Mimpi Semalam

“Eh, kamu percaya sama mimpi gak?”, tanya Ipul.

“Dulu iya, sekarang nggak, mimpi itu cuma bunga tidur, lagi. Emangnya kenapa?”, jawabku lagi.

Ipul yang biasanya ceria hari ini tampak tak bersemangat.

“Semalem aku mimpi aneh…pas bangun nggak enak rasanya, sekarang juga masih kepikiran..sedih deh aku…”, sambung Ipul sambil menghela napas dalam-dalam.

“Hah…emang kamu mimpi apaan?”, mau tak mau kasihan juga aku melihatnya.

“Semalem aku mimpi hampir nikah sama cewek yang selama ini aku suka diem-diem, kartu undangannya udah dicetak segala. Belakangan ketahuan itu kartu salah cetak, aku gak jadi mendapatkan dia….”

” Hah!! Hua ha ha ha ha ha…hua ha ha hue hehe …” Aku tak kuasa menahan tawa mendengar mimpi Ipul yang agak konyol.

“Jahat kamu, Vi. Kok tega amat ngetawain temen yang lagi kesusahan.” Suara Ipul yang memelas menghentikan tawa geliku. Wajah Ipul tampak begitu suram dan buram, apalagi kalau dilihat dari balik air mataku yang sempat keluar waktu tertawa geli.

“Pul, mimpi itu bukannya cuma bunga tidur, tapi juga cuma sekedar efek samping dari kerja neurotransmitter di dalam otak waktu kamu lagi tidur.”

“Ah..tapi mimpiku semalem itu bener-bener jelas, Vi.” Ipul menyanggah pernyataanku dengan gigih.

“Begini nih ya…”, langsung saja aku mendayagunakan secarik kertas yang ada di meja.

“Nah Pul, ini ceritanya kamu tidur dari jam 12 malem dan bangun jam setengah sembilan nih ya.”, kuputar sketsaku menghadapi Ipul supaya ia dapat melihat dengan jelas.

“Hmm…”, gumam Ipul.

“Sebenernya kamu udah menjalani beberapa siklus tidur walaupun kamu sama sekali tidak terbangun. Satu siklus itu dimulai dari keadaan sadar/bangun (bagian yang hitam), tahap REM (Rapid Eye Movement, bagian yang biru) di mana bola mata kamu bergerak-gerak walaupun masih dalam keadaan terpejam, terus tingkat kesadaran kamu semakin turun dan masuk ke tidur tingkat 1, 2, 3 dan 4. Nah.., bersamaan dengan turunnya tingkat kesadaran, tidurmu makin lelap.”

“Terus ?” lanjut Ipul.

“Nah…satu siklus ini berlangsung selama 90 menit, pernah denger nggak orang bilang lebih baik kalau tidur jumlah jamnya ganjil ?”

“Ooooo…iya ya iya..pernah!” Mata Ipul membelalak senang dan ia mengangguk-angguk dengan semangat.

“Iya, inilah alasannya, karena satu siklus itu 90 menit, kalau misalnya pagi-pagi kamu terbangun setengah jam sebelum wekermu berbunyi, terus kamu pikir…tidur lagi ah….itu nggak baik.”

“Ooo..iya ya, kalau tidur setengah jam, justru pas aku lagi lelap-lelapnya ya? Otakku lagi siap-siap masuk tidur tahap 3 dan 4 ya?” Ipul memelototi grafik yang kugambar seraya mengangguk-angguk mengerti.

“Tul, pinter juga kamu Pul……..kadang-kadang ! He he he…”

“Ah…kamu ngetawain aku melulu..terus apa hubungannya penjelasanmu ini sama mimpiku semalem?”

“Nah…mimpi itu kebanyakan terjadi pas tahap REM yang biru ini Pul.”

“Lho..kalau dilihat dari tingkat kesadaran, mimpi itu justru terjadi pada saat tidur kita belum terlalu lelap ya?”

“Iyaaa! Mangkanya, kalau mimpi, kita kadang-kadang suka terbangun! Ya karena itu, masih dalam tahap tidur yang belum terlalu lelap!” Senang juga aku melihat Ipul yang antusias mendengar penjelasanku dan tampak segar kembali.

“Tapi..bukan berarti tiap kali kita masuk tahap REM terus kita mimpi. Dan ini nih yang paling aku pengen kasih tahu kamu biar gak murung mikirin mimpimu semalem.”

“Apaan?” Tanya Ipul tak sabar.

“Cuma mimpi terakhir yang bisa kamu ingat setelah bangun! Mimpi-mimpi lain yang terjadi pada tahap-tahap REM di siklus-siklus sebelumnya tidak akan kamu ingat lagi!”

 

 

 

“Kok bisa gitu?”

“Gini lho..pada saat seseorang sadar, kadar noradrenalin dan serotonin di dalam otak cukup tinggi, tapi begitu tidur, kadarnya berkurang setengah dan bahkan hampir nggak ada sama sekali pada tahap REM. Noradrenalin dan serotonin itu adalah neurotransmitter yang digunakan pada saat kita berkonsentrasi untuk melakukan sesuatu atau waktu kita mau mengingat sesuatu.”

“Ooo..jadi pas kita mimpi di tahap REM, neurotransmitter yang membantu kita untuk menyimpan ingatan di otak itu absen nih ceritanya ya?”

“Tullllll…mereka lagi sibuk membenahi dirinya sendiri, mereka kan juga perlu istirahat!!” jawabku semangat.

“Jadi maksudmu, mungkin aja aku semalem mimpi 3-4 kali, tapi yang aku inget cuma yang terakhir gitu?” kening Ipul berkerut sedikit.

“Iyaaa…karena pada saat kamu bangun dan masuk tahap kesadaran, noradrenalin dan serotonin juga ikut bangun dan membanjiri otakmu lagi. Jadi cuma mimpi terakhir yang kamu lihat paaaaaaaas sebelum kamu bangun itu doang yang bisa kamu inget Pul!!”

“Oooo..jadi kebetulan aja itu mimpi aku liat di tahap REM terakhir, kalau nggak juga aku nggak inget ya?”

“Iya..apalagi karena pagi-pagi noradrenalin dan serotonin itu belum bekerja penuh, kalau misalnya kamu tadi pagi telat bangun terus buru-buru ngapa-ngapain, kamu akan lupa sama mimpimu itu, makanya mimpi itu bener-bener cuma bunga tidur kok!”

“Wahh…iya ya…aku jadi ngerti soal mimpi nih. Ayo kamu harus tulis buat pembacamu di chem-is-try.org!” Ipul mengambil kertas yang berisi grafik yang kugambar tadi dan menyimaknya sekali lagi.

“He he he, ntar deh kalau ada waktu pasti aku bagi nih informasi. Tapi yang penting kamu udah bisa ceria lagi dan nggak mikirin mimpimu yang aneh itu, kan?”

“Mikirin mimpinya sih nggak lagi, tapi mikirin orangnya iya, pas aku lagi sadar!! He he he he…”

(Oleh Silvia Iskandar dalam webkimia)

Diakses oleh : arifin_pararaja

*Neurotransmitter : zat penghantar di dalam sistem saraf

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s