MENGENAL MELAMIN SEBAGAI RESIN.

Akhir – akhir ini kita sering mendengar kasus – kasus tentang kematian yang dihubungkan dengan produk – produk makanan dan minuman (khususnya susu) yang mengandung melamin. Pasti orang – orang banyak bertanya! Apasih melamin itu? Disini kita akan sedikit menjelaskan mengenai melamin tapi dalam versi yang berbeda! Maksudnya melamin yang digunakan ”pada umumnya” (mungkin sebagian besar orang menyebut ”melamin yang digunakan untuk campuran susu” merupakan tindakan ”penyalahgunaan”).

Dalam suatu ilmu kimia khususnya kimia organik, kita tentu mengenal bahasan tentang kimia polimer.  Pada bahan polimer kita mengenal istilah resin termostet, jenis – jenisnya-pun banyak. Ada resin fenol, resin urea dan resin melamin yang dihasilkan dari kondensasi formalin pada pemanasan dan resin epoksi dihasilkan dari polimerisasi adisi pada pemanasan dengan adanya katalis amino (makanya jika (”disalahgunakan”) ditambahkan pada susu akan menaikkan kadar protein karena gugus aminonya sangat tinggi sedangkan kandungan formalinnya akan membuat susu awet atau tahan lama) . Dalam setiap hal resin yang dipanas-awetkan mempunyai ikatan dengan struktur jaringan, sukar larut dalam pelarut dan tak dapat dilelehkan oleh panas. Bahan ini terutama digunakan untuk bahan – bahan teknik seperti komponen listrik dan mekanik, pelapis hiasan, dsb. Resin melamin lebih unggul dalam berbagai sifat daripada resin urea.

Ø      Cara produksi

Karena melamin mempunyai 3 gugus amino, maka 6 mol formaldehid dapat bereaksi dengan 1 mol melamin, tetapi pada umumnya 3 – 5 mol formaldehid digunakan untuk membuat resin. Bahan bereaksi secara termal dengan katalis. Untuk membuat bahan cetakan, 6 g (1 mol) melamin direaksikan dengan 243 g formalin 37% (3 mol sebagai formaldehid) diatur sampai pH 8 – 9 dengan larutan natrium karbonat dalam air. Setelah 60 – 90 menit bahan dipindahkan ke alat penekan, dicampur dengan 55 – 85 g pulp 30 – 40%, pengeras 0.05 – 1% (bahan asam lemah seperti ftalat anhidrid atau garamnya) dan 0.5 – 2% bahan pewarna. Berbagai bahan dapat dibuat dengan kondensasi yang sesuai untuk memenuhi kegunaan yang bersangkutan, seperti perekat, lapisan hiasan, lembaran yang laminasi, cat, kertas dan serat.

Ø      Pencetakan

Seperti halnya resin urea, dilakukan pencetakan : tekanan, pengalihan, dan injeksi. Suhu pencetakan 10 – 20oC lebih tinggi daripada resin urea. Sebagai kondisi pencetakan standar, digunakan temperatur pencetakan 150 – 170oC, tekanan pencetakan 150 – 250 kgf/cm2, waktu pencetakan 1 menit pada 160oC atau 4 detik pada 170oc per 1 mm tebal bahan. Dalam produksi alat – alat makan, pengerjaan kurang sesuai menghasilkan formalin sisa yang mengganggu dan merusak kemampuan pengguaan, karena itu pada umumnya barang cetakan dibiarkan dalam termostat pada 80 – 120oC selama 30 – 60 menit agar pemantapan dapat berlangsung secukupnya  (pemanggangan akhir). Proses yang cocok digunakan untuk pencetakan pelapis hiasan dan lembaran – lembaran yang dilapisi, perekat, pengecatan, pelapisan resin pada serat dan kertas, dsb. untuk memenuhi berbagai keperluan.

Ø      Penggunaan

Barang – barang cetakan dari resin melamin dapat diwarnai secara bebas. Karena unggul dalam ketahan air (khususnya tahan terhadap air mendidih), ketahanan panas, ketahanan terhadap isolasi listrik, ketahanan busur listrik, bahan ini kegunaannya luas. Penggunaan utama adalah untuk alat – alat makan meskipun tidak sukup anti penodaan (mudah dinoadai oleh kopi, lipstik, dsb), bagian – bagian komponen listrik dan mekanik.

Untuk pelapis hiasan didapatkan hasil yang baik dalam warna, kilap dan desain. Penerapannya luas karena unggul dalam ketahanan abrasi, ketahanan bakar, ketahanan pelarut, ketahanan kimia, dsb. Lembaran pelapis banyak digunakan sebagai komponen teknik. Sebagai perekat banyak digunakan untuk kayu lapis, pengerjaan kayu, dsb. karena kelekatannya sangat tahan air dan tahan terhadapa proses penuaan. Karena mudah menyebabkan keretakan pada pelapisan dan kelekatannya terhadap logam tak selalu menguntungkan, maka bahan dicampur sehingga terjadi resin alkid, resin akrilik, resin epoksi atau dimodifikasi dengannya bila digunakan sebagai bahan cat. Bahan tersebut terutama digunakan sebagai cat bakar untuk mobil, komponen listrik dan komponen kereta api.

Dari sedikit paparan diatas, melamin yang merupakan polimer resin termostat sangat banyak kegunaannya. Tetapi jikalau untuk bahan tambahan makanan dan minuman, belum ada rekomendasi yang tepat untuk menjadikan melamin ini sebagai bahan penambah makanan. Masih ingatkah  kita akan cerita formalin, pewarna tekstil, boraks, dsb. yang dijadikan bahan tambahan makanan.  Peran BPOM sangat dibutuhkan.

Bersambung pada “Melamin Sebagai Bahan Busa dan Lem” dan “Melamin Sebagai Bahan Finishing Tekstil”… by.@_pararaja

Reference: Surdia, Tata. Prof. Ir. Ms. Met.E; Saito, Shinzoku. Prof. Dr. Pengetahuan Barang Teknik. Cet.2. Jakarta : PT. Pradnya Paramita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s