (memiliki kepribadian yang tangguh). Menurut Ernest Hull, seorang Jesuit pendidik dari abad lalu, pembentukan karakter dimulai dengan “tujuan yang hendak dicapai.” Kita perlu berfantasi, membayangkan karakter yang hendak dibangun pada siswa. Agar berkarakter maka setiap anak didik perlu didorong untuk disiplin, dikondisikan untuk tidak mencontek, bermental juara dan bahkan jiwa seni mereka pun perlu dikembangkan.

Pendidikan karakter adalah bagian integral upaya mendampingi peserta didik untuk mengembangkan potensi manusiawi mereka. Maka tanggungjawab sekolah adalah membantu peserta didik untuk mengubah potensi manusiawi menjadi tindakan konkret. Pendidikan karakter ini juga untuk memberikan visi etis kepada peserta didik.

Visi etis diharapkan menempatkan diri mereka pada horizon yang lebih luas. Pendidikan yang mengabaikan pembentukan visi etis dikawatirkan hanya akan menjadi proses pemindahan pengetahuan yang tidak berakar berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan karakter dengan demikian diharapkan dapat membantu peserta didik untuk menjadi pribadi yang semakin manusiawi dan beriman.

Pintar saja tidak cukup tetapi perlu mendidik anak-anak di sekolah Katolik agar bisa berempati, beriman dan lebih manusiasi. Manusia berkarakter (manusia beradab) merupakan salah satu tujuan filsafat pendidikan.

Penutup

Kita mau maju. Air mata murid dan guru telah banyak menggenangi pendidikan Indonesia. Kecurangan ujian nasional, kekerasan antarsiswa, dan pelecehan terhadap etika profesi guru menjadi potret-potret buram pendidikan yang membuat kita tak kuasa menitikkan air mata duka. Kita mendengar tangisan murid di awal tahun ajaran baru.

Komunitas guru berbondong-bondong ke istana negara membawa air mata pendidikan di tangan mereka. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang berhasil menciptakan manusia-manusia beradab. Maju terus untuk meraih gemilang di masa mendatang. Terimakasih. Dirgahayu Hardiknas 2009.***

Penulis seorang pastor Kapusin, tugas sebagai dosen Etika Unika St.Thomas Medan dan editor Bina Media.

Adopted from http://www.analisadaily.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s