PENGGUNAAN MEDIA PENDIDIKAN PADA PENGAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH MENENGAH

Adi Suarman Situmorang 1

1FKIP Universitas Darma Agung Medan, Jl. Sriwijaya Medan, Sumatera Utara, Indonesia

ABSTRACT

The uses of educational media for the teaching of mathematics in high school is explained in the paper. The research was conducted onto the high school students in Medan. The research was carried out through teaching the students with a Concept map media and analises the effectivity of the media in enhanching the ability of students in understanding the concept of mathemetics. Based on the preliminari test it was foud that most of the student 65%) have low understanding ability on the concept of mathematics. After³( teaching the students by using educational media it was found that most of the students (89%)understand the concept of the mathematics.

Kata kunci: Media pendidikan, petakonsep, belajar tuntas, pangkat rasional, dan bentuk akar

Pendahuluan

Upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, khususnya peningkatan mutu pendidikan matematika masih terus diupayakan, karena sangat diyakini bahwa matematika merupakan induk dari Ilmu pengetahuan. Dalam berbagai diskusi pendidikan di Indonesia, salah satu sorotan adalah mutu pendidikan yang dinyatakan rendah bila dibandingkan dengan dengan mutu pendidikan Negara lain. Salah satu indikator adalah mutu pendidikan matematika yang disinyalir telah tergolong memprihatinkan yang ditandai dengan rendahnya nilai rata-rata matematika siswa di sekolah yang masih jauh lebih rendah dibandingakan dengan nilai pelajaran lainnya. Bahkan banyak diperbincangkan tentang nilai ujian akhir nasional (UAN) bidang studi matematika yang cenderung rendah dibandingkan dengan bidang studi lainnya. Sudah sering dikemukakan oleh tokoh-tokoh pendidikan baik dalam media massa maupun dalam penelitian. Namun bukan hanya dari UAN yang menunjukkan bahwa nilai bidang studi matematika cenderung rendah dibandingkan dengan bidang studi lainnya. Salah satunya adalah hasil olympiade matematika SMU tingkat nasional menunjukkan bahwa bidang studi matematika cenderung rendah dibandingkan dengan bidang studi lainnya. Hal ini disebabkan oleh lemahnya pemahaman konsep dasar matematika siswa dan siswa belum bisa memahami formulasi, generalisasi, dan konteks kehidupan nyata dengan ilmu matematika. Bahkan diperoleh keterangan 80% dari peserta memiliki penguasaan konsep dasar matematika yang sangat lemah.

Dalam upaya meningkatkan kualita pendidikan, maka diperlukan berbagai terobosan, baik dalam pengembangan kurikulum, inovasi pembelajaran, dan pemenuhan sarana dan praarana pendidikan. Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa maka guru dituntut untuk membuat pembelajaran menjadi lebih inovatif yang mendorong siswa dapat belajar secara optimal baik di dalam belajar mandiri maupun didalam pempelajaran di kelas. Inovasi model-model pembelajaran sangat diperlukan dan sangat mendesak terutama dalam menghasilkan model pembelajaran baru yang dapat memberikan hasil belajar lebih baik, peningkatan efisiensi dan efektivitas pembelajaran menuju pembaharuan. Agar pembelajaran lebih optimal maka media pembelajaran harus efektif dan selektif sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan di dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

Dalam hal peningkatan mutu pendidikan, guru juga ikut memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas siswa dalam belajar matematika dan guru harus benar-benar memperhatikan, memikirkan dan sekaligus merencakan proses belajar mengajar yang menarik bagi siswa, agar siswa berminat dan semangat belajar dan mau terlibat dalam proses belajar mengajar, sehingga pengajaran tersebut menjadi efektif (Slameto, 1987:). Untuk dapat mengajar dengan efektif seorang guru harus banyak menggunakan metode, sementara metode dan sumber itu terdiri atas media dan sumber pengajaran (Suryosubroto, 1997). Di samping itu, seorang pendidik dalam mengajar pada proses belajar mengajar hendaknya menguasai bahan ajaran dan memahami teori-teori belajar yang telah dikemukakan oleh para ahli, sehingga belajar matematika itu bermakna bagi sisiwa sebab menguasai matematika yang akan diajarkan merupakan syarat esensial bagi guru matematika karena penguasaan materi belum cukup untuk membawa peserta didik berpartisipasi secara intelektual (Hudojo, 1988:7).

Belajar Matematika

Untuk mengatasi dan meningkatkan mutu pendidikan matematika yang selama ini sangat rendah, dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain meningkatkan metode dan kualitas guru agar memiliki dasar yang mantap sehingga dapat mentransfer ilmu dalam mempersiapkan kualitas sumber daya manusia. Secara umum, pendidikan sebenarnya merupakan suatu faktor rangkaian kegiatan komunikasi antar manusia. Kegiatan tersebut dalam dunia pendidikan disebut dengan kegiatan proses belajar-mengajar yang dipengaruhi oleh faktor yang menentukan keberhasilan siswa. Sehubungan dengan faktor yang menentukan keberhasilan sisiwa dalam belajar ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan sisiwa untuk belajar, yaitu: (1) faktor internal, yaitu yang muncul dari dalam diri sendiri, dan (2) faktor eksternal, yaitu faktor yang muncul dari luar diri sendiri (Slameto, 1987)

Selain itu matematika merupakan suatu disiplin ilmu yang mempunyai kekhususan dibanding dengan disiplin ilmulainnya yang harus memperhatikan hakekat matematika dan kemampuan siswa dalam belajar. Tanpa memperhatikan faktor tersebut tujuan kegiatan belajar tidak akan berhasil. Seorang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan dalam diri orang itu menjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku itu dapat diamati dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama disertai usaha yang dilakukan sehingga orang tersebut dari yang tidak mampu mengerjakan sesuatu menjadi mampu mengerjakannya (Hudojo, 1988). Dalam proses belajar matematika, prinsip belajar harus terlebih dahulu dipilih, sehingga sewaktu mempelajari metematika dapat berlangsung dengan lancar, misalnya mempelajari konsep B yang mendasarkan pada konsep A, seseorang perlu memahami lebih dahulu konsep A. Tanpa memahami konsep A, tidak mungkin orang itu memahami konsep B. Ini berarti mempelajari matematika haruslah bertahap dan berurutan serta mendasarkan pada pengalaman belajar yang lalu (Hudojo, 1988).

Dalam menjelaskan konsep baru atau membuat kaitan antara materi yang telah dikuasai siswa dengan bahan yang disajikan dalam pelajaran matematika, akan membuat siswa siap mental untuk memasuki persolan-persoalan yang akan dibicarakan dan juga dapat meningkatkan minat dan prestasi siswa terhadap materi pelajaran matematika. Sehubungan dengan hal diatas, kegiatan belajar-mengajar matematika yang terputus-putus dapat mengganggu proses belajar-mengajar ini berarti proses belajar matematika akan terjadi dengan lancar bila belajar itu sendiri dilakukan secara kontiniu (Hudojo, 1988). Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa seseorang akan lebih mudah untuk mempelajari sesuatu apabila belajar didasari pada apa yang telah diketahui sebelumnya karena dalam mempelajari materi matematika yang baru, pengalaman sebelumnya akan mempengaruhi kelancaran proses belajar matematika.

Media Dalam Pendidikan

Media sangat berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk untuk peningkatan kualitas pendidikan matematika. Media pendidikan dapat dipergunakan untuk membangun pemahaman dan penguasaan objek pendidikan. Beberapa media pendidikan yang sering dipergunakan dalam pembelajaran diantaranya media cetak, elektronik, model dan peta (Kreyenhbuhl, 1991). Media cetak banyak dipergunakan untuk pembelajaran dalam menjelaskan materi kuliah yang kompleks sebagai pendukung buku ajar. Pembelajaran dengan menggunakan media cetak akan lebih efektif jika bahan ajar sudah dipersiapkan dengan baik yang dapat memberikan kemudahan dalam menjelaskan konsep yang diinginkan kepada mahasiswa.

Media elektronik seperti video banyak dipergunakan di dalam pembelajaran sain. Penggunaan video sangat baik dipergunakan untuk membantu pembelajaran, terutama untuk memberikan penekanan pada materi kuliah yang sangat penting untuk diketahui oleh mahasiswa. Harus disadari bahwa video bukan diperuntukkan untuk menggantungkan pengajaran pada materi yang diperlihatkan pada video, sehingga pengaturan penggunaan waktu dalam menggunakan video sangat perlu, misalnya maksimum 20 menit. Inovasi model pembelajaran dengan menggunakan video dalam percobaan yang menuntut ketrampilan seperti pada kegiatan praktikum sangat efektif bila dilakukan dengan penuh persiapan. Sebelum praktikum dimulai, video dipergunakan untuk membatu mahasiswa memberikan arahan terhadap apa yang harus mereka amati selama percobaan. Selanjutnya, video diputar kembali pada akhir praktikum untuk mengklarifikasi hal-hal penting yang harus diketahui oleh mahasiswa dari percobaan yang sudah dilakukan (Situmorang, 2003).

Media lain yang dipergunakan dalam pembelajaran sain adalah petakonsep. Penggunaan media petakonsep di dalam pendidikan sudah dilakukan sejak tahun 1977, yaitu dalam pengajaran Biologi (Novak, 1977), dan sejak itu media petakonsep berkembang dan telah dipergunakan dalam pembelajaran sain. Media petakonsep bertujuan untuk membangun pengetahuan siswa dalam belajar secara sistematis, yaitu sebagai teknik untuk meningkatkan pengetahuan siswa dalam penguasaan konsep belajar dan pemecahan masalah (Pandley, dkk. 1994). Petakonsep merupakan media pendidikan yang dapat menunjukkan konsep ilmu yang sistematis, yaitu dimulai dari inti permasalahan sampai pada bagian pendukung yang mempunyai hubungan satu dengan lainnya, sehingga dapat membentuk pengetahuan dan mempermudah pemahaman suatu topik pelajaran. Langkah yang dilakukan dalam inovasi model pembelajaran dengan media petakonsep adalah memikirkan apa yang menjadi ‘pusat’ topik yang akan diajarkan, yaitu sesuatu yang dianggap sebagai konsep ‘inti’ dimana konsep-konsep pendukung lain dapat diorganisasikan terhadap konsep inti, kemudian menuliskan kata, peristilahan dan rumus yang memiliki arti, yaitu yang mempunyai hubungan dengan konsep inti, dan pada akhirnya membentuk satu peta hubungan integral dan saling terkait antara konsep atas-bawah-samping (Situmorang, dkk., 2000).

Belajar akan mempunyai kebermaknaan yang tinggi dengan menjelaskan hubungan antara konsep-konsep (Dahar, 1989:132). Berarti konsep dapat dipahami melalui hubungan atau interaksinya dengan konsep yang lain. Salah satu cara untuk menjelaskan dan mengaitkan hubungan antara konsep-konsep adalah petakonsep. Media petakonsep merupakan media pendidikan yang dapat menunjukkan konsep ilmu yang sistematis, yaitu dimulai dari inti permasalahan sampai pada bagian pendukung yang mempunyai hubungan satu dengan lainnya, sehingga dapat membentuk pengetahuan dan mempermudah pemahaman suatu topik pelajaran (Pandley, dkk 1994). Langkah yang dilakukan dalam membuat media petakonsep adalah memikirkan apa yang menjadi ‘pusat’ topik yang akan diajarkan, yaitu sesuatu yang dianggap sebagai konsep ‘inti’ dimana konsep-konsep pendukung lain dapat diorganisasikan terhadap konsep inti, kemudian menuliskan kata, peristilahan dan rumus yang memiliki arti, yaitu yang mempunyai hubungan dengan konsep inti, sehingga akhirnya membentuk satu peta hubungan integral dan saling terkait antara konsep atas-bawah-samping (Nakhleh, 1994).

Cara belajar dengan menggunaka bantuan petakonsep merupakan cara untuk meningkatkan hasil belajar (Novak dan Growing dalam Nakhleh, 1996). Selain itu petakonsep dapat membantu siswa untuk memahami materi pelajaran yang diperoleh karena tidak hanya sekedar hapalan, melainkan betul-betul mengidentifikasi konsep yang diperoleh (Novak dalam Domin, 1996). Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa petakonsep menyediakan skema-skema untuk menganalisis stimulus-stimulus baru, dan untuk menentukan hubungan di dalam dan di antara kategori-kategori. Belajar petakonsep merupakan hasil utama pendidikan. Petakonsep merupakan batu-batu pembangun (building blocks) berpikir. Petakonsep merupakan dasar bagi proses-proses mental yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi. Penggunaan media petakonsep dalam pendidikan pertama kali diperkenalkan pada tahun 1977 saat mengajarkan pokok bahasan sistematika dalam mata pelajaran biologi (Novak dalam Pandley, 1977). Beberapa penelitian penggunaan media petakonsep dalam pengajaran kimia juga telah dilakukan (Pandley, dkk. 1994; Nakhleh, 1994). Efektifitas media petakonsep dalam pengajaran di sekolah menengah umum (SMU) di Sumatera Utara telah dijelaskan (Situmorang, dkk. 2001 dan Purba, dkk 1997). Penelitian dilakukan terhadap siswa kelas satu SMU dengan melakukan pengajaran menggunakan media petakonsep dan metode ceramah sebagai kontrol. Hasil penelitian menujukkan bahwa pengajaran menggunakan media petakonsep dapat meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi kimia memotivasi siswa belajar sistematis dalam pemecahan masalah kimia. Walaupun media petakonsep telah banyak digunakan untuk bidang eksakta, akan tetapi media pendidikan ini masih sedikit digunakan dalam pengajaran matematika. Untuk mengetahui bahwa penggunaan media petakonsep efektif dalam meningkatkan prestasi belajar matematika siswa khususnya pada Materi Pangkat Rasional dan Bentuk Akar, maka telah diadakan penelitian dengan pengajaran materi pangkat rasional dan bentuk akar di SMU.

Untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil tes dilakukan langkah-langkah meliputi: tingkat penguasaan, ketuntasan belajar, dan ketercapaian TPK. Tingkat penguasaan siswa pada materi pangkat rasional dan bentuk akar. Untuk mengetahui sejauah mana tingkat penguasaan siswa terhadap materi tersebut adalah dengan menggunakan konversi lima atau skala lima norma absolut (Nurkancana, 1986). Ketuntasan belajar dinyatakan apabila siswa telah mencapai skor 65% dan suatu kelas telah tuntas belajar bila terdapat 85% yang mencapai daya serap 65%”, sedangkan ketercapaian TPK dikatakan telah tuntas apabila 70% dari TPK yang ada telah tuntas diajarkan. Depdikbud (Erdawati, 2000).

Hasil Belajar Siswa

Dari data yang dikumpulkan dan berdasarkan hasil perhitungan diperoleh bahwa rata-rata kelas untuk skor tes awal sudah termasuk baik yaitu 6,92, namun ketuntasan belajar secara klasikal belum tercapai karena siswa yang memiliki daya serap ≥ 65% ada sebanyak22 orang (61,11%) hal ini menunjukkan bahwa ketuntasan belajar secara klasikal belum tercapai (Tabel 1). Dari table diperoleh jumlah siswa yang tuntas belajar (Daya serap ≥ 65%) adalah sebanyak 32 orang (88,88%), berarti ketuntasan belajar secara klasikal telah tercapai. Dari hasil diketahui bahwa ada satu tujuan khusus pembelajaran yang belum tuntas yaitu menyederhanakan pecahan bersusun serta mengubah bentuk berpangkat kedalam bentuk akar dan sebaliknya. Dari enam TPK yang ditetapkan terdapat lima TPK atau 83,33% TPK yang tuntas. Dari Kriteria TPK maka ketuntasan pencapaian TPK pada materi Pangkat Rasional dan Bentuk Akar sudah tercapai. Sesuai dengan kriteria ketuntasan hasil belajar, berarti dapat dikatakan bahwa hasil belajar yang diperoleh dengan menggunakan media petakonsep pada pokok bahasan Pangkat Rasional dan Bentuk akar di kelas 1 SMU adalah efektif, karena dari 36 orang siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan media petakonsep terdapat 32 siswa yang memperoleh nilai ≥0,65 (daya serap ≥65%) hal ini

menunjukkan bahwa ketuntasan belajar secara klasikal telah tercapai (Tabel 1).

Tabel 1. Hasil pencapaian TIK Pokok Bahasan Pangkat Rasional dan Bentuk Akar


NO. TIK

Nomor butir

P. Butir

P. TIK

Ketuntasan Belajar P≥0,65

1

1

100%

100%

Tuntas

2

2

10

93,05%

94,44%

Tuntas

3

3

75%

75%

Tuntas

4

4

5

79,62%

58,33%

68,97%

Tidak Tuntas

5

6

7

76,39%

90,27%

83,33%

Tuntas

6

8

9

86,11%

83,33%

84,72%

Tuntas

Temuan Penelitian

Dari pengamatan peneliti pada saat penelitian, ditemukan bahwa siswa sangat bersemangat belajar dan mengerjakan setiap soal-soal pada latihan yang tersedia dengan menanamkan konsep dasar pada rangkaian konsep-konsep yang diberikan kepada siswa. Siswa yang daya serapnya diatas 65% sebelum menggunakan petakonsep adalah 61,11%, dan siswa yang daya serapnya diatas 65% setelah pengajaran menggunakan petakonsep adalah 88,88% berarti ada peningkatan sekitar 27,77%

Setelah Melihat hasil belajar siswa secara klasikal dari hasi analisis data maka dapat dikatakan bahwa pengajaran dengan menggunakan media petakonsep efektif digunakan dalam mencapai ketuntasan hasil belajar siswa pada pokok bahasan Pangkat Rasional dan Bentuk Akar dikelas 1 SMU Negeri 11 Medan Tahun Ajaran 2003/2004. Hal ini dapat terjadi karena Media petakonsep merupakan media pendidikan yang dapat menunjukkan konsep ilmu yang sistematis, yaitu dimulai dari inti permasalahan sampai pada bagian pendukung yang mempunyai hubungan satu dengan lainnya, sehingga dapat membentuk pengetahuan dan mempermudah pemahaman suatu topik pelajaran (Pandley, dkk 1994). Dan petakonsep dapat membantu siswa untuk memahami materi pelajaran yang diperoleh karena tidak hanya sekedar hapalan, melainkan betul-betul mengidentifikasi konsep yang diperoleh (Novak dalam Nakhle, 1996). Selai itu Belajar akan mempunyai kebermaknaan yang tinggi dengan menjelaskan hubungan antara konsep-konsep (Dahar, 1989). Namau peneliti mengakui bahwa masih banyak kelemahan dari penelitian ini yang ara lain:

Dalam pengumpulan data, peneliti hanya berdasar pada hasil tes siswa yang mana hal itu belum tepat sebagai bukti untuk mendukung hasil penelitian. Dalam menganalisis data peneliti hanya menganalisi lembar jawaban siswa, sehingga kurang mengetahui apakah siswa telah memahami betul atau tidak dan kurang mengetahui kesulitan yang dialami oleh siswa. Waktu, serta kemampuan peneliti yang masih sangat terbatas dalam melaksanakan penelitian ini. Tetapi dengan berpedoman pada kerangka teoritis dan dan hasil dari penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa pengajaran dengan menggunakan media petakonsep perlu dilaksanakan pada kelas yang belum mencapai kriteria ketuntasan belajar.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan 65% ada sebanyak³bahwa dari tes awal diperoleh siswa yang mencapai daÊH serap 22 orang (61,11%) berarti ketuntasan belajar secara klasikal belum tercapai, sedangkan dari hasil tes akhir diperoleh tingkat pencapaian hasil belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan media petakonsep pada pokok bahasan pangkat rasional dan bentuk akar adalah tinggi, pencapaian tujuan khusus pembelajaran 65%³sudah memenuhi kriteria ketuntasan TPK. Siswa yang mencapai daya serap sebanyak 88,88% berarti ketuntasan belajar secara klasikal telah tercapai, maka dapat dikatakan bahwa pengajaran dengan menggunakan media petakonsep efektif digunakan dalam mencapai ketuntasan hasil belajar pada pokok bahasan pangkat rasional dan bentuk akar.

DAFTAR PUSTAKA

Dahar,.R.W., (1989), Teori-Teori Belajar, Jakarta, Erlangga

Depdikbud, (1995), Kurikulum Sekolah Menengah Umum, GBPP Mata Pelajaran Matematika, Keputusan Mendikbud Nomor 061/U/1995, tgl 25 Februari 1995, Depdikbud Jakarta.

Domin, D.S., (1996), Concept Mapping and Representational Systems, Journal of Resarch in Scince Teaching 32(9): 935-936

Endarwati, (2000), efektifitas pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing pada topik deret arit matika di kelas I SMU taman siswa medan. Skripsi, Medan, Universitas Negeri Medan UNIMED

Engkoswara, (1984), Dasar-Dasar Metodologi Pengajaran, Bina Aksara, Jakarta.

Esyobu, G.O. dan Soyibo, K., (1995), Effect of Concept and Vee Mapping Under Three Learning Modes on Student’s Cognitive Achievement In Ecologi and Genetics, Journal of Research Sciance Teaching 32(9): 971-995

Hudojo, H., (1988), Mengajar Belajar Matematika,.Depdikbud, Jakarta

Kreyenbuhl, J.A. dan Atwood, C.H., (1991), Are we teaching the right things in general chemistry?, Journal of Chemical Education 68: 914-918.

Nakhleh, M. B. dan Krajcik, J.S., 1996, Reply To Daniel, S. Domin’s Comment On Concept Mapping and Representation Systems, Journal of Research Science Teaching 33(8): 951-952.

Noormandiri, B.A.K., (2000), Matetmatika Suplemen Jilid I Untuk SMU Kelas 1, Erlangga, Jakarta

Novak, J.D., (1977), New trends in Biology teaching, Science Education 61: 453-477.

Pandley, B.D.; Bretz, R.L. dan Novak, J.D., (1994), Concept maps as a tools to assess learning in chemistry, Journal of Chemical Education 71(1): 9-15.

Purba, J.; Situmorang, M.; dan Tambunan, M.M., (1997), Efektifitas Media Petakonsep dan Diagram-V Untuk Meningkatkan Penguasaan Materi Kimia Sekolah Menengah Umum di Sumatera Utara, Laporan Penelitian FPMIPA IKIP Medan.

Situmorang, M.; Purba, J. dan Tambunan, M.M., (2000), Efektifitas media petakonsep dalam pengajaran kimia konsep mol di sekolah menengah umum, Pelangi Pendidikan 7(1): 31-35.

Slameto, (1987), Teori-Teori Belajar Mengaja, Jakarta, Rineka Cipta

Suryosubroto, B., (1997), ProsesBelajar Mengajar di Sekolah, Jakarta, Rineka Cipta.

Wilerman, M. dan MacHarg, R.A., (1991), The Concept Map as an Advance Organizer, Journal of research in Sciece Teaching 28(8): 705-711.

Iklan

2 thoughts on “PENGGUNAAN MEDIA PENDIDIKAN PADA PENGAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH MENENGAH

  1. tolong kirimi saya situs tentang Jurnal pendidikan FMIPA
    khususnya jurnal terbitan tahun 2006-2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s