CATATAN SINGKAT TENTANG DESINFEKSI AIR MINUM MENGGUNAKAN SENYAWA KHLOR.

By : Arifin

 

Pemakaian gas khlor sebagai bahan desinfeksi untuk air minum perlu penanganan yang lebih efektif mengingat daya reaktifitas dan toksisitasnya yang tinggi. Pemakaian gas khlor masih perlu mendapat kajian yang lebih teliti dimana gas khlor dalam kinerjanya akan menghasilkan zat sisa dan tidak efektif dalam kasus- kasus tertentu misalnya:

1.            Gas khlor dapat menimbulkan rasa dan bau yang khas sehingga dapat mengurangi estetika dan visual air, hal ini dapat diminimalisir dengan menggunakan karbon aktif.

2.            Reaksinya dengan zat organik (NH3) berlebih akan bereaksi membentuk ammonium khlorida dan gas nitrogen, jika chlorine yang berlebih akan membentuk Nitrogen khlorida yang bersifat explosive.

3.            Sebagian besar zat organik yang terdapat dalam berbagai jenis air adalah berupa zat humus. Konsentrasi asam humus dan asam flufik kadang-kadang relatif besar. Zat humus di dalam air menyebabkan warna kuning (warna sejati) yang dikenal dengan “air gambut” yang dapat dipulihkan (dipudarkan) oleh oksidasi sebagian, sebagai contoh menjenuhkan ikatan rangkap dalam suatu molekul, seperti ditunjukkan reaksi :

 

 

 

 

Selain itu asam humus dan asam flufik mengandung grup Keto yang dapat menyebabkan terbentuknya “haloform” setelah bereaksi dengan klor/senyawa klor, seperti terlihat pada reaksi di bawah ini :

 

 

 

 

 

 

Dengan cara ini senyawa haloform seperti kloroform (CHCl3); monobromodiklorometan (CHCl2Br); dibromomonoklorometan (CHClBr2) dan bromoform (CHBr3) dengan kondisi tertentu dapat terbentuk, sebagai produk samping klorinasi yang dikenal dengan “THMs (trihalomethanes), dimana senyawa ini dikatagorikan karsinogenik (penyebab kanker). Tri halometan merupakan produk samping desinfeksi. Klor terlarut/Hipoklorit dapat bereaksi dengan zat organik (karbon organik, C – org.) dalam air yang didesinfeksi dengan klor, sehingga menjadi senyawa organik terkhlorinasi, seperti THM, chlorophenoles.

Oleh karena itu reaksi haloform tidak diinginkan terjadi.

Pembentukan haloform dipengaruhi oleh :

1.      Konsentrasi zat-zat organik konsentrasi yang tinggi menaikkan kandungan haloform

2.      pH pH lebih tinggi, reaksi haloform lebih baik.

3.      Dosis klor lebih tinggi menyebabkan kemungkinan haloform terbentuk lebih besar.

4.            Reaksinya dengan air yang mengandung warna tinggi (Tannin dan Lignin) akan membentuk senyawa klorolignin sangat sulit didegradasi karena mengandung senyawa organik terklorinasi dengan berat molekul yang tinggi, dimana pada badan air penerima dapat terurai menjadi senyawa klorolignin dengan berat molekul lebih rendah yang bersifat lebih toksik, mutagenik dan karsinogenik

5.            Gas klor tidak efektif dalam membunuh protozoa Cryptosporidium-c. Mikroba dari grup protozoa ini mampu membentuk spora di usus halus manusia lalu menghalangi penyerapan air sehingga penderitanya menjadi haus terus. Mikroba ini tahan dalam air mendidih lebih dari sepuluh menit tetapi parasit ini dapat mati oleh ozon. (Kasus terjadi di sebuah kota San Paolo yang air ledengnya diambil dari Danau Chavez yang tercemar berat. Ribuan orang lantas sakit dan ratusan tewas).

6.            Gas khlor tidak efektif dalam membunuh virus Hepatitis A meskipun bakteri mati oleh desinfektan ini. Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 1-2 bulan setelah terkena infeksi yang ditandai dengan demam yang disertai rasa mual dan muntah. Hati penderita menjadi bengkak, bola mata pun menjadi kuning. Warna kuning ini bisa menjalar ke permukaan kulit. Tubuh akan melemah, menjadi kurus dan perut membuncit. (Kasus di sungai Jamuna, India).

7.            Air olahan dengan kadar sisa khlor 0.5 – 1.5 ppm tidak cocok digunakan dalam hal – hal tertentu bahkan tidak dianjurkan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Terhadap umur tanaman (Spermatophyta) :

1.      < 1 mg/l Sisa Khlor bebas (umur panjang)

2.      1-2 mg/l Sisa Khlor bebas (umur pendek)

Terhadap ikan (dewasa) :

1.      < 0.3 mg/l Sisa Khlor bebas

Terhadap ikan, udang, (budi daya perikanan) :

1.      < 0.1 < 0.1 mg/L Sisa Khlor Bebas

Terhadap manusia :

1.      Sesuai tabel II.3.1

8.            Untuk menjaga kualitas air perpipaan, keberadaan sisa khlor sangat diperlukan dalam suatu sistem jaringan distribusi karena dapat mengurangi risiko tumbuhnya mikroba dan terjadinya kontaminasi. Sisa khlor pada sistem jaringan distribusi harus dijaga pada konsentrasi 0,2-0,5 mg/lt. Pengaruh jarak pengaliran air minum terhadap sisa khlor dan angka MPN Coliform air minum sangat berpengaruh. Dalam penelitian di PDAM Buntok, Kalimantan Tengah, dengan observasional analitik yang dilakukan secara cross sectional dengan variabel bebas jarak pengaliran dan variabel terikat angka MPN Coliform serta nilai sisa khlor.
Sampel penelitian diambil secara acak pada pelanggan PDAM Buntok. Pengaruh jarak pengaliran terhadap sisa khlor dan angka MPN Coliform, masing-masing dianalisis dengan uji stastistik regresi linier. Kadar sisa khlor pada PDAM Buntok adalah 1,0 mg/lt dengan angka MPN Coliform nol. Pada jarak 2 Km, sisa khlor sebesar 0,5 mg/lt dengan angka MPN Coliform nol. Pada jarak 4 km, sisa khlor sebesar 0,3 mg/lt dengan angka MPN Coliform nol. Pada jarak 6 km, sisa khlor sebesar 0,1 mg/lt dengan angka MPN Coliform sebesar 7,8 per 100 ml air. Sementara itu pada jarak 8 km sisa khlor dengan MPN Coliform sebesar 55,6 per100 ml air dan pada jarak 10 km sisa khlor nol dengan angka MPN Coliform sebesar 133,8 per 100 ml air. Pada jarak pengaliran terhadap MPN Coliform dengan uji regresi linier ap<0,01 dan terhadap sisa khlor uji regresi linier p<0,01. Disimpulkan bahwa faktor jarak pengaliran air minum berkorelasi terhadap angka MPN Coliform semakin meningkat, namun sebaliknya dengan sisa khlor semakin berkurang. Untuk itu perlu diadakan pos khlorinasi pada jarak tertentu, untuk menjaga sisa khlor pada jaringan distribusi.

9.            Frekuensi pemakaian desinfektan alternatif gas klor yaitu kaporit maupun sodium hipochlorit harus diatur sedemikian rupa supaya tidak lebih dari batas “kadaluarsa”. Apabila larutan disimpan terlalu lama, umumnya kadar khlornya berkurang antara 2 – 4% per bulan pada temperatur kamar . Penyimpanan yang terlalu lama pada bahan kimia cair terutama kaporit juga akan mengurangi gugus aktif khlor sehingga daya desinfeksi berkurang.

 

Temperatur (oC)

10

15

20

25

30

35

Kehilangan kadar klor aktif (g/L ) per hari

0,1

0,4

1,1

2,0

3,2

5,6

 

Tabel. Angka Penurunan Efisiensi Natrium hipoklorit   berdasarkan Perbedaan Suhu

Soul of water by : @_pararaja

5 thoughts on “CATATAN SINGKAT TENTANG DESINFEKSI AIR MINUM MENGGUNAKAN SENYAWA KHLOR.

  1. salam kenal,
    saya novi, kalo diijinkan saya ingin laporan dari penelitian tentang pengaruh jarak pengaliran terhadap sisa khlor di PDAM Buntok, Kalimantan Tengah. trimakasih..

  2. Kebetulan skarang saya sdg mnyusun skripsi ttg sisa khlor, kalo berkenan mohon softcopynya dikirimkan k email saya. trimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s