Waspada Makanan Manis bagi Orang Berpuasa

Berbuka puasalah dengan makanan yang manis-manis. Anjuran seperti ini sudah belasan tahun terdengar oleh kaum muslim di Indonesia. Acuannya adalah hadist (tindakan, ucapan atau perkataan Nabi Muhammad SAW) yang berasal dari Anas bin Malik dan diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud.

Muhammad SAW berbuka puasa dengan rutab (kurma lembek) yang dikonsumsi sebelum melakukan shalat maghrib. Jika kurma lembek tidak ada, buka puasa dengan memakan kurma kering (tamr). Sedangkan bila keduanya tidak ada, maka Nabi Muhammad SAW meneguk air putih.

Hadist sebagai dasar syariah (hukum) tersebut selanjutnya dipahami jika berbuka puasa dengan panganan yang mengandung rasa manis. Sekarang malah berkembang sebuah pemikiran bahwa meski kurma mengandung aroma manis tetapi berbeda dengan panganan yang mengandung rasa manis.

Kurma dengan yang manis-manis berbeda. Kurma merupakan karbohidrat kompleks. Sedangkan gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis adalah karbohidrat sederhana. Sayangnya saat ini sudah telanjur pemahaman berbuka puasa dengan makanan atau minuman manis adalah sunnah nabi.Pemahaman seperti ini sudah berkembang luas di masyarakat muslim di Indonesia.

Pemahaman demikian sebenarnya perlu diluruskan. Sebab saat ini berkembang pendapat berbuka puasa dengan makanan yang manis yang penuh dengan karbohidrat sederhana justru bisa merusak kesehatan.

Kurma yang merupakan tanaman buah asli tanah Arab rasanya tak terlalu manis. Dalam kondisi segar buah kurma asli dari tanah arab mengandung nutrisi tinggi tetapi berkalori rendah sehingga tidak membuat badan gemuk.

Kabarnya kurma yang didatangkan ke Indonesia sesungguhnya sudah berubah menjadi manisan kurma, bukan lagi kurma segar sebagaimana yang dikonsumsi Nabi Muhammad SAW. Manisan kurma tersebut selanjutnya ditengarai mengandung kandungan gula yang kadarnya berlipat-lipat. Tujuannya agar kurma tersebut awet dalam perjalanan ekspornya dari tanah Arab ke Indonesia. Bisa jadi ini terkait dengan kualitas dan harga. Kalaupun kurma yang masih segar dan tidak termasuk manisan kurma dapat dijumpai di Indonesia, kemungkinan harganya menjadi sangat mahal.

Yang menjadi masalah adalah berbuka dengan panganan manis justru merusak kesehatan. Sebab seorang yang berpuasa kadar gula darahnya menjadi turun. Ketika berbuka puasa memakan makanan yang manis bisa membuat kadar gula melonjak cepat. Berbeda dengan manis yang ada pada kurma segar yang bersifat karbohidrat kompleks. Rasa manis dari kurma tersebut untuk menjadi glikoken butuh proses dan memakan waktu. Akibatnya gula darah tidak melonjak drastis karena karbohidrat kompleks naiknya perlahan.

Dalam metabolisme dikenal adanya indeks glikemik yang berarti perubahan makanan menjadi gula dalam tubuh. Dalam pengertian seperti ini kian tinggi indeks glikemik yang terdapat pada suatu makanan, maka kian cepat pula makanan tersebut diubah menjadi gula. Dengan begitu tubuh makin cepat pula menghasilkan insulin.

Perlu pula disadari, respon insulin yang makin tinggi dalam tubuh, merupakan cara termudah tubuh menimbun lemak. Padahal penimbunan lemak di tubuh sudah pasti pantangan terutama bagi orang yang menerapkan gaya hidup sehat. Karena itu orang yang amat memperhatikan gaya hidup semacam ini sebisa mungkin menghindari jenis makanan yang mengandung indeks glikemik tinggi. Sebaliknya sebisa mungkin memakan panganan yang indeks glikemiknya rendah. Penimbunan lemak di tubuh sebisa mungkin dihindari.

Dalam bulan Ramadhan perut kosong seharian, lalu langsung dibanjiri dengan gula (makanan yang sangat-sangat tinggi indeks glikemiknya). Hal ini tentu mengakibatkan respon insulin dalam tubuh langsung melonjak. Dengan demikian, tubuh akan sangat cepat merespon untuk menimbun lemak.

Akan lebih baik meminum air putih saat berbuka puasa lalu shalat maghrib daripada memakan makanan manis-manis atau kurma. Kemungkinan besar kurma yang beredar di Indonesia merupakan manisan kurma yang bersifat karbohidrat sederhana.

Di Indonesia mungkin pula lebih baik kalau memakan nasi saat berbuka puasa. Tentu saja setelah meneguk segelas air putih lalu shalat. Nasi termasuk karbohidrat kompleks. Perlu waktu dan proses nasih menjadi insulin. Respon insulin menjadi tidak tinggi sehingga kecenderungan tubuh menimbun lemak pun menjadi rendah.

Tak perlu heran banyak sekali umat Islam pada bulan puasa justru naik timbangan tubuhnya. Hal ini dapat terjadi karena umumnya saat berbuka puasa angsung membanjiri tubuh dengan insulin lewat pasokan makanan yang manis-manis. Masyarakat harus disadarkan berbuka dengan yang manis-manis bukan malah menyehatkan tubuh.

Banyak orang di bulan puasa justru menjadi lemas, mengantuk, atau justru tambah gemuk karena kebanyakan gula. Karena salah memahami hadits di atas, maka efeknya rajin puasa = rajin berbuka dengan gula.

Kondisi tersebut kian diperparah oleh kultur orang Indonesia sebagai pengkonsumsi nasi. Bagi orang Indonesia belum disebut makan kalau belum menyantap nasi. Menurut catatan 70 persen porsi makan orang Indonesia adalah nasi. Ini pun harus mendapat catatan karena nasi termasuk karbohidrat. Makin tinggi karbohidrat yang dikonsumis makin tinggi pula respon insulin dalam tubuh.

Oleh karena itu dalam berbuka puasa, makanan dengan karbohidrat cukup lima puluh persen. Sisanya protein, dan 5-10 persen lemak. Kandungan lemak ini cukup dari lemak yang terkandung dalam daging yang kita makan atau kuning telur. Tidak perlu menambah minyak atau memakan lemak hewan (yang justru buruk pengaruhnya bagi tubuh). Lemak dengan kadar yang sedikit masih diperlukan untuk mengolah beberapa nutrisi dan vitamin, dan untuk membawa nutrisi ke seluruh tubuh.

Perlu diingat baik ketika berbuka puasa atau dalam makanan keseharian, makanlah makanan yang seimbang: 50 persen karbohidrat kompleks, 40-45 persen protein dan 5-10 persen lemak dalam setiap porsinya. Sebaliknya perlu pula menjauhi karbohidrat sederhana sebisa mungkin. Kalaupun harus makan karbohidrat sederhana karena butuh energi cepat carilah yang nilai indeks glikemiknya rendah.

Santap Sahur

Makanan dengan porsi indeks glikemik rendah juga diperlukan ketika melakukan santapan sahur. Seperti sudah diuraikan diatas karbohidrat kompleks butuh waktu untuk diubah menjadi energi. Karbohidrat kompleks diubah pelan-pelan dan sedikit demi sedikit.

Porsi karbohidrat kompleks tersebut membuat seseorang yang berpuasa tidak cepat lapar karena energi selalu tersedia dalam waktu lama. Pada gilirannya jenis panganan semacam ini amat mendukung aktivitas selama seharian penuh. Protein dalam santap sahur amat diperlukan sehingga tetap berenergi selama menjalankan ibadah puasa.

Alhasil ketika berbuka puasa hendaknya memperhatikan makanan yang menyimpan potensi untuk menimbun lemak pada tubuh. Bahkan sedang atau ketika tidak puasa makanan dari kelompok manisan, sirop, atau makanan yang banyak mengandung gula perlu dihindari.

Kalau terpaksa tidak dapat menghindari karbohidrat sederhana (penganan mangandung pemanis) bisa dipilih makanan berkarbohidrat sederhana tetapi dengan indeks glikemik rendah. Dalam kelompok makanan ini misal terdapat pada buah yang tidak terlalu manis seperti pisang, apel, serta pir.

Korban Iklan

Ironisnya salah kaprah tersebut dimanfaatkan produsen panganan. Ini tentu masuk akal sebab penduduk Indonesia adalah orang Islam terbesar di dunia. Hal tersebut tentu menguntungkan sebagai ajang menjual produk.

Berbuka puasa dengan makanan manis seperti dalam hadist pada akhirnya direproduksi menjadi ajang bisnis. Berbukalah dengan makanan yang manis pada gilirannya disosialisasikan dan menjadi slogan advertising banyak sekali perusahaan makanan pada bulan suci Ramadhan. Karena kurma rasanya manis sebagaimana dieksplisitkan pada hadist Nabi Muhammad SAW, maka hal itu diartikan berbuka puasa dengan makanan yang manis-manis. Pada gilirannya kebiasaan tersebut menjadi kultur yang perlu dipertanyakan kebenarannya.

Adopted by : @_pararaja from www.suarakarya-online.com written by : mangku

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s