Anak Vs Game

Bermain di luar rumah saat ini sangat tidak aman. Sebab jarang sekali ditemukan tanah lapang yang luas akhir-akhir ini. Jika memaksa bermain dalam suasana kota semacam itu, bisa-bisa angka kecelakaan akan meningkat dengan korban sebagian besar anak-anak. Boleh jadi pernyataan itu benar adanya. Lihat saja ketika musim layangan tiba, anak-anak kita justru bermain layang di pinggir jalan raya. Tanpa peduli resiko yang bakal terjadi jika jalan sedang ramai.
Akhirnya pilihan orang tua jatuh pada arena bermain baru, video game, computer game, board game dan playstation untuk memenuhi kebutuhan anak akan permainan. Bahkan, orangtua menganggap permainan tersebut sebagai penguji ketangkasan yang dapat melatih potensi rohani anak untuk menyelesaikan masalah yang rumit. “Daripada main layangan atau kejar-kejaran di jalan,” demikian mungkin pernyataan mereka terhadap kegemaran anak-anak akan video game, computer game dan playstation yang kini sedang marak.
Padahal di balik permainan di atas, ada sisi negatif yang sedang mengancam tumbuh kembang anak-anak. Menurut Remy Silado, beberapa piringan video yang biasa dimainkan anak-anak di playstation malah memicu imitasi dan khayal anak untuk menjadi semacam jagoan dengan kekuatan ajaib dan super yang dapat menghancurkan lawan-lawan dalam rangka menyelesaikan tugas-tugas yang disebut misi kemanusiaan. Jika kita memperhatikan dengan seksama, sebagian besar isi permainan itu semata-mata kekerasan belaka.
Jika kita melihat ke  toko-toko yang menjual game, tentu bermacam-macam jenis game yang dapat kita temukan. Namun tidak semua game yang ada dapat menunjang apa yang diberikan di sekolah formal mereka.

Game yang berbau pendidikanlah yang sebaiknya kita berikan kepada anak-anak pada usia sekolah tersebut, karena disamping mereka bermain, meraka juga dapat belajar komputer dan belajar pelajaran yang mereka dapat disekolah.

Nah, siapa yang bertanggung jawab terhadap dampak tersebut?

Iklan

One thought on “Anak Vs Game

  1. Yth. admin,

    sebenarnya dalam setiap game sudah dicantumkan rating2 dr gem tersebut
    misal :
    E : everyone,seperti pd gem bola
    T: Teenagers,seperti pd gem RPG,
    V: Violence,gem2 berbau kekerasan,dan msh banyak klasifikasi yg smuanya dah diatur ma suatu badan yang berwenang
    Masalahnya di indonesia peraturan ni lum sepenuhnya diterapkan oleh pemerintah dan para penjual pun seolah menutup mata akan hal ini,,
    memang g bs dipungkiri kl anaklah yg menjadi korban, disinilah dituntut peran aktif orang tua

    perkenalkan saya gi2h alumnus’04 yg saat ni bekerja di serang.Banten

    Salam skima…………Salam buat para pengajar2 di skima……maju terus !!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s