KARBON AKTIF (Tinjauan literatur)

Oleh : arifin_pararaja

Pada abad XV, diketahui bahwa arang aktif dapat dihasilkan melalui komposisi kayu dan dapat digunakan sebagai adsorben warna dari larutan. Aplikasi komersial baru dikembangkan pada tahun 1974 yaitu pada industri gula sebagai pemucat, dan menjadi sangat terkenal karena kemampuannya menyerap uap gas beracun yang digunakan pada Perang Dunia I. Arang aktif merupakan senyawa karbon amorph, yang dapat dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon atau dari arang yang diperlakukan dengan cara khusus untuk mendapatkan permukaan yang lebih luas. Arang aktif dapat mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa kimia tertentu atau sifat adsorpsinya selektif, tergantung pada besar atau volume pori-pori dan luas permukaan. Daya serap arang aktif sangat besar, yaitu 25- 1000% terhadap berat arang aktif. Karena hal tersebut maka karbon aktif banyak digunakan oleh kalangan industri. Hampir 60% produksi arang aktif di dunia ini dimanfaatkan oleh industri-industri gula dan pembersihan minyak dan lemak, kimia dan farmasi.

Karbon atau arang aktif adalah material yang berbentuk butiran atau bubuk yang berasal dari material yang mengandung karbon misalnya batubara, kulit kelapa, dan sebagainya. Dengan pengolahan tertentu yaitu proses aktivasi seperti perlakuan dengan tekanan dan suhu tinggi, dapat diperoleh karbon aktif yang memiliki permukaan dalam yang luas.

Arang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95% karbon, dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan pada suhu tinggi. Ketika pemanasan berlangsung, diusahakan agar tidak terjadi kebocoran udara didalam ruangan pemanasan sehingga bahan yang mengandung karbon tersebut hanya terkarbonisasi dan tidak teroksidasi. Arang selain digunakan sebagai bahan bakar, juga dapat digunakan sebagai adsorben (penyerap). Daya serap ditentukan oleh luas permukaan partikel dan kemampuan ini dapat menjadi lebih tinggi jika terhadap arang tersebut dilakukan aktifasi dengan bahan-bahan kimia ataupun dengan pemanasan pada temperatur tinggi. Dengan demikian, arang akan mengalami perubahan sifat-sifat fisika dan kimia. Arang yang demikian disebut sebagai arang aktif.

Dalam satu gram karbon aktif, pada umumnya memiliki luas permukaan seluas 500-1500 m2, sehingga sangat efektif dalam menangkap partikel-partikel yang sangat halus berukuran 0.01-0.0000001 mm. Karbon aktif bersifat sangat aktif dan akan menyerap apa saja yang kontak dengan karbon tersebut. Dalam waktu 60 jam biasanya karbon aktif tersebut manjadi jenuh dan tidak aktif lagi. Oleh karena itu biasanya arang aktif di kemas dalam kemasan yang kedap udara. Sampai tahap tertentu beberapa jenis arang aktif dapat di reaktivasi kembali, meskipun demikian tidak jarang yang disarankan untuk sekali pakai. Reaktifasi karbon aktif sangat tergantung dari metode aktivasi sebelumnya, oleh karena itu perlu diperhatikan keterangan pada kemasan produk tersebut.

Gambar. 1 Struktur karbon aktif.

Karbon aktif tersedia dalam berbagai bentuk misalnya gravel, pelet (0.8-5 mm) lembaran fiber, bubuk (PAC : powder active carbon, 0.18 mm atau US mesh 80) dan butiran-butiran kecil (GAC : Granular Active carbon, 0.2-5 mm) dsb. Serbuk karbon aktif PAC lebih mudah digunakan dalam pengolahan air dengan sistem pembubuhan yang sederhana.

Serbuk (powder) Butiran (granule) Bongkahan (gravel) Pelet

Gambar. 2 Bentuk karbon aktif.

Bahan baku yang berasal dari hewan, tumbuh-tumbuhan, limbah ataupun mineral yang mengandung karbon dapat dibuat menjadi arang aktif, bahan tersebut antara lain: tulang, kayu lunak, sekam, tongkol jagung, tempurung kelapa, sabut kelapa, ampas penggilingan tebu, ampas pembuatan kertas, serbuk gergaji, kayu keras dan batubara.

Di negara tropis masih dijumpai arang yang dihasilkan secara tradisional yaitu dengan menggunakan drum atau lubang dalam tanah, dengan tahap pengolahan sebagai berikut: bahan yang akan dibakar dimasukkan dalam lubang atau drum yang terbuat dari plat besi. Kemudian dinyalakan sehingga bahan baku tersebut terbakar, pada saat pembakaran, drum atau lubang ditutup sehingga hanya ventilasi yang dibiarkan terbuka. lni bertujuan sebagai jalan keluarnya asap. Ketika asap yang keluar berwarna kebiru-biruan, ventilasi ditutup dan dibiarkan selama kurang lebih kurang 8 jam atau satu malam. Dengan hati-hati lubang atau dibuka dan dicek apakah masih ada bara yang menyala. Jika masih ada yang atau drum ditutup kembali. Tidak dibenarkan mengggunakan air untuk mematikan bara yang sedang menyala, karena dapat menurunkan kwalitas arang. Akan tetapi secara umum proses pembuatan arang aktif dapat dibagi dua yaitu:

1. Proses Kimia.

Bahan baku dicampur dengan bahan-bahan kimia tertentu, kemudian dibuat padat. Selanjutnya padatan tersebut dibentuk menjadi batangan dan dikeringkan serta dipotong-potong. Aktifasi dilakukan pada temperatur 100 °C. Arang aktif yang dihasilkan, dicuci dengan air selanjutnya dikeringkan pada temperatur 300 °C. Dengan proses kimia, bahan baku dapat dikarbonisasi terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan bahan-bahan kimia.

2. Proses Fisika

Bahan baku terlebih dahulu dibuat arang. Selanjutnya arang tersebut digiling, diayak untuk selanjutnya diaktifasi dengan cara pemanasan pada temperatur 1000 °C yang disertai pengaliran uap. Proses fisika banyak digunakan dalam aktifasi arang antara lain :

a. Proses Briket: bahan baku atau arang terlebih dahulu dibuat briket, dengan cara mencampurkan bahan baku atau arang halus dengan “ter”. Kemudian, briket yang dihasilkan dikeringkan pada 550 °C untuk selanjutnya diaktifasi dengan uap.

b. Destilasi kering: merupakan suatu proses penguraian suatu bahan akibat adanya pemanasan pada temperatur tinggi dalam keadaan sedikit maupun tanpa udara. Hasil yang diperoleh berupa residu yaitu arang dan destilat yang terdiri dari campuran metanol dan asam asetat. Residu yang dihasilkan bukan merupakan karbon murni, tetapi masih mengandung abu dan “ter”. Hasil yang diperoleh seperti metanol, asam asetat dan arang tergantung pada bahan baku yang digunakan dan metoda destilasi. Diharapkan daya serap arang aktif yang dihasilkan dapat menyerupai atau lebih baik dari pada daya serap arang aktif yang diaktifkan dengan menyertakan bahan-bahan kimia. Juga dengan cara ini, pencemaran lingkungan sebagai akibat adanya penguraian senyawa-lenyawa kimia dari bahan-bahan pada saat proses pengarangan dapat diihindari. Selain itu, dapat dihasilkan asap cair sebagai hasil pengembunan uap hasil penguraian senyawa-senyawa organik dari bahan baku.

Ada empat hal yang dapat dijadikan batasan dari penguraian komponen kayu yang terjadi karena pemanasan pada proses destilasi kering, yaitu:

1. Batasan A adalah suhu pemanasan sampai 200 °C. Air yang terkandung dalam bahan baku keluar menjadi uap, sehingga kayu menjadi kering, retak-retak dan bengkok. Kandungan karbon lebih kurang 60 %.

2. Batasan B adalah suhu pemanasan antara 200-280 °C. Kayu secara perlahan – lahan menjadi arang dan destilat mulai dihasilkan. Warna arang menjadi coklat gelap serta kandungan karbonnya lebih kurang 700%.

3. Batasan C adalah suhu pemanasan antara 280-500 °C. Pada suhu ini akan terjadi karbonisasi selulosa, penguraian lignin dan menghasilkan “ter”. Arang yang terbentuk berwarna hitam serta kandungan karbonnya meningkat menjadi 80%. Proses pengarangan secara praktis berhenti pada suhu 400 °C.

4. Batasan D adalah suhu pemanasan 500 °C, terjadi proses pemurnian arang, dimana pembentukan “ter” masih terus berlangsung. Kadar karbon akan meningkat mencapai 90%. Pemanasan diatas 700 °C, hanya menghasilkan gas hidrogen.

Namun secara umum dan sederhana proses pembuatan arang aktif terdiri dari tiga tahap yaitu:

1. Dehidrasi : proses penghilangan air dimana bahan baku dipanaskan sampai temperatur 170 °C.

2. Karbonisasi : pemecahan bahan-bahan organik menjadi karbon. Suhu diatas 170°C akan menghasilkan CO, CO2 dan asam asetat. Pada suhu 275°C, dekomposisi menghasilkan “ter”, metanol dan hasil samping lainnya. Pembentukan karbon terjadi pada temperatur 400 – 600 0C

3. Aktifasi : dekomposisi tar dan perluasan pori-pori. Dapat dilakukan dengan uap atau CO2 sebagai aktifator.

Proses aktifasi merupakan hal yang penting diperhatikan disamping bahan baku yang digunakan. Yang dimaksud dengan aktifasi adalah suatu perlakuan terhadap arang yang bertujuan untuk memperbesar pori yaitu dengan cara memecahkan ikatan hidrokarbon atau mengoksidasi molekul – molekul permukaan sehingga arang mengalami perubahan sifat, baik fisika maupun kimia, yaitu luas permukaannya bertambah besar dan berpengaruh terhadap daya adsorpsi. Metoda aktifasi yang umum digunakan dalam pembuatan arang aktif adalah:

1. Aktifasi Kimia.

Aktifasi ini merupakan proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan pemakian bahan-bahan kimia. Aktifator yang digunakan adalah bahan-bahan kimia seperti: hidroksida logam alkali garam-garam karbonat, klorida, sulfat, fosfat dari logam alkali tanah dan khususnya ZnCl2, asam-asam anorganik seperti H2SO4 dan H3PO4.

2. Aktifasi Fisika.

Aktifasi ini merupakan proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan bantuan panas, uap dan CO2. Umumnya arang dipanaskan didalam tanur pada temperatur 800-900°C. Oksidasi dengan udara pada temperatur rendah merupakan reaksi eksoterm sehingga sulit untuk mengontrolnya. Sedangkan pemanasan dengan uap atau CO2 pada temperatur tinggi merupakan reaksi endoterm, sehingga lebih mudah dikontrol dan paling umum digunakan.

Beberapa bahan baku lebih mudah untuk diaktifasi jika diklorinasi terlebih dahulu. Selanjutnya dikarbonisasi untuk menghilangkan hidrokarbon yang terklorinasi dan akhimya diaktifasi dengan uap. Juga memungkinkan untuk memperlakukan arang kayu dengan uap belerang pada temperatur 500°C dan kemudian desulfurisasi dengan H2 untuk mendapatkan arang dengan aktifitas tinggi. Dalam beberapa bahan barang yang diaktifasi dengan percampuran bahan kimia, diberikan aktifasi kedua dengan uap untuk memberikan sifat fisika tertentu.

Dengan bertambah lamanya destilasi serta bertambah tingginya temperatur destilasi, mengakibatkan jumlah arang yang dihasilkan semakin kecil, sedangkan destilasi dan daya serap makin besar. Meskipun dengan semakin bertambahnya temperatur destilasi, daya serap arang aktif semakin baik, masih diperlukan pembatasan temperatur yaitu tidak melebihi 1000 0C, karena banyak terbentuk abu sehingga menutupi pori-pori yang berfungsi untuk mengadsorpsi. Sebagai akibatnya daya serap arang aktif akan menurun. Selanjutnya campuran arang dan aktifator dipanaskan pada temperatur dan waktu tertentu. Hasil yang diperoleh, diuji daya serapnya terhadap larutan Iodium.

Menurut SII No.0258 -79, arang aktif yang baik mempunyai persyaratan seperti yang tercantum pada tabel berikut ini:

Tabel. 1 Spesifikasi karbon aktif.

Jenis

Persyaratan

Bagian yang hilang pada pemanasan 950 oC.

Maksimum 15%

Air

Maksimum 10%

Abu

Maksimum 2,5%

Bagian yang tidak diperarang

Tidak nyata

Daya serap terhadap larutan I

Minimum 20%

Karbon aktif terbagi atas 2 tipe yaitu arang aktif sebagai pemucat dan arang aktif sebagai penyerap uap.

1. Arang aktif sebagai pemucat.

Biasanya berbentuk serbuk yang sangat halus dengan diameter pori mencapai 1000 A0 yang digunakan dalam fase cair. Umumnya berfungsi untuk memindahkan zat-zat penganggu yang menyebabkan warna dan bau yang tidak diharapkan dan membebaskan pelarut dari zat – zat penganggu dan kegunaan yang lainnya pada industri kimia dan industri baru. Arang aktif ini diperoleh dari serbuk – serbuk gergaji, ampas pembuatan kertas atau dari bahan baku yang mempunyai densitas kecil dan mempunyai struktur yang lemah.

2. Arang aktif sebagai penyerap uap.

Biasanya berbentuk granula atau pellet yang sangat keras dengan diameter pori berkisar antara 10-200 A0. Tipe porinya lebih halus dan digunakan dalam fase gas yang berfungsi untuk memperoleh kembali pelarut atau katalis pada pemisahan dan pemurnian gas. Umumnya arang ini dapat diperoleh dari tempurung kelapa, tulang, batu bata atau bahan baku yang mempunyai struktur keras.

Sehubungan dengan bahan baku yang digunakan dalam pembuatan arang aktif untuk masing- masing tipe, pernyataan diatas bukan merupakan suatu keharusan.

Dengan proses oksidasi karbon aktif yang dihasilkan terdiri dari dua jenis, yaitu :

1. L-karbon (L-AC)

Karbon aktif yang dibuat dengan oksidasi pada suhu 300oC – 400oC (570o-750oF) dengan menggunakan udara atau oksidasi kimia. L-AC sangat cocok dalam mengadsorbsi ion terlarut dari logam berat basa seperti Pb2+, Cu2+, Cd2+, Hg2+. Karakter permukaannya yang bersifat asam akan berinteraksi dengan logam basa. Regenerasi dari L-AC dapat dilakukan menggunakan asam atau garam seperti NaCl yang hampir sama perlakuannya pada pertukaran ion.

2. H-karbon (H-AC)

Karbon aktif yang dihasilkan dari proses pemasakan pada suhu 800o-1000oC (1470o-1830oF) kemudian didinginkan pada atmosfer inersial. H-AC memiliki permukaan yang bersifat basa sehingga tidak efektif dalam mengadsorbsi logam berat alkali pada suatu larutan air tetapi sangat lebih effisien dalam mengadsorbsi kimia organik, partikulat hidrofobik, dan senyawa kimia yang mempunyai kelarutan yang rendah dalam air. Akan tetapi H-AC dapat dimodifikasi dengan menaikan angka asiditas. Permukaan yang netral akan mengakibatkan tidak efektifnya dalam mereduksi dan mengadsorbsi kimia organik sehingga efektif mengadsorbsi ion logam berat dengan kompleks khelat zat organik alami maupun sintetik dengan menetralkannya.

Dalam aplikasi karbon aktif baik yang digunakan sebagai media adsorbsi, pemberat atau media filtrasi dengan titik injeksi tertentu, maka kriteria desain titik pembubuhan karbon aktif perlu diperhatikan, yaitu :

1. Karbon yang terdapat didalam kantong langsung dimasukkan kedalam tangki penyimpanan dan dicampur dengan air untuk disiapkan menjadi larutan yang mengandung 0,1 kg karbon aktif bubuk per 1 liter larutan. Lebih baik lagi apabila suatu instalasi memiliki 2 tangki larutan, maka persediaan larutan karbon aktif untuk dibubuhkan dapat ditempatkan dalam 2 tangki, jika larutan didalam satu tangki sudah kosong, maka sudah tersedia larutan didalam tangki yang lain untuk dibubuhkan, tanpa harus menunggu persiapan larutan karbon aktif yang baru.

2. Agitator mekanik harus disediakan dalam tangki penyimpanan untuk menjaga larutan karbon aktif tetap “tersuspensi” didalam larutan atau menjaga larutan agar tidak memadat

3. Larutan biasanya dipompakan kedalam tangki yang menampung sejumlah larutan dan akan diumpankan untuk lebih dari beberapa jam berikutnya. Tanki tersebut harus mudah dibersihkan dan dipelihara. Tangki ini harus mempunyai lapisan anti karat seperti cat epoxy atau bitumastik untuk melindunginya dari pengkaratan.

4. Pipa pembawa larutan karbon aktif bubuk harus dipasang menurun/landai menuju tempat pembubuhan, dengan perlengkapan untuk mendorong karbon yang mungkin mengendap dan menyumbat didalam pipa. Pipa harus terbuat dari bahan bebas karat dan bebas erosi seperti karet, plastik dan besi baja. Pendorong pipa dan mata pisau pencampur dalam tangki penyimpanan dan tangki harus terbuat dari besi baja untuk menahan karat dan erosi.

5. Masalah yang paling umum dalam pengoperasian karbon aktif bubuk adalah penanganan bahan kimia. Karena berbentuk bubuk, maka debu merupakan masalah utama, khususnya jika sistem pencampuran kering digunakan.

6. Jika karbon aktif bubuk digunakan secara terus menerus atau jika sejumlah besar digunakan dalam waktu tertentu, pengalihan ke sistem basah harus dipertimbangkan

7. Pada instalasi pengolahan air, karbon aktif yang mengalir melewati saringan dan memasuki sistem distribusi dapat menghasilkan “air hitam”. Air hitam biasanya disebabkan oleh koagulasi yang tidak sempurna atau dosis karbon aktif yang tinggi ditambahkan sesaat sebelum penyaringan. Untuk memecahkan masalah tersebut, titik pembubuhan harus dipindahkan ke sistem penyadap air baku atau ke dalam bak pengadukan cepat

Arang aktif yang merupakan adsorben adalah suatu padatan berpori, yang sebagian besar terdiri dari unsur karbon bebas dan masing- masing berikatan secara kovalen. Dengan demikian, permukaan arang aktif bersifat non polar. Selain komposisi dan polaritas, struktur pori juga merupakan faktor yang penting diperhatikan. Struktur pori berhubungan dengan luas permukaan, semakin kecil pori-pori arang aktif, mengakibatkan luas permukaan semakin besar. Dengan demikian kecepatan adsorpsi bertambah. Untuk meningkatkan kecepatan adsorpsi, dianjurkan agar menggunakan arang aktif yang telah dihaluskan. Sifat arang aktif yang paling penting adalah daya serap. Dalam hal ini, ada beberapa faktor yang mempengaruhi daya serap adsorpsi, yaitu :

1. Sifat Serapan

Banyak senyawa yang dapat diadsorpsi oleh arang aktif, tetapi kemampuannya untuk mengadsorpsi berbeda untuk masing- masing senyawa. Adsorpsi akan bertambah besar sesuai dengan bertambahnya ukuran molekul serapan dari sturktur yang sama, seperti dalam deret homolog. Adsorbsi juga dipengaruhi oleh gugus fungsi, posisi gugus fungsi, ikatan rangkap, struktur rantai dari senyawa serapan.

2. Temperatur

Dalam pemakaian arang aktif dianjurkan untuk mengamati temperatur pada saat berlangsungnya proses. Faktor yang mempengaruhi temperatur proses adsoprsi adalah viskositas dan stabilitas thermal senyawa serapan. Jika pemanasan tidak mempengaruhi sifat-sifat senyawa serapan, seperti terjadi perubahan warna maupun dekomposisi, maka perlakuan dilakukan pada titik didihnya. Untuk senyawa volatil, adsorpsi dilakukan pada temperatur kamar atau bila memungkinkan pada temperatur yang lebih rendah.

3. pH (Derajat Keasaman).

Untuk asam-asam organik, adsorpsi akan meningkat bila pH diturunkan, yaitu dengan penambahan asam-asam mineral. Ini disebabkan karena kemampuan asam mineral untuk mengurangi ionisasi asam organik tersebut. Sebaliknya bila pH asam organik dinaikkan yaitu dengan menambahkan alkali, adsorpsi akan berkurang sebagai akibat terbentuknya garam.

4. Waktu Singgung

Bila arang aktif ditambahkan dalam suatu cairan, dibutuhkan waktu untuk mencapai kesetimbangan. Waktu yang dibutuhkan berbanding terbalik dengan jumlah arang yang digunakan. Selisih ditentukan oleh dosis arang aktif, pengadukan juga mempengaruhi waktu singgung. Pengadukan dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada partikel arang aktif untuk bersinggungan dengan senyawa serapan. Untuk larutan yang mempunyai viskositas tinggi, dibutuhkan waktu singgung yang lebih lama.

Karbon aktif merupakan bahan yang multifungsi dimana hampir sebagian besar telah dipakai penggunaannya oleh berbagai macam jenis industri. Aplikasi terhadap penggunaan karbon aktif dapat dilihat dari tabel dibawah ini:

Tabel.2 Aplikasi penggunaan karbon aktif dalam industri.

No.

Pemakai

Kegunaan

Jenis/ Mesh

1.

Industri obat dan makanan

Menyaring, penghilangan bau dan rasa

8×30, 325

2.

Minuman keras dan ringan

Penghilangan warna, bau pada minuman

4×8, 4×12

3.

Kimia perminyakan

Penyulingan bahan mentah

4×8, 4×12, 8×30

4.

Pembersih air

Penghilangan warna, bau penghilangan resin

5.

Budi daya udang

Pemurnian, penghilangan ammonia, nitrit, penol, dan logam berat

4×8, 4×12

6.

Industri gula

Penghilagan zat-zat warna, menyerap proses penyaringan menjadi lebih sempurna

4×8, 4×12

7.

Pelarut yang digunakan kembali

Penarikan kembali berbagai pelarut

4×8, 4×12, 8×30

8.

Pemurnian gas

Menghilangkan sulfur, gas beracun, bau busuk asap.

4×8, 4×12

9.

Katalisator

Reaksi katalisator pengangkut vinil khlorida, vinil asetat

4×8, 4×30

10.

Pengolahan pupuk

Pemurnian, penghilangan bau

8×30

Diolah dari berbagai sumber.

arifin_pararaja@yahoo.co.id

59 thoughts on “KARBON AKTIF (Tinjauan literatur)

  1. Good object for discussion, Iam from Pasuruan with main process decolorization Monosodium glutamate.
    We uses active carbon.. so this information is good for referensi for my process.

  2. Kepada Yth. Redaksi

    Kami membutuhkan karbon aktif untuk mengolah limbah industri pakan ternak. dalam Tabel.2 Aplikasi penggunaan karbon aktif dalam industri, termasuk yang golongan mana. Kebutuhan kami banyak (+-) 20 ton per bulan.
    Untuk itu adakah perusahaan yang mampu untuk suplly barang tersebut.
    Terima kasih atas kerjasama yang baik dari redaksi.

    ttd
    Maslur

  3. Yang penting diperhatikan dalam aplikasi dari metode karbon aktif adalah adalah titik pembubuhannya. Tapi pokok-pokok berikut harus dipertimbangkan untuk memilih tempat pembubuhan tersebut :
    1. Waktu kontak karbon aktif dengan zat organik sangat penting dan tergantung pada kekampuan karbon aktif untuk berada dalam larutan, paling tidak waktu kontak selama 15 menit harus dilakukan.
    2. Permukaan partikel karbon aktif akan kehilangan kapasitas penyerapan bila terlapisi dengan koagulan atau bahan kimia lainnya untuk pengolahan air.
    3. Karbon aktif akan menyerap klor (1 mg/l karbon aktif bubuk dapat menyerap klor sebesar 0,2 – 0,25 mg/l Cl2).
    Mengingat faktor-faktor tersebut diatas, maka menunjukkan bahwa titik pembubuhan karbon aktif harus dipertimbangkan seperti misalnya :
    1. Titik pembubuhan dilakukan pada saluran/pipa penyadap air baku atau “water intake” adalah tempat yang paling menguntungkan bagi pembubuhan karbon aktif bubuk, jika fasiltias pencampuran yang memadai telah tersedia. Penggunaan saluran/pipa air baku sebagai titik pembubuhan karbon aktif bubuk membutuhkan waktu kontak yang cukup lama dan menghindari masalah yang mungkin terjadi disebabkan oleh pembubuhan karbon aktif pada air yang mengalami proses prekhlorinasi sebelumnya. Karbon aktif akan menyerap klor dan menghasilkan dosis keduanya meningkat jika karbon ditambahkan setelah preklorinasi.
    2. Jika pembubuhan kedalam air baku tidak memungkinkan, karbon aktif bubuk dapat dibubuhkan ke bagian lain sebelum penyaringan, tapi dosisnya akan lebih besar bila dihitung untuk waktu kontak yang lebih cepat dan gangguan dari bahan kimia lain seperti koagulan dan klor. Karbon aktif bubuk dapat dibubuhkan ke dalam air yang keluar (effluent) dari unit pengendap dan yang akan memasuki filter, tindakan yang hati-hati harus dilakukan dalam mengoperasikan penyaringan.
    Pembubuhan karbon aktif dapat dilakukan dengan sistem kering maupun basah. Titik pembubuhan ini tentunya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing – masing.

    Karbon aktif tersedia dalam berbagai bentuk misalnya gravel, pelet (0.8-5 mm) lembaran fiber, bubuk (PAC : powder active carbon, 0.18 mm atau US mesh 80) dan butiran-butiran kecil (GAC : Granular Active carbon, 0.2-5 mm) dsb. (PAC) lebih mudah digunakan dalam pengolahan air dengan sistem pembubuhan yang sederhana.
    Untuk limbah pakan Ternak umumnya kandungan terbesar adalah suspensi zat organik secara akumulatif yaitu COD dan BOD.
    Menurut hemat saya, karbon aktif yang cocok adalah yang biasa dipakai pada Instalasi pengolahan air. Yaitu L-AC bentuknyaa serbuk/ solid/ etc tergantung metode pembubuhannya (sprti uraian diatas).
    Mengenai produsen/ suplier/ vendor bpk dapat cari di internet misalnya :
    http://indonetwork.co.id/sell/Kimia/Karbon_Aktif/0.html
    atau
    http://www.smac.co.id/index.htm

    dan selebihnya bapak bisa berkonsultasi dengan vendor yang bpk pilih.

    Regard.
    http://www.tkcmindonesia.com

  4. Dear, Simple-boy:
    Maaf, jawabannya agak telat. (weekend).
    Ini kami sedikit jelaskan mengenai baja karbon.
    Definisi :
    Baja adalah logam aloy yang komponen utamanya adalah besi, dengan karbon sebagai material pengaloy utama. Karbon bekerja sebagai agen pengeras, mencegah atom besi, yang secara alami teratu dalam lattice, begereser melalui satu sama lain. Memvariasikan jumlah karbon dan penyebaran alloy dapat mengontrol kualitas baja. Baja dengan peningkatan jumlah karbon dapat memperkeras dan memperkuat besi, tetapi juga lebih rapuh. Definisi klasik, baja adalah besi-karbon aloy dengan kadar karbon sampai 5,1 persen; ironisnya, aloy dengan kadar karbon lebih tinggi dari ini dikenal dengan besi
    Sekarang ini ada beberapa kelas baja di mana karbon diganti dengan material aloy lainnya, dan karbon, bila ada, tidak diinginkan. Definisi yang lebih baru, baja adalah aloy berdasar-besi yang dapat dibentuk secara plastik.
    Klasifikasi :
    Klasifikasi tipe baja karbon menurut kadar karbon di dalam baja antara lain :
    – Baja karbon rendah (low carbon steel) : Baja karbon rendah mengandung maksimal 0,3% C, maks 1,5% Mn
    – Baja karbon menengah (medium carbon steel) : Baja karbon menengah mengandung karbon 0,3 – 0,6% dan Mangan 0,6-1,65%
    – Baja karbon tinggi (High carbon steel) : Baja karbon tinggi mengandung karbon 0,6 – 1,00% dan mangan 0,3 -0,9%
    – Baja karbon supertinggi (ultrahigh carbon steel) : Baja karbon supertinggi mengandung karbon 1,25 – 2%
    Deskripsi :
    – C (karbon) : Logam baja ditambahkan dengan unsur karbon akan meningkatkan kekerasan dan kekuatan melalui perlakuan pemanasan tapi penambahan karbon dapat memperlebar range nilai kekerasan dan kekuatan bahan. Carbon (C), Meningkatkan sifat mechanical, kandungannya 0.10-0.25%.
    – Mn (Mangan) : Mangan ditambahkan ke dalam baja akan memperbaiki sifat hot working dan meningkatkan kekuatan, ketangguhan dan mampu keras. Mangan (Mn) Berkisar 0.3-0.8%, membentuk inklusi manganese-sulphide yang
    menghambat pengaruh iron-sulphide pada hot-working
    – Si (Silikon) : Silikon digunakan sebagai deoxidizing (killing) agent dalam peleburan baja. Sebagai hasilnya bahwa sebagian besar jenis banyak mengandung konsentrasi rendah silicon. Silikon berkontribusi untuk mengeraskan fasa ferritik di baja. Silicon (Si) Ditambahkan sebagai deoxidiser.
    – S (sulfur) : Saat ditambahkan dalam jumlah kecil sulfur dapat memperbaiki mampu mesin tapi tidak menyebabkan hot shortness. Hot shortness merupakan fenomena getas pada kondisi suhu tinggi yang disebabkan oleh sulfur. Kehadiran sulfur dapat mengikat Fe menjadi FeS. Senyawa ini terkonsentrasi di batas butir dan melebur di bawah temperature melting baja. Disebabkan titik lebur FeS,maka kohesi antarabutir-butir menjadi hancur dan menyebabkan crack saat butir mengembang. Fenomena terjadi saat baja di tempa atau roll saat suhu kerja meningkat. Sehingga harus ditambahkan Mn untuk mengikat sulfur menjadi MnS. Sulphur (S) Kadar maksimum 0.05%, membentuk film iron-sulphide bertemperature lebur rendah pada batas butir.
    – P (fosfor) : Unsur fosfor biasanya ditambakan dengan sulfur(S) untuk memperbaiki mampu mesin di baja paduan rendah. Dengan penambahan sedikit unsur fosfor dapat membantu meningkatkan kekuatan dan ketahanan korosi. Kehadiran fosfor di dalam stainless steel auntenitk dapat meningkatkan kekuatan. Penambahan fosfor juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap crack saat pengelasan. Phospor (P) Kadar maksimum 0.05%, karena membentuk iron-phosphide yang memisah dari struktur baja sehingga membuat lemah.
    – Aluminium (Al) : Ditambahkan untuk membentuk batas butir yang halus.

    Mangan membuat larutan padat (solid sollution) menguat dan mengikat sulphur. Ditambahkan jika tingkat karbon maksimum yang diijinkan telah dicapai, untuk meningkatkan kekuatan. Penambahan dibatasi sampai 1,6 %wt dan CE 0,45 untuk menghindari kekerasan yang berlebihan dan kemampuan las yang menurun. Kotoran; pengotor yang utama adalah sulphur dan phospor. Tipe; sangat banyak dan beragam. Mudah terkorosi kalau tidak diproteksi. Merupakan material yang paling banyak dipergunakan di refinery dan petrokimia
    Tambahan :
    • Ferrous dan non Ferrous material

    – baja Carbon : carbon level, kemampuan las (weldability).
    – baja Chrome-molybdenum : kekuatan (strength) dan ketangguhan (toughness), aplikasi temperature tinggi
    – baja tahan karat (stainless-steel) : baja austenitic, baja ferritic, ketahanan korosi.
    – paduan campuran Nickel (Ni-based alloys) : Incoloy 800, Inconnel 600, Hastelloy
    – paduan tembaga (Copper alloys) : kuningan (brass), perunggu (bronze).
    – paduan nickel-tembaga (Cu-Ni alloys) : 90/10, 70/30, Monel 400, Monel 500.

    • Klasifikasi ferrous dan non ferrous material :

    FERROUS MATERIAL

    1. Baja Carbon (carbon-steels).
    – Besi tuang dan baja tuang (cast irons dan cast steels).
    – Baja tempa (wrought steels).
    – Baja paduan rendah berkekuatan tinggi (high strength low-alloy steels)

    2. Baja paduan (alloy steels).
    – Baja Chrome-molybdenum (Chrome-molybdenum steels)
    – Baja perkakas (tool steels)

    3. Baja tahan karat (Stainless-steels)
    – Baja tahan karat Ferritic dan Martensitic (Ferritic dan Martensitic stainless-steels)
    – Baja tahan karat Austenitic (Austenitic stainless-steels)
    – Baja tahan karat Duplex (Duplex stainless-steels)

    4. Baja paduan Nickel tinggi (High Nickel alloys)
    – Series 800

    BAJA CARBON

    Hasil fabrikasi baja :
    Rimmed (tidak di de-oksidasi) C<0.07%. Kadar karbon terendah, sangat lentur dan dipergunakan untuk kawat 0.07-0.15%. Baja padat yang murah, dipergunakan sebagai paku dan tube Balanced (di de-oksidasi sebagian) 0.25-0.3%. Baja konstruksi umum. Killed (di de-oksidasi sempurna) 0.07-0.15% C, 0.1% Si, 0.5% Mn. Sangat lentur, bahan untuk material
    pengerjaan dingin seperti flanged. 0.1-0.25% C, 0.6-1.0% Mn. Bahan pelat bejana tekan.

    BESI DAN BAJA TUANG

    Dipergunakan jika bentuk akhir rumit maupun kemudahan penuangan dibandingkan pencanaian, seperti body valve,rumah bantalan dan rumah pompa. Jika applikasi penggunaan lebih kritis dipergunakan baja tuang. Besi tuang lebih rapuh dibandingkan baja tuang dan di-spesifikasi berdasarkan tingkat kekuatannya. Besi tuang akan meredam getaran dikarenakan graphite yang dikandungnya. Besi tuang komersial mengandung 2.5 – 4.0% C dan besi tuang konstruksi mengandung graphite bebas. Tipe-tipe besi tuang : Besi tuang kelabu; mengandung serpih graphite, merupakan material yang rapuh.

    BAJA TEMPA.

    Mayoritas peralatan kilang minyak dan petrokimia mempergunakan baja tempa jenis pipa, pelat dan canai untuk membentuk jalur pipa, bejana dan tanki. Baja ini di-las untuk menghasilkan bentuk yang dikehendaki.

    BAJA PADUAN RENDAH BERKEKUATAN TINGGI.

    Baja carbon yang mengalami pengerolan panas dimana terkontrol pengerolannya dan terjaga dengan ketat suhu, kecepatan reduksi dan reduksi totalnya pada daerah austenit untuk menjamin pemulihan dan pembentukan kembali butir yang pertama (primairy recristalization) tanpa penambahan benih butir, sehingga terbentuk besar butir yang halus merupakan bahan untuk pembuatan baja paduan rendah berkekuatan tinggi.? Dengan proses pendinginan butir berstruktur mikro ferrite/pearlite sangat halus akan terbentuk dimana mempunyai kekuatan dan ketangguhan yang baik. ? Untuk membentuk baja paduan rendah ditambahkan sejumlah kecil pembentuk carbide; berupa Nb, Ti, V dan Al sebanyak kurang dari 0.1%, yang akan membentuk carbides halus selama proses pengerolan yang mengunci batas butir dan mencegah pertumbuhan benih. Pada waktu pengerolan dingin mencapai ferrite, pembentuk carbide ini akan membentuk penyebar halus yang akan meningkatkan kekuatan.

    ASTM / ASME CARBON STEEL SPECIFICATION.

    ASTM Spec. No. Application PELAT A-285 Boiler dan Bejana Tekan A-515 Bejana Tekan Temperatur Tinggi A-516 Bejana Tekan Temperatur Rendah PIPA A-53 Pipa Service Umum A-106 Pipa Tanpa Las Temperatur Tinggi A-333 ( gr. 1&6 ) Pipa Temperature Rendah TUANGAN A-216 Service Temperatur Tinggi A-352 (LCB) Service Temperatur Rendah CANAI A-105 Flange Pipa Temperatur Tinggi A-181 Flange Pipa Service Umum A-350 (gr.LF1&LF2) Flange Pipa Temperatur Rendah

    BAJA PADUAN

    Macam-macam paduan penambah :
    Pembentuk Carbide; Cr, W, Ti, Nb, V, Mo
    Penstabil Austenite; Ni, Mn, Cu, C, Co
    Penstabil Ferrite; Cr, W, Mo, V, Si.

    By : @_pararaja diolah dari berbagai sumber.

  5. Kami produsen karbon aktif tempurung kelapa yang telah disertifikasi dari PT. SUCOFINDO, siap bekerja sama dan menyuplai perusahaan yang membutuhkan karbon aktif tempurung kelapa tersebut, kapasitas produksi kami 37 ton / bulan. Bila ada yang membutuhkan spesifikasi dan sample silahkan kirimkan permintaannya.

    Terima kasih
    M. Hasanudin
    Koperasi Al Ma’arif
    email : hasanudin@lge.com
    Phone : 02199434299 / 02199165847

  6. Dear Indie.

    Kalau yang dimaksud sdr. sprti ini mungkin begini :

    # arang aktif/karbon aktif
    dikenal dalam laboratorium biopsikokimia sebagi penyerap warna dalam larutan supaya mudah dianalisis, mengurangi interferensi, dsb.

    #arang aktif/karbon aktif/norit
    dikenal oleh ibu2 rumah tangga atau rumah sakit sebagai penyerap racun dalam tubuh, pencahar, dsb.

    #arang aktif/active carbon
    dikenal sebagai bahan filter pada masker/respirator (alat safety) untuk melindungi bahaya gas2 beracun.

    dsb.

    Regard.

  7. Dear, Indie
    Sedikit tambahan ya..!

    KARBON AKTIF (SERBUK MURNI TUMBUH-TUMBUHAN)
    Pemakaian Grade Kegunaan Utama Keterangan
    Mono Sodium Glutamate (M.S.G) SM – I Penghilang warna dan penyaring cairan M.S.G Warna, Bau, Koloid (lapisan kristal)

    Minyak Goreng (minyak & lemak) SM – II Penyaring untuk minyak goreng, Lilin (Parafin) dan glicerin. Warna, Bau

    Gula dan Jelly SM – III Penyaring gula, Glukosa dan molase Warna, Bau, Lapisan koloid (kristal)

    Penjernihan air SM – IV Penyaring air minum, Minuman keras dan ringan, PAM, Air industri, Bir, Minuman buah-buahan, Whisky, Polusi air . Warna, Bau, Alkyl Benzene Sulfate

    Obat-obatan dan Kedokteran SM – V Penyaringan macam-macam cairan suntikan dan obat-obatan. Warna dan sterilisasi

    Kimia Umum SM – VI Penyaringan dan penghilang warna sintetik fiber, Obat-obat cuci air, Kimia organik dan inorganik, Cairan pemutih, Polusi udara dan lain-lain. Bahan-bahan organik dan inorganik

    Spesifikasi Teknik
    SM – I SM – II SM – III SM – IV SM – V SM – VI
    Decolorising Capacity
    Caramel (%) 88 – 94 90 – 95 95 – 95 87 – 93 90 – 95 88 – 95
    Methylene Blue (ml) 12 – 18 12 – 18 12 – 18 12 – 18 12 – 18 12 – 18

    Components
    Moisture (%) 10 – 30 10 – 30 10 – 50 10 – 20 10 10
    PH (Normal Range) 5 – 8 5 – 10 4 – 8 5 – 8 5 – 8 5 – 8
    Filterability (Sec) 50 – 70 40 – 60 50 – 80 40 – 60 50 – 80 50 – 80
    Mesh Size (-325 Mesh; %) 95 90 97 90 97 97

    Impurities (Unit = %)
    Chloride (Cl) 0.1 – 0.3 0.02 – 0.3 0.1 – 0.3 0.02 – 0.3 0.02 – 0.2 0.1 – 0.3
    Iron (Fe) 0.1 – 0.3 0.02 – 0.3 0.1 – 0.3 0.02 – 0.3 0.01 – 0.03 0.1 – 0.2
    Ash (Approx, Range) 7 7 7 7 5 7
    Water Soluble Matter 1.3 1.3 1.3 0.6 – 2.0 0.6 1.3
    Ca and Mg 0.3 0.3 0.3 0.3 0.1 0.3

    Keterangan :
    1. Data di atas berdasarkan hasil cara pemeriksaan dari JIS No. K 14170, KIS No. K1412, KS No. 1413.
    2. Permintaan khusus dapat kami layani untuk memenuhi spesifikasi kebutuhan anda.
    http://www.smac.co.id

  8. Terima kasih atas penjelasan tentang Karbon Aktif yg menambah wawasan saya. Dari penjelasan tsb, apakah anada mempunyai referensi mengenai spesifikasi Karbon aktif (terutama) yang granular terutama untuk coconut shell base. Critical point atau parameter apa saja yang penting untuk dapat diaplikasi di berbagai industri yang telah dijelaskan oleh Anda. Chemical content maupun physical analysis. Mohon kiranya dapat di email ke saya, karena saya membutuhkan untuk pengecekan standarisasi produk yang akan kami kembangkan.
    Atas bantuannya saya ucapkan terima kasih.

    Salam
    steven_renaldi@yahoo.com

  9. Specification of standard :

    ACTIVATED CARBON DATA SHEET
    Article VCGAC – Coconut 4×8 (may also be available in 4×6, 4×10, 6×10) Mesh ConversionTable OrganoClay

    Type Granular Coconut Shell Based Activated Carbon – Vapor Phase
    Benefits / Description VC-GAC-Coconut 4 x 8 is a coconut based granular activated carbon made especially for use in a vapor applications. Its particle size and pore structure have been specifically designed to provide the best adsorption of impurities from vapor steam with the least flow resistance. Coconut shell activated carbon comes from coconut shells that have undergone a steam activation process to create its activated carbon form. During activation, it creates millions of pores at the surface of the carbon thus increasing the total surface area. Activated carbon pores can be divided into three categories, Micro-pores (less than 2nm dia.), Meso-pores (range 2-25 nm), and Macro-pores (more than 25nm dia.). Coconut shell carbon has mainly micro-pores to macro-pores and due to its unique distribution of pores diameter, it is very popular in the gas phase purification and potable water purification industries.

    Coconut shell carbon is harder than granular coal based carbon. It also has lower attrition and higher yields when reactivated. It has a long life expectancy and superior removal efficiency. Coconut shell performs best at 70-80 RH.
    This product is manufactured to adsorb odiferous by-products, and VOC’s, as well as adsorption of trace contaminates.

    VC-GAC-Coconut 4 x 8 is processed from coconut shell for its hardness and activated at high temperature using steam process to develop internal surface area. The activated product is crushed and classified by size.

    Typical Parameters CCL4 Adsorption 60% M. ASTM-D-3467
    Bulk density 0.47 – 0.49 ASTM-D-2854
    Hardness 98-99 % ASTM-D-3862
    Moisture as packed 4% M. ASTM-D-2867
    Ash 4% M. ASTM-D-2863
    Surface Area 1000-1100 BET N2
    Ignition Temp. 400 C ASTM-D-3466

    Regular Granular Coconut Shell Carbon

    Unit Available Products Range Remarks
    Mesh Size US Sieve 4×8/6×12/8×16/8×30/12×40/20×50 or as required
    Iodine mg/g Minimum 800/850/900/950/1000/1050/1100/1150/ 1200/1250/1300 or as required
    CCL4/CTC % Minimum 50/55/60/65/70/75/80 or as required
    Surface Area m2/g 850-1350 or as required
    Apparent Density g/cc 0.40-0.54 or as required
    Hardness % Minimum 95/96/97/98/99 or as required
    Ash Content % Maximum 5 or as required
    Moisture % Maximum 5 or as required
    pH 9.5-11 or as required

  10. Dear, Mr. Steven.

    Terima kasih atas perhatian dan kunjungan anda.

    Menindaklanjuti tentang pertanyaan saudara tentang karbon aktif dan melengkapi apa yang sudah kami paparkan sebelumnya.

    Mungkin ini yang dapat kami sampaikan. Selebihnya silahkan anda merujuk kepada referensi yang telah kami rekomendasikan di bawah ini.

    Kepuasan merupakan harapan.

    Regards.
    Skimaters.
    ———————————————————————————–
    Coconut Shell-Based Pellet And Granular Activated Carbon

    Certification: NSF, ISO9001

    Activated carbon is porous carbon material. Due to highly developed porous structure and huge specific surface area, it has very strong adsorption capacity, which is widely used in industrial production, agriculture environmental protection as catalyst or catalyst carrier.Our coconut shell-based pellet and granular activated carbon is mainly used in the deep treatment of supplying water, odor control of industrial waste gases, solvent recovery and refining industrial gases.

    Coconut shell activated carbon like its names comes from the coconut shell that has been undergone steam activation process to create its activated carbon form. During activation, it creates millions of pores at the surface of the carbon thus increasing the total surface area. Activated carbon pores can be divided into three general sizes Micro-pores (diameter in the range of less than 2 nm), Meso-pores (diameter in the range of 2 – 25 nm), and Macro-pores (diameter in the range of above 25 nm). Coconut shell carbon has mainly micro-pores to meso-pores and due to its unique distribution of pores diameter, coconut shell activated carbon are very popular in the gas phase purification and potable water purification industries. …
    In recent years, several market forces have impacted the price of activated carbon produced from anthracite and bituminous coals. Fortunately, activated carbons produced from coconut shell provide an alternate source of supply for many liquid phase and vapor phase applications where coal-based carbons have traditionally been used.

    A number of factors have driven up the cost of coal-based activated carbons, including:
    • Imposition of an import tariff on coal-based carbons imported from China by the US Department of Commerce. This tariff ranges from 70% to 228% and will remain in place for the next several years.
    • The overall demand for coal has increased globally, due to higher energy demands. This has led to a scarcity of supply of suitable grades of coal to produce activated carbon, and has increased the cost of the raw material coal as well.
    • China has been pressured by the U. S. Treasury Department to float the Yuan (or Chinese RMB) according to global exchange rates, resulting in a devaluation of the US Dollar by approximately 14% over the past 2 years. This again impacts the cost of coal-based carbons imported from China.
    All of these factors have led to recent instability in the cost of coal-based carbons. Coconut shell-based alternatives have been much more stable and predictable in cost, making these carbons a viable economic alternative as well.
    In addition to cost savings, activated carbons produced from coconut shell are also suitable for many liquid phase and vapor phase applications where coal-based carbons have traditionally been used. In particular, the removal of trace level organics from water streams with little to no background TOC levels is a good fit for coconut-based carbon’s microporous structure. In vapor phase applications, VOC abatement and solvent recovery (for light molecular weight organics) are good fits for coconut-based carbons

    Using high grade coconut shell as the raw material. The product has the advantages of bigger specific surface area and higher intensity etc. It has all kinds of grades, such as : granule, little granule and carbon powder. At present, the coconut activated carbon has the best effect on purification of drinking water, chlorine removal and deoxidization. It can also be used in water-purifying equipments as filter.

    Activated Carbon and Filter Media
    ACTIVATED CARBON
    Our activated carbon products include:
    • Coconut Shell Activated Carbon
    • Coal Based Activated Carbon
    • Lignite Based Activated Carbon
    • Wood Based Activated Carbon
    • Impregnation Series
    • Special Activated Carbon Products
    Coconut Shell Activated Carbon like its names comes from the coconut shell that has been undergone steam activation process to create its activated carbon form. During activation, it creates millions of pores at the surface of the carbon thus increasing the total surface area. Coconut shell carbon has mainly micro-pores to meso-pores and due to its unique distribution of pores diameter, coconut shell activated carbon are very popular in the gas phase purification and potable water purification industries.
    • Regular Granular Coconut Shell Carbon
    • Water Washed Granular Coconut Shell Carbon
    • Acid Washed Granular Coconut Shell Carbon
    • Powder Coconut Shell Activated Carbon
    Coal Based Activated Carbon originates from coal that has undergone steam activation process to create its activated carbon form. During activation, it creates millions of pores at the surface of the carbon thus increasing the total surface area. Coal based carbon has mainly meso-pores and macro-pores and due to its unique distribution of pores diameter, coal based activated carbon are very popular in the gas phase purification, potable water purification industries, wastewater purification industries and aquarium/pond water purification industries.
    • Regular Bituminous Coal Based Carbon
    • Acid Washed Bituminous Coal Based Carbon
    • Virgin Extruded Pelletized Coal Based Carbon
    • Acid Washed Extruded Pelletized Coal Based Carbon
    • Powder Coal Based Activate Carbon
    Lignite Based Activated Carbon granular activated carbon produced by steam activation of lignite coal. This grade is specifically manufactured for applications requiring rapid adsorption rate in percolation columns. Lignite based activated carbon is a general purpose granular carbon grade used in a variety of applications including purification of fine chemicals and food.
    Powder activated carbon produced by steam activation of lignite coal. It is widely used in agriculture as a soil amendment to protect and enhance plant and turf grass growth and vigor.
    Wood Based Activated Carbon is produced by steam activation of wood. This wood based activated carbon has high porosity and purity. Majority is being used in the water and wastewater treatment, decolorization and vapor phase injection systems.
    Impregnation Series
    Prominent Systems, Inc. makes several different grades of impregnated activated carbon for those special applications where either standard non-treated carbon does not work or where activated carbon’s adsorptive capacity can be greatly enhanced through impregnation.
    • KOH Impregnated Coal Based Activated Carbon
    • NaOH Impregnated Coal Based Activated Carbon
    • KI/Potassium Iodide Impregnated Coal Based Activated Carbon
    • CuO Impregnated Coal Based Activated Carbon
    • Phosphoric Acid Impregnated Coal Based Activated Carbon
    • Sulfur Impregnated Coal Based Activated Carbon
    • Potassium Permanganate Impregnated Pelletized Coal Based Activated Carbon
    • Silver Impregnated Coconut Shell Activated Carbon
    Special Activated Carbon range of products includes:
    • Spherical Coal Based Activated Carbon
    • Pelletized Coconut Shell Activated Carbon
    • Activated Carbon Fiber
    • NaOH Impregnated Coconut Shell for Vapor Phase
    • KOH Impregnated Coconut Shell for Vapor Phase
    • Gold and Precious Metal Recovery Carbon
    • Special Blend High Activity Activated Carbon
    FILTER MEDIA
    Our filter media products include:
    • Anthracite Filter Media
    • Gravel Filter Media
    • Sand Filter Media
    • Garnet Filter Media
    Anthracite Filter Media
    Excellent filtration medium for gravity and pressure filters, for treatment of hard and soft water, sewage, oil and acid/alkali liquids.
    The hardness of carbocite ensures minimum wastage by attrition in service. It contains 80% of pure carbon. The irregular shape of the particles offers a larger surface area per unit of volume and larger spaces between particles which enable high filtration rates with low head losses to be obtained. The greater surface area of carbocite promotes the efficient removal of algae, turbidity and bacteria.
    The advantages of using anthracite become expressed as follows:
    • Faster filtration
    • Longer filter runs
    • Low loss of head
    • Economic use of space
    • Easy to handle
    • Savings in wash water
    • Big capital savings
    • Long life
    Gravel Filter Media
    To insure a clean, quality product, filter gravels are double scrubbed to remove all clay, shale and inorganic impurities. High purity, consistent quality gravel makes this media ideal for filtration.
    The advantages of using gravel filtration become expressed as follows:
    • Wide variety of grades available (1 1/2“ to 3/16”)
    • Full service lab continually monitors product
    • Extremely pure silica content (>99%)
    • Private labeling available on request
    • Variety of packaging offered
    • All filtration gravel meets AWWA B100 Specifications
    • NSF certified for standard 61
    Sand Filter Media
    Prominent Systems’ sand filter media is composed of sub-angular, hard, durable, and dense grains of predominately siliceous material. Extracted from a clean glacial sand deposit, our sand media physical properties make it among the finest available in the world for filtration applications. The sand media is washed, kiln dried, and screened to meet exacting specifications with strict adherence to quality control.
    Garnet Filter Media
    Prominent Systems’ garnet is a chemically inert non-metallic mineral commonly found in the natural environment. Garnet has a high specific gravity. Its chemical, hardness, and durability properties makes garnet an ideal filter media and abrasive media.

    Please your open in this website for more information :

    Reference:

    http://www.water.siemens.com/en/product_lines/westates_carbon/brochures/pages/default.aspx

    http://www.ecologixsystems.com/fm_ewi_gac_coc_4_8.php

    http://www.idswater.com/water/us/prominent_systems/acitivated_carbon/10040_0/s_supplier_2.html

    http://www.cj-chem.cn/web/ac-1.html

    http://www.prominentinc.com/csac_regular_granular.html

    Regards,

    Skimaters.

  11. kak apakah sama tahapan kita untuk membuat karbon aktif yang berbahan baku abu(fly ash) dengan yang berbahan baku tempurung atau kayu?zat aktivator apa yang baik digunakan dalam pembuatan karbon aktif?

  12. Dear, susan.

    Sepertinya hampir sama, silahkan anda explore diinternet (buanyak kok).

    contoh : Sembiring, Meilita Tryana. Sinaga, Tuti Sarma. 2003.; “ Arang Aktif (Pengenalan dan Proses Pembuatannya) “. Medan : Universitas Sumatera Utara

    Umumnya aktivator yang digunakan berupa garam alkali/ alkali tanah (ingat deret volta)karena baik melakukan pertukaran ion sehingga mampu menghilangkan pengotor.

    Contoh : CaCl2, Na2CO3, dsb.

    Regards.

  13. kami perusahaan yang memproduksi karbon aktif dan arang tempurung kelapa dengan lokasi kalimantan barat dan siap kirim atau impor kemana saja. yang mao pesan karbon aktif bisa menghub untuk nego dan info lengkap.
    telp : 08195629168
    Email : FRENGKY_3000@yahoo.com

  14. jmau tanya kak…
    sya asli jogja. gn khan di jogja ada minuman kopi joss..
    dimna kopi yang sudah siap minum di masukkan arang yang membara…kata orang-orang tujuannya biar kopi ngk cepat dingin. dan arang aktif juga mampu myerap mikromolekul…
    tapi kalau arang itu masuk dalam tubuh gmn??apa dampak posirif juga masih sama??
    sedangkan makanan yang dibakar saja sampai terlihat hitam karenan arang itu merupakan salah satu makanan yang mengandung karsinogen…

    inilah yang membuat saya bingung selama ini…
    apakah kakak bisa bantu??
    makasih ka sebelmnya….

    informasinya sangat dibutuhka…

    sekalian sumbernya ya kak///
    makasih

  15. Dear, Top_phie

    Wah nikmatnya kopi jossnya, ya sambil angkringan di Bulak Sumur atau Lesehan di Malioboro.

    Mengenai pertanyaan saudara, tentang kopi yang dicampur arang mungkin ini sedikit membantu :

    Mengenai kopi dan kesehatan, silahkan anda mereview referensi dibawah ini :
    http://www.w4h48.multiply.com/reviews/item/8
    http://www.azk4.com/2009/02/manfaat-dan-bahaya-kopi.html

    Sedangkan arang menyebabkan kanker bila masuk ke makanan sesuai keterangan saudara, dan ini memang sudah dilaporkan seperti dibawah ini :

    http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=4383

    Yanh perlu digaris bawahi adalah perbedaan arang biasa (rumahan: bakar sate, campuran makanan dan minuman seperti kopi joss, dsb) dan arang aktif (atau diesebut karbon aktif, norit, charcoal, dsb).

    Misalnya, norit atau karbon yang sudah diaktifkan (sesuai uraian artikel kami) apabila masuk ke tubuh dapat dijelaskan sesuai referensi dibawah ini :
    http://www.wartamedika.com/2006/10/norit-karbon-aktif-penyerap-racun.html

    Sedangkan untuk arang biasa yang ternasuk anda maksud, sesuai referensi dibawah ini :

    http://www.dhejhethe.wordpress.com/2008/11/19/bahaya-makanan-yang-dibakar/

    Dari uraian diatas dapat kami simpulkan bahwa, arang aktif ”relatif aman”, sedangkan ”arang biasa” anda harus berhati hati. Semua tergantung gaya hidup dan frekuensi serta dosis penggunaan. Selama tidak berlebihan dan sewajarnya ” insya4JJI” aman untuk kesehatan.

    Kami merekomendasikan untuk berkonsultasi pada pakar kesehatan terkait.

    Regards.
    Skimters

  16. saya mau tanya tentang kegunaan karbon aktif sebagai katalisator itu untuk mengangkut vinil klorida maksudnya apa ? Pada produksi apa dan bagaimana aplikasinya ? Trims, ditunggu jawabannya

  17. karbon aktif atau yang sering disebut dengan arang aktif
    adalah suatu jenis karbon yang memiliki luas permukaan yang sangat besar.
    hal ini bisa dicapai dengan mengaktifkan karbon atau arang tersebut.
    hanya dengan satu gram dari karbon aktif akan didapatkan suatu
    material yang mempunyai luas permukaan kira-kira sebesar 500 m2
    (didapat dari pengukuran adopsi gas nitrogen).
    biasa pengaktifan hanya bertujuan untuk memperbesar luas
    permukaanya saja, namun beberapa usaha juga berkaitan dengan
    meningkatkan kemampuan adsorbsi karbon atif itu sendiri.
    aplikasi penggunaan karbon aktif :
    1. industri obat dan makanan untuk menyaring dan penghilangan bau serta rasa.
    jenis/mesh :8×30,325
    2. Minuman keras dan ringan untuk menghilangkan bau dan warna pada minuman.
    jenis/mesh : 4×8,4×12
    3. kimia perminyakan untuk penyulingan bahan mentah.
    jenis/mesh :4×8,4×12 dan 8×30
    4. pembersih air untuk penghilangan bau,warna dan resin.
    5. budi daya udang untuk pemurnian, penghilangan ammoni,nitrit, fenol dan logam berat.
    jenis/mesh :4×8 dan 4×12
    6. Industri gula untuk penghilangan zat-zat warna,
    menyerap proses penyaringan menjadi lebih sempurna
    jenis/mesh :4×8 dan 4×12
    7. Pelarut yang digunakan kembali untuk penarikan kembali berbagai
    pelarut. jenis/mesh :4×8,4×12 dan 8×30
    8. Pemurnian gas untuk menghilangkan sulfur, gas beracun dan
    bau busuk. jenis/mesh :4×8 dan 4×12
    9. Katalisator untuk reaksi katalisator pengangkut vinyl klorida
    dan vinil asetat. jenis/mesh :4×8 dan 4×30
    10.pengolahan pupuk untuk pemurnian dan penghilangan bau.
    jenis/mesh : 8×30
    Kami perusahaan yang bergerak dalam bidang industri
    menyediakan karbon aktif dari tempurung kelapa dengan
    berbagai ukuran mesh dan arang dari tempurung kelapa siap
    melayani pembelian untuk keperluan dalam negeri atau luar
    negeri. Kami juga lagi mencari agen untuk menjadi
    distributor di daerahnya masing-masing.
    speksifikasi lengkap karbon aktif :
    1. moisture content: 0.70%
    2. Ash content: 1.02%
    3. Volatile matter: 9.18%
    4. Fixed carbon: 89.10%<
    5. apparent density: 0.4452 g/cm3
    6. iodine number: 1040 mg/g
    7. hardness: 98.77%
    8. pH 10 at 27 celcius: 9.58
    bila serius bisa kontak via telp 08195629168

  18. arang aktif ini ada hubungannya dengan pembuatan briket..bisa g,anda menjelaskan gimana cara pembuatan briket setelah dilakukan penggarangan.saya ingin melakukan penelitian tentang variasi temperatur karbonisasi briket tapi terkendala pada proses pembuatan briketnya,bisa g anda memberikan solusinya???
    thank bgt bantuanya

  19. Dear, Sri.

    Mungkin ini sedikit membantu untuk menjawab pertanyaan saudara.

    Cara Pembuatan Briket Arang :

    1. Peralatan

    a.. Ayakan ukuran lolos 50 mesh dan 70 mesh
    b.. Cetakan briket
    c.. Oven.
    2. Bahan

    – Serbuk gergaji

    – Tempurang kelapa

    – Lem kanji

    Proses pembuatan media tumbuh jamur adalah sebagai berikut :

    – Pengarangan

    Serbuk gergaji dan tempurung kelapa dibuat arang dengan pengarangan manual (dibakar).

    – Pengayakan

    Pengayakan maksud untuk menghasilkan arang serbuk gergajian dan tempurung kelapa yang lembut dan halus. Arang serbuk gergaji diayak dengan saringan ukuran kelolosan 50 mesh dan arang tempurung kelapa dengan ukuran 70 mesh.

    – Pencampuran media

    Arang serbuk gergaji dan tempurung kelapa yang telah disaring selanjutnya dicampur dengan perbandingan arang serbuk gergaji 90 % dan arang tempurung kelapa 10 %. Pada saat pencampuran ditambah dengan lem kanji sebanyak 2,5 % dari seluruh campuran arang serbuk gergaji dan tempurung kelapa.

    Pencetakan Briket Arang

    Setelah bahan-bahan tersebut dicampur secara merata, selanjutnya dimasukkan ke dalam cetakan briket dan dikempa.

    Silahkan anda explore di :
    http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/04/10/pembuatan-briket-arangdari-serbuk-gergaji/
    http://www.smkn2-kendal.sch.id/index.php/artikel-iptek.html

    Regards.
    arifin_pararaja

  20. Dear All,

    Saya suplay karbon aktif dari batok kelapa, batu bara, maupun wood (sawdust), bagi yang membutuhkan bisa menghubungi kami:

    Handik Setiawan Cv Dinamic Sejahtera
    08179826312

    Salam,
    Handik

  21. saya mau tanya, apakah arang aktif (norit) untuk penyerap warna bekas pakai bisa direaktivasi kembali sehingga bisa mengurangi limbah yang dihasilkan?
    terimakasih atas jawabannya

    =====================================================
    terimakasih atas kunjungannya
    selama ini kami juga belum tahu reaktif karbon aktif
    mungkin dengan cara pembakaran ulang atau pencucian.
    tetapi karbon aktif kan mudah mencarinya
    tinggal ganti aja mungkin lebih efesien

  22. infonya sangat berharga sekali. Kebetulan penelitian saya tentang arang aktif. Saya ingin bertanya tentang suhu dalam karbonasi arang aktif,kira2 ada tidak penelitian yang anda ketahui tentang penentuan penggunaan suhu? apakah ada penelitian tentang optimasinya? lalu, yang saya ingin tahu juga, apakah suhu yang digunakan berdasarkan klasifikasi sifat bahan yang akan dibuat arang aktif? kira-kira ada tidak literatur tentang hal tersebut? Mohon kiranya anda kirimkan ke e-mail saya.
    terima kasih banyak atas informasinya.

  23. asw…mau tanya…kl karbon aktif yg blm diaktivasi…misal temperaturny 600 drjt wktu pembakaran 1jam…nah kira2 bs gak dibakar lg utk nambahi waktu sampai jadi 3jam???makasih…

  24. Infonya sangat berguna sekali untuk saya. Saya ini bertanya untuk karbon aktif yang diaktivasi pada suhu 300-500 derajat celcius. Apakah ada pengaruh apabila terdapat campuran ion terlarut Pb dan Cd didalam suatu larutan terhadap kemampuan adsorpsi arang aktif tersebut?? Apakah akan terjadi kompetisi?? apa saja faktor yang mempengaruhi kompetisi kedua ion logam terlarut tersebut??
    terima kasih…tolong dijawab secepatnya….

  25. sy lg penelitian ttg karbon aktif,sy mau tanya knp aktivator yg sering digunakan adalah ZnCl2 sm H3PO4?knp tidak menggunakan asan nitrat atau yg lain?trmksh.pertanyaan ini sgt penting mohon dijwb

  26. saya sedang penelitian tentang filtrasi air menggunakan karbon aktif. karbon aktif ini digunakan untuk mengadsorpsi air tanah yang mengandung kadar besi 3.30 mg/L kadar mangan 0.104 mg/L dan kekeruhan 95NTU, hasil pemeriksaan menunjukkan kadar besi, mangan dan kekeruhan setelah 8 jam mengalami penurunan, tapi delapan berikutnya naik lagi. sehingga perolehan data per 8 jam terjadi loncatan naik turun, apa kemungkinan yang terjadi? berapa lama kemmampuan arang aktif ini mengadsorpsi?

  27. Aslm…Begini bapak, saya mempunyai bahan yaitu fly ash yang diameter porinya mempunyai ukuran 24A yang nantinya akan saya gunakan untuk mengadsorp bahan yang mempunyai ukuran 3A. Yang saya tanyakan bagaimana cara untuk mengecilkan diameter pori dari fly ash tersebut. mohon petunjuk..(mohon penjelasan melalui email, klo bisa secepatnya ya pak).
    Terima kasih.

  28. yth. moderator
    saya mau menanyakan berapa kilogram arang aktif yang dihasilkan dari pembakaran serbuk kayu satu truk. Apakah bapak mempunyai referensi atas jawaban tersebut.trims

  29. kalau karbon aktif untuk menangkap emas itu apa pak, dan bagaimana caranya
    atas informasinya kami ucapkan terimakasih

  30. Assalamu’alaikum, Pak saya mau tanya apa nama bahan kimianya untuk pengeras kulit udang atau bahan alami yang dapat mengeraskan kulit udang. Terima kasih atas bantuannya. Ridwan abino jawa barat.

  31. tolong kajian literatur ini di lengkapi dgn sumber pustaka / reference sehingga pembaca yakin yang ditulis adalah benar.
    trims

  32. mau nanya pak, spesifikasi yang membedakan antara arang aktif dari tempurung kelapa dengan batu bara dan biasa digunakan pada industri apa kedua jenis arang aktif tersebut. di diskusi awal bapak mengatakan ada perbedaan antara arang aktif dengan karbon aktif apa yang membedakannya.
    klw ingin mencari arang aktif dengan ukuran pori arang aktif 10 amstrong dimana saya bisa memesan. Terima kasih

  33. Permisi, saya mau tanya apa bedanya arang yang aktivasinya menggunakan bahan kimia dan aktivasi dengan cara dipanasi?, apa bedanya pengaktifan arang dengan cara destilasi kering dengan aktivasi menggunakan gas temperatur tinggi yang ditiupkan?. Saya membutuhkan untuk tugas saya.Terima kasih

  34. Permisi Pak mau nanya, bagaimana cara membuat bahan KAIN KARBON AKTIF yang dipakai untuk lapisan masker baik untuk kerja, pengedara motor dll.
    Bahan bahan kimia apa yang cocok supaya butiran serbuk karbon aktif bisa menempel di permukaan kain secara merata, mohon petunjuk lebih lanjut.
    Terima kasih Pak atas perhatiannya

    Salam
    Supriadi

  35. Apakah ada teori pendukung yang menyatakan mengenai perbandingan berat karbon aktif terhadap minyak pelumas bekas pada proses pemurnian minyak pelumas bekas,,??

  36. karbon aktif selain bisa utk obat oral utk diare, bisakah untuk obat yg digunakan scara topikal? seperti koasmetik..

  37. Jakarta, 30 November 2012

    Kepada Yth
    Bapak / Ibu

    Perihal : JASA EKSPORT/ IMPORT/ LOKAL/ DOCUMENT

    Dengan Hormat,

    Perkenalkan, kami adalah PT. TMG CIPTA SINDO SELARAS, salah satu perusahaan Forwarding di Indonesia. Kami biasa menangani container baik reefer maupun dry dari Dan keluar Indonesia.
    Kantor pusat kami Ada di Jakarta : Ruko Bintara Bisnis
    Center no.8D
    Jl. Raya Bintara
    Jakarta
    Telp : 021-888 55 488
    Fax : 021-889 66 532 / 889
    58 632
    Kantor cabang di Surabaya Dan Bitung serta agent di berbagai kota di Indonesia, diantaranya : Makassar, Ambon, Papua, Palu, Semarang, Samarinda, Balikpapan, Padang, Medan, Banjarmasin, Lampung, Dan Pontianak. Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi kantor kami atau silahkan buka web kami di : http://www.tmg-cipta.com
    Kami juga spesialis mengelola container dengan isi :

    1. Ikan, Es Krim, Buah, Dan Sayuran (Reefer Container)
    2. Arang kelapa, Arang bakau, Serat Kelapa, Batu Mangan (DG
    Cargo)
    3. Tumbuhan hidup
    4. General Cargo
    5. Coklat
    6. Transportasi Darat
    7. Custom Clearance
    8. Undername ( Furniture, Frozen, Dan General Cargo)
    9. Dokumen HC, Fumigasi, Karantina, Kedutaan, SGS, Brik, LS,
    BRIK Dan ETIK
    10. Finising proses kayu, S4S, E2E & E4E standar Sucofindo

    Untuk frozen, kami muat dari : Jakarta, Surabaya, Manado, Makassar, Banjarmasin, Pontianak Dan Semarang
    Untuk Arang, kami muat dari : Manado, Jakarta, Surabaya Medan, Pontianak, Padang, semarang Dan Lampung Dan untuk General Cargo, kami muat dari seluruh pulau di Indonesia .
    Perusahaan kami di kelola oleh orang-orang professional yang punya motivasi tinggi serta staff yang berdedikasi Dan berpengalaman di bidangnya.

    Silahkan kontak kami kapanpun, kami akan memberikan pelayanan terbaik yang kami punya. Apabila Ada pertanyaan, jangan ragu untuk menghubungi kami di 021-888 55 488 atau email ke info@tmg-cipta.com / budi@tmg-cipta.com atau budidharmawan0420@yahoo.co.id

    Hormat Saya,

    Budi Dharmawan
    Marketing
    0812-8698707/ 08174911303
    YM : budidharmawan0420@yahoo.co.id
    PIN BB : 26BBE44B

  38. I’m not that much of a online reader to be honest but
    your sites really nice, keep it up! I’ll go ahead and bookmark your website to come back in the future. Cheers

  39. Hello, I think that I visited this weblog before thus
    I am back to enjoy the great reading. I am attempting to find good info to improve
    my blog! I hope its ok to use a few of your wonderful ideas!
    You really have a talent for writing. Thanks!

  40. handoko :
    mo nanya pak…kami pake karbon aktif powder (PAC) memurnikan air gula rework….bisakah PAC yg sudah dipakai bisa di murnikan lagi ( reuse) ?
    kalo bisa dengan cara apa ya…
    terima kasih sebelumnya…

  41. kak,saya mahasiswa poltek,,mau tanya,,apa sih yg menjadi pembeda antara karbon aktif dan grafit? apakah dari cara pembuatannya ? mohon bantuannya. terimakasih

  42. selamat siang. jika saya ingin berwirausaha arang aktif, kira2 apa saja yang di butuhkan ya? maaf jika pertanyaannya seperti ini. untuk alat pembuatnya bisa kah kita buat sendiri?

  43. Pada penggunaan arang/karbon aktif untuk penyaringan air sumur, berapa lama arang/karbon aktif terserbut bisa digunakan. Apakah secara fisik bisa kita ketahui jika arang/karbon aktif tersebut masih bekerja?

    Terima kasih sebelumnya.

  44. Dalam artikel tertulis, Dalam waktu 60 jam biasanya karbon aktif tersebut manjadi jenuh dan tidak aktif lagi.

    Untuk perbedaan secara fisik mungkin tidak bisa ditentukan karena berhubungan dengan bahan arang aktif itu sendiri. Cara mengujinya masih aktif atau tidak lebih baik dilihat dari hasil saringan apakah bagus atau tidak.

    Pada umumnya karbon aktif dapat di aktifasi dengan 2 (dua) cara, yaitu dengan cara aktifasi kimia dan aktifasi fisika.
    1. Aktifasi kimia, arang hasil karbonisasi direndam dalam larutan aktifasi sebelum dipanaskan. Pada proses aktifasi kimia, arang direndam dalam larutan pengaktifasi selama 24 jam lalu ditiriskan dan dipanaskan pada suhu 600 – 9000C selama 1 – 2 jam.
    2. Aktifasi fisika, yaitu proses menggunakan gas aktifasi misalnya uap air atau CO2 yang dialirkan pada arang hasil karbonisasi. Proses ini biasanya berlangsung pada temperatur 800 – 11000C.

  45. Karbon serta grafit adalah zat terkait. Alasan utama untuk hubungan ini adalah bahwa grafit merupakan alotrop karbon. Sebuah alotrop berarti bahwa materi terbuat dari bahan murni atau elemen dengan beberapa perbedaan dalam pembentukan atom. Sementara itu, karbon merupakan unsur yang terdaftar. Ini adalah non-logam dengan nomor atom ditunjuk (6) dan simbol (“C”).
    Karbon adalah unsur paling melimpah di dunia. Ini merupakan di sebagian besar kehidupan di planet ini. Grafit adalah salah satu bentuk murni karbon itu selain dari berlian dan karbon amorf. Ini juga merupakan bahan paling lembut.
    Karbon ada dalam berbagai bentuk dengan dirinya sendiri atau dengan menggabungkan dengan unsur-unsur lain. Grafit, sebagai zat yang dibentuk, tidak dapat terbentuk dalam dirinya sendiri atau yang lainnya.
    Dalam hal penggunaan, karbon dengan mudah kalah jumlah penggunaannya dari grafit. Karbon memiliki kegunaan yang sangat besar dan penting dalam hal kedua industri dan biologi.
    Secara etimologi untuk kedua istilah juga berbeda. “Karbon” berasal dari kata Latin “carbo” yang berarti “arang,” kata benda. Di sisi lain, “grafit” berasal dari “graphein,” kata Yunani yang berarti “untuk menulis,” kata kerja.

  46. Terimakasih mas handoko, sampai sekarang kami belum menemukan literatur yang paten cara pemurnian PAC.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s