Pemanfaatan Minyak Atsiri Jahe sebagai Anti-Filariasis pada Penderita Infeksi Brugia malayi di Daerah Kalimantan

Hibah Bersaing II

Budi Mulyaningsih, Djoko Suhardjono, Suwijiyo Pramono, dan FA Sudjadi

Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada

Filariasis yang disebabkan oleh cacing Brugia malayi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia. Penderita pada umumnya tinggal di daerah terpencil, yang merupakan kantong-kantong yang terisolasi dan dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah. Filariasis merupakan penyakit kronis yang pada stadium lanjut dapat mengakibatkan cacat tubuh yang diosebut elefantiasis, yang tidak dapat disembuhkan dengan cara apa pun. Sampai saat ini, filariasis ditanggulangi dengan obat dietilkarbamasin (DEK). Namun, penggunaan DEK untuk pengobatan massal banyak terhambat karena timbulnya efek samping dari penggunaan senyawa tersebut sehingga pasien enggan meneruskan pengobatannya. Oleh sebab itu perlu dicari obat alternatif dari alam yang efektif, aman, murah, dan mudah diperoleh. Tujuan penelitian ini ialah memanfaatkan minyak atsiri jahe sebagai obat anti-filariasis.

Sebanyak 170 orang penduduk desa Karangan, Kecamatan Melak, Kabupa-ten Kutai, Kalimantan Timur, memenuhi kriteria penelitian dan secara suka rela menyatakan bersedia terlibat dalam penelitian. Dari pemeriksaan darah terdapat 61 orang positif menderita filariasis malayi. Secara acak, subjek penelitian dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing 30 orang. Kelompok uji ialah kelompok yang mendapat pengobatan dengan minyak atsiri jahe dengan dosis 1 kali per hari sebanyak 1 sendok makan selama 28 hari berturut-turut. Kelompok kedua ialah kelompok plasebo yang memperoleh pengobatan dengan sirup madu murni 1 kali per hari sebanyak 1 sendok makan. Setelah 28 hari berlalu, ternyata yang dapat melakukan pengobatan secara lengkap untuk setiap kelompok hanya 20 orang.

Pengamatan menunjukkan bahwa minyak atsiri jahe dapat menurunkan kepadatan mikrofilaria sebesar 85%. Di samping itu, pemberian minyak atsiri dengan dosis 1.5 ml per hari per orang selama 28 hari berturut-turut tidak menimbulkan efek samping yang serius. Nilai rerata kepadatan mikrofilaria per 60 µl darah pada kelompok plasebo sebelum dan sesudah pengobatan berturut-turut 64.9 ± 96.4 dan 90.4 ± 122.0 sedangkan untuk kelompok minyak atsiri jahe 92.1 ± 118.3 dan 56.6 ± 77.0. Nilai MfD50 kelompok plasebo sebelum dan sesudah perlakuan berturut-turut 27.75 dan 37.06, sedangkan untuk kelompok minyak atsiri jahe 44.42 dan 37.06.

Pemberian minyak atsiri jeha pada penderita filariasis ternyata menguntung-kan dibandingkan pemberian dietilkarbamasin karena tidak menimbulkan efek samping, yaitu demam, nyeri sendi, anoreksia, nausea, pusing, dan muntah. Namun, minyak atsiri jahe kurang mampu menurunkan kepadatan mikrofilaria jika dibandingkan dengan dietilkarbamasin.

 

Diakses oleh : arifin_pararaja

 

Iklan

2 thoughts on “Pemanfaatan Minyak Atsiri Jahe sebagai Anti-Filariasis pada Penderita Infeksi Brugia malayi di Daerah Kalimantan

  1. Trimakasih. usulan anda sangat bagus. nanti akan di confirm kepada moderator untuk di follow up. Ditunggu comment selanjutnya. Tentunya demi continually improvement. Regard. @_pararaja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s