FORMALIN YANG KONTROVERSIAL

Akhir-akhir ini nama formalin memang sedang naik daun, hampir setiap orang membicarakannya. Akibat pemberitaan formalin efeknya sangat besar. Pernyataan Menko Kesra, Menkop dan UKM menyatakan : Omzet industri makanan dan minuman menurun 40-50 % dalam dua pekan ini, Sekitar 25 % atau 2 Juta unit produsen makanan dan minuman mengalami penurunan omzet, berpotensi terjadi kehilangan lapangan pekerjaan, Data di PT Bogasari, omzet penjualan mi basah turun sekitar 40 %. Sebanyak 1.619 pengusaha kecil dan menengah menghentikan usaha sementara. Benarkah formalin merupakan suatu masalah yang baru ?

Badan POM memang benar-benar jago mengemasnya. Masalah formalin sebenarnya adalah masalah klasik yang sejak dulu ada. YLKI melalui Warta Konsumen tahun 1991 melaporkan bahwa 86,49 % mie basah yang diambil sebagai contoh yang berasal dari daerah Yogyakarta, Semarang dan Surabaya mengandung asam borat (boraks) dan 76 % mie basah mengandung boraks dan formalin secara bersama-sama.

Formalin adalah nama dagang larutan formaldehida dalam air dengan kadar 36-40 %. Formalin biasanya juga mengandung alcohol (methanol) sebanyak 10-15 % yang berfungsi sebagai stabilisator supaya formaldehidanya tidak mengalami polimerisasi. Secara alami formalin dapat ditemui dalam asap proses pengasapan makanan , yang bercampur dengan fenol,keton dan resin. Bila menguap di udara, berupa gas yang tidak berwarna, dengan bau tajam menyesakkan, sehingga merangsang hidung, tenggorokan dan mata.

Udara yang mengandung formaldehida dengan kadar 5 mg/l atau lebih dapat membahayakan kesehatan manusia. Synonyms Formalin : Formic Aldehyde ; Paraform; Formol; Formalin (Methanol –Free); Fyde; Formalith; Methanal; Methyl Aldehyde; MethyleneGlycol; Methylene Oxide; Tetraoxymethalene; Oxomethane; Oxymethylene.

Pemakaian formaldehida pada makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia, dengan gejala sebagai berikut : sukar menelan, mual,sakit perut yang akut disertai muntah-muntah,mencret darah, timbulnya depresi susunan syaraf, atau gangguan peredaran darah. Konsumsi formalin pada dosis sangat tinggi dapat mengakibatkan konvulsi (kejang-kejang), haematuri (kencing darah) dan haimatomesis (muntah darah) yang berakhir dengan kematian. Injeksi formalin dengan dosis 100 gr dapat mengakibatkan kematian dalam waktu 3 jam. Formalin yang bersifat racun tersebut tdak termasuk dalam daftar bahan tambahan makanan (additive) pada Codex Alimentarius, maupun yang dikeluarkan oleh Depkes.Humas Pengurus Besar Perhimpunan Dokter spesialis Penyakit Dalam Indonesia ( PB PAPDI) menyatakan formalin mengandung 37 % formalin dalam pelarut air dan biasanya juga mengandung 10 persen methanol. Formalin sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.Formalin bagi tubuh manusia diketahui sebagai zat beracun, karsinogen yang menyebabkan kanker, mutagen yang menyebabkan perubahan sel dan jaringan tubuh, korosif dan iritatif.

Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia,berikut adalah dampak buruk formalin bagi tubuh manusia.

  1. Kulit : iritatif,kulit kemerahan,kulit seperti terbakar,alergi kulit
  2. Mata : iritatif,mata merah,dan berair,kebutaan
  3. Hidung : Mimisan
  4. Saluran Pernafasan : iritasi lambung,mual,muntah,mules
  5. Hati : Kerusakan Hati
  6. Paru-paru : radang paru-paru karena zat kimia (pneumonitis)
  7. Saraf : Sakit kepala,lemas,susah tidur,sensitif, sukar konsentrasi,mudah lupa
  8. Ginjal : kerusakan ginjal
  9. Organ Reprodukdi : Kerusakan testis dan ovarium, gangguan menstruasi, sekunder )

Dosis akut pada percobaan rats dan mouse adalah sebagai berikut :

§         Oral, Rats LD50=800 mg/Kg

§         Oral, Mouse LD50=42 mg/Kg

Namun ada juga pendapat kontroversi yang cukup mengejutkan, ternyata kandungan formalin pada bahan makanan tidak akan menimbulkan efek negatif bagi manusia.Berdasarkan penelitian WHO, kandungan formalin yang membahayakaan sebesar 6 gram. Padahal rata-rata kandungan formalin yang terdapat pada mi basah 20 mg/kg mi. Selain itu formalin yang masuk ke tubuh manusia akan diurai dalam waktu 1,5 menit menjadi CO2 dan air seni. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta Dr Yuswato mengatakan, berdasarkan penelitian yang dilakukan pihaknya pada tahun 2002, kandungan formalin pada mi basah di pasar Jogja sekitar 20 mg/kg. Kadar itu belum signifikan menimbulkan toksifikasi bagi tubuh manusia.

 Dikatakan buah-buahan dan sayuran juga juga mengandung zat formalin sebagai hasil proses biologis alami. Daging sapi mengandung formalin kira-kira 30 mg dan kerang laut mengandung formalin 100 mg per kg, tetapi formalin yang dihasilkan dari proses alami. Menurut Dr. Yuswanto, kandungan formalin baru menimbulkan bahaya jika dihirup alat pernafasan. Jika hanya dicerna alat pencernaan, formalin tidak akan menimbulkan risiko negatif. Perokok juga berpotensi menghirup formalin dari setiap batang rokok yang dikonsumsinya. Ketika setiap hari mengisap 20 batang rokok, sama dengan menghirup 10 mg formalin ( Jawa Pos, 8 Januari 2006)

WHO dalam buku, Guidelines for drinking water quality, menyatakan bahwa formadehyde ditemukan dalam air sebagai hasil dari oksidasi material organic selama terjadinya proses ozonisasi dan chlorinasi, juga dihasilkan sebagi proses polyacetal plastic fittings. Konsentrasi yang ditemukan adalah 30 mg/lt. Formaldehida menunjukan Carcinogenic, pada tikus melalui proses inhalasi dan menyebabkan iritasi pada nasal ephithelium. Masuknya formaldehyde selama 2 tahun menyebabkan iritasi pada perut, ini ditemukan dalam salah satu studi menggunakan tikus.Konsentrasi formaldehyde yang direkomendasikan oleh WHO dalam air adalah sebesar 0,9 mg/Lt (900 mg/lt), dengan asumsi bahwa ada potensi bahaya, namun informasi mengenai efek terhadap kesehatan terbatas. Dari beberapa penelitian/kajian yang ada belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa formaldehyde adalah teratogenic atau karsinogenik, tetapi paling tidak harus dipertimbangkan sebagai bahan yang potensial bersifat racun. Menurut dr. Tjandra Yoga Aditama, formaldehyde merupakan bahan yang diduga karsinogen pada manusia.

Berikut adalah petunjuk suatu zat dikatakan menyebabkan kanker (carcinogenic) yang dikeluarkan oleh EPA (Environmental Protection Agency)

         A= Bukti pada manusia “Cukup”, sedangkan Bukti pada Hewan “Cukup”/”Terbatas”/”Kurang”/” Tanpa Data”/ “Bukti Negatif”

         B1= Bukti pada manusia “Terbatas”, sedangkan Bukti pada Hewan “Cukup”/”Terbatas”/”Kurang”/” Tanpa Data”/ “Bukti Negatif”.

         B2= Bukti pada manusia “Kurang”/”Tanpa Data”/’Bukti Negatif” sedangkan Bukti pada Hewan Cukup.

         C= Bukti pada manusia “Kurang”/”Tanpa Data”/” Bukti Negatif” sedangkan Bukti pada Hewan Terbatas.

         D= Bukti pada manusia “Kurang”/”Tanpa Data” /” Bukti Negatif” sedangkan Bukti pada Hewan “Kurang”/”Tanpa data”. Dan Bukti pada manusia “Kurang” sedangkan Bukti pada Hewan “ Bukti Negatif”

         E= Bukti pada manusia “Tanpa Data”/” Bukti Negatif” sedangkan bukti pada Hewan “ Bukti Negatif”

Catatan :

         Bukti pada manusia, didapat melalui penelitian secara epidemiologis, sedangkan bukti pada hewan didapat dengan percobaaan laboratorium

         Karena keterbatasan kemampuan software, A,B1,B2,C,D,E tidak bias ditampilkan dalam bentuk table.

         Kelompok A Carsinogen pada manusia

         Kelompok B1 Diperkirakan merupakan carsinogen manusia. Dalam kasus tersebut bukti dari penelitian hewan tidak dianggap relevan

         Kelompok B2 Terbukti merupakan carsinogen pada binatang tapi merupakan carsinogen yang tidak kuat pada manusia

         Kelompok C Kemungkinan besar Carsinogen pada manusia

         Kelompok D Tidak diklasifikasikan sebagai carsinogen manusia

         Kelompok E Bukti carsinogenitas bukan manusia

Sedangkan menurut The International Agency for Research on Cancer (IARC), pembagiannya adalah sebagai berikut :

Group 1 The agent is carcinogenic to humans

Group 2A The agent is probably carcinogenic to humans

Group 2B The agent is possibly carcinogenic to humans

Group 3 The agent is not cassifiable its carcinogenicity to humans

Group 4 The agent is probably not carcinogenic to humans

Pada bulan Juni 2004, 24 orang ilmuwan dari 10 negara, berkumpul untuk membahas mengenai formaldehide, dan akhirnya IARC memutuskan bahwa formaldehide yang sebelumnya masuk dalam Group 2A menjadi masuk dalam Group 1.
Kembali ke kasus formalin, karena bahan tersebut tidak diperkenankan sebagai bahan tambahan makanan, maka diperlukan keterlibatan semua pihak , adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah :

1.  Mengatur tata niaga formalin, sehingga formalin benar-benar digunakan semestinya.

2.  Memberi penyuluhan/pelatihan kepada pedagang makanan minuman , baik mengenai kesehatan makanan minuman maupun tehnik produksi yang benar.

3.  Membentuk asosiasi/paguyuban diantara pedagang.

4. Menginformasikan secara berkala hasil uji petik makanan secara berkala kepada masyarakat (Sebagai Public Warning)

5.  Mengubah perilaku konsumen

Bagimanapun hukum pasar berlaku dalam kasus formalin, tahu walaupun berformalin akan laku jika konsumen ingin tahu yang kenyal. Produsen sangat tergantung kepada konsumen, untuk itu penyuluhan kepada masyarakat wajib juga dilakukan.


Daftar Pustaka :

1. F.G Winarno,Titi Sulistyowati R, Bahan Tambahan Untuk Makanan dan Kontaminan, Pustaka Sinar Harapan ,Jakarta,1994.

2. ————-, PB PAPDI soal Formalin, sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, Kompas 3 Januari 2006

3. ————-, Formalin di Maknan Tidak Berbahaya, Jawa Pos, 6 Januari 2006

4. Depkes R.I.,Keputusan Mentyeri Kesehatan R.I. Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002 Tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum.

5. U.S. Departemen Of Labor, Occupational Safety & Helath Administration (OSHA), Regulation (Standar-29 CFR) Subtance tehnical guidelines for formalin –1910.1048 App A,www.osha.gov , accescesd 12 Januari 2006

6. Indonesis-Australia, Proyek Pelatihan Khusus Tahap II, Kursus Kesehatan Lingkungan, AusAid-Depkes R.I, 2001

7. Guidelines for Drinking Water Quality Third Edition Volume 1 : Recommendations,WHO,Oktober 2004.

8. IARC Monograph on the Evaluation of Carconogenic Risk to Humas, http://www-cie.iarc.fr/htdocs/announceements/vol88.htm, Accesced 12 Januari 2006

9. Tjandra Yoga Aditama, Polusi Udara dan Kesehatan, Penerbit Arcan, 1992.

Penulis:
I Dewa Made Widaryana.

Staf Seksi Penyehatan Lingkungan

Dinas Kesehatan Prop. Jateng

Diakses oleh : arifin_pararaja                            

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s