ENTREPRENEUR: SEBUAH PILIHAN HIDUP

Ada banyak jalan hidup untuk meraih kesuksesan. Salah satunya adalah bekerja pada perusahaan besar dengan gaji yang besar, bonus yang besar serta fasilitas yang memadai. Inilah yang umumnya ditempuh orang seusai menamatkan kuliah atau sekolah. Namun memperoleh penghasilan yang besar tidaklah mudah. Biasanya seorang sarjana harus memulai karir dari bawah bahkan tak sedikit yang lima tahun pertama karir kerjanya hanya menjadi pelaksana lapangan. Ia hanya menerima perintah dari orang dan sama sekali tidak punya otoritas dalam memutuskan sesuatu.

Seiring perjalanan waktu, seorang yang prestasinya bagus biasanya akan mendapatkan promosi naik jabatan. Pada perusahaan besar, biasanya sebelum naik jabatan, ia akan mendapat tugas belajar atau melanjutkan kuliah ke jenjang lebih tinggi. Setelah lulus, baru menempati posisi baru.

Naiknya jabatan berdampak pada kenaikan gaji, bonus, tunjangan dan fasilitas. Namun pada titik waktu tertentu, umumnya setelah mencapai posisi puncak, seseorang akan merasa amat jenuh dengan pekerjaan rutinnya tersebut. Sebuah survai membuktikan lebih dari 50 % orang tidak ingin berangkat kerja pada hari Senin karena merasa tidak ada tantangan baru dalam bekerja. Bosan! Kalau pun mereka berangkat maka daya dorong satu–satunya adalah “I have no choice” . Tak punya pilihan lain karena pekerjaannya itu adalah satu–satunya periuk nasi keluarganya.

Yang menjadi masalah kemudian, kelompok orang yang sudah jenuh ini biasanya bekerja setengah hati. Ogah–ogahan. Datang ke kantor hanya untuk menandatangani surat–surat, rapat rutin atau sekadar baca koran. Salah satu cara mengobati kejenuhan mereka adalah dengan mempunyai bisnis sendiri di luar jam kantor atau usaha yang dikelola orang lain. Sebagian lainnya malah mengambil langkah yang lebih berani: pensiun dini dan banting setir menjadi entrepreneur.

Dari pengamatan yang saya lakukan, paling tidak ada beberapa alasan orang memilih untuk menjadi entrepreneur, yaitu:

1.Ingin lebih kaya secara materi.
Setinggi–tingginya gaji di sebuah perusahaan, toh, tetap bersifat limited (terbatas). Meski kinerja kita amat mengagumkan dan membuat perusahaan menghasilkan untung hingga triliunan rupiah toh gaji kita tidak akan meningkat sepesat kenaikan laba perusahaan.

Tak heran kita selalu mendengar ungkapan “gaji berapa pun tak akan pernah cukup”. Hal ini amat lumrah karena semakin tinggi jabatan maka gaya hidup pun akan makin meningkat. Melihat direktur perusahaan lain naik Mercy, kita pun jadi ingin. Syukur, kalau bisa diperoleh dengan jalan halal. Tapi tak sedikit kemudian yang memilih korupsi.

Yang juga berpengaruh terhadap masalah kecukupan gaji adalah persentase kenaikan rata–rata harga barang setiap tahunnya di Indonesia umumnya melebihi persentase kenaikan gaji karyawan. Berbeda halnya jika kita jadi entrepreneur. Penghasilan bisa tak terbatas (unlimited) dan kita bisa membeli apa saja yang kita mau. Maka, kalau mau kaya raya, jangan pernah jadi karyawan seumur hidup.

Dalam bahasa Robert Kiyosaki, penulis The Cashflow Quadrant, seorang entrepreneur sejati (business owner dan investor) akan memperoleh passive income tanpa harus berkeringat. Kelompok yang berada di sisi kanan kuadran ini akan menjadi majikan uang (dikejar uang bukan mengejar uang) dan punya banyak waktu luang.

Sebaliknya, seorang karyawan (employee) atau self employee (seperti dokter, pengacara atau profesi lainnya yang dikerjakan seorang diri) harus bekerja keras untuk mendapatkan uang (active income). Kelompok yang berada di sisi kiri kuadran ini, disebut Kiyosaki sebagai budak uang. Hidup mereka dikendalikan oleh uang. Hidup mereka memiliki pola rutin yaitu bangun, bekerja, membayar tagihan.

Kiyosaki berkesimpulan, bekerja hanyalah solusi jangka pendek. Solusi jangka panjangnya adalah membangun bisnis sendiri guna mencapai kemakmuran. Ia mendefinisikan kemakmuran sebagai berapa lama kita bisa bertahan hidup dengan gaya hidup yang sama jika besok kita berhenti bekerja. Wealth is the number of days you can survive forward if you stop working tommorow.

Gambar The Cashflow Quadrant. Konsep buatan Robert Kiyosaki ini menjelaskan cara orang mendapatkan penghasilannya. Untuk bisa kaya secara materi, kita harus berada pada sisi kanan kuadran.

2. Ingin lebih bebas.
Dengan berwirausaha, seorang entrepreneur bisa lebih leluasa. Ia bebas dari jam kantor, sikap like and dislike atasan dan memiliki lebih banyak waktu luang. Bahkan jika perusahaannya telah memiliki sistem yang bagus, ia tak perlu berada setiap hari di kantornya. Kerja bukan merupakan suatu kewajiban tapi lebih karena memang ingin. Waktu menjadi begitu fleksibel baginya.

3. Ingin mewujudkan impiannya.
Dengan berwirausaha, seseorang dapat secara langsung mengaplikasikan ide atau ilmu yang dimilikinya dengan lebih leluasa tanpa takut kepada peraturan perusahaan. Dengan berwirausaha, ia dapat lebih bebas mengaktualisasikan ide–ide kreatifnya untuk mewujudkan impiannya.

4.Kepepet.
Ada pepatah yang mengatakan “orang yang kepepet cenderung jadi kreatif”. Pengamatan saya membuktikan cukup banyak jumlah orang yang memutuskan jadi entrepreneur karena gagal dalam melaksanakan tugas sebagai karyawan kemudian dipecat atau sama sekali gagal memperoleh pekerjaan, misalnya karena nilai akademisnya rendah. Kita semua maklum kalau lapangan pekerjaan yang tersedia selalu lebih sedikit daripada jumlah pencari kerja. Data dari Departemen Tenaga Kerja menunjukkan pada bulan Mei 2002 ini ada 58,7 juta pencari kerja. Satu juta di antaranya adalah golongan sarjana. Maka, daripada capai memburu pekerjaan, mengapa tidak mencoba jadi entrepreneur yang justru menciptakan lapangan pekerjaan? Nah, jika sudah punya niat untuk jadi entrepreneur unggulan maka langsung lupakan saja hasrat untuk melamar kerja.

Diakses oleh : arifin_pararaja dari www.pembelajar.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s