Sekolah Internasional Vs Konvensional Vs Quality

Adakah yang tau definisi dari Sekolah Standart Nasional (SSN), Sekolah Nasional Plus (SNP) atau Sekolah Bertaraf/Standart Internasional (SSI)? Sah-sah saja menjadikan sekolah berlabel demikian , akan tetapi…. maaf, akan tetapi, kalau boleh aku tau, label-label itu bisa aku pahami (baca) dimana dan referensi apa yang dipakai. Apa karena hanya menggunakan pengantar bahasa asing, mengimport guru bule, dan mengedapankan TI. kebebasan dalam melabelkan pendidikan di negara ini bak jamur di tanah lembab. Sebagai contoh, mereka mengkolaborasikan kurikulum nasional dan asing dan membentuk asosiasi (Association of National Plus School ; ANPS). Karena merasa ‘wah dibanding sekolah lain, sekolah swasta/negeri dapat menyebut dirinya sebagai Sekolah Standar/bertaraf Internasional. Lain halnya dengan sekolah internasional, notabene muridnya memang bule dan terdiri dari berbagai negara bukan sistem pendidikannya yang internasional. Wo Ai Ni, Indonesia. Ulala beibe.

SECARA berseloroh, seorang pendidik mengemukakan hal yang bisa menyentak, “Kalau ingin cepat kaya, buatlah sekolah.” Alasannya, semua orang menginginkan pendidikan yang baik. Dan, bila kita bisa menciptakan sekolah yang baik, lembaga ini bisa menjadi tempat yang amat strategis untuk bisnis. Dengan kata lain, sekolah bisa dibisniskan karena masyarakat membutuhkannya.

“Tidak hanya itu. Semakin sekolah itu berbiaya mahal, ia semakin laku. Semakin sekolah dikatakan plus atau berbau internasional, semakin banyak orang tergiur untuk memasukinya. Maka, dalam masyarakat kita mulai muncul, kalau sesuatu itu bermutu, maka harus ada ISO-nya. Sekolah juga begitu. Selain ISO, kalau mungkin, sekolah juga memberi embel-embel internasional,” kata pendidik itu menambahkan.

ATAS munculnya sekolah-sekolah yang kabarnya menggunakan standar internasional dan menarik uang masuk mulai dari Rp 30 juta hingga Rp 60 juta dan uang sekolah Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per bulan, masih mengemban misi ingin mencerdaskan bangsa? Entahlah. Namun, fenomena baru yang muncul di masyarakat justru sekolah-sekolah seperti itu yang kini malah laku. Lakunya sekolah seperti itu umumnya karena menggunakan bahasa asing sebagai pengantar, jumlah siswa yang kecil untuk tiap kelas, dan fasilitas yang canggih.

Sudah tak terhitung, berapa banyak sekolah berlabelkan SNP, SSN dan SSI serta Sekolah Internasional (SI) Wow… keren. Tapi apa arti Label itu semua. Mari kita kembali ke UU RI. No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menggantikan dan penyempurnaan dari UU. No.2 tahun 1989. Tujuannya jelas, supaya penyelenggaraan pendidikan di Tanah air berada dalam rambu-rambu pendidikan nasional (pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD RI ’45 yang berakar pada nilai nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman).

Sangat banyak perijinan yang harus dilalui, UU sendiri telah mengatur secara lengkap bagaimana cara mendirikan lembaga pendidikan. Bapak, Ibu, Mas, Mbak pernahkan melihat sekolah didirikan di dekat pabrik, Rumah Toko (Ruko) atau di lahan yang sempit yang terkesan apa adanya? Bahkan untuk menarik orang tua murid, sekolah tidak sungkan-sungkan menambah muatan import (bahasa asing). Gaya hidup orang tua posmo mendorong menjamurnya pendidikan semacam ini. Orang tua mana yang tak bangga jika si kecil bisa sedikit berceloteh dengan bahasa asing.

3 thoughts on “Sekolah Internasional Vs Konvensional Vs Quality

  1. sekarang nambah lagi pak, ada istilah srbi yang menggantikan sbi. jelimetnya sama aja.

    kalau saya sih bukannya bangga atau sombong mengajar di sekolah srbi dan di kelas internasional. terpaksa (kayak ga ikhlas yah kelihatannya…??) karena saya ditempatkan di situ sejak pertama kali diterima jadi guru dan… karena ga ada guru laen yang mau dijadikan ‘tumbal’ mengajar di kelas2 tersebut.
    menurut saya sih, manager sekolah2 tersebut juga ga bisa mengelak karena tuntutan pemerintah pusat. kan sering maen tunjuk aja, siap ga siap kita harus jalanin karena ada sk dari pusat.

  2. Pendidikan internasional beda dengan sekolah internasional, beda pula dg sek berstandar internasional. Beda juga dengan sekolah national plus. Jangan bingung ya. Jadi,yg digambarkan ttg sekolah di atas tadi; mnrt saya sih, sekolah sok international. Yg dicari cuma keuntungan nambah koceknya sendiri. Dan, saya yakin seyakin2nya,memang ada yg kayak gt.

  3. Saya setuju pada artikel saudara, tentang banyaknya label sekolah yang banyak beredar di Indonesia, dan kebanyakan dari mereka hanya ingin mengambil keuntungan semata.Saya adalah seorang guru dari salah satu sekolah yang tergabung dalam ANPS. Beberapa kali saya mengikuti meeting dalam forum ANPS, yang saya tangkap adalah, semua ide-ide datang dari org2 bule yg belum tentu cocok untuk culture kita. Tetapi ada hal yang positif yang dapat saya ambil dari setiap pertemuan tersebut. Kenapa sekolah2 pemerintah tidak dapat mengadopsi model sekolah2 seperti itu. Jangan bilang karena tidak ada modal. Kita dapat memulai belajar dari alam Indonesia, yang akan membawa anak2 belajar untuk membekali mereka dikemudian hari. Saya sangat memimpikan agar setiap sekolah di Indonesia tidak hanya untuk kaum berpunya saja. Lain dengan keadaan yg ada sekarang bawha hanya “the Have” saja yang layak untuk mendapatkan pendidikan yg bagus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s