Depresi? Perlu Penyelesaian Yang Menyeluruh

by:archirevo


Setiap permasalahan kehidupan yang menimpa seseorang disebut stressor psikososial, yang dapat mengakibatkan gangguan fungsi organ tubuh.
Reaksi tubuh (fisik) dinamakan stress. Manakala fungsi organ-organ tubuh sampai terganggu dinamakan distress. Sedangkan depresi adalah reaksi kejiwaan (psikis) seseorang terhadap stressor yang dialami. Singkatnya, depresi adalah gangguan kejiwaan dalam menanggapi berbagai permasalahan hidup yang menimpanya dalam bentuk kecemasan atau kegundahan.


Dalam realitas, depresi adalah wabah yang berbahaya bahkan lebih berbahaya dibandingkan penyakit flu burung, kanker dan semacamnya. Sebab, penyakit depresi tidak dapat atau sulit dideteksi dengan alat-alat kedokteran. Hal ini terbukti dengan data studi World Bank tahun 1993 di beberapa negara, 8,1 persen dari global burden disease (penyakit akibat beban globalisasi) disebabkan oleh masalah kesehatan jiwa, yang menunjukkan dampak yang lebih besar daripada penyakit TBC (7,2 persen), kanker (5,8 persen), jantung (4,4 persen), dan malaria (2,6 persen). Hasil survei Prof. Ernaldi Bahar tahun 1995 dan Direktorat Kesehatan Jiwa tahun 1996 menyatakan, bahwa di Indonesia, 1-3 dari setiap 10 orang mengalami gangguan jiwa. Gangguan di sini tentu saja yang dimaksud adalah depresi.


Mengenai jumlah individu yang mengalami ini tidak diketahui secara pasti – karena memang sulit dideteksi seperti yang dinyatakan tadi. Namun, peningkatan yang mengalami ini dapat diketahui dari semakin banyaknya pasien yang berobat di klinik psikiatri di rumah sakit, meningkatnya pemakaian obat-obat anti depresi, dan semakin meningkatnya kasus bunuh diri.


Depresi penyebab utama bunuh diri.
Jumlah kasus bunuh diri di Indonesia selama 6 bulan terakhir pada tahun 2004 sudah mencapai 92 kasus. Hampir menyamai jumlah seluruh korban tahun 2003 yang tercatat 112 kasus. Di AS, setiap tahun sekitar 1,3 juta orang mencoba bunuh diri dan lebih kurang 400.000 orang di antaranya tewas. Angka ini 1,5 kali lebih banyak daripada angka kematian akibat tindak kriminal. Walhasil, angka bunuh diri di AS menempati urutan ketiga terbesar penyebab kematian penduduk usia 15-24 tahun. Salah satu tempat favorit untuk bunuh diri adalah jembatan terkenal Golden Gate Bridge di San Fransisco. Lebih kurang 850 orang di laporkan telah tewas bunuh diri di jembatan berwarna merah yang sangat terkenal itu (Kompas, 17/7/2004).


Faktor Penyebab


Ada empat faktor penyebab depresi menjadi mewabah.


1.Individu.

Maksud individu di sini bukan pada bentuk fisiknya melainkan pada paradigma berpikir. Mengapa? Hal inilah yang akan menentukan bagaimana mereka berpikir terhadap permasalahan yang mereka hadapi. Ketika cara berpikirnya materialis maka ia akan memandang problematika dari sudut pandang materilais yakni untung dan rugi. Akibatnya, ketika ia kehilangan sesuatu yang berharga apalagi yang mampu menghasilkan uang jutaan hingga milyaran, ia akan mengalami depresi berat hingga ia merasa kehilangan kehidupannya.


2.Keluarga.

Keluarga adalah lingkungan awal tempat dia tinggal dan berinteraksi dengan orang terdekatnya. Dalam dunia kapitalis, keluarga berjalan berdasarkan paham materialisme. Sang ibu merasa mengasuh, mendidik anak tidak lebih berharga dibandingkan bekerja, belanja atau bersolek. Akibatnya, ibu sering mengabaikan fungsinya sebagai guru pertama dan terawal bagi anaknya. Sang ayah pun merasa mendidik anak bukan tanggung jawabnya dan juga tidak lebih berharga dibandingkan bekerja. Sebab, menurut pandangan materialis, bekerja menghasilkan uang sedangkan mendidik dan memperhatikan anak tidak menghasilkan uang. Akibatnya, sang ayah lebih condong pada bekerja dan bekerja serta merasa sudah menyelesaikan tanggung jawab dengan memberikan uang saku yang besar pada anaknya. Padahal, seorang anak tidak hanya butuh pakaian, celana, makanan, minuman dan kebutuhan fisik semacamnya tapi juga kasih saying, pendidikan dari orang tua. Tentu saja hal ini akan berakibat pada gangguan kejiwaan sang anak. Apalagi, sang ayah dan ibu sering bertengkar karena urusan-urusan sepele dan merasa saling direndahkan. Hal ini akan menjadi puncak gangguan kejiwaan yang berujung pada broken home dan serentetan dampak yang mengikutinya seperti anti sosial.


3.Masyarakat.

Masyarakat adalah lingkungan berikutnya yang juga tidak kecil pengaruhnya terhadap seseorang sebab mau tidak mau setiap diri kita berinteraksi dengan masyarakat. Pada masyarakat materialis, segalanya dipandang dari sudut pandang materi dan cenderung individualis. Kepekaan terhadap lingkungan sosialnya sangat rendah. Orang akan bersaing untuk untuk dirinya sendiri dengan berbagai cara tanpa mempedulikan kepentingan orang lain. Hubungan interpersonal semakin fungsional dan cenderung mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan seperti keramahan, perhatian, toleransi, dan tenggang rasa. Akibatnya, tekanan isolasi dan keterasingan kian kuat; orang makin mudah kesepian di tengah keramaian. Inilah yang disebut lonely crowded (sendiri di tengah keramaian), gejala mencolok dari masyarakat kapitalis di mana-mana termasuk Indonesia dan dunia Its ini.


4.Pemerintah.

Pemerintah pun juga ikut andil dalam mewabahnya penyakit depresi ini. Dengan system kapitalis, segala hal pun juga dipandang secara materi. Penguasa dan rakyat bagaikan penjual dengan pembeli bahkan yang lebih parah bagaikan tuan rumah dengan budak. Akibatnya, pendidikan, kesehatan, SDA seperti bensin dijadikan komoditas jual beli antara penguasa dan rakyat. Tekanan ekonimi yang menghimpit dengan sedikitnya lapangan pekerjaan, penghasilan yang pas-pasan dan harga barang-barang yang kian melangit terutama barang-barang poko semacam beras, kesemuanya menjadikan banyak orang mudah depresi. Menurut E. Kristi Purwandari, pengajar Fak. Psikologi UI, faktor penyelenggaraan kehidupan bernegara yang carut-marut menjadi penyebab depresi terbesar bagi masyarakat Indonesia, terutama kalangan menengah ke bawah. Keadaan seperti ini menyebabkan orang frustasi dan putus harapan karena merasa tidak memiliki masa depan. Belum lagi tayangan televise yang lebih condong pada kekerasan diberi lampu hijau oleh pemerintah menjadikan masyarakat lebih suka mengambil solusi dengkul alias kekerasan kebanding dengan otak alias berpikir dalam menyelesaikan setiap problematika. Sehingga, banyak sekali kriminalitas kekerasan fisik hingga pembunuhan hanya karena alasan sepele.

Penyelesaian menyeluruh dan tepat

Dengan analisa di atas, jelas sekali kalau kita ingin menyelesaikan permasalahan depresi yang berkepanjangan kita harus menyelesaikan semua factor di atas sebab satu factor dengan factor lain saling mempengaruhi. Tidak bisa kita katakan cukup dengan dzikir, sholat dan ibadah ritual lainnya mampu menghilangkan depresi sebab hal itu bersifat individual saja dan dampaknya pun hanya sesaat. Padahal, kita ingin menyelesaikan depresi sosial bukan hanya depresi individual dan dampaknya itu tahan lama bukan hanya sesaat. Seseorang bisa saja merasakan ketenangan ketika sholat dan berdzikir dalam masjid, tapi kegoncangan jiwa kembali merasuk hati ketika ia keluar dari masjid dan kembali lagi dalam aktivitas keduniaan dalam lingkungan yang carut marut seperti yang digambarkan di atas. Maka dari itu penyelesaiannya pun ada empat yang kesemuanya berasaskan Islam yang diturunkan oleh Allah yang Maha Tahu akan karakteristik manusia

Kami tidak menurunkan al-Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah. (QS Thaha [20]: 2).

1. individu.

Karena pandangan materialis ini yang menjadikan seseorang mengejar-ngejar dunia sehingga depresi ketika gagal mencapainya atau kehilangan sesuatu yang berharga secara materi, maka pandangan materialis ini mestilah diubah menjadi padangan Islam. Rasulullah senantiasa menghancurkan pandangan materialisme ini dengan berbagai peringatan. Contohnya Bermegah-megahan telah melalaikan kalian sampai kalian masuk ke dalam kubur. (QS at Takatsur [102]: 1-8).


Rasulullah senantiasa merubah paradigma materialistik menjadi paradigma akhirat dengan tanpa meninggalkan dunia. Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kalian (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kalian melupakan bagian kalian dari (kenikmatan) duniawi, (QS al-Qashash [28]: 77).

Walhasil, Rasulullah saw. selalu menanamkan pandangan hidup yang sahih dan lurus, yakni pandangan hidup Islam yang didasarkan pada akidah Islam; menanamkan bahwa kebahagian hidup adalah diperolehnya ridha Allah, bukan dicapainya hal-hal yang bersifat duniawi dan material, karena semua itu bersifat sementara. Penanaman pikiran dan pemahaman seperti ini dilakukan melalui pembinaan baik di rumah-rumah maupun di tempat-tempat umum. Oleh sebab itu, setiap orang harus ‘memaksa’ dirinya untuk terus mengkaji Islam secara tepat; bukan untuk kepuasaan intelektual, melainkan untuk diyakini, dihayati, dan diamalkan. Dengan pengamalan tersebut ia akan menjadi orang yang memiliki keyakinan teguh, cita-cita kuat, tawakal hebat, dan optimisme tinggi. Ia akan berbuat di dunia dengan keyakinan Allah Swt. akan menolongnya, kesulitan dipandang sebagai ujian hidupnya, dan pandangannya jauh tertuju ke depan, ke akhirat. Dia berbuat di dunia untuk mencapai kebahagiaan hakiki, yaitu ridha Allah al-Khaliq. Jika ini dilakukan niscaya seseorang akan terhindar dari depresi.

2.Keluarga.

Keluarga juga harus diciptakan suasana yang kondusif untuk meredam depresi dengan menegakkan pilar-pilar Islam di dalam. Kehidupan suami istri layaknya para sahabat yang saling melengkapi dan saling mendukung.

Mereka itu (istri) adalah pakaian bagi kalian (suami) dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. (QS al-Baqarah [2]: 187).

Dengan kehidupan yang bersahabat ini, sang ibu tidak merasa rugi harus senantiasa mengurus rumah tangga karena itulah tanggung jawabnya serta tidak merasa rendah karena yang mencari nafkah adalah suami. Suami pun tidak merasa tinggi hanya karena ialah yang mencari nafkah. Selain itu, keduanya saling membantu satu sama lin berikut anak-anaknya dalam melangkah di dunia dengan menjalin komunikasi yang baik, saling menasihati, kumpul-kumpul bersama untuk menambah keakraban

Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka. (QS at-Tahrim [66]: 6).

Dan yang terakhir menjadikan keluarga sebagai tempat madrasah bagi para penghuninya dengan menjadikan suasana rumah islami seperti lagu-lagu islami, pigora-pigora kaligrafi, pembacaan Al Quran, pengajian sekeluarga dan sebagainya. Pada zaman Nabi, rumah Arqam dijadikan pusat pembinaan; di rumah Fatimah adiknya Umar bin Khathab ada kajian; begitu pula di rumah sahabat lainnya. Dengan hal ini seseorang merasa terus-menerus merasa meningkat keimanan dan ketaqwaannnya sehingga semakin tegar menghadapi problematika dunia


3.Masyarakat.

Kehidupan masyarakat, kata Nabi, seperti sekelompok orang yang mengarungi lautan dengan kapal. Jika ada seseorang yang hendak mengambil air dengan melobangi kapal dan tidak ada orang lain yang mencegahnya, niscaya yang tenggelam adalah seluruh penumpang kapal. Hal ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh anggota masyarakat terhadap kehidupan masyarakat secara umum. Masyarakat yang para anggotanya mengembangkan bibit-bibit depresi, jika dibiarkan, akan melahirkan masyarakat yang depresi. Sebaliknya, warga masyarakat yang menumbuhsuburkan kebaikan akan mewujudkan masyarakat yang juga baik. Oleh sebab itu, agar masyarakat memiliki daya tahan dalam menghadapi depresi/stress sosial harus ada upaya untuk menumbuhkan solidaritas dan kepedulian sosial; menciptakan atmosfir keimanan; serta mengembangkan dakwah dan amar makruf nahi mungkar. Masyarakat Madinah pada zaman Nabi saw. merupakan contoh ideal untuk hal ini. Para penduduk Anshar (penduduk Madinah) dengan penduduk Muhajirin (penduduk mekkah yang hijrah ke madinah) disaudarakan oleh Rasulullah. Mereka saling nasihat-menasihati, saling tolong-menolong dalam kebaikan, saling memberi, dan semacamnya hingga menciptakan solidaritas yang mulia yang tidak memberikan sedikit pun peluang munculnya penyakit depresi.

4.Pemerintah.

Sebagai penentu sistem yang diterapkan masyarakat, sistem kapitalis yang kini diemban pemerintah – yang telah nyata menyengsarakan masyarakat dengan berbagai carut marutnya tatanan sosial, perekonomian dan politik – haruslah dirubah menjadi sistem Islam. Dengan sistem Islam pemerintah diposisikan sebagai pengurus kehidupan masyarakat.

Pemimpin manusia (kepala Negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat) dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas pengurusan rakyatnya

(HR al-Bukhari dan Muslim).

Dengan dasar seperti itu, pemerintah berfungsi untuk mengurus masyarakat hingga urusan masyarakat mudah diselesaikan oleh individu masyarakat. Dengan begitu, tidak lagi masyarakat yang kesulitan mencari lapangan kerja karena pemerintahlah yang kan membukanya, tidak lagi masyarakat kebingungan harus mencari dana kemana untuk menyekolahkan anaknya karena pendidikan digratiskan, tidak ada lagi masyarakat khawatir akan urusan kesehatan karena layanan kesehatan pemerintah siap melayani dengan gratis pula, dan berbagai kemudaha-kemudahan lainnya.

Khatimah

Telah nampak jelas bagi kita bahwa depresi sosial yang kini sedang akut di Indonesia dan dunia pada umumnya adalah dampak dari carut marutnya 4 faktor di atas sehingga keempat-empatnya mesti diselesaikan dengan solusi Islam. Sebagai gambaran singkat dari paparan di atas, amat jelas bahwa depresi seseorang itu muncul dari paradigma seseorang yang materialistic sehingga sangat mudah depresi ketika kehilangan sesuatu yang berharga atau gagal total mencapai cita-citanya yang tinggi, hal ini diperkuat ketika personal keluarganya juga sibuk dengan dirinya sendiri tanpa mempedulikan urusannya, apalagi masyarakat yang materialistic-individualistik menjadikan ia tak lagi tempat untuk mengadu problematikanya, ditambah dengan carut marutnya pemerintah dengan berbagai tekanan-tekanan ekonomi, politik dan sosial menjadi pelengkap yang sempurna bagi seseorang untuk mengakhiri dunia ini dengan bunuh diri.


Berbeda, ketika ia memiliki paradigma Islam yang kuat dan kokoh, akan menjadikan ia senantiasa sabar dan tawakal kepada Allah, menganggap problematikanya adalah ujian dari Allah, hal ini diperkuat dengan kondisi keluarga yang senantiasa membantu dan memberi semangat untuk senantiasa optimis dan berjuang, apalagi masyarakat Islami yang solidaritasnya berdasarkan Islam bukan materilistik membuat ia tidak merasa sendiri di dunia ini karena banyak sekali yang mau membantunya, ditambah lagi pemerintah yang terus-menerus memudahkan urusan masyarakat hingga menjadikan ia benar-benar senang menjalani aktivitas keduniaan dan akhirat. Dengan gambaran seperti ini, masihkah banyak individu masyarakat yang depresi karena tekanan ekonomi dan lainnya hingga berujung pada bunuh diri sebagaimana kondisi masyarakat sekarang?

Dengan penjelasan ini, masihkah kita tidak mau juga kembali pada Islam? Masihkah kita tidak lagi kembali pada fitrah kita dengan menekuini Islam sebagi pandangan hidup? Masihkah kita membanggakan pandangan materialistik dengan berbagai konsekuensi buruknya? Gunakanlah akal kita untuk memikirkannya? Gunakanlah hati kita untuk merasakan betapa indah hidup dalam suasana Islam? Gunakanlah… karena itulah karunia Allah yang membedakan antara kita dengan hewan. Gunakanlah dengan sungguh-sungguh maka kita akan benar-benar berada dalam satu keputusan bahwa Islamlah solusi problematika manusia seutuhnya dan alam seluruhnya.

Tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. (QS al-Anbiya’ [21]: 107).


Adopted by : @_pararaja from www.archirevo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s