SUSUNAN PANITIA PERSIAPAN
REUNI / TEMU KANGEN   ALUMNI SMKN 3 MADIUN TAHUN 2012
Hari / Tanggal Pelaksanaa   : Rabu, 22 Agustus 2012
Tempat Pelaksanaan : Aula   SMKN 3 Madiun
No Nama Jabatan dalam Panitia
        1 Bpk.Sulaksono Tafif Rijanto Pelindung
        2 Suroto (1993) Ketua I
Heru Setiawan   (2003) Ketua II
        3 Budi Santoso   (1992) Sekretaris I
Slamet Septiono   (2007) Sekretaris II
Roni Y (1992) Sekretaris III
        4  Asri Yuanani (1992) Bendahara I
Titin Hartiningsih   (1990) Bendahara II
     5 Suyatno (1990) Humas
Bintoro (1989) Humas
Dyah (1990) Humas
Bogi Prasetyo   (1992) Humas
Agus Susanto (1992) Humas
Sadeni (1999) Humas
Yoni (2003) Humas
        6 Bpk. Agus Susilo   (guru) Penasehat
Bpk. Suhartoyo (guru) Penasehat
Bpk. Sumarwan (guru) Penasehat
Bpk. Aris (guru) Penasehat
Bpk. Suwito (guru) Penasehat
Bpk. Mardiyanto   (guru) Penasehat
        7 Handreas (2005) Sie Perlengkapan   & Hiburan
Sigit (2003) Sie Perlengkapan   & Hiburan
        8 Ika (2005) Sie Konsumsi
Ina Rahmawati Sie Konsumsi
        9 Ahmad Daroini   (1994) Sie Kegiatan
Hari Sulistyo (1993) Sie Kegiatan
     10 Eko (1997) Sie Dokumentasi &   Publikasi
Suhaimi W (2002)
       11 Suyatno (1991) Sie Keamanan
Nomor rekening untuk   donasi Reuni Akbar 2012 STM 2/ SMK 3 Madiun:
1 BNI Kcu Pasuruan No.   0169601421 an Asri Yuwanani.
2 BCA Kcu Pasuruan No.   0890892418 an Asri Yuwanani
3 BRI Kcp Caruban   No.0552-01-010072-50-9 a/n SLAMET SEPTIONO
… Bagi rekan-rekan yang   sudah memberikan donasinya harap konfirmasi ke:
        1 (Asri   yuwanani) wil. Surabaya dan sekitarnya
        2 (Titin   Hartiningsih) wil. Jakarta dan sekitarnya
        3 (Nunu Kun)   wil. Jakarta dan sekitarnya
        4 (Slamet   Septiono) wil. Madiun dan sekitarnya
        5 (Dyah   Wijayanti) wil. Madiun dan sekitarnya
Surabaya – Sekolah Menengah Kejuruan 3 Kota Madiun melakukan uji coba BBM terbuat dari sampah plastik. Dalam uji coba tersebut, pihak SMK 3 menggandeng SMK 1 yang telah berhasil merakit mini truk.

Kapala SMK 3 Tavib Lumaksono mengatakan, uji coba ke mesin mobil ini baru pertama kali dilakukan setelah pihaknya berhasil membuat BBM yang terbuat dari sampah plastik. Sebelumnya pernah dipakai untuk menjalankan mesin pemotong rumput.

“Uji coba ke mesin mobil baru kali ini kami lakukan. Dan kami menggandeng pihak SMK 1 karena mereka sudah berhasil merakit mobil ESEMKA jenis mini truk,” ujarnya, saat ujicoba di kantor Pemkot Madiun kepada detiksurabaya.com, Jumat (3/2/2012).

Tavib menambahkan, BBM hasil karya anak didiknya ini memiliki kelebihan dalam hal harga yang lebih murah jika dibandingkan dengan premium. Karena dari 1 kg sampah plastik bisa menjadi satu liter BBM setara premium.

“Tapi masih ada kelemahan dimana tingkat oktan baru mencapai 84 setelah diberikan adiktif. Hal ini masih lebih rendah dibanding tingkat premium pertamax yakni 90. Kalau pengaruhnya di mesin belum kami ketahui tapi yang jelas emisinya lebih rendah dari bensin,” tambahnya.

Sementara salah satu siswa SMK 1 Kota Madiun, Nur Wahit mengatakan, tingkat oktan yang lebih rendah ini berpengaruh pada putaran mesin atau RPM. Hal itu membuat rpm tidak stabil dan membuat mobil bisa mati sendiri.

“Saat mobil berhenti harus digas terus karena jika tidak digas mesin bisa mati. Tapi secara keseluruhan bensin plastik ini sudah bagus,” ujarnya usai mencoba mesin Toyota Kijang keluaran tahun 80-an yang mengunakan BBM plastik.

Kapala Sekolah SMK 1 Kota Madiun, Sigit Dewantoro menjelaskan, menurut
rencana BBM plastik tersebut akan digunakan pada mesin mini truk Esemka. Namun karena tingkat oktan yang kurang tinggi akhirnya dipilih mesin buatan toyota yang sudah biasa di gunakan untuk praktik.

“Setelah di tes kami tidak berani memakainya ke mini truk. Tapi kedepanya setelah dilakukan pengembangan oleh SMK 3 dengan meningkatkan oktan dan melakukan pembersihan kembali pada BBM baru kami berani,” tegasnya.

http://surabaya.detik.com/read/2012/02/03/124458/1833357/596/smkn-3-madiun-uji-coba-bbm-plastik

 

MADIUN–MICOM: Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengapresiasi temuan mesin atau alat pengolah limbah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif karya para siswa dan pengajar SMK Negeri 3 Kota Madiun.

Hal itu disampaikan gubernur saat acara Pencanangan Gerakan Ramah Lingkungan Menuju Kemakmuran dan Pemanfaatan Sampah Plastik Sebagai BBM Alternatif di Tempat Pengolahan Sampah Akhir (TPSA) Desa Kaliabu, Kecamatan

Mejayan, Kabupaten Madiun, Sabtu (18/2).

Bersamaan dengan acara ini, gubernur Jatim juga memberikan bantuan mesin pengolah limbah sampah plastik menjadi BBM alternatif kepada 12 sekolah menengah kejuruan (SMK) di Jawa Timur.

“Ini kelasnya sudah ‘discovery’. Tidak ada kata yang paling tepat selain luar biasa. Mereka ini telah melakukan inovasi dengan mengubah sampah plastik yang selama ini beban, menjadi energi,” ujar Gubernur Jawa

Timur Soekarwo kepada wartawan.

Oleh karena itu, pihaknya akan terus mendukung pengembangan alat ini untuk memperkuat kelas menengah ke bawah masyarakat Jawa Timur dalam mengurangi angka kemiskinan.

“Riset ini harus dibiayai untuk menjadi ekonomis dan digunakan untuk masyarakat.

Temuan ini selaras dengan program Pemprov Jatim terkait penurunan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan pembangunan

kelas menengah,” katanya.

Pihaknya menilai dengan menggandeng Kenduri Agung Pengabdi Lingkungan (KAPAL) Jawa Timur, temuan mesin pengolah limbah sampah plastik menjadi BBM alternatif akan semakin berkembang dan menyentuh masyarakat.

“Untuk langkah awal, mesin tersebut akan diberikan kepada sejumlah SMK di Jawa Timur. Kedepan, penggunaan alat ini terus didorong untuk ditempatkan di pengolahan-pengolahan sampah yang ada,” terang dia

h

ttp://www.mediaindonesia.com/read/2012/02/19/299441/291/7/SMK-Negeri-3-Madiun-Olah-Limbah-Sampah-Plastik-Jadi-BBM

Kemampuan lulusan sekolah kami untuk memenuhi kebutuhan industri, menjadi prioritas utama dalam menerapkan proses belajar dan mengajar di Sekolah Menegah Kejuruan Negeri 3 (SMKN 3) Madiun, Untuk itu, kami pengajar SMKN3 melakukan kegiatan partnership with industry dengan Alkana Vietnam, kelanjutan dari program yang sudah berjalan dengan perusahaan induk Alkana, Propan Raya (perusahaan cat). Demikian Kepala Sekolah (Kepsek) SMKN 3, Drs Sulaksono Tavip Rijanto menjelaskan kepada Konjen RI di HCMC, Bambang Tarsanto saat kunjungan silaturahmi ke KJRI HCMC pada 12 Januari 2012. Pada kunjungan tersebut Kepsek SMKN3 didampingi oleh Ketua Tim SBI Pengembangan Sekolah SMKN3, Dra. Dwi Erna Tjahjowati, Ketua BKK SMKN3, Drs. Sumarwan, Country Manager Alkana Vietnam, Ali Sumanto dan HRD Propan Raya Sidoarjo, Wenny Hastuti. Sementara Konjen RI didampingi oleh Pejabat Fungsi Ekonomi, Dalton Sembiring dan Pejabat Fungsi Prokons merangkap Pelaksana Tugas Fungsi Pensosbud, Alimudin Pohan.


Konjen RI, Pejabat Fungsi Ekonomi, dan Pejabat Fungsi Prokons merangkap Pelaksana Tugas Fungsi Pensosbud KJRI HCMC mendengarkan uraian Kepsek SMKN3, Tavip Rijanto

Apabila banyak ESEMKA di berbagai daerah melakukan pengembangan “automotive”, sekolah kejuruan ini SMKN 3 Madiun memiliki spesialisasi bidang pengembangan kimia,  Saat ini, SMKN3 Madiun terus menggali kemungkinan pengembangan proses kimia untuk dapat mendaur ulang berbagai jenis sampah agar menjadi produk berguna. Kegiatan terebut menjadikan SMKN 3 Madiun dikenal sebagai “Sekolah Sampah”. Hingga saat ini SMKN3 Madiun sudah menghasilkan karya nyata yang berupa bionetral dari limbah sayur dan buah-buahan, BBM dari limbah plastik, tawas cair olahan dari kaleng alumunium wadah minuman, nata decoco dibuat dari limbah air kelapa, urin kelinci untuk mengembalikan unsur hara tanah dan banyak lagi. Hasil daur ulang tersebut digunakan untuk memfasilitasi program kewirausahaan, sehingga disaat senggangnya murid-murid SMKN3 membuat dan menjual produk yang dibutuhkan lingkungan tempat tinggal mereka.


Konjen menerima wayang kulit yang diserahkan Kepsek SMKN3 didampingi oleh Tim SBI Pengembangan Sekolah SMKN3, Dra. Dwi Erna Tjahjowati, Ketua BKK SMKN3, Drs. Sumarwan

Program kewirausahaan dan “Partnership with Industry” SMKN3 Madiun sudah terlihat hasilnya. HRD PT Propan Raya Sidoarjo, Wenny Hastuti saat berkunjung ke KJRI HCMC menyampaikan setiap tahunnya PT Propan Raya, selalu menyediakan beasiswa kepada 10 siswa terbaik dan juga menyediakan kesempatan magang kerja kepada jurusan Kimia Industri dan Kimia Analis. Sementara Alkana Vietnam, anak perusahaan PT Propan Raya saat ini sudah mempekerjakan 2 orang lulusan SMKN3.


Country Manager Alkana Vietnam, Ali Sumanto (berpolo shirt warna putih) dan HRD Propan Raya Sidoarjo, Wenny Hastuti (paling kiri mengenakan baju batik warna merah)

Menanggapi keterangan Kepsek SMKN3 dan HRD PT Propan Raya Sidoarjo, Konjen RI di HCMC mengucapkan terima kasih dan menyampaikan sumbangsih lulusan SMKN3 Madiun telah memungkinkan Alkana Vietnam untuk berkontribusi terhadap hubungan dagang bilateral Indonesia Vietnam yang pada tahun 2011 mencapai US$ 3,7 miliar. Dengan adanya program partnership with industry ini, SMKN3 akan mampu memenuhi kebutuhan nyata dunia industry, salah satunya melalui kondisi atau standard yang disampaikan oleh Alkana Vietnam ataupun PT Propan Raya. Konjen juga menyampaikan target nilai perdagangan bilateral Indonesia-Vietnam senilai US$ 5 miliar pada 2015, sebagaimana disepakati oleh Presiden RI dan Perdana Menteri Vietnam pada pertemuan di Jakarta, 14 September 2011. Konjen percaya hal tersebut dapat dicapai sekalipun penuh tantangan dan kerja keras. Sesuai dengan perannya KJRI HCMC akan memberi dukungan dan bantuan kepada semua WNI/BHI yang berkerja dan berusaha di Vietnam karena akhirnya semua hal tersebut akan berpengaruh kepada pencapaian target US$ 5 miliar.

Selain jurusan Kimia Analis dan Kimia Industri, saat ini SMKN3 Madiun memiliki jurusan Tehnologi Pertanian. SMKN3 berklasifikasi Sekolah Berstandard Internasional (SBI), dan sedang dalam proses untuk mendapatkan ISO 17025 untuk laboratorium dan ISO 14000 untuk lingkungan.

Sumber: KJRI Ho Chi Minh City

Kali ini saya akan membahas tentang bagaimana menganalisis kandungan logam berat pada air laut dan sebagai sampel logam beratnya yaitu logam berat Timbel (Pb) dan Tembaga (Cu). Pada tulisan saya sebelumnya, saya telah membahas tentang salah satu metode untuk mengetahui kandungan logam berat pada sampel yaitu metode Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Jadi metode ini yang akan saya gunakan untuk menganalisis logam berat Pb dan Cu.
 
I. Latar Belakang
Air laut mempunyai kemampuan yang besar untuk melarutkan bermacam-macam zat, baik yang berupa gas, cairan, maupun padatan seperti air tawar. Laut merupakan tempat bermuaranya sungai-sungai yang mengangkut berbagai macam zat, dapat berupa zat hara yang bermanfaat bagi ikan dan organisme perairan, dapat pula berupa bahan-bahan yang tidak bermanfaat, bahkan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan ikan dan organisme perairan atau dapat mengakibatkan penurunan kualitas air (Cahyadi, 2000 dalam Siaka, 2008).  
Penurunan kualitas air ini diakibatkan oleh adanya zat pencemar, baik berupa komponen-komponen organik maupun anorganik. Komponen-komponen anorganik, diantaranya adalah logam berat yang berbahaya. Beberapa logam berat tersebut banyak digunakan dalam berbagai keperluan sehari-hari, oleh karena itu diproduksi secara rutin dalam skala industri. Penggunaan logam-logam berat tersebut dalam berbagai keperluan sehari-hari, baik secara langsung maupun tidak langsung, atau sengaja maupun tidak sengaja, telah mencemari lingkungan. Beberapa logam berat yang berbahaya dan sering mencemari lingkungan terutama adalah merkuri (Hg), timbel/timah hitam (Pb), arsenik (As), tembaga (Cu), kadmium (Cd), khromium (Cr), dan nikel (Ni) (Fardiaz, 1992). Logam-logam berat tersebut diketahui dapat mengumpul di dalam tubuh organisme, dan tetap tinggal dalam tubuh dalam jangka waktu lama sebagai racun yang terakumulasi (Fardiaz, 1992; Palar, 1994 dalam Siaka, 2008).

Berdasarkan penjelasan di atas maka diperlukan sebuah alat untuk mengetahui kandungan logam berat pada suatu perairan khususnya di perairan laut yang diduga telah terkontaminasi oleh bahan-bahan tercemar. Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengetahui kandungan logam berat pada sampel.

II. Tujuan
 
Tujuan dari kegiatan  ini adalah :

  1. Untuk menambah pengetahuan dan keterampilan mengenai metode penentuan kadar logam berat Timbel (Pb) dan Tembaga (Cu) pada air laut dengan menggunakan metode Spektrofotometer Serapan Atom (SSA).
  2. Untuk mengetahui proses penentuan kadar logam berat Pb dan Cu pada air laut dengan menggunakan metode Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) 

III. Rangkaian Kerja 

III.1. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah Atomic Absorption Spectrophotometer (Philips PU 9100-X) berfungsi untuk menguji kandungan logam berat, botol air mineral 1,5 Liter berfungsi untuk penampung air laut, labu ukur 100 dan 1000 ml berfungsi untuk wadah pengeceran sampel, gelas ukur 100 berfungsi untuk wadah pengeceran sampel, pipet 5 dan 10 ml berfungsi untuk memipet bahan kimia, timbangan digital untuk menimbang logam Pb dan Cu, kertas label berfungsi untuk penanda sampel.
Bahan yang digunakan yaitu air laut berfungsi untuk media uji, aquades berfungsi untuk bahan pengeceran dan pencuci, asam nitrat (HNO3) pekat berfungsi untuk pelarut, larutan Pb berfungsi untuk pembuatan larutan baku induk Timbel (Pb) dan larutan Cu berfungsi untuk pembuatan larutan baku induk Tembaga (Cu).   

IV. Tahapan Kegiatan 
Tahapan kegiatan pada pelaksanaan kegiatan ini  terdiri dari :
  1. Persiapan alat dan bahan yang akan digunakan dalam menganalisis kandungan logam esensial Pb dan Cu pada air laut.
  2. Melakukan preparasi air laut.
  3. Pembuatan larutan baku induk Pb dan Cu masing-masing 1000 ppm dan pembuatan larutan baku kerja Pb dan Cu masing-masing 100 ppm.
  4. Analisis logam Pb dan Cu pada air laut dengan menggunakan Spectrophotometer Serapan Atom.

V. Ulasan kegiatan 

V.1. Persiapan Alat dan Bahan

 Kegiatan analisis unsur kimia pada analisis logam esensial seperti Pb dan Cu pada air laut maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Untuk alat yang fungsinya sebagai wadah sampel yang berwujud gelas, sebelum digunakan terlebih dahulu alat tersebut dicuci bersih dengan deterjen kemudian dibilas aquades lalu dikeringkan pada tempat penyimpanan masing-masing dan pada saat penggunaannya haruslah benar-benar kering. Alat-alat yang dibersihkan tersebut antara lain pipet skala, gelas ukur, labu ukur, dan botol air mineral.  Untuk alat pendukung lainnya telah tersedia di dalam laboratorium dan akan digunakan sesuai dengan prosedur dan fungsinya masing-masing seperti Spektrofotometer Serapan atom.
 Bahan yang akan digunakan semuanya telah tersedia di dalam laboratorium dan akan digunakan sesuai dengan fungsi masing-masing. Sedangkan sampel air laut  terlebih dahulu dilakukan preparasi. 
  
V.2. Preparasi Sampel
 
Preparasi sampel disebut juga sampling, yaitu pengambilan sebagian sampel mewakili seluruh sampel untuk dianalisa. Untuk menangani sampel yang akan dianalisa harus diketahui dulu sifat-sifat dari sampel tersebut. Proses preparasi sampel yang dilakukan pada air laut ini yaitu: mengambil sampel air laut dengan menggunakan botol air mineral 1,5 liter lalu ditetesi Asam nitrat (HNO3) sebanyak 2 sampai 3 tetes kemudian dimasukkan ke dalam cool box/kulkas.
  
V.3. Pembuatan larutan baku induk  Timbel (Pb) dan Tembaga (Cu) masing-masing 1000 ppm
 
Analisis kandungan logam berat dengan melakukan pengukuran menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA), terlebih dahulu harus membuat larutan standar atau larutan baku induk  Timbel (Pb) dan Tembaga (Cu) yang akan digunakan untuk mendapatkan nilai atau konsentrasi dari Pb dan Cu tersebut. Pembuatan larutan baku induk bertujuan untuk mendapatkan larutan pokok sampel yang nantinya menjadi larutan yang akan disimpan di laboratorium dalam jumlah yang banyak. Larutan baku induk ini juga merupakan cadangan bilamana melakukan pembuatan larutan baku kerja dengan mengambil sesuai dengan kebutuhan larutan kerja.
Prosedur pembuatan larutan standar Timbel (Pb) dan Tembaga (Cu) adalah sebagai berikut :
A. Pembuatan larutan baku induk Timbel (Pb) 1000 ppm  
Dilarutkan 1 gram logam Pb dalam 50 ml asam nitrat 2 M pada gelas ukur 100 ml, lalu diencerkan dengan aquades, selanjutnya dimasukkan dalam labu ukur 1000 ml dan ditepatkan volumenya dengan aquades. Larutan induk ini setara dengan 1000 mg/l atau 1000 ppm kadar Pb.
 
B. Pembuatan larutan baku induk  Tembaga (Cu) 1000 ppm
Dilarutkan 1 gram logam tembaga dalam 50 ml asam nitrat 5 M pada gelas ukur 100 ml, lalu diencerkan dengan aquades, selanjutnya dimasukkan dalam labu ukur 1000 ml dan ditepatkan volumenya dengan aquades. Larutan induk ini setara dengan 1000 mg/l atau 1000 ppm kadar Cu.
Pembuatan larutan baku induk
V.4. Pembuatan Larutan Baku Kerja Timbel (Pb) dan Tembaga (Cu) masing-masing 100 ppm. 
Larutan baku kerja merupakan larutan uji yang diambil sesuai dengan kebutuhan dari larutan baku induk dengan telah diencerkan.
A. Pembuatan larutan baku kerja Timbel (Pb) 100 ppm 
  1. Larutan baku induk dipipet sebanyak 10 ml kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml lalu ditambahkan dengan aquades sampai batas ukur sehingga konsentrasi menjadi 100 ppm.
  2. Hasil larutan tersebut di pipet masing-masing 1 ml, 2 ml, 3 ml dan 4 ml kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml sehingga di dapatkan larutan 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm dan 4 ppm.
  3. Konsentrasi larutan standar Timbel (Pb) dalam labu ukur 100 ml masing-masing diukur dengan menggunakan spektofotometer serapan atom dengan panjang gelombang 217,0 nm.    

B. Pembuatan larutan baku kerja Tembaga (Cu) 100 ppm

  1. Larutan baku induk dipipet sebanyak 10 ml kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml lalu ditambahkan dengan aquades sampai batas ukur sehingga konsentrasi menjadi 100 ppm.
  2. Hasil larutan tersebut di pipet masing-masing 2 ml, 4 ml, 6 ml dan 8 ml kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml sehingga di dapatkan larutan 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm dan 8 ppm.
  3. Konsentrasi larutan standar Tembaga (Cu) dalam labu ukur 100 ml masing-masing diukur dengan menggunakan spektofotometer serapan atom dengan panjang gelombang 324,7 nm (West, 1988).   
Pembuatan larutan baku kerja

 
V.5. Penentuan logam Pb dan Cu pada spektrofotometer serapan atom Philips PU 9100 X 

Pada penggunaan Spectrophotometer Serapan Atom, sampel yang akan dianalisis harus dalam suasana dengan pH antara 2-3 karena proses atomisasi dapat berlangsung secara sempurna pada pH tersebut. Suhu yang digunakan yaitu 3000 ºC, apabila suhu yang lebih tinggi atau lebih rendah, maka proses atomisasi tidak dapat berlangsung sempurna. Selain itu, penggunaan pH antara 2-3 pada Spectrophotometer Serapan Atom dilakukan untuk mencegah terjadinya korosi pada dinding kapiler, dimana dinding-dinding kapiler tersebut diatur untuk kondisi pH tersebut (Noor, 1990). 
 
Dalam analisis dengan Spectrophotometer Serapan Atom, unsur yang akan dianalisa harus berada dalam keadaan gas sebagai atom-atom yang netral, dan disinari oleh berkas sinar dari sumber sinar. Proses ini dapat dilakukan dengan jalan menghisap larutan cuplikan dan menyemprotkan ke dalam nyala api tersebut sama seperti sel (kuvet) dari larutan pada Spectrophotometri Serapan Molekul (Kopkhar, 1990).
 
Prosedur aspirasi dan penentuan konsentrasi logam Pb dan Cu pada Spectrophotometer Serapan Atom Philips PU 9100 X adalah sebagai berikut:
  1. Dihubungkan alat dengan sumber arus listrik yang telah distabilkan pada 100 volt. Sebelum menekan tombol power, komputer dan printer alat SSA dinyalakan terlebih dahulu.   
  2. Diatur kedudukan tombol-tombol pada alat SSA.
  3. Dinyalakan tombol power 25 (power lampu), kemudian dimasukkan lampu katoda secara bergantian sesuai dengan parameter yang diukur. Jenis lampu katoda yang digunakan yaitu lampu katoda Pb untuk pengukuran Pb dan lampu Cu untuk pengukuran Cu.
  4. Diatur panjang gelombang yang akan digunakan, yaitu 217,0 nm untuk Pb  dan 324,7 nm untuk Cu.
  5. Dinyalakan kompresor udara (power), kemudian kran gas udara dari kompresor dan gas asetilen dibuka. Jika tekanan gas-gas cukup, maka Pressure Warning Lights akan padam dan ini menunjukkan siap untuk dinyalakan.
  6. Setelah  blower dinyalakan, tekanan gas asetilen diatur. Tekanan gas asetilen yang digunakan adalah 0.5 kg/cm2, sedangkan laju alir gas yang digunakan adalah 4 L/menit.
  7. Diukur absorbansi sampel larutan standar/kerja. Dari hasil pengukuran akan terbaca pada monitor dan membentuk suatu kurva yang tampak pada monitor, dan disebut sebagai kurva kalibrasi. Analisis Pb dan Cu dilakukan secara bergantian sesuai dengan parameter yang diukur terlebih dahulu..
  8. Diukur absorbansi larutan analisis sampel logam Pb dan Cu dari air laut. Setelah lampu katoda padam, maka akan menunjukkan status nilai absorban (a) yang tampak pada kurva kalibrasi.    
Mengukur absorbansi larutan baku kerja logam Pb dan Cu pada SSA
 
Mengukur absorbansi sampel air pada SSA

 Dari hasil pembacaan SSA, nilai absorbansi akan meningkat pada konsentrasi larutan standar yang kadarnya juga meningkat, sehingga jika dihubungkan akan membentuk grafik dengan persamaan garis lurus. Persamaan garis antara kadar zat dengan absorbansi adalah persamaan garis lurus dengan koefisien arah positif, yaitu : Y = a + bX, dimana nilai a dan b akan tampak pada grafik persamaan garis lurus dari hasil pembacaan absorbansi larutan standar. Nilai X merupakan nilai absorbansi sampel yang didapatkan dari hasil pembacaan SSA, sedangkan Y adalah konsentrasi akhir dari logam berat pada sampel setelah memasukkan  nilai absorbansi sampel ke dalam persamaan tersebut di atas.

 
Daftar Pustaka
Harlan, 2009. Analisis Kandungan Logam Berat Timbel (Pb) dan Tembaga (Cu) pada Air Laut dengan Menggunakan Metode Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) di Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sulawesi Selatan.
 
Kopkhar. S. M. 1990. Konsep Dasar kimia Analitik. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Noor, A., 1990. Analisis Spektrofotometri Serapan Atom. Laboratorium Kimia Analitik, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Hasanuddin..
 
Siaka, M., 2008. Jurnal Kimia 2 : Korelasi Antara Kedalaman Sedimen di Pelabuhan Benoa dan Konsentrasi Logam Berat Pb dan Cu. Jurusan Kimia, FMIPA, Uniersitas Udayana. Bukit Jimbaran. http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/vol%202%20no%202_1.pdf. Diakses Tanggal 02 Februari 2009.
 
West, 1988. Philips Scientific Atomic Absorption Data Book, Philips Scientific, Yorkstreet, Cambridge CB1 2PX England.
 

Dalam kadar nitrogen yang diperoleh dapat dihitung banyaknya protein yang terkandung dalam suatu zat. Protein merupakan zat organik yang terdiri dari rantai asam amino dan merupakan zat utama seluruh sel hidup, baik tumbuhan maupun hewan.

Kadar nitrogen dari bermacam protein hampir sama yaitu sekitar 16% dan kadar protein dapat diketahui dengan jalan mngalikan persen nitogen dengan faktor 6,25. dalam protein tetentu seperti kasein biasanya dipakai faktor yang lebih tinggi yaitu 6,38.

metode yang umum untuk menetapkan nitrogen dalam makanan ialah metode Kjeldahl dimana metode ini terus dimodifikasikan untuk memperoleh ketelitian dan kecepatan yang lebih baik.

Penetapan nitrogen total pada asam amino bisa dilakukan dengan menggunakan metode Kjeldahl. Pertama-tama sampel didestruksi dengan asam sulfat dan dikatalisis dengan katalisator yang sesuai sehingga akan menghasilkan amonium sulfat.

Setelah pembebasan dengan alkali kuat, amonia yang terbentuk disuling uap secara kuantitatif ke dalam larutan penyerap dan ditetapkan secara titrasi. Metode ini telah banyak mengalami modifikasi. Metode ini cocok digunakan secara semimikro, sebab hanya memerlukan jumlah sampel dan pereaksi yang sedikit dan waktu analisa yang pendek.

Cara Kjeldahl digunakan untuk menganalisis kadar protein kasar dalam bahan makanan secara tidak langsung, karena yang dianalisis dengan cara ini adalah kadar nitrogennya. Dengan mengalikan hasil analisis tersebut dengan angka konversi 6,25, diperoleh nilai protein dalam bahan makanan itu. Untuk beras, kedelai, dan gandum angka konversi berturut-turut sebagai berikut: 5,95, 5,71, dan 5,83. Angka 6,25 berasal dari angka konversi serum albumin yang biasanya mengandung 16% nitrogen.

Prinsip analisis Kjeldahl adalah sebagai berikut: mula-mula bahan didestruksi dengan asam sulfat pekat menggunakan katalis selenium oksiklorida atau butiran Zn. Amonia yang terjadi ditampung dan dititrasi dengan bantuan indikator. Cara Kjeldahl pada umumnya dapat dibedakan atas dua cara, yaitu cara makro dan semimakro. Cara makro Kjeldahl digunakan untuk contoh yang sukar dihomogenisasi dan besar contoh 1-3 g, sedang semimikro Kjeldahl dirancang untuk contoh ukuran kecil yaitu kurang dari 300 mg dari bahan yang homogen.

Cara analisis tersebut akan berhasil baik dengan asumsi nitrogen dalam bentuk ikatan N-N dan N-O dalam sampel tidak terdapat dalam jumlah yang besar. Kekurangan cara analisis ini ialah bahwa purina, pirimidina, vitamin-vitamin, asam amino besar, kreatina, dan kreatinina ikut teranalisis dan terukur sebagai nitrogen protein. Walaupun demikian, cara ini kini masih digunakan dan dianggap cukup teliti untuk pengukuran kadar protein dalam bahan makanan.

Analisa protein cara Kjeldahl pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga tahapan yaitu proses destruksi, proses destilasi dan tahap titrasi.

1. Tahap destruksi
Pada tahapan ini sampel dipanaskan dalam asam sulfat pekat sehingga terjadi destruksi menjadi unsur-unsurnya. Elemen karbon, hidrogen teroksidasi menjadi CO, CO2 dan H2O. Sedangkan nitrogennya (N) akan berubah menjadi (NH4)2SO4. Untuk mempercepat proses destruksi sering ditambahkan katalisator berupa campuran Na2SO4 dan HgO (20:1). Gunning menganjurkan menggunakan K2SO4 atau CuSO4.

Dengan penambahan katalisator tersebut titk didih asam sulfat akan dipertinggi sehingga destruksi berjalan lebih cepat. Selain katalisator yang telah disebutkan tadi, kadang-kadang juga diberikan Selenium. Selenium dapat mempercepat proses oksidasi karena zat tersebut selain menaikkan titik didih juga mudah mengadakan perubahan dari valensi tinggi ke valensi rendah atau sebaliknya.

2. Tahap destilasi
Pada tahap destilasi, ammonium sulfat dipecah menjadi ammonia (NH3) dengan penambahan NaOH sampai alkalis dan dipanaskan. Agar supaya selama destilasi tidak terjadi superheating ataupun pemercikan cairan atau timbulnya gelembung gas yang besar maka dapat ditambahkan logam zink (Zn).

Ammonia yang dibebaskan selanjutnya akan ditangkap oleh asam khlorida atau asam borat 4 % dalam jumlah yang berlebihan. Agar supaya kontak antara asam dan ammonia lebih baik maka diusahakan ujung tabung destilasi tercelup sedalam mungkin dalam asam. Untuk mengetahui asam dalam keadaan berlebihan maka diberi indikator misalnya BCG + MR atau PP.

3. Tahap titrasi
Apabila penampung destilat digunakan asam khlorida maka sisa asam khorida yang bereaksi dengan ammonia dititrasi dengan NaOH standar (0,1 N). Akhir titrasi ditandai dengan tepat perubahan warna larutan menjadi merah muda dan tidak hilang selama 30 detik bila menggunakan indikator PP.

%N = × N. NaOH × 14,008 × 100%

Apabila penampung destilasi digunakan asam borat maka banyaknya asam borat yang bereaksi dengan ammonia dapat diketahui dengan titrasi menggunakan asam khlorida 0,1 N dengan indikator (BCG + MR). Akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna larutan dari biru menjadi merah muda.

%N = × N.HCl × 14,008 × 100 %

Setelah diperoleh %N, selanjutnya dihitung kadar proteinnya dengan mengalikan suatu faktor. Besarnya faktor perkalian N menjadi protein ini tergantung pada persentase N yang menyusun protein dalam suatu bahan.

1. metode pemanasan langsung

penetapan ini relative sederhana yaitu contoh yang telah ditimbang atau diketahui bobotnya dipanaskan dalam suatu pengering listrik (oven) sampai bobit tetap, dengan tekanan 1 atm.

 

 

 

 

 

2. metode penyulingan dengan pelarut yang tidak dapat campur

lebih dikenal dengan metode xylol (ksilena). Penetapan ini sangat penting terutama yang mengandung air dan minyak terbang (volatile oils) yang keduanya dapat mengauap. Penetapan ini dipakai alat ”aufhauser” atau alat penerima bitwell dan stirling, dilengkapai dengan labu dan pendingin liebig. Ksilena mempunya titik didih > titik didih air sehingga bila dipanaskan maka air yang dahulu menguap.

 

 

 

 

3. metode pengering vacum

dilakukan untuk menetapkan kadar air dalam contoh yang akan terurai kalau dipanasskan pada suhu 100o-105oC

 

 

 

 

 

4. metode asam sulfat

metode ini diuapkai terhadap zat2 yang peka terhadap panas, proses ini relatif memerlukan waktu yang lama. Sampel didalam eksikator vacum dikeringkan dengan asam sulfat pekat.

 

 

 

 

5. metode karl fischer

didasarkan atas reduksi Yod oleh belerangdioksida (SO2) dalam air dan basa yaitu piridin dengan memakai pereaksi Fischer yang terdiri dari larutan Yod, belerang dioksida dan piridin dalam methanol anhydrous.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 52 pengikut lainnya.