Arsip

Arsip untuk Januari, 2009

SEMANGAT BERKARYA SANG PENEMU DARI INDONESIA

Januari 29, 2009 admin 2 komentar

Bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Itulah kata-kata mutiara yang selalu ditulis sebagai penghargaan terhadap perjuangan para pendiri bangsa ini. Tentu kita sekarang dapat menikmati kemerdekaan ini adalah berkat perjuangan para pahlawan bangsa kita.

Namun rasanya belum sempurna menjadi bangsa yang baik, kalau kita sendiri tidak pernah merasa bangga menjadi bangsa Indonesia. Sudah seharusnya dengan segala daya upaya kita harus menunjukkan pada dunia, bahwa kita tidak kalah dengan bangsa manapun di dunia ini. Kita wujudkan mahkota tertinggi yang mampu kita raih-tentu sesuai dengan bidang kita masing-masing.

Sebagai bahan inspirasi mungkin kita perlu menghargai para pahlawan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh bangsa sendiri. Mereka telah dengan sukses menemukan berbagai teknologi yang sudah dimanfaatkan oleh banyak orang di dunia ini. Namun sayang nama mereka tidak begitu dikenal oleh dunia, bahkan oleh bangsa sendiri. Berikut saya cuplikkan dari Ragam Pustaka tentang daftar para penemu dari indonesia:

1. Abdul Jamil Ridho & Niti Soedigdo – Penemu Varietas Unggul Singkong Raksasa
2. Adi Rahman Adiwoso – Penemu Teknologi Baru dalam Telepon Bergerak Berbasis Satelit
3. Alexander Kawilarang – Penemu Kapal Ikan Bersirip
4. Andrias Wiji Setio Pamuji – Penemu Reaktor Biogas
5. Arief Indrasumunar – Penemu Kloning Gen-gen dalam Pembentukan “Root Nodule” pada Kedelai
6. Arief Mulyana Djumra – Penemu Pemacu Produktifitas dan Kualitas Udang dan Ikan
7. Aryadi Suwono & Tim Peneliti ITB – Penemu Bahan Pendingin Baru yang Lebih Hemat Energi
8. Ayub S. Parnata – Penemu Bakteri Kompos Organik
9. Bacharuddin Jusuf Habibie – Penemu Teori, Faktor dan Metode Habibie (Teknologi Pesawat Terbang)
10. Budi Noviantoro – Penemu Klip Penambat Bantalan Kereta Api dengan Dua Gigi
11. Dani Hilman Natawijaya – Penemu Indikator Alam (Terumbu Karang) terhadap Siklus Gempa
12. Djuanda Suraatmadja – Penemu Beton Polimer yang Ramah Lingkungan
13. Djoko Suprapto – Penemu Bahan Bakar dari Air
14. Eddyman, Intan Elfarini & Kanaka Sundhoro – Penemu Obat Antinyamuk Alami dan Murah
15. Evvy Kartini – Penemu Penghantar Listrik Berbahan Gelas
16. Fuad Affandi – Penemu Pupuk Alami dari Air Liur
17. Haryadi – Penemu Alat Penghancur Jarum Suntik Bekas
18. Herman Johannes – Penemu Tungku Berbahan Bakar Briket Arang Kayu dan Dedaunan
19. I Gede Ngurah Wididana – Penemu Formula Minyak Oles Bokhasi
20. I Made Budi – Penemu Formula Sari Buah Merah untuk Pengobatan
21. Johny Setiawan – Penemu Bintang Muda dan Planet Pertamanya
22. Lalu Selamat Martadinata – Penemu Alat Pemanggil Ikan
23. M. Djoko Srihono – Penemu Penjernih Air Limbah
24. Maruni Wiwin Diarti – Penemu Senyawa Antimikroba dari Rumput Laut
25. Miftahul Khairi – Penemu Penghapus Papan Tulis Elektrik
26. Minto – Penemu Kompor dan Pengering Hasil Tani dengan Tenaga Matahari
27. Mumu Sutisna – Penemu Hormon Penyubur Anakan Padi
28. Mulyoto Pangestu – Penemu Teknik Ekonomis Pembekuan Sperma
29. Nyamani – Penemu Alat Penambal Ban Elektrik
30. Neny Nurainy – Penemu Varian Virus Hepatitis B Indonesia
31. Puji Slamet Arif – Penemu Motor Listrik Hemat Energi
32. Rahmiana Zein – Penemu Teknik Pemisahan Cairan dalam Kecepatan Tinggi
33. Randall Hartolaksono – Penemu Formula Kimia Pemadam Api Ramah Lingkungan
34. Rizal & Juffri Sahroni – Penemu Penghemat Bahan Bakar Diesel
35. Robert Manurung – Penemu Minyak Jarak Murni
36. Saverinus Nurak – Penemu Mesin Pompa Tangan Berkekuatan Tinggi
37. Suparmin Sinuang Rahardja – Penemu Kompor Berbahan Bakar Air
38. Sutjipto & Ryantori – Penemu Konstruksi Fondasi Sarang Laba-laba
39. Sutrisno – Penemu Alat Perangkap Lalat Buah
40. Sedijatmo – Penemu Konstruksi Fondasi Cakar Ayam
41. Septinus George Saa – Penemu Rumus Penghitung antara Dua Titik Rangkaian Resistor .
42. Sofin Hadi – Penemu Metode Cincin untuk Sunat Tanpa Luka
43. Sri Wuryani, Mustadjab, Euis M. Nirmala, Siwi Hardiastuti – Penemu Pengawet Aroma dalam Hampa
44. Tjokorda Raka Sukawati – Penemu Landasan Putar Bebas Hambatan Sosrobahu
45. Warsimin Adiwarsito – Penemu Marmer Buatan
46. Widowati Siswomihardjo – Penemu Bahan Baru untuk Gigi Palsu yang Lebih Aman dan Murah
47. Windu Hernowo – Penemu Penghemat Bahan Bakar Mesin
48. Yanto Lunardi Iskandar – Anggota Tim Penemu HIV & Metode Peningkatan Hematopoiesis
49. Yudi Utomo Imardjoko – Penemu Kontainer Limbah Nuklir
50. Zahlul Badaruddin – Penemu Zahlul Integrated Unit (Desain Sistem Efisien untuk Produksi Obat/Kimia).

Harapan bangsa Indonesia bagi putra – putrinya tentu adalah menjadi suatu yang berguna bagi bangsa dan negara. Sesuatu itu tersirat dari simbol ”Tunas Kelapa” pada Pramuka. Suatu harapan besar dari ibu pertiwi bagi buah hatinya untuk menjadi seorang yang bermartabat dan bermakna bagi kemaslahatan umat.

Bagaimana dengan anda…? Apa yang sudah anda hasilkan untuk bangsa ini sekarang ?

cc. Kami (skimater) turut simpati kepada Bpk. Djoko Suprapto – ”Penemu Bahan Bakar dari Air” yang saat ini sedang mengalami masalah yang menyangkut Hukum. Kiranya pemerintah dapat bersikap adil dan bijak.

Categories: slentingan

PEMURNIAN MINYAK DAUN CENGKEH DENGAN METODE ADSORPSI LEMPUNG TERAKTIVASI ASAM.

Januari 27, 2009 admin 4 komentar

Lempung bentonit sangat menarik untuk diteliti karena lempung ini mempunyai struktur berlapis dengan kemampuan mengembang (swelling) dan memiliki kation-kation yang dapat ditukarkan (Katti and Katti, 2001). Meskipun lempung bentonit sangat berguna untuk adsorpsi, namun kemampuan adsorpsinya terbatas (Cool and Vanssant, 1998). Kelemahan tersebut dapat diatasi melalui proses aktivasi menggunakan asam (HCl, H2SO4 dan HNO3) sehingga dihasilkan lempung dengan kemampuan adsorpsi yang lebih tinggi (Kumar and Jasra, 1995). Asam sulfat merupakan asam yang memiliki bilangan ekivalen H+ lebih tinggi dibanding dengan asam klorida ataupun asam nitrat. Aktivasi lempung menggunakan asam akan menghasilkan lempung dengan situs aktif lebih besar dan keasamaan permukan yang lebih besar, sehingga akan dihasilkan lempung dengan kemampuan adsorpsi yang lebih tinggi dibandingkan sebelum diaktivasi (Komadel, 2003).
Sementara itu dewasa ini, khususnya di daerah penghasil cengkeh, sangat banyak terdapat penyulingan minyak daun cengkeh. Namun kualitas minyaknya masih sangat rendah sehingga harganyapun relatif murah. Adapun penyebab rendahnya kualitas ini karena minyak daun cengkeh yang dihasilkan masih mengandung pengotor yang kemungkinan berupa zat warna organik atau anorganik sehingga minyak ini berupa cairan yang berwarna gelap. Minyak daun cengkeh yang diproduksi dengan alat destilasi yang dibuat dari stainless steel umumnya mempunyai kualitas yang lebih baik, akan tetapi alat ini terlalu mahal sehingga petani memilih menggunakan alat yang terbuat dari besi (Guenther, 1990; Sastrohamidjojo, 2002). Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu cara yang murah untuk menghilangkan pengotor pada minyak daun cengkeh sehingga kualitasnya menjadi lebih baik.
Salah satu cara sederhana dan telah banyak dikembangkan oleh banyak peneliti untuk menghilangkan pengotor adalah metode adsorpsi. Beberapa peneliti menggunakan karbon aktif untuk mengadsorpsi material organik terlarut. Tetapi karena tingginya harga adsorben karbon aktif serta sulitnya diregenerasi, mendorong para peneliti untuk mencari material lain sebagai penggantinya. Salah satu bahan yang menarik untuk digunakan sebagai adsorben adalah material anorganik alam, misalnya lempung (McCabe, 1996). Penggunaan lempung sebagai adsorben mempunyai beberapa keunggulan karena lempung khususnya jenis bentonit mempunyai struktur antar lapis yang dapat dimodifikasi sehingga dapat memperbaiki sifatnya. Disamping itu pemanfaatan lempung sebagai adsorben dapat diregenerasi (Ryanto, 1994).
Pada penelitian ini akan dipelajari metode aktivasi lempung menggunakan H2SO4 serta uji adsorpsinya pada minyak daun cengkeh. Adapun kajian yang ditekankan pada pembuatan lempung teraktivasi asam yakni penentuan kondisi optimum reagen pengaktivasi. Diharapkan dengan perlakuan optimum akan menghasilkan lempung teraktivasi dengan aktivitas adsorpsi yang tinggi terhadap pengotor minyak daun cenkeh.
Lempung teraktivasi asam telah diuji adsorpsinya pada proses penjernihan minyak daun cengkeh. Pada proses sintesis dikaji pengaruh konsentrasi asam sulfat terhadap kualitas lempung hasil sentesis dan kemampuan adsorpsinya. Karakterisasi lempung hasil sintesis dilakukan dengan Gas Sorption Analyzer untuk menentukan luas permukaan spesifik, spektrofotometer FTIR untuk penentuan gugus-gugus fungsional .
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan di atas menyebabkan terjadinya peningkatan pada: luas permukaan spesifik. Luas permukaan spesifik berturut-turut 48,27; 48,75; 54,31; 65,21; 62,91; dan 51,86 m2/g, untuk variasi konsentrasi asam sulfat = 0; 0,4; 0,8; 1,2; 1,6 dan 2,0 M. Hasil uji adsorpsi menunjukkan bahwa lempung dengan aktivasi = 1,2 M menunjukkan aktifitas adsorpsi terbaik, yakni mampu mengadsorpsi pengotor paling banyak: 284,2 mg/g lempung dan menghasilkan minyak hasil adsorpsi paling jernih dengan perbandingan adsorben : minyak = 1 g : 40 mL.

Adopted by @_pararaja from : P. Suarya. 2008. Adsorpsi Pengotor Minyak Daun Cengkeh Oleh Lempung Teraktivasi Asam. Bukit Jimbaran, Bali : Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana.

Categories: wawasan

Buang Angin, Kok Muka Yang Dibasuh?!

Januari 27, 2009 admin Tinggalkan komentar

Oleh : Achmad Faisol

Seorang pelajar bertanya kepada penulis, “Kalau kita buang angin, kenapa muka yang dibasuh? Kenapa bukan tempat buang angin itu?”

Penulis kaget sekali mendengar pertanyaan ini. Bukan karena apa-apa, tapi pertanyaan tersebut adalah pertanyaan kuno—sudah ada sejak dulu—bahkan sudah saatnya almarhum. Ternyata pertanyaan ini masih segar bugar, bahkan tak pernah menua. Pertanyaan tersebut biasanya dikemukakan oleh para pelajar yang berusaha memahami aturan beragama sesuai akal. Maklum, di usia pelajar hal itu wajar terjadi, setelah sekian lama mengimaninya. Bukankah akal memang diciptakan untuk mengokohkan iman?

Kadang pertanyaan ini diajukan oleh teman-teman dari agama lain. Ceritanya begini. Saat duduk di bangku SMAN 16 Surabaya, penulis dan teman-teman belajar Kristologi dibawah bimbingan seorang pakar Kristologi, KH. Abdullah Wasi‘an. Kristologi adalah ilmu yang mempelajari agama Kristen dari sudut pandang Islam, untuk diketahui kekurangan-kekurangannya. Seperti orang orientalis mempelajari agama Islam dari sudut pandang mereka, untuk dicari kelemahan-kelemahannya.

Sebenarnya, tujuan belajar Kristologi adalah untuk membentengi diri, supaya tidak mudah diprovokasi atau diajak memeluk agama lain. Namun, ada juga teman-teman yang usil, malah digunakan untuk berdialog dengan rekan-rekan Nasrani. Maklumlah, kalau seseorang baru belajar bela diri, biasanya centil banget. Sebagai hasilnya, kadang kami pun harus kalang kabut menjawab berbagai pertanyaan teman-teman Kristen. Rupanya mereka juga mempelajari agama Islam. Yah, itulah masa remaja, masa-masa yang penuh dengan pertanyaan dan gejolak. Mengingatnya, penulis jadi tersenyum sendiri. :-)

Pada waktu itu, jawaban rata-rata dari para ustadz tentang buang angin tapi muka yang dibasuh adalah, “Itu sama saja dengan orang sakit kepala. Kepala yang sakit, tapi yang disuntik bagian lain.” Selesailah pertanyaan dan jawaban. Finish.

Penulis merenungkan lagi jawaban di atas. Setelah dikaji, penulis menyadari bahwa jawaban itu ternyata lemah dari sisi logika dan ilmiah. Kalau tentang suntik-menyuntik, para dokter dan pakar kesehatan akan bisa menjelaskan dengan detail dan gamblang. Nah, bagaimana kalau para ustadz diminta menjelaskan hubungan ilmiah antara buang angin dengan membasuh muka? Tentu tidak akan bisa menjawab banyak, bahkan terpojok; laksana sebuah bumerang, senjata makan tuan.

Penulis memikirkan lagi jawaban yang tepat sasaran untuk pertanyaan pelajar tersebut. Ternyata, dari sudut pandang logika, penulis menemukan bahwa justru pertanyaannya yang kurang tepat. Jadi, kalau dipaksa untuk tetap menjawab, maka jawabannya akan rapuh, tidak punya alasan dan bukti empiris kuat.

Selama penulis mengaji, penulis tidak pernah menemukan satu pun dalil atau fatwa ulama zaman dulu maupun kontemporer yang mengharuskan membasuh wajah setelah buang angin. Misalnya saja dalil itu berbunyi :

مَنْ كاَنَ لَهُ ضُرَاطٌ أَوْ فُسَاءٌ فَلْيَغْسِلْ وَجْـهَهُ

Siapa buang angin, baik berbunyi maupun tidak, maka dia harus membasuh muka.

Apakah dalil seperti itu pernah diajarkan kepada kita? Tidak, kan? Perlu penulis jelaskan bahwa dalil di atas dibuat dengan menggunakan ciri khas anak pesantren. Dalil tidak harus sesuai dengan ejaan bahasa Arab yang benar (boleh menggunakan bahasa Arab-Araban), namun tetap diusahakan dalam qaidah nahwu-sharaf (tata bahasa Arab). Hal ini termasuk bagian dari guyonan ala pesantren. :-)

Dengan demikian, sudah nyata bahwa pertanyaan “Kalau kita buang angin, kenapa muka yang dibasuh?” tidak jelas arahnya dan terbukti sangat lemah muatannya.

Jika memang seperti itu, bagaimana pertanyaan yang tepat? Pertanyaan yang valid adalah, “Kalau kita buang angin, mengapa diharuskan berwudhu lagi ketika akan shalat? Apakah tidak cukup dengan membasuh atau membersihkan bagian buang angin itu saja?” Jadi, sudut pandangnya bukanlah buang angin, tapi batalnya wudhu sebab buang angin. Wudhu menjadi sentral pertanyaan, sedangkan buang angin menjadi salah satu bagiannya. Bukankah ada hal lain yang membatalkan wudhu?

Berwudhu tidak bisa disamakan dengan membasuh muka. Wudhu mempunyai syarat dan rukun. Adapun membasuh muka tidak ada aturannya, sehingga tidak mengenal istilah sah atau tidak. Pernahkah kita mendengar hukum “Hal-hal yang membatalkan membasuh muka”? Atau peraturan “Membasuh muka (di luar wudhu) dikatakan sah apabila dilakukan satu kali, dan sunnah sebanyak tiga kali basuhan”? Mendengarnya saja sudah menggelikan, apalagi bila benar-benar dibuat fatwa ulama tentangnya. Apa kata dunia? :-)

Buang angin tidak termasuk najis, karena itu tidak perlu membasuh bagian buang angin. Bukankah sungguh merepotkan bila setiap buang angin kita harus membasuhnya? Buang angin termasuk hadats kecil yang membatalkan wudhu. Semua ulama sepakat, tidak ada perbedaan pendapat. Allah berfirman :

أَوْ جَاۤءَ أَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ ٱلْغَـاۤئِطِ

atau seseorang di antara kalian datang dari tempat buang air. (QS an-Nisâ’ [4] : 43)

Categories: rohani

SEKILAS TENTANG GANGGANG DAN PENANGGULANGANNYA (bagian 3) : Ikan Pemakan Ganggang (Siamese Algae Eater).

Januari 27, 2009 admin Tinggalkan komentar

e. Predator (Ikan).
Alga juga dapat diminimalisir secara biologi menggunakan ikan pemakan alga.
Ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) yang hidup di air dan bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia. Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan kekerabatannya masih diperdebatkan; biasanya ikan dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes).
Ikan memiliki bermacam ukuran, mulai dari paus hiu yang berukuran 14 meter (45 ft) hingga stout infantfish yang hanya berukuran 7 mm (kira-kira 1/4 inci). Ada beberapa hewan air yang sering dianggap sebagai “ikan”, seperti ikan paus, ikan cumi dan ikan duyung, yang sebenarnya tidak tergolong sebagai ikan.
Beberapa spesies tuna dapat mempertahankan suhu tubuhnya, sehingga tidak dapat selalu dianggap poikilotermik. Ikan hiu putih raksasa (Great White Shark) adalah satu-satunya ikan yang benar-benar endotermik (berdarah panas).
Ikan biasanya memakan tumbuhan air seperti algae, atau rumput laut. Tetapi ada spesies ikan khusus yang dapat dikatakan sebagai pemakan Algae. Ikan pemakan algae diketahui sebagai cara yang efektif untuk mengontrol algae dalam suatu kolam. Ikan ini secara khusus membuat algae tidak dapat tumbuh sebelum Algae tersebut mempunyai kesempatan untuk tumbuh. Oleh karena itu, ini sangat di rekomendasikan bahwa beberapa pemakan algae dapat ditambahkan jauh sebelumnya.
Beberapa ikan pemakan algae antara lain Siamese Algae Eater (Crossocheilus Siamensis) yang diketahui merupakan satu-satunya yang efektif untuk memakan Red Beard / Brush Algae (Audoeuinella). Selain itu, terdapat beberapa ikan lain yang diketahui sebagai pemakan Algae, yaitu Ikan yang sangat mirip dengan SAE yang biasa disebut false Siamensis.
Ikan ini mirip dengan Chinese Algae Eater, yang sangat agresif dan tidak makan ganggang. Siamese Algae Eater (Crossocheilus siamensis) adalah suatu konsumen ganggang yang sangat baik dan dikenal memakan ganggang hitam maupun ganggang merah. Ada beberapa ikan di keluarga ini. Yang paling umum dilihat adalah Epalzeorhynchos kallopterus, biasanya mengenal sebagai Flying Fox, bertubuh kecoklat-coklatan dengan suatu belang yang hitam sharp-edged dengan suatu belang perunggu atau emas yang tipis terpisah di atasnya. Ikan ini cenderung sangat agresif ketika mereka dewasa dan tidak makan ganggang merah.
Siamese Algae Eater
Crossocheilus siamensis ( Smith, 1931). Ikan bertubuh langsing ini adalah satu-satunya pemakan ganggang merah. Diketahui berasal dari perairan Thailand dan Semenanjung Melayu. Pertama kali di kenal di Eropa pada Tahun 1962, tetapi menjadi populer karena kemampuan nya ketika 1970 diketahui dapat memakan ganggang merah. Ikan ini kemudian dikenal dengan nama Siamese Algae Eater (Crossocheilus siamensis).
Bertubuh langsing, berwarna coklat – abu-abu, memiliki belang yang horizontal pada tubuhnya. Panjang maksimumnya dapat mencapai 15 cm ( 6 inchi) dan diperkirakan diperoleh dalam waktu dua tahun, jika kondisi lingkungannya optimal. Secara normal mereka tumbuh lebih lambat dan tidak selalu menjangkau ukuran tersebut. Mereka berumur di atas 10 tahun. Sirip sedikit seperti susu atau transparan tanpa kemilau yang kemerah-merahan atau kuning.
Ketika ikan tersebut dalam keadaan tertekan (stress) atau berkelahi warna yang hitam memudar dengan mantap. Bagian bawah tubuhnya berwarna putih seperti perak, tetapi keseluruhan badan bagian atas adalah kecoklat-coklatan dan tiap-tiap skala mempunyai suatu tepi yang gelap, yang membuat reticular nampak bersinar. Beberapa tepi skala yang gelap boleh jadi dilihat di bawah belang yang hitam . Mempunyai dua pinsang tipis, forward-pointing barbels tetapi mereka boleh jadi ditekan melawan terhadap pipi ketika ikan sedang berenang atau beristirahat. Ikan ini dapat umumnya mencapai panjang 5-7 cm ( 2-3″); Biasanya Betinanya sedikit lebih besar dan gemuk dari pada yang jantan., selain itu tidak perbedaan seksual lain dikenal.
Ikan ini sangat aktif berenang, tumbuh dengan baik bila berada dalam kelompok, tetapi dapat juga hidup sendirian atau berdua-dua. Ikan merupakan pelompat yang kuat dan harus tidak ditinggalkan tanpa kendali di (dalam) kolamnya. Siamese Algae Eater sering berkejar-kejaran, tetapi mereka tidak pernah mendapatkan luka di perkelahian ini.. C. siamensis mempunyai keganjilan dalam posisi istirahatnya, yaitu menopang seluruh berat badan pada ekornya dan sirip berkenaan dengan dada dan panggul. Ikan yang muda kadang-kadang bersembunyi pada daun-daun yang luas/lebar, spesimen dewasa menyukai beristirahat di atas tumbuhan yang rendah tebal/padat seperti Cryptocorynes.
Siamese Algae Eater merupakan ikan yang mudah hidup di segala kondisi. Temperatur yang yang ideal adalah 24-26 0C ( 75-79 F). Mereka dapat hidup pH dari 5.5 sampai 8.0, pH optimum 6.5 -7.0. Hardness harus kurang dari 20 dH. Air harus oxygenated dan bersih, sebab mereka datang dari daerah yang berarus cepat. Mereka makan ganggang, termasuk ganggang merah dan semua macam makanan yang ada. Ukuran kolam yang minimum untuk sepasang SiameseAlgae Eater dewasa adalah 100 liter ( 25 galon). Akuarium harus mempunyai banyak tumbuhan yang hidup.
Siamese Algae eater cukup terkenal di Eropa sebagai pembersih Aquarium.. Ikan ini merupakan salah satu dari sepuluh ikan terkenal di Finlandia. Tetapi ikan ini tidak cukup dikenal di Amerika dan Inggris, Ikan Flying Fox biasa disamakan dengan ikan tersebut. sehingga terjadi perbedaan pemahaman.
Selain Siamese Algae Eater (Crossocheilus siamensis), terdapat lima ikan dari Thailand dan sekitarnya, mencakup Siamese Algae Eater ( Crossocheilus siamensis) yang dikenal sebagai pemakan ganggang, yaitu :
Flying Fox, Epalzeorhynchus kalopterus (Bleeker, 1850) Flying Fox merupakan yang yang paling bewarna dan paling agresif diantara kelompok ikan ini. Oleh karena itu ikan ini lebih banyak dikenal daripada Siamese Algae Eater. Berasal dari perairan dari Thailand, Sumatra dan Borneo. Karena bentuknya yang mirip dengan Siamese Algae Eater, biasanya ikan ini dijual sebagai SAE.Bentuk badan dan sirip mirip dengan SAE, tetapi berwarna agak coklat keemasan dan tidak memiliki garis hitamyang menyebar horizontal di tubuhnya. Kondisi lingkungan hidupnya tidak berbeda dari SAE. Tetapi untuk pemeliharaan dalam kolam sebaiknya tidak lebih dari satu ikan dewasa karena dapat saling memburu ikan lainnya.
Crossocheilus oblongus(Cuvier dan Valenciennes, 1842) Ikan ini mungkin masih merupakan keturunan dari SAE, sehingga tak jarang ikan ini berada satu kelompok dengan SAE. Oleh karena itu, ikan ini dikenal sebagai “False Siamese”.bentuk tubuh dan warnanya tidak jauh berbeda dengan SAE, tetapi ia memiliki sirip yang transparan dan belang hitam tidak meluas di seluruh tubuhnya. Panjangnya yang maksimum adalah 10 cm ( 4″). Perilaku, dan lingkungan hidupnya mungkin mirip dengan spesies sebelumnya.
Chinese Algae Eater, Gyrinocheilus aymonieri (Tirant, 1883) Ikan ini termasuk keluarga Gyrinocheilida, walaupun menyerupai Ikan pemakan ganggang lainnya, tetapi ikan ini tidak memakan ganggang. Sebenarnya namanya kurang tepat, karena ikan ini berasal dari Thailand Utara dan perairan India. Bagian yang mencolok dari ikan ini adalah mulut yang berbentuk Suckermouth’ Corak yang sama ini dilihat Suckermouth Catfishes. Tubuhnya berwarna kuning-keabuan, Spesimen yang muda lebih berwarna-warni/bersemangat. Ada beberapa tambalan yang gelap di punggung dan warna coklat kecil menyoroti di ekor. Semua sirip yang lain adalah sedikit kecoklat-coklatan atau transparan. Panjangnya yang maksimum adalah 27 cm ( 11″) tetapi secara normal tidak melebihi 15 cm ( 6″) di (dalam) suatu akuarium. Betina lebih besar daripada jantan. Ikan ini juga memiliki semacam katup dibagian atas insangnya, sehingga memungkinkan bernapas tanpa membuka mulutnya. Hidup pada lingkungan bertemperatur 22 – 28 0C, dan ph antara 6.0 – 7.5. Spesimen lebih tua menyukai makanan tiruan dan agak agresif.
False Siameses (Epalzeorhynchus sp. atau Garra taeniata) Ikan ini memakan ganggang ikat/duri dan betul-betul menyerupai SAE. Diketahui datang dari daerah yang sama dan sedikit specimen muda berkelompok bersama..Di Finlandia, Ikan ini sering salah dikira sebagai SAE, Di Amerika ikan ini yang disebut sebagai SAE yang riil, karena kebanyakan literature disana menuliskan bahwa ciri-ciri SAE mengacu pada ikan ini. Bentuk tubuh, warna dan lingkungan hidupnya sangat mirip dengan SAE. @-pararaja-


Bersambung…!

Categories: kimia

Zeolit Sebagai Katalis

Januari 27, 2009 admin 1 comment

Zeolit merupakan bahan alam yang banyak terdapat di Indonesia, sehingga sangat diperlukan pengetahuan dan penelitian mengenai zeolit alam itu sendiri serta cara-cara pengolahannya. Zeolit merupakan bahan pengemban yang paling sering digunakan dewasa ini. Zeolit terdiri atas gugusan alumina dan gugusan silika-oksida yang masing– masing berbentuk tetrahedral dan saling dihubungkan oleh atom oksigen sedemikian rupa sehingga membentuk kerangka tiga dimensi.

Hamdan (1992), mengemukakan bahwa zeolit merupakan suatu mineral berupa kristal silikaalumina yang terdiri dari tiga komponen yaitu kation yang dapat dipertukarkan, kerangka alumino-silikat dan air. Air yang terkandung dalam pori tersebut dapat dilepas dengan pemanasan pada temperatur 300 oC sampai dengan 400 oC. Dengan pemanasan pada temperatur tersebut air dapat keluar, sehingga zeolit dapat berfungsi sebagai penyerap gas atau cairan (Sutarti dan Rachmawati, 1994).

Jumlah air yang terkandung dalam zeolit sesuai dengan banyaknya pori atau volume pori. Zeolit banyak ditemukan dalam bahan batuan vulkanik dan sedimen serta batuan metamorfose karena pengaruh pemanasan dan pendinginan. Untuk menggambarkan hubungan antara komposisi dan struktur zeolit, Hamdan (1992) menuliskan rumus umum zeolit sebagai berikut, Mx/n {(AlO2)x(SiO2)y}.pH2O di mana ‘M’ adalah kation bermuatan positif n yang dapat dipertukarkan, ‘x’ adalah jumlah Al, ‘y’ adalah jumlah Si, ‘p’ adalah jumlah air kristal, ‘y/x’ = 1 sampai dengan 6, ‘p/x’ = 1 sampai dengan 4, ‘{ }’ merupakan bentuk kerangka dasar struktur alumina-silika. Zeolit alam bercampur dengan mineral lain seperti felspar, sodalit, nephelit dan leusit. Diperkirakan zeolit alam terbentuk dari lava gunung berapi yang membeku menjadi batuan vulkanik, membentuk sedimen sedimen dan batuan metamorfosa dan selanjutnya mengalami proses pelapukan karena pengaruh panas dan dingin membentuk mineral zeolit.

Katalis adalah suatu istilah yang sudah banyak dikenal oleh para peneliti dalam proses kimia. Katalis umumnya diartikan sebagai bahan yang dapat mempercepat proses reaksi kimia dan banyak digunakan dalam industri dan umumnya digunakan katalis heterogen. Katalis heterogen yang digunakan biasanya dalam bentuk logam murni atau oksidanya. Katalis yang banyak digunakan secara umum adalah katalis dalam bentuk logam-pengemban. Pemilihan pengemban ini harus memperhatikan sifat–sifat bahan pengemban itu sendiri, seperti stabilitas termal yang tinggi, memiliki rongga yang memungkinkan terjadinya adsorpsi, mempunyai kemampuan untuk mengikat logam sebagai katalis, mempunyai luas permukaan yang besar. Kemampuan zeolit sebagai katalis ditentukan oleh struktur dan komposisi zeolit. Keberadaan zeolit dalam reaksi katalitik heterogen menjadi relatif penting karena struktur zeolit yang berpori dan sifat alami dari Al(3+), Si(4+), O(2-) yang saling terikat dengan pola tertentu.

Keasaman zeolit merupakan salah satu faktor yang penting dalam penggunaan zeolit sebagai pengemban dan sebagai katalis. Zeolit yang digunakan secara luas sebagai katalis didasarkan pada produksi situs asam Bronsted dan adanya situs asam Lewis yang terdapat dalam pori zeolit (Smith,1992). Kation-kation dalam kerangka zeolit dapat ditukar dan disubstitusi tanpa merubah struktur kerangka (isomorfis) dapat menimbulkan gradien medan elektronik dalam kanal-kanal dan ruangan-ruangan zeolit (Smith, 1992). Gradien ini akan dialami semua adsorbat yang masuk ke pori zeolit, karena kecilnya diameter pori yang ukurannya beberapa angstrom. Sebagai akibatnya kelakuan-kelakuan zat teradsorpsi seperti tingkat dissosiasi, konduktivitas dan lain-lain akan berbeda dari kelakuan zat yang bersangkutan dalam keadaan normalnya. Molekul yang polar (misalnya : amoniak atau air) akan berinteraksi lebih kuat dengan gradien medan elektronik intrakanal dan gradien medan elektronik intrakristal, dibanding molekul-molekul non polar. Zeolit yang banyak mengalami substitusi kerangka isomorfis (rasio Si/Al rendah) akan memiliki medan elektronik lebih besar dibanding zeolit yang sedikit mengalami substitusi isomorfis, sehingga cenderung memilih molekul-molekul yang polar untuk diadsorpsi. Sebaliknya molekul-molekul non polar lebih suka diserap oleh zeolit dengan rasio Si/Al tinggi.

Ukuran pori merupakan faktor yang cukup penting yang berperan dalam proses adsorpsi. Molekul dengan ukuran besar sulit dapat masuk ke dalam pori atau ruang-ruang yang terdapat dalam zeolit jika ukuran porinya lebih kecil dibanding molekulnya. Molekul dengan ukuran kecil lebih mudah melakukan penetrasi ke dalam pori. Ukuran molekul erat kaitannya dengan bentuk geometri molekul, sehingga bentuk molekul berpengaruh terhadap adsorpsi (Smith, 1992).

Sistem katalis logam pengemban yaitu suatu sistem katalis yang dibuat dengan cara menempatkan komponen aktif logam ke dalam suatu bahan pengemban berpori seperti zeolit. Situs aktif logam diharapkan akan terdispersi secara merata ke seluruh permukaan dan pori- pori pengemban. Kemudian dilakukan aktivasi untuk meningkatkan kinerja katalis. Penempatan logam dalam pengemban merupakan hal yang penting dalam preparasi katalis. Penempelan logam dalam pengemban bertujuan untuk memperluas (memperbanyak) permukaan aktif (situs aktif). Teknik penempelan logam ke dalam pengemban akan berpengaruh terhadap dispersi dan juga sifat interaksi antara logam dengan pengemban, dimana yang biasa digunakan adalah dengan cara impregnasi basah, impregnasi kering dan dengan cara pertukaran ion.

Katalis logam pengemban dibuat dengan cara reduksi garam logam yang telah diembankan/dimasukkan dalam bahan pengemban, kemudian dipanaskan dan dikalsinasi untuk memodifikasi komposisi kimia, kemudian dilanjutkan dengan oksidasi dan reduksi untuk logam yang diembankan. Zeolit digunakan sebagai pengemban karena struktur kristalnya berpori dan memiliki luas permukaan yang besar, tersusun oleh kerangka silika–alumina, memiliki stabilitas termal yang tinggi, harganya murah serta keberadaannya cukup melimpah.

Menurut penelitian yang di lakukan Trisunaryanti, dkk (1996), zeolit alam di Indonesia, ternyata mengandung silika-alumina amorf dan kristal mordenit, yang setelah diaktivasi dan dimodifikasi mempunyai aktifitas yang baik. Berdasarkan kenyataan di atas, maka dimungkinkan untuk membuat katalis dari bahan zeolit alam Indonesia yang relatif murah dan berlimpah, dengan sifat kimia dan fisika yang bervariasi. Dispersi logam aktif ke permukaan pengemban mempunyai tujuan memperluas permukaan katalis dan memperbanyak jumlah situs aktif. Dengan demikian diharapkan kontak antara reaktan dengan katalis akan semakin banyak sehingga reaksi akan semakin mudah dan cepat. Tujuan lain digunakannya pengemban adalah untuk mengatur jumlah logam yang dibutuhkan dan meningkatkan aktivitas katalis serta daya tahan kerja katalis (Anderson dan Boudart, 1981). @_pararaja

Categories: kimia

Pinter namung keblinger

Januari 21, 2009 admin Komentar dimatikan

Kata-kata bahasa jawa yang berarti ”pintar tetapi tidak bisa menempatkan ilmunya”.

Yach…kita banyak ketahui Ilmuwan, Dokter dan selangit titel orang punya, tetapi kok salah kaprah. Banyak ilmu dislewengkan tidak pada tempatnya, banyak hal-hal baru yang mereka ciptakan, manfaatnya tidak seberapa tapi efeknya yang ditimbulkan bagi masyarakat secara langsung maupun tidak langsung sangatlah bahaya.

Kita sering mengkonsumsi berbagai jenis makanan, yang mungkin kita tidak tahu cara pembuatan dan komposisi yang digunakan. Banyak bahan-bahan kimia berperan penting untuk meningkatkan profit produsen dengan memanfaatkan ketidak tahuan konsumen akan bahaya yang mungkin akan ditimbulkan oleh makanan tersebut. Konsumen mudah tertarik dengan produk yang murah, banyak, menarik tanpa menghiraukan kualitas.

Banyak badan usaha atau PT sekalipun yang sudah bonavit kucing-kucingan dengan badan BPOM dengan produk yang dipasarkan, rekayasa analisa maupun manipulasi komposisi dilakukan guna mendapatkan keuntungan semata. Apa kita sadar dengan produk-produk berbagai macam merk yang terkenal maupun abal-abal dan membanjiri pasar?. Apa yang terjadi jika produk-produk itu adalah produk buatan industri kecil yang hanya kejar setoran tanpa sebuah analisa Laboratorium?. Apa kita yakin akan semua produk yang ada di pasar layak untuk dikonsumsi.

Manipulasi-manipulasi komposisi yang terjadi pada makanan yang dikonsumsi kita adalah: Read more…

Categories: wawasan

Puli/ Lempeng/ Gendar Vs Borax

Januari 21, 2009 admin Tinggalkan komentar

Sebagai orang jawa = Puli/ Lempeng/ Gendar bukan makanan asing, di setiap meja makan mungkin ”always forever prepared” yach..bisa dibilang ” empat sehat lima gendar”. Klo nggak kriuk kok ada yg kurang, makan nggak ada bunyian kurang asyik….

Tahukah teman-teman cara pembuatannya?

Yach..nasi yang dicampur dengan obat (bleng/puli versi jawa/publik) (borax versi kimia). Tahukah itu apa?

200px-borax_crystals

Sodium tetraborate decahydrate

Na2B4O7·10H2O atau Na2[B4O5(OH)4]·8H2O

Puli/bleng adalah campuran garam mineral konsentrasi tinggi yang dipakai dalam pembuatan beberapa makanan tradisional, seperti krupuk puli/lempeng/karak dan gendar. Sinonimnya natrium biborat, natrium piroborat, natrium tetraborat.

Bleng adalah bentuk tidak murni dari boraks, sementara asam borat murni buatan industri farmasi lebih dikenal dengan nama boraks. Dalam dunia industri, boraks menjadi bahan solder, bahan pembersih, pengawet kayu, antiseptik kayu, dan pengontrol kecoak.

Pemerintah telah melarang penggunaan boraks sebagai bahan makanan per Juli 1979, dan dimantapkan melalui SK Menteri Kesehatan RI No 733/Menkes/Per/IX/1988.

YLKI melalui Warta Konsumen (1991) melaporkan, sekitar 86,49 persen sampel mi basah yang diambil di Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya mengandung asam borat (boraks). Lalu 76,9 persen mi basah mengandung boraks dan formalin secara bersama-sama. YLKI juga melaporkan adanya boraks pada berbagai jajanan di Jakarta Selatan.

Bahaya bleng dan boraks

Boraks maupun bleng tidak aman untuk dikonsumsi sebagai makanan, tetapi ironisnya penggunaan boraks sebagai komponen dalam makanan sudah meluas di Indonesia. Mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks memang tidak serta berakibat buruk terhadap kesehatan tetapi boraks akan menumpuk sedikit demi sedikit karena diserap dalam tubuh konsumen secara kumulatif. Seringnya mengonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, lemak, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, hingga kematian.

Beberapa jenis pengawet lain yang sebenarnya bukan BTM, tetapi digunakan untuk mengawetkan makanan sehingga penggunaanya sangat membahayakan konsumen diantaranya natrium, tetra, boraks (borax), asam salisilat dan garamnya, dietilpilokarbonat, dulsin, kalium klorat, kloramfenikol, minyak nabati yang di brominasi

(brominated vegetable oil), nitrofurazon, dan kalium atau pottasium bromat. Diantara bahan-bahan tersebut yang paling sering digunakan di masyarakat adalah formalin dan boraks.

Bleng atau boraks biasanya dipakai dalam pembuatan makanan berikut ini:

* karak/lempeng/puli/gendar (kerupuk beras) sebagai bahan baku

* mi

* lontong, sebagai pengeras

* ketupat, sebagai pengeras

* bakso, sebagai pengawet dan pengeras

* kecap, sebagai pengawet

Referensi

1. ^ http://www.suaramerdeka.com/harian/0709/03/ragam05.htm

Pranala luar

* http://www.suaramerdeka.com/harian/0709/03/ragam05.htm

* http://www.disnakkeswan-lampung.go.id/index2.php

* Zat pengganti Formalin dan Boraks

* [eng] International Chemical Safety Card 0567

* [eng] International Chemical Safety Card 1229 (fused borax)

* [eng] National Pollutant Inventory – Boron and compounds

* [eng] NIOSH Pocket Guide to Chemical Hazards

* [eng] Sodium Borate in sefsc.noaa.gov

Categories: wawasan

Bahan – bahan Media Filtrasi. (2)

Januari 19, 2009 admin 1 comment

3. Pasir aktif
Pada unit penyaring, pasir aktif digunakan untuk menghilangkan besi dan mangan atau juga untuk filtrasi flokulasi. Pasir aktif yang sudah mempunyai lapisan katalistik di permukaan butirannya dapat mempercepat proses penghilangan besi (Fe) dan mangan (Mn).
Filter untuk menghilangkan besi dan mangan dengan proses biologis atau maupun untuk nitrifikasi dibutuhkan waktu awal operasional penyaring yang lebih panjang sampai beberapa bulan. Fase itu bisa dikurangi untuk filter dengan cara biologis dengan menjaga potensi redoks dan nilai pH optimal dan juga dengan menambah nutrisi untuk mikroorganisme/bakteri yang dibutuhkan.
Untuk penyaringan flok atau “flok filtration” bisa juga ditambah polielektrolit kedalam air pencucian sehingga status beban elektrik dari partikel media filter bisa dipengaruhi untuk mempercepat proses flokulasi.
Air baku yang mengandung besi dan mangan dilalukan ke dalam filter yang berisi media pasir aktif (material yang dilapisi oleh MnO2) dengan kecepatan penyaringan yang tidak terlalu tinggi, untuk memungkinkan proses oksidasi berjalan dengan baik, yaitu kontak antara air dengan butiran pasir yang mengandung lapisan MnO2 dipermukaannya, cukup efisien. MnO2 mengoksidasi besi dan mangan terlarut saat air mengalir melewati media penyaring, menghasilkan endapan besi dan mangan, dimana endapan ini akan tertahan pada saringan, sehingga air yang keluar dari filter, bebas dari besi dan mangan. MnO2 sendiri tereduksi menjadi Mn2O3 (seperti terlihat pada reaksi di bawah).
Fe2+ + MnO2 Mn2O3 + Fe3+
Mn2+ Mn4+
bilok +4 menjadi bilok +3 (tereduksi)
Bentuk tereduksi ini memerlukan regenerasi (mengaktifkan kembali) lapisan tersebut, dengan cara melalukan larutan KMnO4 (bisa digunakan larutan bekas merendam (jika belum rusak), atau larutan KMnO4 ( 3 – 5 % ) yang baru dengan kecepatan yang relatif rendah, secara kontinu atau “batch process”, jika perlu lakukan aliran berulang-ulang, sampai dapat dipastikan lapisan MnO2 sudah terbentuk kembali dan menempel kuat pada permukaan butiran. Setelah selesai lakukan pembilasan sampai air yang keluar dari filter tidak berwarna merah-ungu (warna KMnO4). Reaksi yang terjadi seperti berikut :
Mn2O3 + MnO4 – MnO2 + ……..
blok +3 m e n j a d i blok +4 (teroksidasi)
Setelah terjadi reaksi oksidasi ini, pasir akan aktif kembali dan filter siap digunakan kembali.
Jika air baku sebelumnya telah mengalami proses aerasi, pasir aktif yang dilapisi MnO2 ini mempunyai efek katalis pada proses oksidasi besi dan mangan oleh oksigen, sehingga pada kasus ini MnO2 tidak berubah (tidak tereduksi) dan tidak perlu diregenerasi.
Sebaiknya filter ini merupakan filter kering, hal ini dapat meningkatkan proses oksidasi, karena air akan meresap ke dalam lapisan penyaring lebih lama bila dibandingkan dengan air meresap ke dalam lapisan penyaring yang basah, hal ini akan memperpanjang waktu kontak, Sehingga proses oksidasi akan berjalan lebih efisien (dan keuntungan lainnya seperti diterangkan di atas

4. Arang breket
Arang breket adalah hasil dari proses “cracking” minyak bumi atau proses “cracking” Batu bara. Arang breket biasanya berbentuk pecahan dengan ukuran keseragaman partikel yang tinggi. Material ini dipakai pada filter tunggal maupun filter ganda. Untuk proses pengolahan air minum harus diperhatikan supaya tidak ada zat yang bisa larut kedalam air penyaring, misalnya zat anorganik atau ion logam. Sifat dari arang breket itu tergantung dari proses pembuatannya, misal dengan suhu yang tinggi, sedang atau rendah. Arang breket juga bisa bersifat pengadsorpsi atau katalis dan juga sekaligus merupakan permukaan yang cocok untuk proses bakteriologis.

5. Pasir Silika
Pasir silika adalah silikat ( silika dioksida, SiO2 ) alami yang merupakan batuan dengan berat jenis yang tinggi, biasanya dipakai hanya yang berukuran partikel kecil, biasanya dipakai sebagai media penyaring filter dengan media tunggal dan sebagai lapisan dibagian bawah didalam filter media ganda.

6. Silmenik
Silmenit adalah Fe-titanat alami dengan berat jenis yang tinggi. Biasanya dipakai dalam bentuk butiran sebagai media filter misalnya sebagai pengganti pasir silika didalam filter media ganda.
(berlanjut ke bagian 3).
@_pararaja

Categories: kimia

Membicarakan Orang/Kelompok Lain, Kebiasaan Kitakah? (2 of 2)

Januari 19, 2009 admin Tinggalkan komentar

Oleh : Achmad Faisol

Tentang membicarakan aib orang lain, Rasulullah saw. telah mengingatkan kita,

يَامَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَـانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ لاَيَغْتَابُوا الْمُسْلِمِيْنَ وَلاَتَتَّبِعُوْا عَوْرَاتَهُمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَّبِعْ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فىِ جَوْفِ بَيْتِهِ

“Wahai sekalian manusia yang beriman dengan lidahnya, (namun) belum masuk iman ke dalam hatinya. Janganlah engkau sekalian menggunjing orang-orang Islam dan jangan membuka aib mereka, (karena) sesungguhnya orang yang membuka aib saudaranya yang muslim, maka Allah akan membuka aibnya. Dan siapa yang aibnya dibuka Allah, maka Dia akan membukanya sekalipun di dalam rumahnya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

إِنَّ أَكْثَرَ خَطَايَا اِبْنَ آدَمَ فِيْ لِسَانِهِ

Sesungguhnya kebanyakan dosa manusia itu (bersumber) pada lidahnya. (HR Baihaqi, Ibnu Abi Dunya dan Thabrani)

إِخْزِنْ لِسَانَكَ إِلاَّ مِنْ خَيْرٍ، فَإِنَّكَ بِذٰلِكَ تَغْلِبُ الشَّيْطَانَ

Simpanlah lidahmu kecuali untuk yang baik, sebab dengan begitu engkau telah mengalahkan setan. (HR Ibnu Hibban dan Thabrani)

أَلْكَلِمَةُ الطَّـيِّبَةِ صَدَقَةٌ

Ucapan yang baik adalah sedekah. (HR Muslim)

Dzun Nun al-Mishri pernah ditanya oleh seseorang,
“Siapa orang yang paling mampu menjaga diri?”
“Orang yang betul-betul menjaga lisannya,” jawabnya.

‘Aidh al-Qarni menuturkan, “Kesehatan hati dan kesucian lidah adalah karunia Allah. Orang yang mendapatkan karunia ini akan dengan senang hati menutup aib sesama, perangainya bersih, hatinya jernih, selalu melihat sisi terang dalam kehidupan manusia, senang melihat sifat-sifat terpuji, gembira melihat kebiasaan yang baik, selalu berusaha mengajak orang lain kepada kebaikan, memaafkan kesalahan orang lain, memuji sifat-sifat mulia, dan mengabaikan hal-hal selain itu. Dengan kata lain, ia tidak mempunyai waktu untuk menggagas kesalahan sesama dan tidak pula mempunyai kesempatan untuk menghanguskan keshalehan orang lain dengan api kedengkian.”

Seorang bijak memberi nasihat, “Mengendalikan nafsu sama seperti mendidik anak kecil. Jika kita memanjakannya sejak bayi, maka ia akan tumbuh dewasa tak terkendali. Begitu pula nafsu. Jika kita menurutinya selalu, maka ia akan membesar, dan kita pun harus bersusah-payah mengendalikannya. Anehnya, semua orang sepakat untuk tidak memanjakan anak, tapi mengapa tidak semua orang sepakat untuk mengendalikan hawa nafsu?”

أَلْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ السُّوْءَ، وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ هَوَاهُ

Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan perbuatan jelek (keji) dan orang yang berjihad adalah orang yang memerangi hawa nafsunya. (HR Ibnu Majah dan an-Nasa’i)

Ibnul Mubarak menerangkan, “Siapa meninggalkan etika baik, maka Allah akan membuat dirinya melalaikan sunnah. Siapa melalaikan sunnah, maka Allah akan menjadikan dirinya melalaikan yang wajib. Siapa meninggalkan yang wajib, maka Allah akan menimpakan kepadanya kufur. Siapa yang melakukan perbuatan demikian ini, maka ia telah berada dalam kegelapan di atas kegelapan. Andai saja ia memperlihatkan kedua tangan, ia nyaris tidak akan bisa melihatnya.”

Categories: rohani

Empat Pilar Belajar.

Januari 17, 2009 admin Tinggalkan komentar

Oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd.

Untuk menghadapi dan menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan dunia yang sangat cepat, Unesco (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005) merumuskan empat pilar belajar, yaitu: belajar mengetahui (learning to know), belajar berkarya (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar berkembang secara utuh (learning to be).

1. Belajar mengetahui (learning to know)

Belajar mengetahui berkenaan dengan perolehan, penguasaan dan pemanfaatan informasi. Dewasa ini terdapat ledakan informasi dan pengetahuan. Hal itu bukan saja disebabkan karena adanya perkembangan yang sangat cepat dalam bidang ilmu dan teknologi, tetapi juga karena perkembangan teknologi yang sangat cepat, terutama dalam bidang elektronika, memungkinkan sejumlah besar informasi dan pengetahuan tersimpan, bisa diperoleh dan disebarkan secara cepat dan hampir menjangkau seluruh planet bumi. Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan berbagai upaya perolehan pengetahuan, melalui membaca, mengakses internet, bertanya, mengikuti kuliah, dll. Pengetahuan dikuasai melalui hafalan, tanya-jawab, diskusi, latihan pemecahan masalah, penerapan, dll. Pengetahuan dimanfaatkan untuk mencapai berbagai tujuan: memperluas wawasan, meningkatakan kemampuan, memecahkan masalah, belajar lebih lanjut, dll.

Jacques Delors (1996), sebagai ketua komisi penyusun Learning the Treasure Within, menegaskan adanya dua manfaat pengetahuan, yaitu pengetahuan sebagai alat (mean) dan pengetahuan sebagai hasil (end). Sebagai alat, pengetahuan digunakan untuk pencapaian berbagai tujuan, seperti: memahami lingkungan, hidup layak sesuai kondisi lingkungan, pengembangan keterampilan bekerja, berkomunikasi. Sebagai hasil, pengetahuan mereka dasar bagi kepuasaan memahami, mengetahui dan menemukan.

Pengetahuan terus berkembang, setiap saat ditemukan pengetahuan baru. Oleh karena itu belajar mengetahui harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan menjadi knowing much (berusaha tahu banyak).

2. Belajar berkarya (learning to do)

Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Belajar berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan. Dalam konsep komisi Unesco, belajar berkarya ini mempunyai makna khusus, yaitu dalam kaitan dengan vokasional. Belajar berkarya adalah balajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Sejalan dengan tuntutan perkembangan industri dan perusahaan, maka keterampilan dan kompetisi kerja ini, juga berkembang semakin tinggi, tidak hanya pada tingkat keterampilan, kompetensi teknis atau operasional, tetapi sampai dengan kompetensi profesional. Karena tuntutan pekerjaan didunia industri dan perusahaan terus meningkat, maka individu yang akan memasuki dan/atau telah masuk di dunia industri dan perusahaan perlu terus bekarya. Mereka harus mampu doing much (berusaha berkarya banyak).

3. Belajar hidup bersama (learning to live together)

Dalam kehidupan global, kita tidak hanya berinteraksi dengan beraneka kelompok etnik, daerah, budaya, ras, agama, kepakaran, dan profesi, tetapi hidup bersama dan bekerja sama dengan aneka kelompok tersebut. Agar mampu berinteraksi, berkomonikasi, bekerja sama dan hidup bersama antar kelompok dituntut belajar hidup bersama. Tiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan, kebudayaan, tradisi, dan tahap perkembangan yang berbeda, agar bisa bekerjasama dan hidup rukun, mereka harus banyak belajar hidup bersama, being sociable (berusaha membina kehidupan bersama)

4. Belajar berkembang utuh (learning to be)

Tantangan kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks, menuntut pengembangan manusia secara utuh. Manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun moral. Untuk mencapai sasaran demikian individu dituntut banyak belajar mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Sebenarnya tuntutan perkembangan kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia utuh yang unggul. Untuk itu mereka harus berusaha banyak mencapai keunggulan (being excellence). Keunggulan diperkuat dengan moral yang kuat. Individu-individu global harus berupaya bermoral kuat atau being morally.

 

Categories: pendidikan

Pompa Air Tanpa Motor

Januari 17, 2009 admin 3 komentar

Mungkin Anda sudah pernah mendengar tentang pompa hidran. Pompa ini mampu mengalirkan air tanpa bantuan mesin pemompa. Daya penggeraknya adalah tekanan dinamik yang ditimbulkan oleh gaya air yang meluncur dari suatu ketinggian.

Tekanan air itu kemudian diubah sebagai tenaga pendorong mengangkat air ke tempat sasaran yang lebih tinggi. Prinsip-prinsip tersebut pun ada dalam Pompa Air Tanpa Motor (PATM) karya Ade R Purnama dari Bandung, Jawa Barat. Hanya saja dia telah melakukan serangkaian uji coba yang menjadikan modifikasinya tersebut layak untuk diaplikasikan di lapangan dengan kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pompa hidran biasa. Bahkan temuan Ade telah mendapatkan hak paten pada tahun 1996.

Keunggulan

PATM tergolong unik karena memanfaatkan kekuatan alamiah berupa tekanan atau gaya air. Wajar bila alat ini dikatakan hemat karena tidak perlu menggunakan motor penggerak dan tidak memerlukan bahan bakar/tenaga listrik. Biaya perawatan pun kecil. Alat ini mampu bekerja terus menerus, 24 jam, dan mampu mengalirkan air sampai ketinggian ratusan meter dari sumber air. Tidak perlu ada operasionalisasi yang rumit, karena alat telah bekerja secara otomatis.

Sistem Kerja

Pompa ini memiliki tiga bagian utama yakni: Sumber air; dapat berupa danau, aliran sungai, kolam, atau bendungan kecil dengan debit paling sedikit 20 lt/detik/unit PATM Unit pompa; dipasang antara 18 dan 24 meter dari sumber air dengan posisi minimal 2 meter dan maksimal 5 meter permukaan air serta dihubungkan dengan pipa penghubung berukuran 6 inci (tipe menengah) Jaringan pipa pengeluaran dan pipa penghantar; dapat dipasang sepanjang puluhan kilometer apabila ketinggian antara sumber air dan daerah sasaran diukur tidak lebih dari 1.000 meter (QD).

Sistem kerja PATM diawali dengan aliran air dari sumber melalui pipa pemasukan atau pipa penghubung ke katup limbah. Gaya tekan air yang masuk ke dalam pompa akan mendorong katup pompa (katup limbah) ke atas sehingga tertutup dan menghentikan aliran air dalam pipa pemasukan. Penghentian aliran air secara tiba-tiba ini akan menghasilkan tekanan tinggi dalam pompa.

Tekanan tinggi akan mengatasi tekanan dalam ruang udara pada katup penghantar sehingga air dari sumber mengalir lagi dari pipa penghubung. Perputaran ini berlangsung berulang-ulang dengan frekuensi yang sangat cepat sehingga air mengalir melalui pipa pemasukan dan pengeluaran secara kontinyu. Pada dasarnya prinsip kerja PATM merupakan proses pengubahan energi kinetik ‘gaya gerak’ air menjadi tekanan dinamik sehingga menimbulkan momentum atau ‘pukulan air’ yang berkekuatan tinggi dalam pipa saluran. Tekanan ini mengakibatkan katup pompa dan katup penghantar dalam tabung pompa terbuka dan tertutup secara bergantian.

Tekanan dinamik diteruskan untuk menghasilkan daya tekan dalam pipa pemasukan sehingga memaksa air naik ke pipa pengeluaran dan didorong ke pipa penghantar. Jadi prinsip kerja PATM yaitu melipatgandakan kekuatan gaya dorong air.

Sumber air

PATM ini membutuhkan air yang cukup yakni minimal 20 liter/detik. Guna menjaga keberlangsungan pasokan air ke pipa pemasukan, air perlu dikumpulkan dalam bendungan.  

 

Adopted by @_pararaja

Categories: ilmu

SEKILAS TENTANG GANGGANG DAN PENANGGULANGANNYA (bagian 1): GANGGANG (Algae).

Januari 17, 2009 admin 7 komentar

Algae adalah mikroorganisme aerobic fotosintetik, dijumpai di mana saja yang tersedia cukup cahaya, kelembapan, dan nutrient sederhana yang memperpanjang hidupnya. Algae berukuran amat beragam, dari beberapa micrometer sampai bermeter-meter panjangnya. Organisme ini mengandung Klorofil serta pigmen-pigmen lain untuk melangsungkan fotosintesis, tersebar luas di alam dan dijumpai hampir di segala macam lingkungan yang terkena sinar matahari. Algae dapat hidup pada suhu optimum antara   20 -30 0C dan pada pH optimum antara 4 – 11.

Kebanyakan  Algae hidup di air, merupakan dasar atau permulaan kebanyakan rantai makanan akuatik karena kegiatan fotosintesisnya dan dikenal sebagai produsen primer bahan organic. Selain itu, dalam semua lingkungan, algae menghasilkan oksigen selama fotosintesis. Gas ini dimanfaatkan oleh binatang maupun organisme lain untuk respirasi aerobic.

Algae juga terdapat dalam tanah meskipun kehadirannya itu tidak mencolok Diperkirakan algae penting dalam stabilitas dan perbaikan sifat-sifat tanah dengan mengagregasi partikel-partikel dan menambahkan bahan organik.

Algae di seluruh tempat dan dapat menyebabkan gangguan pada pengairan tumbuhan, persediaan air minum, kolam air, kolam renang dan menara air pendingin.

I.           Manfaat Ganggang (Algae)

Algae dimanfaatkan manusia dalam banyak cara. Di negara-negara yang banyak dijumpai algae merah dan coklat, organisma ini digunakan sebagai pupuk. Tanah diatom, yang pada dasarnya merupakan sisa ganggang mati (diatom) digunakan sebagai bahan penggosok dalam pekerjaan-pekerjaan penggosokan. Juga telah dimanfaatkan untuk membuat penginsulasi panas dan dalam beberapa macam filter.

Algae dimanfaatkan sebagai makanan, terutama di negara-negara Timur. Orang Jepang membudidayakan dan memanen Porphyra, suatu ganggang merah, sebagai tanaman pangan. Ganggang merah menghasilkan dua poliskarida yang penting, keregen (lumut Irlandia) dan agar. Kedua bahan ini digunakan sebagai bahan pengemulsi, pembentuk sel, dan pengental dalam banyak makanan kita.

Sebagai kelompok algae bukanlah penyebab infeksi yng penting pada manusia.Meskipun hanya beberapa algae bersifat patogenik, satu diantaranya yaitu Prototheca, telah dilaporkan sebagai patogen yang mungkin menyerang manusia. Organisme itu ditemukan pada infeksi-infeksi sistemik dan subkutan, juga dalam bursitis, suatu peradangan pada persendian. Beberapa algae asal udara diimplikasikan dengan alergi karena penghirupan. Beberapa spesies menjadi parasit pada tumbuhan tingkat tinggi.

Beberapa Algae Akuatik menghasilkan toksin yang letal terhadap ikan dan hewan-hewan lain. Beberapa algae laut an menimbulkan kematian binatang akuatik dengan menghasilkan neurotoksin atau racun syaraf (salah satu racun paling ampuh yang diketahui).

II.        Morfologi Algae

Banyak spesies ganggang terdapat sebagai sel tunggal yang dapat berbentuk bola, batang, gada atau kumparan. Dapat bergerak atau tidak. Algae hijau uniseluler yang khas.

Algae mengandung nucleus yang dibatasi membrane. Setiap sel mengandung satu atau lebih kloroplas, yang dapat berbentuk pita atau seperti cakram-cakram diskrit (satuan-satuan tersendiri) sebagaimana yang terdapat pada tumbuhan hijau. Di dalam matriks kloroplas terdapat membrane tilakoid yang berisikan klorofil dan pigmen-pigmenpelengkap yang merupakan situs reaksi cahaya pada fotosintesis.

Algae berkembang biak secara seksual atau aseksual. Reproduksi aseksual berupa pembelahan biner sederhana. Reproduksi seksual dijumpai di antara algae. Dalam proses ini terdapat konyugasi gamet (sel seks) sehingga menghasilkan zigot.

III.    Fisiologis Algae

Algae adalah mikroorganisme aerobic fotosintetik, dijumpai di mana saja yang tersedia cukup cahaya, kelembapan, dan nutrient sederhana yang memperpanjang hidupnya.

Pertumbuhan algae berlangsung cepat di air yang diam dengan bantuan sinar matahari. Phosphat dan Nitrat dalam air dapat mendukung pertumbuhan Algae.

Beberapa spesies algae hidup pada salju  dan es di daerah-daerah kutub dan puncak-puncak gunung. Beberapa ganggang hidup dalam sumber air panas dan suhu setinggi 70 0C. beberapa algae beradaptasi pada tanah lembab, pepagan pohon, dan bahkan permukaan batuan.

Ganggang mempunyai tiga macam pigmen fotosintetik yaitu klorofil, karotenoid, dan fikobilin (ketiganya terdapat dalam kloroplas). Sebagai hasil fotosintetiknya, algae menyimpan berbagai produk makanan cadangan sebagai granul atau globul dalam sel-selnya. Ganggang hijau menyimpan pati seperti yang terdapat pada tumbuhan. Algae lain dapat menyimpan macam-macam karbohidrat, beberapa algae menyimpan minyak atau lemak.

IV. Beberapa kelas Algae

IV.1.    Chrysophycophyta (ganggang coklat-keemasan)

Spesies ini sebagian besar berflagela, kebanyakan adalah uniseluler, tetapi beberapa membentuk koloni. Warna khasnya disebabkan karena klorofilnya tertutup pigmen-pigmen berwarna coklat.

IV.2.    Bacillariophycophyta (Diatom)

Kelompok ini terdiri dari diatom-diatom yang terdapat baik dalam air tawar maupun dalam air asin serta dalam tanah lembap.Diatom dapat uniselluler, berkoloni atau berbentuk filamen dan dijumpai dalam berbagai bentuk dan rupa.

IV.3.    Euglenophycophyta (Euglenoid)

Ganggang uniseluler ini bergerak secara aktif dengan flagella, bereproduksi dengan pembelahan biner membujur.

IV.4.    Cryptophycophyta (kriptomonad)

Algae ini dinamakan kriptomonad, mempunyai dua flagella tak sama. Biasanya sell-sell memipih, berbentuk sandal dan dijumpai sendiri-sendiri, beberapa berdinding dan yang lain tidak berdinding. Cadangan makanan disimpan sebagai pati. Berkembang biak dengan membelah sel secara membujur.

IV.5.    Pyrrophycophyta

Mempunyai dinding sel yang nyata yang terdiri atas lempengan-lempengan yang mengandung selulosa. Hidup dalam air tawar dan air asin, beberapa genus dapat dijumpai sebagai pertumbuhan massif. Reproduksi sebagian besar dengan pembelahan sel aseksual.

IV.6.    Xanthophycophyta (algae hijau-kuning)

Secara khas selnya yang motil mempunyai dua flagel tak sama panjang, dan dinding selnya kerap kali berisikan silica. Produk cadangannya adalah minyak.

IV.7.    Liken

Lumut kerak atau liken merupakan organisme komposit yang terdiri dari ganggang atau sianobakterium dan cendawan yang tumbuh bersama dalam simbiosis mutualisme.

IV.8.    Chlorophycophyta (Algae hijau)

Merupakan kelompok organisme yang besar dan beragam, terutama terdiri dari spesies yang hidup di air tawar, walaupun sebagian ditemukan dalam air laut. Sebagian besar ganggang hijau mengandung satu kloroplas per sel yang berisikan pusat-pusat pembentukan pati.

Berbentuk uni seluler, filamen yang sekeliling tubuhnya banyak diselimuti oleh lender (polisakarida), atau berbentuk koloni sederhana, dan bergerak dengan menggunakan flagella. Termasuk ke dalam kelompok jasad-fotosintetik, karena banyak mengandung klorofil, di samping pigmen fikobilin (kebiru-biruan) dan fikosantin (kecoklatan) dan fikoeritrin (kemerah-merahan).

Umumnya hidup di dalam air secara bebas, pada tanah yang lembab, atau bersimbiosa dengan jasad lain, seperti pakupakuan (azolla) sampai tanaman tnggi (cassuarina).

Beberapa jenis algae ini berguna sebagai penambat Nitrogen pada tanah pertanian, tetapi ada juga yang dapat menyebabkan blooming pada air.

                       Ganggang hijau berkembang biak dengan membelah diri, dengan pembentukan zoospora aseksual berflagella, atau secara seksual yaitu isogami dan heterogami.

Bersambung…!

Categories: ilmu

Bahan – bahan Media Filtrasi. (1)

Januari 17, 2009 admin 4 komentar

1.      Resin

Resin adalah zat yang punya pori yang besar dan bersifat sebagai penukar ion yang berasal dari Polysterol, atau polyakrilat yang berbentuk granular atau bola kecil dimana mempunyai struktur dasar yang bergabung dengan grup fungsional kationik, non ionik/anionik atau asam. Sering kali resin dipakai untuk menghilangkan molekul yang besar dari air misalnya asam humus, liqnin, asam sulfonat. Untuk regenerasi dipakai garam alkali atau larutan natrium hidroksida, bisa juga dengan asam klorida jika dipakai resin dengan sifat asam. Dalam regenerasi itu dihasilkan eluen yang mengandung organik dengan konsentrasi tinggi. Untuk proses air minum sampai sekarang hunya dipakai resin dengan sifat anionik.

2.      Karbon aktif

Karbon aktif adalah material yang berbentuk butiran (granular) atau bubuk yang berasal dari material yang mengandung karbon misalnya batubara, kulit kelapa. Dengan pengolahan tertentu (tekanan tinggi), dapat diperoleh karbon aktif yang memiliki permukaan dalam yang luas (Proses aktivasi). Untuk proses air minum sering dipakai karbon aktif dalam bentuk butir atau bubuk dalam filter adsorpsi (filter “conditioning”).

Sifat adsorpsi yang tinggi dari karbon aktif bisa dimanfaatkan untuk proses filter “conditioning”, atau filter dengan media pembantu. Selain itu karbon aktif juga dimanfaatkan sebagai media filter pada filter media tunggal atau filter media ganda. Permukaan dalam partikel karbon aktif yang luas sering dimanfaatkan sebagai media pelekat/penahan mikroorganisme di dalam filter yang bekerja secara biologis.

Secara umum karbon/arang aktif biasanya dibuat dari arang tempurung dengan pemanasan pada suhu 600-2000°C pada tekanan tinggi. Pada kondisi ini akan terbentuk rekahan-rekahan (rongga) sangat halus dengan jumlah yang sangat banyak, sehingga luas permukaan arang tersebut menjadi besar. 1gram karbon aktif, pada umumnya memiliki luas permukaan seluas 500-1500m2, sehingga sangat efektif dalam menangkap partikel-partikel yang sangat halus berukuran 0.01-0.0000001 mm. Karbon aktif bersifat sangat aktif dan akan menyerap apa saja yang kontak dengan karbon tersebut, baik di air maupun di udara. Apabila dibiarkan di udara terbuka, maka dengan segera akan menyerap debu halus yang terkandung diudara(polusi). Dalam waktu 60 jam biasanya karbon aktif tersebut manjadi jenuh dan tidak aktif lagi. Oleh karena itu biasanya arang aktif di kemas dalam kemasan yang kedap udara.

Jerapan adalah suatu proses dimana suatu partikel “menempel” pada suatu permukaan akibat dari adanya “perbedaan” muatan lemah diantara kedua benda (gaya Van der Waals), sehingga akhirnya akan terbentuk suatu lapisan tipis partikel-pertikel halus pada permukaan tersebut. Permukaan karbon yang mampu menarik molekul organik misalnya merupakan salah satu contoh mekanisme jerapan, begitu juga yang terjadi  pada antar muka air-udara, yaitu mekanisme yang terjadi pada suatu protein skimmer.  Molekul organik bersifat polar sehingga salah satu ujungnya akan cenderung tertarik pada air (disebut sebagai hidrofilik/suka air) sedangkan ujung yang lain bersifat hidrofobik (benci air).  Permukaan molekul aktif seperti ini akan tertarik pada antarmuka air-gas pada permukaan gelembung udara, sehingga molekul-molekul tersebut akan membentuk suatu lapisan tipis disana dan membentuk buih/busa. Dalam suatu protein skimmer; ketika gelembung udara meninggalkan air menuju tampungan busa, gelembung udara tersebut akan kolaps sehingga pada akhirnya bahan-bahan organik akan tertinggal pada tampungan busa yang

Absorpsi merupakan suatu proses dimana suatu partikel terperangkap kedalam struktur suatu media dan seolah-olah menjadi bagian dari keseluruhan media tersebut.  Proses ini dijumpai terutama dalam media karbon aktif.  Karbon aktif memiliki ruang pori sangat banyak dengan ukuran tertentu.  Pori-pori ini dapat menangkap partikel-partikel sangat halus (molekul)  dan menjebaknya disana. Dengan berjalannya waktu pori-pori ini pada akhirnya akan jenuh dengan partikel-partikel sangat halus sehingga tidak akan berfungsi lagi.  Sampai tahap tertentu beberapa jenis arang aktif  dapat di reaktivasi kembali, meskipun demikian tidak jarang yang disarankan untuk sekali pakai.  Reaktifasi karbon aktif sangat tergantung dari metode aktifasi sebelumnya, oleh karena itu perlu diperhatikan keterangan pada kemasan produk tersebut. 

Besi dan mangan akan benar-benar tertahan pada karbon aktif dengan syarat telah mengalami oksidasi secara sempurna (oleh ozon atau permanganat), sebelum air masuk ke dalam filter karbon aktif. Selain itu bau dan rasa yang tidak enak pada air dapat dihilangkan pula. Proses ini mahal.

Penyerapan menggunakan karbon aktif adalah efektif untuk menghilangkan zat organic yang menyebabkan perubahan warna. Pencemar organic ditarik oleh karbon aktif dan melekat pada permukaannya dengan kombinasi dari daya fisik kompeks dan reaksi kimia. Karbon aktif memiliki jaringan pouros (berlubang) yang sangat luas yang berubah-ubah bentuknya untuk menerima molekul pengotor baik besar maupun kecil.

Karbon aktif tersedia dalam bentuk bubuk dan butiran-butiran kecil. Tapi, karbon aktif bubuk (PAC) lebih mudah digunakan dalam pengolahan air dengan sistem pembubuhan yang sederhana.

Titik pembubuhan Karbon aktif

Penyerapan karbon aktif bubuk ( Powder activated carbon, PAC ) dapat digunakan pada instalasi pengolahan di hampir seluruh tempat / titik pembubuhan, sebelum penyaringan. Tapi pokok-pokok berikut harus dipertimbangkan untuk memilih tempat pembubuhan:

a. Waktu kontak karbon aktif dengan zat organik sangat penting dan tergantung pada kekampuan karbon aktif untuk berada dalam larutan, paling tidak waktu kontak selama 15 menit harus dilakukan.

b. Permukaan partikel karbon aktif akan kehilangan kapasitas penyerapan bila terlapisi dengan koagulan atau bahan kimia lainnya untuk pengolahan air.

c. Karbon aktif akan menyerap klor (1 mg/l karbon aktif bubuk dapat menyerap klor sebesar 0,2 – 0,25 mg/l Cl2).

Mengingat faktor-faktor tersebut diatas, maka menunjukkan bahwa titik pembubuhan karbon aktif harus dipertimbangkan seperti misalnya :

-          Titik pembubuhan dilakukan pada saluran/pipa penyadap air baku atau “water intake” adalah tempat yang paling menguntungkan bagi pembubuhan karbon aktif bubuk, jika fasiltias pencampuran yang memadai telah tersedia.  Penggunaan saluran/pipa air baku sebagai titik pembubuhan karbon aktif bubuk membutuhkan waktu kontak yang cukup lama dan menghindari masalah yang mungkin terjadi disebabkan oleh pembubuhan karbon aktif pada air yang mengalami proses prekhlorinasi sebelumnya. Karbon aktif akan menyerap klor dan menghasilkan dosis keduanya meningkat jika karbon ditambahkan setelah preklorinasi.

-          Jika pembubuhan kedalam air baku tindak memungkinkan, karbon aktif bubuk dapat dibubuhkan ke bagian lain sebelum penyaringan, tapi dosisnya akan lebih besar bila dihitung untuk waktu kontak yang lebih cepat dan gangguan dari bahan kimia lain seperti kagulan dan klor. Karbon aktif bubuk dapat dibubuhkan ke dalam air yang keluar (effluent) dari unit pengendap dan yang akan memasuki filter, tindakan yang hati-hati harus dilakukan dalam mengoperasikan penyaringan.

-          Karbon yang pecah menjadi butiran halus dan dapat melewati saringan menyebabkan “air hitam” menimbulkan keluhan dari para pelanggan.

Dosis Karbon aktif yang akan digunakan tergantung dari tipe dan konsentrasi senyawa organik yang ada. Bila karbon aktif dibuang sebagai bagian dari lumpur dalam bak pengendapan dan dalam air buangan/air bekas pencucian saringan, tidaklah praktis untuk memperolehnya kembali atau menggunakannya lagi.

3.      Antrasit

Antrasit atau Batu bara adalah material yang mengandung zat “volatile” (mudah menguap) dengan konsentrasi yang rendah. Antrasit dipakai dalam bentuk butiran sebagai media filter pada filter dengan media ganda, untuk meningkatkan efisiensi penyaringan.

4.      Batu berpori

Batu berpori berasal dari daerah gunung berapi yang mengandung silika tinggi. Batu berpori ini digunakan dalam bentuk butiran sebagai media filter pada filter media ganda.

5.      Dolomit

Dolomit adalah material alami terdiri dari kalsium magnesium karbonat (x CaCO3.y MgCO3) dan yang dipakai sebagai media filter dalam bentuk butiran. Karbonat atau dolomit kalsinat (seperti Netralit, Akdolit, Magno-dol) biasa digunakan. Cara ini mempunyai keuntungan, karena mempunyai dua fungsi yaitu penghilangan besi dan mangan serta netralisasi (menetralisir CO2 agresif dan menaikan alkalinitas air).

Pada umunya metode ini digunakan jika air agresif, adalah lunak (kandungan mineral atau kesadahan relatif kecil) dan mengandung sejumlah kecil CO2 agresif.

Kecepatan reaksi yang agak cepat dapat dicapai dengan menggunakan magno sebagai media filter.

Magno dibuat dari dolomit : 700°C

CaCO3.MgCO3 CaCO3.Mg O + CO2

Membawa air agresif kontak dengan lapisan yang mengandung CaCO3 secara teoritis , adalah metode yang sangat baik untuk menghilangkan CO2 agresif.

CO2 + CaCO3 + H2O Ca2+ + 2HCO3

Nilai kesetimbangan dapat dilampaui. Reaksi tergantung pada : ukuran partikel CaCO3 , temperatur air dan komposisi kimia air. Kerugiannya adalah kecepatan reaksi yang agak rendah bila menggunakan marmer.

 

CO2 agresif akan bereaksi dengan magno sebagai berikut :

3CO2 + CaCO3.Mg O + 2H2O Ca2+ + Mg2+ + 4HCO3

Filter magno dalam pemakaiannya 5 – 10 kali lebih kecil dari filter marmer.

6.      Dolomit Setengah Kering

Dolomit setengah kering (CaCO3.MgO) diproses dari dolomit alami dengan proses termal

 

@_pararaja

 

Categories: kimia

Prediksi Soal UN

Januari 12, 2009 admin 2 komentar

temen-temen..nich yach buat latihan.. biar tambah pinter, biar 100% lulus… semua akan bangga padamu

Download Prediksi Soal UN SMP

Kunci Jawaban Prediksi Soal UN SMP

Download Prediksi Soal UN dan Kunci Jawaban SMA IPA

Download Prediksi Soal UN dan Kunci Jawaban SMA IPS

Tambahan:

Download Latihan Soal Matematika dan Jawaban Ujian Nasional (UN) untuk SMK

Download Latihan Soal dan Jawaban SMA Kelompok Bahasa

Untuk memenuhi permintaan pengunjung, soal-soal latihan UAN SD dapat didownload berikut ini.

Membicarakan Orang/Kelompok Lain, Kebiasaan Kitakah?

Januari 11, 2009 admin Tinggalkan komentar

Oleh : Achmad Faisol

Penulis pernah mengikuti sebuah pelatihan. Untuk menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap kelompok yang sedang diikuti, salah satu mentor menunjukkan berbagai keunggulan kelompok yang sedang penulis ikuti. Demi meningkatkan rasa cinta, sang mentor juga membandingkan dengan organisasi lain. Sayangnya, karena terlalu bersemangat, beliau mungkin lupa (khilaf) sehingga beliau merendahkan yang lain dan mengunggulkan kelompok sendiri. Memang, niat ada di hati, tapi bukankah pemilihan kata mencerminkan maksud kita?

Buat apa kita membahas orang, kelompok, perkumpulan, harakah, organisasi, sekolah, kampus atau partai lain jika hanya untuk mencari kelemahan dengan tujuan merendahkan mereka? Apakah ini kebiasaan kita? Kalau memang alasan kita untuk analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity and Threat), mengapa kalimat yang terucap terkesan merendahkan dan meremehkan yang lain?

Apakah kita senang menyantap makanan dengan bahan baku bangkai hewan? Apakah kita juga termasuk orang yang suka menikmati hidangan berupa mayat manusia, apalagi itu saudara kita sendiri? Tentu tidak, kan? Read more…

Categories: rohani

Proses Pembuatan Plastik Dengan Sistem Injeksi.

Januari 11, 2009 admin 16 komentar

Benda plastik hampir kita temukan di semua tempat, mulai dari bungkus makanan, peralatan elektronik, mobil, motor, peralatan rumah tangga dan sebagainya. Untuk membentuk plastik tersebut setiap jenis bentuk dan material plastik mempengaruhi proses dan teknologi pembuatannya. Misal, untuk membentuk sol sepatu digunakan press rubber, untuk membentuk part- part elektronik seperti casing handphone, gear pada printer, tombol, gelas plastik, dan benda sejenisnya di gunakan mesin injection, sedangkan untuk membuat botol digunakan blow mold type injection, dalam artikel ini akan membahas pembuatan benda plastik dengan teknology injection.
Sejarah Plastic Injection Read more…

Categories: kimia

Sintesis Poliester Asam Lemak Gula dari Minyak Nabati sebagai Ingredien dalam Rangka Memproduksi Makanan Rendah Kalori

Januari 11, 2009 admin Tinggalkan komentar

Sakidja, Deddy Muchtadi, dan Tien R Muchtadi
Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor


Untuk menjaga kesehatan dan menghindari penyakit kardiovaskular tanpa mengorbankan keinginan konsumen akan rasa dan tekstur lemak, perlu dirancang bahan makana yang dapat menggantikan sebagian lemak dalam makanan. Penelitian ini bertujuan mendapatkan kondisi optimum dalam sintesis poliester asam lemak gula (sugar fatty acid polyester) nonkalori dari minyak kelapa baik dengan sukrosa maupun dengan sukrosa oktaasetat. Hasil yang terbaik kemudian dicoba untuk digunakan sebagai ramuan untuk memroduksi makanan rendah kalori sebagai upaya menambah nilai minyak kelapa dan turut membantu menanggulangi masalah yang berkaitan dengan penyakit yang disebabkan oleh gizi lebih.

Percobaan diawali dengan pemurnian minyak kelapa kasar melalui netralisasi asam lemak bebas dan penghilangan gum dengan larutan NaOH 20°Be, pemutihan dengan menggunakan bleaching earth sebanyak 4% pada suhu 80-85°C, dan deodorisasi dengan memanaskan minyak pada suhu 150°C selama 15 menit di bawah atmosfer gas nitrogen. Hasilnya menunjukkan bahwa minyak kelapa kasar mempunyai bobot jenis 0.8976 g/cm3 pada 25°C, asam lemak bebas (sebagai laurat) 3.25%, bilangan asam 9.13, derajat asam 16.26, indeks bias 1.4528 pada 25°C, bilangan iodin 7.08, dan bilangan penyabunan 261.26. Setelah pemurnian diperoleh minyak kelapa dengan bobot jenis 0.9129 g/cm3, asam lemak bebas 0.43%, bilangan asam 0.03, derajat asam 0.05, indeks bias 1.4524, bilangan iodin 6.92, dan bilangan penyabunan 250.24. Kadar asam lemak bebas menurun secara mencolok.
Transmetilasi-basa minyak kelapa dilakukan dengan 2 cara: berdasarkan prosedur transesterifikasi dan yang berdasarkan metode metanolisis yang dikatalisis oleh natrium metoksida, CH3ONa. Ester metil asam lemak (FAME) yang dihasilkan dianalisis komposisinya dan kemudian dibandingkan dengan komposisi ester metil. Hasil analisis menunjukkan bahwa FAME yang diperoleh melalui kedua cara tersebut mempunyai komposisi yang hampir sama, namun rendemen (97.81% mol) dan kemurnian metil ester (100%) yang diperoleh melalui transesterifikasi lebih tinggi daripada yang disintesis dengan menggunakan katalis CH3ONa, yaitu rendemen 86.03% mol dengan kemurnian 92.2%. Metode transesterifikasi menghasilkan FAME dengan bobot molekul rata-rata 228 dan bobot molekul trigliserida 680, sedangkan metanolisis menghasilkan bobot molekul rata-rata 221 dan bobot molekul trigliserida 675. Jadi, sintesis ester metil yang didasarkan pada transesterifikasi lebih efisien dan selanjutnya digunakan untuk mensintesis ester metil sebagai bahan dasar sintesis poliester sukrosa.
Poliester sukrosa (SPE) disintesis melalui transesterifikasi sukrosa maupun interesterifikasi sukrosa oktaasetat. Kondisi optimum sintesis SPE dengan transesterfikasi ialah nisbah mol 1:16, katalis 4% dari bobot sukrosa, suhu reaksi 120°C, tekanan 5-10 mm Hg, waktu reaksi 7 jam, dan rendemen 83%. Produk memiliki bobot jenis 0.9635, indeks bias 1.456 pada 40°C. Kondisi optimum yang diperoleh melalui interesterifikasi ialah nisbah mol sukrosa oktaasetat terhadap FAME antara 1:10 dan 1:12, konsentrasi katalis NaOCH3 sebanyak 2% dari bobot total sukrosa oktaasetat plus FAME, suhu reaksi 105-110 °C, tekanan 0-5 mm Hg, waktu reaksi 2.5 jam. Rendemen yang diperoleh pada kondisi optimum ini ialah 46.74-47.10% mol atau 131-132% bobot. Sifat fisiko-kimia dan fungsional poliester sukrosa hasil sintesis: indeks bias 1.456 pada 25°C, bobot jenis 0.9533 pada 25°C, viskositas 486 cp, bilangan penyabunan 233, derajat substitusi (DS) 7.8, imbangan hidrofil-lipofil (HLB) 2.0. Viskositas polister sukrosa hasil sintesis (486 cp) jauh lebih tinggi daripada viskositas minyak kelapa (170 cp) yang digunakan sebagai bahan dasar.
Perilaku melebur sukrosa poliester lebih rendah daripada perilaku melebur minyak kelapa. Perilaku melebur sukrosa poliester adalah suhu onset 2.590°C, suhu puncak 10.540°C, dan suhu akhir 18.406°C, dengan kalor lebur 30.572 J/g. Perilaku melebur minyak kelapa ialah suhu onset 13.722°C, suhu puncak 24.250°C, dan suhu akhir 30.016°C dengan kalor lebur 106.241 J/g. Poliester sukrosa mempunyai 2 puncak sehingga diduga mempunyai 2 bentuk kristal. Analisis dengan kromatografi lapis tipis menunjukkan bahwa poliester sukrosa hasil sintesis, yang mempunyai DS antara 7 dan 8, terdiri atas 4 fraksi, yaitu poliester sukrosa dengan DS 5 sampai 8. Fraksi yang dominan (sekitar 86%) adalah poliester sukrosa dengan DS 8. Gugus fungsional fraksi poliester sukrosa DS 8 atau oktaester sukrosa yang dianalisis dengan spektroskopi inframerah menunjukkan adanya gugus asetat.
Uji daya cerna in vitro menunjukkan bahwa poliester sukrosa tidak dapat dihidrolisis atau dicerna sedangkan minyak kelapa dapat dihidrolisis oleh enzim lipase dari Candida cylindracea. Pengujian menunjukkan bahwa poliester sukrosa ini dapat diaplikasikan sebagai pengemulsi dalam formula es krim dan sebagai pengganti minyak dalam formula mayones. Overrun es krim standar, dengan menggunakan mentega sebagai sumber lemak 24.90% lebih tinggi daripada overrun es krim yang menggunakan sukrosa poliester sebagai pengganti lemak (13.60%). Akan tetapi overrun es krim standar yang menggunakan karboksimetil selulosa sebagai pengemulsi (24.90%) lebih rendah daripada overrun es krim yang menggunakan poliester sukrosa (31.26%). Sementara itu, mayones yang diformulasi dengan poliester sukrosa hasil sintesis mempunyai kestabilan sama dengan yang diformulasi dengan minyak jagung, baik pada suhu lemari pendingin maupun pada suhu kamar. Viskositas mayones dengan poliester sukrosa sebagai sumber lemak (75700 cp), lebih rendah daripada dengan mentega sebagai sumber lemak (96400 cp). Poliester sukrosa hasil sintesis tidak dapat digunakan sebagai penstabil untuk menggantikan fungsi kuning telur di dalam formulasi mayones; viskositasnya (213 cp) jauh lebih rendah daripada viskositas yang menggunakan kuning telur (96400 cp).


Adopted from : Hibah Bersaing VI

Categories: ilmu

Mengenal mineral Zeolit. (1)

Januari 9, 2009 admin 5 komentar

Zeolit merupakan salah satu bahan kekayaan alam yang sangat bermanfaat bagi industri kimia di Indonesia. Zeolit ada dua macam yaitu zeolit alam dan sintetik. Zeolit alam sudah banyak dimanfaatkan sehingga jumlahnya semakin berkurang. Umumnya zeolit alam digunakan untuk pupuk, penjernihan air, dan diaktifkan untuk dimanfaatkan sebagai katalis dan adsorbent. Zeolit sintetik sudah banyak digunakan di industri namun di Indonesia belum banyak diproduksi dan umumnya diperoleh dari impor. Untuk memenuhi kebutuhan zeolit ini maka para ahli melakukan penelitian sehingga didapatkan berbagai macam zeolit sintetik. Read more…

Categories: kimia

Mitigasi Bencana Pemanasan Global

Januari 9, 2009 admin Tinggalkan komentar

Oleh : Arifin* (arifin_pararaja@yahoo.co.id).


Tanpa disadari oleh banyak orang, bahwa sebenarnya saat ini telah terjadi peningkatan suhu udara dunia akibat terjadinya pemanasan global. Gejala alam ini mulai diteliti secara aktif mulai dekade tahun 1980-an dan hasilnya sangat mengejutkan para ahli lingkungan karena kengerian akan dampak yang dikuatirkan muncul kemudian. Para ahli cuaca internasional memperkirakan bahwa planet bumi bakal mengalami kenaikan suhu rata – rata 3,5 oC memasuki abad mendatang sebagai efek akumulasi penumpukan gas rumah kaca.
Meskipun menurut perasaan temperatur di sekitar kita terlihat berfluktuasi secara tetap, namun pada kenyataannya dengan berdasarkan pada data yang ada, ternyata selama 50 tahun terakhir ini temperatur rata – rata bumi telah naik secara cepat. Untuk membayangkan efek rumah kaca ini sangat mudah. Read more…

Categories: ilmu

Tentang Kurikulum Antikorupsi

Januari 9, 2009 admin 1 comment

Oleh Faisal Djabbar *

Memerangi korupsi bukan cuma menangkapi koruptor. Sejarah mencatat, dari sejumlah kejadian terdahulu, sudah banyak usaha menangkapi dan menjebloskan koruptor ke penjara. Era orde baru, yang berlalu, kerap membentuk lembaga pemberangus korupsi. Mulai Tim Pemberantasan Korupsi di tahun 1967, Komisi Empat pada tahun 1970, Komisi Anti Korupsi pada 1970, Opstib di tahun 1977, hingga Tim Pemberantas Korupsi. Nyatanya, penangkapan para koruptor tidak membuat jera yang lain. Koruptor junior terus bermunculan. Mati satu tumbuh seribu, kata pepatah. Read more…

Categories: pendidikan

Sekolah Internasional Vs Konvensional Vs Quality

Januari 7, 2009 admin 3 komentar

Adakah yang tau definisi dari Sekolah Standart Nasional (SSN), Sekolah Nasional Plus (SNP) atau Sekolah Bertaraf/Standart Internasional (SSI)? Sah-sah saja menjadikan sekolah berlabel demikian , akan tetapi…. maaf, akan tetapi, kalau boleh aku tau, label-label itu bisa aku pahami (baca) dimana dan referensi apa yang dipakai. Apa karena hanya menggunakan pengantar bahasa asing, mengimport guru bule, dan mengedapankan TI. kebebasan dalam melabelkan pendidikan di negara ini bak jamur di tanah lembab. Sebagai contoh, mereka mengkolaborasikan kurikulum nasional dan asing dan membentuk asosiasi (Association of National Plus School ; ANPS). Karena merasa ‘wah dibanding sekolah lain, sekolah swasta/negeri dapat menyebut dirinya sebagai Sekolah Standar/bertaraf Internasional. Lain halnya dengan sekolah internasional, notabene muridnya memang bule dan terdiri dari berbagai negara bukan sistem pendidikannya yang internasional. Wo Ai Ni, Indonesia. Ulala beibe.

SECARA berseloroh, seorang pendidik mengemukakan hal yang bisa menyentak, “Kalau ingin cepat kaya, buatlah sekolah.” Alasannya, semua orang menginginkan pendidikan yang baik. Dan, bila kita bisa menciptakan sekolah yang baik, lembaga ini bisa menjadi tempat yang amat strategis untuk bisnis. Dengan kata lain, sekolah bisa dibisniskan karena masyarakat membutuhkannya. Read more…

Categories: pendidikan

Nasib Guru ku…

Januari 7, 2009 admin Tinggalkan komentar

Kelompok yang tak kurang menderitanya di negeri ini adalah guru. Mereka bukan saja menderita karena penghasilan yang…………..

sering tidak memadai, namun karena mereka juga berulang kali harus dipermainkan oleh kebijakan pemerintah.

Kebijakan yang kerap disebut sebagai plintat-plintut ini memang amat mengecewakan banyak pihak, dari sekian banyak kekecewaan kepada pemerintah. Masih ingat bagaimana kecewanya para guru ketika mereka mengeluhkan nasibnya? Bukannya meresponi positif, Wakil Presiden Jusuf Kalla bahkan dengan nada marah meminta para guru untuk tidak cengeng dengan mengejek diri sendiri.

Dari waktu ke waktu, tuntutan guru masih sama, yaitu kepastian profesi dan kesejahteraan. Pertama, penghasilan guru ditingkatkan, disesuaikan dengan laju kenaikan biaya hidup.

Kedua, status kepegawaian diproyeksikan secara jelas dan definitif. Dalam berbagai unjuk rasa GTT dan PTT hanya menuntut surat keputusan tenaga honorer agar dapat masuk daftar tunggu menjadi PNS! Amat sederhana!

Meski demikian, tampaknya pemerintah tidak pernah mau memahami hal itu. Reaksi Pemerintah Indonesia atas tuntutan guru selalu sama. Pertama, anggaran negara selalu dinyatakan belum cukup untuk menaikkan gaji guru. Kedua, proyeksi penetapan status kepegawaian terkendala tuntutan peningkatan kompetensi guru.

Berbagai tes PNS sangat marak dikalangan masyarakat…beribu-ribu GTT dan PTT mengadu nasib walaupun lubang PNS hanya segelintir yang diambil. Semangat dan jerih payah untuk mendapatkan haknya, yang telah mampu menciptakan manusia-manusia pintar di Dunia ini tidak pernah pupus.

Hanya Allah yang mengetahui jasa-jasa guruku kini…

Jangan hilangkan “Pahlawan tanpa tanda jasa”  itu hilang dari mu…gedung menjulang, langit terjangkau, sorak pora dunia atas prestasi, itu semua berkat jerih payahmu…Surga menanti mu….

terimakasih semua,

Categories: pendidikan

Guru, elemen yang terlupakan

Januari 7, 2009 admin Tinggalkan komentar

Pendidikan Indonesia selalu gembar-gembor tentang kurikulum baru…yang katanya lebih oke lah, lebih tepat sasaran, lebih kebarat-baratan…atau apapun. Yang jelas, menteri pendidikan berusaha eksis dengan mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum.

Di balik perubahan kurikulum yang terus-menerus, yang kadang kita gak ngeh apa maksudnya, ada elemen yang benar-benar terlupakan…Yaitu guru! Ya, guru di Indonesia hanya 60% yang layak mengajar…sisanya, masih perlu pembenahan. Kenapa hal itu terjadi? Tak lain tak bukan karena kurang pelatihan skill, kurangnya pembinaan terhadap kurikulum baru, dan kurangnya gaji. Masih banyak guru honorer yang kembang kempis ngurusin asap dapur rumahnya agar terus menyala.

Guru, digugu dan ditiru….Masihkah? atau hanya slogan klise yang sudah kuno. Murid saja sedikit yang menghargai gurunya…sedemikian juga pemerintah. banyak yang memandang rendah terhadap guru, sehingga orang pun tidak termotivasi menjadi guru. Padahal, tanpa sosok Oemar Bakri ini, tak bakal ada yang namanya Habibi.

Categories: pendidikan

Kemandirian Lembaga Pendidikan di Era BHP

Januari 6, 2009 admin 3 komentar
Oleh : Yayat Suryatna,

Pengesahan Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (BHP) menjadi kado akhir tahun pemerintah kepada kalangan pendidikan. Undang-undang ini utamanya mengatur status lembaga penyelenggara pendidikan formal, mulai dari tingkat prasekolah hingga perguruan tinggi. Kalangan DPR yang mengetuk palu persetuuan UU ini berdalih, disahkannya UU adalah untuk member paying hukum bagi penyelenggara pendidikan dalam melaksanakan program dan mengatur organisasinya.
Sesungguhnya, kehadiran BHP dapat dipandang sebagai sebuah kesempatan bagi kemandirian lembaga pendidikan. Di dalam UU itu dijelaskan hak dan kewajiban, tugas dan wewenang lembaga pendidikan. Dengan demikian, tinggal bagaimana organ di dalam lembaga pendidikan tersebut memberdayakan dirinya dan memajukan lembaga pendidikan yang dikelolanya. Read more…

Categories: pendidikan

SISTEM KALIBRASI

Januari 5, 2009 admin 6 komentar

Filosifi kalibrasi
Bahwa setiap instrumen ukur harus dianggap tidak cukup baik sampai terbukti melalui kalibrasi dan atau pengujian bahwa instrumen ukur tersebut memang baik.


Definisi Kalibrasi
Kalibrasi adalah memastikan kebenaran nilai-nilai yang ditunjukan oleh instrumen ukur atau sistem pengukuran atau nilai-nilai yang diabadikan pada suatu bahan ukur dengan cara membandingkan dengan nilai konvensional yang diwakili oleh standar ukur yang memiliki kemampuan telusur ke standar Nasional atau Internasional.
Dengan kata lain: Read more…

Categories: ilmu

Tahun Baru Lagi, Muhasabah Lagi..!

Januari 5, 2009 admin 3 komentar

Oleh : Achmad Faisol

Berturut-turut kita akan bersua dengan 2 (dua) jenis tahun baru, yaitu Tahun Baru Islam 1 Muharram 1430H (29 Desember 2008) dan Tahun Baru Masehi 1 Januari 2009 (4 Muharram 1430H).

Sebagaimana konvensi tahun baru, kita berlomba-lomba membuat janji/resolusi untuk perbaikan atau peningkatan diri. Hal ini dilakukan dengan dalih sesuai pesan agama agar hari ini harus lebih baik daripada kemarin dan esok harus lebih baik daripada hari ini.

Seperti pepatah “Bisa Karena Biasa”, kita pun menjadi sangat ahli dalam menyusun rencana kerja. Berbagai resolusi kita buat demi menyongsong datangnya tahun baru, fajar baru, harapan baru de-el-el yang baru-baru. Read more…

Categories: rohani

Logam Seng Gantikan BBM

Januari 5, 2009 admin Tinggalkan komentar

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Eniya Listiani Dewi *

Bagai pepatah tidak ada rotan akar pun jadi, tidak ada minyak, logam pun bisa berfungsi. Inilah mungkin penyelesaian teknologi menghadapi kenaikan harga BBM dengan sama sekali tidak menggunakan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi.

Kemajuan pada teknologi transportasi di antaranya adalah terwujudnya kendaraan yang irit bahan bakar minyak (BBM) dengan menaikkan efisiensi mesin, kendaraan hibrid yang merupakan gabungan antara listrik dan BBM, juga terdapat pula kendaraan listrik yang dihasilkan dari solar cell atau tenaga matahari walau belum dipasarkan, telah menjadi alternatif lain penanggulangan masalah BBM.

Terakhir, yang sekarang sedang menjadi tren teknologi ramah lingkungan adalah kendaraan fuel cell. Di mana bahan bakar yang digunakan adalah hidrogen, metanol, atau gas alam lain, kemudian direaksikan dengan oksigen pada udara dengan menghasilkan listrik, air, dan panas.

Telah banyak tulisan di media masa mengenai teknologi fuel cell ini, tetapi penggunaan gas bumi sebagai bahan bakar selain semakin mahal, juga faktor keamanan yang masih riskan. Penggunaan hidrogen fuel cell juga menjadi penyebab membesarnya lubang ozon karena 20 persen bahan bakar pada sistem fuel cell masih terbuang ke udara bebas.

Demikian pula metanol fuel cell yang bisa menggantikan hidrogen karena cenderung lebih aman, namun tetap saja biaya manufakturnya jauh lebih tinggi karena menggunakan banyak katalis pada elektroda untuk mengubah metanol langsung menjadi proton yang bereaksi dengan oksigen sehingga menghasilkan listrik, sebagai reaksi samping dihasilkan juga CO>subscript<2>res<>res< yang kurang ramah lingkungan dalam konsentrasi yang tinggi.

Kecuali tenaga solar cell yang berkapasitas kecil, semua alternatif pengganti BBM masih juga menggunakan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi yang diolah. Dengan demikian, tidak satu pun dari teknologi ramah lingkungan yang 100 persen benar-benar “bersih”.

Pengembangan fuel cell berbahan bakar nonminyak bumi, yang mana berkaitan dengan logam sebagai alternatif pengganti bahan bakar minyak adalah tema penelitian penulis yang mendapat penghargaan sebagai peneliti terbaik bidang Teknik dan Rekayasa dalam Pemilihan Peneliti Muda Indonesia 2004 yang diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Alam Indonesia (LIPI) pada bulan Desember 2004.

Salah satu jenis yang penulis kembangkan adalah Zinc-Air Fuel Cell (ZAFC), yaitu logam seng pada kutub negatif (fuel electrode), dan menggunakan elektrolit cair kalium hydroxide (KOH) yang kemudian direaksikan dengan oksigen dari udara pada kutub positif (oxygen electrode) untuk menghasilkan listrik sebesar 1,3 V per satu cell, lebih dari 2 kali lipat hidrogen fuel cell yang hanya menghasilkan 0,5 V per satu cell.

Penulis memilih seng karena mudah didapat, murah, dan efisien. Dengan metode pembuatan prototipe yang sangat mudah berukuran 1 cm2, dan hanya dengan 1 gram serbuk seng, serta 0,2 gram karbon yang mengandung katalis vanadium pereduksi oksigen terbarukan, bisa mendapatkan listrik 1 MW selama 120 jam.

Logam seng yang bereaksi dengan KOH berkonsentrasi rendah, menjadi elektron dan zinc oxide akan menghasilkan listrik dengan efisiensi mencapai 70 persen jauh lebih tinggi dibanding fuel cell lain yang hanya mencapai 30-55 persen, sedangkan zinc oxide yang tertinggal setelah logam seng bereaksi akan dapat di-recycle kembali 100 persen menjadi fresh zinc.

ZAFC yang beroperasi pada suhu ruang 25 derajat C berbeda dengan hidrogen atau metanol fuel cell yang membutuhkan tambahan panas sampai 80-120 derajat C, ZAFC sangat efisien untuk aplikasi peranti mobile elektronik. Jika digunakan sebagai baterai pada laptop, maka tidak akan ada panas yang keluar dari sistem. Bahan bakar seng sangat jauh lebih aman dibandingkan dengan hidrogen atau metanol.

Untuk pengisian kembali bahan bakar cukup dengan mengganti zinc oxide dengan fresh zinc, seperti layaknya mengganti tinta printer saja, tidak diperlukan waktu lama untuk recharge. Pada saat ini ZAFC 320 KW telah pula dikembangkan di Jerman pada perusahaan Electric Fuel sebagai Internal Combustion Engine (ICE) dalam bis, Metalic Power menggunakan ZAFC untuk generator back-up di rumah tangga dan industri.

Dibandingkan dengan mobil listrik yang membutuhkan waktu untuk recharge lebih dari 4 jam, ZAFC tidak lebih dari 10 menit. Dengan teknologi ini, bukan hanya keamanan, operasionalnya pun sangat mudah dan efisien, bahkan karena tidak menggunakan elektrolit padat yang mahal, maka biaya manufaktur ZAFC dibandingkan dengan fuel cell yang lain pun hanya memakan 1/10 dari total biaya. Pada masa mendatang diperkirakan untuk biaya total pembuatan hidrogen fuel cell mencapai 1220 dollar AS/kW, sedangkan untuk metal-air fuel cell hanya 30 dollar AS/KW.

Fuel cell berbahan bakar logam, walaupun pada saat ini masih menggunakan logam murni, hasil samping reaksi hanyalah logam oxide yang terkandung dalam elektrolit, dapat didaur ulang kembali secara elektrik, dan dalam operasionalnya pun hanya menghasilkan listrik.

Pada masa mendatang logam-logam buangan yang saat ini banyak dianggap sebagai material perusak lingkungan akan dapat diolah kembali untuk menghasilkan energi listrik bersih dan ramah lingkungan. Bayangkan jika anda tidak lagi membuang kaleng-kaleng kemasan makanan atau minuman, juga rongsokan-rongsokan logam tetapi memasukkannya pada lubang bensin mobil anda!. (Kompas. 190405)

* DR Eng Eniya Listiani Dewi, Peneliti Material Fuel Cell pada Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Material, P3TM-BPPT.

Categories: kimia

Teori Pencelupan Serat – serat Tekstil (Dyeing of Textile fiber).

Januari 5, 2009 admin 5 komentar

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

By : Arifin_pararaja

Pencelupan merupakan suatu upaya dalam meningkatkan nilai komersil dari barang tekstil. Nilai komersil ini menyangkut nilai indra seperti warna, pola dan mode, dan nilai – nilai guna yang tergantung dari apakah produk akhir dipakai untuk pakaian, barang – barang rumah tangga atau penggunaan lain. Lagi pula, nilai – nilai guna sebagai pakaian tergantung pada tingkatan yang dikehendaki dari sifat – sifat penyesuaian seperti misalnya sifat – sifat pemakaian, sifat – sifat pengolahan, sifat – sifat perombakan dan sifat – sifat sebagai cadangan. Nilai – nilai ini dapat diberikan dengan cara – cara yang beraneka ragam oleh macam – macam bahan, seperti serat – serat kapas, benang – benang, kain tenun, dan kain rajut, bermacam – macam cara proses, termasuk pencelupan.

Serat tekstil sebagai bahan baku utama untuk industri tekstil memegang peranan sangat penting. Serat tekstil yang digunakan pada industri tekstil bermacam – macam jenisnya. Ada yang langsung diperoleh dari alam dan ada juga yang berupa serat buatan. Sifat serat tekstil yang digunakan akan mempengaruhi proses pengolahannya dan juga akan sangat menentukan sifat bahan tekstil jadinya.

Pemilihan zat warna yang sesuai untuk serat merupakan suatu hal yang penting. Pewarnaan akan memberikan nilai jual yang lebih tinggi. Efisiensi zat warna sangat penting dimana harga – bahan kimia cenderung mengalami kenaikan. Selain itu efektifitas kecocokan warna harus diperhatikan kerena merupakan faktor utama penentu mutu produk tekstil.

Pencelupan adalah suatu proses pemberian warna pada bahan tekstil secara merata dan baik, sesuai dengan warna yang diinginkan. Sebelum pencelupan dilakukan maka harus dipilih zat warna yang sesuai dengan serat. Pencelupan dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik dengan menggunakan alat – alat tertentu pula.

Pencelupan pada umumnya terdiri dari melarutkan atau mendispersikan zat warna dalam air atau medium lain, kemudian memasukkan bahan tekstil kedalam larutan tersebut sehingga terjadi penyerapan zat warna kedalam serat. Penyerapan zat warna kedalam serat merupakan suatu reaksi eksotermik dan reaksi kesetimbangan. Beberapa zat pembantu misalnya garam, asam, alkali atau lainnya ditambahkan kedalam larutan celup dan kemudian pencelupan diteruskan hingga diperoleh warna yang dikehendaki.

Vickerstaf menyimpulkan bahwa dalam pencelupan terjadi tiga tahap, yaitu :

Tahap pertama merupakan molekul zat warna dalam larutan yang selalu bergerak, pada suhu tinggi gerakan molekul cepat. Kemudian bahan tekstil dimasukkan kedalam larutan celup. Serat tekstil dalam larutan bersifat negatif pada permukaannya sehingga dalam tahap ini terdapat dua kemungkinan yakni molekul zat warna akan tertarik oleh serat atau tertolak menjauhi serat. Oleh karena itu perlu penambahan zat – zat pembantu untuk mendorong zat warna lebih mudah mendekati permukaan serat. Peristiwa tahap pertama tersebut sering disebut difusi zat warna dalam larutan.

Dalam tahap kedua molekul zat warna yang mempunyai tenaga cukup besar dapat mengatasi gaya – gaya tolak dari permukaan serat, sehingga molekul zat warna tersebut dapat terserap menempel pada permukaan serat. Peristiwa ini disebut adsorpsi.

Tahap ketiga yang merupakan bagian yang terpenting dalam pencelupan adalah penetrasi atau difusi zat warna dari permukaan serat kepusat. Tahap ketiga merupakan proses yang paling lambat sehingga dipergunakan sebagai ukuran menentukan kecepatan celup.

Gaya – gaya ikat pada pencelupan

Agar supaya pencelupan dan hasil celupan baik dan tahan cuci, maka gaya ikatan antara zat warna dengan serat harus lebih besar daripada gaya – gaya yang bekerja antara zat warna dengan air. Pada dasarnya dalam pencelupan terdapat empat jenis gaya ikatan yang menyebabkan adanya daya serap yaitu ;

  • Ikatan Hidrogen

Merupakan ikatan sekunder yang terbentuk karena atom hidrogen pada gugus hidroksil atau amina mengadakan ikatan yang lemah dengan atom lainnya. Contoh : zat warna direk, naftol, dispersi.

  • Ikatan Elektrovalen

Ikatan antara zat warna dengan serat yang kedua merupakan ikatan yang timbul karena gaya tarik menarik antara muatan yang berlawanan. Contoh : Zat warna asam, zat warna basa.

  • Ikatan non polar/ Van der Waals

Pada proses pencelupan daya tarik antara zat warna dan serat akan bekerja lebih sempurna bila molekul – molekul zat warna tersebut berbentuk memanjang dan datar. Contoh : zat warna direk, zat warna bejana, belerang, dispersi, dan sebagainya.

  • Ikatan kovalen

Misalnya zat warna reaktif terikat pada serat dengan ikatan kovalen yang sifatnya lebih kuat daripada ikatan – ikatan lainnya sehingga sukar dilunturkan.

Sifat – sifat pencelupan suatu zat warna sering direpresentasikan dalam suatu kurva pencelupan tertentu. Dari kurva tersebut diharapkan dapat diperoleh interpretasi yang lebih nyata tentang karakteristik zat warna dalam proses pencelupan.

Afinitas sesuatu zat warna umumnya merefleksikan kurva isotherm penyerapan, yakni kurva yang melukiskan perbandingan antar azat warna yang tercelup di dalam serat dengan zat warna di dalam larutan pada berbagai konsentrasi, diukur pada suhu yang sama. Apabila isotherm tersebut merupakan larutan sesuatu zat dalam sistem cairan dua fasa, maka akan diperoleh isotherm garis lurus menurut rumus Nerst.

Gambar 1. : Kurva Isoterm Penyerapan

Isotherm Langmuir, yaitu yang kerap kali dipergunakan dalam peristiwa pencelupan dimana serat-serat tekstil dianggap mempunyai tempat-tempat tertentu yang aktif dan terbatas yang dapat ditempati oleh molekul-molekul zat warna. Apabila tempat-tempat tersebut telah terisi, maka penyerapan zat warna akan berhenti meskipun konsentrasinya dalam larutan ditambah.

Gambar 2. : Kurva Isoterm Langmuir

Ds = Konsentrasi zat warna dalam larutan (g/liter).

Df = Konsentrasi zat warna dalam serat (g/ kg).

Kemudian isotherm yang ketiga yang juga banyak dipergunakan dalam pencelupan adalah isotherm Freundlich. Isotherm tersebut tidak mempunyai batas penempatan molekul-molekul zat warna dalam molekul serat, dan dapat dituliskan dalam suatu rumus atau bentuk kurva.

Gambar 3. : Kurva Isoterm Freundlich

Df = k (Ds)X

Dimana : Df = konsentrasi zat warna dalam serat

Ds = konsentrasi zat warna dalam larutan

x = pangkat suatu bilangan pecahan

k = suatu konstanta

Pencelupan adalah suatu proses pemberian warna pada bahan tekstil secara merata dan baik, sesuai dengan warna yang diinginkan. Dalam pencelupan mempunyai tujuan – tujuan dan sasaran yang hendak dicapai antara lain :

  • Kerataan hasil pencelupan

    1. Keadaan bahan sebelum celup

  • Bebas dari minyak

  • Scouring/ Bleaching yang merata

  • Hasil merserisasi yang merata

  • Bahan tidak kusut

  • Tidak terjadi kostiksasi setempat

  • Penempatan bahan dalam mesin yang rapi

    1. Karakteristik zat warna

  • Kurva penyerapan zat warna

  • Kurva fiksasi zat warna

  • Sifat migrasi zat warna

    1. Proses pencelupan

  • Ikuti program yang telah ditentukan

  • Perhatikan urutan proses pemasukan zat warna dan obat bantu

  • Pemasukan zat warna garam alkali sesuai dengan waktu yang ditentukan.

    1. Pengaruh mekanisme bahan, mesin dan larutan.

  • Penempatan bahan dimesin

  • Kecepatan bahan dalam mesin – mesin menit per cycle

  • Bahan terlalu cepat terjadi kemacetan, friksi dan berbulu.

  • Bahan terlalu lambat mengakibatkan belang

  • Reproduksi yang baik

    1. Pengaruh liquor ratio

  • Jumlah garam dan alkali yang sama zat warna, dengan LR yang tinggi warna akan menjadi muda

  • Konsentrasi garam dan alkali berubah

    1. Stabilitas kualitas bahan

  • Gunakan asal material yang sama

  • Proses merserisasi yang sama

  • Proses dan kondisi S/B yang konsisten

  • Hilangkan sisa – sisa hidrogen peroksida dari S/B

    1. Pengaruh temperatur

  • Reaksi antara zat warna dengan bahan ditentukan oleh jenis dan jumlah alkali dan temperatur.

  • Effisiensi yang tinggi

Menyangkut beberapa hal :

    1. Faktor waktu, berhubungan ke produktifitas dan biaya.

    2. Penggunaan air, berhubungan dengan bagian konservasi air.

    3. Penyabunan, hubungannya dengan daya tahan luntur.

    4. Fiksasi yang tinggi, hubungannya dengan penyabunan dan air limbah.

Proses persiapan pencelupan meliputi pelarutan zat warna, penggunaan air dan zat pelunak air yang dipakai, persiapan bahan, pemasakan, pengelantangan. Metode pencelupan bermacam – macam tergantung efektifitas dan efisiensi yang akan diharapkan. Metode pencelupan bahan tekstil diantaranya adalah :

  • Metode pencelupan, Mc Winch, Jet/ over flow, package, dan beam.

    1. Metode normal proses, penambahan garam secara bertahap.

    2. Metode all – in proses.

    3. Metode migrasi proses.

    4. Metode isotermal proses.

  • Metode pencelupan cara jigger

  • Metode pencelupan cara pad – batch.

Teknik pencelupan lainnya adalah sistem kontinyu atau semi kontinyu, exhoution, teknik migrasi, cara carrier atau pengemban, cara HT/HP atau tekanan dan suhu tinggi, cara thermosol, dengan pelarut organik, dengan larutan celup tuggal/ ganda, cara satu bejana celup, dengan pemeraman, dan sebagainya.

Sebelum dilakukan pencelupan maka bahan tekstil harus dilakukan pretreatment terlebih dahulu supaya hasil celup sempurna. Diantara proses tersebut adalah :

Singieng : Menghilangkan bulu – bulu yang timbul pada benang atau kain akibat gesekan – gesekan yang terjadi pada proses pertenunan, proses ini dimaksudkan supaya permukaan kain akan menjadi rata, sehingga pada proses pencelupan akan didapatkan warna yang rata dan cemerlang.

Dezising : Menghilangkan zat – zat kanji yang melapisi permukaan kain atau benang, sehingga dengan hilangnya kanji tersebut penyerapan obat – obat kimia kedalam kain tidak terhalang.

Scouring : Menghilangkan pectin, lilin, lemak dan kotoran atau debu – debu yang ada pada serat kapas. Zat – zat ini akan menolak pembasah air sehingga kapas yang belum dimasak susah dibasahi yang menyebabkan proses penyerapan larutan obat – obat kimia dalam proses – proses berikutnya tidak terjadi dengan sempurna.

Bleaching : Menghilangkan zat – zat pigmen warna dalam serat yang tidak bisa hilang pada saat proses scouring, sehingga warna bahan menjadi lebih putih bersih dan tidak mempengaruhi hasil warna pada saat proses pencelupan dan pemutihan optical.

Mercerizing : Memberikan penampang serat yang lebih bulat dengan melepaskan putaran serat atau reorientasi dari rantai – rantai molekul selulosa menyebabkan deretan kristalin yang lebih sejajar dan teratur. Proses ini akan menambah kilap, daya serap terhadap zat warna bertambah, memperbaiki kestabilan dimensi, kekuatan tarik bertambah, memperbaiki dan menghilangkan efek negative kapas yang belum matang/kapas mati.

Beberapa pretreatment kadang tidak harus semua dilakukan hal ini tergantung pada kebutuhan. Setelah selesai pengerjaan tersebut pencelupan dapat dilakukan misalnya pencelupan dengan sistem exhoution/ perendaman dan sistem kontinyu.

Hal – hal yang mempengaruhi proses pencelupan.

    • Pengaruh elektrolit

Pada intinya penambahan elektrolit kedalam larutan celup adalah memperbesar jumlah zat warna yang terserap oleh serat, meskipun beraneka zat warna akan mempunyai kesepakatan yang berbeda.

  • Pengaruh Suhu

Pada umumnya peristiwa pencelupan adalah eksotermis. Maka dalam keadaan setimbang penyerapan zat warna pada suhu yang tinggi akan lebih sedikit bila dibandingkan penyerapan pada suhu yang rendah. Akan tetapi dalam praktek keadaan setimbang tersebut sukar dapat dicapai hingga pada umumnya dalam pencelupan memerlukan pemanasan untuk mempercepat reaksi

  • Pengaruh perbandingan larutan

Perbandingan larutan celup artinya perbandingan antara besarnya larutan terhadap berat bahan tekstil yang diproses. Dalam kurva isotherm terlihat bahwa kenaikan konsentrasi zat warna dalam larutan akan menambah besarnya penyerapan.

Maka untuk mencelup warna-warna tua diusahakan untuk memakai perbandingan larutan celup yang kecil, sehingga zat warna yang terbuang atau hilang hanya sedikit. Untuk mengurangi pemborosan dalam pemakian zat warna dapat mempergunakan larutan simpan bekas (standing bath) celupan. Dengan menambahkan zat warna baru pada larutan bekas tadi maka dapat diperoleh larutan celup dengan konsentrasi seperti semula.

  • Pengaruh pH

Penambahan alkali mempunyai pengaruh menambah penyerapan. Meskipun demikian kerap kali dipergunakan soda abu untuk mengurangi kesadahan air yang dipakai atau untuk memperbaiki ke larutan zat warna.

Hal – hal yang perlu diperhatikan pada proses pencelupan.

Untuk memperoleh kerataan pencelupan ada dua cara yang dapat ditempuh yaitu dengan pengendalian adsorpsi dan peningkatan migrasi terutama dengan adisi Leveling Agent. Kurva pencelupan diproyeksikan untuk mengendalikan proses pencelupan. Beberapa kurva yang sering dipakai adalah :

  • Exhoustion curve (kurva isotermis)

Yaitu kurva yang menunjukkan jumlah zat warna yang teradsorpsi sebagai persentasi dari jumlah zat warna yang digunakan mula – mula pada berbagai unit waktu dan temperatur yang konstan.

  • Temperature curve

Kurva ini menggambarkan persentasi penyerapan zat warna pada berbagai temperatur pencelupan pada suatu konsentrasi tertentu.

  • Time, Temperature curve

Kurva ini dibuat terlebih dahulu menentukan waktu dan temperatur yang dicapai sehubungan dengan waktu tersebut. Zat warna yang terserap pada setiap waktu/ temperatur dinyatakan sebagai persentasi dari konsentrasi yang digunakan, pada temperatur maksimum penerapan zat warna dinyatakan sebagai fungsi dari waktu.

  • Adsorption curve

Kurva adsorpsi ini dapat diperoleh dengan mencelup bahan dengan zat warna pada konsentrasi tertentu.

  • Daerah Pencelupan Kritis

Berdasarkan uji statistik diperoleh ketentuan bahwa kerataam pencelupan ditentukan oleh kerataan distribusi dari 80% zat warna yang dipakai. Penyerapan zat warna pada prinsipnya mengikuti kurva distribusi statistik normal. Karena kerataan pencelupan ditentukan pada daerah penyerapan 80% zat warna maka daerah ini disebut pula daerah pencelupan kritis. Karena pada daerah pencelupan kritis pembagian zat warna yang menentukan kerataan terserap, maka sudah selayaknya pada daerah ini kecepatan pemanasan dilakukan lebih perlahan.

  • Diagram Proses Pencelupan

Proses pencelupan yang optimal ialah proses yang mengatur parameter – parameter pencelupan sedemikian rupa hasil pewarnaan yang baik diperoleh dalam waktu yang sesingkat mungkin tanpa mengurangi daya kerataan dan reproduksi yang baik. Parameter proses pencelupan yang paling utama adalah waktu dan temperatur.

Diagram proses pencelupan adalah diagram yang menunjukkan hubungan antara temperatur dan waktu pencelupan atau dengan kata lain diagram yang menunjukkan kecepatan penaikan/ penurunan temperatur dan lamanya waktu pada suatu temperatur tertentu. Makin lambat penaikan temperatur makin kecil resiko ketidakrataan tapi dilain pihak makin rendah produktivitas.

Diagram proses pencelupan yang rasional adalah diagram yang mengatur kecepatan penaikan temperatur sehingga hasil yang baik dapat dicapai dalam waktu yang sesingkat mungkin. Hal ini dapat dicapai dengan jalan memperlambat penaikan temperatur pada daerah pencelupan kritis dan mempercepat penaikan temperatur diluar daerah kritis tersebut.

* Referensi ada pada penulis.

Categories: ilmu

PENGOLAHAN LIMBAH SECARA BIOLOGIS.

Januari 5, 2009 admin 2 komentar

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia organik dan anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.

Karakteristik limbah:

  1. Berukuran mikro

  2. Dinamis

  3. Berdampak luas (penyebarannya)

  4. Berdampak jangka panjang (antar generasi)

Faktor yang mempengaruhi kualitas limbah adalah:

  1. Volume limbah

  2. Kandungan bahan pencemar

  3. Frekuensi pembuangan limbah

Berdasarkan karakteristiknya, limbah industri dapat digolongkan menjadi 4 bagian:

  1. Limbah cair

  2. Limbah padat

  3. Limbah gas dan partikel

  4. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

Untuk mengatasi limbah ini diperlukan pengolahan dan penanganan limbah. Pada dasarnya pengolahan limbah ini dapat dibedakan menjadi:

  1. pengolahan menurut tingkatan perlakuan

  2. pengolahan menurut karakteristik limbah


Indikasi Pencemaran Air

Indikasi pencemaran air dapat kita ketahui baik secara visual maupun pengujian.

1. Perubahan pH (tingkat keasaman / konsentrasi ion hidrogen) Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan memiliki pH netral dengan kisaran nilai 6.5 – 7.5. Air limbah industri yang belum terolah dan memiliki pH diluar nilai pH netral, akan mengubah pH air sungai dan dapat mengganggukehidupan organisme didalamnya. Hal ini akan semakin parahjika daya dukung lingkungan rendah serta debit air sungai rendah. Limbah dengan pH asam / rendah bersifat korosif terhadap logam.

2. Perubahan warna, bau dan rasa Air normak dan air bersih tidak akan berwarna, sehingga tampak bening / jernih. Bila kondisi air warnanya berubah maka hal tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa air telah tercemar. Timbulnya bau pada air lingkungan merupakan indikasi kuat bahwa air telah tercemar. Air yang bau dapat berasal darilimba industri atau dari hasil degradasioleh mikroba. Mikroba yang hidup dalam air akan mengubah organik menjadi bahan yang mudah menguap dan berbau sehingga mengubah rasa.

3. Timblnya endapan, koloid dan bahan terlarut Endapan, koloid dan bahan terlarut berasal dari adanya limbah industri yang berbentuk padat. Limbah industri yang berbentuk padat, bila tidak larut sempurna akan mengendapdidsar sungai, dan yang larut sebagian akan menjadi koloid dan akan menghalangibahan-bahan organik yang sulit diukur melalui uji BOD karena sulit didegradasi melalui reaksi biokimia, namun dapat diukur menjadi uji COD. Adapun komponen pencemaran air pada umumnya terdiri dari :

  • Bahan buangan padat

  • Bahan buangan organik

  • Bahan buangan anorganik

Pengolahan air limbah berdasarkan tingkatannya:

  • Pengolahan primer

Memisahkan (secara fisik) komponen limbah yang akan menganggu proses pengolahan.

  • Pengolahan sekunder

Menurunkan BO (bahan organik) atau TTS (total padatan terlarut) dengan perlakuan kimia/biologis. Selanjutnya bila diperlukan dapat diteruskan dengan pengolahan tersier.

  • Pengolahan tersier (lanjut)

Dilakukan bila efluen akan dimanfaatkan kembali. Merupakan kombinasi perlakuan fisik, kimia, dan biologis. Menurunkan N, P, atau komponen beracun lainnya.

Perencanaan sistem pengolahan limbah cair:

  1. Pembuatan diagram alir proses

  2. Penentuan kriteria dan ukuran setiap UPL (unit pengolahan limbah)

  3. Persiapan keseimbangan/neraca padatan

  4. Evaluasi tekanan hidrolik

  5. Pembuatan lay out UPL

Pengolahan limbah cair secara biologis:

Peranan mikroorganisme:

  1. Bakteri

  • Paling penting

  • Kemoheterotropik: BO sebagai sumber energi (umum)

  • Kemoautotropik: bahan anorganik sebagai sumber energi

  • Fotosintesis: sinar sebagai sumber energi

  • Setiap jenis punya substrat spesifik (jenis bakteri yang berbeda menguraikan substrat yang berbeda pula)

  • Rumus umum C5H7O2N

  • Punya kemampuan untuk menggumpal

  1. Kapang

  • Nonfotosintesis, bersel jamak, aerobik

  • Banyak terdapat pada limbah pH , kadar air , N

  • Rumum umum C10H17ON

  • Kurang diinginkan karena sulit diendapkan

  1. Protozoa

  • Motil, bersel tunggal

  • Penting dalam pengolahan limbah karena akan ________ bakteri mutu efluen (jernih)

  1. Ganggang (alga)

  • Autotrof, fotosintesis

  • Rumus umum: C106H180O45N16P

  • Metabolisme: CO2 + H2O sinar matahari CH2O + O2

  • Mensuplai oksigen untuk pertumbuhan bakteri

  • Spesies yang penting: ganggang biru – hijau, dan ganggang hijau

TIPE METABOLISME:

  1. Aerobik

    • Mengoksidasi BO

    • Memerlukan O2 sebagai aseptor elektron

  2. Anaerobik

    • Tidak memerlukan oksigen (obligat)

  3. Fakultatif

    • Sebagian besar mikroorganisme

    • Dapat hidup tanpa oksigen (tapi lebih sempurna bila ada O2)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGOLAHAN LIMBAH SECARA BIOLOGIS:

  1. Nutrien

    • Makro: C, N, P

    • Mikro: cukup

    • Pendekatan ~ rumus sel

    • BOD : N : P = 100 : 5 : 1

  2. Oksigen

  • Diperlukan untuk proses anaerobik, min: 1.0 mg/l

  • Untuk anaerobik tidak perlu

  1. Suhu

    • 25 - 35°C (mesofilik)

    • 45 - 60°C (thermofilik)

  1. pH

    • Umum = 6,5 – 8,5

    • Limbah asam/alkali netralisasi

PROSES PENGOLAHAN LIMBAH SECARA BIOLOGIS

  • AEROBIK

  1. Pertumbuhan tersuspensi (suspended growth)

    • Activated sludge

    • Sequenzing batch reactor

    • Contact stabilization

    • Aerobic digestion

    • Aerated tagoons

    • Parit oksidasi

  2. Pertumbuhan melekat (attached growth)

  • Tricking filter (filter menetes)

  • Rotating biological contractors

  • ANAEROBIK

  1. Pertumbuhan tersuspensi

    • Anaerobik digestion

    • Anaerobic contact process

    • Upflow anaerobic sludge – blanked

  2. Pertumbuhan melekat

  • Anaerobic filter process

  • Expanded bed

  • ANOXIC PROCESSES

    1. Suspended - growth denitrification

    2. Fixed film denitrification

  • KOMBINASI AEROBIK, ANOXIC, ANAEROBIK

  1. Pertumbuhan tersuspensi

Proses: fase, atau multifase

  1. Kombinasi pertumbuhan tersuspensi melekat

Proses: fase atau multifase

  • SISTEM KOLAM

  • Kolam fakultatif

  • Kolam anaerobik

  • Kolam aerobik

  • Kolam pematangan (stabilisasi/tertiary pond)

PENCERNAAN ANAEROBIK

  • Waktu retensi padatan lama (15-20 hari)

  • Padatan yang dihasilkan minimum

  • Reaksi endogenes metabolisme dominan

  • Dalam digesteranaerobik (aerasi tidak terlalu intensif)

  • Cocok untuk menangani limbah/sludge dari proses lumpur aktif/jenis limbah yang pekat

  • Reduksi padatan menguap 40-60%

  • Keuntungan VS pencernaan aerobik:

    • Tidak perlu insulasi, panas tambahan ‹ penutup

    • Punya kemampuan untuk menangani konsentrasi lumpur

@_pararaja

Categories: wawasan