Sebuah renungan singkat : HIDUP DENGAN MERASA CUKUP

Ada seorang kawan yang selalu hidup di masa depan. Ketika masih
berjalan kaki, ia berdoa untuk memiliki motor. Ketika sudah memiliki
motor, ia tidak puas, ia ingin memiliki mobil. Ketika telah memiliki
mobil, ia tetap tidak puas, ia ingin memiliki mobil yang lebih bagus
lagi. Orang-orang disekitarnya, menyebutnya sebagai orang yang
hidupnya selalu di masa depan, bukan di masa sekarang. Ia selalu
mengeluh dan jarang sekali mensyukuri apa yang dimiliki saat ini.
Akibatnya, hidupnya menjadi kurang produktif karena hari-hari yang
dilaluinya terasa begitu berat.

Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu
bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya.
Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun
yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti
bila si petani mengucapkan kata “cukup”.

Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan
di depan matanya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang
kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk
disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani
mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh
rumahnya. Masih kurang! Ia menggali sebuah lubang besar untuk
menimbun emasnya. Belum cukup, ia membiarkan mata air itu terus
mengeluarkan kepingan uang emas, hingga akhirnya petani itu mati
tertimbun bersama ketamakannya karena ia tak pernah bisa berkata
cukup.

Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah
kata “cukup”. Kapankah kita bisa berkata cukup? Hampir semua pegawai
merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.
Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah
target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat
istrinya kurang pengertian. Orang tua mengomel anak-anaknya terlalu
menuntut banyak hal. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah
hati. Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata
cukup?

Adalah wajar dan dapat dimengerti bila Anda ingin memiliki banyak
uang. Memiliki banyak uang, khususnya di jaman kapitalis seperti
sekarang ini, adalah sama dengan memiliki banyak hal. Kesejahteraan
memang berkaitan dengan uang, akan tetapi, yang paling penting adalah
bahwa kesejahteraan tidak disebabkan oleh uang. Tahukah Anda bahwa
bukan uang yang membuat bahagia? Anda dapat memiliki mobil mewah,
rumah besar, anak-anak yang bersekolah termahal, dan istri Anda
sangat cantik bagai seorang supermodel. Tetapi mungkin Anda tetap
tidak bahagia, dan Anda tidak tahu mengapa. Sebagaimana diakui oleh
banyak orang, mengucapkan kata cukup adalah bagian terberat dalam
perjalanan hidup menuju kesejahteraan dan kebahagiaan sesungguhnya.

Cukup bukanlah soal berapa banyak yang Anda punyai. Cukup adalah
persoalan kepuasan hati. Cukup hanya mampu diucapkan oleh orang yang
bisa mensyukuri. Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata
cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. “Cukup”
jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri.
Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita
terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan
manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri
dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi
manusia yang berbahagia. Belajarlah untuk berkata “Cukup”.

Tidak salah bila Anda memiliki target dalam hidup Anda. Jangan
turunkan target yang ingin Anda capai. Hanya saja, apapun level hidup
Anda sekarang ini, punyai rasa cukup tanpa melepaskan pengharapan
yang lebih besar di depan sana. Rasa cukup membuat hidup Anda menjadi
lebih produktif.

Tips meningkatkan produktivitas Anda:

Bebaskan diri Anda dari kecemasan.
Syukuri dimanapun Anda sekarang berada.
Punyai rasa cukup tanpa melepaskan pengharapan yang lebih besar di
depan sana.

One thought on “Sebuah renungan singkat : HIDUP DENGAN MERASA CUKUP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s