METODE PEMBELAJARAN DI SEKOLAH FORMAL ALA PONDOK PESANTREN

Oleh : Khoirul Anwar, S.Pd.,M.Pd

Guru SMA 1 Dempet Demak

 

TIDAK sedikit para siswa kecewa, ketika hasil ulangan hariannya jelek. Padahal ia telah belajar semalam suntuk. Feno-mena ini, perlu memperoleh penanganan segera oleh para guru. Guru perlu memberi tahu cara belajar yang efektif, di samping dalam proses pembelajaran yang dilakukannya menerapkan model pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan.

 

Banyak cara belajar yang efektif. Namun, apabila kita melihat cara belajar para santri yang sedang menimba ilmu di pesantren, kita akan menemukan metode belajar yang unik. Mereka selalu menghormati kitab yang dibacanya dan guru yang mengajarkannya. Salah satunya termuat dalam “ta’alimul muta’allim” karya seorang ulama’ besar yang bernama Syaikh Az–Zarnuji. Kitab tersebut merupakan kitab wajib para santri di pesantren-pesantren, agar ilmu yang diperolehnya dapat bermanfaat dan memberi keberkahan dalam hidupnya. Menurut Syaikh Az–Zarnuji, seorang siswa dapat menerima materi pembelajaran yang diberikan guru dengan baik apabila menerapkan metode “dzakain (pintar), hirshin (opén), isthibarin (menerima atau nrimo, sabar), bulghotin (memiliki fasilitas), irsyadi ustadzi (dapat petunjuknya guru), thuli zamani (harus lama waktunya)” yang dapat disingkat sebagai metode “PONDOK”.

 

Pintar (Dzaka’) = Tidak Mengulang Kesalahan yang Sama

 

Seorang siswa dapat menerima pelajaran apabila ia pintar dalam mengingat apa yang diberikan oleh guru (Bahasa Jawa : titen). Artinya siswa perlu mengingat hal-hal yang diberikan oleh guru dengan baik, termasuk kesalahan-kesalahan yang ada sehingga tidak mengulang kesalahan yang sama dua kali. Sebagai ilustrasi apabila seseorang menemukan tempat persembunyian kepi-ting (Bahasa Jawa : leng yuyu), orang tersebut memasukkan salah satu jarinya dalam lubang tersebut, maka jari tersebut akan digigit oleh kepiting tersebut. Namun, orang tersebut mengulanginya terhadap jari yang lain, sehingga semua jari yang dimilikinya digigit oleh kepiting itu. Tindakan yang dilakukan itu menunjukkan kebodohannya, karena mengulang kesalahan dua kali bahkan lebih. Hal ini sering terjadi dalam pembelajaran matematika/lainnya. Misalnya siswa disuruh menentukan nilai x yang memenuhi persamaan 2x = 4. Siswa tersebut dapat menentukan  x yang memenuhinya yaitu 2, langkah yang ditempuh adalah 2x = 4 x = 4 – 2 = 2. Tampak sekilas benar, namun hal ini salah. Setelah diingatkan oleh guru, cara penyelesaian yang benar adalah  2x = 4 x =  = 2. Apabila siswa disuruh menentukan nilai x yang memenuhi 3x = 12, dengan cara x = 12 – 3 = 9, tentu siswa tersebut melakukan kesalahan yang sama dua kali artinya siswa tidak niteni terhadap yang disampaikan guru. Oleh karena itu, guru perlu memberikan penekanan terhadap kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan siswa, sehingga siswa dapat belajar dari pengalaman para siswa terdahulu. Pengalaman (orang yang sukses) adalah guru yang terbaik.

 

Opén (Hirshin) = Rajin Penuh Semangat

 

Opén (hirshin) meliputi rajin dan penuh semangat dalam mencatat dan mengerjakan tugas. Selama proses pembelajaran berlangsung, seorang siswa hendaknya mencatat materi yang telah disampaikan oleh guru, termasuk hal-hal yang menjadi penekanan. Dalam hal ini, guru perlu memberikan kiat mencatat yang baik dan efektif untuk dapat dipelajari kembali sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang diampu. Mata pelajaran yang besifat hafalan, guru dapat memberi contoh cara membuat rangkuman di rumah dengan memanfaatkan selembar kertas ukuran folio dibagi 4 bagian yang sama sehingga menjadi 8 halaman. Setiap halaman berisi rangkuman yang dibuat oleh siswa dengan bahasa yang mudah dipahaminya. Mata pelajaran yang bersifat hitungan, guru dapat memberi contoh cara membuat buku saku yang berisi rumus, contoh dan hal-hal yang dianggap perlu. Dengan cara demikian, siswa akan lebih mudah mengingat kembali materi yang ada lebih cepat. Hal ini akan terasa manfaatnya apabila dalam suatu waktu diadakan ulangan blok, dengan dua mata pelajaran atau lebih. Oleh karena itu, agar lebih efektif, guru perlu menugaskan untuk membuat rangkuman/buku saku yang secara periodik diadakan penilaian sebagai salah satu komponen penilaian portofolionya.

 

Setelah proses pembelajaran berlangsung, guru memberikan soal/tugas yang harus dikerjakan siswa. Para siswa harus mengerjakan soal/tugas yang ada dengan baik, apabila ada kesulitan hendaknya siswa langsung bertanya kepada guru/teman lainnya. Dalam kesempatan ini, guru perlu membimbing siswa yang mengalami kesulitan. Guru dapat menerapkan sistem siswa yang lebih pandai menjadi tutor bagi siswa yang lain (model tutor teman sebaya).

 

Nrimo (Isthibarin) = Menerima dengan Sabar

 

Apabila siswa telah pintar (dzaka’) dan opén (hirshin) terhadap materi pembelajaran yang ada, namun hasil yang diperoleh belum maksimal, maka seorang siswa harus menerimanya dengan lapang dada (sabar) dengan terus mengevaluasi terhadap kegiatan yang telah dilakukan. Tidak jarang, kita menjumpai seorang siswa patah semangat, ketika hasil ulangannya belum sesuai harapan, meski sudah belajar sekuat tenaga. Para siswa perlu dimotivasi bahwa mengubah kebiasaan yang lebih baik untuk sukses membutuhkan kesabaran dan keuletan. Untuk dapat meningkatkan hasil belajar diperlukan program nyata dan terencana melalui jadwal. Jadwal itu hendaknya berisi kegiatan yang dilakukan setiap hari termasuk waktu untuk mempelajari materi pelajaran yang telah diterima di pagi harinya maupun mata pelajaran yang akan dipelajari esok harinya. Program yang terjadwal itu harus dilaksanakan secara disiplin. Di sini peran guru, untuk selalu memotivasi para siswa untuk belajar lebih giat sangat diperlukan. Seorang guru hendak-nya mempunyai sistem penilaian yang berkesinambungan, sehingga dapat diketahui perkembangan prestasi peserta didiknya.

 

Memiliki Fasilitas (Bulghotin)

 

Untuk menunjang keberhasilan siswa dalam belajar diperlukan fasilitas pendukung (buku dan lainnya) dan untuk mewujudkannya diperlukan dana. Untuk dapat mewujudkannya, siswa diminta memperbanyak relasi dengan kakak kelasnya, sehingga sebagian fasilitas yang diperlukan dapat terpenuhi tanpa harus mengeluarkan biaya. Di samping itu, siswa dapat dilatih dengan gerakan menabung sebagian uang jajan yang diberikan orang tuanya, sehingga sewaktu-waktu membutuhkan buku/lainnya dapat menggunakan tabungan itu.

 

Seorang guru hendaknya memanfaatkan sumber belajar yang ada dan mudah di jangkau oleh siswa. Misalnya, dengan memanfaatkan perpustakaan atau buku digital via internet (buku standar yang telah dibeli hak ciptanya oleh negara). Para siswa didorong untuk mengakses internet terhadap buku-buku berkualitas dan memperbanyaknya sesuai dengan kebutuhannya, sehingga dapat meminimalkan pengelua-ran yang ada. Oleh guru itu, diperlukan kreativitas guru, untuk dapat memanfaatkan buku-buku yang murah, berkualitas dan terjangkau.

 

Dapat Petunjuk Guru (Irsyadi Ustadzi)

 

Dalam Bahasa Jawa, oleh petunjuking guru (Irsyadi Ustadzi) mengandung makna seorang siswa harus selalu memperhatikan penjelasan guru, menghormati guru, dan melaksanakan apa yang diperintahkannya dengan ikhlas. Hal ini sangat penting, sebab sering kali oleh karena seorang guru mempunyai keterbatasan dalam hal tinggi badan/suara, seorang siswa meremehkannya, sehingga siswa itu pasti tidak dapat menyerap materi yang disampaikan. Kalaupun dapat ia serap, tetapi keberkahan (kebermaknaan) dalam menempuh kehidupan di masyarakat kelak tidak ia dapatkan. Oleh karena itu, para siswa hendaknya dididik tentang pentingnya keberkahan ilmu melalui sikap positif terhadap guru yang mengajarnya dan buku yang dipelajarinya. Namun demikian, seorang guru hendaknya juga meningkatkan keprofesionalannya dalam pembelajarannya, baik penguasaan terhadap materi yang diajarkannya maupun metode pembelajarannya. Guru hendaknya menampilkan sosok seorang yang dapat di ”gugu lan ditiru”.

 

Harus Lama Waktunya (Thuli Zamani)

 

Kesuksesan seseorang memerlukan beberapa tahap/rangkaian pencapaian. Tidak mungkin kesuksesan dapat dicapai secara tiba-tiba. Kesuksesan dapat dicapai melalui planning (perencanaan) yang matang. Untuk mewujudkan rencana yang ada, diperlukan waktu yang cukup. Seorang anak yang baru lahir tidak mungkin langsung bisa jalan, ia memerlukan beberapa tahap dan waktu yang cukup untuk bisa berjalan. Begitu pula, seorang siswa untuk dapat me-nguasai materi pelajaran dengan baik, membutuhkan waktu yang cukup untuk belajar. Kalau seorang siswa yang belum terbiasa belajar dengan baik, ia memerlukan waktu yang lebih panjang dari pada siswa yang sudah terbiasa belajar. Kalau satu kali membaca belum paham/hafal, maka harus diulang lagi. Kalau belum paham/hafal juga, maka perlu diulang lagi, demikian seterusnya. Hal ini juga berlaku terhadap mata pelajaran yang bersifat hitung-an. Kalau satu kali mencoba mengerjakan soal belum dapat menyelesaikannya, maka perlu dicoba lagi dengan memperhatikan konsep yang ada dan contoh penerapannya.

 

Dengan menerapkan metode belajar ala ”PONDOK” di atas diharapkan siswa dapat memperoleh hasil yang optimal dan penuh berkah, sehingga dapat menjadi generasi yang selalu mengenang dan menghormati guru yang mengajarnya. Itulah harapan seorang guru tanpa tanda jasa.

 

Adopted from : www.radarsemarang.com with original title “Metode Belajar Ala “Pondok” di Sekolah Formal

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s