TELNOLOGI PENGOLAHAN SAMPAH

Sampah sampai saat ini dianggap sebagai barang yang tidak dapat lagi dimanfaatkan, sehingga harus dibuang atau disingkirkan jauh-jauh dari lingkungan manusia.

Bila kita mau menyadari, sebenarnya sampah terjadi semenjak manusia menggunakan barang-barang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, seperti makan, tempat tinggal, pakaian, serta kebutuhan lainnya.

Pada saat jumlah manusia masih relatif sedikit dan kebutuhan hidupnya belum meningkat, maka sampah yang dibuang juga masih terbatas, baik jumlah maupun jenisnya. Akan tetapi setelah populasi manusia semakin meningkat, dan kebutuhan hidupnya juga semakin bertambah, kuantitas dan jenis sampah yang dibuang juga semakin meningkat pula.

Saat sekarang sampah telah menjadi masalah serius bagi setiap perkotaan pada kota dan kabupaten di Indonesia, terlebih bagi kota yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Bertumpuknya sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) – TPS mengakibatkan menurunnya sanitasi lingkungan dan estetika kota, sehingga menimbulkan gangguan bagi warga kota.

Luas daratan yang terbatas akan semakin sempit dengan meluasnya timbunan sampah padat yang dihasilkan oleh warga kota. Bertambah luasnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan mengurangi luas daratan yang dapat dimanfaatkan untuk daerah pemukiman, daerah industri, daerah pertanian dan lain-lainnya.

Mengingat kondisi seperti ini, maka perlu pemikiran lebih lanjut bagaimana mengurangi jumlah sampah dengan memanfaatkan kembali limbah padat ini untuk kepentingan manusia melalui proses daur ulang limbah padat, sekaligus sebagai usaha untuk mengurangi pencemaran daratan.

Pemanfaatan kembali limbah padat atau sampah ini ternyata banyak memberikan keuntungan bagi kehidupan manusia. Sampah yang semula tidak berharga, setelah diolah dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang, menjadi bernilai ekonomis. Salah satu cara pemanfaatan kembali sampah kota ini dapat dibuat kompos untuk pupuk tanaman.

Dalam berupaya untuk dapat mengelola sampah secara proporsional dan profesional, diperlukan adanya alat pengolah sampah yang ramah lingkungan dan dapat dipergunakan secara berkelanjutan, diutamakan produksi lokal buatan putra Indonesia.

Kondisi Pengolahan Sampah yang Umum Saat ini

Timbunan sampah pada TPA umumnya berbentuk gunungan yang terbentuk dari sampah berusia lama dan sampah baru yang dibuang tiap hari. Dengan adanya proses alam (pembusukan oleh bakteri aerob dan bakteri anaerob), hujan, air dari sampah organik, dan proses lainnya, maka akan terbentuk cairan yang akan merembes keluar dari dasar timbunan ini. Cairan ini dinamakan lindi atau leachate.

Lindi dalam jumlah yang besar akan mencemari lingkungan sekitarnya karena bagian dasar dari timbunan sampah ini hanyalah tanah biasa sehingga memungkinkan perembesan lebih lanjut. Kasus yang ditemui di TPA Dago Bandung menunjukkan bahwa salah satu kandungan lindi terdeteksi di sekitar rumah penduduk, hal ini juga terjadi di TPA-TPA lainnya, apalagi jenis tanah di sekitarnya latozol sehingga air mudah meresap.

Sejauh ini memang belum pernah dilakukan penelitian, apakah air lindi tersebut meresap masuk ke sumur penduduk atau tidak dan apakah sumur penduduk tercemar bakteri.

Pada beberapa kasus yang ditemui di luar beberapa kota, konsentrasi polutan pada lindi dari limbah padat domestik pada beberapa TPA yang cukup menonjol adalah Iron (besi/Fe) dengan konsentrasi mencapai 7,64 mg/liter, kadar maksimum yang diperbolehkan untuk besi adalah 0,3 mg/liter, sedangkan polutan lain yang ditimbulkan adanya lindian sampah adalah seng, phospat, sulfat, clorida, sodium, nitrogen, nikel dan jenis bahan kimia berbahaya lainnya.

Kandungan besi yang besar pada lindi sampah domestik sangat dimungkinkan masuk ke air sumur di sekitar TPA. Apalagi bila diamati penumpukan sampah pada TPA tersebut tidak sesuai dengan aturan konstruksi yang benar, seperti tidak adanya dinding pembatas luar yang semestinya harus kedap air, sampah hanya di buang di areal pembuangan dengan keadaan terbuka, saluran pembuangan air lindi yang dibuang ke luar tanpa di treatment terlebih dahulu, dan masih banyak lagi hal-hal lain yang tidak memenuhi teknis yang benar dalam penampungan sampah.

Sistem pengolahan “tradisional“ ini sepenuhnya mengharapkan kemurahan alam untuk memproses bahan-bahan organik menjadi “tanah“ kembali. Bakteri anaerob yang banyak bekerja membutuhkan waktu hingga 40 minggu untuk menguraikannya.

Pengolahan Sampah Modern

Maksud pembuatan pengolahan sampah modern adalah untuk membersihkan sampah kota secara ramah lingkungan dan sekaligus sebagai akselerasi kegiatan lainnya seperti produksi kompos dan proses daur ulang. Dalam pengolahan modern atau yang sering disebut ”rapid composting” bahan organik diurai dengan menggunakan mekanisasi dan bakteri aerob. Fungsi mekanisasi adalah menghancurkan bahan-bahan organik asal menjadi partikel yang lebih kecil (0,5-2 cm). Setelah bahan tersebut menjadi serpihan memungkinkan sirkulasi oksigen masuk melalui rongga-rongga dan dengan supply oksigen yang cukup memungkinkan bakteri aerob bekerja dengan cepat. Sehingga bahan organik tersebut bisa menjadi ”tanah” kembali hanya dalam waktu 3 minggu.

KONSEP DASAR PENGOLAHAN

Mekanisasi vs Serangga

Tahap awal dalam pengolahan sampah organik adalah memecah-mecah sampah menjadi partikel kecil berukuran 0.5 cm s/d 1cm.

Tugas ini secara alami dilakukan oleh serangga (invertebrata) yang membutuhkan waktu sangat lama. Dengan mesin yang kami ciptakan, maka proses awal tersebut bisa menghemat 1000 kali lebih cepat jika dibandingkan dengan cara alami. Sehingga kemampuan selanjutnya yang kami sebut tahap II proses dekomposisi menjadi jauh lebih cepat, konsekuensinya adalah lahan yang dibutuhkan dalam hal penimbunan sampah (landfill) menjadi jauh lebih sedikit. Dan yang paling penting adalah biaya dalam proses yang dibantu secara mekanisasi ini menjadi murah dan effisien.

Mikroba

Proses selanjutnya dengan mikroba tidak bisa dihilangkan, karena merupakan proses alami dan mikroba sendiri sudah ada dan disediakan oleh alam.

Namun jika waktu percepatan proses menjadi hal yang penting maka disarankan diberikan beberapa starter organik. Baik yang berupa bio-enzym, mikroba, fungi dan lain sebagainya dan banyak beberapa merk yang beredar, seperti bioenzym, EM4, biodeck, stardeck dll.

Pupuk Organik yang Baik (Kompos)

Penghancuran dan fermentasi bukan proses akhir, karena untuk bisa menjadi pupuk yang baik harus memenuhi standart yang berlaku, apalagi diperdagangkan.

Standar yang dimaksud adalah memenuhi sifat kimia dan fisika tanah yang memenuhi syarat pupuk organik yang baik antara lain berupa indikator PH, EC, Unsur hara, AP (Air Filled Porosity), WHC (Water Holding Capacity) dan lain sebagainya. Proses pembuatan pupuk organik (kompos) yang benar ini akan kami ajarkan secara detail dalam kursus singkat maupun praktek lapangan. Dan hasil pupuk yang diupayakan dapat dijual dengan harga yang murah diharapkan dapat menggantikan sebagian dari penggunaan pupuk anorganik oleh para petani. Selain dapat meningkatkan kandungan humus dalam tanah, peningkatan hasil oleh petanipun akan dapat dirasakan.

Prinsip Dasar Membuat Kompos

Berikut adalah beberapa prinsip dasar untuk membuat kompos :

Pengertian ” C/N Ratio ”

Dalam membuat kompos, bahan-bahan yang akan digunakan harus dapat memenuhi kriteria yang benar. Jadi tidak asal dimasukan begitu saja, seperti halnya memasak maka harus digunakan resep yang tepat. C adalah unsur carbon dikonversi menjadi CO2 sebagai ENERGI yang digunakan untuk mengaktifkan mikroorganisme sedangkan N adalah protein yang digunakan untuk makanan bakteri. Kombinasi antara C/N ini sebaiknya dalam keseimbangan antara 30 : 1. Dengan syarat ini proses penguraian akan berjalan dengan baik.

Cara Perhitungan

Tabel C/N ratio.

Setiap bahan telah diteliti berapa kandungan C/N rationya, kita tinggal lihat di table dan membuat perhitungan matematis singkat mengenai kombinasi yang tepat. Semakin jauh C/N rationya dari kondisi ideal semakin lama proses pengkomposannya.

Contoh Perhitungan

Ada 2 material yang akan digunakan sebagai bahan baku kompos berupa daun kering dan pupuk kandang, Maka komposisinya adalah sebagai berikut :

A = Daun kering C/N ratio 80 : 1

B = Pupuk kandang C/N ratio 20 : 1

C = Kondisi ideal 30 : 1

100% = x% + y% Maka yang digunakan adalah :

C = xA + yB

30 = x20 + y80

30 = ( 100 – y )20 + 80y

30 = 2000 – 20y + 80y

60y = 2000 – 30

y = 1970 / 60

y = 32,8

x = 100 – 32,8

x = 67,2

Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa bahan yang digunakan untuk pembuatan kompos adalah daun kering sebanyak 33% dan pupuk kandang sebanyak 67%.

Diakses oleh : @_pararaja

4 thoughts on “TELNOLOGI PENGOLAHAN SAMPAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s