Pemanfaatan Batang Kelapa Sawit sebagai Bahan Bangunan dan Furnitur

Edi Suhaimi Bakar, O Rachman, Muh Yusram Massijaya, dan Bahruni
Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Institut Pertanian Bogor

Kelapa sawit sangat besar potensinya di Indonesia dengan luas tanaman lebih dari 2.9 juta ha sehingga Indonesia merupakan negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia setelah Malaysia. Dengan laju pertumbuhan sekitar 8.5% per tahun, diperkirakan Indonesia akan melewati Malaysia pada tahun 2014 nanti. Namun, pemanfaatan biomassa kelapa sawit masih belum efisien, terbatas hanya pada buah untuk memproduksi minyak, serta sampai pada tingkat tertentu, pada sabut, tandan, dan pelepah untuk memproduksi serat. Biomassa batang dari hasil regenerasi tanaman tua setelah berumur 25-30 tahun yang merupakan massa terbesar belum dimanfaatkan, melainkan hanya dibakar atau dibiarkan jadi tumpukan limbah yang menimbulkan berbagai dampak lingkungan dan gangguan. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui potensi kayu sawit dari hasil peremajaan tanaman, mengetahui sifat-sifat dasarnya (fisik, mekanis, kimia, keawetan, dan pemesinan), serta memperbaiki kelemahan kayu sawit sehingga dapat digunakan sebagai bahan bangunan dan furnitur. Pada bagian akhir juga dilakukan kajian sosial ekonomi dari pemanfaatan kayu sawit sebagai bahan bangunan dan furnitur.
Dari penelitian tahap pertama diketahui bahwa sepertiga bagian terluar batang kelapa sawit dapat dimanfaatkan dalam bentuk kayu utuh untuk bahan bangunan perumahan. Bagian ini mencapai 30% volume batang bebas pelepah, mempunyai kelas kuat III-V dan kelas awet V, yang secara umum setara dengan mutu kayu sengon (Paraserianthes falcataria). Diketahui bahwa faktor kedalaman batang sangat mempengaruhi sifat-sifat dasar yang diuji: bagian tepi mempunyai sifat yang jauh lebih baik daripada bagian medium dan pusat. Sebaliknya, faktor ketinggian tidak memiliki kecenderungan tertentu, meskipun pada sebagian sifat-sifat mekanis menunjukkan penurunan mutu dengan semakin tingginya batang.
Dari penelitian tahap kedua diketahui bahwa kayu kelapa sawit sebaiknya digergaji dengan pola yang berbeda dengan penggergajian pada umumnya, yaitu menggunakan pola modified round sawing (MRS). Meskipun dapat diawetkan dengan baik dengan bahan pengawet Basilit-CFK dan Impralit-B1, sifat dan mutu pemesinan kayu kelapa sawit tergolong sangat jelek dengan persen bebas cacat berturut-turut sebesar 6 dan 12% untuk proses penyerutan dan pelubangan segi-empat, dan tergolong sedang dengan persen bebas cacat berturut-turut sebesar 50, 66, dan 62% untuk proses pembentukan, pengeboran, dan pengampelasan. Secara keseluruhan mutu pemesinan kayu kelapa sawit tergolong jelek, sehingga perlu diupayakan perbaikan mutu agar penggunaannya dapat diperluas. Selanjutnya diketahui bahwa perbaikan mutu dengan teknik impregnasi (perendaman) tidak berhasil meningkatkan mutu kayu kelapa sawit karena imprenasi tidak mampu masuk ke dalam kayu.
Pada penelitian tahap ketiga dilakukan perbaikan mutu kayu kelapa sawit dengan teknik kompregnasi, yaitu pemasukan bahan kompregnan resin fenol dengan bantuan tekanan dalam tangki tertutup. Dari hasilnya diketahui bahwa perlakuan kompregnasi dengan resin fenol dapat memperbaiki sifat fisis, mekanis, keawetan, dan pemesinan kayu sehingga cocok digunakan untuk bahan bangunan. Kondisi kompregnasi yang optimum ialah dengan konsentrasi larutan impregnan 30% dan waktu tekanan 60 menit. Secara umum mutu proses pemesinan kayu sawit terkompregnasi sebanding dengan jenis-jenis kayu komersial (mahoni, kamper, dan jati) yang biasa digunakan untuk furnitur. Sifat pengetaman, pembentukan (shaping), dan pengeboran kayu kelapa sawit terkompregnasi termasuk sedang hingga sangat baik (III-I) dan sifat pengampelasan sangat baik (kelas I).
Meskipun perlakuan kompregnasi kayu kelapa sawit memerlukan biaya yang relatif tinggi, harga akhir kayu kelapa sawit terkompregnasi masih dapat bersaing dengan kayu utuh lain yang mutunya sebanding. Bahkan kayu kelapa sawit terkompregnasi mempunyai nilai lebih dalam hal warna dan tekstur serat sehingga sangat cocok digunakan untuk furnitur mutu tinggi. Dari hasil wawancara diketahui pula bahwa masyarakat masih menunjukkan kepercayaan yang rendah terhadap kayu kelapa sawit sebagai alternatif baru untuk bahan bangunan dan furnitur (terutama dari segi kekuatan dan keawetan), sehingga perlu dilakukan sosialisasi yang tepat dari hasil-hasil perbaikan mutu yang telah dicapai kepada masyarakat.

Adopted from : Hibah Bersaing VI

11 thoughts on “Pemanfaatan Batang Kelapa Sawit sebagai Bahan Bangunan dan Furnitur

  1. Aslm
    Saya mila mhsi Fahutan USU, mksh byk pak atas infonya, tp dsni sya tdk mnemukan kandungan air dri kelapa sawit pada tiap bagian batang, bagian dalam batang pasti mempunyai kadar air yang lebih tinggi daripada bagian luar batang yang ingin saya tanyakan apakah semakin tinggi pohon maka kadar air semakin meningkat? manakah kadar air yang tinggi antara batang bawah, tengah dan atas?
    Makash byk pak atas masukannya.
    Wslm

  2. salam mbak mila..
    e..pengetahuan yg sy miliki belum segitu,
    tapi jika dilihat…batang pohon yg tinggi batangnya mempunya kadar air lebih banyak terkandung di atas, karena..secara kenyataan batang bawah suatu pohon lebih keras dibanding yg atas,
    trus diatas merupakan ujung pertumbuhan..yg kelihatan masih muda (batang lunak). sedangkan buah dan pelepah jika dicabut maka pangkalnya akan sedikit berair..

    tetapi saya belum tahu berapa % yg terkandung didalamnya,

    makasih banyak atas kunjungan blognya…
    salam buat temen2 disana

  3. Wslm.
    Dear, Mila. Salam untuk USU Medan. Artikel2 di Library Digital nya merupakan salah satu bahan utama referensi kami. Mengenai pertanyaan saudara, mungkin sedikit menambahkan, tentunya anda pasti ingat pelajaran biologi dimana diulas tentang asimilasi, fotosintesis, xilem, floem, dan osmosa. Tentunnya olmu biologi lebih domain disini,

    Regards.
    @_pararaja

  4. pak,gi mana ya jikalau batang sawit mau dibikin bahan bakar?misalnya dibuat dian (wax)..mohon penjelasan lanjut.
    mainbolabest@yahoo.com

    ===================================================
    Pabrik pengolahan batang sawit menjadi serbuk kayu menjadi prioritas di Sumut karena dekat dengan bahan baku, sedangkan pabrik panel wood sendiri akan dibangun di China. Pengolahan batang kelapa sawit menjadi panel wood adalah lompatan besar, karena selama ini batang kelapa sawit dibiarkan membusuk atau tidak memiliki nilai ekonomis sama sekali.

    klik
    http://www.litbang.deptan.go.id/special/publikasi/doc_bidangmasalah/Investasi/investasi-bagian-b.pdf

    semoga bisa bantu

  5. Batang sawit yang selama ini menjadi cost bagi usaha perkebunan dengan memmanfaatkannya maka batang tsb berbalik menjadi revenue. Kenapa tidak! karena dia menjadi sumber bahan baku untuk industri panel-panel kayu, furniture, dll.

  6. saya rian…dari perusahaan yang saat ini bergerak di bidang wood working dari bahan kayu batang sawit, yang ingin saya sampaikan kami sudah menjalankan produksi dari kayu batang sawit tetapi terlalu banyak problem yang kami dapati mulai dari pengambilan kayu dilapangan sampai proses kami menjaga kualitas kayu selama proses proses produksi kami jalankan, yang ingin saya tanyakan apakah saya bisa mendapatkan standarisasi proses produksi wood working dari kayu batang sawit ?….

  7. Masalah standarisasi mas coba hubungi badan standarisasi daerah setempat mas tinggal, atau bisa hubungi dept perindustrian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s