Belajar Manajemen Perusahaan : Chapter. 5. Kaizen dan Inovasi. (versi chating).

Praktisi Manajemen pada umumnya terpesona dengan konsep Kai Zen. Dan, sesuai dengan namanya, konsep tersebut dipopulerkan di Jepang, padahal, juga pada masyarakat kita di Indonesia, kita dapat melihat bahwa proses Kai Zen sering dilakukan oleh masyarakat kita.

Misalkan, pada awalnya seseorang hanya mampu membeli rumah type 21, dan dari waktu ke waktu, setiap mempunyai sisa dana, dia melakukan perbaikan atau penambahan pada rumah tersebut, sehingga 5 tahun kemudian, rumah tersebut sudah berobah menjadi type 60 dan perabotannya menjadi lebih mewah. Proses inilah yang disebut Kai Zen (merobah, memperbaiki sedikit demi sedikit dan terus menerus secara berkesinambungan).

Berbeda dengan konsep Innovasi. Kalau dengan konsep Innovasi, rumah lama (type 21) dirobohkan dan diganti dengan bangunan baru type 60.

Dari proses tersebut, kita tentu dapat membuat analisa tentang baik buruknya kedua konsep tersebut.

Maksud saya dengan komentar ini adalah, selain mencoba memberi pemahaman awal bagi rekan yang ingin mempelajari konsep Kai Zen (atau yang lainnya yang dipopulerkan oleh bangsa lain) saya ingin menggugah, dapatkah para pakar manajemen kita mencoba menggali konsep budaya kita sendiri menjadi satu konsep manajemen yang dapat memberikan hasil dan disosialisasikan kepada para pengusaha bangsa kita?

Contoh keberhasilan Kai Zen dapat kita lihat pada umumnya perusahaan besar Jepang, yang pada awalnya dimulai dari perusahaan kecil setelah masa waktu rata-rata diatas 100 tahun. Seperti perusahaan Kecap KIKKOMAN, didirikan 491 tahun yang lalu seba gai Home Industri (1 ruangan ukuran 6 x 8 m, kuali ukuran diameter 2m dan pengaduk dari dayung perahu). Sekarang, KIKKOMAN berkembang menjadi perusahaan besar dan bahkan, produknya dapat kita beli di Hero Supermarket.

Buat Rekan Anwar, Sekarang ini sudah banyak buku-buku terjemahan mengenai Kai Zen, tetapi saya kira tidak perlu menunggu untuk menghabiskan waktu membaca text book tetapi bisa saja sambil jalan, mencoba mengupayakan berbagai proses kecil yang bertujuan memperbaiki (baik dari segi efisiensi maupun efektivitas) proses produksi (barang atau jasa).

Kaizen vs Inovasi, mana yang lebih baik?

From: Steve Sudjatmiko 

Proses inilah yang disebut Kai Zen, (merobah,  memperbaiki sedikit de mi sedikit dan terus menerus secara  berkesinambungan).

Kalau dengan konsep Innovasi, rumah lama (type 21)  dirobohkan dan diganti dengan bangunan baru type 60.

Kaizen berasumsi bahwa dasar sebuah praktek kerja atau proses sudah OK, jadi tinggal terus menerus disempurnakan.

Inovasi melihat dari sudut yang sama sekali baru sehingga dasar praktek kerja berubah samasekali.

Kaizen terjadi terus dan lambat laun sehingga bisa diterima dengan lebih baik oleh sekeliling.

QCC pada banyak perusahaan biasanya mempraktekkan perbaikan inkremental ini.

Dari proses tersebut, kita tentu dapat membuat analisa tentang baik  buruknya kedua konsep tersebut.

Mana yang lebih baik dari kedua konsep itu? Kalau sama-sama sukses dilaksanakan dan dipasarkan, biasanya dampak inovasi lebih besar. Pada era Ekonomi Industri, perbaikan berjalan lambat karena informasi terbatas pada pakar2 tertentu. Perbaikan yang drastis biasanya perlu waktu lama untuk dijelaskan dan biayanya menjadi mahal. Pada Era Ekonomi Digital, ilmu dan informasi menyebar cepat sehingga sebuah inovasi akan diteliti beramai-ramai dan kalau bagus akan segera diadopsi. Akibatnya di era Digital ini, inovasi beresiko lebih kecil dari era lalu.

Contoh keberhasilan Kai Zen dapat kita lihat pada perusahaan Kecap KIKKOMAN

 Sekarang, KIKKOMAN berkembang menjadi perusahaan  besar dan bahkan, produknya dapat kita beli di Hero (Indonesia).

Banyak perusahaan yg sudah berusia ratusan tahun, seperti perusahaan2 obat di China, mesin di Jerman, baju di Inggris, anggur di Perancis dan mebel di Italia. Memang perusahaan Jepang bisa sukses karena Kaizen, tetapi juga karena ada puluhan faktor lainnya: Keiretsu, MITI, sistim finansial yg sangat solid dan berbunga rendah, lifetime employment, Deming’s QC System. Dan satu lagi: homogenitas masyarakatnya.

Nissan mempraktekkan Kaizen, tapi kini rontok. Perusahaan2 besar seperti Seiko, NEC (home electronicsnya), bahkan Panasonic, sudah tidak lagi terlalu menonjol.

Yang menjadi sumber utama laba dari Sony adalah Play Station, dan ini bukan Kaizen melainkan murni inovasi. Begitu pula Play Station 2, bukanlah hasil Kaizen dari PS1 tapi inovasi besar lagi.

Bagaimana kaizen untuk tujuan meningkatkan produktifitas seperti pertanyaan pak Anwar? Tentu saja berguna, sangat berguna. Walaupun demikian, Inovasi di biang inipun sudah ada dan sangat terkenal yaitu Process Reengineering. PR bukan hanya memperbaiki proses, tapi menghilangkan yg tidak perlu dengan konsep2 sangat baru. Sayang PR sering gagal karena tidak dibarengi dengan Change management (perubahan pun membutuhkan management)

Titik Singgung Kai Zen dan Inovasi

Simon Sibarani 

Titik singgung dari Kai Zen dan Inovasi adalah sama-sama mengupayakan perbaikan dari keadaan yang sudah ada. Perbedaannya adalah dari segi resiko. Kalau Kai Zen, karena prinsipnya adalah melakukan perbaikan secara perlahan (sedikit demi sedikit) maka resiko yang mungkin timbul cenderung lebih kecil dibandingkan resiko yang mungkin timbul dari suatu proses Innovasi (perombakan total).

Jepang, memilih proses Kai Zen adalah didasari budaya berpikir mereka, yang tidak menyukai hal-hal yang drastis. Tentunya, pola ini tidak berarti pasti akan bertahan terus pada orang Jepang, khususnya generasi muda yang sudah mulai berinteraksi dengan pola pikir Barat. Dan, saya juga tidak punya keyakinan, bahwa Kai Zen akan secara mutlak dan pasti, akan selalu berhasil, sebagaimana umumnya teori non eksak yang bersifat relatif. Itulah sebabnya, saya berpikir bahwa kita tidak boleh kaku berpegang pada hanya satu text book (teori).

 

Titik Singgung Kaizen dan Inovasi

Steve Sudjatmiko 

Setuju dengan pendapat rekan Simon bahwa keduanya sama-sama berusaha memperbaiki hal yg sekarang berlaku. Kedua hal ini samasekali tidak bertentangan. Yang lebih perlu ditekankan adalah apakah perusahaan sendiri mendorong adanya kaizen/inovasi. Bahwa Kaizen sering menunjukkan hasil pada waktu QCC menunjukkan bahwa berpikir mendalam untuk perbaikan yang nyata, sebenarnya perlu waktu, tenaga dan biaya. Sebelum suatu ide bisa dilaksanakan, karyawan harus membuat disain proses baru itu, penjelasan mendetail dan ukuran perbaikan yg timbul dari proses baru itu serta model miniatur untuk demo kalau bisa. Tentu saja ini makan waktu, dan biaya, serta otak.

Apalagi inovasi yg merombak dasar proses kerja, biasanya akan membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yg akan lebih besar. Di Jepang, perbaikan ditimbulkan oleh teamwork karena mereka menemukan bahwa jumlah dan mutu input dari banyak orang dengan intelijen rata-rata akan melebihi mutu dan jumlah input beberapa orang tertentu dengan intelijen di atas rata-rata. Di Barat, sebaliknya, perbaikan lebih diharapkan dari orang2 yg menonjol karena penekanan mereka ke individu. Penekanan inilah, pada hemat saya yang merupakan hal penting mengapa dengan adanya biaya dan support yg cukup, inovasi lebih sering muncul dari hasil karya individu sementara incremental improvement lebih banyak dari kerja kelompok.

 

Iklan

One thought on “Belajar Manajemen Perusahaan : Chapter. 5. Kaizen dan Inovasi. (versi chating).

  1. Kaizen dan inovasi sama – sama penting, karena dalam melakukan self development, manusia harus melihat titik kelemahannya sendiri lalu memperbaikinya dan pada akhirnya harus menambah kemampuannya agar tetap bisa bertahan di era globalisasi ini yang semakin gila tiap detiknya.

    FX.Richard Firmanto N – T.Industri Unv.Trisakti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s