AIR ; SANITASI DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Air bersih dan sanitasi yang baik merupakan elemen penting yang menunjang kesehatan manusia. Namun sayangnya pemenuhan akan kebutuhan tersebut belum sepenuhnya berjalan dengan baik di beberapa belahan dunia. Menurut temuan terbaru WHO, lebih dari 1,1 milyar orang pada wilayah pedesaan dan perkotaan kini kekurangan akses terhadap air minum dari sumber yang berkembang dan 2,6 milyar orang tidak memiliki akses terhadap sanitasi dasar.

Demikian juga yang dikatakan Municipal Water Services Advisor Environmental Services Program USAID Foort Bustran dalam lokakarya Sanitation Strategic Planning di Jakarta. “Berdasar data tahun 2000, ada 31 persen rumah tangga tanpa fasilitas septic tank, tanpa akses sanitasi sama sekali mencapai 26 persen, menggunakan fasilitas publik 19 persen.Sedangkan yang memiliki septic tank pribadi hanya 23 persen, dan hanya 1 persen yang memiliki jaringan pipa pembuangan yang memenuhi persyaratan.

Jika permasalahan ini tidak segera diatasi, diprediksikan dunia terancam tidak bisa mencapai target penyediaan air bersih dan sanitasi, kecuali ada peningkatan luar biasa dalam hal kapasitas kerja dan investasi dari sekarang hingga tahun 2015, hal tersebut berdasarkan laporan terbaru WHO dan UNICEF. Situasi ini terutama menjadi lebih parah pada wilayah perkotaan, dimana pertumbuhan penduduk yang cepat memberikan tekanan bagi pelayanan dan kesehatan

Namun untuk mencapai target air dan sanitasi akan membutuhkan upaya yang lebih besar dari pembuat kebijakan, lembaga pelatihan, pendanaan, perencanaan dan pembangunan. Solusi-solusi tersebut harus menitikberatkan pada masyarakat di seluruh dunia.

Ada suatu moto yang berbunyi : Lingkungan ini bukan warisan nenek moyang kita, melainkan titipan anak cucu kita. Dari bunyi moto tersebut maka kita sebagai manusia yang hidup pada saat ini tidak boleh berbuat sesuatu yang dapat merusak lingkungan yang dapat menyebabkan terjadinya krisis sumber daya air bersih yang akan dihadapi oleh anak cucu kita.

Mr. Kofi Annan, Sekretaris Jenderal PBB, dalam sambutannya pada World Water Day 2002 dengan topik Water for Development – mengatakan : By the year 2025, if present consumption patterns of water continue, about 5 billions people will be living in areas where it will difficult or impossible to meet all their needs for fresh water. Half of them will face severe water shortages. The implication will be extreme for the people most effected, who are among the world’s poorest, limiting their ability to grow crops, which they need to survive, heightening disease. Fierce national competition over water resources has prompted fears that water issues contain the seeds of violent conflict. Thus threatening states’ national security.

Dalam kesempatan yang sama  Mr. El Baradei, Direktur Jendera IAEA, mengatakan : We have to become wiser about how we manage water. We can not keep treating it as if it will never run out because there’s limited quantity of it on earth. To manage it better we need to work together and set priorities that respect its limits, because without it human development can not progress. Water drove the inception of life on earth, and the development of human civilitation, from the earliest agricultural communities to the greatest metropolitan centers. Failure to manage water has contributed to the collapse of civilizations.

Pernyataan dari dua orang terkenal pada saat ini yang keduanya memberi peringatan kepada dunia bahwa peristiwa alam yang sangat dahsyat secara perlahan tetapi pasti akan melanda bumi kita apabila kondisi lingkungan yang memungkinkan berlangsungnya siklus hidrologi  secara seimbang terus.

Prof. Benny yang menggondol gelar Master of Science, dari University of California, Barkeley, AS, menjelaskan, pengelolaan lingkungan dan pelestarian sumber daya air yang mencakup empat hal penting.

            Pertama, penyusunan tata ruang. Artinya, pemerintah dalam melakuakan penyusunan tata ruang harus memperhatikan fungsi-fungsi lingkungan hidup, seperti fungsi hutan yang berperan dalam menjamin ketersediaan pasokan sumber daya air. Tata ruang ini juga mengatur lingkungan seperti apa yang tidak boleh diganggu keberadaannya, dan tempat mana saja yang boleh dikembangkan. Tata ruang ini tidak hanya menyangkut kepentingan saat ini tetapi juga untuk jangka waktu minimal 20 tahun ke depan. Tidak hanya mengikuti pertimbangan ekonomi semata tetapi harus juga melihat kebutuhan yang riil mengenai kebutuhan air yang ada di dalam masyarakat.

            Kedua, perlindungan terhadap sumber air baku, maksudnya adalah area yang sudah ada sekarang sebaiknya diamankan untuk jangka waku ke depan dan demi kebutuhan jangka panjang. PDAM harus proaktif. Walaupun UU sudah memberikan peluang PDAM, tetapi hal tersebut tidak bisa ditangani hanya sendirian karena perlu dukungan pemrintah agar hasilnya maksimal.

            Ketiga, air baku yang sudah diamankan apabila memungkinkan dapat dikembangkan di masa depan dengan cara dijadikan sebagai sebuah waduk. Waduk akan  meningkatkan kapasitas aliran lebih mantap, dengan demikian dapat memenuhi kebutuhan yang akan datang.

            Keempat, PDAM tidak bisa berbicara sendiri. Untuk itu perlu mengajak masyarakat dengan mengembangkan lembaga independen pemerhati masalah sumber daya air. Dalam hal ini PDAM dan masyarakat harus bersatu, jangan bertindak sporadis. Antara PDAM dan masyarakat dapat membuat komite air tingkat daerah, provinsi dan nasional. Masyarakatlah yang nantinya akan berbicara lebih lantang daripada PDAM, sesuai kapasitasnya sebagai pengontrol kebijakan pemerintah. 

            Jika air tidak ada maka masyarakat tidak bisa minum. Jika air tercemar maka tarif air minum naik. Semakin jauh PDAM mengambil air semakin tinggi tarifnya. Kenaikan ini akan mengganggu kesejahteraan masyarakat secara lebih jauh sanitasi dan kesehatan pun menurun. Dengan demikian masyarakat akan menghadapi masalah baru dalam kehidupan di masa depan.    

Keberadaan air sangat erat kaitannya dengan masalah sanitasi lingkungan. Kurangnya akses akan air bersih akan mempengaruhi tingkat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Solusi yang tepat dan komprehensif sangat dibutuhkan agar masyarakat Indonesia terbebas dari masalah – masalah kesehatan dan perekonomian terutama sanitasi lingkungan, gizi buruk dan kemiskinan hali ini diawali dengan kesadaran untuk hidup sehat diterapkan sejak usia dini oleh tingkat bawah hingga paling atas.

Oleh : arifin_pararaja

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s