ANALISIS DAN PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU

ALAT EVALUASI DALAM PENGAJARAN KIMIA DI SMU

  

1Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Medan, Jl. Willem Iskandar Psr. V Medan, Sumatera Utara

 

ABSTRACT

It has been executed a research with the intend to know the capability of the teacher of chemistry on SMU to compose the concept map, either at once looking to see whether provide training could improve their capability to compose concept map. The population of this study are all the teachers of chemistry for SMU of Medan city. The sample involved 40 persons with randomly sampling method. On the early of research was held  pre-test, after provide training then conducted a post-test. In order to catch the teacher opinion about concept map, for that was prepared questionare of course. The result of study showed that the capability of teachers of chemistry for SMU to compose the concept map is still lower (averagely 41,75± 11, 76 ). Provide training for teachers, actually can increase their capability to compose concept map.

 

Kata kunci:      Media peta konsep, pengajaran kimia, alat evaluasi

  

PENDAHULUAN

Perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin pesat pada akhir-akhir ini , baik dinegara kita maupun diluar negeri telah menempatkan mata pelajaran kimia menjadi salah satu mata pelajaran yang semakin penting. Berbagai  topik mata pelajaran dan penelitian kimia dengan nyata telah menunjang perkembangan era industrialisasi dan era bioteknologi yang benar-benar telah dirasakan manfaatnya dalam peningkatan mutu dan taraf hidup  manusia. Dengan demikian, pengajaran kimia diberbagai jenjang pendidikan baik ditingkat menengah maupun di perguruan tinggi sudah sewajarnya terus kembangkan di masa yang akan datang.

Dalam kurikulum Sekolah Menengah Umum (SMU), mata pelajaran kimia merupakan mata pelajaran wajib bagi siswa SMU di kelas I, II dan kelas III IPA. Secara umum mata pelajaran kimia tergolong baru bagi siswa SMU karena selama di SLTP mata pelajaran kimia belum diajarkan sebagai mata pelajaran khusus tetapi masih terintegrasi dalam mata pelajaran lainnya. Kenyataan yang sering dihadapi oleh guru di sekolah bahwa sering  menganggap pelajaran kimia merupakan suatu mata pelajaran yang sulit , sehingga tidak jarang siswa sudah terlebih dahulu merasa tidak mampu dalam mempelajarinya ( Shakashiri, 19991). Hal ini mungkin karena pengajaran kimia disajikan dalam bentuk yang kurang menarik, sehingga terkesan     “ angker “, sulit dan menakutkan. Siswa sering tidak menguasai konsep dasar kimia yang sangat penting yang berhubungan dengan mata pelajaran seperti pelajaran fisika dan biologi, sehingga mengakibatkan kesalahan fatal terhadap keberhasilan belajar siswa.

Ada beberapa hal yang diduga menyebabkan kurangnya penguasaan materi pelajaran kimia yaitu(1) siswa sering belajar dengan cara mengahafal tanpa membentuk pengertian terhadap materi yang dipelajari, (2) materi pelajaran yang diajarkan memiliki konsep mengambang, sehingga siswa tidak dapat menemukan kunci untuk mengerti materi yang dipelajari dan (3) tenaga pengajar ( guru) mungkin kurang berhasil dalam menyampaikan kunci terhadap penguasaan konsep materi pelajaran yang sedang diajarkan ( Lynch, 1980, Nakhleh, 1992).

Pada dasarnya untuk mengembangkan penguasaan konsep yang baik dibutuhkan komitmen siswa dalam memilih” belajar “ sebagai suatu yang “ bermakna” , lebih dari hanaya menghafal, yaitu memebutuhkan kemauan siswa mencari hubungan konseptual antara pengetahuan yang dimiliki dengan yang sedang dipelajari di dalam kelas.

Salah satu cara yang dapat mendorong siswa untuk belajar secara “ bermakna” adalah dengan penggunaan “ peta konsep “, baik sebagai media maupun sebagai alat evaluasi. Peta konsep merupakan media pendidikan yang dapat menunjukkan konsep ilmu secara sistematis, yaitu dibentuk mulai dari inti permasalahan sampai pada bagian pendukung yang mempunyai hubungan satu sama lain, sehingga dapat membentuk pengetahuan dan mempermudah pemahaman suatu topik pelajaran (Pandley,1994).

Peta konsep dalam pendidikan sudak dikenal sejak tahun 1977 yaitu untuk pengajaran sistematik dalam pengajaran biologi ( Novak, 1977). Dalam pendidikan, peta konsep dapat digunakan untuk (1) menolong guru mengetahui konsep-konsep yang dimiliki para siswa agar belajar “ bermakna” dapat berlangsung (2) untuk mengetahui penguasaan konsep- konsep siswa dan (3 ) untuk menolong para siswa belajar bermakna ( Dahar, 1988). Penggunaan media peta konsep dalam pengajaran kimia, telah dijelaskan oleh Pandley ( 1994 ), untuk pokok bahasan kromatografi. Dari hasil penelitiannya diperoleh kesimpulan bahwa peta konsep dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah tentang kromatografi. Dalam melakukan kegiatan ( praktikum) dilaboratorium, peta konsep merupakan  suatu alat yang sangat efektif digunakan untuk (1) mengurangi kebingungan  dalam mengurangi kegiatan, (2) meningkatkan pengetahuan siswa terhadap prosedur yang digunakan dilaboratorium, (3) meningkatkan pengintegrasian hasil-hasil pengamatan di laboratorium dengan konsep- konsep pengetahuan yang dimiliki  setiap siswa ( Stensvold, 1992). Selanjutnya Regis ( 1996 ) mengemukakan bahwa peta konsep sangat bermanfaat bagi guru karena dapat memberikan informasi tentang apa yang telah diketahui oleh siswa, konsep apa yang telah dimiliki oleh siswa sebelumnya dan bagaimana siswa menghubungkannya  dengan konsep –konsep lainnya. Disamping itu, peta konsep dapat membantu guru untuk melihat bagaimana pengaruh pengajaran terhadap struktur kognitif siswa.

Untuk mengukur sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi pelajaran maka dibutuhkan alat evaluasi. Menurut Nakhleh ( 1994), peta konsep juga dapat digunakan sebagai alat evaluasi yang dimasudkan untuk mengetahui pemahaman siswa dalam mengintegrasikan konsep-konsep yang telah dipelajari. Selanjutnya siswa dapat “ melihat “ bidang studi itu lebih jelas dan mempelajari bidang studi itu lebih bermakna.

Pada kenyataanya, banyak guru yang masih menggunakan metode  pengajaran dan sistem evaluasi yang tidak mendorong siswa untuk belajar “ bermakna “, sehingga siswa belajar secara hafalan ( Novak, 1985). Selanjutnya, walaupun peta konsep telah terbukti baik digunakan  dalam pengajaran kimia dalam rangka mendorong siswa untuk belajar secara bermakna dan ternyata mampu meningkatakan  prestasi belajarnya tetapi kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa peta konsep masih sangat sedikit digunakan oleh guru- guru kimia SMU baik sebagai media maupun alat evaluasi. Dari hasil pre survey( wawancara) yang dilakukan peneliti terhadap 10 orang guru kimia SMU diperoleh kesimpulan bahwa fakor penyebab sedikitnya guru kimia SMU yang menggunakan peta konsep dalam pengajaran nya adalah karena rendahnya tingkat kemampuan guru- guru kimia SMU dalam penyusunan dan menggunakan peta konsep materi pengajaran. Lebih memprihatinkan 2 ( dua) orang guru dari sample tersebut menyatakan bahwa mereka  belum pernah memperoleh pengetahuan  mengenai penyusunan dan penggunaan peta konsep sebagai media dan alat evaluasi dalam pengajaran kimia.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka dilakukan suatu penelitian yang dapat mengungkapkan bagaimana sebenarnya tingkat kemamapuan guru- guru kimia SMU dalam menyusun  peta konsep, apa saja kesulitan yang dihadapi dalam menggunakan peta konsep , sekaligus ingin mengetahui apakah pemberian  pelatihan secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun peta konsep baik sebagai media maupun sebagai alat evaluasi.

Untuk memperjelas arah dan ruang lingkup masalah dalam penelitian ini maka dilakukan pembatasan yaitu bahwa media/ alat evaluasi bentuk peta konsep yang akan disusun  adalah untuk pengajaran kimia di kelas I SMU.

 

METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah semua guru-guru kimia SMU Kotamadya Medan. Sampel diambil 40 orang dengan tehnik random.

 

Instrumen Penelitian

Dalam penelitian  ini digunakan dua jenis instrumen yaitu tes bentuk peta konsep dan angket. Tes bentuk peta konsep digunakan untuk mengukur kemampuan guru dalam menyusun peta konsep baik pada awal ( pre-test ) dan akhir penelitian (post- test). Tes bentuk peta konsep ini terdiri dari 2 (dua) jenis yaitu ( 1) telah didesain oleh peneliti dalam bentuk “ net work “ tree lalu dilengkapi oleh peserta tes ( guru kimia), (2) peta konsep disusun sendiri oleh peserta berdasarkan konsep-konsep materi pengajaran kimia yang telah dimilikinya. Peta konsep yang akan disusun oleh sampel disesuaikan dengan materi pelajaran kimia kelas I SMU . Untuk menjaring pendapat guru-guru tentang penggunaan peta konsep serta kesulitan yang dihadapi dalam penerapannya, digunakan  instrumen angket.

 

Tehnik Pengumpulan Data

Sebelum pelaksanaan pelatihan, terhadap sample dilakukan pre –test untuk mengukur kemampuan awal guru- guru dalam menyusun peta konsep. Selanjutnya, kepada guru-guru diberi pelatihan singkat tentang : (1) pentingnya media peta konsep digunakan sebagai media maupun alat evaluasi dalam penagajaran kimia, dan (2) Tehnik atau cara menyusun peta konsep . Materi pelatihan ini dituang dalam makalah yang disusun oleh peneliti. Pada akhir kegiatan dilakukan post-test untuk melihat apakah ada peningkatan kemampuan guru dalam menyusun peta konsep setelah diberi pelatihan . Penilaian terhadap peta konsep yang disusun sample dilakukan dengan memperhatikan kriteria: (1) kesahihan preposisi, (2) adanya hirarki, (3) adanya kaitan silang dan (4) adanya contoh-contoh ( Novak,1985).

 

Tehnik Analisis data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini  berupa nilai tes kemampuan guru menyusun peta konsep pada awal dan akhir penelitian, ditabulasi kemudian dianalisis dengan uji –t. Pengujian hipotesis dilakukan pada taraf signifikansi           = 0,05. Data angket dianalisis dengan persentase.Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode praktikum yaitu dengan cara melakukan kegiatan pengajaran yang berbeda yaitu metode praktikum sebagai kelas eskperimen dan metode ceramah sebagai kontrol pembanding. Siswa diajarkan materi pelajaran yang sama yaitu gugus fungsional dalam jangka waktu pelajaran yang dianggap sama. Penentuan dan pengelompokan sampel dilakukan mengikuti prosedur yang dilakukan oleh Situmorang dkk (2001) dan Situmorang, dkk. (2004). 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.Kemampuan Guru Pada Awal Penelitian

Dari hasil pre-tes yang dilakukan , diperoleh rata-rata nilai kemampuan guru dalam meyusun peta konsep pengajaran kimia adalah 41,35± 11,76 ( Tabel 1) . Dari hasil uji statistic, dengan menggunakan nilai 60 sebagai batas nilai kategori kurang, diperoleh t hitung = – 9,82 sedangkan t-tabel= -2,021 karena t- hitung < t –tabel, maka hipotesis I ditolak yang berarti bahwa kemampuan guru-guru kimia SMU dalam menyusun  peta konsep masih rendah. Hal ini didukung oleh hasil angket yang menunjukkan bahwa 80% guru-guru kimia SMU menyatakan bahwa mereka tidak menggunakan media peta konsep dalam pengajaran kimia karena penyusunannya sulit, bahkan 7,5% respoden menyatakan sangat sulit..


 

 

Tabel 1: Data Jumlah , Rata-rata dan Simpangan Baku Nilai Kemampuan Guru Dalam Menyusun Peta Konsep Pengajaran Kimia Pada Awal ( Pre –tes) dan Akhir Penelitian (Post-tes).Penguasaan siswa terhadap gugus fungsional berdasarkan hasil evaluasi pendahuluan. Angka dalam tabel adalah rata-rata dan standart deviasi.

Data

Nilai Pre-tes

(Sebelum Pelatihan)

Nilai Post-Tes

( Setelah Pelatihan )

Ket

Jumlah Nilai(∑X)

1654

2875

n=40

Rata-rata (X)

         41,35

           71,875

 

SimpanganBaku (S)

         11,76

          12,48

 

 

 


 

2.Pengaruh Pelatihan Terhadap Kemampuan Guru

Dari hasil post-tes yang dilakukan setelah pemberian pelatihan kepada guru-guru kimia SMU, maka diperoleh data bahwa terdapat peningkatan kemampuan guru yang cukup signifikan dalam menyusun peta konsep. Nilai rata-rata yang diperoleh setelah pelatihan adalah 71,875± 12,48. Dari hasil uji statistic ( Uji-t) diperoleh t- hitung= 22,46 dan t-table =2,2021, Karena t-hitung > t- tabel maka hipotesis II ditolak. Dengan demikian diperoleh kesimpulan bahwa pemberian pelatihan tentang tehnik penyusunan media dan alat evaluasi bentuk peta konsep dapat meningkatkan kemampuan guru kimia SMU dalam menyusun peta konsep. Hal ini sesuai dengan pendapat guru-guru kimia SMU dimana 57,5% responden menyatakan bahwa pelatihan tentang penyusunan media peta konsep bagi guru-guru dapat meningkatkan kemampuannya dalam menyusun peta konsep, hanya 5 % menyatakan bahwa pelatihan tidak dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun peta konsep.

 

3.Peta Angket

Dari angket diperoleh beberapa informasi bahwa pada dasarnya hampir seluruhnya guru sependapat ( 10 % sangat setuju dan 85 % setuju) bahwa peta konsep sangat bermanfaat digunakan sebagai media dalam pengajaran kimia, 72,5% guru kimia menyatakan sangat baik digunakan sebagai alat evaluasi. Namun demikian guru-guru mengakui bahwa walaupun peta konsep sangat bermanfaat  bagi siswa maupun guru, tetapi peta konsep belum digunakan secara kontinu dalam pengajaran. Beberapa fakor penyebab guru-guru tidak menggunakan peta konsep dalam pengajaran kimia adalah karena penyusunannya sulit, membutuhkan tambahan biaya dan menyita waktu cukup banyak. Ketika ditanyakan tentang perlunya pelatihan tentang penyusunan peta konsep bagi guru-guru kimia , 62,5% responden menyatakan setuju dan 37,5 % sangat sejutu. Dengan demikian pelatihan tentang penyusunan media dan alat evaluasi bentuk peta konsep masih perlu dilakukan pada masa yang akan datang,karena terbukti dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun peta konsep.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

Dari hasil penelitian ini dapat ditaril kesimpulan sebagai berikut:

1.     Kemampuan guru-guru kimia SMU dalam menyusun peta konsep masih rendah.

2.     Pemberian pelatihan tentang tehnik penyusunan media dan alat evaluasi bentuk peta konsep dapat meningkatkan kemampuan guru kimia SMU dalam menyusun peta konsep.

3.     Beberapa faktor penyebab guru-guru tidak menggunakan peta konsep dalam pengajaran kimia adalah karena penyusunannya sulit, membutuhkan biaya dan menyita waktu cukup banyak.

Pelatihan tentang penyusunan media dan alat evaluasi bentuk peta konsep masih perlu dilakukan pada masa yang akan datang,  karena terbukti dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun peta konsep.

Ucapan terimakasih disampaikan kepada Pimpinan Proyek Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia, Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi-Depdiknas, yang telah memberikan bantuan dana untuk pelaksanaan penelitian ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dahar,R. W.(1988) Teori-Teori Belajar, Depdikbud. Proyek Pengembangan LPTK,   Jakarta

 

Lynch,P. P. and M. Waters (1990). Experiment of new chemistry student concerning chemistry courses, Chemistry in Australia 47: 238-242

 

Nakhleh, MB. (1994). Chemical education research in the laboratory environment: How can research uncover what student are learning. J of chemistry Education 71: 201-105

 

Nakhleh, MB. (1992). Why some student Don’t Learn Chemistry; Chemical Misconceptions. J.of Chemical Education, 69: 196-199

 

Novak, J. D. ( 1997). New trends in biology Teaching. Science Education, 61: 453-477

 

Novak, J.D.,and D.B. Growin. (1985). Learning How to Learn. Cambridge University Press, Canbidge

 

Pandley, J. BD.,R.L. Bretz and J. D Novak. (1994). Concept maps as tool to asses learning in chemistry, J. of Chemical Education 71:9-15

 

Shakkashiri, B.Z. (1991), Chemical Demonstration A. hand Book for Teacher of Chemistri, The University of Winconsin press

 

Stensvolds, M and J. T Wilson. (1992). Using Concept Maps as tool apply Chemistry Concept to laboratory Activities. J of Chemical Education 69: 230-2

================================================================================
Diakses oleh : arifin_pararaja@yahoo.co.id  dari J.Pend. Mat. & Sains, Vol. 1 No:3 (September 2006).

3 thoughts on “ANALISIS DAN PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s