<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Sortha S Silalahi 1

1Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Medan, Jl Pancing Pasar V Medan, Sumatera Utara

ABSTRACT

The affectivity of Concept map on the teaching of chemistry ‘Rate reaction’ on is explained in the paper.  The research was conducted onto the first year University students in Faculty of Mathematics and Natural Science (FMIPA) State University of Medan (UNIMED) Medan.  The research was carried out through teaching the students with a Concept map media and a conventional media as a control.  The affectivities of educational medias to improve student’s achievements on the chemistry subject were evaluated by comparing their ability to solve chemistry problems before and after the teaching and learning process.  The study concluded that teaching the student by using a Concept map media improved the student’s achievements on chemistry because the existing teaching method motivated the students to study systematically on solving chemistry problems.

Key word: Media pendidikan, petakonsep, Laju Reaksi, prestasi belajar, mahasiswa.

PENDAHULUAN

Pengalaman pendidikan yang sering dihadapi oleh Dosen Kimia Dasar di sekolah menengah adalah bahwa kebanyakan mahasiswa menganggap mata pelajaran kimia sebagai mata pelajaran yang sulit, sehingga tidak jarang seorang mahasiswa yang bukan dari Jurusan Kimia sudah terlebih dahulu merasa kurang mampu untuk mempelajari kimia (Sakkashiri, 1991).  Hal ini mungkin disebebkan oleh penyajian materi kimia pada Tahun Pertama Perkuliahan (TPB) Kimia Dasar yang kurang menarik dan membosankan, sehingga terkesan sulit dan menakutkan bagi mahasiswa, dan akhirnya banyak mahasiswa yang bukan Jurusan Kimia seperti dari Jurusan Fisika dan Biologi, kurang menguasai konsep dasar kimia. Keadaan ini akan merugikan terhadap keberhasilan mahasiswa bila tidak segera dibenahi. Ada beberapa hal yang diduga menjadi penyebab kurangnya penguasaan materi kimia diantaranya (1) mahasiswa sering belajar dengan cara menghafal tanpa membentuk pengertian terhadap materi yang dipelajari, (2) materi yang diajarkan mengambang sehingga mahasiswa tidak dapat menemukan ‘kunci’ untuk mengeri materi yang dipelajari, dan (3) guru kurang berhasil menyampaikan ‘konsep’ untuk menguasai materi yang diajarkan (Lynch dan Waters, 1980).

Idealnya seorang dosen harus selalu waspada terhadap materi pelajaran yang sedang dan akan diajarkan kepada mahasiswa, sehingga selain menyampaikan materi pelajaran, kepadanya juga diberi beban untuk mengembangkan topik pelajaran agar memberikan hasil belajar yang optimum (Boyce, dkk. 1997).  Salah satu sasaran peneliti melakukan penelitian ini adalah untuk meningkatkan minat mahasiswa kepada mata pelajaran kimia.  Hal ini bisa tercapai bila materi pelajaran kimia dapat dikemas menjadi pelajaran yang menarik dan mudah dimengerti, yaitu melalui penyampaian materi kimia dengan menggunakan media pengajaran. Media pendidikan dapat digunakan untuk membangun pemahaman dan penguasaan objek pendidikan.  Beberapa media pendidikan yang sering dipergunakan dalam proses belajar-mengajar diantaranya media cetak, elektronik, model, sketsa, peta dan diagram (Kreyenhbuhl, 1991).  Dalam pengajaran materi kimia Laju Reaksi, salah satu media yang dipergunakan adalah media petakonsep.  Media petakonsep bertujuan untuk membangun pengetahuan mahasiswa dalam belajar secara sistematis, yaitu sebagai teknik untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa dalam penguasaan konsep belajar dan pemecahan masalah (Pandley, dkk. 1994).

A. Media Petakonsep Dalam Pendidikan

Media petakonsep merupakan media pendidikan yang dapat menunjukkan konsep ilmu yang sistematis, yaitu dimulai dari inti permasalahan sampai pada bagian pendukung yang mempunyai hubungan satu dengan lainnya, sehingga dapat membentuk pengetahuan dan mempermudah pemahaman suatu topik pelajaran (Pandley, dkk 1994). Langkah yang dilakukan dalam membuat media petakonsep adalah memikirkan apa yang menjadi ‘pusat’ topik yang akan diajarkan, yaitu sesuatu yang dianggap sebagai konsep ‘inti’ dimana konsep-konsep pendukung lain dapat diorganisasikan terhadap konsep inti, kemudian menuliskan kata, peristilahan dan rumus yang memiliki arti, yaitu yang mempunyai hubungan dengan konsep inti, sehingga akhirnya membentuk satu peta hubungan integral dan saling terkait antara konsep atas-bawah-samping (Nakhleh, 1994).  Penggunaan media petakonsep di dalam pendidikan sudah dilakukan sejak tahun 1977, yaitu dalam pengajaran Sistematika dalam pelajaran Biologi (Novak, 1977), dan sejak itu media petakonsep berkembang dan telah dipergunakan dalam berbagai bidang pendidikan seperti untuk pengajaran kimia (Pandley, dkk. 1994; Nakhleh, 1994), pendidikan kedokteran (Eitel, dkk. 2000; Weiss dan Levison, 2000; West, dkk. 2000), pendidikan keperawatan, (Irvine, 1995; Van Neste-Kenny, dkk. 1998; Daley, dkk. 1999) dan fisiologi (McGaghie, dkk. 2000).

Penggunaan media petakonsep dalam mata pelajaran Kimia telah dilakukan untuk pengajaran Kromatografi seperti yang dijelaskan oleh Pandley, dkk. (1994). Media petakonsep dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam penguasaan konsep pemisahan analitik.  Media petakonsep dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap sistematika pemisahan dengan menggunakan teknik kromatografi.  Penggunaan media petakonsep dalam pengajaran Asam-Basa juga telah dilaporkan oleh Nakhleh (1994).  Media petakonsep diketahui sangat efektif untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa belajar mandiri di laboratorium.  Penelitian lain dalam melihat efektifitas media petakonsep dalam meningkatkan penguasaan materi kimia SMU juga telah dijelaskan (Purba, dkk 1997).

METODE PENELITIAN

Yang menjadi populasi penelitian adalah mahasiswa FMIPA Unimed yang mengikuti Kimia Dasar pada tahun Akademi 2005/2006.  Sampel dipilih dari Dua Jurusan (Matematika, Fisika dan Biologi) dengan dua kelas paralel.  Sampel adalah mahasiswa kelas 1 yang dipilih secara purposif, kemudian dikelompokkan sesuai dengan tujuan penelitian.  Instrumen penelitian adalah media petakonsep dan media konvensional ceramah sebagai kontrol.  Alat pengumpul data adalah evaluasi belajar (soal kimia) terdiri atas evaluasi pendahuluan, evaluasi akhir-1 dan evaluasi akhir-2.  Evaluasi disusun oleh peneliti berdasarkan GBPP Kimia Dasar dengan sebaran tingkat kesulitan yang sudah terstandarisasi.

Prosedur penelitian meliputi penyusunan instrumen, pengajaran dan evaluasi.  Penyusunan instrumen dilakukan mengikuti kisi dalam GBPP mata Kuliah Kimia Dasar, dan selanjutnya dilakukan konsultasi dengan Tim Pengajar Kimia Dasar untuk diminta pendapat tentang media petakonsep yang didisain.  Sebelum perlakuan pengajaran, terhadap kelompok perlakuan dan kelompok kontrol terlebih dahulu dilakukan evaluasi pendahuluan untuk mengukur kemampuan mahasiswa terhadap pokok bahasan yang akan diajarkan, kemudian dilanjutkan dengan pengajaran menggunakan media petakonsep dan metode ceramah (kontrol) dan dilanjutkan dengan evaluasi akhir-1, yaitu pada akhir pengajaran.  Setelah waktu satu bulan dari perlakuan pengajaran, dilakukan evaluasi akhir-2.  Data berupa prestasi belajar mahasiswa (skor mahasiswa yang benar dari 20 soal) diolah secara statistik menggunakan EXCEL soft ware untuk penarikan kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pengelompokan sampel

Sampel penelitian ada sebanyak 15 Kelas paralel untuk 3 Jurusan, meliputi Program Kependidikan dan Program Non Kependidikan. Pada masing-masing Jurusan dipilih sebanyak 2 kelas paralel sebagai objek penelitian.  Alasan pembatasan pemilihan kelas adalah karena keterbatasan tim peneliti.  Jumlah sampel di setiap sekolah hanya dipilih sebanyak 20 orang per-kelas.  Pemilihan sampel adalah berdasarkan nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) mahasiswa di SLTA, yaitu 10 orang yang memiliki UAN relatif tinggi dan 10 orang lagi yang memiliki UAN relatif rendah untuk masing-masing kelas.  Sampel yang terpilih dikelompokkan menjadi kelompok kemampuan tinggi (dengan UAN relatif tinggi), selanjutnya disebut kelompok tinggi (KT) dan kelompok kemampuan rendah (dengan UAN relatif rendah), selanjutnya disebut kelompok rendah (KR).  Pengelompokan KT dan KR dalam penelitian ini hanya sebagai asumsi dasar pengelompokan saja, karena UAN mahasiswa objek penelitian pada umumnya tidak terlalu jauh berbeda.  Walaupun sampel hanya dipilih sebanyak 20 orang, perlakuan pengajaran dan evaluasi dilakukan bersama-sama terhadap seluruh sampel di dalam kelas, akan tetapi mahasiswa lain tidak akan diikutkan sebagai sumber data penelitian.

C. Evaluasi pendahuluan

Untuk mengukur kemampuan pengetahuan mahasiswa terhadap materi yang akan diajarkan, terlebih dahulu dilakukan evaluasi pendahuluan untuk mengukur penguasaan mahasiswa terhadap materi Laju Reaksi.  Evaluasi pendahuluan dilakukan terhadap seluruh sampel (kelompok media petakonsep dan kelompok kontrol), dan penguasaan materi mahasiswa berdasarkan hasil evaluasi pendahuluan dirangkum pada Tabel 1. Dari hasil diketahui bahwa mahasiswa FMIPA pada umumnya belum mengetahui materi kimia Laju Reaksi, hal ini dapat diyakini berdasarkan angka pencapaian mahasiswa (skor) yang rendah, yaitu jumlah soal yang dapat dikerjakan oleh mahasiswa dengan benar adalah 2 – 5 soal dari 20 soal yang diujikan. Rata-rata pencapaian mahasiswa untuk pengajaran dengan menggunakan media petakonsep (M = 3,280,69) dan metode ceramah (M = 3,290,64) tergolong rendah.  Dapat dinyatakan bahwa mahasiswa belum mampu menyelesaikan soal kimia yang berhubungan dengan Laju Reaksi, sehingga mahasiswa sangat baik untuk sampel penelitian dan dianggap homogen.  Walaupun mahasiswa belum mengetahui materi kimia Laju Reaksi, akan tetapi dalam evaluasi pendahuluan mahasiswa kebanyakan masih dapat menjawab benar, diduga dari hasil ‘tebakan’ karena evaluasi dibuat dalam pilihan berganda.  Dari uji beda diketahui tidak ada perbedaan yang signifikan antara pencapaian mahasiswa kelompok tinggi (tstat -0,186 < tcrit 2,063) dan kelompok rendah (tstat -0,039 < tcrit 2,063), maupun untuk dua kelopok perlakuan, petakonsep dan ceramah (tstat -0,164 < tcrit 2,009).

Tabel 1.    Penguasaan mahasiswa terhadap materi kimia berdasarkan hasil evaluasi belajar sebelum dan sesudah pengajaran.  Angka dalam tabel adalah rata-rata dan standar deviasi dari 3 Jurusan dengan 2 kelas paralel.

Sampel

Evaluasi pendahuluan

Evaluasi akhir-1

Evaluasi akhir-2

Jurusan

Kelompok

Petakonsep

Ceramah

Petakonsep

Ceramah

Petakonsep

Ceramah

A

KT

4,60(0,20)

4,50(0,25)

18,30(0,54))

14,50(0,38)

17,80(0,46)

12,20(0,31)

KR

3,20(0,23)

3,60(0,34)

17,80(0,65)

13,00(0,51)

16,20(0,27)

11,40(0,39)

B

KT

4,20(0,31)

3,86(0,43)

17,80(1,00)

14,80(0,48)

17,60(0,75)

10,00(0,76)

KR

3,20(0,25)

2,90(0,22)

16,30(0,60)

12,30(0,85)

15,80(0,20)

10,00(0,35)

C

KT

3,20(0,35)

3,32(0,52)

17,80(1,30)

14,70(0,43)

16,84(0,26)

12,40(0,73)

KR

3,40(0,32)

3,42(0,50)

16,10(0,66)

12,50(0,93)

15,00(0,39)

10,00(0,62)

Rata-rata

KT

3,48(0,87)

3,50(0,72)

17,58(1,11)

14,18(0,75)

16,81(1,04)

11,68(1,09)

(M)

KR

3,08(0,37)

3,08(0,48)

16,30(1,17)

12,08(0,93)

15,40(0,72)

10,28(0,78)

3,28(0,69)

3,29(0,64)

16,94(1,30)

13,13(1,35)

16,10(1,14)

10,98(1,18)

A = Jurusan Matematika B = Jurusan Fisika

C = Jurusan Biologi                                                      D = Sampel pada kabupaten D

KT = kelompok mhs UAN relatif tinggi                      KR = kelompok mhs NEM relatif rendah

D. Pengaruh media petakonsep

Untuk mengurangi bias yang disebabkan oleh Dosen Kimia Dasar, perlakuan pengajaran terhadap kelompok perlakuan dan kontrol dilakukan oleh satu orang Dosen yang sudah mengetahui penggunaan media pengajaran.  Berdasarkan urutan GBPP mata Kuliah Kimia Dasar, perlakuan pengajaran dilakukan serentak sehingga akan lebih efektif bila dilakukan oleh Dosen Mata Kuliah Kimia Dasar.  Setelah perlakuan pengajaran dengan menggunakan media petakonsep dan tanpa media, diperoleh pencapaian mahasiswa berdasarkan jumlah jawaban mahasiswa yang benar untuk evaluasi akhir-1 seperti dirangkum pada Tabel 1.  Hasil belajar mahasiswa sebelum dan sesudah pengajaran dengan menggunakan media petakonsep dan tanpa media pengajaran (ceramah) menunjukkan perbedaan nyata, yaitu pengajaran meningkatkan penguasaan mahasiswa terhadap materi Laju Reaksi.  Prestasi belajar mahasiswa pada pengajaran dengan menggunakan media petakonsep sebelum pengajaran (M = 3,280,47) lebih rendah dibanding dengan prestasi belajar mahasiswa sesudah pengajaran (M = 16,941,69), yaitu berbeda secara signifikan dimana (tstat –78,79 < tcrit 2,009). Hal yang sama terlihat untuk pengajaran tanpa menggunakan media, yaitu diperoleh rata-rata prestasi belajar mahasiswa sebelum perlakuan pengajaran (M = 3,290,64) lebih rendah dibanding sesudah perlakuan pengajaran (M = 13,131,35), dimana kedua kelompok ini  berbeda secara signifikan (tstat –58,47 < tcrit 2,009).  Pengaruh media petakonsep terhadap pencapaian hasil belajar mahasiswa dari evaluasi akhir-1 diperlihatkan pada Tabel 1.  Secara umum, prestasi belajar mahasiswa dengan menggunakan media petakonsep (M = 16,944,30) lebih tinggi dibanding dengan pencapaian mahasiswa dengan media ceramah (M = 13,131,35).

Analisis statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan antara media petakonsep dengan media ceramah (tstat 24,480 > tcrit 2,009).  Lebih lanjut dilakukan analisis untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar  mahasiswa kelompok tinggi dan mahasiswa kelompok rendah untuk masing-masing kelompok perlakuan.  Prestasi belajar mahasiswa yang diberi pengajaran dengan menggunakan media petakonsep mahasiswa kelompok tinggi (M = 17,581,22) lebih baik dibanding mahasiswa kelompok rendah (M = 14,180,55).  Analisis statistik diketahui perbedaan yang signifikan (tstat 16,784 > tcrit 2,063) antara dua kelompok mahasiswa.  Dengan cara yang sama penyampaian materi pelajaran dengan menggunakan metode ceramah diperoleh prestasi belajar mahasiswa kelompok tinggi (M = 16,301,37) lebih baik dibanding prestasi belajar mahasiswa kelompok rendah (M = 12,080,86), dimana tstat 20,148 > tcrit 2,063.

Untuk mengetahui apakah ada perbedaan prestasi belajar mahasiswa yang disebabkan oleh kesan pengajaran menggunakan media pengajaran dapat dilihat dari hasil evaluasi akhir-2 , yaitu setelah selang waktu satu bulan dari perlakuan pengajaran.  Prestasi belajar mahasiswa berdasarkan hasil evaluasi akhir-2 dirangkum pada Tabel 1.  Pengaruh media petakonsep dalam meningkatkan prestasi belajar terlihat sangat nyata, yaitu prestasi belajar mahasiswa dengan pengajaran menggunakan media petakonsep (M = 16,101,14) lebih tinggi dibanding prestasi belajar mahasiswa yang diajar dengan metode ceramah (M = 10,981,18).  Dua kelompok perlakuan ini berbeda secara signifikan dimana tstat 26,985 > tcrit 2,009.  Dari perbedaan mean diketahui bahwa tingkat penguasaan mahasiswa terhadap materi kimia Laju Reaksi yang diberi perlakuan dengan menggunakan media petakonsep lebih tinggi dibandingkan terhadap perlakuan pengajaran dengan menggunakan media konvensional ceramah. Pengajaran dengan menggunakan media petakonsep dapat meningkatkan cara belajar sistematis bagi mahasiswa karena media petakonsep yang disusun terdiri atas petunjuk praktis yang mudah dipelajari, yaitu berupa prosedur dan urutan yang sistematis yang dapat dipergunakan sebagai pedoman di dalam menyelesaikan soal kimia untuk pokok bahasan Laju Reaksi. Proses belajar ini dapat meningkatkan motivasi mahasiswa untuk belajar mandiri, karena contoh soal yang disajikan di dalam media petakonsep sangat sistematis dan mudah dimengerti.

KESIMPULAN

Penyampaian materi pelajaran kimia Laju Reaksi dengan menggunakan media petakonsep dapat meningkatkan prestasi belajar mahasiswa karena mempermudah pemahaman topik pelajaran.  Pengajaran kimia dengan menggunakan media petakonsep memberikan kesan pengajaran lebih lama dibandingkan terhadap pengajaran dengan metode ceramah karena media petakonsep mempunyai alur sistematis yang dapat menuntun cara belajar mahasiswa untuk menyelesaikan soal-soal Kimia Dasar. Dengan melihat keberhasilan pengajaran menggunakan media petakonsep dalam pengajaran Laju Reaksi, maka perlu dipikirkan untuk aplikasi media petakonsep ini dalam pengajaran materi kimia lain dalam lingkup Kimia Dasar atau Mata kuliah Lainnya. Perlu juga dipertimbangkan untuk menggunakan media petakonsep untuk pengajaran materi pelajaran bidang studi lain di luar mata kuliah Kimia Dasar.

DAFTAR PUSTAKA

Boyce, L.N.; VanTasselBaska, J.; Burruss, J.D.; Sher, B.T. dan Johnson, D.T., (1997), A problem-based curriculum: Parallel learning opportunities for students and teachers, Journal of the Education of the Gifted 20: 363-379.

Daley, B.J.; Shaw, C.R.; Balistrieri, T.; Glasenapp, K. dan Piacentine, L., (1999), Concept maps: a strategy to teach and evaluate critical thinking., Journal of Nursing Education 38: 42-47.

Depdikbud, (1995), Kurikulum Sekolah Menengah Umum, GBPP Mata Pelajaran Kimia, Keputusan Mendikbud Nomor 061/U/1995, tgl 25 Februari 1995, Depdikbud Jakarta.

Eitel, F.; Kanz, K.G.; Hortig, E. Dan Tesche, A., (2000), Do we face a fourth paradigm shift in medicine–algorithms in education?., Journal of Evaluation in Clinical Practice 6: 321-333.

Irvine, L.M,.(1995), Can concept mapping be used to promote meaningful learning in nurse education?. Journal of Advanced Nursing 21: 1175-1179.

Kreyenbuhl, J.A. dan Atwood, C.H., (1991), Are we teaching the right things in general chemistry?, Journal of Chemical Education 68: 914-918.

Lynch, P.P. dan Waters, M., (1980), Expectation of new chemistry students concerning chemistry courses, Chemistry in Australia 47: 238-242.

McGaghie, W.C.; McCrimmon, D.R.; Mitchell, G.; Thompson, J.A. dan Ravitch, M.M., (2000), Quantitative concept mapping in pulmonary physiology: comparison of student and faculty knowledge structures., Advances in Physiology Education.23: 72-81.

Nakhleh, M.B., (1994), Chemical education research in the laboratory environment.  How can research discover what student are learning, Journal of Chemical Education 71: 201-205.

Novak, J.D., (1977), New trends in Biology teaching, Science Education 61: 453-477.

Pandley, B.D.; Bretz, R.L. dan Novak, J.D., (1994), Concept maps as a tools to assess learning in chemistry, Journal of Chemical Education 71: 9-15.

Purba, J.; Situmorang, M.; dan Tambunan, M.M., (1997), Efektifitas media petakonsep dan Diagram-V untuk meningkatkan penguasaan materi kimia sekolah menengah Umum di Sumatera Utara, Laporan Penelitian FPMIPA IKIP Medan.

Shakkashiri, B.Z., (1991), Chemical Demonstration. A hand book for teacher of chemistry, The University of Winconsin Press

Van Neste-Kenny, J.; Cragg, C.E. dan Foulds, B., (1998), Using concept maps and visual representations for collaborative curriculum development, Nurse Educator 23: 21-25

Weiss, L.B. dan Levison, S.P., (2000), Tools for integrating women’s health into medical education: clinical cases and concept mapping., Academic Medicine 75: 1081-1086.

West, D.C.; Pomeroy, J.R.; Park, J.K.; Gerstenberger, E.A. dan Sandoval, J., (2000), Critical thinking in graduate medical education: A role for concept mapping assessment?, JAMA 284: 1105-1110.

About these ads