Warsito, M Yunus, Edy Priyo Utomo, dan Totok Himawan

Jurusan Kimia, Universitas Brawijaya

Untuk memenuhi permintaan akan madu yang semakin meningkat, peternak lebah masih menggunakan teknik yang tetap bergantung pada keadaan alam sekitar. Akibatnya, produksi terbatas dan cita rasa madu semata-mata bergantung pada jenis bunga yang tersedia. Di sisi lain, peternak enggan memelihara lebah lokal (Apis indica) dan lebih suka memelihara lebah impor (A. mellifera) yang produktivitasnya tinggi, tidak ganas, dan tidak mudah meninggalkan sarangnya. Untuk mengangkat citra lebah lokal, dalam penelitian ini disintesis senyawa feromon ratu, trans-9-okso-2-dekenoat (9-ODA) dan senyawa atraktan beraroma, meliputi isoamil asetat, anetol, metil eugenol, dan sitronelol. Senyawa sintetik tersebut digunakan sebagai umpan untuk menciptakan sistem beternak lebah agar dapat berproduksi sepanjang tahun dan hasil madunya memiliki aroma dan cita rasa madu sesuai dengan yang diinginkan serta tidak bergantung pada jenis bunga di lokasi peternakan.

Bahan dasar dan jalur sintesis didasarkan pada analisis retrosintesis dari senyawa target. Hasil sintesisnya dicirikan dengan metode spektroskopi (ultraviolet, inframerah, resonansi magnetik inti proton) dan kromatografi gas-spektrometri massa. Aktivitas setiap senyawa diuji dengan metode olfaktometri dan metode cawan petri untuk mengetahui perilaku lebah dalam merespons senyawa hasil sintesis. Senyawa sintetik juga diujikan di lapangan (Tretes, di Kabupaten Pasuruan).

Feromon ratu lebah, yaitu 9-ODA, dapat disintesis dari prekursor sikloheptanon dengan melalui 4 macam senyawa antara: 1-metilsikloheptanon hasil protonasi dan metilasi sikloheptanon, 1-metilsikloheptena hasil reaksi dehidrasi 1-metilsikloheptanol, 1-metil-1,2-sikloheptanadiol hasil oksidasi 1-metilsikloheptena, dan 7-ketooktanal hasil oksidasi prekursor 1-metil-1,2-sikloheptanadiol. Senyawa atraktan beraroma isoamil asetat diperoleh dari esterifikasi amil alkohol, anetol disintesis dari prekursor dasar anisol dan melalui prekursor antara p-bromoanisol dan estragol, metil eugenol diperoleh dari metilasi eugenol, dan sitronelol dari hasil protonasi sitronelal. Rendemen sintesis 9-ODA 22.4%, isoamil asetat 85.0%, anetol 82.5%, metil eugenol 81.2%, dan sitronelol 76.8%.

Feromon 9-ODA hasil sintesis dapat mempengaruhi perilaku lebah pekerja dan lebah jantan. Dalam penggunaannya selama 2 bulan 23 hari, senyawa ini mampu meningkatkan kecepatan pembuatan sisiran dan produksi madu hingga 1.77 kali dibandingkan kontrol. Penggunaan senyawa atraktan beraroma yang meliputi isoamil asetat, anetol, dan metil eugenol yang diujikan di ruang olfaktometer mampu mempengaruhi perilaku lebah pekerja tetapi pemakaiannya sebagai umpan tidak cukup efektif mempengaruhi produksi madu. Penggunaan sitronelol selain dapat mempengaruhi produksi 1.45 kali lebih tinggi juga dapat memberikan cita rasa pada madu yang dihasilkan. Senyawa feromon dan atraktan seperti yang telah dicobakan dalam penelitian ini dapat disintesis dengan mudah oleh peternak karena bahan dasarnya mudah diperoleh, yaitu berupa minyak daun sereh dan minyak daun cengkeh. Hal yang menarik ialah karena rendemen sintesisnya yang tinggi.

Adopted from : Hibah Bersaing VI

 

 

About these ads