Mitigasi Bencana Pemanasan Global

Oleh : Arifin* (arifin_pararaja@yahoo.co.id).


Tanpa disadari oleh banyak orang, bahwa sebenarnya saat ini telah terjadi peningkatan suhu udara dunia akibat terjadinya pemanasan global. Gejala alam ini mulai diteliti secara aktif mulai dekade tahun 1980-an dan hasilnya sangat mengejutkan para ahli lingkungan karena kengerian akan dampak yang dikuatirkan muncul kemudian. Para ahli cuaca internasional memperkirakan bahwa planet bumi bakal mengalami kenaikan suhu rata – rata 3,5 oC memasuki abad mendatang sebagai efek akumulasi penumpukan gas rumah kaca.
Meskipun menurut perasaan temperatur di sekitar kita terlihat berfluktuasi secara tetap, namun pada kenyataannya dengan berdasarkan pada data yang ada, ternyata selama 50 tahun terakhir ini temperatur rata – rata bumi telah naik secara cepat. Untuk membayangkan efek rumah kaca ini sangat mudah. Bila pertama kali memasuki sebuah mobil yang diparkir di tempat yang panas. Temperatur di dalam mobil akan terasa lebih panas daripada temperatur di luar, karena energi panas yang masuk ke dalam mobil terperangkap di dalamnya dan tidak bisa keluar. Pada kondisi yang normal, efek rumah kaca adalah “baik” karena dengan demikian bumi akan menjadi hangat dan dapat menjadi tempat hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Tanpa efek rumah kaca, bagian bumi yang tidak terkena sinar matahari akan menjadi sangat dingin seperti di freezer lemari es (-18 oC).
Pemanasan global dalam bingkai pro dan kontra masih tetap diyakini disebabkan oleh industrialisasi selama 200 tahun terakhir oleh Barat dan berbagai macam aktivitas manusia khususnya seperti pengoperasian pabrik dan kendaraan yang menggunakan bahan bakar konvensional. Hasil pembakaran jenis ini antara lain gas CO2 yang dalam skala global akumulasinya mencapai miliaran ton setiap tahun yang disemburkan ke atmosfer bumi. Akibatnya, sinar matahari yang tiba ke permukaan bumi tak leluasa dipancarkan kembali ke ruang angkasa. Panas tersebut terperangkap dekat permukaan bumi, menghasilkan gejala seperti di rumah kaca yang digunakan untuk menyemaikan tanaman. Keadaan inilah yang memicu terjadinya pemanasan global.
Pemanasan global sedang dan terus akan terjadi dan takkan terhindarkan, demikian juga dengan efek rumah kaca. Akibat yang muncul sangat mencemaskan antara lain meliputi : kenaikan permukaan laut akibat proses pencairan es di kutub, perubahan pola angin, meningkatnya badai atsmosferik, bertambahnya populasi dan jenis organisme penyebab penyakit yang berdampak pada kesehatan, perubahan pola curah hujan dan siklus hidrologi serta perubahan ekosistem hutan, daratan dan ekosistem lainnya.
Sebagian pakar menyatakan bahwa fenomena itu masih merupakan suatu kewajaran yang memang harus terjadi dan tak perlu ditakutkan, sementara itu pakar yang lain menyatakan bahwa dalam kurun waktu 50 tahun terakhir ini “kecepatan” dari fenomena ini meningkat dan berada pada level yang “sangat mengkhawatirkan”, artinya jika “masa mengkhawatirkan” ini tidak segera diredam, maka kedepannya peradapan manusia akan mengalami masalah yang serius. Apalagi untuk Indonesia yang saat ini berada pada tingkat polusi yang membahayakan bagi kesehatan penduduknya.
Indonesia didaulat sebagai Negara keempat pembuang emisi gas rumah kaca (greenhouse gas; GHG) didunia. Namun jika berdasar indikator konversi lahan dan perusakan hutan, posisi Indonesia sebagai “aktor” penyebab pemanasan global berada di posisi ketiga. Emisi yang terbuang dari kebakaran hutan di Indonesia lima kali lebih besar dari emisi yang terbuang diluar non kehutanan. Emisi terbuang dari pemakaian energi dan aktivitas industri relatif masih kecil, namun secara perlahan tumbuh secara cepat.
Setiap tahunnya aktivitas dan pemakaian energi, pertanian dan limbah di Indonesia membuang emisi 451 juta ton karbon dioksida. Jumlah itu belum termasuk akibat konversi lahan dan perusakan hutan. Indonesia masih terbesar sebagai emitters gas rumah kaca. Negara pembuang emisi gas rumah kaca pertama diduduki Amerika Serikat (AS), disusul China dan Uni Eropa yang merangkum 25 negara. Sementara di bawah Indonesia, ada Brasil, Rusia, dan terakhir India. Peningkatan jumlah emisi memicu pemanasan global.
Dengan kecenderungan saat ini, maka 50 tahun mendatang diperkirakan rata – rata suhu global bakal naik antara 2-3 derajat Celsius. Di Indonesia, diantara akibat yang ditimbulkannya adalah menurunnya hasil panen serta meningkatnya resiko banjir sebagai implikasi dari naiknya curah hujan sebesar 2 – 3 % per tahun. Sementara itu, negara hanya menganggarkan 0,3 % dari belanja pemerintah untuk menangani masalah lingkungan dan masih memprioritaskan masalah – masalah lingkungan hidup tersebut di urutan keempat dengan alasan masih ada isu yang lebih besar untuk diselesaikan, misalnya kemiskinan, pendidikan, kesehatan. Hal ini sungguh ironis memang jika dibanding dengan negara – negara di dunia yang menempatkan urutan pertama untuk masalah lingkungan.
Langkah – langkah yang dilakukan atau yang sedang didiskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan mengingat konsumsi total bahan bakar fosil didunia meningkat sebesar 1 persen per – tahun. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah – langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan. Kerusakan yang parah dapat diatasi dengan berbagai cara. Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca (GRK) yang memicu terjadinya pemanasan global, yaitu penghilangan karbon (carbon sequestration) dan penghilangan gas rumah kaca (greenhouse gas elimination).
Saat ini beberapa kebijakan di Indonesia sudah sejalan dengan rekomendasi IPCC, antara lain target energi terbarukan dalam Kebijakan Energi Nasional, dimulainya penggunaan biofuel serta usaha penyediaan transportasi publik tentunya usaha – usaha mitigasi atau uasaha – usaha dalam mengurangi dan membatasi emisi gas rumah kaca harus sejalan dengan rencana pembangunan nasional, tinggal pengawasannya yang perlu ditingkatkan.
Indonesia patut belajar dari China. Untuk melaksanakan komitmen mengurangi emisi gas rumah kaca, China akan mengembangkan riset dan tekhnologi penyimpanan energi. Diantara kebijakan kunci tersebut, China berjanji mendorong efisiensi energinya sebesar 20% pada 2010. Jumlah energi yang dapat diperbaharui di China sebagai sumber energi campuran akan meningkat dari 7% sekarang menjadi 10% pada 2010. Selain itu, China hendak membangun infrastruktur pertanian, meningkatkan penanaman pohon, manajemen sumber daya air, dan meningkatkan penghargaan publik atas berbagai masalah tersebut. Diduga China juga akan mengundang investor untuk menjalankan proyek pengurangan emisi gas tersebut. Jika seluruh komitmen itu dijalankan, gas rumah kaca akan berkurang secara perlahan tapi tidak akan mengurangi jumlahnya secara drastis. Namun China tetap menegaskan bahwa tanggung jawab utama dipegang oleh negara – negara kaya.
Upaya – upaya sederhana yang dapat dilakukan dalam mengurangi emisi gas rumah kaca sebagai pemicu pemanasan global yang sebenarnya hal – hal ini sudah ada di sekitar kita antara lain :
a. Pengembangan etika hemat energi dan ramah lingkungan.
Budaya penghematan energi terutama yang terkait dengan energi yang dihasilkan dari bahan fosil (BBM) harus benar – benar dilaksanakan dengan penuh kesadaran. Dalam bidang transportasi misalnya pemakaian kendaraan bermotor yang boros bahan bakar hendaknya semakin dikurangi yang juga dibarengi dengan upaya perancangan peraturan secara ketat untuk mengurangi pencemaran udara dalam berbagai bentuk.
Upaya penghematan pemakaian listrik konsumsi rumah tangga perlu terus diupayakan terutama bila pembangkit listriknya mempergunakan bahan bakar diesel atau batu bara. Sebagai konsumen kita harus kritis melakukan penolakan untuk mempergunakan barang konsumsi dan peralatan yang masih menggunakan CFC dalam produknya karena saat kita memakaianya tak ubahnya kita menyediakan tali untuk menjerat leher kita sendiri di masa mendatang. Bahan CFC banyak dijumpai pada peralatan pendingin (kulkas, AC) serta tabung penyemprot parfum.
b. Subtitusi bahan bakar.
Penggunaan gas alam dalam aktifitas rumah tangga maupun industri ternyata berperan cukup nyata dalam mengurangi tingkat emisi gas rumah kaca. Gas alam menghasilkan CO2 ternyata 40% lebih rendah dibanding batu bara dan 25% lebih rendah dari minyak bumi sehingga dengan menukar sumber bahan bakar, kita bisa mengurangi tingkat emisi gas CO2.
c. Pelestarian hutan dan reboisasi.
Keberadaan hutan ternyata berfungsi luar biasa dalam menyerap gas CO2 sehingga dapat memperhambat penimbunan gas – gas rumah kaca. Penelitian menunjukkan bahwa untuk menyerap 10% emisi CO2 yang ada di atmosfer saat ini diperlukan upaya penanaman setidaknya pada areal seluas negara Turki. Seandainya saja setiap jiwa di Papua menanam satu batang pohon maka setidaknya ada sekitar 2.000 hektar hutan baru yang akan mampu menyerap sekitar 200.000 ton karbon. Suatu jumlah yang cukup berarti bagi upaya pelestarian bumi. Perlu komitmen secara global untuk mengurangi kerusakan hutan maupun kebakaran hutan dan menggiatkan upaya reboisasi pada lahan kosong.
Sebenarnya masih banyak langkah – langkah antisipatif yang dapat dilakukan terutama dalam tataran kebijakan nasional (policy) dalam rangka mencegah pemanasan global, namun semuanya berpulang kembali kepada kesadaran kita semua selaku individu. Kinilah saatnya berpartisipasi secara aktif bagi bumi yang telah memberikan kehidupan bagi kita. Bumi ini hanya satu marilah kita menjaganya dan tidak mengotorinya karena hal itu hanya akan mendatangkan bencana bagi semua penghuninya termasuk anak cucu kita. Mari kita wariskan bumi yang bersih dan sehat bagi generasi mendatang.

*Pemenang lomba karya tulis mahasiswa 2008 dalam milad http://www.unistangerang.ac.id yang dihadiri oleh Prof. Emil Salim (mantan menteri Lingkungan Hidup).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s