PERAN TEKNIK ISOTOP DALAM MITIGASI PERUBAHAN IKLIM GLOBAL

Teknik isotop alam adalah salah satu teknik yang sangat berguna dalam penelitian yang berkaitan dengan perubahan iklim serta respon dari lingkungan terhadap perubahan tersebut. Hal ini dimungkinkan karena isotop alam tersebut, baik yang bersifat stabil atau radioaktif, terdapat dalam berbagai matriks alam seperti sediment di danau dan lautan, sebagai komponen dari molekul air dalam bentuk es yang terdapat di kutub bumi, glasir dan lapisan es di daerah dingin dan puncak pegunungan, sebagai presipitasi dan bahkan yang terdapat pada pepohonan.

Kandungan isotop dapat diukur dan datanya dapat digunakan untuk merekonstruksi terjadinya perubahan iklim. Data tersebut juga dapat digunakan untuk studi adanya interaksi kompleks antara atmosfer, lautan dan biosfer yang ketiganya saling mempengaruhi faktor-faktor terjadinya perubahan iklim. Salah satu contoh penggunaan teknik isotop adalah teknik penanggalan dengan karbon-14 yang dapat digunakan untuk mengestimasi waktu kapan suatu material mengabsorb karbon-14.

Teknik ini biasa digunakan untuk mengestimasi waktu tinggal (residence time) air dalam akuifernya, untuk penanggalan fosil dan sediment serta dapat digunakan dalam studi atmosfer karena karbon dioksida terdapat di atmosfer bumi dalam jumlah yang besar. Inter relasi antara karbon-14, karbon-13 dan oksigen-18 dalam gas karbon dioksida di atmosfer dapat digunakan dalam studi interaksi antara lautan dan atmosfer. Dengan mengetahui kandungan isotop stabil hydrogen-2 dan oksigen-18 dalam kerang (shell) yang diambil dari sediment dasar lautan, memungkinkan untuk mengetahui suhu air pada saat kerang tersebut masih hidup.

Data komposisi isotop pada lapisan paling bawah dari es dan glasir yang diambil dengan core sampling dapat memberikan informasi tentang curah dari presipitasi, suhu, kecepatan angin dan konsentrasi gas rumah kaca pada masa yang lalu. Metodologi teknik perunut isotop dapat digunakan untuk mengetahui asal dari gas rumah kaca yaitu dari kadar karbon-13 dalam karbon dioksida gas rumah kaca tersebut. Isotop deuterium dan oksigen-18 juga dapat digunakan sebagai indikator parameter yang berkaitan dengan iklim misalnya suhu udara, kelembaban udara dan banyaknya curah hujan.

Dari uraian singkat ini dapat dicatat bahwa teknik isotop merupakan teknik yang sangat bermanfaat dalam menyajikan data dimana para ilmuwan dapat melihat ke belakang ke masa lalu dan mengembangkan suatu opsi modelling untuk memprediksikan kondisi mendatang dan meminimalkan dampak dari perubahan iklim global.

*Wandowo, 2005; “Mewaspadai Terjadinya Krisis Sumber Daya Air Bersih”, P3TIR – BATAN

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s