MSDS dan Implementasinya berdasarkan GHS

Dimas Satya Lesmana1

Chemwatch / Chemcare Asia

1) Country Representatives Chemwatch

Abstrak

Global Harmonized System (GHS) yang dimandatkan oleh PBB melalui ILO telah mewajibkan perubahan global dalam hal komunikasi bahaya termasuk Klasifikasi Bahaya, MSDS, beserta Penandaannya. Implementasi GHS menyangkut MSDS memerlukan pembahasan lintas sektoral terkait dengan amandemen dan revisi peraturan perundangan terkait. Makalah ini membahas mengenai implementasi MSDS berdasarkan mandat GHS dan perubahan apa saja yang diperlukan dalam menjawab tantangan global.

Kata kunci: MSDS, GHS, Implementasi, Global

1. Pendahuluan

Saat ini seperti kita ketahui bersama bahwa dunia telah memiliki jutaan jenis bahan kimia dan selalu bertambah setiap harinya. Banyaknya jumlah dan jenis bahan kimia yang beredar di dunia saat ini tentu memiliki resiko bahaya yang memerlukan penanganan dan perlakuan khusus oleh penggunanya. Keberadaan MSDS di dunia tidak terlepas dari adanya unsur resiko dan kebahayaan dari bahan kimia yang digunakan baik terhadap manusia maupun bagi lingkungan sekitarnya. Banyaknya jenis bahan kimia yang juga memiliki jenis dan sifat bahaya yang berbeda-beda telah membuat dunia secara Internasional dan regional memandatkan untuk selalu menyediakan lembaran MSDS sebelum suatu bahan kimia diperjual-belikan. Hal ini menjadi esensial sifatnya karena MSDS adalah sumber informasi yang menjadi bahan untuk Komunikasi Bahaya baik oleh Perusahaan atau oleh konsumen / end user yang akan mempergunakan bahan tersebut. MSDS berisikan informasi penting dari unsur / senyawaaan / campuran bahan kimia yang digunakan.

Informasi yang disediakan oleh MSDS akan digunakan untuk mengembangkan perlindungan yang sesuai bagi pekerja / konsumen dan tindakan yang diperlukan untuk melindungi lingkungan hidup. Namun sejalan dengan berkembangnya sistem klasifikasi oleh beberapa negara dan terjadinya perbedaan yang mencolok antar sistem klasifikasi bahaya bahan kimia beserta MSDS dan penandaannya telah membuat berbagai masalah dalam jalur perdagangan dan keselamatan manusia, dan hal ini telah membuat dunia Internasional melalui PBB memandatkan sebuah perubahan Global dalam Komunikasi Bahaya di seluruh dunia yang meliputi klasifikasi bahaya, MSDS, dan penandaan / labellingnya. Sistem harmonisasi global ini kemudian kita kenal dengan nama Global Harmonized System (GHS). Perubahan dan adopsi sistem GHS di seluruh dunia diharapkan dapat diimplementasikan secara menyeluruh pada tahun 2008 oleh seluruh negara di seluruh dunia, sementara amandemen dan perubahan peraturan lokal di masing-masing negara diharapkan akan selesai pada tahun 2006.

2. Material Safety Data Sheet / MSDS (LDKB)

Mandat regional yang dikembangkan oleh masing-masing negara dalam hal format MSDS beserta nilai cut off dalam penentuan bahaya bahan kimia telah membuat pelbagai kesulitan yang dialami baik oleh pengusaha maupun penyalur bahan kimia. Beberapa negara di belahan dunia memerlukan MSDS full dalam 16 bagian dan beberapa negara ada yang hanya memandatkan 8 sampai 10 bagian MSDS. Penentuan klasifikasi dan nilai cut off yang berbeda di masing-masing negara juga telah menimbulkan konflik yang membingungkan dimana di satu negara dinyatakan bahan kimia tersebut tidak beracun sementara di negara lain dinyatakan beracun atau bahkan sangat beracun.

Berbagai problematika yang muncul ini telah memicu dunia Internasional melalui PBB menyepakati untuk membuat suatu standar global dalam hal klasifikasi, penentuan nilai cut off, format MSDS, beserta penandaan atau labelling-nya yang kemudian kita kenal dengan nama Global Harmonized System (GHS). Penerapan GHS dalam sektor industri kimia akan mempermudah jalur perdagangan internasional dan menghilangkan berbagai kesulitan yang terjadi saat ini. Sementara dalam skala nasional, Indonesia memerlukan perubahan terkait dengan Format MSDS beserta klasifikasi dan simbol didalamnya. Perubahan ini tentunya memerlukan kerja sama antar Departemen seperti Depnakertrans, Deperindag, DepLH, DepKes, dll. Perubahan terutama dalam hal peraturan yang terkait dengan adopsi MSDS di Indonesia memerlukan pembahasan antar Departemen dimana diperlukan penyamaan visi dan misi dalam membantu target implementasi GHS secara menyeluruh pada tahun 2008.

3. Global Harmonized System (GHS)

Sistem Harmonisasi Global yang diberi nama GHS bermula dari pertemuan METI (Ministry of Economic Trade and Industry) di Jepang yang kemudian berlanjut ke pertemuan tingkat Internasional di berbagai tempat seperti Rio de Janeiro dan Jenewa. Hasil pertemuan Internasional tersebut akhirnya menyepakati untuk membentuk satu sistem global dalam hal komunikasi bahaya yaitu: Klasifikasi Bahaya, MSDS, dan Label / Penandaannya. Dalam hal ini, PBB menunjuk UNITAR (United Nations Institute for Training and Research) dibawah payung ILO sebagai koordinator proyek GHS di seluruh negara di dunia dimana di tergetkan tahun 2006 untuk perubahan amandemen peraturan lokal yang terkait dengan GHS dan tahun 2008 untuk pelaksanaan sistem implementasi secara menyeluruh di seluruh negara di dunia.

APEC sebagai organisasi regional Asia Pasifik telah menyepakati untuk menerapkan sistem GHS di seluruh negara anggotanya termasuk salah satunya adalah Indonesia. Indonesia bahkan dipromosikan menjadi salah satu pilot country project untuk pelaksanaan GHS di Asia Pasifik khususnya di tingkat ASEAN. Keberadaan GHS di Indonesia tentunya akan membawa berbagai keuntungan antara lain karena dengan adopsi sistem GHS, maka Indonesia akan memiliki standar penentuan klasifikasi bahaya bahan kimia yang selama ini ada di Indonesia namun terdapat beberapa klasifikasi yang berbeda antar Kementerian / Departemen. Selain itu juga Indonesia akan memiliki standar sistem penandaan / labelling bahan kimia yang seragam, dimana diharapkan tidak akan ada perbedaan lagi dalam hal penandaan bahan kimia antar sektoral maupun instansi. Terakhir adalah format MSDS akan diseragamkan di Indonesia yaitu menggunakan format GHS yang terdiri dari 16 sections / bagian. Diharapkan dengan adanya sistem ini, seluruh instansi dan sektoral terkait akan menggunakan satu sistem yang sama dan tidak akan ada lagi perbedaan sistem yang digunakan.

Selain keuntungan diatas, beberapa keuntungan lain dari adopsi GHS di Indonesia adalah mempermudah arus perdagangan bahan kimia secara global baik impor maupun ekspor, dan juga akan membantu dan mempermudah dalam menghambat perdagangan bahan kimia terlarang yang tidak boleh diperjual belikan. Selain itu, tujuan utama GHS adalah juga untuk melindungi pekerja, lingkungan hidup, dan umat manusia secara umum.

Kesulitan dan tantangan serta hambatan yang ada di Indonesia antara lain disebabkan oleh beberapa hal antara lain:

Terbatasnya tenaga ahli khususnya dalam ruang lingkup klasifikasi bahan kimia dan komunikasi bahaya

Kurangnya pengetahuan yang menyebabkan kurangnya kewaspadaan terhadap resiko dan bahaya bahan kimia

Kurangnya pemenuhan informasi saintifik untuk mengevaluasi bahaya yang diakibatkan oleh penggunaan berbagai bahan kimia.

Kurangnya sarana dan pra sarana dalam hal penentuan toksisitas bahan kimia khususnya untuk campuran

Kesulitan dalam menterjemahkan beberapa istilah teknis di Buku Ungu / GHS Purple Book kedalam bahasa lokal

Oleh karena itu dibutuhkan beberapa tindakan yang perlu dilakukan untuk membantu menyelesaikan kesulitan diatas antara lain melalui:

Revisi atau amendemen peraturan pemerintah yang terkait dengan bahan kimia

Memperkuat assosiasi industri, transportasi, perdagangan dan lain-lain yang terkait dengan implementasi GHS

Memperbanyak aktifitas training dan sosialisasi GHS baik dari segi frekuensi, kuantitas maupun kualitas

Menciptakan mekanisme jaringan dengan stakeholders yang terlibat dengan implementasi GHS

Pengembangan modul training implementasi GHS untuk berbagai kelompok target yang berbeda

Menghubungkan aktifitas dan kebijakan nasional dengan program kerja pemerintahan propinsi atau daerah

Bekerja sama dengan institusi non pemerintah dalam hal penyediaan jasa layanan pembuatan MSDS dan Penandaan sesuai GHS khususnya untuk membantu SME agar dapat bertahan dengan implementasi GHS

4. MSDS dan Implementasi berdasarkan GHS

Implementasi GHS di Indonesia juga akan berdampak bagi perubahan klasifikasi bahaya, format MSDS beserta simbol bahaya / piktogram yang digunakan dimana Indonesia akan menggunakan format MSDS GHS dalam Bahasa Indonesia dan menggunakan Simbol Bahaya berdasarkan adopsi GHS. Sistem klasifikasi bahan kimia dalam MSDS juga akan menggunakan standar adopsi GHS.

Namun sebelum simbol bahaya, MSDS dan label dikeluarkan, tentunya penentuan klasifikasi bahaya adalah hal pertama yang harus dilakukan yang akhirnya akan menentukan kriteria bahaya yang sesuai dan simbol yang cocok untuk digunakan.

Sistem klasifikasi bahaya GHS sangatlah berbeda dengan beberapa sistem klasifikasi yang sudah diterapkan di beberapa negara di dunia seperti EU / UN / Japan / dll. Penyeragaman sistem klasifikasi bahaya GHS akan menghilangkan berbagai perbedaan mendasar yang selama ini terjadi di berbagai belahan dunia yang mengakibatkan perbedaan pandangan dalam hal klasifikai bahaya bahan kimia. Berikut adalah contoh perbedaan klasifikasi tersebut :

Sebelum harmonisasi ini dicanangkan, berdasarkan EU nilai cut-off toksisitas akut untuk Kategori 1 memiliki nilai LD 50 25 mg/kg (oral), sementara di USA menggunakan 50 mg/kg. Hasilnya semua bahan kimia antara 25 dan 50 mg/kg diklasifikasikan secara berbeda. Berikut grafik perbandingan antar klasifikasi:

Grafik 1. Perbandingan Klasifikasi Toksistas Akut (Oral)

Sementara untuk standar GHS, Toksisitas Akut Kategori 1 memiliki nilai LD50 5 seperti terlihat pada grafik berikut dibawah ini.

Grafik 2. Perbandingan Toksisitas Akut Yang Ada vs GHS

Grafik diatas menunjukkan perbedaan Klasifikasi Toksisitas Akut (LD50 Oral Ratantar sistem klasifikasi yang ada saat ini dibandingkan dengan sistem GHS.

Sementara untuk penentuan kategori flamabilitas, GHS memiliki kriteria sendiri yang berbeda dibandingkan dengan beberapa sistem klasifikasi yang ada. Berikut adalah grafik perbandingan klasifikasi kategori untuk flamabilitas berdasarkan GHS dan beberapa sistem klasifikasi lain.

Grafik 3. Perbandingan Kategori Flamabilitas Antar Sistem

Perubahan terhadap format MSDS sebenarnya tidak terlalu signifikan dikarenakan Indonesia sudah menerapkan sistem format MSDS menggunakan 16 sections / bagian yang dimandatkan melalui Kepmenaker No 187 tahun 1999. Perubahan signifikan akan terjadi pada sistem klasifikasi bahaya beserta simbol / piktogram yang akan digunakan dimana standar GHS akan diadopsi secara menyeluruh oleh berbagai instansi terkait.

Tabel 1. Perbandingan Format MSDS Menakertrans vs GHS

Sections

Format Kepmenaker

Format GHS

1

Identitas Perusahaan

Identitas Perusahaan

2

Komposisi Bahan *

Identifikasi Bahaya *

3

Identifikasi Bahaya *

Komposisi Bahan *

4

Tindakan P3K

Tindakan P3K

5

Tindakan Penanggulangan Kebakaran

Tindakan Penanggulangan Kebakaran

6

Tindakan Penanggulangan Kebocoran dan Tumpahan

Tindakan Penanggulangan Kebocoran dan Tumpahan

7

Penyimpanan dan Penanganan Bahan

Penyimpanan dan Penanganan Bahan

8

Pengendalian Pemaparan dan APD

Pengendalian Pemaparan dan APD

9

Sifat Fisika dan Kimia

Sifat Fisika dan Kimia

10

Stabilitas dan Reaktifitas Bahan

Stabilitas dan Reaktifitas Bahan

11

Informasi Toksikologi

Informasi Toksikologi

12

Informasi Ekologi

Informasi Ekologi

13

Pembuangan Limbah

Pembuangan Limbah

14

Informasi Untuk Pengangkutan Bahan

Informasi Untuk Pengangkutan Bahan

15

Informasi Perundang-undangan

Informasi Perundang-undangan

16

Informasi Lain

Informasi Lain

Penjelasan implementasi MSDS berdasarkan GHS per sections akan dijabarkan sebagai berikut:

1. Identitas Bahan dan Perusahaan

Berisikan informasi mengenai nama bahan kimia / nama lain dari bahan. Juga berisi nama perusahaan / supplier pembuat / penyalur bahan kimia terkait, alamat perusahaan lengkap, nomor telepon beserta nomor telepon darurat / emergensi yang dapat dihubungi pada saat terjadi kecelakaan menyangkut bahan kimia terkait.

2. Identifikasi Bahaya

GHS menempatkan Bagian 2 yaitu Informasi mengenai Bahaya dari bahan kimia dan menempatkan informasi komposisi bahan setelahnya dikarenakan pekerja dan perusahaan lebih membutuhkan informasi bahaya dibandingkan dengan informasi kandungan / komposisi bahan,

oleh karenanya format MSDS GHS menempatkan informasi Identifikasi Bahaya terlebih dahulu dibandingkan informasi Komposisi Bahan. Oleh sebab itu untuk aplikasi di Indonesia, revisi Kepmenaker

No 187/1999 dan peraturan terkait lainnya hanya memerlukan sedikit perubahan menyangkut perubahan Format MSDS dan Simbol bahaya yang digunakan. Sections 2 juga berisikan klasifikasi bahaya dari zat atau campuran bahan kimia. Selain itu juga sections ini menyertakan penampilan label / simbol bahaya termasuk pernyataan kehati-hatian dari bahan tersebut. Implementasi GHS juga akan memandatkan penggunaan simbol / piktogram sesuai standar GHS, artinya Indonesia juga akan menggunakan dan memiliki standar dalam hal simbol bahaya. Adapun simbol yang digunakan di Indonesia umumnya mengadopsi dari beberapa standar seperti EU. Berikut contoh simbol yang umum digunakan saat ini:

Sedangkan pada saatnya GHS diimplementasikan secara menyeluruh maka Indonesia akan mengadopsi simbol / piktogram GHS. Simbol / piktogram GHS sangat mudah difahami dan memiliki standar pewarnaan yang sangat mudah dikenali. Hal ini akan membantu pekerja / konsumen dalam mengidentifikasi bahaya yang ada beserta perlindungan apa saja yang harus digunakan pada saat bekerja dengan bahan kimia terkait.

Penjelasan klasifikasi dari masing-masing simbol bahaya GHS adalah sbb:

Kelas

Simbol

Keterangan

1

Eksplosif

4

Gas Pengoksidasi

5

Gas Bertekanan

6

Cairan Mudah Menyala

7

Padatan Mudah Menyala

8

Bahan Yang Dapat Bereaksi Sendiri

10

Padatan Piroporik

11

Bahan Yang Dapat Menumbulkan Panas Sendiri

12

Bahan Yang Apabila Kontak Dengan Air Menyebabkan Gas Mudah Menyala

13

Cairan Pengoksidasi

14

Padatan Pengoksidasi

15

Peroksida Organik

16

Korosif Terhadap Logam

17

Toksisitas Akut

18

Korosifitas / Iritabilitas Pada Kulit

19

Kerusakan Parah / Iritasi Pada Mata

20

Sensitasi Saluran Pernafasan / Kulit

21

Mutagenitas Sel Induk

22

Karsinogenitas

23

Toksisitas Terhadap Reproduksi

24

Toksisitas Sistemik Pada Organ Target Spesifik Karena Paparan Tunggal

25

Toksisitas Sistemik Pada Organ Target Spesifik Karena Paparan Berulang

26

Bahaya Aspirasi

27

Bahaya Terhadap Lingkungan Akuatik / Perairan

3. Komposisi Bahan

Komposisi dari bahan kimia menyertakan nama, CAS number, sinonim, impurities dan konsentrasi bahan dalam campuran, zat aditif penyetabil bahan kimia beserta identifikasi unik lainnya harus dimasukkan dan ditempatkan pada sections 3 dari GHS MSDS.

4. Tindakan P3K

Penjelasan mengenai tindakan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) harus dimasukkan di sections ini, hal ini termasuk efek / gejala apa yang biasanya terjadi pada saat terjadi kecelakaan, apakah gejalanya akut atau tertunda. Masukkan informasi mengenai tindakan medis apa yang harus segera dilakukan dan perawatan yang dibutuhkan untuk menolong korban kecelakaan.

5. Tindakan Penanggulangan Kebakaran

Kebakaran menyangkut bahan kimia sangat selektif dan memerlukan tindakan khusus dalam penanganannya. Dalam sections 5 dimasukkan informasi mengenai jenis media pemadam yang cocok untuk memadamkan kebakaran, bahaya spesifik apa yang ditimbulkan

oleh terbakarnya bahan kimia tersebut, dan alat pelindung diri apa yang harus dikenakan oleh petugas pemadam dan peringatan mengenai bahaya yang mungkin terjadi kemudian.

6. Tindakan Mengatasi Kebocoran dan Tumpahan

Informasi mengenai peringatan bagi individu beserta alat pelindung diri dan prosedur tanggap darurat terkait dengan terjadinya tumpahan dan kebocoran bahan kimia ditempatkan pada sections 6. Peringatan bahaya terhadap lingkungan hidup sebagai akibat dari tumpahan dan kebocoran tersebut juga disertakan pada sections ini. Metode dan bahan yang digunakan untuk menampung serta membersihkan

tumpahan dan kebocoran harus dijelaskan pada sections ini. Jarak evakuasi jika terjadi kebocoran juga dimasukkan kedalam sections ini.

7. Penyimpanan dan Penanganan Bahan

Berisikan mengenai informasi penanganan dan penyimpanan yang aman dan sesuai dengan petunjuk peraturan. Informasi mengenai kondisi yang aman dalam hal penyimpanan beserta petunjuk inkompatabilitas / ketidaksesuaian dari bahan kimia yang ditempatkan harus dimasukkan dalam sections ini. Petunjuk inkompatabailitas bisa mengacu kepada Tabel Chemical Reactivity Sheet.

8. Pengendalian Pemaparan dan Alat Pelindung Diri

Pemaparan bahan kimia terhadap manusia dan lingkungan memerlukan pengendalian khusus dalam hal ini parameter apa saja yang harus dikendalikan harus dimasukkan kedalam sections 8 dari MSDS. Pengendalian engineering yang cocok untuk meminimalisasi pemaparan juga harus disertakan. Tindakan perlindungan terhadap individu juga harus dimasukkan yang antara lain berisikan petunjuk Alat Pelindung Diri yang sesuai dan yang paling cocok digunakan untuk mengontrol dan meminimalisasi resiko terhadap bahaya pemaparan. Sementara untuk Nilai Ambang Batas (NAB), saat ini masih dibicarakan mengenai NAB Global berdasarkan GHS, namun negara masih boleh memasukkan standar NAB berdasarkan standar yang ada pada negara masing-masing.

9. Sifat Fisika dan Kimia

Informasi mengenai sifat fisika dan kimiawi dari bahan kimia sangat esensial sifatnya dan dibutuhkan untuk mengontrol penanganan dan penyimpanan bahan kimia terkait. Sections 9 menempatkan informasi tersebut yang antara lain berisikan:

PenampakanBau

Titik Leleh / Beku

pH

Titik Nyala

Laju Penguapan

Flamabilitas (padatan, gas)

Batas bawah / atas dari flamabilitas atau ledakan

Tekanan Uap

Densitas Relatif

Viskositas

dll

10. Stabilitas dan Reaktifitas Bahan

Pada sections ini, MSDS harus berisikan informasi mengenai reaktifitas dan stabilitas dari bahan. Hal ini termasuk kemungkinan terjadinya reaksi berbahaya yang tidak diinginkan beserta kondisi yang harus dihindari untuk mencegah terjadinya hal tersebut. Petunjuk mengenai bahan apa saja yang tidak cocok / inkompatibel untuk ditempatkan secara bersamaan dengan bahan tersebut harus dijelaskan dan dimasukkan dalam sections ini. Bahaya dekomposisi dari produk / bahan juga harus dimasukkan sebagai sumber informasi esensial tambahan.

11. Informasi Toksikologi

Menyediakan semua data menegenai bahaya kesehatan yang tercakup oleh GHS termasuk dalam hal ini antara lain:
·                            Rute Kontak Masuk yang mungkin terjadi
·                            Gejala menyangkut bahaya fisika, kimiawi dan karakteristik racun.
·                            Efek kronis, efek tertunda dan efek yang langsung terjadi dari  pemaparan jangka pendek atau panjang.
·                            Nilai toksisitas (LD, LC), Iritasi, dll
·                            Dan data-data informasi lain yang mendukung
Jika data untuk bahaya dimaksud tsb tidak terdapat, sebaiknya dituliskan di SDS dengan pernyataan bahwa data yang dimaksud tidak terdapat. 

12. Informasi Ekologi

Berisikan informasi dan data-data terkait dengan Ekologi / Lingkungan Hidup seperti Toksisitas, degradabilitas dan persistance, potensi bioakumulasi, pergerakan di dalam tanah, dan informasi efek samping lainnya.

13. Pembuangan Limbah

Limbah dari produk bahan kimia harus diolah secara baik dan benar. Sections 13 dari MSDS GHS mewajibkan tersedianya informasi yang cukup mengenai metoda pengolahan limbah beserta tata caranya.

14. Informasi Untuk Pengangkutan Bahan

Antara lain berisikan UN Number, Nama pengiriman bahan yang sesuai peraturan UN, Kelas Bahaya Transportasi beserta Label dan Simbol yang diperlukan, Grup Kemasan, Bahaya Lingkungan Hidup, Petunjuk peringatan khusus bagi pengguna.

15. Informasi Perundang-undangan

Sections ini antara lain berisikan peraturan perundangan yang terkait yang tidak disediakan pada sections lain dari MSDS. Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja beserta Lingkungan Hidup spesifik untuk bahan kimia yang masih dipertanyakan.

16. Informasi Lain Yang Diperlukan

Berisikan anatara lain:

· Tanggal pembuatan MSDS

· Indikasi perubahan yang dilakukan dari MSDS sebelumnya

· Legenda atau Akronim / Singkatan yang digunakan di dalam MSDS

· Referensi literatur dan sumber yang diambil untuk membuat MSDS

3.3. Implementasi GHS yang akan mempengaruhi MSDS selain hal diatas adalah penerapan bahasa lokal baik untuk MSDS maupun Label / Penandaan. Penerapan GHS akan mewajibkan setiap MSDS dan Label terdapat dalam 2 bahasa yaitu bahasa lokal dan bahasa Internasional / Inggris. Penerapan ini sangat penting karena tujuan GHS adalah untuk melindungi umat manusia dan lingkungan hidup dari bahaya bahan kimia, sehingga penting untuk memandatkan seluruh sistem agar terdapat dalam bahasa lokal, hal ini agar memudahkan dalam hal mengerti dan memahami isi dan kandungan dari MSDS dan Label yang terdapat pada bahan kimia. Oleh karena itu, penterjemahan guide GHS atau yang kita kenal dengan nama Purple Book sangatlah penting karena GHS Purple Book akan menjadi acuan dalam penentuan klasifikasi bahaya beserta kategorinya, pembuatan MSDS, Label, dll. Diharapkan agar pemerintahan dapat segera merampungkan penterjemahan Purple Book ke GHS ke dalam bahasa Indonesia secara penuh dan mensosialisasikannya kepada pihak terkait. Oleh karena itu, sebaiknya hasil terjemahan purple book GHS dapat tersedia di berbagai situs pemerintahan seperti Depnaker, Badan POM, dll untuk di download oleh pengguna lokal selain juga disosialisasikan dalam bentuk hard cover.

3.4. Penting untuk diketahui bahwa penerapan GHS tidak akan mempengaruhi sistem penandaan transportasi yang sudah terlebih dahulu ada yaitu UN-RTDG, IATA, IMDG, dll. Sistem penandaan transportasi sudah terlebih dahulu diseragamkan dan distandardisasi sebelum isu GHS diangkat sehingga GHS hanya akan mempengaruhi sistem penandaan pada produk atau kemasan dari produk tanpa mempengaruhi penandaan pada kendaraan / alat transportasi yang akan mengirimkan atau membawa bahan kimia.

Kedua sistem ini, baik GHS maupun DG Transport Standards akan berdiri sendiri-sendiri namun tetap memiliki keterkaitan antar satu dengan yang lainnya.

4. Kesimpulan

Implementasi GHS akan memberikan perubahan yang mendasar dalam hal komunikasi bahaya yang meliputi klasifikasi bahaya, MSDS / LDKB, dan penandaan / labelling dari bahan kimia. Perubahan global ini membutuhkan kerja sama lintas sektoral agar dapat memenuhi target implementasi pada tahun 2008. Material Safety Data Sheet (MSDS) sebagai salah satu persyaratan yang akan diharmonisasikan melalui GHS akan disesuaikan formatnya beserta simbol yang digunakan, oleh sebab itu revisi peraturan pemerintah seperti Kepmenaker No 187/1999 dan peraturan Departemen terkait lainnya seperti Kepmenkes No. 427/Menkes/Per/V/1996 dan Kepmenperindag No. 254/MPP/Kep/7/2000 sangat penting untuk segera diselesaikan sebelum tahun 2006 agar

payung hukum GHS di Indonesia menjadi jelas keberadaannya. Hasil terjemahan Guide GHS Purple book perlu disosialisaikan baik secara online maupun offline agar masyarakat pengguna dapat memperoleh sumber informasi secara tepat dan akurat. Secara keseluruhan implementasi GHS baik secara umum dan MSDS berdasarkan GHS akan memberikan keuntungan baik bagi pemerintah, industri baik besar maupun kecil, pekerja maupun konsumen dan lingkungan hidup.

Daftar Pustaka

[1] Anonymous, (2004) “GHS – Purple Book”, United Nations.

[2] Anonymous, (2004) “Implementation and Maintenance of GHSChapter 29, United Nations.

[3] Anonymous, (2004) “How GHS Fits Into Chemical Safety” United Nations.

[4] Anonymous, (2004) “Survey of Asia-Pacific Countries Regarding GHS Implementation: Draft Report” Seventh Meeting of the UNITAR/ILO GHS Capacity Building Programme Advisory Group (PAG)

[5] Arai, K., (2001) “The Globally Harmonized System (GHS) for Hazards Classification and Labelling”, www.jcia-net.or.jp

[6] Santoso, G., (2004) “Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja”, Penerbit: Prestasi Pustaka.

[7] www.osha.gov/SLTC/hazardcommunications/global.html

[8] http://www.unece.org/trans/danger/publi/ghs/presentation_e.html

[9] http://www.unece.org/trans/danger/publi/ghs/pictograms.html

[10] http://www.unece.org/trans/danger/publi/ghs/implementation_e.html#Indonesia

Seminar Nasional K3

“Perlindungan Tenaga Kerja Terhadap Resiko Kimia dan Asbestos di Tempat Kerja Sektor Industri dan Jasa Ditinjau Dari Sudut K3”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s