Ada Sujud Syukur, Coret-Coret, Konvoi

BAGI siswa SMA sederajat di kawasan Madiun Raya, pengumuman kelulusan menjadi akhir sebuah penantian panjang selama tiga tahun. Tradisinya, ada yang merayakannya dengan aksi coret-coret, konvoi, tanda tangan di kain panjang, sujud syukur atau dengan tangis haru karena keberhasilan tersebut.

Seperti di wilayah Kota Madiun, sujud syukur dilakukan siswa dan guru SMAN 6 sebelum hasil ujian nasional (unas) diberikan kepada anak didik melalui wali murid. ”Sujud syukur ini akan kami tradisikan setiap tahun,”’ ujar Hendrijanto, kepala SMA 6 usai salat dzuhur berjamaah di musala sekolah, kemarin (14/6).

Secara keseluruhan, perayaan kelulusan di kota relatif sederhana. Nyaris tidak ada konvoi atau hura-hura. Di semua sekolah, bisa ditemui aksi coret di baju atau kaos seragam. Mereka saling membubuhkan tanda tangan sebagai kenang-kenangan.

Di Ponorogo, diwarnai aksi konvoi sepeda motor. Pelajar yang lulus itu meluapkan kegembiraan dengan keliling kota disertai deru motor meraung-raung. Bahkan, perayaan kelulusan ini terus berlangsung dari pagi hingga �sore.

Kondisi ini langsung mendapat reaksi dari pengamat pendidikan di Ponorogo, Diyono Suwito. “Kalau melihat kelulusan siswa masih diwarnai aksi corat coret baju atau konvoi, ini harus menjadi perhatian tersendiri bagi Dinas Pendidikan,” jelasnya

Seharusnya, katanya, sejak awal dinas sudah harus menyosialisasikan ke sekolah untuk mencegah adanya aksi coret-coret maupun konvoi. Yakni, dengan mengumpulkan baju seragam yang bisa dipakai untuk siswa kurang mampu. “Itu akan lebih bermanfaat,” tambahnya.

Untuk aksi konvoi, ke depan Diyono minta agar polisi bisa lebih tegas. Terutama, siswa yang saat konvoi tidak mengenakan helm.

Perayaan kelulusan dengan konvoi juga terjadi di Pacitan. Aksi bersepeda motor bareng-bareng itu mengelilingi jalanan kota dan menuju Pantai Teleng Ria. Tentu saja, konvoi tersebut menganggu pengguna jalan lain.

Pantauan koran ini di Caruban, Madiun, ada kelompok kecil pelajar berkeliling kota. Bahkan, menghampiri beberapa lembaga sekolah. Menurut, peserta pawai, maksudnya menarik teman dari sekolah lain untuk ikut merayakan kelulusan.”Teman-teman sekolah lain tidak ada yang masuk, jadi pesertanya sedikit,” ujar seorang pelajar saat konvoi.

Kelulusan memberikan makna tersendiri bagi siswa. Apalagi, dengan bertambahnya mata pelajaran (mapel) yang diujikan secara nasional pada 22-24 April lalu. Jika 2007 siswa hanya mengerjakan tiga soal dari mapel Bahasa Indonesia, Bahasa inggris dan Matematika. Namun, tahun ini ditambah tiga mapel. Untuk siswa jurusan IPA yaitu, Fisika, Kimia dan Biologi. Sedang untuk siswa jurusan IPS ditambah Geografi, Ekonomi dan Sosiologi.

radar madiun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s