Jeritan anak bangsa

Sekolah merupakan lembaga pendidikan, tetapi sampai saat ini sekolah melupakannya dan bergerak sebagai lembaga pengajaran. Mungkin mengajar dan mendidik berbeda tipis kata dan tidak menjadi sebuah permasalahan. Selama ini sekolah mengajar dan mengajar kapan untuk mendidik ? Dan hal sepele yang menjadi kebiasaan adalah sekolah sering menyerukan dan mengiklankan diri:

· Sekolah mencetak tenaga ahli

· Sekolah dengan lulusan siap kerja

· Menciptakan tenaga professional

· Melahirkan lulusan handal

Dan jarang sekali sekolah yang menyerukan :

· Sekolah mencetak pemikir

· Mencetak pengembangan diri

· Lulusan berpotensi

· Lulusan siap mandiri

· Dan lebih bagus, lulusan mampu menciptakan lapangan kerja.

Dari sejak SD sampai Perguruan Tinggi (PT), siswa dibebani dan disibukkan dengan berbagai mata pelajaran. Dan sampai saat ini sekolah SMA/SMK siswanya selalu dibisiki dan dibekali kata-kata harus siap kerja, bekerja di perusahaan ini itulah, lamar sana sinilah, yang intinya menanamkan jiwa pekerja, jadi seolah-olah kita sekolah untuk mencari kerja /bekerja, kenapa tidak ditanamkan jiwa mandiri ? ya.. membuat pekerjaan walaupun masih untuk diri sendiri. Dengan kata kasarnya sekolah menjadi komodity pencipta kuli bangsa terbesar saat ini. Apa boleh kita menyalahkan hal ini ? Lulus SMA kemana? Kuliah atau kerja?..selanjutnya ???Dikarenakan pikiran dan bekalan dahulunya sehingga dalam tekad dan mental anak bangsa adalah gimana dapet kerja, gimana kerja di PT gede…hanya sebatas jadi kuli. Sampai saat ini pikiran dan kehidupan Indonesia sudah dijajah bangsa lain. Banyak yang megang peranan di dunia politik, elkonomi, bisnis dll adalah orang asing. Sudah banyak anak bangsa menganggur. Banyak lulusan sekolah ternama, mahasiswa PT terkenal berdiam diri. Apakah hanya bermental sekolah untuk bekerja. Dikarenakan banyak persaingan sehingga tersingkir dan hanya bisa diam. Jika mempunyai bekal kreatifitas, mengetahui cara pengembangan potensi diri mungkin mereka mampu bangkit.Sekarang untuk pekerja di perusahaan besar bertaraf ISO membutuhkan seorang lulusan PT yang berpotensi. Lantas bagaimana nasib SMA/SMK bahkan D3, nasib orang-orang yang dikampung sana? Sekolah sekarang menjadi ladang bisnisan guru maupun dosen. Mutu dan kualitas sudah menjadi no terakhir, gimana sekolah banyak murid dan gimana dapat menyerap dana. Slogan Gratis-gratis dari pemerintah adalah biang dibalik banyaknya anak bangsa yang tidak bermutu. Setiap tahun sekolah negeri makin turun, makin merosot kualitasnya.. berbeda dengan swasta. Lantas apa harus sekolah di swasta? Apa sekolah dituntut bayar mahal? mahalkah ilmu itu? Apa Ada uang ada barang hokum sekarang ini?Apa sudah tidak boleh orang miskin melanjutkan hidup dibumi pertiwi? Apa tidak boleh orang kampong pinter? Orang yang bekerja tetapi tidak bisa kerja, orang yang mampu bekerja tetapi tidak mempunya pekerjaan. Banyak orang pinter dan bisa tersingkir dan orang bodoh bertengger.Memang semuanya membutuhkan tenaga kerja. Mendapat pekerjaan dijaman sekarang syukur Alhamdulillah,..tapisebatas itukah cita-cita anak bangsa..? mau dibawa kemana bumi pertiwi ini, lantas siapa yang bertanggung jawab, dan siapakah yang pantas disalah kan..????? Mungkin salah penulis kah.. waLLahu ‘alam

One thought on “Jeritan anak bangsa

  1. Memang kondisi dunia pendidikan di indonesia begitu adanya, kita belajar di bangku sekolah dididik untuk siap bekerja bukan untuk siap membuka lapangan pekerjaan, dan itu adalah salah satu paradigma peninggalan kolonial belanda (tapi omong2 soal kolonial belanda sebenarnya SMK 3 adalah peninggalan kolonial belanda lhooooo, kan dulu punya PG Rejo Agung…red) kan kalau jaman dulu kalau sudah lulus sekolah langsung diperkerjakan oleh kolonial…..(kata bapak saya lhoo).Dan ini merupakan PR Besar untuk kita sebagai generasi muda untuk bisa menciptakan paradigma baru, kita harus menyiapkan gnerenari yang akan datang bukan generasi kuli….begono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s