Membicarakan Orang/Kelompok Lain, Kebiasaan Kitakah?

Oleh : Achmad Faisol

Penulis pernah mengikuti sebuah pelatihan. Untuk menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap kelompok yang sedang diikuti, salah satu mentor menunjukkan berbagai keunggulan kelompok yang sedang penulis ikuti. Demi meningkatkan rasa cinta, sang mentor juga membandingkan dengan organisasi lain. Sayangnya, karena terlalu bersemangat, beliau mungkin lupa (khilaf) sehingga beliau merendahkan yang lain dan mengunggulkan kelompok sendiri. Memang, niat ada di hati, tapi bukankah pemilihan kata mencerminkan maksud kita?

Buat apa kita membahas orang, kelompok, perkumpulan, harakah, organisasi, sekolah, kampus atau partai lain jika hanya untuk mencari kelemahan dengan tujuan merendahkan mereka? Apakah ini kebiasaan kita? Kalau memang alasan kita untuk analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity and Threat), mengapa kalimat yang terucap terkesan merendahkan dan meremehkan yang lain?

Apakah kita senang menyantap makanan dengan bahan baku bangkai hewan? Apakah kita juga termasuk orang yang suka menikmati hidangan berupa mayat manusia, apalagi itu saudara kita sendiri? Tentu tidak, kan?

Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS al-Hujurât [49] : 12)

Mungkin kita sudah mengerti dan paham betul maksud ayat tersebut. Mungkin pula kita sering lupa sehingga tak terasa lisan ini begitu mudah dan nikmat bila membicarakan selain kita.

Memang, menggunjing ibarat bumbu dapur agar percakapan di antara kita bisa bertahan lebih lama dan lebih seru. Namun, kadang kita tidak sadar bahwa lama-kelamaan, sebuah gunjingan akan menyebabkan buruk sangka terhadap orang/kelompok lain. Kita pun tak akan segan membuka aib orang/organisasi lain, termasuk saudara sesama muslim. Bahkan, kita akan menjadikan aib sesama sebagai bahan tertawaan. Kita akan senang melihat orang/perkumpulan lain jatuh dan terpuruk. Selain itu, menggunjing juga termasuk unsur kesombongan yang tersembunyi. Na‘ûdzubillâh.

Kalau kita tidak berhati-hati, secara tidak sadar, sedikit demi sedikit kita akan terbiasa melakukannya. Mula-mula menggunjing hanya sebagai bunga obrolan, namun kemudian berkembang menjadi makanan pokok yang harus ada setiap hari. Bibir akan terasa gatal bila belum menggunjing orang/organisasi lain. Selanjutnya kenistaan itu akan berkembang terus, beranak-pinak serta bermutasi dan bertransformasi menjadi perbuatan hina lainnya.

Di sebuah puisi, Syaikh Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazm al-Andalusi berpesan :

Kusaksikan betapa banyak buruk sangka dipelihara
Begitu pun aku, berburuk sangka pada
Apa yang nampak hina
Hendaknya kita menjauhi buruk sangka
Agar pertikaian tak lagi ada

Sungguh, api berkobar mulanya setitik saja
Begitu pula, soal besar mulanya remeh belaka
Bukankah pohon besar, dari benih kecil ia bermula

Ibnul Mubarak mengingatkan, “Pergilah dari orang yang menggunjing, sebagaimana engkau lari dari kejaran singa.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s