Kloning Embrio melalui Rekayasa dan Pembuatan Kembar Identik serta Pembekuan dengan Metode Vitrifikasi

Arief Boediono, Kusdiantoro M, Yohan Rusyiantono, Ita Djuwita, dan Yuhara Sukra
Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor

Limbah rumah potong hewan berupa ovarium sebagai sumber sel gamet betina (oosit) melalui bioteknologi dapat dimanfaatkan menjadi produk berharga berupa embrio melalui teknik fertilisasi in vitro. Keberhasilan fertilisasi in vitro ini akan menunjang produksi embrio identik yang merupakan salah satu teknik kloning, transfer genetik, dan teknik lain yang terkait. Sebagai upaya penyediaan embrio massal dan pengoptimuman potensi embrio, penelitian ini bertujuan (1) mengembangkan produksi embrio kambing dengan metode fertlisasi in vitro, (2) mengembangkan teknik bedah mikro untuk mendapatkan embrio paruh guna mendapatkan embrio kembar monozigotik, (3) menghitung jumlah sel embrio utuh dan embrio paruh sebagai parameter keberhasilan teknik bedah mikro, dan (4) membekukan embrio dengan metode vitrifikasi.


Penelitian dilakukan secara paralel terhadap produksi embrio kambing melalui teknik fertilisasi in vitro, evaluasi abnormalitas komposisi kromosom, produksi embrio kembar identik dan pembekuan embrio dengan metode vitrifikasi. Oosit dikoleksi melalui aspirasi ovarium yang memiliki atau tidak memiliki corpus luteum (CL). Keberadaan CL diamati pengaruhnya terhadap jumlah folikel yang diaspirasi (diameter 2-5 mm), jumlah folikel dominan (diameter > 5mm), bobot serta ukuran ovarium.


Sperma (ejakulat dan beku) diamati viabilitasnya dalam media fertilisasi (Brackett and Oliphant medium, BO, dan TCM-199) dengan menghitung konsentrasi spermatozoa hidup dan konsentrasi spermatozoa yang memiliki motilitas progresif pada 0, 3, 6, dan 24 jam inkubasi. Produksi embrio secara in vitro dilakukan dengan melakukan fertilisasi oosit matang dengan spermatozoa yang diseleksi dengan metode swim up. Kultur in vitro untuk mencapai tahap blastosis dilakukan dalam media CR1aa sampai hari ke-9 atau Gl.2 sampai hari ke-3 dan selanjutnya pada G2.2 sampai hari ke-9 pada suhu 38.5oC dalam kondisi kadar oksigen yang rendah (O2 5%, C02 5%, dan N2 90%).


Rata-rata jumlah sel embrio kambing pada tahap blastosis yang diproduksi melalui teknik fertilisasi in vitro ialah 88 sel per embrio dengan rata-rata indeks mitotik sebesar 17.3. Abnormalitas komposisi kromosom pada embrio kambing sebanyak 35.5% dengan komposisi 1N/2N, 2N/3N/4N, dan 2N/4N. Embrio kambing pada tahap perkembangan morula dan blastosis dikloning dengan metode bedah mikro. Pemotongan embrio utuh dilakukan tanpa pipet holding, tetapi dengan modifikasi pisau silet. Tingkat keberhasilan pemotongan embrio pada tahap morula dan blastosis tidak berbeda.


Teknik pembekuan dengan metode vitrifikasi dilakukan dengan menggunakan pembekuan secara terbuka dalam bentuk tetes maupun secara tertutup dalam straw 0.25 ml. Media vitrifikasi yang digunakan terdiri atas etilena glikol 40%, trehalosa 0.4M, dan polivinil-pirolidon (PVP) 10%. Viabilitas embrio kambing setelah vitrifikasi dengan metode terbuka dalam drop lebih baik (P<0.5) daripada dengan metode tertutup dalam straw. Penambahan PVP dan trehalosa mmberikan pengaruh positif terhadap viabilitas embrio setelah vitrifikasi. Pengaruh ini terlihat jelas pada pembekuan embrio-paruh.

Adopted by @_pararaja from Hibah Bersaing VII

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s