November 2008


I. PENDAHULUAN
Buah-buahan merupakan bahan pangan sumber vitamin. Selain buahnya yang dimakan dalam bentuk segar, daunnya juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Misalnya daun pisang untuk makanan ternak, daun pepaya untuk mengempukkan daging dan melancarkan air susu ibu (ASI) terutama daun pepaya jantan.
Warna buah cepat sekali berubah oleh pengaruh fisika misalnya sinar matahari dan pemotongan, serta pengaruh biologis (jamur) sehingga mudah menjadi busuk. Oleh karena itu pengolahan buah untuk memperpanjang masa simpannya sangat penting. Buah dapat diolah menjadi berbagai bentuk minuman seperti anggur, sari buah dan sirup juga makanan lain seperti manisan, dodol, keripik, dan sale.
Manisan buah adalah buah yang diawetkan dengan gula. Tujuan pemberian gula dengan kadar yang tinggi pada manisan buah, selain untuk memberikan rasa manis, juga untuk mencegah tumbuhnya mikroorganisme (jamur, kapang). Dalam proses pembuatan manisan buah ini juga digunakan air garam dan air kapur untuk mempertahankan bentuk (tekstur) serta menghilangkan rasa gatal atau getir pada buah. (lebih…)

Oleh : Achmad Faisol.
Lebih detail tentang kesombongan, al-Ghazali menerangkan bahwa kesombongan dibagi dua, yaitu kesombongan batin dan kesombongan zhahir. Kesombongan batin adalah kesombongan yang terdapat dalam hati, sedangkan kesombongan zhahir dilakukan oleh anggota tubuh.
Kesombongan batin lebih berbahaya, karena tingkah laku seseorang merupakan akibat dari yang terjadi di hatinya. Apabila seseorang mewujudkan kesombongannya dalam perbuatan, maka hal itu disebut takabbur (berlaku sombong), sedangkan jika hanya menyimpan di dalam hati tanpa ada tindakan disebut kibr (sifat sombong).

Menurut definisinya, kesombongan adalah menolak kebenaran dan melecehkan atau merendahkan orang lain.
مَنْ سَـفَهَ اْلحَقَّ وَغَمَصَ النَّاسَ

(Orang sombong adalah) orang yang menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. (HR Muslim)
Larangan Allah kepada kita untuk menjauhi kesombongan tercantum dalam Al-Qur’an al-‘Azhîm :
وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَتَمْشِ فىِ ٱْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ كُلَّ مُخْتـَالٍ فَخُـوْرٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong lagi membanggakan diri. (QS Luqmân [31] : 18)

Jika kita terjangkit penyakit sombong berarti kita menggabungkan dalam diri kita kebodohan dan kebohongan. Kebodohan karena kita tidak mengetahui bahwa kebesaran hanya milik Allah sehingga akibat kebodohan, kita menduga dirinya besar. Kita juga melakukan kebohongan, karena dengan takabbur kita membohongi diri sendiri sebelum orang lain. Bukankah takabbur berarti membuat-buat kebesaran kepada diri yang pada hakikatnya tak pernah wujud?
Jika kita sombong maka kita menciptakan keburukan di atas keburukan. Kesombongan sendiri telah merupakan keburukan. Selanjutnya dengan sikap takabbur, sesungguhnya kita memaksa orang lain memendam rasa dendam dan antipati terhadap diri kita, bahkan menghina dan mencela kita. Kalau tidak di hadapan kita dengan suara keras, maka di belakang kita dengan suara sayup atau di dalam hati.
Jika kita sombong maka kita adalah manusia yang sangat tidak terpuji. Bagaimana mungkin kita sombong padahal asal kita adalah nuthfah dan akhirnya menjadi mayat tak berdaya, sedangkan masa antara awal dan akhir hidup kita selalu membawa (di dalam tubuh) urine serta kotoran yang berbau menusuk.
Manusia sombong harus disombongi, karena menyombongi orang sombong adalah sedekah. Ber-takabbur kepada mereka dimaksudkan agar yang bersangkutan menyadari dirinya dan tidak larut dalam keangkuhannya.
التَّكَـبُّرُ عَلَى الْمُتَكَـبِّرِ صَدَقَةٌ

Menyombongi orang sombong adalah sedekah.
Entah apa jadinya kehidupan ini jika semua orang telah terjangkit sifat sombong. Setiap orang saling melecehkan, tak ada lagi penghormatan kepada orang lain, hilanglah kewibawaan dan sopan santun terhadap orang lain.
Entah apa yang akan terjadi jika setiap orang menolak ketika kebenaran diperlihatkan. Semua orang tidak dapat saling memberikan pemahaman atau melakukan diskusi dengan baik, kecuali dengan cara memaksa.
Sama halnya mereka tidak dapat bersatu dalam kebenaran, mereka pun tidak dapat bersatu dalam kebatilan. Hukum rimbalah yang akan muncul, yaitu siapa yang kuat dialah yang menang. Bersamaan dengan itu akan muncul gejala-gejala sosial seperti kezhaliman, emosi, pertengkaran, permusuhan, peperangan dan pelanggaran hak asasi. Itu semua berawal dari penyakit hati, yang masyhur dengan nama “sombong”.
Mari kita bersama-sama berusaha agar tidak terinfeksi penyakit “sombong” ini. Tak perlu kita mencari siapa orang yang di dalam hatinya terjangkit penyakit ini. Introspeksi diri harus didahulukan. Janganlah kita mudah menyalahkan orang lain akan tetapi kita tidak mau menyalahkan diri sendiri. Bukankah sudah kita pahami bersama kaidah “Mulailah dari dirimu sendiri (ibda’ binafsika)?”
Mungkin ada di antara kita yang mempertanyakan, “Mengapa saya harus menyalahkan diri sendiri? Bukankah hidup ini ada sistem yang juga melibatkan orang lain? Sebagai contoh, kalau saya mengantuk/tidur ketika khutbah, itu karena khatibnya tidak menguasai sosiologi dakwah. Begitu pun dengan tindakan-tindakan saya yang lain. Semua itu hanyalah reaksi akibat aksi yang saya terima dari lingkungan. Mengapa harus saya yang disalahkan? Mengapa bukan orang lain atau sistem yang ada?”
Sekadar menyalahkan orang lain apalagi mencari kambing hitam termasuk pekerjaan mudah. Kita tidak perlu sekolah untuk menumpahkan kesalahan pada orang lain. Anak kecil pun bisa melakukannya. Namun, tidakkah kita sadari bahwa hidup ini antara kita dan Allah? Bukankah di akhirat nanti, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatan kita, bukan perilaku orang lain?

Edi Suhaimi Bakar, O Rachman, Muh Yusram Massijaya, dan Bahruni
Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Institut Pertanian Bogor

Kelapa sawit sangat besar potensinya di Indonesia dengan luas tanaman lebih dari 2.9 juta ha sehingga Indonesia merupakan negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia setelah Malaysia. Dengan laju pertumbuhan sekitar 8.5% per tahun, diperkirakan Indonesia akan melewati Malaysia pada tahun 2014 nanti. Namun, pemanfaatan biomassa kelapa sawit masih belum efisien, terbatas hanya pada buah untuk memproduksi minyak, serta sampai pada tingkat tertentu, pada sabut, tandan, dan pelepah untuk memproduksi serat. Biomassa batang dari hasil regenerasi tanaman tua setelah berumur 25-30 tahun yang merupakan massa terbesar belum dimanfaatkan, melainkan hanya dibakar atau dibiarkan jadi tumpukan limbah yang menimbulkan berbagai dampak lingkungan dan gangguan. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui potensi kayu sawit dari hasil peremajaan tanaman, mengetahui sifat-sifat dasarnya (fisik, mekanis, kimia, keawetan, dan pemesinan), serta memperbaiki kelemahan kayu sawit sehingga dapat digunakan sebagai bahan bangunan dan furnitur. Pada bagian akhir juga dilakukan kajian sosial ekonomi dari pemanfaatan kayu sawit sebagai bahan bangunan dan furnitur.
Dari penelitian tahap pertama diketahui bahwa sepertiga bagian terluar batang kelapa sawit dapat dimanfaatkan dalam bentuk kayu utuh untuk bahan bangunan perumahan. Bagian ini mencapai 30% volume batang bebas pelepah, mempunyai kelas kuat III-V dan kelas awet V, yang secara umum setara dengan mutu kayu sengon (Paraserianthes falcataria). Diketahui bahwa faktor kedalaman batang sangat mempengaruhi sifat-sifat dasar yang diuji: bagian tepi mempunyai sifat yang jauh lebih baik daripada bagian medium dan pusat. Sebaliknya, faktor ketinggian tidak memiliki kecenderungan tertentu, meskipun pada sebagian sifat-sifat mekanis menunjukkan penurunan mutu dengan semakin tingginya batang.
Dari penelitian tahap kedua diketahui bahwa kayu kelapa sawit sebaiknya digergaji dengan pola yang berbeda dengan penggergajian pada umumnya, yaitu menggunakan pola modified round sawing (MRS). Meskipun dapat diawetkan dengan baik dengan bahan pengawet Basilit-CFK dan Impralit-B1, sifat dan mutu pemesinan kayu kelapa sawit tergolong sangat jelek dengan persen bebas cacat berturut-turut sebesar 6 dan 12% untuk proses penyerutan dan pelubangan segi-empat, dan tergolong sedang dengan persen bebas cacat berturut-turut sebesar 50, 66, dan 62% untuk proses pembentukan, pengeboran, dan pengampelasan. Secara keseluruhan mutu pemesinan kayu kelapa sawit tergolong jelek, sehingga perlu diupayakan perbaikan mutu agar penggunaannya dapat diperluas. Selanjutnya diketahui bahwa perbaikan mutu dengan teknik impregnasi (perendaman) tidak berhasil meningkatkan mutu kayu kelapa sawit karena imprenasi tidak mampu masuk ke dalam kayu.
Pada penelitian tahap ketiga dilakukan perbaikan mutu kayu kelapa sawit dengan teknik kompregnasi, yaitu pemasukan bahan kompregnan resin fenol dengan bantuan tekanan dalam tangki tertutup. Dari hasilnya diketahui bahwa perlakuan kompregnasi dengan resin fenol dapat memperbaiki sifat fisis, mekanis, keawetan, dan pemesinan kayu sehingga cocok digunakan untuk bahan bangunan. Kondisi kompregnasi yang optimum ialah dengan konsentrasi larutan impregnan 30% dan waktu tekanan 60 menit. Secara umum mutu proses pemesinan kayu sawit terkompregnasi sebanding dengan jenis-jenis kayu komersial (mahoni, kamper, dan jati) yang biasa digunakan untuk furnitur. Sifat pengetaman, pembentukan (shaping), dan pengeboran kayu kelapa sawit terkompregnasi termasuk sedang hingga sangat baik (III-I) dan sifat pengampelasan sangat baik (kelas I).
Meskipun perlakuan kompregnasi kayu kelapa sawit memerlukan biaya yang relatif tinggi, harga akhir kayu kelapa sawit terkompregnasi masih dapat bersaing dengan kayu utuh lain yang mutunya sebanding. Bahkan kayu kelapa sawit terkompregnasi mempunyai nilai lebih dalam hal warna dan tekstur serat sehingga sangat cocok digunakan untuk furnitur mutu tinggi. Dari hasil wawancara diketahui pula bahwa masyarakat masih menunjukkan kepercayaan yang rendah terhadap kayu kelapa sawit sebagai alternatif baru untuk bahan bangunan dan furnitur (terutama dari segi kekuatan dan keawetan), sehingga perlu dilakukan sosialisasi yang tepat dari hasil-hasil perbaikan mutu yang telah dicapai kepada masyarakat.

Adopted from : Hibah Bersaing VI

TUJUAN
- Memahami maksud dan arti pentingnya Inovasi (ACTS)
- Memotivasi bagaimana menjadi anggota sebuah team
- Dapat berinovasi (menemukan cara-cara baru) secara proaktif dalam menyelesaikan tantangan kerja sehari-hari
- Mengefektifkan penggunaan metode ACTS
- Menstandarisasikan laporan (notulensi) inovasi
- Menghargai gaya inovasi yang berbeda
- Dapat berperan dalam menghasilkan pemecahan yg inovatif & meningkatan dengan melaksanakan proses ACTS
PROSES ACTS
- Ask (Tanya) : Apa Yang ingin kita kerjakan ; Apa yang kita takutkan/khawatirkan
- Chek (cek) : Apa yang telah kita ketahui ; apa yang telah kita kerjakan dapat membantu ; apa yang tiap anggota kerjakan ; ketrampilan yang bermanfaat apa yang dimiliki oleh tiap-tipa orang ; Masalah apa yang sebenarnya
- Think (Fikir) : Ide apa yang kita miliki ; Modifikasi faktor pengaruh ; penyelidikan simbol alam ; eksperimen ; keuntungan – kerugian
- Suggest (saran) : Minta persetujuan ; jelaskan dan lakuka ; terapkan (Action Plan)
ACTS SEBUAH MODEL PEMECAHAN MASALAH
- Keterkaitan antar poin dan pola fikir pemecahan
- Penggunaan data real dan analisa
- Penggunaan gaya inovasi dan tekhnik pengembangan ideMetode untuk memilih pemecahan yang benar
APAKAH INOVASI
- Mempunyai ide baru/dan atau yang lebih baik bisa meningkatkan produk/hasil, pelayanan dan prosedur kerja
- Bersifat Dramatis & mendapat Perhatian yang Nyata
- Kreatifitas , Individualisme
- Inovasi bisa merubah (fenomena sekali tembak) secara langsung atau bertahap
GAYA INOVASI
- Visioning : Melihat pada gambaran yang diinginkan sebagai tujuan
- Modifyng : Membuat dan meningkatkan pada apa saja yang telah dicoba dan teruji
- Experimenting : Menggabungkan dan menguji kenyataan
- Exploring : Meragukan informasi yang ada dan menemukan cara baru
NILAI TIAP GAYA INOVASI
EXPERIMENTING
- Tetap pada realitas
- Tahap pembuktian pengalaman
- Pendekatan analitik
- Mengikutsertakan orang lain dalam mengambil keputusan
- Hasil dan keuntungan bisa dicapai
- Rendah biaya
- Menggunakan sumber daya yang ada
- Menggunakan metode yang hemat waktu
EXPLORING
- Banyak ide baru
- Melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda
- Berani menantang norma-norma
- Pikiran yang terbuka
- Membangkitkan semangat
- Tidak takut kegagalan
- Menawarkan alternative
- Menemukan hal yang mustahil
- Mengenalkan variabel/faktor lain
MODIFYNG
- Tidak mereka-reka aturan
- Hemat waktu, biaya dan penggunaan
- Sumber daya yang tersedia
- Mendorong ide-ide
- Praktis, realistis
- Fleksibel dan bisa menyesuaikan
- Menghasilkan pekerjaan yang lebih bermutu
- Mudah mendapat dukungan dari atasan dan sekerja
- Sistematis, proses yang berkesinambungan
- Lebih cepat menerapannya
4 PRINSIP INOVASI
- Kita semua mempunyai kemampuan untuk menjadi inovatif
- Kita mempunyai perbedaan cara untuk menangani dan menyelesaikan masalah
- Kita menggunakan suatu kombinasi dari keempat gaya inovasi
- Gaya ini seperti bermacam-macam bahasa yang lebih seperti sebuah gambar dari kepribadian kita
MENGOPTIMALKAN KINERJA SEBUAH TIM INOVASI
- Menyadari keragaman perbedaan sudut pandang dan gaya inovasi sebagai sebuah kekayaan bukan sebaliknya
- Pengaturan Tempat Duduk
- Mendengar dan sulitnya memahami maksud orang lain
- Apakah kelompok akan membangun / merusak ide yang sudah ada
- Bagaimana Tim Sampai pada keputusan
JANGAN JADI Mr. Averageman
Dilahirkan pada tahun 1901, nilai-nilainya antara C & D, kawin dengan nona Medicore pada tahun 1924 mempunyai seorang anak laki-laki bernama Averageman Jr dan seorang anak perempuan bernama Baby Medicore. Dia mempunyai masa pengabdian tidak baik selama 40 tahun dan memegang berbagai posisi tidak penting. Dia tidak berani menghadapi resiko dan memanfaatkan peluang. Dia juga tidak berani mengasah bakat dan terlalu bersikap pasif.
Buku kegemarannya “Noninvolvement ; The Story of Playing It Save (Tiada keterlibatan ; suatu kisah bagaimana untuk tidak menyusahkan diri). Dia hidup selama 60 tahun tanpa mempunyai tujuan, rencana, kemauan, keyakinan atau tekad. Pada batu nisannya tertulis kata-kata berikut :
- Disinilah makam Mr. Averageman
- Dilahirkan pada tahun 1901, wafat tahun 1921 dikebumikan pada tahun 1964
- Dia tidak pernah mencoba sesuatu
- Harapannya pada kehidupan terlalu sedikit
- Kehidupan tidak berarti baginya.
KEKHAWATIRAN
- Mungkin saya melakukan kesalahan
- Orang² tidak menyukai saya
- Mungkin saya akan gagal
- Saya tak ingin merasa tidak enak
- Saya bisa belajar dari kesalahan
- Saya suka menolong
- Saya percaya diri
- Saya bisa menyesuaikan
BEBERAPA NILAI DAN ARTI PENTING
- Dependensi Manusia
- Tujuan ‘Kesejahteraan’
- Perhatian yang paling utama dari para manajer
- Perluasan Pasar yang cepat
- Perubahan Dari
- Prilaku Konsumen
o Kemajuan Iptek
o Mindset
MENGEMBANGKAN USULAN TEAM
- Dengarkan hal-hal yang baik dari setiap usulan
- Mendorong orang tersebut untuk memperinci ide-idenya
- Kembangkan ide tsb
UCAPAN MENDORONG ORANG LAIN
- Pekerjaan bagus, pertahankan hal tsb
- Saya bangga padamu
- Anda adalah salah satu anggota team yang penting
- Mari kita saling belajar
- Kita satukan pikiran untuk selesaikan masalah ini
- Sangat bagus
- Ayo, cobalah
- tu ide cemerlang
- Lakukan hal yang terbaik
- Sangat fantastis
KONSEP PROAKTIF
BAHASA REAKTIF
- Tidak ada yang dapat lakukan
- Memang sudah begitulah saaya
- Ia membuatku bagitu marah
- Mereka tidak akan mengizinkan itu
- Saya terpaksa melakukan it
- Saya tidak bias
- Saya harus
- Seandainya saja
BAHASA PROAKTIF
- Mari kita lihat alternatif yang kita miliki
- Saya dapat memilih pendekatan yg berbeda
- Saya mengendalikan perasaan saya sendiri
- Saya dapat memberikan presentasi yang efektif
- Saya akan memilih respons yang sesui
- Saya memilih
- Saya lebih suka
- Saya akan
SISTEM DAN STANDAR LAPORAN
- Target Tema dan Pembagian Tim
- Standar Laporan
Urutan Proses; SISTEM DAN STANDAR LAPANGAN
- Notulensi lengkap
- Besar Huruf
Tekhnik Presentasi
- Penekanan Poin penting
- Penyajian data/gambar/table
- Waktu

Mekanisme Koagulasi-Flokulasi
Stabilitas koloid merupakan aspek penting dalam proses koagulasi untuk menghilangkan koloid-koloid.
Stabilitas koloid tergantung ukuran koloid dan muatan elektrik, juga dipengaruhi oleh media pendispersi (dalam hal ini media pendispersi adalah air) seperti kekuatan ion , pH.
Muatan permukaan partikel-partikel koloid penyebab kekeruhan di dalam air adalah sejenis, oleh karena itu jika kekuatan ionik di dalam air rendah, maka koloid akan tetap stabil. Stabilitas merupakan daya tolak koloid karena partikel-partikel mempunyai muatan permukaan sejenis (negatip).
Antara koloid-koloid ada gaya tolak menolak dan gaya tarik massa (van der Waals). Dengan adanya enersi interaksi kedua gaya tersebut yang disebabkan oleh gerakan Brownian, dihasilkan suatu enersi kinetik. Jika kekuatan ionik di dalam air cukup tinggi, maka gaya tolak menolak memberi keuntungan kepada situasi dimana tumbukan yang terjadi menghasilkan aglomerasi partikel-partikel.
Ada beberapa daya yang menyebabkan stabilitas partikel, yaitu :
1). Gaya elektrostatik yaitu gaya tolak menolak terjadi jika partikel-partikel mempunyai muatan yang sejenis (negatif atau positif ).
2). Bergabung dengan molekul air (reaksi hidrasi)
3). Stabilisasi yang disebabkan oleh molekul besar yang diadsorpsi pada permukaan.
Mekanisme yang disebut diatas seringkali terjadi pada saat yang sama. Dalam suspensi yang keruh seringkali hanya ada partikel bermuatan negatip yang disebabkan oleh penggantian kation maupun adsorpsi zat anionik.
Mineral seperti silika, tanah liat, oksida dan hidroksida seringkali selain mempunyai daya elektrostatik, juga ada hidrasi yang mampu untuk mengadsopsi zat penyebab stabilisasi.. Suspensi atau koloid bisa dikatakan stabil jika semua gaya tolak menolak antar partikel lebih besar dari gaya tarik massa, sehingga didalam waktu tertentu tidak terjadi agregasi.
Untuk menghilangkan kondisi stabil, harus merubah gaya interaksi diantara partikel dengan pembubuhan zat kimia (sebagai donor muatan positip) supaya gaya tarik menarik menjadi lebih besar.
Untuk destabilisasi ada beberapa mekanisme yang berbeda :
a. Kompresi lapisan ganda listrik (Compression of electric double layer) dengan muatan yang berlawanan
b. Mengurangi potensial permukaan yang disebabkan oleh adsorpsi molekul yang spesifik dengan muatan elektrostatik berlawanan.
c. Adsorpsi molekul organik diatas permukaan partikel bisa membentuk jembatan molekul diantara partikel.
d. Penggabungan partikel koloid kedalam senyawa presipitasi yang terbentuk dari koagulan/ flokulan.
Destabilisasi yang terjadi tergantung dari mekanime destabilisasi yang mana atau bisa saja hanya ada satu mekanisme yang menyebabkan agregasi atau kombinasi dari mekanisme yang lain (diantara yang tersebut diatas). Untuk aplikasi praktis di IPA Instalasi pengolahan air) ada kombinasi dari beberapa mekanisme destabilisasi yang disebabkan adanya kompresi lapisan ganda, tetapi hal ini biasanya tidak begitu penting untuk aplikasi praktis.
Secara garis besar (berdasarkan uraian di atas), mekanisme koagulasi dan flokulasi adalah :
(1) Destabilisasi muatan negatip partikel oleh muatan positip dari koagulan
(2) Tumbukan antar partikel
(3) A d s o r p s i
Selain tumbukan antar partikel terdestabilisasi/mikroflok yang bertujuan membentuk flok dengan ukuran yang relatif besar (makroflok), adsorpsi merupakan mekanisme flokulasi diantaranya dilakukan oleh Al(OH)3, aluminium hidroksida yaitu bentuk hidroksida Al, hasil reaksi hidrolisa Al dengan air. Senyawa ini berbentuk agar-agar (jelly) yang mempunyai sifat “adsorpsi (menyerap di permukaan), seperti terlihat pada gambar di bawah ini.
Jika kekuatan ionik di dalam air cukup besar, maka keberadaan koloid di dalam air sudah dalam bentuk terdestabilisasi. Destabilisasi disini disebabkan oleh ion monovalen (valensi 1) dan divalen (valensi 2) yang berada di dalam air. Kejadian ini dinamakan “Koagulasi elektrostatik”, sedangkan koagulasi kimiawi adalah suatu proses dimana zat kimia seperti garam Fe dan Al, ditambahkan ke dalam air untuk merubah bentuk (transformasi) zat-zat kotoran. Zat-zat tersebut akan bereaksi dengan hidrolisa garam-garam Fe atau Al menjadi flok dengan ukuran besar yang dapat dihilangkan secara mudah melalui sedimentasi dan filtrasi.
Pada sistem pengolahan air, koagulasi terjadi pada unit pengadukan cepat (flash mixing), karena koagulan harus tersebar secara cepat dan reaksi hidrolisa hanya terjadi dalam beberapa detik, jadi destabilisasi muatan negatip oleh muatan positip harus dilakukan dalam perioda waktu hanya beberapa detik
Nilai gradien kecepatan (G), waktu tinggal/detensi ( td ) dan kecepatan aliran air adalah jarang berubah selama instalasi pengolahan air (IPA) berjalan.
Faktor – faktor yang mempengaruhi koagulasi :
(1) Pemilihan bahan kimia
Pemilihan koagulan dan koagulan pembantu , merupakan suatu
program lanjutan dari percobaan dan evaluasi yang biasanya
menggunakan Jar – test. Seorang operator dalam pengetesan untuk memilih bahan kimia , biasanya dilakukan di laboratorium. Untuk melaksanakan pemilihan bahan kimia, perlu pemeriksaan terhadap karakteristik air baku yang akan diolah yaitu :
• S u h u
• pH
• Alkalinitas
• Kekeruhan
• W a r n a
Efek karakteristik tersebut terhadap koagulan adalah sebagai berikut :
S u h u Suhu rendah berpengaruh terhadap daya koagulasi/flokulasi dan memerlukan pemakaian bahan kimia berlebih, untuk mempertahankan hasil yang dapat diterima.
pH Nilai ekstrim baik tinggi maupun rendah, dapat berpengaruh terhadap koagulasi/flokulasi, pH optimum bervariasi tergantung jenis koagulan yang digunakan (lihat tabel jenis koagulan !).
Alkalinitas Alum sulfat dan ferri sulfat berinteraksi dengan zat kimia pembentuk alkalinitas dalam air, membentuk senyawa aluminium atau ferri hidroksida, memulai proses koagulasi. Alkalinitas yang rendah membatasi reaksi ini dan menghasilkan koagulasi yang kurang baik, pada kasus demikian, mungkin memerlukan penambahan alkalinitas ke dalam air, melalui penambahan bahan kimia alkali/basa ( kapur atau soda abu)
Kekeruhan Makin rendah kekeruhan, makin sukar pembentukkan flok yang baik. Makin sedikit partikel, makin jarang terjadi tumbukan antar partikel/flok, oleh sebab itu makin sedikit kesempatan flok berakumulasi. Operator harus menambah zat pemberat untuk menambah partikel- partikel untuk terjadinya tumbukan.
Warna Warna berindikasi kepada senyawa organik, dimana zat organik bereaksi dengan koagulan, menyebabkan proses koagulasi terganggu selama zat organik tersbut berada di dalam air baku dan proses koagulasi semakin sukar tercapai. Pengolahan pendahuluan terhadap air baku harus dilakukan untuk menghilangkan zat organic tersebut, dengan penambahan oksidan atau adsorben (karbon aktif).
Keefektifan koagulan atau flokulan akan berubah apabila karakteristik air baku berubah. Keefektifan bahan kimia koagulan/koagulan pembantu, dapat pula berubah untuk alasan yang tidak terlihat atau tidak diketahui, oleh karena itu ada beberapa factor yang belum diketahui yang dapat mempengaruhi koagulasi – flokulasi . Untuk masalah demikian Operator harus memilih bahan kimia terlebih dahulu, dengan menggunakan jar –test dengan variasi bahan kimia, secara tunggal atau digabungkan atau dikombinasikan.
Jar–test secara subyektif masih merupakan uji yang paling banyak digunakan dalam mengontrol koagulasi dan tergantung semata-mata kepada penglihatan kita ( secara visuil ) untuk mengevaluasi suatu interpretasi/tafsiran. Selain itu seorang Operator juga harus melakukan pengukuran pH, kekeruhan, bilamana mungkin harus melakukan uji “filtrabilitas” dan “potensial zeta”.
(2) Penentuan dosis optimum koagulan
Untuk memperoleh koagulasi yang baik, dosis optimum koagulan harus ditentukan. Dosis optimum mungkin bervariasi sesuai dengan karakteristik dan seluruh komposisi kimiawi di dalam air baku, tetapi biasanya dalam hal ini fluktuasi tidak besar, hanya pada saat-saat tertentu dimana terjadi perubahan kekeruhan yang drastis (waktu musim hujan/banjir) perlu penentuan dosis optimum berulang-ulang.
Perlu diingat bahwa hasil jar-test tidak selalu sama dengan operasional di IPA, jadi harus dibuat koreksi dosis yang dihasilkan jar-test dengan aplikasi dosis di IPA.
Seorang operator perlu membuat suatu grafik hubungan antara nilai kekeruhan vs dosis koagulan, melalui percobaan jar – test untuk variasi nilai kekeruhan ( rendah, sedang, tinggi ) selama periode waktu minimal satu tahun atau dari data – data yang lalu selama
beberapa tahun untuk sumber air baku yang sama. Sehingga dengan adanya grafik ini mempermudah penentuan dosis secara cepat jika ada perubahan kekeruhan secara tiba–tiba . Selanjutnya penentuan dosis dilanjutkan dengan melakukan jar-test.
(3) Penentuan pH optimum
Penambahan garam aluminium atau garam besi, akan menurunkan pH air, disebabkan oleh reaksi hidrolisa garam tersebut, seperti yang telah diterangkan di atas. Koagulasi optimum bagaimanapun juga akan berlangsung pada nilai pH tertentu (pH optimum), dimana pH optimum harus ditetapkan dengan jar-test.
Untuk kasus tertentu ( pada pH air baku rendah dan pada dosis koagulan yang relatif besar ) dan untuk mempertahankan pH optimum, maka diperlukan koreksi pH pada proses koagulasi, dengan penambahan bahan alkali seperti : soda abu ( Na2CO3 ) , kapur ( CaO ) atau kapur hidrat { Ca(OH)2 }. Dilakukan penentuan dosis alkali pada dosis optimum koagulan yang digunakan.
Proses Flokulasi
Setelah proses koagulasi partikel-partikel terdestabilisasi dapat saling bertumbukan membentuk agregat sehingga terbentuk flok, tahap ini disebut ” Flokulasi “. Flokulasi adalah suatu proses aglomerasi (penggumpalan) partikel-partikel terdestabilisasi menjadi flok dengan ukuran yang memungkinkan dapat dipisahkan oleh sedimentasi dan filtrasi. Dengan kata lain proses flokulasi adalah proses pertumbuhan flok (partikel terdestabilisasi atau mikroflok) menjadi flok dengan ukuran yang lebih besar (makroflok).
Terdapat 2 (dua) perbedaan pada proses flokulasi yaitu :
1. Flokulasi Perikinetik adalah aglomerasi partikel-partikel sampai ukuran μm dengan mengandalkan gerakan Brownian. Biasanya koagulan ditambahkan untuk meningkatkan flokulasi perikinetik.
2. Flokulasi Ortokinetik adalah aglomerasi partikel-partikel sampai ukuran di atas 1μm dimana gerakan Brownian diabaikan pada kecepatan tumbukan antar partikel, tetapi memerlukan pengaduk buatan (artificial mixing)
Setelah destabilisasi selesai mulai terbentuk agregasi partikel yang mana diameternya lebih kecil dari 1 mikrometer untuk sementara cuma bergerak berdasarkan difusi dan akan terjadi agregasi antar mereka. Dengan ukuran flok dan partikel yang semakin besar semakin penting terjadi agregasi yang disebabkan oleh ortokinetik , maka perbedaan kecepatan diantara partikel semakin besar, akan terjadi pembentukan flok. Dilain pihak jika flok terlalu besar tidak bisa menahan tekanan abrasi didalam air, artinya dengan nilai gradien kecepatan ( G value) yang semakin besar ukuran flok rata-rata akan menurun. Untuk mempertahankan nilai G yang berhubungan dengan ukuran partikel, pada prakteknya dilakukan semacam pengadukan pendahuluan (premixing) dengan nilai G yang tinggi, kalau sudah terjadi flok, nilai G diturunkan. Semakin lama agregat akan menumpuk semakin banyak, tahap berikutnya nilai G diturunkan. Dalam beberapa instalasi, misalnya dari nilai G = 100/dt diturunkan menjadi 10/dt. Dengan demikian ada kesempatan untuk menentukan daya enersi yang akan dimasukkan ke dalam masing-masing tahap sesuai dengan kondisi air baku dan sesuai dengan sistem pemisahan yang akan dilakukan selanjutnya.
Jika ditinjau dari mekanisme tersebut di atas, maka pada proses flokulasi memerlukan waktu (yang dinyatakan oleh waktu tinggal / detensi = td , dalam detik) yaitu waktu untuk memberi kesempatan ukuran flok menjadi lebih besar dengan berbagai cara yang sudah diterangkan di atas. Disamping memperhatikan waktu, pada proses flokulasi diperhatikan pula kecepatan pengadukan (yang dinyatakan oleh gradien kecepatan = G , dalam dt−1). Kombinasi dari kedua hal penting tersebut, yaitu nilai G x td merupakan kriteria penting yang harus dipenuhi pada proses flokulasi. Nilai spesifik adalah : 104 − 105. Jika nilai spesifik G td dilampaui, maka flok yang sudah terbentuk akan pecah kembali, sebaliknya jika kurang dari nilai spesifik, maka flok tidak akan terbentuk seperti yang diharapkan.
Untuk menghasilkan flokulasi yang baik, maka perlu diperhatikan:
 Nilai G : 20 – 70 dt−1
 Waktu tinggal (waktu ditensi) : 20 – 50 menit.
Karena proses flokulasi ini memerlukan waktu, dan kecepatan yang relatif rendah, maka flokulasi dilakukan pada unit yang disebut “Pengadukan lambat” atau biasa disebut “Flokulator” dimana jenis pengadukan bisa berupa pengaduk mekanis atau hidraulik.
Dengan dosis koagulan/flokulan pembantu (+ 0,1 – 1 mg/l) kestabilan flok bisa dipertahankan terhadap abrasi yang menjadi lebih besar dengan adanya flokulan pembantu. Penambahan koagulan/flokulan pembantu yaitu jenis polimer, flok yang terbentuk akan lebih besar pada nilai G (gradien kecepatan) yang sama.. Harus ada selisih waktu antara pembubuhan koagulan/flokulan pembantu dengan pembubuhan koagulan (misalnya Al3+ atau Fe3+). Pembubuhan koagulan/flokulan pembantu paling sedikit 30 dtk setelah pembubuhan koagulan.
Jika polimer dibubuhkan terlalu awal, kebutuhannya bisa jauh lebih besar dibandingkan dengan adanya selisih waktu diantara kedua pembubuhan tersebut di atas. Jika dicampur dengan efisien, pemakaian koagulan/flokulan pembantu akan lebih baik.
Jika ada flok yang besar yang terbentuk dengan koagulan/flokulan pembantu polimer, setelah flok ini hancur maka tidak bisa dibentuk kembali (jadi bila digunakan koagulan/flokulan pembantu polimer tidak boleh ada arus yang dapat menghancurkan flok sebelum terjadi sedimentasi atau proses separasi yang diinginkan).
Efisiensi dari proses flokulasi pada prakteknya seringkali dapat dilihat dari kualitas air setelah dilakukan pemisahan flok secara mekanik. Dengan demikian, cara pemisahan zat padat atau flok sangat penting dan sangat dipengaruhi oleh bentuk flok yang ada, misalnya untuk melakukan flotasi diperlukan bentuk flok yang lain berbeda dengan flok untuk sedimentasi. Jika dipakai sedimentasi diperlukan flok dengan berat jenis dan diameter yang besar. Pada proses flotasi dibutuhkan flok yang lebih kecil dan mempunya berat jenis yang lebih ringan tetapi mempunyai sifat untuk bergabung dengan gelembung udara. Untuk filtrasi dibutuhkan flok yang kompak yang cukup homogen dengan struktur yang kuat terhadap abrasi dan dengan sifat mudah melekat diatas partikel media penyaring (filter) untuk menjamin pemisahan yang efisien dan operasional penyaringan yang ekonomis.
Untuk efek penjernihan air secara keseluruhan, belum cukup apakah flok bisa dipisahkan dari air secara efektif, karena belum dapat menjamin dengan pasti apakah kualitas air yang diinginkan bisa tercapai hanya dengan kondisi ini saja. Selain itu dibutuhkan bahwa semua zat yang akan dihilangkan dari air juga melekat pada flok.
Untuk mencapai kondisi flokulasi yang dibutuhkan, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, seperti misalnya :
 Waktu flokulasi,
 Jumlah enersi yang diberikan
 Jumlah koagulan
 Jenis dan jumlah koagulan/flokulan pembantu
 Cara pemakaian koagulan/flokulan pembantu
 Resirkulasi sebagian lumpur (jika memungkinkan)
 Penetapan pH pada proses koagulasi
a. Koagulasi, Flokulasi, dan sedimentasi.
Pentingnya Koagulasi-flokulasi di IPA
Pentingnya koagulasi-flokulasi di IPA terhadap air baku air permukaan dan air tanah yang sudah mengalami pengolahan pendahuluan; seringkali terdapat zat padat dalam bentuk atau ukuran yang tidak memungkinkan mengendap pada proses sedimentasi saja atau dengan proses lain di dalam waktu dentensi yang efisien.
Zat tersuspensi yang mempunyai ukuranlebih dari 5 – 10 μm dapat dihilangkan agak mudah dengan filtrasi atau sedimentasi dan filtrasi. Sedangkan penghilangan koloid yang tidak tercemar berat dapat menggunakan Saringan pasir lambat. Timbul kesulitan bilamana kualitas air baku tidak baik sehingga tidak semua zat koloid dan kotoran lainnya dapat dihilangkan dengan saringan pasir cepat atau saringan pasir lambat. Untuk mengatasi hal ini maka proses koagulasi dengan menggunakan bahan kimia dilakukan.
Dengan aplikasi teknologi koagulasi-flokulasi zat yang berbentuk suspensi atau koloid dirubah bentuknya menjadi zat yang dapat dipisahkan dari air. Agregasi sebagai akibat dari pemakaian koagulan/flokulan adalah tahap awal dimana selanjutnya dilakukan pemisahan flok dari air misalnya dengan proses sedimentasi, filtrasi atau flotasi.
Proses koagulasi-flokulasi selain untuk menurunkan tingkat kekeruhan untuk memperoleh air yang bening, juga ada efek samping yaitu fraksi zat tersuspensi dalam air yang seringkali menyebabkan pencemaran. Dengan koagulasi-flokulasi zat suspensi tersebut yang juga sebagai pencemar, bisa dihilangkan dari air.
Selain itu juga penting bagi proses desinfeksi dengan adanya pemisahan zat padat sebelum desinfeksi dilakukan, karena sering kali mikroorgamisme terdapat di dalam zat padat, yang tidak dapat dimusnahkan oleh proses oksidasi reduksi, karena oksidan akan tereduksi oleh zat organik didalam flok sebelum bisa menembus mikroorganisme untuk dimusnahkan.
Proses koagulasi-flokulasi bisa juga menghilangkan sebagian atau seluruh zat terlarut, sehingga hal ini yang menjadi fungsi utama dari koagulasi-flokulasi.
Teknologi koagulasi-flokulasi bisa juga dipadukan dengan proses pengendapan secara kimiawi (bukan proses pengendapan flok secara fisik), akan tetapi reaksi kimia antara koagulan/flokulan dan zat terlarut didalam air yang menghasilkan senyawa kimia yang tidak larut.
Semua zat yang ada didalam air bisa terdiri dari beberapa macam komponen misalnya organik atau anorganik. Komponen ini beraneka ragam termasuk partikel dari erosi tanah, maupun sisa tanaman, hidroksida logam hasil proses oksidasi, atau plankton, bakteri maupun virus, yang merupakan tantangan utama untuk proses pengolahan yaitu dapat merubah jenis dan komposisi zat-zat tersebut yang dilakukan dalam waktu yang cepat.
Sangat sulit untuk menghilangkan algae dan bakteri dari dalam air karena ukuran maupun sifat-sifatnya yang spesifik menyulitkan dalam proses pemisahan.
Di dalam air permukaan terdapat partikel-pertikel dengan ukuran yang berbeda. Klasifikasi yang dikenal adalah :
Molekul yang mempunyai ukuran diameter lebih kecil dari 1 nm
Koloid pada umumnya mempunyai ukuran antara 1 nm – 1 μm
Zat-zat tersuspensi mempunyai ukuran lebih besar dari 1 μm
Contoh koloid yang biasa terdapat di dalam air permukaan adalah : zat humus (asam humus), tanah liat, silika dan virus. Sedangkan yang tergolong zat tersuspensi adalah bakteria, algae, lumpur, pasir, sisa berupa kotoran organik,
Diameter partikel yang ada didalam air sangat bervariasi, hal ini menjadi dasar klasifikasi zat di dalam air juga jangkauan ukuran zat di dalam air dan waktu sedimentasi untuk beberapa zat dengan berat jenis yang berbeda, yaitu waktu sedimentasi yang dibutuhkan untuk melewati jarak 1 meter oleh 2 (dua) berat jenis zat padat yang berbeda. Sebagai contoh berat jenis 2,6 kg/lt berlaku untuk partikel silikat, berat jenis 1,1, kg/lt berlaku untuk flok hidroksida. Semua partikel yang berdiameter < 10 μm, mengendap sangat lambat bila dibandingkan dengan flok yang berukuran antara 100 – 1000 μm yang mengendap jauh lebih mudah.
Partikel-partikel terdispersi yang mempunyai ukuran lebih kecil dari 1 μm dan lebih besar dari ukuran molekul-molekul itu sendiri ( 1 nm ) disebut partikel-partikel koloid. Partikel-partikel ini dapat menghamburkan/menyebarkan cahaya menghasilkan apa yang disebut “Efek Tyndall”. Penyebaran cahaya ini di dalam sorotan cahaya hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. Dengan cara ini adanya partikel-partikel secara individu di dalam larutan koloid akan nampak sebagai kilatan cahaya yang dihamburkan. Jika tidak ada pertikel-partikel koloid, tidak ada cahaya yang dihamburkan maka yang terlihat adalah bayangan hitam. Melalui mikroskop partikel-partikel koloid terlihat bergerak kesegala arah secara terus menerus, fenomena ini disebut ” Gerakan Brownian (Brownian movement) “, dimana gerakan ini disebabkan oleh bombardir partikel-partikel koloid oleh molekul air. Jadi gerakan partikel-partikel ini sebagai akibat langsung dari gerakan molekul-molekul disekelilingnya.
Muatan listrik yang dipunyai oleh partikel-partikel koloid merupakan dasar yang penting karena tanpa hal ini, larutan koloid (sol) menjadi tidak stabil. Muatan awal partikel dapat diadsorpsi di permukaan oleh gaya van der Waals dari ion spesifik, disosiasi grup fungsional tertentu atau mengganti kisi-kisi kristal Si dengan Al. Semua partikel koloid mempunyai muatan elektrik, dimana besarnya muatan bervariasi, tergantung dari material koloid dan dapat bermuatan positip dan negatip. Pada air alam (pada pH 6 – 8) pada umumnya koloid bermuatan negatif.
Kandungan ion yang dekat dengan koloid dalam air dipengaruhi oleh muatan permukaan. Koloid bermuatan negatip mempunyai konfigurasi lapisan ion. Lapisan pertama merupakan kation yang melekat pada permukaan muatan negatip yang melekat pada koloid dan bergerak bersama koloid tersebut. Ion-ion lainnya di sekitar koloid tersusun teratur dimana konsentrasi ion positip atau ion yang berlawanan lebih dekat dengan permukaan koloid. Susunan ini menghasilkan jaringan yang sangat kuat pada lapisan yang melekat dan akan berkurang kekuatannya sebanding dengan jarak koloid.
Dispersi koloid dalam air secara umum terbagi menjadi 2 (dua) yaitu :
1). Sifat hidrofilik (senang air) dan
2). Sifat hidrofobik (tidak senang air)
Sifat hidrofilik menyebabkan ikatan koloid dengan air menjadi lebih kuat, sehingga koloid akan lebih stabil dan sulit dipisahkan dengan air.
Kestabilan sistem koloid hidrofobik disebabkan oleh adanya fenomena hidrasi, yaitu suatu keadaan dimana molekul-molekul air tertarik oleh permukaan koloid, sehingga menyebabkan terhalangnya kontak antara koloid yang satu dengan lainnya. Kestabilan koloid hidrofobik terjadi karena koloid-koloid bermuatan sejenis, sehingga terjadi gaya tolak menolak antar koloid. Koloid bermuatan negatip akan menarik ion yang berlawanan pada permukaan, membentuk lapisan pelindung dari air di sekelilingnya. Keadaan ini menghasilkan lapisan ganda listrik (“electrical double layer”) dari muatan positif dan negatif.
Kelebihan muatan listrik dipermukaan sering dikompensasi karena pada bagian luar dari lapisan ganda listrik, dengan konsentrasi ion yang muatannya berlawanan dan yang bersifat difusi disebabkan oleh gerakan molekul air yang disebabkan oleh termic.
Lapisan molekul air diatas permukaan partikel menghindari partikel langsung bisa bergabung dengan partikel lain dan bisa tidak mendekati cukup dekat dengan partikel yang muatannya berlawanan dan mempunyai daya tarik. Sebagai contoh untuk suspensi stabil itu adalah asam silikat yang baru mengendap, ada hidroksida maupun zat dengan molekul besar dengan proses hidrolisa lengkap misalnya ekstrak kanji (startch), protein, karbohidrat, asam humus dan polimer sintetis yang terlarut.
Permukaan zat suspensi di dalam air bisa tertutup oleh zat yang netral yang diadsorpsi diatas permukaan supaya tidak bisa terjadi lagi pendekatan dengan daya tarik ion. Terutama lapisan adsorpsi dari zat sintetis atau zat kimia alami dengan molekul besar bisa menyebabkan daya tolak yang sangat besar dan dengan ini menghindari suspensi tersebut bergabung (efek perlindungan koloid).
Edited by : @_pararaja

By : arifin_pararaja

The phosphate ion is a polyatomic ion with the empirical formula PO43− and a molar mass of 94.973 g/mol; it consists of one central phosphorus atom surrounded by four identical oxygen atoms in a tetrahedral arrangement. The phosphate ion carries a negative three formal charge and is the conjugate base of the hydrogenphosphate ion, HPO42−, which is the conjugate base of H2PO4, the dihydrogen phosphate ion, which in turn is the conjugate base of H3PO4, phosphoric acid. It is a hypervalent molecule (the phosphorus atom has 10 electrons in its valence shell). Phosphate is also an organophosphorus compound with the formula OP(OR)3

A phosphate salt forms when a positively-charged ion attaches to the negatively-charged oxygen atoms of the ion, forming an ionic compound. Many phosphates are not soluble in water at standard temperature and pressure. (lebih…)

Abdul Kadir Salam, Sri Djuniwati, Sarno, Nanik Sriyani, dan Heri Novpriansyah

Fakultas Pertanian, Universitas Lampung

Pada konsentrasi tinggi semua jenis logam berat dapat bersifat racun bagi makhluk hidup. Industri akan terus-menerus menghasilkan limbah logam berat yang tinggi sehingga lingkungan dapat dicemari olehnya. Pemanfaatan kimiawi logam berat dengan berbagai komponen dalam sistem tanah diharapkan dapat menetralkannya. Penelitian ini bertujuan mengembangkan teknik pengelolaan limbah industri berlogam berat di dalam sistem tanah dengan memanfaatkan kapur dan kompos daun tanaman.

Penelitian dilakukan dalam empat tahap. Tahap I bertujuan menentukan jenis bahan kapur dan bahan organik yang memungkinkan dapat digunakan dalam penyusunan teknologi mengurangi logam berat. Bahan organik mencakup kompos daun dari tanaman singkong, jagung, alang-alang, dan kedelai; sedangkan bahan kapur mencakup kapur karbonat (CaCO3), kapur hidroksida [Ca(OH)2], dan kapur dolomit [CaMg(CO3)2]. Jenis tanah mencakup tanah Ultisol, Oxisol, dan Andisol yang semuanya diambil dari Lampung. Contoh limbah terdiri atas limbah model berupa larutan logam berat baku dan limbah industri berupa lumpur limbah dari industri sendok logam. (lebih…)

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.