Oleh : ASTARI YANUARTI, AJENG RITZKI PITAKASARI, DAN RACH ALIDA BAHAWERES (SURABAYA)

Genangan lumpur di Sidoarjo membuat Umi Marwati gelisah. Peneliti mikrobiologi dari Jurusan Biologi Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, itu khawatir pada dampak buruk lumpur yang telah menggenangi ribuan hektare lahan dan ratusan rumah. Pangkalnya, lumpur luapan sumur Banjarpanji itu mengandung banyak unsur logam, seperti merkuri, plumbum, dan copper. “Pohon-pohon pun mulai menguning. Ada apa ini?” kata Umi. Dengan modal seadanya, perempuan kelahiran Ponorogo, Jawa Timur, 14 Mei 1966, itu lalu mengajak dua mahasiswa mencari solusi hemat penghilang kadar logam dalam lumpur. Menurut dia, lumpur yang sudah minim kandungan logam juga lebih aman digunakan untuk produk olahan lumpur menjadi batu bata, genteng, atau keramik. Masalahnya, master lulusan Program Studi Mikrobiologi Institut Pertanian Bogor itu menilai model penggunaan tawas untuk menetralkan lumpur kurang efektif. Selain biayanya mahal, metode ini tak menjamin kontaminasi dengan zat-zat lain saat pemindahan lumpur. “Maka, saya ingin menggunakan mikroorganisme untuk menyerap zat-zat toksik dalam lumpur,.” kata ibu dua anak itu.


Penggunaan mikroba yang juga dikenal dengan nama bioremediasi ini lebih ramah lingkungan, murah, dan tanpa efek samping. Umi menjelaskan, jenis mikroba yang paling cocok adalah bakteri bacillus. Bakteri ini tergolong “aneh” karena bisa hidup di lumpur yang mengandung logam. Bahkan bisa mengikat logam sehingga mengurangi kandungan logamnya. Semuanya berkat dua potensi yang dimiliki bakteri bacillus, yaitu phenol degrader (termasuk senyawa hidrokarbon yang menghasilkan minyak bumi) dan heavy metal accumulation (logam rendah). Umi sudah membuktikan keampuhan bakteri bacillus itu saat meneliti kandungan logam pada tanaman padi di Bekasi, Jawa Barat, dua tahun lalu.


Kandungan logam lahan yang diberi bakteri bacillus lebih sedikit dibandingkan dengan lahan yang tak diberi bakteri. Apabila logam tersebut telah terikat, proses fisiknya bisa lebih baik. Tapi, dari 10 bakteri genus bacillus yang bisa berkembang, hanya delapan yang cocok digunakan pada media lumpur, yaitu jenis BC-01, BC-02, BC-03, BC-04, BC-05, BC-06, BC-07, dan BC- 08. Sedangkan dua isolat, yakni B. Coagulans dan B. circulans, tak bisa hidup di lumpur. Penelitian mereka dimulai dengan mengambil 5 liter sampel lumpur di Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Sampel lumpur ini diekstrak (dikocok dan diberi larutan buffer atau larutan untuk penyeimbang) di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Brawijaya. Lalu bakteri bacillus dicampurkan pada 10% lumpur yang telah diekstrak. Setelah beberapa jam, bakteri itu hidup dan berkembang biak. Secara bertahap, Umi menambahkan 50% lumpur yang diekstrak. Hasilnya sama. Akhirnya seluruh lumpur yang telah diekstrak dicampur dengan bakteri bacillus. “Bakterinya tetap hidup dan beranakpinak,” katanya senang. Beberapa jam kemudian, ia mengukur kandungan logam di lumpur. Hasilnya, bakteri bacillus bisa menyerap hingga 60% kandungan logam yang terdapat di lumpur Lapindo. Toh, Umi menyatakan, hasil ini bisa bervariasi saat diuji coba di lapangan. Sebab lebih banyak gangguan ketika diuji di lapangan. “Di laboratorium cenderung steril. Jadi, tingkat keberhasilannya di lapangan bisa kurang dari 100%,”ujar Umi. Berbeda dengan temuan Umi, Koordinator Supervisi Tim Penanggulangan Genangan Air dan Lumpur Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Rasio Ridho Sani, menyebutkan bahwa lumpur Lapindo tak berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup.


Kesimpulan ini diperoleh setelah KLH melakukan tiga model tes. Pertama, toxicity characteristic leaching procedure (TCLP). Tes ini untuk mengetahui kandungan zat berbahaya lewat proses pengaliran air ke lumpur. Kedua, lethal dose 50 (LD50), tes untuk mengetahui apakah dosis zat di dalamnya membunuh hingga 50% organisme yang diuji saat itu. Dan lethal consentration 50 (LC50), untuk mengetahui konsentrasi yang dianggap membahayakan, yaitu: jika sanggup membunuh 50% organisme yang saat itu diuji dalam waktu yang ditentukan. “Dari dua tes terbukti, lumpur itu mencapai lebih di angka 50 dan tidak membahayakan,” kata pria yang biasa dipanggil Roy itu. Jadi, Roy melanjutkan, lumpur Lapindo aman digunakan untuk bahan bangunan ataupun keramik. Ia menganologikan lumpur Lapindo dengan bahan asbes putih yang terbukti tak memaparkan zat berbahaya. Harapannya, kajian ini bisa menyakinkan masyarakat dan perajin bahwa barang-barang olahan dari lumpur Lapindo tak membahayakan kesehatan manusia.

With original title : “Mikroba Pengikat Logam”

About these ads