Produksi Lemak Tengkawang sebagai Bahan Baku Industri Lipstik

Erliza Hambali, Erliza Noor, Zainal Alim Mas’ud, dan Chilwan Pandji

Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Lemak tengkawang mempunyai ciri mirip dengan lemak kakao, oleh karena itu lemak ini berpotensi sebagai cocoa butter substitute (CBS).  Potensi ini sangat menguntungkan secara ekonomis karena harga lemak tengkawang jauh lebih murah,  yaitu 20-25% dari harga lemak kakao.  Penggunaan lemak tengkawang merupakan alternatif yang baik dalam pembuatan kosmetik yang selama ini banyak menggunakan lemak kakao.  Penelitian ini bertujuan melihat pengunaan lemak tengkawang sebagai bahan dasar lipstik.  Melihat perkembangan produksi lipstik Indonesia yang cukup besar, diperkirakan sekitar 300 ribu sampai 400 ribu batang per tahun, diharapkan penelitian ini memberikan kontribusi dalam pemanfaatan hasil hutan Indonesia. 

Untuk memperoleh lemak, biji tengkawang dikeringkan. Hasil optimum didapatkan dengan pengeringan menggunakan oven tipe rak pada suhu 50-60°C selama 28 jam yang menghasilkan kadar air 8.5%. Selanjutnya biji kering ini diekstraksi. Dari tiga cara estraksi yang dicobakan, yakni cara pengempaan, perebusan, dan pelarutan, telah diperbaiki metode ekstraksi dengan cara pengempaan. Biji dikempa menggunakan mesin kempa panas pada suhu 50-60°C dan tekanan 140 kg.cm2 selama 4 menit. Bungkil sisa kempaan selanjutnya diekstraksi dengan pelarut heksana teknis selama 6 jam dan pengecilan ukuran 16 mesh. Ciri lemak tengkawang yang dihasilkan hampir sama dengan ciri lemak kakao. 

Untuk pembuatan bahan lispstik, dilakukan analisis fosfolipid dan degumming terhadap lemak. Berhubung kandungan fosfatidil kolina kurang dari 55%, metode degumming dilaksanakan dengan asam. Metode degumming terbaik ialah metode dengan asam sitrat 20% sebanyak 0.3% (b/b) dibandingkan yang menggunakan asam fosfat 20% dengan campuran yang sama. Campuran lemak dan asam dipanaskan pada suhu 80°C selama 10 menit, dicusi dengan air, didiamkan selama 20 menit, lalu gum dipisahkan dari lemak. 

Segmentasi pasar dikaji dengan mengumpulkan data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner kepada para konsumen lipstik dan melalui pengamatan. Segmentasi produk lipstik yang dihasilkan ialah untuk pelajar dan mahasiswa yang berusia 15-24 tahun dengan lipstik berbentuk batang, warna muda dan terang, serta menempel dengan baik. 

Formulasi dasar lipstik didahului dengan menentukan kemurnian bahan yang dipakai. Bahan-bahan yang dianalisis ialah malam (wax) kandelila, malam karnauba, malam ozokerit, minyak jarak, dan lemak tengkawang. Selanjutnya dicari nisbah malam karnauba dengan ozokerit, nisbah malam kandelila dengan malam ozokerit, dan menentukan suhu proses pembuatan dan suhu penuangan ke dalam cetakan. Dari campuran bahan tersebut telah dibuat tiga formula dasar lipstik. Penggunaan lemak tengkawang sampai 50% dalam formulasi dasar lipstik masih memungkinkan.

Tahapan penelitian berikutnya terbagi atas tiga bagian, yaitu netralisasi lemak tengkawang, pemucatan (bleaching) lemak tengkawang dan formulasi lipstik menggunakan lemak tengkawang dan pewarna alami. Netralisasi dilakukan dengan menggunakan larutan kaustik soda pada konsentrasi 5°, 8°, dan 10° Be pada suhu 70°C selama 10 menit. Netralisasi dengan 3 taraf konsentrasi larutan kaustik soda ini hanya memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap rendemen lemak netral yang dihasilkan, namun tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air, titik cair, bilangan asam, bilangan iodin, bilangan peroksida, dan kejernihan lemak netral yang dihasilkan. Berdasarkan hasil analisis terhadap semua parameter yang diukur, netralisasi lemak tengkawang dengan NaOH 10° Be merupakan perlakuan terbaik yang menghasilkan lemak netral dengan rendemen 89.45%, kadar asam lemak bebas 0.13% dan bilangan peroksida 4.17. 

Pemucatan lemak tengkawang dilakukan dengan menggunakan 2 jenis lempung aktif, yaitu bentonit dan sepiolit, masing-masing pada konsentrasi 1, 1.5, dan 2%. Proses ini dilakukan dalam kondisi vakum pada suhu 120°C selama 30 menit. Perlakuan yang paling efektif dan efisien untuk menghasilkan lemak tengkawang pucat ialah dengan menggunakan bentonit 2% dengan nilai transmitan sebesar 87.3%, bilangan asam 1.44 (asam lemak bebas = 0.75%). 

Penggunaan lemak tengkawang dalam formula lipstik pada tahap penelitian ini dikombinasikan dengan penggunaan pigmen yang dihasilkan dari Porphyridum cruentum sebagai pewarna alami. Dalam formulasi lipstik menggunakan pigmen alami ini ditambahkan lemak tengkawang sejumlah 3, 4, dan 5% (b/b) dan pigmen dalam jumlah 6, 7, dan 8% (b/b). Penambahan lemak tengkawang pada formula lipstik berpengaruh nyata terhadap kekerasan lipstik dan berpengaruh sangat nyata terhadap titik leleh lipstik. Sebaliknya pigmen hanya berpengaruh sangat nyata terhadap titik leleh lipstik. Namun interaksi antara kedua perlakuan ini tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kedua ciri lipstik tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa formulasi lipstik yang paling baik ialah yang menggunakan lemak tengkawang sebanyak 3% (b/b) dengan penambahan pigmen alami dari P. cruentum sebanyak 8% (b/b).

 

Adopted from : Hibah Bersaing V

 

6 respons untuk ‘Produksi Lemak Tengkawang sebagai Bahan Baku Industri Lipstik

  1. Mohon bantuan mengenai info pabrik penghasil minyak/lemak biji tengkawang beserta harga minyak per liternya….tolong dikirim via email.trimakasih.

  2. tolong kasih informasi ke saya berapa harga minyak tengkawang nya .dan berapa banyak dibutuhkan minyak tengkawang untuk menghasilkan lipstik 6 buah.untuk bahan penelitian .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s