Arsip

Arsip untuk Desember, 2008

KHASIAT JAHE

Desember 26, 2008 admin 3 komentar

Banyak sekali jenis tumbuhan yang berguna bagi kesehatan tubuh manusia. Diantara sekian banyak jenis tumbuhan yang berkhasiat bagi kesehatan tubuh adalah tumbuhan jahe.


Beberapa Khasiat Jahe
1. Rasa jahe yang hangat membantu sirkulasi keringat, yang bisa memberi efek baik untuk mencegah flu dan masuk angin.
2. Jahe dikenal dapat mengurangi inflamasi sendi dan jaringan otot pada penderita reumatik
3. Obat herbal ini mujarab mengatasi mual pada wanita hamil
4. Mengurangi efek migram
5. Banyak wanita percaya, jahe bisa meminimakan kram pada saat haid
6. Dapat merangsang pencernaan dan mengurangi rasa kembung akibat masuk angina
7. kandungan antisapriknya, membantu mengurangi penyerapan kolesterol darah dan hati
8. Aromanya yang khas bisa dijadikan aroma terapi untuk obati stres
9. Sering mengkonsumsi jahe membuat tubuh jauh dari penyakit, meningkatkan kekebalan tubuh dari virus.
10. Rasanya yang hangat sangat baik untuk Anda yang sedang merasa kedinginan
11. Membantu menyembuhkan batuk, asma, dan sakit kepala


Institut Pertanian Bogor (IPB), melalui lembaga Pusat Studi Biofarma mengadakan penelitian tentang jahe yang sangat berguna bagi kesehatan, bahkan jahe merupakan tumbuhan yang menjadi salah satu bahan untuk minuman tradisional jamu.
Menurut Prof Dr Ir Latifah K Darusman, Kepala Pusat Studi Biofarma IPB, jahe merupakan tanaman obat yang telah dikenal sejak lama dan digunakan secara luas.


Berikut ini, simak daftar tanya jawab yang dilakukan dengan Prof Dr Ir Latifah K Darusman seputar penelitian jahe yang dilakukan oleh Pusat Studi Biofarma IPB. Dalam memberi keterangannya, Prof Dr Ir Latifah K Darusman dibantu oleh dua orang stafnya, yakni Rudi Heryanto, SSi, MSi (keahlian separasi bahan aktif) dan Dr Min Rahminiwati (keahlian farmakologi).

Sejauh mana inovasi yang dilakukan IPB pada jahe?


Penelitian-penelitian terkait dengan khasiat/kegunaan jahe memang banyak yang sudah melakukannya. Namun, IPB melalui Pusat Studi Biofarmaka mencoba melakukan kajian terkait dengan jahe pada segmen yang belum banyak disentuh yaitu segmen budidaya, potensi pasar dan kontrol kualitas simplisia jahe. Walaupun begitu beberapa kajian khasiat jahe seperti sifat antioksidannya ataupun cara formulasinya menjadi suatu produk juga tetap dilakukan.


Beberapa penelitian terkait dengan jahe yang telah dilakukan oleh Pusat Studi Biofarmaka adalah, pembuatan prosedur operasi standard untuk budidaya jahe, dengan keunggulan sistem budidaya berbasis bahan bioaktif. Pengembangan teknik analisis untuk kontrol kualitas simplisia jahe. Dalam kajian ini telah dicoba dikembangkan metode penentuan bahan aktif jahe secara langsung dari simplisianya. Juga pengkajian strategi untuk menjadikan jahe sebagai komoditas ekspor. Kajian-kajian ini dilakukan baik secara mandiri ataupun dilakukan bekerjasama dengan instansi lain seperti Departemen Pertanian dan Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Berdasarkan penelitian, ada berapa macam/jenis jahe?

Sampai saat ini, Pusat Studi Biofarmaka tidak melakukan penelitian untuk identifikasi keragaman jenis jahe. Mungkin untuk hal ini Balittro-Deptan, telah melakukannya. Adapun untuk penelitian tentang jahe yang selama ini dilakukan, Pusat Studi Biofarmaka menggunakan tiga jenis jahe yaitu jahe gajah, jahe emprit, dan jahe merah. Untuk aplikasi budidaya yang sedang kami lakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan di Kalimantan Timur (kerjasama ITTO-PSB, IPB-Dephut-PT Inhutani), jenis jahe yang dibudidayakan adalah jahe merah.


Apakah kandungan zat yang berbahaya pada jahe?


Tidak ada efek berbahaya yang akan ditimbulkan oleh komponen kimia dalam jahe selama penggunaannya dilakukan sesuai dengan anjuran. Namun yang harus diperhatikan adalah keberadaan bahan kimia lain (misalnya flatoksin) yang disebabkan kontaminasi simplisia jahe oleh misalnya Aspergillus sp.

Seberapa penting atau besar/dominant jahe dibanding tumbuhan lain untuk kesehatan?


Jahe merupakan salah satu tanaman obat yang paling sering digunakan untuk komponen jamu. Pusat Studi Biofarmaka bekerjasama dengan Oxford Natural Product telah melakukan studi inventori tumbuhan obat yang digunakan jamu untuk sembilan jenis penyakit. Hasil studi menunjukkan bahwa jahe tercatat sebagai komponen jamu untuk 7 jenis penyakit dan merupakan tanaman obat yang paling umum digunakan untuk jamu yang berkhasiat sebagai penghilang sakit/antiinflamasi dan penghilang gangguan saluran pencernaan.

Bahan-bahan apa saja yang boleh atau dilarang dicampur dengan jahe?


Beberapa studi menunjukkan bahwa pada penggunaan sesuai dosis klinik, jahe tidak berinteraksi dengan pengobatan yang lain.

Lebih baik mana, jahe dimanfaatkan untuk tubuh apakah sesudah makan atau sebelum makan?


Terkait dengan kandungan senyawa bioaktif jahe yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka pada lambung maka ada baiknya jahe dikonsumsi sebelum makan.


Bagaimana proses pengolahan jahe yang aman sehingga struktur kandungannya tidak berubah?


Senyawa bioaktif yang dikandung jahe (misalnya gingerol atau minyak atsirinya) merupakan senyawa thermolabile. Untuk itu pengolahan yang menggunakan panas yang berlebihan patut untuk dihindari. Walaupun demikian, dalam larutan berair, gingerol dapat bertahan sampai suhu 100 derajat celcius.


Ada kontradiksi yang dialami tubuh bila jahe dikonsumsi setiap hari. Berbahaya atau tidak?


Dalam suatu monograf disebutkan bahwa penggunaan serbuk jahe secara oral pada kadar 2 gram perhari (dalam satu dosis atau dibagi menjadi beberapa kali) dapat dilakukan dalam waktu yang tidak dibatasi.


Ada kontradiksi bila jahe dikonsumsi oleh penderita maag, karena dalam jahe ada zat yang bertolak belakang dengan asam lambung?


Belum ada informasi terkait dengan kontradikasi jahe pada dosis yang dianjurkan selama ini. Hanya saja, satu penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari India menunjukkan bahwa penggunaan serbuk jahe pada dosis 6 gram perhari dapat menyebabkan iritasi lambung.


Komposisi jahe akan bermanfaat pada kondisi apa saja? Penyakit apa saja yang bisa dicegah oleh kandungan jahe dan dosisnya berapa dan bila dibuat sendiri pengolahannya bagaimana? Untuk penyembuhan? Penyakit apa saja?


Secara prekinik baik in vitro maupun in vivo, jahe telah dibuktikan memiliki efek antimikrob, antifungal, antihelmintik, antioksidatif, antiimflamasi, antitumor, bersifat imunomodulatori, antilipidemic, bersifat analgesik, dan memiliki efek perlindungan terhadap saluran pencernaan. Sedangkan secara klinik, efek yang paling nyata dari jahe adalah untuk menghilangkan gejala mual pada perempuan hamil. Untuk efek yang lainnya misalnya mencegah mual setelah operasi, mencegah mabuk karena perjalanan, dan sakit karena osteoartitis, secara studi klinik sampai saat ini cukup efektif tapi masih harus dikonfirmasi dengan studi yang lebih jauh.


Beberapa Tips membuat minuman jahe :
Cara membuat wedang jahe dan Kopi Susu Jahe

- Wedang Jahe

Bahan :
1 liter air
100 gr gula pasir
2 buah jahe dimemarkan
1 lembar dau pandan wangi (diikat simpul)

Cara membuatnya :

Didihkan air, lalu masukan semua bahan kedalam rebusan air, aduk sampai gulanya larut, dan pandan menjadi layu, cicipi bila kurang manis tambahkan gula. Nikmat dihidangkan dalam keadaan hangat.

- Kopi Susu Jahe

Bahan :
1 potong jahe, memarkan
3/4 gelas air
1 sendok makan kopi bubuk
2 sendok makan gula pasir
3 sendok makan susu bubuk

Cara membuat :

masak sekaligus jahe, air, kopi sampai dengan mendidih, tuangkan pada gelas yang sudah diberi susu bubuk dan gula, aduk, dan sajikan.

Selamat mencoba..!
Info : Kami juga mempoduksi Jahe, Kunyit, Temulawak, dsb. dalam bentuk kristal berbagai ukuran yang diproduksi oleh anak – anak sekolah kami di Unit Produksi dan Jasa SMK NEGERI 3 KIMIA MADIUN.
Kami siap melayani anda.

Categories: slentingan

Kepala Sekolah : Sutradara Sekaligus Aktor Lingkungan Sekolah

Desember 25, 2008 admin 2 komentar

Oleh : Pank.

Kadang masyarakat awam, khususnya para orang tua yang menyekolahkan anak – anaknya, beranggapan bahwa kata ‘pendidikan’ hanyalah terpaku pada pengajaran mata pelajaran yang tiap harinya diterima para murid di sekolah. Mereka seolah dengan menyekolahkan anaknya, beranggapan kalau mereka telah memberikan pendidikan kepada anaknya.

Sebenarnya anggapan itu tidak sepenuhnya salah. Memang pengajaran mata pelajaran yang diterima oleh para murid adalah salah satu definisi dari pendidikan. Namun, apakah kata pendidikan hanya sebatas itu saja? Tentu saja tidak. Makna pendidikan jauh lebih luas daripada hanya sekedar memberi ilmu tentang pelajaran – pelajaran sekolah. Arti pendidikan yang sebenarnya, di samping memberikan pelajaran juga mendidik akhlak yang baik kepada orang lain. Dan definisi yang kedua inilah yang jauh lebih sulit diaplikasikan jika dibandingkan definisi yang pertama tadi. Sebab, pendidikan tentang akhlak yang baik membutuhkan contoh seorang figur yang baik pula. Bayangkan jika seorang guru yang seharusnya memberikan contoh akhlak yang baik kepada para muridnya, justru bertingkah laku buruk entah di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Bisa dibayangkan akan seperti apa tingkah laku para siswa-siswinya?

Berbicara tentang pendidikan dalam koridor lingkungan sekolah, maka siapakah orang yang paling bertanggungjawab atas kelangsungan pendidikan itu? Jika kita merunut jawaban secara global, maka tiap instansi dan individu di dalam ligkungan sekolah itu bertanggungjawab atas pendidikan di sekolah tersebut. Namun jika kita harus menyebut sebuah nama, pihak yang paling bertanggungjawab atas kelangsungan pendidikan di lingkungan sekolah, maka orang itu adalah Kepala Sekolah.

Bagaimana seorang kepala sekolah selaku pemimpin sebuah sekolah berperilaku akan sangat terpantau oleh guru – guru maupun murid – murid yang ia bawahi. Oleh sebab itu, seorang kepala sekolah tak hanya bisa mengajar pelajaran di kelas-kelas, namun yang lebih penting lagi, ia harus bisa menjaga sikapnya baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah.

Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pendidikan

Kepala sekolah adalah pemimpin pendidikan yang mempunyai peranan sangat besar dalam mengembangkan mutu pendidikan di sekolah. Berkembangnya semangat kerja, kerja sama yang harmonis, minat terhadap perkembangan pendidikan, suasana kerja yang menyenangkan dan perkembangan mutu professional di antara para guru banyak ditentukan oleh kualitas kepemimpinan kepala sekolah.

Sebagai pemimpin pendidikan kepala sekolah harus mampu menolong stafnya untuk memahami tujuan bersama yang akan dicapai. Ia harus memberi kesempatan kepada staf untuk saling bertukar pendapat dan gagasan sebelum menetapkan tujuan.

Di samping itu kepala sekolah juga harus mampu membangkitkan semangat kerja yang tinggi. Ia harus mampu menciptakan suasana kerja yang tinggi. Ia harus mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, aman dan penuh semangat. Ia juga harus mampu mengembangkan staf untuk bertumbuh dalam kepemimpinannya. Ini berarti ia harus mampu membagi wewenang dalam pengambilan keputusan, sebab banyaklah tanggung jawab yang harus dilaksanakan kepala sekolah.

Agar tugas-tugas ini berhasil baik ia perlu memperlengkapi diri baik dengan perlengkapan pribadi maupun perlengkapan profesi. Ia harus memahami masalah kepemimpinan dan prinsip-prinsip kepemimpinan. Adapun prinsip – prinsip kepemimpinan yang dimaksud adalah :

1. Prinsip Demoktratis

Dalam menjalankan kepemimpinannya, kepala sekolah hendaknya bersikap dan bertindak demokratis, mengutamakan musyawarah untuk mufakat, meskipun suatu saat dia dapat pula menjalankan kepemimpinan situasional (dasar sikap dan tindakan kepemimpinan yang berdasarkan situasi).

2. Prinsip Kekeluargaan

Sebagai pemimpin, kepala sekolah perlu menciptakan dan membina situasi hubungan sosial yang karab dan harmonis di dalam lingkungan kerjanya, yang didasari oleh semangat kekeluargaan.

3. Prinsip Kesederhanaan

Dalam menjalankan kepemimpinan pendidikan, kepala sekolah perlu memberikan keteladanan sikap dan tingkah laku yang menunjukkan kesederhanaan dan kemandirian kepada guru-guru agar sikap dan tingkah lakunya yang demikian itu mengimbas/menular kepada para siswa. Kedua sikap tersebut juga perlu ia tunjukkan dalam pengelolaan sumber daya yang terbatas baik kuantitasnya, sehingga akan dapat membantu mengatasi keterbatasan kemampuan sekolah yang dipimpinnya.

Kepala Sekolah dan Fungsinya

Atas tanggung jawab yang begitu besar itu pulalah yang menjadikan seorang Kepala Sekolah harus bisa mengatur sedemikian rupa sebuah lingkungan sekolah dengan baik layaknya seorang sutradara film. Di samping itu, seorang Kepala Sekolah juga harus mampu untuk menjalankan perannya sendiri sebagai seorang guru dan pendidik layaknya seorang aktor.

Seorang kepala sekolah menduduki jabatannya karena ditetapkan dan diangkat oleh atasan (Kepala Kantor Departemen Pendidikan Nasional atau yayasan). Tetapi untuk dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan lancar ia perlu diterima dengan tulus ikhlas oleh guru–guru yang dipimpinnya. Dengan kata lain ia diakui kemampuan serta kepemimpinannya oleh guru–guru.

Kedudukan kepala sekolah adalah kedudukan yang cukup sulit. Pada satu pihak ia adalah orang atasan karena diangkat oleh atasan. Tetapi di lain pihak ia adalah wakil guru-guru atau stafnya. Ia adalah suara dan keinginan guru-guru. Sebagai seorang atasan, ia mempunyai tanggung jawab sebagai tangan kanan atasan untuk membina sekolah, guru-guru serta anggota staf yang lain. Dan sebagai wakil guru-guru ia harus mampu menerjemahkan aspirasi-aspirasi dan keinginan-keinginan mereka. Jadi dapat kita simpulkan bahwa kedudukan kepala sekolah adalah “kedudukan tengah” antara atasan dan staf. Dalam kedudukannya yang demikian itu, kepala sekolah mengemban tugas pokoknya yaitu membina atau mengembangkan sekolahnya secara terus-menerus sesuai dengan perkembangan dan tantangan zaman.

Di dalam usaha meningkatkan mutu sekolahnya, seorang kepala sekolah dapat memperbaiki dan mengembangkan fasilitas sekolah; misalnya gedung, perlengkapan / peralatan, keuangan, sistem pencatatan / pendataan, kesejahteraan dll yang semuanya ini tercakup dalam bidang administrasi pendidikan. Dalam hal yang demikian ini maka kepala sekolah berfungsi sebagai administrator pendidikan.

Usaha peningkatan mutu dapat pula dilakukan dengan cara meningkatkan mutu guru-guru dan seluruh staf sekolah, misalnya melalui rapat-rapat, diskusi, seminar, observasi kelas, penataran, perpustakaan, dsb. Kegiatan-kegiatan yang demikian ini dapat digolongkan pada kegiatan supervisi. Oleh karena itu, dalam hal ini dapatlah dikatakan bahwa fungsi kepala sekolah adalah sebagai supervisor (penyelia) pendidikan.

Peningkatan dalam bidang adminstrasi dan supervisi saja belum merupakan jaminan akan keberhasilan peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Ada faktor lain yang tidak kalah penting yaitu masalah kepemimpinan.

Peningkatan mutu hanya dapat berjalan dengan baik apabila guru-guru bersikap terbuka (open mindedness), kreatif dan memiliki semangat kerja yang tinggi. Semua hanya dapat terjadi apabila mereka berada dalam suatu suasana kerja yang menyenangkan, aman dan menantang.

Suasana yang demikian ditentukan oleh bentuk dan sifat kepemimpinan yang dilakukan kepala sekolah. Oleh karena itu kepala sekolah harus terus-menerus berusaha mengembangkan diri agar kepemimpinannya terus berkembang pula. Hal ini merupakan kewajiban yang penting sekali karena fungsinya sebagai pemimpin pendidikan (educational leader.).

Kepala Sekolah Sebagai Peningkat Kinerja Guru

Performance yang diterjemahkan menjadi kinerja, juga berarti prestasi kerja, pelaksanaan atau hasil kerja atau unjuk kerja atau penampilan kerja. Menurut Sedarmayanti (2001) kinerja adalah hasil atau keluaran dari suatu proses. Menurut Prawirosentono (1999), performance (kinerja) adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika.

Jadi bisa disimpulkan, jika kita melihat dalam hal pendidikan, kinerja guru yang dimaksud di sini adalah bagaimana guru tersebut mampu untuk mendidik para siswa-siswinya menjadi orang yang berhasil, baik dalam hal pendidikan, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dan itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Sedangkan tugas Kepala Sekolah di sini adalah untuk meningkatkan kinerja para guru tadi sehingga mampu untuk mendidik para siswa – siswanya dan menyampaikan pelajaran serta berakhlak yang mulia, sehingga para guru akan bisa menjadi contoh yang baik bagi para siswanya.

Kesimpulan

Hampir tak ada seorang kepala sekolah pun yang menyangkal bahwa jabatan yang ia emban itu sulit. Tak berlebihan memang jika seorang kepala sekolah merasa berat memangku jabatannya, terlebih lagi setelah kita melihat apa tanggung jawab dan tugas – tugas dari seorang kepala sekolah. Namun, kepala sekolah dengan tingkat kewenangan yang dimiliki, sangat dominan dalam upaya meningkatkan kinerja dan kualitas guru menjadi seorang pengajar dan pendidik yang profesional. Ia pun sangat berpeluang untuk mengharumkan nama sekolah yang dipimpinnya dengan inovasi-inovasi yang ia ciptakan untuk memajukan lingkungan sekolah. Selain dapat mengharumkan namanya sendiri tentunya.

Pun tak berlebihan jika kita menyebut seorang kepala sekolah sebagai sutradara sekaligus aktor dalam sebuah lingkungan sekolah. Sutradara, karena ia harus pintar – pintar mengatur para guru dan staf serta murid-muridnya dengan peraturan dan keputusan – keputusan yang ia ambil. Selain itu, ia adalah orang pertama yang bertanggungjawab atas keberhasilan jalannya roda pendidikan di sebuah sekolah. Ia pun langsung bertanggungjawab kepada atasannya (Kepala Kantor Pendidikan Nasional atau Yayasan) layaknya seorang sutradara yang bertanggungjawab kepada sang produser. Aktor, sebab selain ia membuat peraturan-peraturan dalam sekolahnya, ia pun harus bisa mengaplikasikan dan mematuhinya sendiri. ia pun juga seorang guru yang harus berkewajiban mendidik para murid dan juga anak-anaknya.

Namun, seberat apapun tugas dan tanggung jawab jabatan seorang kepala sekolah, jabatan itu tetaplah sebuah jabatan yang mulia. Jabatan yang mungkin hampir tiap guru mengidam-idamkannya.

Categories: pendidikan

PEMURNIAN MINYAK DAUN CENGKEH DENGAN METODE ADSORPSI LEMPUNG TERAKTIVASI ASAM.

Desember 25, 2008 admin 2 komentar

Lempung bentonit sangat menarik untuk diteliti karena lempung ini mempunyai struktur berlapis dengan kemampuan mengembang (swelling) dan memiliki kation-kation yang dapat ditukarkan (Katti and Katti, 2001). Meskipun lempung bentonit sangat berguna untuk adsorpsi, namun kemampuan adsorpsinya terbatas (Cool and Vanssant, 1998). Kelemahan tersebut dapat diatasi melalui proses aktivasi menggunakan asam (HCl, H2SO4 dan HNO3) sehingga dihasilkan lempung dengan kemampuan adsorpsi yang lebih tinggi (Kumar and Jasra, 1995). Asam sulfat merupakan asam yang memiliki bilangan ekivalen H+ lebih tinggi dibanding dengan asam klorida ataupun asam nitrat. Aktivasi lempung menggunakan asam akan menghasilkan lempung dengan situs aktif lebih besar dan keasamaan permukan yang lebih besar, sehingga akan dihasilkan lempung dengan kemampuan adsorpsi yang lebih tinggi dibandingkan sebelum diaktivasi (Komadel, 2003).
Sementara itu dewasa ini, khususnya di daerah penghasil cengkeh, sangat banyak terdapat penyulingan minyak daun cengkeh. Namun kualitas minyaknya masih sangat rendah sehingga harganyapun relatif murah. Adapun penyebab rendahnya kualitas ini karena minyak daun cengkeh yang dihasilkan masih mengandung pengotor yang kemungkinan berupa zat warna organik atau anorganik sehingga minyak ini berupa cairan yang berwarna gelap. Minyak daun cengkeh yang diproduksi dengan alat destilasi yang dibuat dari stainless steel umumnya mempunyai kualitas yang lebih baik, akan tetapi alat ini terlalu mahal sehingga petani memilih menggunakan alat yang terbuat dari besi (Guenther, 1990; Sastrohamidjojo, 2002). Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu cara yang murah untuk menghilangkan pengotor pada minyak daun cengkeh sehingga kualitasnya menjadi lebih baik.
Salah satu cara sederhana dan telah banyak dikembangkan oleh banyak peneliti untuk menghilangkan pengotor adalah metode adsorpsi. Beberapa peneliti menggunakan karbon aktif untuk mengadsorpsi material organik terlarut. Tetapi karena tingginya harga adsorben karbon aktif serta sulitnya diregenerasi, mendorong para peneliti untuk mencari material lain sebagai penggantinya. Salah satu bahan yang menarik untuk digunakan sebagai adsorben adalah material anorganik alam, misalnya lempung (McCabe, 1996). Penggunaan lempung sebagai adsorben mempunyai beberapa keunggulan karena lempung khususnya jenis bentonit mempunyai struktur antar lapis yang dapat dimodifikasi sehingga dapat memperbaiki sifatnya. Disamping itu pemanfaatan lempung sebagai adsorben dapat diregenerasi (Ryanto, 1994).
Pada penelitian ini akan dipelajari metode aktivasi lempung menggunakan H2SO4 serta uji adsorpsinya pada minyak daun cengkeh. Adapun kajian yang ditekankan pada pembuatan lempung teraktivasi asam yakni penentuan kondisi optimum reagen pengaktivasi. Diharapkan dengan perlakuan optimum akan menghasilkan lempung teraktivasi dengan aktivitas adsorpsi yang tinggi terhadap pengotor minyak daun cenkeh.
Lempung teraktivasi asam telah diuji adsorpsinya pada proses penjernihan minyak daun cengkeh. Pada proses sintesis dikaji pengaruh konsentrasi asam sulfat terhadap kualitas lempung hasil sentesis dan kemampuan adsorpsinya. Karakterisasi lempung hasil sintesis dilakukan dengan Gas Sorption Analyzer untuk menentukan luas permukaan spesifik, spektrofotometer FTIR untuk penentuan gugus-gugus fungsional .
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan di atas menyebabkan terjadinya peningkatan pada: luas permukaan spesifik. Luas permukaan spesifik berturut-turut 48,27; 48,75; 54,31; 65,21; 62,91; dan 51,86 m2/g, untuk variasi konsentrasi asam sulfat = 0; 0,4; 0,8; 1,2; 1,6 dan 2,0 M. Hasil uji adsorpsi menunjukkan bahwa lempung dengan aktivasi = 1,2 M menunjukkan aktifitas adsorpsi terbaik, yakni mampu mengadsorpsi pengotor paling banyak: 284,2 mg/g lempung dan menghasilkan minyak hasil adsorpsi paling jernih dengan perbandingan adsorben : minyak = 1 g : 40 mL.

Adopted by @_pararaja from : Jurnal Kima 2(1). Januari 2008 : 19-24; P. Suarya. 2008. Adsorpsi Pengotor Minyak Daun Cengkeh Oleh Lempung Teraktivasi Asam. Bukit Jimbaran, Bali : Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana.

Categories: kimia

Belajar Manajemen Perusahaan. Chapter. 16 : Benchmarking

Desember 24, 2008 admin 4 komentar

Definisi :
Bencmark adalah :
- Suatu pengukuran terhadap pelaksanaanfungsi, operasi atau bisnis yang berkaitan dengan yang lain, seperti : referensi
- Proses pengukuran produk, jasa dan praktek kegiatan yang dilakukan secara terus menerus terhadap para pesaing yang paling ulet.

Benchmarking juga dapat didefinisikan :
• sebuah alat yang bermanfaat bagi keefektifan sebuah biaya
• memperbolehkan organisasi untuk belajar dari pengalaman organisasi lain

Tujuan Benchmarking
• Untuk mempertinggi keefektifan organisasi
• Untuk mempertinggi prestasi organisasi
• Untuk mencapai status kelas dunia

Tiga pendorong utama Ledakan Benchmarking (Benchmarking boom)

1. Persaingan Global : perusahaan perusahaan harus mengikuti persaingan, untuk melebihi atau sama dengan praktek-praktek terbaik
2. Tanda Penghargaan Mutu : Minat yang terus meningkat untuk memperoleh quality award
3. Perbaikan Terobosan kesadaran manajemen yang meningkat tentang sampai sejauh mana perusahaan dapat tertinggal di belakang para pesaing global mereka.

Jenis jenis benchmarking berdasarkan bentuknya :
1. Benchmarking internal, pembuatan perbanding dengan bagian lain di dalam organisasi yg sama
2. Benchmarking pesaing, lebih sulit dilaksanakan karena merupakan kerahasian suatu organisasi,
3. Benchmarking fungsional, perbandingan organisasi yang tidak bersaing seperti pergudangan, jasa boga dll.
4. Bencmarking umum (Generic Benchmarking): perbandingan proses-proses bisnis yang berlaku pada berbagai fungsi dan dalam indiustri yang berbeda.

3 Macam Benchmarking
• Benchmarking proses berfokus pada proses tertentu dan sistem operasi
• Benchmaking pelaksanaan kerja (kinerja) Berfokus pada harga, mutu teknis, ciri tabahan pada produk/jasa, kecepatan, daya tahan dan karakteristik kinerja lainnya
• Benchmarking strategi menjelajahi industri industri, mencari tahu strategi terbaik yang telah mensukseskan suatu perusahaan untuk bertahan dalam persaingan

Benchmarking memungkinkan anda untuk :
• Meningkatkan prestasi bisnis
• Mempelajari & Meningkatkan praktek terbaik
• Mencapai sasaran yang realistis
• Memasukkan peningkatan² dlm strategi
• Menggunakan praktek terbaik sebagai inspirasi dalam mengadakan pembaharuan
• Berfokus keluar
• Mempunyai tujuan tertentu mengenai peningkatan
• Mengukur peningkatan

Darimana Anda Harus Memulai :
• Jangan tunggu krisis
• Kerjakan ditempat yg secara realistis mungkin untuk dilaksanakan
• Bentuk tim benchmarking, terdiri dari pengambil keputusan dan ahli di suatu proses
• Ketahuilah perusahaan perusahaan lain yang masuk kelas dunia dalam bidang yang serupa
• Tetapkan kunci untuk mensukseskan bisnis yang hendak ditingkatkan
• Tentukanlah pengukuran pelaksanaan kerja perusahaan
• Seleksi proses proses inti
• Dipadukan dng kegiatan perbaikan mutu yg lain
• Dihubungkan dengan kegiatan² perencanaan diperusahaan

Darimana informasi dapat diperoleh ?
• Relasi (pemasok/pelanggan
• Media massa, karya ilmiah,
• konsultan & perantara
• Asosiasi dagang
• Karyawan

Kapan Benchmark dilakukan :
• Saat proses sedang berlangsung
• Saat pengecekan pelaksanaan secara teratur sedang dilakukan
• Saat meng-update benchmark untuk peningkatan berkelanjutan
• Saat peninjauan kegiatan yang sedang dibencmark untuk memastikan bahwa kegiatan tsb masih merupakan faktor sukses yang penting
• Saat mengetahui adanya faktor dan parameter baru

Apa yg dapat di benchmark ?
• Setiap bagian dari bisnis seperti :
o Penjualan per karyawan
o Biaya kegiatan distribusi
o Pengiriman yang terlambat
o Tingkat penolakan (rejects)
o Luas gudang
o Waktu yang diperlukan untuk satu kali proses
o Waktu untuk melayani pesanan
o Waktu yang diperlukan untuk memperkenalkan produk baru
o Jumlah perubahan yang terjadi pada perekayasaan

Siapa yg dapat dibenchmark ?
• Depertemen atau divisi lain
• Pesaing
• Industri lain yg berbeda

Siapa yg akan dilibatkan ?
• Para karyawan – yang mengetahui dengan baik tentang proses dan dapat mengevaluasi peningkatan yang potensial
• Para manajer – dapat menyiapkan kepemimpinan dan dukungan, dan
bertanggung jawab bagi strategi dan proses komunikasi
• Dukungan eksternal – Dapat menyediakan fasilitas bagi ahlinya, pemindahan keahlian ke dalam organisasi dan membantu belajar mengenai keorganisasian

2 Jenis Proses Dalam Organisasi
• proses inti yaitu bahwa proses tersebut merupakan proses dasar untuk menuju ke tujuan strategis organisasi, contoh pabrik.
• proses pendukung yaitu bahwa proses tersebut mendukung kegiatan infrastruktur organisasi, contohnya SDM.

Keempat dimensi dari pengukuran proses adalah :
• Produktivitas
• Kualitas
• Pengiriman/Ketetapan waktu
• Pembaharuan

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum, selama, dan setelah memulai prakarsa benchmarking.
1. Adakah kesenjangan kinerja didalam organisasi anda?
2. Komitmen dari atasan.
3. Team kerja benchmarking kita memerlukan satu atau dua orang yang mau bertindak sebagai fasilitator bagi tim kerja itu.
4. Sindrom potong kompas, mengharapkan terlampau cepat bila memecahkan persoalan.
5. Memadukan benchmarking dengan upaya mutu terpadu lainnya.
6. Proses bisnis internal harus akrab dengan proses-proses bisnis didalam organisasi.
7. Melaksanakan penelitian bencmarking

Proses bencmarking
1. Mengidentifikasi subyek benchmarking
2. Mengidentifikasi perusahaan-perusahaanpembanding.
3. Menentukan metode pengumpulan data dan mengumpulkan data.
4. Menentukan kesenjangan pesaingan yang ada.
5. Memproyeksikan kinerja masa depan.
6. Mengkomunikasikan penemuan dan mendapatkan pengakuan.
7. Menetapkan sasaran-sasaran berdasarkan fungsi.
8. Mengembangkan rencana kegiatan.
9. Menerapkan rencana dan memantau kemajuan.
10. Menyesuaikan kembali ukuran Benchmarking.

Kunci untuk melakukan benchmarking yang berhasil
1. Pahami dahulu proses anda sendiri dengan seksama dan menyeluruh.
2. Kunjungan jangan direncanakan sebelum penelitian diatas meja cukup dilakukan untuk memperoleh informasi perusahaan yang terbaik.
3. Fokusnya harus pada penerapan terbaik bidang industri.
4. Harus ada kemauan membagi informasi, kunjungan timbal balik direncanakan bila mana perlu.
5. Informasi peka selalu dijaga kerahasiaannya.
6. Jangan memusatkan pada hasil akhir, praktek dan prosesnya yang perlu dipahami.
7. Benchmarking harus merupakan proses yang berkesinambungan

Keuntungan Benchmarking
• Meningkatkan mutu organisasi
• Mengantar ke posisi “hemat biaya”
• Menciptakan keterlibatan untuk Merubah
• Memaparkan ide baru dan memperluas sudut pandang
• Meningkatkan kepuasan karyawan lapangan Mempertinggi tingkat maksimum potensi kinerja organisasi
• Kepuasan relasi

@_pararaja

Categories: ilmu

Alat Penghemat Bahan Bakar dan Mengurangi Polusi Udara Untuk Generator Set

Desember 24, 2008 admin Tinggalkan komentar

Ir. Sugiono
Electric Fuel Treatment, konsep desainnya mengacu pada metoda Magnetic Resonance Imaging (M.R.I) yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas bahan bakar Solar dan biodiesel sehingga kinerja motor bakar diesel menjadi lebih baik. Dengan menggunakan alat ini, penghematan BBM pada motor bakar diesel mencapai 5~20% dan manfaat lain yang diperoleh selain hemat BBM, juga meningkatkan power mesin, mengurangi kadar emisi gas buang Hidro carbon (HC), Carbon Monoksida (CO) berikut menekan opasitas (Asap gelap) .
Metoda alat ini telah didaftarkan dan dalam proses memperoleh Hak Paten dari Departemen Kehakiman dan HAM RI atas nama LIPI No.P00200400434.
Fungsi kerjanya Electric Fuel Treatment adalah merubah sifat asli BBM yang rantai molekul hidrokarbonnya masih menggumpal diresonansi menjadi terbuka , sehingga oksigen yang masuk dari filter udara lebih banyak dari yang semula (artinya oksigen harus bersih dan bebas dari kotoran debu). Dari proses ini jumlah BBM yang tidak terbakar lebih sedikit dari sebelumnya, ini artinya power yang diperoleh oleh mesin menjadi meningkat dan emisi gas buangnya menjadi menurun.
Kegunaan dari EFT apabila dipasang pada genset :
• Meningkatkan sifat bahan bakar menjadi lebih efisien pada berbagai type genset
• Meningkatkan power mesin dan mengurangi getaran mesin
• Mengurangi emisi gas buang, serta mengurangi pemeliharaan sistem injection dan mencegah timbulnya kerak pada ruang bakar.

Type-type EFT dapat dipasangkan ke beberapa spesifikasi genset di antaranya :
EFT 110 LHD untuk genset 80 HP dengan dia pipa input BBMnya ialah 9 mm dan EFT 135 LHD untuk genset 120 HP, dia pipa input BBMnya 12 mm, sedangkan untuk genset di atas 120 HP, maka EFT 135 LHD dipasang lebih dari satu dengan cara seri.
Harapan yang di inginkan adalah emisi gas buang menurun, power engine bertambah dan Spesific Fuel Consumption (SFC) menurun dalam satuan gr/kw.jam.
@_pararaja

Categories: wawasan

Tukang Komplain, Apa Kita Termasuk di Dalamnya ?

Desember 23, 2008 admin 1 comment

Oleh : Achmad faisol

Almarhum ayah penulis pernah memberi nasihat, “Di sebuah kepanitiaan, umumnya terdapat dapartemen/seksi yang otomatis ada walaupun tidak dibentuk, yaitu seksi nyacat (bahasa Jawa, artinya komplain)… Hal ini layaknya sebuah template bagi pembentukan sebuah kepanitiaan…”

Nasihat itu memang benar adanya. Ketika penulis menjadi ketua remaja masjid Roudhotul Jannah, Kutisari Utara—Surabaya, berbagai bentuk saran, kritik dan komplain cukup sering penulis dapatkan. Bagi penulis, semua kritik adalah sarana untuk memperbaiki diri.

Namun, ada juga komplain yang menurut penulis saat itu termasuk kategori “agak lucu”. Komplain berasal dari orang yang tidak terlibat dalam kegiatan. Tapi, ketika diajak untuk aktif agar bisa turut serta memperbaiki secara kongkret, tidak mau ikut.

Memang, kita seringkali hanya pandai memberi saran, menyampaikan kritik dan mengajukan komplain. Tetapi, tak ada langkah nyata yang kita lakukan kecuali hanya berkata-kata. Kita menginginkan orang lain ‘tuk memperbaiki diri, namun kita lupa bahwa diri kita pun perlu perbaikan.

أَتَأْمُرُوْنَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri? (QS al-Baqarah [2] : 44)

Al-birr adalah segala perbuatan baik.
Al-birr adalah penyucian jiwa.
Al-birr adalah kebersihan hati.
Al-birr adalah keshalehan.

Kenapa kita memberi nasihat orang lain sedangkan kita tidak menjalankannya? Kita peringatkan orang lain sedang kita tidak ingat. Kita menganjurkan orang lain untuk berbuat baik sedang kita tidak melakukannya. Kita mencegah orang lain untuk berbuat jahat sedangkan kita melakukannya. Indah kata-kata kita, tetapi buruk perbuatan. Ucapan kita bagus tapi diri sendiri gersang dari kebajikan dan hidayah. Ibnu Rumi berkata :

Di antara keanehan zaman adalah
Engkau menginginkan orang lain sopan
Tapi engkau sendiri bertindak tidak sopan

Penulis teringat sebuah konsultasi di radio. Seseorang mengadukan permasalahannya, “Saya pusing baca koran tiap hari. Ada saja berita yang membuat saya agak naik darah karena ternyata banyak orang tidak becus mengurus tanggung jawab yang diemban. Bagaimana solusinya agar saya tidak dipusingkan oleh pemberitaan-pemberitaan yang ada?”

Sang konsultan menjawab, “Kita sering berlaku sebagai gubernur dunia. Setiap ada permasalahan langsung kita komentari. Bahkan kejadian-kejadian di luar negeri pun tak luput dari komentar dan komplain kita. Oleh karena itu, kurangilah pekerjaan kita sebagai gubernur dunia.”

Sungguh, sebuah jawaban sederhana tapi sangat mengena. Kita memang pandai sekali berkomentar, sampai-sampai sebuah anekdot telah disebar-luaskan, “Menjadi komentator, memang kita ahlinya.” Saking ahlinya, sebuah komentar bisa disampaikan secara berapi-api bahkan dengan nada emosi. Ya, itulah salah satu spesifikasi teknis keterampilan kita.

Sebenarnya, pesan-pesan kebajikan telah disampaikan kepada kita. Nasihat agar kita lebih melihat kekurangan diri daripada mengurusi aib orang lain telah kita dapatkan. Namun, mengapa semua nasihat itu berhenti hanya sebagai pengetahuan?

Mengapa berbagai nasihat itu tidak mengubah perilaku kita? Mengapa kita bisa berkomentar “Kuman di seberang lautan tampak jelas tapi gajah di pelupuk mata tak tampak”, namun hal itu sebatas ucapan dan retorika semata? Mengapa kita bangga bila disebut pintar, cerdas serta berwawasan luas padahal hakekatnya kita jauh dari apa yang kita katakan? Bukankah itu berarti sekadar kamuflase belaka?

Mari kita bersama-sama muhasabah (introspeksi) diri sendiri, tak perlulah mencari siapa orang yang berjuluk “tukang komplain.” Mari kita tanya diri sendiri, adakah kita termasuk anggota kumpulan orang yang senang mengkritik? Adakah kita termasuk orang yang bisa melihat kekurangan orang lain, sementara kesalahan sendiri kita abaikan, dengan dalih kekeliruan kita termasuk kategori mukhaffafah sehingga mudah dimaafkan dan kurang perlu dihiraukan?

Categories: rohani

Jenis Limbah Cair Pada Industri

Desember 23, 2008 admin 3 komentar

Dengan pesatnya pertumbuhan industri – industri di Indonesia maka air limbah industri perlu perhatian yang ekstra hati – hati.

Air imbah industri dapat merupakan campuran komplek mengandung zat –zat tertentu, baik organic maupun anorganik.

Susunan kimia dari limbah industri tergantung pada jenis bahan yang diproses dan zat – zat yang dipakai dalam proses tersebut.

Untuk mempermudah pemantauan perlu mengetahui karakteristik air limbah industri. Tabel dibawah ini menunjukan beberapa contoh jenis limbah cair pada industri

Table : limbah cair dari industri

Jenis Industri

Jenis Limbah

Farmasi

Roti

Gula

Bir

Pengolah susu

Makanan dalam kaleng

Semen

Plastik dan bahan sintetis

Detergen

Pulp dan kertas

Kulit

Tekstil

BOD, suspensi solid, vitamin.

BOD, lemak gula.

BOD, COD, suspensi solid, total dissolved solid, ammonia,panas (suhu.)

BOD, nitrogen, pati, alcohol,.

BOD, COD, total dissolved solid, pH, sulfida.

BOD, suspensi solid, koloid, pH, minyak, bakteri, klorida

Total dissolved solid, suspensi solid, pH, panas (suhu).

BOD, COD, suspensi solid, logam – logam

BOD, COD, suspensi solid, minyak dan lemak, pH, detergen.

BOD, COD, suspensi solid, total dissolved solid, zat warna, zat pengisi, ammonia, pH, bakteri.

BOD, COD, total solid, pH, sulfida, krom.

BOD, COD, zat warna, pH, suspensi solid, detergen, minyak, logam – logam, panas, bau.

Dari table tersebut di atas diketahui bahwa :

Secara umum parameter yang digunakan dalam pencemaran air antara lain, Kebutuhan Oksigen Biologi (KOB = BOD) Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK = COD), bentos dan plankton, ditambah dengan karakteristik air buangan industri yang bersangkutan.

Pengukuran adanya pencemaran air buangan industri, domestik, dan air buangan dari aktivitas lainnya, dilakukan secara kimia, biologi, dan fisika.

Berat ringannya pencemaran, tergantung dari banyaknya buangan, jenis buangan dan jumlah air yang menampungnya.

Categories: ilmu

SRATEGI DALAM PENAGGULANGAN BAHAYA NARKOBA DI KALANGAN PEMUDA

Desember 18, 2008 admin 3 komentar

PENGERTIAN NARKOBA
1. Narkotika
Istiah narkotika berasal dari bahasa Inggris “Narcotics” yang berarti obat bius, sama artinya dengan “Narcosis” dalam bahasa Yunani yang berarti menidurkan atau membiuskan. Secara umum pengertian narkotika adalah : suatu zat yang dapat menimbulkan perubahan perasaan, suasana pengamatan/penglihatan karena pengaruhnya terhadap susunan saraf pusat.
Dalam Undang-Undang RI No 22/1997 tentang narkotika, yang termasuk narkotika adalah:
 Tanaman Papaver Somniverum, Opium mentah, Opium masak, Opium obat, Morfina.
 Tanaman Koka, daun Koka, Kokaina mentah, kokaina, Ekgonina
 Tanaman Ganja, daun Ganja
 Garam-garam dan turunan dari Morfina dan Kokaina.
 Bahan-bahan lain baik ilmiah maupun sintetic yang dapat dipakai sebagai pengganti Morfina dan Kokaina.
 Campuaran-campuran dan sediaan-sediaan yang mengandung bahan dalam a,b dan c yang secara keseluruhan dibagi atas tiga golongan (I, II dan
2. Psikotropika
Psikotropika bukan narkotika, tetapi memiliki efek samping dan bahaya yang hampir sama dengan narkotika. Secara umum Psikotropika adalah obat yang dapat menyebabkan ketergantungan, menurunkan aktivitas otak atau merangsang susunan saraf pusat yang dapat menimbulkan kelainan tingkah laku disertai dengan timbulnya halusinasi, ilusi dan gangguan cara berfikir.
Jenis-jenis narkotika antara lain:
 Depressant : bekerja mengendorkan atau mengurangi aktivitas susunan saraf pusat, contoh: Sedati (pil KB),Rohipnol,Mogadom,Valium.
 Stimulat : bekerja mengaktifkan kerja susunan saraf pusat, contoh: amphetamine dan turunannya (ecstacy).
 Ecstacy : Merupakan obat yang sangat populer di kalangan para remaja Indonesi. Nama lain ecstacy dipasaran adalah : Ice, Adam, Eva, Flash, Dolpin, Dollar dll. Dimana dikalangan Interpol dikenal sebagai obat rekayasa (Drug Disigner) yang bersifat stimulatia (zat yang dapat meningkatkan daya tahan psikis dan phisik.
 Halusinogen: bekerja menimbulkan perasaan halusinasi atau khayalan, contoh: Lysergid Acid Diethylamide (LSD).
3. Bahan Berbahaya
Yang dimaksud bahan berbahaya, yaitu: bahan kimia meledak, mudah menyala/terbakar (minuman keras/spritus),oksidator,racun korosif (kosmetik/alat kesehatan), timbulkan iritasi, sentilasi luka dan nyeri, timbulkan bahaya elektronik, karsinogentik dan mutagenic (Zat pewarna/pemanis), etiologik/biomedik.
DAMPAK PENYALAH GUNAAN NARKOBA
1. Aspek Yuridis
Tindak Pidana narkotika
Sangsi bagi pelaku penyalahgunaan narkotika sesuai UU. 22 Th 11997, diklasifikasikan sebagai berikut:
 Sebagai pengguna dikenakan ketentuan pidana pasal 78 dengan pidana 4 tahun.
 Sebagai pengedar dikenakan ketentuan pidana pasal 81 dengan ancaman hukuman paling lama 20 tahun/seumur hidup/mati + denda.
 Sebagai produsen dikenakan ketentuan pidana pasal 80 dengan ancaman hukuman paling lama 20 tahun/seumur hidup/mati + denda.
Tindak Pidana Prikotropika
Sangsi bagi pelaku penyalahgunaan Prikotropika menurut UU No. 5 tahun 1997 sebagai berikut:
 Sebagai pengguna dikenakan ketentuan pasal 59 dan 62 dengan ancaman hukuman minimal 4 tahun, maksimal 15 tahun + denda.
 Sebagai pengedar dikenakan ketentuan pasal59 dan 60 dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun + denda.
 Sebagai prodosen dikenakan ketentuan pasal 80, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun + denda.
2. Aspek Medis
Kesehatan
Gangguan kesehatan yang bersifat kompleks diantaranya : merusak organ tubuh seperti jantung, ginjal, susunan saraf pusat, paru-paru dll, bahkan sampai pada kematian.
Mental
Merubah sikap dan prilaku secara drastic, karena gangguan persepsi daya piker, kreasi dan emosi sehingga perilaku menjadi menyimpang dan tidak mampu hidup secara wajar.
3. Aspek Sosial
Terhadap Pribadi
 Merubah keperibadian secara drastic, pemurung, pemarah dan tidak takut dengan siapapun.
 Timbul sikap masa bodoh,lupa sekolah ,rumah,tempat tidur.
 Semangat belajar/bekerja turun bahkan dapat seperti orang gila.
 Tidak ragu melakukan sex bebas karena lupa dengan norma-norma.
 Tidak segan-segan menyiksa diri untuk menghilangkan rasa nyeri atau menghilangkan sifat ketergantungan obat bius.
 Pemalas bahkan hidup santai.
Tehadap Keluarga
 Tak segan mencuri uang/ menjual barang di rumah untuk beli narkoba.
 Tidak menghargai barang milik di rumah, seperti memakai kendaraan sembrono hingga rusak bahkan hancur sama sekali.
 Mengecewakan harapan keluarga, keluarga merasa malu di masyarakat.
Terhadap Kehidupan Sosial
 Berbuat tidak senonoh (jahil/tidak sopan) terhadap orang lain.
 Tak segan mengambil milik tetangga untuk tujuan yang sama.
 Mengganggu ketertiban umum,seperti mengganggu lalu lintas.
 Menimbulkan bahaya bagi ketentraman dan keselamatan umum misalnya tidak menyesal bila melakukan kesalahan.
FAKTOR PENYEBAB PENYALAHGUNAAN NARKOBA
a. Lingkungan
Faktor lingkungan menyangkut teman sebaya, orang tua,dan remaja (individu) itu sendiri.Pada masa remaja, teman sebaya menduduki peran utama pada kehidupan mereka, bahkan menggantikan peran keluarga/orang tua dalam sosialisasi dan aktivitas waktu luang dengan hubungan yang bervariasi dan membuat norma dan sistim nilai yang berbeda.
Faktanya: Pada masa remaja terjadi jarak fisik dan Psikologis yang cendrung berakibat penurunan kedekatan emosi,dan kehangatan, bahkan cendrung timbul konflik remaja denganorang tua. Konflik keluarga membuat remaja tergantung pada teman sebaya uantuk dukungan emosi.
b. Faktor Individu
Selain faktor lingkungan,peran genetik juga merupakan komponen yang berpengaruh terhadap penyalahgunaan narkoba, setidaknya untuk beberapa individu. Sederhananya, orang tua pelaku penyalahgunaan narkoba cendrung menurun kepada anaknya, terlebih pada ibu yang sedang hamil.
Contoh: Variabel Intra Individu : Seperti agresifitas, pemberontak, kurang percaya diri.
Satu studi menunjukan bahwa agresi pada anak kelas 1 SD terlibat penggunaan narkoba pada usia 10 tahu kemudian. Kecemasan dan depresi juga berpengaruh terhadap penyalahgunaan narkoba.
Faktor-faktor individu lainnya adalah: Sikap positif terhadap “minum*quot;. Sifat mudah terpengaruh, kurangnya pemahaman terhadap agama, pencarian sensasi atau kebutuhan tinggi terhadap “excitment”.
c. Faktor Teman Sebaya
Teman sebaya memiliki pengaruh yang paling dasyat terhadap penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja. Anak dari keluarga baik-baik, nilai sekolah baik, lingkungan baik cenderung telibat narkoba jika teman-temannya menggunakan narkoba.
d. Faktor Sekolah, Kerja, dan Komunitas
 Kegagalan Akademik
 Komitmen rendah terhadap sekolah : datang sekolah hanya untuk ketemu teman , merokok, lalu bolos.
 Transisi sekolah : peralihan jenjang sekolah yang berakibat penurunan prestasi memberi andil dalam penyalahgunaan narkoba.
e. Faktor komunitas
Biasanya akibat : komunitas permisif terhadap hukum dan norma, kurang patuh terhadap aturan,status sosial ekonomi.
STRATEGI PENANGANAN
Secara prinsip penangulangan penyalahgunaan narkoba akan lebih baik dan efektif jika dilakukan sejak dini (upaya preventif) secara simultan dan holistik,yaitu sinergi peran keluarga/orang tua, masyarakat termasuk pemuda, aparat kepolisian dan individu pemakai yang bersangkutan.
Faktor-faktor penyebab merupakan demand yang mempengaruhi orang menjadi pemakai.Sementara produsen dan pengedar bertindak sebagai supply. Ini merupakan mata rantai yang harus diputus sebagai upaya penanggulangannya. Keluarga dan masyarakat mungkin lebih tepat melakukan penanganan dari aspek demandsupply. Upaya teknis yang dapat dilakukan berdasarkan aspek demand antara lain sebagai berikut: sementara aparat kepolisian dapat terfokus pada Pendektesian Terhadap Anak.
 Perhatikan perubahan pada diri si anak (bohong,bolos,bengong bego, dan bodoh);
 Perhatikan prestasi, aspirasi dan masalh yang ada di sekolah.Perhatikan kegiatan keagamaan si anak dan harga diri si anak.
 Perhatikan perubahan emosi dan hubungan anak dan orang tua.
Pendekatan Psikologis
Faktor Individu
 Ciptakan hubungan akrab dalam keluarga.
 Ciptakan kesadaran bahwa keberhasilan dan kegagalan merupakan usaha sendiri, orang lain hanya Fasilitator
 Libatkan secara intensip si anak terhadap aktivitas keagamaan.
Faktor Keluarga
 Ciptakan keharmonisan dalam keluarga , hilangkan jarak antara orang tua dengan membangun suasana demokratis.
 Ciptakan komunikasi yang produktif dan terapkan aturan yang jelas.
Faktor Teman Sebaya, Sekolah dan Lingkungan
 Perhatikan prestasi belajar anak dan terus memberi semangat.
 Cermati latar belakang dan prilaku teman-teman terdekat si anak.
 Cermati jika ada perubahan kebiasaan si anak dari biasanya.
 Lakukan pengawasan terhadap alat-alat sekolah, jikalau ada hal yang aneh.
PERAN PEMUDA
a. Penting sekali menumbuhkan kesadaran akan bahayanya penyalahgunaan narkoba, sehingga paling sedikit dapat memproteksi diri dari pengaruh luar (ajakan teman).
b. Penting sedikit mengenal dan memahami apa itu narkoba, agar tahu mana sesuatu yang berbahaya sehingga memperkecil diperdaya orang.
c. Menjadi yang terdepan dalam keluarga untuk menghidarkan anggota keluarga dari bahaya penyalahgunaan narkoba, jangan sebaliknya menjadi pelaku.
d. Menumbuhkan gagasan-gagasan dalam bentuk kegiatan positif (kreatif) yang dapat mengalihkan perhatian teman-teman sebaya untuk terpengaruh oleh narkoba.
e. Dapat menjadi mitra aparat, setidaknya sebagai informasi terhadap indikasi penyalahgunaan narkoba

I Ketut Gde Adi Saputra. 2007”Peran Generasi Muda Dalam Penanggulangan Bahaya Narkoba”.Bali : BITD-Kerta Sabha

Categories: ilmu

Menilai dari Dalam : UN dan Peningkatan Mutu Pendidikan

Desember 18, 2008 admin 1 comment

Oleh : Kunadar

Ujian nasional atau UN 2007 memang telah berakhir. Dilaksanakan di tengah protes dari beberapa kelompok masyarakat yang menentangnya, pemerintah tetap berkeyakinan bahwa UN bisa dijadikan alat untuk meningkatkan mutu pendidikan.
UN yang menelan dana ratusan miliar rupiah itu oleh banyak kalangan memang dipertanyakan signifikansinya terhadap peningkatan mutu pendidikan di Tanah Air. Pertanyaan besar yang muncul itu adalah sebagai berikut.
Apakah UN yang hanya menguji tiga mata pelajaran lalu bisa dijadikan alat untuk mengukur mutu pendidikan? Apakah dengan menjadikan salah satu pelajaran dari tiga mata pelajaran yang di-UN-kan sebagai persyaratan kelulusan seorang peserta didik memenuhi unsur keadilan? Benarkah UN dapat mendorong semangat belajar siswa?
Tidak signifikan
Harapan UN dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia yang dianggap masih rendah sepertinya kurang memiliki signifikansi. Pertama, UN yang hanya menguji tiga mata pelajaran tidak serta-merta dapat dijadikan indikator tentang mutu pendidikan.
Menjustifikasi mutu pendidikan hanya dari tiga mata pelajaran merupakan sikap kurang bijaksana dan terlalu menyederhanakan persoalan. Untuk mengukur standar mutu pendidikan harus dilihat struktur pendidikan secara menyeluruh, termasuk non-akademis, input, proses dan output bahkan out come pendidikan.
Meningkatkan mutu pendidikan tentu tidak sesederhana hanya dengan menguji tiga mata pelajaran lalu dijadikan generalisasi dan justifikasi tentang mutu pendidikan. Sudah saatnya pemerintah menempatkan semua mata pelajaran secara sama (tidak menganakemaskan mata pelajaran tertentu dan memarjinalkan mata pelajaran yang lainnya).
Di lapangan sering terjadi kecemburuan antara mata pelajaran yang masuk UN dan mata pelajaran yang tidak masuk UN. Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, dengan hanya tiga mata pelajaran yang diujikan dalam UN, mengakibatkan para guru dan siswa memfokuskan pada latihan bagaimana menjawab soal-soal ujian nasional tanpa memaknai secara mendalam mata pelajaran tersebut dari segi struktur keilmuan. Hal ini bisa menyebabkan anak kurang semangat untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak di-UN-kan, sebab biasanya mata pelajaran non-UN mudah untuk lulus.
Kondisi ini bisa menyebabkan sekolah beralih fungsi dari wahana internalisasi nilai-nilai positif menjadi hanya sebagai bimbingan belajar untuk tiga mata pelajaran yang di-UN-kan. Kalau hal ini terjadi, berarti UN telah mengebiri hakikat pendidikan.
Kedua, dengan standar kelulusan nilai rata-rata 5,00 untuk tiga mata pelajaran yang di-UN-kan sulit dijadikan parameter peningkatan mutu pendidikan. Bagaimana bisa mutu pendidikan dikatakan meningkat dengan standar kelulusan yang rendah.
Ketiga, dalam penyelenggaraan UN ada indikasi terjadi rekayasa hasil UN di lapangan. Tradisi kelulusan 100 persen seolah “menghipnotis” para pelaku pendidikan di lapangan, terutama guru, kepala sekolah, dan dinas pendidikan agar siswanya dapat lulus 100 persen. Maka, dibentuklah “tim sukses” dengan tugas agar tingkat kelulusan UN bisa mencapai 100 persen. Kesan adanya “mark up” nilai dalam UN sulit dihindari.
Tradisi kelulusan 100 persen sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip pendidikan karena tidak mendorong siswa untuk belajar keras dan guru untuk bekerja keras. Guru tidak tertantang oleh keadaan untuk lebih mempersiapkan diri sebelum masuk ruang kelas. Tidak ada budaya kompetisi, baik bagi siswa maupun guru sebab nantinya juga lulus 100 persen. Seolah-olah guru, kepala sekolah, dan pihak-pihak lain yang berkecimpung dalam dunia pendidikan malu kalau siswanya banyak yang tidak lulus.
Ada budaya malu untuk mengakui kekurangan diri sendiri. Ada kekhawatiran melalui hasil UN akan menunjukkan lemahnya kinerja dan kompetensi para praktisi pendidikan di lapangan selama ini. Alhasil, ada kesan bahwa selama ini ada upaya mengadakan manipulasi terhadap hasil UN.
Perubahan paradigma
Harapan pemerintah agar UN dapat dijadilan alat untuk meningkatkan mutu pendidikan dapat terwujud jika pemerintah dan pihak-pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan mampu berpikir dan bertindak secara proporsional dan profesional dalam pelaksanaan UN. Pihak pemerintah—melalui Departemen Pendidikan Nasional— harus merancang sistem ujian atau penilaian yang sistematis, bertahap dan berkelanjutan.
Sistem penilaian harus dapat difungsikan untuk mendeteksi potensi dan kompetensi siswa sekaligus bisa memetakan kompetensi guru dalam keberhasilan pembelajaran di kelas. Hasil UN juga harus ditindaklanjuti dengan berbagai program yang dapat meningkatkan mutu pendidikan secara komprehensif.
Sistem penilaian (UN) harus mampu memberi informasi yang akurat, mendorong siswa untuk belajar, memotivasi guru dalam pembelajaran, meningkatkan kinerja lembaga, dan meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan sistem penilaian yang demikian diharapkan secara berangsur namun pasti mutu pendidikan di Tanah Air akan meningkat.
Di lain pihak, para praktisi pendidikan di lapangan—terutama guru dan kepala sekolah—harus meningkatkan kompetensi dan kinerjanya sehingga kualitas pembelajaran di kelas akan meningkat dan pada gilirannya akan meningkatkan mutu pendidikan. Dengan demikian, standar kelulusan dapat ditingkatkan ke angka yang rasional sehingga dapat dijadikan parameter untuk mengukur mutu pendidikan nasional.
Di sisi lain, para siswa dan orangtua juga perlu ditumbuhkan kesadaran bahwa untuk mencapai hasil yang memuaskan harus ditempuh dengan kerja keras. Anggapan dalam ujian pasti lulus 100 persen harus dihilangkan dari pikiran siswa dan para orangtua.
Kalau semua pihak sudah pada pemikiran, kesadaran, dan tindakan yang sama, maka mutu pendidikan di Indonesia perlahan-lahan namun pasti akan meningkat. Upaya peningkatan mutu pendidikan nasional tidak bisa ditempuh dengan cara parsial, tetapi harus holistik dengan melibatkan semua pihak yang terkait dalam dunia pendidikan dengan didukung sarana dan prasarana yang memadai.
Kunadar Widyaiswara di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) DKI Jakarta, Ditjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Depdiknas

Categories: pendidikan

Besaran Mekanis Beton Polimer Kinerja Tinggi

Desember 18, 2008 admin Tinggalkan komentar

Djuanda Suraatmadja D, Dicky R Munaf, B Lationo, dan A Cahyani
Departemen Teknik Sipil, Institut Teknologi Bandung
Beberapa kekurangan beton yang menggunakan semen portland sebagai matriks pengikat antara lain ialah waktu pengikatannya lamban, kekuatan tariknya rendah, penyusutan setelah mengeras cukup besar, serta tidak tahan terhadap agresi kimia. Proses pembuatan semen portland banyak memerlukan material bumi yang tidak terbarui (kapur, lempung, pasir besi). Untuk mengantisipasi kekurangan tersebut telah diteliti beberapa sifat mekanis statis dan dinamis terhadap beton yang disusun dari matriks polimer sebagai pengikat agregat kasar, agregat halus, dan filler.
Untuk agregat kasar digunakan batu andesit pecah mesin dari Banjaran kering oven yang memiliki diameter maksimum 20 mm (C 136-92), bobot jenis kering 2.44 (C 127-88), serapan 4.475% (C 127-88), bobot isi 1.1440 kg/m3 (C 29/C 29M-91a), gradasi memenuhi spesifikasi (C 33-92), modulus kehalusan 6.56 (C 33-92a). Untuk agregat halus digunakan pasir gunung api Galunggung kering oven yang memiliki bobot jenis kering 2.225 (C 128-93), serapan 9.04% (C 128-93), bobot isi 1.516 kg/m3 (C 29/C 29M-91a), kadar lumpur 5.82% (C 87-83/Reapproved 1990), gradasi memenuhi spesifikasi (C 33-92a), modulus ketahanan 2.57 (C 33-92a). Filler diproduksi dari penghancuran batu bata kering oven menggunakan mesin abrasi Los Angeles. Hancuran bata ini kemudian diseparasi menggunakan separator Baldor menurut ukuran-ukuran 0.075, 0.15, dan 0.30 mm. Dalam kajian ini telah digunakan bata dari 3 sumber komersial Garut (warna merah terang, kuat tekan 2.44 MPa, bobot jenis 2.304, bobot isi kering 1.046 kg/m3), Nagrek (warna merah terang, kuat tekan 4.91 MPa, bobot jenis 2.53, bobot isi kering 857 kg/m3), dan Sapan (warna merah terang, kuat tekan 6.57 MPa, bobot jenis 2.551, bobot isi kering 1.013 kg/m3). Untuk polimer digunakan 2 jenis, yaitu resin poliester takjenuh dari polietilena tereftalat daur-ulang yang mempunyai bobot isi (1.05-1.3) x 103 kg/m3, kuat tekan 90-250 MPa, kuat tarik 30-90 MPa, modulus elastisitas Young 1.5-6 MPa, dan monomer stirena yang mempunyai bobot isi (1.0-1.1) x 103 kg/m3, kuat tekan 70-150 MPa, kuat tarik 45-90 MPa, modulus elastisitas 2.0-5.0 GPa. Larutan kobalt naftenat 12% digunakan sebagai promoter, dan metil etil keton peroksida digunakan sebagai initiator. Proporsi campuran yang digunakan ialah agregat kasar 45%, pasir dan bahan pengisi 40%, filler 12% atau 20%, matriks 15%.
Dari hasil penelitian ini diperoleh parameter-parameter fisik dan mekanis sebagai berikut: waktu pengerasan 15 menit, bobot isi (γ) 2200kg/m3 , fc 53.40 MPa, f 3.17 MPa, E 4421.80 MPa, µ 0.17, kehilangan bobot akibat abrasi 0.03 g, indeks daktilitas struktur balok 0.12 dengan model keruntuhan lentur bila ρ 1.05%, diagonal tekan bila ρ 1.77%, diagonal tarik bila ρ 2.68%.
Kadar polimer pengikat efektif di dalam beton polimer berkisar 10-25%. Setelah 84 hari di dalam rendaman larutan 10% H2SO4 mortar polimer bata (fc 79.41 MPa) bobotnya berkurang 0.5% dan kuat tekannya meningkat 27.4%, di dalam rendaman larutan 10% HCl bobotnya berkurang 0.3% dan kuat tekannya meningkat 18.0%, di dalam rendaman larutan 10% NaOH bobotnya bertambah 3.1% dan kuat tekannya berkurang 18.2%, di dalam rendaman larutan 10% NaCl bobotnya bertambah 0.3% dan kuat tekannya berkurang 3.8%.
Setelah 84 hari di dalam rendaman larutan H2SO4 kemudian diabrasi, mortar polimer bata bbotnya berkurang 0.08 g, demikian halnya dengan di dalam rendaman larutan 10% HCl dan di dalam larutan NaCl 10%, di dalam larutan 10% NaOH bobotnya berkurang 0.57 g. Modulus of rupture sekitar 11.29 MPa, besaran uji lelah terhadap mortar polimer bata beban maksimum 6950 N dengan defleksi maksimum 9.9 mm dan jumlah siklus N = 49. Ketahanan tumbuk mortar polimer F = 5.23 N, penetrasi rembesan d = 0.0 mm. Material ini memiliki lekatan sangat baik dengan beton semen, pada pengujian tarik langsung terlihat daerah patahan berada pada beton semennya. Material ini mampu dicor di dalam air (antiwashout material) dengan besaran mekanis kuat tekan fc = 53.07 MPa, kuat tarik belah ft = 9.01 MPa, modulus elastisitas E= 8505 MPa, nisbah Poisson µ = 0.23. Besaran susut mortar polimer bata 0.0097 dan regangan rangkak 0.01603, serta koefisien rangkak 9.326. Besaran-besaran loss factor material komposit ber-filler bata dengan polimer 20% ialah 2.75%, sedangkan bila kandungan polimernya 25% ialah 9.50%.

Hibah Bersaing III

Categories: wawasan

Strategi pengelolaan lingkungan akibat perubahan iklim global.

Desember 18, 2008 admin Tinggalkan komentar

Sering kita kurang memahami perbedaan istilah antara iklim (climate) dan cuaca (weather).
Iklim adalah besaran rata-rata dari fenomena fisis cuaca, yaitu variasi ekstrem dari musim yang berlangusng secara lokal, regional atau global. Pada suatu daerah tertentu cuaca dapat berubah dengan cepat dari hari ke hari bahkan dari jam ke jam. Perubahan ini antara lain dapat meliputi terjadinya perubahan suhu, fenomena pergeseran waktu terjadinya presipitasi, fenomena perubahan intensitas angin dan akumulasi awan. Itulah mengapa “ramalan cuaca” menjadi sangat penting, khususnya di negara-negara seperti di Eropa dan di Amerika, yang disiarkan berulang kali dalam sehari melalui radio atau televisi. Berbeda dengan cuaca, iklim dipengaruhi oleh terjadinya perubahan orbit bumi terhadap matahari, perubahan enersi matahari yang memancar ke bumi, perubahan-perubahan fenomena fisis yang terjadi di lautan dan didaratan. Jadi pada dasarnya iklim dikontrol oleh fenomena alamiah kesetimbangan enersi antara bumi dan atmosfer yang berlangsung dalam kurun waktu yang lebih lama. Sinar matahari yang sampai ke bumi (visible light) diserap oleh permukaan bumi dan oleh atmosfer. Sebagian dari energi yang diserap tersebut secara seimbang dipancarkan kembali sebagai enersi infra merah yang lebih bersifat panas. Gas karbon dioksida, metana, uap air, awan dan partikel-partikel aerosol yang terdapat di atmosfer bumi, mempunyai sifat menyerap panas dari radiasi infra merah tersebut. Dengan terjadinya peningkatan konsentrasi gas-gas tersebut di atmosfer maka lebih banyak panas yang diserap dan dipantul balikkan, sehingga menyebabkan kenaikan suhu di permukaan bumi kita. Inilah yang dinamakan efek rumah kaca (greenhouse effect).
Angin dan arus laut mendistribusikan panas ke permukaan bumi. Kondisi inilah yang kemudian meyebabkan kecenderungan terjadinya peru-bahan iklim yang ditandai dari berbagai peru-bahan fenomena alam, misalnya naiknya suhu udara, perubahan intensitas presipitasi, pergeseran dan ketidak aturan pergantian musim, perubahan tekanan udara dan lain sebagainya. Dampak dari segala perubahan tersebut akan membawa pengaruh terhadap pola kehidupan di muka bumi ini.
Seperti telah dikemukakan bahwa terjadinya efek rumah kaca disebabkan oleh sejumlah massa berupa gas atau pertikel-pertikel halus yang ada di atmosfer, misalnya gas karbon dioksida, methane uap air dan partikel-partikel halus berupa debu yang berasal dari letusan gunung berapi. Efek rumah kaca ini sebenarnya sudah terjadi sejak beratus bahkan beribu tahun yang lalu, karena uap air dan karbon dioksida secara alamiah sudah hadir secara seimbang di atmosfer bumi ini. Adanya karbon dioksida dan uap air alamiah di atmosfer yang dalam keadaan seimbang inilah yang menciptakan variasi suhu udara seperti yang kita rasakan selama ini. Sebab kalau misalnya di atmosfer ini tidak terdapat gas karbon dioksida dan uap air maka suhu udara di bumi akan menjadi 340C lebih rendah dari yang kita rasakan saat ini. Namun apabila kadar gas rumah kaca di atmosfer bumi ini meningkat terus melebihi kadar alamiahnya akibat perilaku dan tindakan manusia (external factors) maka akan diikuti peningkatan suhu udara global. Akselerasi pertambahan kadar karbon dioksida di alam ini seharusnya agak dapat dikurangi oleh vegetasi kawasan hutan dan tanaman lainnya yang memerlukan gas karbon dioksida dalam proses fotosintesa. Namun ironisnya, manusia dengan dalih ingin memper-cepat laju pembangunan justru banyak mem-babat hutan dan membuka lahan.
Aktivitas manusia yang dapat menambah kadar karbon dioksida di atmosfer adalah semua kegiatan yang dikerjakan dengan menggunakan energi dimana energi tersebut diperoleh dari pembakaran bahan fosil, seperti batubara, minyak bumi dan gas alam. Sebagai produk samping utama dari energi yang diperoleh dari pembakaran bahan fosil tersebut adalah gas karbon dioksida yang makin lama akan makin memenuhi atmosfer bumi. Berapa banyak gas karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer bumi dapat di-ilustrasikan dengan data pada kondisi pada tahun 1997. Pada tahun 1997 tersebut telah diproduksi 5,2 milyard ton batubara, 26,4 milyard barrel minyak bumi dan 81,7 triliun kubik feet gas alam. Apabila bahan-bahan fosil tersebut dibakar untuk memperoleh energi maka akan dihasilkan karbon dioksida sebanyak 6,2 milyard metrik ton yang akan menyebar ke atmosfer bumi. Dari data yang dihimpun oleh UNEP menunjukkan bahwa kadar gas karbon dioksida di amosfer telah meningkat 31% sejak tahun 1975. Peningkatan gas karbon dioksida selama 20 tahun terakhir ini 75% berasal dari hasil pembakaran energi fosil (minyak bumi, gas alam dan batubara).
Apabila penggunaan energi fosil terus berlangsung dan makin bertambah maka akumulasi gas karbon dioksida juga akan makin bertambah. Pada saat sekarang ini kadar gas karbon dioksida di atmosfer sudah mencapai lebih dari 360 ppm. Gas ini bersama dengan uap air dan gas rumah kaca lainnya seperti metana, menyelimuti atmosfer dan menyerap serta memantul balikkan sinar infra merah yang mengandung panas yang dapat meningkatkan suhu di muka bumi.
Kondisi ini akan menyebabkan efek berantai dimana dengan meningkatnya suhu udara akan menyebabkan terjadinya peningkatan intensitas penguapan air permukaan dan air laut. Dengan meningkatnya intensitas penguapan air permukaan berarti menambah kadar uap air di atmosfer dan ini menambah konsentrasi gas rumah kaca. Dengan makin meningkatnya intensitas penguapan juga mengakibatkan meningkat dan berubahnya pola presipitasi di wilayah tertentu yang menyebabkan terjadinya banjir di suatu wilayah dan kekeringan di wilayah lainnya. Meningkatnya suhu udara secara global juga akan menyebabkan mencairnya es di kutup dan salju di pegunungan yang menyebabkan meningkatnya muka air laut dan terjadinya banjir besar di negara-negara wilayah sub tropis. Meningkatnya suhu akan menyebabkan juga terjadinya penurunan kadar air tanah (soil moisture content), sehingga tanah menjadi cepat kering dan memerlukan lebih banyak air untuk irigasi pertanian. Apabila kondisi tersebut berlangsung terus, apalagi kalau makin meningkat, maka akan terjadi apa yang dinamakan perubahan iklim (climate changes).
Pada abad ke 20 ini suhu udara di bumi rata-rata meningkat 0,6 ± 0,20C. Tahun 1998 adalah merupakan tahun terpanas sejak 1861. Antara tahun 1950 – 1993 suhu udara minimum pada malam hari naik 0,20 C setiap dekade. Akibat dari kenaikan suhu udara ini dari foto satelit diketahui bahwa sejak tahun 1960 luasan hamparan salju di wilayah kutub dan sekitarnya telah menyusut 10 %. Demikian pula ice cover di pegunungan-pegunungan juga mengalami penyusutan. Dari data paras air laut dicatat bahwa paras air laut pada abad 20 ini telah meningkat antara 0,1 – 0,2 m.
Pada bulan Februari 2001 UNEP (United Nations Environmental Programme) dan WMO (World Meteorogical Organization) telah mensponsori diadakannya suatu pertemuan para ahli di Geneva Switzerland. Pertemuan tersebut dinamakan Intergovernmental Panel on Climate Change 2001 (IPCC). Ada empat topik utama dimana salah satunya adalah yang dibahas oleh Working Group II yaitu tentang: Impact, Adaption and Vulnerability of Climate Change. Dalam laporanyang dipersiapkan oleh lebih dari 70 orang tenaga ahli dari berbagai negara, secara singkat dapat dikemukakan bahwa sistem alam dan kehidupan akan terpengaruh oleh terjadinya perubahan iklim, yang dimanifestasi-kan dari gejala-gejala sebagai berikut, yaitu:
• perubahan suhu udara yang variatif
• perubahan pola dan intensitas siklus hidrologi
• perubahan jumlah dan pola presipitasi
• terjadinya extreme weather events
• meningkatnya permukaan air laut akibat mencair-nya es di kutub bumi
• perubahan kadar air tanah (soil moisture) dan kondisi sistem hidrologi pada umumnya
Dari berbagai gejala yang dikemukakan tersebut maka dampak dari perubahan iklim ini akan mempengaruhi faktor-faktor kemanusian dalam aspek kebutuhan dasar, aspek sosial dan aspek budaya. Pengaruh-pengaruh tersebut antara lain akan menimbulkan berbagai masalah dalam:
• Ketersediaan sumber daya air
• Sekuriti suplai pangan
• Ekosistem perairan air tawar
• Ekosistem zona kelautan
• Pemukiman penduduk, egergi dan industri
• Sistem asuransi, financial services lainnya
• terjadinya ledakan timbulnya hama (baru)
• terjadinya perubahan distribusi vektor penya-kit dan sasaran penderitanya (host)
Dari masalah-masalah yang dapat timbul sebagai akibat perubahan iklim seperti yang dikemuka-kan di atas maka sangatlah penting apabila masalah perubahan iklim ini juga dimasukkan sebagai salah satu faktor pertimbangan dalam menyusun strategi jangka panjang pengelolaan lingkungan.

*Wandowo, 2005; “Mewaspadai Terjadinya Krisis Sumber Daya Air Bersih”, P3TIR – BATAN

Categories: ilmu

Mulailah dari Diri Sendiri (Ibda’ Binafsika)

Desember 12, 2008 admin Tinggalkan komentar

Oleh : Achmad faisol

Setiap kita adalah pendakwah karena kita telah dipesan agar menyampaikan kebaikan walaupun sedikit (satu ayat saja)—sesuai kemampuan kita. Dalam menyeru ke arah kebaikan, sebuah kaidah dakwah telah ditetapkan, yaitu :

إِبْدَأْ بِنَفْسِـكَ

Mulailah dari dirimu sendiri.

Bagaimana mungkin kita meminta orang lain bersikap santun sementara kita sendiri tidak menerapkannya? Bagaimana bisa kita mengharap orang lain menghargai pendapat kita apabila kita tak terlebih dahulu menunjukkan sikap menghargai pendapatnya? Bukankah selain mau‘izhah hasanah (nasihat baik) juga diperlukan uswah hasanah (contoh perbuatan baik)?

Penulis pernah mendapatkan penjelasan yang cukup sederhana mengapa kita harus memulai dari diri sendiri. Ketika penulis mengikuti sebuah pelatihan kepemimpinan, sang mentor, Mas Ahmad Heri (Surabaya), menerangkan hal ini dengan metode cerita.

Inti cerita berikut ini tetap sama dengan yang penulis dapatkan dari mentor penulis, meskipun penulis menyajikannya dengan cara berbeda. Hal ini untuk memberikan kesan kuat dalam diri kita sehingga bisa kita ambil pelajaran dan hikmah darinya. Mari kita baca cerita ini perlahan-lahan serta melarutkan diri di dalamnya.

Di sebuah desa ada seorang ustadz yang ditugaskan untuk berdakwah selama beberapa bulan. Ketika masa akhir tugas sang ustadz, kepala desa mengumpulkan semua penduduk. Beliau berkata,

“Bapak/Ibu sekalian… Esok malam kita akan mengadakan malam perpisahan dengan Pak Ustadz di balai desa… Karena desa kita penghasil madu, maka saya berharap masing-masing keluarga membawa satu botol madu terbaik yang dimiliki sebagai kenang-kenangan bagi ustadz kita.”

Selesai pengumuman, para penduduk pun berpencar pulang ke rumah masing-masing. Di sebuah ruang keluarga nan sederhana, sepasang suami-istri sedang bercengkrama membahas madu yang akan dipilih.

“Bu, menurut Bapak tidak perlulah kita berikan madu terbaik kita… Cukup madu biasa-biasa saja,” kata sang bapak memulai pembicaraan sambil sesekali menyeruput kopi panas di sampingnya.

“Tapi, Pak… Bukankah Pak Kepala Desa sudah berpesan agar madu terbaik yang kita kasihkan?” tanya si ibu sambil melanjutkan sulamannya.

“Iya, Bapak tahu… Tapi, madu terbaik itu kan bisa dijual dengan harga lebih tinggi. Toh, nanti para penduduk lain akan memberikan madu terbaik mereka. Kalau kita memberi madu biasa, tidak akan banyak efeknya, karena hanya madu kita yang biasa, sedangkan madu-madu lain adalah madu terbaik.”

Suasana sejenak berubah hening. Tak pernah terbersit sedetik pun di benak perempuan paruh baya itu untuk melanggar pesan kepala desa. Ia sebenarnya tak ingin menuruti saran pendamping hidup yang telah menemaninya selama ini, tapi argumentasi yang diberikan masuk akal juga.

Selang beberapa saat kemudian, ia pun menjawab,
“Kalau menurut Bapak itu yang terbaik, ibu setuju saja… Semoga saja penduduk lain ada yang membawa lebih dari satu botol madu terbaik mereka.”

******************

Mentari telah beristirahat di peraduannya. Malam yang ditunggu-tunggu telah tiba. Cahaya rembulan memancar begitu teduh, terlihat laksana sebuah senyum bidadari yang menyejukkan jiwa dan meneduhkan diri. Angin berhembus semilir menambah syahdu suasana.

Balai desa tak kalah cantik. Hiasan indah telah disiapkan oleh pemuda-pemudi anggota karang taruna. Sebuah background bertuliskan kata-kata perpisahan digunting dan ditata begitu rapi dalam berbagai model huruf. Jajan pasar dan aneka gorengan lengkap dengan sambal petis serta cabe hijau tak lupa disajikan, sungguh menggoda selera setiap orang ’tuk mencicipinya. Benar-benar Mak Nyusss!!!

Sound system telah dicek berulang kali semenjak sore. Dengan suara bas, sang operator mengecek untuk terakhir kali,
“Jek, jek, jek… satu… satu…satu-dua-tiga…suara dicoba…”

Entah mengapa hitungan untuk mengetes sound system hanya segitu saja sejak zaman antah berantah. Mengapa tak ada yang memulai hitungan dari angka seribu, sejuta dan selainnya? Mengapa pula bukan “mikrofon dicoba”, tapi “suara dicoba”? Entahlah, mungkin memang konvensi itu sudah dari sono-nya. Tak ada guna dipermasalahkan, yang penting semuanya berjalan sesuai harapan.

Semua penduduk hadir di balai desa guna melepas sang ustadz yang telah membimbing mereka selama beberapa bulan terakhir. Namun, sesuatu yang kontradiktif terjadi. Madu mereka berbuah masalah. Apa yang terjadi dengan madu yang mereka kumpulkan?

Ternyata, semua penduduk membawa madu berkualitas sama, seolah sudah berembug di alam mimpi. Seakan sudah mufakat, mereka membawa madu biasa, bukan madu terbaik sebagaimana saran kepala desa. Tak ada seorang penduduk pun membawa madu terbaik produksi desa itu.

Menyaksikan perilaku warga yang tak hendak memberikan madu terbaik bagi sang ustadz, guratan kesedihan tampak jelas di wajah sang kepala desa. Air mata nan bening merayap lambat menuruni hamparan pipi yang mulai keriput dimakan usia. Beliau membenamkan muka ke arah kedua telapak tangan yang masih terlihat kuat dan kokoh. Itu semua beliau lakukan untuk menahan malu. Beliau juga merasa gagal memimpin dan mengarahkan warga.

Penduduk saling berpandangan, seolah tak percaya apa yang sedang terjadi. Sungguh, mereka tak mengira sama sekali peristiwa itu bakal mereka alami. Sontak kedua pipi mereka merona merah karena rasa malu menyerang dengan begitu sengit.

Tanpa ada yang mengomando, para hadirin membubarkan diri. Panitia kalang kabut melihat apa yang mereka tonton. Pembawa acara (MC) segera meraih mikrofon,
“Bapak/Ibu sekalian, mohon tetap menempati kursi yang telah disediakan… Acara segera kita mulai…”

Bagi penduduk, suara MC ibarat igauan orang yang lagi asyik tidur, tak ada yang menggubris. Semakin jauh, suara itu pun hilang ditelan angin. Ke manakah gerangan para penduduk desa itu?

Ternyata mereka pulang ke rumah masing-masing. Tanpa diperintah oleh siapa pun, akhirnya mereka mengambil botol-botol madu terbaik yang dimiliki. Ada yang cuma sebotol, namun tak sedikit pula yang membawa beberapa botol sebagai oleh-oleh bagi sang ustadz.

Ketika semua penduduk sampai di halaman balai desa sambil menenteng botol-botol madu terbaik mereka, senyum indah menghiasi wajah kepala desa. Lagi-lagi, air mata mengalir membasahi pipi beliau. Namun, kali ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata bahagia. Hati beliau benar-benar terharu-biru melihat ketulusan warga.

Saat memberikan sambutan, beliau menuturkan, “Bapak/Ibu/Saudara/i-ku sekalian… Kalau setiap kita memulai kebaikan dari diri sendiri, tidak menunggu apalagi menuntut orang lain terlebih dahulu, niscaya kualitas kehidupan kita akan jauh lebih baik…”

Categories: rohani

Jangan Tidur Larut Malam

Desember 12, 2008 admin 1 comment

Para dokter di National Taiwan Hospital baru-baru ini mengejutkan dunia kedokteran karena ditemukannya kasus seorang dokter muda berusia 37 tahun yang selama ini sangat mempercayai hasil pemeriksaan fungsi hati (SGOT, SGPT), tetapi ternyata saat menjelang Hari Raya Imlek diketahui positif menderita kanker hati sepanjang 10 cm!


Selama ini hampir semua orang sangat bergantung pada hasil indeks pemeriksaan fungsi hati (Liver Function Index). Mereka meng angga p bila pemeriksaan menunjukkan hasil index yang normal berarti semua OK. Kesalahpahaman macam ini ternyata juga dilakukan oleh banyak dokter spesialis. Benar-benar mengejutkan, para dokter yang seharusnya memberikan pengetahuan yang benar pada masyarakat umum, ternyata memiliki pengetahuan yang tidak benar. Pencegahan kanker hati harus dilakukan dengan cara yang benar.


Tidak ada jalan lain kecuali mendeteksi dan mengobatinya sedini mungkin, demikian kata dokter Hsu Chin Chuan. Tetapi ironisnya, ternyata dokter
yang menangani kanker hati juga bisa memiliki pandangan yang salah, bahkan menyesatkan masyarakat, inilah penyebab terbesar kenapa kanker hati sulit untuk disembuhkan.


Penyebab utama kerusakan hati adalah :
1. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang adalah penyebab paling utama
2. Pola makan yang terlalu berlebihan.
3. Tidak makan pagi.
4. Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan.
5. Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet, zat tambahan, zat pewarna, pemanis buatan.
6. Minyak goreng yang tidak sehat! Sedapat mungkin kurangi penggunaan minyak goreng saat menggoreng makanan hal ini juga berlaku meski menggunakan minyak goreng terbaik sekalipun seperti olive oil. Jangan mengkonsumsi makanan yang digoreng bila kita dalam kondisi penat, kecuali dalam kondisi tubuh yang fit.
7. Mengkonsumsi masakan mentah (sangat matang) juga menambah beban hati. Sayur mayur dimakan mentah atau dimasak matang 3/5 ba gian . Sayur yang digoreng harus dimakan habis saat itu juga, jangan disimpan.
Kita harus melakukan pencegahan dengan tanpa mengeluarkan biaya tambahan. Cukup atur gaya hidup dan pola makanan sehari-hari. Perawatan dari pola makan dan kondisi waktu sangat diperlukan agar tubuh kita dapat melakukan penyerapan dan pembuangan zat-zat yang tidak berguna sesuai dengan jadwalnya,
Sebab:

@ Malam hari pk 9 – 11: adalah pembuangan zat- zat tidak berguna/beracun (de-toxin) diba gian sistem antibodi (kelenjar getah bening). Selama durasi waktu ini seharusnya dilalui dengan suasana tenang atau mendengarkan musik. Bila saat itu seorang ibu rumah tangga masih dalam kondisi yang tidak santai seperti misalnya mencuci piring atau mengawasi anak belajar, hal ini dapat berdampak negatif bagi kesehatan.


@ Malam hari pk 11 – dini Hari pk 1: saat proses de-toxin di ba gian hati, harus berlangsung dalam kondisi tidur pulas.


@ Dini hari pk 1 – 3: proses de-toxin di ba gian empedu, juga berlangsung dalam kondisi tidur.


@ Dini hari pk 3 – 5: de-toxin di ba gian paru-paru. Sebab itu akan terjadi batuk yang hebat bagi penderita batuk selama durasi waktu ini. Karena proses pembersihan (de-toxin) telah mencapai saluran pernafasan, maka tak perlu minum obat batuk agar supaya tidak merintangi proses pembuangan kotoran.


@ Pagi pk 5 – 7: de-toxin di ba gian usus besar, harus buang air di kamar kecil.


@ Pagi pk 7 – 9: waktu penyerapan gizi makanan bagi usus kecil, harus makan pagi. Bagi orang yang sakit sebaiknya makan lebih pagi yaitu sebelum pk 6:30. Makan pagi sebelum pk 7:30 sangat baik bagi mereka yang ingin menjaga kesehatannya. Bagi mereka yang tidak makan pagi harap merubah kebiasaannya ini, bahkan masih lebih baik terlambat makan pagi hingga pk 9-10 daripada tidak makan sama sekali. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang akan mengacaukan proses pembuangan zat-zat tidak berguna. Selain itu, dari tengah malam hingga pukul 4 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah. Sebab itu, tidurlah yang nyenyak dan jangan terlalu sering begadang.

Categories: slentingan

MAMPUKAH SERTIFIKASI GURU MENDONGKRAK MUTU PENDIDIKAN?

Desember 12, 2008 admin 3 komentar

Oleh : Sawali Tuhusetya


Tak seorang pun dapat membantah bahwa guru berada di garda depan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereka telah melahirkan banyak dokter, insinyur, menteri, bahkan presiden. Tidak heran apabila guru dielu-elukan sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”.
Namun, banyak kalangan menilai, kesejahteraan guru belum sepadan dengan gelar luhur dan mulia yang disandangnya. Iwan Fals lewat lirik “Oemar Bakri” pun tersentuh hatinya menyaksikan nasib guru yang tak pernah berubah sepanjang zaman. “Datang ke sekolah membawa tas dari kulit buaya, naik sepeda kumbang di jalan berlubang, selalu begitu dari dulu waktu zaman Jepang. Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang, banyak polisi bawa senjata berwajah garang …” Sungguh ironis, sampai-sampai polisi pun tidak lagi hormat pada guru. Begitulah sosok guru Oemar Bakri di mata sang “seniman rakyat” itu. Guru tidak lagi menjadi figur yang terhormat dan berwibawa.


Zaman memang telah berubah. Pergeseran nilai menyergap di segenap lapis dan lini kehidupan masyarakat. Nilai-nilai keluhuran budi dan cerahnya akal budi (nyaris) luntur tergerus oleh derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang cenderung memanjakan nilai konsumtivisme, materialisme, dan hedonisme. Banyak orang yang makin cuek dan masa bodoh terhadap keagungan nilai kejujuran, keuletan, atau kebersahajaan. Sukses seseorang pun semata-mata dinilai dari kemampuannya menumpuk harta, tanpa memedulikan dari mana harta itu diperoleh.


Dalam kondisi zaman yang makin memberhalakan gebyar duniawi semacam itu, profesi guru pun makin tidak dilirik dan diminati generasi muda. Secara sosial, pamor guru pun semakin redup. Kalau hanya mengandalkan penghasilannya sebagai guru, hampir mustahil seorang guru bisa hidup layak di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang kian gencar memanjakan nafsu keduniawian. Jangan heran apabila banyak guru yang terpaksa nyambi jadi tukang ojek, penjual rokok ketengan, atau calo, sekadar untuk bisa mengikuti “ombyaking zaman”.
Bagaimana mungkin seorang guru bisa menjalankan tugas dan fungsiya secara profesional kalau masih dibebani oleh thethek-mbengek urusan perut? Bagaimana mungkin seorang guru bisa menjalankan tugasnya dengan tenang dan nyaman kalau harus terus memikirkan keluarganya yang sakit akibat minimnya jaminan kesehatan? Bagaimana mungkin seorang guru bisa mengikuti laju informasi yang demikian cepat kalau tak sanggup langganan koran atau internet? Padahal, dunia ilmu pengetahuan dan informasi terus berkembang. Bagaimana bisa membikin siswa didiknya cerdas kalau dirinya sendiri buta informasi dan “gaptek” (baca: gagap teknologi)? Tidak berlebihan jika pada akhirnya mutu pendidikan di negeri ini hanya “jalan di tempat”, bahkan mengalami kemunduran.


Sungguh menarik data yang dikemukakan oleh Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Fasli Djalal, sebagaimana dilansir sebuah surat kabar nasional. Menurutnya, terdapat hampir separo dari sekitar 2,6 juta guru di Indonesia tidak layak mengajar. Kualifikasi dan kompetensinya tidak mencukupi untuk mengajar di sekolah. Lebih rinci disebutkan, saat ini yang tidak layak mengajar atau menjadi guru sekitar 912.505. Terdiri atas 605.217 guru SD, 167.643 guru SMP, 75.684 guru SMA, dan 63.961 guru SMK.
Kondisi ini jelas amat kontras dengan mutu pendidikan di negeri jiran yang dulu menimba ilmu kepada bangsa kita. Konon, guru-guru di negeri jiran, seperti Malaysia atau Singapura bisa hidup lebih dari cukup hanya dengan mengandalkan penghasilannya sebagai guru. Para penguasa negeri itu benar-benar memosisikan guru pada aras yang mulia dan terhormat dengan memberikan jaminan kesejahteraan, kesehatan, dan perlindungan hukum yang amat memadai. Implikasinya, mutu pendidikan di negeri itu melambung bak meteor, makin jauh meninggalkan dunia pendidikan kita yang (nyaris) tak pernah bergeser dari keterpurukan. Hal itu bisa dilihat dari kualitas HDI (Human Development Index) negeri-negeri tetangga yang jauh berada di atas kita.

“Kemauan Politik”
Sudah banyak kalangan yang risau terhadap nasib guru. Organisasi profesi semacam PGRI, misalnya, sudah pernah “nglurug” besar-besaran ke Jakarta agar pemerintah memperhatikan kesejahteraan guru. Demikian juga para pakar, pengamat, dan pemerhati pendidikan. Tak henti-hentinya mereka berteriak menyuarakan opininya melalui berbagai media massa.


Gerakan massa dan berbagai tekanan terhadap pemerintah baru surut setelah presiden dengan persetujuan DPR memutusan dan menetapkan Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada 30 Desember 2005 yang lalu. Lahirnya UU ini jelas membawa angin segar bagi guru dan dosen. Setidaknya, pemerintah sudah menunjukkan “kemauan politik” untuk mengangkat harkat dan martabat guru pada aras yang lebih terhormat.


Dalam pasal 14 ayat (1), misalnya, dinyatakan bahwa setiap guru berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial. Apakah yang dimaksud penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum? Pasal 15 ayat (1) menyatakan bahwa yang dimaksud penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai guru yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi. Bahasa sederhananya, ke depan seorang guru profesional berhak mendapatkan tambahan penghasilan yang jumlahnya sangat “aduhai” untuk ukuran guru di Indonesia pada umumnya.


Bagi kebanyakan guru di Indonesia, tambahan penghasilan merupakan sesuatu yang sangat diharapkan mengingat penghasilan guru di Indonesia pada umumnya relatif rendah. Rendahnya penghasilan guru di Indonesia semakin terasa apabila dibandingkan dengan penghasilan guru di negara yang kinerja pendidikannya relatif memadai seperti Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Jepang, Belanda, dan Amerika Serikat (AS).


Akan tetapi, tunggu dulu! Untuk mendapatkan tambahan penghasilan yang “aduhai” itu bukanlah persoalan yang mudah. Dalam pasal 16, misalnya, ditetapkan bahwa (1) Pemerintah memberikan tunjangan profesi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) kepada guru yang telah memiliki sertifikat pendidik yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan dan/atau satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat; (2) Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama. Itu artinya, guru yang belum memiliki sertifikat pendidik jangan bermimpi untuk mendapatkan tunjangan profesi yang setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok. Persoalannya sekarang ialah bagaimanakah cara guru untuk memperoleh sertifikat pendidik itu?


Sekarang ini sedang diperbincangkan kualifikasi guru yang dapat diuji sertifikasi; artinya tidak semua guru dapat dilakukan uji sertifikasi. Guru yang dapat diuji sertifikasi ialah guru yang memenuhi kualifikasi akademik sebagaimana diatur dalam PP dan UU; dalam hal ini PP No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan UU Guru.
Untuk menjadi guru SD (atau MI) misalnya. Pasal 29 ayat (2) PP SNP secara eksplisit menyebutkan pendidik (guru) pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat memiliki: a) kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1), b) latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan SD/MI, kependidikan lain, atau psikologi; dan c) sertifikat profesi guru untuk SD/MI. Implikasinya ialah, untuk mendapatkan sertifikasi pendidik atau dapat diuji sertifikasi maka seorang guru SD setidak-tidaknya harus berpendidikan D-IV atau S1.


Berapakah guru SD yang telah memenuhi kualifikasi akademik D-IV atau S1? Menurut data Balitbang Depdiknas, secara nasional baru sekitar 8 persen guru SD yang memiliki pendidikan minimal sarjana. Itu berarti, dari sekitar 1,2 juta guru SD yang dimungkinkan diuji sertifikasi hanya 8 persen saja. Permasalahannya sekarang ialah bagaimana nasib guru yang 92 persen atau sekitar 1,1 juta orang jumlahnya. Di luar SD banyak guru SMP, SMA dan SMK yang bernasib sama; demikian pula dengan guru (pendidik) TK dan PAUD, meskipun dengan variasi angka yang berbeda-beda. Itu artinya, untuk mendapatkan tunjangan profesi, guru yang belum memiliki kualifikasi akademik D-IV atau S1 harus melalui perjalanan yang cuku panjang dan berliku.


Lantas, bagaimana dengan guru yang telah memenuhi syarat kualifikasi akademik?


Untuk Jawa Tengah, menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Widadi, sebagaimana dilansir Kompas (2/11/2006), pada akhir tahun 2006 sebanyak 2.000 guru dari tingkat sekolah dasar hingga menengah, dijadwalkan mengikuti program sertifikasi guru. Jumlah ini merupakan sebagian kecil dari 140.000 guru di Jawa Tengah yang perlu mendapat sertifikasi guru. Jumlah guru seluruhnya mencapai 235.000 orang.


“Kemarin kami sudah dipanggil, katanya akhir tahun ini akan ada 2.000 guru dari Jateng yang akan mengikuti program sertifikasi,” ungkapnya di Pondok Pesantren Assalaam.


Sertifikasi guru menjadi amanat Pasal 82 UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang mewajibkan pemerintah mulai melaksanakan program sertifikasi pendidik paling lama dua belas bulan sejak diundangkannya aturan tersebut, yakni pada akhir tahun 2005 lalu. Diharapkan dalam jangka waktu 10 tahun setelahnya, semua guru sudah memiliki kualifikasi akademik setidaknya S1 atau diploma IV dan memiliki sertifikat pendidik.


“Jawa Tengah sendiri menargetkan semua guru di sini sudah mendapatkan sertifikasi pada tahun 2010 mendatang. Meskipun sulit, tapi kami harus optimistis hal ini tercapai. Dalam hal ini memang kami sangat bergantung pada pemerintah pusat karena ini program pusat,” kata Widadi. Meski demikian, untuk sementara ini pihaknya belum mengetahui lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) mana yang ditunjuk pemerintah yang akan menyelenggarakan proses sertifikasi bagi 2.000 guru tersebut. Sambil menunggu proses sertifikasi guru berjalan, pihaknya untuk sementara ini memberikan stimulan berupa beasiswa kepada para guru untuk meningkatkan kualifikasinya.

Tunjangan Fungsional
Sementara itu, untuk tunjangan fungsional, menurut Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Fasli Jalal, sebagaimana dilansir sebuah media cetak nasional, tahun 2007 sudah pasti akan dialokasikan anggarannya. Meski demikian, tunjangan fungsional masih dimungkinkan untuk diberikan pada guru bila terjadi perubahan APBN 2006. Besaran tunjangan fungsional beragam, dan pemerintah sedang menghitung. Diperkirakan tunjangan fungsional sedikit lebih rendah dibanding gaji pokok. “Kami memperkirakan tunjangan fungsional untuk seluruh guru, baik negeri maupun swasta memerlukan dana Rp 17 triliun. Kalau ada anggarannya di APBN 2006, mungkin tunjangan fungsional bisa mulai diberikan. Tetapi yang pasti, tahun 2007 pasti sudah kami anggarkan,” jelas Fasli.


Sementara menyangkut tunjangan profesi, pemerintah akan segara membuat peraturan agar guru bisa segera mendapat sertifikat pendidik. Dalam enam bulan, akan segera turun peraturan mengenai akreditasi perguruan tinggi yang berhak mengeluarkan sertifikat pendidik. “Akan kita atur agar proses mendapat sertifikat profesi tidak KKN, bagaimana guru yang ada di daerah juga dapat mengambil sertifikat profesi. Siapa yang harus didahulukan mengambil sertifikat pendidik, akan kita buat aturannya,” katanya.


Guru-guru berstatus sarjana dan sudah mempunyai pengalaman kerja lebih dari 20 tahun akan didahulukan. Diharapkan pada tahun ajaran 2006/2007, proses sertifikasi pendidik sudah dimulai. Direncanakan pada tahun 2006 akan dilakukan proses sertifikasi pada 150.000 guru negeri dan 100.000 guru swasta. Sementara bagi guru yang belum bergelar sarjana tetapi mengajar puluhan tahun, akan diberi kemudahan. “Kita akan minta ada perlakuan khusus bagi mereka. Masa kerja, dan cara mengajar mereka di kelas, semua akan diperhitungkan. Tidak harus mereka harus kuliah sarjana baru kemudian profesi,” jelasnya. Saat ini diperkirakan 470.000 guru negeri yang sudah mempunyai gelar sarjana. Sementara dari 900.000 guru swasta, belum diketahui berapa yang bergelar sarjana.


Seandainya sudah banyak guru yang memiliki sertfikat profesi, apakah ada jaminan adanya peningkatan mutu pendidikan? Jika berkaca pada pengalaman negara-negara maju, program peningkatan kualitas dan profesionalisme guru memang diperlukan, apa pun namanya. Hal ini dapat dilihat dari sejarah beberapa negara dalam rangka peningkatan kompetensi guru. Di Amerika Serikat, dimulai dengan munculnya reformasi pendidikan yang diinisiasi oleh keberadaan laporan federal yang berjudul A Nation at Risk pada 1983. Laporan ini lantas melahirkan laporan penting berjudul A Nation Prepared: Teachers for 21st Century. Dalam laporan tersebut, direkomendasikan adanya pembentukan National Board for Professional Teaching Standards, dewan nasional standar pengajaran profesional di Amerika Serikat pada 1987. Demikian juga di Jepang, UU Guru ada sejak 1974 dan UU Sertifikasi pada 1949. Sementara di Cina, UU Guru hadir pada 1993 dan PP Kualifikasi Guru pada 2001.


Jika program sertifikasi guru dijalankan, maka pada 2011 sekitar 1,3 juta guru dengan predikat pendidik profesional yang memerlukan gaji dan tunjangan profesi mencapai 77,46 triliun rupiah. Jumlah tersebut lebih besar dua kali lipat dari total pengeluaran untuk gaji pada 2005.
Angka yang fantastis itu pun belum menyangkut berbagai hal yang secara substansial perlu dibenahi untuk menciptakan guru berkualitas sesuai tuntutan masa depan. Peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi guru, bukan jaminan kinerja guru akan menjadi lebih baik. Pada masa penjajahan, dengan kualifikasi pendidikan yang jauh lebih rendah, guru dipandang lebih berhasil melahirkan lulusan yang bermutu.


Meski tidak bisa diperbandingkan sepenuhnya dengan situasi saat ini, tetapi setidaknya kenyataan itu mengingatkan bahwa kualifikasi akademik hanya menyelesaikan sebagian kecil masalah. Apalagi bila formalitas yang lebih dikejar, bukan substansinya. Peningkatan kualifikasi akademik guru menjadi S1, menjadi tidak bermakna bila gelar kesarjanaan yang diperoleh guru tidak relevan dengan yang ia ajarkan sehari-hari di kelas, atau didapat melalui jalan pintas. Profesionalisme guru bukan barang sekali jadi, bim salabim. Hambatan menjadi guru profesional sangat banyak. Hubungan antarsesama guru dan kepala sekolah lebih banyak bersifat birokratis dan administratif, sehingga tidak mendorong terbangunnya suasana dan budaya profesional akademik di kalangan guru. Guru pun kian terjebak jauh dari prinsip profesionalitas. Jauh dari buku, kebiasaan diskusi, menulis, apalagi riset. Oleh karena itu, pembenahan dan peningkatan mutu guru harus berlaku sepanjang kariernya.


Pekerjaan rumah yang tak kalah besar ialah mendidik calon guru demi menciptakan generasi guru baru yang intelek, transformatif dan profesional. Bukan sekadar tukang dan operator. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK). Mau tidak mau, perlu dikaji terlebih dahulu lembaga yang selama ini menghasilkan tenaga guru. Tidak ada salahnya, lembaga pendidikan yang melahirkan tenaga guru belajar dari Fakultas Kedokteran yang mencetak tenaga dokter. Sebuah proses pembelajaran yang ajeg dan meyakinkan, semua pihak percaya dan yakin pada profesionalisme dokter (meski akhir-akhir ini banyak kasus tentang mal praktik). Setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikan dokter, ia berhak atas gelar akademis sarjana kedokteran atau dahulu disebut dokter muda. Kemudian dilanjutkan dengan mengikuti kegiatan profesi dokter (ko-asistensi) di rumah sakit yang ditentukan, minimal dua tahun. Di sinilah kawah candradimuka untuk menjadi seorang dokter. Merupakan medan nyata (emphirical field) kerja dokter setelah proses teoritis selama manjalani pendidikan kedokteran. Setelah dinyatakan lulus ujian profesi dokter, barulah ia berhak disebut dokter (dr).


Pemeliharaan profesi dokter pun didukung oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang mewajibkan dokter untuk mengabdi sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) di daerah yang ditentukan, atau dapat diganti dengan kompensasi tertentu yang dianggap tidak mengurangi nilai pengabdian dan profesionalisme. Demikian juga Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) atau asosiasi profesi guru apa pun namanya, harus dapat berjuang untuk memelihara profesi guru.
Guru profesional adalah guru yang mengenal tentang dirinya. Yaitu, dirinya adalah pribadi yang dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk/dalam belajar. Guru dituntut mencari tahu terus-menerus bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar. Maka, apabila ada kegagalan peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan penyebabnya dan mencari jalan keluar bersama peserta didik; bukan mendiamkannya atau malahan menyalahkannya.


Menjadi guru bukan sebuah proses yang yang hanya dapat dilalui, diselesaikan dan ditentukan melalui uji kompetensi dan sertifikasi. Karena menjadi guru menyangkut perkara hati, mengajar adalah profesi hati. Hati harus banyak berperan atau lebih daripada budi. Oleh karena itu, pengolahan hati harus mendapatkan perhatian yang cukup, yaitu pemurnian hati atau motivasi untuk menjadi guru.


Sikap yang harus senantiasa dipupuk adalah kesediaan untuk mengenal diri dan kehendak untuk memurnikan keguruannya. Mau belajar dengan meluangkan waktu untuk menjadi guru. Seorang guru yang tidak bersedia belajar, tak mungkin kerasan dan bangga menjadi guru. Kerasan dan kebanggaan atas keguruannya adalah langkah untuk menjadi guru yang profesional.


Harus disadari, kondisi guru seperti yang tecermin saat ini, merupakan keprihatinan bersama. Kondisi ini yang harus dihadapi, bukan menjadi ajang untuk menyangkal atau malah menyalahkan pihak tertentu. Dari itu semua, yang paling berkepentingan adalah pribadi guru sendiri. Namun, itu jangan sampai untuk mematahkan semangat rekan guru yang masih ingin menghidupi keguruannya.

Categories: pendidikan

Penanggulangan Pencemaran oleh Limbah Cair Industri Pengolahan Hasil Pertanian Tingkat Menengah dan Rendah dengan Teknik Kolam Ganggang

Desember 12, 2008 admin 1 comment

Suwedo Hadiwiyoto, Supriyadi, dan Endang Sutriswati Rahayu
Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada


Penanggulangan limbah oleh industri besar tidak menjadi masalah, berbeda halnya dengan industri menengah dan kecil, mengingat sarana dan biaya pengoperasiannya yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mencari cara atau metode alternatif penanganan limbah cair dengan memodifikasi teknik kolam ganggang sehingga teknologi dan biaya pengadaan serta pengoperasiannya terjangkau oleh industri menengah ke bawah.


Teknik kolam ganggang atau lagoon merupakan cara pengolahan limbah cair dengan menafaatkan pertumbuhan ganggan fotosintesis dengan proses fakultatif anaerob serta merupakan cara yang paling sederhana dibandingkan cara-cara lainnya. Cara ini sangat cocok untuk negara berkembang. Kebutuhan oksigen hayati (BOD) dan kebutuhan oksigen kimia (KOK) dapat dikurangi sampai 60-80%. Pada dasarnya teknik kolam ganggang terdiri atas banyak kolam yang terbuat dari semen atau logam dengan kapasitas yang besar dan dilengkapi dengan berbagai peralatan pengendali, pengatur kondisi untuk menumbuhkan ganggang, penyaring, sedimentasi, denitrifikasi, dan klorinasi. Teknik ini dapat dimodifikasi sehingga menjadi peralatan yang sederhana dengan biaya relatif murah bagi industri menengah ke bawah. Modifikasi tersebut pernah dikerjakan di India pada tahun 1970-an dengan menggunakan dua kolam pengolah untuk mengolah limbah cair di pedesaan. Kolam pertama untuk menumbuhkan ganggang dan yang kedua untuk penjernihan. Meskipun demikian masih diperlukan beberapa alat seperti pompa dan bak penyaring.

Adopted from : Hibah Bersaing I

Categories: ilmu

PERAN TEKNIK ISOTOP DALAM MITIGASI PERUBAHAN IKLIM GLOBAL

Desember 10, 2008 admin Tinggalkan komentar

Teknik isotop alam adalah salah satu teknik yang sangat berguna dalam penelitian yang berkaitan dengan perubahan iklim serta respon dari lingkungan terhadap perubahan tersebut. Hal ini dimungkinkan karena isotop alam tersebut, baik yang bersifat stabil atau radioaktif, terdapat dalam berbagai matriks alam seperti sediment di danau dan lautan, sebagai komponen dari molekul air dalam bentuk es yang terdapat di kutub bumi, glasir dan lapisan es di daerah dingin dan puncak pegunungan, sebagai presipitasi dan bahkan yang terdapat pada pepohonan.

Kandungan isotop dapat diukur dan datanya dapat digunakan untuk merekonstruksi terjadinya perubahan iklim. Data tersebut juga dapat digunakan untuk studi adanya interaksi kompleks antara atmosfer, lautan dan biosfer yang ketiganya saling mempengaruhi faktor-faktor terjadinya perubahan iklim. Salah satu contoh penggunaan teknik isotop adalah teknik penanggalan dengan karbon-14 yang dapat digunakan untuk mengestimasi waktu kapan suatu material mengabsorb karbon-14.

Teknik ini biasa digunakan untuk mengestimasi waktu tinggal (residence time) air dalam akuifernya, untuk penanggalan fosil dan sediment serta dapat digunakan dalam studi atmosfer karena karbon dioksida terdapat di atmosfer bumi dalam jumlah yang besar. Inter relasi antara karbon-14, karbon-13 dan oksigen-18 dalam gas karbon dioksida di atmosfer dapat digunakan dalam studi interaksi antara lautan dan atmosfer. Dengan mengetahui kandungan isotop stabil hydrogen-2 dan oksigen-18 dalam kerang (shell) yang diambil dari sediment dasar lautan, memungkinkan untuk mengetahui suhu air pada saat kerang tersebut masih hidup.

Data komposisi isotop pada lapisan paling bawah dari es dan glasir yang diambil dengan core sampling dapat memberikan informasi tentang curah dari presipitasi, suhu, kecepatan angin dan konsentrasi gas rumah kaca pada masa yang lalu. Metodologi teknik perunut isotop dapat digunakan untuk mengetahui asal dari gas rumah kaca yaitu dari kadar karbon-13 dalam karbon dioksida gas rumah kaca tersebut. Isotop deuterium dan oksigen-18 juga dapat digunakan sebagai indikator parameter yang berkaitan dengan iklim misalnya suhu udara, kelembaban udara dan banyaknya curah hujan.

Dari uraian singkat ini dapat dicatat bahwa teknik isotop merupakan teknik yang sangat bermanfaat dalam menyajikan data dimana para ilmuwan dapat melihat ke belakang ke masa lalu dan mengembangkan suatu opsi modelling untuk memprediksikan kondisi mendatang dan meminimalkan dampak dari perubahan iklim global.

*Wandowo, 2005; “Mewaspadai Terjadinya Krisis Sumber Daya Air Bersih”, P3TIR – BATAN

Categories: kimia

Desember 10, 2008 admin 1 comment

TURUT BERDUKA CITA ATAS WAFATNYA

 

Bpk. Hari Subekti

Guru: OTK/ PIK Smkn 3 Kimia Madiun

 

Semoga Amal Ibadahnya Diterima Di sisi-NYA,

dan Kesabaran serta Ketabahan bagi Keluarga Yang Ditinggalkannya.

 

Regards.

Skimaters.

Categories: 5584

Belajar Manajemen Perusahaan : chapter. 15 : Bagaimana menetapkan tujuan/ sasaran yang S-M-A-R-T ? (Quality, Cost, Productivity, & Costumer Service).

Desember 10, 2008 admin Tinggalkan komentar

Sementara kita mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan – tantangan tahun depan, fokus kita haruslah tertuju pada Quality, Safety (Produk dan Manusia), Cost, Produktivitas (Efisiensi dan keefektifan) dan pelayanan pelanggan (internal/eksternal). Ukuran berkala terhadap kinerja akan didasarkan pada pencapaian tujuan dan/ atau tujuan yang ditetapkan. Karenanya setiap fungsi diharapkan untuk mengadakan analisis situasi dan mempersiapkannya hingga akhir tahun sekarang.

Secara Mayor, tipe dari tujuan harus dikelompokkan sebagai berikut  :

Rutin (40%)

Tujuan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan dengan cara “VIRTUE” posisi atau Fungsi.

Finance / Keuangan (20%)

Tujuan mengenai alokasi, anggaran, monitoring dan pengaturan biaya.

Fungsi Silang (20%)

Tujuan berkaitan dengan kegiatan koordinasi, kerjasama (ko-operasi), partisipasi dalam tim dan komite, misalnya Permintaan Tindakan Korektif & Preventif, Audit).

4.     Pengembangan Pribadi (10%)

Tujuan mengenai analisis kebutuhan training dan pelaksanaannya, dan

5.      Keterlibatan dalam Masyarakat (10%)

     Tujuan mengenai lingkungan, hubungan dengan penduduk sekitar, program peningkatan. Diharapkan bahwa dengan pedoman ini, pencapaian tujuan dan/atau sasaran akan ditingkatkan.

Langkah – langkah menetapkan tujuan/ sasaran :

Step 1 Identifikasi perhatian, issue dan kesempatan didalam setiap Tipe Tujuan yang Mayor

-         Harus dilakukan (Mendasar yang berarti mendesak dan penting, bahkan jangka pendek atau segera)

-         Perlu dilakukan (Pemecahan Masalah dengan menggunakan siklus Deming : Plan-Do-Check/Study-Act).

-         Sebaiknya ada (Inovatif yang berarti jangka panjang, penting, tapi tidak mendesak).

 

Step 2 Tuliskan tujuan/sasaran yang S-M-A-R-T untuk masing² jenis tujuan yang bersifat Mayor (gunakan blanko Tujuan Mutu).

-         Specific                : Terperinci, partikular dan/atau terfokus.

-         Measurable          : Dapat dihitung dan ada batasannya.

-         Action-Oriented   : Ada hasilnya ; gunakan kata kerja yang bermakna tindakan, seperti : meningkatkan, menurunkan/mengurangi, membuat, menambah dll.

-         Realistic               : Dapat dilaksanakan, dapat dicapai dan tersedianya sumber daya.

-         Time Bound          : Skala prioritas, diatur dengan batasan waktu.

Step 3 Membuat tujuan dan/atau sasaran untuk setiap tipe tujuan yang mayor.

-         Klasifikasi tujuan dalam setiap jenis tujuan yang mayor, seperti mendasar, pemecahan  masalah, inovatif, atau kombinasinya.

-         Prioritaskan dalam setiap tipe, seperti penggunaan pareto atau alat QCC lainnya.

-         Tetapkan standar kinerja.

-         Identifikasi rintangan, penghalang dan/atau hambatan lainnya yang akan dihadapi dalam mencapai tujuan mutu.

-         Tetapkan “WIIFM” (What’s In It For Me ?)  (apa bagian saya ?).

Step 4 Rumuskan rencana tindakan

-         Analisa dan jawablah 5W dan 1H (mengapa, apa, kapan, dimana, siapa, dan bagaimana).

-         Dokumenkan rencana (lampirkan pada blanko tujuan mutu).

-         Ajak tim untuk bekerjasama dalam menentukan tujuan dan merumuskan rencana tindakan.

-         Sediakan.

-         Tetapkan frekuensi pelaporan dan kepada siapa dilaporkan.

-         Tujuan dan/atau sasaran dapat ditetapkan

Step 5 Kiat – kiat untuk mencapai tujuan

-         Lakukan sesuai rencana (perencanaan harus bersifat menyeluruh, silakan lihat setp 4).

-         Monitor kemajuannya (bandingkan hasil yang dicapai dengan hasil yang direncanakan, tetapkan elemen – elemen yang berjalan dan apa yang tidak).

-         Perbaiki tujuan (lebih baik ubah taktik dan/atau strategi, jangan ubah tujuan).

-         Mulai lagi siklus PDCA (lihat siklus Deming, mengenai peningkatan yang berkelanjutan).

Step 6 Pertimbangkan   3   faktor kritis   tentang   Pimpinan  atau  Juara yang disebut dengan “Faktor  DEF”. 

“D” è Merupakan   singkatan dari Peter Drucker, seorang  profesional dalam  hal mutu dan  pemikir   mengenai   manajemen,    yang  berkata    bahwa   orang  harus  memotivasi dirinya sendiri.  Para  pemimpin yang hebat, secara naluriah mengakui hal ini.

“E” è Merupakan   singkatan   dari   Entrepreneurial,   adalah  kata  lain  dari   risiko.  Para pemimpin   harus   mengambil risiko,  mempelajari  risiko. Memimpin hari ini berarti mengambil risiko.

“F” è Merupakan    singkatan  dari    Fokus,   kita harus    berfokus    pada  masalah   untuk dipecahkan. Kita harus menghilangkan hal yang tidak perlu.

Step 7 Harus  ada  tindakan,  dengan mengingat   3   hal kritis, pimpinan  harus  melakukan  “Faktor ROI”.

”R” è Merupakan singkatan dari Removing Barriers, yang mencegah motivasi diri.

”O” è Merupakan singkatan dari Obtaining the right result,  atau  mendapatkan  hasil  yang   benar.  hal ini melibatkan pengakuan dan pekerjaan pada masalah yang tepat.

”I” è Merupakan  singkatan dari  Inspirasi.  Para   pemimpin   harus  tahu  bagaimana cara   menginspirasi orang lain untuk memotivasi diri mereka sendiri.

Contoh tujuan yang S-M-A-R-T

Tipe goal Mayor rutin :

1.      Meningkatkan hasil pengetikan  surat/dokumen  dibidang  administratif hingga 40 surat/dokumen perhari mulai dari keadaan sekarang yaitu 20 sampai 30 perhari pada tanggal 31 Januari 2001 tanpa menambah staff administrasi baru.

Spesifik                       :  “ Hasil Pengetikan ”

Measurable                  : “ Dari 20-30 ” dokumen/hari hingga 40/hari

Action-Oriented            :  “ Meningkatkan ”

Realistic dan Limiting      : “ Tanpa menambah staff administratif baru “

Time Bourd                   : “ Pada tanggal 31 Januari 2001

 

MODEL PENINGKATAN

Kerangka kerja untuk peningkatan sebagaimana digambarkan dibawah ini secara luas dapat diterima dan dapat diterapkan. Model ini merupakan refleksi atas fakta yang kita pilih secara rasional, apakah dilakukan atau tidak, didasarkan pada pengetahuan dan ketertarikan yang ada mengenai pencapaian tujuan/sasaran yang dipilih. Model ini juga merupakan kerangka kerja yang fleksibel untuk mengadakan dan menguji perubahan, dan bahkan penggunaan aplikasinya spesifik dan metedologi :

Keadaan Sekarang ==è

 

Apa yang mau kita coba kerjakan ?

Bagaimana kita akan tahu bahwa perubahan ini merupakan peningkatan ?

Perubahan apa yang dapat kita buat, yang menghasilkan peningkatan ?

==è  Siklus Pembelajaran Dan Peningkatan

ACT     ==è      PLAN    ==è CHECK   ==è      DO

CONTOH – CONTOH KARAKTERISTIK MUTU, ISSUE DAN PERTIMBANGANNYA

Marketing/Sales/Service

Waktu memproses permintaan pelanggan

Keluhan pelanggan

Kesalahan dalam mengisi pesanan ke dealer

Salah hitung

Kelebihan hitung

Kinerja Penjualan

Kepuasan pelanggan

Pengiriman yang lambat/terlewatkan

 

ENGINEERING

Waktu untuk memproses perubahan engineering/job order

Waktu kegagalan produk

Jumlah perubahan desain

Permintaan perubahan

Keterbatasan part

Informasi teknis

 

ADMINISTRATIF

Waktu memproses laporan

Pemakaian telepon

Kesalahan pembukuan yang dapat diterima

Waktu tunggu

Biaya inspeksi

Waktu singgah/transit

Panggilan telepon

Waktu membuat order

Komputer down time

Jumlah supplier

Kesalahan dalam purchase order

Kesalahan kerja

Waktu tunggu kendaraan, mobil, alat kantor

Biaya garansi

 

MANUFACTURING

Downtime, tindakan korektif dan prefentif

Jumlah serap

Keakuratan laboratorium

Jumlah kerja ulang

Waktu perbaikan

Tingkat inventory

Dimensi fisik

Biaya inspeksi

Mutu yang dihasilkan

Usulan karyawan

Viskositas proses batch

High TPC pada produk DC

 

MANAJEMEN

Jumlah kecelakaan

Waktu yang terbuang karena kecelakaan

Persen lembur

Jam kerja karyawan yang terbuang

Absensi/ketidakhadiran

Varian dari anggaran

Keluar masuk karyawan (turnover)

Penilaian karyawan (kinerja atas tujuan)

Biaya perawatan kesehatan

Pelatihan dan pendidikan karyawan

Aspek dan dampak lingkungan

Pembuatan proyek dan program

 

Referensi  :

1.       Moen, Ronald D dan Nolan, Thomas. W dan Provost Lioyd P (1999) : “ Quality Improvement    Through Planned experimentation “. Mc Graw Hill.

2.       Philip Morris.1998. “ Managing and Appraising performance (Map Goals) ”. USA

 

 

 

Categories: wawasan

SEKOLAH, DARI MASA KE MASA.

Desember 3, 2008 admin Tinggalkan komentar

Di dalam jagad pewayangan dikenal istilah padhepokan sebagai tempat penggemblengan bagi para calon ksatria agar kelak dapat megabdikan diri bagi kepentingan darma kemanusiaan. Para calon ksatria tersebut biasanya diajar oleh seorang ajar atau guru. Untuk mendapatkan kesempurnaan ilmu, para cantrik (calon ksatria yang berguru), diajarkan ilmu kanuragan, tata negara dan tentunya ilmu agama.

Dalam sejarah praja Majapahit, barangkali tercatat dalam sejarah adanya sebuah institusi untuk mencetak calon pejabat negara atau tanda, istilahnya PPCT (Pusat Pendidikan Calon Tanda). Lembaga ini mendidik calon pejabat mulai tingkat wedana, perwira prajurit hingga pangeran adipati anom. Para siswa tanda biasanya berasal dari para putra pejabat (kasta ksatria), namun demikian ada juga kalangan Sudra maupun Waisya yang dapat mengikuti pendidikan dikarenakan dharma bakti luar biasa yang diberikan kepada negara. Kuti dan Semi adalah contoh perwakilan rakyat awam yang menjadi siswa tanda. Read more…

Categories: slentingan

PENGGUNAAN MEDIA PENDIDIKAN PADA PENGAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH MENENGAH

Desember 3, 2008 admin 1 comment

Adi Suarman Situmorang 1

1FKIP Universitas Darma Agung Medan, Jl. Sriwijaya Medan, Sumatera Utara, Indonesia

ABSTRACT

The uses of educational media for the teaching of mathematics in high school is explained in the paper. The research was conducted onto the high school students in Medan. The research was carried out through teaching the students with a Concept map media and analises the effectivity of the media in enhanching the ability of students in understanding the concept of mathemetics. Based on the preliminari test it was foud that most of the student 65%) have low understanding ability on the concept of mathematics. After³( teaching the students by using educational media it was found that most of the students (89%)understand the concept of the mathematics.

Kata kunci: Media pendidikan, petakonsep, belajar tuntas, pangkat rasional, dan bentuk akar Read more…

Categories: pendidikan

Pilihlah Pendamping Hidupmu Maka Jodohmu Akan Mengikuti

Desember 3, 2008 admin Tinggalkan komentar

“Dan diantara tanda – tanda kekuasaan Allah ialah menciptakan ruang angkasa & bumi, berbeda – beda bahasa dan warna kulitmu. Yang demikian itu adalah tanda – tanda (kebesaran Allah) bagi orang – orang yang mengetahui”(QS. Ar Ruum 30:22)

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Dan Allah maha tahu dan mengenal dirimu.” (QS. Al. Hujarat, 49:13) Read more…

Categories: rohani

Isotherm Adsorpsi

Desember 3, 2008 admin 2 komentar

Isoterm adsorpsi adalah hubungan yang menunjukkan distribusi adsorben antara fasa teradsorpsi pada permukaan adsorben dengan fasa ruah saat kesetimbangan pada temperatur tertentu. Ada tiga jenis hubungan matematik yang umumnya digunakan untuk menjelaskan isoterm adsorpsi.

1. Isoterm Langmuir  

Isoterm ini berdasar asumsi bahwa:

a. Adsorben mempunyai permukaan yang homogen dan hanya dapat mengadsorpsi satu molekul adsorbat untuk setiap molekul adsorbennya. Tidak ada interaksi antara molekul-molekul yang terserap.

b. Semua proses adsorpsi dilakukan dengan mekanisme yang sama.

c. Hanya terbentuk satu lapisan tunggal saat adsorpsi maksimum.

                        Namun, biasanya asumsi-asumsi sulit diterapkan karena hal-hal berikut: selalu ada ketidaksempurnaan pada permukaan, molekul teradsorpsi tidak inert dan mekanisme adsorpsi pada molekul pertama sangat berbeda dengan mekanisme pada molekul terakhir yang teradsorpsi.

                         

                        Langmuir mengemukakan bahwa mekanisme adsorpsi yang terjadi adalah sebagai berikut: A(g) + S AS, dimana A adalah molekul gas dan S adalah permukaan adsorpsi.

                         

2. Isoterm Brunauer, Emmet, and Teller (BET).

Isoterm ini berdasar asumsi bahwa adsorben mempunyai permukaan yang homogen. Perbedaan isoterm ini dengan Langmuir adalah BET berasumsi bahwa molekul-molekul adsorbat bisa membentuk lebih dari satu lapisan adsorbat di permukaannya. Pada isoterm ini, mekanisme adsoprsi untuk setiap proses adsorpsi berbeda-beda. Mekanisme yang diajukan dalam isoterm ini adalah:

Isoterm Langmuir biasanya lebih baik apabila diterapkan untuk adsorpsi kimia, sedangkan isoterm BET akan lebih baik daripada isotherm Langmuir bila diterapkan untuk adsoprsi fisik

3. Isoterm Freundlich

Untuk rentang konsentrasi yang kecil dan campuran yang cair, isoterm adsorpsi dapat digambarkan dengan persamaan empirik yang dikemukakan oleh Freundlich. Isoterm ini berdasarkan asumsi bahwa adsorben mempunyai permukaan yang heterogen dan tiap molekul mempunyai potensi penyerapan yang berbeda-beda. Persamaan ini merupakan persamaan yang paling banyak digunakan saat ini. Persamaannya adalah

     x/m = kC1/n

dengan x = banyaknya zat terlarut yang teradsorpsi (mg)

m = massa dari adsorben (mg)

C = konsentrasi dari adsorbat yang tersisa dalam kesetimbangan

k,n,= konstanta adsorben

Dari persamaan tersebut, jika konstentrasi larutan dalam kesetimbangan diplot sebagai ordinat dan konsentrasi adsorbat dalam adsorben sebagai absis pada koordinat logaritmik, akan diperoleh gradien n dan intersep k. Dari isoterm ini, akan diketahui kapasitas adsorben dalam menyerap air. Isoterm ini akan digunakan dalam penelitian yang akan dilakukan, karena dengan isoterm ini dapat ditentukan efisiensi dari suatu adsorben.

Hal-hal yang dapat dilihat dari kurva isoterm adalah sebagai berikut.

            1. Kurva isoterm yang cenderung datar rtinya, isoterm yang digunakan menyerap pada kapasitas konstan melebihi daerah kesetimbangan.

            2. Kurva isoterm yang curam artinya kapasitas adsorpsi meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi kesetimbangan.

Adsorpsi ion logam oleh material padat secara kuantitatif mengikuti persamaan Langmuir. Persamaan Langmuir merupakan tinjauan teoritis proses adsorpsi.

 C/(x/m) = 1/Kb + C/b

Persamaan tersebut dapat digunakan pada adsorpsi oleh padatan. Konstanta pada persamaan adsorpsi Langmuir menunjukan besarnya adsorpsi maksimum (b) oleh adsorben, dan K menunjukkan konstanta yang dihubungkan dengan energi ikat. Harga adsorpsi maksimum secara teoritis seperti yang dicantumkan pada tabel 3.

Keterangan: *per berat membran

Terdapat perbedaan antara berat teradsorp teoritis dan eksperimen. Hal tersebut menunjukan bahwa berkurangnya konsentrasi ion logam tidak hanya terjadi karena adsorpsi secara pertukaran ion, tetapi terjadi juga pemerangkapan ion logam pada pori-pori membran.

Data hubungan persamaan :

Categories: kimia