November 2008


I. PENDAHULUAN
Buah-buahan merupakan bahan pangan sumber vitamin. Selain buahnya yang dimakan dalam bentuk segar, daunnya juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Misalnya daun pisang untuk makanan ternak, daun pepaya untuk mengempukkan daging dan melancarkan air susu ibu (ASI) terutama daun pepaya jantan.
Warna buah cepat sekali berubah oleh pengaruh fisika misalnya sinar matahari dan pemotongan, serta pengaruh biologis (jamur) sehingga mudah menjadi busuk. Oleh karena itu pengolahan buah untuk memperpanjang masa simpannya sangat penting. Buah dapat diolah menjadi berbagai bentuk minuman seperti anggur, sari buah dan sirup juga makanan lain seperti manisan, dodol, keripik, dan sale.
Manisan buah adalah buah yang diawetkan dengan gula. Tujuan pemberian gula dengan kadar yang tinggi pada manisan buah, selain untuk memberikan rasa manis, juga untuk mencegah tumbuhnya mikroorganisme (jamur, kapang). Dalam proses pembuatan manisan buah ini juga digunakan air garam dan air kapur untuk mempertahankan bentuk (tekstur) serta menghilangkan rasa gatal atau getir pada buah. (lebih…)

Oleh : Achmad Faisol.
Lebih detail tentang kesombongan, al-Ghazali menerangkan bahwa kesombongan dibagi dua, yaitu kesombongan batin dan kesombongan zhahir. Kesombongan batin adalah kesombongan yang terdapat dalam hati, sedangkan kesombongan zhahir dilakukan oleh anggota tubuh.
Kesombongan batin lebih berbahaya, karena tingkah laku seseorang merupakan akibat dari yang terjadi di hatinya. Apabila seseorang mewujudkan kesombongannya dalam perbuatan, maka hal itu disebut takabbur (berlaku sombong), sedangkan jika hanya menyimpan di dalam hati tanpa ada tindakan disebut kibr (sifat sombong).

Menurut definisinya, kesombongan adalah menolak kebenaran dan melecehkan atau merendahkan orang lain.
مَنْ سَـفَهَ اْلحَقَّ وَغَمَصَ النَّاسَ

(Orang sombong adalah) orang yang menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. (HR Muslim)
Larangan Allah kepada kita untuk menjauhi kesombongan tercantum dalam Al-Qur’an al-‘Azhîm :
وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَتَمْشِ فىِ ٱْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ كُلَّ مُخْتـَالٍ فَخُـوْرٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong lagi membanggakan diri. (QS Luqmân [31] : 18)

Jika kita terjangkit penyakit sombong berarti kita menggabungkan dalam diri kita kebodohan dan kebohongan. Kebodohan karena kita tidak mengetahui bahwa kebesaran hanya milik Allah sehingga akibat kebodohan, kita menduga dirinya besar. Kita juga melakukan kebohongan, karena dengan takabbur kita membohongi diri sendiri sebelum orang lain. Bukankah takabbur berarti membuat-buat kebesaran kepada diri yang pada hakikatnya tak pernah wujud?
Jika kita sombong maka kita menciptakan keburukan di atas keburukan. Kesombongan sendiri telah merupakan keburukan. Selanjutnya dengan sikap takabbur, sesungguhnya kita memaksa orang lain memendam rasa dendam dan antipati terhadap diri kita, bahkan menghina dan mencela kita. Kalau tidak di hadapan kita dengan suara keras, maka di belakang kita dengan suara sayup atau di dalam hati.
Jika kita sombong maka kita adalah manusia yang sangat tidak terpuji. Bagaimana mungkin kita sombong padahal asal kita adalah nuthfah dan akhirnya menjadi mayat tak berdaya, sedangkan masa antara awal dan akhir hidup kita selalu membawa (di dalam tubuh) urine serta kotoran yang berbau menusuk.
Manusia sombong harus disombongi, karena menyombongi orang sombong adalah sedekah. Ber-takabbur kepada mereka dimaksudkan agar yang bersangkutan menyadari dirinya dan tidak larut dalam keangkuhannya.
التَّكَـبُّرُ عَلَى الْمُتَكَـبِّرِ صَدَقَةٌ

Menyombongi orang sombong adalah sedekah.
Entah apa jadinya kehidupan ini jika semua orang telah terjangkit sifat sombong. Setiap orang saling melecehkan, tak ada lagi penghormatan kepada orang lain, hilanglah kewibawaan dan sopan santun terhadap orang lain.
Entah apa yang akan terjadi jika setiap orang menolak ketika kebenaran diperlihatkan. Semua orang tidak dapat saling memberikan pemahaman atau melakukan diskusi dengan baik, kecuali dengan cara memaksa.
Sama halnya mereka tidak dapat bersatu dalam kebenaran, mereka pun tidak dapat bersatu dalam kebatilan. Hukum rimbalah yang akan muncul, yaitu siapa yang kuat dialah yang menang. Bersamaan dengan itu akan muncul gejala-gejala sosial seperti kezhaliman, emosi, pertengkaran, permusuhan, peperangan dan pelanggaran hak asasi. Itu semua berawal dari penyakit hati, yang masyhur dengan nama “sombong”.
Mari kita bersama-sama berusaha agar tidak terinfeksi penyakit “sombong” ini. Tak perlu kita mencari siapa orang yang di dalam hatinya terjangkit penyakit ini. Introspeksi diri harus didahulukan. Janganlah kita mudah menyalahkan orang lain akan tetapi kita tidak mau menyalahkan diri sendiri. Bukankah sudah kita pahami bersama kaidah “Mulailah dari dirimu sendiri (ibda’ binafsika)?”
Mungkin ada di antara kita yang mempertanyakan, “Mengapa saya harus menyalahkan diri sendiri? Bukankah hidup ini ada sistem yang juga melibatkan orang lain? Sebagai contoh, kalau saya mengantuk/tidur ketika khutbah, itu karena khatibnya tidak menguasai sosiologi dakwah. Begitu pun dengan tindakan-tindakan saya yang lain. Semua itu hanyalah reaksi akibat aksi yang saya terima dari lingkungan. Mengapa harus saya yang disalahkan? Mengapa bukan orang lain atau sistem yang ada?”
Sekadar menyalahkan orang lain apalagi mencari kambing hitam termasuk pekerjaan mudah. Kita tidak perlu sekolah untuk menumpahkan kesalahan pada orang lain. Anak kecil pun bisa melakukannya. Namun, tidakkah kita sadari bahwa hidup ini antara kita dan Allah? Bukankah di akhirat nanti, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatan kita, bukan perilaku orang lain?

Edi Suhaimi Bakar, O Rachman, Muh Yusram Massijaya, dan Bahruni
Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Institut Pertanian Bogor

Kelapa sawit sangat besar potensinya di Indonesia dengan luas tanaman lebih dari 2.9 juta ha sehingga Indonesia merupakan negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia setelah Malaysia. Dengan laju pertumbuhan sekitar 8.5% per tahun, diperkirakan Indonesia akan melewati Malaysia pada tahun 2014 nanti. Namun, pemanfaatan biomassa kelapa sawit masih belum efisien, terbatas hanya pada buah untuk memproduksi minyak, serta sampai pada tingkat tertentu, pada sabut, tandan, dan pelepah untuk memproduksi serat. Biomassa batang dari hasil regenerasi tanaman tua setelah berumur 25-30 tahun yang merupakan massa terbesar belum dimanfaatkan, melainkan hanya dibakar atau dibiarkan jadi tumpukan limbah yang menimbulkan berbagai dampak lingkungan dan gangguan. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui potensi kayu sawit dari hasil peremajaan tanaman, mengetahui sifat-sifat dasarnya (fisik, mekanis, kimia, keawetan, dan pemesinan), serta memperbaiki kelemahan kayu sawit sehingga dapat digunakan sebagai bahan bangunan dan furnitur. Pada bagian akhir juga dilakukan kajian sosial ekonomi dari pemanfaatan kayu sawit sebagai bahan bangunan dan furnitur.
Dari penelitian tahap pertama diketahui bahwa sepertiga bagian terluar batang kelapa sawit dapat dimanfaatkan dalam bentuk kayu utuh untuk bahan bangunan perumahan. Bagian ini mencapai 30% volume batang bebas pelepah, mempunyai kelas kuat III-V dan kelas awet V, yang secara umum setara dengan mutu kayu sengon (Paraserianthes falcataria). Diketahui bahwa faktor kedalaman batang sangat mempengaruhi sifat-sifat dasar yang diuji: bagian tepi mempunyai sifat yang jauh lebih baik daripada bagian medium dan pusat. Sebaliknya, faktor ketinggian tidak memiliki kecenderungan tertentu, meskipun pada sebagian sifat-sifat mekanis menunjukkan penurunan mutu dengan semakin tingginya batang.
Dari penelitian tahap kedua diketahui bahwa kayu kelapa sawit sebaiknya digergaji dengan pola yang berbeda dengan penggergajian pada umumnya, yaitu menggunakan pola modified round sawing (MRS). Meskipun dapat diawetkan dengan baik dengan bahan pengawet Basilit-CFK dan Impralit-B1, sifat dan mutu pemesinan kayu kelapa sawit tergolong sangat jelek dengan persen bebas cacat berturut-turut sebesar 6 dan 12% untuk proses penyerutan dan pelubangan segi-empat, dan tergolong sedang dengan persen bebas cacat berturut-turut sebesar 50, 66, dan 62% untuk proses pembentukan, pengeboran, dan pengampelasan. Secara keseluruhan mutu pemesinan kayu kelapa sawit tergolong jelek, sehingga perlu diupayakan perbaikan mutu agar penggunaannya dapat diperluas. Selanjutnya diketahui bahwa perbaikan mutu dengan teknik impregnasi (perendaman) tidak berhasil meningkatkan mutu kayu kelapa sawit karena imprenasi tidak mampu masuk ke dalam kayu.
Pada penelitian tahap ketiga dilakukan perbaikan mutu kayu kelapa sawit dengan teknik kompregnasi, yaitu pemasukan bahan kompregnan resin fenol dengan bantuan tekanan dalam tangki tertutup. Dari hasilnya diketahui bahwa perlakuan kompregnasi dengan resin fenol dapat memperbaiki sifat fisis, mekanis, keawetan, dan pemesinan kayu sehingga cocok digunakan untuk bahan bangunan. Kondisi kompregnasi yang optimum ialah dengan konsentrasi larutan impregnan 30% dan waktu tekanan 60 menit. Secara umum mutu proses pemesinan kayu sawit terkompregnasi sebanding dengan jenis-jenis kayu komersial (mahoni, kamper, dan jati) yang biasa digunakan untuk furnitur. Sifat pengetaman, pembentukan (shaping), dan pengeboran kayu kelapa sawit terkompregnasi termasuk sedang hingga sangat baik (III-I) dan sifat pengampelasan sangat baik (kelas I).
Meskipun perlakuan kompregnasi kayu kelapa sawit memerlukan biaya yang relatif tinggi, harga akhir kayu kelapa sawit terkompregnasi masih dapat bersaing dengan kayu utuh lain yang mutunya sebanding. Bahkan kayu kelapa sawit terkompregnasi mempunyai nilai lebih dalam hal warna dan tekstur serat sehingga sangat cocok digunakan untuk furnitur mutu tinggi. Dari hasil wawancara diketahui pula bahwa masyarakat masih menunjukkan kepercayaan yang rendah terhadap kayu kelapa sawit sebagai alternatif baru untuk bahan bangunan dan furnitur (terutama dari segi kekuatan dan keawetan), sehingga perlu dilakukan sosialisasi yang tepat dari hasil-hasil perbaikan mutu yang telah dicapai kepada masyarakat.

Adopted from : Hibah Bersaing VI

TUJUAN
- Memahami maksud dan arti pentingnya Inovasi (ACTS)
- Memotivasi bagaimana menjadi anggota sebuah team
- Dapat berinovasi (menemukan cara-cara baru) secara proaktif dalam menyelesaikan tantangan kerja sehari-hari
- Mengefektifkan penggunaan metode ACTS
- Menstandarisasikan laporan (notulensi) inovasi
- Menghargai gaya inovasi yang berbeda
- Dapat berperan dalam menghasilkan pemecahan yg inovatif & meningkatan dengan melaksanakan proses ACTS
PROSES ACTS
- Ask (Tanya) : Apa Yang ingin kita kerjakan ; Apa yang kita takutkan/khawatirkan
- Chek (cek) : Apa yang telah kita ketahui ; apa yang telah kita kerjakan dapat membantu ; apa yang tiap anggota kerjakan ; ketrampilan yang bermanfaat apa yang dimiliki oleh tiap-tipa orang ; Masalah apa yang sebenarnya
- Think (Fikir) : Ide apa yang kita miliki ; Modifikasi faktor pengaruh ; penyelidikan simbol alam ; eksperimen ; keuntungan – kerugian
- Suggest (saran) : Minta persetujuan ; jelaskan dan lakuka ; terapkan (Action Plan)
ACTS SEBUAH MODEL PEMECAHAN MASALAH
- Keterkaitan antar poin dan pola fikir pemecahan
- Penggunaan data real dan analisa
- Penggunaan gaya inovasi dan tekhnik pengembangan ideMetode untuk memilih pemecahan yang benar
APAKAH INOVASI
- Mempunyai ide baru/dan atau yang lebih baik bisa meningkatkan produk/hasil, pelayanan dan prosedur kerja
- Bersifat Dramatis & mendapat Perhatian yang Nyata
- Kreatifitas , Individualisme
- Inovasi bisa merubah (fenomena sekali tembak) secara langsung atau bertahap
GAYA INOVASI
- Visioning : Melihat pada gambaran yang diinginkan sebagai tujuan
- Modifyng : Membuat dan meningkatkan pada apa saja yang telah dicoba dan teruji
- Experimenting : Menggabungkan dan menguji kenyataan
- Exploring : Meragukan informasi yang ada dan menemukan cara baru
NILAI TIAP GAYA INOVASI
EXPERIMENTING
- Tetap pada realitas
- Tahap pembuktian pengalaman
- Pendekatan analitik
- Mengikutsertakan orang lain dalam mengambil keputusan
- Hasil dan keuntungan bisa dicapai
- Rendah biaya
- Menggunakan sumber daya yang ada
- Menggunakan metode yang hemat waktu
EXPLORING
- Banyak ide baru
- Melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda
- Berani menantang norma-norma
- Pikiran yang terbuka
- Membangkitkan semangat
- Tidak takut kegagalan
- Menawarkan alternative
- Menemukan hal yang mustahil
- Mengenalkan variabel/faktor lain
MODIFYNG
- Tidak mereka-reka aturan
- Hemat waktu, biaya dan penggunaan
- Sumber daya yang tersedia
- Mendorong ide-ide
- Praktis, realistis
- Fleksibel dan bisa menyesuaikan
- Menghasilkan pekerjaan yang lebih bermutu
- Mudah mendapat dukungan dari atasan dan sekerja
- Sistematis, proses yang berkesinambungan
- Lebih cepat menerapannya
4 PRINSIP INOVASI
- Kita semua mempunyai kemampuan untuk menjadi inovatif
- Kita mempunyai perbedaan cara untuk menangani dan menyelesaikan masalah
- Kita menggunakan suatu kombinasi dari keempat gaya inovasi
- Gaya ini seperti bermacam-macam bahasa yang lebih seperti sebuah gambar dari kepribadian kita
MENGOPTIMALKAN KINERJA SEBUAH TIM INOVASI
- Menyadari keragaman perbedaan sudut pandang dan gaya inovasi sebagai sebuah kekayaan bukan sebaliknya
- Pengaturan Tempat Duduk
- Mendengar dan sulitnya memahami maksud orang lain
- Apakah kelompok akan membangun / merusak ide yang sudah ada
- Bagaimana Tim Sampai pada keputusan
JANGAN JADI Mr. Averageman
Dilahirkan pada tahun 1901, nilai-nilainya antara C & D, kawin dengan nona Medicore pada tahun 1924 mempunyai seorang anak laki-laki bernama Averageman Jr dan seorang anak perempuan bernama Baby Medicore. Dia mempunyai masa pengabdian tidak baik selama 40 tahun dan memegang berbagai posisi tidak penting. Dia tidak berani menghadapi resiko dan memanfaatkan peluang. Dia juga tidak berani mengasah bakat dan terlalu bersikap pasif.
Buku kegemarannya “Noninvolvement ; The Story of Playing It Save (Tiada keterlibatan ; suatu kisah bagaimana untuk tidak menyusahkan diri). Dia hidup selama 60 tahun tanpa mempunyai tujuan, rencana, kemauan, keyakinan atau tekad. Pada batu nisannya tertulis kata-kata berikut :
- Disinilah makam Mr. Averageman
- Dilahirkan pada tahun 1901, wafat tahun 1921 dikebumikan pada tahun 1964
- Dia tidak pernah mencoba sesuatu
- Harapannya pada kehidupan terlalu sedikit
- Kehidupan tidak berarti baginya.
KEKHAWATIRAN
- Mungkin saya melakukan kesalahan
- Orang² tidak menyukai saya
- Mungkin saya akan gagal
- Saya tak ingin merasa tidak enak
- Saya bisa belajar dari kesalahan
- Saya suka menolong
- Saya percaya diri
- Saya bisa menyesuaikan
BEBERAPA NILAI DAN ARTI PENTING
- Dependensi Manusia
- Tujuan ‘Kesejahteraan’
- Perhatian yang paling utama dari para manajer
- Perluasan Pasar yang cepat
- Perubahan Dari
- Prilaku Konsumen
o Kemajuan Iptek
o Mindset
MENGEMBANGKAN USULAN TEAM
- Dengarkan hal-hal yang baik dari setiap usulan
- Mendorong orang tersebut untuk memperinci ide-idenya
- Kembangkan ide tsb
UCAPAN MENDORONG ORANG LAIN
- Pekerjaan bagus, pertahankan hal tsb
- Saya bangga padamu
- Anda adalah salah satu anggota team yang penting
- Mari kita saling belajar
- Kita satukan pikiran untuk selesaikan masalah ini
- Sangat bagus
- Ayo, cobalah
- tu ide cemerlang
- Lakukan hal yang terbaik
- Sangat fantastis
KONSEP PROAKTIF
BAHASA REAKTIF
- Tidak ada yang dapat lakukan
- Memang sudah begitulah saaya
- Ia membuatku bagitu marah
- Mereka tidak akan mengizinkan itu
- Saya terpaksa melakukan it
- Saya tidak bias
- Saya harus
- Seandainya saja
BAHASA PROAKTIF
- Mari kita lihat alternatif yang kita miliki
- Saya dapat memilih pendekatan yg berbeda
- Saya mengendalikan perasaan saya sendiri
- Saya dapat memberikan presentasi yang efektif
- Saya akan memilih respons yang sesui
- Saya memilih
- Saya lebih suka
- Saya akan
SISTEM DAN STANDAR LAPORAN
- Target Tema dan Pembagian Tim
- Standar Laporan
Urutan Proses; SISTEM DAN STANDAR LAPANGAN
- Notulensi lengkap
- Besar Huruf
Tekhnik Presentasi
- Penekanan Poin penting
- Penyajian data/gambar/table
- Waktu

Mekanisme Koagulasi-Flokulasi
Stabilitas koloid merupakan aspek penting dalam proses koagulasi untuk menghilangkan koloid-koloid.
Stabilitas koloid tergantung ukuran koloid dan muatan elektrik, juga dipengaruhi oleh media pendispersi (dalam hal ini media pendispersi adalah air) seperti kekuatan ion , pH.
Muatan permukaan partikel-partikel koloid penyebab kekeruhan di dalam air adalah sejenis, oleh karena itu jika kekuatan ionik di dalam air rendah, maka koloid akan tetap stabil. Stabilitas merupakan daya tolak koloid karena partikel-partikel mempunyai muatan permukaan sejenis (negatip).
Antara koloid-koloid ada gaya tolak menolak dan gaya tarik massa (van der Waals). Dengan adanya enersi interaksi kedua gaya tersebut yang disebabkan oleh gerakan Brownian, dihasilkan suatu enersi kinetik. Jika kekuatan ionik di dalam air cukup tinggi, maka gaya tolak menolak memberi keuntungan kepada situasi dimana tumbukan yang terjadi menghasilkan aglomerasi partikel-partikel.
Ada beberapa daya yang menyebabkan stabilitas partikel, yaitu :
1). Gaya elektrostatik yaitu gaya tolak menolak terjadi jika partikel-partikel mempunyai muatan yang sejenis (negatif atau positif ).
2). Bergabung dengan molekul air (reaksi hidrasi)
3). Stabilisasi yang disebabkan oleh molekul besar yang diadsorpsi pada permukaan.
Mekanisme yang disebut diatas seringkali terjadi pada saat yang sama. Dalam suspensi yang keruh seringkali hanya ada partikel bermuatan negatip yang disebabkan oleh penggantian kation maupun adsorpsi zat anionik.
Mineral seperti silika, tanah liat, oksida dan hidroksida seringkali selain mempunyai daya elektrostatik, juga ada hidrasi yang mampu untuk mengadsopsi zat penyebab stabilisasi.. Suspensi atau koloid bisa dikatakan stabil jika semua gaya tolak menolak antar partikel lebih besar dari gaya tarik massa, sehingga didalam waktu tertentu tidak terjadi agregasi.
Untuk menghilangkan kondisi stabil, harus merubah gaya interaksi diantara partikel dengan pembubuhan zat kimia (sebagai donor muatan positip) supaya gaya tarik menarik menjadi lebih besar.
Untuk destabilisasi ada beberapa mekanisme yang berbeda :
a. Kompresi lapisan ganda listrik (Compression of electric double layer) dengan muatan yang berlawanan
b. Mengurangi potensial permukaan yang disebabkan oleh adsorpsi molekul yang spesifik dengan muatan elektrostatik berlawanan.
c. Adsorpsi molekul organik diatas permukaan partikel bisa membentuk jembatan molekul diantara partikel.
d. Penggabungan partikel koloid kedalam senyawa presipitasi yang terbentuk dari koagulan/ flokulan.
Destabilisasi yang terjadi tergantung dari mekanime destabilisasi yang mana atau bisa saja hanya ada satu mekanisme yang menyebabkan agregasi atau kombinasi dari mekanisme yang lain (diantara yang tersebut diatas). Untuk aplikasi praktis di IPA Instalasi pengolahan air) ada kombinasi dari beberapa mekanisme destabilisasi yang disebabkan adanya kompresi lapisan ganda, tetapi hal ini biasanya tidak begitu penting untuk aplikasi praktis.
Secara garis besar (berdasarkan uraian di atas), mekanisme koagulasi dan flokulasi adalah :
(1) Destabilisasi muatan negatip partikel oleh muatan positip dari koagulan
(2) Tumbukan antar partikel
(3) A d s o r p s i
Selain tumbukan antar partikel terdestabilisasi/mikroflok yang bertujuan membentuk flok dengan ukuran yang relatif besar (makroflok), adsorpsi merupakan mekanisme flokulasi diantaranya dilakukan oleh Al(OH)3, aluminium hidroksida yaitu bentuk hidroksida Al, hasil reaksi hidrolisa Al dengan air. Senyawa ini berbentuk agar-agar (jelly) yang mempunyai sifat “adsorpsi (menyerap di permukaan), seperti terlihat pada gambar di bawah ini.
Jika kekuatan ionik di dalam air cukup besar, maka keberadaan koloid di dalam air sudah dalam bentuk terdestabilisasi. Destabilisasi disini disebabkan oleh ion monovalen (valensi 1) dan divalen (valensi 2) yang berada di dalam air. Kejadian ini dinamakan “Koagulasi elektrostatik”, sedangkan koagulasi kimiawi adalah suatu proses dimana zat kimia seperti garam Fe dan Al, ditambahkan ke dalam air untuk merubah bentuk (transformasi) zat-zat kotoran. Zat-zat tersebut akan bereaksi dengan hidrolisa garam-garam Fe atau Al menjadi flok dengan ukuran besar yang dapat dihilangkan secara mudah melalui sedimentasi dan filtrasi.
Pada sistem pengolahan air, koagulasi terjadi pada unit pengadukan cepat (flash mixing), karena koagulan harus tersebar secara cepat dan reaksi hidrolisa hanya terjadi dalam beberapa detik, jadi destabilisasi muatan negatip oleh muatan positip harus dilakukan dalam perioda waktu hanya beberapa detik
Nilai gradien kecepatan (G), waktu tinggal/detensi ( td ) dan kecepatan aliran air adalah jarang berubah selama instalasi pengolahan air (IPA) berjalan.
Faktor – faktor yang mempengaruhi koagulasi :
(1) Pemilihan bahan kimia
Pemilihan koagulan dan koagulan pembantu , merupakan suatu
program lanjutan dari percobaan dan evaluasi yang biasanya
menggunakan Jar – test. Seorang operator dalam pengetesan untuk memilih bahan kimia , biasanya dilakukan di laboratorium. Untuk melaksanakan pemilihan bahan kimia, perlu pemeriksaan terhadap karakteristik air baku yang akan diolah yaitu :
• S u h u
• pH
• Alkalinitas
• Kekeruhan
• W a r n a
Efek karakteristik tersebut terhadap koagulan adalah sebagai berikut :
S u h u Suhu rendah berpengaruh terhadap daya koagulasi/flokulasi dan memerlukan pemakaian bahan kimia berlebih, untuk mempertahankan hasil yang dapat diterima.
pH Nilai ekstrim baik tinggi maupun rendah, dapat berpengaruh terhadap koagulasi/flokulasi, pH optimum bervariasi tergantung jenis koagulan yang digunakan (lihat tabel jenis koagulan !).
Alkalinitas Alum sulfat dan ferri sulfat berinteraksi dengan zat kimia pembentuk alkalinitas dalam air, membentuk senyawa aluminium atau ferri hidroksida, memulai proses koagulasi. Alkalinitas yang rendah membatasi reaksi ini dan menghasilkan koagulasi yang kurang baik, pada kasus demikian, mungkin memerlukan penambahan alkalinitas ke dalam air, melalui penambahan bahan kimia alkali/basa ( kapur atau soda abu)
Kekeruhan Makin rendah kekeruhan, makin sukar pembentukkan flok yang baik. Makin sedikit partikel, makin jarang terjadi tumbukan antar partikel/flok, oleh sebab itu makin sedikit kesempatan flok berakumulasi. Operator harus menambah zat pemberat untuk menambah partikel- partikel untuk terjadinya tumbukan.
Warna Warna berindikasi kepada senyawa organik, dimana zat organik bereaksi dengan koagulan, menyebabkan proses koagulasi terganggu selama zat organik tersbut berada di dalam air baku dan proses koagulasi semakin sukar tercapai. Pengolahan pendahuluan terhadap air baku harus dilakukan untuk menghilangkan zat organic tersebut, dengan penambahan oksidan atau adsorben (karbon aktif).
Keefektifan koagulan atau flokulan akan berubah apabila karakteristik air baku berubah. Keefektifan bahan kimia koagulan/koagulan pembantu, dapat pula berubah untuk alasan yang tidak terlihat atau tidak diketahui, oleh karena itu ada beberapa factor yang belum diketahui yang dapat mempengaruhi koagulasi – flokulasi . Untuk masalah demikian Operator harus memilih bahan kimia terlebih dahulu, dengan menggunakan jar –test dengan variasi bahan kimia, secara tunggal atau digabungkan atau dikombinasikan.
Jar–test secara subyektif masih merupakan uji yang paling banyak digunakan dalam mengontrol koagulasi dan tergantung semata-mata kepada penglihatan kita ( secara visuil ) untuk mengevaluasi suatu interpretasi/tafsiran. Selain itu seorang Operator juga harus melakukan pengukuran pH, kekeruhan, bilamana mungkin harus melakukan uji “filtrabilitas” dan “potensial zeta”.
(2) Penentuan dosis optimum koagulan
Untuk memperoleh koagulasi yang baik, dosis optimum koagulan harus ditentukan. Dosis optimum mungkin bervariasi sesuai dengan karakteristik dan seluruh komposisi kimiawi di dalam air baku, tetapi biasanya dalam hal ini fluktuasi tidak besar, hanya pada saat-saat tertentu dimana terjadi perubahan kekeruhan yang drastis (waktu musim hujan/banjir) perlu penentuan dosis optimum berulang-ulang.
Perlu diingat bahwa hasil jar-test tidak selalu sama dengan operasional di IPA, jadi harus dibuat koreksi dosis yang dihasilkan jar-test dengan aplikasi dosis di IPA.
Seorang operator perlu membuat suatu grafik hubungan antara nilai kekeruhan vs dosis koagulan, melalui percobaan jar – test untuk variasi nilai kekeruhan ( rendah, sedang, tinggi ) selama periode waktu minimal satu tahun atau dari data – data yang lalu selama
beberapa tahun untuk sumber air baku yang sama. Sehingga dengan adanya grafik ini mempermudah penentuan dosis secara cepat jika ada perubahan kekeruhan secara tiba–tiba . Selanjutnya penentuan dosis dilanjutkan dengan melakukan jar-test.
(3) Penentuan pH optimum
Penambahan garam aluminium atau garam besi, akan menurunkan pH air, disebabkan oleh reaksi hidrolisa garam tersebut, seperti yang telah diterangkan di atas. Koagulasi optimum bagaimanapun juga akan berlangsung pada nilai pH tertentu (pH optimum), dimana pH optimum harus ditetapkan dengan jar-test.
Untuk kasus tertentu ( pada pH air baku rendah dan pada dosis koagulan yang relatif besar ) dan untuk mempertahankan pH optimum, maka diperlukan koreksi pH pada proses koagulasi, dengan penambahan bahan alkali seperti : soda abu ( Na2CO3 ) , kapur ( CaO ) atau kapur hidrat { Ca(OH)2 }. Dilakukan penentuan dosis alkali pada dosis optimum koagulan yang digunakan.
Proses Flokulasi
Setelah proses koagulasi partikel-partikel terdestabilisasi dapat saling bertumbukan membentuk agregat sehingga terbentuk flok, tahap ini disebut ” Flokulasi “. Flokulasi adalah suatu proses aglomerasi (penggumpalan) partikel-partikel terdestabilisasi menjadi flok dengan ukuran yang memungkinkan dapat dipisahkan oleh sedimentasi dan filtrasi. Dengan kata lain proses flokulasi adalah proses pertumbuhan flok (partikel terdestabilisasi atau mikroflok) menjadi flok dengan ukuran yang lebih besar (makroflok).
Terdapat 2 (dua) perbedaan pada proses flokulasi yaitu :
1. Flokulasi Perikinetik adalah aglomerasi partikel-partikel sampai ukuran μm dengan mengandalkan gerakan Brownian. Biasanya koagulan ditambahkan untuk meningkatkan flokulasi perikinetik.
2. Flokulasi Ortokinetik adalah aglomerasi partikel-partikel sampai ukuran di atas 1μm dimana gerakan Brownian diabaikan pada kecepatan tumbukan antar partikel, tetapi memerlukan pengaduk buatan (artificial mixing)
Setelah destabilisasi selesai mulai terbentuk agregasi partikel yang mana diameternya lebih kecil dari 1 mikrometer untuk sementara cuma bergerak berdasarkan difusi dan akan terjadi agregasi antar mereka. Dengan ukuran flok dan partikel yang semakin besar semakin penting terjadi agregasi yang disebabkan oleh ortokinetik , maka perbedaan kecepatan diantara partikel semakin besar, akan terjadi pembentukan flok. Dilain pihak jika flok terlalu besar tidak bisa menahan tekanan abrasi didalam air, artinya dengan nilai gradien kecepatan ( G value) yang semakin besar ukuran flok rata-rata akan menurun. Untuk mempertahankan nilai G yang berhubungan dengan ukuran partikel, pada prakteknya dilakukan semacam pengadukan pendahuluan (premixing) dengan nilai G yang tinggi, kalau sudah terjadi flok, nilai G diturunkan. Semakin lama agregat akan menumpuk semakin banyak, tahap berikutnya nilai G diturunkan. Dalam beberapa instalasi, misalnya dari nilai G = 100/dt diturunkan menjadi 10/dt. Dengan demikian ada kesempatan untuk menentukan daya enersi yang akan dimasukkan ke dalam masing-masing tahap sesuai dengan kondisi air baku dan sesuai dengan sistem pemisahan yang akan dilakukan selanjutnya.
Jika ditinjau dari mekanisme tersebut di atas, maka pada proses flokulasi memerlukan waktu (yang dinyatakan oleh waktu tinggal / detensi = td , dalam detik) yaitu waktu untuk memberi kesempatan ukuran flok menjadi lebih besar dengan berbagai cara yang sudah diterangkan di atas. Disamping memperhatikan waktu, pada proses flokulasi diperhatikan pula kecepatan pengadukan (yang dinyatakan oleh gradien kecepatan = G , dalam dt−1). Kombinasi dari kedua hal penting tersebut, yaitu nilai G x td merupakan kriteria penting yang harus dipenuhi pada proses flokulasi. Nilai spesifik adalah : 104 − 105. Jika nilai spesifik G td dilampaui, maka flok yang sudah terbentuk akan pecah kembali, sebaliknya jika kurang dari nilai spesifik, maka flok tidak akan terbentuk seperti yang diharapkan.
Untuk menghasilkan flokulasi yang baik, maka perlu diperhatikan:
 Nilai G : 20 – 70 dt−1
 Waktu tinggal (waktu ditensi) : 20 – 50 menit.
Karena proses flokulasi ini memerlukan waktu, dan kecepatan yang relatif rendah, maka flokulasi dilakukan pada unit yang disebut “Pengadukan lambat” atau biasa disebut “Flokulator” dimana jenis pengadukan bisa berupa pengaduk mekanis atau hidraulik.
Dengan dosis koagulan/flokulan pembantu (+ 0,1 – 1 mg/l) kestabilan flok bisa dipertahankan terhadap abrasi yang menjadi lebih besar dengan adanya flokulan pembantu. Penambahan koagulan/flokulan pembantu yaitu jenis polimer, flok yang terbentuk akan lebih besar pada nilai G (gradien kecepatan) yang sama.. Harus ada selisih waktu antara pembubuhan koagulan/flokulan pembantu dengan pembubuhan koagulan (misalnya Al3+ atau Fe3+). Pembubuhan koagulan/flokulan pembantu paling sedikit 30 dtk setelah pembubuhan koagulan.
Jika polimer dibubuhkan terlalu awal, kebutuhannya bisa jauh lebih besar dibandingkan dengan adanya selisih waktu diantara kedua pembubuhan tersebut di atas. Jika dicampur dengan efisien, pemakaian koagulan/flokulan pembantu akan lebih baik.
Jika ada flok yang besar yang terbentuk dengan koagulan/flokulan pembantu polimer, setelah flok ini hancur maka tidak bisa dibentuk kembali (jadi bila digunakan koagulan/flokulan pembantu polimer tidak boleh ada arus yang dapat menghancurkan flok sebelum terjadi sedimentasi atau proses separasi yang diinginkan).
Efisiensi dari proses flokulasi pada prakteknya seringkali dapat dilihat dari kualitas air setelah dilakukan pemisahan flok secara mekanik. Dengan demikian, cara pemisahan zat padat atau flok sangat penting dan sangat dipengaruhi oleh bentuk flok yang ada, misalnya untuk melakukan flotasi diperlukan bentuk flok yang lain berbeda dengan flok untuk sedimentasi. Jika dipakai sedimentasi diperlukan flok dengan berat jenis dan diameter yang besar. Pada proses flotasi dibutuhkan flok yang lebih kecil dan mempunya berat jenis yang lebih ringan tetapi mempunyai sifat untuk bergabung dengan gelembung udara. Untuk filtrasi dibutuhkan flok yang kompak yang cukup homogen dengan struktur yang kuat terhadap abrasi dan dengan sifat mudah melekat diatas partikel media penyaring (filter) untuk menjamin pemisahan yang efisien dan operasional penyaringan yang ekonomis.
Untuk efek penjernihan air secara keseluruhan, belum cukup apakah flok bisa dipisahkan dari air secara efektif, karena belum dapat menjamin dengan pasti apakah kualitas air yang diinginkan bisa tercapai hanya dengan kondisi ini saja. Selain itu dibutuhkan bahwa semua zat yang akan dihilangkan dari air juga melekat pada flok.
Untuk mencapai kondisi flokulasi yang dibutuhkan, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, seperti misalnya :
 Waktu flokulasi,
 Jumlah enersi yang diberikan
 Jumlah koagulan
 Jenis dan jumlah koagulan/flokulan pembantu
 Cara pemakaian koagulan/flokulan pembantu
 Resirkulasi sebagian lumpur (jika memungkinkan)
 Penetapan pH pada proses koagulasi
a. Koagulasi, Flokulasi, dan sedimentasi.
Pentingnya Koagulasi-flokulasi di IPA
Pentingnya koagulasi-flokulasi di IPA terhadap air baku air permukaan dan air tanah yang sudah mengalami pengolahan pendahuluan; seringkali terdapat zat padat dalam bentuk atau ukuran yang tidak memungkinkan mengendap pada proses sedimentasi saja atau dengan proses lain di dalam waktu dentensi yang efisien.
Zat tersuspensi yang mempunyai ukuranlebih dari 5 – 10 μm dapat dihilangkan agak mudah dengan filtrasi atau sedimentasi dan filtrasi. Sedangkan penghilangan koloid yang tidak tercemar berat dapat menggunakan Saringan pasir lambat. Timbul kesulitan bilamana kualitas air baku tidak baik sehingga tidak semua zat koloid dan kotoran lainnya dapat dihilangkan dengan saringan pasir cepat atau saringan pasir lambat. Untuk mengatasi hal ini maka proses koagulasi dengan menggunakan bahan kimia dilakukan.
Dengan aplikasi teknologi koagulasi-flokulasi zat yang berbentuk suspensi atau koloid dirubah bentuknya menjadi zat yang dapat dipisahkan dari air. Agregasi sebagai akibat dari pemakaian koagulan/flokulan adalah tahap awal dimana selanjutnya dilakukan pemisahan flok dari air misalnya dengan proses sedimentasi, filtrasi atau flotasi.
Proses koagulasi-flokulasi selain untuk menurunkan tingkat kekeruhan untuk memperoleh air yang bening, juga ada efek samping yaitu fraksi zat tersuspensi dalam air yang seringkali menyebabkan pencemaran. Dengan koagulasi-flokulasi zat suspensi tersebut yang juga sebagai pencemar, bisa dihilangkan dari air.
Selain itu juga penting bagi proses desinfeksi dengan adanya pemisahan zat padat sebelum desinfeksi dilakukan, karena sering kali mikroorgamisme terdapat di dalam zat padat, yang tidak dapat dimusnahkan oleh proses oksidasi reduksi, karena oksidan akan tereduksi oleh zat organik didalam flok sebelum bisa menembus mikroorganisme untuk dimusnahkan.
Proses koagulasi-flokulasi bisa juga menghilangkan sebagian atau seluruh zat terlarut, sehingga hal ini yang menjadi fungsi utama dari koagulasi-flokulasi.
Teknologi koagulasi-flokulasi bisa juga dipadukan dengan proses pengendapan secara kimiawi (bukan proses pengendapan flok secara fisik), akan tetapi reaksi kimia antara koagulan/flokulan dan zat terlarut didalam air yang menghasilkan senyawa kimia yang tidak larut.
Semua zat yang ada didalam air bisa terdiri dari beberapa macam komponen misalnya organik atau anorganik. Komponen ini beraneka ragam termasuk partikel dari erosi tanah, maupun sisa tanaman, hidroksida logam hasil proses oksidasi, atau plankton, bakteri maupun virus, yang merupakan tantangan utama untuk proses pengolahan yaitu dapat merubah jenis dan komposisi zat-zat tersebut yang dilakukan dalam waktu yang cepat.
Sangat sulit untuk menghilangkan algae dan bakteri dari dalam air karena ukuran maupun sifat-sifatnya yang spesifik menyulitkan dalam proses pemisahan.
Di dalam air permukaan terdapat partikel-pertikel dengan ukuran yang berbeda. Klasifikasi yang dikenal adalah :
Molekul yang mempunyai ukuran diameter lebih kecil dari 1 nm
Koloid pada umumnya mempunyai ukuran antara 1 nm – 1 μm
Zat-zat tersuspensi mempunyai ukuran lebih besar dari 1 μm
Contoh koloid yang biasa terdapat di dalam air permukaan adalah : zat humus (asam humus), tanah liat, silika dan virus. Sedangkan yang tergolong zat tersuspensi adalah bakteria, algae, lumpur, pasir, sisa berupa kotoran organik,
Diameter partikel yang ada didalam air sangat bervariasi, hal ini menjadi dasar klasifikasi zat di dalam air juga jangkauan ukuran zat di dalam air dan waktu sedimentasi untuk beberapa zat dengan berat jenis yang berbeda, yaitu waktu sedimentasi yang dibutuhkan untuk melewati jarak 1 meter oleh 2 (dua) berat jenis zat padat yang berbeda. Sebagai contoh berat jenis 2,6 kg/lt berlaku untuk partikel silikat, berat jenis 1,1, kg/lt berlaku untuk flok hidroksida. Semua partikel yang berdiameter < 10 μm, mengendap sangat lambat bila dibandingkan dengan flok yang berukuran antara 100 – 1000 μm yang mengendap jauh lebih mudah.
Partikel-partikel terdispersi yang mempunyai ukuran lebih kecil dari 1 μm dan lebih besar dari ukuran molekul-molekul itu sendiri ( 1 nm ) disebut partikel-partikel koloid. Partikel-partikel ini dapat menghamburkan/menyebarkan cahaya menghasilkan apa yang disebut “Efek Tyndall”. Penyebaran cahaya ini di dalam sorotan cahaya hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. Dengan cara ini adanya partikel-partikel secara individu di dalam larutan koloid akan nampak sebagai kilatan cahaya yang dihamburkan. Jika tidak ada pertikel-partikel koloid, tidak ada cahaya yang dihamburkan maka yang terlihat adalah bayangan hitam. Melalui mikroskop partikel-partikel koloid terlihat bergerak kesegala arah secara terus menerus, fenomena ini disebut ” Gerakan Brownian (Brownian movement) “, dimana gerakan ini disebabkan oleh bombardir partikel-partikel koloid oleh molekul air. Jadi gerakan partikel-partikel ini sebagai akibat langsung dari gerakan molekul-molekul disekelilingnya.
Muatan listrik yang dipunyai oleh partikel-partikel koloid merupakan dasar yang penting karena tanpa hal ini, larutan koloid (sol) menjadi tidak stabil. Muatan awal partikel dapat diadsorpsi di permukaan oleh gaya van der Waals dari ion spesifik, disosiasi grup fungsional tertentu atau mengganti kisi-kisi kristal Si dengan Al. Semua partikel koloid mempunyai muatan elektrik, dimana besarnya muatan bervariasi, tergantung dari material koloid dan dapat bermuatan positip dan negatip. Pada air alam (pada pH 6 – 8) pada umumnya koloid bermuatan negatif.
Kandungan ion yang dekat dengan koloid dalam air dipengaruhi oleh muatan permukaan. Koloid bermuatan negatip mempunyai konfigurasi lapisan ion. Lapisan pertama merupakan kation yang melekat pada permukaan muatan negatip yang melekat pada koloid dan bergerak bersama koloid tersebut. Ion-ion lainnya di sekitar koloid tersusun teratur dimana konsentrasi ion positip atau ion yang berlawanan lebih dekat dengan permukaan koloid. Susunan ini menghasilkan jaringan yang sangat kuat pada lapisan yang melekat dan akan berkurang kekuatannya sebanding dengan jarak koloid.
Dispersi koloid dalam air secara umum terbagi menjadi 2 (dua) yaitu :
1). Sifat hidrofilik (senang air) dan
2). Sifat hidrofobik (tidak senang air)
Sifat hidrofilik menyebabkan ikatan koloid dengan air menjadi lebih kuat, sehingga koloid akan lebih stabil dan sulit dipisahkan dengan air.
Kestabilan sistem koloid hidrofobik disebabkan oleh adanya fenomena hidrasi, yaitu suatu keadaan dimana molekul-molekul air tertarik oleh permukaan koloid, sehingga menyebabkan terhalangnya kontak antara koloid yang satu dengan lainnya. Kestabilan koloid hidrofobik terjadi karena koloid-koloid bermuatan sejenis, sehingga terjadi gaya tolak menolak antar koloid. Koloid bermuatan negatip akan menarik ion yang berlawanan pada permukaan, membentuk lapisan pelindung dari air di sekelilingnya. Keadaan ini menghasilkan lapisan ganda listrik (“electrical double layer”) dari muatan positif dan negatif.
Kelebihan muatan listrik dipermukaan sering dikompensasi karena pada bagian luar dari lapisan ganda listrik, dengan konsentrasi ion yang muatannya berlawanan dan yang bersifat difusi disebabkan oleh gerakan molekul air yang disebabkan oleh termic.
Lapisan molekul air diatas permukaan partikel menghindari partikel langsung bisa bergabung dengan partikel lain dan bisa tidak mendekati cukup dekat dengan partikel yang muatannya berlawanan dan mempunyai daya tarik. Sebagai contoh untuk suspensi stabil itu adalah asam silikat yang baru mengendap, ada hidroksida maupun zat dengan molekul besar dengan proses hidrolisa lengkap misalnya ekstrak kanji (startch), protein, karbohidrat, asam humus dan polimer sintetis yang terlarut.
Permukaan zat suspensi di dalam air bisa tertutup oleh zat yang netral yang diadsorpsi diatas permukaan supaya tidak bisa terjadi lagi pendekatan dengan daya tarik ion. Terutama lapisan adsorpsi dari zat sintetis atau zat kimia alami dengan molekul besar bisa menyebabkan daya tolak yang sangat besar dan dengan ini menghindari suspensi tersebut bergabung (efek perlindungan koloid).
Edited by : @_pararaja

By : arifin_pararaja

The phosphate ion is a polyatomic ion with the empirical formula PO43− and a molar mass of 94.973 g/mol; it consists of one central phosphorus atom surrounded by four identical oxygen atoms in a tetrahedral arrangement. The phosphate ion carries a negative three formal charge and is the conjugate base of the hydrogenphosphate ion, HPO42−, which is the conjugate base of H2PO4, the dihydrogen phosphate ion, which in turn is the conjugate base of H3PO4, phosphoric acid. It is a hypervalent molecule (the phosphorus atom has 10 electrons in its valence shell). Phosphate is also an organophosphorus compound with the formula OP(OR)3

A phosphate salt forms when a positively-charged ion attaches to the negatively-charged oxygen atoms of the ion, forming an ionic compound. Many phosphates are not soluble in water at standard temperature and pressure. (lebih…)

Abdul Kadir Salam, Sri Djuniwati, Sarno, Nanik Sriyani, dan Heri Novpriansyah

Fakultas Pertanian, Universitas Lampung

Pada konsentrasi tinggi semua jenis logam berat dapat bersifat racun bagi makhluk hidup. Industri akan terus-menerus menghasilkan limbah logam berat yang tinggi sehingga lingkungan dapat dicemari olehnya. Pemanfaatan kimiawi logam berat dengan berbagai komponen dalam sistem tanah diharapkan dapat menetralkannya. Penelitian ini bertujuan mengembangkan teknik pengelolaan limbah industri berlogam berat di dalam sistem tanah dengan memanfaatkan kapur dan kompos daun tanaman.

Penelitian dilakukan dalam empat tahap. Tahap I bertujuan menentukan jenis bahan kapur dan bahan organik yang memungkinkan dapat digunakan dalam penyusunan teknologi mengurangi logam berat. Bahan organik mencakup kompos daun dari tanaman singkong, jagung, alang-alang, dan kedelai; sedangkan bahan kapur mencakup kapur karbonat (CaCO3), kapur hidroksida [Ca(OH)2], dan kapur dolomit [CaMg(CO3)2]. Jenis tanah mencakup tanah Ultisol, Oxisol, dan Andisol yang semuanya diambil dari Lampung. Contoh limbah terdiri atas limbah model berupa larutan logam berat baku dan limbah industri berupa lumpur limbah dari industri sendok logam. (lebih…)

Oleh : Dr. Sulipan

Pendahuluan

Guru adalah jabatan profesi, untuk itu seorang guru harus mampu melaksanakan tugasnya secara profesional. Seseorang dianggap profesional apabila mampu mengerjakan tugasnya dengan selalu berpegang teguh pada etika kerja, independent (bebas dari tekanan pihak luar), cepat (produktif), tepat (efektif), efisien dan inovatif serta didasarkan pada prinsip-prinsip pelayanan prima yang didasarkan pada unsur-unsur ilmu atau teori yang sistematis, kewenangan profesional, pengakuan masyarakat dan kode etik yang regulatif. Pengembangan wawasan dapat dilakukan melalui forum pertemuan profesi, pelatihan ataupun upaya pengembangan dan belajar secara mandiri.

Sejalan dengan hal di atas, seorang guru harus terus meningkatkan profesionalismenya melalui berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuannya dalam mengelola pembelajaran maupun kemampuan lain dalam upaya menjadikan peserta didik memiliki keterampilan belajar, mencakup keterampilan dalam memperoleh pengetahuan (learning to know), keterampilan dalam pengembangan jati diri (learning to be), keterampilan dalam pelaksanaan tugas-tugas tertentu (learning to do), dan keterampilan untuk dapat hidup berdampingan dengan sesama secara harmonis (learning to live together). (lebih…)

Fotosintesis adalah sebuah proses kimia yang namanya dikenal hampir oleh semua orang yang pernah bersekolah. Tetapi, kebanyakan orang tidak menyadari betapa sangat pentingnya proses ini bagi kehidupan di atas bumi, atau misteri apa yang ada di dalam proses ini.

Pertama, mari kita lupakan ilmu kimia SMU kita, dan perhatikan rumus reaksi fotosintesis ini:

6H2O + 6CO2 + cahaya matahari Z C6H12O6 + 6O2 Glukosa

Artinya: Air dan karbondioksida dan cahaya matahari menghasilkan gula dan oksigen.

Secara lebih terperinci, yang terjadi dalam reaksi kimia ini adalah, enam molekul air (H2O) bergabung dengan enam molekul karbondioksida (CO2) dalam reaksi yang mendapatkan energi dari sinar matahari. Saat reaksi selesai, hasilnya adalah sebuah molekul glukosa (C6H12O6), gula sederhana yang merupakan elemen makanan yang penting, dan enam molekul gas oksigen (O2). Sebagai sumber semua makanan di planet kita, glukosa mengandung energi yang sangat besar. (lebih…)

Oleh : Achmad Faisol

Salah satu penyakit yang harus dicuci bersih dari dalam hati kita yaitu ‘ujub. ‘Ujub adalah bangga terhadap diri sendiri, misalnya terhadap ibadah, ilmu, harta, kecantikan, kedudukan, kekuasaan dan sebagainya.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa ‘ujub dibagi dua, yaitu :

  • ‘Ujub terhadap perbuatan yang dilakukan atas kehendak diri (dengan usaha), misalnya ilmu, ibadah, sedekah, memberikan kesejahteraan kepada umat, perang dan sejenisnya.
  • ‘Ujub terhadap apa-apa yang bukan atas kehendaknya sendiri seperti garis keturunan, warna kulit, ras dan lainnya.

(lebih…)

Dimas Satya Lesmana1

Chemwatch / Chemcare Asia

1) Country Representatives Chemwatch

Abstrak

Global Harmonized System (GHS) yang dimandatkan oleh PBB melalui ILO telah mewajibkan perubahan global dalam hal komunikasi bahaya termasuk Klasifikasi Bahaya, MSDS, beserta Penandaannya. Implementasi GHS menyangkut MSDS memerlukan pembahasan lintas sektoral terkait dengan amandemen dan revisi peraturan perundangan terkait. Makalah ini membahas mengenai implementasi MSDS berdasarkan mandat GHS dan perubahan apa saja yang diperlukan dalam menjawab tantangan global.

Kata kunci: MSDS, GHS, Implementasi, Global (lebih…)

Kabar gembira untuk para pengembang ethanol yang ada di Indonesia, pemurnian ethanol yang selama ini menggunakan teknologi destilasi yang cukup rumit dan memakan cost produksi yang tinggi kini dapat digantikan dengan sebuah alat mungil yang disebut sebagai membran pervaporasi.

Adalah Dr I Gede Wenten MSc, dosen Teknologi Kimia Institut Teknologi Bandung yang merupakan  salah satu Ahli Teknologi Membran, memanfaatkan polivinilalkohol dan kitosan sebagai bahan baku membran. Keduanya bersifat hidrofilik alias tidak menyerap air sehingga selektif terhadap air dan tidak mudah mengembang. Yang digunakan adalah membran tidak berpori sehingga hanya uap air yang mampu melewatinya, sedangkan larutan etanol ditolak oleh membran. (lebih…)


untuk melihat gambar lebih jelas klik dua kali

Prinsip pembuatan etanol sangat sederhana, etanol berkadar 6-12% dimasukan ketangki evaporator dan dipanaskan sampai temperatur 78 C (titik didih etanol). Temperatur ini perlu dijaga karena jika temperatur didalam evaporator melewati 80 C, uap air akan ikut masuk kealat destilasi. uap etanol dialirkan alat destilasi, dialam alat destilasi uap etanol akan terkondensasi menjadi etanol cair. (lebih…)

Inilah terowongan mini yang mampu menaikkan kadar etanol hingga 99,8%. Terowongan itu terbuat dari pipa PVC berdiameter 10 cm. Di dalamnya terdapat membran berbahan baku polivinilalkohol yang mirip kabel. Bioetanol yang melewati terowongan itu akan melonjak kadar kemurniannya sehingga bisa langsung digunakan sebagai bahan bakar. (lebih…)

Oleh : Achmad Faisol

Terkadang penulis ditanya orang dengan nada dan gaya penuh selidik, “Lulusan mana?”

Setelah dijawab, ternyata masih ada pertanyaan lanjutan, “Jurusan apa?”

Karena pengalaman menjawab “kuesioner” seperti ini, maka biasanya penulis langsung menjawab sekaligus ketika pertanyaan pertama diajukan. Penulis tak hendak sû’uzh zhan, tapi sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap perguruan tinggi atau sekolah mempunyai peringkat (ranking), brand dan reputasi berbeda-beda. Begitu pula setiap jurusan yang ada. Terlebih lagi, masyarakat kita masih memandang adanya perbedaan prestise atau gengsi antara sekolah/kuliah di dalam dan luar negeri.

Kalau kita pada posisi penanya, kira-kira apa tujuan kita bertanya seperti itu? Untuk perkenalankah? Saling memahamikah? Ataukah untuk mengetahui kualitas orang yang kita tanya?

Permasalahan yang mungkin timbul yaitu :

  • Jika orang yang kita tanya ternyata posisinya di bawah kita, dikuatirkan muncul sifat tidak terpuji dalam diri kita. Kita akan meremehkan orang itu, baik dalam ucapan maupun tindakan.
  • Kalau orang tersebut berkualitas di atas kita, dikuatirkan timbul minder dalam diri kita. Akibatnya kita jadi salah tingkah atau malah bicara tidak karuan dengan harapan agar kita dianggap sebagai seorang cerdik-pandai.

Bahkan, tak mau ketinggalan, para orang tua pun sering saling bertanya, “Anakmu sekolah/kuliah di mana? Jurusan apa?”

Selain kebiasaan mengajukan pertanyaan seperti di atas, seringkali kita juga mencantumkan gelar mengiringi nama kita nan indah. Umumnya gelar dibagi menjadi tiga, yaitu :

  • Gelar akademik

Gelar ini diperoleh lewat jalur pendidikan formal, misalnya diploma, sarjana, pasca sarjana dan sejenisnya.

  • Gelar profesional

Gelar ini tak terhitung variasinya. Di bidang Teknologi Informasi saja, setiap vendor mengeluarkan gelar. Penulis pernah membaca sebuah buku TI yang ditulis oleh seorang Ph.D dan mempunyai 25 gelar profesional—ada Cisco, Unix Sun Solaris, Microsoft, Novell bahkan Hardware PC A+. Saking banyaknya, akhirnya gelar-gelar tersebut ditulis menurun, bukan mengiringi nama beliau.

  • Gelar kemasyarakatan

Gelar ini pun bermacam-macam, sebagai contoh Gus, Haji, Raden, Ustadz, Kyai, Syaikh, Ajengan, Tuan Guru, Tengku, al-‘Âlim, al-‘Allâmah, al-Fâdhil, al-Faqîh, al-Hâfizh dan sebagainya.

Barangkali kita akan bertanya, “Apakah salah kalau kita mencantumkan gelar kesarjanaan yang kita peroleh dengan susah payah dan biaya berjuta-juta? Bertahun-tahun kita kuliah, salahkah bila kita senantiasa menulis gelar tersebut sebagai bukti bahwa kita telah berhasil menyelesaikan studi?”

Tidak ada yang salah dengan pencantuman gelar mengiringi nama syahdu kita. Namun, mari kita bersama-sama introspeksi diri, buat apakah pencantuman gelar tersebut?

Apakah kita mencantumkan gelar karena memang disyaratkan demikian, misalnya dalam struktur organisasi perguruan tinggi atau ketika menulis Curriculum Vitae?

Apakah kita mencantumkan gelar sebagai informasi bagi orang lain bahwa kita dapat mempertanggungjawabkan semua tulisan atau perkataan kita?

Ataukah kita mencantumkan gelar agar orang lain tahu bahwa kita pintar, canggih dan hebat? Agar orang lain mengerti bahwa status dan strata sosial kita begitu tinggi? Agar orang lain tidak menganggap kita remeh dan sekaligus harus menghormati kita?

Bukankah kita tak ‘kan pernah melupakan sabda Nabi Muhammad saw. yang begitu sering dituturkan?

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّـيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلٍّ امْرِىءٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya segala amal itu tergantung dari niatnya dan sesungguhnya seseorang akan mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang diniatkannya. (Muttafaq ‘alayh)

Tak usahlah kita menyibukkan diri mengamati orang lain. Mari kita cermati dan introspeksi diri kita sendiri.

KH. Muchit Murtadlo (Surabaya) dan KH. Masrihan (Mojokerto) pernah menasihatkan bahwa seorang kyai tidak boleh menggunakan ke-kyai-annya untuk kepentingan duniawi (pribadi). Misal, seorang kyai berkata kepada santrinya, “Tolong belikan nasi goreng, ya nak… Bilang saja Pak Kyai yang pesan, biar tidak perlu antri…”

Perintah tersebut tak elok didengar, apalagi dilaksanakan. Seorang kyai tak selayaknya menyuruh santri berbuat demikian, walaupun bagi sebagian orang hal ini termasuk kategori wajar dan lumrah. Kenapa? Karena kita seharusnya tidak memandang diri kita tinggi, apalagi minta diperlakukan lebih.

Sebuah kasus lain yang masih ada relevansi dengan inti permasalahan yang sedang dibahas (walaupun menyimpang dari judul) yaitu tentang pemakaian sarung, sebuah perlengkapan ibadah yang lazim digunakan oleh kaum muslim Indonesia dan sekitarnya.

Ada apa dengan sarung?

Biasanya, di sebuah sarung ada bagian yang agak berbeda—lebih gelap atau lebih terang daripada bagian lain—dengan tujuan agar diletakkan di bagian belakang tubuh. Di bagian bawahnya terdapat semacam kain stiker atau tulisan tanda merk. Sejak penulis sekolah, almarhum orang tua penulis mengajarkan agar meletakkan tanda merk sarung di atas (bagian yang dilipat), sehingga tidak terlihat oleh orang lain. Tujuannya untuk menghindari fitnah.

Jika ada orang melihat merk sarung kita, sedangkan orang itu memakai sarung yang lebih mahal, dikuatirkan akan timbul sifat meremehkan di sisi orang itu, dan rendah diri di sisi kita. Namun, jika yang melihat memakai sarung yang merknya berharga lebih murah, dikuatirkan akan menimbulkan iri hati pada yang memandang dan sifat sombong pada diri kita.

Alasan kedua yaitu agar tanda merk tersebut tidak terbaca orang yang sedang shalat di shaf belakang kita. Dengan demikian ketika menundukkan pandangannya ke arah sujud, ia tidak akan terganggu. Oleh karena itu, maka bagian bawah sarung dijadikan bagian atas, begitu pula sebaliknya. Nasihat tersebut penulis jalankan terus sampai sekarang.

Lucunya, ada sarung yang merknya bukanlah stiker atau kain dijahit, melainkan sebuah tulisan dan berada di sisi atas serta bawah sarung. Sungguh kreatif sekali. Dengan begitu, tidak bisa ditentukan mana bagian atas, dan mana bagian bawah. Akhirnya, penulis punya inisiatif sendiri, bagian belakang sarung diletakkan di depan dan dilipat sehingga tidak terlihat. Dengan demikian, yang tampak adalah bagian yang semuanya sama. Bukankah kreativitas harus ditandingi dengan kreativitas pula? :-)

Bersambung…!

MRP9000(tm) menyediakan sarana berupa sistem pengendali bagi kegiatan manufaktur, yang menggabungkan filosofi dari MRPII dan teknik penyelenggaraan operasional yang menjadi standar kendali mutu yang lazim dikenal dengan sebutan ISO 9000 itu.

Standar kendali atas kualitas tersebut akan membentuk sebuah sistem yang terintegrasi secara penuh, sebuah paket software manufaktur yang benar-benar lengkap, yang memungkinkan aktivitas bisnis menjadi cukup kompetitif guna bersaing secara internasional.

Paket MRP ini bekerja dengan Microsoft Access yang bekerja dalam platform Windows NT dan SQL server. MRP9000 menawarkan kemampuan olah yang benar-benar akrab bagi penggunanya, dalam lingkungan operasi client server pada format Windows yang sudah sangat populer saat ini, seraya menerapkan pula sarana bantu yang benar-benar sempurna yang akan menyediakan kesempatan bagi manufaktur untuk memasuki arena persaingan global yang semakin ketat dewasa ini.

MRP9000 dirancang berdasarkan software manufaktur yang sudah teruji keberhasilannya, PRO:MAN, yang sudah diterapkan pada ratusan pengguna manufaktur di seluruh dunia, untuk bisa memenuhi kegiatan bisnis yang terdiri dari aktivitas memproduksi-dan-menyimpan-sebagai-persediaan atau yang bisnisnya adalah memproduksi-berdasarkan-pesanan.

Sistem bakunya meliputi software untuk inventory control, penjualan dan pemasaran, pembelian, perencanaan produksi, MRP/CRP, pengendalian manufaktur, serta laporan keuangan yang lengkap. Sejumlah tambahan juga tersedia meliputi Multi-Location/Lot Tracking, Quoting/Estimating, Physical Inventory, Shop Floor Control, TeleData, Return Material Authorization, Engineering Change Order, dan TeleData. Semua modul tersebut bekerja secara integrated dan dioperasikan dalam modus online dan real-time.

Proven Cycle Design (Siklus desain yang teruji)

MRP9000 terdiri dari lima buah siklus yang lengkap dan integrated, yang terdiri dari Inventory, Sell, Plan, Make, dan Buy.

Semua siklus tersebut ditayangkan dalam bentuk grafis yang menggambarkan diagram alir, serta bekerja secara bebas satu sama lainnya, meski tetap terintegrasi secara penuh.

Informasi dimasukkan pada sebuah siklus akan bisa digunakan oleh siklus lain yang berkaitan, sehingga tidak menyebabkan terjadinya duplikasi masukan data.

Microsoft Access 97

MRP9000 ditulis dengan menggunakan Microsoft Access. Dengan catatan penjualan yang mencapai lebih dari 10-juta keping saat ini, maka boleh dibilang kalau Access adalah salah satu dari software database yang paling populer selama ini.
Berdasarkan catatan yang dikeluarkan oleh Microsoft, saat ini frekuensi penjualan Access terjadi tiap sembilan detik sekali dibagian manapun di dunia ini. Access akan terus-menerus dikembangkan dan diperbaiki, dan akan menjadi bendera utama paket database dari Microsoft.

Keadaan seperti itu merupakan sebuah petunjuk yang sangat penting mengenai betapa terjaminnya pengguna software MRP9000 in, mengingat Microsoft Access akan terus berkembang menjadi standar database yang mendunia. Versinya yang untuk SQL Server sudah pula diluncurkan, yang akan memberikan kemampuan untuk diterapkan di kelas bisnis tingkat yang mana pun, serta memiliki kemampuan handal yang menjadi kebutuhan organisasi bisnis besar pada umumnya.

Interconnectability (saling terkoneksi dengan yang lain)

Karena MRP9000 bekerja pada Microsoft Access maka hubungannya dengan aplikasi-aplikasi lain keluaran Microsoft seperti Excel, E-Mail, Project, Word, dan lain sebagainya, akan berlangsung secara mulus tanpa hambatan.
Dengan kemampuannya tersebut maka aplikasi MRP9000 semakin meluas pula kemampuannya sehingga sistem mampu menghasilkan informasi lebih banyak, meliputi grafis, jaringan, dan konektivitas perkantoran secara menyeluruh.

Microsoft Access juga memiliki seperangkat standar untuk melakukan hubungan dengan sistem database lain melalui ODBC (Open Data Base Connectivity), yang memungkinkan data-data yang berasal dari sistem database lain untuk saling termanfaatkan dengan program-program, pelaporan, dan grafik yang terdapat di MRP9000.

Mudah dioperasikan.

MRP9000 mudah diinstal dan sekaligus juga mudah pengoperasiannya. Hal ini dikarenakan panduan operasionalnya yang menggunakan tampilan grafis yang menerapkan format Windows sepenuhnya. Tak dibutuhkan waktu lama untuk mempelajarinya, khususnya bagi mereka yang masih baru mengenalnya, dibandingkan dengan aplikasi-aplikasi manufaktur yang lain. Ini disebabkan oleh penggunaan ilustrasi grafis yang sempurna untuk menggambarkan aliran dan urutan proses masing-masing manufaktur pemakai sistem ini, serta adanya fasilitas bantu, ‘help’, yang bisa langsung dipanggil untuk memberikan uraian yang jelas sebagai penjelasannya, dengan cara meng-klik-nya saja.

 

Adopted from : Intuitive Manufacturing System, Inc.

Oleh: A. Zaenal Mustopa, M.Si (Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Cibinong)

Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang banyak menimbulkan masalah di Indonesia. Penyakit yang lebih populer dengan nama muntah berak atau muntaber termasuk penyakit endemis di Indonesia, artinya terjadi secara terus menerus di semua daerah, baik pedesaan maupun perkotaan. Penyakit yang mewabah setiap tahun ini sepertinya merupakan penderitaan yang terus akan dialami. Sampai saat ini belum terlihat usaha konkrit dan sistematis dari pemerintah untuk menanggulangi wabah diare di negeri ini.

Diare adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme termasuk bakteri, virus dan parasit lainnya seperti jamur, cacing dan protozoa. Salah satu bakteri penyebab diare adalah bakteri Escherichia coli Enteropatogenik (EPEC). Budiarti (1997) melaporkan bahwa sekitar 55% anak-anak di Indonesia terkena diare akibat infeksi EPEC. Gejala klinis diare yang disebabkan infeksi EPEC adalah diare yang berair sangat banyak yang disertai muntah dan badan sedikit demam (Cary dan Bhatnager, 2000 mengacu pada Donnenberg, 2001). (lebih…)

Erliza Hambali, Erliza Noor, Zainal Alim Mas’ud, dan Chilwan Pandji

Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Lemak tengkawang mempunyai ciri mirip dengan lemak kakao, oleh karena itu lemak ini berpotensi sebagai cocoa butter substitute (CBS).  Potensi ini sangat menguntungkan secara ekonomis karena harga lemak tengkawang jauh lebih murah,  yaitu 20-25% dari harga lemak kakao.  Penggunaan lemak tengkawang merupakan alternatif yang baik dalam pembuatan kosmetik yang selama ini banyak menggunakan lemak kakao.  Penelitian ini bertujuan melihat pengunaan lemak tengkawang sebagai bahan dasar lipstik.  Melihat perkembangan produksi lipstik Indonesia yang cukup besar, diperkirakan sekitar 300 ribu sampai 400 ribu batang per tahun, diharapkan penelitian ini memberikan kontribusi dalam pemanfaatan hasil hutan Indonesia. 

Untuk memperoleh lemak, biji tengkawang dikeringkan. Hasil optimum didapatkan dengan pengeringan menggunakan oven tipe rak pada suhu 50-60°C selama 28 jam yang menghasilkan kadar air 8.5%. Selanjutnya biji kering ini diekstraksi. Dari tiga cara estraksi yang dicobakan, yakni cara pengempaan, perebusan, dan pelarutan, telah diperbaiki metode ekstraksi dengan cara pengempaan. Biji dikempa menggunakan mesin kempa panas pada suhu 50-60°C dan tekanan 140 kg.cm2 selama 4 menit. Bungkil sisa kempaan selanjutnya diekstraksi dengan pelarut heksana teknis selama 6 jam dan pengecilan ukuran 16 mesh. Ciri lemak tengkawang yang dihasilkan hampir sama dengan ciri lemak kakao. 

Untuk pembuatan bahan lispstik, dilakukan analisis fosfolipid dan degumming terhadap lemak. Berhubung kandungan fosfatidil kolina kurang dari 55%, metode degumming dilaksanakan dengan asam. Metode degumming terbaik ialah metode dengan asam sitrat 20% sebanyak 0.3% (b/b) dibandingkan yang menggunakan asam fosfat 20% dengan campuran yang sama. Campuran lemak dan asam dipanaskan pada suhu 80°C selama 10 menit, dicusi dengan air, didiamkan selama 20 menit, lalu gum dipisahkan dari lemak. 

Segmentasi pasar dikaji dengan mengumpulkan data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner kepada para konsumen lipstik dan melalui pengamatan. Segmentasi produk lipstik yang dihasilkan ialah untuk pelajar dan mahasiswa yang berusia 15-24 tahun dengan lipstik berbentuk batang, warna muda dan terang, serta menempel dengan baik. 

Formulasi dasar lipstik didahului dengan menentukan kemurnian bahan yang dipakai. Bahan-bahan yang dianalisis ialah malam (wax) kandelila, malam karnauba, malam ozokerit, minyak jarak, dan lemak tengkawang. Selanjutnya dicari nisbah malam karnauba dengan ozokerit, nisbah malam kandelila dengan malam ozokerit, dan menentukan suhu proses pembuatan dan suhu penuangan ke dalam cetakan. Dari campuran bahan tersebut telah dibuat tiga formula dasar lipstik. Penggunaan lemak tengkawang sampai 50% dalam formulasi dasar lipstik masih memungkinkan.

Tahapan penelitian berikutnya terbagi atas tiga bagian, yaitu netralisasi lemak tengkawang, pemucatan (bleaching) lemak tengkawang dan formulasi lipstik menggunakan lemak tengkawang dan pewarna alami. Netralisasi dilakukan dengan menggunakan larutan kaustik soda pada konsentrasi 5°, 8°, dan 10° Be pada suhu 70°C selama 10 menit. Netralisasi dengan 3 taraf konsentrasi larutan kaustik soda ini hanya memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap rendemen lemak netral yang dihasilkan, namun tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air, titik cair, bilangan asam, bilangan iodin, bilangan peroksida, dan kejernihan lemak netral yang dihasilkan. Berdasarkan hasil analisis terhadap semua parameter yang diukur, netralisasi lemak tengkawang dengan NaOH 10° Be merupakan perlakuan terbaik yang menghasilkan lemak netral dengan rendemen 89.45%, kadar asam lemak bebas 0.13% dan bilangan peroksida 4.17. 

Pemucatan lemak tengkawang dilakukan dengan menggunakan 2 jenis lempung aktif, yaitu bentonit dan sepiolit, masing-masing pada konsentrasi 1, 1.5, dan 2%. Proses ini dilakukan dalam kondisi vakum pada suhu 120°C selama 30 menit. Perlakuan yang paling efektif dan efisien untuk menghasilkan lemak tengkawang pucat ialah dengan menggunakan bentonit 2% dengan nilai transmitan sebesar 87.3%, bilangan asam 1.44 (asam lemak bebas = 0.75%). 

Penggunaan lemak tengkawang dalam formula lipstik pada tahap penelitian ini dikombinasikan dengan penggunaan pigmen yang dihasilkan dari Porphyridum cruentum sebagai pewarna alami. Dalam formulasi lipstik menggunakan pigmen alami ini ditambahkan lemak tengkawang sejumlah 3, 4, dan 5% (b/b) dan pigmen dalam jumlah 6, 7, dan 8% (b/b). Penambahan lemak tengkawang pada formula lipstik berpengaruh nyata terhadap kekerasan lipstik dan berpengaruh sangat nyata terhadap titik leleh lipstik. Sebaliknya pigmen hanya berpengaruh sangat nyata terhadap titik leleh lipstik. Namun interaksi antara kedua perlakuan ini tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kedua ciri lipstik tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa formulasi lipstik yang paling baik ialah yang menggunakan lemak tengkawang sebanyak 3% (b/b) dengan penambahan pigmen alami dari P. cruentum sebanyak 8% (b/b).

 

Adopted from : Hibah Bersaing V

 

 Asep Wahyu Nugraha 1

 

1Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Medan, Jl. Willem Iskandar Psr. V Medan, Sumatera Utara

 

ABSTRACT

Kegiatan Praktikum di Perguruan Tinggi bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia dapat dijadikan bekal dalam rangka pelaksanaan kegiatan praktikum di SMA. Kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa calon guru adalah memilih materi praktikum, kemampuan menyusun penuntun berdasarkan fasilitas yang ada di sekolah, membuat persiapan praktikum, membimbing pelaksanaan praktikum, serta mengelola laboratorium kimia.

Dalam upaya peningkatan kompetensi mahasiswa maka upaya penyempurnaan pelaksanaan kegiatan praktikum kimia  merupakan salah satu upaya yang harus dilakukan. Selama ini kegiatan praktikum secara umum dan kegiatan Praktikum Kimia Fisika secara khusus dilaksanakan kurang mengoptimalkan keterampilan proses IPA. Dalam kegiatan ini ditawarkan suatu model praktikum yang berusaha mengoptimalkan keterampilan proses IPA melalui kegiatan praktikum semi riset. Kegiatan ini telah dilaksanakan mulai 25 Agustus 2006 sampai dengan 29 November 2006 di Laboratorium Kimia Fisika FMIPA UNIMED.

Hasil dari kegiatan ini adalah:

1.  Model Praktikum Kimia Fisika 2 menggunakan model praktikum semi riset meliputi 7 (tujuh) langkah kegiatan yaitu: penjelasan singkat untuk seluruh percobaan, Pemberian tes pra praktikum, membuat laporan sementara, membuat laporan lengkap, menyusun penuntun praktikum kimia SMA, mengkomunikasikan Penuntun Praktikum, mengadakan uji coba penuntun praktikum yang telah disusun.

2.  Hasil yang diperoleh dalam penerapan model praktikum semi riset adalah sebagai berikut:

a.  Rata-rata  daya  serap  mahasiswa  terhadap  materi  praktikum  sebesar 74, 77%  sedangkan base line 59%.

b.  Jumlah penuntun praktikum Kimia SMA yang dihasilkan dalam kegiatan pembelajaran sebesar 4 judul.

c.  Jumlah penuntun praktikum Kimia SMA yang diuji-cobakan dalam kegiatan pembelajaran sebesar 4 judul.

 

Kata kunci:      praktikum Kimia, semi riset, pendekatan keterampilan proses IPA

 

  

PENDAHULUAN

Kegiatan laboratorium merupakan kegiatan yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) khususnya Ilmu Kimia. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan bidang yang mengkaji fakta-fakta empiris yang ada di alam, sehingga untuk mempelajarinya harus melalui pengkajian di laboratorium yang didisain sebagai miniatur alam. Selain kegiatan laboratorium yang merupakan sarana untuk mengembangkan dan menerapkan keterampilan proses IPA, membangkitkan minat belajar dan memberikan bukti-bukti bagi kebenaran teori atau konsep-konsep yang telah dipelajari mahasiswa sehingga teori atau konsep-konsep tersebut menjadi lebih bermakna pada struktur kognitif mahasiswa.

Matakuliah-matakuliah Kimia Fisika merupakan salah satu kelompok matakuliah di Jurusan Kimia, dimana para dosennya tergabung dalam Kelompok Dosen Bidang Kajian Kimia Fisika. Matakuliah-matakuliah Kimia Fisika sering disebut juga dengan Kimia Teori karena berisi konsep-konsep dasar dalam ilmu kimia. Secara garis besar materi Kimia Fisika meliputi: Gas, Termodinamika, Kinetika Kimia, Kesetimbangan Kimia, Larutan, Konsep Daya Hantar, Elektrokimia, Kimia Kuantum, Ikatan Kimia, dan Radiokimia. Disamping matakuliah-matakuliah teori, matakuliah Kimia Fisika juga disertai dengan matakuliah praktikum. Pada saat ini di Program Studi Pendidikan Kimia Praktikum Kimia Fisika dibagi menjadi dua matakuliah dengan bobot 1 SKS, yaitu matakuliah Praktikum Kimia Fisika 1 dan matakuliah Praktikum Kimia Fisika 2. Matakuliah yang dikaji dalam kegiatan ini adalah matakuliah Praktikum Kimia Fisika 2, yang meliputi materi-materi Kinetika Reaksi, Larutan, Konsep Daya Hantar, dan Elektrokimia. Secara hierarki matakuliah Praktikum Kimia Fisika 2 ini merupakan kelanjutan dari matakuliah Praktikum Kimia Fisika 1.

Kedudukan matakuliah Praktikum Kimia Fisika 2 merupakan kelompok matakuliah  Bidang Studi yang akan memberikan bekal kepada mahasiswa calon guru dalam hal penguasaan materi kimia. Penguasaan materi Praktikum Kimia Fisika 2 merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh mahasiswa calon guru kimia. Pada kurikulum Berbasis Kompetensi Program Studi Pendidikan Kimia, matakuliah Praktikum Kimia Fisika 2 diberikan pada semester V yang merupakan kelanjutan dari matakuliah Praktikum Kimia Fisika 1. Matakuliah-matakuliah yang mendukung matakuliah Praktikum Kimia Fisika 2 adalah Praktikum Kimia Fisika 1, Praktikum Kimia Dasar 1 dan 2, Praktikum Fisika Dasar 1 dan 2, matakuliah Kimia Dasar 1 dan 2, serta matakuliah Kimia Fisika 1 dan 2.

Sejalan dengan hal tersebut, kegiatan laboratorium dalam hal ini praktikum Kimia Fisika 2 diharapkan dapat berfungsi disamping sebagai pendukung untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap konsep-konsep Kimia Fisika, juga dapat meningkatkan penguasaan keterampilan proses IPA sehingga dapat menjadi bekal bagi mahasiswa pada saat pelaksanaan kegiatan laboratorium untuk kepentingan penelitian. Lebih jauh lagi penguasaan keterampilan proses IPA oleh mahasiswa LPTK diharapkan dapat menjadi bekal bagi mereka untuk melaksanakan kegiatan demontrasi/ eksperimen di sekolah. Seperti diketahui bahwa metode demonstrasi/ eksperimen merupakan salah satu metode yang memegang peranan penting dalam proses pengajaran ilmu kimia di SMU. Apalagi dalam kurikulum SMA yang berbasis kompetensi kegiatan praktikum Kimia merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh siswa. Sehingga pelaksanaan kegiatan praktikum di SMU merupakan suatu keharusan.

Setelah terjun langsung dalam pelaksanaan praktikum Kimia Fisika baik Praktikum Kimia Fisika 1 maupun Praktikum Kimia Fisika 2 selama kurang lebih 10 tahun (1993-1996 dan 2000-2006) dan pengawasan pelaksanaan kegiatan laboratorium mehasiswa yang sedang melakukan penelitian untuk menyelesaikan tugas akhir, kami menemukan bahwa kebanyakan mahasiswa melakukan praktikum tanpa persiapan yang matang baik persiapan berupa pengetahuan teori atau konsep-konsep yang berkaitan dengan praktikum yang akan dilakukannya maupun persiapan penguasaan keterampilan proses IPA dalam pelaksanaan praktikum. Banyak mahasiswa yang melaksanakan kegiatan praktikum hanya mengikuti prosedur saja yang terdapat pada Penuntun Praktikum tanpa mengetahui maksud dan tujuan prosedur tersebut. Kegiatan praktikum yang dilaksanakan hanyalah melaksanakan prosedur kerja yang telah disusun dosen pembimbing praktikum yang terdapat dalam Buku Penuntun Praktikum.

Kegiatan Praktikum di Perguruan Tinggi bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia dapat dijadikan bekal dalam rangka pelaksanaan kegiatan praktikum di SMA. Kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa calon guru adalah memilih materi praktikum, kemampuan menyusun penuntun berdasarkan fasilitas yang ada di sekolah, membuat persiapan praktikum, membimbing pelaksanaan praktikum, serta mengelola laboratorium kimia.

Ilmu Kimia merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam (IPA) yang secara garis besar mencakup dua bagian, yakni kimia sebagai proses dan kimia sebagai produk. Kimia sebagai produk meliputi sekumpulan pengetahuan yang terdiri atas fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip ilmu kimia. Sedangkan kimia sebagai proses meliputi keterampilan-keterampilan dan sikap yang dimiliki oleh para ilmuwan untuk memperoleh dan mengembangkan produk kimia. Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan Keterampilan Proses IPA, sedangkan sikap-sikap yang dimiliki oleh para ilmuwan dikenal sebagai sikap ilmiah.

Ratna Wilis Dahar (1986) mengemukakan bahwa keterampilan proses IPA meliputi keterampilan-keterampilan: mengamati, menafsirkan pengamatan, meramalkan, menggunakan alat dan bahan, menerapkan konsep, merencanakan penelitian, dan berkomunikasi. Secara operasional masing-masing keterampilan proses IPA tersebut dapat dirinci sebagai berikut:

 

Mengamati, meliputi keterampilan:

·     Menggunakan indera dalam mengamati fakta-fakta yang relevan dan memadai.

·     Mencari kesamaan dan perbedaan.

·     Menafsirkan pengamatan, meliputi keterampilan:

a. Mencatat hasil pengamatan secara terpisah

b. Menghubungkan hasil pengamatan

c. Menemukan suatu pola dalam satu seri pengamatan

d. Menarik kesimpulan.

Meramalkan, meliputi keterampilan:

·     Mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang belum diamati berdasarkan hasil pengamatan yang sudah ada.

·     Menggunakan alat dan bahan, meliputi keterampilan:

a. Menggunakan alat-alat laboratorium dalam suatu percobaan.

b. Menggunakan bahan-bahan dalam satu percobaan.

 

Menerapkan konsep, meliputi keterampilan:

·     Menggunakan konsep pada pengalaman baru untuk menjelaskan peristiwa yang sedang terjadi.

·     Menyusun hipotesis.

 

Merencanakan percobaan, meliputi keterampilan:

a. Menentukan alat, bahan, dan sumber yang akan dipergunakan dalam satu percobaan.

b. Menentukan apa yang akan diamati, diukur, dan ditulis.

c. Menentukan cara dan langkah-langkah kerja yang akan dilakukan dalam suatu percobaan.

 

Berkomunikasi, meliputi keterampilan:

·     Menyusun dan menyampaikan laporan secara sistematis.

·     Mendiskusikan hasil percobaan

·     Menggambarkan data dengan grafik, tabel, atau diagram.

 

Dalam upaya peningkatan kompetensi mahasiswa maka upaya penyempurnaan pelaksanaan kegiatan Praktikum Kimia Fisika 2 merupakan salah satu upaya yang harus dilakukan. Selama kegiatan praktikum secara umum dan kegiatan Praktikum Kimia Fisika secara khusus dilaksanakan kurang mengoptimalkan keterampilan proses IPA. Kegiatan praktikum yang umumnya dilaksanakan hanya sekedar melaksanakan prosedur yang telah tertulis dalam penuntun praktikum meskipun setiap percobaan selalu disertai dengan kegiatan pelaporan. Dalam kegiatan ini ditawarkan suatu model praktikum yang berusaha mengoptimalkan keterampilan proses IPA dengan berbagai kegiatan sebagai berikut:

1.   Penjelasan singkat tentang dasar teori, cara kerja, pengolahan data, dan pengembangan prosedur.

2.   Pelaksanaan kegiatan praktikum yang meliputi: pengembangan keterampilan dasar laboratorium, pelaksanaan prosedur, pengamatan hasil percobaan, dan pembuatan laporan sementara.

3.   Penyusunan Laporan Praktikum yang meliputi pengembangan kemampuan mengolah data hasil pengamatan dan mengkomunikasikannya dalam bentuk laporan praktikum.

4.   Penyusunan Penuntun Praktikum Kimia SMA dengan materi yang telah ditentukan dengan dasar teori seperti telah dilakukan dalam kegiatan praktikum. Kegiatan ini merupakan kegiatan pengembangan konsep yang telah dimiliki untuk diaplikasikan dalam berbagai kondisi.

5.   Diskusi tentang hasil penuntun praktikum kimia SMA yang telah disusun. Dalam kegiatan ini dikembangkan kemampuan untuk menyajikan hasil pemikiran dan mempertahankan argumentasi dalam penyusunan penuntun praktikum tersebut. Hasil dari kegiatan ini diharapkan penuntun praktikum betul-betul valid secara konsep maupun dapat dilaksanakan di laboratorium.

6.   Uji coba penuntun praktikum kimia SMA. Penuntun praktikum yang telah disusun dan direvisi diuji coba di laboratorium untuk membuktikan bahwa penuntun praktikum tersebut betul-betul dapat dilaksanakan.

 

Berdasar uraian diatas dapat dikemukakan permasalahan sebagai berikut:

1.   Kemampuan alumni Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA UNIMED dalam hal penyusunan penuntun praktikum di SMA masih rendah.

2.   Kemampuan alumni Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA UNIMED dalam hal modifikasi penuntun praktikum di SMA masih rendah.

3.   Kegiatan praktikum kimia fisika yang dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA UNIMED belum mengembangkan keterampilan proses IPA.

Tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah Praktikum Kimia Fisika 2 sehingga dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap materi praktikum dan dapat mengembangkannya. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah untuk :

1. Membuat model pembelajaran Praktikum Kimia Fisika 2 dengan menerapkan pendekatan keterampilan proses IPA melalui kegiatan praktikum semi riset.

2. Meningkatkan daya serap mahasiswa pada Praktikum Kimia Fisika 2 dengan menerapkan pendekatan keterampilan proses IPA melalui kegiatan praktikum semi riset.

3. Menentukan permasalahan yang muncul dalam Praktikum Kimia Fisika 2 dengan menerapkan pendekatan keterampilan proses IPA melalui kegiatan praktikum semi riset.

4. Menentukan daya serap mahasiswa terhadap Praktikum Kimia Fisika 2 dengan menerapkan pendekatan keterampilan proses IPA melalui kegiatan praktikum semi riset.

Secara umum dengan adanya pendekatan keterampilan proses IPA melalui kegiatan praktikum semi riset akan memberikan nilai lebih pada proses pembelajaran di laboratorium. Secara khusus kontribusi dari penelitian ini  adalah untuk

• Pengajar ( Dosen):

1.   Proses pembelajaran yang disajikan menjadi lebih terarah karena dituntun oleh model pembelajaran yang telah teratur.

2.   Adanya model pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa pada materi Praktikum Kimia Fisika 2.

• Mahasiswa

1. Pada mahasiswa terjadi perubahan sikap, yakni mahasiswa yang mengikuti kegiatan praktikum terpadu diharapkan setiap kali akan praktikum mempersiapkan diri sebaik mungkin sehingga pada saat melakukan praktikum, mahasiswa tersebut dapat menerapkan poin-poin keterampilan proses IPA yang harus dilakukannya.

2. Dapat diketahui kesulitan-keslitan yang dihadapi mahasiswa dalam menerapkan dan mengembangkan keterampilan proses IPA pada saat melakukan praktikum.

3. Dapat diketahui hubungan atau peranan kesiapan mahasiswa sebelum melaksanakan praktikum dengan kemampuan mahasiswa menerapkan dan meningkatkan keterampilan proses IPA pada saat mahasiswa melakukan praktikum.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan Kimia FMIPA UNIMED mulai tanggal 25 Agustus 2006 sampai dengan 29 November 2006. Mahasiswa yang terlibat dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan Kimia FMIPA UNIMED 2004/ 2005 kelas A.

Dalam pelaksanaan kegiatan ini dibutuhkan sumberdaya dosen 3 orang yang dibantu oleh satu orang laboran dan 2 orang asisten mahasiswa. Secara rinci pemakaian sumberdaya dikemukakan dalam tabel 1.Populasi penelitian ini adalah semua guru-guru kimia SMU Kotamadya Medan. Sampel diambil 40 orang dengan tehnik random.

 

Tabel 1. Jenis Aktivitas dan Sumber Daya yang dibutuhkan

No

Aktivitas

Jenis Sumber Daya yang dibutuhkan

1.

Penjelasan singkat tentang:

- Dasar teori

- Cara kerja

- Pengolahan data

- Pengembangan prosedur

Dosen

2.

Pelaksanaan kegiatan praktikum yang meliputi:

- Pengembangan keterampilan  dasar laboratorium

- Pelaksanaan prosedur

- Pengamatan hasil percobaan

 -  Pembuatan laporan sementara

Dosen

Asisten Mahasiswa

Laboran

Alat-alat laboratorium sesuai dengan penuntun praktikum

Bahan-bahan sesuai dengan penuntun praktikum

 

3.

Penyusunan Laporan Praktikum yang meliputi pengembangan kemampuan mengolah data hasil pengamatan dan mengkomunikasikannya dalam bentuk laporan praktikum

Text Book (Buku Sumber)

Jurnal

4.

Penyusunan Penuntun Praktikum Kimia SMA dengan materi yang telah ditentukan dengan dasar teori seperti telah dilakukan dalam kegiatan praktikum.

Buku Praktikum Kimia SMA

Buku Praktikum Kimia Sederhana

Jurnal

 

5.

Diskusi tentang hasil penuntun praktikum kimia SMA yang telah disusun.

Dosen

Asisten Laboratorium

 

6.

Uji coba penuntun praktikum kimia SMA.

Dosen

Asisten Laboratorium

Laboran

Alat-alat laboratorium sesuai dengan penuntun praktikum yang disusun

Bahan-bahan sesuai dengan penuntun praktikum yang disusun

 

 


 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Untuk menentukan tingkat pencapaian dari kegiatan ini perlu dikemukakan tentang indikator kinerja yang disajikan dalam tabel 2.

 

Tabel 2. Hasil yang dicapai berdasarkan Indikator Kinerja

 

No

Indikator Kinerja

Base Line

Hasil yang Dicapai

1.

Rata-rata daya serap materi Praktikum Kimia Fisika 2

59 %

74.77 %

2.

Jumlah penuntun praktikum Kimia SMA yang dihasilkan dalam kegiatan pembelajaran

Belum ada

4 judul

3

Jumlah penuntun praktikum Kimia SMA yang diuji-cobakan dalam kegiatan pembelajaran

Belum ada

4 judul

Kegiatan praktikum merupakan salah satu upaya untuk menerapkan keterampilan proses, tetapi bila tidak dioptimalkan kegiatan praktikum kurang memberikan manfaat kepada para mahasiswa. Dari hasil pengamatan ditemukan banyak mahasiswa tidak memahami tujuan percobaan yang dilakukan dan sangat jauh untuk memahami konsep yang terdapat pada materi praktikum tersebut. Oleh karena itu diperlukan optimalisasi kegiatan praktikum di laboratorium sehingga para mahasiswa memperoleh manfaat yang banyak  dari kegiatan praktikum tersebut. Dari hasil penelitian Esson (2005) diperoleh bahwa kegiatan praktikum dapat meningkatkan pemahaman materi kimia, kemampuan menyelesaikan masalah, dan meningkatkan kemampuan menulis dan berkomunikasi.

Hasil yang diperoleh dalam kegiatan ini adalah model Praktikum Kimia Fisika 2 dengan pendekatan semi riset, dalam model ini ada beberapa aktivitas yang dilakukan secara rinci adalah sebagai berikut:

a.       Kegiatan praktikum yang disertai dengan kegiatan-kegiatan: penjelasan singkat untuk seluruh percobaan tentang tujuan, cara kerja, dan pengolahan data pada awal kegiatan praktikum.

b.       Pemberian tes pra praktikum bagi setiap mahasiswa yang akan melaksanakan kegiatan praktikum.

c.       Membuat laporan sementara untuk melihat kemampuan mengorganisasikan data hasil pengamatan.

d.       Membuat laporan lengkap dengan pengolahan data, pembahasan , dan disertai dengan kajian teoritis.

e.       Menyusun penuntun praktikum kimia SMA sesuai dengan materi yang diberikan dengan melihat berbagai sumber bacaan.

f.        Mengkomunikasikan Penuntun Praktikum untuk mendapakan masukan dari dosen dan mahasiswa.

g.       Mengadakan uji coba penuntun praktikum yang telah disusun.

 

Untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut tidak terlalu mudah karena menyangkut beban tugas yang dimiliki mahasiswa sehingga secara teknis diperlukan pertimbangan-pertimbangan waktu, beban mahasiswa, dan faktor lain sehingga kegiatan praktikum semi riset ini dapat dilaksanakan dengan baik.

 

PENUTUP

Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam kegiatan ini dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1.       Model Praktikum Kimia Fisika 2 menggunakan pendekatan semi riset meliputi 7 (tujuh) langkah kegiatan yaitu: penjelasan singkat untuk seluruh percobaan, Pemberian tes pra praktikum, membuat laporan sementara, membuat laporan lengkap, menyusun penuntun praktikum kimia SMA, mengkomunikasikan Penuntun Praktikum, mengadakan uji coba penuntun praktikum yang telah disusun.

2.       Hasil yang diperoleh dalam penerapan model praktikum semi riset adalah sebagai berikut:

a.  Rata-rata daya serap mahasiswa terhadap materi praktikum sebesar 74,77%   sedangkan base line 59%.

b.  Jumlah penuntun praktikum Kimia SMA yang dihasilkan dalam kegiatan pembelajaran sebesar 4 judul.

Jumlah penuntun praktikum Kimia SMA yang diuji-cobakan dalam kegiatan pembelajaran sebesar 4 judul.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abimanyu, Soli, 1998, Penyusunan Proposal Penelitian Tindakan Kelas, Makalah dalam PCP PTK Proyek PGSM

Castellan, G W.,1983, Physical Chemistry , edisi ketiga , Addison-Wesley          Publishing Co. Inc., Massachusetts.

Cony Semiawan, 1987, Pendidikan Keterampilan Proses. Gramedia, Jakarta.

Daniels, F, dkk, 1956, Experimental Physical Chemistry , 5th edition, Mc Graw-

      Hill, New York.

Deters, Kelly Morgan, 2005, Student Opinion Regarding Inquiry-Based Labs, J. Chemical Education, Vol  82, No. 8 , 1178 – 1180.

Esson, Joan M, etc, 2005, Service Learning, in Introductory Chemistry: Supplementing Chemistry Curriculum in Elementary Schools, J. Chemical Education, Vol  82, No. 8, 1168 – 1173

Harry Firman, 1990. Penilaian Hasil Belajar Dalam Pengajaran Kimia, Jurusan Pendidikan Kimia FP MIPA IKIP Bandung, Bandung.

Nugraha, A W, 2003, Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses IPA pada Praktikum Kimia Fisika 2 di Jurusan Kimia FMIPA UNIMED melalui kegiatan Praktikum Terpadu, Laporan Hasil Penelitian, FMIPA UNIMED, Medan.

———-, 2005, Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses IPA pada Praktikum Kimia Fisika 2 di Jurusan Kimia FMIPA UNIMED melalui kegiatan Praktikum Terpadu,Jurnal Penelitian Bidang Pendidikan,Vol 11,2,107 – 112

Shoemaker D P., dkk., 1989. Experiment in Physical Chemistry, 5th edition, Mc

          Graw-Hill, New York.

Tim Pelatihan Proyek PGSM, 1999, Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), Bahan Pelatihan Dosen dan Guru Sekolah Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Dikti  Proyek PGSM.

Tobing, R, 1992, Pengelolaan Laboratorium, Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA  IKIP Medan, Medan

 

oleh Ahmad Kurnia

Pengertian Motivasi

Salah satu aspek memanfaatkan pegawai ialah pemberian motivasi (daya perangsang) kepada pegawai, dengan istilah populer sekarang pemberian kegairahan bekerja kepada pegawai. Telah dibatasi bahwa memanfaatkan pegawai yang memberi manfaat kepada perusahaan. Ini juga berarti bahwa setiap pegawai yang memberi kemungkinan bermanfaat ke dalam perusahaan, diusahakan oleh pimimpin agar kemungkinan itu menjadi kenyataan. Usaha untuk merealisasi kemungkinan tersebut ialah dengan jalan memberikan motivasi. Motivasi ini dimaksudkan untuk memberikan daya perangsang kepada pegawai yang bersangkutan agar pegawai tersebut bekerja dengan segala daya dan upayanya (Manulang , 2002).

Menurut The Liang Gie Cs. (dalam Matutina dkk ,1993) bahwa pekerjaan yang dialakukan oleh seseorang manajer dalam memberikan inspirasi, semangat, dan dorongan kepada orang lain (pegawai) untuk mengambil tindakan-tindakan. Pemberian dorongan ini dimaksudkan untuk mengingatkan orang-orang atau pegawai agar mereka bersemangat dan dapat mencapai hasil sebagaimana dikehendaki dari orang tersebut. Oleh karena itu seorang manajer dituntut pengenalan atau pemahaman akan sifat dan karateristik pegawainya, suatu kebutuhan yang dilandasi oleh motiv dengan penguasaan manajer terhadap perilaku dan tindakan yang dibatasi oleh motiv, maka manajer dapat mempengaruhi bawahannya untuk bertindak sesuai dengan keinginan organisasi.

Menurut Martoyo (2000) motivasi pada dasarnya adalah proses untuk mencoba mempengaruhi seseorang agar melakukan yang kita inginkan. Dengan kata lain adalah dorongan dari luar terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu. Dengan dorongan (driving force) disini dimaksudkan desakan yang alami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup, dan kecendrungan untuk mempertahankan hidup. Kunci yang terpenting untuk itu tak lain adalah pengertian yang mendalam tentang manusia.

Motivasi berasal dari motive atau dengan prakata bahasa latinnya, yaitu movere, yang berarti “mengerahkan”. Seperti yang dikatakan Liang Gie dalam bukunya Martoyo (2000) motive atau dorongan adalah suatu dorongan yang menjadi pangkal seseorang melakukan sesuatu atau bekerja. Seseorang yang sangat termotivasi, yaitu orang yang melaksanakan upaya substansial, guna menunjang tujuan-tujuan produksi kesatuan kerjanya, dan organisasi dimana ia bekerja. Seseorang yang tidak termotivasi, hanya memberikan upaya minimum dalam hal bekerja. Konsep motivasi, merupakan sebuah konsep penting studi tentang kinerja individual. Dengan demikian motivasi atau motivation berarti pemberian motiv, penimbulan motiv atau hal yang menimbulkan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan. Dapat juga dikatakan bahwa motivation adalah faktor yang mendorong orang untuk bertindak dengan cara tertentu (Martoyo , 2000).

Manusia dalam aktivitas kebiasaannya memiliki semangat untuk mengerjakan sesuatu asalkan dapat menghasilkan sesuatu yang dianggap oleh dirinya memiliki suatu nilai yang sangat berharga, yang tujuannya jelas pasti untuk melangsungkan kehidupannya, rasa tentram, rasa aman dan sebagainya.
Menurut Martoyo (2000) motivasi kinerja adalah sesuatu yang menimbulkan dorongan atau semangat kerja.

Menurut Gitosudarmo dan Mulyono (1999) motivasi adalah suatu faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu perbuatan atau kegiatan tertentu, oleh karena itu motivasi sering kali diartikan pula sebagai faktor pendorong perilaku seseorang. Setiap tindakan yang dilakukan oleh seorang manusia pasti memiliki sesuatu faktor yang mendorong perbuatan tersebut. Motivasi atau dorongan untuk bekerja ini sangat penting bagi tinggi rendahnya produktivitas perusahaan. Tanpa adanya motivasi dari para karyawan atau pekerja untuk bekerja sama bagi kepentingan perusahaan maka tujuan yang telah ditetapkan tidak akan tercapai. Sebaliknya apabila terdapat motivasi yang besar dari para karyawan maka hal tersebut merupakan suatu jaminan atas keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuannya.

Motivasi atau dorongan kepada karyawan untuk bersedia bekerja bersama demi tercapainya tujuan bersama ini terdapat dua macam, yaitu:

a.      Motivasi finansial, yaitu dorongan yang dilakukan dengan memberikan imbalan finansial kepada karyawan. Imbalan tersebut sering disebut insentif.

b.      Motivasi nonfinansial, yaitu dorongan yang diwujudkan tidak dalam bentuk finansial/ uang, akan tetapi berupa hal-hal seperti pujian, penghargaan, pendekatan manusia dan lain sebagainya (Gitosudarmo dan Mulyono , 1999).

Menurut George R. dan Leslie W. (dalam bukunya Matutina. dkk , 1993) mengatakan bahwa motivasi adalah “……getting a person to exert a high degree of effort ….” yang artinya motivasi membuat seseorang bekerja lebih berprestasi.
Menurut Ravianto (1986) dalam bukunya ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi motivasi kinerja, yaitu atasan, rekan, sarana fisik, kebijaksanaan dan peraturan, imbalan jasa uang, jenis pekerjaan.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa motivasi pada dasarnya adalah kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan (action atau activities) dan memberikan kekuatan yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan, memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidak seimbangan. Ada definisi yang menyatakan bahwa motivasi berhubungan dengan :

1.      Pengaruh perilaku.

2.      Kekuatan reaksi (maksudnya upaya kerja), setelah seseorang karyawan telah memutuskan arah tindakan-tindakan.

3.      Persistensi perilaku, atau berapa lama orang yang bersangkutan melanjutkan pelaksanaan perilaku dengan cara tertentu. (Campell , 1970).

Teori motivasi dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu teori kepuasan (content theory) dan teori proses (process theory). Teori ini dikenal dengan nama konsep Higiene, yang mana cakupannya adalah:

1.      Isi Pekerjaan.

Hal ini berkaitan langsung dengan sifat-sifat dari suatu pekerjaan yang dimiliki oleh tenaga kerja yang isinya meliputi : Prestasi, upaya dari pekerjaan atau karyawan sebagai aset jangka panjang dalam menghasilkan sesuatu yang positif di dalam pekerjaannya, pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, pengembangan potensi individu.

2.      Faktor Higienis.

Suatu motivasi yang dapat diwujudkan seperti halnya : gaji dan upah, kondisi kerja, kebijakan dan administrasi perusahaan, hubungan antara pribadi, kualitas supervisi.

Pada teori tersebut bahwa perencanaan pekerjaan bagi karyawan haruslah menunjukkan keseimbangan antara dua faktor.

1. Teori Motivasi Kepuasan.

Teori yang didasarkan pada kebutuhan insan dan kepuasannya. Maka dapat dicari faktor-faktor pendorong dan penghambatnya. Pada teori kepuasan ini didukung juga oleh para pakar seperti Taylor yang mana teorinya dikenal sebagai Teori Motivasi Klasik. Teori secara garis besar berbicara bahwa motivasi kerja hanya dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan kerja baik secara biologis maupun psikologis. Yaitu bagaimana mempertahankan hidupnya. Selain itu juga Teori Hirarki Kebutuhan (Need Hirarchi) dari Abraham Maslow yang menyatakan bahwa motivasi kerja ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan kerja baik secara biologis maupun psikologis, baik yang berupa materi maupun non-materi. Secara garis besar tersebut teori jenjang kebutuhan dari Maslow dari yang rendah ke yang paling tinggi yang menyatakan bahwa manusia tidak pernah merasa puas, karena kepuasannya bersifat sangat relatif maka disusunlah hirarki kebutuhan seperti hasrat menyususn dari yang teruraikan sebagai berikut:

1.      Kebutuhan pokok manusia sehari-hari misalnya kebutuhan untuk makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan fisik lainnya (physical need). Kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat terendah, apabila sudah terpenuhi maka diikuti oleh hirarki kebutuhan yang lainnya.

2.      Kebutuhan untuk memperoleh keselamatan, keselamatan, keamanan, jaminan atau perlindungan dari yang membayangkan kelangsungan hidup dan kehidupan dengan segala aspeknya (safety need).

3.      Kebutuhan untuk disukai dan menyukai, disenangi dan menyenangi, dicintai dan mencintai, kebutuhan untuk bergaul, berkelompok, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, menjadi anggota kelompok pergaulan yang lebih besar (esteem needs).

4.      Kebutuhan untuk memperoleh kebanggaan, keagungan, kekaguman, dan kemasyuran sebagai seorang yang mampu dan berhasil mewujudkan potensi bakatnya dengan hasil prestasi yang luar biasa (the need for self actualization). Kebutuhan tersebut sering terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari melalui bentuk sikap dan prilaku bagaimana menjalankan aktivitas kehidupannya (Zainun , 1997).

5.      Kebutuhan untuk memperoleh kehormatan, pujian, penghargaan, dan pengakuan (esteem need).

2. Teori Motivasi Proses.

Teori ini berusaha agar setiap pekerja giat sesuai dengan harapan organisasi perusahaan. Daya penggeraknya adalah harapan akan diperoleh si pekerja. Dalam hal ini teori motivasi proses yang dikenal seperti :

a.      Teori Harapan (Expectancy Theory), komponennya adalah: Harapan, Nilai (Value), dan Pertautan (Instrumentality).

b.      Teori Keadilan (Equity Theory), hal ini didasarkan tindakan keadilan diseluruh lapisan serta obyektif di dalam lingkungan perusahaannya.

c.      Teori Pengukuhan (Reinfocement Theory), hal ini didasarkan pada hubungan sebab-akibat dari pelaku dengan pemberian kompensasi.

3. Teori Motivasi Prestasi (Achievement Motivation) dari McClelland

Teori ini menyatakan bahwa seorang pekerja memiliki enerji potensial yang dapat dimanfaatkan tergantung pada dorongan motivasi, situasi, dan peluang yang ada. Kebutuhan pekerja yang dapat memotivasi gairah kerja adalah :

1.      Kebutuhan akan prestasi dorongan untuk mengungguli, berprestasi sehubungan dengan seperangkat standar, bergulat untuk sukses.

2.      Kebutuhan akan kekuasaan : kebutuhan untuk membuat orang berprilaku dalam suatu cara yang orang-orang itu (tanpa dipaksa) tidak akan berprilaku demikian.

3.      Kebutuhan akan afiliasi : hasrat untuk hubungan antar pribadi yang ramah dan karib (Robbins , 1996).

4.Teori X dan Y dari Mc. Gregor.

Teori ini didasarkan pada asumsi-asumsi bahwa manusia secara jelas dan tegas dapat dibedakan atas manusia penganut teori X dan mana yang menganut teori Y. Pada asumsi teori X menandai kondisi dengan hal-hal seperti karyawan rata-rata malas bekerja, karyawan tidak berambisi untuk mencapai prestasi yang optimal dan selalu menghindar dari tanggung jawab, karyawan lebih suka dibimbing, diperintah dan diawasi, karyawan lebih mementingkan dirinya sendiri. Sedangkan pada asumsi teori Y menggambarkan suatu kondisi seperti karyawan rata-rata rajin bekerja. Pekerjaan tidak perlu dihindari dan dipaksakan, bahkan banyak karyawan tidak betah karena tidak ada yang dikerjakan, dapat memikul tanggung jawab, berambisi untuk maju dalam mencapai prestasi, karyawan berusaha untuk mencapai sasaran organisasi (Robbins dalam bukunya Umar, 2000).

Dalam hal ini motivasi dan kemampuan karyawan merupakan salah satu aspek atau faktor yang dapat meningkatkan sinergik (synergistic effect). Maka pembinaan terhadap sumber daya manusia tidak pada penyelenggaraan latihan (training) saja, tetapi juga didukung dengan pengembangan atau pembinaan selanjutnya (development).

Menurut Mitchell (dalam Winardi , 2000) tujuan dari motivasi adalah memperediksi perilaku perlu ditekankan perbedaan-perbedaan antara motivasi, perilaku dan kinerja (performa). Motivasilah penyebab perilaku; andai kata perilaku tersebut efektif, maka akibatnya adalah berupa kinerja tinggi.

Prestasi Kerja

1. Pengertian Prestasi Kerja

Faktor kritis yang berkaitan dengan keberhasilan jangka panjang organisasi adalah kemampuan mengukur baik karyawan-karyawannya berkarya dan menggunakan informasi. Prestasi kerja yang didapatkan oleh para pekerja organisasi perusahaan merupakan suatu harapan yang mutlak, dan tidaklah mudah untuk mendapatkannya karena banyak kriteria-kriteria serta usaha yang keras yang akan dijalani atau dilalui oleh para pekerja tersebut. Motivasi karyawan untuk bekerja, mengembangkan kemampuan pribadi, dan meningkatkan kemampuan dimasa mendatang dipengaruhi oleh umpan balik mengenai kinerja masa lalu dan pengembangan kinerja yang akan datang.
Orang-orang yang termotivasi untuk berprestasi, memiliki tiga macam ciri umum sebagai berikut:

1.      Sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat.

2.      Orang-orang yang berprestasi tinggi juga menyukai situasi-situasi dimana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain seperti misalnya kemanjuran.

3.      Mengidentifikasikan mereka yang berprestasi tinggi, adalah bahwa mereka menginginkan lebih banyak umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.

2. Penilaian Prestasi Kerja

Penilaian prestasi kerja pada dasarnya merupakan pengukuran yang sistematik terhadap penampilan kerja karyawan itu sendiri dan terhadap taraf potensi karyawan dalam upayanya mengembangkan diri untuk kepentingan perusahaan/ organisasi. Menurut (Martoyo , 2000) penilaian prestasi kerja adalah proses melalui mana organisasi-organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan. Apabila penilaian prestasi kerja tersebut dilaksanakan dengan baik tertib dan benar, maka akan dapat membantu meningkatkan motivasi kerja dan sekaligus juga meningkatkan loyalitas organisasi organisasional dari para karyawan. Penilaian prestasi kerja (Perpormance Apprasial) ini pada dasarnya merupakan salah satu faktor kunci guna mengembangkan suatu organisasi secara efektif dan efisien.
Pembinaan dan pengembangan terhadap para karyawan adalah salah satu kegiatan dalam rangka menyesuiakan diri dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi, baik bagi para karyawan lama maupun bagi karyawan yang baru. Dalam melaksanakan pembinaan dan pengembangan karier para karyawan, maka perlu dilakukan penilaian pelaksanaan pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh para karyawan. Menurut (Soeprihanto , 1998) penilaian prestasi kerja adalah suatu sistem yang digunakan untuk menilai dan mengetahui sejauh mana seorang karyawan telah melaksanakan perkerjaannya masing-masing secara keseluruhan.

3.Tujuan Penilaian Prestasi Kerja

Prestasi kerja tersebut sangat erat hubungannya dengan masalah latihan dan pengembangan, perencanaan karier/ kenaikan pangkat maupun masalah pengupahan. Oleh karena itu informasi secara rutin tentang prestasi kerja seorang karyawan sangat penting untuk turut serta menentukan kebijaksanaan dibidang personalia.

Secara terperinci, tujuan penilaian prestasi kerja adalah sebagai berikut:

1.      Mengetahui keadaan keterampilan dan kemampuan setiap karyawan secara rutin.

2.      Untuk digunakan sebagai dasar perencanaan bidang personalia, khususnya penyempurnaan kondisi kerja, peningkatan mutu dan hasil kerja.

3.      Dapat digunakan sebagai dasar pengembangan dan pemberdayagunaan karyawan seoptimal mungkin; sehingga antara lain dapat diarahkan jenjang kariernya atau perencanaan karier, kenaikan pangkat dan kenaikan jabatan.

4.      Mendorong terciptanya hubungan timbal balik yang sehat antara atasan dan bawahan.

5.      Mengetahui kondisi perusahaan secara keseluruhan dari bidang personalia, khususnya prestasi kerja dalam bekerja.

2.2.          Peranan Dari Faktor-faktor Motivasi Dalam Penciptaan Kualitas Kerja

Mulai dari adanya manusia di muka bumi, motivasi tersebut sudah ada bertumbuh secara beriringan dengan pertumbuhannya (selama manusia hidup). Kerterkaitan dengan para pekerja dan organisasi, pada masa sekarang ini motivasi tersebut sudah menjadi suatu hal yang sudah tidak asing lagi, dan karenanya menjadi perhatian dari para manajer dalam hal mengelola sumber daya manusia yang dijadikan aset penting bagi organisasi. Salah satu faktor yang dirasakan sangat penting di dalam penentuan keberhasilan serta kelangsungan hidup organisasi adalah tingkat kemampuan dan keterampilan dari para pekerjanya.

Tetapi secara kenyataannya tidak semua karyawan yang memiliki kriteria tersebut sesuai dengan harapannya dan juga terdapatnya pekerja yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang tinggi, tetapi tidak memiliki semangat kerja yang tinggi, maka dengan demikian organisasi tersebut belum menciptakan kualitas kerja yang baik atau prestasi kerja yang sesuai dengan harapannya.

Secara garis besar semua organisasi memiliki kepentingan serta tujuan yang berbeda-beda sama seperti yang dimiliki oleh organisasi. Maka perhatian dari para manajer organisasi atau perusahaan sangat diperlukan guna meningkatkan kualitas kerja sumber daya manusia yang dimiliki, agar dapat mencapai tujuan dan dapat bersaing.

Disamping itu juga terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan alat pemotivasian karyawan atau pekerja sehingga mereka dapat terdorong dan semangat dalam melaksanakan pekerjaannya diantaranya adalah:

a.      Melibatkan atau mengikutsertakan dengan maksud mengajak karyawan untuk berprestasi secara efektif dalam proses operasi dan produksi organisasi.

b.      Komunikasi, yaitu melakukan penginformasian secara jelas terhadap tujuan yang ingin dicapai, cara-cara pencapaian dan kendala yang sekiranya akan dihadapi.

c.      Pengakuan, yang pada dasarnya berupa pemberian penghargaan dan pengakuan yang tepat dan wajar kepada karyawan atas prestasi kerja yang dicapai.

d.      Wewenang pengdelegasian, yaitu berkaitan dengan pendelegasian sebagai wewenang dan kebebasan untuk mengambil keputusan serta kreatifitas karyawan.

e.      Perhatian timbal balik, yaitu berkaitan dengan pengungkapan atas harapan dan keinginan pemilik atau pemimpin dan pengelola organisasi pada karyawan serta memahami, memperhatikan dan berusaha memenuhi kebutuhan karyawannya.

Karena melibatkan individu dan organisasi, maka hal tersebut merupakan suatu kerumitan dalam memotivasi pekerja untuk dapat bekerja sesuai dengan harapan. Hal ini mengingatkan bahwa terdapatnya faktor-faktor yang bersumber dari karyawan seperti kebutuhan-kebutuhan, tujuan-tujuan, sikap, dan kemampuan. Sedangkan faktor-faktor yang bersumber dari organisasi itu sendiri seperti, pembayaran atau gaji, keamanan pekerja, hubungan sesama pekerja, pengawasan, pujian-pujian, dan pekerjaan itu sendiri

 

 

Nyoman Wistara, W Syafii, DS Nawawi, dan G Ibnusantosa

Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Institut Pertanian Bogor

Meningkatnya tekanan masyarakat terhadap industri pulp dan kertas yang berpotensial mencemari lingkungan hidup mendasari penelitian peningkatan mutu proses, penghematan pemakaian sumber serat, dan pencarian bahan baku serat alternatif.  Salah satu sumber serat alternatif potensial ialah dari kertas daur ulang. Masalah pemanfaatan kertas daur ulang terletak pada teknologi pendauran dan peningkatan sifat kekuatannya. Peningkatan sifat kekuatan pulp daur ulang dapat dilakukan melalui teknik fraksinasi, perlakuan kimia, dan substitusi dengan pulp asli.

Penelitian ini ditujukan untuk mencari teknik peningkatan sifat pulp daur ulang melalui teknik fraksinasi, perlakuan kimia, dan substitusi dengan pulp asli alternatif. Eksplorasi bahan baku serat alternatif melibatkan pula pencarian teknik pulping dan pemutihan non-konvensional yang relatif ramah lingkungan.

Penelitian ini dilakukan dalam 3 tahap. Tahap pertama ialah penelitian tentang cara fraksinasi kertas daur-ulang (OCC) dan peningkatan sifat pulp daur ulang melalui berbagai metode pemulihan ECF. Dalam tahap kedua, proses kraft diterapkan untuk memasak batang ubi kayu (Manihot sp.). Penelitian tahap ketiga merupakan kelanjutan usaha eksplorasi sumber dan proses pemasakan bahan baku serat alternatif.

Sekitar 65-77% pulp dari OCC bekas dapat didaur ulang dengan sifat kekuatan tertentu yang telah ditingkatkan melalui proses pemulihan. Indeks tarik pulp fraksinasi manual berkisar 60.01-80.49 N.m/g dan 47.95-62.24 N.m/g untuk fraksinasi otomatis (nilai SNI minimum 60 N.m/g).  Nilai indeks sobek fraksi pulp berkisar 9.14-13.9 mN.m2/g (nilai SNI minimum 9 mN.m2/g). Sifat dan mutu pulp yang difraksinasi secara manual lebih baik daripada sifat dan mutu pulp hasil fraksinasi otomatis.

Pulp kraft batang ubi kayu dengan mutu relatif baik diperoleh dengan kondisi pemasakan alkali aktif 17%, sulfiditas 20%, suhu maksimum 170oC, nisbah cairan:bobot bahan (L/W) 4:1, dan total waktu pemasakan selama 3.5 jam.  Indeks sobek pulp sebesar 5.78 Nm2/g, yang lebih rendah daripada syarat minimum pulp kraft kayu daun jarum SNI (9 Nm2/g) tetapi lebih tinggi daripada pulp kraft putih kayu daun lebar SNI ( 5 Nm2/g). Indeks tariknya, 78.42 Nm/g, melampaui syarat minimum indeks tarik pulp kraft kayu daun jarum putih SNI (60 Nm/g). Rendemen pemasakan hanya 27.86% dan tergolong rendah bila dibandingkan dengan rendemen proses kraft untuk kayu (40-55%). Bilangan kappa yang diperoleh 37.93. Pulp batang kayu ini diduga akan sesuai untuk digunakan sebagai substitusi sebagian pulp daur ulang agar produk yang dibuat berkekuatan rendah memiliki kekuatan tinggi.

Kondisi proses soda-etanol yang dipakai memasak 3 jenis sumber serat baru, yaitu kulit kayu waru laut, kulit kayu dadap dan kayu dadap, ialah alkali aktif 20%, suhu maksimum 180oC, waktu tuju 1 jam, waktu pada suhu maksimum 2 jam, L/W 15, dan konsentrasi etanol beragam dari 0 hingga 50%. Rendemen tertinggi hasil pemasakan kayu dadap diperoleh pada konsentrasi etanol 40%, yaitu 39.21% dengan bilangan kappa rendah (18.01). Rendemen tertinggi hasil pemasakan kulit kayu dadap diperoleh pada konsentrasi etanol 50%, bilangan kappa tertendah (19.66) dicapai dengan konsentrasi etanol 40%. Rendemen tertinggi pemasakan kulit kayu waru laut diperoleh pada konsentrasi etanol 50% yaitu 49.12% dengan bilangan kappa rendah (16.48).  Jika dilihat dari selektivitas delignifikasi proses, maka selektivitas tertinggi untuk pemasakan kayu dadap dan kulitnya terjadi pada konsentrasi etanol 40% yang masing-masing sebesar 41.88 dan 38.12. Kondisi proses ini lebih selektif daripada proses soda konvensional (kontrol) yang selektivitasnya masing-masing 39.86 dan 12.75 untuk kayu dadap dan kulitnya.  Selektivitas proses soda-etanol untuk kulit kayu waru laut ialah 58.75 dengan konsentrasi etanol 30%, yang jauh melebihi selektivitas proses soda konvensional terhadap bahan baku ini (18.28). Proses soda-etanol merupakan proses yang cukup baik untuk menyediakan serat asli dari bahan yang diteliti dan dapat menjadi alternatif proses soda konvensional maupun proses kraft yang berpotensi tinggi mencemari lingkungan hidup.

Adoptrd from : Hibah Bersaing VIII

 

Manajemen Pemeliharaan – Upaya terbaik untuk peningkatan produktivitas  

Perusahaan yang membiarkan dirinya mengalami kegagalan peralatan produksinya serta mengabaikannya, sama saja dengan memberikan dirinya kalah bersaing terhadap pesaingnya, dengan kekalahan yang tidak wajar.

Sangat aneh, kiranya, jika sementara sebuah perusahaan yang membiarkan dirinya mengalami gangguan pada alat-alat produksinya, maka pihak lain berani menghabiskan pengeluarannya yang cukup besar untuk terus-menerus mencari software yang bisa meningkatkan sistem informasi berkenaan dengan aktivitas pemeliharaan dan perawatan terhadap aktiva tetap berupa mesin-mesin tersebut.

Masih cukup banyak perusahaan yang begitu bodoh, sehingga tidak segera memperhatikan penerapan sistem yang mampu mengelola informasi berkenaan dengan aset-aset yang menjadi modal bisnisnya. Dan hasilnya bisa dilihat pada laporan-laporan keuangan, atau laba/rugi, yang menunjukkan bagaimana jeleknya cara mereka menangani aset-aset permodalannya tersebut.

Produk untuk manajemen pemeliharaan dan perawatan aset
berasal dari: PSDI       

THE MAXIMO ADvantage solusi Microsoft tersedia dalam database Access, MAXIMO ADvantage mengembangkan sistem yang mampu melakukan penghematan dan produktivitas yang berlangsung secara otomatis dari manajemen pemeliharaan dan perawatan bagi fasilitas dan pasar manufaktur kecil.

Work and Labor Management (manajemen pekerjaan dan tenaga kerja)

Materials Management (manajemen material/barang)

Aplikasi Work Order akan menghasilkan, merubah, dan menutup untuk terjadinya transaksi-transaksi yang berkenaan dengan adanya pekerjaan-pekerjaan yang harus dikerjakan, yang dikelompokkan berdasarkan nomor WO-nya.

Inventory (Persediaan material/barang) aplikasi ini akan melakukan penambahan jenis item, melakukan perubahan atas informasi batas minimal persediaan, serta menetapkan suatu batas kuantitas di mana sebuah material/bahan harus dilakukan pemesanan kembali, untuk secara otomatis menimbulkan laporan permintaan pembelian. Juga akan diterbitkan data pengeluaran dan pemakaian material/barang yang digunakan untuk suatu Work Order tertentu, pekerjaan perbaikan, catatan pemeliharaan dan akuntansi persediaan.

Work Request (permintaan pelaksanaan kerja) aplikasi ini akan membentuk dan menelusuri semua permintaan perbaikan, termasuk  pembatalan, pengiriman, pembukuan catatan secara lengkap, dan pembebanan biayanya.

Receiving (penerimaan) aplikasi akan menerima kedatangan barang, baik yang dibeli atas dasar permintaan pembelian atau beli langsung, untuk direkam pada catatan persediaan (stok), dan secara otomatis akan meng-update nilai persediaan.

Perencanaan & Penjadualan aplikasi ini akan mengendalikan sumberdaya tenaga kerja dan material termasuk informasi mengenai kontraktor. Akan membantu dalam pengaturan dan pengelompokan jenis-jenis dan klasifikasi tenaga kerja berdasarkan kebutuhan-kebutuhan atas beban kerja tertentu, dan menyeimbangkan antara kebutuhan tenaga kerja dan materialnya.

Kartu Material merupakan aplikasi yang akan membebankan material yang tidak termasuk ke dalam material stok yang digunakan pada penyelesaian sebuah work-order permintaan pekerjaan serta panggilan mendadak, serta mencatat waktu penyelesaian pekerjaan dan akuntansi materialnya.

Work Order Bar Code merupakan aplikasi yang memungkinkan pemasukan data work-order dengan menggunakan scanner untuk barcode.

Inventory Bar Code akan menjadi aplikasi yang memungkinkan untuk melakukan pengeluaran barang dan kinerja dari persediaan fisik dengan menggunakan scanner barcode.

Time Cards (kartu pencatat jam operasi) akan menjadi sebuah aplikasi yang akan menerapkan pembebanan biaya berdasarkan alokasi waktu yang digunakan untuk menyelesaikan sebuah work-order, permintaan pekerjaan, serta panggilan mendadak, atau merupakan pencatatan akuntansi atas waktu dan materialnya.

Aplikasi kunci lainnya

Apalikasi penagihan (tersedia dalam versi 3.40) memfasilitasi prosedur pembebanan biaya, membuat tagihan dan menelusuri data penerimaan pembayaran dari pelanggan atas pelaksanaan kerja dari Work-Order tertentu, meliputi beban biaya material dan tenaga kerjanya.

Preventive Maintenance (pemeliharaan dan perawatan)

Preventive Maintenance merupakan aplikasi yang memungkinkan Anda untuk membuat jadual PM (preventive maintenance, pemeliharaan dan perawatan) untuk peralatan tertentu atau fasilitas-fasilitas perusahaan. Work-order akan dibuat secara otomatis berdasarkan skedul waktu yang sudah ditetapkan, lengkap dengan peralatan-peralatan, bahan-bahan, serta prosedur kerjanya. Jadual PM bisa didasarkan atas satuan meter, jam kerja aktif, atau pemanfaatannya.

Component Management (manajemen komponen) merupakan sebuah aplikasi untuk menghasilkan peringkat peralatan.  meliputi sub-komponen dan sistem yang lebih besar di mana peralatan itu terdapat.

Purchasing (pembelian)

Purchase Order (permintaan pembelian) merupakan aplikasi yang memungkinkan untuk menghasilkan permintaan pembelian, termasuk penyediaan informasi dalam besaran mata uangnya, untuk memudahkan persetujuan pimpinan.

System Administration merupakan aplikasi untuk mempersiapkan pemberian kode bagi sistem dan pengguna untuk keperluan pengamanan dan pengelompokan staf.

Spot-Buy Requisitions (permintaan pembelian langsung) digunakan untuk menghasilkan permintaan-permintaan yang bersifat mendadak untuk item-item barang yang tidak tersedia sebagai stok atau merupakan barang yang jarang digunakan dan disediakan.

Interfaces merupakan aplikasi yang memungkinkan ADvantage untuk terhubung langsung pada sistem lainnya yang Anda gunakan untuk keperluan pendugaan masa pemeliharaan, manajemen energi, TPM, dan lain sebagainya.

Reports (pelaporan-pelaporan) merupakan aplikasi yang akan memberikan Anda kesempatan untuk memilih dari sejumlah pelaporan baku, membuat sendiri laporan dengan bantuan Smart Reports atau membuat bentuk laporan tersendiri, dan analisanya.

THE MAXIMO —

memberikan Anda fungsi-fungsi manajemen pengolahan data yang sempurna dan memiliki fleksibilitas sesuai kebutuhan dari perusahaan-perusahaan kelas atas. MAXIMO mendukung sistem database SQL utama, termasuk Oracle, Sybase, dan bekerja pada platform UNIX atau NT server pada lingkungan operasional client/server.

Adopted from : Adopted from : Intuitive Manufacturing System, Inc.

 

Adopted from : PERPIPAAN : CORROSION UNDER INSULATION (KOROSI DI BAWAH ISOLASI)

1.      Pendahuluan

Pipa-pipa yang dibungkus isolator panas juga bisa mengalami masalah korosi karena sel aerasi-differensial yang terbentuk di balik/ di bawah isolasi. Isolator yang terbuat dari bahan penghambat perambatan panas juga berfungsi sebagai sumbu yang merembeskan air ke bagian lain. Korosi di bawah isolasi digolongkan sebagai korosi atmosferik dengan faktor penyebab air. Air yang mungkin berasal dari hujan, kabut, atau pengembunan akibat kelembaban relatif tinggi.

Kabut dan pengembunan bisa mendatangkan bahaya korosi dari udara karena membasahi seluruh permukaan termasuk yang tersembunyi. Lapisan-lapisan tipis air dari kabut dan embun tidak akan mengalir dan akan tetap di situ sampai menguap oleh hembusan angin atau meningkatnya temperatur. Untuk memulai serangan, selapis tipis air yang tidak kelihatan sudah lebih dari cukup. Kebanyakan logam seperti besi, baja, nikel, tembaga, dan seng mengalami korosi bila kelembaban relatif lebih besar dari 60 %. Jika kelembaban lebih dari 80 %, karat pada besi dan baja menjadi higroskopik (menyerap air) dan dengan demikian laju serangan meningkat lagi.

1.1.      Ekonomi dan Safety

Laju korosi di bawah isolasi dalam kondisi basah memiliki laju 20 kali lebih besar dibandingkan pada kondisi atmosferik (ambient). Bila pipa yang terkorosi harus diperbaiki/diganti, maka diperlukan biaya bermilyar-milyard untuk satu Pabrik, tidak termasuk kehilangan produksi serta akibat keseluruhan dari Pabrik yang mati (shut down).

Karena tidak terlihat, maka corrosion under insulation (CUI) seakan terjadi secara mendadak, dan dapat menimbulkan kebocoran dengan potensial terjadinya bahaya, khususnya pada aliran fluida yang berbahaya, sehingga memicu terjadinya kenaikan temperature atau tekanan pada vessel.

1.2.       Kondisi

Tiga faktor yang diperlukan sehingga terjadi korosi di bawah isolasi (corrosion under insulation / CUI) :

  1. Air

Air akan terbawa selama penyimpanan isolasi ataupun pada saat pemasangan, karena kebocoran system, tidak efektifnya waterproofing, pemeliharaan yang kurang baik atau ”service lapses”.

  1. Kandungan Bahan Kimia dalam Air.

Bila pH turun di bawah 4, korosi akan berlangsung sangat cepat. Seperti  korosi asam (acidic corrosion) umumnya terjadi pada material Carbon Steel. Sehingga selalu dijaga kondisi pH isolasi berada pada kondisi netral/alkali pada range antara 7,0  – 11,7.

Dengan material austenitic stainless steel, masalah utama yang perlu diperhatikan adalah kandungan Chlorida bebas dan mechanical stress. Pada kenyataannya, untuk menjamin kualitas isolasi yang kontak langsung dengan stainless steel, diperlukan isolasi yang tidak (sangat sedikit) mengandung chloride dan flouride. Di Amerika Serikat dan beberapa negara lain, level ini diimbangi / dilawan dengan isolasi yang melepaskan ion natrium dan silikat. Ion Chloride yang terlepas juga dipicu oleh air hujan, pabrik  maupun cooling tower atmosferik, atau juga portable water yang biasa dipakai untuk fire fighting (pemadam kebakaran), flushing ataupun pencucian area. Laju dan tingkat keparahan serangan biasanya ditentukan oleh konduktivitas elektrolit, yang bergantung pada kadar bahan pengotor yang terlarut. Bahan pengotor ini berbeda-beda, dari karbon dioksida (membentuk larutan agak asam), ion-ion ammonium, serta ion-ion klorida di lingkungan laut. Di lingkungan laut, terutama di pesisir (seperti lingkungan PKT), laju korosi bisa lebih tinggi.

c. Temperatur

Temperatur berpengaruh terhadap korosi atmosferik melalui dua cara :

  1. Peningkatan temperatur biasanya diikuti oleh peningkatan laju reaksi. Temperatur service antara 32F dan 212°F (0C dan 100°C) memungkinkan air masih dalam bentuk cair. Dengan range temperatur tersebut, laju korosi akan naik dua kali setiap kenaikan temperatur 27F sampai 36°F (15C sampai 20C). Potensial korosi maksimum umumnya berada di antara kedua range tersebut. Stress Corrosion Cracking yang diinduksi oleh Chloride pada material Carbon Steel umumnya terjadi pada range ambient (atau bisa juga di bawah) dari 248°F (120C).
  2. Perubahan temperatur berpengaruh terhadap kelembaban relatif dan dapat menyebabkan pengembunan pada titik embun (dew point condensation). Jika temperatur turun lebih rendah dari titik embun, udara menjadi jenuh dengan uap air dan titik-titik air akan mengendap pada setiap permukaan yang terbuka. Pengembunan bisa terjadi di semua permukaan yang cukup dingin, baik di luar maupun di dalam isolasi. Titik-titik air dapat menggenang pada tempat-tempat tertentu dan membentuk kolam elektrolit yang tersembunyi dalam suatu struktur sehingga korosi terjadi di tempat yang tidak disangka-sangka.

Selain itu ada dua kondisi temperatur korosi yang khusus yaitu :

  1. Temperatur siklis yang mempercepat korosi,
  2. Temperatur extreme yang tercapai selama terjadinya shut down pabrik, di mana air terakumulasi tanpa pembekuan atau evaporasi (pada kondisi ini penggantian isolasi harus direkomendasikan).

1.3.      Pencegahan CUI

Tiga langkah untuk mengurangi/menanggulangi masalah korosi di bawah isolasi (corrosion under insulation = CUI) adalah :

 

  1. Mencegah adanya vapor (uap air) :

Hal ini merupakan tindakan yang paling penting, namun penghilangan uap air dengan mencegah adanya uap air kelihatannya cukup sulit.

  1. Other Barriers (Pemakaian Penghalang yang lain, selain Isolasi)

Penghalang lain seperti cat (paints) atau mastics (misalnya silicones, epoxy phenolics, coal tar epoxies dan bitumens) dapat dipakai sebagai pencegah secara fisik untuk air yang akan kontak langsung dengan peralatan. Dengan material-material tersebut, maka persiapan permukaan menjadi masalah yang kritis, dan bebas cacat dalam pengecatan sangat penting. Aluminium foil dapat juga dipakai sebagai barikade fisik sebagus lapisan proteksi katodik.

  1. Proper Insulation

Alternatif ketiga adalah pemilihan isolasi yang tepat dengan meminimalkan water intrusion.  Meminimalkan adanya air akan mengurangi laju korosi logam.

1.4.      Tipe Isolasi

Umumnya Isolasi dibagi menjadi dua katagori :

  1. Untuk temperatur rendah.

Isolasi untuk temperatur rendah termasuk polyurethane dan polyisocyanurate cellular plastics, sebagus phenolics. Dari kesemuanya, akan membentuk larutan asam (pH 2 – 3) dalam air.

  1. Untuk temperatur tinggi.

1.5.      Beberapa Pengalaman tentang CUI

Terjadi pada Exxon bahwa isolasi polyurethane pada tangki panas, sejumlah korosi ditemukan ketika isolasi dilepas. Air bersama halogen di dalam isolasi memberikan kondisi pH 1 dan mempercepat korosi logam. Sumber halogen adalah fire retardant dari pemakaian polyurethane. Akhirnya, Exxon mengurangi masalah tersebut degan merubah tipe isolasi.

Potensial dengan mengubah lingkungan asam dengan memakai plastik polyurethane cellular selanjutnya tidak tepat lagi karena senyawa chloride – phsogene dipakai pada produk ini. Konsekuensinya, pabrik menyebutkan bahwa permukaan metal harus diproteksi dengan corrosion – inhibiting coating.

 

Contoh lain dari kegagalan akibat korosi dengan isolasi polyurethane juga terjadi pada pipa-pipa oil dan gas ARCO, di mana 85 % dari dinding pipa telah berkarat setelah kurang dari 10 tahun beroperasi. Penetrasi komplit pada atap tangki oil panas di Belanda; korosi sumuran yang dalam dan korosi merata pada tangki storage gas dingin di Inggris dan Saudi Arabia; dan stress corrosion cracking pada vessel brewery yang terbuat dari material stainless steel.

Phenolics, di pihak lain, juga bersifat asam, dipakai juga di pabrik, dan dapat menciptakan lingkungan menjadi pH 1,8.

Katagori mengenai isolasi termasuk aplikasi temperatur tinggi. Salah satu di antaranya adalah : Calcium silikat, perlite, mineral wood, dan febrious glass Absorbent fiberous glass). Walau masing-masing dikenal porous, calcium silikat dan fiberous glass umumnya banyak menyebabkan masalah.

System Exxon telah memiliki pengalaman yang cukup banyak mengenai hubungan antara korosi yang diakibatkan keberadaan air yang melepas chloride dengan pemakaian isolasi calcium silikat. Di Monsato, calcium silikat memberikan banyak masalah. Di Eropa pada saat meeting tentang korosi di bawah lagging, konsekuensinya adalah bahwa calcium silikat adalah tidak cocok untuk senyawa agresif. England’s Institution of Chemical Engineer yang mem-warning bahwa calcium silikat dan menimbulkan resiko untuk stress corrosion dengan mengijinkan terjadinya pengembunan pada permukaan hot metal. Sementara beberapa isolasi mengandung inhibitor stress crack, namun bila system telah melebihi life timenya, maka kemampuan inhibitor untuk mencegah crack akan menurun drastis. ARCO dan Esso di Belanda, DuPont, Exxon, dan Gulf mempunyai pengalaman yang sama tentang isolasi absorbent fibroud glass.

2.      FUNGSI PEMASANGAN ISOLASI

Sesuai spesifikasi dalam pemasangan isolasi yang disebutkan dalam setiap spesifikasi proyek di PKT, maka Spesifikasi cover suatu peralatan (vessel, piping, peralatan mekanikal atau item-item lain yang diperlukan) dengan memasang Isolasi adalah :

  1. Pada peralatan pada kondisi normal operasi beroperasi pada temperatur antara 60 s/d 550°C.
  2. Nozzles dan flanges pada peralatan dan piping juga harus di-isolasi seperti juga peralatan dan piping yang teriisolasi.
  3. Isolasi on skirt dan leg supported vessels harus berada di 0,6 meter di bawah tangen line.
  4. Personal protection untuk pipa yang harus idisolasi minimal setinggi 2,5 meter di atas grade, platform, dan level operasi yang lain.
  5. Isolasi untuk personnel protection harus dipasang bila pipa dan dinding peralatan bertemperatur 60C.

3.            PERMASALAHAN

Hampir semua piping di bawah isolasi di area Pabrik Kaltim-1 dengan service fluida bertemperatur > 60C dikhawatirkan mengalami korosi.

 

4.            LANGKAH PERBAIKAN

4.1.            Standar praktis yang dipakai pada beberapa tahun lalu untuk menghindari korosi di bawah isolasi adalah :

  1.  
    1. Menge-cat material dengan material cat yang tahan korosi atmosferik atau coating type sacrificial.

Primer Seng bekerja dengan baik, namun akan kehilangan kemampuan proteksinya setelah elemen sacrificialnya habis. Kedua coating tersebut mengijinkan moisture masuk bila diserang oleh gas, garam, atau bahan kimia yang ada dalam isolasi yang menyebabkan korosi yang lebih cepat.

  1.  
    1. Epoxi serpihan gelas dan glass-flake novolacs (untuk material yang terpapar bahan kimia dan temperatur kurang dari 325°F (163°C)) menunjukkan performance yang bagus sebagaimana sistem high-bred zinc atau acrylic-silicones (untuk temperatur di atas 325°F (163°C)).

4.2.            Pemakaian metode lain, misalnya dengan melampiri substrat yang merupakan format coating yang disebut Thermal Insulation Coating (TIC).

Beberapa kelebihan TIC yang ditawarkan adalah :

  1.  
    1. Dalam masalah biaya, initial cost untuk TIC lebih murah dibandingkan dengan tipe isolasi konvensional dengan memakai jacket water.
  1.  
    1. Menghindari perbaikan pada metode protective jacketing yang meliputi penggantian isolasi akibat kerusakan isolasi,
    2. Memberikan kemudahan total untuk menginspeksi permukaan setiap waktu. Artinya permukaan tidak tertutup/terlindungi dari pengawasan.
    3. Thermal Insulation Coating juga dapat diaplikasikan untuk permukaan yang masih dioperasikan tanpa harus dishut-down-kan,
    4. Permukaan sekarang mudah diperbaiki, efisiensi untuk menginspeksi, dan tidak selalu harus dibuang atau diganti bila terjadi korosi.

5.            REKOMENDASI

5.1.            Isolasi untuk line atau peralatan bertemperatur ³ 60°C hanya dipasang untuk line atau peralatan yang berdampak pada sistem proses, bukan sekedar  sebagai personal protection. Personal protection dipasang untuk pipa-pipa yang mudah bersentuhan dengan badan manusia, namun bila tidak (di bawah ataupun di atas jangkauan manusia) dianjurkan tidak perlu dipasang. Untuk line yang tidak diisolasi, perlu dilakukan coating dengan mengikuti prosedur baku coating.

5.2.            Buka isolasi pada line number terlampir di bawah.

5.3.            Lakukan coating (dengan persiapan permukaan yang benar).

5.4.            Pasang isolasi dengan type yang kandungan Chloride dan senyawa halogen terendah.

5.5.           Bila memungkinkan dapat dicoba mengaplikasikan metode TIC (Thermal Insulation Coating).

Korosi adalah fenomena alam (Sunatullah) yang akan terus terjadi selama alam semesta ini ada dan selama logam berinteraksi (berhubungan) dengan lingkungannya, seperti hal-nya manusia yang mengalami tahapan dari muda menjadi tua (karena juga berinteraksi dengan lingkungannya), kemudian tiada. Semuanya itu tidak bisa kita tolak, namun sebagai makhluk yang berpikir, kita diwajibkan untuk mensiasatinya. Seperti upaya manusia agar tetap awet muda dan selalu sehat dengan mengkonsumsi makanan bergizi, vitamin, suplement, anti oksidan, ataupun memakai komestik pengencang dan pemutih kulit, dsb.; demikian pula logam, untuk menghambat laju kerusakan perlu memakai inhibitor (penghambat) korosi.

Korosi adalah kerusakan logam akibat berinteraksi dengan lingkungannya. Proses korosi logam dalam larutan akuatik (mengandung air) merupakan reaksi elektrokimia yang meliputi proses perpindahan massa dan perpindahan muatan. Bila suatu logam dicelupkan dalam larutan elektrolit, terjadi dua lokasi yang disebut anoda dan katoda. Pada anoda terjadi reaksi oksidasi dan pada katoda terjadi reaksi reduksi.

Inhibitor adalah zat yang bila ditambahkan ke dalam suatu lingkungan dalam jumlah kecil, secara sinambung atau berkala, dapat menurunkan laju korosi logam. Pemakaian Inhibitor Korosi adalah salah satu upaya untuk mencegah korosi.

Ada berbagai jenis Inhibitor yang dikenal, dan diklasifikasikan berdasarkan bahan dasarnya, reaksi yang dihambat, serta mekanisme inhibisinya.

q       Menurut Bahan Dasarnya :

§         Inhibitor Organik : Menghambat korosi dengan cara teradsorpsi kimiawi pada permukaan logam, melalui ikatan logam-heteroatom. Inhibitor ini terbuat dari bahan organik. Contohnya adalah : gugus amine, tio, fosfo, dan eter. Gugus amine biasa dipakai di sistem boiler.

§         Inhibitor Inorganik

Inhibitor yang terbuat dari bahan anorganik.

q       Menurut Reaksi yang dihambat :

§         Inhibitor katodik :

Yang dihambat adalah reaksi reduksi. Molekul organik netral teradsorpsi di permukaan logam, sehingga mengurangi akses ion hidrogen menuju permukaan elektroda. Dengan berkurangnya akses ion hidrogen yang menuju permukaan elektroda, maka hydrogen overvoltage akan meningkat, sehingga menghambat reaksi evolusi hidrogen yang berakibat  menurunkan laju korosi.

Inhibitor katodik dibedakan menjadi :

·        Inhibitor racun : Contohnya : As2O3, Sb2O3.

-         menghambat penggabungan atom-atom Had menjadi molekul gas H2 di permukaan logam

-         dapat mengakibatkan perapuhan hidrogen pada baja kekuatan tinggi.

-         Bersifat racun bagi lingkungan.

·        Inhibitor presipitasi katodik :

-         mengendapkan CaCO3, MgCO3, CaSO4, MgSO4 dari dalam air. Contoh  : ZnSO4 + dispersan.

·        Oxygen scavenger :

-         mengikat O2 terlarut

Contoh : N2H4 (Hydrazine) + O2 N2 + 2 H2O

Hydrazine diinjeksikan di up stream Deaerator dalam sistem WHB (Waste Heat Boiler) dan WHR (Waste Heat Recovery) di unit pabrik Ammonia maupun Utilitas.

§         Inhibitor Anodik :

Adalah inhibitor yang menghambat reaksi oksidasi.

Fe + OH- ® FeOHad + e-

FeOHad + Fe + OH-  Û FeOHad + FeOH+ + 2e-

§         Molekul organik teradsorpsi di permukaan logam, sehingga  katalis FeOHad berkurang akibatnya laju korosi menurun. Contoh inhibitor anodik adalah molibdat, silikat, fosfat, borat, kromat, nitrit, dan nitrat. Inhibitor jenis ini sering dipakai / ditambahkan pada saat chemical cleaning peralatan pabrik.

§         Inhibitor campuran : Campuran dari inhibitor katodik dan anodik.

q       Menurut Mekanisme (Cara Kerja) Inhibisi  :

§         Inhibitor Pasivator : menghambat korosi dengan cara menghambat reaksi anodik melalui pembentukan lapisan pasif, sehingga merupakan inhibitor berbahaya, bila jumlah yang ditambahkan tidak mencukupi.

Inhibitor Pasivator terdiri dari :

·        Inhibitor Pasivator Oksidator, misalnya : Cr2O72-, , CrO42-, ClO3-, ClO4-.

Cr2O72- mempasivasi baja dengan peningkatan reaksi katodik dari Cr2O72- menjadi Cr2O3, dan menghasilkan lapisan pasif Cr2O3 dan FeOOH.

·        Inhibitor Pasivator non oksidator, contohnya : ion metalat (vanadat, ortovanadat, metavanadat), NO2-. Inhibitor vanadium dipakai di Unit CO2 Removal Pabrik Ammonia, karena larutan Benfield yang bersifat korosif.

Molybdat (MoO42-) menginhibisi dengan cara membentuk lapisan pelindung yang terdiri dari senyawa ferro-molybdat menurut reaksi berikut :

Fe + ½ O2 + H+ Fe2+  + OH-

MoO42- + Fe2+   FeMoO4

·        Pembentuk senyawa tak larut :

INH + H2O Û OH- ; M + 2 OH- ÛMO¯ + H2O

Misalnya : NaOH, Na3PO4, Na2HPO4, Na2CO3, NaBO3.

§    Inhibitor Presipitasi : Membentuk kompleks tak larut dengan logam atau lingkungan sehingga menutup permukaan logam dan menghambat reaksi anodik dan katodik. Contoh : Na3PO4, Na2HPO4.

·        Contoh inhibitor yang bereaksi dengan logam :

Na3PO4 +3H2O® 3Na++3OH- + H3PO4

Fe + 2 OH-® FeO¯ + H2O + 2e-

·        Contoh inhibitor yang bereaksi dengan lingkungan :

2 Na3PO4 +2Ca2+ (dalam air) ® 2Ca3(PO4)2¯  + 3Na2+      

§         Inhibitor Adsorpsi : Agar teradsorpsi harus ada gugus aktif (gugus heteroatom). Gugus ini akan teradsorpsi di permukaan logam. Contoh : Senyawa asetilen, senyawa sulfur, senyawa amine dan senyawa aldehid.

§         Inhibitor Aman dan Inhibitor Berbahaya :

·        Inhibitor aman (tidak berbahaya) adalah inhibitor yang bila ditambahkan dalam jumlah yang kurang (terlalu sedikit) dari konsentrasi kritisnya, tetap akan mengurangi laju korosi. Inhibitor aman ini umumnya adalah inhibitor katodik, contohnya adalah garam-garam seng dan magnesium, calcium, dan polifosfat.

·        Inhibitor berbahaya adalah inhibitor apabila ditambahkan di bawah harga kritis akan mengurangi daerah anodik, namun luas daerah katodik tidak terpengaruh. Sehingga kebutuhan arus dari anoda yang masih aktif bertambah hingga mencapai harga maksimum sedikit di bawah konsentrasi kritis. Laju korosi di anoda-anoda yang aktif itu meningkat dan memperhebat serangan korosi sumuran. Yang termasuk inhibitor berbahaya adalah inhibitor anodik, contohnya adalah molibdat, silikat, fosfat, borat, kromat, nitrit, dan nitrat. 

 

Daftar Pustaka

1.    Jones, Denny A., (1992), “Principle and Prevention of Corrosion”, Macmillan Publishing Company, New York.

2.    Rozenfeld, I.L., (1981), “Corrosion Inhibitors”, McGraw-Hill Inc., New York.

3.    Priandani, Manik, (2001), “Studi Pengaruh Inhibitor Formaldehid Terhadap Korosi Baja Karbon ASTM A 283 oleh Bakteri Pereduksi Sulfat (SRB) di dalam Air Laut”, Master Thesis,  Program Khusus Rekayasa Korosi, Program Studi Rekayasa Pertambangan, ITB.

 

Zat organik adalah zat yang pada umumnya merupakan bagian dari binatang atau tumbuh tumbuhan dengan komponen utamanya adalah karbon, protein, dan lemak lipid. Zat organik ini mudah sekali mengalami pembusukan oleh bakteri dengan menggunakan oksigen terlarut.

Limbah organik adalah sisa atau buangan dari berbagai aktifitas manusia seperti rumah tangga, industri, pemukiman, peternakan, pertanian dan perikanan yang berupa bahan organik; yang biasanya tersusun oleh karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, sulfur dan mineral lainnya (Polprasert, 1989). Limbah organik yang masuk ke dalam perairan dalam bentuk padatan yang terendap, koloid, tersuspensi dan terlarut. Pada umumnya, yang dalam bentuk padatan akan langsung mengendap menuju dasar perairan; sedangkan bentuk lainnya berada di badan air, baik di bagian yang aerob maupun anaerob. Dimanapun limbah organik berada, jika tidak dimanfaatkan oleh fauna perairan lain, seperti ikan, kepiting, bentos dan lainnya; maka akan segera dimanfaatkan oleh mikroba; baik mikroba aerobik (mikroba yang hidupnya memerlukan oksigen); mikroba anaerobik (mikroba yang hudupnya tidak memerlukan oksigen) dan mikroba .fakultatif (mikroba yang dapat hidup pada perairan aerobik dan anaerobik).

Limbah organik yang ada di badan air aerob akan dimanfaatkan dan diurai (dekomposisi) oleh mikroba aerobik (BAR); dengan proses seperti pada reaksi (1) dan (2):

·                     BAR + O2 + BAR è CO2 + NH3 + prod lain + enerji .. (1) (COHNS)

·                     COHNS + O2 + BAR + enerji è C5H7O2N (sel MO baru)…(2)

Kedua reaksi tersebut diatas dengan jelas mengisaratkan bahwa makin banyak limbah organik yang masuk dan tinggal pada lapisan aerobik akan makin besar pula kebutuhan oksigen bagi mikroba yang mendekomposisi, bahkan jika keperluan oksigen bagi mikroba yang ada melebihi konsentrasi oksigen terlarut maka oksigen terlarut bisa menjadi nol dan mikroba aerobpun akan musnah digantikan oleh mikroba anaerob dan fakultatif yang untuk aktifitas hidupnya tidak memerlukan oksigen.

Dekomposisi di Badan Air Anaerob

Limbah organik yang masuk ke badan air yang anaerob akan dimanfaatkan dan diurai (dekomposisi) oleh mikroba anaerobik atau fakultatif (BAN); dengan proses seperti pada reaksi (3) dan (4):

·                     COHNS + BAN è CO2 + H2S + NH3 + CH4 + produk lain + enerji ……….(3)

·                     COHNS + BAN + enerji è C5H7O2 N (sel MO baru)….…..(4)

Kedua proses tersebut diatas mengungkapkan bahwa aktifitas mikroba yang hidup di bagian badan air yang anaerob selain menghasilkan sel-sel mikroba baru juga menghasilkan senyawa-senyawa CO2, NH3, H2S, dan CH4 serta senyawa lainnya seperti amin, PH3 dan komponen fosfor. Asam sulfide (H2S), amin dan komponen fosfor adalah senyawa yang mengeluarkan bau menyengat yang tidak sedap, misalnya H2S berbau busuk dan amin berbau anyir. Selain itu telah disinyalir bahwa NH3 dan H2S hasil dekomposisi anaerob pada tingkat konsentrasi tertentu adalah beracun dan dapat membahayakan organisme lain, termasuk ikan.

Selain menghasilkan senyawa yang tidak bersahabat bagi lingkungan seperti tersebut diatas, hasil dekomposisi di semua bagian badan air menghasilkan CO2 dan NH3 yang siap dipakai oleh organisme perairan berklorofil (fitoplankton) untuk aktifitas fotosintesa; yang dapat digambarkan sebagai reaksi (5).

MATAHARI
NH3 +7.62 CO2 + 2.53 H2O è C7.62 H8.06 O 2.53 N + 7.62 O2 …..(5)

DAMPAK DEKOMPOSISI LIMBAH ORGANIK.

Uraian diatas mengungkapkan bahwa proses dekomposisi limbah organik di badan air bagian manapun cenderung selalu merugikan karena sebagian besar produknya (NH3 H2S dan CH4) dapat langsung mengganggu kehidupan fauna, sedang produk yang lain (nutrien) meskipun sampai pada konsentrasi tertentu menguntungkan namun jika limbah/nutrien terus bertambah (eutrofikasi) akan menjadi pencemar yang menurunkan kualitas perairan dan akhirnya mengganggu kehidupan fauna.

Dampak Langsung.

Pengaruh pertama proses dekomposisi limbah organik di badan air aerobik adalah terjadinya penurunan oksigen terlarut dalam badan air. Fenomena ini akan mengganggu pernafasan fauna air seperti ikan dan udang-udangan; dengan tingkat gangguan tergantung pada tingkat penurunan konsentrasi oksigen terlarut dan jenis serta fase fauna. Secara umum diketahui bahwa kebutuhan oksigen jenis udang-udangan lebih tinggi daripada ikan dan kebutuhan oksigen fase larva/juvenil suatu jenis fauna lebih tinggi dari fase dewasanya. Dengan demikian maka dalam kondisi konsentrasi oksigen terlarut menurun akibat dekomposisi; larva udang-udangan akan lebih menderita ataupun mati lebih awal dari larva fauna lainnya. Fenomena seperti itulah yang diduga menjadi sebab kenapa akhir-akhir ini di sepanjang pantai utara P. Jawa yang padat penduduk dan tinggi pemasukan limbah organiknya tidak mudah lagi ditemukan bibit-bibit udang dan bandeng (nener); padahal pada masa lalu dengan mudahnya ditemukan..

Kesulitan fauna karena penurunan oksigen terlarut sebenarnya baru dampak permulaaan, sebab jika jumlah pencemar organik dalam badan air bertambah terus maka proses dekomposisi organik memerlukan oksigen lebih besar dan akibatnya badan air akan mengalami deplesi oksigen bahkan bisa habis sehingga badan air menjadi anaerob (Polprasert, 1989). Jika fenomena ini terjadi pada seluruh bagian badan air maka fauna air akan mati masal karena tidak bisa menghindar; namun jika hanya terjadi di bagian bawah badan air maka fauna air, termasuk ikan masih bisa menghindar ke permukaan hingga terhindar dari kematian. Secara alamiah kejadian anaerob di semua lapisan badan air memang sangat sulit terjadi karena bagian atas air selalu berhubungan dengan udara bebas yang selalu mensupplainya, namun demikian kalau sebagian badan air anaerob sangatlan sering; misal di teluk-teluk waduk dan pantai yang relatip menggenang sering muncul gelembung-gelembung gas yang mengisaratkan bahwa bagian air yang anaerob dekat dengan permukaan air.

Telah diuraikan bahwa pada badan air yang anaerob dekomposisi bahan organik menghasilkan gas-gas, seperti H2S, metan dan amoniak yang bersifat racun bagi fauna seperti ikan dan udang-udangan. Seperti penurunan oksigen terlarut; senyawa-senyawa beracun inipun dalam konsentrasi tertentu akan dapat membunuh fauna air yang ada.

Selain menyebabkan penurunan konsentrasi oksigen terlarut dan menghasilkan senyawa beracun yang selalu merugikan dan dapat menyebabkan kematian fauna; dekomposisi juga dapat menghasilkan kondisi perairan yang cocok bagi kehidupan mikroba fatogen yang terdiri dari mikroba, virus dan protozoa (Polprasert, 1989), yang setelah berkembang-biak, setiap saat dapat menyerang dan menjadi penyakit yang mematikan ikan, udang dan fauna lainnya

Dampak Tidak Langsung (Eutrofikasi)

Selain menurunkan konsentrasi oksigen terlarut, menghasilkan senyawa beracun dan menjadi tempat hidup mikroba fatogen yang menyengsarakan fauna air; dekomposisi juga menghasilkan senyawa nutrien (nitrogen dan fosfor) yang menyuburkan perairan. Nutrien merupakan unsur kimia yang diperlukan alga (fitoplankton) untuk hidup dan pertumbuhannya (Hutchinson, 1944; Margalef, 1958 dan Frost, 1980). Sampai pada tingkat konsentrasi tertentu, peningkatan konsentrasi nutrien dalam badan air akan meningkatkan produktivitas perairan (Garno, 1995); karena nutrien yang larut dalam badan air langsung dimanfaatkan oleh fitoplankton (reaksi no 5) untuk pertumbuhannya sehingga populasi dan kelimpahannya meningkat (Garno, 1992). Peningkatan kelimpahan fitoplankton akan diikuti dengan peningkatan kelimpahan zooplankton, yang makanan utamanya adalah fitoplankton (Garno, 1998). Akhirnya karena fitoplankton dan zooplankton adalah makanan utama ikan; maka kenaikan kelimpahan keduanya akan menaikan kelimpahan (produksi) ikan dalam badan air tersebut.

Sangat disayangkan bahwa jika peningkatan nutrien terus berlanjut maka dampak positif seperti itu hanya bersifat sementara bahkan akan terjadi proses yang berdampak negatif bagi kualitas badan air (Anonim, 2001). Peningkatan konsentrasi nutrien yang berkelanjutan dalam badan air, apalagi dalam jumlah yang cukup besar akan menyebabkan badan air menjadi sangat subur atau eutrofik (Henderson, 1987). Proses peningkatan kesuburan air yang berlebihan yang disebabkan oleh masuknya nutrien dalam badan air, terutama fosfat inilah yang disebut eutrofikasi (Anonim, 2001).

Sesungguhnya eutrofikasi adalah sebuah proses alamiah yang terjadi dengan pelahan-lahan dan memakan waktu berabad-abad bahkan ribuan tahun; di mana badan air yang relatif tergenang seperti danau dan pantai tertutup mengalami perubahan produktifitas secara bertahap. Namun demikian, sejalan dengan peningkatan populasi manusia yang diikuti dengan peningkatan jumlah limbah yang dihasilkannya, maka tanpa disadari fenomena ini telah dipercepat menjadi dalam hitungan beberapa dekade seperti yang umum terjadi pada berbagai danau dan pantai (Goldman dan Horne,1983); bahkan beberapa tahun saja seperti eutrofikasi yang terjadi pada perairan waduk kaskade Citarum (Garno, 2001a) dan beberapa minggu seperti eutrofikasi yang terjadi pada perairan tambak (Garno, 2001b). Fenomena tersebut menunjukkan bahwa eutrofikasi memang telah menjadi masalah perairan umum di seluruh di dunia..

Publikasi yang ada menyatakan bahwa kandungan fosfor > 0,010 mgP·l-1 dan nitrogen > 0,300 mgN·l-1 dalam badan air akan merangsang fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang-biak dengan pesat (Henderson dan Markland, 1987), sehingga terjadi blooming sebagai hasil fotosintesa yang maksimal dan menyebabkan peningkatan biomasa perairan tersebut (Garno, 1992). Sehubungan dengan peningkatan konsentrasi nutrien dalam badan air, setiap jenis fitoplankton mempunyai kemampuan yang berbeda dalam memanfaatkannya sehingga kecepatan tumbuh setiap jenis fitoplankton berbeda (Henderson dan Markland 1987; Margalef, 1958;. Selain itu setiap jenis fitoplankton juga mempunyai respon yang berbeda terhadap perbandingan jenis nutrien yang terlarut dalam badan air (Kilham dan Kilham, 1978). Fenomena ini menyebabkan komunitas fitoplankton dalam suatu badan air mempunyai struktur dan dominasi jenis yang berbeda dengan badan air lainnya (Hutchinson, 1944; Margalef., 1958 Reynolds, 1989).

Perbedaan struktur dan dominasi jenis fitoplankton tersebut diatas juga dipengaruhi oleh karakteristik fitoplankton dan zooplankton yang ada. Diketahui beberapa jenis fitoplankton tidak dapat dimakan oleh zooplankton karena bentuk morpologi, fisiologi (Horn, 1981; Garno, 1993; Geller, 1975, Downing dan Petter, 1980) komposisi fitoplankton; dan mekanisme makan zooplankton (DeMott, 1982; Frost, 1980; James &. Forsynth 1990) serta faktor abiotik lainnya. Selanjutnya dalam kondisi persediaan makanan (fitoplankton) banyak dan beragam; zooplankton melakukan pemilihan terhadap jenis, bentuk dan ukuran fitoplankton yang hendak dimakan atau selective feeding (Garno, 1993).

Interaksi kompleks antara nutrien, fitoplankton dan zooplankton tersebut menyebabkan badan air yang mengalami eutrofikasi pada akhirnya akan didominasi oleh sejenis fitoplankton tertentu yang pada umumnya tidak bisa dimakan oleh fauna air terutama zooplankton dan ikan; termasuk karena beracun. Sebagai contoh yang nyata dari fenomena ini adalah dominasi Mycrocistis sp di waduk-waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur (Garno, 2001, 2002, 2003); dan dominasi Pyrodinium bahamense, lexandrium spp. dan Gymnodinium spp. di perairan pantai/pesisir waktu terjadi “red-tide

Selain merugikan dan mengancam keberlanjutan fauna akibat dominasi fito-plankton yang tidak dapat dimakan dan beracun; blooming yang menghasilkan biomasa (organik) tinggi juga merugikan fauna; karena fenomena blooming selalu diikuti dengan penurunan oksigen terlarut secara drastis akibat pe-manfaatan oksigen yang ber lebihan untuk de-komposisi biomasa (organik) yang mati. Seperti pada analisis dampak langsung tersebut diatas maka rendahnya konsentrasi oksigen terlarut apalagi jika sampai batas nol akan menyebabkan ikan dan fauna lainnya tidak bisa hidup dengan baik dan mati. Selain menekan oksigen terlarut proses dekomposisi tersebut juga menghasilkan gas beracun seperti NH3 dan H2S yang pada konsentrasi tertentu dapat membahayakan fauna air, termasuk ikan.

Selain badan air didominasi oleh fitoplankton yang tidak ramah lingkungan seperti tersebut diatas, eutrofikasi juga merangsang pertumbuhan tanaman air lainnya, baik yang hidup di tepian (eceng gondok) maupun dalam badan air (hydrilla). Oleh karena itulah maka di rawa-rawa dan danau-danau yang telah mengalami eutrofikasi tepiannya ditumbuhi dengan subur oleh tanaman air seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes), Hydrilla dan rumput air lainnya.

Akhirnya, yang harus dimengerti dan disadari adalah bahwa karena Indonesia merupakan negara tropis yang mendapatkan cahaya Matahari sepanjang tahun; maka blooming (dalam arti biomasa alga tinggi) dapat terjadi sepanjang tahun. Artinya kapan saja (asal tidak mendung/hujan) dan dari manapun asalnya kalau konsentrasi nutrien dalam badan air meningkat maka akan meningkat pula aktifitas fotosintesa fitoplankton yang ada; dan jika peningkatan nutrien cukup besar alau lama akan terjadi blooming. Fenomena itulah yang menyebabkan badan-badan air (waduk, danau dan pantai) di Indonesia yang telah menjadi hijau warnanya tidak pernah atau jarang sekali menjadi jernih kembali; tidak seperti di negeri 4 musim seperti Kanada dan Jepang yang blooming hanya terjadi di akhir musim semi dan panas.

 

By : dhani

Game theory sebenarnya adalah cabang matematika terapan yang sering dipakai dalam konteks ekonomi. Teori ini mempelajari interaksi strategis antar pemain (“agen”). Dalam permainan strategis, suatu agen memilih strategi yang dapat memaksimalkan keuntungan, berdasarkan strategi yang dipilih agen lain. Intinya, teori ini menyediakan pendekatan permodelan formal terhadap situasi sosial mengenai bagaimana pelaku keputusan berinteraksi dengan agen lain.

Game theory dapat menjelaskan suatu paradoks yang cukup terkenal, yakni bagaimana orang bisa bekerjasama dalam masyarakat apabila masing-masing dari mereka cenderung berusaha untuk menjadi pemenang. Asal tahu saja, paradoks ini sempat menyusahkan Charles Darwin saat menyusun teori evolusinya itu. (Dan dengan demikian mematahkan satu lagi argumen bahwa teori evolusi tidak dapat dibuktikan secara matematis).

Para ekonom dibikin kagum dengan game theory karena teori ini dapat menjelaskan secara matematis mengapa tangan yang tak terlihat (invisible hand) yang diajukan oleh pelopor pasar bebas Adam Smith, bisa gagal memberikan kemaslahatan umum. John Nash, matematikawan yang juga dikenal sebagai salah seorang pelopor game theory menunjukkan perbedaan antara permainan kooperatif, dimana masing-masing pemain saling bekerjasama secara terikat, dan permainan non-kooperatif, dimana tidak ada kekuatan dari luar permainan yang dapat memaksakan berlakunya sekumpulan peraturan yang sudah ditentukan sebelumnya.

Dalam permainan non-kooperatif, Nash menemukan bahwa jika harapan semua pemain terpenuhi, mereka tidak akan mau mengubah strategi karena mereka akan rugi sendiri. Hasilnya adalah suatu kesetimbangan (equilibrium), yang sekarang disebut sebagai Kesetimbangan Nash. Walaupun pernah frustrasi sampai sakit jiwa akibat gagal memperoleh medali Field (penghargaan prestisius untuk bidang Matematika), tapi Nash akhirnya berhasil meraih Nobel Ekonomi berkat teorinya ini.

Karya ini bisa menerangi keputusan-keputusan bisnis dalam pasar yang penuh persaingan, teori makroekonomi untuk kebijakan ekonomi, ekonomi lingkungan dan sumberdaya, teori perdagangan luar negeri, ekonomi informasi, dan seterusnya. Para politisi juga pasti menyukai teori ini karena bisa menunjukkan bagaimana kepentingan pribadi yang “rasional” bisa merugikan semua orang. Pada 1970-an, game theory diperluas hingga mencakup bidang biologi. Sekarang kita lihat, bagaimana game theory berperan dalam teori evolusi.

Untuk itu, kita perlu berkenalan dulu dengan yang namanya dilema narapidana (prisoner’s dilemma). Ini adalah istilah untuk menggambarkan interaksi, entah antara individu-individu atau kelompok-kelompok dalam bentuk suatu permainan sederhana. Gagasan permainannya adalah untuk menirukan konflik-konflik yang ada dalam dunia nyata, antara pandangan pemenang memperoleh segalanya, dan perlunya kerjasama dan kompromi untuk memperoleh semuanya itu.

Berikut adalah skenario dasar dari dilema narapidana. Dua narapidana (napi) diketahui telah melakukan jenis kejahatan X. Tetapi, polisi menduga mereka telah melakukan suatu jenis kejahatan Y yang lebih serius. Kedua napi lantas ditempatkan dalam sel terpisah dan masing-masing diberikan tawaran:

  • Napi yang bersaksi melawan napi yang lainnya terkait dengan kejahatan Y akan dibebaskan, sementara napi lainnya akan dipenjara selama 3 tahun. Ini disebut ”sucker’s payoff” (entah apa terjemahannya dalam bahasa Indonesia).
  • Apabila keduanya menyangkal, atau saling bersaksi terhadap yang lainnya, maka keduanya akan mendapat hukuman 2 tahun penjara.
  • Apabila keduanya bungkam, maka masing-masing akan menjalani hukuman 1 tahun penjara.

Disini, kedua napi pada dasarnya mendapat dua pilihan: untuk bekerjasama (dalam skenario ini, tetap diam) atau untuk berkhianat. Bekerjasama artinya bahwa napi bersangkutan bisa jadi mendekam di penjara selama 1 atau 3 tahun. Tapi apabila berkhianat, maka ia dapat menjalani hukuman 0 atau 2 tahun, tergantung pengakuan napi lainnya.

Karena masing-masing napi tidak tahu pilihan apa yang diambil napi lainnya (keduanya berada dalam sel terpisah dan tidak dapat berkomunikasi satu sama lain), pilihan yang rasional, menurut aturan bertahan hidup ala Darwin adalah pilihan yang paling menguntungkan (ingat kaidah survival of the fittest). Dalam hal ini adalah memaksimalkan kemungkinan terbaik (nol tahun di penjara) dan meminimalisir kemungkinan terburuk (2 atau 3 tahun di penjara).

Tahun 1980-an, sebuah kompetisi pemrograman komputer diadakan untuk mencari solusi terbaik untuk dilema narapidana. Hasilnya, sebuah program simulasi yang dinamai Tit-for-tat keluar sebagai pemenang. Seperti yang ditunjukkan oleh namanya (yang secara harafiah berarti satu pukulan dibalas satu pukulan), program ini memilih bekerjasama pada putaran pertama, dan kemudian menirukan apapun yang dilakukan lawan pada putaran-putaran selanjutnya.

Dalam kasus ini, saling bekerjasama membawa hasil positif, sementara si pengkhianat kelak akan memperoleh balasannya (apabila Anda mengkhianati saya, pada putaran berikut Anda juga akan saya khianati). Sebaliknya, kalau kita bekerjasama, tidak perduli apapun yang dilakukan orang lain, akibatnya adalah “suckers payoff.” Orang lain tidak punya insentif untuk bekerjasama dengan kita, dan akibatnya kita akan selalu menjadi pecundang.

Tapi, itu kan dalam simulasi. Dalam dunia nyata, si baik bisa saja merugi, dan si pengkhiat bisa beruntung, dan kadang-kadang memang demikian yang terjadi. Kemunculan kerjasama dapat dipicu manakala salahsatu diantara kondisi-kondisi berikut ini ada: para ‘pemain’ berkali-kali saling bertemu; mereka saling mengenal; mereka mengingat hasil pertemuan terdahulu. Tapi ada juga faktor-faktor lain yang juga perlu diperhitungkan, mulai dari peluang terjadinya pertemuan antar pemain, kesalahan-kesalahan (ketika ajakan untuk bekerjasama justeru dianggap sebagai pengkhianatan), hingga kemungkinan adanya faktor genetis pembentuk perilaku yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan demikian, tit-for tat mungkin terlalu ideal sehingga sulit diterapkan di dunia nyata.

Solusinya adalah dengan menambahkan unsur kesalahan, yang mungkin hanya disebabkan kecenderungan manusiawi untuk berbuat kesalahan. Tit-for-tat bukanlah strategi paling hebat, karena tidak punya sifat pemaaf: sekali dua pemain tit-for-tat mulai saling berkhianat, mereka akan terus melakukan itu. Dengan menambahkan sedikit unsur ketidakpastian, masing-masing pemain dapat mengembangkan strategi baru. Penambahan sedikit unsur keacakan pada perilaku program memungkinkan munculnya “sifat pemaaf”, dan kesempatan untuk menguji perilaku pemain lain.

Satu strategi yang menggunakan sifat pemaaf adalah “tit-for-tat baik hati” (generous tit-for-tat), dimana ditambahkan unsur keacakan untuk memutuskan lingkaran setan saling mengkhianati. Strategi lain yang yang lebih sukses, diberi nama Pavlov, dapat digambarkan dengan ungkapan “Kalau tidak rusak, tak usah diperbaiki (dan jika Anda kalah, ganti strategi).” Bagaimanapun juga, ketidak pastian ternyata memungkinkan kerjasama, dan pesan optimistik dalam model tit-for-tat tetap berlaku.

Pendeknya, apa yang ditunjukkan oleh dilema narapidana juga dapat terjadi dalam tataran pribadi maupun evolusioner: Kalau saya bekerjasama dengan Anda, maka Anda kemungkinan besar juga akan bekerjasama dengan saya (strategi tit-for-tat) dan kita akan memperoleh skor yang sama dalam “permainan kehidupan”. Sebaliknya, apabila kita saling mengkhianati, maka kita berdua sama-sama kalah dan akhirnya “game over”.

Adopted from www.blog.dhani.org

 

 

Bahan berbahaya adalah bahan kimia baik dalam bentuk tunggal maupun campuran yang dapat membahayakan kesehatan dan lingkungan hidup secara langsung atau tidak langsung yang mempunyai sifat racun, karsinogenik, teratogenik, mutagenik, korosif dan iritasi

(Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 472/ Menkes/ Per/ V/ 1996 tentang Pengamanan Bahan Berbahaya BagiKesehatan).

Sesungguhnya bahan kimia bersifat esensial dalam peningkatan kesejahteraan manusia, dan penggunaannya sedemikian luas di berbagai sektor antara lain industri, pertanian, pertambangan dan lain sebagainya. Singkatnya, bahan kimia dengan adanya aneka produk yang berasal dari padanya telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun hal yang perlu kita waspadai adalah adanya kecenderungan penggunaan yang salah(misuse) sejumlah bahan (kimia) berbahaya pada pangan. Bahan kimia berbahaya yang sering disalah gunakan pada pangan antara lain boraks, formalin, rhodamin B, dan kuning metanil. Keempat bahan kimia tersebut dilarang digunakan untuk pangan, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Di bawah ini diketengahkan sejumlah tujuan peruntukan dari senyawa-senyawa tersebut.

  • Boraks digunakan untuk mematri logam; pembuatan gelas dan enamel; anti jamur kayu; pembasmi kecoa; antiseptik; obat untuk kulit dalam bentuk salep; campuran pembersih.
  • Formalin digunakan untuk pembunuh kuman sehingga banyak dimanfaatkan sebagai pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian; pembasmi lalat dan berbagai serangga lain; bahan untuk pembuatan sutra buatan, zat pewarna, pembuatan gelas dan bahan peledak; dalam dunia fotografi biasanya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas; bahan untuk pengawet mayat; bahan pembuatan pupuk lepas lambat (slow- release fertilizer) dalam bentuk urea formaldehid; bahan untuk pembuatan parfum; bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku; pencegah korosi untuk sumur minyak; bahan untuk insulasi busa; bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood); dalam konsentrasi yang sangat kecil (< 1%) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai produk konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan pembersih karpet.
  • Rhodamin B digunakan sebagai zat warna untuk kertas, tekstil (sutra, wool, kapas), sabun, kayu dan kulit; sebagai reagensia di laboratorium untuk pengujian antimon, kobal, niobium, emas, mangan, air raksa, tantalum, talium dan tungsten; untuk pewarna biologik.
  • Kuning metanil selain digunakan sebagai pewarna tekstil dan cat; juga digunakan sebagai indikator reaksi netralisasi (asam-basa).


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 722/ Menkes/ Per/ IX/ 1988 tentang Bahan Tambahan Makanan, bahan yang dilarang digunakan pada pangan meliputi boraks/ asam borat, asam salisilat dan garamnya, dietilpirokarbonat, dulsin, kalium klorat, kloramfenikol, minyak nabati yang dibrominasi, nitrofuranazon, serta formalin. Disamping itu, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 239/ Menkes/ Per/ V/ 1985 tentang Zat Warna Tertentu yang dinyatakan Sebagai BahanBerbahaya, memuat sebanyak 30 zat warna yang dilarang digunakan untuk pangan termasuk rhodamin B dan kuning metanil. Pelarangan tersebut tentunya berkaitan dengan dampaknya yang merugikan kesehatan manusia.

Potensi risiko yang dapat ditimbulkan dari masing-masing keempat bahan berbahaya tersebut adalah sebagai berikut:

  • Boraks beracun terhadap semua sel. Bila tertelan senyawa ini dapat menyebabkan efek negatif pada susunan syaraf pusat, ginjal dan hati. Ginjal merupakan organ yang paling mengalami kerusakan dibandingkan dengan organ lain. Dosis fatal untuk dewasa berkisar antara 15-20 g dan untuk anak-anak 3-6 g. Bila tertelan, dapat menimbulkan gejala-gejala yang tertunda meliputi badan terasa tidak nyaman (malaise), mual, nyeri hebat pada perut bagian atas (epigastrik), pendarahan gastroenteritis disertai muntah darah, diare, lemah, mengantuk, demam, dan rasa sakit kepala.
  • Formalin (larutan formaldehid), paparan formaldehid melalui saluran pencernaan dapat mengakibatkan luka korosif terhadap selaput lendir saluran pencernaan disertai mual, muntah, rasa perih yang hebat dan perforasi lambung. Efek sistemik dapat berupa depresi susunan syaraf pusat, koma, kejang, albuminaria, terdapatnya sel darah merah di urine (hematuria) dan asidosis metabolik. Dosis fatal formalin melalui saluran pencernaan pernah dilaporkan sebesar 30 ml. Formaldehid dapat mematikan sisi aktif dari protein- protein vital dalam tubuh, maka molekul-molekul itu akan kehilangan fungsi dalam metabolisme. Akibatnya fungsi sel akan terhenti.

Pada dasarnya, formaldehid dalam jaringan tubuh sebagian besar akan dimetabolisir kurang dari 2 menit oleh enzim formaldehid dehidrogenase menjadi asam format yang kemudian diekskresikan tubuh melalui urin dan sebagian dirubah menjadi CO2 yang dibuang melalui nafas. Fraksi formaldehid yang tidak mengalami metabolisme akan terikat secara stabil dengan makromolekul seluler protein DNA yang dapat berupa ikatan silang(cross-linked). Ikatan silang formaldehid dengan DNA dan protein ini diduga bertanggungjawab atas terjadinya kekacauan informasi genetik dan konsekuensi lebih lanjut seperti terjadi mutasi genetik dan sel kanker. Bila gen-gen rusak itu diwariskan, maka akan terlahir generasi dengan cacat gen. Dalam pada itu, International Agency Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikannya sebagai karsinogenik golongan 1 (cukup bukti sebagai karsinogen pada manusia), khususnya pada saluran pernafasan.

  • Rhodamin B bisa menumpuk di lemak sehingga lama-kelamaan jumlahnya akan terus bertambah. Rhodamin B diserap lebih banyak pada saluran pencernaan dan menunjukkan ikatan protein yang kuat. Kerusakan pada hati tikus terjadi akibat makanan yang mengandung rhodamin B dalam konsentrasi tinggi. Paparan rhodamin B dalam waktu yang lama dapat menyebabkan gangguan fungsi hati dan kanker hati.
  • Kuning metanil dapat menyebabkan mual, muntah, sakit perut, diare, panas, rasa tidak enak dan tekanan darah rendah. Pada jangka panjang dapat menyebabkan kanker kandung kemih.

Meskipun bahan kimia tersebut telah dilarang penggunaannya untuk pangan, namun potensi penggunaan yang salah (misuse) hingga saat ini bukan tidak mungkin.

Terdapat berbagai faktor yang mendorong banyak pihak untuk melakukan praktek penggunaan yang salah bahan kimia terlarang untuk pangan. Pertama, bahan kimia tersebut mudah diperoleh di pasaran. Kedua, harganya relatif murah. Ketiga, pangan yang mengandung bahan tersebut menampakkan tampilan fisik yang memikat. Keempat, tidak menimbulkan efek negatif seketika. Kelima, informasi bahan berbahaya tersebut relatif terbatas, dan pola penggunaannya telah dipraktekkan secara turun-temurun. Oleh karena itulah kita sebagai konsumen hendaknya perla berhati-hati dalam memilih produk pangan antara lain dengan mengenal ciri-ciri produk pangan yang mengandung bahan terlarang. Misalnya, tahu yang mengandung formalin mempunyai bentuk fisik yang terlampau keras, kenyal namun tidak padat, bau agak menyengat (bau formalin), tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar (25o C) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10o C).

Tentu upaya lain dapat ditempuh dalam hal sulit untuk menentukan ciri-ciri fisik produk pangan yang mengandung bahan kimia yang terlarang. Misalnya, membeli dari toko/ pasar swalayan yang bereputasi baik atau mengecek apakah produk dimaksud telah terdaftar . Disamping itu, masyarakat dapat mencari informasi tentang bahan berbahaya dari berbagai sumber yang tersedia antara lain: melalui media elektronik (TV, radio, internet), media cetak ( koran, leaflet, booklet, poster) atau komunikasi langsung melalui penyuluhan, seminar dan lain sebagainya. Dengan demikian, secara perlahan diharapkan terjadi perubahan perilaku dari mereka yang tidak tahu menjadi tahu dan dapat menggugah kesadaran mereka sehingga mau dan mampu untuk melakukan pengamanan paling tidak untuk lingkungan keluarganya sendiri. Pada gilirannya akan terbentuk suatu budaya yang menonjolkan perilaku kehidupan yang aman (safety culture) di tengah masyarakat.

Pemerintah dalam hal ini Badan POM bersama jajarannya yaitu Balai Besar POM/ Balai POM secara rutin melakukan pengawasan dan pengamanan termasuk melakukan sampling terhadap sejumlah sampel yang diduga mengandung bahan berbahaya antara lain: tahu, mie basah, kerupuk, ikan asin dan sebagainya untuk dilakukan uji laboratorium terhadap produk- produk tersebut, serta melakukan tindakan pengamanan yang sesuai.

Dalam rangka meminimalisir praktek penggunaan bahan kimia yang salah dalam pangan maka Badan Pengawas Obat dan Makanan tidak dapat melakukannya sendiri. Terdapat sejumlah aspek yang bukan merupakan kewenangan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan. Salah satu diantaranya adalah pengaturan di bidang tata niaga dan distribusi bahan berbahaya yang merupakan kompetensi dari Departemen Perdagangan.

Baru-baru ini Departemen Perdagangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan RI No. 04/M-Dag /Per/2/2006 tentang Distribusi dan Pengawasan Bahan Berbahaya, yang diamandemen dengan Peraturan Menteri Perdagangan No.8/M-DAG/PER/6/2006. Peraturan ini ditetapkan dengan maksud agar kasus penggunaan yang salah (misuse) bahan berbahaya pada pangan dapat dicegah atau paling tidak dikurangi dengan cara mengendalikan pasokan bahan berbahaya tersebut melalui mekanisme distribusi yang jelas. Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa yang boleh memproduksi bahan berbahaya di dalam negeri adalah perusahaan yang sudah memiliki izin sebagai Produsen Bahan Berbahaya (PB2) dan PB2 hanya boleh menyalurkan bahan berbahaya kepada Pengguna Akhir Bahan Berbahaya (PAB2) atau melalui Distributor Terdaftar Bahan Berbahaya (DTB2). Selanjutnya, bahan berbahaya boleh diimpor oleh Importir Terdaftar Bahan Berbahaya (ITB2) yang berhak mendistribusikan secara langsung kepada PAB2. Importasi bahan berbahaya juga boleh dilakukan oleh Importir Produsen Bahan Berbahaya (IPB2) untuk kepentingan produksinya sendiri. DTB2 hanya boleh menyalurkan bahan berbahaya kepada PAB2 dan Pengecer terdaftar Bahan Berbahaya (PTB2) dan PTB2 hanya boleh menyalurkan bahan berbahaya kepada PAB2. Surat izin Usaha Perdagangan Bahan Berbahaya untuk DTB2 dan PTB2 dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Departemen Perdagangan dan gubernur di propinsi PTB2 tersebut berada. Pembinaan dan pengawasan terhadap IPB2, ITB2, DTB2, PTB2 dilakukan oleh Departemen Perdagangan berkoordinasi dengan departemen/ instansi yang terkait. Pada peraturan menteri tersebut, diatur 54 jenis (terlampir) bahan berbahaya yang dilarang penggunaannya dalam pangan.

 

DAFTAR JENIS BAHAN BERBAHAYA

NO

NAMA BAHAN

NOMOR CAS *)

KEMASAN TERKECIL DISTRIBUTOR DAN PENGECER

KEPERLUAN LAIN DILUAR PANGAN

LABORATORIUM / PENELITIAN

1.

Alkannin

23444-65-7

1 kg

25 g

2.

Asam Borat

10043-35-3

1 kg

25 g

3.

Asam Monokloroasetat

79 – 11 – 8

1 l

25 ml

4.

Asam Nordihidroguaiaretat

500-38-9

1 kg

25 g

5.

Asam Salisilat

69-72-7

1 kg

2,5 g

6.

Auramin

2465-27-2

1 kg

10 g

7.

Amaran

915-67-3

1 kg

10 g

8.

Besi (III) oksida

1309-37-1

1 kg

10 g

9.

Bismut Oksiklorida

7787-59-9

1 kg

25 g

10.

Boraks

1303-96-4

5 kg

25 g

11.

Coklat FB

12236-46-3

1 kg

25 g

12.

Dietil Pirokarbonat

1609-47-8

1 kg

25 g

13.

Dulsin

150-69-6

1 kg

5 g

14.

Formaldehid larutan

50-00-0

10 l

25 ml

15.

Hijau Amasid G

5141-20-8

1 kg

25 g

16.

Indantren Biru R

81-77-6

1 kg

10 g

17.

Kalkozin Magenta N

569-61-9

1 kg

25 g

18.

Kalium Borat

7758-01-2

1 kg

50 g

19.

Kalium Klorat

3811-04-9

1 kg

5 g

20.

Kobalt Asetat

71-48-7

1 kg

5 g

21.

 

Kobalt Klorid

 

7646-79-9

 

1 kg

 

5 g

 

22.

 

Kobalt Sulfat

 

10124-43-3

 

1 kg

 

5 g

 

23.

 

Krisoidin

 

532-82-1

 

1 kg

 

50 g

 

24.

 

Krisoin S

 

547-57-9

 

1 kg

 

10 g

 

25.

 

Kumarin

 

91-64 – 5

 

1 kg

 

5 g

 

26.

 

Kuning Anilin

 

2706-28-7

 

1 kg

 

10 g

 

27.

 

Kuning Mentega

 

60-11-7

 

1 kg

 

10 g

 

28.

 

Kuning Metanil

 

587-98-4

 

1 kg

 

25 g

 

29.

 

Kuning AB

 

85-84-7

 

1 kg

 

10 g

 

30.

 

Kuning OB

 

131-79-3

 

1 kg

 

10 g

 

31.

 

Magenta I

 

632-99-5

 

1 kg

 

25 g

 

32.

 

Magenta II

 

26261-57-4

 

1 kg

 

25 g

 

33.

 

Magenta III

 

3248-91-7

 

1 kg

 

25 g

 

34.

 

Merah Sitrus No.2

 

6358-53-8

 

1 kg

 

25 g

 

35.

 

Minyak Oranye SS

 

2646-17-5

 

1 kg

 

25 g

 

36.

 

Minyak Oranye XO

 

3118-97-6

 

1 kg

 

25 g

 

37.

 

Nitrobenzen

 

98-95-3

 

1 l

 

25 ml

 

38.

 

Nitrofurazon

 

59-87-0

 

1 kg

 

5 g

 

39.

 

Natrium Salisilat

 

54-21-7

 

1 kg

 

5 g

 

40.

 

Oranye G

 

1936-15-8

 

1 kg

 

25 g

 

41.

 

Oranye GGN

 

523-44-4

 

1 kg

 

25 g

 

42.

 

Orcein

 

1400-62-0

 

1 kg

 

5 g

 

43.

 

P 400

 

553 – 79 – 7

 

1 kg

 

5 g

 

44.

 

Paraformaldehid

 

30525-89-4

 

1 kg/ 1 fl (100 tab)

 

5 g

 

45.

 

Ponceau 3R

 

3564-09-08

 

1 kg

 

5 g

 

46.

 

Ponceau 6R

 

5850-44-2

 

1 kg

 

5 g

 

47.

 

Ponceau SX

 

4548-53-2

 

1 kg

 

10 g

 

48.

 

Rhodamin B

 

81-88-9

 

1 kg

 

1 g

 

49.

 

Sinamil Antranilat

 

87-29-6

 

1 kg

 

10 g

 

50.

 

Skarlet GN

 

3257-28-1

 

1 kg

 

10 g

 

51.

 

Sudan 1

 

842-07-9

 

1 kg

 

25 g

 

52.

 

Tiourea

 

62 – 56 – 6

 

1 kg

 

25 g

 

53.

 

Trioksan

 

110-88-3

 

1 kg

 

25 g

 

54.

 

Violet 6B

 

1694-09-3

 

1 kg

 

10 g

 

Dr. Ir. Anton Apriyantono

Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta, Institut Pertanian Bogor.

 

PENDAHULUAN

Terlepas dari pro dan kontra diharamkannya MSG Ajinomoto oleh MUI baru-baru ini, kejadian tersebut seharusnya membangunkan kita dari tidur panjang selama ini, betapa banyak permasalahan yang dihadapi umat Islam dalam masalah kehalalan produk-produk pangan. Oleh karena itu, ilmuwan diharapkan ikut berperan dalam menyelesaikan permasalahan ini demi kepentingan umat. Agaknya perkembangan teknologi yang sedemikian pesat belum sejalan dengan perkembangan pemahaman hukum Islam dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ijtihad dalam masalah kehalalan produk pangan ini sangat dibutuhkan untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi umat Islam dalam masalah ini.

Di satu sisi, para ahli syariah Islam mungkin belum seluruhnya menyadari betapa kompleksnya produk pangan dewasa ini dimana asal usul bahan bisa melalui jalur yang berliku-liku, banyak jalur, bahkan dalam beberapa kasus, sulit ditentukan asal bahannya. Dengan demikian, penentuan kehalalan suatu produk menjadi tidak mudah, memerlukan peran ilmuwan untuk menelusuri asal usul bahan dan proses pembuatannya. Di sisi lain, pemahaman para ilmuwan terhadap syariah Islam, ushul fiqih dan metodologi penentuan halam haramnya suatu bahan pangan dari sisi syariah, relatif minimal. Akibatnya, sering terjadi perbedaan pandangan dalam menentukan kehalalan produk pangan. Dengan demikian seharusnya para ilmuwan muslim menggali kembali pengetahuan syariahnya, sehingga mampu mengamalkannya dalam kegiatan sehari-hari. Disamping itu, pengetahuan tersebut akan membantu ilmuwan untuk bersama-sama ulama menentukan status kehalalan produk-produk pangan.

Dalam makalah ini akan dicoba dibahas hukum-hukum syariah yang berhubungan kehalalan makanan dan minuman serta implikasinya dalam penentuan kehalalan produk pangan hasil bioteknologi. Tentu saja pembahasan disini lebih menekankan pada kajian berdasarkan sumber utama yaitu Al-Quran dan hadis, kemudian didukung oleh hasil ijma ulama dan pendapat-pendapat para ulama. Selain itu, pembahasan hanya secara garis besar saja, kecuali beberapa hal yang dianggap kritis. Selanjutnya akan dicoba membahas secara umum bagaimana implikasi hukum-hukum tersebut pada produk pangan hasil bioteknologi.

BAHAN PANGAN YANG DIHARAMKAN

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadanya (Al-Maaidah: 88).

Ayat tersebut diatas jelas-jelas telah menyuruh kita hanya memakan makanan yang halal dan baik saja, dua kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, yang dapat diartikan halal dari segi syariah dan baik dari segi kesehatan, gizi, estetika dan lainnya.

Sesuai dengan kaidah ushul fiqih, segala sesuatu yang Allah tidak melarangnya berarti halal. Dengan demikian semua makanan dan minuman diluar yang diharamkan adalah halal. Oleh karena itu, sebenarnya sangatlah sedikit makanan dan minuman yang diharamkan tersebut. Walaupun demikian, pada zaman dimana teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari manusia, maka permasalahan makanan dan minuman halal menjadi relatif kompleks, apalagi yang menyangkut produk-produk bioteknologi.

Makanan yang Diharamkan

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut nama selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang (Al-Baqarah:173).

Dari ayat diatas jelaslah bahwa makanan yang diharamkan pada pokoknya ada empat:

  1. Bangkai: yang termasuk kedalam kategori bangkai ialah hewan yang mati dengan tidak disembelih, termasuk kedalamnya hewan yang matinya tercekik, dipukul, jatuh, ditanduk dan diterkam oleh hewan buas, kecuali yang sempat kita menyembelihnya (Al-Maaidah:3). Bangkai yang boleh dimakan berdasarkan hadis yaitu bangkai ikan dan belalang (Hamka, 1982).
  2. Darah, sering pula diistilahkan dengan darah yang mengalir (Al-Anam:145), yang dimaksud adalah segala macam darah termasuk yang keluar pada waktu penyembelihan (mengalir), sedangkan darah yang tersisa setelah penyembelihan yang ada pada daging setelah dibersihkan dibolehkan (Sabiq, 1987). Dua macam darah yang dibolehkan yaitu jantung dan limpa, kebolehannya didasarkan pada hadis (Hamka, 1982).
  3. Daging babi. Kebanyakan ulama sepakat menyatakan bahwa semua bagian babi yang dapat dimakan haram, sehingga baik dagingnya, lemaknya, tulangnya, termasuk produk-produk yang mengandung bahan tersebut, termasuk semua bahan yang dibuat dengan menggunakan bahan-bahan tersebut sebagai salah satu bahan bakunya. Hal ini misalnya tersirat dalam Keputusan Fatwa MUI bulan September 1994 tentang keharaman memanfaatkan babi dan seluruh unsur-unsurnya (Majelis Ulama Indonesia, 2000).
  4. Binatang yang ketika disembelih disebut nama selain Allah. Menurut Hamka (1984), ini berarti juga binatang yang disembelih untuk yang selain Allah (penulis mengartikan diantaranya semua makanan dan minuman yang ditujukan untuk sesajian). Tentu saja semua bagian bahan yang dapat dimakan dan produk turunan dari bahan ini juga haram untuk dijadikan bahan pangan seperti berlaku pada bangkai dan babi.

Masalah pembacaan basmalah pada waktu pemotongan hewan adalah masalah khilafiyah (Hamka, 1982), ada yang mengharuskan membacanya, ada yang hanya menyunahkan saja (Hassan, 1985). Yang mengharuskan membacanya berpegang pada surat Al-An’am ayat 121: dan janganlah kamu memakan binatang yang tidak disebut nama Allah (ketika menyembelihnya), sesungguhnya hal itu suatu kefasikan Bagi mereka yang menyunahkan membacanya berpegang pada hadis-hadis, diantaranya hadis yang dirawikan oleh Bukhari, An-Nasa-i dan Ibnu Majah dari hadis Aisyah bahwa suatu kaum datang kepada kami membawakan kami daging, tetapi kami tidak tahu apakah disebut nama Allah atasnya atau tidak. Maka menjawab Rasulullah saw: kamu sendiri membaca bismillah atasnya, lalu makanlah! Berkata yang merawikan: mereka itu masih dekat kepada zaman kufur.(Artinya baru masuk Islam) (Hamka, 1982).

Ada satu masalah lagi yang masih menjadi khilafiyah yaitu sembelihan ahli kitab, ada yang membolehkan (Hamka, 1982; Qardlawi, 1976) yang didasarkan diantaranya firman Allah dalam surat Al-Maaidah ayat 5: dan makanan orang-orang yang diberi AlKitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal bagi mereka Kebolehan memakan hewan ternak (selain babi) hasil sembelihan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) ini sepanjang cara penyembelihannya sesuai dengan cara penyembelihan secara islami (menggunakan pisau yang tajam, memotong urat lehernya dan hewan mengeluarkan darahnya pada waktu disembelih yang berarti hewan belum mati pada waktu disembelih walaupun dipingsankan dulu sebelumnya) (Hamka, 1982). Yang mengharamkan sembelihan ahli kitab didasarkan pada ayat 121 surat Al-An’am seperti dituliskan diatas, dimana mereka menyembelih tidak atas nama Allah.

Disamping keempat kelompok makanan yang diharamkan tersebut diatas, terdapat pula kelompok makanan yang diharamkan karena sifatnya yang buruk seperti dijelaskan dalam surat Al-A`raaf:157 …..dan menghalalkan bagi mereka segala hal yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala hal yang buruk…… Apa-apa saja yang buruk tersebut agaknya dicontohkan oleh Rasulullah dalam beberapa hadis, diantaranya hadis Ibnu Abbas yang dirawikan oleh Imam Ahmad dan Muslim dan Ash Habussunan: Telah melarang Rasulullah saw memakan tiap-tiap binatang buas yang bersaing (bertaring penulis), dan tiap-tiap yang mempunyai kuku pencengkraman dari burung. Sebuah hadis lagi sebagai contoh, dari Abu Tsa`labah: Tiap-tiap yang bersaing dari binatang buas, maka memakannya adalah haram (perawi hadis sama dengan hadis sebelumnya).

Hewan-hewan lain yang haram dimakan berdasarkan keterangan pada hadis-hadis ialah himar kampung, bighal, burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus, anjing, anjing gila, semut, lebah, burung hud-hud, burung shard (Sabiq, 1987). Selain itu, ada lagi binatang yang tidak boleh dimakan yaitu yang disebut jallalah. Jallalah adalah binatang yang memakan kotoran, baik ia unta, sapi, kambing, ayam, angsa, dll sehingga baunya berubah. Jika binatang itu dijauhkan dari kotoran (tinja) dalam waktu lama dan diberi makanan yang suci, maka dagingnya menjadi baik sehingga julukan jallalah hilang, kemudian dagingnya halal (Sabiq, 1987).

Ada pula Imam yang tidak mengkategorikan makanan-makanan haram yang dijelaskan dalam hadis sebagai makanan haram, tetapi hanya makruh saja. Pendapat ini dipegang oleh penganut mazhab Maliki (Hamka, 1982; Hassan, 1985; Sabiq 1987). Akan tetapi, dengan menggunakan common sense saja agaknya sudah dapat dirasakan penolakan untuk memakan binatang-binatang seperti binatang buas: singa, anjing, ular, burung elang, dsb. Oleh karena itu, barangkali pendapat Mazhab Syafi`i lah yang lebih kuat yang mengharamkan makanan yang telah disebutkan diatas.

Ada pula pendapat yang mengatakan hewan yang hidup di dua air haram, yang menurut mereka didasarkan pada hadis. Sayangnya, sampai saat ini penulis hanya dapat menemukan pernyataan keharaman makanan tersebut di buku-buku fiqih tanpa dapat berhasil menemukan sumber hadisnya yang jelas selain dari satu hadis yang terdapat dalam kitab Bulughul Maram (Hassan, 1975): Dari `Abdurrahman bin `Utsman Al-Qurasyis-yi bahwasanya seorang tabib bertanya kepada Rasulullah saw tentang kodok yang ia campurkan didalam satu obat, maka Rasulullah larang membunuhnya (Diriwayatkan oleh Ahmad dan disahkan oleh Hakim dan diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dan Nasa`i). Dari hadis tersebut, dapat diinterpretasikan bahwa larangan membunuh kodok sama dengan larangan memakannya. Akan tetapi larangan terhadap binatang lainnya yang hidup di dua air seperti kodok tentulah tidak secara tegas dinyatakan dalam hadis tersebut, mungkin itu hanya hasil qias saja. Jadi seharusnya yang diharamkan hanya kodok saja, sedangkan hewan yang hidup di dua alam lainnya tidak diharamkan, kecuali ada hadis yang menyatakan dengan jelas keharaman hewan-hewan tersebut.

Minuman yang Diharamkan

Dari semua minuman yang tersedia, hanya satu kelompok saja yang diharamkan yaitu khamar. Yang dimaksud dengan khamar yaitu minuman yang memabukkan sesuai dengan penjelasan Rasulullah saw berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dari Abdullah bin Umar: setiap yang memabukkan adalah khamar (termasuk khamar) dan setiap khamar adalah diharamkan (semua hadis-hadis yang digunakan dalam pembahasan minuman yang diharamkan diperoleh dari Sabiq, 1987). Dari penjelasan Rasulullah tsb jelas bahwa batasan khamar didasarkan atas sifatnya, bukan jenis bahannya, bahannya sendiri dapat apa saja. Dalam hal ini ada perbedaan pendapat mengenai bahan yang diharamkan, ada yang mengharamkan khamar yang berasal dari anggur saja. Akan tetapi penulis menyetujui pendapat yang mengharamkan semua bahan yang bersifat memabukkan, tidak perlu dilihat lagi asal dan jenis bahannya, hal ini didasarkan atas kajian hadis-hadis yang berkenaan dengan itu, juga pendapat para ulama terdahulu.

Mengenai sifat memabukkan sendiri dijelaskan lebih rinci lagi oleh Umar bin Khattab seperti diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim sebagai berikut: Kemudian daripada itu, wahai manusia! sesungguhnya telah diturunkan hukum yang mengharamkan khamar. Ia terbuat dari salah satu lima unsur: anggur, korma, madu, jagung dan gandum. Khamar itu adalah sesuatu yang mengacaukan akal. Jadi sifat mengacaukan akal itulah yang dijadikan patokan. Sifat mengacaukan akal itu diantaranya dicontohkan dalam Al-Quran yaitu membuat orang menjadi tidak mengerti lagi apa yang diucapkan seperti dapat dilihat pada surat An-Nisa: 43: Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. Dengan demikian berdasarkan ilmu pengetahuan dapat diartikan sifat memabukkan tersebut yaitu suatu sifat dari suatu bahan yang menyerang syaraf yang mengakibatkan ingatan kita terganggu.

Keharaman khamar ditegaskan dalam Al-Quran surat Al-Maaidah ayat 90-91: Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya meminum khamar, berjudi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan-perbuatan keji yang termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menumbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran meminum khamar dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang. Maka berhentilah kamu mengerjakan perbuatan itu.

Dengan berpegang pada definisi yang sangat jelas tersebut diatas maka kelompok minuman yang disebut dengan minuman keras atau minuman beralkohol (alcoholic beverages) termasuk khamar. Sayangnya, banyak orang mengasosiasikan minuman keras ini dengan alkohol saja sehingga yang diharamkan berkembang menjadi alkohol (etanol), padahal tidak ada yang sanggup meminum etanol dalam bentuk murni karena akan menyebabkan kematian.

Etanol memang merupakan komponen kimia yang terbesar (setelah air) yang terdapat pada minuman keras, akan tetapi etanol bukan satu-satunya senyawa kimia yang dapat menyebabkan mabuk, banyak senyawa-senyawa lain yang terdapat pada minuman keras juga bersifat memabukkan jika diminum pada konsentrasi cukup tinggi. Komponen-komponen ini misalnya metanol, propanol, butanol (Etievant, 1991). Secara umum, golongan alkohol bersifat narkosis (memabukkan), demikian juga komponen-komponen lain yang terdapat pada minuman keras seperti aseton, beberapa ester dll (Bretherick, 1986).

Secara umum, senyawa-senyawa organik mikromolekul dalam bentuk murninya kebanyakan adalah racun. Sebagai contoh, asetaldehida terdapat pada jus orange walaupun dalam jumlah kecil (3-7 ppm) (Shaw, 1991). Jika kita lihat sifatnya (dalam bentuk murninya), asetaldehida juga bersifat narkosis, walaupun hanya menghirup uapnya (Bretherick, 1986). Oleh karena itu, kita tidak dapat menentukan keharaman minuman hanya dari alkoholnya saja, akan tetapi harus dilihat secara keseluruhan, yaitu apabila keseluruhannya bersifat memabukkan maka termasuk kedalam kelompok khamar. Apabila sudah termasuk kedalam kelompok khamar maka sedikit atau banyaknya tetap haram, tidak perlu lagi dilihat berapa kadar alkoholnya.

Apabila yang diharamkan adalah etanolnya, maka dampaknya akan sangat luas sekali karena banyak sekali makanan dan minuman yang mengandung alkohol, baik terdapat secara alami (sudah terdapat sejak bahan pangan tersebut baru dipanen dari pohon) seperti pada buah-buahan, atau terbentuk selama pengolahan seperti kecap. Akan tetapi kita mengetahui bahwa buah-buahan segar dan kecap tidak menyebabkan mabuk. Disamping itu, apabila alkohol diharamkan maka ketentuan ini akan bertentangan dengan penjelasan yang diberikan oleh Rasulullah saw tentang jus buah-buahan dan pemeramannya seperti tercantum dalam hadis-hadis berikut:

  1. Minumlah itu (juice) selagi ia belum keras. Sahabat-sahabat bertanya: Berapa lama ia menjadi keras? Ia menjadi keras dalam tiga hari, jawab Nabi. (Hadis Ahmad diriwayatkan dari Abdullah bin Umar).
  2. Bahwa Ibnu Abbas pernah membuat juice untuk Nabi saw. Nabi meminumnya pada hari itu, besok dan lusanya hingga sore hari ketiga. Setelah itu Nabi menyuruh khadam menumpahkan atau memusnahkannya. (Hadis Muslim berasal dari Abdullah bin Abbas).
  3. Buatlah minuman anggur!. Tetapi ingat, setiap yang memabukkan adalah haram (Hadis tercantum dalam kitab Fiqih Sunah karangan Sayid Sabiq, 1987).

Pemeraman juice pada suhu ruang dan udara terbuka sampai dua hari jelas secara ilmiah dapat dibuktikan akan mengakibatkan pembentukan etanol, tetapi memang belum sampai pada kadar yang memabukkan, hal ini juga dapat terlihat pada pembuatan tape. Sebelum diperam pun juice sudah mengandung alkohol, juice jeruk segar misalnya dapat mengandung alkohol sebanyak 0.15%. Dari pembahasan tersebut diatas jelaslah bahwa pendapat yang mengatakan diharamkannya alkohol lemah, bahkan bertentangan dengan hadis Rasulullah saw. Apabila alkohol diharamkan, maka seharusnya alkohol tidak boleh digunakan untuk sterilisasi alat-alat kedokteran, campuran obat, pelarut (pewarna, flavor, parfum, obat, dll), bahkan etanol harus enyah dari laboratorium-laboratorium. Jelas hal ini akan sangat menyulitkan. Disamping itu ingatlah firman Allah dalam surat Al-Maiadah ayat 87: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang Allah telah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Ada pula yang berpendapat bahwa etanol itu haram, akan tetapi etanol dapat digunakan dalam pengolahan pangan asalkan pada produk akhir tidak terdeteksi lagi adanya etanol. Pendapat ini lemah karena dua hal; pertama, berdasarkan hukum fiqih, apabila suatu makanan atau minuman tercampur dengan bahan yang haram maka menjadi haramlah ia (Ada pula yang berpendapat bahwa hal ini dibolehkan sepanjang tidak merubah sifat-sifat makanan atau minuman tersebut. Pendapat ini hasil qias terhadap kesucian air yang tercampuri bahan yang najis, sepanjang tidak merubah sifat-sifat air maka masih tetap suci. Penulis tidak sependapat dengan pandangan ini karena masalah kehalalan makanan dan minuman tidak bisa disamakan dengan masalah kesucian air, keduanya merupakan dua hal yang berbeda). Kedua, secara teori tidak mungkin dapat menghilangkan suatu bahan sampai 100 persen apabila bahan tersebut tercampur ke dalam bahan lain, dengan kata lain apabila etanol terdapat pada bahan awalnya, maka setelah pengolahan juga masih akan terdapat pada produk akhir, walaupun dengan kadar yang bervariasi tergantung pada jumlah awal etanol dan kondisi pengolahan yang dilakukan. Hal ini dapat dibuktikan di laboratorium.

Walaupun bukan etanol yang diharamkan tetapi minuman beralkohol, akan tetapi penggunaan etanol untuk pembuatan bahan pangan harus dibatasi, untuk menghindari penyalahgunaan dan menghindari perubahan sifat bahan pangan dari tidak memabukkan menjadi memabukkan. Etanol dapat digunakan dalam proses ekstraksi, pencucian atau pelarutan, akan tetapi sisa etanol pada produk akhir harus dihilangkan sedapat mungkin, sehingga hanya tersisa sangat sedikit sekali. Etanol tidak boleh digunakan sebagai solven akhir suatu bahan, misal digunakan sebagai pelarut bahan flavor dan pewarna.

Batasan khamar ini nampaknya tidak terbatas pada minuman saja mengingat ada hadis yang mengatakan setiap yang memabukkan adalah khamar dan setiap khamar adalah haram (Hadis Muslim); Semua yang mengacaukan akal dan semua yang memabukkan adalah haram (Hadis Abu Daud). Dengan demikian segala hal yang mengacaukan akal dan memabukkan seperti berbagai jenis bahan narkotika termasuk ecstasy adalah haram.

Disamping makanan dan minuman yang diharamkan seperti telah dijelaskan diatas, ada beberapa kaidah fiqih yang sering digunakan dalam menentukan halal haramnya bahan pangan. Kaidah tersebut diantaranya adalah:

  1. Semua yang bersifat najis haram untuk dimakan.
  2. Manakala bercampur antara yang halal dengan yang haram, maka dimenangkan yang haram.
  3. Apabila banyaknya bersifat memabukkan maka sedikitnya juga haram.

IMPLIKASI HUKUM SYARIAH DALAM PENETAPAN KEHALALAN PRODUK PANGAN HASIL BIOTEKNOLOGI

Apabila dasar-dasar syariah yang digunakan sebagai landasan penentuan kehalalan suatu bahan pangan telah dipahami dan disepakati maka sebetulnya implikasinya dalam menentukan kehalalan produk pangan hasil bioteknologi menjadi relatif lebih mudah. Secara umum hal-hal yang menjadi patokan dapat dirumuskan sbb:

  1. Dalam suatu produksi bahan pangan tidak menggunakan bahan-bahan yang diharamkan agar produknya dapat dinyatakan halal. Ini misalnya berlaku pada proses produksi secara fermentasi.
  2. Pemanfaatan babi dan unsur-unsurnya atau turunan-turunannya mutlak tidak boleh dilakukan. Jika suatu proses produksi memanfaatkan babi dan unsur-unsurnya maka produknya menjadi haram dimakan. Sebagai contoh: pemanfaatan gen dari babi untuk rekayasa genetika, pemanfaatan porcine somatotropin untuk penggemukan sapi, dll.
  3. Pemanfaatan hewan ternak selain babi dan unsur atau turunannya dibolehkan sepanjang ternak tersebut disembelih secara islami.
  4. Penggunaan etanol sebagai substrat, senyawa intermediet, solven dan pengendap dibolehkan, sepanjang konsentrasinya pada produk akhir (ingredien pangan) diupayakan minimal (minimal level technologically possible, sesuai dengan pendapat Chaudry dan Regenstein, 1994).

Tentu masih ada beberapa hal lagi yang bisa dijadikan patokan, disamping masih ada beberapa masalah lagi yang belum dapat dipecahkan pada saat ini. Oleh karena, hal ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk merumuskan dan mencarikan jalan keluarnya.

DAFTAR PUSTAKA

1.       Bretherick, L (ed.). 1986. Hazards in the Chemical Laboratory. Fourth edition. The Royal Society of Chemistry, London.

2.       Chaudry, M. M. dan Regenstein, J. M. 1994. Implications of biotechnology and genetic engineering for kosher and halal foods. Trends in Food Sci. Technol., 5, 165 168.

3.       Etievant, P. X. 1991. Wine. Didalam: Volatile Compounds in Foods and Beverages, ed. H. Maarse. Marcel Dekker, New York.

4.       Hamka. 1982. Tafsir Al-Azhar Juzu VI. Panji Masyarakat, Jakarta.

5.       Hamka, 1984. Tafsir Al-Azhar Juzu VIII. Pustaka Panjimas, Jakarta.

6.       Hassan A. 1975. Tarjamah Bulughul Maram. Diponegoro, Bandung.

7.       Hassan, A. 1985. Soal Jawab Tentang Berbagai Masalah Agama. Diponegoro, Bandung.

8.       Majelis Ulama Indonesia. 2000. Keputusan Fatwa Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tentang Produk Penyedap Rasa (Monosodium Glutamate, MSG) Dari PT. Ajinomoto Indonesia yang Menggunakan Bacto Soytone.

9.       Sabiq, S. 1987. Fikih Sunnah. Alih bahasa M. Syaf. Al-Marif, Bandung.

10.   Shaw, P. E. 1991. Fruits II. Didalam: Volatile Compounds in Foods and Beverages, ed. H. Maarse. Marcel Dekker, New York.

11.   Qardlawi, M. Y. E. 1976. Halal dan Haram dalam Pandangan Islam. Alih bahasa M. Hamidy. Bina Ilmu, Surabaya.

 

Oleh Yulianto Mohsin

Akhir bulan Juli lalu, berlaku undang-undang baru di negara bagian New York di Amerika Serikat. Semua orang tanpa terkecuali tidak boleh lagi merokok di restoran-restoran dan bar-bar yang tersebar di seluruh wilayah negara bagian ini. Larangan merokok di tempat-tempat umum lainnya seperti perkantoran, mall, dan lain-lain sudah diberlakukan terlebih dahulu. Bisnis rumah makan atau bar yang ketahuan tidak melaksanakan peraturan baru ini dikenakan denda US $ 2,000. Bukan denda yang kecil. Peraturan keras yang melarang orang merokok di kedua jenis tempat tersebut pada awalnya diberlakukan hanya di kota New York sejak akhir Maret lalu. Empat bulan kemudian, peraturan ini berlaku untuk seluruh negara bagian New York. Di salah satu bar yang penulis amati, para perokok terpaksa keluar dan berdiri di dekat pintu belakang bar untuk merokok. Hal ini mungkin masih dapat dilakukan dengan agak leluasa mengingat sekarang masih musim panas. Tapi akan sangat sulit bagi para pencandu rokok ini untuk berdiri di luar ketika musim dingin datang. Kelihatannya, waktu keluarnya peraturan baru ini juga untuk mempersiapkan datangnya musim dingin.

New York memang salah satu negara bagian Amerika Serikat (AS) yang sangat gencar melancarkan kampanye anti-rokok. Biaya yang dikeluarkan untuk hal ini pun tidak sedikit, US$ 60 juta. Kampanye ini di antaranya mencegah penjualan rokok ke remaja di bawah umur 18 tahun, membuat dan menayangkan iklan-iklan anti-rokok, memberitahukan publik bahaya merokok, mendirikan program-program pemberhentian merokok bagi pecandu rokok berat dan mensubsidi biaya obat-obat yang dapat membantu orang berhenti merokok.

Biaya yang besar untuk program ini sebenarnya berasal dari “tobacco industry settlement” yang didapat negara bagian New York. Sejarahnya, jaksa penuntut umum dari 40 negara bagian di AS, dimulai oleh negara bagian Mississippi, pada pertengahan dekade 1990-an menuntut ganti rugi yang sangat besar kepada segelintir perusahaan pembuat rokok dan barang-barang tembakau lainnya di AS. Didukung bukti yang kuat dari dunia sains dan kedokteran, mereka beralasan bahwa rokok adalah candu, asap rokok sangat membahayakan kesehatan (penyebab kanker) dan rakyat AS banyak yang meninggal gara-gara merokok. Biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah negara bagian untuk menangani para pasien kanker akibat merokok sangat besar. Dengan alasan inilah mereka menuntut ganti rugi yang tidak sedikit. Karena ingin menghindari proses hukum yang lama dan berbelit-belit dan juga karena industri rokok ini takut jika terbukti bersalah di pengadilan mereka dipaksa membayar ganti rugi yang sangat besar jumlahnya, akhirnya mereka mengalah dan bersedia berdamai dengan memberikan settlement berupa uang ke masing-masing negara bagian yang mengajukan tuntutan.

Banyak sudah riset yang mengungkapkan bahaya asap rokok terhadap aspek biologis dan kimiawi tubuh manusia. Studi pertama yang dilakukan dilaporkan di jurnal terkemuka Science edisi bulan Oktober 1996. Gen P53 di dalam DNA tubuh manusia berfungsi sebagai penekan tumor (tumor suppressor); jika fungsinya dimatikan, kemungkinan terjadinya tumor akan meningkat. Sudah umum diketahui bahwa asap rokok memiliki benzo[a]pyrene dalam jumlah yang cukup banyak. Molekul ini adalah sejenis karsinogen (agen penyebab kanker) yang berbahaya dan terdapat di dalam jelaga, yaitu partikel-partikel karbon yang halus yang dihasilkan akibat pembakaran tidak sempurna arang, minyak, kayu atau bahan bakar lainnya. Bahaya molekul yang ditemui dalam jelaga ini telah lama diketahui. Banyak anak yang bekerja sebagai pembersih cerobong asap di London sejak Kebakaran Besar 1666 (the Great Fire of 1666) terkena kanker testicular.

Benzo[a]pyrene sendiri sebenarnya tidak menyebabkan kanker. Jaringan di dalam tubuh manusia memetabolisme bahan ini dengan cara menambah oksigen ke salah satu cincin molekulnya, mengubahnya menjadi molekul yang dinamakan epoksi diol (diol epoxide). Kegunaan metabolisme ini adalah untuk membuat benzo[a]pyrene lebih mudah larut di dalam air, sehingga mudah untuk dikeluarkan dari tubuh.

Sayangnya, strategi untuk mengeluarkan zat yang tak berguna bagi tubuh ini menjadi tidak karuan untuk benzo[a]pyrene, karena molekul yang terbentuk, epoksi diol, tidak dikeluarkan oleh tubuh. Malahan, molekul ini berhasil menemukan cara untuk masuk ke inti sel, kemudian bereaksi dengan sel-sel DNA. Epoksi cepat sekali bereaksi dengan basa-basa Lewis, dan struktur DNA memiliki bagian yang merupakan basa-basa Lewis. Di artikel jurnal Science tersebut, para periset melaporkan bahwa epoksi diol bereaksi dengan DNA di daerah gen P53 yang diketahui mudah bermutasi. Banyak kasus kanker paru-paru yang memiliki mutasi gen di daerah gen P53 ini. Kesimpulan laporan hasil riset itu menyatakan bahwa benzo[a]pyrene dalam asap rokok adalah penyebab langsung mutasi gen yang diketahui berhubungan dengan kanker paru-paru.

AS bukan negara satu-satunya yang sudah terjun menyadarkan masyarakatnya akan bahaya asap rokok ini. Australia, Selandia Baru, Singapura sudah lebih dahulu memerangi rokok. Beberapa negara lain seperti Kanada dan Jerman akan mengikuti jejak AS. Irlandia yang terkenal dengan kebudayaan pub-nya (merokok sambil meminum minuman alkohol) akan menjadi negara Eropa pertama awal tahun depan yang melarang merokok di pub-pub. Kapan Indonesia akan turut menyadarkan masyarakatnya? Mungkin yang lebih penting untuk diingat, jika pemerintah Indonesia sudah siap memerangi ancaman kesehatan yang satu ini, lebih baik mengikuti jejak AS, yang aktif mensosialisasikan kebijaksanaan tersebut. Tanpa perencanaan dan pemasyarakatan yang baik, kebijaksanaan baik apapun yang dikeluarkan akan mudah mati di tengah jalan ditentang oleh banyak orang.

(Diterjemahkan dan disadur dari berbagai sumber)

 

Harijono, E Zubaidah, dan Yahya

Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

 

Penelitian ini bertujuan, pertama, mendapatkan kadar campuran senyawa gliserol dan sorbitol, K-sorbat dan dan campuran antioksidan BHA/BHT untuk menghasilkan produk olahan tradisional berbasis pati dan kaya lemak, yaitu wingko dan jenang, yang bermutu dan berdaya simpan lebih baik daripada yang dibuat dengan cara tradisional.  Kedua, menetapkan kadar senyawa poliol dan campuran bahan pengawet Na-bensoat, K-sorbat, Na-metabisulfit, dan asam sitrat yang tepat dalam pembuatan getuk dan tape panggang serta memperoleh cara pengolahan yang tepat untuk menghasilkan getuk instan yang bermutu.

Pada makanan berbasis pati dan kaya lemak, hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan campuran gliserol dan sorbitol dengan tingkat penggunaan masing-masing sebesar 0.5% dan 1.5% ternyata dapat menghasilkan wingko yang bermutu baik dan tahan disimpan sampai 12 hari, dibandingkan yang tradisional yang hanya tahan sampai 5-6 hari. Jika didalam proses pembuatannya juga ditambahkan K-sorbat (1000 ppm) dan campuran BHA/BHT (1:1) 100 ppm maka dihasilkan  wingko yang dapat disimpan sampai 16 hari.  Pada pembuatan jenang ketan, perlakuan pasteurisasi santan sampai 30 menit dan penggunaan gliserol 0.1% dapat memperbaiki mutu jenang ketan. Jika perlakuan itu digabungkan dengan pemberian K-sorbat 1000 ppm dan BHA/BHT (1:1) 100 ppm dapat dihasilkan jenang yang dapat bertahan mutunya sampai 16 hari, atau 8 hari lebih lama dibandingkan jenang ketan yang diolah secara tradisional. 

Getuk dan tape panggang bermutu dapat diperoleh dengan menggunakan gliserol 1% dan sorbitol 1% serta pemanggangan pada suhu 150 oC selama 45 menit  untuk getuk atau 40 menit untuk tape. Apabila  ditambahkan campuran pengawet 500 ppm Na-bensoat, K-sorbat (500 ppm), Na metabisulfit (250 ppm), dan asam sitrat (500 ppm) masa simpannya dapat diperpanjang dari 8 hari menjadi 12 hari untuk getuk panggang dan dari 5 hari menjadi 12 hari untuk tape panggang. 

Penggunaan cara pemisahan senyawa fenol diikuti dengan pemanasan basah pada suhu sedang (di bawah 100 oC) atau tinggi (di atas 100 oC) dengan penambahan senyawa poliol tertentu pada kadar di bawah 3% ternyata dapat dihasilkan tepung getuk instan yang apabila dilakukan rehidrasi menjadi getuk siap konsumsi dan  sifat-sifatnya dalam beberapa hal lebih baik daripada getuk yang dibuat dari ubi kayu segar.

Adopted from : Hibah Bersaing

 

 

Oleh:noor fitrihana

Standard ISO 9000 adalah standar tentang sistem manajemen mutu yang penerapannya dimaksudkan untuk meningkatkan mutu produk dan jasa/pelayanan sehingga mamapu memberikan dan meningkatkan mutu dan kinerja organisasi secara berkesinambungan untuk memuaskan pelanggan. ISO 9000 dikeluarkan oleh lembaga ISO (International Organization For Standardization) yaitu suatu badan standar internasional yang anggotanya terdiri dari badan-badan standar nasional di dunia beranggotakan lebih dari 140 negara, yang berkantor pusat di Jenewa, Swiss.Seri ISO pertama kali dilaunching pada tahun 1987 kemudian diperbaharui tahun 1994 dengan seri ISO 9000:1994 dan terakhir pada tahun 2000 dengan seri ISO 9000:2000. Pemantauan kepuasan pelanggan menghendaki penilaian informasi berkaitan dengan persepsi pelanggan apakah Organisasi telah memenuhi persyaratan pelanggan, dan telah melakukan check balance yang dikenal dengan sistem PDCA (Plan Do Check Act) pada semua manajemen terutama yang berkaitan dengan mutu.Secara singkat PDCA dapat dijelasakan sebagai berikut:

Plan : Tetapkan sasaran /objektive/goal mutu dan proses yang diperlukan agar sesuai dengan persyaratan pelanggan dan kebijakan organisasi/perusahaan. , aplikasi sasaran mutu adalah KPI (Key Performance Indicator) yang diturunkan menjadi KPI Fungsi/Bagian yang dijabarkan lebih detail dalam SMK (Sistem Manajemen Kinerja) tiap pekerja. KPI dievaluasi setiap semester untuk Bagian dan setiap tahun untuk SMK.

Do : Impelementasi prosesnya.

Check : Monitor dan ukur proses dan produk terhadap kebijakan, sasaran mutu, dan persyaratan bagi produk, serta laporkan hasilnya.

Act : Lakukan tindakan untuk peningkatan kinerja proses secara berkelanjutan. Sistem manajemen mutu ISO 9000:2000 mencakup sistem input dan output proses produksi yang meliputi rantai pasokan dari:

Pemasok —————Organisasi———————–Pelanggan

DELAPAN PRINSIP MANAJEMEN MUTU ISO 9000:2000

Delapan prinsip manajemen mutu pada sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2000 dipergunakan memimpin organisasi kearah perbaikan kinerja. Delapan prinsip manajemen mutu tersebut adalah :

1.      Customer Focus (Fokus pada Pelanggan)

Suatu perusahaan/organisasi tergantung pada pelanggannya atau pelanggan adalah kunci meraih keuntungan. Oleh karena itu organisasi harus memahami kebutuhan/keinginan pelanggan baik saat ini maupun di masa mendatang, agar dapat memenuhi persyaratan pelanggan dan mampu melebihi harapan pelanggan

2.      Leadership (Kepemimpinan)

Pemimpin perusahaan/organisasi harus mampu menciptakan visi, dan mampu mewujudkan visi tersebut menuju kenyataan. Pemimpin harus dapat menarik orang lain untuk mewujudkan visi organisasi. Penerapan prinsip kepemimpinan mengarah pada :

·         Penciptaan visi yang jelas untuk masa depan organisasi.

·         Penetapan target, tujuan atau sasaran yang menantang.

·         Menyediakan sumber daya dan pelatihan bagi pekerjanya.

·         Kebebasan bertindak dengan tanggungjawab & akuntabilitas.

·         Menjadi contoh dalam hal kejujuran, moral dan penciptaan budaya kerja.

·         Penciptaan kepercayaan (trust)

  1. Involment of People (Keterlibatan Semua Karyawan)

Keterlibatan seluruh karyawan dalam organisasi adalah dasar yang sangat penting dalam prinsip manajemen mutu. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberdayakan dan memberi kesempatan kepada karyawan untuk merencanakan, menerapkan rencana dan mengendalikan rencana pekerjaan yang menjadi tanggungjawab masing-masing. Dengan adanya keterlibatan personel secara menyeluruh, akan dihasilkan rasa memiliki dan tanggung jawab dalam menyelesaikan masalah. Hal ini akan memicu karyawan untuk aktif dalam melihat peluang untuk peningkatan pengetahuan dan pengalaman.

  1. Process Approach (Pendekatan Proses)

Proses di dalam sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 didefinisikan sebagai “kumpulan aktivitas yang saling berhubungan / mempengaruhi sehingga dapat merubah input (material, persyaratan, peralatan, instruksi) menjadi output (barang atau jasa)”.

Pendekatan proses didefinisikan sebagai “identifikasi yang sistematis dan pengelolaan proses yang digunakan organisasi dan pemahaman hal-hal yang mempengaruhi setiap proses”.

Dalam konteks ISO 9001:2000, pendekatan proses mensyaratkan organisasi untuk melakukan identifikasi, penerapan, pengelolaan dan melakukan peningkatan mutu berkelanjutan (continual quality improvement). Pendekatan secara proses diperlukan saat menyusun dan menerapkan sistem mutu. Hal ini menuntut setiap bagian/fungsi untuk memiliki visi terhadap kepuasan pelanggan .

5.      System Approach to Management (manajemen berdasar pendekatan sistem).

Pendekatan sistem pada manajemen didefinisikan sebagai identifikasi pemahaman, dan pengelolaan sistem dari proses yang saling terkait untuk pencapaian dan peningkatan sasaran perusahaan/organisasi dengan efektif dan efisien.

  1. Continual Improvement (Peningkatan Berkelanjutan)

Peningkatan berkelanjutan harus dijadikan sasaran dan tujuan tetap organisasi. Pada peningkatan berkelanjutan, sasaran tidak akan ditingkatkan sampai sasaran yang ditetapkan tercapai lebih dulu, hanya setelah sasaran tercapai maka sasaran baru yang lebih meningkat ditetapkan.

  1. Factual Approach to Decision Making (Pengambilan Keputusan Berdasar Fakta)

Pengambilan keputusan yang efektif didasarkan pada analisis data dan informasi. Langkah-langkah yang digunakan dalam penerapan prinsip ini adalah :

·         Melakukan pengujian serta pengumpulan data dan informasi yang berhubungan dengan sasaran.

·         Memastikan data dan informasi yang akurat, dapat dipercaya, dan mudah diakses.

·         Menganalisis data dan informasi dengan menggunakan metode yang benar.

·         Memahami penggunaan teknik statistik.

·         Membuat keputusan dan menindaklanjutinya berdasarkan hasil analisis dan pengalaman.

  1. Mutually beneficial supplier relationships (Hubungan dengan pemasok yang saling menguntungkan)

Organisasi dan pemasoknya/supplier saling tergantung, dan sudah selayaknya merupakan hubungan yang saling menguntungkan dalam rangka meningkatkan kemampuan keduanya dalam menciptakan nilai. Implementasi dari prinsip ini adalah :

·         Mengidentifikasi dan menyeleksi pemasok.

·         Melibatkan pemasok dalam mengidentifikasi kebutuhan perusahaan.

·         Melibatkan pemasok dalam proses pengembangan strategi perusahaan.

·         Memastikan bahwa output dari pemasok sesuai dengan persyaratan organisasi/perusahaan.

·         Berkomunikasi dan berbagi informasi dengan pemasok.

KLAUSUL –KLAUSUL DALAM ISO 9001 : 2000

Isi dari Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 terdiri dari klausul-klausul yang bersifat informasi (klausul 1 s/d 3), dan klausul klausul utama (klausul 4 s/d 8) yang digunakan sebagai acuan dalam penerapannya. Klausul- klausul tersebut adalah :

Klausul 1, Ruang lingkup Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000, yaitu :

1.1. Umum Standard Internasional ini menetapkan persyaratan untuk sistem manajemen mutu di mana suatu organisasi :a. Perlu menunjukan kemampuannya untuk menyediakan secara konsisten produk yang memenuhi persyaratan pelanggan dan peraturan yang berlaku, danb. Bertujuan meningkatkan kepuasan pelanggan melalui penerapan sistem yang efektif, termasuk proses peningkatan sistem secara berkelanjutan dan jaminan kesesuaian terhadap persyaratan pelanggan dan peraturan yang berlaku. Catatan : Dalam Standard Internasional ini, istilah ”produk” diterapkan hanya produk yang dimaksudkan untuk, atau dibutuhkan oleh, pelanggan.

1.2. Penerapan Semua persyaratan dari Standard Internasional ini adalah umum dan dimaksudkan untuk dapat diterapkan pada semua organisasi, tanpa menghiraukan jenis, ukuran dan produk yang dihasilkan.Jika ada persyaratan Standard Internasional ini yang tidak dapat diterapkan karena sifat organisasi dan produknya, maka dapat dipertimbangkan untuk pengecualian.Bila pengecualian dilakukan maka klaim kesesuaian terhadap Standard Internasional ini hanya dapat diterima jika pengecualian terbatas pada persyaratan klausul 7, dan pengecualian tidak mempengaruhi kemampuan, atau tanggung jawab organisasi untuk menyediakan produk yang memenuhi persyaratan pelanggan dan peraturan yang berlaku.

Klausul 2, Acuan Standard

Sebagai referensi adalah edisi terakhir dari dokumen standard edisi ketiga ISO 9001: 2000 yang telah menjadi Standar SNI 19-9001-2001 untuk diacu dan diterapkan. Anggota ISO diwajibkan memelihara daftar dari Standard Internasional yang saat ini berlaku.

Klausul 3, Istilah dan Definisi

Untuk maksud dari Standard Internasional ini, istilah dan definisi yang diberikan ISO 9000 diberlakukan. Adapun klausul utama Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 tersebut adalah

Klausul 4, Sistem Manajemen Mutu

Klausul 5, Tanggung Jawab Manajemen

Klausul 6, Manajemen Sumber Daya

Klausul 7, Realisasi Produk

Klausul 8, Pengukuran, Analisa, dan Peningkatan

1. Interpretasi Klausul -4, Sistem Manajemen MutuS

ub Klausul 4.1 Organisasi / Perusahaan harus :

Mengidentifikasi proses-proses yang diperlukan oleh Sistem Manajemen Mutu beserta penerapannya

. Menentukan urutan dan interaksi dari proses proses tersebut

. Menentukan kriteria dan metode yang diperlukan untuk menjamin bahwa operasi dan pengendalian dari proses-proses tersebut efektif

. Menjamin ketersediaan sumber daya dan informasi yang perlu untuk mendukung operasi dan pemantauan dari proses-proses tersebut.

Memantau, mengukur, dan menganalisis proses-proses tersebut, dan

Menerapkan tindakan yang perlu untuk mencapai hasil yang direncanakan dan peningkatan berkelanjutan dari proses tersebut.

Subklausul 4.2 Persyaratan DokumentasiDokumentasi Sistem Manajemen Mutu harus mencakup :

Pernyataan tertulis/terdokumentasi dari kebijakan mutu, sasaran mutu, pedoman mutu.

Prosedur terdokumentasi yang diminta standard. Prosedur minimal yang harus ada adalah : Pengendalian Dokumen, Pengendalian Record/arsip, Internal Audit, Pengendalian Produk tidak sesuai, Tindakan Koreksi & Pencegahan.

Prosedur terdokumentasi yang diperlukan organisasi untuk meyakinkan efektifitas perencanaan, operasi dan pengendalian proses-proses yang ada.

Catatan Mutu (record)

Interpretasi Klausul – 5 , Tanggung Jawab Manajemen

Top Manajemen harus memberikan bukti atas komitmennya untuk pengembangan dan penerapan Sistem Manajemen Mutu secara berkelanjutan dan meningkatkan efektifitasnya melalui :

Komunikasi kepada organisasi tentang pentingnya memenuhi persyaratan pelanggan, demikian juga peraturan dan hukum

. Menetapkan kebijakan mutu

Menjamin bahwa sasaran sasaran mutu (KPI & SMK) telah ditetapkan

Melaksanakan tinjauan manajemen

Menjamin tersedianya sumber daya

Menjamin bahwa kebutuhan dan harapan pelanggan ditentukan/ditetapkan kemudian diubah menjadi persyaratan, dipenuhi dalam rangka memuaskan pelanggan untuk memberikan keyakinan/kepercayaan kepada pelanggan.

Menunjuk salah satu anggota manajemen sebagai Manajemen Representatif yang bertanggung jawab dan berwenang dalam implementasi ISO 9001:2000 serta sebagai penghubung dengan pihak luar dalam masalah yang berhubungan dengan Sistem Manajemen Mutu.

3. Interpretasi Klausul – 6 , Manajemen Sumber Daya

Manajemen Sumber Daya dibagi menjadi tiga yaitu :

Sumber Daya Manusia, Infrastruktur, dan Lingkungan Kerja.

Personel yang melakukan pekerjaan yang berpengaruh pada mutu produk harus kompeten berdasar pada kesesuaian pendidikan, pelatihan, keterampilan dan pengalaman.

Menetapkan kompetensi yang dibutuhkan pekerja serta memberikan pelatihan untuk memenuhi kebutuhan ini, serta mengevaluasi keefektifan pelaksanaannya

. Menjamin bahwa pekerja tahu akan aktifitas dan kontribusi mereka untuk mencapai sasaran mutu (KPI). Memelihara record pendidikan, pelatihan, keterampilan dan pengalaman serta dilakukan evaluasi secara periodik, untuk kepentingan updating serta pembinaan

. Menentukan, menyediakan, dan memelihara infrastruktur (bangunan, alat produksi, utilities, hardware/software, transportasi, dan komunikasi).

Interpretasi Klausul – 7 , Realisasi Produk

Organisasi harus merencanakan dan mengembangkan proses yang dibutuhkan untuk realisasi. Perencanaan realisasi produk harus konsisten dengan persyaratan lain dari proses-proses sistem manajemen mutu. Perencanaan Realisasi Produk Dalam merencanakan realisasi produk, organisasi harus menentukan hal-hal berikut

: Sasaran mutu dan persyaratan produk

Kebutuhan untuk penetapan proses, dokumen, dan menyediakan sumber daya yang spesifik untuk produk

. Kegiatan verifikasi, validasi, pemantauan, inspeksi dan kegiatan uji yang spesifik yang dibutuhkan untuk produk dan kriteria suatu produk dapat diterima (keberterimaan produk)

Rekaman yang dibutuhkan untuk memberikan bukti bahwa proses realisasi dan produk yang dihasilkan memenuhi persyaratan.

Proses terkait pelanggan

Organisasi harus menetapkan

: Persyaratan yang ditetapkan pelanggan, termasuk persyaratan untuk penyerahan dan kegiatan setelah penyerahan.

Persyaratan produk yang tidak dinyatakan oleh pelangan tetapi dibutuhkan untuk penggunaan tertentu, jika diketahui berhubungan dengan Persyaratan dan peraturan hukum.

Menerapkan peraturan yang efektif untuk berkomunikasi dengan konsumen yang berkaitan dengan informasi produk, penanganan kontrak/pesanan yang diambil, termasuk perubahan dan keluhan pelanggan.

Rancangan dan Pengembangan

Top manajemen harus memastikan bahwa keperluan proses desain dan pengembangan telah didefinisikan, diterapkan dan dipelihara untuk merespons kebutuhan dan harapan pelanggan dan pihak yang berkepentingan lainnya

. Dalam melakukan desain harus mempertimbangkan semua faktor yang memberikan kontribusi dalam memenuhi kinerja produk dan prosesnya beserta aspek dampaknya (lingkungan dan masyarakat). Akifitas yang harus ditetapkan dalam desain dan pengembangan adalah : perencanaan desain dan pengembangan, peninjauan desain dan pengembangan, verifikasi desain dan pengembangan, validasi desain dan pengembangan serta pengendalian perubahan desain dan pengembangan.

PembelianAgar organisasi dapat menghasilkan produk atau jasa yang memenuhi harapan/kepuasan pelanggan, maka harus ada jaminan bahwa barang/jasa yang dipesan/dibeli dari pemasok sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Produk atau jasa ini dapat berbentuk bahan baku, barang setengah jadi, jasa purna jual, pemeliharaan dan lain sebagainya. Untuk itu organisasi harus mengevaluasi dan memilih pemasok atas dasar kemampuannya memenuhi persyaratan sistem manajemen mutu dengan beberapa cara, antara lain :

Melakukan tinjauan kinerja pemasok sebelumnya dalam menyediakan produk, proses dan jasa yang sama.

Melakukan evaluasi standarad sistem manajemen mutu yang dimiliki pemasok

. Melakukan evaluasi penawaran pemasok yang meliputi mutu, biaya dan ketetapan penyerahan.

Perlu dibuat record hasil evaluasi pemasok, dan record tersebut harus dipelihara.

Produksi dan penyedia jasa

Organisasi harus merencanakan dan melaksanakan produksi dan penyediaan jasa dalam keadaan terkendali, yang mencakup :

Ketersediaan informasi yang menjelaskan karakteristik produk

Ketersediaan instruksi kerja, jika diperlukan

Penggunaan peralatan yang memadai

Ketersediaan dan penggunaan peralatan pemantauan dan pengukuran.

Penerapan pemantauan dan pengukuran

. Penerapan kegiatan pelepasan, penyerahan, dan setelah penyerahan.

Pengendalian alat pemantauan dan pengukuranManajemen perlu mendefinisikan dan menerapkan pengukuran dan pemantauan proses yang efektif dan efisien, mencakup metode dan alat vervikasi, validasi produk dan proses. Alat yang digunakan harus memiliki keakuratan dan ketepatan serta kesesuaian terhadap standar.Untuk memastikan validasi hasil, alat pengukur harus dikalibrasi atau diverifikasi pada jangka waktu tertentu, atau sebelum dipakai, terhadap standard pengukuran yang mampu melacak ke standard pengukuran internasional atau nasional, jika tidak ada standard, maka dasar yang digunakan untuk kalibrasi atau verifikasi harus dicatat/direcord. Selain itu hal-hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan hal tersebut:

Mengidentifikasi peralatan yang perlu dikalibrasi

Mengkalibrasi dan memelihara peralatan inspeksi, pengukuran dan pengujian termasuk perangkat lunak

. Menentukan pengukuran dan ketelitian yang diperlukan

Apabila dilakukan kalibrasi sendiri, harus ditetapkan metode kalibrasinya.

Mengidentifikasi semua peralatan dan status kalibrasi (tagging atau label)

Memastikan bahwa kondisi lingkungan sesuai untuk melakukan kalibrasi

. Memelihara catatan kalibrasi.

Interpretasi Klausul – 8 , Pengukuran, Analisa dan Peningkatan

Mengukur kinerja organisasi merupakan kunci untuk mencapai efektifitas dan efisiensi. Hasil pengukuran kinerja tersebut akan digunakan sebagai dasar untuk membandingkan antara apa yang telah dicapai dengan apa yang seharusnya dicapai oleh organisasi. Organisasi harus secara berkesinambungan memantau tindakan peningkatan, termasuk penerapan agar dapat digunakan sebagai salah satu masukan tinjauan manajemen yang nantinya akan digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kinerja organisasi. Pengukuran kinerja organisasi tersebut harus mencakup : Pengukuran dan evaluasi produk Kemampuan suatu proses untuk mencapai hasil yang direncanakan Kepuasan pelanggan Pengukuran Sistem Manajemen Mutu tersebut adalah dengan melakukan audit secara berkala. Dengan dilakukannya audit secara berkala akan dapat diketahui kekurangan proses Sistem Manajemen Mutu dan untuk selanjutnya dilakukan koreksi. Audit juga diperlukan untuk mengetahui posisi pada suatu periode tertentu guna peningkatan perbaikan secara berkelanjutan. Audit ini dilakukan oleh internal auditor dan secara eksternal dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi.

SISTEM DOKUMENTASI DAN RECORD /CATATAN

Definisi dokumen menurut ISO 9001:2000 adalah informasi (data yang ada artinya) dan media pendukungnya (kertas, disket, CD ROM dsb). Sedangkan record merupakan dokumen yang menyatakan hasil yang dicapai atau bukti dilaksanakannya perbaikan. Dokumen sangat diperlukan di dalam Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 karena dengan dokumen memungkinkan mengkomunikasikan maksud dan konsistensi tindakan. Struktur dokumen dibedakan dalam empat level, yaitu Pedoman Mutu, Prosedur, Instruksi Kerja, Formulir-Rekaman dll. Dokumen dan record dikendalikan dengan prosedur yang diatur dalam Dokumen Mutu Penanganan dokumen dan Record.

E. SISTEM AUDIT MUTU ISO 900:2000

AUDIT MUTU adalah proses pengujian sistematik dan mandiri untuk menetapkan apakah kegiatan mutu dan hasil yang berkaiatan sesuai dengan pengaturan yang direncanakan dan apakah pengaturan-pengaturan yang disebut ini diterapkan secara efektif dan sesuai untuk mencapai tujuan. Audit dilakukan secara internal maupun eksternal. Proses audit mutu dilakukan selama menuju sertifikasi untuk memastikan kesiapan memperoleh sertifikasi dan setelah diperoleh sertifikasi untuk mempertahankan sertifikat yang diperoleh. MAsa berlaku sertifikat adalah 3 tahun dan setiap tahun di audit minimal 1 kali.

F. SERIFIKASI ISO 9000

Sertifikasi dilakukan oleh lembaga pemberi sertifikasi baiak dari dalam dan luar negeri yang telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional dan lembaga ISO internasional. Beberapa lembaga sertifikasi adalah Sucofindo, BVQI, Kema, QAS, ABIQA, AFAQ dll.

G. MANFAAT ISO 9000:2000

1. Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan melalui jaminan mutu yang terorganisasi dan sistematik

2. Meningkatkan image perusahaan serta daya saing dalam memasuki pasar global

3. Menghemat biaya dan mengurangi duplikasi audit sistem mutu oleh pelanggan

4. Terbuka kesempatan pasar baru karena perusahaan yang telah memperoleh sertifikat ISO 9000:2000 secara otomatis terdaftar pada lembaga registrasi, sehingga apabila pelanggan potensial ingin mencari pemasok bersertifikat ISO 9000:2000, akan menghubungi lembaga registrasi.

5. Meningkatkan mutu dan produktivitas dari manajemen melalui kerjasama dan komunikasi yang lebih baik

6. Sistem pengendalian yang konsisten

7. Pengurangan dan pencegahan pemborosan karena operasi internal menjadi lebih baik

8. Meningkatkan kesadaran terhadap mutu dalam perusahaan

9. Memberikan pelatihan secara sistematik kepada seluruh karyawan dan manajer organisasi melalui prosedur-prosedur dan instruksi-instruksi yang terdefinisi secara baik

10. Terjadi perubahan positif dalah hal kultur mutu dari anggota organisasi, karena manajemen dan karyawan terdorong untuk mempertahankan sertifikat ISO 9000:2000 hanya berlaku 3 tahun.

11. Memaksa organisasi bersedia menghadapi isu-isu yang berkembang di organisasi

12. Membuat sistem kerja dalam suatu perusahaab menjadi standar kerja yang terdokumentasi.

13. Adanya jaminan bahwa perusahaan itu mempunyai sistem manajemen mutu dan produk yang dihasilkan sesuai dengan keinginan pelanggan.

14. Dapat berfungsi sebagai standar kerja untuk melatih karyawan baru.

15. Menjamin bahwa proses yang dilaksanakan sesuai dengan sistem manajemen mutu yang diterapkan.

16. Semangat pegawai ditingkatkan karena mereka merasa adanya kejelasan kerja sehingga mereka bekerja dengan efisien.

17. Adanya kejelasan hubungan antara bagian yang terlibat dalam melaksanakan suatu pekerjaan.

18. Kepercayaan manajemen yang sangat tinggi.

19. Dapat mengarahkan karyawan agar berwawasan mutu dalam memenuhi permintaan pelanggan, baik internal maupun eksternal.

20. Dapat menstandardisasi berbagai kebijakan dan prosedur operasi yang berlaku di seluruh organisasi.

H. PENYEDERHANAAN PEMAHAMAN ISO 9000

  1.  

1.      Catat Apa yang Anda Lakukan

2.      Lakukan Apa Yang Anda Catat

3.      Catat Apa Yang telah Anda Capai

4.      Lakukan Control, Review dan Perbaikan

5.      Standarkan dan Dokumentasikan dengan baik

6.      Kerjakan dengan benar sejak pertama kali melakukan

- Lengkap instruksi kerja

- Adakan pelatihan

- Disiplin dalam penerapan

- Setiap orang bertanggung jawab dalam menjamin mutu

- Mutu dicapai atas kontribusi semua

- Tingkatkan mutu untuk perode berikutnya

 

 

REFERENSI

Gaspersz, V. (2003). ISO 9001:2000 and Continual Quality Improvement. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta

Lembaga Bantuan Manjemen Bandung (2000),

Materi Pelatihan Dokumentasi ISO 9000, Lembaga Bantuan Manjemen.

Noor Fitrihana (2005). Implementasi Sistem Manajemen Mutu ISO 9000 Pada Penyelenggaraan Pendidikan Kejuruan, Jurnal JPTK FT-UNY. Yogyakarta

Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, (2006) MAteri Pelatihan ISO 9000, usat Studi Pangan dan Gizi UGM: Yogyakarta

Sprint Consultant (2002), Pelatihan ISO 9000, Sprint Consultan: Jakarta Suardi, R., (2004). Sistem Manajemen Mutu ISO 9000:2000 : Penerapannya Untuk Mencapai TQM. Penerbit PPM : Jakarta

 

Oleh : Arifin

Setiap manusia pasti akan menginginkan suatu kehidupan yang lebih baik. Kesuksesan, kemapanan, kelayakan, dan hidup sejahtera adalah dambaan semua manusia. Tidak heran apabila berbagai daya dan upaya di eksploitasi dan eksplorasi demi tercapainya suatu tujuan.  Memang tidak bisa kita pungkiri jikalau sukses identik dengan kecukupan hingga melimpahnya harta. Akan tetapi harta tidak sepenuhnya membawa kebahagiaan. Padahal kita sepakat bahwa kebahagiaan adalah keinginan terbesar dari setiap insan.

QS.3:14. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

 

QS.76:27. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat).

 

QS.75:20. Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia,

Penafsiran akan kesuksesan dan kebahagiaan tidak lain adalah terpenuhinya materi ini tidak selamanya linier dengan apa yang kita temui di lapangan. Kita sebut saja si Fulan, demi sesuap nasi dan bahagia hari esok dia mengais rezeki tanpa kenal waktu, pagi – siang – malam tak ada dilewatinya tanpa mencari uang, uang dan uang. Bahkan sebagian orang hingga rekeningnya menumpuk, hartanya melimpah, warisannya tak terkira tapi tidak sedikit pula dia mengorbankan waktu untuk keluarga, kewajibannya untuk beribadah kepada Allah SWT, kehidupan sosial, bahkan kondisi dirinya pun kadang tidak mengetahuinya.

Ada lagi seorang yang pekerjaannya begadang tiap malam, minum dan mabuk – mabukkan, free-sex, dugem, lomba dan perjudian, narkotika, membunuh, merampok, korupsi, memfitnah, berdusta, menggunjing, dan hal – hal yang membuat mereka “merasa” bahagia baik dengan merugikan diri sendiri ataupun merampas kebahagian orang lain .

Ada pula pelajar kita yang mencari ilmu tidak kenal lelah, berbagai gelar disandang, berbagai guru dan tempat di penjuru dunia di datangai, bahkan sampai meninggalkan keluarga dan masa pernikahan pun di jalaninya dengan santai.

QS.13:26. Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).

 

QS.43:32. Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.

 

Pernahkah kita mendengar bagaimana si fakir dan miskin, pengemis, tua renta, dan pemandangan sosial yang sangat memilukan harus mengalirkan keringat bahkan darah demi menyambung hidupnya. Atau bagaimana pula seorang dermawan, relawan, dan juru dakwah jauh menyambangi daerah yang sangat terpencil, pelosok hutan, atau di negeri entah berantah bahkan konon hingga meninggalkan sebagian hiruk pikukny dalam urusan duniawi demi suatu kenikmatan yang luar biasa, kepuasan yang tak terkira dan kebahagian di negeri yang akan datang yaitu negeri akhirat bagi hamba – hamba yang percaya Tuhan.

Kita juga merasa iri jikalau saudara – saudara kita lebih betah tinggal di tempat – tempat ibadah memposisikan jiwa raganya hanya untuk melayani Tuhan baik menjadi rahib – rahib, pendeta, pertapa, marbot, dan jabatan pelayanan keagamaan dan kepercayaan lainnya yang tanpa harus berpikir akan perannya didunia ini dalam hal materi dan dari sudut pandang kenegatifan hanya mengesankan minta belas kasihan orang – orang dalam mencukupi keperluan dunianya. Dan potret – potret kehidupan dunia lainnya yang membuat kita dapat mengerti dan memaknai hakekat hidup didunia meskipun fenomena maraknya motivator- motivator dengan slogan “kesuksesannya” menjadi suguhan dan tawaran yang layak bagi sebagian orang yang butuh pencerahan, dan stimulus atau rangsangan dalam memulai langkah hidupnya.

QS.2:204. Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.

 

Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa setiap manusia mempunyai empat kategori pokok, yaitu :

  1. Orang yang hidupnya bahagia didunia dan bahagia di akhirat.
  2. Orang yang hidupnya bahagia didunia dan celaka di akhirat.
  3. Orang yang hidupnya celaka didunia dan bahagia di akhirat.
  4. Orang yang hidupnya celaka didunia dan celaka di akhirat.

Tentunya setiap manusia memilih yang nomor satu, itupun jika manusia percaya pada Tuhan dan hari Akhir.

QS.11;15. Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia  itu tidak akan dirugikan.

 

QS.3:145. Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

 

QS.4:134. Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

 

QS.42:20. Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.

 

QS.9:38. Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.

Lantas konsep apa yang direkomendasikan oleh Al Quran sebagai firman – firman Tuhan Allah SWT terutama bagi seorang muslim?  Apakah kunci kesuksesan yang ditawarkan oleh Islam ?

QS.83:29. Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman.

Kita pasti ingat bagaimana kyai, ajengan, tuan guru, buya, dan guru atau ustadz mengajarkan kita akan suatu do’a dan dzikir yang dipanjatkan setiap kapanpun juga bahkan setiap kita melakukan sholat pada tasyahud akhir. Dan do’a ini juga merupakan puncak harapan dan cita – cita setiap manusia dalam menempuh perjalanan hidupnya, do’a itu juga termaktub dalam Al Quran adalah ;

QS.2: 200. Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.

 

QS.2:201. Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

 

Bagi setiap orang yang beriman tidak ada kebahagiaan yang dapat dilukiskan kecuali bertemu kekasihnya yaitu Tuhan 4JJI SWT di akhirat sesuai hadist Nabi. Dan perjumpaan ini tidak lain di negeri akhirat yang kesananya kita harus melewati suatu masa yang bernama kematian. Dan pertemuan indah ini tatkala kita berada di syurga. Untuk itu kita harus memahami hakekat dunia terlebih dahulu supaya tidak memberatkan kita di akhirat.

 

 

QS.6:32. Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka[468]. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?

 

QS.47:36. Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala keppadamu dan Dia tidak akan memint harta-hartamu

 

QS.29:64. Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.

 

QS.40:39. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.

 

QS.57:20. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

 

QS.18:45. Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

Keinginan akan suatu materi jangan sampai menjadikan suatu penyakit ”wahn” (Cinta dunia dan takut mati) dan kesombongan, keangkuhan, tamak, loba, dan tinggi hati tanpa kesyukuran yang dapat merampas kebahagiaan dan kesuksesan kita di akhirat.

 

QS.3:185. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah

 

QS.17:72. Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).

 

QS.45;35. Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat.

 

QS.45:24. Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.

 

QS.15:3. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).

 

QS.35:5. Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.

 

QS.31:33. Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.

 

QS.34:35. Dan mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab.

 

QS.28:79. Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”

 

QS.23:114. Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui

 

QS.7:168. Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).

 

QS.7:51. (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.” Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami

 

QS.2:96. Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

 

QS.2:212. Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka  di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

 

QS.6:70. Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa’at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.

 

Untuk itulah kunci kebahagiaan (syurga) adalah Laa ilaa ha illa4JJI (Tiada Tuhan Selain 4JJI SWT). Dan tauhid ini dibangkai dalam iman yang domainnya hati. Maka penyakit – penyakit hati harus dihilangkan terutama Al Wahn.

 

Apabila kita menghendaki kebahagian dunia maka harus punya ilmu, jika ingin kebahagiaan dunia juga harus punya ilmu dan jika menginginkan kedua – duanya juga harus punya ilmu. (HR). Semua ilmu sudah termaktub dalam kitab al Quran.

 

Kesuksesan dan  kebahagiaan dunia akhirat dapat terwujud apabila kita memenuhi syarat – syarat yang telah diajarkan oleh yang mempunyai tempat kebahagiaan yaitu dunia dan akhirat (syurga). Semua secara jelas dan rinci dipaparkan dalam al Qur’an  surat (23) al Mu’minum (Orang – orang yang beriman) yaitu:

  1. Sesungguhnya (”Qodz” lebih tinggi derajatnya daripada ”Inna” meskipun sama – sama berarti ”sungguh” tetapi ”Qodz”  lebih berarti ”sungguh dan pasti/mutlak”) beruntunglah/ sukses/ menang/ bahagia orang-orang yang beriman
  2. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya,
  3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
  4. dan orang-orang yang menunaikan zakat,
  5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
  6. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki (budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir, bukan budak belian yang didapat di luar peperangan. Dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu, wanita-wanita yang ditawan biasanya dibagi-bagikan kepada kaum Muslimin yang ikut dalam peperangan itu, dan kebiasan ini bukanlah suatu yang diwajibkan: Imam boleh melarang kebiasaan ini; budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya.); maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.
  7. Barangsiapa mencari yang di balik itu (zina, homoseksual, dan sebagainya) maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
  8. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
  9. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.
  10. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,
  11. (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

 

 

 

 

Buchari, Kris Tri Basuki, Prayitno, A Sulaeman, B Bundjali, M Sodiq Ibnu, Kun Sri Budiarsih, M Ali Zulfikar, dan Djokowidodo

Departemen Kimia, Institut Teknologi Bandung

 

Proses pelapisan logam dasar oleh logam krom secara listrik (electroplating) menghasilkan limbah cair yang mengandung krom(VI) dalam konsentrasi yang relatif tinggi, rata-rata antara 180 hingga 500 ppm. Mengingat krom(VI) termasuk bahan kimia yang berbahaya, keberadaannya di lingkungan perlu dicermati. Proses pengolahan konvensional yang telah diterapkan ialah cara kimia, dengan menambahkan garam besi(II) ke dalam limbah cair itu. Besi(II) teroksidasi menjadi besi(III) dan krom(VI) tereduksi menjadi krom(III). Selanjutnya, besi(III) dan krom(III) diendapkan sebagai hidroksidanya melalui penambahan basa. Cara ini dinilai tidak ekonomis mengingat garam besi(II) berharga mahal dan masih memerlukan tindak lanjut terhadap limbah padat hasil pemisahan tersebut. 

Pemisahan krom(IV) secara membran cair emulsi akan dicobakan untuk mengatasi masalah tersebut. Membran cair emulsi dibuat dengan mendispersikan fase internal ke dalam fase membran. Pada kasus penanganan limbah cair proses electroplating, emulsi yang digunakan ialah jenis air dalam minyak atau lainnya. Fase membran mengandung surfaktan dan senyawa pengemban (carrier). Selanjutnya emulsi dikontakkan dengan fase umpan. Penelitian ini mempelajari berbagai kondisi yang mempengaruhi ekstraksi. Pembuatan emulsi dioptimasi dengan mempelajari parameter  komposisi membran, nisbah volume fase organik terhadap fase internal, kecepatan pengadukan, dan lama pengadukan. Parameter ekstraksi yang dipelajari ialah nisbah volume fase umpan terhadap fase emulsi, kecepatan pengadukan, waktu kontak, dan komposisi fase internal.

Proses pemisahan ditempuh melalui 2 tahap, yakni tahap pembuatan emulsi dan tahap ekstraksi. Emulsi dibuat dengan mencampurkan fase organik dengan fase internal. Fase organik terdiri atas larutan surfaktan sorbitan monoo-leat (SPAN-80), senyawa pengemban yang dipelajari: trioktil amina (TOA), tridesil amina (TDA), di-2-etil heksil fosfat (D2EHPA), tributil fosfat (TBP), dan trioktil fosfin oksida (TOPO) dalam pelarut kerosen. Fase internal yang dipelajari ialah larutan NAOH, NA2CO3, NaCl, dan NaHCO3, dengan konsentrasi tertentu. Parameter yang dipelajari ialah komposisi fase organik, komposisi fase internal, kecepatan pengadukan, lama pengadukan, dan nisbah volume fase organik terhadap fase internal. Pengadukan kuat dilakukan dengan menggunakan Ultra Turrax T-50 dari Janbe and Kunkel Ikan Laboratecnek. Selanjutnya emulsi dikontakkan dengan fase umpan yang telah mengandung krom(VI). Pada tahap pertama, fase umpan merupakan larutan simulasi sedangkan pada tahap kedua, larutan umpan berupa limbah cair yang diperoleh dari industri electroplating di kawasan Bandung. Parameter ekstraksi yang dipelajari ialah nisbah volume fase umpan terhadap fase emulsi, waktu kontak, kecepatan pengadukan, dan komposisi fase umpan. Konsentrasi krom dalam limbah selama proses ekstraksi ditentukan dengan metode spektrofotometri serapan atom.

Berikut ini dikemukakan beberapa kesimpulan dari penelitian ini. Konsentrasi surfaktan terbaik SPAN-80 5% v/v, dan konsentrai fase internal larutan (NH4)2CO3 1%. Penggunaan TOA, TDA, D2EHPA, dan TBP sebagai senyawa pengemban tidak memberikan perbedaan yang berarti. Konsentrasi optimum larutan pengemban ialah 5% v/v. Kecepatan pengaduk 75000 rpm, selama 5 menit. Nisbah volume fase organik terhadap fase internal ialah 1:1. Konsentrasi krom(VI) dalam fase umpan 100 ppm. Nisbah volume fase umpan dan emulsi 3:1, dan waktu kontak 15 menit dengan pengadukan 300 rpm. Sebagai fase internal, hasil terbaik diberikan oleh larutan Na2CO3. Konsentrasi fase internal yang optimum ialah 1% atau sekitar 0.3 M. Sementara itu, senyawa pengemban yang dipelajari, dengan konsentrasi optimum 5% (v/v) untuk TOA, TDA, D2EHPA, TBP, dan TOPO 1.2% (w/v) akan memberikan ekstraksi krom yang melampaui 95%. Nisbah volume fase organik terhadap fase internal terbaik ialah 1:1. Konsentrasi krom dalam fase umpan ialah 100 ppm dalam suasana asam sulfat berkisar 0.1 M. Nisbah volume fase umpan terhadap fase emulsi optimum pada 3:1 tetapi dengan nisbah 5:1 masih mampu mengekstraksi hingga 80%. Pengulangan ekstraksi dengan memanfaatkan kembali komponen penyusun emulsi yang diperoleh dari deemulsifikasi, masih mampu mengekstraksi krom hingga 70% pada pengulangan ketiga. Dari penelitian ini ditemukan adanya krom sekitar 0.1 ppm di dalam rafinat, yang mengindikasikan adanya kebocoran membran.

 

Adopted from : Hibah Bersaing VI

 

SURAT CINTA IPA

Archimedes dan Newton tak akan mengerti Medan magnet
yang berinduksi di antara kita
Einstein dan Edison tak sanggup merumuskan E=mc2
Ah tak sebanding dengan momen cintaku

Pertama kali bayangmu jatuh tepat di fokus hatiku
Nyata, tegak, diperbesar dengan kekuatan lensa
maksimum
Bagai tetes minyak milikan jatuh di ruang hampa
Cintaku lebih besar dari bilangan avogadro…

Walau jarak kita bagai matahari dan Pluto saat
aphelium
Amplitudo gelombang hatimu berinterfensi dengan
hatiku
Seindah gerak harmonik sempurna tanpa gaya pemulih
Bagai kopel gaya dengan kecepatan angular yang tak
terbatas

Energi mekanik cintaku tak terbendung oleh friksi
Energi potensial cintaku tak terpengaruh oleh
tetapan
gaya
Energi kinetik cintaku = -mv~
Bahkan hukum kekekalan energi tak dapat menandingi
hukum kekekalan di antara kita

Lihat hukum cinta kita
Momen cintaku tegak lurus dengan momen cintamu
Menjadikan cinta kita sebagai titik ekuilibrium yang
sempurna
Dengan inersia tak terhingga
Takkan tergoyahkan impuls atau momentum gaya

Inilah resultan momentum cinta kita…

 

SURAT CINTA ANAK IPS

Dengan hormat,
Hal : Penawaran Kesepakatan

Saya sangat gembira memberitahukan Anda bahwa saya
telah jatuh cinta kepada Anda terhitung tanggal 17
April 2003.

Berdasarkan rapat keluarga kami tanggal 15 Mei lalu
pukul 19.00 WIB, saya berketetapan hati untuk
menawarkan diri sebagai kekasih Anda yang
prospektif.

Hubungan cinta kita akan menjalin masa percobaan
minimal 3 bulan sebelum memasuki tahap permanen.

Tentu saja, setelah masa percobaan usai, akan
diadakan
terlebih dahulu on the job training secara intensif
dan
berkelanjutan. Dan kemu dian , setiap tiga bulan
selanjutnya akan diadakan juga evaluasi performa
kerja
yang bisa menuju pada pemberian kenaikan status dari
kekasih menjadi pasangan hidup.

Biaya yang dikeluarkan untuk kerumah makan dan
shooping akan dibagi 2 sama rata antara kedua belah
pihak. Selanjutnya didasarkan pada performa dan
kinerja Anda, tidak tertutup kemungkinan bahwa saya
akan menanggung bagian yang lebih besar pengeluaran
total.

Akan tetapi, saya cukup bijaksana dan mampu menilai,
jumlah dan bentuk pengeluaran yang Anda keluarkan
nantinya.

Saya dengan segala kerendahan hati meminta Anda
untuk
menjawab penawaran ini dalam waktu 30 hari
terhitung tanggal penerimaan surat . Lewat dari
tanggal
tersebut, penawaran ini akan dibatalkan tanpa
pemberitahuan lebih lanjut, dan tentu saja saya akan
beralih dan mempertimbangkan kandidat lain.

Saya akan sangat berterimah kasih apabila Anda
berkenan untuk meneruskan surat ini kepada adik
perempuan, sepupu bahkan teman dekat anda, apabila
Anda menolak penawaran ini.

Demikian penawaran yang dapat saya ajukan dan
sebelumnya terima kasih atas perhatiannya.

Hormat saya,

Bakal calon pasanganmu

 

SURA CINTA MATEMATIKAWAN

Untuk … tersayang

Tiga minggu yang lalu…
Untuk pertama kalinya kulihat kau berdiri tegak
lurus lantai
Kulihat alismu yang berbentuk setengah lingkaran
dengan diameter 4 cm
Saat itulah kurasakan sesuatu yang lain dari padamu
Kurasakan cinta yang rumit bagaikan invers matriks
berordo 5×5

Satu minggu kemudian aku bertemu kau kembali…
Kurasakan cintaku bertambah,
bagaikan deret divergen yang mendekati tak hingga
Limit cintaku bagaikan limit tak hingga
Dan aku semakin yakin,
hukum cinta kita bagaikan
hukum kekekalan trigonometri sin2+cos2 = 1

Kurasakan dunia yang bagaikan kubus ini menjadi
milik kita berdua
Dari titik sudut yang berseberangan,
kau dan aku bertemu di perpotongan diagonal ruang

Semakin hari kurasakan cintaku padamu
bagaikan grafik fungsi selalu naik yang tidak
memiliki nilai ekstrim.
Hanya ada titik belok horizontal yang akan selalu
naik
Kurasakan pula kasihku padamu
bagaikan grafik tangen (90o < x < 270o)

Namun aku bimbang…
Kau bagaikan asimtot yang sulit bahkan tidak mungkin
kucapai
Aku bingung bagaikan memecahkan soal sistem
persamaan linear
yang mempunyai seribu variabel dan hanya ada 100
persamaan
Bahkan ekspansi baris kolom maupun Gauss Jordan pun
tak dapat memecahkannya

SURAT CINTA KIMIAWAN

Teruntuk Yang Tercinta
Susanna Tenikimia (Susahnya Teknik Kimia)

Sayang…… ……
Waktu kutulis surat ini, aku sedang menyelesaikan
run-ku yang keduapuluhdua.
Entahlah.. kala memandang kukus jenuh yang mengepul
manja hingga terbirit malu
meninggalkan boiler, aku lihat bayanganmu di sana.
Bayangan syahdu, gemulai,
sendu yang dihiasi dengan senyum continuous yang
meneduhkan, namun di balik
keteduhan itu terdapat cahaya yang sanggup
memancarkan berjoule-joule energi
untuk menggerakkan turbin hatiku.

Tidakkah engkau tahu bahwa fluida di tubuh ini
mengalir turbulen dengan laju
alir linier yang sangat tinggi. Sekonyong-konyong
viskositasnya menurun tajam.
Bahkan friction factor pun tak lagi mempengaruhi
perpindahan massanya. Fenomena
ini sering terjadi tatkala bayang-bayangmu yang
berkedok kukus itu berdifusi
melalui membran-membran sukma yang terbuat dari
polimer polilovin buatan Prof.
Mc Cabe setelah melalui laku ritual di atas puncak
kolom distilasi
berefisiensi Murphree sebesar 70% setinggi 80 m.

Aku sangat menyadari cintapun memerlukan proses
pemurnian, dipilah-pilah
berdasarkan sifat fisik dan kimianya sebelum lebur
ke dalam converter
bertekanan dan bertemperatur tinggi. Tak terkecuali
pula cintaku. Aku masih
sangsi akan kemurnian cintaku padamu dari
impurities-impuriti es lain yang dapat
menimbulkan kerak di dinding hatimu. Aku pun masih
khawatir spesifikasi heat
exchanger yang membantu terselenggaranya cinta itu
masih jauh dari standar TEMA
(Taktik Efisien dalam Menjalin Asmara). Yah
bagaimanapun juga dalam setiap
proses terjadinya cinta selalu melibatkan
perpindahan panas.

Susanna…..
Di malam yang dingin ini, dengan suhu lingkungan
yang mendekati titik beku
aseton, aku masih termenung. Mencoba bercumbu dengan
secangkir kopi yang
diekstrak dengan CO2 superkritik yang menari-nari di
atas screw conveyor masuk
ke dalam lambung, sebuah Reaktor Tangki Ideal
Kontinu di dalam tubuh dengan
katalis asam klorida. Sayang sekali…… aku tak
berminat menghabiskan waktu
mempelajari kinetikanya. Teringat reaktor, tiba-tiba
terbesit kenangan akan
perpaduan dan interaksi antara molekul cintamu dan
cintaku tiga tahun lampau.
Dengan kesetiaan dan kepercayaan sebagai
agitatornya. Kasih sayang sebagai
katalisnya yang akan memperkecil waktu tinggal dan
mempercepat impi

Huaaahhhh… …..cukup lama kita membicarakan cinta,
Sayang. Sudahkah kau mengerti
apa arti cinta setelah sekian lama kau terabsorpsi
ke dalamnya? Cinta itu
laksana pembicaraan LABTEK (OTK), honey. Ketika kau
belum mendapatkannya, kau
akan berbanjir peluh mengejar-ngejar seperti seorang
process engineer
kehilangan valve yang disayanginya. Kau akan
menghabiskan separuh waktumu untuk
mempelajari kelemahan dan kekuatannya. Tak peduli
seperti apa orang
yang akan kau hadapi kelak. Dan selalu kembali
tatkala sepi menyerangmu. Tapi..
setelah kau mendapatkannya, kau akan mendapati bahwa
dirimu begitu tolol dan
bodoh, ternyata memang tidak sesederhana apa yang
engkau bayangkan sebelumnya.

Susanna….. .malam begitu dingin. Kuberharap udara
dingin ini mendatangkan
keuntungan bagi kelangsungan proses kita. Proses
yang butuh beberapa tahap lagi
untuk mencapai keadaan steady state. Dan di luar itu
selalu terdapat
gangguan-gangguan baik yang terukur maupun tidak
terukur. Kita harus selalu
siap dengan metode pengendalian diri yang ampuh guna
mengembalikannya ke jalur
yang kita impikan bersama.
Kemarilah, kasih. Dekaplah aku, marilah kita berbagi
panas asmara, tak peduli
apakah secara konduksi, konveksi ataupun radiasi.
Sebab tanpa pertukaran panas,
aku yakin proses kita akan terhenti sampai di sini.

Yah.. satu hal yang harus kau ingat. Aku memang
cinta diagram fasa, steam
table, butiran packing, evaporator, kolom absorber,
cooling tower, Christy
Geankoplis, Perry, Van Ness, dan……. (biippp..
nama seorang dosen TK). Tapi….. selalu hanya satu
nama
yang selalu tersebut dari bibirku yang gemetar…..
Namamu…..

(expresi dunia maya; bloggerista)

 

 

oleh : Ahmad Kurnia

Abstract

In the era of globalization, competion in business will be very tight either in the domestic or in the international/global market. Any interprize which will grown or at least servive must be able to produce a product with better quality, a cheaper price, faster delivery and better service to customers compared to the competitors. In order to be able to achieve to the above goal, the enterprise should apply the Total Quality Management (TQM) that has an objective to improve the quality of products and services continuously to satisfy the customers.

Pendahuluan

Pada era globalisasi sekarang ini, persaingan yang sangat tajam terjadi baik di pasar domestik maupun di pasar internasional/global. Agar perusahaan dapat berkembang dan paling tidak bisa bertahan hidup, perusahaan tersebut harus mampu menghasilkan produk barang dan jasa dengan mutu yang lebih baik, harganya lebih murah, promosi lebih efektif, penyerahan barang ke konsumen lebih cepat, dan dengan pelayanan yang lebih baik apabila dibandingkan dengan para pesaingnya.

Kondisi demikian mempunyai arti, bahwa perusahaan yang akan memenangkan persaingan dalam segmen pasar yang telah dipilih harus mampu mencapai tingkat mutu, bukan hanya mutu produknya, akan tetapi mutu ditinjau dari segala aspek, seperti mutu bahan mentah dan pemasok harus bagus (bahan baku yang jelek akan menghasilkan produk yang jelek pula), mutu sumber daya manusia (tenaga kerja) yang mampu bekerja secara efisien sehingga harga produk bias lebih murah dari pada harga pesaingnya, promosi yang efektif (bermutu), sehingga mampu memikat para pembeli sehingga pada gilirannya akan meningkatkan jumlah pembeli. Mutu distribusi yang mampu menyerahkan produk sesuai dengan waktu yang dikehendaki oleh pembeli, serta mutu karyawan yang mampu melayani pembeli dengan memuaskan. Inilah yang dimaksud mutu terpadu secara menyeluruh (total quality).

Banyak perusahaan Jepang yang memperoleh sukses global, karena memasarkan produk yang sangat bermutu. Bagi perusahaan/organisasi ingin mengikuti perlombaan bersaing untuk meraih laba/manfaat tidak ada jalan lain kecuali harus menerapkan Total Quality Management. Philip Kolter (1994) mengatakan : “Quality is our best assurance of custemer allegiance, our strongest defence against foreign competition and the only path to sustair growth and earnings”.

Ada hubungan yang erat antara mutu produk (barang dan jasa), kepuasan pelanggan, dan laba perusahaan. Makin tinggi mutu suatu produk, makin tinggi pula kepuasan pelanggan dan pada waktu yang bersamaan akan mendukung harga yang tinggi dan seringkali biaya rendah. Oleh karena itu program perbaikan mutu bertujuan menaikkan laba. Dari penelitian membuktikan ada korelasi yang kuat antara mutu dengan laba yang dapat diraih oleh perusahaan.

Sesuai dengan judul di atas tulisan ini akan membahas tentang Total Quality Management atau Manajemen Mutu Terpadu dan hal-hal yang berkaitan dengannya, yang akan terlihat pada tulisan berikut.

Sejarah Tentang Mutu

Pada mulanya mutu produk ditentukan oleh produsen. Pada perkembangan selanjutnya, mutu produk ditentukan oleh pembeli, dan produsen mengetahuinya bahwa produk itu bermutu bagus yang memang dapat dijual, karena produk tersebut dibutuhkan oleh pembeli dan bukan menjual produk yang dapat diproduksi.

Perkembangan mutu terpadu pada mulanya sebagai suatu system, perkembangan di Amerika Serikat. Buah pikiran mereka pada mulanya kurang diperhatikan oleh masyarakat, khususnya masyarakat bisnis. Namun beberapa dari mereka merupakan pemegang kunci dalam pengenalan dan pengembangan konsep mutu. Sejak 1980 keterlibatan mereka dalam manajemen terpadu telah dihargai di seluruh dunia. Adapun konsep-konsep mereka tentang mutu terpadu secara garis besar dapat dikemukakan berikut ini.

1. F.W. Taylor (1856-1915)

Seorang insiyur mengembangkan satu seri konsep yang merupakan dasar dari pembagian kerja (devision of work).

Analisis dengan pendekatan gerak dan waktu (time and motion study) untuk pekerjaan manual, memperoleh gelar “Bapak Manajemen Ilmiah” (The Farther of Scientific Management). Dalam bukunya tersebut Taylor menjelaskan beberapa elemen tentang teori manajemen, yaitu :

  • Setiap orang harus mempunyai tugas yang jelas dan harus diselesaikan dalam satu hari.
  • Pekerjaan harus memiliki peralatan yang standar untuk menyelesaikan tugas yang menjadi bagiannya.
  • Bonus dan intensif wajar diberikan kepada yang berprestasi maksimal.
  • Penalti yang merupakan kerugian bagi pekerjaan yang tidak mencapai sasaran yang telah ditentukan (personal loss).

Taylor memisahkan perencanaan dari perbaikan kerja dan dengan demikian memisahkan pekerjaan dari tanggung jawab untuk memperbaiki kerja.

2. Shewhart (1891-1967)

Adalah seorang ahli statistik yang bekerja pada “Bell Labs” selama periode 1920-1930. Dalam bukunya “The Economic Control of Quality Manufactured Products”, merupakan suatu kontribusi yang menonjol dalam usaha untuk memperbaiki mutu barang hasil pengolahan. Dia mengatakan bahwa variasi terjadi pada setiap segi pengolahan dan variasi dapat dimengerti melalui penggunaan alat statistik yang sederhana. Sampling dan probabilitas digunakan untuk membuat control chart untuk memudahkan para pemeriksa mutu, untuk memilih produk mana yang memenuhi mutu dan tidak. Penemuan Shewhart sangat menarik bagi Deming dan Juran, dimana kedua sarjana ini ahli dalam bidang statistik.

3. Edward Deming

Lahir tahun 1900 dan mendapat Ph. D pada 1972 sangat menyadari bahwa ia telah memberikan pelajaran tentang pengendalian mutu secara statistik kepada para insinyur bukan kepada para manajer yang mempunyai wewenang untuk memutuskan. Katanya : “Quality is not determined on the shop floor but in the executive suite”. Pada 1950, beliau diundang oleh, “The Union to Japanese Scientists and Engineers (JUSE)” untuk memberikan ceramah tentang mutu. Pendekatan Deming dapat disimpulkan sebagai berikut :

  • Quality is primarily the result of senior management actions and not the results of actions taken by workers.
  • The system of work that determines how work is performed and only managers can create system.
  • Only manager can allocate resources, provide training to workers, select the equipment and tools that worekers use, and provide the plant and environment necessary to achieve quality.
  • Only senior managers determine the market in which the firm will participate and what product or service will be solved.

Hal ini berarti bahwa tanpa keterlibatan pimpinan secara aktif tidak mungkin tercapai manajemen mutu terpadu.

4. Prof Juran

Mengunjungi Jepang pada tahun 1945. Di Jepang Juran membantu pimpinan Jepang di dalam menstrukturisasi industri sehingga mampu mengekspor produk ke pasar dunia. Ia membantu Jepang untuk mempraktekkan konsep mutu dan alat-alat yang dirancang untuk pabrik ke dalam suatu seri konsep yang menjadi dasar bagi suatu “management process” yang terpadu. Juran mendemonstrasikan tiga proses manajerial untuk mengelola keuangan suatu organisasi yang dikenal dengan trilogy Juran yaitu, Finance Planning, Financial control, financial improvement. Adapun rincian trilogy itu sebagai berikut :

  • Quality planning, suatu proses yang mengidentifikasi pelanggan dan proses yang akan menyampaikan produk dan jasa dengan karakteristik yang tepat dan kemudian mentransfer pengetahuan ini ke seluruh kaki tangan perusahaan guna memuaskan pelanggan.
  • Quality control, suatu proses dimana produk benar-benar diperiksa dan dievaluasi, dibandingkan dengan kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan para pelanggan. Persoalan yang telah diketahui kemudian dipecahkan, misalnya mesin-mesin rusak segera diperbaiki.
  • Quality improvement, suatu proses dimana mekanisme yang sudah mapan dipertahankan sehingga mutu dapat dicapai berkelanjutan. Hal ini meliputi alokasi sumber-sumber, menugaskan orang-orang untuk menyelesaikan proyek mutu, melatih para karyawan yang terlibat dalam proyek mutu dan pada umumnya menetapkan suatu struktur permanen untuk mengejar mutu dan mempertahankan apa yang telah dicapai sebelumnya.

Uraian tokoh-tokoh mutu di atas sekedar menggambarkan secara singkat saja. Masih banyak para sarjana di bidang mutu yang tidak sempat ditulis pada kesempatan ini. Yang jelas para sarjana tersebut sependapat bahwa konsep : “pentingnya perbaikan mutu secara terus menerus bagi setiap produk walaupun tehnik yang diajarkan berbeda-beda”. Kini sampailah pada pengertian mutu yang diambil dari America Society for Quality Control yang mengatakan : Quality is the totality of features and characteristics of a product or service that bear on its ability to satisty stated of implied needs (Kotler : 1994).

Definisi di atas berkonotasi kepada pelanggan. Produk bermutu kalau dapat memuaskan para pelanggan yang mengkonsumsi produk tersebut.

Manajemen mutu terpadu

Kita sependapat bahwa mutu tidak ditentukan oleh pekerjaan di bengkel atau oleh tehnis pemberi jasa yang bekerja melayani pelanggan akan tetapi ditentukan oleh para manajer senior suatu organisasi yang berkat posisi yang dimilikinya bertanggung jawab kepada pelanggan, karyawan, pemasok dan pemegang saham untuk keberhasilan suatu usaha. Manajer senior ini mengalokasikan implementasi proses manajemen yang memungkinkan perusahaan memenuhi visi dan misi mereka. Dengan mengkombinasikan prinsip-prinsip tentang mutu oleh para ahli dengan pengalaman praktek telah dicapai pengembangan suatu model sederhana akan tetapi sangat efektif untuk mengimplementasikan manajemen mutu terpadu. Model tersebut terdiri dari komponen-komponen berikut :

Tujuan

:

Perbaikan terus menerus, artinya mutu selalu diperbaiki dan disesuaikan dengan perubahan yang menyangkut kebutuhan dan keinginan para pelanggan.

Prinsip

:

Fokus pada pelanggan, perbaikan proses dan keterlibatan total.

Elemen

:

Kepemimpinan, pendidikan dan pelatihan, struktur pendukung, komunikasi, ganjaran dan pengakuan serta pengukuran.

Model di atas dibentuk berdasarkan tiga prinsip mutu terpadu yaitu :

  • Fokus kepada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal.
  • Fokus pada perbaikan proses kerja untuk memproduksi secara konsisten produk yang dapat diterima.
  • Fokus yang memanfaatkan bakat para karyawan.
Tiga prinsip mutu

Tiga prinsip mutu yang di atas yaitu :

1. Fokus pada pelanggan

Mutu berdasarkan pada konsep bahwa setiap orang mempunyai pelanggan dan bahwa kebutuhan dan harapan pelanggan harus dipenuhi setiap saat kalau organisasi/perusahaan secara keseluruhan bermaksud memenuhi kebutuhan pelanggan eksternal (pembeli).

2. Perbaikan proses

Konsep perbaikan terus menerus dibentuk berdasarkan pada premisi suatu seri (urutan) langkah-langkah kegiatan yang berkaitan dengan menghasilkan output seperti produk berupa barang dan jasa. Perhatian secara terus menerus bagi setiap langkah dalam proses kerja sangat penting untuk mengurangi keragaman dari output dan memperbaiki keandalan. Tujuan pertama perbaikan secara terus menerus ialah proses yang handal, dalam arti bahwa dapat diproduksi yang diinginkan setiap saat tanpa variasi yang diminimumkan. Apabila keragaman telah dibuat minimum dan hasilnya belum dapat diterima maka tujuan kedua dari perbaikan proses ialah merancang kembali proses tersebut untuk memproduksi output yang lebih dapat memenuhi kebutuhan pelanggan, agar pelanggan puas.

3. Keterlibatan total

Pendekatan ini dimulai dengan kepemimpinan manajemen senior yang aktif dan mencakup usaha yang memanfaatkan bakat semua karyawan dalam suatu organisasi untuk mencapai suatu keunggulan kompetitif (competitive advantage) di pasar yang dimasuki. Karyawan pada semua tingkatan diberi wewenang/kuasa untuk memperbaiki output melalui kerjasama dalam struktur kerja baru yang luwes (fleksibel) untuk memecahkan persoalan, memperbaiki proses dan memuaskan pelanggan. Pemasok juga dilibatkan dan dari waktu ke waktu menjadi mitra melalui kerjasama dengan para karyawan yang telah diberi wewenang/kuasa yang dapat menguntungkan organisasi/perusahaan. Pada waktu yang sama keterlibatan pimpinan bekerjasama dengan karyawan yang telah diberi kuasa tersebut.

Elemen pendukung dalam TQM

Elemen-elemen pendukung dimaksud adalah :

1. Kepemimpinan

Manajer senior harus mengarahkan upaya pencapaian tujuan dengan memberikan, menggunakan alat dan bahan yang komunikatif, menggunakan data dan menggali siapa-siapa yang berhasil menerapkan konsep manajemen mutu terpadu. Ketika memutuskan untuk menggunakan MMT/TQM sebagai kunci proses manajemen, peranan manajer senior sebagai penasihat, guru dan pimpinan tidak bisa diremehkan.

Pimpinan Senior suatu organisasi harus sepenuhnya menghayati implikasi manajemen di dalam suatu ekonomi internasional di mana manajer yang paling berhasil, paling mampu dan paling hebat pendidikannya di dunia, harus diperebutkan melalui persaingan yang ketat. Kenyataan hidup yang berat ini akan menyadarkan manajer senior mengakui bahwa mereka harus mengembangkan secara partisipatif, baik misi dan visi mereka maupun proses manajemen, yang dapat mereka pergunakan untuk mencapai keduanya.

Pimpinan bisnis harus mengerti bahwa MMT adalah suatu proses yang terdiri dari tiga prinsip dan elemen-elemen pendukung yang harus mereka kelola agar mencapai perbaikan mutu yang berkesinambungan sebagai kunci keunggulan bersaing.

2. Pendidikan dan Pelatihan

Mutu didasarkan pada ketrampilan setiap karyawan yang pengertiannya tentang apa yang dibutuhkan oleh pelanggan ini mencakup mendidik dan melatih semua karyawan, memberikan baik informasi yang mereka butuhkan untuk menjamin perbaikan mutu dan memecahkan persoalan. Pelatihan inti ini memastikan bahwa suatu bahasa dan suatu set alat yang sama akan diperbaiki di seluruh perusahaan. Pelatihan tambahan pada bench marking, statistik dan teknik lainnya juga dipergunakan dalam rangka mencapai kepuasan pelanggan yang paripurna.

3. Struktur Pendukung

Manajer senior mungkin memerlukan dukungan untuk melakukan perubahan yang dianggap perlu melaksanakan strategi pencapaian mutu. Dukungan semacam ini mungkin diperoleh dari luar melalui konsultan, akan tetapi lebih baik kalau diperoleh dari dalam organisasi itu sendiri. Suatu staf pendukung yang kecil dapat membantu tim manajemen senior untuk mengartikan konsep mengenai mutu, membantu melalui “network” dengan manajer mutu di bagian lain dalam organisasi dan membantu sebagai narasumber mengenai topik-topik yang berhubungan dengan mutu bagi tim manajer senior.

4. Komunikasi

Komunikasi dalam suatu lingkungan mutu mungkin perlu ditempuh dengan cara berbeda-beda agar dapat berkomunimasi kepada seluruh karyawan mengenai suatu komitmen yang sungguh-sungguh untuk melakukan perubahan dalam usaha peningkatan mutu. Secara ideal manajer harus bertemu pribadi dengan para karyawan untuk menyampaikan informasi, memberikan pengarahan, dan menjawab pertanyaan dari setiap karyawan.

5. Ganjaran dan Pengakuan

Tim individu yang berhasil menerapkan proses mutu harus diakui dan mungkin diberi ganjaran, sehingga karyawan lainnya sebagai anggota organisasi akan mengetahui apa yang diharapkan. Gagal mengenali seseorang mencapai sukses dengan menggunakan proses menejemen mutu terpadu akan memberikan kesan bahwa ini bukan arah menuju pekerjaan yang sukses, dan menungkinkan promosi atau sukses individu secara menyeluruh. Jadi pada dasarnya karyawan yang berhasil mencapai mutu tertentu harus diakui dan diberi ganjaran agar dapat menjadi panutan/contoh bagi karyawan lainnya.

6. Pengukuran

Penggunaan data hasil pengukuran menjadi sangat penting di dalam menetapkan proses manajemen mutu. Jelaskan, pendapat harus diganti dengan data dan setiap orang harus diberitahu bahwa yang penting bukan yang dipikirkan akan tetapi yang diketahuinya berdasarkan data. Di dalam menentukan penggunaan data, kepuasan pelanggan eksternal harus diukur untuk menentukan seberapa jauh pengetahuan pelanggan bahwa kebutuhan mereka benar-benar dipenuhi.

Pengumpulan data pelanggan memberikan suatu tujuan dan penilaian kinerja yang realistis serta sangat berguna di dalam memotivasi setiap orang/karyawan untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya.

Di samping keenam elemen pendukung di atas, maka ada unsure yang tidak bisa diabaikan yaitu gaya kepemimpinan dalam organisasi/perusahaan bersangkutan. Suatu cara/gaya bagaimana seorang manajer sebagai seorang pimpinan melakukan sesuatu sangat berpengaruh pada pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh bawahan/karyawan. Terdapat 13 hal yang perlu dimiliki oleh seorang pimpinan dalam manajemen mutu terpadu yaitu :

  • Pimpinan mendasarkan keputusan pada data, bukan hanya pendapat saja.
  • Pimpinan merupakan pelatih, dan fasilitator bagi setiap individu/bawahan.
  • Pimpinan harus secara aktif terlibat dalam pemecahan masalah yang dihadapi oleh bawahan.
  • Pimpinan harus bisa membangun komitmen, yang menjamin bahwa setiap orang memahami misi, visi, nilai dan target perusahaan yang jelas.
  • Pimpinan dapat membangun dan memelihara kepercayaan
  • Pimpinan harus paham betul untuk mengucapkan terima kasih kepada bawahan yang berhasil/berjasa
  • Aktif mengadakan kaderisasi melalui pendidikan dan pelatihan yang terprogram
  • Berorientasi selalu pada pelanggan internal/eksternal
  • Pendai menilai situasi dan kemampuan orang lain secara tepat
  • Dapat menciptakan suasana kerja yang sangat menyenangkan
  • Mau mendengar dan menyadari kesalahan
  • Selalu berusaha memperbaiki system dan banyak berimprovisasi
  • Bersedia belajar kapan saja dan di mana saja
  • Bagaimana Penerapannya di Indonesia?

Berdasarkan data yang ada telah dibuktikan penerapan manajemen mutu terpadu telah berhasil dengan baik di Jepang kalau dilaksanakan secara konsekuen, sehingga membuktikan produk Jepang telah menbanjiri pasar, terutama di Amerika Serikat untuk produk mobil dan elektronik, walaupun cikal bakal manajemen mutu berasal dari negara Paman Sam tersebut. Sukses ekonomi luar biasa ini rupakan menyadarkan Amerika Serikat untuk menerapkan manajemen mutu terpadu. Hal ini kemudian diikuti oleh negara-negara di Eropa dan Timur Tengah dalam tingkat perintisan.

Mungkinkah TQM dapat diterapkan di Indonesia? Jawabnya mungkin saja kalau dipenuhi syarat-syarat berikut :

  • Setiap perusahaan/organisasi harus secara terus meneurus melakukan perbaikan mutu produk dan pelayanan, sehingga dapat memuaskan para pelanggan.
  • Memberikan kepuasan kepada pemilik, pemasok, karyawan dan para pemegang saham.
  • Memiliki wawasan jauh kedepan dalam mencari laba dan memberikan kepuasan.
  • Fokus utama ditujukan pada proses, baru menyusul hasil.
  • Menciptakan kondisi di mana para karyawan aktif berpartisipasi dalam menciptakan keunggulan mutu.

· Ciptakan kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan dan aktif memotivasi karyawan bukan dengan cara otoriter, sehingga di peroleh suasan kondusif bagi lahirnya ide-ide baru.

· Rela memberikan ganjaran, pengakuan bagi yang sukses dan mudah memberikan maaf bagi yang belum berhasil/berbuat salah.

· Setiap keputusan harus berdasarkan pada data, baru berdasarkan pengalaman/ pendapat.

· Setiap langkah kegiatan harus selalu terukur jelas, sehingga pengawasan lebih mudah.

· Program pendidikan dan pelatihan hendaknya menjadi urutan utama dalam upaya peningkatan mutu.

Kesimpulan

Menghadapi era globalisasi sekarang ini, setiap perusahaan/organisasi harus mampu menghasilkan produk dengan mutu yang baik, harga lebih murah dan pelayanan yang lebih baik pula dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan perbaikan mutu semua aspek yang berkaitan produk tersebut yaitu : bahan mentah, karyawan yang terlatih, promosi yang efektif dan pelayanan memuaskan bagi pembeli, sehingga pembeli akan menjadi pelanggan yang setia. Mutu yang tercipta dengan kondisi seperti itulah yang disebut mutu terpadu secara menyeluruh (Total Quality).

Untuk keberhasilan pengembangan mutu di atas, diperlukan juga elemen pendukung seperti : kepemimpinan, pendidikan dan pelatihan, struktur pendukung, komunikasi, ganjaran dan pengakuan, serta pengukuran. Keberhasilan manajemen Jepang karena negeri ini secara konsekuen melaksanakan prinsip-prinsip mutu terpadu seperti di atas, yang kemudian di contoh oleh Amerika Serikat, Eropa dan negara-negara di Timur Tengah. Di Indonesia menerapkan Manajemen Mutu Terpadu akan berhasil kalau secara konsekuen pula mengikuti prinsip-prinsip dasar mutu terpadu, serta dilengkapi dengan karakteristik bumi Indonesia, seperti budaya, adat-istiadat dan lain sebagainya.

 

Oleh : Arifin

PENDAHULUAN

Bukan rahasia lagi jikalau kapas merupakan pilihan dari setiap konsumen aktif dari produk tekstil. Cotton Incorporated’s Lifestyle Monitor melaporkan bahwa 62% dari setiap wanita dan 56 % pria mengatakan bahwa kenyamanan dan kelembutan/ kehalusan merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan pada sebuah baju latihan/ olah raga. Untuk mengembangkan kinerja kapas supaya sesuai dengan keinginan pengguna maka dilakukan perbaikan kapasitas penyerapan dan wicking.

Wicking windows™ adalah suatu teknologi penyempurnaan yang dikembangkan oleh ilmuwan kimia tekstil dari Cotton Incorporated dan ini merupakan suatu terobosan yang mempunyai keuntungan besar dari hasil pengembangan kain 100%  kapas.

Hasil/ produk  dari proses Wicking windows™ ini umumnya dipakai oleh para konsumen yang mempunyai banyak aktifitas fisik terutama olahragawan. Karena mereka banyak mengeluarkan keringat sehingga butuh pakaian yang nyaman dipakai dalam beraktifitas.

Produk ini umumnya berupa; sports bra, tanks, tee shirts, celana pendek untuk wanita dan kaos serta celana pendek untuk pria.

DEFINISI

Wicking windows™ adalah salah satu teknologi penyempurnaan tekstil yang dirancang untuk meningkatkan sifat – sifat dari kain 100%  kapas. Kain yang diolah dengan teknologi wicking windows™ akan dapat memindahkan dan mengeluarkan kelembapan dari kulit menuju permukaan kain, sehingga akan cepat kering dan menguap sehingga pada hakekatnya dapat mengurangi sifat berat, lepek, lengket dan lekat/ menempel.

Teknologi wicking windows™ merupakan suatu pengolahan yang dilakukan secara bertahap dimana beberapa kain dibuat tolak air (water repellent) sementara bagian kain yang lain dibuat penyerap (absorbent). Berbagai macam metode sejenis yang telah dicapai seperti yang telah diterapkan misalnya pencapan, penyabunan dan pengolahan benang serta teknik yang melibatkan air (hydroentangling) atau pelubang jarum (needlepunching).

Moisture Management adalah teknik pengubahan dari uap air dan cairan (keringat) dari permukaan kulit menjadi uap udara pada permukaan kain.

Moisture Management  (MM) = nyaman (comfort)

MEKANISME

Kain di cap dengan bahan kimia tolak air terutama dari kimiafluorida yang dilakukan secara bertahap sehingga kain menjadi tolak air sementara di bagian lain dibiarkan sebagai penyerap air. Karena pencapan hanya dilakukan dibalik kain, cairan yang lembab akan ditolak oleh area yang dicap tadi dan diteruskan dari balik serat ke area yang tidak dilakukan wicking windows™. Sehingga bagian yang tidak diberi bahan tolak air ini akan menyerap cairan/ basah secara signifikan dan menghilangkannya melalui penguapan.

Luas permukaan serat dan jumlah kelembaban akan mempengaruhi waktu pengeringan atau penghilangan cairan/ lembab. Bagian yang tolak air akan menjadikan serat terasa lebih kering di kulit dan potensi timbulnya rasa lengket/ lepek/ basah pada kulit dapat dihilangkan.

TEKNIK PENGOLAHAN

  1. Persiapan bahan (kain)

Sebelum dilakukan proses penyempurnaan wicking windows™ maka kain harus bebas dari pengotor – pengotor serat seperti lemak, minyak, lilin, pretreatment agent, alkali, kotoran, sufaktant, minyak pelumas, zat warna, dan sebagainya hal ini lebih efektif bila telah dilakukan penyempurnaan awal dan pewarnaan sehingga sesuai standar misalnya AATCC Test Methode 79.

Syarat – syarat kain yang akan dilakukan wicking windows adalah :

  1. pH kain (AATCC 81) pada kisaran 5.5 – 7.5.
  2. Persentase alkalinity (AATCC 144) adalah kurang dari 0.05% NaOH.
  3. Water extractables (AATCC 97) adalah kurang dari 0.4%
  4. Solvent extractables (AATCC 97) adalah kurang dari 0.1%
  5. Drop absorbency (AATCC 79) adalah < 5 detik.
  1. Proses pencapan

Dalam proses pencapan dapat dilakukan dengan menggunakan mesin rotary screen printing yang pemberian pasta cap dilakukan dengan kuas/ alat penyapu (squeegee) atau batang magnet.

Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam proses pencapan adalah :

  1. Resep pasta cap

Pasta cap dapat berupa :

a.      Asam Polyacrilik (sintetis impuritis)       =  22.0 g/Kg

b.      Zat anti air fluorochemical                  =  12 g/Kg

c.      Air                                                 =  966 g/Kg

d.      Kekentalan pasta cap                        = 8.900 cps (centipoises)

Kekentalan dapat dilakukan modifikasi untuk mendapatkan efisiensi dan hasil yang sempurna.

  1. Kasa untuk motif/ pola

Pola dapat disesuaikan dengan kebutuhan tapi yang umum digunakan adalah motif garis dan titik/ bulat. Kasa dapat berupa digital maupun manual screen seperti misalnya kasa ROHTHEC Engraving seri C13020, Charlotte NC.

  1. Pengaturan mesin pencapan.

Mesin pencapan yang menggunakan batang magnet umumnya mempunyai ukuran batang yang bervariasi antara 10 – 15 mm.  Ukuran batang yang lebih besar digunakan pada kain untuk menigkatkan penetrasi. Sedangkan ukuran batang yang lebih pendek digunakan untuk mengurangi penetrasi. Pengaturan ini dilakukan agar penetrasi lebih baik.

  1. Kondisi obat/ bahan kimia.

Kain yang akan dicap sebaiknya dikeringkan dahulu kira – kira 1.5 menit pada suhu 340 oF (171oC). Obat yang tepat sangat dibutuhkan karena fluorochemical akan mengadakan ikatan silang dengan serat. Apabila obat tidak cocok atau sesuai maka hasilnya akan tidak sempurna, mudah hilang sifatnya, dsb.

  1. Pelembut setelah pencapan

Setelah dilakukan pencapan menggunakan pasta cap dan obat tekstil maka dilakukan pelembutan (softening). Resep dari bahan pelembut ini berupa polietilen dan silikon hidrofil.

Sifat hidrofil karena zat ini digunakan sebagai absorbent. Pemakaian pelembut hidrofobik terutama kationik dari silikon aminofungsional kurang cocok karena akan mengurangi penyerapan (absorbent).

Bahan – bahan pelembut dengan yang digunakan dengan cara perendaman dan pengeringan, misalnya :

  1. Silikon hidrofilik                  =  30.0 g/L
  2. Polietilen                          =  10.0 g/L
  3. Zat pembasah (jika perlu)   =  2.0 g/L
  1. Pengendalian Mutu

Untuk memastikan bahwa hasil mutu proses penyempurnaan wicking windows™  berhasil dengan baik maka dilakukan pengujian laboratorium, diantaranya adalah :

 

  1. Water Drop Asorbency (AATCC Test Method 79).

            

  1. Perpindahan cairan (Vertical Wicking)

            

  1. Absorbency Testing System

      

  1. Gravimetric Drying Test.

      

 

  1. Fabric Cling

          

          

  1. Drop test.

     

 

 

Reference:

§         Don Bailey. Moisture Management Performance for 100% Cotton. Memphis, Tennessee : EFS System conference.

§         Technical Bulletin. Wicking Windows Moisture Management Technology for Cotton. North Carolina : Cotton Incorporated.

§         Donald L. Bailey. Wicking Windows Moisture Management : A Cool (and Dry) Technology from Cotton Incorporated.

 

Oleh : Achmad Faisol

Ketika pertama kali penulis mau mengikuti tadarrus Ramadhan di masjid Roudhotul Jannah dekat rumah, Ibu penulis (beliau sudah almarhumah) berpesan dalam bahasa Jawa yang terjemahnya,
“Kalau nanti ada orang salah membaca, ngga usah ditegur… Ulangi saja sendiri bacaan yang salah tadi… Tidak setiap orang mau diingatkan bahwa bacaannya kurang tepat…
Dikuatirkan nanti dia malu lalu ngambek, ngga mau tadarrus lagi…”

Bertahun-tahun nasihat ini penulis taati. Suatu ketika, penulis agak “gemes” karena ada seorang jamaah yang sejak awal Ramadhan selalu membaca lama sekali padahal yang lain sudah antri. Jamaah lain sungkan menegur karena tidak akrab.

Di hari kesekian puasa, akhirnya penulis menegurnya setiap kali salah baca. Maksud penulis agar dia sadar bahwa bacaannya masih banyak kesalahan, juga supaya dia menyadari sendiri tidak perlu membaca melebihi jamaah lain. Ternyata yang diungkapkan Ibu penulis terbukti. Esoknya orang tersebut tidak lagi terlihat tadarrus sampai akhir Ramadhan, bahkan Ramadhan berikutnya.

Dari peristiwa itu penulis mengambil kesimpulan bahwa kita harus menjaga perasaan orang lain. Salah satu contohnya, jika ingin mengingatkan orang lain harus dengan cara yang hati-hati, santun, ramah dan indah. Setiap orang ditakdirkan berbeda-beda, tapi sopan santun (akhlâq al-karîmah) adalah metode yang insya Allah bisa diterima dan disukai insan mana pun.

Sebenarnya, topik akhlâq al-karîmah sudah sering dibahas oleh para ustadz. Bahkan, dalam sebuah hadits Rasul saw. bersabda :


إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ


Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.
(HR Malik)

Namun, entah kenapa konsep ini tidak banyak kita praktekkan. Mungkinkah kita hanya paham dan canggih dari sisi dalil? Mungkinkah pola pengajaran kita hanya menekankan segi hapalan dan kemampuan berdebat? Mungkinkah kita baru merasa hebat bila berhasil mengungguli ilmu orang lain dengan bukti keberhasilan kita mengalahkannya dalam adu argumentasi? Wallâhu a‘lam.

KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah mengkritik jamaah haji yang cenderung egois dan mau “menang sendiri” dengan alasan agar mendapat kemabruran.

Gus Mus menulis,
“Lihatlah mereka yang berusaha mencium Hajar Aswad itu, misalnya. Alangkah ironis! Mencium Hajar Aswad paling tinggi hukumnya adalah sunnah, tapi mereka sampai tega menyikut saudara-saudara mereka sendiri kanan-kiri.

Bagimana berusaha melakukan sunnah dengan berbuat yang haram? Jangan-jangan, dalam banyak hal lain, kita juga hanya mengandalkan semangat menggebu dan mengabaikan pemahaman. Masya Allah.”

Gus Mus menulis lagi,
“Berkenaan dengan hadits tentang kemabruran haji, ada riwayat yang menyebutkan adanya pertanyaan para sahabat saat Nabi Muhammad saw. menyebut-nyebut tentang haji mabrur itu, ‘Wa mâ birrul hajji yâ Rasûlallâh? (Apa kemabruran haji itu, ya Rasul?)’

Ternyata jawaban Rasulullah saw. tidak berhubungan dengan thawaf, sa‘i dan sebagainya. Tetapi, justru yang ada hubungannya dengan pergaulan sesama jamaah yang sama-sama beribadah, seperti menebarkan salam dan memberikan pertolongan.

Bila riwayat ini dianggap dha‘if, kita masih bisa menyimak sunnah Rasul saat melakukan ibadah haji. Bagaimana sikap tawadhu‘, kemurahan, kelembutan dan hal-hal lain yang menunjukkan penyerahan diri beliau sebagai hamba kepada Tuhan dan tepo seliro beliau terhadap sesama hamba-Nya.”

Salah seorang ipar penulis pernah berkisah,
“Sekarang ada semacam jasa body guard (laki-laki) yang bisa disewa untuk mengawal kita mencium Hajar Aswad. Badan mereka memang cukup besar untuk melindungi kita. Namun, untuk jamaah haji wanita, apalagi cantik, sebaiknya jangan menggunakan jasa ini. Kenapa?

Seorang jamaah wanita bercerita bahwa ketika dia menggunakan jasa orang-orang ini, tubuh mereka terkadang bahkan seringkali bersentuhan dengan tubuhnya. Bahkan, tangan mereka pun terkadang memegang tubuhnya, mungkin tujuannya sebagai perlindungan. Tapi, siapa yang tahu bahwa itu bukan kesengajaan untuk memegang tubuh jamaah wanita tersebut, karena ternyata jamaah itu memang cantik? Wallâhu a‘lam.

Bukankah begitu memilukan dan memalukan kondisi seperti ini? Tidakkah ironi karena hal ini terjadi pada umat Islam yang katanya menjunjung tinggi akhlak? Mengapa harus ada “body guard” untuk mencium Hajar Aswad? Tidakkah kita rela antri dengan tertib dan sabar supaya semua saudara kita bisa menciumnya?

Rasulullah saw. telah bersabda :


مَثَلُ الْمُؤْمِنِ فىِ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذاَ اشْـتَكَى عُضْوٌ مِنْهُ تَدَاعَى سَائِرُهُ بِالْحُمَى وَالسَّهْرِ


Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh akan merasakannya, yaitu (sakit) demam dan tidak bisa tidur. (Muttafaq ‘alayh)


إِنَّ أَحَدَكُمْ مِرْأَةُ أَخِيْهِ فَإِذَا رَأَى فِيْهِ شَيْـئًا فَلْيُمِطُهُ عَنْهُ


Sesungguhnya salah seorang di antara kamu adalah cermin bagi saudaranya. Jika ia melihat sesuatu pada saudaranya, maka hendaklah ia membersihkannya. (HR Abu Daud dan Tirmidzi—hadits hasan)

Bukankah sudah nyata bahwa kita adalah cermin saudara kita? Bukankah kita ingin diperlakukan dengan lembut, santun dan ramah, sebagaimana saudara-saudara kita pun ingin diperlakukan sama? Jika memang demikian adanya, lalu mengapa kita tidak mau memulainya terlebih dahulu? Bukankah sudah jelas kaidah yang ada, “Mulailah dari dirimu sendiri (ibda’ binafsika)”?

Timbul pertanyaan, “Bukankah berlomba-lomba dalam kebaikan dianjurkan bahkan diperintahkan? Bukankah untuk melaksanakan kebaikan tidak perlu mendahulukan orang lain? Bagaimana caranya kita tahu bahwa perbuatan kita kurang mencerminkan akhlâq al-karîmah?”

Kita gunakan saja metode standar, yaitu “Istafti qalbak (mintalah fatwa/bertanyalah kepada hati nuranimu.” Bukankah untuk meraih kebaikan harus dilakukan dengan cara-cara yang baik pula?

Seorang sahabat Nabi saw. bernama Wabishah bin Ma‘bad berkunjung kepada Nabi saw, lalu beliau menyapanya dengan bersabda,
“Engkau datang menanyakan kebaikan?”
“Benar, wahai Rasul,” jawab Wabishah.
“Tanyalah hatimu (istafti qalbak)! Kebajikan adalah sesuatu yang tenang terhadap jiwa dan tentram terhadap hati. Adapun dosa adalah yang mengacaukan dan membimbangkan dada, walaupun setelah orang memberimu fatwa.”

(HR Ahmad dan ad-Darimi)

Pada hari Jum’at, 19 September 2008 penulis mengunjungi sebuah blog (blog walking) untuk memberi informasi tentang blog penulis. Ternyata, di salah satu halaman blog itu ada tulisan seorang pengunjung yang mengomentari pengunjung lainnya, “Kalau mau mengisi komentar OOT, jangan di sini, kan ada buku tamu. Jangan seperti FS dong…”

Penulis mencari inisial FS di halaman tersebut tapi tidak ditemukan. Penulis tidak tahu siapa FS yang dimaksud karena penulis pun baru membaca diskusi yang ada dan belum memberikan komentar. Tapi, penulis merasa tersentil juga karena FS adalah inisial nama penulis di tempat kerja, Inixindo.

Penulis merasa diingatkan Allah lewat tulisan itu, agar memperbaiki cara berdakwah. Sejak peluncuran blog sampai dengan tanggal 19 September 2008, penulis memang sering mengunjungi blog lain sebagai strategi marketing dakwah. Memang, terkadang (mungkin juga agak sering) komentar penulis termasuk kategori OOT (Out Of Topic).

Awalnya, penulis merasa hal itu bukan sebuah masalah. Toh pemilik blog bisa tidak menyetujui atau menghapusnya jika memang komentar penulis kurang dikehendaki. Namun, tulisan salah satu saudara kita tersebut penulis rasa sebagai “sms cantik” dari Allah agar penulis memperhatikan perasaan para pemilik blog.

Segera penulis meninggalkan komentar tanggapan di blog itu yang intinya meminta maaf dan juga ikut memberikan sedikit coretan yang 100% sesuai topik bahasan. Setelah itu, di blog penulis, tulisan “Selamat Berpuasa…” segera penulis ganti dengan permohonan maaf kepada semua saudara kita, terutama yang blognya penulis kunjungi tapi kurang berkenan terhadap komentar yang ditinggalkan.

Penulis teringat sebuah nasihat Gus Mus, “Anehnya, terhadap Allah Yang Begitu Baik, kita justru begitu berhati-hati, bahkan sering berlebihan hingga menimbulkan was-was atau masalah di antara kita. Sementara terhadap manusia yang sulit, kita sering sembrono dan seenaknya. Padahal, banyak dalil naqli yang menyebutkan dosa antar sesama.”

Nabi Muhammad saw. pun telah mengingatkan kita :


الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ


Seorang muslim ialah seseorang dimana muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. (Muttafaq ‘alayh)


لاَيُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ


Tidak benar-benar beriman seseorang di antara kalian sampai dia mampu menyukai sesuatu untuk saudaranya, sebagaimana dia menyukai sesuatu untuk dirinya sendiri. (Muttafaq ‘alayh)


“Bagaimana bisa kita mengaku mencintai Allah tapi kita tidak mencintai hamba-Nya?” nasihat lain Gus Mus.


مَامِنْ شَيْئٍ اَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ


Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada Hari Kiamat, melebihi akhlak yang luhur. (HR Tirmidzi)

Di buku “Wawasan Al-Qur’an”, M. Quraish Shihab mencantumkan sebuah hadits lain yang menjelaskan pentingnya hubungan baik dengan sesama :


الدِّيْنُ الْمُعَـامَلَةُ


Agama adalah hubungan interaksi yang baik.

Al-Fudhail bin Iyadh menasihatkan, “Seandainya seorang hamba memperbaiki semua kebaikannya, sementara dia mempunyai seekor ayam lalu memperlakukannya dengan tidak baik, maka dia bukanlah seorang yang berakhlak.”

Betapa dalam nasihat Imam al-Fudhail tersebut. Terhadap binatang saja kita harus baik, apalagi terhadap sesama manusia. Ditanyakan kepada Dzun Nun al-Mishri,
“Siapakah yang paling menggelisahkan manusia?”
“Yang paling buruk akhlaknya,” jawab beliau.

Bagaimanakah akhlak yang dicontohkan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib kw.? Dikisahkan bahwa beliau pernah memanggil seorang budak sahaya remaja dan ia tidak menjawab panggilan tersebut. Beliau mengulanginya lagi sampai tiga kali dan sahaya itu pun tidak menjawabnya. Khalifah melangkah mendekat dan melihatnya sedang enak-enakan berbaring.
“Apakah engkau tidak mendengar, wahai Anak?” tanya Khalifah.
“Mendengar,” jawabnya enteng.
“Apa yang membuatmu tidak menyahut?”
“Saya merasa aman dari ancaman siksaanmu. Karena itu, saya bermalas-malasan.”
“Pergilah, anakku. Engkau bebas karena Allah.”

Tidakkah kita perhatikan bagaimana akhlak beliau terhadap seorang budak, padahal waktu itu beliau adalah khalifah? Tidakkah kita lihat bahwa usia beliau lebih tua daripada sahaya tersebut? Tapi mengapa beliau tidak tersinggung? Bukankah dari jawaban sahaya itu bisa kita simpulkan bahwa Khalifah Ali adalah seorang yang berakhlak mulia? Kalau kita berada di posisi Khalifah Ali, kira-kira apa yang akan kita lakukan?

Al-Ghazali menjelaskan bahwa seorang muslim seharusnya selalu mencari kesempurnaan karena Islam itu sendiri adalah kesempurnaan dan selalu memberikan dorongan ke arah kesempurnaan. Jika kita memperhatikan apa yang ditawarkan oleh Islam berupa kesempurnaan yang memiliki hubungan dengan adab-adab berinteraksi, niscaya kita akan menemukan lautan tak bertepi karena gambaran kehidupan itu sendiri tidak pernah selesai.


Dalam setiap makhluk yang kaulihat
Kan kautemukan segenap kebaikan
Balaslah kebaikan dengan kebaikan
Jika tidak, malah dengan yang lebih baik

(karya Ibnu Hazm)


Akhirnya, mari kita merenung sejenak.

Sudahkah kita berbicara terhadap orang lain dengan pemilihan kata dan intonasi suara yang menampakkan kesantunan, keramahan dan keindahan?

Sudahkah kita bersikap lemah lembut bila hendak menegur atau mengingatkan saudara kita, sebagaimana ungkapan Jawa “Menang tanpa ngasoraké (meraih kemenangan tanpa merendahkan orang lain)”?

Sudahkah kita antri dengan tertib menunggu giliran kita? Bukankah peristiwa Pasuruan saat antri menerima sedikit uang zakat bulan Ramadhan 1429H termasuk pelajaran berharga?

Sudahkah kita bersedia sedikit rendah hati tidak memandang diri kita orang penting dengan cara mengikuti warna lampu lalu lintas sehingga tidak terjadi kesemrawutan?

Sudahkah kita mau bersabar menunggu ketika kemacetan tak terelakkan, tanpa harus membunyikan klakson berkali-kali, padahal semua orang tahu jalanan sedang macet?

Sudahkah kita menjaga perasaan orang lain dalam keseharian…?

Adopted from : www.achmadfaisol.blogspot.com

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.