SEKOLAH, DARI MASA KE MASA.

Di dalam jagad pewayangan dikenal istilah padhepokan sebagai tempat penggemblengan bagi para calon ksatria agar kelak dapat megabdikan diri bagi kepentingan darma kemanusiaan. Para calon ksatria tersebut biasanya diajar oleh seorang ajar atau guru. Untuk mendapatkan kesempurnaan ilmu, para cantrik (calon ksatria yang berguru), diajarkan ilmu kanuragan, tata negara dan tentunya ilmu agama.

Dalam sejarah praja Majapahit, barangkali tercatat dalam sejarah adanya sebuah institusi untuk mencetak calon pejabat negara atau tanda, istilahnya PPCT (Pusat Pendidikan Calon Tanda). Lembaga ini mendidik calon pejabat mulai tingkat wedana, perwira prajurit hingga pangeran adipati anom. Para siswa tanda biasanya berasal dari para putra pejabat (kasta ksatria), namun demikian ada juga kalangan Sudra maupun Waisya yang dapat mengikuti pendidikan dikarenakan dharma bakti luar biasa yang diberikan kepada negara. Kuti dan Semi adalah contoh perwakilan rakyat awam yang menjadi siswa tanda.

Dalam dunia modern sistem pendidikan kemudian berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang menjadi obyek pembelajaran. Sebagaimana diketahui pada saat awal peradaban manusia hanya dikenal ilmu secara umum, atau general science. Seiring berkembangnya peradaban manusia, permasalahan yang dihadapi manusia juga bertambah kompleks. Hal tersebut mendorong munculnya cabang – cabang ilmu yang lebih spesifik.

Kelembagaan institusi pendidikan kemudian juga berkembang mengikuti dinamika permasalahan kehidupan. Berawal dari lembaga yang bercorak tradisional, kemudian berkembang menjadi lembaga yang lebih terstruktur, sistematis, dan modern. Mulai dari padhepokan, pesantren, taman bermain, sekolah, hingga suatu institut atau universitas. Lembaga pendidikan itupun kemudian dibuat secara berjenjang dan bertingkat sesuai dengan kapasitas siswa yang mengikuti pendidikan.

Pada jenjang pendidikan tinggi dikenal beberapa lembaga mulai dari akademi, sekolah tinggi, hingga institut atau universitas. Kelembagaan yang mencakup bidang keilmuan yang paling luas adalah sebuah universitas. Pada universitas memiliki banyak fakultas yang jika terhimpun akan menjadi satu kesatuan keilmuan yang bersifat universal. Dengan demikian seorang sarjana lulusan sebuah universitas harusnya menguasai ilmu dan keahlian yang bersifat universal.

Namun pada kenyataannya, seorang sarjana sebenarnya hanya menguasai satu bidang keilmuan sehingga senyatanya bahwa kemampuan dan keilmuannya lebih bersifat fakultatif. Dengan demikian sebuah universitas adalah kumpulan fakultas yang mengajarkan ilmu secara fakultatif atau parsial saja atau dengan istilah lain juz”iyyah. Dengan demikian istilah perkuliahan sebenarnya juga merupakan pengertian yang sedikit rancu.

Istilah yang tepat ketika seseorang melakukan pembelajaran sebuah cabang ilmu yang bersifat fakultatif adalah mengikuti kegiatan juziyyah, bukan kuliah. Kalau kuliah semestinya harus mempelajari bidang ilmu secara keseluruhan atau kauliyyah, sehingga penguasaan keilmuannya universal dan komprehensif mulai dari filsafat, ekonomi, hukum, psikologi, teknik, biologi, farmasi, dll.

Adopted from : “Universitas Jagad Raya”. sangnanang.dagdigdug.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s