Pemanasan Global dan Respon Indonesia

Pemanasan global adalah nyata adanya dan sedang terjadi saat ini. Menjadi salah satu negara yang akan terkena dampak pemanasan global, Indonesia didesak untuk bergerak bersama-sama untuk menanggulangi bahaya dari dampak tersebut. Tahun ini IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) atau panel ilmiah tentang perubahan iklim mengeluarkan laporan dari tiga kelompok kerja. Laporan tersebut secara jelas melaporkan “tidak ada keraguan akan masalah perubahan iklim; memastikan bukti-bukti dari perubahan iklim dengan yakin; skala dan percepatan dari dampaknya terhadap kehidupan manusia dan ekosistem akan sangat tinggi; menghindari perubahan iklim ekstrem dapat dilakukan dengan bantuan teknologi dan ekonomi namun waktu untuk bertindak tidak banyak”

Dengan menggunakan model dari IPCC, Indonesia akan mengalami kenaikan dari temperatur rata-rata dari 0.1 sampai 0.3ºC per dekade. Kenaikan suhu ini akan berdampak pada iklim yang mempengaruhi manusia dan lingkungan sekitarnya, seperti kenaikan permukaan air laut dan kenaikan intensitas dan frekuensi dari hujan, badai tropis, serta kekeringan.

Dari kenaikan permukaan air laut dari 8-30 cm, sebagai negara kepulauan, 2000 pulau-pulau Indonesia diramalkan akan tenggelam atau hilang. Kehilangan pulau-pulau tersebut merupakan ancaman dari batas dan keamanan negara. Seperti yang dilaporkan oleh WGII (Working Group II-Kelompok Kerja II), kenaikan permukaan air laut akan mengakibatkan 30 juta orang yang hidup di ekosistem pantai mengungsi dan Indonesia akan mengalami kerugian yang sangat besar.

Hujan akan diprediksikan menjadi lebih sering dengan intensitas curah hujan yang tinggi. Pergeseran musim tersebut akan menjadi ancaman terbesar bagi sektor pertanian di Pulau Jawa dan Bali, penyebab turunnya 7-18% produksi beras. Perubahan pola iklim akan menambah daftar panjang ancaman bagi Indonesia, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, serta badai tropis. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Nasional Indonesia, dalam kurun waktu 2003-2005 bencana alam yang terkait dengan cuaca mencapai 1,429 kasus atau 53.3% dari total bencana alam yang terjadi di Indonesia.

Di lain pihak, ketika musim kering melanda, bangsa ini menghadapi kemungkinan kekeringan yang berkepanjangan, untuk sektor kehutanan titik api akan semakin parah. Pada bulan September 2006 sendiri tercatat 26,561 titik api yang merupakan angka tertinggi sejak Agustus 1997 ketika sepanjang tahun 1997 tersebut tercatat “hanya” 37,938 titik api.

Tantangan buat Indonesia sekarang adalah memiliki mekanisme yang responsif untuk mengatasi masalah perubahan iklim secara tepat dan efektif. Tindakan pencegahan di level nasional dan lokal perlu dilaksanakan segera bersama-sama dengan inisiatif Internasional.

Sebagai negara yang meratifikasi Konvensi Perubahan Iklim (UNFCCC)  pada tahun 1994 dan Protokol Kyoto pada tahun 2004 yang diadopsi oleh UU no 17/2004, Indonesia telah melangkah beberapa langkah dalam mengatasi masalah perubahan iklim ini.

Sebuah contoh penting adalah dibentuknya institusi nasional untuk mengatur Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB). MPB dapat mengurangi emisi negara ini sampai 23-24 ton per tahun jika difungsikan secara efektif dan fungsional (berdasarkan studi strategi nasional 2001/02 untuk menganalisis pengurangan emisi gas rumah kaca dari sektor energi dan sektor kehutanan).

Namun bagi Indonesia masih diperlukan strategi yang implementatif dan tindakan yang nyata di beberapa sektor penting, karena kenyataannya sekarang belum ada koodinasi antar sektor yang komprehensif untuk selaras dengan Konvensi Perubahan Iklim dalam mengatasi masalah tersebut.

Sebagai salah satu negara yang rentan akan perubahan iklim ekstrem, Indonesia perlu melakukan pengkajian dan pemetaan akan kerentanan dan adaptasi dari perubahan iklim agar tercipta penanganan yang efektif untuk masalah tersebut.

Berikutnya adalah kebutuhan mendesak untuk mengarusutamakan strategi adaptasi bagi strategi pembangunan dan perencanaan pembangunan di sektor lokal maupun nasional. Tanpa prencanaan ini Indonesia akan mengalami kegagalan dalam pembangunan yang diakibatkan oleh bencana lingkungan.

Di bagian mitigasi, Indonesia perlu mendesak negara-negara maju untuk memangkas emisi gas rumah kaca mereka jika masyarakat global ingin tetap berada di bawah kenaikan 2ºC, di mana Bumi masih akan mampu beradaptasi dari kenaikan temperatur tersebut.

Kelompok Kerja III dari IPCC menyatakan bahwa PDB (Pendapatan Domestik Bruto) akan dipotong 0.12% agar level CO2 dunia dapat bertahan di bawah level paling rendah sampai tahun 2030 sedangkan diperkirakan total keseluruhannya sekitar 3% sampai tahun yang sama. Dalam reviewnya, Sir Nicholas Stern mengingatkan kembali bahwa dunia akan mengeluarkan 5-20% dari PDB-nya dan bahkan lebih besar ketika tidak ada tindakan yang dilakukan dari sekarang untuk mencegah perubahan iklim ekstrim.

Untuk Indonesia, ‘sumbangsih’ emisi gas rumah kaca dalam negri semakin besar, terutama emisi dari sektor deforestasi termasuk konversi lahan gambut dan hutan serta kebakaran hutan jika semuanya dimasukkan hitungan. Oleh karena itu beberapa organisasi di Indonesia meyakini bahwa kita adalah penyumbang emisi gas rumah kaca ketiga terbesar di dunia.

Indonesia memiliki kesempatan baik untuk membawa posisi yang kuat bagi mekanisme insentif REDD dengan
menciptakan pengukuran dan kebijakan untuk mengurangi dan memonitor laju deforestasi. Indonesia juga perlu mendesak negosiasi dengan kelompok-kelompok negara lain agar mendapatkan dukungan di sisi REDD.

Jika langkah-langkah adaptasi dan pengurangan emisi dari sektor kehutanan dapat dipersiapakan dan
diimplementasikan dengan serius maka dapat menjadi sinyal positif bagi masyarakat bahwa Bangsa Indonesia siap menghadapi kemungkinan terburuk dari perubahan iklim.
* Fitrian Ardiansyah (Program Director of Climate & Energy, WWF-Indonesia)

4 thoughts on “Pemanasan Global dan Respon Indonesia

  1. nih tambahan. (alkhamduli4JJI juara I lomba karya tulis ilmiah kampus bab “global warming”, sekarang lagi nyusun buat ke tingkat wilayah)
    ——————– chapter.III (PEMBAHASAN)..

    Langkah – langkah yang dilakukan atau yang sedang didiskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan mengingat konsumsi total bahan bakar fosil didunia meningkat sebesar 1 persen per – tahun. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah – langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan. Kerusakan yang parah dapat diatasi dengan berbagai cara. Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca (GRK) yang memicu terjadinya pemanasan global, yaitu penghilangan karbon (carbon sequestration) dan penghilangan gas rumah kaca (greenhouse gas elimination).
    III.1 MENGHILANGKAN KARBON.
    Untuk mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfir dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbonnya di tempat lain. Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida (carbon sequestration) di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya dapat menyerap karbondioksida yang sangat banyak dengan cara memecahnya melalui fotosintesis kemudian menyimpan karbon dalam kayunya.
    Gas karbon dioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur – sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan (Enhanced Oil Recovery). Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini dibawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batu bara atau aquifer.
    Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, di mana karbon dioksida yang terbawa ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga tidak dalam kembali ke permukaan.
    Penggunaan energi gas sebagai sumber energi alternatif bahan bakar fosil sebagai hasil kebijakan pemerintah mengenai konversi minyak ke gas juga sangat efektif dalam mengurangi akumulasi karbon. Perubahan trend penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak langsung telah mengurangi jumlah karbondioksida yang dilepas ke udara, karena gas melepaskan karbondioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak apalagi bila dibandingkan dengan batubara.
    Walaupun demikian, penggunaan energi terbaharui dan energi nuklir lebih mengurangi pelepasan karbondioksida ke udara. Energi nuklir, meskipun kontroversial karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya, ia tidak melepas karbondioksida sama sekali sehingga dapat dikatakan ramah lingkungan.
    III.2 MENGHILANGKAN EMISI GAS RUMAH KACA.
    Menurut IPCC dalam laporannya yang berjudul “Mitigation of Climate Change”, emisi GRK telah meningkat sebesar 70% antara tahun 1970 hingga 2004. Dalam periode tersebut karbon dioksida hasil penggunaan bahan bakar fosil selalu menjadi GRK yang paling berpengaruh terhadap pemanasan global.
    Laporan ini memuat beberapa skenario penurunan emisi GRK hingga tahun 2030. Pada skenario terbaik diproyeksikan terjadi kenaikan suhu rata – rata global sebesar 2 – 2,4 oC. Hal ini dapat dicapai dengan menstabilkan konsentrasi GRK pada kisaran 445 – 490 ppm atau pada kisaran 590 – 710 ppm dengan kenaikan 3,2 – 4 oC. Stabilisasi ini akan mengurangi 0,2 – 3 % dari rata – rata GDP (gas dalam persen) global. Meskipun emisi GRK saat ini terus meningkat, IPCC melihat banyak peluang untuk menguranginya. Salah satu caranya yaitu melalui gaya hidup dan pola konsumsi.
    IPCC juga memberikan rekomendasi kebijakan instrumen yang dinilai efektif menurunkan emisi GRK. Rekomendasi dibagi kedalam sektor energi, transportasi, gedung, industri, pertanian, kehutanan, dan manajemen limbah.
    Usaha – usaha penurunan emisi GRK ini di berbagai sektor yang dinilai efektif oleh IPCC adalah :
    • Sektor energi :
    1. Mengurangi subsidi bahan bakar fosil.
    2. Pajak karbon untuk bahan bakar fosil.
    3. Penetapan harga listrik dari energi terbarukan.
    4. Kewajiban menggunakan energi terbarukan.
    5. Subsidi bagi produsen.
    • Sektor transportasi :
    1. Kewajiban ekonomi bahan bakar, penggunaan biofuel, dan standar CO2 untuk alat transportasi jalan raya.
    2. Pajak untuk pembelian kendaraan, STNK, bahan bakar, serta tarif penggunaan jalan dan parkir.
    3. Merancang kebutuhan transportasi melalui regulasi penggunaan lahan serta perencanaan infrastruktur.
    4. Melakukan investasi pada fasilitas angkutan umum dan transportasi tak bermotor.
    • Sektor gedung :
    1. Menerapkan standar dan pemberian label pada berbagai peralatan.
    2. Sertifikasi dan regulasi gedung.
    3. Program – program demand-side management .
    4. Percontohan oleh kalangan pemerintah, termasuk pengadaan insentif untuk energy services company.
    • Sektor industri :
    1. Pembuatan standar – standar kinerja.
    2. Subsidi pajak untuk kredit.
    3. Izin yang dapat diperjualbelikan.
    4. Perjanjian sukarela.
    • Sektor pertanian :
    1. Insentif finansial serta regulasi – regulasi untuk memperbaiki manajemen lahan, mempertahankan kandungan karbon didalam tanah, penggunaan pupuk dan irigasi yang efisien.
    • Sektor kehutanan :
    1. Insentif finansial (nasional dan internasional) untuk memperluas area hutan, mengurangi deforestasi, mempertahankan hutan, serta manajemen hutan.
    2. Regulasi pemanfaatan lahan serta penegakan regulasi tersebut.
    • Sektor manajemen limbah :
    1. Insentif finansial untuk manajemen sampah dan limbah cair yang lebih baik.
    2. Insentif atau kewajiban menggunakan energi terbarukan.
    3. Regulasi manajemen limbah.
    Saat ini beberapa kebijakan di Indonesia sudah sejalan dengan rekomendasi IPCC, antara lain target energi terbarukan dalam Kebijakan Energi Nasional, dimulainya penggunaan biofuel serta usaha penyediaan transportasi publik tentunya usaha – usaha mitigasi atau uasaha – usaha dalam mengurangi dan membatasi emisi gas rumah kaca harus sejalan dengan rencana pembangunan nasional, tinggal pengawasannya yang perlu ditingkatkan.
    III.3 KERJASAMA INTERNASIONAL.
    Kerjasama internasional diperlukan untuk mensukseskan pengurangan – pengurangan gas – gasa rumah kaca. Di tahun 1992, pada Earth Summit (Pertemuan Bumi) di Rio de Jeneiro, Brazil, 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk menerjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada tahun 1997 di Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan Protokol Kyoto sebagai adopsi dari hasil pertemuan bumi di Rio de Jeneiro.
    Protokol Kyoto adalah sebuah amandeman terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Negara – negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi dan pengeluaran karbon dioksida serta lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas – gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global. Jika sukses diberlakukan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi rata – rata cuaca global antara 0,02 oC dan 0,28 oC pada tahun 2050.
    Nama resmi persetujuan ini adalah “Kyoto Protocol to the United Nation Framework Convention on Climate Change” (Protokol Kyoto mengenai Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim). Menurut rilis pers dari Program Lingkungan PBB, Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan sah dimana negara – negara perindustrian akan mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2% dibandingkan dengan tahun 1990 (namun yang perlu diperhatikan adalah, jika dibandingkan dengan perkiraan jumlah emisi pada tahun 2010 tanpa Protokol, target ini berarti pengurangan sebesar 29%. Tujuannya adalah untuk mengurangi rata – rata emisi dari enam gas rumah kaca, yaitu karbon dioksida, metana, oksida nitrogen, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC yang dihitung sebagai rata-rata selama masa lima tahun antara 2008 – 2012. Target nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia.
    Walaupun perjanjian ini masih pro dan kontra karena banyak ditentang terutama negara industri maju seperti Amerika Serikat, namun dengan ratifikasi dari berbagai negara terutama yang dimotori oleh Rusia akan sedikit mengurangi pengaruh emisi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global.
    Indonesia patut belajar dari China. Untuk melaksanakan komitmen mengurangi emisi gas rumah kaca, China akan mengembangkan riset dan tekhnologi penyimpanan energi. Diantara kebijakan kunci tersebut, China berjanji mendorong efisiensi energinya sebesar 20% pada 2010. Jumlah energi yang dapat diperbaharui di China sebagai sumber energi campuran akan meningkat dari 7% sekarang menjadi 10% pada 2010. Selain itu, China hendak membangun infrastruktur pertanian, meningkatkan penanaman pohon, manajemen sumber daya air, dan meningkatkan penghargaan publik atas berbagai masalah tersebut. Diduga China juga akan mengundang investor untuk menjalankan proyek pengurangan emisi gas tersebut.
    Jika seluruh komitmen itu dijalankan, gas rumah kaca akan berkurang secara perlahan tapi tidak akan mengurangi jumlahnya secara drastis. Namun China tetap menegaskan bahwa tanggung jawab utama dipegang oleh negara – negara kaya.
    Meninjau akan uraian diatas, maka dapat disederhanakan dengan melakukan tindakan – tindakan yang mampu mengurangi emisi gas runah kaca sebagai pemicu pemanasan global yang sebenarnya hal – hal ini sudah ada di sekitar kita. Secara sederhana tindakan yang bisa dilakukan adalah :
    a. Pengembangan etika hemat energi dan ramah lingkungan.
    Budaya penghematan energi terutama yang terkait dengan energi yang dihasilkan dari bahan fosil (BBM) harus benar – benar dilaksanakan dengan penuh kesadaran. Dalam bidang transportasi misalnya pemakaian kendaraan bermotor yang boros bahan bakar hendaknya semakin dikurangi yang juga dibarengi dengan upaya perancangan peraturan secara ketat untuk mengurangi pencemaran udara dalam berbagai bentuk.
    Upaya penghematan pemakaian listrik konsumsi rumah tangga perlu terus diupayakan terutama bila pembangkit listriknya mempergunakan bahan bakar diesel atau batu bara. Sebagai konsumen kita harus kritis melakukan penolakan untuk mempergunakan barang konsumsi dan peralatan yang masih menggunakan CFC dalam produknya karena saat kita memakaianya tak ubahnya kita menyediakan tali untuk menjerat leher kita sendiri di masa mendatang. Bahan CFC banyak dijumpai pada peralatan pendingin (kulkas, AC) serta tabung penyemprot parfum.
    b. Subtitusi bahan bakar.
    Penggunaan gas alam dalam aktifitas rumah tangga maupun industri ternyata berperan cukup nyata dalam mengurangi tingkat emisi gas rumah kaca. Gas alam menghasilkan CO2 ternyata 40% lebih rendah dibanding batu bara dan 25% lebih rendah dari minyak bumi sehingga dengan menukar sumber bahan bakar, kita bisa mengurangi tingkat emisi gas CO2.
    c. Pelestarian hutan dan reboisasi.
    Keberadaan hutan ternyata berfungsi luar biasa dalam menyerap gas CO2 sehingga dapat memperhambat penimbunan gas – gas rumah kaca. Penelitian menunjukkan bahwa untuk menyerap 10% emisi CO2 yang ada di atmosfer saat ini diperlukan upaya penanaman setidaknya pada areal seluas negara Turki. Seandainya saja setiap jiwa di Papua menanam satu batang pohon maka setidaknya ada sekitar 2.000 hektar hutan baru yang akan mampu menyerap sekitar 200.000 ton karbon. Suatu jumlah yang cukup berarti bagi upaya pelestarian bumi. Perlu komitmen secara global untuk mengurangi kerusakan hutan maupun kebakaran hutan dan menggiatkan upaya reboisasi pada lahan kosong.
    ======================== chapter.IV (KESIMPULAN)
    Masalah pemanasan global, perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, harus menjadi isu bersama yang bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja namun juga masyarakat. Selain itu diperlukan upaya mendorong menyepakati dan melaksanakan kesepakatan dan persetujuan internasional tentang pengurangan pemanasan global, atau perlu dibentuk instrumen/ perjanjian baru yang disepakati dan dipatuhi oleh semua negara.
    Selama 100 tahun terakhir, rata – rata suhu bumi telah meningkat sebesar 0,6 oC, dan diperkirakan akan meningkat sebesar 1,4 oC sampai 5,8 oC pada 2050. Kenaikan suhu ini, akan mengakibatkan mencairnya es di kutub, menaikkan suhu lautan hingga volume dan muka air laut meningkat. Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil terutama batu bara, minyak bumi, dan gas alam yang melepas karbon dioksida (CO2) dan gas – gas lainnya yang disebut sebagai gas rumah kaca ke atmosfer bumi. Akibat langsung dari adanya pemanasan global itu seperti, perubahan cuaca dan iklim global, sistem pertanian dan persediaan bahan makanan, migrasi hewan dan penurunan jumlah spesies hewan dan tumbuhan. Selanjutnya, krisis sumber daya air yang mempunyai potensi untuk terjadinya konflik antar sektor dan antar pengguna. Dampak lainnya terhadap kesehatan manusia dengan munculnya berbagai penyakit hewan dan manusia.
    Pengendalian yang dapat dilakukan terhadap pemanasan global itu, antara lain mengurangi produksi gas CO2 dengan mengurangi pemanfaatan bahan bakar fosil dan produksi gas rumah kaca. Kemudian, menekan atau menghentikan pengundulan hutan, serta penghutanan kembali secara besar – besaran untuk menciptakan wilayah serapan gas CO2, serta mengalokasi gas CO2 atau dengan menangkap dan menyuntikannya ke dalam sumur – sumur minyak bumi unuk mendorong minyak bumi ke permukaan. Teknologi sudah bisa digunakan untuk mengganti bahan bakar fosil dengan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan terbarukan.
    Sebenarnya masih banyak langkah – langkah antisipatif yang dapat dilakukan terutama dalam tataran kebijakan nasional (policy) dalam rangka mencegah pemanasan global, namun semuanya berpulang kembali kepada kesadaran kita semua selaku individu. Kinilah saatnya berpartisipasi secara aktif bagi bumi yang telah memberikan kehidupan bagi kita. Bumi ini hanya satu marilah kita menjaganya dan tidak mengotorinya karena hal itu hanya akan mendatangkan bencana bagi semua penghuninya termasuk anak cucu kita. Mari kita wariskan bumi yang bersih dan sehat bagi generasi mendatang
    ============================================

    regard..
    office : http://www.tkcmindonesia.com
    college : http://www.unistangerang.ac.id

  2. PERLINDUNGAN HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL. !!!!!

    tak ada yang lucu..!!!! emang ekstravagansa….

    sudah syukur skimater dapat ilmu… belum ada “inspirasi” n “wangsit” tuk bagi – bagi info ke bloger lain. “limit edition”.

    selebihnya….no comment.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s