Dalam air baik yang kita anggap jernih, sampai terhadap air yang keadaannya sudah kotor atau tercemar, di dalamnya akan terkandung sejumlah ke-hidupan, yaitu misalnya yang berasal dari sumur biasa, sumur pompa, sumber mata-air dan sebagai-nya, di dalamnya terdiri dari bakteri, yaitu :

Kelompok bakteri besi (misalnya Crenothrix dan Sphaerotilus) yang mampu mengoksidasi senyawa ferro menjadi ferri. Akibat kehadirannya, air sering berubah warna kalau disimpan lama yaitu warna kehitam-hitaman, kecoklat-coklatan, dan sebagainya.

Kelompok bakteri belerang (antara lain Chromatium dan Thiobacillus) yang mampu mereduksi senyawa sulfat menjadi H2S. Akibatnya kalau air disimpan lama akan tercium bau busuk seperti bau telur busuk.

Kelompok mikroalge (misalnya yang termasuk mikroalga hijau, biru dan kersik), sehingga kalau air disimpan lama di dalamnya akan nampak jasad-jasad yang berwarna hijau, biru atau pun kekuning-kuningan, tergantung kepada dominasi jasad-jasad tersebut serta lingkungan yang mempengaruhinya.

Kehadiran kelompok bakteri dan mikroalga tersebut di dalam air, dapat menyebabkan terjadinya penurunan turbiditas dan hambatan aliran, karena kelompok bakteri besi dan bele­rang dapat membentuk serat atau lendir. Akibat lainnya adalah terjadinya proses korosi (pengkaratan) terhadap benda-benda logam yang berada di dalamnya, men­jadi bau, berubah warna, dan sebagainya.

Tumbuhnya algae pada permukaan terjunan (cascade) dari bak koagulasi yang pengadukannya dengan mengandalkan terjunan dengan kecepatan jatuh dan pengadukan tertentu, dan dapat mengakibatkan penebalan pada permukaan terjunan sehingga memperkecil ketajaman terjunan dan kecepatan pengadukan yang direncanakan tidak tercapai. Bila kecepatan pengadukan tidak memenuhi kriteria perencanaan, maka proses pencampuran antara zat koagulan dengan air olahan tidak akan sempurna dan hal ini dapat berpengaruh terhadap pembentukan flok-flok (flokulasi), sebagai operasi tahap pengolahan berikutnya. Hal ini dapat menurunkan efektivitas koagulasi dan flokulasi, sehingga pengolahan tidak optimum.

Terhadap proses, algae dapat menyebabkan pemborosan koagulan. Algae yang terkandung dalam air olahan menyebabkan naiknya kandungan partikel halus yang harus diendapkan sehingga jumlah koagulan yang dibutuhkan juga lebih banyak.

Seperti telah diuraikan diatas bahwa beberapa jenis ganggang/algae dalam air dapat menurunkan pH  air, sedangkan untuk proses koagulasi dan flokulasi dibutuhkan kondisi pH tinggi, maka diperlukan pembubuhan kapur yang tinggi untuk mendapatkan kondisi pH yang memenuhi syarat untuk pengkondisian Koagulasi dan Flokulasi. Hal ini berarti pemborosan dalam penggunaan larutan kapur.

Kelompok bakteri pencemar, misal bakteri golongan Coli, yang kehadirannya di dalam badan air dikategori-kan bahwa air tersebut terkena pencemar-fekal (kotoran manusia), karena bakteri Coli berasal dari tinja/kotoran, khususnya manusia. Coli termasuk golongan Enterobactericeae. Enterobactericeae merupakan kelompok bakteri yang bersifat gram negative, aerob dan fakultatif anaerob, tidak berspora dan berbentuk batang, memfermentasi glukosa, mereduksi nitrat, oksidase negative serta tahan dalam garam empedu. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah genus Salmonella, Shigella, Yersinia, Proteus, Erwinia, Serratia dan Escherichia. Escherichia Coli adalah Spesies bakteri penghuni normal dalam saluran pencernaan manusia dan hewan. Bakteri ini berbentuk batang, gram negative, bersifat anaerobik fakultatif dan mempunyai flagella peritrikat. Bakteri ini dibedakan atas sifat serologinya berdasar antigen O (somatik), K (kapsul), dan H (flagella). Pengaruh kehadiran jasad hidup terhadap kualitas air akan menyebabkan;

1. Rasa dan bau yang tidak sedap, disebabkan oleh bakteri dan mikroalge.

2. Air menjadi berlendir dan berwarna merah disebabkan oleh bakteri besi.

3. Bau yang tidak sedap sehingga dari segi estetika air tidak diterima untuk diminum disebabkan antara lain oleh cacing.

Bakteri Coli merupakan jasad indikator dalam air, bahan makanan, dan sebagainya untuk kehadiran jasad berbahaya yang meiliki persamaan sifat gram negatif, berbentuk batang, tidak membentuk spora, serta mampu memfermentasikan kaldu laktosa pada temperatur 370 oC dengan membentuk asam dan gas dalam waktu 48 jam. Escherichia sebagai salah satu contoh bakteri Coli memiliki beberapa spesies hidup dalam saluran pencernaan makanan manusia dan hewan berdarah panas. Sejak diketahui bahwa jasad tersebut tersebar pada semua individu, analisis bakteriologis terhadap air minum ditujukan kepada kehadiran jasad tersebut. Walaupun adanya jasad tersebut tidak dapat memastikan adanya jasad patogen secara langsung, dari hasil yang didapat memberikan kesimpulan bahwa Coli dalam jumlah tertentu dalam air dapat digunakan sebagai indikator adanya jasad patogen.

Kelompok bakteri pengguna, yaitu kelompok lain dari bakteri yang mampu untuk mengurai senyawa-senyawa tertentu di dalam badan air. Dikenal kemudian adanya kelompok bakteri pengguna residu pestisida, pengguna residu minyak bumi, pengguna residu deterjen, dan sebagainya.

Untuk membunuh mikroorganisme air yang membahayakan manusia maka dilakukan desinfeksi terutama dengan senyawa khlor. Akan tetapi penggunaan senyawa ini perlu mendapat catatan dimana :

1. Gas klor tidak efektif dalam membunuh protozoa Cryptosporidium-c. Mikroba dari grup protozoa ini mampu membentuk spora di usus halus manusia lalu menghalangi penyerapan air sehingga penderitanya menjadi haus terus. Mikroba ini tahan dalam air mendidih lebih dari sepuluh menit tetapi parasit ini dapat mati oleh ozon. (Kasus terjadi di sebuah kota San Paolo yang air ledengnya diambil dari Danau Chavez yang tercemar berat. Ribuan orang lantas sakit dan ratusan tewas).

2. Gas khlor tidak efektif dalam membunuh virus Hepatitis A meskipun bakteri mati oleh desinfektan ini. Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 1-2 bulan setelah terkena infeksi yang ditandai dengan demam yang disertai rasa mual dan muntah. Hati penderita menjadi bengkak, bola mata pun menjadi kuning. Warna kuning ini bisa menjalar ke permukaan kulit. Tubuh akan melemah, menjadi kurus dan perut membuncit. (Kasus di sungai Jamuna, India).

3. Untuk menjaga kualitas air perpipaan, keberadaan sisa khlor sangat diperlukan dalam suatu sistem jaringan distribusi karena dapat mengurangi risiko tumbuhnya mikroba dan terjadinya kontaminasi. Sisa khlor pada sistem jaringan distribusi harus dijaga pada konsentrasi 0,2-0,5 mg/lt. Pengaruh jarak pengaliran air minum terhadap sisa khlor dan angka MPN Coliform air minum sangat berpengaruh. Dalam penelitian di PDAM Buntok, Kalimantan Tengah, dengan observasional analitik yang dilakukan secara cross sectional dengan variabel bebas jarak pengaliran dan variabel terikat angka MPN Coliform serta nilai sisa khlor.
Sampel penelitian diambil secara acak pada pelanggan PDAM Buntok. Pengaruh jarak pengaliran terhadap sisa khlor dan angka MPN Coliform, masing-masing dianalisis dengan uji stastistik regresi linier. Kadar sisa khlor pada PDAM Buntok adalah 1,0 mg/lt dengan angka MPN Coliform nol. Pada jarak 2 Km, sisa khlor sebesar 0,5 mg/lt dengan angka MPN Coliform nol. Pada jarak 4 km, sisa khlor sebesar 0,3 mg/lt dengan angka MPN Coliform nol. Pada jarak 6 km, sisa khlor sebesar 0,1 mg/lt dengan angka MPN Coliform sebesar 7,8 per 100 ml air. Sementara itu pada jarak 8 km sisa khlor dengan MPN Coliform sebesar 55,6 per100 ml air dan pada jarak 10 km sisa khlor nol dengan angka MPN Coliform sebesar 133,8 per 100 ml air. Pada jarak pengaliran terhadap MPN Coliform dengan uji regresi linier ap<0,01 dan terhadap sisa khlor uji regresi linier p<0,01. Disimpulkan bahwa faktor jarak pengaliran air minum berkorelasi terhadap angka MPN Coliform semakin meningkat, namun sebaliknya dengan sisa khlor semakin berkurang. Untuk itu perlu diadakan pos khlorinasi pada jarak tertentu, untuk menjaga sisa khlor pada jaringan distribusi.

About these ads