IBU PUTIH ABU-ABU

Free Sex ‘Putih Abu-abu’ Meluas?

untitled

” Gals… Sherly bentar lagi dah mo lahiran…… “ , pembicaraan sekelompok anak berseragam di halte dekat sebuah SMU. Sebenarnya nggak ada yang istimewa dari kalimat tersebut, tetapi akan menjadi lain karena Sherly adalah teman sekelas mereka.

Begitu banyak mungkin Sherly yang ada di sekolah-sekolah lain bahkan yang di pelosok desa sekalipun. Mungkin mereka tidak pernah memahami akibat yang akan diperoleh menyangkut masa depan diri mereka sendiri.

Seorang siswi yang ”tek-dung”, hampir dapat dipastikan akan dikeluarkan dari sekolahnya demi menjaga citra sekolah, peraturan yang berlaku ataupun memang tidak ada toleransi yang dikhawatirkan akan memicu kejadian serupa pada siswi yang lain. Masa depan pun menjadi satu babak hitam yang harus diretas kembali dari nol. Berapa banyak anak usia sekolah yang harus menjalani hari-harinya dengan menggendong bayi yang seharusnya belum menjadi masanya, yach… beruntung jika pasangan pelaku mau bertanggung jawab. Bagi yang kemudian ditinggalkan begitu saja, akan lebih sulit rasanya menjalani hidup. Ini belun termasuk respon dari saudara atau anggota keluarga, pandangan negatif dari tetangga, bahkan bisa menjadi topik hangat pembicaraan ibu-ibu kompleks ketika arisan yang ujung ujungnya akan menyebar begitu cepat. Dan makin menumpuk rasa malu itu, juga pada orang terdekat yang ikut merasa terkucil.

Lebih-lebih sekarang ini, bukan hanya pergaulan yang grombal-grombol, tetapi malah kemarin 18 siswi SMP di Tambora Jakarta telah menjajakan diri..

Masya Allah… mo gimana lagi? Yang salah anaknya? Guru atau orang tua?. Hanya kepengen punya Hp baru, baju baru, dandan modis, pengen bergaya harus berkorban segitunya. Kok tidak berpikir jernih. Kurangnya pendidikan moralkah?

Bahkan dari sekian banyak kasus yang ada, free sex kebanyakan dilakukan oleh kalangan remaja, mungkin juga sudah membudaya di kalangan putih abu-abu. Hal ini merupakan bukti nyata dampak dari tingginya keinginan seks di kalangan remaja.

Aborsi di kalangan remaja kebanyakan dilakukan di usia 18 hingga 19 tahun sekitar 14 persen. Sedangkan bentuk aborsi itu terdapat tiga macam yakni aborsi alamiah yang terjadi karena keguguran, kedua aborsi buatan atau sengaja yang dilakukan sebelum usia kandungan 28 minggu, sedangkan ketiga adalah aborsi terapeutik atau medis yang dilakukan di dalam kandungan melalui bantuan dokter.

Alasan para remaja melakukan aborsi di antaranya karena kebanyakan mereka belum siap menjadi ibu dan merawat anak, lalu terdapat tekanan dari pihak luar seperti pacar, keluarga, dan lingkungan sekitar.

Tentang resiko dari aborsi seperti risiko kesehatan dan keselamatan fisik yang terdiri dari kematian, rahim yang sobek, kerusakan leher rahim, kanker payudara, dan kanker indung telur, sedangkan resiko gangguan psikologis terdiri dari kehilangan harga diri, berteriak histeris, mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi.

“Bahkan si pelaku bisa melakukan bunuh diri, mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang, tidak bisa menikmati hubungan seksual, dan dipenuhi perasaan bersalah,”

Ibu hamil yang termasuk golongan kehamilan dengan resiko tinggi adalah ibu dengan:

• Riwayat kehamilan dan persalinan yang sebelumnya kurang baik . (contoh: riwayat keguguran, perdarahan pasca kelahiran, lahir mati)
• Tinggi badan ibu hamil kurang dari 145 cm.
• Ibu hamil yang kurus/berat badan kurang.
Usia ibu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
• Sudah memiliki 4 anak atau lebih.
• Jarak antara dua kehamilan kurang dari 2 tahun.
• Ibu menderita anemia atau kurang darah.
• Perdarahan pada kehamilan ini.
• Tekanan darah yang meninggi dan sakit kepala hebat dan adanya bengkak pada tungkai.
• Kelainan letak janin atau bentuk panggul ibu tidak normal.
• Riwayat penyakit kronik seperti diabetes, darah tinggi,asma dll.

Itu baru sebagian resiko yang harus dimengerti oleh para remaja agar tidak mengalami hal serupa. Kita sebagai pihak yang bertanggung jawab. Jadi kalau misalnya belum siap berkeluarga mending ndak usah neko-neko deh,”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s