Puluhan Siswa MA Swasta Tak Lulus Unas

MADIUN – Tingkat kelulusan siswa madrasah aliyah (MA) swasta di Kabupaten Madiun cukup memprihatinkan. Dari 652 siswa MA peserta Unas tahun ini, sebanyak 57 siswa dinyatakan tidak lulus. Dari jumlah itu, 56 di antaranya siswa MA swasta. Sisanya yang 1 siswa berasal dari MA negeri.

Kakandepag Kabupaten Madiun Sofyan Djauhari mengatakan, tingginya angka ketidaklulusan siswa MA swasta akibat minimnya fasilitas. ”Seperti minimnya tenaga pengajar ataupun laboratorium di sekolah. Kami menyadari, karena lembaga swasta kebanyakan milik perorangan sehingga kurang maksimal,” ujar Sofyan, kemarin (15/6).

Dikatakan, untuk tahun ajaran 2008/2009 pihak Depag akan memberikan perhatian lebih pada MA swasta. Sehingga, selain menekan angka ketidaklulusan, diharapkan bisa menghasilkan lulusan yang bisa diandalkan. ”Saat ini, perhatian kepada tenaga pendidik juga masih kurang,” lanjutnya.

Sementara itu, siswa SMA/SMK di Kabupaten Madiun yang dinyatakan tidak lulus Unas tahun ini tercatat sebanyak 15. Menurut Sumardi, Kepala Dinas Pendidikan (dindik) setempat, siswa yang tak lulus tersebut tersebar di 5 sekolah. ”Yaitu SMK Korpri Uteran, SMK PGRI 2 Mejayan, SMA Negeri Jiwan, SMA Negeri 1 Dolopo, dan SMA Negeri 1 Nglames,” ungkapnya.

Sumardi mengatakan, setelah kelulusan diumumkan, ijasah akan dibagi kepada siswa dalam waktu dekat ini. Begitu pula dengan surat keterangan hasil ujian nasional, direncanakan diberikan 2-3 hari mendatang.

”Saat ini, ijasah masih di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jatim. Kami sudah mengusulkan, dan besok (hari ini, Red) masih akan rapat di Surabaya,” paparnya. Bagaimana dengan siswa yang telah diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur penelusuran minat dan kemampuan (PMDK)? Menurut Sumardi, semuanya lulus Unas.

Sementara Nurul Indana, siswa SMA Negeri 1 Mejayan, meraih nilai unas tertinggi di Kabupaten Madiun. Siswa jurusan IPA itu berhasil mendapat nilai 54,70. ”Sebelumnya saya belum tahu kalau nilai saya tertinggi di Kabupaten,” ujarnya.

Sayangnya, keterbatasan biaya membuat dirinya belum berpikir untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Ayah gadis berjilbab ini hanya seorang petani dan ibunya penjual getuk. Untuk mewujudkan keinginan untuk terus menutut ilmu, saat ini dia bekerja di salah satu toko makanan ringan di Caruban. ”Saya memilih bekerja dulu, dan uang yang didapat akan ditabung untuk biaya kuliah nanti,” jelas Nurul, yang mengaku ingin meneruskan kuliah jurusan sastra Inggris di Universitas Negeri Surabaya.

radar madiun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s