Carilah 70 Alasan Untuk Berprasangka Baik Kepada Saudaramu.

Sungguh indah hubungan antar mukmin yang saling bersaudara, ada ikatan ukhuwah di antara mereka. Tingkatan ukhuwah yang terendah adalah berlapang dada kepada saudaranya dan yang tertinggi adalah itsar, mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri. Sudahkah kita memenuhinya? Atau bahkan tingkatan terendah pun kita belum bisa memenuhinya?.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al Hujarat:12).

Ketika saudara kita tidak datang dalam sebuah acara atau dalam memenuhi janjinya, apakah yang kita lakukan, apakah yang kita ucapkan atau apakah yang kita pikirkan? Jika kita tidak tahu alasan sebenarnya, apakah kita akan berprasangka yang buruk kepadanya?.

Apakah kita kemudian mengatakan “Mungkin si fulan dah males ga mau datang“, “Mungkin si fulan ketiduran nih…” atau “Mungkin si fulan lagi sibuk dengan pekerjaannya” atau prasangka2 yang lain yang kurang baik. Memang bisa jadi prasangka itu benar, tapi kalau ingat ayat di atas kita jauhi prasangka2 itu.

Ada seorang ustadz yang mengatakan, Carilah 70 alasan untuk berprasangka baik kepada saudaramu, dan alasan terakhirnya adalah “Aku Tidak Tahu”.

Maksudnya carilah prasangka-prasangka yang baik untuk saudara kita, dan jika memang kita tidak tahu tentangnya maka katakanlah tidak tahu. Misalnya, jika saudara kita ga datang dalam sebuah acara, jika kita ditanya maka kita bisa berkata, “si fulan mungkin sedang dalam perjalanan, kita tunggu aja” atau cukup kita mengatakan “Aku tidak tahu” jika kita memang tidak tahu tentangnya. Coba kita simak penggalan kisah Ka’ab bin Malik sebelumnya.

Ketika Ka’ab bin Malik tidak ikut berangkat bersama Rasulullah dalam perang Tabuk, di tengah perjalanan Rasulullah saw sebagai seorang qiyadah menanyakannya kepada para sahabat, “Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?” Kemudian seorang dari Bani Salamah menjawab, “Ya Rasulullah, ia ujub pada keadaan dan dirinya!” Kemudian Mu’adz bin Jabal menyangkal, “Buruk benar ucapanmu itu! Demi Allah, ya Rasulullah, aku tidak pernah mengerti melainkan kebaikannya saja!”.

Sikap Mu’adz bin Jabal itu merupakan salah satu bentuk prasangka baik kepada saudaranya, karena memang Ka’ab sebelumnya dikenal sebagai seorang yang tidak pernah absen mengikuti semua peperangan bersama Rasululah.

Meskipun demikian tetap perlu adanya tabayun antar saudara, untuk menanyakan alasan sebenarnya. Dan jangan kemudian itu kita jadikan tameng untuk sering mengudzurkan diri dalam sebuah acara atau janji yang harus kita penuhi dengan dalih, “ah pasti nanti saudaraku akan berprasangka baik kepadaku”. Kita harus jujur, tentunya nanti kita akan ditanya saudara kita, alasan ketidakdatangan kita. Jangan sampai kita seperti orang-orang munafik yang mencari seribu alasan untuk tidak ikut berperang.

Semoga kita bisa memenuhi hak-hak saudara kita, minimal dengan berlapang dada ketika mereka melakukan kesalahan dan berprasangka baik kepada mereka.

Wallahu a’lam bishowab.

 

Adopted by @_pararaja from www.unissula.ac.id

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s