BETAPA SULITNYA IKUT MEMBANGUN GENERASI DI NEGERI SENDIRI


Moral generasi di negeri ini, kini telah dan kian memprihatinkan. Pendidikan budipekerti di sekolah-sekolah, nyaris tidak pernah berjalan dan diajarkan oleh para gurunya, karena guru jaman sekarang telah cenderung ‘bersikap menunggu perintah atasan’, lazimnya pegawai atau karyawan pada umumnya dan bukan sebagai pengabdi, sebagaimana semboyan profesi mereka sebagai guru yang semestinya. Venomena sikap dan loyalitas mereka para guru yang kian ‘masa bodoh’ terhadap profesi dan kewajibannya itulah, maka tidak menutup kemungkinan, kelak para anak didiknya tidak akan pernah lagi mengenal nilai dan memiliki budipekerti yang baik, seperti harapan kita semua.

Ampuhnya media televisi membius anak-anak kita telah benar-benar terbukti. Beberapa judul dan jalan cerita sinetron yang mendominasi tayangan di beberapa stasiun televisi itu, ternyata pula telah menjadikan karakter anak-anak kita berubah ‘menjadi anak manusia Indonesia setengah asing’ yang tidak lagi mengenal tatakrama dan kultur budaya negerinya sendiri. Gaya bicara dan penampilan mereka pun telah nyaris sama, meniru gaya para artis idolanya yang hampir setiap waktu muncul di layar televisi, karena umumnya anak-anak belum mampu membedakan antara peran protagonis maupun antagonis. Celakanya, justru yang menurutnya menarik, tak peduli itu peran antagonis atau protagonis, yang penting mampu menarik perhatian mereka, sehingga itulah yang kemudian ditirunya.

Berangkat dari kenyataan akan semakin kurangnya penanaman nilai moral dan budipekerti bagi generasi, khususnya bagi anak-anak usia sekolah, maka menjadi perlu dilakukan perbaikan kurikulum yang lebih menekankan pentingnya pendidikan budipekerti di sekolah-sekolah tingkat Sekolah Dasar, Madrasah (MI) hingga Sekolah Menengah Pertama atau Madrawah (MTs) serta di beberapa lembaga pendidikan formal mapun non formal lainnya, melalui mata pelajaran ‘Akhlak atau Budipekerti’ yang harus diprogram secara khusus pula. Namun pun demikian, semuanya terpulang pada aparat pemegang kebijakan, mengingat para pemegang kebijakan di negeri ini umumnya masih cenderung suka menutup pintu matahatinya rapat-rapat, sebelum semuanya menjadi parah.

Sulitnya untuk “ikut membangun moral dan budipekerti bagi para generasi masa depan di negeri ini”, ternyata memang benar-benar sulit dan tak sedikit pun ada celah untuk diterobos. Itu semua terbukti dari segala upaya kami, sebagai komite dan kepala sekolah yang telah berkali-kali mengajukan gagasan cerita/scenario sinetron pendidikan budipekerti ke beberapa instansi baik pemerintah maupun swasta yang hingga saat ini tidak pernah ada jawaban baik secara lisan maupun tertulis. Dari itulah maka dapat disimpulkan bahwa betapa di jaman kini, para pejabat maupun karyawan di instansi mana pun nampaknya juga sudah tidak lagi memiliki ‘ etika untuk berbasa-basi’, terhadap siapa pun orangnya, jika mungkin dirasa tidak menguntungkan bagi diri mereka. Pertanyaannya kemudian; “Apakah kami sebagai orang awam kebanyakan memang dianggap tidak pantas memiliki ide dan berpartisipasi untuk ikut membangun moral generasi di negeri ini?”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s