BAGAIMANA MEMAKNAI IDUL FITRI !

 

Takbir berkumandang
Membahana di penjuru angkasa
Menyentuh relung kalbu
Menelusup ke dalam sanubari

Membuncah rasa di hati
Menjumpai hari kemenangan
Namun kesedihan juga meliputi diri
Benarkah kita telah menang?!


Di kamus “Al-Munawwir Arab–Indonesia”, al fith-ru
(الفطر) adalah kasru ash-shawmi, yang artinya hal buka puasa. Selain fith-run, buka puasa disebut juga ifthâr (sighat mashdar dari aftharayufthiru). Senada dengan hal tersebut, makan pagi yang dalam bahasa Inggris kita kenal dengan istilah breakfast (menghentikan puasa), dalam bahasa Arab disebut futhûr.

Dengan demikian, Idul Fitri (عيد الفطر) berarti kembali berbuka atau kembali makan.

Berdasarkan uraian tersebut, hari Idul Fitri dapat diterjemahkan sebagai hari kembali berbuka puasa. Oleh karena itulah salah satu sunnah sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri adalah makan atau minum walaupun sedikit. Hal ini untuk menunjukkan bahwa hari itu waktunya berbuka dan dilarang berpuasa.


عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم لاَيَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ. وَفِي رِوَايَةٍ عَنْهُ قَالَ : وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا


Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra : Tak sekali pun Nabi Muhammad saw. pergi (untuk shalat) pada hari raya Idul Fitri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya.
Anas juga mengatakan : Nabi saw. makan kurma dalam jumlah ganjil. (HR Bukhari)


Sampai di sini dapat diambil kesimpulan sementara bahwa sesuai makna kata yang ada, Idul Fitri adalah kembali kepada aktivitas sebelum puasa, yaitu makan, minum dan hal-hal lain yang tidak diperbolehkan selama puasa Ramadhan. Apabila hanya ditinjau dari sudut pandang ini, memang Idul Fitri tidak mempunyai makna filosofis tinggi.

Namun di sisi lain, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata fithr antara lain berarti asal kejadian, agama yang benar atau kesucian. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan pula bahwa Idul Fitri bisa berarti kembalinya kita kepada keadaan suci, atau keterbebasan dari segala dosa dan noda sehingga berada dalam kesucian (fitrah).

Hal ini selaras dengan hadits Nabi Muhammad saw. bahwa puasa Ramadhan dan segala aktivitas ibadah di dalamnya menghapuskan dosa-dosa terdahulu.


مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسـَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa puasa Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq ‘alayh)


مَنْ قََامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسـَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa shalat malam di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq ‘alayh)

Sekian banyak ungkapan, kalimat bijak dan puisi juga telah disampaikan demi menunjukkan betapa agung dan mulia bulan Ramadhan itu. Salah satu ungkapan (maqâlah)—bukan hadits Nabi saw. berdasarkan penelitian KH. Ali Mustafa Ya’qub dan juga oleh Syaikh Albani—yang menjadi idola para da‘i adalah :


اَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ وَاَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ


Awal (sepuluh hari pertama) bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya (sepuluh hari kedua) ampunan dan akhir Ramadhan (sepuluh hari terakhir) adalah pembebasan dari api neraka.

 

Argumentasi tersebut diperkuat lagi dengan kebiasaan kita saling memaafkan saat Idul Fitri. Memang, seharusnya meminta dan memberi maaf tidak perlu menunggu Idul Fitri. Namun demikian, tradisi maaf-memaafkan ketika Idul Fitri tetaplah baik. Tentunya harus dilakukan dengan tulus, bukan sekadar basa-basi. Oleh karena itu, ada ayat yang sangat populer ketika Idul Fitri, yang terjemahnya sebagai berikut :

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.

(QS Âli ‘Imrân [3] : 133-136)

Imam Muslim pernah meriwayatkan hadits yang menjelaskan bahwa orang bangkrut adalah orang yang datang di Hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, sementara sebelumnya (di dunia) ia telah mencaci ini, menuduh (berzina) itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu dan memukul ini (dengan tidak haq).

Untuk menegakkan keadilan, kepada si ini diberikan ganjaran kebaikan orang itu dan kepada si itu diberikan ganjaran kebaikannya yang lain. Apabila habis ganjaran kebaikan orang tersebut sebelum semua tanggungannya terlunasi, maka akan diambil dosa-dosa mereka yang pernah disalahinya dan ditimpakan kepadanya. Kemudian orang itu pun dilemparkan ke neraka. Na‘ûdzubillâh.

 

Dalam bahasa Jawa, hari raya Idul Fitri disebut juga dengan istilah “Lebaran”. KH Masruri A. Mughni—pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah 2 Benda, Sirampog, Brebes, Jawa Tengah—menerangkan bahwa Lebaran mengandung maksud lebar-lebur-luber. Untuk itu, dalam pemaknaannya haruslah diwujudkan pada hal-hal yang positif. Seperti menjalin silaturrahim sebagai sarana membebaskan diri dosa yang bertautan antar makhluk.

Silaturrahim tidak hanya berbentuk pertemuan formal. Halal bi halal, misal, maknanya sangat kering karena digelar hanya sebagai ritual formal. “Yang utama itu, menyambangi dari rumah ke rumah, saling duduk bercengkerama, saling mengenalkan dan mengikat kerabat,” anjur beliau.

 

Di sebuah hadits disebutkan :


مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غَفَرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا


Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan melainkan keduanya akan diampuni (dosanya) sebelum mereka berpisah. (HR Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Al-Hasan menuturkan, “Berjabat tangan dapat menambah kasih sayang.”

Nah, pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri sendiri adalah, “Apakah kita memilih makna kembali suci (fith-rah) ataukah kembali makan (fith-run)?”

yaitu “Apakah kita memilih makna kembali suci (fith-rah) ataukah kembali makan (fith-run)?”

Kemungkinan besar kita akan memilih kembali fitrah atau menggabungkan kedua makna yang ada, di mana tetap terdapat makna kembali fitrah, entah apa pun alasannya—apakah karena ikut-ikutan saja atau benar-benar dari lubuk sanubari.

Apa pun argumentasi kita, sah-sah saja jika kita berkata bahwa kita telah kembali kepada fitrah. Namun, jangan kita lupakan bahwa ucapan ini harus dipertanyakan atau diuji. Pertanyaan berikutnya adalah, “Apakah kita yakin bahwa puasa, tarawih, tadarrus dan segenap ibadah kita lainnya di bulan Ramadhan diterima Allah SWT?”

Kita memang bertabiat sering GR (Gede Rasa). Ketika ada pembahasan tentang kebaikan, entah dari guru, ustadz, kyai, ajengan, buya, tuan guru, syaikh, ulama, da‘i atau buku, kita merasa sudah melakukan itu semua.

Kita merasa sudah menjalankan puasa Ramadhan dengan sangat baik, bahkan khatam Al-Qur’an minimal sekali dalam bulan itu.

Kita merasa sudah melaksanakan shalat-shalat sunnah, yaitu Dhuha, Rawatib (Qabliyah dan Ba‘diyah), Ba‘dal Wudhu, Tahajud, Tahiyyatul Masjid, Tasbih, Witir dan shalat Mutlak yang tak ada batasan jumlah rakaatnya.

Kita merasa sudah banyak berdzikir menyebut asma Allah, juga membaca shalawat untuk junjungan kita Rasulullah Muhammad saw.

Kita merasa mendapatkan lailatul qadar karena kita senantiasa tarawih dan tidak lupa i‘tikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.

Sebaliknya, tatkala ketidakbaikan diceritakan, serta merta kita berkata pada diri sendiri bahwa pelakunya bukanlah diri kita. Malah, kita sibuk mencari siapa yang melakukan ketidakbaikan itu. Sungguh, kita memang mudah terjangkit penyakit ‘ujub (membangga-banggakan amal ibadah sendiri). Na‘ûdzubillâh.

Seorang dokter mengatakan bahwa “merasa” itu menguatirkan. Seseorang yang merasa diri sehat, kemungkinan bisa terjangkit banyak penyakit, misalnya darah tinggi, kolesterol, asam urat, liver dan lainnya.

Begitu pula jika kita merasa diri baik dan benar, bisa jadi di dalam diri kita justru banyak sekali pintu-pintu yang sudah dimasuki dan dihuni oleh setan dan kawan-kawannya.

Seorang ulama menasihatkan, “Kita sering menggunakan ruas-ruas jemari tangan, tasbih atau sejenisnya, untuk menghitung berapa banyak dzikir yang sudah kita lafalkan. Pernahkah dengan alat yang sama, kita menghitung berapa banyak kata-kata tidak berguna, tidak santun, kasar apalagi sia-sia yang telah kita ucapkan?”

Mungkin kita bertanya, “Jika kita tidak diperbolehkan merasa semua ibadah kita diterima, apakah kita harus merasa segala ibadah kita ditolak? Bukankah hal ini akan membuat kita malas beribadah bahkan bisa menjurus kepada keputus-asaan?”

Kita juga tidak diperkenankan merasa semua ibadah kita tidak diterima dan segala dosa kita tidak diampuni. Yang harus dimiliki adalah rajâ’ dan khawf haruslah seimbang. Rajâ’ adalah pengharapan untuk mendapat pengampunan dan rahmat Allah. Adapun khawf yaitu takut kepada Allah atau kuatir jika dosa-dosa kita tidak diampuni dan ibadah kita ditolak.

Abu Ali ar-Rudzabari menganalogikan rajâ’ dan khawf bagaikan dua sayap burung. Apabila dua sayap itu sama (seimbang), maka burung itu akan seimbang dan terbang dengan sempurna (baik).

Tentang keseimbangan ini, diriwayatkan bahwa Sahabat Ali bin Abi Thalib kw. pernah memberi nasihat kepada salah satu putera beliau,


“Wahai anakku, takutlah kepada Allah, dengan menganggap bahwa Allah tidak akan menerima kebaikanmu walaupun kebaikanmu itu mencapai seluruh kebaikan penghuni bumi.
Berharaplah kepada Allah, dengan menganggap bahwa apabila dosa kamu sebesar dosa seluruh penghuni bumi dan memohon ampunan dari Allah, maka Allah akan mengampuninya.”

Lalu, apa barometer bahwa puasa kita diterima Allah? Ukuran yang pasti hanya Allah Yang Maha Tahu. Namun, salah satu hal yang bisa kita jadikan rujukan adalah keadaan kita kembali seperti bayi lagi.

M. Quraish Shihab menerangkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan ke-9 menurut kalender Hijriyah. Sebagaimana kehamilan, maka setelah melewati bulan ke-9 sang jabang bayi akan lahir. Oleh karena itu, setelah Ramadhan, kita harus mengupayakan diri seperti bayi lagi, sebagaimana sebagaimana tercantum dalam sebuah penggalan hadits :

فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ احْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ الذُّنُوبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Maka siapa berpuasa dan qiyam Ramadhan karena iman dan semata-mata karena Allah, maka ia keluar dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya. (HR Ahmad)

Apa pula parameter yang bisa kita jadikan ukuran bahwa kita kembali seperti bayi? Seorang Ibu Nyai menjelaskannya secara sederhana sekali, tidak perlu banyak atribut, aksioma maupun algoritma. Salah satu ciri utama yaitu, “Jika kita seperti bayi, maka apa pun yang kita ucapkan membuat orang lain bahagia mendengarnya.”

Tidakkah kita lihat bahwa apa pun celoteh bayi akan membuat orang-orang di sekitarnya tersenyum, ceria, gemes dan bahagia? Sudahkah kita seperti ini?

Adopted from www.achmadfaisol.blogspot.com  with original title “Idul Fitri, Kembali Fith-rah ataukah Kembali Fith-run?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s