Berbicara tentang kerajinan tangan, kita tentu tidak asing dengan kerajinan dari bahan kulit, plastik, kain, atau bahan alam seperti eceng gondok, rami, dsb. Kalau berkaitan dengan pemanfaatan limbah, kita juga biasa mendengar pemberitaan tentang kerajinan dari bahan limbah plastik multi layer. Tapi kalau tas anyaman dari bahan tas plastik (di daerah saya disebut tas kresek sesuai dengan bunyi yang dihasilkannya ketika dipegang), mungkin belum banyak yang mengetahuinya. Berikut sekelumit kisahnya.

Setiap kita membeli sesuatu di warung, di pasar atau di supermarket sekalipun, hampir selalu diberi tas plastik sebagai wadah. Terbayang betapa banyaknya sampah tas plastik yang dibuang setiap hari. Padahal sebagaimana kita tahu, plastik sulit terurai di alam. Kalau dibakar mengakibatkan polusi dan kabarnya bisa menghasilkan zat dioksin pemicu kanker. Sayangnya selama ini orang tidak terlalu mempedulikan sampah jenis ini.

Untuk menghasilkan kerajinan yang bagus, ternyata tak harus menggunakan bahan-bahan yang berkualitas. Contohnya hasil karya siswa SMK 3 Kimia Madiun ini. Dari tangan-tangan terampil Liani Jumiat Asri, Ria Dwi Santi, Mukti Ary Wibowo, dan Danang Budhi Permana, limbah tas plastik yang sudah tak terpakai bisa disulap menjadi berbagai kerajinan unik dan menarik, mulai dari tas, dompet, bingkai foto, taplak meja bahkan sampai bed cover. “Kalau sudah jadi barang jadi, tak ada yang mengira ini berbahan limbah,” kata Hartoyo, guru pembina keempat siswa tersebut. Karena keterampilan memanfaatkan limbah tersebut, karya mereka mendapat penghargaan Harapan I dalam lomba bertema Perbaikan Lingkungan di Sekolah dan Area Sekitarnya yang diselenggarakan oleh Yayasan Tirai Indonesia dan Auto 2000 dan Pengahargaan dari ajang kompetisi lingkungan di Jakarta oleh Toyota.

Kerajinan mereka memang cukup sederhana. Tas plastik bekas yang sudah tak terpakai dicuci sampai bersih. Selanjutnya, warna dikelompokkan, mulai hitam, putih, merah atau warna lainnya. Lalu, tas plastik tersebut dipotong melintang untuk menghasilkan ukuran lebar 15 cm x 40 cm. “Ukuran memang variatif, tergantung kerajinan apa yang akan dibuat. Kalau akan membuat dompet, ukurannya bisa lebih kecil,” kata Suhartoyo. Setelah dipotong-potong, kemudian ditentukan motif warna kerajinan yang akan dibuat.

Untuk motif dengan nuansa merah dan hitam, lembaran plastik yang dibutuhkan harus merah dan hitam pula. Setelah itu, mulailah lembar satu dengan lainnya dikaitkan dengan cara dianyam. Setelah terikat satu dengan lainnya, masing-masing simpul anyaman berbentuk segi empat. “Menganyamnya juga tidak sulit kok,” tambah Liani, siswa kelas 3. “Setelah jadi lembaran, dibentuk menjadi barang yang diinginkan, entah tas tenteng lengkap dengan tali, dompet, bingkai foto, dan lainnya,” timpal Santi.

Menurut Suhartoyo, selain bahan mudah didapat, cara pembuatannya juga mudah dan tidak njlimet. “Kalau mau meniru kemudian dikembangkan dengan variasi baru yang lebih menarik juga tidak sulit,” terang Suhartoyo yang terinspirasi kursi anyam berbahan plastik.

Pak Suhartoyo, guru pembimbing di SMK tersebut, beserta siswa-siswanya berhasil menemukan teknik pemanfaatan limbah itu. Bahkan beliau tidak keberatan mengungkapkan detil cara pengolahannya.

Berikut langkah-langkah pembuatannya:

1.      Tas plastik bekas yang sudah tidak terpakai dikumpulkan lalu dicuci bersih.

2.      Kelompokkan plastik-plastik tersebut menurut warnanya, biasanya ada hitam, putih, merah, biru, dsb. (Bisa juga dipisahkan menurut ukuran serta ketebalannya, sehingga bisa lebih seragam – tambahan)

3.      Potong melintang dengan ukuran 15 cm x 40 cm. Ukuran ini bisa diatur ssesuai jenis produk yang ingin dihasilkan.

4.      Tentukan warna motif yang akan dibuat. Jika menginginkan tas motif merah hitam, maka plastik warna itu saja yang digunakan.

5.      Kaitkan potongan-potongan tersebut sehingga membentuk anyaman. Setelah saling terikat lalu disimpulkan membentuk segi empat. Begitu seterusnya sampai membentuk lembaran.

6.      Setelah membentuk lembaran, barulah dipotong/dibentuk lagi sesuai keinginan.

Langkah-langkah tersebut hanya teknik dasar saja. Masih perlu proses lebih lanjut untuk bisa menghasilkan produk yang bernilai ekonomi. Ini menuntut kreatifitas dari sang pembuat.

Ada berbagai produk yang sudah dihasilkan oleh para siswa SMK 3 Kimia Madiun, antara lain tas tenteng dengan talinya, dompet, bingkai foto, taplak meja, dll. Pak Suhartoyo sendiri ingin membuat kursi anyam dari bahan ini.

Pembuatan produk kerajinan berbahan tas plastik memang membutuhkan ketekunan dan kreatifitas tersendiri. Tapi dilihat dari segi bahannya yang sangat mudah didapat dan murah, kerajinan dari bahan tas plastik mungkin bisa menjadi salah satu alternatif usaha pemanfaatan limbah. Apalagi saat ini sedang gencar-gencarnya berita tentang kerusakan alam akibat sampah dan polusi. Selain itu, kerajinan berbahan limbah juga sedang menjadi tren tersendiri. Apabila produk yang dihasilkan cukup berkualitas tentu bisa bersaing di pasaran

Suhartoyo mengungkapkan, sebenarnya ide pembuatan kerajinan ini cuma ide awal saja, tapi ia berharap anak didiknya atau orang lain bisa mengembangkan dengan kreasi yang lebih apik. “Kami hanya berusaha memunculkan ide bagaimana agar barang-barang yang tampak tidak berguna di sekitar kita bisa dimanfaatkan.”

Ide kreasi tas ini awalnya bukan semata-mata membuat kerajinan, tapi dia terusik untuk memanfaatkan limbah plastik yang begitu banyak. “Saya pernah menghitung, setiap hari, ibu rumah tangga paling tidak mendapatkan sepuluh tas plastik dari bekas pembungkus kebutuhan rumah tangga,” papar Hartoyo.

Jika ini dibiarkan, lanjutnya, “Tidak baik buat lingkungan, karena sifat plastik tidak mudah terurai.” Di tengah kegundahan itulah, kemudian muncul ide menganyam tas plastik menjadi aneka kerajinan. “Gampang dan cepat. Kalau dikerjakan dengan santai untuk mengisi waktu, paling tidak seminggu dapat satu,” papar Suhartoyo.

Soal, pengembangan bentuk, ia berharap masyarakat bisa mengembangkan yang lebih baik lagi. “Sekarang saya bersama siswa juga berusah mencari ide, bahan apa lagi yang bisa dimanfaatkan untuk kerajinan,” papar Suhartoyo.

Diolah dari berbagai sumber.

About these ads