Pemberdayaan Organisasi dan Kegiatan Siswa sebagai upaya dalam menanggulangi Narkoba dan HIV AIDS di Lingkungan Sekolah.

Oleh : Arifin_pararaja

Generasi muda merupakan ujung tombak dari setiap bangsa. Dengan pemudalah bangsa Indonesia meraih suatu kemerdekaan yang merupakan tujuan dari sebagian besar pergerakan saat itu. Pemuda tak ubahnya seperti intan mutu manikam, jika dioles sedikit saja maka akan nampak kemilaunya. Dan bukan itu saja, apabila intan tersebut dihunjamkan kedalan tanah laksana paku bumi, maka tak ada yang dapat menghalanginya untuk menembus dan menghancurkan apa saja yang ada didepannya. Kegigihannya, semangat juangnya, kerja kerasnya dan setumpuk potensi yang besar sekali menjadikan pemuda sebagai harapan bangsa dalam menentukan masa depannya.

Eksistensi pemuda merupakan harga mati dari sebuah revolusi dan reformasi. Masa depan bangsa ada pada tangan pemuda. Begitu pemudanya bermutu dan berdaya guna maka cita – cita dan harapan bangsa mudah sekali untuk diraih. Akan tetapi sebaliknya, jika pemuda itu rusak, tidak berkualitas atau bahkan laksana sampah atau barang rongsokan maka jangan harap masa depan yang gemilang dapat diraih, itu bak mimpi dan angan – angan belaka.

Dunia dengan kompleksitasnya memberikan suatu warna yang beragam dari setiap pemuda. Siswa sebagai salah satu presentasi dari pemuda merupakan suatu aset bangsa, di lain sisi siswa adalah seorang pemuda dan manusia yang masih labil terutama dalam mencari dan menentukan pilihan atas tujuan hidupnya. Derasnya informasi yang datang bertubi – tubi dari segala arah menambah variabel dari suatu parameter tujuan hidup tersebut.

Era globalisasi telah melahirkan suatu fenomena – fenomena sosial yang sangat beragam. Kemajemukan itu mencitrakan banyak sekali definisi baik negatif maupun positif. Sisi negatif merupakan hal – hal yang wajib untuk dihilangkan meskipun kenyataannya hanya baru sebatas meminimalisir atau mengurangi, akan tetapi setidaknya ini merupakan suatu upaya terbaik daripada tidak melakukannya sama sekali. Rasio yang kecil dari dampak negatif era globalisasi merupakan suatu tujuan akhir dari semua proses penanggulangan.

Implikasi negatif globalisasi misalnya: gaya hidup tidak terarah, berpesta pora layaknya kaum jahiliyah, berhubungan badan dengan sembarangan baik sejenis maupun berlawanan jenis (free sex), narkoba, maupun kebodohan – kebodohan lainnya yang membawa penyesalan meskipun sebagian besar dari kebodohan – kebodohan tersebut berorientasi kepada kenikmatan dan kepuasan dunia. Namun hakekatnya hal tersebut merupakan suatu bagian atau implikasi dari dampak negatif dari globalisasi dan arus informasi yang bersifat kenikmatan semu belaka. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kebebasan dalam berekspresi, menentukan pergaulan, mendapatkan informasi, dan pemenuhan hak – hak asasi lainnya sangat diperlukan bahkan hasil dari kemajuan teknologi yang merupakan suatu keniscayaan sangat penting sekali manfaatnya dalam kemaslahatan manusia. Tapi boleh jadi produk – produk teknologi tersebut merupakan media dalam menjerumuskan siswa dalam kubangan dosa dan pelanggaran yang kadang tidak ubahnya seperti lingkaran syetan.

Siswa sebagai pemuda dalam prosesnya sering kali belum merasakan dampaknya padahal itu merupakan suatu ”bom waktu” yang bersifat resesif dan suatu saat akan menghancurkan dirinya, masa depannya, keluarganya, masyarakat bahkan harapan bangsa dan negara. Baru tatkala sudah menjadi kronis dan membawa keburukan yang akut misalnya hilangnya masa depan, keluarga, bahkan nyawa secara spontan mereka baru sadar dan menyesali. Seperti Firaun saja, tatkala nyawa sudah sampai kerongkongan baru ia sadar dan mengakui adanya Tuhan. Itu bukan seperti judul sinetron ”Sengsara membawa nikmat” atau peribahasa ”Berakit – rakit kehulu dan berenang – renang ketepian” akan tetapi sebaliknya merupakan suatu kenikmatan semu yang menjerumuskan dan menghancurkan yang patut untuk dienyahkan. Seharusnya siswa harus cerdas dan sering instropeksi diri supaya mereka militan dan bangga untuk selalu mengatakan ”tidak” terhadap hal – hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya dan masa depannya khususnya narkoba.

HIV AIDS merupakan salah satu akibat dari kebodohan – kebodahan dan gaya hidup yang berorientasi kenikmatan semu belaka diluar dari faktor hereditas dan kesalahan teknis semisal kesalahan jarum suntik, dan pemaksaan. Akan tetapi data – data yang telah dihimpun membuktikan bahwa penyebab HIV AIDS sebagian besar berasal dari narkoba khususnya dengan pemakaian jarum suntik, sedangkan lainnya masih sebatas minor meskipun trend-nya mengalami peningkatan. Dan yang paling mengejutkan akumulasi terbesar penderita HIV AIDS adalah dari kalangan pemuda. Padahal jelas seperti yang telah diuraikan diatas bahwa pemuda atau kata lain siswa merupakan pionir bangsa. Sungguh ironis.

Buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, begitu pula penderita HIV AIDS, pasti tidak jauh dari dimana penderita tersebut berinteraksi dan disini karena sebagai orientasi adalah kalangan siswa yang notabene pemuda maka sudah tentu lingkungan sekolah atau diluar lingkungan sekolah baik dirumah kos maupun keluarga sendiri yang menjadi biangnya.

Filterisasi dan selektivitas merupakan suatu keharusan yang mau tidak mau harus diaplikasikan dan di maintenance pada diri pemuda supaya sinyal – sinyal tenaga dalam memproteksi dari gangguan – gangguan yang tidak diinginkan menjadi terus aktif dan berkelanjutan. Sehingga sedikit saja ada pengaruh negatif maka secara otomatis siswa mampu menganalisis dan memecahkan masalah tersebut. Ini butuh suatu sistem yang efektif dan waktu yang relatif lama. Akan tetapi dengan sedikit stimulans dari lingkungan baik dari civitas akademika dalam bingkai sekolah ataupun dari keluarga dan publik akan dapat membantu bahkan kadang sangat besar sekali manfaatnya dalam membentuk karakter siswa dengan idealisme yang tinggi sehingga mampu membedakan mana yang bermanfaat dan merugikan terhadap dirinya dan masa depannya.

Sekolah sebagai institusi pendidikan selayaknya menjadi salah satu media dan berperan aktif dalam menanggulangi AIDS dilingkungan internal. Eksistensi sekolah dalam meminimalisir penyakit AIDS sangat vital sekali dan merupakan harapan terbesar dengan melakukan berbagai macam program – program penanggulangan yang komprehensif. Keefektifan dan keoptimalan program tersebut sangat dipengaruhi oleh unit – unit kegiatan dibawahnya. Salah satu unit dari pihak siswa adalah dengan adanya Organisasi dan Kegiatan Intra Sekolah.

Proses penanggulangan ini dapat dilakukan dengan tindakan yang berupa pencegahan maupun pengobatan. Pencegahan dapat dilakukan dengan penyuluhan, pendidikan, peningkatan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan tindakan preventif lainnya, sedangkan tindakan yang berupa pengobatan dapat dilakukan dengan bantuan medis maupun non medis tergantung dari tingkat keakutan dan efek yang ditimbulkannya baik jangka pendek maupun jangka panjang namun secara umum bersifat kondisional.

Beberapa hal yang dapat dilakukan perguruan tinggi dalam memproteksi, dan menanggulangi HIV AIDS sebagai akibat peredaran narkoba dikalangan siswa adalah :

1. Menyuburkan aktivitas yang bermanfaat bagi siswa.

Waktu luang dan kosong dengan ataupun tanpa proses belajar mengajar baik itu akibat jadwal atau ketidakhadiran akan berdampak negatif. Pemanfaatan waktu yang tidak efektif akan memberikan peluang bagi siswa untuk kontak dengan dunia luar yang kadang tidak bermanfaat. Frekuensi tatap muka untuk belajar mengajar merupakan kegiatan utama siswa. Rasio waktu yang terpakai untuk belajar kadang lebih kecil daripada waktu yang tidak terpakai untuk kegiatan tersebut meskipun itu bersifat relatif tergantung dari karakter anak didik. Akan tetapi pada kebanyakan kasus penderita HIV AIDS atau pecandu narkoba mempunyai waktu luang yang sangat berlebihan sehingga pemborosan waktu tersebut digunakan untuk hal – hal negatif tersebut. Waktu luang ini akan memudahkan syetan untuk menggoda manusia untuk berbuat maksiat. Untuk itu kekosongan waktu tersebut dapat ditutupi dengan menyuburkan aktivitas – aktivitas yang bermanfaat misalnya kegiatan seni, olahraga, atau kerohanian yang kesemua itu tertampung dalam wadah Organisasi Siswa Intra Sekolah.

2. Melayani dan menfasilitasi organisasi dan kegiatan siswa.

Suatu sistem yang dirasakan baik seyogyanya diharapakan mampu berkelanjutan. Jangan sampai organisasi dan kegiatan siswa tumbuh seperti ”umur jagung” artinya karena keterbatasan dana, fasilitas pendukung, dan akomodasi lainnya menyebabkan mandul atau tidak berjalan bahkan mati. Peran sekolah sangat besar dalam memberikan atau memfasilitasi terutama kebutuhan finansial sehingga program kerjanya dapat berjalan dengan lancar.

3. Sebagai pengawas, moderator dan bimbingan konseling.

Suatu aib memang pantang untuk dipublikasikan. Demikian juga penderita HIV AIDS dan pecandu narkoba. Rasa bersalah yang berlebihan menyebabkan penderita sulit sekali untuk terbuka, jujur dan transparan dalam mengungkapkan hal – hal yang menyangkut dirinya. Ini menuntut suatu wadah yang independen, motivatif, dan kompeten dalam mengatasi masalah yang bersifat pribadi dan memberikan rekomendasi dan solusi yang efektif dalam memecahkan masalah tersebut. Bimbingan dari sekolah terhadap siswa penderita layaknya ”seorang ayah terhadap anaknya” memang sangat dibutuhkan dalam hal ini selain mengandalkan teman dan keluarga penderita.

4. Bersinergi dan berkoordinasi dengan aparat yang berwenang.

Dari beberapa kasus narkoba jarang sekali siswa menjadi bandar ataupun pengedar. Paling banyak statusnya hanya sebatas pemakai. Ini berarti ada sindikat dan interfensi dari luar. Ini butuh interaksi yang mantap dengan pihak berwenang misalnya aparat penegak hukum, rumah sakit, masyarakat sekitar, keluarga dan instansi – instansi terkait lainnya.

Upaya – upaya diatas merupakan sebagian kecil dari sekian banyak upaya- upaya yang telah terdokumentasi misalnya kampanye kondom, khitan, program ABC maupun CNN, pendekatan untuk mengurangi stigma, menggiatkan diskusi mengenai perilaku seksual, mengikutsertakan orang yang terinfeksi HIV dalam penyuluhan, membujuk individu dan pasangan untuk diuji HIV dan diberi bimbingan konseling, meningkatkan status perempuan, mengikutsertakan organisasi keagamaan, melibatkan praktisi pengobatan tradisional, dan masih banyak lagi, dan hal ini masih sebatas tindakan preventif.

Banyak sekali ilmuwan – ilmuwan berusaha untuk mengobati penyakit HIV AIDS akan tetapi sampai saat ini belum ada yang diketahui manjur, ini membuka peluang untuk mencoba pengobatan alternatif misalnya terapi antiretroviral yang sangat aktif (highly active antiretroviral therapy), HAART, post-exposure prophylaxis (PEP), VCT (tes dan anjuran sukarela), PMTCT (pencegahan transmisi ibu ke anak) dan fasilitas ANC (fasilitas anti-natal), mengurangi gejala atau menambah kualitas hidup termasuk urut, manajemen stres, obat jamu dan bunga seperti boxwood, dan akupuntur.

Metode – metode diatas merupakan pustaka sebagai bahan rekomendasi program kerja organisasi dan kegiatan siswa maupun sekolah dalam menanggulangi bahaya narkoba dan penyakit HIV AIDS.

3 thoughts on “Pemberdayaan Organisasi dan Kegiatan Siswa sebagai upaya dalam menanggulangi Narkoba dan HIV AIDS di Lingkungan Sekolah.

  1. gimana cara menanggulangi narkoba buat remaja sebelum dia terlampau jauh ya?aku butuh banget informasi itu,,,aku pengen bantu temen aku,thanks

  2. Dear, Jasmine.
    Senang berkenalan dengan anda, kami ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada teman anda di sisi lain kami juga merasa bangga terhadap anda begitu perhatiaan dan besarnya empati dan simpati terhadap teman anda mungkin itu cerminan dari hati anda yang seharum melati/jasmine.

    Penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja memang tidak asing lagi, bahkan hingga kita mengelusa dada tatkala saudara, teman dekat kita yang mengalami keadaan yang tidak diharapkan ini.

    Upaya mengatasi hal ini memang banyak factor dan harus melibatkan pihak-pihak lain yang lebih sinergi dan dinamis sehingga yang kita inginkan sesuai harapan tentunya dengan suatu kesabaran, kerja keras dan ikhlas.

    Suatu akibat pasti ada penyebabnya dan akar masalah inilah yang menjadi focus utama dalam penanggulangan narkoba.

    Kami menyadari bahwa usia remaja memang masa dimana transisi kearah pendewasaan harus diuji, jiwa yang labil, emosi yang bergejolak, angan – angan yang memuncak kadang hingga berlebihan sehinnga norma – norma luhur , nasehat mulia dari orang tua, kaidah – kaidah agama kadang dilanggar tanpa suatu beban padahal masa depannya masih terbentang luas.

    Untuk itu kami merekomendasikan upaya – upaya yang sekiranya cocok untuk dilakukan pada posisi anda (karena pekerjaan ini butuh peranserta dari semua pihak)!
    1. Kita telaah dulu, bagaimana tingkat keparahan teman anda.! Apakah sudah terlalu parah sehingga harus segera dibawa ke rumah sakit, panti rehabilitasi, rumah penyembuhan, pondok – pondok perenungan, atau tempat – tempat yang sesuai dalam mengatasi akibat penyalahgunaan narkoba. Jika masih dalam batas – batas yang dengan tindakan tertentu dapat diupayakan kesembuhannya mungkin disini peran anda sangat dominan.
    2. Kadang seseorang bersifat tertutup atau suka menyimpan masalahnya sendiri sehingga butuh keterbukaan untuk itu posisikan diri anda sebagai second consult atau tempat curhat kedua, tempat berkeluh kesah, konseling meskipun awalnya kita hanya sebagai pendengar saja. Akan tetapi kondisi ini akan menjadikan bahwa anda merupakan bagian dari dirinya sehingga istilah ”teman adalah ibarat satu tubuh, jika sakit/senang maka ikut merasakan”. Situasi ini memudahkan untuk masuk dalam kehidupannya sehingga memudahkan untuk mengajaknya berubah kearah yang lebih baik dengan memberikan solusi – solusi yang efektif.
    3. Pastikan anda merupakan contoh dan pegangan ”sementara” dirinya. Jika anda ingin dia berubah dan kembali ke arah yang positif tentunya itu harus dimulai dari diri anda sendiri jika perlu tanamkan semangat hidup, motivasi, ilmi dan hikamh, serta kisah2 sederhana yang syarat makna dan inspirasi.
    4. Lakukan ”small action” tindakan kecil atau upaya preventif yang sederhana misalnya ajak dia ketempat – tempat positif, lingkungan yang mendukung, kegiatan yang menyenangkan, atau hal – hal menghibur sehingga waktunya dapat bermanfaat tidak melulu mengarah pada hal2 negatif. Buktikan bahwa hidup sehat, wajar, itu enak dan nikmat sehingga teman anda merasa sadar bahwa ada perbedaan yang jauh antara tidak/memakai narkoba.
    5. Selalu ”big thinking” bahwa ”suatu penyakit pasti ada obatnya”, ”Tuhan tidak akan memberi ujian yang hambanya tidak mampu mengatasinya”, ”Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan”, ”Apabila kita bersungguh sungguh, bekerja keras, ikhlas dan sabar maka Tuhan pun akan membantu dan membimbing kita”. Selalu semangat bahwa ”teman kita pasti sembuh”.
    6. Jika anda butuh bantuan seseorang itu juga tidak salah. Selalu berkonsultasi dengan ahli, pakar, dokter dan orang – orang mantan pecandu yang hidupya sudah berubah kearah yang lebih baik itu juga hal yang bijak.
    Semoga kiranya hal ini membantu kesembuhan taman anda. Tetap bersemangat, berdoa, dan terus berusaha.
    Semoga kerja keras dan niat baik anda Tuhan membalasnya.

    Good luck. Tuhan menyertai anda.

    Regards.
    Skimaters.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s