Perbedaan AAS dan Spektrofotometer

Diakses oleh arifin_pararaja@yahoo.co.id

 

Keunggulan Metoda AAS.

      Metode AAS mempunyai segi-segi yang baik sebagai berikut :

 

¨     Spesifik

 

¨     Batas (limit) deteksi yang rendah.

 

¨     Dari satu larutan yang sama, beberapa unsur yang berlainan dapat diukur.

 

¨     Pengukuran dapat langsung dilakukan terhadap laruan contoh, jadi berbeda dengan kolorimetri (yang   memerlukan pembentukan senyawa berwarna), gravimetri (dimana endapan harus dikeringkan dahulu) dan sebagainya. Jadi preparasi contoh sebelum pengukuran adalah sederhana.

 

¨     Output data (absorbance dan konsentrasi) dapat dibaca langsung.

 

¨     Cukup ekonomis.

 

¨     Dapat diaplikasikan kepada banyak jenis unsur dalam banyak jenis contoh.

 

¨     Batas kadar-kadar yang dapat ditentukan adalah amat luas (ppm hingga %).

 

Catatan :

 

       Ketentuan-ketentuan diatas berlaku untuk “Flame AAS” atau AAS yang menggunakan nyala dalam proses pengatoman. AAS yang menggunakan cara elektrotermal (GTA) dalam pengatoman mempunyai kepekaan yang jauh lebih tinggi daripada AAS yang menggunakan cara nyala.

 

Keunggukan Spektrofotometer.

 

      Per unsur yang dianalisa dipreparasi dengan cara berbeda (misalkan untuk pospor pakai pereaksi berbeda dengan untuk Fe dll. Pada AAS perbedaan preparasi hanya akan terletak pada kelompok unsure tertentu missal Ca, Mg, Na, K. Beda preparasi dengan Hg karena Hg mudah menguap, dll) ditambah lagi biaya analisa, waktu dan keakuratan hasil analisa. Apalagi yang akan dianalisa trace elemen (unsur-unsur yang kandungannya kecil di dalam sample). Dalam soal harga maka metoda dan instrumentasi AAS berada ditengah-tengah (antara yang termurah seperti spektrometer emisi dengan “automic direct reading” atau XRF dsb). Namun instrumentasi AAS dapat bertambah mahal apabila dilengkapi dengan misalnya printer, automatic sampler, penyimpanan data (dengan microprocessor) dsb. Dalam laboratorium yang biasa menganalisa unsur-unsur logam, maka metoda AAS ternyata telah banyak membantu dalam penyederhanaan prosedur dan pengurangan waktu analisa dari pada masa-masa sebelumnya.

 

B.   Macam-macam Gangguan dalam AAS.

1.   Gangguan Spektral.

     Relatif jarang dijumpai. Gangguan spektral disebabkan karena ikut masuknya radiasi non-resonans (yaitu sinar yang tidak mengalami penyerapan oleh atom unsur yang sedang diukur), ke detektor. Radiasi/sinar pengotor ini mempunyai panjang gelombang yang amat berdekatan dengan radiasi resonans. Ikut masuknya ke detektor disebabkan oleh monokromator yang terbatas “daya-pisahnya” (resolusinya). Disinilah perlunya monokromator yang baik.

 

2.   Gangguan Kimia.

 

      Reaksi-reaksi kimia yang terjadi dalam nyala (ionisasi, terbentuknya oksida, silikat, dan senyawa lainnya yang stabil ; reduksi dan sebagainya) dapat menimbulkan efek penurunan (depression, suspression) ataupun bahkan peningkatan (enchacement) dari adsorbans (A). Efek penurunan misalnya dijumpai dalam analisa Ca, Mg, Sr, dan sebagainya. Dalam contoh yang mengandung silikat, aluminat, fosfat dan sebagainya. Dimana diperoleh aborbans yang lebih rendah dibandingkan dengan bilamana penganggu-penggangu (silikat dan sebagainya.) tersebut tidak ada.

 

3.   Gangguan Fisika.

 

      Gangguan ini berasal dari sebab-sebab fisik. Misalnya pelarut yang berbeda dalam larutan standar dan contoh akan menimbulkan perbedaan ukuran partikel kabut yang dibuat dalam spray chamber. Mudah atau lambatnya porses ini akan mempengaruhi absorbans yang diperoleh. Kurva standar yang melengkung dapat disebabkan oleh gangguan ini.

 

      Kemudian perbedaan viscositas antara larutan standar dan contoh (misalnya karena contoh mengandung asam yang lebih pekat daripada standar, atau contoh mengandung lebih banyak garam terlarut dari pada standar, jenis pelarut yang tidak sama, dan sebagainya) akan mempengaruhi efisiensi nebulizer. Dengan viscositas pelarut yang rendah (misalnya pelarut organik) maka volum larutan per satuan waktu yang terhisap ke dalam nebulizer akan lebih besar. Maka akan diperoleh absorbans yang lebih besar daripada apabila air yang dipakai sebagai pelarut. Jelaslah kini betapa pentingnya persamaan antara standar dan contoh dalam banyak hal, agar kesalahan analisis dapat dihindari. Gangguan fisik jenis lainnya akan dihadapi apabila kita mengukur larutan yang kadar garamnya dan terlarutnya tinggi. Misalnya mengukur air laut, atau larutan pekat lainnya. Dalam nyala akan terjadi partikel-partikel padat yang belum menguap. Partikel ini akan menimbulkan “scatter” dimana radiasi resonans dipantulkan/dihamburkan olehnya ke segala arah. Oleh detektor, ini akan keliru diartikan sebagai penyerapan, sehingga didapatlah harga absorbans yang palsu (tinggi). Kurva kalibrasi yang tidak lewat titik nol dapat disebabkan oleh peristiwa/gangguan ini.

5 thoughts on “Perbedaan AAS dan Spektrofotometer

  1. Dear, Kadir.

    Untuk analisa Nikel (Ni) dalam air tercemar (wastewater) sama dengan air biasa (water) seperti dibawah ini :
    1. Metode Heptoxime (0.02 – 1.80 mg/L Ni)
    2. Metode PAN atau 1-(2 Pyridylazo) -2-Napthol (0.007 – 1.000 mg/L Ni)
    3. Metode Dimethylglyoxine (0.10 – 6.00 mg/L Ni)
    (Hach methodes)

    atau

    1. AAS (metode 3111B dan C)
    2. Inductively Couples Plasma (metode 3120 dan 3125)
    3. Elektrotermal AAS (metode 31113 B)
    (Standard Methodes for Examination Water and Wastewater. Eaton dkk. 2005)

    Regards.
    arifin_pararaja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s