INSTROPEKSI DIRI DENGAN MENGINGAT MATI.

Chapter. 1

 

Orang yang tenggelam dalam keduniaan dan terpedaya olehnya, tentu hatinya lalai mengingat mati. Jika diingatkan tentang mati, maka dia merasa tidak suka dan menghindar. Dalam hal ini, manusia ada yang tenggelam, ada yang bertaubat, ada yang memulai dan ada yang sadar dan waspada.

 

Orang yang tenggelam dalam keduniaan tidak akan mengingat mati. Kalau pun dia mengingat mati, maka dia akan menyayangkan terhadap keduniaan yang belum diraihnya, lalu sibuk mencerca mati. Ingatannya tentang kematian hanya membuatnya semakin jauh dari Allah.

Sedangkan orang yang bertaubat, dia banyak mengingat mati untuk membangkitkan ketakutan di dalam hatinya, agar dia bisa bertaubat secara sempurna. Boleh jadi dia takut mati, karena merasa taubatnya belum sempurna atau sebelum dia memperoleh bekal yang layak. Ketidaksukaannya terhadap kematian masih bisa ditolerir, dan yang demikian ini tidak termasuk dalam sabda Nabi Shalallahu alaihi wa salam, “Siapa yang tak suka bersua Allah, maka Allah pun tak suka bersua dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dia takut bertemu Allah, karena menyadari keterbatasan dan keteledoran dirinya. Dia tak ubahnya orang yang menunda pertemuan dengan kekasih, karena masih sibuk menyiapkan pertemuan dengannya, agar pertemuan itu benar-benar menyenangkannya. Jadi tidak dianggap sebagai ketidaksukaan terhadap pertemuan itu. Tandanya, dia selalu mengadakan persiapan dan tidak menyibukkan diri dengan urusan orang lain. Jika tidak, maka dia sama saja dengan orang yang tenggelam dalam keduniaan.

Sedangkan orang sadar selalu mengingat mati, karena kematian itu merupakan saat yang dijanjikan untuk bertemu sang kekasih. Tentu saja dia tidak lupa saat pertemuan dengan kekasih. Biasanya orang yang seperti ini menganggap lamban saat datangnya pertemuan itu. Dia lebih suka segera lepas dari tempat yang dipenuhi orang-orang yang durhaka, lalu berpindah ke sisi Rabbul-alamin, sebagaimana yang dikatakan sebagian diantara mereka, “Sang kekasih datang dair atas sana”.

Jadi, keengganan orang yang bertaubat terhadap kematian masih bisa ditolerir. Sementara ada orang lain yang justru mengharapkan kematian. Yang lebih tinggi derajatnya adalah orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah, sehingga dia tidak memilih hidup dan tidak memilih mati untuk dirinya. Yang paling dia sukai adalah apa yang disukai pelindungnya. Cinta semacam ini berubah menjadi kepasrahan dan penyerahan diri. Ini merupakan puncak tujuan.

Bagaimana pun juga, mengingat mati itu ada pahala dan keutamaannya. Orang yang tenggelam dalam keduniaan, mengingat mati justru untuk mendekatkannya kepada keduniaan itu.

Hamid Al-Qushairy berkata, “Setiap orang di antara kita yakin akan datangnya kematian, sementara kita tidak melihat seseorang bersiap-siap menghadapi kematian itu. Setiap orang di antara kita yakin adanya surga, sementara kita tidak melihat ada yang berbuat agar bisa masuk surga. Setiap orang di antara kita yakin adanya neraka, sementara kita tidak melihat orang yang takut terhadap neraka. Untuk apa kalian bersenang-senang? Apa yang sedang kalian tunggu? Tiada lain adalah kematian. Kalian akan mendatangi Allah dengan membawa kebaikan ataukah keburukan. Maka hampirilah Allah dengan cara yang baik.

 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah mengingat perusak kelezatan-kelezatan, yaitu mati.” (HR Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban).

Al-Hasan Al-Bashry berkata, “Kematian melecehkan dunia dan tidak menyisakan kesenangan bagi orang yang berakal. Selagi seseorang mengharuskan hatinya untuk mengingat mati, maka dunia terasa kecil di matanya dan segala apa yang ada di dalamnya menjadi remeh.

Jika Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu ingat mati, maka dia menggigil seperti burung yang sedang menggigil. Setiap malam dia mengumpulkan para fuqaha, lalu mereka saling mengingatkan kematian dan hari kiamat, lalu mereka semua menangis, seakan-akan di hadapan mereka ada mayat.

Syumaith bin Ajlan berkata, “Siapa yang menjadikan kematian pusat perhatiannya, maka dia tidak lagi peduli terhadap kesempitan dunia dan kelapangannya.”

Ketahuilah bahwa bencana kematian itu amat besar. Banyak orang yang melalaikan kematian karena mereka tidak memikirkan dan mengingatnya. Kalau pun ada yang mengingatnya, toh dia mengingatnya dengan hati yang lalai, sehingga tidak ada gunanya dia mengingat mati. Cara yang harus dilakukan seorang hamba ialah mengosongkan hati tatkala mengingat kematian yang seakan-akan ada di hadapannya, seperti orang yang hendak bepergian ke daerah yang berbahaya atau tatkala hendak naik perahu mengarungi lautan, yang tentunya dia mengingat kecuali perjalanannya. Cara yang paling efektif baginya ialah mengingat keadaan dirinya dan orang-orang yang sebelumnya, mengingat kematian dan kemusnahan mereka.

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Orang yang berbahagia ialah yang bisa mengambil pelajaran dari orang lain.”

Abu Darda’ berkata, “Jika engkau mengingat orang-orang yang sudah meninggal, maka jadikanlah dirimu termasuk mereka yang sudah meninggal.”

Ada baiknya jika dia memasuki kuburan dan mengingat orang-orang yang sudah dipendam disana. Selagi hatinya mulai condong kepada keduniaan, maka hendaklah dia berpikir bahwa dia pasti akan meninggalkannya dan harapan-harapannya pun menjadi pupus.

Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam memegangi kedua pundakku lalu beliau bersabda, “Jadilah di dunia seakan-akan engkau adalah orang asing atau seorang pelancong.” (HR Bukhary dan Ahmad). Ibnu Umar berkata, “Jika engkau berada pada sore hari, maka janganlah menunggu sore hariny. Pergunakanlah kesehatanmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu.”

Dari Al-Hasan, dia berkata, “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa salam bertanya kepada para sahabat, “Apakah setiap orang di antara kalian ingin masuk surga?” Mereka menjawab, “Benar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Pendekkanlah angan-angan, buatlah ajal kalian ada di depan mata kalian dan malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” (Diriwayatkan Ibnu Abid-Dunya)

Dari Abu Zakaria At-Taimy, dia berkata, “Tatkala Sulaiman bin Abdul Malik berada di Masjidil Haram, tiba-tiba ada yang menyodorkan selembar batu yang berukir. Lalu dia meminta orang yang dapat membacanya. Ternyata di batu itu tertulis: Wahai anak Adam, andaikan engkau tahu sisa umurmu, tentu engkau tidak akan berangan-angan yang muluk-muluk, engkau akan beramal lebih banyak lagi dan engkau tidak akan terlalu berambisi. Penyesalanmu akan muncul jika kakimu sudah tergelincir dan keluargamu sudah pasrah terhadap keadaan dirimu, dan engkau akan menigngalkan anak serta keturunan. Saat itu engkau tidak bisa kembali lagi ke dunia dan tidak bisa lagi menambah amalmu. Berbuatlah untuk menghadapi hari kiamat, hari yang diwarnai penyesalan dan kerugian.”

Ketahuilah, munculnya angan-angan yang muluk-muluk ini ada dua hal:

1. Cinta Kepada Dunia.

Jika manusia sudah menyatu dengan keduniaan, kenikmatan dan belenggunya, maka hatinya merasa berat untuk berpisah dengan dunia, sehingga di dalam hatinya tidak terlintas pikiran tentang mati. Padahal kematianlah yang akan memisahkan dirinya dengan dunia. Siapa pun yang membenci sesuatu, tentu akan menjauhkan sesuatu itu dari dirinya. Manusia selalu dibayang-bayangi angan-angan yang batil. Dia berangan-angan sesuai dengan kehendaknya, seperti hidup terus di dunia, mendapatkan seluruh barang yang dibutuhkannya, seperti harta benda, tempat tinggal, keluarga dan sebab-sebab keduniaan lainnya. Hatinya hanya terpusat pada hal-hal ini, sehingga lalai mengingat mati dan tidak membayangkan kedekatan kematiannya.

Andakain di dalam hatinya sesekali melintas pikiran tentang kematian dan perlu bersiap-siap menghadapinya, tentu dia bersikap waspada dan mengingat dirinya. Namun dia hanya berkata, “Hari-hari ada di depanmu hingga engkau menjadi dewasa. Setelah itu engkau bertaubat.” Setelah dewasa dia berkata, “Sebentar lagi engkau akan menjadi tua.” Setelah tua dia berkata, “Tunggulh hingga rumah ini rampung atau biar kuselesaikan terlebih dahulu perjalananku.” Dia menunda-nunda dan terus menunda-nunda, hingga selesainya kesibukan demi kesibukan dan hari demi hari, hingga ajal menjemputnya tanpa disadarinya, dan saat itulah dia akan merasakan penyesalan yang mendalam.’

Kebanyakan teriakan para penghuni neraka ialah kata-kata, “Andaikata”. Mereka berkata, “Aduhai aku benar-benar menyesal”, yang juga menggambarkan kata-kata “Andaikata”. Sumber dari seluruh angan-angan ini adalah cinta kepada dunia dan lalai terhadap sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam, “Cintailah apa pun sekehendakmu, toh engkau akan berpisah dengannya.” (Diriwayatkan Al-Hakimn dan Abu Nu’aim)

2. Kebodohan

Hal ini terjadi karena manusia tidak mempergunakan masa mudanya, menganggap kematian masih lama datangnya karena dia masih muda. Apakah pemuda semacam ini tidak menghitung bahwa orang-orang yang berumur panjang di wilayahnya tidak lebih dari sepuluh orang? Mengapa jumlah ornag tua hanya sedikit? Karena banyak manusia yang meninggal dunia selagi muda. Berbarengan dengan meninggalnya satu orang tua, ada seribu bayi dan anak muda yang meninggal dunia. Dia tertipu oleh kesehatannya dan tidak tahu bahwa kematian bisa menghampirinya secara tiba-tiba, sekalipun dia menganggap kematian itu masih lama. Sakit bisa menimpanya secara tiba-tiba. Jika dia jatuh sakit, maka kematian tidak jauh darinya.

Andaikan dia mau berpikir dan menyadari bahwa kematian itu tidak mempunyai waktu yang pasti, entah pada musim panas, gugur atau semi, siang atau malam, tidak terikat pada umur tertentu, muda atau tua, tentu dia akan menganggap serius urusan kematian ini dan tentu dia akan bersiap-siap menyongsongnya.

Chapter. 2

MATI adalah satu kejadian yang paling hebat, paling menakutkan dan paling mengerikan. Satu kejadian yang pasti akan dihadapi dan dialami oleh setiap manusia, satu kejadian yang tak dapat dihindari dengan cara bagaimanapun jua. Para Nabi dan Rasul, Jin dan Malaikat sekalipun tidak dapat menghindarkan diri dari mati.

Bila mati dikatakan satu peristiwa paling hebat, yang pasti terjadi atas diri tiap-tiap manusia. maka melupakan mati, atau tidak mengingat akan mati, adalah benar-benar satu kebodohan, satu perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Mengingati satu peristiwa yang hebat yang pasti akan dialami setiap manusia, bukankah satu kebodohan, tetapi adalah berupakan satu kesadaran, satu pengertian tentang diri dan tentang hidup.

Seorang manusia yang 100% melupakan mati, sedang dia pasti akan mengalami mati, berarti yang ia akan menempuh satu kejadian hebat. iaitu mati secara membuta tuli. la adalah ibarat seorang musafir yang akan menempuh satu daerah yang tak pernah dipelajari dan difikirkannya, dalam keadaan, gelap-gulita pula. Sudah pasti dia tidak akan dapat melangkah satu langkah pun di alam yang gelap itu, sudah pasti dia akan dihinggapi oleh perasaan getir dan takut, bingung tak tahu apa yang harus dilakukan.

Begitulah keadaan roh seorang manusia yang sudah mati, yang tak pernah mengingat-ingat akan mati, dan tak pernah mempelajari masalah mati, atau keadaan sesudah mati. Dalam keadaan gelap-gulita, takut, getir dan bingung terus-menerus, bukan dalam sehari dua hari, tetapi terusmenerus dalam masa berabad-abad sampai Hari Kiamat.

Untuk menghindarkan nasib yang demikian itu, maka Agama Islam menganjurkan kepada manusia semasa hidup supaya jangan lupa mati, agar mempelajari pula hakikat mati itu, agar dapat menempuh mati yang hebat itu denoan penuh pengertian dan kesadaran.

Orang yang mengerti akan hakikat mati, iaitu orang yang mempunyai kepercayaan dan keyakinan-keyakinan tentang masalah mati, berarti orang itu mengerti akan hakikat hidup, dan ia akan menjalani masa hidupnya dengan tindakan dan sikap yang sesuai dengan kepercayaan dan keyakinannya itu.

Alangkah sempit dan entengnya hidup tanpa kepercayaan dan keyakinan. Hidup tanpa kepercayaan dan keyakinan, adalah ibarat sebuah kapal yang mati mesinnya di tengah-tengah samudera dan dia tidak mempunyai sauh ataujangkar. Pastilah kapal itu akan terkatung-katung, bergerak menurut tempaan ombak atau arus yang datang menyerang. Atau ibarat layangan putus talinya, terkatung-katung di udara, tak tahu ke mana arah dan di daerah manajatuhnya.

Memang mengingat mati tanpa pengerban akan menyebabkan penderitaan batin yang amat berbahaya.,Tetapi mengingat akan mati, dengan penuh pengertian dan kepercayaan tentang hidup sesudah mati, bukanlah menyebabkan kesengsaraan batin, tetapi menimbulkan rasa bahagia dan keberanian. Sekalipun masih disertai dengan perasaan ngeri dan takut, tetapi perasaan ngeri dan takut yang terietak di atas dasar kesadaran dan pengertian, kepercayaan dan keyakinan. Seperti perasaan ngeri dan takut yang dirasakan oleh seorang mahasiswa menghadapi ujian atau tentamen, sedang dia sudah mahir dan hafal semua masalah kuliah yang akan diujikan itu. taitu satu perasaan ngeri dan takut yang disertai dengan harapan-lulus yang sepenuh-penuhnya.

Orang yang beriman itu akan menghadapi mati bukan dengan perasaan putus harapari, tetapi dengan penuh harapan, dengan pegangan batin yang amat teguh dan kokoh. Sebagai seorang paracutis (pasukan payung), dia melompat meninggalkan pesawat terbangnya dari angkasa yang amat tinggi, dengan kepercayaan dan keyakinan penuh, bahwa paracut (payungnya) akan terkembang, yang akan dapat menyelamatkanjiwanya. Hanya beberapa saat saja dia sedikit berdebar dan terkatung-katung di angkasa tinggi, dan akhirnya dia dapat berinjak di tanah kembali dengan kedua kakinya dengan tak kurang suatu apa.

Dengan keterangan ini nyata sekaii, bahwa mengingat-ingat mati bukanlah menakut-nakuti diri yang menyebabkan kesengsaraan batin.

Malah sebaliknya, mengingati mati akan menghiiangkan rasa takut dan ngeri dan memperkuat jiwa dan menambah ketabahan, persis seperti berbagai-bagai latihan Yang dilakukan pasukan paracut sebelum meloncat dengan payung dari udara Yang tinggi. lnilah satu guna dan faedah mengingati mati.

Karena perasaan dekat mati itu, maka tempoh hidupnya Yang pendek itu akan dipergunakannya sebaik-baiknya. Dia tidak akan membuangbuang waktu dan tempoh dalam hidupnya. Setiap detik dan menit, apalagi jam, hari dan minggu, amat berharga baginya. Setiap detik dan menit,jam dan hari itu akan dipergunakannya sebaik-baiknya untuk menghasilkan suatu Yang berguna bagi dirinya, bagi anak dan isterinya, bagi bangsa dan agamanya.

Orang Yang ingat akan mati, tidak mungkin akan hidup secara bermalas-malasan, tidak mungkin dia akan membuang-buang waktu, hidup berpoya-poya dan bermain-main. Pasti ia akan bekerja dengan giat dan gesit. Dia ingin dapat meninggalkan apa-apa untuk anak dan isterinya, untuk bangsa dan tanahairnya. untuk agama Yang dianutinya.

Ingat akan mati menyebabkan orang giat bekerja untuk diri, keluarga dan masyarakat. Ingat akan mati akan menjadikan masyarakat akan lebih pesat majunya.

Sebaliknya orang-orang Yang lupa akan mati itu, akan hidup bermalasmalas, hidup berpoya-poya dan bermain-main. Dan inilah Yang menyebabkan lambatnya kemajuan dalam masyarakat, lambatnya kemajuan dalam bernegara dan beragama.

Demikianlah faedahnya mengingati mati bagi kemajuan masyarakat dan negara serta agama. Guna dan faedah Yang terpenting dan terbesar dari mengingati mati, ialah bahwa setiap orang Yang ingat akan mati, akan lebih giat dan taat menjalankan ibadat-ibadat Yang diperintahkan Tuhannya, sebab mati berar-ti kembali menghadap kepada Tuhan.

Karenanya orang-orang Yang sering mengingati mati, pasti akhlak dan budipekertinya lebih baik. dia akan terhindar dari sifat loba-tamak dan serakah, dia akan terhindar dari sifat congkak, sombong dan takabbur.

Kalau setiap orang selalu sadar Yang ia pasti akan mati. maka setiap orang akan bersifat tenang, hormat dan sopan, terhadap sanak keluaraganya dan terhadap orang lainjuga. Perasaan cinta dan kasihnya terhadap anak dan isterinya akan bertambah, sebab dia yakin Yang ia tak lama lagi akan meninggalkan anak isterinya itu. Atau anak dan isterinya itu akan meninggalkah dia.

Ingat akan mati akan menjadikan seseorang hidup secara sederhana, tidak serakah, tidak suka mewah. Sebab untuk apa dia hidup serakah atau mewah, tokh ia akan mati meninggalkan semua harta dan hak miliknya. Sebab itu dia cari kekayaan dan harta dengan secara tidak serakah, secara tidak bernafsu, dengan syarat-syarat tertentu, iaitu, dengan secara haial. Dia akan menjauhi penghasilan secara haram, secara tidak sah.

Sebab itu ingat akan mati akan mengurangi sangat bahaya-bahaya korupsi, sogok, dan lain-lain cara immoral dalam dunia perekonomian dan perdagangan.

Bahaya korupsi., wang suap atau sogok, dan lain-lain cara yang tak haial akan dapat dikurangi dalam masyarakat dan negara, bila kepada semua penjabat dan penguasa selalu diingat-ingatkan soal mati, soal hidup sesudah mati, soal Akhirat di mana semua manusia akan diminta pertanggungjawabnya tentang segala harta, pangkat dan tindak-tanduknya selama hidup di dunia ini.

BEGITU besar faedah dan gunanya mengingati mati bagi membentuk budi pekerti dan diri peribadi setiap orang dalam menempuh hidup di dunia sekarang ini. Sebab itu marilah kita sering-sering mengingati mati. Mati dapat diingati secara bermenung dan berkhayal di kala duduk seorang diri di tempat sunyi. Tetapi cara yang demikian itu kurang efektif. kurang berkesan, malah mungkin menyebabkan banyak ngelamun yang dapat mengakibatkan lemah jiwa atau ingatan.

Cara yang sangat praktis untuk mengingati mati menurut ajaran Allah dan Rasul-Nya dengan Agama Islam, ialah agar sering-sering menjenguk sanak keluarga atau teman, sahabat dan kenalan yang sedang menderita sakit di rumahnya masing-masing atau di rumah-rumah sakit. Lalu sering datang menyaksikan orang menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sering datang berta’ziah ke rumah orang yang sudah mati, mengunjungi keluarga yang ditinggalkannya. Sering turut mengurus jenazah, memandikannya, menyembahyangkannya, mengantarkan jenazah itu ke kuburan, menyaksikan jenazah itu dimasukkan ke liang lahad atau kubur. Dan sering mendoakan terhadap orang-orang yang sudah mati. Lebih-lebih terhadap ibu-bapa sendiri.

Chapter. 3

Bagaimana kaisar2 dinasti china mencari obat awet muda sampai ke negri nan jauh di mato ?

Bagaimana segala upaya untuk mengencangkan kulit yang keriput dengan high tech ?

Bagaimana phobia yang extra ordinary tehadap maut membooming di jagad raya ?

Bagimana euphoria penyakit wahn mengalir pada darah pemuda muslim ?

Bagaimana si fakir jalanan mencari sebulir nasi untuk menganjal perut buat menyambung hidup ?

Bagaiamana temen mahasiswa mogok makan, etc. dan menantang maut dengan suatu harapan ?

Bagaiamana pemanjat tebing, gedung tanpa pengaman dan penantang maut lain dianulirkan ?

Bagaiaman teroris mengeluarkan ruh dari jiwa yang tak berdosa dibiarkan?

Bagaiamana jihad disalah interpretasikan dengan mati sebagai final project ?

Beagaiamana pengaku miskin antri di depan gerbang bazar zakat demi Rp. 30 ribu dengan tiket ajal (pasuruan case)?

dan..dan..deelel

 

Beranikah kita hidup didunia ini?

Berani pulakah kita mati detik ini?

 

For review:


2:154, 3:157, 3:169, 3:170-171, 3:195, 4:69, 4:74, 9:111, 47:4-6, 22:58.

 

“Siapa yang tak suka bersua Allah, maka Allah pun tak suka bersua dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Hamid Al-Qushairy berkata, “Setiap orang di antara kita yakin akan datangnya kematian, sementara kita tidak melihat seseorang bersiap-siap menghadapi kematian itu. Setiap orang di antara kita yakin adanya surga, sementara kita tidak melihat ada yang berbuat agar bisa masuk surga. Setiap orang di antara kita yakin adanya neraka, sementara kita tidak melihat orang yang takut terhadap neraka. Untuk apa kalian bersenang-senang? Apa yang sedang kalian tunggu? Tiada lain adalah kematian. Kalian akan mendatangi Allah dengan membawa kebaikan ataukah keburukan. Maka hampirilah Allah dengan cara yang baik.

 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah mengingat perusak kelezatan-kelezatan, yaitu mati.” (HR Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban).

Al-Hasan Al-Bashry berkata, “Kematian melecehkan dunia dan tidak menyisakan kesenangan bagi orang yang berakal. Selagi seseorang mengharuskan hatinya untuk mengingat mati, maka dunia terasa kecil di matanya dan segala apa yang ada di dalamnya menjadi remeh.

Jika Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu ingat mati, maka dia menggigil seperti burung yang sedang menggigil. Setiap malam dia mengumpulkan para fuqaha, lalu mereka saling mengingatkan kematian dan hari kiamat, lalu mereka semua menangis, seakan-akan di hadapan mereka ada mayat.

Syumaith bin Ajlan berkata, “Siapa yang menjadikan kematian pusat perhatiannya, maka dia tidak lagi peduli terhadap kesempitan dunia dan kelapangannya.”

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Orang yang berbahagia ialah yang bisa mengambil pelajaran dari orang lain.”

Abu Darda’ berkata, “Jika engkau mengingat orang-orang yang sudah meninggal, maka jadikanlah dirimu termasuk mereka yang sudah meninggal.”

Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam memegangi kedua pundakku lalu beliau bersabda, “Jadilah di dunia seakan-akan engkau adalah orang asing atau seorang pelancong.” (HR Bukhary dan Ahmad).

Ibnu Umar berkata, “Jika engkau berada pada sore hari, maka janganlah menunggu sore hariny. Pergunakanlah kesehatanmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu.”

Dari Al-Hasan, dia berkata, “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa salam bertanya kepada para sahabat, “Apakah setiap orang di antara kalian ingin masuk surga?” Mereka menjawab, “Benar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Pendekkanlah angan-angan, buatlah ajal kalian ada di depan mata kalian dan malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” (Diriwayatkan Ibnu Abid-Dunya)

Dari Abu Zakaria At-Taimy, dia berkata, “Tatkala Sulaiman bin Abdul Malik berada di Masjidil Haram, tiba-tiba ada yang menyodorkan selembar batu yang berukir. Lalu dia meminta orang yang dapat membacanya. Ternyata di batu itu tertulis: Wahai anak Adam, andaikan engkau tahu sisa umurmu, tentu engkau tidak akan berangan-angan yang muluk-muluk, engkau akan beramal lebih banyak lagi dan engkau tidak akan terlalu berambisi. Penyesalanmu akan muncul jika kakimu sudah tergelincir dan keluargamu sudah pasrah terhadap keadaan dirimu, dan engkau akan menigngalkan anak serta keturunan. Saat itu engkau tidak bisa kembali lagi ke dunia dan tidak bisa lagi menambah amalmu. Berbuatlah untuk menghadapi hari kiamat, hari yang diwarnai penyesalan dan kerugian.

 

Adopted by : @_pararaja from www.geocities.com ; www.jilbab.or.id ; etc.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s