Derajat Kesehatan Masyarakat

Oleh Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi, MPH, Ph.D.

(Direktur Jenderal PPM & PL, Departeman Kesehatan & Kesos.

Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan manusia, tanpa air manusia tidak bisa hidup bahkan kehidupan di dunia tidak dapat berlangsung. Namun demikian air dapat menjadi malapetaka bilamana tidak tersedia dalam kondisi yang benar baik kuantitas maupun kualitasnya.

Siklus hidrologi merupakan perputaran air di alam. Uap air dibawa ke daratan secara besar- besaran melalui udara. Uap air dari daratan dan dari pernafasan tanaman menambah kelembaban yang kemudian mengembun menjadi air hujan atau salju. Air hujan sebagian meresap ke dalam tanah, bersamaan dengan air limpasan di permukaan tanah, diserap oleh tanaman atau menguap kembali. Air tanah dan aliran air permukaan menuju ke laut untuk kembali berputar menjadi uap air.

Pada hakikatnya kuantitas air di bumi tidak berubah, namun jumlah persediaan air tawar yang ada di bumi hanya 0,26% yang dimanfaatkan, selebihnya tersimpan di kutub sebagai gunung es dll. Pada masa mendatang potensi sumber daya air makin terancam, menyusul areal hutan untuk pembangunan kota, mengakibatkan potensi sumber air tawar yang dapat dimanfaatkan sepanjang tahun menjadi terus menurun.

Kondisi ini semakin parah dengan pencemaran sumber air tersebut, baik oleh limbah industri, limbah rumah tangga maupun oleh bahan-bahan berbahaya lainnya. Dengan meningkatnya pengambilan dan penggunaan air tanah, terutama kota-kota besar yang berada di tepi pantai, terjadi instrusi air laut, sehingga semua hal ini akan menurunkan kualitas air sebagai sumber air baku untuk keperluan air minum penduduk.

Campur tangan manusia mempengaruhi siklus hidrologi, melalui pengambilan air tanah maupun air permukaan untuk keperluan penyediaan air. Setelah air baku diolah kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat atau rumah tangga di samping juga untuk keperluan untuk keperluan industri. Air buangannya dikumpulkan melalui sistem saluran buangan dan kemudian dialirkan ke suatu tempat pengolahan ataupun langsung dibuang untuk bergabung dengan air permukaan yang lain, selanjutnya terjadi proses penguapan, kondensasi, turun hujan dst.

II AIR KESEHATAN

Lebih dari 75 % tubuh manusia terdiri dari air, sehingga manusia hanya bisa bertahan tanpa air minum tidak lebih dari empat atau lima hari. Konferensi air yang diselenggarakan PBB tahun 1977 di Mar del Plata, Argentina mengedepankan perlunya suatu ketetapan tentang dasar kebutuhan dasar atau basic need air, dengan pernyataan: All peoples, whatever their stage of development and their social and economic conditions, have the right to have access to drinking water in quantities and a quality equal to their basic needs. Gleick tahun 1996 menyebutkan jumlah basic water requiments sebagai keperluan dasar untuk: (PBB, 1977).

a) air minum untuk kelangsungan hidup 5 liter/orang/hari

b) air untuk penyiapan makanan 10 liter/orang/hari

c) air untuk keperluan sanitasi, 20 liter/orang/hari

d) air untuk higiene 15 liter/orang/hari

Jumlah disarankan 50 liter/orang/hari

Jumlah penduduk Indonesia saat ini melebihi 210 juta jiwa, dengan kepadatan di atas 106 jiwa.km2, dipulau Jawa penduduknya telah mencapai lebih dari 118 juta jiwa yang berarti kepadatan melebihi 889jiwa/km2 jauh di atas kepadatan pulau-pulau lainnya. Kepadatan dan penyebaran penduduk tinggi akan mengakibatkan terjadinya akumulasi bahan pencemar di wilayah yang padat yang akibatnya akan menurunkan kualitas air dan degradasi lingkungan.

Rata-rata secara kasat mata manusia mengeluarkan urine sebanyak 1150 ml dan tinja sebanyak 200 gram sehari, dengan jumlah penduduk 38% tinggal di perkotaan dan 62% di pedesaan, maka diperkirakan sebanyak 16 juta kg tinja di buang setiap hari di perkotaan dan 26 juta tinja dibuang di pedesaan.

Berdasarkan survei sosial ekonomi oleh BPS tahun 1999, di peroleh angka penduduk yang membuang ko toran di septik tank untuk perkotaan sebesar 63, 01%, sedangkan di perdesaan sebesar 20,25%, selebihnya penduduk membuang kotoran di sawah, kolam, sungai, danau, gali lobang tanah, di permukaan tanah dan lainnya, yang kemungkinan besar menjadi sumber pencemaran air minum air bersih penduduk.

Persentase rumah tangga di Indonesia tahun 1999 yang mempunyai sumber air terlindung di perkotaan diperkirakan sebanyak 91, 8% di daerah pedesaan sebanyak 67, 3%. Secara keseluruhan baru 38,3% penduduk perkotaan yang menggunakan air ledeng. Di samping masih rendahnya cakupan air minum/ air bersih, kualitas air ledeng PDAM baru mencapai 59,4% dan air non perpipaan 54, 1% yang memenuhi syarat bakteriologis. Kondisi yang demikian mendukung masih seringnya terjadi KLB diare di daerah-daerah tertentu.

Tekanan terhadap sumber daya air tidak hanya karena eksploitasi berlebihan terhadap air tanah, air permukaan dan pengelolaan yang tidak baik, tetapi juga karena pengaruh merosotnya ekologi. Kemerosotan ekologi suatu badan air bisa disebabkan karena peristiwa murni lokal, sistem sungai yang dilampaui dan bisa berdimensi internasional.

Pembuangan air limbah langsung ke sungai atau danau, buangan dari industri, limpasan dari pengairan sawah yang telah memperoleh perlakuan dengan bahan pestisida dan her-bisida merupakan sumber pencemaran secara eskponensial dan pertambahan penggunaan bahan-bahan organik sintesis menimbulkan dampak negatif pada sumber daya air. Banyak air tanah dan air permukaan yang saat ini terkontaminasi dengan logam berat, cemaran organik persisten dan nutrisi. Jumlah cemaran yang dibuang ke dalam air sering jauh melebih kapasitasnya untuk mengasimilasi – cemaran.

Pencemaran logam berat, terutama dari penambang emas tanpa izin (PETI) dan organik terjadi di banyak sungai di Pulau Jawa, Sumatra, kalimantan Selatan, Ka-limantan Barat, Sulawesi Utara, dll. Dengan demikian kesehatan lingkungan di Indonesia saat ini mengalami beban ganda (double burden), pertama penyakit menular tradisional yang disebabkan oleh lingkungan termasuk air seperti diare, malaria, typhus masih belum tuntas diselesaikan, muncul beban kedua yaitu akibat timbulnya hazard yang sifatnya tidak menular. Masalah kesehatan akibat modern hazard seperti: air minum yang tercemar limbah industri, pertanian, seperti pestisida, herbisida , logam berat, dll. Secara tradidional empat penggolongan penyakit yang berkaitan dengan air adalah:

1. W ater borne diseases, adalah penyakit yang ditularkan langsung melalui air minum, di mana air yang diminum mengandung kuman pathogen sehingga menyebabkan yang bersangkutan menjadi sakit. Penyakit-penyakit yang tergolong water borne diseases adalah: kolera, typhus, desentri , dll.

2. W ater washed diseases, merupakan penyakit yang berkaitan dengan kekurangan air higiene perorangan. Penyakit yang tergolong di sini adalah: skabies, infeksi kulit, dan selaput lendir, trakhoma, lepra, dll.

3. W ater based diseases, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bibit penyakit yang sebagian siklus kehidupannya berhubungan dengan air. Penyakit yang tergolong di sini dan ada di Indonesia adalah Schistosomiasis.

4. W ater Related Vectors, adalah penyakit yang ditularkan oleh vektor penyakit yang sebagian atau seluruhnya perindukannya berada di air. Penyakit yang tergolong di sini adalah malaria, demam berdarah dengue, filariasis dsb. Di antara penyakit berbasis lingkungan (termasuk tersedianya air minum/ air bersih yang memenuhi syarat kesehatan ), yang potensial menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) dan mempengaruhi sumber daya manusia adalah penyakiti diare. Insiden penyakit diare pada 1995 mencapai 280 penderita per 1000 penduduk pertahun, dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 300 per 1000 penduduk, dimana setiap anak balita saat ini paling tidak menderita diare rata-rata sebanyak 1,3 kali pertahun. Hal ini menunjukkan ada masalah air minum/air bersih dan perilaku hidup masyarakat yang kurang sehat.

Pada tahun 1998 Lembaga Penelitian UI melakukan studi di daerah proyek Water Supply and Sanitation for Low Income Community (WSSLIC), yang mengungkapkan bahwa dengan menggunakan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan, dapat mencegah penyakit diare sebesar 35% dan dengan menggunakan jamban akan mencegah penyakit diare sebesar 28%. Selain itu kondisi masyarakat pedesaan di Propinsi Jawa Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah dan Maluku sebesar 50% penduduk tidak buang air besar di Jamban, dan 100% penduduk tidak mencuci tangan dengan sabun.

WHO, pada 1993 melakukan studi di Bangladesh, bahwa dengan perilaku hidup bersih dan sehat melalui pencucian tangan dengan sabun setelah buang air besar, menunjukkan bahwa terjadi penurunan angka kesakitan diare di pedesaan 40 % penduduk tidak buang air di jamban, dan 100% penduduk tidak mencuci tangan dengan sabun. Kondisi Indonesia seperti diuraikan di atas memberi kontribusi pada tingginya kejadian penyakit saluran pencernaan, terutama penyakit diare, yang saat ini masih merupakan penyebab kematian nomor tiga pada Balita setelah penyakit ISPA dan gangguan perinatal. Perubahan lingkungan terjadi karena suatu proyek bendungan dan pengairan, yang dapat berdampak pada peningkatan tranmisi vektor borne diseases.

Pembangunan irigasi dapat meningkatkan wahana untuk berkembang nyamuk sehingga meningkatkan populasi nyamuk yang akan diikuti oleh peningkaan insiden penyakit yang ditularkan seperti malaria. Selain itu penyakit Schistosomiasis dapat menyebar ke daerah yang oleh saluran irigasi melalui keong sebagai resevoir cacing schistosomiasis. Di Indonesia penyakit ini hanya terdapat di daerah sekitar danau Iindu Sulawesi Tengah , dimana angka kesakitan penduduk saat ini masih sebesar 1,5%.

Malaria masih merupakan penyakit endemis di Indonesia ditunjukkan dari masih tingginya angka Annual Parasite Incidence (API) dan angka Parasite Rate (PR), di Jawa angka API tahun 1997 sebesar 0,120 per1000 penduduk, sedangkan di Luar Jawa Bali angka PR sebesar 4,9%. Malaria merupakan penyakit yang diidentifikasi sebagai salah satu penyakit re-emerging untuk daerah daerah yang sebelumnya sudah terkendali.

Demam berdarah Dengue, yang termasuk dalam penyakit yang berhubungan dengan Water Related Vector, telah terjadi perluasan transmisi virus dan peningkatan yang cukup tajam sebanyak 177, pada tahun 1990 jumlah kabupaten /kota yang terjangkit sebanyak 177, pada tahun 1995 meningkat menjadi 227. Angka insiden DGF tercatat 12,7 per 100.000 penduduk meningkat menjadi 23, 32 per 10.000 penduduk per tahun 1996. Demikian juga penyakit Filariasis, dari hasil survei mikrofilaria pada tahun 1998 di 22 Propinsi, menunjukkan bahwa mikrofilaria rate (MF) nya sebesar 3,1%.

III.PENGARUH PARAMETER MENYIMPANG DALAM AIR MINUM/ AIR BERSIH TERHADAP KESEHATAN

Di dalam Undang-undang Kesehatan no. 23 tahun 1992 ayat 3 terkandung makna bahwa air minum yang dikonsumsi oleh masyarakat, harus memenuhi persyaratan kualitas maupun kuantitas, dimana persyaratan kualitas ini tertuang di dalam Peraturan Menteri Kesehatan (PERMENKES) NO. 146 tahun 1990 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Parameter kualitas air minum/air bersih yang ditetapkan dalam PERMENKES 416/1990 terdiri dari parameter fisik, parameter kimiawi, parameter radioaktif dan parameter tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Parameter fisik

Parameter fisik yang harus dipenuhi pada air minum adalah tidak berbau, jernih, tidak berasa, suhu sebaiknya sejuk, tidak panas dan tidak berwarna. Bila terjadi penyimpangan terhadap parameter ini, menunjukkan bahwa air tersebut telah terkontaminasi oleh bahan lain yang lain yang mungkin berbahaya bagi kesehatan manusia.

2. Parameter kimia

Parameter kimia digolongkan lagi menjadi dua yaitu kimia anorganik dan kimia organik.

A . Kimia anorganik

1) Air raksa (Hg), Hg bila di-absorpsi akan masuk ke dalam darah, gin-jal, hati limpa dan tulang. Ekresi lewat urine, feces, keringat, saliva dan air susu. Hg organik merusak susunan syaraf pusat (tremor, ataxia, lapangan penglihatan menciut, perubahan kepribadian) dan Hg anorganik merusak ginjal dan menyebabkan cacat bawaan.

2) Arsen (As), keracunan akut menimbulkan gejala muntaber disertai darah, koma, meninggal. Secara khronis menimbulkan anorexia, klik, mual, diare, icterus pendarahan pada ginjal dan kanker kulit, dapat juga berupa iritasi, alergi dan cacat bawaan.

3) Barium (Ba), kadar Barium berlebihan dapat mengganggu saluran pencernaan, menimbulkan rasa mual, diare dan gangguan pada sistem syaraf pusat.

4) Besi (Fe), konsentrasi > 0,3 mg/l dapat menimbulkan warna kuning, memberi rasa yang tidak enak pada minuman, pengendapan pada diding pipa, petumbungan bakteri besi dan kekeruhan.

5) Fluorida (F), dalam jumlah kecil dibutuhkan sebagai pencegahan terdapat penyakit caries gigi yang paling efektif tanpa merusak kesehatan. Konsentrasi > 1,5 mg/l air dapat menyebabkan “Fluorosis” pada gigi,yaitu terbentuknya noda-noda coklat yang tidak mudah hilang pada gigi.

6) Cadmium (Cd), keracunan akut menyebab-kan gejala Gastrointestinal dan ginjal. Secara khronis menyebabkan penyakit “Itai-Itai” dengan gejala sakit influenza dan kemandulan laki-laki.

7) Kesadahan (Ca, CO3), penyebab langsung terhadap kesehat-an tidak ada, tetapi kesadahan dapat menyebabkan sabun pembersih menjadi tidak efektif.

8) Clorida (Cl), dalam jumlah kecil dibutuhkan untuk desinfektan. Apabila berikatkan dengan ion dapat menyebabkan rasa asin dan dapat merusak pipa-pipa air.

9) Chromium Valensi 6, kemungkinan dapat menyebabkan kanker pada kulit dan alat pernafasan.

10) Mangan (Mn), konsentrasi > 0,1 mg/l menyebabkan rasa pahit pada minuman dan meninggalkan noda kecoklat-coklatan pada pakaian.

11) Nitrat, Nitrit sebagai N, gangguan GI, diare dengan darah, convulasi, shock, koma, meninggal. Keracunan khronis menyebabkan depresi yang umum, sakit kepala, gangguan mental, Methemoglobinamia terutama pada bayi (blue babies).

12) Perak (Ag), dapat menimbulkan iritasi kulit, mata dan mocus membrane yang menyebabkan hilangnya warna jadi biru abu-abu tanpa reaksi nyata. Percobaan pada tikus menunjukkan kerusakan ginjal.

13) pH, sebaiknya netral untuk mencegah terjadinya pelarutan logam berat dan korosif.

14) Selenium (Se), memberi pengaruh terhadap kenaikan jumlah penyakit caries gigi pada anak-anak. menyebabkan gejala GI seperti muntah dan diare, kemudian terjadi gangguan syaraf seperti ferlex-reflex, iritasi cerebral, convulsi dan kematian. Merupakan racun sistemik, kemungkinan karsinogenik.

15) Cianida (Cn), dapat mengganggu metabolisme oksigen sehingga jaringan tubuh tidak mampu mengubah oksigen. Menghambat pernapasan jaringan dan berbentuk asphyxia diikuti kematian.

16) Sulfat (So4), dalam jumlah besar dapat bereaksi dengan ion natrium atau magnesium dalam air sehingga ber-bentuk garam yang dapat menimbulkan iritasi, gastro-intestinal. Formasi endapan (Hard scater) pasda boilers dan heat ex-changers.

17) Sulfida (H2S), bersifat racun dan berbau busuk. Dalam jumlah besar dapat memperbesar keasaman air sehingga dapat menyebabkan korosifitas pada pipa logam.

18) Tembaga (Cu), dalam jumlah kecil diperlukan tubuh untuk membentuk sel-sel darah merah. Dalam jumlah besar dapat menyebabkan rasa yang tidak enak di lidah, di samping menyebabkan kerusakan pada hati.

19) Timbal (Pb), sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia karena cenderung untuk berakumulasi dalam jaringan tubuh manusia dan meracuni jaringan syaraf.

b . K imia organik

1) Aldrin dan Dieldrin, terjadi biokumulasi pada organisme air yang dimakan manusia dan bersifat carcinogenic.

2) Benzen, menimbulkan rasa, warna atau bau tidak sedap.

3) Chlordine (total isomer), terjadi biokumulasi pada organisme air yang dimakan manusia dan bersifat carcinogenic.

4) Dichloro-diphenyl-trichloroetan (DDT), terjadi biokumulasi pada organise air yang dimakan manusia dan bersifat carcinogenenic.

5) Heptachlor dan Hepachlor epixide, meskipun tidak menimbulkan keracunan akut tetapi terjadi akumulasi dalam rantai makanan dan bersifat carcinogenic.

A) Hexa Chlorrobenzene, menimbulkan rasa, warna dan bau tidak normal.

B) Lindane, terjadi biokumulasi pada organisme air yang dimakan manusia dan bersifat carcinogenic.

C) Zat organik (MknO4), menimbulkan rasa dan bau yang tidak sedap dan dat menyebabkan sakit perut. Menyebabkan korosifitas pada pipa-pipa logam.

3. Parameter Radioaktif

Adapun bentuk radioaktivitas efeknya adalah sama, yakni menimbulkan kerusakan pada sel yang terpapar. Kerusakan dapat berupa kematian, perubahan komposis genetik dll. Kematian sel dapat diganti kembali apabila sel dapat beregenerasi dan sel tidak mati seluruhnya. Perubahan genetis dapat menimbulkan penyakit seperti kanker dan mutasi. Sinar alpha, beta dan gamma berbeda dalam kemampuan menembus jaringan tubuh. Sinar alpha sukit menembus kulit, sedangkan beta dapat menembus kulit dan gamma dapat menembus sangat dalam. Kerusakan yang terjadi ditentukan oleh intensitas sinar serta frekuensi dan luasnya pemaparan.

4. Parameter Mikrobiologis

Ke dalam parameter mikrobiologis hanya dicantumkan Coli tinja dan total Coliforms.

a. Coli tinja, air yang mengandung coli tinja berarti air tersebut tercemar tinja. Tinja dari penderita sangat potensial menularkan penyakit yang berhubungan dengan air.

b. Total Coliforms, bila air yang tercemar coliform dapat mengakibatkan penyakit-penyakit saluran pernafasan.

III. PENUTUP

Baru-baru ini, pada bulan Januari 2001, WHO dalam rangka Intercountry Consultation on Quality Assurance in Water Supply System telah mencetuskan Deklaras Bangkok mengenai air minum yang aman dan sehat, yang antara lain menyatakan bahwa air minum yang sehat dan terjangkau dalam jumlah yang mencukupi adalah hak azasi setiap manusia sebagai syarat untuk mencapai kesehatan yang optimal, dalam rangka keadilan untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi. Ketersedianan air minum /air bersih dan sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan dan perilaku hidup bersih dan sehat, mempunyai dampak yang besar dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Maka sejalan dengan para-digma sehat, pembangunan kesehatan sekarang ini lebih ditekankan pada upaya preventif dan promotif, termasuk upaya penyediaan dan penyehatan air dan pengamanan limbah serta upaya penyehatan lingkungan dan upaya pe-ningkatan perilaku hidup sehat dan bersih (PHBS) kepada masyarakat yang mempunyai daya ungkit yang besar dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, dengan tidak meninggalkan upaya pengobatan dan rehabilitasi.

Dipresentasikan dalam Peringatan Hari Air Se-Dunia IX, Dept. Kimpraswil, Jakarta 22 Maret 2001.

Adopted by : @_pararaja

Iklan

2 thoughts on “Derajat Kesehatan Masyarakat

  1. Dear Friends,

    Saya setuju dengan artikel diatas. Untuk melengkapi, saat ini sudah diproduksi air murni dengan kadar meneral anorganik rendah dan memiliki kandungan oksigen yang tinggi, yang mampu dan dapat dijadikan alternatif pilihan untuk HIDUP LEBIH SEHAT.
    Mulailah hari ini hidup sehat dengan mengganti konsumsi minum anda sehari-hari dengan OXY Drink Water, yang merupakan air murni beroksigen tinggi yang dapat dijadikan alternatif pemeliharaan kesehatan, penyembuhan berbagai penyakit, juga mampu meningkatkan energi tubuh (termasuk meningkatkan kemampuan sex bagi pria dan wanita). Cukup 2 botol (388 ml)per hari pagi hari bangun tidur, dan malam hari menjelang tidur ketika perut dalam keadaan kosong.
    Terima kasih.

    omyosa : 08159927152

  2. Salam kenal juga..!!
    Kandungan oksigen yang tinggi memang mengindikasikan akan pure dan fresh atu mutu air itu sendiri. Umumnya direpresentasikan dalam istilah DO (Dissolved oxigen). Akan air berkarbonasi juga tidak selamanya merugikan..!! kesegarannya dan ikatnnya dalam carbonate chain akan meningkatkan rasa fresh di tenggorokan. Tapi, semua ada dosenya masing- masing. Unsur2 ini dalam tubuh harus cukup dan sesuai. Pas dengan dosisnya. Jika kelebihan atao kekurangan pasti akan menimbulkan yangt tidak baik. Dan istilah ini umumnya dinamakan dengan Lethal Dose ato LD50. OXY Drink yang anda paparkan apakah sama dengan Hexagonal water dengan prinsip morphous molekul untuk menetralisir radikal dalam tubuh…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s