REFLEKSI HARI LINGKUNGAN HIDUP

Krisis lingkungan hidup terus berlangsung dari hari ke hari seiring dengan nafsu eksploitatif umat manusia modern baik di Barat maupun Timur sebagai integrasi dari kapitalisme global. Kondisi kekacauan lingkungan yang diakibatkan oleh adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara historis dan filosofis sesungguhnya berakar pada pandangan kefilsafatan kapitalisme barat yang menempatkan manusia sebagai segala – galanya, sebagai pusat (antroposentrisme). Sehingga dialektikanya dengan alam senantiasa diabaikan. Lingkungan tidak dilihat sebagai suatu bagian dari kemanusiaan, tetapi suatu diluar yang dapat dieksploitasi secara terus – menerus. Pertumbuhan penduduk yang cepat (population explotion) di dunia bukan hanya persoalan demografis, tetapi akibatnya berupa proses eksploitatif yang akseleratif terhadap alam sehingga berimplikasi kebutuhan manusia terus membengkak dan kompleks.

Persoalan ekologis tidak dapat dipisahkan dari kontradiksi kapitalisme yang mengeksploitasi alam dan manusia untuk mencari keuntungan. Kapitalisme global (neo-liberalisme) harus memastikan bahwa terjadi ekspansi ke wilayah global dengan cara mengeruk sumber daya alam sebagai bahan baku, disamping itu juga membutuhkan tenaga kerja murah dan juga tempat memasarkan produknya. Kapitalisme memberikan penekanan pada bidang produksi dari eksploitasi alam yang berlebihan untuk mendapatkan keuntungan. Ekonomi kapitalis yang menggunakan prinsip ekonomis, mendorong eksploitasi terhadap alam dan manusia dengan menghilangkan dimensi kebersamaan (togetherness) dan berkelanjutan (sustainability) karena hanya mengkondisikan manusia untuk hanya memikirkan bagaimana mendapatkan keuntungan dan penumpukan kekayaan dengan memanfaatkan alam semaksimal mungkin.

Pemanasan global dalam bingkai pro dan kontra masih tetap diyakini disebabkan oleh industrialisasi selama 200 tahun terakhir oleh Barat dan berbagai macam aktivitas manusia khususnya seperti pengoperasian pabrik dan kendaraan yang menggunakan bahan bakar konvensional. Hasil pembakaran jenis ini antara lain gas CO2 yang dalam skala global akumulasinya mencapai miliaran ton setiap tahun yang disemburkan ke atmosfer bumi. Akibatnya, sinar matahari yang tiba ke permukaan bumi tak leluasa dipancarkan kembali ke ruang angkasa. Panas tersebut terperangkap dekat permukaan bumi, menghasilkan gejala seperti di rumah kaca yang digunakan untuk menyemaikan tanaman. Keadaan inilah yang memicu terjadinya pemanasan global. Pemanasan global sedang dan terus akan terjadi dan takkan terhindarkan, demikian juga dengan efek rumah kaca.

Sebagian pakar menyatakan bahwa fenomena itu masih merupakan suatu kewajaran yang memang harus terjadi dan tak perlu ditakutkan, sementara itu pakar yang lain menyatakan bahwa dalam kurun waktu 50 tahun terakhir ini “kecepatan” dari fenomena ini meningkat dan berada pada level yang “sangat mengkhawatirkan”, artinya jika “masa mengkhawatirkan” ini tidak segera diredam, maka kedepannya peradapan manusia akan mengalami masalah yang serius. Apalagi untuk Indonesia yang saat ini berada pada tingkat polusi yang katanya sudah agak membahayakan bagi kesehatan penduduknya.

Indonesia didaulat sebagai Negara keempat pembuang emisi gas rumah kaca (greenhouse gas; GHG) didunia. Namun jika berdasar indikator konversi lahan dan perusakan hutan, posisi Indonesia sebagai “aktor” penyebab pemanasan global berada di posisi ketiga. Emisi yang terbuang dari kebakaran hutan di Indonesia lima kali lebih besar dari emisi yang terbuang diluar non kehutanan. Emisi terbuang dari pemakaian energi dan aktivitas industri relatif masih kecil, namun secara perlahan tumbuh secara cepat.

Setiap tahunnya aktivitas dan pemakaian energi, pertanian dan limbah di Indonesia membuang emisi 451 juta ton karbon dioksida. Jumlah itu belum termasuk akibat konversi lahan dan perusakan hutan. Indonesia masih terbesar sebagai emitters gas rumah kaca. Negara pembuang emisi gas rumah kaca pertama diduduki Amerika Serikat (AS), disusul China dan Uni Eropa yang merangkum 25 negara. Sementara di bawah Indonesia, ada Brasil, Rusia, dan terakhir India. Peningkatan jumlah emisi memicu pemanasan global.

Dengan kecenderungan saat ini, maka 50 tahun mendatang diperkirakan rata – rata suhu global bakal naik antara 2-3 derajat Celsius. Di Indonesia, diantara akibat yang ditimbulkannya adalah menurunnya hasil panen serta menigkatnya resiko banjir sebagai implikasi dari naiknya curah hujan sebesar 2 – 3 % per tahun. Sementara itu, negara hanya menganggarkan 0,3 % dari belanja pemerintah untuk menangani masalah lingkungan dan masih memprioritaskan masalah – masalah lingkungan hidup tersebut di urutan keempat dengan alasan masih ada isu yang lebih besar untuk diselesaikan, misalnya kemiskinan, pendidikan, kesehatan. Hal ini sungguh ironis memang jika dibanding dengan negara – negara di dunia yang menempatkan urutan pertama untuk masalah lingkungan.

Tanpa disadari oleh banyak orang, bahwa sebenarnya saat ini telah terjadi peningkatan suhu udara dunia akibat terjadinya pemanasan global. Gejala alam ini mulai diteliti secara aktif mulai dekade tahun 1980-an dan hasilnya sangat mengejutkan para ahli lingkungan karena kengerian akan dampak yang dikuatirkan muncul kemudian. Para ahli cuaca internasional memperkirakan bahwa planet bumi bakal mengalami kenaikan suhu rata – rata 3,5 oC memasuki abad mendatang sebagai efek akumulasi penumpukan gas rumah kaca.

Akibat yang muncul sangat mencemaskan antara lain meliputi : kenaikan permukaan laut akibat proses pencairan es di kutub, perubahan pola angin, meningkatnya badai atsmosferik, bertambahnya populasi dan jenis organisme penyebab penyakit yang berdampak pada kesehatan, perubahan pola curah hujan dan siklus hidrologi serta perubahan ekosistem hutan, daratan dan ekosistem lainnya.

Para pakar lingkungan dunia selama bertahun – tahun telah mencoba mengumpulkan bukti – bukti ilmiah yang dapat menjelaskan fenomena alam ini, dan hasilnya cukup mengejutkan yaitu berupa :

a. Iklim mulai tidak stabil

Pada Juni 1998 di Tibet terjadi gelombang udara panas, temperatur berkisar 25 oC selama 23 hari, kejadian ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kawasan Siberia, Eropa Timur dan Amerika Utara yang dikenal udaranya sangat membekukan tulang kini mulai menghangat. Sementara di Kairo pada Agustus 1998 tercatat suhu udara menembus angka 41 oC. Pada Agustus 1998 di Sidney Australia terjadi badai besar disertai hujan dengan curah hujan mencapai tiga kali ukuran normal. Sementara di Indonesia, Meksiko, dan Spanyol terjadi musim kering berkepanjangan akibat dipicu oleh badai tropis yang berujung pada terbakarnya hutan dengan luasan kumulatif mencapai jutaan hektar.

b. Naiknya permukaan air laut

Di kawasan kepulauan Bermuda, Amerika Tengah dilaporkan bahwa air laut telah meluap melampaui batas air payau dan memusnahkan areal hutan bakau di kawasan tersebut. Sementara di Fiji terjadi penyusutan garis pantai sepanjang 15 cm/tahun selama 90 tahun terakhir ini. Berdasarkan penelitian IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 1990, permukaan air laut telah naik sekitar 10–20 cm pada masa abad terakhir ini. Bila angka kenaikan permukaan air laut ini sampai menyentuh kisaran angka 20-50 cm maka habitat didaerah pantai akan mengalami gangguan bahkan musnah. Sedangkan peningkatan sebesar 1 meter diprediksi akan mampu menggusur puluhan juta orang akibat terendamnya kota dan desa di kawasaan pesisir, lahan pertanian produktif akan hancur terendam dan persediaan air tawar akan tercemar.

c. Gangguan ekologis

Dengan mempergunakan simulasi komputer, Profesor Chris Thomas dari Universitas Leeds Inggris memperkirakan lebih dari sejuta spesies akan terancam punah pada tahun 2050, sedangkan spesies yang masih bertahan tidak akan lagi memiliki habitat yang nyaman, sementara sebagian lainnya harus bermigrasi cukup jauh untuk memperoleh tempat hidup yang sesuai guna mendukung kehidupannya. Simulasi ini diperkirakan cukup akurat mengingat sebuah penelitian di California dilaporkan kupu – kupu jenis Edith Checkerspot telah mulai menghilang seiring naiknya suhu udara di kawasan tersebut. Sementara itu populasi penguin jenis Adeline di Antartika berkurang 33 % dalam masa 25 tahun terakhir akibat surutnya permukaan lautan es. Team peneliti dari Kanada melaporkan bahwa jumlah rusa kutub Peary menurun drastis jumlahnya dari 24.000 pada tahun 1961 menjadi hanya sekitar 1.000 pada tahun 1997 akibat perubahan ikim yang cukup ekstrim.

d. Penyebaran berbagai penyakit.

Peningkatan suhu udara ternyata juga mulai memicu munculnya beberapa serangan penyakit yang sebelumnya belum pernah ada pada daerah tertentu. Sebut saja di kawasan Andes, Kolumbia – Amerika Tengah dengan ketinggian 1.000 – 2.195 m dpl dilaporkan muncul nyamuk penyebab penyakit malaria, demam berdarah dan demam kuning. Pada tahun 1997 di Papua, penyakit malaria terdeteksi untuk pertama kalinya pada pemukiman di ketinggian 2.100 m dpl.

Meskipun dampak yang ditimbulkan akibat pemanasan global amatlah mengerikan hal ini bukan berarti kita tidak bisa berbuat sesuatu. Perlu dilakukan tindakan menyeluruh disertai komitmen yang kuat untuk menghentikan meluasnya wabah bencana ini

Oleh : arifin_pararaja

One thought on “REFLEKSI HARI LINGKUNGAN HIDUP

  1. hi!,I really like your writing so a lot! share we

    communicate more approximately your post

    on AOL? I need an expert on this space to resolve my

    problem. Maybe that’s you! Taking a look forward to see you.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s